Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2013 dipekirakan
terjadi 300.000 kasus kematian ibu saat melahirkan di seluruh dunia, dimana 98% dari kasus
terjadi di Negara-negara berkembang. Jika dirata-ratakan terjadi 230 kejadian per 100.000
kelahiran setiap tahunnya di Negara-negara berkembang. Persalinan yang terhambat adalah
penyebab utamanya dan biasanya merupakan akibat dari persalinan lama (prolonged labour).
Prolonged labour yang terjadi bisa menyebabkan perdarahan pasca persaalinan (hemoraghic
post partum), dehidrasi pada ibu, rupture uteri dan fistula. Partograf sebagai alat bantu yang
digunakan untuk memantau kemajuan persalinan, sangat direkomendasikan untuk memantau
kala satu persalinan untuk membantu mengidentifikasi proses persalinan yang lama dan
mencegah prolonged labour dan komplikasinya.
Pada awalnya partograf dikenal sebagai kurva Friedman, yang didesain Friedman
pada tahun 1954 setelah meneliti banyak persalinan di Amerika. Kemudian, dikembangkan
oleh Philpott dan Castle yang memperkenalkan garis waspada dan garis bertindak saat
persalinan. Setelah itu partograf dikembangkan di berbagai Negara untuk menyesuaikan
kebutuhan tiap daerah.
Partograf sebagai alat bantu yang ekonomis didesain untuk memberikan ikhtisan
pengamatan yang berkelanjutan agar persalinan dapat diawasi dan dikelola dengan baik.
Komposisi dari partograf telah dievaluasi di banyak pusat penelitian di berbagai daerah yang
melibatkan 35.484 wanita. Hasil dari penggunaannya menunjukan adanya penurunan
setengah dari angka kejadian dari prolonged labour (6,4% menjadi 3,4% persalinan),
dehidrasi ibu (20,7 menjadi 9,1%), seksio sesarean emergensi menurun dari 9,9% menjadi
8,3% dan kematian janin intrapartum menurun dari 0,5% menjadi 0,3%.
Partograf modifikasi WHO yang dipergunakan sekarang pertama kali diperkenalkan
pada tahun 2000. Partograf ini tidak memiliki fase laten dan fase aktif dimulai dari
pembukaan serviks 4 cm. Komposisi partograf yang digunakan di Ghana pada tahun 1989
adalah bagian dari keterampilan inisiasi penyelamatan kesehatan ibu dan menjadi
pengawasan dalam kesehatan persalinan. Beberapa studi juga meneliti penggunaanya dengan
kesehatan ibu dan kesehatan bayi yang baru lahir pada sebuah Rumah Sakit Pendidikan.
Didapatkan hasil bahwa tenaga kesehatan yang menangani persalinan membutuhkan
pembelajaran tentang pentingnya penggunaan partograf dan cara pengisian partograf yang
benar. Hal tersebut dijelaskan karena penggunaan partograf yang sesuai dapat memprediksi
1

adanya penyulit dalam kelahiran sehingga tenanga kesehatan yang membantu persalinan
dapat dengan tepat dan cepat memberikan rencana tindakan klinis bagi ibu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PARTOGRAF
2.1.1 Definisi Partograf
Definisi Partograf menurut Sumapraja adalah catatan grafik mengenai kemajuan
persalinan untuk memantau keadaan ibu dan janin, untuk menentukan adanya persalinan
abnormal yang menjadi petunjuk untuk tindakan bedah kebidanan dan menemukan
disproporsi kepala panggul (CPD) jauh sebelum persalinan menjadi macet (Sumapraja,1993).
Sedangkan menurut (WHO,1994) partograf merupakan suatu sistem yang tepat untuk
memantau keadaan ibu dan janin dari yang dikandung selama dalam persalinan waktu ke
waktu.
Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala satu persalinan dan
informasi untuk membuat keputusan klinik yang digunakan selama persalinan. Partograf
terdiri dari beberapa komponen utama yaitu:
1. Kondisi

janin, termasuk didalamnya denyut jantung janin (DJJ), warna cairan

amnion saat ketuban pecah, da nada tidaknya penyusupan kepala bayi;


2. Kondisi ibu, termasuk suhu tubuh, tekanan darah, nadi, dan pemberian obat-obatan;
3. Kemajuan persalinan, termasuk dilatasi serviks, kontraksi dan penurunan presentasi
janin (dalam versi gabungan)
4. Garis waspada yang mengindikasikan persalinan normal, dan garis betindak yang
mengindikasikan adanya tindakan klinis yang harus dilakukan.
Penggunaan partograf ditujukan untuk :
1. Semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan sampai kelahiran bayi, sebagai
elemen terpenting asuhan persalinan.
2. Semua pelayanan persalinan baik di rumah, puskesmas, klinik bidan swasta, rumah
sakit dan lain-lain)
3. Semua penolong persalinan yang memberikan asuhan pada ibu selama persalinan dan
kelahiran (Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Bidan, Dokter Umum, Residen dan
Mahasiswa Kedokteran)

2.1.2 Sejarah Penggunaan Partograf

Friedman (1954) adalah ahli kebidanan yang pertama kali mengidentifikasi secara
grafis 4 fase dari dialtasi serviks, diiteliti dari 100 wanita dalam kehamilan pertamanya. Fase
laten, fase akselerasi, fase dilatasi maksimum dan fase deselerasi. Kemudian grafik yang
mencatat pertambahan dilatasi serviks tersebut dikenal sebagai servikograf. Philpott dan
Castle (1972) mengembangkan servikograf ini dengan mengikutsertakan informasi
intrapartum lainnya, seperti, presentasi janin dan kontraksi uterus yang kemudian dikenal
sebagai partograf pertama. Setelah itu keduanya memperkenalkan garis waspada dan
bertindak sebagai upaya untuk mengelola persalinan disaat tidak tersedianya dokter fasilitas
kesehatan tersebut.

