Anda di halaman 1dari 54

HUBUNGAN INTENSITAS SERANGAN HAMA ULAT

GRAYAK (Spodoptera litura) DENGAN PRODUKSI PADA


TANAMAN KEDELAI

OLEH :
YUSLINDAH
G111 11 345

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


JURUSAN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

Hubungan Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura)


dengan Produksi pada Tanaman Kedelai

OLEH :

YUSLINDAH
G111 11 345
Laporan Praktik Lapang Dalam Mata Ajaran Minat Utama
Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian

Pada

Fakultas Pertanian
Universitas Hasanuddin

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


JURUSAN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTAMIAN
UNIVERSITAS HASNUDDIN
MAKASSAR
2015

ii

iii

iv

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Alhamdulillahirabbilalamin. Puji
P syukur penulis panjatkan kehadirat
ke
Allah
SWT karenaa hanya atas berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya
karunia
penulis berhasil
menyelesaikan skripsi dengan judul Hubungan
Hubungan Intensitas Serangan Hama
Ulat Grayak (Spodoptera litura) dengan Produksi pada Tanaman Kedelai.
Kedelai
Tak lupa pula penulis kirimkan shalawat
shal
dan salam kepada suri tauladan kita
Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat-Nya.
Pertama-tama
tama penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesarsebesar
besarnya kepada Orang Tua saya Bapak Muh.Yunus, SE dan Ibu Hj.Faidah
atas kasih sayang, cinta, doa, serta dorongan baik moril maupun materi sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Dalam penulisan tugas akhir ini Penulis juga banyak menemukan kesulitan,
namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak Penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu dengan
penuh kerendahan hati Penulis menyampaikan penghargaan yang setinggisetinggi
tingginya dan
an ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Ir. Ahdin Gassa, M.Sc dan Bapak Prof.Dr.Ir. Baharuddin
sebagai pembimbing yang telah dengan sabar, tulus dan ikhlas
meluangkan waktu, tenaga dan pikiran memberikan bimbingan, motivasi,
arahan dan saran-saran
saran
yang sangat
angat berharga kepada Penulis. Terima
kasih yang sebesar-besarnya
sebesar besarnya untuk ilmu dan pengetahuan yang telah
bapak berikan kepada Penulis.
2. Bapak Ir. Fatahuddin, MP,
MP Ibu Dr. Ir. Vien Sartika Dewi, MS dan
Bapak Asman, SP. MP selaku penguji yang memberikan kritik dan
saran sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
3. Ibu Prof. Dr. Ir. Tutik Kuswinanti, M.Sc selaku Penasehat Akademik.
4. Bapak Ir. Fattah, MP yang senantiasa membantu penulis selama
penelitian di lapangan.

5. Seluruh Dosen Jurusan Ilmu Hama Dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas


Pertanian, Universitas Hasanuddin, terima kasih atas ilmu yang telah
diberikan selama penulis menjalani pendidikan.
6. Para Pegawai dan Staf Laboratorium Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit
Tumbuhan yang telah banyak membantu dan memotivasi penulis dan
membantu setiap pengurusan berkas.
7. Terkhusus buat Ahmad Syarif, SP yang selalu mendampingi penulis,
memberikan motivasi, arahan, doa dan kasih sayang.
8. Sahabat-sahabatku Dwi SP, Nia, Uni, Intan, Prapti SP, Indri SP,
Reska, Melan, Aulia, Rosita yang selalu ada memberikan dorongan dan
motivasi serta bantuannya mulai dari penelitian hingga penulisan skripsi
ini.
9. Suhadi, Suriadi, Irma, Ramlah yang telah banyak membantu penulis
dalam penyusunan skripsi ini.
10. Teman-teman seperjuangan Agroteknologi 2011, Insecta 2011 dan
segenap keluarga besar HMPT UH yang selalu memberikan semangat.
11. Sahabatku dan Neo Family Ayhu, Dian, Jarier, Oncong, Ijha, Sukma,
Subhe, Eddy, Dedi, Tyna, Aya, Rina, Epi, Eka yang selalu
memberikan support kepada penulis.
12. Teman-teman KKN Desa Barebbo Kec.Barebbo Kab.Bone Uma, Mey,
Nia, Kak Micuts, Kak Oce, Kak Iyan, dan Kak Cudo.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas akhir ini tidak terlepas
dari kekurangan-kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu
koreksi dan saran yang bersifat membangun sangat Penulis harapkan demi
kesempurnaan tugas akhir ini. Akhirnya Penulis berharap semoga tugas akhir ini
dapat memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan, Aamiiin.

Makassar,

Penulis

Juni 2015

vi

Yuslindah (G111 11 345). Hubungan Intensitas Serangan Hama Ulat


Grayak (Spodoptera litura) dengan Produksi pada Tanaman Kedelai
(Dibawah Bimbingan Ahdin Gassa dan Baharuddin).
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan atau pengaruh pemberian
insektisida dan non insektisida terhadap intensitas serangan hama ulat grayak
(Spodoptera litura) dan produksi pada pertanaman kedelai. Penelitian ini
dilakukan di aereal pertanaman kedelai petani di Desa Attang Salo
Kec.Marioriawa Kab.Soppeng. Luas lahan kedelai berukuran 1 ha yang dibagi
dalam dua bagian, satu bagian yang diaplikasikan insektisida dan satu bagian
tanpa pengaplikasian insektisida, setiap bagian terdiri dari 5 plot masing-masing
berukuran 5 m x 5 m dan setiap plot diambil 15 rumpun tanaman kedelai.
Pengamatan meliputi intensitas serangan, produksi, hubungan intensitas
serangan dengan produksi, dan analisis usahatani. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa intensitas serangan hama ulat grayak lebih tinggi pada perlakuan non
insektisida dibanding dengan pengaplikasian insektisida, hasil produksi pada
tanaman kedelai dengan pengaplikasian insektisida lebih tinggi dibanding non
insektisida, intensitas serangan hama berpengaruh terhadap produksi pada
pengaplikasian insektisida dan non insektisida, Keuntungan hasil produksi untuk
pengaplikasian insektisida Rp 6.170.000,- dan non insektisida Rp 5.360.000,dengan selisih Rp 810.000,-.
Kata kunci : Insektisida, Kedelai, Produksi, Ulat Grayak

vii

Yuslindah (G111 11 345). The relation of the attack intensity of Spodoptera


litura with the soybean production (Under the guidance of Ahdin Gassa and
Baharuddin).
ABSTRACT
The purpose of the study was to determine the effect of insecticide
application on the damage intensity of Spodoptera litura and soybean yield. The
study was conducted in farmers fields in AttangSalo Village, Marioriawa SubDistrict, Soppeng District. One hectar of soybean plantation was divided into
two sections, one section was applied with insecticide and the other was
unsprayed. From each section 15 plants were observed to determine damage
intensity, yield, relationship between damage and yield, and economic analysis.
The results showed that damaged intensity was higher in the unsprayed section
compared to the sprayed one. Similarly, plant yield was higher in the sprayed
section than the unsprayed one. The damage intensity negatively affected the
yield. Economically, crop management with insecticide application was more
profitable compared the one without insecticide application with the revenues of
Rp 6.170.000,- and Rp 5.360.000, respectively.
Keywords : Insecticide, Soybean, Yield, Spodoptera litura

viii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................

HALAMAN PENGESAHAN ...............................................................

ii

HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI ..........................................

iii

KATA PENGANTAR ...........................................................................

iv

ABSTRAK ............................................................................................
DAFTAR ISI ..........................................................................................

vi

DAFTAR GAMBAR .............................................................................

ix

DAFTAR TABEL .................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...........................................................................

