Anda di halaman 1dari 39

METODE PELAKSANAAN

PEKERJAAN

PENATAAN FOODCOURT SOR SI JALAK HARUPAT

TAHUN ANGGARAN 2016

CV. YDP USAHA PERDANA

BAB 1
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
1

Metode Pelaksanaan Pekerjaan ini disusun berdasarkan, uraian yang didapat didalam
dokumen lelang paket pekerjaan PENATAAN FOODCOURT SOR SI JALAK
HARUPAT.
Pelaksanaan pekerjaan akan dilaksanakan selama 75 (Tujuh Puluh Lima) hari kalender.
Dengan waktu pelaksanaan pekerjaan yang disediakan hanya 75 (Tujuh Puluh Lim ) hari
kalender yang terdiri dari Pekerjaan Persiapan ,Pekerjaan Arsitektur , Struktur,Pekerjaan
Mekanikal Elektrikal Plumbing dan Pekerjaaan Lain-lain. dengan item cukup banyak, maka
kegiatan pembangunan ini akan berjalan secara simultan dan bertahap.
Semua tahapan pekerjaan gedung mempunyai metode pelaksanaan yang disesuaikan
dengan disain dari konsultan perencana. Perencanaan metode pelaksanaan pekerjaan struktur
didasarkan atas design, situasi dan kondisi proyek serta site yang ada dalam data-data proyek.
Data-data tersebut merupakan data yang mempengaruhi dalam menentukan dan
merencanakan metode pelaksanaan gedung.
2. DATA ADMINISTRASI PROYEK
1. Nama Proyek
: PENATAAN FOODCOURT SOR SI JALAK

HARUPAT
2. Lokasi Proyek
3. Pemberi Tugas
4. Konsultan Perencana :
5. Pagu
6. Waktu Pelaksanaan
7. Sumber Dana
8. Jenis Kontrak

: Komplek Olahraga Stadion Si Jalak Harupat


: Dinas pemuda Olahrga dan Pariwisata Kab. Bandung
: Rp. 720.000.000
: 75 HK ( Tujuh Puluh Lima Hari Kalender)
: Bantuan Gubernur Jawa barat
:

3. LINGKUP PEKERJAAN
1. PEKERJAAN PERSIAPAN
2. PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN
3. PEKERJAAN PONDASI DAN BETON
4. PEKERJAAN PASANGAN
5. PEKERJAAN KUSEN DAN DAUN PINTU /JENDELA+KACA
6. PEKERJAAN ATAP
7. PEKERJAAN LANTAI
8. PEKERJAAN PENGECATAN DAN LABURAN
9. PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG DAN KUNCI
10. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK DAN ARMATUR
11. PEKERJAAN SANITASI
12. PEKERJAAN LAIN-LAIN

BAB 2
METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
2

1. PEKERJAAN PERSIAPAN
Stock besi dipisahkan
1. Mobilisasi Alat dan Material
menurut diameter masingmasing

Mobilisasi alat dan material menggunakan truck dan mobil pick up


Pada pintu masuk maupun keluar proyek di pasang lampu rotary tanda
peringatan
HATI-HATI KELUAR MASUK KENDARAAN PROYEK
Agar lalu lintas tetap terkendali ada petugas flagman yang mengatur lalu lintas
Fabrikasi besi keluar masuk kendaraan proyek.
2. Pagar Proyek Sementara
Pada Proyek ini direncanakan pagar proyek menggunakan pagar seng tinggi 2 m yang .
Seperti terlihat dalam visualisasi berikut dibawah:

Pagar Proyek Sementara

3. Fasilitas Sementara

Fabrikasi bekisting
Stock besi tertata rapi
Gudang kayu
Direksi Keet Sementara

Besi
yang telah
dipabrikasi Ditata
Kebersihan
fabrikasi
secara
rapi tertata rapi
Bekisting
bekisting

Mulai

Pemeriksaan
Shop Drawing
Kontraktor
1 day

Evaluasi & Koreksi


Shop Drawing
Pengawas

Revisi ?

Revisi Shop Drawing


Kontraktor

2 days

4. Pembuatan dan Persetujuan


Ya Gambar Kerja
Tidak
Shop Drawing adalah detail gambar konstruksi dan harus dipersiapkan sebelum

Persetujuan SD
Dikirim kembali
Pengawas
Selesai

1 days

pekerjaan
pelaksana di

yang bersangkutan dilaksanakan. Shop Drawing digunakan sebagai acuan bagi


lapangan.