Pada tahun 1987, Konferensi Keselamatan Ibu (Safe Motherhood Conference) di


Nairobi, Kenya yang diselenggarakan WHO, merefisi, menyetujui dan mempromosikan
penggunaan partograf untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Setelah beberapa
tahun penggunaannya, WHO mengembangkan partograf yang lebih sederhana dengan
menghilangkan fase laten dan penurunan presentasi janin. Saat ini, kebanyakan fasilitas
kesehatan menggunakan versi sederhana (kedua) partograf dibandingkan versi pertamanya.
Pada tahun 1994 WHO mempublikasi 4 bagian cara penggunaan partograf. Bagian
pertama adalah dasar penggunaan, bagian II cara penggunaan, bagian III panduan fasilitator
dan bagian IV adalah panduan yang tersedia untuk penelitian lebih lanjut. Publikasi ini mulai
dikembangkan pada sejak 1988 dan diperbaharui tahun 1994 yang didasari oleh penelitian
yang dilakukan oleh WHO.
Penelitian WHO melibatkan 35.484 wanita di Asia Tenggara dan menyimpulkan bahwa
partograf adalah alat bantu yang sangat dibutuhkan selama persalinan. Penggunaannya
menurunkan angka kejadian persalinan lama, seksio sesarea emergensi dan kematian bayi
4

saat kelahiran. Hanya sedikit penelitian serupa yang juga dilakukan, termasuk di dalamnya
adalah penelitian yang dilakukan di Afrika (Philpott, 1972;Kwast & Rogerson 1973). Hasil
yang didapatkan sama dengan penelitian yang dilakukan oleh WHO dimana menunjukan
pentingnya penggunaan partograf dalam proses kelahiran. Tetapi karena sampel yang
digunakan tidak acak maka timbul pertanyaan apakanh partograf dapat digunakan secara luas.
Oleh karena kurangnya bukti dari penggunaan dan penelitian yang dilakukan dengan sapel
yang luas (Lavender, Hart dan Smyth 2008) melakukan konsensus yang umum dan berskala
besar dimana disebutkan bahwa partograf adalah alat bantu yang sangat berguna untuk
menurunkan angka kejadian persalinan lama. Salah satu maksud dari publikasi partograf yang
dikeluarkan oleh WHO adalah mempromosikan model partograf yang lebih sama digunakan
diseluruh dunia. Pada akhirnya promosi penggunaan partograf yang dilakukan oleh WHO
memiliki beberapa tujuan sebagai berikut:
1. Untuk menilai apakah pembelajaran tentang penggunaan partograf oleh tenaga
kesehatan sudah dilakukan dengan benar
2. Untuk menentukan efek dari pengenalan partograf di daerah-daerah terpencil dengan
kejadian persalinan lama sehingga dapat dilakukan penangan klinis yang sesuai
3. Untuk menentukan efek dari pengenalan partograf terhadap angka kejadian persalinan
lama dan persalinan dengan seksio sesarean.
4. Untuk menentukan apakah intervensi sesuai yang berdasarkan partograf yang
digunakan dapat menurunkan komplikasi dari persalinan
Pada tahun 2000, World Health Organization (WHO) telah memodifikasi partograf
agar penggunaannya lebih sederhana dan mudah. Fase laten ditiadakan dan pencatatan
dimulai dari fase aktif di saat pembukaan serviks telah mencapai 4 cm. Fase normal dari
persalinan adalah termasuk 2 fase yaitu fase laten dan fase aktif dari dilatasi serviks, yang
pertama kali di dokumentasikan pada grafik di tahun 1950. Pada tahun 1960-an dan 1970-an,
penelitian yang lebih modern melakukan penelitian untuk membantu mendokumentasikan
dan menemukan alat bantu sebagai dasar untuk melakukan intervensi yang dapat mencegah
terjadinya persalian lama. Model awal dari partograf ini lah yang menjadi dasar partograf
modifikasi yang dikembangkan oleh WHO, yang dikembangkan sebagai sebuah standar pada
tahun 1988 sejalan dengan usaha peningkatan keselamatan dan kesehatan ibu.
Pada awalnya partograf dikenal sebagai kurva Friedman, yang didesain Friedman
pada tahun 1954 setelah meneliti banyak persalinan di Amerika. Kemudian, dikembangkan
oleh Philpott dan Castle yang memperkenalkan garis waspada dan garis bertindak saat
5

persalinan. Pada tahun 1990-1991, untuk mengevaluasi hasil dari penggunaan partograf yang
dikembangkan, WHO melakukan beberapa penelitian di beberapa daerah termasuk Indonesia,
Malaysia, dan Thailand. Penelitian tersebut menunjukan bahwa penggunaan partograf dalam
praktek klinis persalinan meningkatkan secara pesat keselamatan dan kesehatan ibu setelah
persalinan. Penggunaannya menurunkan angka kejadian persalinan lama ( kejadian yang
lebih lama dari 18 jam), kebutuhan pemberian oksitosin dalam persalinan, rasio seksio
sesarea, dan insidensi infeksi salam persalinan. Sebagai hasil dari penelitian ini, WHO
merekomendasikan menggunaan partograf sebagai alat untuk mengawasi semua persalinan,
untuk mengidentifikasi adanya abnormalitas dalam kemajuan persalinan dan juga
mengidentifikasi perlunya intervensi lebih jauh.

