Anda di halaman 1dari 37

PROPOSAL SKRIPSI

Penggunaan Metoda Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk Pemetaan


Potensi Longsoran Berdasarkan Kestabilan Lereng pada Penambangan
Terbuka Bukit Karang Putih PT Semen Padang

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Oleh :
M. PRASETYA FAUZI
NIM. 1202047/2012

PROGRAM STUDI STRATA-1 TEKNIK PERTAMBANGAN


JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
PT. Semen Padang merupakan salah satu perusahaaan produsen semen di
Indonesia yang tergabung dalam Semen Indonesia Group, dimana kegiatan
perusahaan tersebut meliputi penambangan batu kapur, pengolahan bahan
pembuat semen sampai dengan marketing semen ke bebarapa wilayah di
Indonesia bahkan ke luar negeri. Untuk kegiatan penambangan, PT. Semen
Padang melakukan penambangan limestone dan silicastone di kawasan Bukit
Karang Putih yang menjadi IUP (Izin Usaha Pertambangan) PT. Semen
Padang, dimana kegiatan penambangan dilakukan secara tambang terbuka
(quarry)
Penambangan tambang terbuka (quarry) merupakan sistem penambangan
yang dipilih dikarenakan masih memungkinkan untuk dilakukan penggalian
secara langsung untuk mendapatkan bahan galian, sayangnya untuk
mendapatkan bahan galian harus terlebih dahulu membuang overburden atau
lapisan tanah penutup sehingga mengakibatkan berubahnya bentangan alam
atau topografi wilayah. Berubahnya bentangan alam ini ditandai dengan
terbentuknya lubang besar yang menyerupai mangkuk dengan dikelilingi
lereng yang bertingkat seperti anak tangga.
Hal ini tentu menjadi perhatian khusus, tidak hanya karena berdampak
pada lingkungan namun juga berdampak pada keselamatan, karena
penambangan yang semakin dalam memiliki kerentanan untuk terjadi longsor

pada lereng lerengnya. Selain factor aktivitas penambang tersebut juga


banyak factor lainnya yang memungkinkan untuk terjadinya longsoran seperti
gerakan tanah yang selalu aktif mempengaruhi kestabilan lereng. Berikut tabel
yang menunjukkan wilayah penambangan PT. Semen Padang termasuk dalam
wilayah dengan gerakan tanah aktif menegah tinggi.
Bungus Teluk Kabung
Pauh
Padang Barat
Sumatera

Kota

Barat

Padang

Padang Timur
Padang Selatan
Lubuk Begalung
Lubuk Kilangan
Kuranji
Koto Tengah

Menengah Tinggi
Menengah Tinggi
Menengah Tinggi
Menengah Tinggi
Menengah Tinggi
Menengah Tinggi
Menengah Tinggi
Menengah Tinggi
Menengah Tinggi

Keterangan
Menengah

Daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan


tanah. pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan
diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah
sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

Tinggi

Daerah yang mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah.


Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas
normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Selain itu, tercatat telah terjadi longsoran akibat galian bahan baku semen
Kenagarian Sikayan Bansek, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang,
Sumatra

Barat.

(Dok.

WALHI

Sumbar)

yang

merupakan

wilayah

penambangan PT. Semen Padang. Sehingga perlu dilakukan analisis


kestabilan lereng pada lokasi penambangan PT. Semen Padang agar dapat
diketahui daerah mana yang memiliki potensi terjadinya longsoran.

Berdasarkan hal tersebut, maka penulis ingin membahas lebih lanjut dan
menjadikannya sebuah kajian penelitian dengan judul Penggunaan Metoda
Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk Pemetaan Potensi Longsoran
Berdasarkan Kestabilan Lereng pada Penambangan Terbuka Bukit Karang
Putih PT Semen Padang

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat di identifikasi masalahmasalah sebagai berikut:
1. Terjadinya longsoran pada lereng Bukit Karang Putih penambangan batu
kapur PT. Semen Padang
2. Adanya aktivitas penambangan baik dari perusahaan maupun tambang
ilegal masyarakat
3. Luasnya wilayah penambangan dan banyak terbentu lereng yang memiliki
potensi terjadinya longsoran
C. Batasan Masalah
Karena keterbatasan waktu dan keadaan, maka penulis membatasi penelitian
sebagai berikut:
1. Penelitian berfokus pada lereng yang terbentuk di kawasan penambangan
batu kapur bukit karang putih PT. Semen Padang
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah yang sudah dibahas di atas
maka penulis merumuskan permasalahan yaitu:
1. Berapa nilai FK untuk kesatbilan lereng pada penambangan batu kapur
bukit karang putih PT. Semen Padang?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi asas kepentingan dalam pengambilan
keputusan berdasarkan Analytic Hierarchy Process (AHP)?
2. Bagaimana bentuk penyebaran peta potensi longsoran di kawasan
penambangan batu kapur bukit karang putih PT. Semen Padang?