Flow Chart Pengajuan Shop Drawing

5. Persetujuan Bahan dan Material

Flow Chart Pengajuan Material

2. PEKERJAAN PENGUKURAN
Pengukuran dan pematokan (setting out/stake out) adalah pekerjaan tahap
awal dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi,
sebelum malaksanakan
pengukuran dan pematokan juru ukur perlu menyiapkan dokumen gambar kerja
(gambar rencana, gambar denah ruang dan gambar denah pondasi). Pada
pengukuran dan pematokan bangunan gedung serta bloking dan kavling
6

perumahan dengan bentuk ruang siku siku dapat dipergunakan 2 (dua) cara yaitu
dengan cara menerapkan rumus Phytagoras untuk menghitung panjang sisi
segitiga. Pada umumnya untuk membuat kesikuan gedung di lapangan
menggunakan perbandingan sisi segitiga dengan ukuran sisi segitiga 60 cm: 80
cm : 100 cm, 3 m: 4 m : 5 m, 6 m: 8 m : 10 m dsb, pada cara ini menggunakan
alat ukur jarak datar pita ukur baja panjang 30 m atau 50 m dengan ketelitian
bacaan mm. Selain cara sederhana pada pengukuran dan pematokan dapat juga
menerapkan sistem koordinat, alat yang digunakan pada cara ini adalah teodolit
manual, teodolit digital atau teodolit total station (TS) dengan ketelitian bacaan
sudut satuan detik, pada pelaksanaan sistem ini juru ukur dapat melakukan
pekerjaan pengukuran dan pematokan titik-titik as sesuai data ukuran yang ada
pada gambar denah ruang yang sudah dihitung jarak dan sudut datarnya, dengan
sekali berdiri teodolit pada patok tetap sebagai referensi dapat melaksanakan
pengukuran dan pematokan semua titik as gedung sesuai kemampuan jarak bidik
minimum dan maksimum teodolit.

3. PEKERJAAN GALIAN TANAH


Penggalian untuk pondasi yang akan dilakukan mempunyai lebar yang cukup untuk pembangunan
dan juga untuk mengadakan pembersihan.
Urutan kerja :
8

a) Lahan yang akan digali dipersiapkan sebelumnya dengan melakukan pemasangan patok
elevasi panjang, lebar, dan kedalamannya sesuai dengan rencana kebutuhan di lapangan
b) Melakukan pemasangan rambu keamanan untuk menjaga hal-hal yang tidak diharapkan pada
saat pelaksanaan pekerjaan.
c) Penggalian dilakukan secara manual, dengan tenaga tukang.
d) Hasil galian dibuang ke lokasi proyek dengan menggunakan kereta dorong.
e) Penggalian akan dilakukan sesuai dengan kedalaman yang ditetapkan pada gambar
perencanaan.
f) Sekelompok pekerja akan merapikan hasil galian.

4. PEKERJAAN PILE CAP

0
1
2
3

1. B. Pekerjaan, pasir urug,


Lantai kerja Dan
Pasang Bekisting Bataco
C. Pekerjaan Pembesian Pile Cap

3. Pekerjaan Pengecoran Site Mix Pile Cap


Menggunakan Concrete Mixer kap. 0.8 m3

4. Pengurugan Tanah Kembali

VISUALISASI PEKERJAAN PILE CAP

10

GAMBAR DETAIL PILE CAP

5. PEKERJAAN TIE BEAM/SLOOF


Urutan Kerja :
1. Besi sloof yang telah dipotong dan dirakit selanjutnya dipasang di atas pondasi. Buat
stek besi untuk sambungan besi kolom di sloof.
2. Bekisting sloof dipasang dengan skor kayu bekisting tiap 30 cm.
3. Sebelum pengecoran sloof, semua jarak dan ukuran dicek kembali oleh pengawas. Baik itu
jumlah dan jarak tulangan maupun ukuran sloof lantai.
4. Sloof lantai dicor dengan campuran semen pasir dan kerikil. Pencampuran dilakukan
dengan menggunakan alat concrete mixer. Terlebih dahulu pasirdengan kualitas baik yang
rendah kadar lumpurnya dicampur dengan kerikil.
5. Setelah itu ditambahkan semen dan dicampur rata lalu terakhir ditambahkan air.
6. Bila campuran telah rata lalu dituang ke bak pencampuran dan diisi ke ember campuran
untuk diangkut dan dituang ke bekisting sloof lantai.
Rencana pengecoran sloof lantai hinga bekistingnya dilepas adalah selama 2 minggu.

