Anda di halaman 1dari 6

PERANAN MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN TPPO1)

Oleh. Paul SinlaEloE

2)

PENDAHULUAN
Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah surga nya para pelaku Tindak Pidana
Perdagangan Orang (TPPO). Indikatornya bisa dilihat dari maraknya media massa
memberitakan berbagai kasus (dugaan) TPPO yang terjadi hampir di semua wilayah
Kab/Kota di NTT3). Indikator lainnya adalah lemahnya kinerja aparat dalam proses
penegakan hukum. Akibatnya, para pelaku TPPO sangat bebas berkeliaran di
pelupuk mata dari para penegak hukum4).
Merajalelanya TPPO di NTT, ditopang juga oleh pemprov/pemkab/pemkot
beserta jaringan terkaitnya (BNP2TKI/BP3TKI, APJATI dan Gugus Tugas Trafficking)
yang tidak mampu melakukan pencegahan dengan membiarkan tetap berjalan
system pengelolaan ketenagakerjaan yang buruk mulai dari rekrutmen tenaga kerja,
pra penempatan, penempatan sampai dengan purna penempatan5).
MEMAHAMI TPPO
Berdasarkan Pasal 1 angka 2 UUPTPPO, TPPO dipahami sebagai setiap
tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang
ditentukan dalam UUPTPPO. Secara lebih terperinci Pasal 2 ayat (1) UUPTPPO
mendefinisikan TPPO Sebagai berikut: Setiap orang yang melakukan perekrutan,

pengangkutan,

penampungan,

pengiriman,

pemindahan,

atau

penerimaan

Makalah ini disampaikan dalam diskusi komunitas: Menggagas Keterlibatan Masyarakat dalam Pemberantasan Tindak
Pidana Perdagangan Orang, yang dilaksanakan oleh Panitia HUT Wilayah (Mata Jemaat) Bileno, di Gedung Gereja
(GMIT) Imanuel Taitnama, Desa Kuanheum, Kec. Amabi Oefeto Kab. Kupang, pada tanggal 9 Juli 2016.
2) Aktivis PIAR NTT
3) Maraknya kasus TPPO di NTT, bisa dilihat juga dalam: Pertama, data pendampingan/advokasi dari Perkumpulan
Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR NTT), dimana pada pada tahun 2013, PIAR NTT beserta jaringannya
melakukan advokasi 4 kasus TPPO dengan jumlah korban sebanyak 127 orang. Tahun 2014, ada 6 kasus TPPO yang
diadvokasi dengan korban sebanyak 216 orang. Tahun 2015, ada 3 kasus TPPO yang advokasi dengan korban berjumlah
21 orang dan di tahun 2016 (sampai dengan bulan juni), PIAR NTT dan jaringannya telah melakukan advokasi 5 kasus
TPPO dengan jumlah korban sebanyak 37 orang. Kedua, Laporan Akhir Tahun 2015 dari POLDA NTT terkait dengan
penegakan hukum kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang yang menjelaskan bahwa di tahun 2015 pihak POLDA NTT
telah menangani 27 kasus trafficking, dengan jumlah tersangka 31 orang dan jumlah korban 238 orang. Dari total 27
kasus trafficking yang ditangani POLDA NTT ini, 9 kasus diantaranya telah lengkap penyidikannya (P-21), sedangkan 4
kasus lainnya masih dilengkapi petunjuk jaksa (P-19), 11 kasus dalam tahap penyidikan, dan 3 kasus dalam
penyelidaikan.
4) Salah satu contoh kasus adalah Direktur PT Vio-vioken Kencana Mandiri Kupang Aleks Massang yang diduga merekrut
dan mengirim pekerja migran yang masih berusia anak, yakni Marlis Tefa (14) dan Dina Mariana Fallo (16) untuk bekerja
di Malaysia, sudah di tetapkan sebaga Daftar Pencarian Orang (DPO) namun masih bebas berkeliaran dan belum
ditangkap. Padahal, 3 orang Petugas Lapangan (PL)-nya, yakni: Rongky Tfuakani, Mellianus Olla dan Armen Mamo
sudah ditangkap sejak 24 Oktober 2015 dan sejak 23 Februar 2016 sudah menjalani proses persidangangan di PN Soe.
(Selengkapnya Lihat: http://www.zonalinenews.com/2016/03/polres-tts-biarkan-aleks-massang-pelaku-human-traffickingbebas-berkeliaran/).
5)
Menurut Sarah lery Mboeik, maraknya kasus TPPO di NTT di sebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya: Pembangunan
yang memiskinkan, hak rakyat atas pekerjaan yang terabaikan, politik gender yang timpang, rakyat pekerja yang tidak
berdaulat atas pangan, masyarakat sipil yang belum fokus pada rakyat pekerja, lemahnya proses penegakan hukum,
pelayanan publik yang korup dan sistem ketenagakerjaan yang korup. Lihat Sarah Lery Mboeik, Advokasi Pemberantasan
Tindak Pidana Perdagangan Orang dalam Prespektif Hak Asasi Manusia, Makalah, disampaikan dalam Workshop:
Perumusan strategi advokasi untuk Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, yang dilaksanakan oleh
Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR NTT), di Hotel Joniar, Kota Kupang, pada tanggal 20
Februari 2012.
1)

