Anda di halaman 1dari 58

TUGAS ILMU BEDAH

REFERAT

TUMOR TULANG

Perceptor :
dr. Bayu Sadewa, Sp.OT

Oleh:
Alexander Dicky
Ajeng Defriyanti Pusparini
Berta Yolanda S.
Rana Mufidah

KEPANITERAAN KLINIK SMF BEDAH


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL MOELOEK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

BAB 1
PENDAHULUAN

Tumor tulang merupakan pertumbuhan sel abnormal yang terjadi pada tulang.
Tumor ini dapat terjadi pada bagian tulang manapun yang bermula pada sel
normal yang berubah dan tumbuh tidak terkontrol sehingga membentuk massa.
Tumor tulang dapat bersifat jinak maupun ganas (National Institutes of Health,
2012)
Menurut American Society of Clinical Oncology (2014), di perkirakan terdapat
3.020 orang dari berbagai usia dengan jumlah 1.680 laki-laki 1.340 perempuan di
Amerika Serikat terdiagnosis menderita tumor tulang. Diperkirakan 1.460 diantara
nya yang terdiri dari 830 laki-laki dan 630 perempuan meninggal karena kasus ini.
Tumor tulang primer lebih jarang dijumpai daripada lesi metastatik, menurut data
ststistik yang ada hanya 0,2% dari semua kasus neoplasma yang merupakan tumor
tulang primer. Pada orang dewasa lebih dari 40 % tumor tulang primer adalah
chondrosarcoma, diikuti osteosarcoma 28%, chondroma 10%, Ewings tumor 8%,
dan fibrosarcoma 4%, dan sisanya adalah kasus tumor tulang yang jarang di
temukan. Pada anak-anak dan remaja yang umurnya kurang dari 20 tahun di
dapati osteosarcoma 56% dan Ewings tumor 34% lebih banyak dari
chondrosarcoma 6%. Chondrosarcoma lebih sering dijumpai pada orang dewasa
dengan umur pada saat didiagnosis rata-rata 51 tahun, kurang dari 5% kasus

muncul pada pasien dengan usia kurang dari 20 tahun ( American Cancer Society,
2014).
Di Indonesia belum diketahui secara pasti berapa statistik kasus kanker tulang
yang terjadi. Belum ada pusat data mengenai kanker tulang secara menyeluruh.
Yang ada dijumpai sekarang, ada rumah sakit yang baru mengumpulkan jumlah
penderitanya, tetapi mereka berdiri sendiri-sendiri, sehingga jumlah keseluruhan
di Indonesia tidak diketahui pasti (Wahab, 2002).
Dari penelitian Moesbar (2006) di RSUP H. Adam Malik Medan selama kurun
waktu 4,5 tahun dari Januari 2002 sampai dengan Juni 2006 data yang terkumpul
di dapat penderita laki-laki sebanyak 16 orang (59%) perempuan 11 kasus (41%),
kelompok umur paling tinggi merpakan kelompok umur 11-20 tahun. Tumor
tulang jinak dijumpai 10 kasus (37%) dengan yang terbanyak adalah
osteochondroma dan giant cell tumor 2 kasus dan osteoma 1 kasus, sedangkan
tumor tulang ganas di jumpai 17 kasus(63%) yang paling banyak jenis
osteosarkoma 13 kasus, Ewings tumor 3 kasus dan 1 kasus multiple mieloma.
Secara klinis tumor pada tulang sering memberikan bermacam variasi baik pada
penampilan

klinis,

(Moesbar,2006).

gambaran

radiologis

dan

terutama

histopatologinya

BAB 2
ISI

2.1.

Anatomi dan histologi tulang


Tulang merupakan salah satu jaringan terkeras dalam tubuh manusia dan
kemampuannya untuk menahan stress diposisi ke dua setelah kemampuan
tulang rawan terutama tulang rawan jenis fibrouscartilage. Sebagai unsur
utama

kerangka

tubuh,

menyokong

struktur-struktur

tubuh

lainnya,

melindungi organ-organ vital seperti yang terdapat di dalam rongga tengkorak


dan dada, serta mengandung sum-sum tulang tempat di mana sel-sel darah
dibentuk.11,12 Tulang dewasa diklasifikasikan menurut bentuknya menjadi
tulang panjang (seperti femur), tulang pipih atau flat (seperti panggul), dan
tulang pendek (seperti tulang tangan dan kaki).

Gambar Anatomi Tulang

Tulang panjang (dan beberapa tulang pendek seperti tulang metakarpal)


dibagi menjadi tiga wilayah topografi: diafisis, epifisis, dan metafisis. Diafisis
merupakan bagian poros tulang. Epifisis tampak di kedua ujung tulang dan
sebagian tertutup oleh tulang rawan artikular. Metafisis merupakan
persambungan antara bagian diafisis dan epifisis. Dalam perkembangan
tulang, proses perkembangannya sendiri dimulai dari lempeng epifisis
(epifisis disk). Di tempat inilah di mana proses osifikasi endokhondral terjadi,
suatu proses pertumbuhan dimana terjadi secara longitudinal, kolom tulang
rawan yang mengandung vaskularisasi diganti dengan massa tulang.
Ketika tulang telah mencapai panjang dewasa, proses ini berakhir, dan terjadi
penutupan bagian epifisis, sehingga tulang menjadi benar-benar kaku. Waktu
penutupan epifisis berbeda di berbagai tulang dan jenis kelamin. Pada
lempeng epifisis sangat penting dalam patologi tulang karena tempat ini
adalah lokasi yang cukup sering terjadinya tumor tulang. Selain itu, apakah
epifisis masih dalam keadaan terbuka atau tertutup akan mempengaruhi

proses pertumbuhan yang patologis, dalam arti bahwa tulang rawan sering
setidaknya menjadi penghalang untuk menyebarnya osteosarkoma. Jika
epifisis tertutup dan tulang rawan tidak ada lagi, daerah ini lebih mudah
terinvasi oleh sel-sel tumor.
Tulang juga diklasifikasikan sesuai dengan perkembangan embriologik. Dua
kategori utama adalah membranous (seperti tengkorak), jika terbentuk secara
de novo dari jaringan ikat primitif, dan endochondral (seperti tulang panjang),
jika pembentukan mereka didahului oleh pembentukan kartilago.11,12 Pada
pemotongan, tulang matang terlihat dibentuk oleh lapisan kompak luar
(korteks, tulang kortikal, tulang kompak) dan wilayah tengah yang berbentuk
seperti spons (spongiosa, medula, tulang kanselus). Tulang kompak memiliki
saluran pembuluh darah yang unik, yang terbagi menjadi dua jenis
berdasarkan orientasinya dan hubungannya dengan struktur lamelar tulang
disekitarnya: membujur (kanal Haversian) dan melintang/miring (kanal
Volkmann). Kecuali untuk wilayah tulang rawan artikular, korteks dikelilingi
oleh periosteum, yang terdiri dari lapisan fibrous luar dan lapisan seluler
dalam (kambium) dari lapisan sel-sel osteoprogenitor (fibroblas dan
osteoblas). Ini berisi filamen saraf yang membawa impuls proprioseptif dan
sensorik, saraf filamen kecil juga bisa lewat dengan pembuluh nutrisi ke
dalam kanal meduler. Bundel serat kolagen kasar menembus lapisan kompak
luar dari lapisan luar periosteum disebut serat Sharpey atau serat perforasi
Periosteum mungkin terlepas dan terangkat dari tulang dalam proses patologis
seperti trauma, infeksi, dan tumor ganas primer atau sekunder. Setiap kali ini