DETAIL SLOOF

6. PEKERJAAN STRUKTUR
KOLOM

11

12

13

BALOK DAN PLAT

14

1. Pemasangan besi balok dengan cara di prefabrikasi pada sebagian balok induknya.
15

2. Besi tulangan utama balok dirangkai di bawah lengkap dengan sengkangnya dibuat parsial
pada as kolom tulangan extra di pasang belakangan.
3. Besi balok di rangkai di angkat dimiringkan kemudian di masukkan ke sengkang kolom
sesuai posisinya .

7. PEKERJAAN KONTRUKSI ATAP BAJA RINGAN


a. Langkah 1: Persiapan kerja
1.
Menyiapkan gambar rencana atap dan perletakkan kuda- kuda, dan tidak
diperkenankan menggunakan gambar draft sebagai panduan.
2.
Menyiapkan semua peralatan perlengkapan keselamatan dan kesehatan
kerja, dan memperhatikan petunjuk
tentang persyaratan melakukan pekerjaan di atas
ketinggian (lihat bagian keselamatan kerja).
3. Menyiapkan semua perlengkapan untuk pemasangan
kuda-kuda, antara lain: bor dan hexagonal socket,
meteran, selang air (waterpass), alat penyiku, mesin
pemotong, gergaji besi, palu, dan sebagainya.
b. Langkah2: Leveling dan marking
1. Memastikan seluruh permukaan atas ring balok dalam keadaan rata dan siku,
dengan menggunakan selang air (waterpass) dan penyiku sebagai alat bantu
2.Memastikan bahwa rangkaian ring balok telah mengikat semua bagian
bangunan dan tersambung secara benar (monolith) dengan kolom yang ada di
bawahnya.
3. Memberi tanda posisi perletakan kuda-kuda (truss), sesuai dengan gambar
rencana atap.
4.Mengukur jarak antar kuda-kuda
Langkah 3: Pengangkatan dan pemasangan kuda-kuda
1. Mengangkat kuda-kuda secara hati-hati, agar tidak meng akibatkan kerusakan
pada rangkaian kuda-kuda yang telah selesai dirakit .
2. Memastikan posisi kiri dan kanan (L-R) kuda-kuda tidak terbalik. Sisi kanan
dan kiri kuda-kuda dapat ditentukan dengan acuan posisi saat pekerja melihat
kuda-kuda, dengan mulut web dapat dilihat oleh pekerja. Bagian di sebelah kiri
pekerja disebut sisi kiri, sedangkan yang berada di sebelah kanannya adalah sisi
kanan.
3. Mengontrol posisi berdirinya kuda-kuda agar tegak lurus
dengan ringbalok menggunakan benang dan lot (unting-unting)
4. Mengencangkan kuda-kuda dengan plat L (L bracket), dengan menggunakan 4
buah screw 12 14 x 20 HEX.
5. Mengencangkan plat L dengan ring balok menggunakan dynabolt, dan
menambahkan balok penopang sementara, agar posisi kuda-kuda tidak berubah.
6. Mengulangi langkah ke-1 sampai ke-6 untuk mendirikan semua kuda-kuda,
sesuai dengan posisinya dalam gambar kerja.
7. Memeriksa ulang jarak antar kuda-kuda dari as ke as (maksimum 1,2 meter).