Partograf Lama

Partograf Baru

2.1.3 Tujuan Penggunaan Partograf


Tujuan utama penggunaannya adalah untuk:
6

1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks
melalui pemeriksaan dalam
2. Mendeteksi apakah persalinan berjalan dengan normal. Dengan demikian dapat
dilaksanakan deteksi dini akan kemungkinan terjadinya partus lama.
3. Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik
kemajuan proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang diberikan, pemeriksaan
laboratorium, membuat keputusan klinikdan asuhan atau tindakan yang diberikan
dimana semua dicatatkan secara rinci pada status atau rekam medis ibu bersalin dan
bayi baru lahir.
2.1.4 Manfaat Penggunaan Partograf
Jika digunakan secara tepat dan konsisten, partograf akan membantu penolong persalinan
untuk mencatat:
1.
2.
3.
4.

kemajuan persalinan,
kondisi ibu dan janin,
asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran,
menggunakan informasi yang tercatat, sehingga dapat mengidentifikasi secara dini
adanya penyulit persalinan, dan membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat.

Penggunaan partograf dapat memastikan ibu dan janin mendapatkan asuhan persalinan
yang aman dan tepat waktu. Selain itu dapat mencegah terjadinya penyulit yang dapat
mengancam keselamatan jiwa ibu dan janin.
2.1.5 Bagian-Bagian Partograf
1. Halaman depan, yang terdiri atas:
a. Informasi tentang ibu
b. Waktu pecahnya ketuban
c. Kondisi janin
d. Kemajuan persalinan
e. Jam dan Waktu
f. Kontraksi uterus
g. Obat-obatan dan cairan yang diberikan
h. Kondisi ibu
i. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya.
2. Halaman belakang (catatan persalinan)

Halaman Depan

Halaman Belakang

Halaman Depan Partograf


Halaman ini, memuat observasi yang dimulai pada fase aktif persalinan dan menyediakan
lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase aktif. Yang termausk
didalamnya adalah:
1. Informasi tentang ibu
a. Nama, Umur;
b. Gravida, Para, Abortus
c. Nomor catatan medik / nomor Pukesmas;
d. Tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah; tanggal dan waktu
penolong persalinan mulai merawat ibu)
2. Waktu pecahnya ketuban
3. Kondisi janin
a. DJJ (dinilai dan dicatat setiap jam)
b. Warna dan adanya air ketuban;
c. Penyusupan (Molase)
4. Kemajuan persalinan
a. Pembukaan Serviks (dicatat dan dinilai setiap 4 jam);
b. Penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin (dicatat dan dinilai
setiap 4 jam);
8

5.
6.
7.
8.

c. Garis waspada dan garis bertindak


Jam dan Waktu
a. Waktu mulainya fase aktif persalinan
b. Waktu actual saat pemeriksaan atau penilaian
Kontraksi uterus
a. Frekuensi dan lamanya (dinilai dan dicatat setiap jam)
Obat-obatan dan cairan yang diberikan
a. Oksitosin
b. Obat-obatan obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan
Kondisi ibu
a. Nadi (dinilai dan dicatat setiap jam), tekanan darah, dan temperature

(dicatat dan dinilai setiap 4 jam)


b. Urine (volume, aseton, atau protein) (dicatat dan dinilai setiap 2-4 jam)
9. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya. (dicatat dalam kolom tersedia di
sisi partograf atau di catatan kemajuan persalinan)
2.1.6 Cara Pengisisan Partograf
2.1.6.1 Cara Pengisian Halaman Depan Partograf
1. Informasi tentang ibu
Diisi dengan waktu kedatangan dan perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase laten
persalinan. Catat waktu terjadinya pecah ketuban.
2. Kondisi (Kesehatan dan Kenyamanan Janin
Kolom, lajur, dan skala angka partograf adalah untuk pencatatan denyut jantung janin, air
ketuban, dan penyusupan tulang kepala janin.

Denyut Jantung Janin


Pemeriksaan dan pencatatan dilakukan setiap 30 mneit (lebih sering jika ada tandatanda gawat janin). Setiap kotak menunjukan waktu 30 menit. Skala angka disebelah
kiri menunjukan nilai DJJ. Pencatatan dilakukan dengan memberikan tanda titik pada
garis yang sesuai menunjukan nilai DJJ. Kemudian hubungkan titik dengan garis yang
tidak terputus. Kisaran nilai normal yang terpapar adalah 100-180 tetapi penolong
harus mulai waspada jika nilai DJJ sudah berada <120 dan >160. Catat tindakan yang

dilakukan pada ruang yang tersedia di salah satu sisi halaman.


Warna dan Adanya ir Ketuban

Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam dan nilai warnanya jika
selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam kotak yang tersedia di bawah
kolom DJJ. Gunakan lambing berikut:
U
: ketuban utuh (belum pecah)
J
: ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
M
: ketuban sudah pecah dan bercampur dengan meconium
D
: ketuban sudah pecah dan bercampur dengan darah
K
: ketuban sudah pecah dan tidak adaa lagi air ketuban (kering)
Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu merupakan gawat janin. Jika terdapat

meconium pantau DJJ dan jika terdapat tanda-tanda gawat janin


Molase (Penyusupan tulang kepala janin)
Penyusupan adalah indicator penting tentang seberapa jauh jauh kepala bayi dapat
menyesuaikan diri dengan bagian keras panggul bayi. Tulang kepala yang saling
tumpang tindik menunjukan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggul
(Cephalo Pelvic Disproportion CPD). Ketidak mampuan akomodasi benar terjadi
jika tulang kepala yang saling menyusup tidak dapat lagi dipisahkan. Jika ada dugaan
disproporsi penting sekali dilakukan kondisi janin dan kemajuan persalinan. Lalu
lakukan tindakan pertolongan pertama yang sesuai dan rujuk ibu dengan tanda-tanda
disproporsi ke fasilitas kesehatan yang memadai.
Setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam, nilai penyusupan dan catat di kolom yang
tersedia dibawah kolom air ketuban. Pencatatan dilakuka dengan lambing-lambang