E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mendapatkan nilai Faktor Keamanan (FK) lereng lereng yang
terbentuk di kawasan penambangan batu kapur bukit karang putih PT.
Semen Padang
2. Mengetahui faktor apa saja yang terjadi dan sedang berlangsung di lokasi
penelitian dan dapat mempengaruhi asas kepentingan dalam pengambilan
keputusan berdasarkan Analytic Hierarchy Process (AHP)?
3. Membuat peta persebaran potensi longsoran berdasarkan keputusan
Analytic Hierarchy Process (AHP) di kawasan penambangan batu kapur
bukit karang putih PT. Semen Padang
F. Manfaat Penelitian
Adapun beberapa manfaat yang diperoleh setelah melakukan penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Penulis dapat mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari pada saat
perkuliahan.
2. Sebagai referensi dan tambahan bahan bacaan pada Jurusan Teknik
Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
3. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang pemetaan potensi
longsoran berdasarkan analisis kestabilan lereng
4. Sebagai masukan untuk perusahaan PT. Semen Padang mengenai daerah
daerah padda penambangan open pit yang memiliki potensi terjadinya
longsoran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Deskripsi Perusahaan
1. Sejarah Perusahaan
PT Semen Padang merupakan pabrik semen tertua di Indonesia
yang didirikan pada tanggal 18 Maret 1910 dengan nama NV
NederlandschIndische Portland Cement (NV NIPCM). Alasan pendirian
pabrik ini karena ditemukan cadangan batu kapur dan silika di Bukit
Karang Putih dan Ngalau pada tahun 1906. Oleh seorang perwira Belanda
berkebangsaan Jerman yang bernama Ir. Carl cristoper Lau. Kedua jenis
batu tersebut dibawa ke Belanda untuk diteliti kemudian hasil penelitian
menunjukkan bahwa kedua jenis bahan baku tersebut dapat dijadikan
bahan baku untuk membuat semen.
Pabrik ini mulai memproduksi semen pada tahun 1913 dengan
kapasitas 22.900 ton pertahun, dan angka produksi terbesar pernah
mencapai 170.000 ton pada tahun 1939. Ketika Jepang menguasai
Indonesia tahun 1942-1945, pabrik diambil alih dengan manajemen Asano
Cement, Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia
tanggal 17 Agustus 1945, pabrik ini diambil alih oleh karyawan dan
diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia dengan nama Kilang
Semen Indarung.

Pada Agresi Militer I tahun 1947, pabrik dikuasai kembali oleh


Belanda dan namanya diganti menjadi NV Padangs Portland Cement
Maatschappij (NVPPCM). Berdasarkan PP No.50 tanggal 5 Juli 1958,
tentang penentuan perusahaan perindustrian dan pertambangan milik
Belanda dikenakan nasionalisasi, maka NV Padangs Portland Cement
Maatschappij (NVPPCM) dinasionalisasikan dan selanjutnya ditangani
oleh Badan Pengelola Perusahaan Industri Tambang (BAPPIT) Pusat.
Setelah tiga tahun dikelola BAPPIT Pusat, berdasarkan Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 135 tahun 1961 status perusahaan dirubah
menjadi (Perusahaan Negara). Akhirnya pada tahun 1971 melalui
peraturan pemerintah No 7, menetapkan Semen Padang menjadi PT
Semen Padang dengan Akta Notaris 5 tanggal 4 Juli 1872. Berdasarkan
Surat

Keputusan

Menteri

Keuangan

Republik

Indonesia

No.5-

326/MK.016/1995, pemerintah melakukan konsolidasi atas 3 pabrik semen


milik pemerintah yaitu PT. Tonasa (PTST), PT Semen Padang (PTSP),
PT. Semen Gresik, yang teralisir pada tanggal 15 September 1995,
sehingga pada saat itu PT Semen Padang berada di bawah PT. Semen
Gresik Group (Semen Gresik Group).
Pada tanggal 20 Desember 2012, melalui Rapat Umum Pemegang
Saham Luar Biasa (RUPSLB) Perseroan, resmi mengganti nama dari PT
Semen Gresik (Persero) Tbk, menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.
Penggantian nama tersebut, sekaligus merupakan langkah awal dari upaya
merealisasikan terbentuknya Strategic Holding Group yang ditargetkan

dan diyakini mampu mensinergikan seluruh kegiatan operasional dan


memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk menjamin dicapainya
kinerja operasional maupun keuangan yang optimal.
Setelah memenuhi ketentuan hukum yang berlaku, pada tanggal 7
Januari 2013 ditetapkan sebagai hari lahir PT Semen Indonesia (Persero)
Tbk. Perseroan memiliki empat merk yang lekat di hati konsumen, yaitu
Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa dan Thang Long Cement.
Perseroan menguasai pangsa pasar domestik terbesar yang
mencapai sekitar 44 %, menunjukkan keunggulan reputasi yang
mencerminkan kekuatan corporate dan brand image Perseroan. Saat ini
PT Semen Padang mempunyai empat pabrik produksi, yaitu pabrik
produksi Indarung II, III, IV dan V.
2. Lokasi dan Topografi
Lokasi PT. Semen Padang terletak di Indarung, sekitar 15 km di
sebelah Timur kota Padang, secara administrasi termasuk dalam
Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat
dengan ketinggian lebih kurang 200 mdpl.
Indarung terletak di Kaki Bukit Barisan yang membujur dari Utara
ke Selatan, dan secara geografis terletak antara garis meridian
1 04 30 " Lintang