16

8. Memeriksa kedataran (leveling) semua puncak kuda-kuda dan memastikan


garis nok memiliki ketinggian yang sama (datar)
9. Memasang balok nok.
10. Memasang bracing (pengikat) sebagai perkuatan, jika bekerja beban angin.
Bracing dipasang di atas top-chord dan di bawah reng.
11. Bila menggunakan aluminium foil, lapisan ini dipasang terlebih dahulu di atas
truss,jurai dan rafter
12. Memasang reng (roof battens) dengan jarak menyesuaikan jenis penutup atap
yang digunakan. Setiap pertemuan reng dengan kuda-kuda diikat memakai screw
ukuran 10-1616 sebanyak 2 (dua) buah
13. Memasang outrigger (gording tambahan setelah kuda-kuda terakhir yang
menumpu ringbalk). Pada atap jenis pelana, outrigger dapat dipasang sebagai
overhang dengan panjang maksimal 120 cm dari kuda- kuda terluar, dan jarak
antar outrigger 120 cm. outrigger harus diletakkan dan di-screw dengan dua buah
kuda-kuda yang terdekat. Memasang ceilling battens dengan jarak antar masingmasing ceilling battens adalah 120 cm. Komponen ini dipasang pada permukaan
bagian atas bottom chord kuda-kuda dan di-screw. Untuk pertemuan ceilling
battens dengan ring balok di beriBbantalan bracket yang diikat memakai 2 (dua)
buah dynabolt. Fungsi ceilling battens adalah untuk memperkuat ikatan antar
kuda-kuda. Jika diperlukan, sambungan memanjang ceilling battens sebaiknya
tepat diatas bottom chord. Setiap sambungan harus overlap 40 cm, dan setiap
pertemuan dengan bottom chord harus di-screw. Ceiling battens selanjutnya dapat
difungsikan untuk menahan plafond dan penggantungnya Pemasangan ceiling
battens Sambungan ceilling battens atau top span overlap sepanjang 40 cm
dengan perkuatan 4 buah screw
d. Pemasangan penutup atap Galvalum
1.
Memeriksa ulang pemasangan kuda-kuda sesuai dengan nomor, kedataran
nok maupun sisi atap, dan memastikan support overhang terpasang dengan
benar .
2.
Bila menggunakan Aluminium Foil, maka lapisan ini dipasang terlebih
dahulu di atas jurai dan rafter,
3. Menentukan jarak reng sesuai dengan jenis penutup atap yang digunakan,
kemudian dilanjutkan denganpemasangan reng (roof battens) dengan screw 10
16 x 16 HEX.
4. Memasang satu jalur penutup terlebih dahulu dari bawah ke atas. Pemasangan
penutup atap harus lurus dan rapiagar polanya menjadi rapi dan tidak berbelok
belok
8. PEKERJAAN DINDING

17

DENAH LANTAI 1
ALAT YANG DIPERLUKAN :
TROWEL
PALU KARET
WATER PASS
BESI SIKU
GERGAJI
RAMSET
GARUKAN PERATA
HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN :
1. PEMASANGAN HABEL HARUS ZIG-ZAG DENGAN OVERLAP YANG DIIJINKAN
MIN. 10 CM
2. DAERAH PERTEMUAN ANTARA HABEL DAN STRUKTUR HARUS DIBERIKAN
ADUKAN ELASTIS 1 PC : 6 PS
3. HASIL AKHIR PEMASANGAN HABEL YANG BENAR DITANDAI DENGAN
TIDAK ADANYA LUBANG-LUBANG SINAR YANG MUNCUL DARI DINDING
PERMUKAAN PASANGAN HEBEL
4. PENGGUNAAN BETON PRAKTIS MENGIKUTI ATURAN DARI PABRIK HABEL
5. PEMASANGAN HABEL YANG BAIK ADALAH DENGAN MENGGUNAKAN ALAT
TROWEL SELEBAR TEBAL HEBEL
6. PM-100 YANG MENEMPEL PADA HEBEL YANG AKAN DIREKATKAN SATU
DENGAN YANG LAIN HARUS DALAM KONDISI BERALUR18

7. ALUR AGAR PADA SAAT DIREKATKAN DAN KEMUDIAN DIPUKUL-PUKUL


DENGAN PALU KARET AKAN MENGHASILKAN REKATANYA BENAR-BENAR
RAPAT (TIDAK ADA CELAH)
8.

1.

PASANG ADUKAN ELASTIS 1 : 6

PROFILAN KAYU

BENANG NYLON
ADUKAN ELASTIS 1 ; 6

PROFILAN KAYU
BATA MERAH
ADUKAN
60

ADUKAN ELASTIS
1: 6
20

19

ADUKAN ELASTIS
PROFIL KAYU

BENANG

2.