1.2. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...............................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Kedelai (Glycines max L. Merril) .............................................

2.2. Ulat Grayak (Spodoptera litura) ................................................

2.2.1 Biologi Ulat Grayak (Spodoptera litura).........................

2.2.2 Morfologi Ulat Grayak (Spodoptera litura).....................

2.2.3 Gejala dan Kerusakan yang Ditimbulkan........................

2.3. Insektisida .................................................................................

10

BAB III. METODE PENELITIAN


3.1. Tempat dan Waktu .....................................................................

12

3.2. Alat dan Bahan ..........................................................................

12

3.3. Metode Pelaksanaan ..................................................................

12

3.4. Pengamatan ...............................................................................

12

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura)
dengan Aplikasi Insektisida dan Non Insektisida ....................

15

4.2. Hasil Produksi dengan menggunakan Aplikasi Insektisida


dan Non Insektisida ................................................................

16

4.3. Hubungan antara Intensitas Serangan dengan Produksi...... ......

17

ix

4.4. Analisis Usaha tani .....................................................................

18

.......................................................................................................
BAB V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan ................................................................................

27

5.2. Saran ...........................................................................................

27

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Teks

Halaman

1. Gejala Kerusakan Daun pada Pertanaman Kedelai akibat Ulat Grayak


(Spodoptera litura) .............................................................................

10

..........................................................................................................
2. Rata-rata Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura)
dengan Aplikasi Insektisida dan Non Insektisida ................................

15

3. Hubungan antara Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera


litura) dengan Produksi pada Pengaplikasian Insektisida ....................

17

4. Hubungan antara Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera


litura) dengan Produksi pada Non Insektisida .....................................

Nomor

Lampiran

18

Halaman

1. Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura) yang Menyerang Daun pada


Tanaman Kedelai ...............................................................................

33

2. Gejala Kerusakan Daun pada Pengaplikasian Insektisida .................

33

3. Gejala Kerusakan Daun pada Non Insektisida ..................................

34

4. Hasil Kedelai dengan Pengaplikasian Insektisida .............................

34

5. Hasil Kedelai dengan Non Insektisida ..............................................

35

6. Kategori Kerusakan Daun pada Tanaman Kedelai akibat Hama Ulat


Grayak (Spodoptera litura) ...............................................................

36

xi

DAFTAR TABEL
Nomor

Teks

Halaman

1. Rata-rata Hasil Produksi Kedelai yang Dikonversikan ke Hektar ...

16

2. Hasil Usahatani Kedelai ...................................................................

19

Nomor
1.

Lampiran

Halaman

Rata-rata Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera


litura)

pada

Pengaplikasian

Insektisida

selama

kali

pengamatan .....................................................................................
2.

Rata-rata Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura)


dengan Non Insektisida selama 8 Pengamatan ................................

3.

Rata-rata

Hasil

Produksi

Kedelai

setiap

Plot

5.

36

dengan

Pengaplikasian Insektisida. ..............................................................


4.

36

37

Rata-rata Hasil Produksi Kedelai setiap Plot dengan


Non Insektisida.................................................................................

37

Deskripsi Varietas Agromulyo .........................................................

42

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kedelai merupakan sumber protein nabati utama bagi sebagian besar
penduduk Indonesia. Bagi perekonomian Indonesia kacang kedelai memiliki
peranan yang besar karena merupakan sumber bahan baku utama bagi industri
tahu, tempe, dan pakan ternak berupa bungkil kacang kedelai. Sifat multiguna
yang ada pada kedelai menyebabkan tingginya permintaan kedelai di dalam
negeri. Selain itu, manfaat kedelai sebagai salah satu sumber protein murah
membuat kedelai semakin diminati. Seiring dengan meningkatnya jumlah
penduduk, permintaan kedelai di dalam negeri pun berpotensi untuk meningkat
setiap tahunnya.
Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik petani harus memperhatikan
teknik

budidaya tanaman

kedelai misalnya

pengolahan tanah,

cara

penanaman kedelai yang baik, pemeliharaan, pemupukan yang sesuai sampai


dengan

panen. Selain itu salah satu inovasi yang mampu meningkatkan

produktivitas kedelai adalah varietas unggul. Setidaknya ada 15 varietas


kedelai unggul yang dilepas pada periode waktu 2001 hingga 2008. Varietasvarietas tersebut adalah: Kaba, Sinabung, Anjasmoro, Mahameru, Baluran,
Merubetiri, Ijen, Panderman, Gumitir, Argopuro, Arjasari, Grobogan, Kipas
Merah, Gepak Kuning, Agromulio dan Gepak Ijo. Umur panen semua varietas
tersebut berkisar antara 73 sampai 100 hari ( Indra, 2010).

Hama merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan produksi


kedelai. Salah satu hama penting yang dapat mengakibatkan kehilangan hasil
panen adalah hama pemakan daun yang dikenal sebagai hama ulat grayak atau
Spodoptera litura (Okada et al. 1988). Ulat ini berkembang biak sangat cepat
dan bersifat polifag, yaitu dapat hidup dengan memakan beberapa jenis tanaman.
Kerusakan akibat hama ulat grayak (Spodoptera litura) dapat mengakibatkan
pertumbahan tanaman terhambat sehingga mengakibatkan kehilangan hasil
panen yang relatif tinggi. Luas serangan ulat grayak dari tahun 2002 hingga
2006 berkisar antara 1.316 hingga 2.902 ha (Ditlin, 2008).
Dalam usaha pengendalian harus selalu mencari teknologi pengendalian
yang ramah lingkungan. Namun pada umumnya petani di Indonensia memilih
insektisida sintetik sebagai pilihan pertama dalam pengendalian hama. Hal
terse1but dikarenakan petani menganggap bahwa penggunaan insektisida lebih
ampuh dan hasilnya lebih cepat. Yang menjadi permasalahan adalah perilaku
petani yang tidak memperhatikan dosis dan konsetrasi dalam penggunaan
insektisida karena persepsi petani bahwa apabila terdapat sedikit lubang pada
daun

misalnya,

petani langsung

memberikan atau menyemprot tanaman

tersebut dengan insektisida. Namun demikian penggunaan insektisida secara


terus-menerus dan berlebihan mengakibatkan berbagai dampak negatif seperti
resistensi dan resurjensi hama, serta keracunan pada hewan peliharaan dan
manusia.
Berdasarkan dari uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk melihat
perbedaan atau pengaruh pemberian insektisida dan non insektisida terhadap

intensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) dan produksi pada
pertanaman kedelai.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan atau pengaruh pemberian
insektisida dan non insektisida terhadap intensitas serangan hama ulat grayak
(Spodoptera litura) dan produksi pada pertanaman kedelai.
Kegunaan penelitian ini adalah sebagai bahan informasi bagi peneliti
selanjutnya serta memberikan informasi bagi petani mengenai perbedaan atau
pengaruh pemberian insektisida dan non insektisda terhadap intensitas serangan
hama ulat grayak (Spodoptera litura) dan produksi pada pertanaman kedelai.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kedelai (Glycines max L. Merril)
Menurut pengamatan para ahli, kedelai (Gycines max L. Merril)
merupakan tanaman yang diperkirakan berasal dari Manshukuw (Cina) yang
menyebar hingga ke Indonesia. Pada tahun 1750, kedelai telah banyak ditanam
di daerah Jawa dan Bali. Menurut sistematika botani, kedelai digolongkan ke
dalam Super Divisi Spermatophyta dengan Famili Leguminoceae (Sumarno,
2010). Tanaman kedelai merupakan tanaman yang berbentuk perdu atau semak
dan tergolong dalam tanaman palawija yang dapat membentuk polong pada
setiap cabang (Ampnir, 2011). Batang tanaman kedelai tidak berkayu, namun
berbulu dengan struktur bulu yang beragam, berbentuk bulat, berwarna hijau,
dan memiliki panjang batang yang bervariasi antara 30-100 cm. Daun kedelai
berbentuk lonjong yang berujung runcing. Daun berwarna hijau sampai hijau tua
dengan struktur bulu yang beragam pada permukaan daunnya. Tanaman kedelai
memiliki tipe daun majemuk yang terdiri dari 3 helaian anak daun (daun
bersusun tiga) pada setiap helai daun (Ampnir, 2011). Bunga tanaman kedelai
termasuk bunga sempurna yang berbentuk menyerupai kupu-kupu dengan
mahkota 8 bunga berwarna putih atau ungu. Bunga muncul pada setiap ketiak
daun dan tumbuh secara berkelompok. Sedangkan buah atau polong kedelai
berbentuk pipih dengan warna yang bervariasi tergantung varietas. Sama halnya
dengan polong, biji kedelai juga memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang
bervariasi (Ampnir, 2011).

Jenis hama yang menyerang tanaman kedelai di Indonesia telah


teridentifikasi melebihi 100 jenis hama. Beberapa jenis hama penting tanaman
kedelai mulai dari awal tanam hingga panen antara lain : lalat bibit (Ophiomy
paseoli), lalat batang (Melanogromyza sojae), lalat pucuk (Melanogromyza
dolichostigma), aphis (Aphis glycines), kumbang daun kedelai (Phaedonia
inclusa), ulat grayak (Spodoptera litura), ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites),
kepik hijau (Nezara viridula), lalat kacang (Agromyza sp), wereng kedelai
(Phaedonia inclusa), pengisap polong (Riptortus linearis), penggerek polong
(Etiella zinckenelo) (Marwoto, 2007).
2.2 Ulat Grayak (Spodoptera Litura)
Menurut pracaya (2005) Spodoptera litura ini diisebut ulat grayak karena
ulat ini dalam jumlah yang sangat besar sampai ribuan menyerang dan memakan
tanaman pada waktu malam hari sehingga tanaman akan habis dalam waktu
yang sangat singkat. Serangan ulat grayak ini perlu diwaspadai karena pada
siang hari tidak tampak dan biasanya bersembunyi di tempat yang gelap dan di
dalam tanah maupun bagian belakang daun, namun pada malam hari ulat grayak
melakukan aktifitas serangan yang hebat dan bahkan dapat menyebabkan
kegagalan panen, mungkin itulah sebabnya maka serangga ini disebut sebagai
ulat grayak. Ulat grayak ini termasuk dalam keluarga Nectuidae.
Menurut

Kalshoven

diklasifikasikan sebagai berikut:


Kingdom

: Animalia

Class

: Insekta

(1981)

ulat

grayak

(Spodoptera

litura)

Ordo

: Lepidoptera

Family

: Noctuidae

Genus

: Spodoptera

Spesies

: Spodoptera litura
Ulat grayak memiliki bermacam-macam jenis umumnya termasuk genus

Spodoptera. Hama ini tersebar hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia,


yaitu di daerah tropis dan subtropis. Bila keadaan mendukung, populasi
gerombolan ulat grayak akan berbaris disawah yang satu ke sawah yang lainnya
dan memakan daun-daun sehingga hanya akan menyisakan tulang daun dan
batangnya saja. Ulat grayak merupakan serangga hama yang sangat mengganggu
bagi tanaman pertanian yang ada di Asia.
Spodoptera litura merupakan hama perusak daun yang bersifat polifag
(makan semua tanaman). Pada siang hari ulat grayak tidak terlihat, karena
umumnya bersembunyi di tempat-tempat yang teduh, di bawah batang dekat
leher akar atau di dalam tanah/pangkal rumput tanaman. Pada malam hari ulat
grayak akan keluar dan melakukan serangan. Serangga ini merusak pada stadia
larva, yaitu memakan daun sehingga menjadi berlubang-lubang. Biasanya dalam
jumlah besar ulat grayak bersama-sama pindah dari tanaman yang telah habis
dimakan daunnya ke tanaman lainya (Sudarmo, 1991).
2.2.1 Biologi
Sayap ngengat bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap
belakang berwarna keputih-putihan dengan bercak hitam. Malam hari ngengat
dapat terbang sejauh lima kilometer. Seekor ngengat betina dapat meletakkan

2000-3000 telur. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat
pada daun (kadang-kadang tersusun dua lapis), berwarna coklat kekuningkuningan diletakkan berkelompok (masing-masing berisi 25-500 butir) yang
bentuknya bermacam-macam pada daun atau bagian tanaman lainnya.
Kelompok telur tertutup bulu seperti beludru yang berasal dari bulu-bulu tubuh
bagian ujung ngengat betina. Ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa
tanpa rumah pupa (kokon), berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar
1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30-60 hari (lama stadium telur 2-4 hari,
larva yang terdiri dari 5 instar : 20-46 hari, pupa : 8-11 hari) (Ardiansyah, 2007).
Larva mempunyai warna yang bervariasi, mempunyai kalung/bulan sabit
berwarna hitam pada segmen abdomen yang keempat dan kesepuluh. Pada
sisi lateral dan dorsal terdapat garis kuning. Ulat yang baru menetas
berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklat-coklatan dan
hidup berkelompok. Beberapa

hari kemudian

tergantung ketersediaan

makanan, larva menyebar dengan menggunakan benang suteradari mulutnya.


Siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab) dan menyerang
tanaman pada malam hari. Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara
bergerombol dalam jumlah besar. Warna dan perilaku ulat instar terakhir
mirip ulat tanah, perbedaan hanya pada tanda bulan sabit, berwarna hijau gelap
dengan garis punggung warna gelap memanjang, umur dua minggu panjang ulat
sekitar 5cm (Hera, 2007).

2.2.2 Morfologi
Umumnya larva mempunyai titik hitam arah lateral pada setiap abdomen
(Samharinto,1990). Larva muda berwarna kehijau-hijauan. Menurut Direktorat
Jenderal Perkebunan (1994), instar pertama tubuh larva berwarna hijau kuning,
panjang 2,00 sampai 2,74 mm dan tubuh berbulu-bulu halus, kepala berwarna
hitam dengan lebar 0,2-0,3 mm. Instar kedua, tubuh berwarna hijau dengan
panjang 3,75-10,00 mm, bulu-bulunya tidak terlihat lagi dan pada ruas abdomen
pertama terdapat garis hitam meningkat pada bagian dorsal terdapat garis putih
memanjang dari toraks hingga ujung abdomen, pada toraks terdapat empat buah
titik yang berbaris dua-dua. Larva instar ketiga memiliki panjang tubuh 8,0
15,0 mm dengan lebar kepala 0,5 0,6 mm. Pada bagian kiri dan kanan
abdomen terdapat garis zig-zag berwarna putih dan bulatan hitam sepanjang
tubuh. Instar keempat , kelima dan keenam agak sulit dibedakan. Untuk panjang
tubuh instar ke empat 13-20 mm, instar kelima 25-35 mm dan instar ke enam 3550 mm. Mulai instar keempat warna bervariasi yaitu hitam, hijau, keputihan,
hijau kekuningan atau hijau keunguan.
Larva mempunya warna yang bervariasi, mempunyai kalung/bulan
sabit berwarna hitam pada segmen abdomen yang keempat dan kesepuluh.
Pada sisi lateral dan dorsal terdapat garis kuning. Ulat yang baru menetas
berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklat-coklatan.
Ulat