berikut:
0
: tulang-tulang janin kepala terpisah, sutura dengan mudah dapat dipalpasi
1
: tulang-tulang janin kepala janin saling bersentuhan
2
: tulang-tulang janin kepala janin tumpang tindih, tapi masih bisa dipisahkan
3
: tulang-tulang janin kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahklan
3. Kemajuan persalinan
Kolom dan lajur kedua adalah untuk pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0-10
pada tepi kiri kolom adalah besarnya dilatasi serviks. Tiap angka mempunyailajur dan kotak
yang lain dengan kotak diatasnya, menunjukan menambahan dilatasi serviks sebesar 1 c,
skala angka 1-5 juga menunjukan seberapa jauh penurunan janin. Tiap kotak di bagian ini
menyatakan waktu 30 menit.

Pembukaan serviks
Penilaian dan pencatatan dilakuakns etiap 4 jam (dilakukan lebih sering jika ada
tanda-tanda penyulit). Pencatatan dilakukan dengan tanda X pada garis yang sesuai,
lalu hubungkan dengan garis tidak terputus.

10

Penurunan bagian terbawah janin


Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (setiap 4 jam atau lebih sering jika ada
penyulit) nilai dan catat penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin. Pada
persalinan normal biasanya pembukaan atau dilatasi serviks biasa diikuti oleh
penurunan kepala. Namun, penurunan tersebut biasanya terjadi saat dilatasi 7 cm.
penurunan kepala diukur dengan palpasi bimanual, diukur seberapa jauh dari tepi
simfisis pubis. Dibagi menjadi 5 kategori dimulai dari 5/5 sampai 0/5. Simbol 5/5
menyatakan bahwa bagian kepala janin belum memasuki tepi atas simfisis pubis;
sedangkan 0/5 menyatakan bagian kepala bayi tidak dapat lagi dipalpasi diatas
simfisis pubis. Penilaian diberikan denganpemberian tanda o lalu hubungkan
dengan garis terputus.

11

Garis waspada dan garis bertindak


Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada titik dimana
pembukaan lengkap, diharapkan terjadi jika laju pembukaa 1 cm per jam. Jika
penambahan dilatasi serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada atau
penambahan kurang dari 1 cm setiap jamnya. Maka perlu dipertimbagkan intervensi
yang akan dilakukan (seperti: amniotomi, infus oksitosin, atau persiapan-persiapan
rujuk). Garis bertindak berada sejajar dengan garis waspada terpisah 8 kotak atau 4
lajur ke kanan. Jika pembukaan serviks berada di sebelah kanan garis bertindak, maka
tindakan unruk menyelesaikan persalinan harus dilakukan.

4. Jam dan Waktu


Waktu mulai fase aktif persalinan
Dibagian bawah kolom pembukaan serviks tertera kotak yang diberi angka10-16.

Setiap kotak menunjukan waktu satu jam sejak dimulainya waktu persalinan.
Waktu actual saat pemeriksaan dilakukan
Dibawah lajur kotak waktu mulainya fase aktif , tertera kotak untuk mencatat waktu
actual saat pemeriksan dilakukan. Satu kotak penuh menunjukan waktu satu jam dan
dipisahkan 2 kotak kecil menunjukan waktu 30 menit. Saat ibu memasuki fase aktif
catat pembukaan serviks di garis waspada kemudian catat waktu actual pemeriksaan

di kotak waktu yang sesuai.


5. Kontraksi Uterus
Dibawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak bertuliskan kontraksi per
sepuluh menit dis ebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menunjukan satu kontraksi.
Hitung kontraksi setiap 30 menit dalam 10 menit, lamanya kontraksi dalam detik. Nyatakan
jumlah kontraksi yang terjadi dalam 10 menit dengan mengisi angka pada kotak yang sesuai.
Nyatakan lamanya kontraksi dengan:
12

Beri titik-titik di kotak yang sesuai untuk


menyatakan kontraksi yang lamanya kurang
dari 20 detik
Beri garis-garis di kotak yang sesuai untuk
menyatakan kontraksi yang lamanya 20-40
detik
Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan
kontraksi uterus yang lamanya lebih dari 40
detik

Catatan:

Periksa frekuensi dan lamanya kontraksi uterus setiap jam selama fase laten dan setiap

30 menit pada fase aktif


Nilai frekuensi dan lamanya kontraksi selama 10 menit
Catat lamanya kontraksi dengan lambing yang sesuai
Catat temuan-temuan di kotak yang bersesuaian dengan waktu pemeriksaan

6. Obat-obatan dan cairan yang diberikan


Lajur kotak ini berada dibawahlajur kotak observasi kontraksi. Pengisian dilakukan untuk
pemberian oksitosin, obat-obatan lainnya dan cairan IV.

13

Oksitosin
Dokumentasi dilakukan setiap 30 menit, jumlah oksitosin yang diberikan pervolume
cairan IV dan dalam satuan teteasan permenit.
Obat-obatan lain dan cairan IV
Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam kotak yang

sesuai dengan kolom waktunya.


