Anda di halaman 1dari 46

CASE REPORT

GENERAL ANESTESI MENGGUNAKAN ENDOTRACHEAL TUBE


(ETT) PADA PASIEN PEREMPUAN 40 TAHUN DENGAN FRAKTUR
RADIUS ULNA DEXTRA

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan


Pendidikan Program Profesi Dokter Stase Anastesi
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing :
dr. Damai Suri, Sp.An

Diajukan Oleh:
Ferdy Arif Fadhilah, S. ked
J510 165 008
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016
LEMBAR PENGESAHAN
CASE REPORT
GENERAL ANESTESI MENGGUNAKAN ENDOTRACHEAL TUBE
(ETT) PADA PASIEN PEREMPUAN 40 TAHUN DENGAN FRAKTUR
RADIUS ULNA DEXTRA

Diajukan Oleh :
Ferdy Arif Fadhilah, S. ked

J510 165 008

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari Senin, 4 Juli 2016
Pembimbing :
dr. Damai Suri, Sp.An

(..................................)

Dipresentasikan di hadapan :
dr. Damai Suri, Sp.An

(..................................)

Disahkan Ketua Program Profesi :


dr. Dona Dewi N

(.................................)

BAB I
STATUS PENDERITA
A. Identitas Pasien
Nama

: Ny. S

Usia

: 40 Tahun

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Karanganyar

Jenis Kelamin

: Perempuan

Suku Bangsa

: Jawa

Agama

: Islam

Status

: Sudah Menikah

No. RM

: 3479XX

B. Anamnesis

Diambil dari

: Bangsal Kantil bed 11

Keluhan Utama

: Tangan kanan bengkok

Keluhan Tambahan

:-

C. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluhkan tangan kanannya bengkok dan sedikit nyeri
menyebabkan tangannya tidak bisa di gerakan, setelah pasien jatuh. Tidak
disertai keluhan tambahan seperti mual (-), muntah (-) dan pusing (-).
D.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit yang sama

: Pasien mengaku pernah mengalami

hal serupa dan sudah pernah dilakukan pelepasan pen di tahun 2015.
Riwayat Alergi

: disangkal

Riwayat Asma

: disangkal

Riwayat Mondok

: disangkal

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat Diabetes

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

E. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit serupa

: disangkal

Riwayat Asma

: disangkal

Riwayat Alergi

: disangkal

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat Diabetes

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

F. Anamnesis Sistemik
Neuro

: Sensasi nyeri baik, gemetaran (-), sulit tidur (-)

Kardio

: Nyeri dada (-), dada berdebar-debar (-)

Pulmo

: Sesak napas (-), batuk lama (-)

Abdomen

: Diare (-), kembung (-), konstipasi (-)

Urologi

: BAK (+) dan BAB(-), panas (-)

Muskolo

: Nyeri di tungkai kanan atas/paha (+)

G. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
- Berat Badan

: 75 kg

- Tinggi Badan

: 165 cm

- Kesadaran

: Compos mentis

- Tanda Vital

: - Tekanan darah

: 130/80 mmHg

- Nadi

: 80 x/menit, reguler,
isi dan tegangan cukup

- Pernapasan

: 20 x/menit
thorakoabdominal

- Suhu

: 36,2 C

Status generalis

Pemeriksaan kepala
-

Bentuk kepala

: Mesochepal, simetris

Rambut

: Warna hitam, distribusi merata, tidak mudah


dicabut, tidak mudah rontok

Pemeriksaan mata
-

Palpebra

: Edema (-/-)

Konjungtiva

: Anemis (-/-)

Sklera

: Ikterik (-/-)
- Pupil : Reflek cahaya (+/+) normal, isokor,
diameter 3 mm

Pemeriksaan telinga

Letak simetris, bentuk normal, ukuran normal, tidak ada tanda radang,
tidak ada discharge, pendengaran baik, tidak ada benjolan, tidak nyeri
tekan.

Pemeriksaan hidung
Tidak ada tanda-tanda radang, discharge, sekret, epistaksis, tidak ada
deformitas, tidak ada napas cuping hidung.

Pemeriksaan mulut dan faring


Bibir tidak kering, tidak sianosis, lidah tampak putih, tepi lidah tidak
hiperemis, tidak tremor dan mukosa mulut basah dan tonsil dalam batas
normal.

Pemeriksaan leher
Inspeksi

: Tidak terlihat benjolan atau massa

Palpasi

: Kelenjar getah bening teraba tidak membesar, tidak nyeri,


Tidak ada deviasi trakhea

Pemeriksaan dada
Paru-Paru
Inspeksi

: Bentuk dada normal atau simetris, pergerakan nafas tidak


ada yang tertinggal, tidak terlihat massa di daerah dada
sebelah kanan dan kiri

Palpasi

: vokal fremitus kanan dan kiri ataupun depan dan belakang


sama dan krepitasi ()

Perkusi

: Suara sonor pada seluruh lapang paru


Batas paru hepar pada intercostal space V kanan
Peranjakan paru 2 cm

Auskultasi

: Suara dasar paru vesikuler, tidak terdapat ronkhi basah


kasar,

tidak terdapat ronkhi basah halus pada basal paru,

tidak terdapat wheezing pada paru kanan dan kiri maupun


depan dan belakang
Jantung
Inspeksi

: Tidak terlihat pulsasi iktus cordis

Palpasi

: Teraba iktus kordis di SIC V, linea mid clavikula sinistra,


tidak kuat angkat

Perkusi

: - Batas kiri atas

: SIC II linea parasternal sinistra

- Batas kiri bawah

: SIC V linea midclavikula sinistra

- Batas kanan atas

: SIC II linea parasternal dekstra

- Batas kanan bawah : SIC IV linea parasternal dekstra


Auskultasi : Bj murni, reguler, bising (-), gallop (-)

Pemeriksaan abdomen
Inspeksi

: menggembung, dinding perut tidak tegang

Auskultasi

: Bunyi usus (+) normal

Palpasi

: Perut supel
Hepar teraba 1 jari bawah Arcus Costae Dextra,
konsistensi kenyal, tepi tumpul, permukaan halus
Lien dalam batas normal, tidak ada
nyeri tekan, ginjal sulit dinilai.

Perkusi

: Timpani pada seluruh regio abdomen


Perkusi hepar dalam batas normal
Perkusi lien dalam batas normal
Nyeri ketok kostovertebrae kanan dan kiri (-)

Kulit
Turgor kulit cukup, kulit tidak mengelupas, tidak pucat dan tidak gatal.

