Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Tujuan Percobaan


a. Dapat mengetahui tahapan dalam pembuatan kurva kalibrasi.
b. Dapat menggunakan kurva kalibrasi dalam analisis obat.
I.2 Dasar Teori
Linearitas menunjukkan kemampuan suatu metode analisis untuk memperoleh
hasil pengujian yang sesuai dengan konsentrasi analit dalam sampel pada kisaran
konsentrasi tertentu. Sedangkan rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan
tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan,
keseksamaan dan linearitas yang dapat diterima. Rentang dapat dilakukan dengan cara
membuat kurva kalibrasi dari beberapa set larutan standar yang telah diketahui
konsentrasinya.
Persamaan garis yang digunakan pada kurva kalibrasi diperoleh dari metode
kuadrat terkecil, yaitu y= a + bx. Persamaan ini akan menghasilkan koefisien relasi (r).
Koefisien kolerasi inilah yang digunakan untuk mengetahui linearitas suatu metode
analisis. Penetapan linearitas minimum menggunakan lima konsentrasi yang berbeda.
Nilai koefisien kolerasi yang memenuhi persyaratan adalah lebih besar dari 0,9970.
Linearitas juga dapat diketahui dari kemiringan garis, intersep, dan residual.
Spektrofotometer UV-VIS adalah pengukuran panjang gelombang dan intensitas
sinar ultraviolet dan cahaya tampak yang diabsorpsi oleh sampel. Spektrofotometer UVVIS biasanya digunakan untuk molekul dan ion anorganik atau kompleks dalam larutan.
Sinar ultraviolet berada pada panjang gelombang 200-400 nm, sedangkan sinar tampak
berada pada panjang gelombang 400-800 nm. Sebagai sumber cahaya biasanya
digunakan lampu hydrogen atau deuterium untuk pengukuran UV dan lampu tungsten
untuk pengukuran pada tampak cahaya.
Vitamin B6 adalah suatu vitamin yang larut air dan termasuk dalam golongan
vitamin B kompleks. Vitamin B6 terdiri dari bebrapa kelompok piridina yang memiliki
banyak kesamaan satu dengan yang lain, diantaranya piridoksin, piridoksal,

piridoksalmina. Piridoksin, piridoksal dan piridoksalmina dalam penyerapannya mudah


terabsorpsi melalui saluran pencernaan.

BAB II
METODE KERJA
II.1 Alat dan Bahan
a. Alat
- Beaker glass
- Bulp
- Labu ukur
- Pipet volume
- Spektrofotometer
- Tissue
b. Bahan
- Air suling
- Vitamin B6

II.2 Cara Kerja


A. Operating time
- Dibuat larutan vitamin B6 dengan kadar 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25 ppm
-

dan 30 ppm.
Dilakukan pengujian menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang

291 nm.
Di plotkan serapan yang terbaca vs waktu pada kertas grafik numeric dan
ditetapkan berapa lama larutan serapan.

B. Menentukan panjang gelombang.


- Dibuat 3 macam kadar vitamin B6 pada konsentrasi 50, 100 dan 150 ppm.
- Dilakukan pengujian menggunakan spektrofotometer. Dibaca intensitas warna
pada = 291 nm.
- Diplotkan serapan yang terbaca vs . Dan ditetapkan maksimal.
C. Membuat kurva kalibrasi.
- Dibuat larutan vitamin B6 dengan kadar 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25 ppm
-

dan 30 ppm.
Dilakukan pengujian menggunakan spektrofotometer. Dibaca intensitas warna

pada = 291 nm yang ada di butir.


Persamaan kurva baku dengan dibuat persamaan terkecil dihitung koefisien
korelasi.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

III.1

Data Pengamatan
Absorbansi vitamin B6 (291 nm)
Konsentrasi
10 ppm
15 ppm
20 ppm
25 ppm
30 ppm

III.2

Absorbansi
0,304 A
0,440 A
0,594 A
0,736 A
0,934 A

Perhitungan
Larutan stok

50 mg
500 ml

= 0,1

= 100

mg
ml

g
ml

= 100 ppm
Perhitungan deret (10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25 ppm dan 30 ppm)
- V1 . N1
= V2 . N2
V1 . 100 ppm
= 100 ml . 10 ppm
100 ml x 10 ppm
V1
=
100 ppm

V1

= 10 ml.

V1 . N1
V1 . 100 ppm
V1

= V2 . N2
= 100 ml . 15 ppm
100 ml x 15 ppm
=
100 ppm

V1

= 15 ml.

V1 . N1
V1 . 100 ppm
V1

= V2 . N2
= 100 ml . 20 ppm
100 ml x 20 ppm
=
100 ppm

V1

= 20 ml.

V1 . N1
V1 . 100 ppm
V1

= V2 . N2
= 100 ml . 25 ppm
100 ml x 25 ppm
=
100 ppm

V1

= 25 ml.

V1 . N1
V1 . 100 ppm

= V2 . N2
= 100 ml . 30 ppm
100 ml x 30 ppm
=
100 ppm

V1

III.3
III.4

V1
= 30 ml.
Kurva kalibrasi Vitamin B6
Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu pembuatan kurva kalibrasi vitamin B6. Tujuan dari

praktikum kali ini yaitu mengetahui bagaimana cara pembuatan kurva kalibrasi suatu
obat yang nantinya akan dianalisis. Untuk membuat kurva kalibrasi dibuat larutan stok
100 ppm yang kemudian diencerkan menjadi 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25 ppm dan 30
ppm. Kemudian diukur serapan masing-masing larutan menggunakan spektrofotometer
UV-VIIS pada =291 nm. Hasil absorbansi untuk konsentrasi 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm,
25 ppm dan 30 ppm berturut-turut 0,304 A; 0,440 A; 0,594 A; 0,736 A dan 0,934 A.
Hubungan antara konsentrasi terhadap absorbansi akan linear apabila nilai absorbansi
larutan antara 0,2 0,8 (0,2A0,0) atau lebih sering disebut sebagai daerah hukum

Lambert Beer. Digunakan panjang gelombang maksimum karena jika pengukuran


dilakukan pada panjang gelombang yang sama maka data yang diperoleh semakin
akurat atau kesalahan yang muncul semakin kecil.
Dari data absorbansi yang diperoleh menunjukkan peningkatan nilai absorbansi
dari setiap konsentrasi larutan vitamin B6. Semakin tinggi konsentrasi larutan, maka
semakin tinggi juga nilai absorbansinya. Hal ini sesuai dengan hukum Lambert Beer
yang mengatakan bahwa absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi, karena b
atau 1 harganya 1 cm dapat diabaikan dan merupakan suatu tetapan. Sehingga didapat
persamaan yang linear y = 0,0311 x 0,0208 dengan nilai koefisien kolerasi (R2) =
0,995.

BAB IV
PENUTUP
IV.1
Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa :
Vitamin B6 merupakan vitamin yang larut air.
Larutan stok yang digunakan 100 ppm dari 50 mg sampel yang dilarutkan dalam 500
ml.

Hasil absorbansi yang didapat 0,304 A; 0,440 A; 0,594 A; 0,736 A dan 0,934 A.
Nilai koefisien kolerasi (R2) = 0,995 dengan persamaan linear 0,0311 x 0,0208.

DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta. Depkes RI.


Leon Shargel, Andrew B.C.Yu. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi

kedua, Alih bahasa; Fasich dan Siti Syamsiah. Surabaya. Airlangga university press.
Rustiani, Erni. 2016. Penuntun Praktikum Farmakokinetik. Bogor. Universitas Pakuan.