terjadi, pembentukan tulang baru antara periosteum ditingkatkan dan tulang


akan terbentuk. Ini muncul dengan pemeriksaan radiografi sebagai spikula
halus yang berada tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Temuan ini
seringkali dianggap sebagai manifestasi dari suatu neoplasma ganas primer,
terutama osteosarkoma dan sarkoma Ewing. Namun demikian, pertumbuhan
tulang periosteal juga bisa terjadi pada sifilis, tuberkulosis, metastasis
karsinoma, dan hematoma subperiosteal. Dalam beberapa lesi, seperti
myeloma sel plasma, periosteum dapat dihancurkan sehingga tidak ada
perubahan radiografi yang terlihat.
Pemahaman tentang suplai darah tulang membantu untuk menjelaskan
penyebaran dan keterbatasan infeksi, penyembuhan patah tulang, dan
keterlibatan tulang dengan neoplasma primer atau sekunder. Metafisis
terutama disuplai oleh arteri yang masuk dari diafisis dan berakhir pada
lempeng epifisis. Epifisis menerima suplai darah dari anastomosis pembuluh
darah yang luas. Kortek diafisis, dipasok oleh pembuluh yang masuk melalui
kanal Volkmann dan berkomunikasi dengan sistem Haversian. Arteri yang
fungsinya memberi nutrisi memasuki kanal meduler pada sekitar tengah
diafisis, membagi, dan meluas baik distal dan proksimal. Pertukaran
metabolisme kalsium dan fosfor terjadi terutama pada metafisis. Pembuluh
getah bening yang ada di jaringan ikat yang melapisi periosteum, tetapi tidak
di kortek s atau medula.
Tulang terdiri dari bahan intersel yang mengalami kalsifikasi, matriks tulang
dan berbagai jenis sel: osteosit, yang ditemukan dalam rongga (lakuna) di

dalam matriks; osteoblas, yang mensintesis komponen organik matriks


tersebut, dan osteoklas, yang merupakan sel raksasa berinti banyak dan
diperlukan dalam resorpsi dan perubahan bentuk jaringan tulang. Karena
tidak terjadi difusi melalui matriks tulang yang mengalami kalsifikasi,
pertukaran diantara osteosit dan kapiler darah tergantung pada hubungan
seluler melalui kanalikuli, yang menembus matriks tersebut. Kanalikuli ini
memungkinkan osteosit untuk berhubungan melalui penonjolan filipodial
dengan tetangganya, dengan permukaan dalam dan luar tulang, dan dengan
pembuluh darah di dalam matriks tulang tersebut.
Osteoblas adalah sel-sel yang memproduksi tulang yang berasal dari sumsum
tulang, dimana sel mesenkimal berada. Osteoblas bertanggung jawab untuk
sintesis komponen matriks tulang (kolagen dan glikoprotein). Osteoblas
terletak pada permukaan jaringan tulang dan secara berdampingan, dalam
suatu cara yang menyerupai epitel sederhana. Bila sedang mensintesis matriks
tulang, osteoblas berbentuk kuboid dan mempunyai suatu sitoplasma yang
basofilik. Bila kegiatan sintesis sedang tidak aktif, menjadi gepeng atau pipih
dan sifat basofilik sitoplasmanya berkurang. Osteoblas memiliki nukleus
bulat dan besar dangan kromatin halus yang tersebar merata. Matriks tulang
yang baru disintesis, belum mengalami kalsifikasi, dan terletak di dekat
osteoblas disebut dengan osteoid atau prebone. Di dalam osteoblas yang aktif
telah ditemukan granul sitoplasmik dengan PAS positif yang mungkin
merupakan prekursor mukopolisakarida netral matriks tersebut.11,12,13

Osteosit adalah sel matur yang ditemukan terbungkus di dalam lapisanlapisan


matriks tulang yang telah mengalami mineralisasi. Didalam kanalikuli yang
mengandung lakuna, terdapat juluran filipodial osteosit dari sel-sel
berdekatan

berhubungan

melalui

gap

junction.

Penggabungan

ini

memungkinkan aliran ion dan molekul kecil antar sel (misalnya hormon yang
mengatur pertumbuhan dan perkembangan tulang). Hubungan filipodial di
antara osteosit yang berkapsul memberikan suatu mekanisme dimana nutrisi
dan metabolit dapat mengalir di antara pembuluh darah dan osteosit yang
jauh. Bila dibandingkan dengan osteoblas, osteosit lebih pipih dan
mempunyai retikulum endoplasmic yang kasar dan badan golgi yang jauh
berkurang dan kromatin inti yang lebih padat. Kematian osteosit diikuti
dengan resorpsi matriksnya.

Osteoklas adalah sel yang motil (dapat bergerak) dan sangat besar. Osteoklas
mempunyai sitoplasma yang lebar dengan jumlah inti 6-50 atau lebih.
Osteoklas biasanya menonjol di atas permukaan matriks dan kadang-kadang
saling overlapping dengan osteoblas dan osteoklas lain.

Gambar skematik dari sel-sel tulang

Di dalam matriks tulang yang mengalami resorpsi, bagian osteoklas raksasa


ditemukan terletak di dalam cekungan matriks yang terbentuk secar enzimatis
dan dikenal sebagai lakuna Howship. Osteoklas timbul dari prekursor
mononuklear monosit-makrofag. Osteoklas mengandung fosfatase berlimpah
yang tahan asam, respon terhadap hormon osteotropik, dan bekerja di bawah
pengaruh kalsitonin. Mereka mengekspresikan osteoklas-spesifik antigen
(terdeteksi dengan antibodi monoklonal 13c2 dan 23c6), dan berbagai matriks
metalloproteinase.
Jaringan tulang berkembang dari osifikasi intramembranosa, yang terjadi di
dalam suatu lapisan (membrane) jaringan penyambung, atau dengan osifikasi
endokondral, yang terjadi di dalam suatu model tulang rawan. Dalam kedua
proses ini, jaringan tulang yang muncul pertama kali primer atau imatur.
Merupakan suatu jaringan sementara dan segera digantikan oleh jenis tulang
definitif yang berlapis-lapis. Selama pertumbuhan tulang, daerah tulang
primer, daerah resorpsi, dan daerah tulang yang berlapis-lapis tampak saling
berdampingan. Kombinasi sintesis dan perusakan tulang tidak hanya terjadi di
dalam tulang yang sedang tumbuh tetapi juga terjadi selama kehidupan
dewasa, meskipun kecepatan perubahannya jauh lebih rendah.
Osifikasi intramembranosa, sumber sebagian terbesar tulang pipih. Osifikasi
intramembranosa juga membantu pertumbuhan tulang pendek dan penebalan
tulang panjang. Di dalam lapisan lapisan jaringan penyambung tersebut, titik
permulaan osifikasi disebut sebagai pusat osifikasi primer. Proses ini mulai
ketika

kelompok-kelompok

sel

yang

menyerupai

fibroblast

muda

berdifferensiasi menjadi osteoblas. Kemudian terjadi sintesa osteoid dan


kalsifikasi, yang menyebabkan penyelubungan beberapa osteoblas yang
kemudian menjadi osteosit. Bagian lapisan jaringan penyambung yang tidak
mengalami osifikasi menghasilkan endosteum dan periosteum tulang
intramembranosa.