Lawan Mafia Perdagangan Orang - Page 1 of 6

seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan,


penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan,
penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh
persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan
mengeksploitasi orang tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas)
tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.120.000.000,00 (seratus dua puluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp.600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)6).

Definisi TPPO sebagaimana yang terdapat dalam UUPTPPO ini menunjukan


bahwa TPPO merupakan delik formil, yaitu adanya TPPO cukup dengan dipenuhinya
unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan, dan tidak harus menimbulkan
akibat. Kata untuk tujuan sebelum frasa mengeskploitasi orang tersebut
mempertegas bahwa TPPO merupakan delik formil.
Berdasarkan pengertian TPPO sebagaimana yang terdapat dalam pasal 2 ayat
(1) UUPTPPO, maka ada 4 (empat) unsur7) yang terdapat dalam suatu TPPO, yakni:
Pertama, Unsur PELAKU yang adalah Orang Perseorangan, Korporasi, Kelompok
Terorganisasi dan Penyelenggara Negara. Kedua, Unsur Proses/Tindakan.
Urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain, yang
meliputi: Perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau
penerimaan seseorang.
Ketiga, Unsur Cara/Modus. Bentuk perbuatan/tindakan tertentu yang
dilakukan untuk menjamin proses dapat terlaksana, yang meliputi: ancaman
kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan,
penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi
bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang
memegang kendali atas orang lain.
Keempat, Unsur Tujuan/Akibat. Sesuatu yang nantinya akan tercapai dan
atau terwujud sebagai akibat dari tindakan pelaku TPPO yang meliputi eksploitasi
orang atau mengakibatkan orang tereksploitasi sebagaimana yang diamanatkan
dalam Pasal 1 angka 1, Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 2 ayat (2) UUPTPPO.
RUANG LINGKUP TPPO
Ruang lingkup bisa dimknai sebagai batasan dalam hal materi dan/atau subjek
yang diatur. UUPTPPO merumuskan ruang lingkup atau batasan dari TPPO kedalam
3 (tiga) kategori, yakni: Pertama, ruang lingkup pelaku, meliputi: (1). Orang
perseorangan, yang mencakup setiap individu/perorangan yang secara langsung
melakukan TPPO. (2). Kelompok terorganisasi, yakni kumpulan 2 (dua) orang atau
lebih yang bekerjasama melakukan TPPO. (3). Korporasi, yaitu kumpulan orang
dan/atau kekayaan yang terorganisasi, baik merupakan badan hukum maupun
bukan badan hukum yang dalam kerja-kerjanya tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku sehingga terjadi TPPO. (4). Penyelenggara
6)

