Anda di halaman 1dari 14

Best Practice Managemen Kurikulum untuk Pendidikan

Anak di Lembaga Pemasyarakatan oleh Sahabat Kapas


oleh: Sasadara Wahyu Lukitasari

Pendahuluan
Latar Belakang
Pendidikan harusnya bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa
memandang usia, gender, status, agama dan ras. Dalam Undang-Undang
Dasar 1945 pun disebutkan bahwa Setiap warga negara berhak
mendapat pendidikan.Di tuntutan era yang semakin maju, pendiidkan di
jenjang sekolah menangah atas untuk usia rata-rata sampai 18 diperlukan
untuk persaingan kerja di masyarakat. Namun bagaimana halnya dengan
anak-anak di bawah umur (dibawah 17 tahun) yang terampas hak
pendidikannya karena mendekam di balik jeruji besi? Menurut Tilaar
dalam Widari, selama menjalani hukuman, banyak anak kehilangan
berbagai haknya, seperti hak kebebasan, hak tumbuh kembang, termasuk
hak memperoleh pendidikan.
Negara sebenarnya sudah mengatur hak pendidikan untuk warga
Negara tanpa kecuali seperti yang temuat dalam Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 5 menegaskan bahwa
setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh
pendidikan

yang

bermutu

dan

berhak

mendapatkan

kesempatan

meningkatkan pendidikan sepanjang hayat, bahkan warga negara yang


memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial dan warga
negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang
terpencil berhak memperoleh pendidikan atau pendidikan layanan khusus,
termasuk warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa. Secara spesifik, aturan tentang pendidikan anak Lapas tertuang
di Undang-Undang Nomor 12 tahun 1953 tentang Pemasyarakatan, dalam
konteks pemenuhan hak pendidikan dinyatakan di dalam Pasal 22 ayat (1)
yang menyatakan bahwa anak pidana memperoleh hak-hak sebagaimana
dimaksud Pasal 14 tentang hak narapidana kecuali huruf g, dan salah satu

hak Anak Pidana adalah hak untuk mendapatkan pendidikan dan


pengajaran. Hal ini juga sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32
Tahun 1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan
Pemasyarakatan, Pasal 1 ayat 3 menyatakan bahwa pendidikan dan
pengajaran

adalah

Pemasyarakatan

usaha

melalui

sadar

untuk

kegiatan

bimbingan

peranannya di masa yang akan datang.


Linda

dalam

Widari

menyiapkan

(Februari

atau

Warga

Binaan

latihan

bagi

2012),

memberikan

data

dari

Direktorat Jenderal Permasyarakatan, Departemen Hukum dan Hak Asasi


Manusia

menunjukkan

jumlah

narapidana

anak

(anak

didik

permasyarakatan) meningkat dari 5.630 anak pada Maret 2008 menjadi


6.308 anak pada awal tahun 2010. Sekitar 57 persen dari mereka
tergabung dengan tahanan orang dewasa.
Bekal ilmu bagi anak Lapas sangat diperlukan setelah mereka keluar
dari penjara. Jika mereka tidak mendapat pendidikan yang memadai,
mereka

akan

mengalami

kesulitan

dalam

menghadapi

era

yang

kompetitif. Selain itu kemungkinan mereka juga akan dikucilkan dan tidak
diterima kembali di tengah masyarakat. Padahal mereka juga merupakan
bagian dari generasi muda bangsa yang kita harapkan dapat turut
membangun Indonesia.
Selain pendidikan nonformal yang mereka terima, terdapat pula
pendidikan lain yang dikembangkan oleh masyarakat sendiri.

Terdapat

organisasi non-pemerintah yang kegiatannya berfokus pada pendidikan anakanak yang berada di dalam penjara, yaitu Sahabat Kapas. Organisasi ini
menyasar napi anak, yaitu di bawah 17 tahun di 3 Lembaga Pemasyarakatan
di Jawa Tengah, yaitu Rumah Tahanan Kelas I Surakarta, Lapas Klas II Klaten,
dan Lapas Anak Klas II A Kutoarjo. Pendidikan untuk anak lapas sebenarnya
dilakukan untuk merehabilitasi kondisi psikis dan perilaku mereka.
Pendidikan yang dikembangkan lebih kepada menyasar pengembangan
diri yaitu sisi positif anak.
1 Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara
Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Lembaga ini mulai beroperasi sejak tahun 2009. Berbagai macam


kegiatan dilakukan hingga meluluskan sekitar 200 anak sampai tahun
2015.