Gambar Skematik pertumbuhan tulang secara intramembranousa

Osifikasi endokondral terjadi di dalam suatu potongan tulang rawan hialin


yang bentuknya mirip ukuran kecil tulang yang akan dibentuk. Jenis osifikasi
ini terutama bertanggung jawab untuk pembentukan tulang pendek dan tulang
panjang. Tulang panjang dibentuk dari model tulang rawan dengan pelebaran
ujung-ujung (epifisis) suatu batang silindris (diafisis). Dalam pertumbuhan
jenis ini, urutan kejadian yang dapat diperhatikan adalah:
1. Kondrosit yang terdapat pada bagian tulang rawan hialin mengalami
hipertropik dan memulai sintesa kolagen X dan vascular endothelial cell
growth factor (VEGF)

2. Pembuluh darah pada perikondrium memasuki bagian tengah dari tulang


rawan, dimana matriks akan mengalami kalsifikasi, osifikasi primer
terbentuk
3. Sel-sel perikondrium bagian dalam membentuk bagian periosteal yang
tipis pada titik tengah poros tulang atau diafisis, periosteal akan
membentuk tulang woven, dengan pertumbuhan tulang intramembranosa
yang nantinya akan menjadi periosteum
4. Pembuluh darah menginvasi rongga yang sebelumnya dibentuk oleh
kondrosit yang hipertropik dan sel-sel osteoprogenitor, dan sel-sel
hematopoetik yang menembus jaringan perivaskular
5. Sel-sel osteoprogenitor yang berdifferensiasi menjadi osteoblas yang
tumbuh sejajar dengan kalsifikasi tulang rawan dan akan menempati
osteoid.14,15

Gambar Zona pertumbuhan tulang secara Endrokondral.

Tampak zona pertumbuhan dimulai dari zona istirahat tulang rawan, zona
proliferasi tulang rawan, zona hipertropi tulang rawan, zona kalsifikasi, dan
zona ossifikasi.15 Fungsi tulang adalah sebagai berikut :

a. Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh


b. Melindungi organ tubuh (misalnya jantung, otak, dan paru-paru) dan
jaringan lunak
c. Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan
pergerakan
d. Membentuk sel-sel n darah merah didalam sum-sum tulang belakang
(hematopoiesis)
e. Menyimpan garam mineral (misalnya kalsium, fosfat)

2.2.

Tumor Tulang
Tumor adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif dimana sel-selnya
tidak pernah menjadi dewasa. Tumor tulang primer merupakan tumor tulang
dimana sel tumornya berasal dari sel-sel yang membentuk jaringan tulang,
sedangkan tumor tulang sekunder adalah anak sebar tumor ganas organ non
tulang yang bermetastasis ke tulang.5
Tumor tulang adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif, dimana selsel tersebut tidak pernah menjadi dewasa. Dengan istilah lain yang sering
digunakan Tumor Tulang, yaitu pertumbuhan abnormal pada tulang yang
bisa jinak atau ganas.2,5
Tumor tulang merupakan kelainan pada sistem muskuloskeletal yang bersifat
neoplastik.Tumor dalam arti yang sempit berarti benjolan. Sedangkan setiap
pertumbuhan yang barudan abnormal disebut neoplasma.2

2.3.

Insidens
Insiden terjadinya dari seluruh tumor tulang primer : 65,8% bersifat jinak dan
34,2% bersifat ganas, ini berarti dari setiap tiga tumor tulang terdapat satu
yang bersifat ganas. Tumor ganas tulang menempati urutan kesebelas dari

seluruh tumor ganas yang ada dan hanya 1,5% dari seluruh tumor ganas organ.
Perbandingan insiden tumor tulang pada pria dan wanita adalah sama. Tumor
jinak tulang primer yang paling sering ditemukan adalah osteoma (39,3%),
osteokondromo (32,5%), kondroma (9,8%) dan sisanya adalah tumor tulang
jinak yang lain. Osteogenik sarkom (48,8%) merupakan tumor ganas primer
tulang yang paling sering ditermukan, diikuti giant cell tumor (17,5%),
kondrosarkomo (10%) dan sisanya adalah tumor tulang ganas yang lain.3,4,5
Tabel Insidens tumor Jinak dan tumor Ganas primer pada tulang
Tumor Jinak
Jenis
Insiden
Osteoma
39,3%
Osteokondroma
32,5%
Kondroma
9,8%
DLL
18,4%

Tumor Ganas
Jenis
Osteogenik Sarcoma
Giant cell Tumor
Kondrosarkoma
DLL

Insiden
48,8%
17,5%
10%
23,7%

2.4.

Etiologi
Tulang merupakan organ ketiga yang paling sering diserang oleh penyakit
metastatik (penyakit dari suatu organ yang menyebar ke bagian tubuh
lainnya).2 Kanker yang paling sering menyebar ke tulang adalah kanker
payudara, paru-paru, prostat, tiroid dan ginjal. Bila dibandingkan antara
karsinoma dan sarkoma, maka jenis kanker yang lebih sering menyebar ke
tulang adalah karsinoma. Tulang pertama yang biasanya terkena adalah tulang
rusuk, tulang panggul dan tulang belakang; tulang-tulang distal (ujung tubuh)
jarang terkena.2,5

Penyebaran terjadi jika suatu tumor tunggal atau sekumpulan sel tumor masuk
ke dalam aliran darah dan melalui pembuluh darah di kanalis Harves sampai
ke sumsum tulang, dimana mereka berkembangbiak dan membentuk
pembuluh darah yang baru.Pleksus vena Batson di tulang belakang
memungkinkan sel-sel kanker masuk ke dalam sirkulasi tulang belakang tanpa
harus melalui paru-paru terlebih dahulu. Aliran darah di dalam pleksus ini
sangat lambat sehingga sel-sel kanker bisa bertahan hidup dan mempertinggi
angka kejadian metastase kanker prostat ke tulang belakang.2
Penyebab pasti terjadinya tumor tulang tidak diketahui. Akhir-akhir ini,
penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suatu zat dalam tubuh yaitu CFos dapat meningkatkan kejadian tumor tulang.4,7
a Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi.
b Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit Paget
c

(akibat pajanan radiasi).


Keturunan, Contoh faktor genetika yang dapat meningkatkan resiko
kanker tulang adalah:
Multiple exostoses
Rothmund-Thomson sindrom
Retinoblastoma genetik
Li-Fraumeni sindrom
Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya, seperti : penyakit paget
(akibat pajanan radiasi ).

2.5.

Klasifikasi
Klasifikasi Tumor Tulang Menurut WHO
Asal Sel
Jinak
Ganas
Osteogenik
Osteoma
Osteosarkoma
Osteoid Osteoma
Osteoblatoma

Osteoblatoma

Parosteal osteosarkoma

Koundrogenik

Kondroma

Kondrosarkoma

Osteokondroma

Kondrosarkoma jucsta
kortikal
Osteoklastoma
Sarkoma Erwing

Giant cell tumor


Mielogenik

Sarkoma reticulum
Vaskuler

Hemangioma

Limfosarkoma Mieloma
Angiosarkoma

Limfangioma
Tumor glamous
Intermediate:
Hemangioma
endotelioma
Hemangioma
perisitoma
Jaringan lunak

Fibroma desmoplastik

Fibrosarkoma
Liposarkoma
Mesenkimoma ganas
Sarkoma tak

Tumor lain

Neurinoma

Tumor tanpa klasifikasi

Neurofibroma
Kista soliter

berdeferensiasi
Kardoma
Adamantinoma

Kista aneurisma
Kista jucsta artikuler
Defek metafisis
Granuloma eosinofil
Displasia Fibrosa
Miositis eosifikasi
Klasifikasi menurut WHO ditetapkan berdasarkan atas kriteria histologis,
jenis diferensiasi sel sel tumor yang diperlihatkan dan jenis intraseluler
matriks yang diproduksi. Dalam hal ini dipertimbangkan sifat sifat tumor asal

usul sel serta pemeriksaan histologis menetapkan jenis tumor bersifat jinak
atau ganas. Sel sel dari muskuloskeletal berasal dari mesoderm tapi kemudian
berdeferensiasi memjadi beberapa sel osteoklas, kondroblas, fibroblas dan
mieloblas. Oleh karena itu sebaiknya klasifikasi tumor tulang berdasarkan
atas sel, yaitu bersifat osteogenik, kondrogenik atau mielogenik, meskipun
demikian terdapat kelompok yang tidak termasuk dalam kelompk tumor yaitu
kelainan reaktif (reaktif bone) atau harmatoma yang sebenarnya berpotensi
menjadi ganas. 4
2.6.