7. Kesehatan dan Kenyamanan Ibu
Bagian terakhir ini berkaitan dengan kondisi ibu.

Nadi, tekanan darah dan temperature tubuh


Angka disebelah kiri bagian partograf berkaitan dengan tekanan darah dan nadi ibu.
o Pemeriksaan dan pencatatan nadi dilakukan setiap 30 menit selama fase aktif
persalinan. Beri tanda titik pada kolom yang sesuai ().
o Pemeriksaan dan pencatatan tekanan darah dilakukan setiap 4 jam selama fase
aktif persalinan, lalu berikan tanda panah pada kolom waktu yang sesuai ().
o Pemeriksaan dan pencatatan suhu tubuh dilakukan setiap 2 jam catat waktu di

kotak yang sesuai.


Volume urin, protein, atau aseton
Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap ibu berkemih).

Jika memungkinakan lakukan pemeriksaan protein dan aseton urin.


8. Asuhan, pengamatan, dan keputusan klinik lainnya
Pencatatan dilakukan di sisi luar kolom partograf atau buat catatan terpisah tentang
kemajuan persalinan. Cantumkan juga tanggal dan waktu saat catatan dibuat.
Asuhan pengamatan, dan/atau keputusan klinik mencakup:

Jumlah cairan per oral yang diberikan;


Keluhan sakit kepala atau penglihatan kabur;
Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (Obgin, bidan, dokter umum);
Persiapan sebelum melakukan rujukan;
Upaya rujukan.

Catatan:

Fase laten persalinan didefinisikan sebagai pembukaan kurang dari 4 cm


Dokumentasikan asuhan, pengamatan, dan pemeriksaan selama fase laten persalinan

pada catatan kemajuan persalinan yang dibuat secara terpisah atau pada kartu KMS
Fase aktif persalinan didefinisikan sebagai pembukaan serviks dari 4 sampai 10 cm
biasanya selama fase aktif, terjadi pembukaan setidaknya 1 cm/jam

14

Jika ibu datang pada fase aktif persalinan, pencatatan kemajuan pembukaan serviks

dilakukan pada garis waspada


Pada persalinan tanpa penyulit, catatan pembukaan serviks umumnya tidak akan
melewati garis bertindak

2.1.6.2 Halaman Belakang Partograf


Halaman ini merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama proses
persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan dari Kala I sampai Kala IV
(termasuk bayi baru lahir). Oleh karena itu bagian ini disebut Catatan Persalinan). Nilai dan
catat asuhan yang diberikan pada masa nifas terutama selama persalinan Kala IV untuk
memungkinkan penolongpersalinan mencegah terjadinya penyulit dan membuat keoutusan
klinik terutama pada pemantauan Kala IV seperti mencegah perdarahan pasca persalinan
(HPP). Selain itu juga dapat digunakan untuk memantau sejauh mana telah dilakukan
pelaksanaan asuhan persalinan yang bersih dan aman. Catatan persalinan adalah terdiri atas
unsur-unsur berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Data dasar
Kala I
Kala II
Kala III
Bayi baru lahir
Kala IV

Cara pengisian halaman belakang partograf:


Berbeda dengan halaman depan yang diisi setiap pemeriksaans elesai dilakukan,
halaman belakang diisi setelah seluruh proses persalinan selesai. Adapun cara pengisiannya
adalah sebagai berikut.
1. Data dasar
Bagian ini terdiri atas tanggal, nama bidan, tempat persalinan, alamat tempat persalinan,
catatan dan alasan merujuk, tempat rujukandan pendamping saat merujuk. Pengisian
dilakukan dengan memberikan tanda pada kotak-kotak yang tersedia. Untuk pertanyaan
nomor 5 lingkari jawaban dan untuk pertanyaan nomor 8 jawaban bisa lebih dari satu.
2. Kala I

15

Bagian ini terdiri atas pertanyaan-pertanyaan tentang partograf saat sudah melewati garis
waspada, masalah yang dihadapi, penatalaksanaannya, dan hasil dari penatalaksanaan
tersebut. Untuk pertanyaan nomor 9, lingkari jawaban yang sesuai, pertanyaan lain hanya
diisi jika ada masalah lainnya.
3. Kala II
Bagian ini terdiri dari episiotomi, gawat janin, distosia bahu, masalah penyertanya,
penatalaksanaan dan hasilnya. Berikan tanda pada kotak jawaban. Untuk pertanyaan
nomor 13 jika jawabannya Ya, tulis indikasinya, sedangkan untuk nomor 15, 16 isi jenis
tindakan yang diberikan. Untuk nomor 14 jawaban bisa lebih dari satu. Sedangkan untuk
masalah lain hanya diisi jika ada masalah dalam persalinan.
4. Kala III
Bagian ini terdiri atas lama Kala III, pemberian oksitosin, penegangan tali pusat
terkendali, pemijatan fundus, plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir > 30 menit, laserasi,
atonia uteri, jumlah perdarahan, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya. Isi jawaban
pada tempat yang disediakan dan berikan tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai.
Untuk nomor 25, 26, dan 28 lingkari jawaban yang benar.
5. Bayi Baru Lahir
Bagian ini berisi informasi tentang berat dan panjang bayi, jenis kelamin, penilaian
kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta, tatalaksana terpilih dan hasilnya.
Pengisian dengan pemberian tanda pada kotak jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan nomor
36 dan 37 lingkari jawabn yang sesuai, sedangkan untuk nomor 38 jawaban bisa lebih dari
satu.
6. Kala IV
Bagian ini berisi tentang tekanan darah, nadi, suhu, tinggi fundus, kontraksi uterus,
kandung kemih, dan perdarahan. Pemantauan ini sangatbpenting untuk mendeteksi penyulit
pasca persalinan terutama perdarahan pasca persalinan. Pengisian dilakukan setiap 15 menit
pada satu jam pertama dan 30 menit pada satu jam berikutnya.
2.1.7 Contoh Kasus
Contoh 1: Partograf Persalinan Normal
16