Menurut Pasal 2 ayat (2) UUPTPPO, sanksi sebagaimana seperti yang terdapat dalam pasal 2 ayat (1) UUPTPPO, juga
berlaku dan dikenakan pada setiap tindakan yang dilakukan oleh pelaku yang mengakibatkan orang tereksploitasi.
7)
Urain lebih terperinci terkait dengan unsur-unsur dari TPPO berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU No. 21 Tahun 2007, tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Jo. Pasal 2 Ayat (1) UUTPPO dapat dilihat dalam Paul SinlaEloE,
Tindak Pidana Perdagangan Orang, Makalah, dipresentasikan dalam dikusi komunitas: Penegakan Hukum Terhadap
Perdagangan Orang, yang dilaksanakan oleh Pemuda Desa Oelnasi di Kantor Desa Oelnasi, Kec. Kupang Tengah, Kab.
Kupang, Pada tanggal 23 Maret 2014.

Lawan Mafia Perdagangan Orang - Page 2 of 6

Negara, yakni pegawai negeri atau pejabat pemerintah (NB: termasuk anggota

Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, aparat


keamanan, penegak hukum atau pejabat publik) yang menyalahgunakan

kekuasaannya untuk melakukan atau mempermudah TPPO.


Kedua, ruang lingkup korban. Korban berdasarkan pasal 1 angka 3 UUPTPPO,
dipahami sebagai seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik,
seksual, ekonomi, dan/atau sosial, yang diakibatkan TPPO. Ruang lingkup dari
korban kejahatan termasuk korban TPPO8), mencakup 3 (tiga) hal, yaitu: (1). Siapa
yang menjadi korban. (2). Penderitaan atau kerugian apakah yang dialami oleh
korban. (3). Siapa yang bertanggungjawab dan/atau bagaimana penderitaan dan
kerugian yang dialami korban dapat dipulihkan.
Ketiga, ruang lingkup tindakan. Menurut pasal 1 angka 2 UUPTPPO, setiap
tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsur-unsur TPPO adalah
TPPO. Tindakan-tindakan yang yang memenuhi unsur-unsur TPPO dimaksud, dalam
UUPTPPO dirumuskan dan dijabarkan sebagai berikut: (1). Setiap tindakan atau
serangkaian tindakan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan
dalam UUPTPPO. (2). Setiap orang yang memasukkan orang ke wilayah Negara
Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi diwilayah Negara Republik
Indonesia atau dieksploitasi di negara lain. (3). Setiap orang yang membawa warga
Negara Indonesia ke luar wilayah Negara Republik Indonesia dengan maksud untuk
dieksploitasi di luar wilayah Negara Republik Indonesia.
(4). Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak dengan menjanjikan
sesuatu atau memberikan sesuatu dengan maksud untuk dieksploitasi. (5). Setiap
penyelenggara negara yang menyalahgunakan kekuasaan yang mengakibatkan
terjadinya TPPO. (6). Setiap orang yang berusaha menggerakkan orang lain supaya
melakukan TPPO. (7). Setiap orang yang membantu atau melakukan percobaan
untuk melakukan TPPO. (8). Setiap orang yang merencanakan atau melakukan
permufakatan jahat untuk melakukan TPPO.
(9). Setiap orang yang memberikan atau memasukkan keterangan palsu pada
dokumen negara atau dokumen lain atau memalsukan dokumen negara atau
dokumen lain, untuk mempermudah terjadinya TPPO. (10). Setiap orang yang
dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau
tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan
terhadap tersangka, terdakwa, atau saksi dalam perkara perdagangan orang. (11).
Setiap orang yang membantu pelarian pelaku TPPO dari proses peradilan pidana.
(12). Setiap orang yang memberitahukan identitas saksi atau korban padahal
kepadanya telah diberitahukan, bahwa identitas saksi atau korban tersebut harus
dirahasiakan.
PENCEGAHAN TPPO BERBASIS MASYARAKAT
Membahas konsep pencegahan kejahatan (termasuk TPPO), harus difokuskan
pada upaya pencegahannya dan tidak boleh terjebak pada aspek penjahat dan atau
kejahatannya9). Pencegahan TPPO adalah langkah awal dalam penanggulangan
8)
9)