Manifestasi Klinis
Gejala-gejala (symptom) untuk kasus tumor tulang ini beragam, tergantung
lokasi terjadi dan ukuran dari tumor. Gejala biasanya muncul secara bertahap.
Adapun gejala-gejala umum yang kerap ditemui antara lain :-6
Nyeri yang intermitten pada lokasi tumor, kemudian berkembang menjadi

nyeri yang amat hebat


Teraba massa
Daerah yang terkena terasa berat
Keterbatasan pergerakan
Fraktur patologi
Meningkatnya LDH (Lactic, dehidrogenase)
Pembengkakan pada area tumor
Kehilangan berat badan (dengan kasus yang tidak dapat dijelaskan);
Rasa lelah tanpa sebab;
Kesulitan bernafas;
Area yang terkena biasanya hangat karena vaskularisasi pada area tersebut
meningkat.

2.7.

Diagnosis
Untuk menetapkan diagnosis Tumor Tulang, dibutuhkan beberapa hal yaitu7 :
A. Anamnesis
Anamnesis dilakukan untuk mengetahui riwayat penderita, apakah
sebelumnya sudah ada riwayat kelainan (bawaan) atau trauma. Faktor

yang dipertimbangkan untuk anamnesis ini antara lain: umur, lama dan
perkembangan tumor, nyeri, serta pembengkakan. Nyeri menjadi keluhan
utama bagi penderita tumor ganas, karena menjadi indikator adanya
ekspansi tumor yang cepat dan terjadi penekanan pada jaringan
disekitarnya, perdarahan atau degenerasi.

B. Pemeriksaan klinik
1 Lokasi
Beberapa jenis tumor mempunyai lokasi yang klasik dan tempat
tempat predileksi tertentu seperti didaerah epifisis, metafisis

tulang

atau menyerang tulang tulang tertentu misalnya osteoma pada daerah


tengkorak, osteogenik sarkoma pada daerah metafisis, osteoblatoma
pada daerah vertebra.
2

Besar, bentuk, batas dan sifat tumor.


Tumor yang kecil kemudian suatu tumor jinak, sedangkan tumor yang
besar kemungkinan adalah tumor ganas, penting pula diperhatikan
bentuk tumor apakah disertai pelebaran pembuluh darah atau ulkus
yang merupakan karateristik suatu tumor ganas, tanda tanda efusi
sendi mungkin dapat ditemukan pada tumor yang berdekatan dengan
sendi.

Gangguan pergerakan sendi


Pada tumor yang besar disekitar sendi akan memberikan gangguan
pada pergerakan sendi.

Spasme otot dan kekakuan tulang belakang.


Apabila tumor terdapat pada tulang belakang, baik jinak atau ganas,
dapat memberikan spasme atau kekakuan otot tulang belakang.
Fraktur patologis
Beberapa tumor ganas dapat memberikan komplikasi fraktur oleh
karena terjadi kerapuhan pada tulang sehingga penderita akan datang
dengan gejala fraktur.

C. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan ini dilakukan secara cermat bila ada keluhan dari penderita
untuk menentukan apakah gangguan diakibatkan penekanan tumor pada
saraf tertentu.
D. Pemeriksaan Biopsi
Tujuan untuk memperoleh material yang cukup untuk pemeriksaan
histologis, untuk membantu menentapkan diagnosisi serta staging tumor.
Waktu pelaksanaan biopsi sangat penting sebab dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan radiologis yang dipergunakan pada staging. Dikenal dua
metode pemeriksaan biopsi yaitu secara tertutup dan secara terbuka.
Biopsi tertutup dilakukan dengan menggunakan jarum halus (fine nidle
aspiration biopsi) untuk melakukan stadiodiagnosis, merupakan salah satu
cara biopsi untuk melakukan diagnosa pada tumor. Metode biopsi melalui
tindakan operatif. Biopsi dapat dilakukan dengan cara yaitu biopsy
insisional yang dilakukan melalui pengambilan sebagian jaringan tumor
dan biopsi eksisional yang dilakukan dengan mengeluarkan seluruh tumor
baik dengan hanya seluruh jaringan atau dikeluarkan bersama sama
dengan amputasi.

E. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis (foto polos, scanning radionuklida, CT-Scan, MRIscan, PET-scan) penting untuk menegaskan diagnosis.

Rontgen (x-ray) tulang yang terkena,


CT-scan tulang yang terkena,
MRI-scan untuk mengetahui struktur dalam tulang yang terkena,
PET-scan bagian tulang yang terkena,
CT-scan dada untuk melihat apakah ada indikasi penyebaran ke

paru-paru,
Scanning tulang untuk melihat penyebaran tumor.
Skrening tulang untuk melihat penyebaran tumor.

F. Pemeriksaan Radiodiagnostik Berdasarkan Tumor


1 OSTEOID OSTEOMA:
a) Definisi:
merupakan tumor osteoblastik jinak terdiri dari inti osteoid
dengan vaskularisasi tinggi dan merupakan tumor jinak tulang
dengan potensi pertumbuhan yang terbatas.
b) Insidens:
Pria : Wanita = 2:1 10-25 tahun

c) Patologi:
Didapat sebagai jaringan yang seluler, banyak vaskularisasinya.
Jika nidus diangkat,terlihat gambaran lingkaran merah tulang
trabekular biasanya kurang dari 1 cm. Kelainan terdiriatas
jaringan seluler dengan tingkat vaskularisasi yang tinggi dari
jaringan tulang yang belummatang serta jaringan osteoid

d) Lokasi:
Dapat

mengenai

semua tulang, tetapi biasanya pada tulang

panjang seperti Femur danTibia. Caput

femur merupakan salah

satu tempat yang paling sering didapat.


e) Gejala klinis:
Nyeri bersifat menetap/putus-putus yang tidak hilang oleh

istirahat
Nyeri biasanya di malam hari
Nyeri dapat bersifat ringan sampai hebat
Nyeri dapat berkurang dengan pemberian aspirin dosis rendah

f) Gambaran X-Ray polos

Nidus radiolusen dikelilingi skelerosis , periosteal jinak menyebabkan penebalan korteks

Osteoid osteoma pada tulang femur

Osteoid osteoma pada distal humerus fosa olekranon

CT-Scan

g)

Nidus kelihatan dengan lebih jelas dengan margin perifer yang


regular . gambaran pada ct-scan menunjukkan nidus kelihatan
dengan jelas walaupun diselebungi zona sklerosis

Gambaran osteoid osteoma pada ct-scan

Osteoid osteoma pada distal humerus, gambaran nidus dikelilingi mineralisasi extensive

Osteoid osteoma pada tibia dan sklerosis yang ekstensif yang merusak kanan kanal tibia

h) MRI
MRI sepatutnya dikerjain dengan gadolinium karena nidus
akan kelihatan dengan lebih jelas dengan godalinium