berkepompong

dalam

tanah, membentuk

pupa

tanpa rumah pupa

(kokon) berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Imago
berupa ngengat dengan warna hitam kecoklatan. Pada sayap depan ditemukan

spot-spot berwarna hitam dengan strip-strip putih dan kuning. Sayap belakang
biasanya berwarna putih, (Ardiansyah, 2007).
2.2.3 Gejala dan Kerusakan yang Ditimbulkan
Hama ini termasuk ke dalam jenis serangga yang mengalami
metamorfosis sempurna yang terdiri dari empat stadia hidup yaitu telur, larva,
pupa, dan imago . Pada siang hari ulat grayak tidak tampak, karena umumnya
bersembunyi di tempat-tempat yang teduh, di bawah batang dekat leher akar.
Pada malam hari ulat grayak akan keluar dan melakukan searangan. Serangga ini
merusak pada stadia larva, yaitu memakan daun sehingga menjadi berlubanglubang. Biasanya dalam jumlah besar ulat garayak bersama-sama pindah dari
tanaman yang telah habis dimakan daunnya ke tanaman lainnya (Pracaya, 1995).
Larva yang masih kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa
epidermis bagian atas/transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja dan ulat
yang besar memakan tulang daun dan buahnya. Gejala serangan pada daun rusak
tidak beraturan, bahkan kadang-kadang hama ini juga memakan tunas dan
bunga. Pada serangan berat menyebabkan gundulnya daun. Serangan berat
umumnya terjadi pada musim kemarau.

10

Gambar : Gejala kerusakan daun pada pertanaman kedelai akibat ulat


grayak (Spodoptera litura).
Sumber : koleksi pribadi
2.3 Insektisida
Insektisida secara umum adalah senyawa kimia yang digunakan untuk
membunuh serangga pengganggu (hama serangga). Insektisida dapat membunuh
serangga dengan dua mekanisme, yaitu dengan meracuni makanannya (tanaman)
dan dengan langsung meracuni si serangga tersebut.

11

Insektisida yang digunakan petani di daerah penelitian adalah insektisida


yang berbahan aktif klorantranilipron dan tiametoksam. Insektisida berbahan
aktif tersebut merupakan racun kontak berbentuk pekatan yang larut dalam air,
berwarna putih kecoklatan, untuk mengendalikan hama seperti ulat grayak
(Spodoptera litura). Insektisida racun kontak merupakan insektisida yang masuk
ke dalam tubuh serangga melalui kulit, celah atau lubang alami pada tubuh atau
langsungmengenai mulut si serangga. Serangga akan mati apabila bersinggungan
langsung (kontak) dengan insektisida tersebut (Djojosumarto,2008).

12

BAB III
METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada hamparan pertanaman kedelai petani mulai
Januari - Maret 2015 di Desa Attang Salo Kecamatan Marioriawa Kabupaten
Soppeng.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan : Pisau, alat tulis menulis, kamera, patok, tali rafia,
meteran, sabit, dan timbangan.
Bahan yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu benih kedelai Varietas
Agromulyo dan Insektisida berbahan aktif klorantranilipran dan tiametoksam.
3.3 Metode Pelaksanaan
Lahan penelitian yang digunakan yaitu lahan milik petani yang sudah
ditanami tanaman kedelai seluas 1 ha yang dibagi dalam dua bagian, satu bagian
yang diaplikasikan insektisida dan satu bagian tanpa insektisida dengan jarak
antara bagian 6m, setiap bagian terdiri dari 5 plot masing-masing berukuran 5
m x 5 m. Setiap plot diambil 15 rumpun tanaman kedelai. Frekuensi
penyemprotan yang dilakukan petani yaitu 12 hst, 25 hst, 37 hst, 47 hst, 58 hst,
66 hst.
3.4 Pengamatan
3.4.1 Intensitas Serangan Hama Pemakan Daun (Spodoptera litura)
Untuk pengamatan pada daun di lapangan, siapkan alat dan bahan yang
akan digunakan. Kemudian mengamati intensitas serangan hama setiap helai

13

daun pada setiap rumpun tanaman kedelai yang dipilih, setiap plot menggunakan
15 rumpun tanaman kedelai. Amati dan nilai intensitas kerusakan tanaman.
Pengamatan dilakukan 8 kali yaitu mulai minggu ke-2 setelah tanam. Skala
kerusakan yang digunakan adalah 0, 1, 3, 5, 7, dan 9. Kemudian catat hasil, lalu
hitung intensitas kerusakan dengan menggunakan rumus yang telah ada.
Rumus yang digunakan menurut Natawigena (1989):

I =

nxv

------------------------ x 100%
ZxN

Keterangan :
I = Intensitas serangan
n = Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh
v = Nilai skala kerusakan dari tiap kategori serangan
N = Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh yang diamati
Z = Nilai skala kerusakan tertinggi
Nilai skala untuk setiap kategori serangan hama Spodoptera
Litura pada tanaman kedelai sebagai berikut :
0 = tidak ada kerusakan pada daun
1 = Kerusakan daun > 1 - 20%
3 = Kerusakan daun > 20 - 40%
5 = Kerusakan daun > 40 - 60%
7 = Kerusakan daun > 60 - 80%
9 = Kerusakan daun > 80 - 100%

14

3.4.2 Produksi
Semua tanaman yang telah dipilih pada setiap plot percobaan dipanen
dengan memotongnya dengan sabit setinggi 5 cm diatas permukaan plot.
Setiap plot yang diaplikasikan dengan insektisida dan yang tidak diaplikasikan
dengan insektisida dipisahkan. Tanaman yang telah dipanen ini dikeringkan
dengan cahaya matahari selama 2 hari supaya mudah memisahkan biji dari
dalam polong. Polong kemudian dibersihkan dari sisa tanaman dan kotoran
lainnya

dan dijemur lagi selama 2 hari dibawah sinar matahari. Setelah

dianggap kering ditimbang berat biji yang dihasilkan setiap plot.


Rumus yang digunakan :
Rata-rata produksi (plot) x Luasan ha
Produksi (ton/ha) = -----------------------------------------------Luasan plot

15

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera Litura) dengan
Aplikasi Insektisida dan Non Insektisida.
Hasil pengamatan rata-rata intensitas serangan Hama Ulat Grayak
(Spodoptera litura) (%) dengan aplikasi insektisida dan non insektisida, dapat
dilihat pada Gambar 1 berikut :

100

Intensitas Serangan (%)

90
80
70
60
50
Insektisida

40

Tanpa Insektisida

30
20
10
0
I

II

III

IV

VI

VII

VIII

Pengamatan keGambar 1. Rata-rata Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodotera


litura) dengan Aplikasi Insektisida dan Non Insektisida.
Pada Gambar 1 di atas terlihat rata-rata intensitas serangan hama ulat
grayak (Spodoptera litura) mulai ditemukan pada pengamatan ke-I. Rata-rata
intensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) dengan aplikasi

16

insektisida mengalami penurunan dari pengamatan ke-I sampai dengan


pengamatan ke-VIII.