Selatan

sampai

1 06 30" Lintang

Selatan

dan

100 15 30" Bujur Timur sampai 100 18 30" Bujur Timur. Berbatasan ke
arah Barat dengan Kota Padang, sebelah Timur dengan Kabupaten Solok,

sebelah Utara dengan Kabupaten Tanah Datar dan sebelah Selatan


berbatasan dengan Kabupaten Pesisir Selatan.
Lokasi penambangan berada di Bukit Karang Putih yang terletak di
desa Karang Putih. Karang Putih adalah sebuah perkampungan kecil yang
terletak 2 Km di sebelah Selatan Indarung dan terletak antara
0 57 50,58" Lintang Selatan sampai 0 58 51,66" Lintang Selatan dan
100 28 8,56" Bujur Timur sampai dengan 100 28 51,79" Bujur Timur.

Lokasi penambangan silika dan batu kapur ini dihubungkan dengan

jalan yang telah di beton dan dapat dicapai dengan menggunakan


kendaraan umum atau naik kendaraan milik karyawan PT. Semen Padang.
Secara Geografis wilayah Indarung mulai naik sampai kaki
pegunungan Bukit Barisan membujur dari Utara ke Selatan pulau
Sumatera dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut dengan puncak
ketinggian mencapai 500 m dari permukaan laut. Bukit Karang Putih dan
daerah sekitarnya merupakan daerah perbukitan bergelombang yang
memiliki lereng curam.
Secara garis besar keadaan wilayah penambangan PT Semen
Padang adalah daerah perbukitan yang dilingkupi banyak pepohonan dan
semak dimana sebagian kecil digunakan masyarakat sebagai lahan
pertanian dengan ketinggian berkisar antara 225-720 meter diatas
permukaan laut.

Sumber : google.map.com

Gambar 1. Peta Lokasi Kesampaian Daerah PT Semen Padang


3. Iklim dan Curah Hujan
Iklim di daerah PT Semen Padang adalah iklim tropis yang memiliki dua
musim yaitu musim hujan dan musim kemarau dengan kisaran temperatur
2735C. Cuaca dapat mempengaruhi efektivitas kerja pada penambangan
yang menggunakan metode tambang terbuka. Cuaca yang sering hujan dapat
menyebabkan kondisi jalan tambang yang becek dan lengket sehingga akan
mempengaruhi kinerja alat maupun operator, dan membuat waktu kerja akan

lebih pendek, demikian juga sebaliknya apabila cuaca pada musim kemarau
yang menyebabkan jalan tambang jadi berdebu.
4. Keadaan Geologi
a. Keadaan Geologi Daerah Penelitian
Batu kapur

tersusun oleh mineral kalsit (CaCO3), terjadi secara

organik rombakan dan kimia. Jenis organik rombakan berasal dari kumpulan
endapan, kerang atau siput, foraminifera, serta ganggang. Jenis rombakan
kimia terjadi pengendapan dari hasil rombakan jenis organik yang
berlangsung tidak dari tempatnya semula. Ada juga jenis yang lain, yaitu
terjadi dari pengendapan kalsium karbonat dalam kondisi iklim dan suasana
lingkungan tertentu, baik dalam air laut, tawar, ataupun endapan sinter
kapur.

Sumber: PT. Semen Padang (2016)

Gambar 4. Peta Geologi Permukaan Bukit Karang Putih

1) Geomorfologi
Secara umum daerah penelitian merupakan daerah perbukitan
bergelombang hingga sangat terjal. Kemiringan lerengnya berkisar 10%
hingga lebih dari 85%, dengan ketinggian dari 225 m hingga 720 m dari
permukaan air laut.
2) Stratigrafi
Stratigrafi daerah Karang Putih, berdasarkan ciri-ciri litologinya
dan mengacu pada hasil penelitian dari Kastowo, Gerhard W leo, S
Gafor, dan T.C.amin (1996), maka tatanan batuan daerah tersebut
tersusun berurutan dari tua ke yang muda, yaitu batuan kersikan dan
satuan Batu kapur kristalin formasi kuantan, satuan konglomerat formasi
Tuhur, batuan intrusi, dan satuan batu vulkanik. Statigrafi daerah Bukit
Karang Putih PT. Seman Padang dapat dilihat pada gambar 5 di bawah
ini:

Sumber: PT. Semen Padang (2016)

Gambar 5. Statigrafi Bukit Karang Putih

3) Lithologi
Secara umum litologi penyusun satuan batuan ini didominasi oleh
batuan rijang (chert), Filit (sekisan), batu sabak dan konglomerat, yang
hanya tersingkap setempat-setempat pada alur sungai batang Idas arah ke
hulu. Di lapangan, tidak dijumpai kontak yang jelas diantara lithologi di
atas. Secara umum hanya dijumpai perubahan secara berangsur dari
Batukapur kristalin menjadi marmer, sedangkan Batukapur hablur
dijumpai pada zona sesar atau hancuran. Batukapur hablur (sugary
limestone) berwarna putih keabu-abuan, putih kecoklatan, dan
mengandung mineral kalsit 95% hingga 100%.
4) Struktur Geologi
Struktur Geologi yang ada yaitu, kekar, bidang sesar dan hancuran
atau breaksiasi. Gejala struktur geologi atau bantuan untuk mengarah ke
terjadinya struktur geologi yang lain adalah kelurusan sungai, mata air
dan lubuk-lubuk yang dalam.
5) Kekar
Struktur kekar yang berkembang meliputi gash fracture dan shear
fracture yang terdiri dari extensionjoint dan release joint. Kekar yang
dijumpai pada umumnya masih terbuka dan pada beberapa lokasi ada
yang terisi oleh mineral kalsit atau mineral ubahan lainnya.