Ekstremitas
-

Superior

: Deformitas (+/-), jari tabuh (-/-), sianosis (-/-),

tremor (-/-)
edema (-/-), akral dingin (-/-), kesemutan (-/-), sensorik
dan motorik baik
- Inferior

: Deformitas (-/-), edema (-/-), akral dingin

(-/-), sianosis (-/-), kesemutan, (-/-), sensorik dan motorik


baik
H. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Laboratorium

: Tanggal 23 Juni 2016

Darah Rutin
Hb
Ht
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Gran
Limfosit
Monosit
Eosinofil
Basofil
Clotting Time
Bleeding Time
Golongan

Nilai
11,9
39,9
6,5
383
4,65
85,7
25,6
29,9
51,0
43,7
2,6
2,3
0,4
04,00
02,00
B

Nilai normal
12.00 16.00
37 47
5,0 10,0
150 300
4,50 5,50
82 92
27 31
32-37
50-70,0
25,0 40,0
3,0 9,0
0 ,55,0
0,0-1,0
2-8
1-3

satuan
g/dL
Vol%
10^3/uL
mm3
10^6/uL
fL
Pg
g/dL
%
%
%
%
%
Menit
menit

darah
GDS
creatinin
ureum
HbsAg

110
0,87
41
NR

70 150
0,5-0,9
10-50
NR

mg/dL
mg/dL
mg/dL

Kesan hasil laboratorium : dalam batas normal


I. EKG

Kesan hasil EKG : dalam batas normal


J.

Perjalanan Penyakit
tanggal

27/06/16

Pasien

TD:130/80

Post ORIF

Inf RL 20 tpm

mengeluh

antebrachii

tangan
kanannya

N:82
RR:18
S:36,8

bengkok

dextra,
terdapat
keloid

Cefriaxon 2x1 vial


Gentamicin
2x1amp
MST 2x1/2
Ranitidin 2x1amp
Inj norages 3x1amp
Pronalges supp 3x1

28/06/16

Pasien
mengeluh
tangan

TD:110/60
N: 80
RR:20
S: 36,6

Pre ORIF
antebrachii
dextra,

kanannya

terdapat

bengkok

keloid

Inf RL 20 tpm
Cefriaxon 2x1 vial
Gentamicin
2x1amp
MST 2x1/2
Ranitidin 2x1amp
Inj norages 3x1amp
Pronalges supp 3x1

29/06/16

Pasien
mengeluh
nyeri di

TD:120/70
N: 82
RR:18
S: 36,8

Post ORIF
antebrachii
dextra H+1

bekas
jahitan,
rembes (-)
30/06/16

Pasien
mengeluh
nyeri di

K.

ORIF
Fracture
dextra H+1

Diagnosis Klinis

Kesimpulan

Post OP

jahitan

Fraktur Radius Ulna Dextra


L.

TD:120/70
N:82
RR:20
S:36,6

femur

rembes (-)

2x1amp
MST 2x1/2
Ranitidin 2x1amp
Inj norages 3x1amp
Pronalges supp 3x1

bekas
berkurang,

Inf RL 20 tpm
Cefriaxon 2x1 vial
Gentamicin

Inf RL 20 tpm
Cefriaxon 2x1 vial
Gentamicin
2x1amp
MST 2x1/2
Ranitidin 2x1amp
Inj norages 3x1amp
Pronalges supp 3x1

Status Fisik ASA II

M.

Konsul Anestesi
Seorang Perempuan usia 40 tahun dengan diagnosis

Fraktur radius ulna

dextra yang akan dilakukan tindakan operasi ORIF pada tanggal 28/06/2016.
Hasil Vital sign dan Hasil laboratorium terlampir.
Kegawatan Bedah
Derajat ASA
Rencana tindakan anastesi

: (-)
: II
: General anastesi

RECOVERY ROOM
A. Kedatangan dari tempat operasi
Hari/Tanggal: Selasa, 28/06/2016
B. Monitoring
Aldrette Score

Pergerakan
Seluruh Ekstremitas dapat digerakan
Dua ekstremitas dapat digerakan
Tidak bergerak
Pernapasan
Dapat bernapas dalam dan batuk
Dangkal namun pertukaran udara adekuat
Apnoea atau obstruksi
Warna kulit
Merah muda
Pucat
Sianosis
Tekanan darah
Tekanan darah menyimpang < 20% dari normal
Tekanan darah menyimpang 20%-50% dari

2
1
0

2
1
0

2
1
0

2
1

normal
Tekanan darah menyimpang >50% dari normal
0
Kesadaran
Sadar penuh
2
Bereaksi terhadap rangsangan
1
V
Tidak bereaksi
0
Total aldrette score >8 pasien dapat di pindahkan dari recovery room

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Anatomi dan Fisiologi


a

Anatomi Tulang
Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada bagian intra-seluler.
Tulang berasal dari embrionic hyaline cartilage yang mana melalui
proses Osteogenesis menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh selsel yang disebut Osteoblast. Proses mengerasnya tulang akibat
penimbunan garam kalsium.
Ada

206

tulang

dalam

tubuh

manusia,

Tulang

dapat

diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya :

Tulang panjang (Femur, Humerus)

terdiri dari batang tebal

panjang yang disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis.
Di sebelah proksimal dari epifisis terdapat metafisis. Di antara
epifisis dan metafisis terdapat daerah tulang rawan yang tumbuh,
yang disebut lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. Tulang
panjang tumbuh karena akumulasi tulang rawan di lempeng
epifisis. Tulang rawan digantikan oleh sel-sel tulang yang
dihasilkan oleh osteoblas, dan tulang memanjang. Batang
dibentuk oleh jaringan tulang yang padat. Epifisis dibentuk dari
spongi bone (cancellous atau trabecular). Pada akhir tahun-tahun
remaja tulang rawan habis, lempeng epifisis berfusi, dan tulang
berhenti tumbuh. Hormon pertumbuhan, estrogen, dan testosteron
merangsang pertumbuhan tulang panjang. Estrogen, bersama
dengan testosteron, merangsang fusi lempeng epifisis. Batang
suatu tulang panjang memiliki rongga yang disebut kanalis
medularis. Kanalis medularis berisi sumsum tulang.
2

Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak teratur dan inti dari


cancellous (spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang
padat.

Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri atas dua lapisan tulang


padat dengan lapisan luar adalah tulang concellous.

Tulang yang tidak beraturan (vertebrata) sama seperti dengan


tulang pendek.

Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar


tulang yang berdekatan dengan persediaan dan didukung oleh
tendon dan jaringan fasial, misalnya patella (kap lutut).
Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral.

Sel-selnya terdiri atas tiga jenis dasar-osteoblas, osteosit dan


osteoklas. Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan
mensekresikan matriks tulang. Matriks tersusun atas 98% kolagen
dan 2% subtansi dasar (glukosaminoglikan, asam polisakarida) dan

proteoglikan). Matriks merupakan kerangka dimana garam-garam


mineral anorganik ditimbun. Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat
dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteon (unit
matriks tulang ). Osteoklas adalah sel multinuclear ( berinti banyak)
yang berperan dalam penghancuran, resorpsi dan remosdeling tulang.
Osteon merupakan unik fungsional mikroskopis tulang
dewasa. Ditengah osteon terdapat kapiler. Dikelilingi kapiler tersebut
merupakan matriks tulang yang dinamakan lamella. Didalam lamella
terdapat osteosit, yang memperoleh nutrisi melalui prosesus yang
berlanjut kedalam kanalikuli yang halus (kanal yang menghubungkan
dengan pembuluh darah yang terletak sejauh kurang dari 0,1 mm).
Tulang diselimuti dibagian oleh membran fibrous padat dinamakan
periosteum.