PASANGAN BATA MERAH DENGAN MENGGUNKAN PLESTERAN 1 :3 DA 1 :5 YANG

DIOLESKAN PADA SISI BAWAH DAN SISI SAMPING YANG BERSEBELAHAN DENGAN
HABEL YANG SUDAH TERPASANG, KEMUDIANPUKUL DENGAN PALU KAREET
SEDEMIKIAN HINGGA CELAH ANTARA BATA MERAH BENAR-BENAR RAPAT DAN
BERSIHKAN PERMUKAAN HEBEL DARI ADUKAN YANG MENCUAT KELUAR DARI
CELAH ANTARA HEBEL

PLAT CROME
ADUKAN ELASTIS

As

3.

PASANG ANGKUR DARI PLAT CROME SETIAP KETINGGIAN 3 LAPIS BATA MAERAH

DENGAN MEMAKAI ALAT RAMP SET

9. PEKERJAAN KUSEN

20

1. Installing ready
frame

4. Fill Fischer into drill


hole

2. Checking frame with wall

3. Drilled at concrete frame

5. Install window

6. Fill sealant & mortar

21

DENAH RENCANA KUSEN


DETAIL KUSEN

22

10. PEKERJAAN PLAFOND

00
1. Marking ceiling elevation

2. Determine pattern of frame after fixing


wall angle

3. Fix hanger at the frame


pattern that

4. Fix frame and hanger

5. Adjust the frames to flat the elevation

have determined

6. Fix ceiling
panel

23

11. PEKERJAAN LANTAI

PEKERJAAN LANTAI TILE


( LANTAI KERAMIK, LANTAI GRANITO, VINIL DAN LAIN-LAIN)
1. CHECK KONDISI REAL DILAPANGAN DAN BUAT SHOP DRAWING
2.

TENTUKAN POSISI START POINT DALAM SHOP DRAWING DAN MINTALAH

PERSETUJUAN DARI PENGAWAS / MK


3. TERAPKAN POSISI START POINT YANG SUDAH DISETUJUI DI LAPANGAN SEBAGAI
CONTOH LIHAT
GAMBAR DIBAWAH INI.
4.

PASANG KERAMIK MENURUT SALAH SATU ARAH SUMBU KEPALAAN

5.

PEMASANGAN

BERIKUTNYA DILAKSANAKAN

DENGAN

CARA MENGGESER

BENANG NYLON SEJAJAR DENGAN SALAH SATU SUMBU KEPALAAN

24

DENAH PEMASANGAN KERAMIK

12.

PEKERJAAN PENGECATAN DAN LABURAN


A. PERALATAN YANG DIGUNAKAN :
1. KERTAS SEMEN / KORAN
2. AMPLAS
3. ROL
4. KWAS
25

5. SKRAP
6. KAIN LAP
B. BAHAN YANG DIGUNAKAN :
1. PLAMIR
2. CAT DINDING
C. PELAKSANAAN :
1. BERSIHKAN PERMUKAAN DINDING DARI DEBU , KOTORAN
DAN BEKAS PERCIKAN PLESTERAN.
2. LINDUNGI BAHAN-BAHAN / PEKERJAAN LAIN YANG BERBATASAN
DENGAN DINDING YANG AKAN DICAT DENGAN
KERTAS SEMEN / KORAN.
3. GUNAKAN SKRAP UNTUK MEMPERBAIKI BAGIAN BAGIAN
DINDING YANG RETAK & KURANG RATA DENGAN PLAMIR,
KEMUDIAN TUNGGU SAMPAI KERING.
4. C E K , APAKAH PERMUKAAN DINDING SUDAH RATA ?
5. JIKA PERMUKAAN SUDAH RATA, LAKSANAKAN PENGECATAN DASAR
DENGAN ALAT ROL PADA BIDANG YANG LUAS &
KWAS
UNTUK BIDANG YANG
SEMPIT ( SULIT ).
6. JIKA CAT DASAR TERSEBUT SUDAH KERING ,
LAKSANAKAN PENGECATAN FINISH ( JUMLAH
PELAPISAN
CAT SESUAI DENGAN SPESIFIKASI ).
7. C E K , APAKAH PENGECATAN FINISH TERSEBUT SUDAH RATA ?
8. APABILA SUDAH RATA, BERSIHKAN CAT- CAT YANG MENGOTORI
BAHAN-BAHAN
/ PEKERJAAN LAIN YANG
SEHARUSNYA TIDAK TERKENA CAT.