6) Sesar
Sesar batang Idas, diantara sesar yang ada, sebelah timur bukit batu
putih, memiliki bidang sesar yang arahnya N600E/710, netslip 600,
N2080E dan rake 600. Sesar-sesar yang lain adalah:
a) Sesar ngalau baribuik berupa bidang sesar

yang berarah

N1720E/680, net slip 680, N2180E, dan Rake 640. Sehingga disebut
sebagai normal fault.
b) Sesar air luhung
c) Sesar batu putih
d) Sesar karang putih
e) Sesar lubuak paraku
7) Cadangan Batu Gamping
Perhitungan cadangan tertambang batugamping di Area 412 ha ini
dilakukan secara komputerisasi, dengan menggunakan bantuan Software
Datamine. Hasil perhitungan cadangan batugamping tertambang di Area
412 ha adalah sebesar 514.528.253 ton. Target produksi batu gamping di
Area 412 ha ini sebesar 12.500.000 ton per tahun, sesuai kebutuhan
pabrik semen.
8) Karakteristik Batu Gamping
Berdasarkan hasil contoh permukaan dan inti bor dilaboratorium
PT. Semen Padang di pertengahan 2010, diketahui sifat fisik batu kapur
di daerah Bukit Karang Putih sebagai berikut:
Warna

: Putih susu/bening, abu-abu gelap sampai terang

Kekerasan

: 3-5 skala Mohs

Belahan

: Bentuk sempurna

Pecahan

: Kaca, bentuk earthy

Sifat dalam : Dari yang keras, liat hingga brittle (rapuh)


Density

: Density Insitu 2,65 ton/BCM dan loss 1,72 ton/LCM

Kandungan unsur kimia (mineral) : CaO : 52%, MgO : 3%, FeO : 0,7%,
SiO : 6%, H2O :4,4%, CO2 : 28 %
Mineral ikutan: TiO2(Rutil), Al2O3(Korundum), Fe2O3(Hematit)
Penggunaannya disesuaikan oleh kualitas batu kapur dan sangat
dipengaruhi oleh unsur-unsur kimia yang terkandung, terutama CaO dan
MgO.
5. Kajian Teori
a. Kestabilan Lereng
1) Metode Analisis Kestabilan Lereng
Dalam analisis kelongsoran dan kestabilan lereng digunakan
konsep kesetimbangan batas. Secara prinsip, gaya geser yang diperlukan
untuk mempertahankan kemantapan akan dibandingkan dengan gaya
yang menyebabkan kelongsoran.
Pada longsoran berbentuk busur, gaya gaya

tersebut di atas

diperhitungkan pada bidang gelincir yang berbentuk busur. Gaya


penyebab kelongsoran yang selanjutnya disebut sebagai momen
penggerak berasal dari berat tanah dan berat air yang berada di atas
bidang gelincir. Sedangkan gaya atau momen penahan longsoran berasal

dari kekuatan geser tanah sepanjang bidang gelincir. Kedua momen ini
dibandingkan sehingga didapatkan factor keamanan (FK) pada bidang
yang berbentuk busur tersebut.
Faktor Keamanan (FK) =

.(6)

Dengan cara perhitungan berulang ulang (iterative) di berbagai


busur yang diperkirakan sebagai bidang gelincirnya, akan diperoleh
factor keamanan terkecil yang menyatakan bidang gelincir yang paling
berbahaya.
Beberapa

metode

yang

dapat

diterapkan

pada

konsep

kesetimbangan batas, diantaranya adalah metode bishop, fellenius, hoek


& bray. Dari beberapa metode tersebut dipilih metode bishop dengan
beberapa pertimbangan sebagai berikut :
a) Lapisan penutup terdiri dari beberapa material lepas yang berbeda
beda sifatnya.
b) Longsoran yang memungkinkan terjadinya longsoran busur.
c) Menghasilkan angka faktor

keamanan yang lebih teliti karena

memperhitungkan harga kuat geser dari tiap lapisan tanah yang ada.
Metode hoek & bray merupakan cara yang sangat mudah cepat dan
hasilnya masih dapat dipertanggungjawabkan, cara ini tergantung pada:
a) Jenis tanah, dalam hal ini tanah dianggap homogeny dan kontinu
b) Kekuatan geser material dicirikan oleh kohesi,c dan sudut geser
dalam, yang dihubungkan dengan persamaan = c + tan