Rata-rata intensitas serangan hama ulat grayak

(Spodoptera litura) pada tanaman kedelai dengan aplikasi insektisida mengalami


penurunan seiring dengan bertambahnya umur tanaman, hal ini dapat dilihat dari
masing-masing intensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) secara
berturut-turut dari pengamatan I-VIII yaitu 71,10%, 68,33%, 67,47%, 67,11%,
66,54%, 66,30%,62,85%, dan 33,46%.
Pada Gambar 1 juga terlihat bahwa rata-rata intensitas serangan hama
ulat grayak (Spodoptera litura) dengan non insektisida mulai ditemukan pada
pengamatan ke-I. Instensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) non
insektisida mengalami peningkatan intensitas serangan dari pengamatan I-VII
dan mengalami penurunan pada pengamatan ke-VIII. Secara berturut-turut nilai
intensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) dari pengamatan I-VIII
yaitu 75,85%, 76,11%, 77,36%, 80,27%, 80,65%, 83,29%, 88,32%, dan 87,38%.
4.1.2 Hasil Produksi dengan menggunakan Aplikasi Insektisida dan Non
Insektisida.
Hasil pengamatan produksi dengan menggunakan aplikasi insektisida dan
non insektisida pada tanaman kedelai dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Rata-rata hasil produksi kedelai yang dikonversikan ke Hektar
Perlakuan

Produksi (ton/ha)

Insektisida

1,636

Non Insektisida

1,208

17

Pada Tabel 1 yaitu hasil produksi dengan menggunakan aplikasi


insektisida dan non aplikasi insektisida dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan
dalam produksi kedelai. Hasil produksi dengan menggunakan aplikasi
insektisida lebih tinggi dibandingkan dengan hasil produksi non insektisida
dimana hasil produksi pada pengaplikasian insektisida yang sudah dikonversikan
ke Ha yaitu 1,636 ton/ha dan hasil produksi non insektisida yaitu 1,208 ton/ha.
4.1.3 Hubungan Antara Intensitas Serangan dengan Produksi
Untuk mengetahui hubungan intensitas serangan hama ulat grayak
(Spodoptera litura) dengan produksi maka dilakukan analisis regresi sebagai
berikut:

INSEKTISIDA
1,800
1,750
Produksi

1,700
1,650
y(produksi)
1,600

y = -0,002x + 1,726
R = 0,171

1,550

Linear (y(produksi))

1,500
0

10

20

30

40

50

60

Intensitas

Gambar 2. Hubungan antara intensitas serangan hama ulat grayak


(Spodoptera litura) dengan produksi pada pengaplikasian
insektisida.

18

Non Insektisida
1,300
y = 0,026x - 1,115
R = 0,461

produksi

1,250
1,200
1,150

y(produksi)

1,100

Linear (y(produksi))

1,050
84

85

86

87

88

89

90

91

intensitas

Gambar 3. Hubungan antara intensitas serangan hama ulat grayak


(Spodoptera litura) dengan produksi non insektisida.
Intensitas kerusakan hama ulat grayak (Spodoptera litura) dengan hasil
produksi pada pengaplikasian insektisida dan non insektisida berdasarkan
persamaan garis linear tersebut menunjukkan bahwa tinggi rendahnya intensitas
serangan diiringi dengan tinggi rendahnya hasil produksi (Gambar 2 dan
Gambar 3), dimana pada persamaan regresi y= -0.002x + 1.726, dimisalkan y
adalah produksi dan x adalah intensitas serangan. Nilai penduga regresi sebesar 0.002 menunjukkan besaran pengaruh intensitas serangan terhadap produksinya.
Jika dimisalkan intensitas serangan naik 1% maka produksi akan turun 0.002 ton
(Gambar 2). Pada persamaan regresi y= 0.026x +-1.115, nilai yang bertanda
negatif yaitu -1.115 menunjukkan bahwa variabel x (intensitas serangan)
berkorelasi negatif dengan variabel y (produksi). Nilai 0.026 menunjukkan

19

besarnya penurunan produksi (ton) jika nilai intensitas serangan naik sebesar 1%
(Gambar 3).
4.1.4 Analisis Usahatani Kedelai
Di dalam usahatani kedelai, sarana produksi yang digunakan atau
dimanfaatkan oleh petani dalam berusahatani meliputi pengolahan tanah, bibit,
insektisida, dan tenagakerja. Secara rinci hasil analisis usahatani kedelai dapat
dilihat pada tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil Usahatani Kedelai
a. Biaya Tetap
No
1

Keterangan
Pengolahan
tanah
Total:

Jumlah (Rp)
500.000
500.000

b. Biaya tidak tetap


Keterangan

Insektisida

Non Insektisida

Kebutuhan

Harga Satuan
(Rp)

Jumlah
(Rp)

- Bibit

50 kg

10.000,-/kg

500.000,-

- Pupuk Kandang

1 ton

500,-

500.000,-

6 botol

200.000,-/botol

1.200.000,-

Penanaman

8 orang

100.000,-

Pemupukan

5 orang

100.000,-

Penyemprotan

5 orang

Panen

6 orang

50.000,/penyemprotan
100.000,-

Perontokan

3 orang

100.000,-

- Insektisida

Kebutuhan

50 kg

Harga
Satuan
(Rp)
10.000/kg

Jumlah
(Rp)
500.000,-

1 ton

500,-

500.000,-

800.000,-

8 orang

100.000,-

800.000,-

500.000,-

5 orang

100.000,-

500.000,-

600.000,-

6 orang

100.000,-

600.000,-

300.000,-

3 orang

100.000,-

300.000,-

- Tenaga Kerja

Total

1.500.000,-

5.600.000,-

3.200.000,-

20

Keuntungan Hasil Produksi dengan Pengaplikasian Insektisida


= 1,636 x Rp 7.500,-/kg
= Rp 12.270.000,= Rp 12.270.000 - Rp 6.100.000,= Rp 6.170.000,Keuntungan Hasil Produksi dengan Non Insektisida
= 1,208 x Rp 7.500,-/kg
= Rp 9.060.000,= Rp 9.060.000 Rp 3.700.000,= Rp 5.360.000,Berdasarkan Tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa analisis usahatani terdiri atas
biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap dalam usahatani kedelai terdiri dari
pengolahan sebesar Rp 500.000,-. Sedangkan biaya tidak tetap terdiri dari bibit
Rp 500.000, pupuk kandang Rp 500.000, insektisida Rp 1.200.000, dan tenaga
kerja Rp 3.400.000 (pengaplikasian insektisida) dan Rp 2.200.000 non
insektisida). Keuntungan hasil yang diperoleh dengan pengaplikasian insektisida
yaitu Rp Rp 6.170.000,- dan keuntungan hasil yang diperoleh non insektisida
yaitu Rp 5.360.000,-. Selisih keuntungan antara hasil pengaplikasian insektisida
dan non insektisida yaitu Rp 810.000,-.
4.2 Pembahasan
Pada Gambar 1 terlihat bahwa rata-rata intensitas serangan hama ulat grayak
(Spodoptera litura) dengan menggunakan aplikasi insektisida dan non
insektisida mulai ditemukan pada pengamatan ke-1 dengan intensitas serangan
yang berbeda antara tanaman kedelai yang diberikan insektisida dan non
insektisida.