Periosteum

memberi

nutrisi

ke

tulang

dan

memungkinkannya tumbuh, selain sebagai tempat perlekatan tendon


dan ligamen. Periosteum mengandung saraf, pembuluh darah, dan
limfatik. Lapisan yang paling dekat dengan tulang mengandung
osteoblast, yang merupakan sel pembentuk tulang.
Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi
rongga sumsum tulang panjang dan rongga-rongga dalam tulang
kanselus. Osteoklast , yang melarutkan tulang untuk memelihara
rongga sumsum, terletak dekat endosteum dan dalam lacuna
Howship (cekungan pada permukaan tulang).

Gambar 1 Anatomi tulang panjang


Struktur tulang dewasa terdiri dari 30 % bahan organik
(hidup) dan 70 % endapan garam. Bahan organik disebut matriks, dan
terdiri dari lebih dari 90 % serat kolagen dan kurang dari 10 %
proteoglikan (protein plus sakarida). Deposit garam terutama adalah
kalsium dan fosfat, dengan sedikit natrium, kalium karbonat, dan ion
magnesium. Garam-garam menutupi matriks dan berikatan dengan
serat

kolagen

melalui

proteoglikan.

Adanya

bahan

organik

menyebabkan tulang memiliki kekuatan tensif (resistensi terhadap


tarikan yang meregangkan). Sedangkan garam-garam menyebabkan
tulang memiliki kekuatan kompresi (kemampuan menahan tekanan).
Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerus dan
dapat berupa pemanjangan dan penebalan tulang. Kecepatan
pembentukan tulang berubah selama hidup. Pembentukan tulang
ditentukan oleh rangsangn hormon, faktor makanan, dan jumlah

stres yang dibebankan pada suatu tulang, dan terjadi akibat aktivitas
sel-sel pembentuk tulang yaitu osteoblas.
Osteoblas dijumpai dipermukaan luar dan dalam tulang.
Osteoblas berespon terhadap berbagai sinyal kimiawi untuk
menghasilkan matriks tulang. Sewaktu pertama kali dibentuk, matriks
tulang disebut osteoid. Dalam beberapa hari garam-garam kalsium
mulai mengendap pada osteoid dan mengeras selama beberapa
minggu atau bulan berikutnya. Sebagian osteoblast tetap menjadi
bagian dari osteoid, dan disebut osteosit atau sel tulang sejati. Seiring
dengan terbentuknya tulang, osteosit dimatriks membentuk tonjolantonjolan yang menghubungkan osteosit satu dengan osteosit lainnya
membentuk suatu sistem saluran mikroskopik di tulang.
Kalsium adalah salah satu komponen yang berperan terhadap
tulang, sebagian ion kalsium di tulang tidak mengalarni kristalisasi.
Garam nonkristal ini dianggap sebagai kalsium yang dapat
dipertukarkan, yaitu dapat dipindahkan dengan cepat antara tulang,
cairan interstisium, dan darah.
Sedangkan penguraian tulang disebut absorpsi, terjadi secara
bersamaan dengan pembentukan tulang. Penyerapan tulang terjadi
karena aktivitas sel-sel yang disebut osteoklas. Osteoklas adalah sel
fagositik multinukleus besar yang berasal dari sel-sel mirip-monosit
yang terdapat di tulang. Osteoklas tampaknya mengeluarkan berbagai
asam dan enzim yang mencerna tulang dan memudahkan fagositosis.
Osteoklas biasanya terdapat pada hanya sebagian kecil dari potongan
tulang, dan memfagosit tulang sedikit demi sedikit. Setelah selesai di
suatu daerah, osteoklas menghilang dan muncul osteoblas. 0steoblas
mulai mengisi daerah yang kosong tersebut dengan tulang baru.
Proses ini memungkinkan tulang tua yang telah melemah diganti
dengan tulang baru yang lebih kuat.

Keseimbangan antara aktivitas osteoblas dan osteoklas


menyebabkan tulang terus menerus diperbarui atau mengalami
remodeling. Pada anak dan remaja, aktivitas osteoblas melebihi
aktivitas osteoklas, sehingga kerangka menjadi lebih panjang dan
menebal. Aktivitas osteoblas juga melebihi aktivitas osteoklas pada
tulang yang pulih dari fraktur. Pada orang dewasa muda, aktivitas
osteoblas dan osteoklas biasanya setara, sehingga jumlah total massa
tulang konstan. Pada usia pertengahan, aktivitas osteoklas melebihi
aktivitas osteoblas dan kepadatan tulang mulai berkurang. Aktivitas
osteoklas juga meningkat pada tulang-tulang yang mengalami
imobilisasi. Pada usia dekade ketujuh atau kedelapan, dominansi
aktivitas osteoklas dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh
sehingga mudah patah. Aktivitas osteoblas dan osteoklas dikontrol
oleh beberapa faktor fisik dan hormon.
Faktor-faktor yang mengontrol Aktivitas osteoblas dirangsang
oleh olah raga dan stres beban akibat arus listrik yang terbentuk
sewaktu stres mengenai tulang. Fraktur tulang secara drastis
merangsang aktivitas osteoblas, tetapi mekanisme pastinya belum
jelas. Estrogen, testosteron, dan hormon perturnbuhan adalah
promotor kuat bagi aktivitas osteoblas dan pertumbuhan tulang.
Pertumbuhan tulang dipercepat semasa pubertas akibat melonjaknya
kadar hormon-hormon tersebut. Estrogen dan testosteron akhirnya
menyebabkan tulang-tulang panjang berhenti tumbuh dengan
merangsang penutupan lempeng epifisis (ujung pertumbuhan tulang).
Sewaktu kadar estrogen turun pada masa menopaus, aktivitas
osteoblas

berkurang.

Defisiensi

hormon

pertumbuhan

juga

mengganggu pertumbuhan tulang.


Vitamin D dalam jumlah kecil merangsang kalsifikasi tulang
secara langsung dengan bekerja pada osteoblas dan secara tidak
langsung dengan merangsang penyerapan kalsium di usus. Hal ini

meningkatkan konsentrasi kalsium darah, yang mendorong kalsifikasi


tulang. Namun, vitamin D dalam jumlah besar meningkatkan kadar
kalsium serum dengan meningkatkan penguraian tulang. Dengan
demikian, vitamin D dalam jumlah besar tanpa diimbangi kalsium
yang adekuat dalam makanan akan menyebabkan absorpsi tulang.
Adapun faktor-faktor yang mengontrol aktivitas osteoklas
terutama dikontrol oleh hormon paratiroid. Hormon paratiroid
dilepaskan oleh kelenjar paratiroid yang terletak tepat di belakang
kelenjar tiroid. Pelepasan hormon paratiroid meningkat sebagai
respons terhadap penurunan kadar kalsium serum. Hormon paratiroid
meningkatkan aktivitas osteoklas dan merangsang pemecahan tulang
untuk membebaskan kalsium ke dalam darah. Peningkatan kalsium
serum bekerja secara umpan balik negatif untuk menurunkan
pengeluaran hormon paratiroid lebih lanjut. Estrogen tampaknya
mengurangi efek hormon paratiroid pada osteoklas.
Efek lain Hormon paratiroid adalah meningkatkan kalsium
serum dengan menurunkan sekresi kalsium oleh ginjal. Hormon
paratiroid meningkatkan ekskresi ion fosfat oleh ginjal sehingga
menurunkan kadar fosfat darah. Pengaktifan vitamin D di ginjal
bergantung pada hormon paratiroid. Sedangkan kalsitonin adalah
suatu hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid sebagai respons
terhadap peningkatan kadar kalsium serum. Kalsitonin memiliki
sedikit efek menghambat aktivitas dan pernbentukan osteoklas. Efekefek ini meningkatkan kalsifikasi tulang sehingga menurunkan kadar
kalsium serum.
b Fisiologi Tulang
Fungsi tulang adalah sebagai berikut :
1

Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh.