c) Longsoran yang terjadi menghasilkan bidang luncur berupa busur


lingkaran
d) Tinggi permukaan air tanah pada lereng
2) Kuat Geser Tanah
Parameter kuat geser tanah diperlukan untuk analisis analisis
daya dukung tanah, stabilitas lereng, dan tegangan dorong untuk
dinding penahan tanah Mohr (1910) memberiakn teori mengenai
kondisi keruntuhan suatu bahan. Teorinya adalah bahwa keruntuhan
suatu bahan dapat terjadi oleh akibat adanya kombinasi keadaan kritis
dari tegangan normal dan tegangan geser
Kuat geser tanah adalah gaya perlawanan yang dilakukan oleh
butir butir tanah terhadap desakan atau tarikan. Dengan dasar
pengertian ini, bila tanah mengalami pembebanan akan ditahan oleh:
a) Kohesi tanah yang tergantung pada jenis tanah dan kepadatannya,
tetapi tidak tergantung dari tegangan vertical yang bekerj pad
bidang geserannya.
b) Gesekan antara butir butir tanah yang besarnya berbanding lurus
dengan tegangan vertical pada bidang bidang geserannya.
= c + tan coulomb (1776)
Dimana :

= kuat geser tanah


c = kohesi tanah
= sudut gesek dalam tanah

= tegangan normal pada bidang runtuh


persamaan diatas disebut criteria keruntuhan atau kegagalan Mohr
Coulomb. Tegangan tegangan efektif yang terjadi di dalam tanah
sangat dipengaruhi oleh tekanan air pori.
3) Pengujian Kuat Geser Tanah
Parameter kuat geser tanah ditentukan dari pengujian
pengujian laboratorium pada benda uji yang diambil dari lokasi lapangan
hasil pengeboran yang dianggap mewakili. Tanah yang diambil dari
lapangan harus di usahakan tidak berunah kondisinya, terutama pada
contoh asli ( undisturbed), dimana masalahnya adalah harus menjaga
kadar aiar dan susunan tanah di lapangannya supaya tidak berubah.
Pengaruh kerusakan contoh benda uji akan berakibat fatal terutama pada
pengujian tanah lempung. Umumnya, contoh benda uji diperoleh baik
dengan kondisi terganggu atau tidak asli (disturbed sample ) maupun
di dalam tabung contoh ( undisturbed sample). Pada pengambilan
tanah benda uji dengan tabung, biasanya kerusakan relatif lebih kecil.
Kuat geser tanah dari benda uji yang diperiksa di laboratorium,
biasanya dialkukan dengan besar beban yang ditentukan lebih dulu dan
dikerjakan dengan menggunakan tipe peralatan yang khusus. Beberapa
faktor yang mempengaruhi besarnya kuat geser tanah yang diuji di
laboratorium, adalah :
a) Kandungan mineral dari butiran tanah.
b) Bentuk partikel.

c) Angka pori dan kadar air.


d) Sejarah tegangan yang pernah dialaminya.
e) Tegangan yang ada di lokasinya (di dalam tanah).
f) Perubahan tegangan selama pengambilan contoh dari dalam tanah.
g) Tegangan yang dibebankan sebelum pengujian.
Cara pengujian.
a) Kecepatan pembebanan.
b) Kondisi drainasi yang dipilih, drainasi terbuka (drained) atau tertutup
(undrained).
c) Tekanan air pori yang ditimbulkan.
d) Kriteria yang diambil untuk penentuan kuat gesernya.
Butir a sampai e ada hubungannya dengan kondisi aslinya yang
tidak dapat dikontrol tetapi dapat dinilai dari hasil pengamatan lapangan,
pengukuran, dan kondisi geologi. Butir f tergantung dari kualitas benda
uji dan penanganan benda uji dalam persiapan pengujiannya, sedangkan
butir g sampai i tergantung dari cara pengujian yang dipilih.
4) Pengujian Geser Langsung (Direct Shear Test)
Diagram skematik dari pengujian geser langsung diperlihatkan
pada gambar 23 peralatan pengujian meliputi kotak geser dari besi, yang
berfungsi sebagai tempat benda uji. Kotak geser tempat benda uji dapat
berbentuk bujursangkar maupun lingkaran, dengan luas kira kira 19,35
cm2 sampai 25,8 cm2 dengan tinggi 2,54 cm (1). Kotak terpisah
menjadi 2 bagian yang sama. Tegangan normal pada benda uji diberikan

dari atas kotak geser. Gaya geser diterapkan pada setengah bagian atas
dari kotak geser , untuk memberikan geseran pada tengah tengah
benda ujinya.
Pada benda uji yang kering, kedua batu tembus air (porous) tidak
diperlukan selama pengujian, perpindahan akibat geser (L) darebai
setengah bagian atas kotak geser dan perubahan tebal (h) bend uji
dicatat.Ada

beberapa

macam

ukuran

kotak

pengujian

geser

langsung.Kotak pengujian geser langsung yang berbentuk bujursangkar


dapat bervariasi dari yang luasnya 100 100 mm2 sampai 300 300
mm2.Kotak geser dengan ukuran yang besar digunakan untuk pengujian
tanah dengan butiran yang berdiameter lebih besar.

