Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejarah gas mulia berawal dari penemuan Cavendish pada tahun 1785. Cavendish
menemukan sebagian kecil bagian udara (kuarang dari 1/2000 bagian) sama sekali tidak
berreaksi walaupun sudah melibatkan gas-gas atmosfer. Lalu pada tahun 1894, Lord
Raleigh dan Sir William Ramsay berhasil memisahkan salah satu unsur gas di atmosfer
(yang sekarang di kenal sebagai gas mulia) berdasarkan data spektrum. Lalu ia mencoba
mereaksikan zat tersebut tetapi tidak berhasil dan akhirnya zat tersebut diberi nama argon.
Dan pada tahun1895 Ramsay berhasil mengisolasi Helium, hal ini berawal dari penemuan
Janssen pada tahun 1868 saat gerhana matahari total. Janssen menemukan spektrum
Helium dari sinar matahari berupa garis kuning. Nama Helium sendiri merupakan saran
dari Lockyer dan Frankland. Lalu pada tahun 1898 Ramsay dan Travers memperoleh zat
baru yaitu Kripton, Xenon serta Neon. Kripton dan Xenon ditemukan dalam residu yang
tersisa setelah udara cair hampir menguap semua. Sementara itu Neon ditemukan dengan
cara mencairkan udara dan melakukan pemisahan dari gas lain dengan penyulingan
bertingkat. Pada tahun 1900 Radon ditemukan oleh Friedrich Ernst Dorn, yang
menyebutnya sebagai pancaran radium. Pada tahun William Ramsay dan Robert WhytlawGray menyebutnya sebagai niton serta menentukan kerapatannya sehingga mereka
menemukan Radon adalah zat yang paling berat di masanya (sampai sekarang). Nama
Radon sendiri baru dikenal pada tahun 1923.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagiamana kelimpahan unsur-unsur gas mulia di alam?
1.2.2 Bagaimanakah sifat unsur-unsur gas mulia?
1.2.3 Bagaimana pembuatan unsur-unsur gas mulia?
1.2.4 Apa saja kegunaan unsur-unsur gas mulia?
1.3 Tujuan Pembuatan Makalah
1.3.1 Untuk mengetahui kelimpahan unsur-unsur gas mulia di alam.
1.3.2 Untuk mengetahui sifat-sifat dari unsur gas mulia.
1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana pembuatan unsur-unsur gas mulia.
1

1.3.4

Untuk mengetahui kegunaan dari unsur-unsur gas mulia.

BAB II
PEMBAHASAN

Gas mulia adalah gas yang mempunyai sifat lengai, tidak reaktif, dan susah bereaksi
dengan bahan kimia lain. Dalam sistem periodik, golongan gas mulia menepati lajur tegak yang
paling kanan, yaitu golongan 18 atau golongan VIIIA.
2.1 Kelimpahan Unsur-Unsur Gas Mulia Di Alam
Gas-gas mulia terdapat di atmosfer dalam jumlah yang relatuf sedikit. Sebagaimana kita
ketahui, atmosfer kita didominasi oleh gas-gas nitrogen (N2) dan oksigen (O2) yang
masing-masing meliputi 78% dan 21% volume udara Kandungan Gas-Gas Mulia dalam
Udara.
Tabel : kandungan gas-gas mulia dalam udara
No
1
2
3
4
5
6