Kegiatan-kegiatan

pengembangan.

Hingga

tersebut
akhirnya

terus
pada

dievaluasi
awal

untuk

tahun

dilakukan

2014

mulai

dikembangkan sebuah silabus dan restrukturisasi kegiatan dan organisasi.


Dengan program ini tujuan program membuahkan hasil yang lebih optimal
dibandingkan program pada tahun-tahun sebelumnya.

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui managemen
kurikulum

Sahabat

Kapas

untuk

pendidikan

anak

di

Lembaga

Pemasyarakatan.

Manfaat
Dari hasil makalah ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi para peneliti, pengamat
pendidikan dan pemerhati pendidikan anak yang mengalami perlakukan khusus

Pembahasan
Lembaga penyelenggara
Sahabat Kapas adalah sebuah organisasi non-pemerintah dan nonprofit yang berkedudukan di Karanganyar Jawa Tengah yang memiliki
perhatian

terhadap

nasib

anak-anak

yang

berada

di

Lembaga

Pemasyarakatan. Organisasi yang beroperasi sejak Agustus 2009 ini


semula bernama KAPAS yang dibangun, dikelola, dan digerakkan oleh
pribadi-pribadi yang mempunyai keperdulian dan keprihatinan (care &
concern) kepada anak-anak dalam Kondisi Khusus dan Rentan (AKKR)
khususnya anak-anak yang pada saat ini dipenjara dalam Rumah Tahanan
Kelas I Surakarta.
Program Sahabat Kapas berfokus pada kebutuhan anak akan
pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan akan rasa aman. Yang menjadi

perhatian utama adalah program penyembuhan luka batin (trauma


healing) dan proses re-konsepsi diri agar kelak setelah bebas anak-anak
tersebut lebih lekas pulih rasa percaya dirinya yang terbalut dalam
program-program yang dilaksanakan.
Anak-anak yang menjadi bimbingan berjumlah 73 orang yang
tersebar di Lapas Klas II Klaten (5 anak), Lapas Anak Klas II A Kutoarjo (65
anak), dan Rumah Tahanan Kelas I Surakarta (3 anak). Kutoarjo
merupakan Lapas khusus anak, sedangkan Lapas di Surakarta dan Klaten
adalah Lapas umum sehingga anak-anak bercampur dengan orang
dewasa. Jumlah napi anak di Lapas umum memang sedikit karena
bergantung pada fasilitas yang ada. Jika fasilitas masih mencukupi mereka
tidak akan dipindah ke Lapas Anak Kutoarjo.

Konsep
langkah-langkah atau cara-cara dalam memecahkan masalah, termasuk hambatan
hambatan yang harus diatasi yang dituangkan secara rinci, alat dan/atau instrumen yang
digunakan, tempat dan waktu serta lembaga yang menunjang pelaksanaan

Pendidikan anak yang dilakukan oleh Sahabat Kapas dilakukan


dengan pendekatan yang bukan dengan ruang kelas formal, namun lewat
kegiatan bermain, kreatifitas, dengan memasukkan unsur konseling.
Misalnya dalam salah satu program pengembangan diri terdapat kegiatan
I have a dream. Disini anak didorong untuk mempunyai harapan, dan
mimpi yang positif. Tujuannya adalah ketika mereka keluar dari Lapas
minimal memiliki gambaran tentang apa yang akan dilakukan, apa mimpi
yang akan diraih dll.
Program organisasi ini terbagi dalam 5 aspek, yaitu pengembangan
diri, ketrampilan, psikologis, conditional project, dan reintegrasi. Seperti
yang disebutkan sebelumnya, awal tahun 2014 merupakan titik tolak
perbaikan program yang dilakukan sehingga hasil yang dicapai lebih

optimal. Kalau sebelumnya kegiatan lebih kepada konseling dan kurang


terstruktur, sekarang ini perbaikan dilakukan dengan pembuatan silabus.