26

FOTO HASIL PENGECATAN YANG BAIK

13. PEKERJAAN SANITAIR


Sebelum pemasangan alatalat sanitair perlu dipelajari dahulu gambar teknis dari alat alat sanitair

tersebut, sehingga karakteristik dari alat sanitair tersebut dapat kita ketahui dan akhirnya kita dapat
melaksanakan pemasangan alatalat sanitair tersebut dengan mudah

14. PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL PLUMBING


INSTALASI ARUS KUAT

27

DENAH INSTALASI LISTRIK

28

INSTALASI PLUMBING

29

START

PEKERJAAN PERSIAPAN
- Lahan kerja
- Alat kerja
- Fasilitas kerja
- Material yang telah disetujui
- Shop Drawing yg disetujui
- Tenaga Kerja

PEKERJAAN PABRIKASI
- Gantungan pipa
- Pipa

PEKERJAAN MARKING
- Jalur pipa

PEKERJAAN BOBOKAN
- Jalur pipa tembus dinding

PEKERJAAN INSTALASI
- Pasang Gantungan
- Pasang pipa

PENGETESAN
PIPA

YES

NO

PEKERJAAN MARKING
- Pasang Equipment
Sanitary

PEKERJAAN PEMASANGAN
- Isolasi Pipa
- Valves
- Alat Ukur
Sanitary
- FLASING
- Tambahan Chemical

TES
COMMISIONING

30

FINISH

DENAH INSTALSI PLUMBING

15. PEKERJAAN LAIN LAIN


Setelah semua pekerjaan dinyatakan selesai oleh Konsultan pengawas makan dilakukan pembersihan
dan perapihan sisa material pekerjaan .

31

BAB 3
URAIAN PEKERJAAN PENUNJANG
I. POTENSI DAN PERMASALAHAN KAWASAN
1.1 PENDEKATAN POTENSI
1.a. Aspek Makro

PENATAAN FOOD COURT SOR JALAK HARUPAT pada hakekatnya merupakan


salah satu bangunan struktur dan elemen pembangunan di Kota Jambi yang berkembang dan tumbuh
sesuai dengan dinamika dan kemampuan yang dimiliki dan semakin banyak ragam serta tingginya
intensitas suatu kegiatan akan mendorong perkembangan kebutuhan yang lebih cepat, namun
pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi beberapafaktor, yaitu :
1. Keadaan fisik,Tanah Topografi, Sungai, Geologi, Kemampuan Tanah dan sebagainya
2. Keadaan fisik bangunan dan hubungan massa
3. Jumlah perkembangan penduduk
4. Kegiatan Masyarakat volume maupun jenisnya
5. Kelengkapan Fasilitas dan Utilitas atau Sarana Infra Struktur Kota
6. Sarana dan Prasarana Transportasi
1.b Aspek Mikro
Aspek Mikro meliputi rumah tata bangunan dan tata lingkungan, yang meliputi :
1. Gubahan Massa
2. Orentasi bangunan
3. Selubung dan bentuk bangunan
4. Pola Bangunan
5. Kegiatan Pelayanan
6. Organisasi ruan
7. Pola gubahan tata lingkungan
1.2 PENDEKATAN PERMASALAHAN
Berdasarkan letak geografis lokasi proyek tersebut berada dikawasan padat penduduk maka di
harapkan pembanguna gedung disesuaikan dengan kondisi wilayah sekitarnya dari segi gubahan massa,
orentasi banguanan,polaruang, pola sirkulasi, sarana dan prasarana utilitas.
Berikut ini adalah langkah langkah yang di tembuh untuk memperlancar pekerjaan pembangunan,
yaitu meliputi :
32

1. Persiapan pembukaan akses jalan, dalam hal ini kontraktor Melobi/meminta izinkepada pihak

pihak yang berkepentingan. Antara lain RT/RW Setempat


2. Menyediakan jembatan cadangan seandainya pekerjaan melewati sebuah sungai, dalam hal ini
untuk bejaga jaga saja seandanya jembatan tersebut tidak mampu menahan beban yang di
muat suatu kendaraan untuk matrialyang di bawa kelokasi.Sehingga andai saja jempatah tersebut
putus dan tidak sanggu menahan berat beban sudah ada jembatan cadangan dan

pekerjaan dapat

terus bejalan tanpa adanya halangan jembatan yang terputus.