Melindungi organ tubuh (misalnya jantung, otak, dan paru-paru)


dan jaringan lunak.

Memberikan

pergerakan

(otot

yang

berhubungan

dengan

kontraksi dan pergerakan).


4

Membentuk sel-sel darah merah didalam sum-sum tulang


belakang (hema topoiesis).

5
II.

Menyimpan garam mineral, misalnya kalsium, fosfor.

Pengertian Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Sedangkan menurut Linda Juall
C. dalam buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan
bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan
tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh
tulang.
Patah Tulang Tertutup adalah patah tulang dimana tidak
terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Pendapat
lain menyatakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang
bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi.

III.

Etiologi
1

Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis patah melintang atau miring.

Kekerasan tidak langsung


Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang
jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah
bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.

Kekerasan akibat tarikan otot

Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat


berupa

pemuntiran,

penekukan,

penekukan

dan

penekanan,

kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.


IV.

Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan
gaya pegas untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang
lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada
tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas
tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta
saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus
tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan
terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera
berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami
nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai
dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel
darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses
penyembuhan tulang nantinya
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
1 Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan
fraktur.

2 Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya
tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari
tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.

V.

Klasifikasi Fraktur
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang
praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
a

Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).


1

Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara


fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih
(karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.

Fraktur Terbuka (Open/Compound),

bila terdapat hubungan

antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena


adanya perlukaan kulit.
b

Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.


1

Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang


tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada
foto.

Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh


penampang tulang seperti:
a

Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)

Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu


korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.

Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan


angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.

Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan


mekanisme trauma.
1

Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang


dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.

Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk


sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma
angulasijuga.

Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral

yang disebabkan trauma rotasi.


4

Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial


fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.

Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan


atau traksi otot pada insersinya pada tulang.

Berdasarkan jumlah garis patah.


1

Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan.

Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu


tapi tidak berhubungan.

Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi
tidak pada tulang yang sama.

Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.


1

Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi


kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.

Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang


yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
a

Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran


searah sumbu dan overlapping).

Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).

Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling


menjauh).

Berdasarkan posisi frakur


Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
1

1/3 proksimal

1/3 medial

1/3 distal

Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.

Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis


tulang.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan

keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:


a

Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan


lunak sekitarnya.

Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan


jaringan subkutan.

Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak


bagian dalam dan pembengkakan.

Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata


ddan ancaman sindroma kompartement.

VI.

Manifestasi Klinik

Deformitas

Bengkak/edema

Echimosis (Memar)

Spasme otot

Nyeri

Kurang/hilang sensasi

Krepitasi

Pergerakan abnormal

Rontgen abnormal

VII.

Test Diagnostik
a. Pemeriksaan

Rontgen

fraktur/luasnyatrauma,
memperlihatkan

skan

fraktur

menentukan
tulang,

juga

lokasi/luasnya

temogram,

dapat

mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.

scan

digunakan

CI:
untuk

b. Hitung darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun.


c. Peningkatan jumlal sop adalah respons stress normal setelah
trauma.
d. Kreatinin : traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk
ginjal.
e. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,
transfusi multiple, atau cederah hati.
VIII.

Penatalaksanaan Medik
a.

Fraktur Terbuka
Merupakan kasus emergensi karena dapat terjadi kontaminasi oleh
bakteri dan disertai perdarahan yang hebat dalam waktu 6-8 jam
(golden period). Kuman belum terlalu jauh meresap dilakukan:
1

Pembersihan luka

Exici

Hecting situasi

Antibiotik

b.

Seluruh Fraktur
1

Rekognisis/Pengenalan
Riwayat kejadian harus jelas untuk mentukan diagnosa dan
tindakan selanjutnya.

Reduksi/Manipulasi/Reposisi
Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimun. Dapat juga diartikan Reduksi
fraktur (setting tulang) adalah mengembalikan fragmen tulang
pada kesejajarannya dan rotasfanatomis (brunner, 2001).
Reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka dapat dilakukan
untuk

mereduksi

fraktur. Metode

tertentu

yang

dipilih

bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya


tetap, sama. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera
mungkin

untuk

mencegah

jaringan

lunak

kehilaugan

elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan.


Pada kebanyakan kasus, roduksi fraktur menjadi semakin sulit
bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan.
Sebelum

reduksi

dan

imobilisasi

fraktur, pasien

harus

dipersiapkan untuk menjalani prosedur; harus diperoleh izin


untuk melakukan prosedur, dan analgetika diberikan sesuai
ketentuan. Mungkin perlu dilakukan anastesia. Ekstremitas yang
akan dimanipulasi harus ditangani dengan lembut untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut
Reduksi tertutup.

Pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup

dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya


(ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan
traksi manual.
Ekstremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan,
sementara gips, biadi dan alat lain dipasang oleh dokter. Alat
immobilisasi

akan

menjaga

reduksi

dan

menstabilkan

ekstremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-x harus dilakukan


untuk

mengetahui

apakah

fragmen

tulang

telah

dalam

kesejajaran yang benar.


Traksi. Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi
dan imoblisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot
yang terjadi. Sinar-x digunakan untuk memantau reduksi fraktur
dan aproksimasi fragmen tulang. Ketika tulang sembuh, akan
terlihat pembentukan kalus pada sinar-x. Ketika kalus telah kuat
dapat dipasang gips atau bidai untuk melanjutkan imobilisasi.
Reduksi Terbuka. Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi
terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi.
Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat paku,

atau batangan logam digunakan untuk mempertahankan fragmen


tulang dalam posisnya sampai penyembuhan tulang yang solid
terjadi. Alat ini dapat diletakkan di sisi tulang atau langsung ke
rongga sumsum tulang, alat tersebut menjaga aproksimasi dan
fiksasi yang kuat bagi fragmen tulang.
3

Retensi/Immobilisasi
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga
kembali seperti semula secara optimun.
Imobilisasi fraktur. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang
harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran
yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat
dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi
eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan
teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan logam dapat
digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai
interna untuk mengimobilisasi fraktur.

Rehabilitasi
Menghindari atropi dan kontraktur dengan fisioterapi.

Segala

upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak.


Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan.
Status neurovaskuler (mis. pengkajian peredaran darah, nyeri,
perabaan, gerakan) dipantau, dan ahli bedah ortopedi diberitahu
segera bila ada tanda gangguan neurovaskuler. Kegelisahan,
ansietas dan ketidaknyamanan dikontrol dengan berbagai
pendekatan (mis. meyakinkan, perubahan posisi, strategi peredaan
nyeri, termasuk analgetika). Latihan isometrik dan setting otot
diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan
peredaran darah. Partisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari
diusahakan

untuk

memperbaiki

kemandirian

fungsi

dan

harga-diri.

Pengembalian

bertahap

pada

aktivitas

semula

diusahakan sesuai batasan terapeutika. Biasanya, fiksasi interna


memungkinkan

mobilisasi

lebih

awal. Ahli

bedah

yang

memperkirakan stabilitas fiksasi fraktur, menentukan luasnya


gerakan dan stres pada ekstrermitas yang diperbolehkan, dan
menentukan tingkat aktivitas dan beban berat badan.
IX.

Proses Penyembuhan Tulang


Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain.
Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah
dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang.
Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium
penyembuhan tulang, yaitu:
1

Stadium Satu-Pembentukan Hematoma


Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah
fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang
rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast.
Stadium ini berlangsung 24 48 jam dan perdarahan berhenti sama
sekali.

Stadium Dua-Proliferasi Seluler


Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro
kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow
yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini
terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah
osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam
beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua
fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah
fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.

Stadium Tiga-Pembentukan Kallus

Selsel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan


osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai
membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi
oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan
mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan
tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada
permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur
(anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat
fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
4

Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang
berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan
memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis
fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang
tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses
yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat
untuk membawa beban yang normal.

Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat.
Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk
ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terusmenerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang
tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang,
rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip
dengan normalnya.

X.

Komplikasi
1

Komplikasi Awal
a

Kerusakan Arteri

Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya


nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar,
dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan
emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan
reduksi, dan pembedahan.
b

Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam
jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang
menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena
tekanan dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat.

Fat Embolism Syndrom


Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang
sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena
sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran
darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang
ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi,
tachypnea, demam.

Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan
masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka,
tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan
seperti pin dan plat.

Avaskuler Nekrosis

Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang


rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan
diawali dengan adanya Volkmans Ischemia.
f

Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya
oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.

Komplikasi Dalam Waktu Lama


a.

Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.

b.

Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 69 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang
berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau
pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang
kurang.

c.

Malunion
Malunion merupakan penyembuhan

tulang ditandai

dengan

meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas).


Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang
baik.
XI.

Anastesi
a. Pengertian
Anestesi berarti suatu keadaan dengan tidak ada rasa nyeri.
Anestesi umum ialah suatu keadaan yang ditandai dengan

hilangnya persepsi terhadap semua sensasi akibat induksi obat.


Dalam hal ini, selain hilangnya rasa nyeri, kesadaran juga hilang.
Obat anestesi umum terdiri atas golongan senyawa kimia yang
heterogen, yang mendepresi SSP secara reversibel dengan
spektrum yang hampir sama dan dapat dikontrol. Obat anastesi
umum dapat diberikan secara inhalasi dan secara intravena. Obat
anastesi umum yang diberikan secara inhalasi (gas dan cairan yang
mudah menguap) yang terpenting di antaranya adalah N2O,
halotan, enfluran, metoksifluran, dan isofluran. Obat anastesi
umum yang digunakan secara intravena, yaitu tiobarbiturat,
narkotik-analgesik, senyawa alkaloid lain dan molekul sejenis, dan
beberapa obat khusus seperti ketamin.
b. Tahap-tahap anastesi
Stadium anestesi dibagi dalam 4 yaitu; Stadium I (stadium
induksi atau eksitasi volunter), dimulai dari pemberian agen
anestesi sampai menimbulkan hilangnya kesadaran. Rasa takut
dapat meningkatkan

frekuensi nafas dan pulsus, dilatasi pupil,

dapat terjadi urinasi dan defekasi. Stadium II (stadium eksitasi


involunter), dimulai dari hilangnya kesadaran sampai permulaan
stadium pembedahan. Pada stadium II terjadi eksitasi dan gerakan
yang

tidak

menurut

kehendak,

pernafasan

tidak

teratur,

inkontinensia urin, muntah, midriasis, hipertensi, dan takikardia.


Stadium III (pembedahan/operasi), terbagi dalam 3 bagian yaitu;
Plane I yang ditandai dengan pernafasan yang teratur dan
terhentinya anggota gerak. Tipe pernafasan thoraco-abdominal,
refleks pedal masih ada, bola mata bergerak-gerak, palpebra,
konjuctiva dan kornea terdepresi. Plane II, ditandai dengan
respirasi thoraco-abdominal dan bola mata ventro medial semua
otot mengalami relaksasi kecuali otot perut. Plane III, ditandai
dengan respirasi regular, abdominal, bola mata kembali ke tengah
dan otot perut relaksasi. Stadium IV (paralisis medulla oblongata

atau

overdosis),ditandai

dengan

paralisis

otot

dada,

pulsus cepat dan pupil dilatasi. Bola mata menunjukkan gambaran


seperti mata ikan karena terhentinya sekresi lakrimal.

c. Klasifikasi
Obat bius memang diciptakan dalam berbagai sediaan dan
cara kerja. Namun, secara umum obat bius atau istilah medisnya
anestesi ini dibedakan menjadi tiga golongan yaitu anestesi lokal,
regional, dan umum.
1.

Anastesi Lokal
Anestesi lokal adalah tindakan pemberian obat yang
mampu menghambat konduksi saraf (terutama nyeri) secara
reversibel pada bagian tubuh yang spesifik. Pada anestesi
umum, rasa nyeri hilang bersamaan dengan hilangnya

kesadaran penderita. Sedangkan pada anestesi lokal (sering


juga diistilahkan dengan analgesia lokal), kesadaran penderita
tetap utuh dan rasa nyeri yang hilang bersifat setempat (lokal).
Pembiusan atau anestesi lokal biasa dimanfaatkan
untuk banyak hal. Misalnya, sulam bibir, sulam alis, dan
liposuction, kegiatan sosial seperti sirkumsisi (sunatan),
mencabut gigi berlubang, hingga merawat luka terbuka yang
disertai tindakan penjahitan.
Anestesi lokal bersifat ringan dan biasanya digunakan
untuk tindakan yang hanya perlu waktu singkat. Oleh karena
efek mati rasa yang didapat hanya mampu dipertahankan
selama kurun waktu sekitar 30 menit seusai injeksi, bila lebih
dari itu, maka akan diperlukan injeksi tambahan untuk
melanjutkan tindakan tanpa rasa nyeri.
2.

Anastesi Regional
Anestesi regional biasanya dimanfaatkan untuk kasus
bedah yang pasiennya perlu dalam kondisi sadar untuk
meminimalisasi efek samping operasi yang lebih besar, bila
pasien tak sadar. Misalnya, pada persalinan Caesar, operasi
usus buntu, operasi pada lengan dan tungkai. Caranya dengan
menginjeksikan obat-obatan bius pada bagian utama pengantar
register rasa nyeri ke otak yaitu saraf utama yang ada di dalam
tulang

belakang.