21

Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu hama yang


menyerang tanaman kedelai, serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura)
ditunjukkan dengan cara membuat lubang pada daun kedelai. Menurut Arifin
(1991), menyatakan bahwa salah satu bentuk gejala serangan dari hama ulat
grayak (Spodoptera litura) yaitu menyerang daun sehingga bagian daun yang
tertinggal hanya epidermis atas dan tulang-tulangnya saja. Ulat tua juga merusak
tulang-tulang daun sehingga tampak lubang-lubang bekas gigitan pada daun. Di
samping memakan daun, ulat juga memakan polong muda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata intensitas serangan hama
ulat grayak (Spodoptera litura) lebih tinggi pada perlakuan non insektisida
(Gambar 2). Tingginya intensitas serangan dapat dipengaruhi karena hama ulat
grayak (Spodoptera litura) berkembang biak sangat cepat dan bersifat polifag.
Selanjutnya Hakim dan Lukman (2012) mengemukakan bahwa perkembangan
ulat grayak bersifat metamorfosis sempurna. Setelah telur menetas, ulat tinggal
untuk sementara waktu di tempat telur diletakkan. Beberapa hari kemudian, ulat
tersebut berpencaran. Ulat tua bersembunyi di dalam tanah pada siang hari dan
giat

menyerang

tanaman

pada

malam

hari.

Heryantos

(2013)

juga

mengemukakan bahwa ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan hewan


nocturnal yaitu aktif pada malam hari untuk mencari makanan dan perilaku
kawin. Selama siang hari mereka akan bersembunyi di balik daun.
Tingginya intensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) juga
diduga disebakan karena pengaruh iklim. Musim kemarau merupakan musim
dimana ulat grayak dapat berkembang dengan pesat dibandingkan pada musim

22

hujan. Nyanyu Fatimah (2012) mengemukakan bahwa pada musim hujan, telurtelur ulat grayak akan terbawa air hujan dan akan mengalami pembusukan
sehingga tidak bisa menetas. Sedangkan pada musim kemarau, suhu cukup
mendukung untuk perkembangan telur menjadi larva dan kelembaban umumnya
rendah pada musim kemarau.
Intensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) mulai dari
pengamatan ke I-VII mengalami peningkatan intensitas secara berturut-turut
seiring dengan pertambahan usia tanaman, akan tetapi pada pengamatan ke VIII
intensitas serangan tersebut menurun (Gambar 1). Hal tersebut diduga terjadi
karena pada pengamatan ke-VIII tanaman kedelai menunjukkan hampir siap
untuk panen ditandai dengan daun yang berwarna kuning kecoklatan dan
sebagian daunnya gugur. Pracaya (2005) menunjukkan bahwa serangan hama
ulat grayak (Spodoptera litura) pada saat tanaman menjelang panen serangannya
sudah berkurang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pemberian insektisida
intensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) cenderung lebih
menurun dibanding dengan perlakuan tanpa pemberian insektisida (Gambar 1).
Hal tersebut dikarenakan bahwa salah satu tujuan dari penggunaan insektisida
dapat mematikan hama yang menyerang tanaman dengan proses kerja yang
cepat. Menurut Kardinan (2002) yang menyatakan bahwa insektisida dapat
memberikan keuntungan diantaranya cepat menurunkan intensitas serangan
hama pengganggu tanaman, mudah dan praktis cara penggunaannya, mudah
diproduksi secara besar-besaran serta mudah diangkut dan disimpan.

23

Hasil produksi rata-rata dengan pemberian insektisida dan non


insektisida menunjukkan bahwa dengan pemberian insektisida hasil produksi
yang diperoleh lebih tinggi dibanding dengan tanpa pemberian insektisida (Tabel
1). Penurunan hasil produksi yang terjadi pada non insektisida dapat dipengaruhi
karena tingginya intensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) yang
menyebabkan hilangnya sebagian helain daun. Arsyad dan Mahyuddin (1995)
menyatakan bahwa kehilangan daun yang tinggi dapat menurunkan hasil panen
tanaman kedelai, karena terganggunya atau berkurangnya kapasitas daun untuk
melakukan proses fotosintesis. Dengan serangan yang dilakukan oleh hama pada
tanaman maka tanaman tidak akan mampu menghasilkan produksi secara
maksimal karena terjadinya pembatasan pertumbuhan akibat hama yang berada
pada tanaman budidaya. Hal ini disebabkan karena proses fisiologi tanaman
yang terganggu. Dengan daun dan batang serta tunas-tunas muda yang habis
dimakan oleh hama secara tidak langsung tanaman tidak dapat melaukan proses
fotosintesis untuk menghasilkan produksi dengan baik (Eko Langgeng, 2011).
Hasil produksi rata-rata kedelai dengan pemberian insektisida lebih
tinggi dibanding dengan hasil produksi pada perlakuan tanpa insektisida (Tabel
1). Hal ini dikarenakan bahwa penggunaan insektisida masih menjadi pilihan
utama para petani dalam mengendalikan hama dari kelompok serangga yang
merusak atau yang dapat menurunkan produksi pertanian. Hal ini dikarenakan
insektisida tersebut dianggap sangat efektif dalam mengendalikan hama, praktis,
cepat dan menguntungkan (Wudianto, 2004).

24

Pada Gambar 2 dan Gambar 3 menunjukkan adanya pengaruh


tingkat kerusakan

yang diakibatkan

(Spodoptera litura)

terhadap

oleh

produksi

serangan

hama

kedelai, dimana

ulat grayak

semakin

tinggi

tingkat intensitas serangan maka produksi yang dihasilkan akan menurun


(pada non insektisida). Sedangkan pada pengaplikasian insektisida semakin
rendah tingkat intensitas serangan maka produksi yang dihasilkan akan
meningkat. Tingginya intensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera
litura) pada non insektisida mengakibatkan kerusakan daun yang cukup
parah

yang

secara

tidak

langsung

juga

berpengaruh

terhadap

hasil

produksi. Menurut Rosfiansyah dkk.(2005) kerusakan daun berupa pengurangan


jumlah daun atau luas daun akan mempengaruhi hasil biji, karena penurunan
hasil fotosintesis dan translokasi assimilat dari daun ke biji sehingga dapat
mengurangi hasil produksi. Selanjutnya menurut Venita at al. (2009) keadaan
yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman
ukuran

dapat mengurangi

tanaman secara keseluruhan, menurunkan kualitas dan kuantitas

produksi.
Intensitas kerusakan hama ulat grayak (Spodoptera litura) dengan hasil
produksi pada pengaplikasian insektisida berdasarkan persamaan garis linear
tersebut menunjukkan bahwa rendahnya intensitas serangan diiringi dengan
meningkatnya hasil produksi (Gambar 2). Begitupun dengan intensitas
kerusakan hama ulat grayak (Spodoptera litura) dengan hasil produksi pada non
insektisida menunjukkan bahwa tingginya intensitas serangan diiringi dengan
menurunnya hasil produksi (Gambar 3). Berdasarkan analisis regresi linear yang