Pengembangan diri

Yang paling menonjol dari kelima aspek tadi adalah pada program
pengembangan diri. Kegiatan ini dilakukan baik itu dengan kelompok
ataupun individu bergantung pada targetnya. Program ini lebih menyasar
kepada nilai kehidupan dasar, kejujuran, kedisiplinan, perilaku positif.
Beberapa kegiatannya yaitu I have a dream, 1 biji kebaikan,
rekreasi, training motivasi, dan bincang remaja. Salah satu kegiatannya,
yaitu dalam program 1 biji kebaikan

adalah anak diminta untuk

membuat daftar kegiatan positif yang telah dilakukan setiap hari selama
seminggu. Daftarnya bisa berupa kegiatan yang sederhana, karena
memang tidak banyak yang bisa dilakukan di dalam penjara. Kegiatannya
misalnya bangun pagi, sholat, mandi, membaca buku dan lain-lain. Daftar
ini nantinya akan direview dan jika anak banyak melakukan hal positif
pada seminggu itu, mereka akan mendapatkan reward. Hal yang terus
diulang-ulang diharapkan akan menjadi kebiasaan dan budaya baru.
Konsepnya adalah merubah perilaku seseorang dengan memberi budaya
dan kebiasaan baru. Misalnya, setiap awal kegiatan anak akan ditanya
siapa yang belum mandi. Dibalik itu sebenarnya tersimpan tujuan
pembelajaran yaitu mengajarkan kebiasaan mandi pagi rutin, dan anak
dilatih jujur dan konsekuen. Mereka tahu konsekuensi kalau tidak mandi
adalah push up, jadi mereka push up sendiri. Konsekuensi dibuat
berdasarkan kesepakatan antar mereka. Dengan hal ini bisa dilihat
bagaimana respon anak, dan seberapa merasa tanggung jawab mereka
terhadap kesalahan.
Program pengembangan diri ini sebenarnya sudah berlangsung
sejak

2009,

namun

karena

dulu

belum

terdapat

silabus

yang

mengorganisasi kegiatan, maka kegiatannya belum terlalu fokus dan tidak


terstruktur. Pembuatan silabus didorong karena kebutuhan anak yang
semakin banyak, dan karakteristiknya semakin beragam sehingga perlu
ada perbaikan layanan kepada anak. Karena jika tidak memperbaiki

kualitas layanan maka akan sangat berdampak kepada penerima manfaat


layanan itu sendiri.
Silabus

yang dibuat dan diterapkan pada

2014 ini disusun

berdasarkan kebutuhan anak, dan situasi perilaku anak. Untuk program


pengembangan diri ini silabus disusun dengan tujuan pembelajaran
berupa nilai dasar kehidupan, misalnya kejujuran, mengucapkan terima
kasih, menghargai orang lain dll. Hal ini dubuat karena anak yang masuk
Lapas biasanya anak yang putus sekolah dan

kurang kasih sayang. Di

dalam keluarga mereka kurang ditanamkan atau diajarkan pada nilai


dasar kehidupan.
Silabus ini bisa berkembang bergantung pada need assessment
anak dan situasi yang berkembang dan tingkat kriminalitas yang
meningkat.

Misalnya

karena

sekarnag

marak

kasus

narkoba

dan

kemungkinan terdapat napi anak karena kasus tersebut. Maka akan ada
kebutuhan lain misalnya rehabilitasi bagi mereka yang kecanduan.
Silabus akan dievaluasi setiap 6 bulan sekali. Perubahan mungkin
terjadi berdasarkan temuan-temuan yang ada di lapangan, sehingga
perbaikan dilakukan untuk menyesuaikan apa yang terjadi.
Hal lain yang menjadi kunci perubahan adalah adanya book report,
atau rapor anak. Rapor anak ini merupakan catatan yang berisi tentang
perkembangan anak, bagaimana respon terhadap kegiatan dll yang ditulis
oleh relawan yang mengampunya. Catatan ini akan ditulis setiapp selesai
pembinaan. Jadi apabila berganti relawan yang mengampu anak tersebut,
relawan baru bisa melihat dan mempelajari anak binaannya berdasarkan
catatan di buku tersebut. Pada saaat anak akan keluar dari penjara,
catatan akan direview untuk melihat perkembangannya dan hasil dari
pembinaan dari awal sampai akhir program. Apakah ada perubahan positif
perilaku anak dan bagaimana kondisi psikisnya. Catatan ini juga berguna
bagi relawan untuk bahan resep layanan atau rekomendasi apa yang
akan ditindak lanjuti.

Sejak tahun 2009, sudah ada sekitar 200 anak yang lulus. Namun
tidak semua anak yang bebas bisa dimonitoring, karena tergantung
bagaimana responnya. Apakah masih mau mendapatkan pendampingan,
atau dari pihak keluarga medukung atau tidak. Kecenderungan yang
terjadi selama ini menunjukkan jika pihak keluarga dan masyarakat tidak
mendukung

atau

menolak

kembalinya

anak

tersebut

ke

tengah

masyarakat, biasanya anak tersebut akan kerja di luar jawa, atau kabur
karena malu.
Yang menarik, hasil dari program pengembangan diri ini tidak
langsung bisa terlihat hasilnya. Mungkin setelah anak keluar dari Lapas
baru

terlihat

perkembangan

perilaku

yang

diharapkan.

