Anda di halaman 1dari 2

SKENARIO KASUS 2 KEGAWATDARURATAN

Seorang gadis berusia 18 tahun sampai di Departemen Kesehatan dalam


keadaan tanpa sadar dengan tidak berespon stimulus nyeri atau dengan skala 3
koma. Dengan riwayat mengkonsumsi tablet oral Fenobarbital kemarin malam
setelah itu pasien tidak arousable di pagi hari. Tidak ada riwayat kejang, muntah
dan inkontinensia urine atau lidah tergigit. Beberapa jam kemudian pasien
menjadi demam dan takipnea dengan denyut nadi 130x/menit, tekanan darah
120/70 mmHg, SPO2 93%, ukuran dan reaksi pupil normal. Refleks plantar dan
tendon tidak ada.
Pasien di diagnosis mengalami keracunan obat bius yaitu barbiturat dan
dipindahkan ke ICU. Tidak lama setelah masuk dia mengalami kejang tonik
klonik yang mereda setelah beberapa detik secara spontan. Kondisinya semakin
takipnea dan SPO2 nya semakin mulai turun. Analisis gas darah menunjukkan
hypocarbia dengan asidosis metabolik. Dia diintubasi nasal dan berventilasi oleh
Evita-2 (Drager) ventilator. Pada mode ventilas9i dengan tekanan intermiten
positif volume tidal 400 ml, FiO2 80%, dan frekuensi 14x/menit. Pasien terpasang
kateter dilanjutkan dilakukan pemasangan NGT. Tekanan vena sentral diberikan
terapi cairan dengan NGT. Pemantauan suhu terus menerus dilakukan dan
perawatan untuk menghindari hipotermia.
Antibiotik, fenitoin, ranitidin, dopamine dalam dosis rendah dan terpasang
broncholidator. Selain itu 10 tablet activated charcoal (5 gram) dengan diberikan
telur albumin selama 4 jam melalui Ryle tube. Diawali dengan diuresis alkalin.
Satu liter RL dan dicampur dengan sodabicarbonate 50 cc yang dialirkan secara
intravena selama 6 jam. Tujuannya adalah untuk menjaga pH urin antara 8-8,5,
kalium serumnya 2,5/eqlt dan SGOT 118 IU dan SGPT 99 IU, protein serumnya 6
g%.
Hasil urin positif (terdapat badan keton dan serum barbiturat). Tingkat
kesadaran tidak ada perubahan, direncanakan akan dilakukan hemodialisis.
Hemodialisis dilakukan dengan menggunakan Sresenius Haemodialyser. Dalam
beberapa jam, kondisi pasien membaik dan dia mulai dapat merespon perintah

verbal. Tanda-tanda vital stabil. Dia diekstubasi secara teratur, respirasi spontan.
Terapi oksigen dengan ventimask (FiO2-60%) terpasang. Secara bertahap FiO2
pasien dikurangi menjadi 28%. SGOT 222 IU dan SGPT 240 IU (masih tinggi).
Hasil pengulangan uji serum tidak ada sisa. Satu minggu kemudia dia dipulangkan
kerumah.