Farhana, Aspek Hukum Perdagangan Orang di Indonesia, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 2012, Hal. 158.
Paul SinlaEloE, Memahami Tindak Pidana Perdagangan Orang, Makalah, dipresentasikan dalam Diskusi Komunitas:
Mendorong Partisipasi Masyarakat dalam Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, yang dilaksanakan
kelompok simpan pinjam (KSP) Sejahtera Bersama, di sekretariat kelompok simpan pinjam (KSP) Sejahtera Bersama,
Desa Noelbaki, Kec. Kupang Tengah, Kab. Kupang, pada tanggal 14 November 2015.

Lawan Mafia Perdagangan Orang - Page 3 of 6

TPPO, karena itu membahas pencegahan TPPO tidak dapat terlepas dari kebijakan
kebijakan kriminal (criminal policy), yang secara keseluruhan merupakan bagian
yang komplementer dari penegakan hukum (law enforcement) dan sekaligus
memberikan perlindungan pada masyarakat (social defence)10).
Pencegahan TPPO pada dasarnya bertujuan mencegah sedini mungkin
terjadinya TPPO (Pasal 56 UUPTPPO). Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat,
dan keluarga wajib mencegah terjadinya TPPO (Pasal 57 ayat (1) UUPTPPO).
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib membuat kebijakan, program, kegiatan,
dan mengalokasikan anggaran untuk melaksanakan pencegahan dan penanganan
masalah perdagangan orang (Pasal 57 ayat (2) UUPTPPO).
Untuk melaksanakan pemberantasan TPPO, Pemerintah dan Pemerintah
Daerah wajib mengambil langkah-langkah untuk pencegahan dan penanganan TPPO
(Pasal 58 ayat (1) UUPTPPO). Demi mengefektifkan dan menjamin pelaksanaan
langkah-langkah untuk pencegahan dan penanganan TPPO, pemerintah membentuk
gugus tugas yang beranggotakan wakil-wakil dari pemerintah, penegak hukum,
organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi, dan
peneliti/akademisi (Pasal 58 ayat (2) UUPTPPO).
Dalam upaya pencegahan TPPO, masyarakat diharapkan untuk membantu
dan berperan serta (Pasal 60 ayat (1) UUPTPPO). Peran serta masyarakat dalam
pencegahan TPPO, diwujudkan dengan tindakan memberikan informasi dan/atau
melaporkan adanya TPPO kepada penegak hukum atau pihak yang berwajib (Pasal
60 ayat (2) UUPTPPO).
Pentingnya keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan TPPO
diperlukan bukan hanya untuk kepentingan pemulihan dan reintegrasi bagi korban
secara individual maupun sekedar bertujuan memperluas dukungan/keterlibatan
untuk gerakan pencegahan, tetapi dalam rangka hak dan demokrasi. Hal ini menjadi
penting sebab masyarakat/komunitas dimaksud adalah pilar terdepan yang
langsung berhadapan dengan kebijakan kriminal (criminal policy) terkait pencegahan
TPPO.
Selama ini, masyarakat/komunitas selalu direduksi haknya atas nama
kepentingan negara. Padahal substansinya dikorbankan secara sistematis oleh
pelaksana negara beserta aparatusnya yang gagal menjalankan 3 (tiga) jenis
kewajibannya, yaitu: Pertama, Kewajiban untuk menghormati (respect). Kewajiban
ini menuntut negara, dan semua aparaturnya untuk tidak bertindak apapun yang
melanggar integritas individu atau kelompok atau pelanggaran pada kebebasan
mereka.
Kedua, Kewajiban untuk melindungi (protect). Kewajiban untuk melindungi
menuntut negara dan aparaturnya melakukan tindakan yang memadai guna
melindungi warga individu dari pelanggaran hak-hak individu atau kelompok,
termasuk pencegahan atau pelanggaran atas penikmat kebebasan mereka. Ketiga,
Kewajiban untuk memenuhi (fulfill). Kewajiban untuk memenuhi ini menuntut
negara melakukan tindakan yang memadai untuk pemenuhan hak setiap orang di
yang tidak dapat dipenuhi oleh upaya pribadi.
Konsekwensi dari gagalnya negara beserta aparatusnya dalam menjalankan
kewajibannya, berdampak pada semakin marak terjadi TPPO. Karenanya, untuk
10)