25

diperoleh (Gambar 2 dan Gambar 3), dimana pada persamaan regresi y= -0.002x
+ 1.726, dimisalkan y adalah produksi dan x adalah intensitas serangan. Nilai
penduga regresi sebesar -0.002 menunjukkan besaran pengaruh intensitas
serangan terhadap produksinya. Jika dimisalkan intensitas serangan naik 1%
maka produksi akan turun 0.002 ton (Gambar 2). Pada persamaan regresi y=
0.026x +-1.115, nilai yang bertanda negatif yaitu -1.115 menunjukkan bahwa
variabel x (intensitas serangan) berkorelasi negatif dengan variabel y (produksi).
Nilai 0.026 menunjukkan besarnya penurunan produksi (ton) jika nilai intensitas
serangan naik sebesar 1%.
Berdasarkan analisis usahatani (Tabel 2) sarana produksi yang digunakan
atau dimanfaatkan oleh petani dalam berusahatani meliputi pengolahan
tanah, bibit, insektisida, dan tenagakerja. Bibit yang digunakan oleh petani
dalam berusahatani kedelai di daerah penelitian adalah bibit dengan varietas
agromulyo. Varietas agromulyo merupakan salah satu varietas unggul selain
varietas

anjasmoro,

buranrang,

bromo,

dan

sebagainya. Menggunakan

varietas unggul merupakan salah satu upaya yang mudah dan murah untuk
meningkatkan produktivitas kedelai (Suhartina, 2005). Bibit yang digunakan
untuk luasan 1ha sebanyak 50 kg. Pengendalian hama pada tanaman kedelai di
daerah penelitian menggunakan insektisida dengan cara disemprotkan. Menurut
petani di daerah penelitian, penggunaan insektisida merupakan cara yang sangat
ampuh untuk mengendalikan hama seperti hama ulat grayak (Spodoptera litura).
Penggunaan insektisida untuk 1 ha biasanya berkisar 6 botol. Tenaga kerja yang
digunakan oleh petani di daerah penelitian selain menggunakan tenaga kerja

26

dalam keluarga juga dari luar keluarga. Hasil analisis usahatani terdiri dari biaya
tetap sebesar Rp 500.000,- dan biaya tidak tetap sebesar Rp 5.400.000,- untuk
pengaplikasian insektisida dan Rp 3.200.000,- tanpa pengaplikasian insektisida
sehingga keuntungan hasil produksi untuk pengaplikasian insektisida Rp
6.170.000,- dan tanpa pengaplikasian insektisida Rp 5.360.000,- dengan selisih
Rp 810.000,-.
Berdasarkan hubungan antara intensitas serangan dengan produksi
yang

menyatakan

bahwa

dengan

pengaplikasian

insektisida dapat

menurunkan intensitas serangan sehingga meningkatkan hasil produksi dan non


insektisida menunjukan bahwa intensitas serangan lebih tinggi sehingga
dapat menurunkan hasil produksi. Akan tetapi, berdasarkan hasil analisa
usahatani yang menunjukkan bahwa dalam pengaplikasian insektisida hasil
produksi yang diproleh lebih tinggi dibandingkan non insektisida tetapi
biaya yang dikeluarkan cukup tinggi. Berdasarkan keuntungan hasil yang
diperoleh, dengan pengaplikasian insektisida keuntungan yang diperoleh Rp
6.170.000 sedangkan non insektisida

diperoleh Rp 5.360.000 sehingga

selisih yang didapat Rp 810.000. Dengan demikian, dapat dianjurkan


kepada petani sebaiknya tidak perlu menggunakan insektisida karena selisih
keuntungan hasil produksi yang diperoleh tidak terlalu besar dibanding
keuntungan hasil produksi non insektisida. selain biaya yang tinggi,
pengguanaan insektisida juga memiliki dampak negatif seperti resistensi
hama,

dapat

mengganggu

kesehatan

manusia

dan

hewan.

Namun

insektisida dapat digunakan sebagai alternatif terakhir dalam pengendalian,

27

untuk itu perlu dilakukan pengarahan dan cara-cara penggunaan insektisida ke


pada para pengguna karena banyak dari pada pengguna yang tidak mengetahui
bahaya dan dampak negatif insektisida terutama bila digunakan pada konsentrasi
yang tinggi.

28

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

Intensitas serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura) lebih tinggi


pada perlakuan non insektisida dibanding dengan pengaplikasian
insektisida.

Hasil produksi pada tanaman kedelai dengan pengaplikasian insektisida


lebih tinggi dibanding non insektisida.

Intensitas

serangan

hama

berpengaruh

terhadap

produksi

pada

pengaplikasian insektisida dan non insektisida.

Hasil analisis usahatani terdiri dari biaya tetap sebesar Rp 500.000,- dan
biaya tidak tetap sebesar Rp 5.400.000,- untuk pengaplikasian insektisida
dan Rp 3.200.000,- non insektisida.

Keuntungan hasil produksi untuk pengaplikasian insektisida Rp


6.170.000,- dan non insektisida Rp 5.360.000,- dengan selisih Rp
810.000,-.

5.2 Saran
Meskipun dengan pengaplikasian insektisida hasil produksi lebih tinggi
dan dapat mengurangi intensitas serangan hama secara cepat namun penggunaan
insektisida tidak untuk digunakan secara terus menerus karena dapat
menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan, insektisida sebagai
alternatif terakhir yang dipakai dalam pengendalian.

29

DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto, R. 2005. Meningkatkan Hasil Panen Kedelai di Lahan Sawah
Kering Pasang Surut. Penerbit Swadaya.
Ampnir, M. L. 2011. Inventarisasi jenis-jenis hama utama dan ketahanan
biologi pada beberapa varietas kedelai (Glycines max L. Merril) di
kebun percobaan Manggoapi Manokwari. Skripsi. Universitas Negeri
Papua.Manokwari.
Andrianto, I. 2004. Teknologi Budidaya Intensif Tanaman Kedelai di Lahan
Sawah. Jurnal Proyek Penelitian dan Pengembangan Pertanian Rawa
Terpadu 17(1): 18.
Ardiansyah. 2007. Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura). [online].
www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2007/04/29/brk,2007042999022,i... - 35k (diakses tanggal 2 Mei 2015).
Arifin, M. 1991. Laju Pertumbuhan Intrinsik Ulat Grayak (Spodoptera
litura) pada tanaman kedelai. Lokakarya Hasil Penelitian Komoditas
dan Studi Kasus. Badan Litbang Pertanian, Deptan dan Ditjendikti,
Depdikbud di Cisarua Bogor. 13-15 Mei 1991. 16p.
Arifin, M. dan Sunihardi. 1997. Biopestisida SlNPV untuk mengendalikan
ulat grayak Spodoptera litura. Warta Penelitian dan Pengembangan
Pertanian 9(5 dan 6): 35.
Arsyad, D, M. dan Mahyuddin Syam. 1995. Kedelai Pertumbuhan Produksi
dan Teknik Budidaya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Jakarta.
Berita Resmi Statistik No. 45/07/ Th. XVI, 1 Juli 2013.
Bertham, Y.H. 2002. Respon Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) merill)
Terhadap Pemupukan Fosfor dan Kompos Jerami Pada Tanah
Ultisol. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia Vol.4 No.2 Hal: 78-83.
Danarti dan Najati, 1995. Palawija, Budidaya dan Analisis Usaha Tani.
Penebar Swadaya Jakarta.
Direktorat Jenderal Perkebunan. (1994). Pedoman Rekomendasi Pengendalian
Hama dan Penyakit Tanaman Pangan. Jakarta: Departemen Pertanian.

30

Direktorat

Perlindungan

Tanaman

Pangan.

(1985). Pengenalan

Jasad

Pengganggu Tanaman Palawija. Jakarta: Dirjen Pertanian Tanaman


Pangan.
Ditlin. 2008. Laporan Luas dan Serangan Hama dan Penyakit Tanaman
Pangan di Indonesia. 2008. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan,
Jakarta.
Djojosumarto, P. 2008. Panduan Lengkap Pestisida dan Aplikasinya.
Agromedia Pustaka, Jakarta
Dwi Eko Langgeng Santoso. 2011. Kerusakan Ekologi dan Kerugian
Ekonomi

Akibat

Serangan

Hama.

http://fapertauir.blogspot.com/2011/01/dampak-kerugian-akibatserangan-hama.html. Diakses pada Jumat, 1 Mei 2015.