Sehingga,

obat

anestesi

mampu

menghentikan impuls saraf di area itu. Sensasi nyeri yang


ditimbulkan organ-organ melalui sistem saraf tadi lalu
terhambat dan tak dapat diregister sebagai sensasi nyeri di
otak. Dan sifat anestesi atau efek mati rasa akan lebih luas dan
lama dibanding anestesi lokal.
Ada kasus bedah, bisa membuat mati rasa dari perut ke
bawah. Namun, oleh karena tidak mempengaruhi hingga ke
susunan saraf pusat atau otak, maka pasien yang sudah di

anestesi regional masih bisa sadar dan mampu berkomunikasi,


walaupun tidak merasakan nyeri di daerah yang sedang
dioperasi.
3.

Anastesi Umum
Anestesi umum (general anestesi) atau bius total
disebut juga dengan nama narkose umum (NU). Anestesi
umum adalah meniadakan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel. Anestesi umum
biasanya dimanfaatkan untuk tindakan operasi besar yang
memerlukan ketenangan pasien dan waktu pengerjaan lebih
panjang, misalnya pada kasus bedah jantung, pengangkatan
batu empedu, bedah rekonstruksi tulang, dan lain-lain.
Cara kerja anestesi umum selain menghilangkan rasa
nyeri, menghilangkan kesadaran, dan membuat amnesia, juga
merelaksasi seluruh otot. Maka, selama penggunaan anestesi
juga diperlukan alat bantu nafas, selain deteksi jantung untuk
meminimalisasi kegagalan organ vital melakukan fungsinya
selama operasi dilakukan. Untuk menentukan prognosis
(Dachlan. 1989) ASA (American Society of Anesthesiologists)
membuat klasifikasi berdasarkan status fisik pasien pra
anestesi yang membagi pasien kedalam 5 kelompok atau
kategori sebagai berikut: ASA 1, yaitu pasien dalam keadaan
sehat yang memerlukan operasi. ASA 2, yaitu pasien dengan
kelainan sistemik ringan sampai sedang baik karena penyakit
bedah maupun penyakit lainnya. Contohnya pasien batu ureter
dengan hipertensi sedang terkontrol, atau pasien apendisitis
akut dengan lekositosis dan febris. ASA 3, yaitu pasien dengan
gangguan atau penyakit sistemik berat yang diaktibatkan
karena berbagai penyebab. Contohnya pasien apendisitis
perforasi dengan septi semia, atau pasien ileus obstruksi
dengan iskemia miokardium. ASA 4, yaitu pasien dengan

kelainan sistemik berat yang secara langsung mengancam


kehiduannya. ASA 5, yaitu pasien tidak diharapkan hidup
setelah 24 jam walaupun dioperasi atau tidak. Contohnya
pasien tua dengan perdarahan basis krani dan syok hemoragik
karena ruptura hepatik. Klasifikasi ASA juga dipakai pada
pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda darurat (E =
emergency), misalnya ASA 1 E atau III E.
d. Obat-obatan anastesi umum
Agar anestesi umum dapat berjalan dengan sebaik
mungkin, pertimbangan utamanya adalah memilih anestetika ideal.
Pemilihan ini didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu
keadaan penderita, sifat anestetika, jenis operasi yang dilakukan,
dan peralatan serta obat yang tersedia. Sifat anestetika yang ideal
antara lain mudah didapat, murah, tidak menimbulkan efek
samping terhadap organ vital seperti saluran pernapasan atau
jantung,

tidak

mudah

terbakar,

stabil,

cepat

dieliminasi,

menghasilkan relaksasi otot yang cukup baik, kesadaran cepat


kembali, tanpa efek yang tidak diinginkan. Obat anestesi umum
yang ideal adalah mempunyai sifat-sifat antara lain : pada dosis
yang aman mempunyai daya analgesik relaksasi otot yang cukup,
cara pemberian mudah, mula kerja obat yang cepat dan tidak
mempunyai efek samping yang merugikan. Selain itu obat tersebut
harus tidak toksik, mudah dinetralkan, mempunyai batas keamanan
yang luas, tidak dipengaruhi oleh variasi umur dan kondisi pasien.
Obat-obatan anestesi yang umum dipakai pada pembiusan total
adalah N2O, halotan, enfluran, isofluran, sevofluran, dan desfluran.
Obat anestesi umum yang ideal haruslah tidak mudah terbakar,
tidak meledak, larut dalam lemak, larut dalam darah, tidak
meracuni end-organ (jantung, hati, ginjal), efek samping minimal,
tidak dimetabolisasi oleh tubuh, dan tidak mengiritasi pasien.
e. Pemilihan tehnik anastesi

Pemilihan teknik anestesi adalah suatu hal yang kompleks,


memerlukan kesepakatan dan pengetahuan yang dalam baik antara
pasien dan faktorfaktor pembedahan. Dalam beberapa kelompok
populasi pasien, pembiusan regional ternyata lebih baik daripada
pembiusan total. Blokade neuraksial bisa mengurangi resiko
trombosis vena, emboli paru, transfusi, pneumonia, tekanan
pernapasan, infark miokardial, dan gagal ginjal. Beberapa faktor
yang mempengaruhi pemilihan anestesi antara lain: keterampilan
dan pengalaman ahli anestesi dan ahli bedah, tersedianya obat dan
peralatan, kondisi klinis pasien, waktu yang tersedia, tindakan
gawat darurat atau efektif, keadaan lambung, dan pilihan pasien.
Untuk operasi kecil (misalnya menjahit luka atau manipulasi
fraktur lengan), jika lambung penuh, maka pilihan yang terbaik
adalah anestesi regional. Untuk operasi besar gawat darurat,
anestesi regional atau umum sangat kecil perbedaannya dalam hal
keamanannya.
General anestesi adalah tindakan meniadakan nyeri secara
sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali
(reversible). Komponen anestesi yang ideal terdiri dari: (1)
hipnotik, (2) analgesia, dan (3) relaksasi otot.
Metode anestesi general dilihat dari cara pemberian obat:
1. Parenteral
Anestesi general yang diberikan secara parenteral baik
intravena maupun intramuskuler biasanya digunakan untuk
tindakan yang singkat atau untuk induksi anestesi.
2. Perektal
Anestesi general yang diberikan perektal kebanyakan dipakai
pada anak, terutama untuk induksi anestesi atau tindakan
singkat.
3. Perinhalasi
Anestesi inhalasi adalah anestesi dengan menggunakan gas

ataucairan anestetika yang mudah menguap (volatile agent)


sebagai zat anestetika melalui udara pernapasan.
Teknik pemberian anestesi general:
1. Napas spontan dengan face mask
2. Napas spontan dengan pipa endotrakea
3. Dengan pipa endotrakea dan napas kendali
f. Intubasi ETT
Intubasi

trakea

adalah

tindakan

memasukkan

pipa

endrotrakeal kedalam trakea sehingga jalan nafas bebas hambatan


dan nafas mudah dibantu dan dilkendalikan.
Tujuan :

Membersihkan saluran trakeabronkial

Mempertahankan jalan napas agar tetap adekuat

Mencegah aspirasi

Mempermudah pemberian ventilasi dan oksigenisasi

Indikasi :

Tindakan resusitasi

Tindakan anestesi

Pemeliharaan jalan napas

Pemberian ventilasi mekanis jangka panjang

Jenis Intubasi:

Intubasi nasal

Intubasi oral

Penyulit:

Leher pendek

Fraktur servical

Rahang bawah kecil

Osteoarthritis temporo mandibula joint

Trismus.