Gambar 23:Alat pengujian geser langsung


Terdapat beberapa batasan ataupun kekurangan dalam pengujian
geser langsung antara lain :
a) Tanah benda uji dipaksa untuk mengalami keruntuhan (fail) pada
bidang yang telah ditentukan sebelumnya.
b) Distribusi tegangan pada bidang kegagalan tidak uniform.

c) Tekanan air pori tidak dapat diukur.


d) Deformasi yang diterapkan pada benda uji hanya terbatas pada
gerakan maksimum sebesar alat geser langsung dapat digerakkan.
e) Pola tegangan pada kenyataannya adalah sangat kompleks dan arah
dari bidang bidang tegangan utama berotasi ketika regangan geser
ditambah.
f) Drainasi tidak dapat dikontrol, kecuali hanya dapat ditentukan
kecepatan penggeserannya.
g) Luas bidang kontak antara tanah di kedua setengah bagian kotak geser
berkurang ketika pengujian berlangsung. Koreksi mengenai kondisi
ini diberikan oleh petley (1966). Tetapi pengaruhnya sangat kecil
pada hasil pengujian, hingga dapat diabaikan.
b. Analytic Hierarchy Process (AHP)
Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 70-an.
Metode AHP merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam
sistem pengambilan keputusan. Setelah persoalan didefinisikan perlu
dilakukan penguraian persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya
(elemenelemen). Sehingga diperoleh beberapa tingkatan dari persoalan
tersebut. Oleh karena itu, proses analisis ini dinamakan hierarki.
AHP memanfaatkan persepsi pakar atau informan yang dianggap ahli
sebagai input utamanya sehingga diperoleh bobot dari masing-masing
kriteria yang digunakan dalam penelitian.

Dengan mengetahui berbagai komponen yang memperngaruhi nilai


suatu risiko pada daerah tertentu, maka dapat dilakukan analisis untuk
mengetahui peranan keseluruhan komponen tersebut terhadap nilai risiko
yang dihasilkan. Analisis Proses Berjenjang (AHP) merupakan proses
analisis yang menggunakan pendekatan Multicriteria Decision Analysis
(MCDA), dilakukan dengan cara melakukan evaluasi berbobot terhadap
berbagai komponen yang mempengaruhi suatu variable secara berjenjang
(hierarkhis). Dalam hal ini, bobot masingmasing komponen ditentukan
secara relatif, yaitu suatu komponen yang dianggap memiliki pengaruh lebih
besar akan diberikan bobot yang lebih besar secara berjenjang, dan demikian
sebaliknya, komponen dengan pengaruh yang tidak terlalu besar akan
diberikan nilai bobot yang tidak terlalu besar pula

Gambar: Mekanisme AHP (sumber: www.emeraldinsight.com)


Pada kegiatan penilaian risiko, AHP digunakan untuk memberikan
bobot pada masing-masing elemen risiko (ancaman, kapasitas dan
kerentanan) yang masing-masing dipengaruhi oleh berbagai komponen

turunan. Dengan menggunakan AHP, akan diperoleh nilai risiko yang


diwakili oleh semua komponen yang teridentifikasi, sesuai dengan bobot
masing-masing.

Gambar: AHP dalam penilaian Risiko (Sumber: http://miavita.brgm.fr/)


Dalam kerangka analisis spasial untuk penentuan nilai risiko, penilaian
AHP dilakukan dengan memberikan bobot yang berbeda untuk tiap atribut
pada zona yang berbeda. Sebagai contoh, sebuah daerah erupsi gunung
berapi dapat dibagi menjadi tiga buah zona berdasarkan tingkat bahayanya.
Pada zona paling berbahaya diberikan bobot yang lebih tinggi, sedangkan
pada zona yang tidak terlalu berbahaya diberikan nilai bobot yang tidak
terlalu tinggi pula. Dengan melakukan analisis multikriteria secara
berjenjang akan diperoleh nilai risiko yang cukup representatif sesuai
dengan bobot komponen yang diberikan.

c. Geography Information System (GIS)


Menurut Karsidi (2004) Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan
suatu system berbasis spasial yang mampu mengolah dan menyajikan
informasi secara spasial pula. Pemanfaatan SIG ini akan sangat berguna
dalam kaitannya dengan dinamika penggunaan lahan, terlebih lagi dengan
ketersediaan model-model aplikatif yang mampu menyajikan aspek
dinamika keruangan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan adalah metodologi penelitian
terapan (Applied Research). Menurut A. Muri Yusuf (2005), Penelitian
terapan adalah penelitian yang lebih menekankan pada penerapan ilmu,
aplikasi, ataupun penggunaan ilmu untuk dan dalam masyarakat, ataupun
untuk keperluan tertentu (industry, usaha dll). Penelitian terapan merupakan
suatu kegiatan yang sistematis dan logis dalam rangka menemukan sesuatu
yang baru atau aplikasi baru dari penelitian penelitian yang telah pernah
dilakukan selama ini.
B. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah pengambilan
secara langsung ke lapangan atau perusahaan. Urutan pengumpulan data
adalah sebagai berikut.
1. Studi Literatur
Dilaksanakan dengan mencari bahan bahan pustaka yang menunjang
penelitian yang diperoleh daribuku buku mengenai analisis kestabilan
lereng, analytic hierarchy process dan system informasi geografis, laporan
laporan penelitian terdahulu, informasi dari media lain seperti internet
dan sebagainya.