Bandingkan dengan Henny Nuraeny, Tindak Pidana Perdagnagn Orang (Kebijakan Hukum Pidana dan
Pencegahannya), Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 2013, Hal. 320.

Lawan Mafia Perdagangan Orang - Page 4 of 6

tujuan pencegahan TPPO, pemerintah wajib membuka akses seluas-luasnya bagi


peran serta masyarakat, baik nasional maupun internasional sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan, hukum, dan kebiasaan internasional
yang berlaku (Pasal 61 UUPTPPO). Untuk melaksanakan peran sertanya, masyarakat
berhak untuk memperoleh perlindungan hukum (Pasal 62 UUPTPPO). Peran serta
masyarakat harus dilaksanakan secara bertanggung jawab (Pasal 63 UUPTPPO).
Dalam rangka membuka akses seluas-luasnya bagi peran serta masyarakat
terkait dengan pencegahan TPPO, maka pendekatan pencegahan TPPO berbasis
masyarakat (community based approach) adalah sesuatu yang rasional dan relevan.
Pencegahan TPPO dengan pendekatan berbasis masyarakat (community based
approach) ini, dapat dipahami sebagai segala upaya yang dilakukan melalui
pendidikan dan pemberdayaan masyarakat dalam mencegah terjadinya TPPO.
Pencegahan TPPO dengan pendekatan berbasis masyarakat/komunitas, pada
tataran implementasi harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip, sebagai berikut:
kemandirian, imparsialitas (perlakuan yang adil), sinergitas, partisipatif, transparansi,
akuntabilitas dan kesetaraan. Pencegahan TPPO dengan pendekatan berbasis
masyarakat/komunitas harus merupakan suatu gerakan yang terorganisir dan
terlembaga.
Ada sejumlah aktivitas yang dapat dilakukan oleh masyarakat/komunitas
dalam
konteks
pencegahan
TPPO
dengan
pendekatan
berbasis
masyarakat/komunitas, diantaranya: Pertama, Membentuk Lembaga Anti
Perdagangan Orang pada level desa, guna menggagalkan setiap pengiriman tenaga
kerja ke luar negeri maupun dalam negeri secara ilegal/non prosedural (pemalsuan
umur dan dokumen lainnya). Lembaga Anti Perdaganagan Orang ini harus bersinergi
dengan pihak terkait seperti lembaga keagamaan, pemerintah desa setempat,
LSM/NGO, institusi penegak hukum dan gugus tugas trafficking;
Kedua, Ketujuh, Melakukan pertemuan rutin dan pelatihan secara berkala
untuk meningkatkan kapasitas dari Lembaga Anti Perdaganagan Orang dalam
menangani/advokasi kasus-kasus terkait TPPO; Ketiga, Melakukan deteksi dini
terhadap kesiapan mental dan ketrampilan dari warga yang ingin/akan bermigrasi,
dengan cara pendokumentasian (pencatatan) setiap warga yang akan bermigrasi.
Pendokumentasian ini terkait dengan: identitas penduduk yang bermigrasi, fakta
kebenaran kelengkapan dokumen, pengalaman pendidikan dan pelatihan yang
dimiliki oleh calon pekerja migran serta dukungan keluarga;
Keempat, Melakukan pengumpulan data, pemetaan, dan pendokumentasian
kasus-kasus korban TPPO. Pendokumentasian kasus korban TPPO terkait: identitas
dan kondisi korban, fakta dan informasi yang berhubungan dengan terjadinya TPPO,
pengalaman dan harapan korban, serta kondisi korban sejak berangkat sampai
dinyatakan sebagai korban TPPO;
Kelima, Melakukan kajian dan pendidikan masyarakat sebagai dasar
melakukan advokasi dan sosialisasi untuk peningkatan kesadaran publik tentang
TPPO, kepada kelompok-kelompok masyarakat; Keenam, Melakukan advokasi yang
mendorong/merevisi terbitnya kebijakan (PERDA/PERDES) tentang TPPO dan
mekanisme layanan bagi korban; Ketujuh, Meningkatkan partisipasi masyarakat
dan penguatan kelembagaan tentang perlindungan terhadap korban TPPO (terutama
perempuan dan anak);