Ada masa di pharing dan laring

Persiapan set intubasi :


Sebelum mengerjakan intubasi dapat diingat kata STATICS
S

= Scope, Laringoscop dan Stetoskop

= Tubes, Pipa Endotrakeal

= Air Way, Pipa oroparing/Nosoparing, Ambubag

= Tape, Plester

= Indroducer, Stilet , Mandrin

= Conektor/sambungan-sambungan

= Suction, Penghisap Lendir

Laringoskop

Blade lengkung (macintos) biasa digunakan laringoscop


dewasa

Blade lurus, laringoskopi dengan blode lurus (misalnya


blade magill). Biasanya digunakan pada bayi dan anak.

Pipa Endotrakeal
Terbuat dari karet atau plastik, pipa plastik yang sekali
pakai untuk operasi tertentu, misalnya didaerah kepala dan leher
dibutuhkan pipa yang tidak bisa tertekuk yang mempunyai spiral
nilon atau besi. Untuk mencegah kebocoran balon (cuff) pada
ujung distal . pada anak-anak pipa endotrakeal tanpa balon.
Ukuran laki-laki dewasa berkisar 8,0-9,0 mm, wanita 7,5-8,5 mm.
untuk intubasi oral panjang pipa yang masuk 20-23 cm.
Pipa orofaring/nasoparing
Alat ini dugunakan untuk mencegah obstruksi jalan
nafas karena jatuhnya lidah.
Plester, untuk memfiksasi pipa trakea setelah tindakan intubasi
Stilet atau forcep intubasi
Digunakan

untuk

mengatur

kelengkungan

pipa

endotrakeal sebagai alat bantu saat insersi pipa. Forcep intubasi


(magill/digunakan untuk memanipulasi pipa endotrakeal nasal
atau pipa nasogastrik melalui orofaring
Alat penghisap (suction ).digunakan untuk membersihkan jalan
napas
Komplikasi :
Komplikasi tindakan intubasi trakea dapat terjadi saat dilakukan
tindakan laringoskopi dan intubasi. Selama pipa endotrakal
dimasukkan dan setelah extubasi.
Komplikasi tindakan laringoskopi dan intubasi :

Malposisi:

intubasi

esopagus,

intubasi

endobrokial

malposisi laryngeal cuff.

Trauma jalan napas: kerusakan gigi, laserasi bibir, lidah


atau mukosa mulut, cedera tenggorok, dislokasi mandibula,
dan diseksi retrofaringeal.

Gangguan refleks : hipertensi, takikardi, tekanan intra


cranial meningkat, tekanan intra okular meningkat ,spasme
laring.

Malfungsi tuba : perforasi cuff.

Komplikasi pemasukan pipa endotrakeal :

Malposisi: ekstubasi yang terjadi sendiri, intubasi ke


endobronkial, malposisi laryngeal cuff.

Trauma jalan nafas : inflamasi dan ulserasi mukosa, serta


ekskoriasi kulit

hidung

Malfungsi tube: obstruksi.

Komplikasi setelah ekstubasi :

Trauma jalan nafas: edema dan stenosis (glotis, subglotis


atau trakhea), suara serak/parau ( granuloma atau paralisis
pita suara ), malfungsi dan aspirasi laring.

Gangguan refleks : spasme laring.

BAB III
PEMBAHASAN
I.

Persiapan Pre-Anestesi dan Pre-Operatif


1. Anamnesis & Pemeriksaan Fisik
Untuk menjaga kebugaran penderita yang akan dioperasi
haruslah dilakukan anamnesis dan pemerikasaan terlebih dahulu.
Anamnesis tersebut mencakup antara lain riwayat tentang apakah
penderita pernah mendapat anestesi sebelumnya. Hal ini menjadi hal
yang penting karena untuk mengetahui apakah penderita mengalami
alergi, mual-muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau sesak nafas pasca
bedah. Selain hal yang berhubungan dengan riwayat anestesi dan
riwayat bedah sebelumnya, anamnesis juga diperlukan untuk
mengetahui apakah penderita memiliki riwayat penyakit sistemik lain
seperti Diabetes Melitus atau Hipertensi. Karena penderita dengan
penyakit tersebut harus mendapatkan perhatian khusus.
Pemeriksaan fisik yang penting untuk diperhatikan adalah
keadaan gigi-geligi, keadaan lingkungan mulut, dan tindakan buka
mulut. Hal-hal tersebut sangatlah penting karena untuk memprediksi
apakah tindakan laringoskopi akan mengalami kesulitan atau tidak.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Rekomendasi pada persiapan pemeriksaan laboratorium
sebelum operasi antara lain: Pemeriksaan darah tepi lengkap rutin
(Hb, Ht, leukosit, hitung jenis, trombosit) , pemeriksaan darah tepi
dilakukan atas indikasi, yaitu pasien yang diperkirakan menderita
anemia defisiensi, pasien dengan penyakit jantung, ginjal, saluran
napas atau infeksi.
Keuntungan pemeriksaan darah tepi lengkap adalah dapat mendeteksi
leukopenia atau leukositosis yang menunjukkan adanya infeksi atau
yang lebih jarang lagi adalah keganasan darah.
3. Puasa pre operasi
Pengosongan lambung sebelum anestesi penting untuk
mencegah aspirasi isi lambung karena regurtasi dan muntah. Pada

pembedahan elektif, pengosongan lambung dilakukan dengan puasa.


Pada pembedahan daruat pengosongan lambung dapat dilakukan lebih
aktif dengan cara merangsang muntah, memasang pipa nasogastrik
atau memberi obat yang merangsang muntah seperti apomorphin,dll.
Cara-cara ini tidak menyenangkan untuk pasien sehingga
jarang sekali dilakukan. Cara lain yang dapat ditempuh adalah
menetralkan asam lambung dengan member antasida (magnesium
trisilikat) atau antagonis reseptor H2 (simeidin dan ranitidin).
4. Premedikasi
Pemberian obat 1-2 jam sebelum anastesi dengan tujuan untuk
melancarkan induksi, rumatan, dan bangun dari anastesi. Tujuan
premedikasi adalah

Meredakan kecemasan dan ketakutan

Memperlancar induksi

Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus

Mengurangi mual-muntah pasca operasi

Menciptakan amnesia

Menguras isi lambung

Obat-obatan yang biasa digunakan untuk premedikasi antara lain:

Diazepam 0.05-2 mg/kgbb/iv

Ondancentron 2-4 mg/kgbb/iv

Sulfas atropin 0,03-0,06 mg/kg/iv

Pethidin 1 mg/kgbb/iv

Metoclopramide

Midazolam 0.5 mg/kgbb/iv

5. Induksi
Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi
tidak sadar sehingga memungkinkan dimulainya anastesi dan
pembedahan. Induksi anastesi dapat dikerjakan dengan cara intravena,
inhalasi, intramuskular, intra rectal. Setelah diberikan induksi
dilanjutkan

dengan

pemeliharaan

anastesi

sampai

tindakan

pembedahan selesai. Selama induksi anastesi tanda-tanda vital pasien


harus diperhatikan.
Obat-obatan yang biasa digunakan pada induksi adalah

Pentothal 3-7mg/kgbb/x

Ketamin 1-2 mg/kgbb/x

Propofol 2-3 mg/kgbb/x

Induksi inhalasi juga dapat digunakan,dimulai dengan 02 4


liter/menit atau campuran N2O dan O2 = 3:1 4 liter/menit,
sedangkan gas yang biasa digunakan adalah

Halotan 0.5%

Isofluran

Sevofluran

Enfluran

II.