3. Selanjutnya menyiapkan tempat untuk bahan matrial supaya tidak mengganggu Kelancaran
pekerjaan dan tidak mengganggu kelancaran jalan raya. Dan juga menyiakan temapt matrial
yang tidak boleh kena airsebelum di gunakan. Satu algi menyiapkan tempat peristirahanta
bagiparapekerjadan kantor sementara bagi kontraktor untuk memantau parapekerja.
4. Seandainya lapangan pekerjaan dalam keadaan penuh dengan air maka akan di keringkan
terlebih dahulu. Agar dalammelakukanpekerjaan lebih cepat dan nyaman.
5. Seandainya terjadi keterlambatan pekerjaan maka kontraktor akan berusaha mempercepat
progress pekerjaan dengan cara menambah Sumber daya

33

BAB 4
SISTEM MANAJEMEN K3
1. LATAR BELAKANG
Sesuai dengan Kepmen Tenaga Kerja Nomor : 05/Men/1996, Tentang Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja, maka demi menjamin Keselamatan dan Kesehatan Kerja, bagi seluruh personil
dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan dilapangan membuat suatu
manajemen yang mengatur dan Mengelola Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pelaksanaan
pekerjaan yang merujuk pada ketetapan dan aturan resmi dari pemerintah.
2. MAKSUD DAN TUJUAN
a. Untuk memenuhi ketentuan perundangan yang berlaku
b. Mejamin K3 bagi pekerja di tempat kerja
c.

Perlengkapan pproduksi yang aman dan memadai

3. RUANG LINGKUP
Instruksi kerja ini hanya berlaku untuk pekerjaan Renovasi Pembangunan Hachery Kabupaten
Pangandaran
4. DEFINISI
a. Pekerjaan ini adalah Renovasi Pembangunan Hachery Kabupaten Pangandaran.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah untuk memberikan suatu dasar dalam bekerja yang menuju
kearah tujuan akhirnya, yakni mencegah terjadinya cedera dan gangguan kesehatan yang disebabkan
karena kejadian dan keadaan yang berhubungan dengan pekerjaan
b. Kategori I adalah jenis kecelakaan yang dapat menimbulkan kerusakan ringan atau pada prinsipnya
tidak membutuhkan perawat / rawat inap di rumah sakit.
c.

Kategori II adalah jenis kecelakaan yang dapat menimbulkan kerusakan sedang / korban luka berat

dan membutuhkan rawat inap di rumah sakit.


d.

Kategori III adalah jenis kecelakaan yang dapat menimbulkan kerusakan barat / Korban hingga

meninggal dunia.
5. KETENTUAN UMUM
a. Keselamatan Kerja adalah tanggung jawab moril baik karyawan maupun pimpinan perusahaan
b.

Penanggung jawab pelaksanaan K3 di proyek adalah Kasie QA (Quality Assurance), dengan

memastikan melakukan inspeksi secara berkala


c.

Setiap personil/pegawai harus diberikan pelatihan mengenai K3 yang sesuai dengan lingkuo dan

tugasnya
d. Setiap area tempat kerja yang mempunyai resiko dan kemungkinan terjadinya bahaya, harus
menyediakan petunjuk-petunjuk dan informasi yang tepat tentang cara penanganan dan pencegahan
bahaya yang mungkin terjadi pada saat melaksanakan pekerjaan.
34

e. Setiap karyawan harus disediakan kebutuhan akan alat-alat pelindung diri, dilatih bagaimana cara
menggunakan dengan tepat.
f.

Bahan-bahan yang mudah terbakar adan mudah meledak harus disimpan dan diangkat serta

diperlakukan dengan sedemikian rupa sehingga dapat mencegah terjadinya kemungkinan kebakaran.
g. Alat-alat penyelamatan harus disediakan diareal atau tempat kerja
h.

Pekerjaan yang dilakukan diatas air harus mnyediakan peralatan keselamatan seperti life jacket

yang mudah dijangkau dan diketahui oleh pegawai yang berada di lokasi pekerjaan.
i.