Lawan Mafia Perdagangan Orang - Page 5 of 6

Kedelapan, Melakukan penyuluhan hukum terkait pemberantasan TPPO


yang melibatkan Kepolisian dan/atau Kejaksaan Negeri; Kesembilan, Membangun
dan memperkuat jaringan masyarakat sipil, khususnya kalangan perempuan yang
termarjinalkan melalui pendidikan kritis, pengorganisasian dan konsolidasi;
Kesepuluh, Melakukan pelatihan keterampilan bagi para calan/pekerja migran
tentang manajemen keuangan agar mampu mengelola keuangan secara tepat.
PENUTUP
Demikianlah Sumbangan pemikiran saya. Semoga bermanfaat dan materi ini
dapat menjadi bahan pengantar untuk suatu disuksi yang lebih luas. LAWAN MAFIA
PERDAGANGAN ORANG..!!

DAFTAR BACAAN

1. Farhana, Aspek Hukum Perdagangan Orang di Indonesia, Penerbit Sinar Grafika,


Jakarta, 2012.
2. Henny Nuraeny, Tindak Pidana Perdagnagn Orang (Kebijakan Hukum Pidana dan
Pencegahannya), Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 2013.
3. Paul SinlaEloE, Tindak Pidana Perdagangan Orang, Makalah, dipresentasikan dalam
Diskusi Komunitas:
Penegakan Hukum Terhadap Perdagangan Orang, yang
dilaksanakan oleh Pemuda Desa Oelnasi di Kantor Desa Oelnasi, Kec. Kupang Tengah,
Kab. Kupang, Pada tanggal 23 Maret 2014.
4. Paul SinlaEloE, Memahami Tindak Pidana Perdagangan Orang, Makalah, dipresentasikan
dalam Diskusi Komunitas: Mendorong Partisipasi Masyarakat dalam Pemberantasan
Tindak Pidana Perdagangan Orang, yang dilaksanakan kelompok simpan pinjam (KSP)
Sejahtera Bersama, di sekretariat kelompok simpan pinjam (KSP) Sejahtera Bersama,
Desa Noelbaki, Kec. Kupang Tengah, Kab. Kupang, pada tanggal 14 November 2015.
5. Sarah Lery Mboeik, Advokasi Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dalam
Prespektif Hak Asasi Manusia, Makalah, disampaikan dalam Workshop: Perumusan
strategi advokasi untuk Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, yang
dilaksanakan oleh Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR
NTT), di Hotel Joniar, Kota Kupang, pada tanggal 20 Februari 2012.
6. UU No. 21 Tahun 2007, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Lawan Mafia Perdagangan Orang - Page 6 of 6