Pembahasan
Sebelum dilakukan operasi, kondisi penderita tersebut termasuk dalam
ASA II karena penderita merupakan perempuan usia 40 tahun dan kondisi
pasien tersebut memiliki kelainan sistemik ringan-sedang. Cara anestesi pada
kasus ini adalah penggunaan general anestesi dengan endotracheal tube
(ETT). Penggunaan ETT dikarenakan operasi yang dilakukan membutuhkan
waktu yang lama dan perlu pemeliharaan ventilasi jangka panjang.
Ondansetron (Granisetron) diberikan sebagai premedikasi.
Ondansetron (Granisetron) merupakan suatu antagonis reseptor serotonin 5HT3 selektif yang diindikasikan sebagai pencegahan dan pengobatan mual
dan muntah pasca bedah. Pelepasan 5HT3 ke dalam usus dapat merangsang
refleks muntah dengan mengaktifkan serabut aferen vagal lewat reseptornya.
Ondansetron diberikan pada pasien ini untuk mencegah mual dan muntah
yang bisa menyebabkan aspirasi. Sediaan injeksi 4mg dan 8mg atau 4mg/2ml
(1 ampul).
Midazolame (Sedacum) adalah obat hipnotik-sedatif. Obat ini
merupakan turunan benzodiazepine. Midazolam (Sedacum) menjadi obat
hipnotik sedatif pilihan karena kerjanya cepat,waktu paruhnya pendek,
memiliki amnesia aterograde yang menguntungkan, tidak mengiritasi Obat
golongan Sedatif adalah obat-obatan yang menghilangkan kecemasan,
mengurangi ketegangan dan menimbulkan ketenangan Sedangkan efek obat
golongan Hipnotika adalah obat-obat sedatif yang ditingkatkan dosisnya yang
mendepresi susunan saraf pusat sehingga menyebabkan tidur.
Cefuroxim (Oxtercid) adalah obat antibiotik golongan sefalosporin
yang digunakan untuk mengobati infeksi pada sinus, tonsil, faring, bronkus,
telinga, kulit, kandung kemih. Obat ini juga dapat diberikan pada pasien yang
akan menjalani prosedur operasi guna mencegah kambuhnya infeksi.
Fentanyl adalah obat golongan narkotika bertujuan untuk mengurangi
nyeri saat pembedahan, biasanya diberikan jika anastesi dilakukan dengan
anastetik dengan sifat analgesik rendah misalnya halotan, tiopental, propofol.
mempunyai potensi analgesik 75-125 kali morfin. Mempunyai mula kerja
yang cepat dan mempunyai waktu eleminasi yang cepat juga dalam tubuh.

Efek terhadap jantung minimal tetapi dapat terjadi bradikardi yang dapat di
tanggulanggi dengan pemberian sulfas atropin.
Penggunaan induksi pertama adalah penggunaan propofol (recofol).
Propofol (recofol) dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu
bersifat isotonik dengan kepekatan 1%. Suntikan intravena sering
menyebabkan nyeri, sehingga beberapa detik sebelumnya sebaiknya dapat
diberikan lidokain 1-2 mg/kg secara intravena. Dosis bolus untuk induksi 22,5 mg/kgBB, dosis rumatan untuk anastesi intravena total adalah 4-12
mg/kgBB/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0,2 mg/kgBB.
Pengenceran propofol hanya boleh dengan dekstrosa 5%.
Sedangkan untuk anestesi inhalasi menggunakan O2, N2O dan
sevofluran 2%. O2 pertama kali diberikan pada pasien ini dengan dosis
5L/menit. Setelah nafas pasien teratur, kemudian dosis O2 diturunkan dan
kemudian N2O dimasukkan. Dosis keduanya seimbang yaitu 50:50
(2,5L/menit : 2,5 L/menit). Kemudian anestesi inhalasi mulai juga
dimasukkan. Anestesi inhalasi yang digunakan adalah sevofluran dengan
dosis 2%. Sevofluran sendiri berbentuk volatile jernih, tidak berwarna dengan
bau enak, tidak iritatif, tidak mudah terbakar, tidak terpengaruh cahaya. Gas
ini

mempunyai

kelarutan

darah/gas

yang

rendah

(0,68),

sehingga

menghasilkan induksi dan recovery yang cepat. Selain itu, karena bau yang
enak maka menjadi pilihan untuk anestesi inhalasi pada pasien dewasa dan
anak. Hilangnya kesadaran dengan sevofluran relative cepat, karena dapat
dicapai pada 5 kali tarikan napas tunggal.
Pasca operasi, penderita dibawa ke ruang pulih (recovery room) untuk
diawasi secara lengkap dan baik. Hingga kondisi penderita stabil dan tidak
terdapat kendala-kendala yang berarti serta memenuhi aldrette score,
penderita kemudian dibawa ke bangsal untuk dirawat dengan lebih baik.

BAB IV
KESIMPULAN

1. Obat-obatan yang digunakan dalam premedikasi adalah ondensantron


(granisetron), midazolam (sedacum), cefuroxime (Oxtercid) dan fentanyl
sedangkan untuk medikasi adalah propofol (recofol).

2.

Post operasi pasien dirawat di recovery room setelah memenuhi aldrette


skore dapat dikirim ke bangsal untuk dimonitoring stabilitas pasien post
operasi sampai keadaan umumnya membaik yang kemudian dapat
dipulangkan.

DAFTAR PUSTAKA
Himendra, A: Teori Anestesiologi, Yayasan Pustaka Wina, Bandung, 2004.
Latief, SA, Suryadi, KA, Dachlan, R: Petunjuk Praktis Anestesiologi edisi kedua,
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta, 2002.
Mansjoer, Arif. dkk. Anestesi spinal. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran edisi III
hal.261- 264. 2000. Jakarta.
Muhiman, Roesli Thaib, Sunatrio, Dahlan, : ANESTESIOLOGI , Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta, 1989.
Syarif, Amir. Et al. Kokain dan Anestetik Lokal Sintetik. Dalam: Farmakologi dan
Terapi edisi 5 hal.259-272. 2007. Gaya Baru, jakarta.