Hakim, Lukman. 2012. Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura) pada
Tanaman Kedelai dan Teknik Pengendaliannya. Banda Aceh.
Universitas Syiah Kuala Darussalam
Heryantos.

2013.

Ulat

Grayak

(Spodoptera

litura).

http://heryantos.blogspot.com/2013/04/ulat-grayak-spodoptera-html.
Diakses pada Rabu, 29 April 2015
Hidayat, O., 1985. Morfologi Tanaman Kedelai pada Lahan Kering. Badan
Penelitian

dan

Perkembangan

Pertanian.

Pusat

Penelitian

dan

Perkembangan Tanaman Pangan. Bogor.


Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pest of Crops in Indonesia. Revised and
Translated by P.A van Der Laan. P.T. Ictiar baru-Van Hoeve. Jakarta.
701. hal.
Kardinan. 2002. Pestisida Ramuan dan Aplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Marwoto. 1999. Rakitan teknologi PHT pada tanaman kedelai. hlm. 6797.
Dalam Prosiding Lokakarya Strategi Pengembangan Produksi Kedelai,
Bogor 16 Maret 1999. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Pangan,Bogor.
------------. 2007. Dukungan pengendalian hama terpadu dalam program
bangkit kedelai. Iptek Tanaman Pangan 2(1): 7992.

31

Marwoto

dan

Suharsono.

2008.

Strategi

dan

komponen

teknologi

pengendalian ulat grayak (Spodoptera litura Fabricius) pada


tanaman kedelai. Jurnal Litbang Pertanian 27(4): 131136.
Natawigena, H. 1989. Entomologi Pertanian. Fakultas pertanian Universitas
Padjajaran, Bandung.
Oka, I.N. 1995. Pengendalian Hayati Terpadu dan Implementasi-nya di
Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.255 hlm.
Okada, T., W. Tengkano, and T. Djuarso. 1988. An outline of soybean pest in
Indonesia in faunistic aspects. Seminar Balai Penelitian Tanaman
Pangan Bogor, 6 Desember 1988.37 hlm.
Pracaya. 1995. Hama dan Penyakit Tumbuhan. Penebar Swadaya. Jakarta.
----------- 2005. Hama Dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.
471 hlm.
Rosfiansyah, Thalib S., Roeslan A., 2005. Pengaruh Aplikasi Bioinsektisida
Turex WP terhadap IntensitasSerangan Hama pada Dua Varietas
Kacang Panjang (Vigna sinensis L). J.Budidaya Pertanian.Vol.11
No. 1
Samharinto. 1990. Biologi Ulat Grayak (Spodoptera litura F) pada beberapa
Varietas.
Suhartina.

2005.

Deskripsi Varietas Unggul Kacang-kacangan dan

Umbi-Umbian. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbiumbian. Malang. 170 hal.
Sumarno dan Hartono. 1983. Kedelai dan Cara Bercocok Tanamnya.
Puslitbangtan. Bogor. 52 hal.
Venita Yunel, Fauzana Hafiz, dan Mukti. 2009. Pemberian Beberapa
Konsentrasi dan Interval Penyemprotan Ekstrak Daun Sirsak
terhadap Hama Myzus Persicae pada Tanaman Cabai. SAGU,
Maret 2009 Vol. 8 No. 1 : 23-26 ISSN 1412-4424.
Wudianto, R. 2004. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Edisi 13. Penebar
Swadaya, Jakarta. 220hal.

32

LAMPIRAN

33

Gambar 4. Ulat Grayak (Spodoptera litura) pada daun tanaman kedelai.

34

Gambar 5. Gejala Kerusakan Daun pada Pengaplikasian Insektisida

Gambar 6. Gejala Kerusakan Daun Tanpa Pengaplikasian Insektisida

35

Gambar 7. Hasil Kedelai dengan Pengaplikasian Insektisida.

Gambar 8. Hasil Kedelai Tanpa Pengaplikasian Insektisida.

36

Kategori 1

Kategori 3

37

Kategori 5

Kategori 7

38

Kategori 9
Gambar 9. Kategori kerusakan daun pada tanaman kedelai.

39

40

Tabel Lampiran 1. Rata-rata Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera


litura) pada Pengaplikasian Insektisida.
Pengamatan
Perlakuan

Insektisida

ke-

Plot
I

II

III

IV

VI

VII

VIII

65,7

68,85

66,17

64

59,36

66,13

57,56

55,9

74,06

69,33

69,17

76,61

78,1

65,89

61,28

28,39

74,46

69,69

68,74

62,02

63,14

67,14

64,59

38,56

69,96

68,89

67,96

67,95

67,64

66,01

61,45

19,84

71,31

64,87

65,32

64,98

64,48

66,35

69,37

24,62

71,10

68,33

67,47

67,11

66,54

66,30

62,85

33,46

rata-rata

Tabel Lampiran 2. Rata-rata Intensitas Serangan Hama Ulat Grayak (Spodoptera


litura) Tanpa Pengaplikasian Insektisida.
Pengamatan
Perlakuan

ke-

Plot
I

II

III

IV

VI

VII

VIII

70,6

72,1

74,53

82,33

82,98

83,67

90,14

90,19

69,3

69,55

78,29

79,08

79,26

80,27

87,98

87,68

76,76

76,85

80,99

80,74

80,81

82,33

89,27

88,06

78,25

79,4

76,52

84,37

84,89

85,24

84,48

85,19

84,32

82,64

76,49

74,82

75,29

84,94

89,71

85,79

75,85

76,11

77,36

80,27

80,65

83,29

88,32

87,38

non
insektisida

rata-rata

41

Tabel Lampiran 3. Rata-rata Hasil Produksi pada Pengaplikasian Insektisida


Plot

Produksi/plot (kg)

Produksi/ha (ton)

3,831

1,532

II

3,923

1,569

III

4,307

1,722

IV

4,035

1,614

4,360

1,744

rata-rata

4,091

1,636

Tabel Lampiran 4. Rata-rata Hasil Produksi Non Insektisida


Plot

Produksi/plot (kg)

Produksi/ha (ton)

3,207

1,282

II

2,978

1,191

III

3,169

1,267

IV

3,042

1,216

2,717

1,086

rata-rata

3,023

1,208

42

VARIETAS ARGOMULYO
Asal

: Introduksi dari Thailand oleh PT. Nestle


Indonesia tahun 1988 dengan nama asal Nakhon
Sawan I
Nomor Galur
:Warna hipokotil
: Ungu
Warna epikotil
:Warna bunga
: Ungu
Bentuk daun
:Warna daun
:Wrn kulit pol masak
:Warna biji
: Kuning
Warna buIu
: Coklat
Warna hilum biji
:Tipe tanaman
: Determinate
Tinggi tanaman
: 40 cm
Umur berbunga
: 35 hari
Umur polong masak
: 80-82 hari
Percabangan
: 3-4 cabang
Kerebahan
: Tahan rebah
Bobot 100 biji
: 16,0 g
Kandungan protein
: 39,4 %
Kandungan lemak
: 20,8 %
Daya hasil
: 1,5-2,0 t/ha
Rata-rata hasil
:Kerebahan
: Tahan rebah
Ketahanan terhadap penyakit
: Toleran terhadap penyakit karat daun
Keterangan lain
: Sesuai untuk bahan baku susu
Pemulia
: RPP. Rodiah, C.Ismail, Gatot Sunyoto dan
Sumarno
Thn. dan nomor SK
:
4
Nopember
1998
No.pelepasan
880/Kpts/TP.240/11/9