Ibu Shanti, 27 tahun, G2P1-1, datang pada jam 3 sore, tanggal 5 Mei 2001 dengan kontraksi
sejak 5 jam lalu dan ketuban belum pecah. Pada pemeriksaan: kontraksi 3 kali dalam 10
menit, selama 40 detik, penurunan kepala 3/5, DJJ 140/menit, TD 120/80 mmHg, suhu 37 C,
nadi 88x/menit. Pembukaan serviks 6 cm, tidak ada penyusupan (Molase) tulang kepala.
Tidak ditemukan edema, Hb kunjungan antenatal terakhir 11 gr/dl, protein urine negative.
Selanjutnya pengamatan Djj, kontraksi dan nadi tiap 30 menit adalahs ebagai berikut:
Waktu
15.30
16.00
16.30
17.00

DJJ
140/mnt
135/mnt
144/mnt
150/mnt

Kontraksi
3 x/10mnt; 40
3 x/10mnt; 40
4 x/10mnt; 40
4 x/10mnt; 45

Nadi
88 /mnt
88/mnt
88/mnt
84/mnt

Keterangan
Ibu makan
Ibu minum teh
manis dan berkemih

17.30
156/mnt
4 x/10mnt; 45
88/mnt
Sekitar pukul 18.00 ibu memeberi tahu bidan bahwa tidak dapat menahan dorongan untuk
mengejan, dan keluar cairan berwarna jernih. Bidan segera melakuka pemeriksaan; kontraksi
5x/menit dalam 10 menit, dan berlangsung 45 detik, Djj 144/menit, penurunan kepala 1/5,
pembukaan lengkap, tidak ada penyusupan.
Bidan memimpin ibu mengejan dan lahir seorang bayi laki-laki spontansekitar pukul 18.30.
dilakukan manajemen aktif Kala III, plasenta lahir lengkap 5 menit setelah bayi lahir.
Perineum utuh. BB bayi 2800 gram, panjang 46 cm, jumlah perdarahan 150 cc.

17

Contoh 2: Partograf
Menunjukan suatu contoh kemacetan dilatasi serviks dan penurunan kepala janin pada fase
aktif persalinan. Terjadi gawat janin dan molase tingkat 3, dengan kontraksi uterus tidak
adekuat.

Seorang wanita MRS pada fase aktif persalinan pada pukul 10.00 pagi
o Palpasi kepala janin 3/5;
o Dilatasi serviks 4 cm;
o Kontraksi 3x dalam sepuluh menit berlangsung 20-40 detik;
o Cairan ketuban jernih
Pada pukul 14.00
o Palpasi kepala tetap 3/5;
o Dilatasi serviks 6 cm dan disebelah kanan garis waspada;
o Kontraksi sedikit membaik 3x berlangsung 40 detik;
o Molase tingkat 3
Pada pukul 17.00
o Palpasi kepala janin tetap 3/5
18

o Dilatasi serviks 6 cm
o Molase tingkat 3
o Detak jantung janin 92 per menit
Dilakukan seksi sesarea pada pukul 17.30

2.2. Mekanisme Persalinan Normal


2.2.1 Kala Persalinan
Mekanisme atau proses persalinan dibagi menjadi 4 kala, yaitu:
1. Kala I

: waktu untuk pembukaan serviks sampai pembukaan lengkap 10 cm,

disebut sebagai kala pembukaan.


2. Kala II
: waktu pengeluaran janin, waktu uterus dengan kekuatan his ditambah
kekuatan mengedan mendorong janin keluar hingga lahir.
3. Kala III
: waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta.
4. Kala IV
: waktu pengawasan/observasi 2 jam setelah plasenta lahir.
1. Kala I (Kala Pembukaan)

19

Secara klinis dapaat dikatakan partus dimulai apabila timbul his dan wanita tersebut
mengeluarkan lendir yang bersemu darah (bloody show). Lendir yang bersemu darah ini
berasal dari kanalis servikalis yang mulai membuka dan mendatar. Proses pembukaan
serviks sebagai akibat his dibagi menjadi 2 fase, yaitu:
a. Fase laten
: berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lamban
sampai pembukaan mencapai 3 cm.
b. Fase aktif
: dibagi menjadi 3 fase, yakni:
i. Fase akselerasi
: dalam waktu 2 jam pembukaan 3cm berlambah
menjadi pembukaan 4 cm.
ii. Fase dilatasi maksimal

: dalam waktu 2 jam pembukaan

berlangsung sangat cepat, bertambah dari 4 cm menjadi 9cm.