Memang

perubahan perilaku membutuhkan waktu yang cukup lama.

Aspek Ketrampilan
Selain pengembangan diri, hal yang bisa dikatan menonjol dan berhasil
dari program Shabat Kapas adalah pada aspek keterampilan ini. Dengan
kegiatan yang diber nama Ayo Bebareng Makaryo ini, anak Lapas diberi bekal
keterampilan untuk bekerja selepas keluar dari penjara nantinya. Ketreampailan
yang diajarkan yaitu sablon, vas daur ulang, dan rajut.
Pemilihan jenis ketreampilan ini didasarkan pada need assessment yang
mulanya dilakukan. Untuk keterampilan sablon yang pertama kali diinisisasi di
Lapas II Klaten dikarenakan di lingkungan anak Lapas terdapat banyak industry
sablon/pembuatan kaos dll. Untuk itu keterampilan inilah yang dianggap
dibutuhkan dan sesuai dengan potensi ekonomni yang ada dan cukup sesuai
dengan kemampuan anak Lapas tersebut.
Mentor untuk pelatihan sablon didatangkan dari salah satu pemilik
industry sablon di Klaten. Uniknya, pengusaha sablon ini memiliki persamaan
pengalaman dengan anak Lapas sehingga bisa menyelami kesulitan anak dalam
belajar. Pembelajaran sablon ini membutuhkan waktu minimal 6 kali pertemuan
untuk penguasaan teknik dasar, dan kira-kira 2 bulan untuk bisa menyablon di
atas media tas. Produk yang dihasilkan selama ini adalah tas, dan tempat pensil.
Media kaos tidak digunakan karena membutuhkan modal besar.

Dari kegiatan sablon ini, anak Lapas bisa menerima order sablon. Mereka
menggunakan brand On Jail. Order yang diterima biasanya berupa tas yang
biasa digunakan untuk seminar kit. Order pernah datang dari WWF, dan pihak
lain yang total pembuatan tas sekitar kurang lebih 2000 buah. Tas dijual dengan
harga Rp 20rb untuk pembelian eceran, dan Rp 12rb untuk partai besai. Tiap tas
akan diperoleh keuntungan sebesar Rp 5rb. Dari hasil sablon tersebut, anak
Lapas akan menerima upah diatas upah rata-rata tukang sablon di luar penjara.
Mereka akan mendapat Rp1000 untuk per warna per serutan. Upah yang didapat
kemudian akan dititipkan ke register (petugas Lapas yang mengelola register)
karena di penjara ada larangan untuk membawa uang tunai. Selain itu, Sahabat
Kapas juga mengelola keuntungan untuk digunakan anak Lapas sesuai dengan
kebutuhan.

Misalnya

ada

anak

yang

membutuhkan

buku

bacaan

maka

pemeblian buku akan diambilkan dari dana tersebut.


Order yang cukup banyak ini merupakan efek dari meningkatnya popularitas
lembaga Sahabat Kapas ini di berbagai media. Pendiri sekaligus direktur
lembaga ini sering masuk ke media, baik cetak ataupun elektronik berkaitan
dengan kegiatan di Lapas ini. Hal ini membuat promosi hasil kreasi anak Lapas
bisa mendapat perhatian dari pihak luar.
Kegiatan ini bukan tanpa hambatan. Kendala yang utama adalah keluar
masuknya anak Lapas yang terlatih untuk sablon. Banyak anak lapas yang sudah
mahir menyablon lulus dari penjara, sehingga harus melatih anak yang baru
masuk dari nol. Tentu membuthkan tempo beberapa lama untuk menghasilkan
produk dengan kualitas yang sama.

Hasil

Kesimpulan & Saran

Daftar Pustaka
Widari, T. M. Pemenuhan Hak Pendidikan Anak Didik Pemasyarakatan. DiH Jurnal
Ilmu Hukum , Februari 2012 Vol. 8, No. 15. Hal 28 - 47.