Osteod osteoma pada MRI mungkin dapat mimik penemuan


tumor maligna seperti Ewing Sarcoma / osteomyelitis

disebabkan karena adanya sum-sum tulang dan soft tissue


edema yang ekstensif

CT-scan lebih berguna untuk mengidentifikasikan nidus


apabila terdapat edema yang ektensif

Osteod osteoma merupakan intensitas mediator pada T1

Intensitas tinggi pada area T2 nidus dan edema yang


mengelilingnya

Reactive marrow edema may obscure the lesion on T2

MRI bagus untuk mendeteksi synovitis dan effusi pada sendi


dan intraartikular osteoid osteoma

i) Bone scan

Osteoid osteoma
kelihatan pada acetabulum kiri pada gambaran bone scan

OSTEOKONDROMA
Osteokondroma adalah tumor jinak tulang dengan penampakan
adanya penonjolan tulang yang berbatas tegas sebagai eksostosis yang
muncul dari metafisis, penonjolan tulang ini ditutupi(diliputi) oleh
cartilago hialin. Tumor ini berasal dari komponen tulang (osteosit) dan
komponen tulang rawan (chondrosit). Osteokhondroma merupakan
tumor jinak tersering kedua (32,5%) dari seluruh tumor jinak tulang

dan terutama ditemukan pada remaja yang pertumbuhannya aktif dan


pada dewasa muda.9

Patofisiologi
Tumor terjadi karena pertumbuhan abnormal dari sel-sel tulang
(osteosit) dan sel-sel tulang rawan (kondrosit) di metafisis.
Pertumbuhan abnormal ini awalnya hanya akan menimbulkan
gambaran pembesaran tulang dengan korteks dan spongiosa yang
masih utuh. Jika tumor semakin membesar maka akan tampak sebagai
benjolan menyerupai bunga kol (cauliflower) dengan komponen
osteosit sebagai batangnya dan komponen kondrosit sebagai
bunganya. Tumor akan tumbuh dari metafisis, tetapi adanya
pertumbuhan tulang yang semakin memanjang maka makin lama
tumor akan mengarah ke diafisis tulang. Lokasi osteokondroma
biasanya pada metafisis tulang panjang khususnya femur distal, tibia
proksimal dan humerus proksimal, dapat juga ditemukan pada tulang
scapula dan illium.

Gambaran Radiologis
Ada 2 tipe osteokondroma yaitu bertangkai (pedunculated) / narrow
base dan tidak bertangkai (sesile) / broad base. Pada tipe
pedunculated, pada foto polos tampak penonjolan tulang yang
menjauhi sendi dengan korteks dan spongiosa masih normal.
Penonjolan ini berbentuk seperti bunga kol (cauliflower) dengan

komponen osteosit sebagai tangkai dan komponen kondrosit sebagai


bunganya. Densitas penonjolan tulang inhomogen (opaq pada tangkai
dan lusen pada bunga). Terkadang tampak adanya kalsifikasi berupa
bercak opaq akibat komponen kondral yang mengalami kalsifikasi.

Lihat gambar dibawah ini :


a. Solitary benign pedunculated osteochondroma of the femur in a 22-year-old man

b. Benign solitary sessile osteochondroma of the fibula in a 19-year-old man

X-Ray

Lesi geografik litik IA/IB margin sklerosis

Pada umumnya eksentrik daripada gambaran sentral dalam tulang

Jarang menembusi korteks

Kalsifikasi matriks kondroid dalam (30-50)%

Periosteal reaction dalam (30-50)% kasus

Selalunya berlaku pada tulang diaphysis/metaphysicMRI

Lesi geografik lesi berbatas tegas di daerah epifisis

Sinyal intermediate pada T1

Sinyal tinggi pada T2 bercampur dengan sinyal rendah

Volume cairan tampak dalam tumor yang mengalami aneurismal


bone change

Edema yang ektensif yang mengelilingi tumor

Efusi sendi dalam(30-50)% kasus

Proximal fibula osteochondroma cortical-medullary continuity , ring and arc calcification

Plain x ray Distal femur osteochondroma

CT-Scan

Amat berguna dalam mendeteksi mineralisasi yang minimum

Untuk mengidentifikasi periosteum yang mengelilingi komponen


expansile soft tissue

Egg shell rim of calcification

Bantu untuk mengidentifikasi tumor dalam kategori jinak

Untuk mengevaluasi kualitas tulang

Menilai tahap destruksi tulang dan korteks

Untuk menilai apakah subkondral plate pada tulang masih utuh


pada kartilago articular

Proximal fibula osteochondroma

CT scan left proximal femur osteochondroma

MRI distal femur sessile osteochondroma

MRI demonstrates stalks and continuity with underlying fibula, thin cartilaginous cap

KONDROMA
Disebut juga enkondroma, merupakan tumor jinak tulang dengan
frekuensi 9,8% dari seluruh tumor jinak tulang, biasanya ditemukan
pada usia dewasa muda tetapi dapat pula pada setiap umur. Gejalanya
biasanya berupa benjolan yang tidak nyeri.

Lokasi

Terutama pada os phalanxs, os tarsal, costa dan tulang tulang panjang


yang bersifat soliter tapi dapat juga multiple sebagai enkondromatosis
yang bersifat kongenital (penyakit Ollier).

Patologi
Terdapat pembentukan tulang rawan yang matur tanpa tanda tanda
pleimof, mitosis, atau gejala gejala keganasan lainnya. Sering
ditemukan adanya perubahan miksoid pada jaringan lunak, maka
kelainan ini disebut sindroma Maffuci. Perubahan kearah keganasan
pada enkondromatosis (enkondroma multiple) lebih sering dari pada
enkondroma soliter. Tanda tanda keganasan biasanya terjadi setelah
umur 30 tahun dengan gejala gejala berupa nyeri, pembesaran tumor
yang tiba tiba dan erosi korteks tulang.

Kondroma pada pembesaran 40x

Pemeriksaan radiologis
Gambaran radiologis memperlihatkan adanya daerah radiolusen yang
bersifat sentral (enkondroma) antara metafisis dan diafisis. Mungkin

dapat ditemukan sedikit ekspansi dari tulang. Pada tulang yang matur
dapat ditemukan adanya bintik bintik kalsifikasi pada daerah lusen.
Kondroma memproduksi satu defek radiolusen yang terlokalisasi
dengan kalsifikasi. Jumlah lusen atau opak tergantung pada tahap
kalsifikasi. Jaid, sesetangah lesi tidak mungkin ada kalsifikasi yang
dapat dilihat pada X-ray.
Pada tulang panjang, kondroma umumnya tidak mununjukkan
kelainan. Ini adalah bertentangan dengan tulang tubular pendek. Pada
gambaran radiologi, dapat dilihat contour tulang tubular pendek
berkembang dengan penipisan kortices. Sekiranya terdapat cortical
breach, sesuatu malignancy harus disuspek.

Plain radiograph reveals chondroma in left proximal femur (A) and low- grade chondrosarcoma in right superior
pubic ramus and symphysis (B).