2. Pengamatan Langsung di Lapangan


Pengamatan langsung dilapangan meliputi orientasi lapangan bersama
karyawan perusahaaan untuk langkah awal penelitian, penentuan objek
yang diteliti serta melakukan observasi kelokasi keberadaan lereng
penambangan open pit batugamping di bukit karang putih. Selanjutnya
dilakukan pengujian terhadap sampel untuk menganalisis kestabilan lereng
dan melakukan pembobotan berdasarkan tingkat kepentingannya dan
diakhiri dengan membuat pemetaan potensi kelongsorannya.
3. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan setelah mempelajari literatur dan orietasi
lapangan. Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder. Unutk
data

primer

diambil

langsung

dilapangan

atau

hasil

pengujian

laboratorium, sedanglan data sekunder didapatkan dari literatur perusahaan


atau

laporan

perusahaan

maupun

wawancara

dengan

karyawan

perusahaan.
Adapun data yang diambil berupa:
a. Data Primer
Data primer pada penelitian ini merupakan data hasil pengujian
laboratorium. Yang meliputi sifat fisik tanah penyusun lereng open pit
pada PT. Semen Padang yang akan digunakan untuk analisa geoteknik
seperti :

1) Bobot isi kering (dry density)


Bobot isi kering (dry density) didapat dari hasil uji sifat
fisik.Bobot isi kering ini merupakan perbandingan antara berat
batuan kering dengan volume total batuan.
2) Bobot isi jenuh (Saturated Density)
Bobot isi jenuh (Saturated Density)didapat hasil uji sifat fisik.
Bobot isi kering ini merupakan perbandingan antara berat batuan
jenuh dengan volume total batuan.
3) Kohesi (cohesion)
Kohesi adalah kuat tarik menarik antara butiran tanah yang
dinyatakan dalam satuan berat persatuan luas.Bila kuat gesernya
semakin besar, maka semakin besar pula harga kohesi dari tanah
tersebut. Ini berarti tanah dengan kohesi yang besar dapat dibuat
lereng dengan kemiringan yang besar untuk nilai keamanan yang
sama. Harga kohesi didapat dari analisis laboratorium, yaitu
dengan uji geser langsung.
4) Sudut geser dalam ( friction angel)
Sudut geser dalam adalah sudut yang dibentuk dari hubungan
tegangan geser dalam material tanah.Sudut geser dalam juga
merupakan rekahan yang dibentuk jika suatu material dikenakan
tegangan yang melebihi tegangan gesernya.Untuk mengetahui
besar sudut geser dalam harus dilakukan uji geser langsung.

b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari perusahaan
dan literature literature terkait yang meliputi:
1) Data curah hujan
2) Layout penambang lokasi penelitian
3) Peta topografi lokasi penelitian
4) Peta lokasi kesampaian daerah penelitian
5) SOP perusahaan yang berhubungan dengan analisis lereng
4. Pengolahan Data
Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis akan menggabungkan
antara berbagai data yang akan mendukung pada pemecahan masalah.
Data data yang dibutuhkan pada penyelesaian penelitian ini didapat dari
hasil pengujian sampel tanah di laboratorium.
a. Pengujian penentuan berat isi/ bobot isi
Pengujian bobot isi () bertujuan untuk mendapatkan berat isi/
bobot isi tanah yang merupakan perbandingan antara berat tanah basah
dengan volumenya (gram/cc).
Peralatan yang digunakan:
1) Cincin uji dengan diameter 6 cm, tinggi 2 cm.
2) Pisau pemotong contoh tanah.
3) Timbangan listrik dengan ketelitian 0,01 gram

Prosedur pengujian adalah sebagai berikut:


1) Cincin dalam keadan bersih ditimbang (W1)
2) Benda uji disiapkan dengan menekan cincin pada tabung contoh
sampai cincin terisi penuh
3) Ratakan kedua permukaan dan bersihkan cincin sebelah luar
4) Timbang cincin dan contoh tanah dengan ketelitian 0,01 gram (W2)
5) Hitung volume contoh tanah (V) dengan mengukur ukuran dalam
cincin dengan ketelitian 0,01 cm.
Berat isi =

gram/ cc .(12)

b. Pengujian geser langsung


Bertujuan untuk menentukan parameter kekuatan tanah, yaitu
kohesi (c) dan sudut geser dalam ()
Peralatan yang digunakan :
1)

Alat geser langsung

2)

Batu berpori

3)

Alat untuk mengeluarkan contoh tanah dan pisau pemotong

4)

Cincin untuk mencetak benda uji

5)

Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram

6)

Oven pengering

Prosedur pengujian adalah sebagai berikut :