iii. Fase deselerasi
: pembukaan menjadi lambat kembali. Dalam
waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap (10 cm).
Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida fase laten,
akselerasi dan deselerasi menjadi lebih pendek.
Pendataran serviks adalah pemendekan kanalis servikalis uteri yang serupa berbentuk
sebuah saluran yang ukurannya 1-2 cm menjadi satu lubang saja dengan pinggiran yang
tipis. Pembukaan serviks adalah pembesaran ostium eksternum yang tadinya berupa
sebuah lubang dengan diameter beberapa millimeter menjadi lubang yang dilalui oleh
bayi yang akan lahir (10 cm). pada pembukaan lengkap, tidak teraba lagi bibir portio,
segmen bawah Rahim, serviks dan vagina telah merupakan suatu saluran.
Mekanisme membukanya serviks berbeda pada primigravidan dengan multigravida.
Pada primigravida ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu, sehingga sehingga
serviks akan mendatar dan menipis. Setelah itu, ostium uteri eksternum terbuka.
Sedangkan pada multi gravida ostium uteri internum akan sedikit terbuka, kemudia
pembukaan ostium uteri internum, eksternum, penipisan dan pendataran serviks terjadi
bersamaan. Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri terlah lengkap pada
primigravida Kala I berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multigravida terjadi
7 jam.
2. Kala II (Kala Pengeluaran Janin)
Pada Kala II his menjadi lebih cepat dan lebih kuat, kurang lebih terjadi setiap 2-3
menit sekali. Hal ini terjadi karena biasanya kepala bayi sudah masuk ke ruang panggul,
maka dari itu his akan terasa di otot-otot dasar panggul. Terjadi secara reflektoris
menimbulkan rasa inginmengedan. Selain itu, akan terjadi juga hal-hal berikut:
a. Tekanan pada rektum
b. Rasa ingin buang air besar
c. Perineum mulai menonjol dan melebar
d. Anus membuka
20

e. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudia kepala janin akan tampak pada
vulva pada waktu his.
Dengan his dan kekuatan mengedan yang maksimal kepala janin akan dilahirkan
dengan suboksipital di bawah simfisis lalu diikuti oleh dahi, muka, dan dagu. Setelah
istirahat sejenak, hisa timbul kembali untuk mengeluarkan tubuh dan anggota gerak.
Pada primigravida kala II berlangsung kurang lebih 1 jam dan pada multipara
kurang lebih jam.
3. Kala III (Kala pengeluaran plasenta)
Terdiri dari 2 fase, yaitu:
a. Fase pelepasan plasenta
b. Fase pengeluaran plasenta
Setelah janin dilahirkan his akan berhenti sejenak, lalu timbul lagi setelah beberapa
menit. His ini dinamakan his pelepasan plasenta, sehingga terletak pada segmen bawah
uterus. Pada masa ini, uterus akan teraba sebagai tumor yang keras segmen atas melebar
karena mengandung plasenta, dan fundus uteri teraba sedikit dibawah pusat.
Jika plasenta sudah lepas, bentuk plasenta menjadi bundar, sehingga tanda ini dapat
diartikan sebagai tanda pelepasan plasenta. Jika keadaan ini dibiarkan, setelah plasenta
lepas, fundus uteri naik, sehingga setinggi pusat atau lebih, bagian tali pusat di luar vulva
akan semakin panjang.
Naiknya fundus uteri disebabkan karena plasenta jatuh dalam segmen bawah Rahim
bagian atas vagina sehingga mengangkat uterus yang berkontraksi. Seiring lepasnya
plasenta, dengan sendirinya bagian tali pusat yang lahir menjadi panjang. Lamanya kala
ini kurang lebih 8 menit, dan pelepasan plasenta hanya memakan waktu 2-3 menit.
Tanda-tanda pelepasan plasenta adalah sebagai berikut:
a. Uterus menjadi bundar
b. Perdarahan, terutama perdarahan yang tiba-tiba dan banyak (250 cc)
c. Memanjangnya bagian tali pusat yang lahir
d. Naik fundus uteri karena naiknya Rahim sehingga lebih mudah digerakan.
4. Kala IV (Kala Observasi)
Merupakan kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi dan plasenta lahir untuk
mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan pasca perslinan. Tujuh hal
penting yang harus diperhatikan pada kala IV adalah sebagai berikut:
a. Kontraksi uterus harus baik
b. Tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain
c. Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap
d. Kandung kencing harus kosong
e. Luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma
f. Resume keadaan umum bayi
g. Resume keadaan umum ibu
21

2.2.2 Penurunan Kepala Bayi


Bidang Hodge
Bidang-bidang Hodge dipelajari untuk menentukan sampai manakah bagian terendah
janin turun dalam panggul saat persalinan
Bidang Hodge I : ialah bidang datar yang melalui bagian atas simfisis dan

promontorium. Bidang ini dibentuk pada lingkaran pintu atas panggul.


Bidang Hodge II : ialah bidang yang sejajar dengan bidang Hodge I terletak

setinggi bagian bawah simfisis pubis


Bidang Hodge III : ialah bidnag yangs ejajar dengan bidang Hodge I dan II yang
sejajar dengan spina iskiadika kanan dan kiri. Pada rujukan lain bidang ini disebut
juga bidang O. Kepala yang berada diatas 1 cm disebut (-1) atau sebaliknya

(Sistem Station).
Bidang Hodge IV : ialah bidang yang sejajar dengan Bidang Hodge I, II, dan III,
terletak setinggi koksigis.

Sistem Perlimaan

5/5 jika bagian terbawah janin seluruh teraba di atas simfisis


4/5 jika sebagian (1/5) bagian terbawah janin telah memasuki PAP
3/5 jika sebagian 2/5 bagian terbawah janin sudah memasuki rongga panggul
2/5 jika hanya sebagian dari bagian terbawah janin masih berada diatas simfisis
1/5 jika hanya 1/5 jari masih dapat meraba bagian terbawah janin diatas simfisis dan

4/5 bagian kepalanya sudah masuk ke rongga panggul


0/5 jika bagian terbawah janin sudah tidak dapat diraba dari pemeriksaan dan seluruh
bagian terbawah janin sudah masuk ke dalam rongga panggul.