Kondroma adalah sesuatu tumor benign, jadi pada gambaran


radiologic, umumnya tidak kelihatan pertumbuhan atau kelainan pada
orang dewasa. Sekiranya sebarang perubahan ditemui, khususnya
kalsifikasi yang ebrkurang, kondrosarcoma/ transformasi malignant
harus disuspek.
CT Scan dan MRI

CT Scan sangat berguna karena dapat mengenal pasti kelainan


radiographic pada kalsifikasi dengan lebih terperinci dan jugas
transformasi malignancy dapat dilihat dengan jelas.
MRI digunakan untuk mengakses lesi kondriod noncalcified
intramedullary. Tumor ini mempunyai sinyal intensitas rendah pada T1 weighted image dan sinyal intensitas tinggi pada T-2 weighted
images. Dengan kondroma periosteal, MRI dapat menunjukkan
overlying fibrous periosteum. Sinyal intensitas rendah diharapkan
dapat dijumpai pada gambaran pulsed-sequence MRI di area dimana
kalsifikasi

matriks

kondriod

didemonstrasi

pada

gambaran

radiographic polos.

MRI showing chondroma (A) and low-grade chondrosarcoma (B).

KONDROBLASTOMA 11,12
Kondroblastoma merupakan sejenis neoplasma kartilago jinak yang
ditandai peninggian pada epiphysis / apophysis pada tulang panjang
dalam kalangan pasien pada usia muda. Ia juga merupakan salah satu
neoplasma epiphyseal jinak yang sering terjadi pada pasien di usia
muda.

Epidemiologi
Kasus kondroblastoma mewakili kurang daripada 1% dari tumor
tulang. Sering terjadi di kalangan warga muda (<20 tahun) dan
kondroblastoma sering terjadi pada pria berbanding wanita.
Gejala Klinis

Nyeri sendi
Muscle wasting
Tenderness
Pembengkakan
Massa local

Patologi
Secara mikroskopik, kondroblastoma terdiri daripada kondroblast,
kondroid matrix dan cartilage yang sering terkait rapat dengan giant
multinucleated

cells.

Padas

el

polyhedral

mengelilingi

kondroblastoma dan ini adan memberi gambaran chicken wire.


Neoplasma jinak ini sering juga bertransformasi menjadi maligna.
Penyakit sekunder untuk kondroblastoma ini adalah aneurysmal bone
cyst.
Lokasi
Sering dijumpai pada epifisis pada tulang panjang, dimana 70% pada
tulang humerus diikuti dengan tulang femur & tibia, manakala 9 -10%
pada extremitas.
Gambaran Radiografi

Berbentuk huruf C dalam fegnomastic mnemonic untuk lesi kista


jinak.

Plain Film
Lytic lesions berbatas tegas / bermargin yang berlobul dengan rim
sclerosis yang tipis meninggi pada tulang tubular panjang di daerah
epifisis/apophysis di tulang

femur, humerus dan tibia. Kalsifikasi

internal dapat dilihat pada 40% - 60% kasus. Efusi sendi dapat dilihat
pada 1/3 pasien. Ukuran kista kondroblastoma bervariasi dalam 1-10
cm dan paling banyak adalah 3-4cm ketika diagnosis.

Kondroblastoma pada kaki, knee joint dan scapula

CT Scan
CT scan mendemonstrasi delineasi hubungan antara growth plate dan
articula surface dengan lebih baik. Reaksi periosteal dapat dilihat
dalam kira-kira 50% kasus dan kalsifikasi interna dalam dari
seluruh kasus, cortical breach dan endosteal scalloping dapat
dilihat.

MRI
MRI ideal untuk evaluasi terhadap transphyseal/ ekstensi transkortikal
dan untuk mendemonstrasi area yang berasosiasi pada edema sum
sum tulang yang berlaku dalam proporsi kasus yang banyak.
Lesi kistik pada kondroblastoma mempunyai sinyal tipikal seperti di
bawah :
T1 : lesion itself is of low to intermediate signal
T2 / STIR : lesion is of intermediate to high signal
Volume cairan dapat dilihat, ini mungkin karena aneurysmal bone
cyst.

KONDROMIKSOID FIBROMA 11,12


Fibroma kondromiksoid adalah tumor jinak yang ditandai dengan selsel berbentuk spindle atau stellate berlobulasi dengan material
intaseluler miksoid atau kondroid yang sangat banyak. Kelainan ini
ditemukan terutama ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda usia

kurang dari 40 tahun. Tidak terdapat gejala-gejala yang khas pada


tumor dan biasanya ditemukan secara kebetulan saja. Pertumbuhan
tumor ini sangat lambat tetapi mempunyai potensi untuk menjadi
ganas.

Etiologi
Etiologi broma kondromiksoid masih belum diketahui, namun pada
berbagai

literatur, anomali

kromosom

dan

faktor

imunologi

dikemukakan sebagai faktor etiologi. Analisis sitogenetik terdahulu


telah mengidentikasi abnormalitas kompleks yang melibatkan
kromosom 6 pada sebagian besar kasus. Tumor ini dianggap berasal
dari kartilago di daerah physis tulang.

Lokasi
Lokasi tumor terutama pada daerah metafsis tulang panjang atau
tulag-tulang kecil pada tarsal dan metatarsal. Juga terdapat pada
daerah lutut dan pelvis.

Gejala Klinis
Gejala klinis pasien broma kondromiksoid tidak spesik, biasanya
terdapat nyeri kronik lokal (85%) dan pembengkakan lokal (65%)
yang tumbuh lambat, nyeri dirasakan rata-rata 22 bulan sebelum
diagnosis. Kadang disertai terabanya massa tumor terutama pada
tumor supersial yang terdapat pada tulang tangan dan kaki, dan

sebagian besar broma kondromiksoid terukur lebih dari 3 cm pada


saat timbulnya gejala klinis. Sering kali pasien bisa pincang dan
merasa sedikit adanya keterbatasan gerakan, tapi tidak ada keterlibatan
utama dari sendi. Fraktur patologis ditemukan hanya pada sekitar 5%
kasus. Durasi gejala klinis berkisar dari beberapa minggu (sering
pada pasien yang lebih muda) sampai beberapa tahun (pada dewasa).
Lesi pada kosta maupun ilium bisa diketahui sebagai temuan
kebetulan pada pemeriksaan radiologis.

Radiologis
Gambaran radiologik sangat khas berupa daerah radiolusen yang bulat
atau oval terletak eksentris pada metafisis dan dapat meluas sampai ke
diafisis tulang panjang, berbatas tegas dan kadang-kadang dengan
pinggiran sklerotik. Korteks sering menipisakibat ekspansi dari tumor.

CT Scan memungkinkan untuk identikasi asal tumor, dan juga dapat


memperlihatkan integritas korteks yang membatasi lesi, tepi yang
sklerotik serta memungkinkan visualisasi kalsikasi matriks. Pada
broma kondromiksoid, deteksi radiologis terhadap kalsikasi matriks
sangat jarang, meskipun demikian kalsikasi matriks lebih lazim pada
lesi pada tulang kepala dibandingkan pada tulang panjang. Pasca
pemberian kontras, penyangatan bervariasi tergantung komponen
broid dan vaskularisasi tumor.

Gambaran

magnetic

resonance

imaging

(MRI)

menunjukkan

superioritas pada detail jaringan lunak, sehingga telah dimungkinkan


mengetahui karakteri yang lebih detail dari tumor. Pasca pemberian
kontras gadolinium intravena terdapat penyangatan heterogen.
Keuntungan MRI adalah kemampuan penggambaran multiplanar dari
perluasan lesi yang sesungguhnya sebelum intervensi pembedahan.
Skintigra

tulang

tipikal

memperlihatkan

peningkatan

uptake

radionuklida yang jelas. Tujuan skintigra tulang adalah untuk


menyingkirkan

lesi

multipel

sehingga

dapat

dipertimbangkan

diagnosis alternatif.

GAMBAR 1. Fibroma kondromiksoid, tampilan sagital memperlihatkan lesi litik sedikit lobulasi dengan tepi
sklerotik tipis pada metasis tibia.