1) Contoh tanah ditimbang.
2) Masukkan contoh tanah ke dalam cincin pemeriksaan yang telah
terkunci menjadi satu dan pasangkan batu berpori pada bagian atas
dan bawah contoh.
3) Stang penekan dipasang vertical untuk member beban normal pada
contoh tanah dan diatur sehingga beban yang diterima oleh contoh
tanah sama dengan beban yang diberikan pada stang tersebut.
4) Penggeser beban dipasang pada arah mendatar untuk memberi beban
mendatar pada bagian atas cincin pemeriksaan.
5) Berikan beban normal pertama sesuai dengan beban yang
diperlukan. Segera setelah beban pertama diberikan, isilah kotak
cincin pemeriksaan dengan air sampai menutup contoh tanah dan
jagalah permukaan air tetap selama pengujian.
6) Kenakan beban horizontal pada bagian atas kotak geser. Laju
pergerakan geser harus di antara 0,02 0,10 inchi/menit (0,51-2,54
mm/menit). Untuk setiap 10 (sepuluh) penunjukan jarum

dial

deformasi horizontal catat penunjukan dial vertical dan pembacaan


dial pergerakan arloji geser. Pembacaan dial arloji digeser dilakukan
untuk mendapatkan beban horizontal (geser).

7) Pengujian dilakukan minimal 3 (tiga) kali, dengan beban normal (N)


pengujian ke tiga besarnya tiga kali beban normal pengujian
pertama, atau dua kali beban normal pengujian kedua. Pada setiap
pengujian diusahakan berat isi kering contoh tanah selalu sama.
5. Analisis Data
Rumus yang digunakan untuk analisis FK area open pit
a. Rumus yang digunakan untuk analisis tanah pada kondisi kering
M = cd atau cd = m . . H
H
Hcr =

F = tan
tan d
Fc =
Fc = F = Fs
Sumber : Buku MD-2 Stabilitas Talud BAB 12:185

d =
sumber: Buku Braja M. Das jilid 1-2 bab 2 halaman 31
Keterangan:
c
cd
Fc
F
Fs
H
m

kohesi
kohesi yang dibutuhkan
angka keamanan terhadap kohesi
angka keamanan terhadap geseran
angka keamanan terhadap kekuatan
tinggi
angka stabilitas
kemiringan talud terhadap horizontal
sudut geser yang dibutuhkan

b. Rumus yang digunakan untuk kondisi tanah jenuh

sat = dry (1 + w )
= sat - w

Sumber buku Braja M .Das jilid 1-2 bab 2 halaman 42

Fs =

c
+ .tan
sat.H.cos 2.tan sat.tan

Selain itu proses analisis kesstabilan lereng juga akan dibantu dengan
perangkat lunak Geostudio 2012 Slope/W untuk mendukung hasil
perhiitungan manual.
6. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan diperoleh dari hasil pengamatan lapangan, perhitungan
dan analisis data. Selanjutnya, dihasilkan suatu rekomendasi yang
bermanfaat bagi perusahaan, dan saran saran agar apa yang
direkomendasikan bisa dilaksanakan oleh perusahaan.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah semua lerang yang terbentuk dari proses
penambangan batu kapur di penambangan terbuka bukit karang putih PT
Semen Padang.
2. Sampel
Adapun yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah batuan penyusun
lereng yang terbentuk dari proses penambangan batu kapur di
penambangan terbuka bukit karang putih PT Semen Padang.

D. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di:
Nama Perusahaan : PT. Semen Padang
Bidang Pekerjaan : Penambangan Open Pit Batu Gamping
Alamat

: Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota


Padang

E. Bagan Alir Penelitian


Berikut adalah bagan alir penelitian, lihat Gambar 5 di bawah ini:
MULAI

Orientasi lapangan

Permasalahan

Studi Literatur

Data Primer

F.1)

Bobot isi kering (dry density)

2)

Bobot isi jenuh (Saturated Density)

3)

Kohesi (cohesion)

4)

Sudut geser dalam ( friction angel)

G.

H.

Data Sekunder

Pengambilan Data

1)

1)

Data curah hujan

2)

Layout penambang lokasi penelitian

3)

Peta topografi lokasi penelitian

4)

Peta lokasi kesampaian daerah penelitian

5)

SOP perusahaan yang berhubungan dengan


analisis lereng

Pengolahan dan analisis data

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 5 Bagan Alir Penelitian

DAFTAR PUSTAKA
1.

Abramson, Lee W dkk. 1995. Slope Stability And Stabilization Methods. John
Wiley & Sons, Inc. New York

2.

Bowles, Joseph E. 1989. Sifat-sifat Fisis dan Geoteknik Tanah (Mekanika Tanah)
Edisi kedua. Erlangga. Jakarta

3.

Craig, R.F. 1994. Mekanika Tanah Edisi keempat. Erlangga. Ciracas-Jakarta

4.

Hoek, E & J.W. Bray. 1981. Rock Slope Engineering Revisi Edisi ketiga. The
Institution of Mining And Metallurgi. London

5.

Hirnawan, Febri (2008). Analisis Kestabilan Lereng. Pusat Pendidikan dan


Pelatihan Teknologi Mineral dan Batubara ESDM, Bandung

6.

__________________2008. Pendidikan dan Pelatihan Analisa Kestabilan


Lereng. PPPTMB. Bandung