Peralatan dan kendaraan harus diperiksa dan dicheck lakayakannya sebelum digunakan.

j.

Pihak manajemen harus melakukan tinjauan manajemen mengenai safety secara berkala.

k.

Pekerjaan di lapangan harus dikerjakan secara berkelompok

l.

Masing-masing kelompok harus disediakan sarana untuk berkomunikasi

m. Pada saat kerja disarankan menggunakan tanda identitas pengenal pekerja


n. Menyediakan fasilitas keamanan kerja, personil serta peralatan P3K
6. TANGGUNG JAWAB
a. Pelaksana Bangunan
1. Menyetujui konsep Instruksi Safety akan dilaksanakan di pekerjaan tersebut
2. Memimpin penerapan program K3 diproyek yang menjadi tanggung jawabnya
3. Memimpin rapat tinjauan manajemen atau rapat koordinasi tentang pelaksanaan
program K3
4. Memimpin upaya peningkatan effektifitas dan efiseiensi program K3
b. Penanggung jawab Quality Assurance
Menyusun konsep instruksi tentang safety yang sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan dan
membahasnya bersama bagian-bagian terkait
Merekomendasaikan konsesp yang telah dibahas dengan Manajer prokyek
Memeriksa, memonitor , dan mengevaluasi program K3 ditingkat proyek
Melaporkan penerapan dan pelkasanaan K3 ditingkat proyek kepada Manajer proyek
c.

Pelaksana Lapangan

1.

Bertanggung jawab akan keselamatan karyawan yang berada dibawah pengawasannya

2.

Menilai kondisi, serta melakukan penanganan jika terjadi kondisi kurang aman, tidak aman atau

darurat.
7. PENANGANAN KECELAKAAN

Tangani segera apabila terjadi kecelakaan kerja dan utamakan keselamatan jiwa manusia

Segera berikan pertolongan pertama pada kecelakaan sesuai dengan ljenis kecelakaannya

Apabila perlu, segera dibawa ke puskesmas/ dokter/ rumah sakit yang telah ditunjuk pada alamat
yang ditentukan

Hubungi kepolisian Babinsa setempat apabila terjadi kecelakaan tersebut memerlukan


pertolongan yang serius

8. PENANGANNAN KEBAKARAN
Apabila terjadi kebakaran kecil agar ditangani sendiri dengan menggunakan peralatan pemadam
kebakaran. Beritahukan kepada personil yang berada dilokasi bahawa telah terjadi kebakaran.Jika
terjadi kebakaran besar yang tidak dapat ditangani sendiri, utamakan manusia denganmemberitahukan
agar menjauhi lokasi. Laporkan kejadian kebakaran kepada penanggung jawab safety.
9. PERALATAN KESELAMATAN KERJA PEGAWAI
Bagi personil yang bertugas pada pelaksanaan pekerjaan, terutama pekerjaan yang berisiko tinggi
35

terutama yang dilapangan wajib menggunakan peralatan pelindung diri yang sesuai dengan standar,
yaitu :

1. Helm proyek
2. Sepatu proyek
3. Pakaian seragan dan identitas pengenal
4. Masker jika bekerja didaerah yang beracun / berbau yang bias menakibatkan terganggunya
kesehatan
5. Sarung tangan, bila diperlukan (wajib untuk tukang Las)
6. Kacamata pelindung, jika diperluka
7. Bodi protector apabila diperlukan
8. Life Jacket untuk yang bekerja diatas air
9. P3K
10. Perlengkapan P3K harus diperiksa setelah digunakan

36

37

BAB 5
PENUTUP
Demikian Metode Pelaksanaan ini dibuat segai acuan dalam lapangan pekerjanaan langkah-langkah
apa yang harus di laksanakan sebelum, mulai, dan selesai pekerjaan di lakukan. Metode Pelaksanaan
ini di buat agar suatu bangunan terbangun dengan dan sesuai bestek yang sudah di tentukan dalam
RAB dan GAMBAR ESTEK.Semoga dengan adanya Metode Pelaksanaan ini lebih memudahkan dan
lebih teraranya Scedulle pekerjaan.mana dulu yang harus di dahulukan dalam melaksanakan pekerjan
Semoga saja bermanfaat bagi semuanya

Bandung

Juli 2016

CV. YDP USAHA PERDANA

38

DIREKTUR

39