GAMBAR 2. Radiogra anteroposterior memperlihatkan lesi lusen berlobulasi pada metadiasis tibia,
memperlihatkan destruksi tulang tipe geograk, tepi scalloping sklerotik, dan septasi interna.

GAMBAR 3. Fibroma kondromiksoid, lusensi metasis ovoid eksentris dengan penipisan korteks dan batas
dalam yang sklerotik.

GAMBAR 4. Fibroma kondromiksoid pada metatarsal 3, tumor litik dan fusiform telah sangat mengekspansi tulang, tipikal
untuk lokasi tulang tubuler kecil pada kaki.

Patologi
Gambaran patologis sangat khas berupa daerah lobulasi yang
berbentuk spindle atau sel-sel stella dengan jaringan miksoid
dan kondroid

interseluler

yangdipisahkan

dari

jaringan

yang

mengandung lebih banyak sel dengan bentuk spindle dengan beberapa


sel raksasa multinuklear dengan bentuk yang berbeda. Mungkin dapat
ditemukan sel-sel pleomorf.

SARKOMA EWING 14
Disebut juga Small Round Blue Cell. Menyerang golongan usia
muda, kebanyakan dibawah usia 20 tahun dengan prevalensi kurang
lebih 80%. Lebih banyak didapat pada kaum pria.

Klinis
Penderita mengeluh sakit dengan diseretai adanya benjolan.
Kemungkinan adasuhu badan yang meninggi, berkeringat berlebih,
lekositosis dan laju endap darah meningkat.

Lokasi
Pada diafsisis tulang-tulang panjang, paling sering pada femur,
humerus, tibia,ulna dan fibula, dapat juga mengenai tulang-tulang
tipis.

mid-diaphysis : 33%

metadiaphysis : 44%

metaphysis : 15%

epiphysis : 1 - 2%

Ekstremitas bawah : 45% (femur)

Pelvis : 20%

Ekstremitas atas : 13%

Spine and ribs : 13%


(sacrococcygeal region)

Skull / face : 2%

Bentuk tulang:

Tulang panjang: 50 - 60%

femur : 25%

tibia : 11%

humerus : 10%

Tulang pipih : 40%

pelvis : 14%

scapula

Radiologi
Tampak proses destruksi tulang dengan batas yang tidak jelas.
Pembentukantulang reaktif baru oleh periosteum bisa berlapis-lapis
yang memberikan gambaran Onion Skin atau tegak lurus yang
nampak sebagai Sunbrust.

Gambar :. gambaran radiologis tampak destruksi tulang dengan batas tidak jelas, gambaran MRI terdapat
kerusakan korteks. Pada MRI menunjukkan kerusakan kortek dan gangguan pada jaringan lunak sekitarnya.

Patologi

Terdapat gambaran highly cellular, neoplasma infiltrat dengan bagian


yang padat, round cell dengan sitoplasma yang jernih round blue cell
tumor, dan adanyaekstensif nekrosis yang ditunjukkan dengan
gambaran occasional Homer-Wrightrossetes.

Gambar :. gambaran patologis dengan noeplasma infiltrate, round blue cell tumor dan Hommer-Wright
rossetess.

SARKOMA OSTEOGENIK (OSTEOSARKOMA) 11,12


Osteosarkoma disebut juga osteogenik sarkoma adalah suatu
neoplasma ganas yang berasal dari sel primitif (poorly differentiated
cells) di daerah metafise tulang panjang pada anak-anak. Disebut
osteogenik

oleh

karena perkembangannya

berasal

dari

seri

osteoblastik sel mesensim primitif. Osteosarkoma merupakan


neoplasma primer dari tulang yang paling sering terjadi.

Epidemiologi
Jenis kanker tulang yang paling umum pada anak-anak, remaja dan
dewasa

muda.Biasanya

terjadi

pada

tulang

panjang

seperti

humerus(tangan),femur/tibia(kaki) dan panggul;paling sering sekitar

lutut. Sekitar 75% pasien adalah berumur antara 15-25 tahun. Pria
lebih sering terkena berbanding dengan wanita( rasio 1.5 : 1).
Osteosarcoma jarang terjadi pada pasien yang lebih muda dari 6 tahun
atau lebih tua dari 60 tahun. Tumor pada usia yang lebih tua biasanya
terjadi akibat dari radiasi penyakit Paget atau chondrosarcomas yang
terdiferensiasi.

Etiologi
Penyebab osteosarkoma masih belum jelas diketahui. Adanya
hubungan kekeluargaan menjadi suatu predisposisi, begitu pula
adanya

hereditary

retinoblastoma

dan

sindrom

Li-Fraumeni.

Dikatakan beberapa virus dapa tmenimbulkan osteosarkoma pada


hewan percobaan. Radiasi ion dikatakan menjadi 3% penyebab
langsung osteosarkoma, begitu pula alkyleting agent yang digunakan
pada kemoterapi.
Gejala Klinis

Rasa sakit (nyeri)

Pembengkakan

Keterbatasan gerak

Menurunnya berat badan

Teraba massa; lunak dan menetap dengan kenaikan suhu kulit di


atas massa serta distensi pembuluh darah.

Gambaran Radiologi

X RAY
Penampilan khas dari osteosarcoma konvensional tinggi termasuk:

Kerusakan medullar dan kortikal tulang

Transisi zona yang lebar, permeative or moth-eaten appearance

Reaksi periosteal yang agresif seperti sunburst type dan Codman


triangle

femur in a patient with osteosarcoma shows a typical Codman triangle (arrow) and more diffuse,
mineralized osteoid within the soft tissues adjacent to the bone.

Anteroposterior (AP) radiograph in a patient with osteosarcoma of the proximal humerus. Note the
extensive soft tissue mass containing a considerable amount of mineralized osteoid

Sunburst appearance

Moth eaten appearance

MRI

Memberi gambaran terperinci jaringan lunak di tubuh.

Penting untuk penentuan tahap tumor dan penanganan surgical.

MRI, coronal view; osteosarcoma of distal femur showing low-intensity signal

Sagittal T1-weighted MRI. The signal intensity of the bone marrow within the distal femoral
epiphysis is normal, but abnormal signal intensity is present throughout the visible shaft. The
growth plate has limited extension of the tumor. Cortical destruction (arrow) and the soft
tissue mass may be readily appreciated. Note that the fat deep to the quadriceps tendon has
rather heterogeneous signal intensity.

Coronal T1-weighted MRI. Note the abnormal signal intensity in the metaphyseal marrow and
the soft tissue mass (black arrow). Early tumor extension is shown beyond the growth plate
into the epiphysis (white arrows).

CT SCAN

Membantu dengan penampilan radiografi yang membingungkan,


terutama di daerah anatomi yang kompleks.

Memberikan indikasi yang lebih jelas tentang kerusakan tulang,


serta luasnya setiap massa jaringan lunak

Left ventricular osteosacroma of a 69 old male

CT scan of a patient diagnosed with osteosarcoma in the front leg

KONDROSARKOMA
Kondrosarkoma ialah tumor ganas dengan ciri khas pembentukan
jaringan tulang rawan oleh sel-sel tumor dan merupakan tumor ganas
tulang primer terbanyak kedua setelah osteosarkoma. Kondrosarkoma
merupakan tumor tulang yang terdiri dari sel-sel kartilago (tulang
rawan) anaplastik yang berkembang menjadi ganas. Kondrosarkoma
biasanya ditemukan pada daerah tulang femur, humerus, kosta dan
bagian permukaan pelvis.