_____.Silabus Program Pendampingan Anak Di Lapas/Rutan.


Sahabat Kapas

SILABUS PROGRAM PENDAMPINGAN ANAK DI LAPAS/RUTAN


N
o

Deskripsi Output

Aspek Psikologi
Anak mempunyai
pengenalan diri
yang baik dan
perilaku yang
positif

Kegiatan/
Judul
Kegiatan
Pemetaan
Awal
Penanganan
Psikologis

Tujuan

Sub Kegiatan

Mendapat data diri


anak dan analisis
situasi anak

Memberikan
treatment psikologis
kepada anak

Lembaga memiliki catatan


setiap anak
Konseling Anak

Menulis di buku diary


Psikotes
2.

Aspek
Pengembangan
Pribadi

I Have a
Dream

1 Biji
Kebajikan

Indikator

Melatih anak
merencanakan masa
depan dan membuat
rencana hidup pasca
penjara

Brain storming
mengenai pentingnya
merencanakan hidup

Membiasakan anak
bertindak positif.

Membuat satu
kebiasaan positif yang
akan dilakukan setiap
hari

Membuat Future Plan

Mempunyai data progress


perkembangan psikologi
anak yang terangkum
dalam Buku Anak
Anak menulis di diary
minimal 1 tulisan/2 minggu
Kognitif, kepribadian,
psikomotorik
Anak mempunyai
keberanian untuk
merencanakan masa
depan
Anak mempunyai rencana
masa depan
Checklist harian anak rapi
dan terevaluasi
Anak melakukan satu
kegiatan posistif setiap
hari

N
o

Deskripsi Output

Kegiatan/
Judul
Kegiatan
Rekreasi

Tujuan

Menyegarkan
suasana dan
membawa iklim
kebahagiaan

Sub Kegiatan

Games pembukaan

Outbound

Nonton film

Training
Motivasi

Bincang
Remaja

Memberi motivasi
kepada anak untuk
menjadi pribadi lebih
baik dan
mempersiapkan
mereka untuk
kembali di
masyarakat
Memberikan
pengetahuan kepada
anak mengenai
berbagai masalah
remaja dan

Indikator

Anak bersemangat untuk


mengikuti kegiatan
selanjutnya
Anak menjadi terhibur dan
termotivasi
Anak mendapatkan
hiburan
-

Training motivasi
sebulan sekali
Modul Pengembangan
Kepribadian Anak

Tema: Sex Education

Anak memiliki pemahaman


mengenai alat reproduksi,
macam macam PMS,
mengenali tubuhnya

Tema : HIV AIDS

Anak memiliki pemahaman

N
o

Deskripsi Output

Kegiatan/
Judul
Kegiatan

Tujuan

Sub Kegiatan

bagaimana cara
menghadapinya

mengenai penyebab HIV/


AIDS, pencegahannya
Tema: Narkoba

Tema: Pergaulan
Remaja (pacaran,
geng, tawuran dll)
3

Aspek
Ketrampilan

Ayo
Bebareng
Makaryo

Anak memiliki
ketrampilan yang
bermanfaat untuk
meningkatkan
kemampuan
ekonomi
4

CONDITIONAL
PROJECT
Anak berpartisipasi

Bikin Bikin

Membekali anak
dengan ketrampilan
yang dapat
diaplikasikan untuk
kepentingan ekonomi
pasca keluar dari
Lapas

Sablon

Mengajak anakanak untuk


berpartisipasi

Indikator

Anak memili
ki pemahaman mengenai
jenis-jenis narkoba, dan
bahaya narkoba
Anak memiliki pemahaman
mengenai perkembangan
pergaulan remaja masa
kini
Anak bisa menyablon
dengan rapi

Vas daur ulang

Anak dapat membuat vas


dari barang bekas (botol
air mineral)

Rajut

Anak dapat melakukan


finishing produk rajut

Bikin film

Ada Film produksi anak

Bikin lagu

Ada lagu produksi anak

N
o

Deskripsi Output

Kegiatan/
Judul
Kegiatan

dalam kegiatan
yang mereka
rencanakan sendiri

Tujuan

Aspek Persiapan
Pra Reintegrasi
Keluarga memiliki
kesiapan untuk
menerima anak
pasaca penjara

Visitasi
Keluarga

dalam kegiatan
non- penjara
Meningkatkan
penerimaan
masyarakat
terhadap ABH
melalui karya
yang dibuat
Melatih kreativitas

Menjalin komunikasi
dengan keluarga

Sub Kegiatan

Indikator

Bikin buku

Buku hasil tulisan anak

Bikin pertunjukan

Pertunjukan seni yang


dipersembahkan oleh
anak- anak

Lembaga mempunyai
kelengkapan data keluarga
anak dan informasi lainnya