2.2.3 His
His timbul dari kontraksi otot-otot uterus, yang tersusun dari 3 lapisan otot dalam
myometrium. Otot-otot tersebut tersusun secara longitudinal, transversal dan oblik.
Dibandingkan dengan otot lain, otot-otot ini lebih besar, tenaganya dapat disebar ke segala
arah dank arena susunannya tidak terorganisir secara memanjang hal ini memudahkan
pemendekan, meningkatkan tekanan dan menyebabkan kontraksi tidak dipengaruhi letak dan
presentasi janin.
His sempurna bila terdapat (a) kontraksi simetris, (b) kontraksi terkuat didominasi
fundus uteri dan (c) terdapat relaksasi setelahnya. Tiap his dimulai dari sudut uterus tempat
tuba masuk. Yang disebut sebagai pace maker. Gelombang bergerak kea rah dalam dan bawah
22

dengan kecepatan 2 cm per detik. His paling besar terjadi di fundus karena ototnya paling
tebal, setelah itu terjadi pemendekan atau retraksi yang menyebabkan otot serviks dan bagian
bawah uterus tertarik dan melebar.
Aktifitas myometrium dimulai saat kehamilan. His sesudah kehamilan melewati 30
mimggu terasa lebih kuat dan sering. Saat Kala I dimulai kontraksi menjadi lebih kuat dan
sering disbanding pada kehamilan awal yang hanya 5 mmHg. Amplitude naik terus hingga 60
mmHg pada akhir Kala I dan frekuensi menjadi 2-4 kali per 10 menit. Durasinya juga
meningkat dari hanya 20 detik mencapai 60-90 detik pada akhir Kala I hingga Kala II.
Interval tiap his adalah 2-4 menit. His ini menyebabkan pembukaan dan penipisan serviks
disamping memberikan tekanan kepada air ketuban dan mendorong kepala bayi sehingga
menekan serviks dan menyebabkan pembukaan lengkap. Pengukuran terhadap his dilakukan
dengan meraba fundus, lalu menghitung, durasi, interval dan frekuensinya.
2.2.3 Denyut Jantung Janin (DJJ)
Frekuensi DJJ rat-rata sekitar 140 denyut per menit (dpm) dengan variasi normal 20
dpm diatas dan dibawah nilai tersebut. Jadi nilai normalnya adalah 120-160 (beberapa penulis
menganut nilai normal 120-150). Disebut takhikardia jika DJJ > 160 dpm, dan sebaliknya
bradikardia terjadi saat DJJ > 120 dpm.
Takhikardia terjadi pada keadaan:
-

Hipoksia janin (ringan/kronik)


Kehamilan preterm (<30 minggu)
Infeksi ibu dan janin
Ibu febris atau gelisah
Ibu hipertiroid
Takhiaritmia janin
Obat-obatan misalnya: atropine dan betamimetik

Sedangkan, bradikhardia terjadi pada keadaan:


-

Hipoksia janin (berat/akut)


Hipotermia janin
Bradiaritmia janin
Obat-obatan (propranolol, obat anesthesia lokal)
Janin dengan kelainan jantung bawaan

23

BAB III
KESIMPULAN

Partograf adalah alat bantu yang digunakan untuk mengawasi proses persalinan dan
menjadi data bagi seorang penolong persalinan untuk menentukan tindakan klinis yang sesuai
dan tepat untuk persalinan yang sedang ditolong. Partograf yang pertama kali dikembangkan
pada tahin 1950an, kini telah dimodifikasi dan disederhanakan oleh WHO.
WHO mempublikasikan partograf sebagai alat bantu yang sangat penting untuk
digunakan pada proses persalinan. Publikasi tersebut ditujukan untuk mengidentifikasi
adanya penyulit dalam suatu proses persalinan. Dimana identifikasi tersebut dapat
menurunkan insidensi persalinan lama, kedaruratan seksio sesaria dan adanya kematian pada
kelahiran.
Pada beberapa penelitian yang telah dilakukan penggunaan partograf dapat
menurunkan insidensi dari komplikasi-komplikasi tersebut setengah dari jumlah insidensi
sebelumnya. Tetapi kegunaannya ini tidak diimbangi dengan pengetahuan dan kebiasaan
dalam penggunaan partograf yang tepat dan sesuai dengan standar. Oleh karena itu,
penggunaan partograf sangatlah penting untuk dilakukan dan edukasi tentang penggunaanya
dengan tepat dan benar harus pula dilakukan.

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. 2014. 315-28.
2. Opoku BK and Nguah SB. Utilization of the modified WHO partograph in assessing the
progress of labour in a metropolitan area in Ghana. Res J of Womens Health. 2015; 2:2.
http://dx.doi.org/10.7243/2054-9865-2-2
3. Trends in maternal mortality ratios: 1990-2013. Estimates by WHO, UNICEF, UNFPA,
World Bank and UN Population Division. 2014.
4. Levin K and Kabagema JD A. Use of the partograph: effectiveness, training,
modifications, and barriers-a literature review. New York: Engender Health/Fistula Care.
2011.
5. Nyamtema AS, Urassa DP, Massawe S, Massawe A, Lindmark G and van Roosmalen J.
Partogram use in the Dar es Salaam perinatal care study. Int J Gynaecol Obstet. 2008;
100:37-40.
6. Yisma et al.: Completion of the modified World Health Organization (WHO) partograph
during labour in public health institutions of Addis Ababa, Ethiopia. Reproductive Health
2013 10:23.
7. Yisma E, Dessalegn B, Astatkie A, Fesseha N: Knowledge and utilization of partograph
among obstetric care givers in public health institutions of Addis Ababa, Ethiopia. BMC
Pregnancy Childbirth 2013, 13:17.
8. Wiknjosastro GH, et al. Buku Acuan Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal. Jakarta:
JNPK-KR: Ed 5. 2008: 54-75.

25