Epidemiologi
Kondrosarkoma dapat dibagi menjadi kondrosarkoma primer dan
sekunder. Untuk keganasan yang berasal dari kartilago itu sendiri
disebut kondrosarkoma primer. Sedangkan apabila merupakan bentuk
degenerasi keganasan dari penyakit lain seperti enkondroma,
osteokondroma dan kondroblastoma disebut kondrosarkoma sekunder.
Kondrosarkoma sekunder kurang ganas dibandingkan kondrosarkoma
primer. Menurut Spjut dkk. serta Lichtenstein, kondrosarkoma lebih
sering ditemukan pada pria daripada wanita. Terbanyak pada orang
dewasa (20-40 tahun). Tujuh puluh enam persen, kondrosarkoma
primer berasal dari dalam tulang (sentral) sedangkan kondrosarkoma
sekunder banyak ditemukan berasal dari tumor jinak seperti
osteokondroma atau enkondroma yang mengalami transformasi.
Etiologi
Etiologi kondrosarkoma masih belum diketahui secara pasti. Namun
berdasarkan penelitian yang terus berkembang didapatkan bahwa
kondrosarkoma berhubungan dengan tumor-tumor tulang jinak seperti
enkondroma atau osteokondroma sangat besar kemungkinannya untuk
berkembang menjadi kondrosarkoma. Tumor ini dapat juga terjadi
akibat efek samping dari terapi radiasi untuk terapi kanker selain
bentuk

kanker

primer.

Selain

itu,

pasien

dengan

sindrom

enkondromatosis seperti Ollier disease dan Maffucci syndrome,


beresiko tinggi untuk terkena kondrosarkoma.
Gejala Klinis

Nyeri

Pembengkakan

Massa yang teraba

Frekuensi miksi meningkat

Gambaran Radiologi
X RAY

Dilakukan untuk diagnosis awal kondrosarkoma.

Gambaran radiolusen pada area dekstruksi korteks. Bentuk


destruksi biasanya berupa pengikisan dan reaksi eksternal
periosteal pada formasi tulang baru.

Karena ekspansi tumor, terjadi penipisan korteks di sekitar tumor


yang dapat mengakibatkan fraktur patologis. Scallop erosion pada
endosteal cortex terjadi akibat pertumbuhan tumor yang lambat
dan permukaan tumor yang licin.

Frontal radiograph of the left fibula head demonstrates a lucent lesion that contains
the typical chondroid matrix calcification

Frontal radiograph of the left acetabulum demonstrates an expansile


lucent lesion with no internal matrix calcification.

CT SCAN

Didapatkan hasil lebih sensitif untuk penilaian distribusi kalsifikasi


matriks dan integritas korteks.

Endosteal cortical scalloping pada tumor intramedullar juga terlihat


lebih jelas pada CT scan dibandingkan dengan foto konvensional.

CT scan ini juga dapat digunakan untuk memandu biopsi perkutan


dan menyelidiki adanya proses metastase di paru-paru.

CT scan of the pelvis demonstrates a large soft-tissue mass that contains calcification arising
from a broad-based sessile osteochondroma on the posterior aspect of the ilium.

CT scan of the distal femur demonstrates a broad-based osteochondroma with a thick


overlying soft-tissue cap that contains focal calcification

MRI

MRI adalah metode pilihan untuk mengklarifikasi perpanjangan


intramedulla dan extraosseous dari sebuah chondrosarcoma.

T2-weighted axial MRI of the pelvis demonstrates a lobulated high-signal-intensity soft tissue with
local-signal-intensity septa arising from the osteochondroma on the posterior aspect of the ilium.

2.8.

Tatalaksana
Penatalaksanaan tumor tumor jinak biasanya tidak terlalu sulit dibandingkan
tumor tumor

ganas. Pada tumor tumor ganas diperlukaa kerjasama dan

konsultasi antara ahli bedah onkologi, ahli bedah ortopedi, ahli radiologi, ahli
patologi serta ahli prostetik dan rehabilitasi. 16
1. Tumor jinak yang jelas, misalnya osteokondroma yang kecil tidak
diperlukan tindakan khusus. Apabila jenis tumor diragukan maka perlu
dilakukan pemeriksaan biopsi.
2. Curiga akan tumor ganas apabila suatu lesi pada tumor primer dicurigai
sebagai suatu keganasan dmaka penderita sebaiknya dirawat untuk
pemeriksaan lengkap, pemeriksaan darah, foto paru paru, pencitraan baik
dengan foto polos maupun CT scan dan biopsi tumor.

A. Operasi
Eksisi tumor dengan cara operasi dapat dilakukan dengan beberapa teknik:
a. Intrale sional atau intrakapsuler. Tehnik ini dilakukan dengan
eksisi/kuretase tumor, tidak dianjurkan pada tumor ganas dan biasanya
dilakukan pada kelompok low grade tumour, misalnya giant cell
tumor.
b. Eksisi marginal, adalah pengeluaran tumor diluar dari kapsulnya.
Teknik ini terutama dilakukan pada tumor jinak atau tumor ganas jenis
low garade malignancy.
c. Eksisi luas (eksisi en bloc). Pada eksisi luar, tumor dikeluarkan
secara utuh disertai jaringan di sekitar tumor yang berupa
pseudokapsul atau jaringan yang bereaksi diluar. Tindakan eksisi luas
dilakukan pada tumor ganas dan biasanya dikombinsi dengan
pemberian kemoterapi atau radioterapi pada pre/pascaopeasi.
d. Operasi radikal. Operasi radikal dilakukan seperti pada eksisi luas dan
ditambah dengan pengeluarn seluruh tulang serta sendi dan jaringan

sebagai suatu bagian yang utuh. Cara ini biasanya berupa amputasi
anggota gerak di atasnya dan disertai pengeluaran sendi atasnya.
Dengan staging yang tepat serta pemberian kemoterapi untuk
mengontrol penyebaran tumor, tindakan amputasi dapat dihindarkan
dengan suatu teknik yang disebut imb-sparin surgery (limb saving
procedure) yaitu berupa eksisi yang luas disertai dengan penggantian
anggota gerak dengan mempergunakan bone graft atau protesis yang
disesuaikan dengan anggota gerak tersebut yang dibuat khusus secara
individu.

B. Radioterapi
Radiasi dengan energi tinggi merupakan suatu cara eradikasi tumor tumor
ganas radiosensitif dan dapat juga sebagai tindakan awal sebelum tindakan
operasi dilakukan. Kombinasi radioterapi dapat pula diberikan bersama
sama dengan kemoterapi. Radioterapi dilakukan pada keadaan keadaan
yang inoperable misalnya adanya metastasis atau keadaan lokal yang tidak
memungkinkan untuk tindakan operasi.

C. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan suatu pengobatan tambahan pada tumor ganas
tulang dan jaringan lunak. Obat obatan yang dipergunakan adalah
metotreksat, adriamisin, siklofosfamid, vinkristin, sisplatinum, pemberian
kemoterapi biasanya dilakukan pada pre/pasca operasi.
2.9.

Komplikasi
Gangguan produksi antibodi
Infeksi akibat kerusakan sumsum tulang

Fraktur patologik
Gangguan Hematologik

DAFTAR PUSTAKA

1. Sabiston D, Oswari J.Buku Ajar Bedah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran


EGC.1994.
3. Schwartz, Shires, Spencer. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6. Jakarta :
EGC.2000.
4. Sjamsuhidajat R, De Jong Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.2004.Hal 747-748
5. Grace P, Borley N. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi ketiga.Jakarta :
Erlangga.2006.
6. Reksoprodjo S. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara. 2000.