Gas mulia
Helium
Neon
Argon
Kripton
Xenon
Radon

Persentase volume udara


5,24 x 104
1,82 x 103
0,934
1,14 x 104
8,70 x 106
6 x 1014

Dari tabel di atas, nampak jelas bahwa gas mulia yang paling banyak dijumpai di atmosfer
adalah argon, menduduki peringkat ke 3 setelah nitrogen dan oksigen. Akan tetapi, gas
mulia yang paling banyak terdapat di alam semesta adalah helium. Unsur helium bersamasama dengan unsur hidrogen merupakan komponen utama dari matahari dan bintangbintang.
Semua gas mulia kecuali radon, dapat diperoleh dengan cara mencairkan udara, kemudian
komponen-komponen udara cair ini dipisahkan dengan destilasi bertingkat. Hal ini
dimungkinkan sebab gas mulia memiliki titik didih yang berbeda-beda.
Argon dapat diperoleh dengan memanaskan udara dan kalsium karbida (CaC 2). Nitrogen
dan oksigen di udara akan diikat oleh CaC2, sehingga pada udara kita memperoleh argon.
Helium dapat dijumpai dalam kadar yang cukup tinggi pada beberapa sumber gas alam,
sebagai hasil peluruhan bahan-bahan radioaktif. Adapun radon hanya diperoleh dari
peluruhan radioaktif unsur radium.
2.2 Sifat-Sifat Gas Mulia
Beberapa data tentang gas mulia dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
3

N
o
1
2
3
4
5
6

Sifat-sifat

He

Ne

Ar

Kr

Xe

Rn

Massa atom
Jari-jari atom

20

40

84

131

222

93

113

154

169

190

225

2640
0,18
-269
-272

2080
0,90
-246
-249

1520
1,80
-186
-189

1350
3,75
-153
-157

1170
3,80
-108
-112

1040
10,00
-62
-71

(pikometer)
Energi ionisasi (Kj/mol)
Kerapatan (Kg/m3)
Titik didih (0C)
Titik leleh/beku (0C)

Dari tabel di atas dapat disimpulkan:


Gas-gas mulia memiliki harga energi ionisasi yang besar, bahkan terbesar dalam
masing-masing deret seperiode. Hal ini sesuai dengan kestabilan struktur elektron gasgas mulia yang sangat sukar membentuk senyawa
Dari atas ke bawah energi ionisasi mengalami penurunan, hal ini dapat menerangkan
mengapa gas-gas mulia yang letaknya lebih bawah mempunyai kemungkinan yang lebih
besar untuk membentuk senyawa.
Makin ke bawah letaknya, gas mulia memiliki harga kerapatan, titik didih dan titik leleh
yang makin besar. Hal ini sesuai dengan konsep ikatan, bahwa gaya tarik Van Der Walls
antar partikel akan bertambah besar apabila jumlah elektron peratom bertambah.
2.2.1

Sifat fisis unsur-unsur gas mulia


Gas mulia merupakan unsur gas pada suhu kamar dan mendidih hanya beberapa
derajat di atas titik cairnya. Jari-jari, titik leleh serta titik didih gasnya mulanya
bertambah seiring bertambahnya nomor atom. Sedangkan energi pengionnya
berkurang.
Dari data-data di atas kita bisa lihat bahwa nomor atom, jari-jari atom, massa atom,
massa jenis, titik didih, titik beku, entalpi peleburan dan entalpi penguapan selalu
bertambah dari He ke Rn. Sedangkan energi ionisasi mengalami penurunan dari He
ke Rn. Beberapa dari sifat tersebut mengalami kenaikan karena gaya london
terutama pada entalpi peleburan dan entalpi penguapan.
Elektron valensi gas mulia sudah memenuhi kaidah Duplet untuk He dan kaidah
Oktet untuk Ne, Ar, Kr, Xe dan Rn. Sedangkan untuk He, Ne, Ar tidak memiliki

nilai keelektronegatifan. Dan bilangan oksidasi yang di atas adalah bilangan


oksidasi yang sudah di ketahui hingga sekarang.
2.2.2

Sifat kimia unsur-unsur gas mulia


Unsur-unsur gas mulia merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berasa dan tidak
berbau. Gas mulia adalah satu-satunya kelompok gas yang partikel-partikelnya
berwujud atom tunggal (monoatomik).
Kereaktifan gas mulia akan berbanding lurus dengan jari-jari atomnya, jadi
kereaktifan gas mulia akan bertambah dari He ke Rn hal ini disebabkan
pertambahan jari-jari atom menyebabkan daya tarik inti terhadap elektron kulit luar
berkurang, sehingga semakin mudah ditarik oleh atom lain.
Tetapi gas mulia adalah unsur yang tidak reaktif karena memiliki konfigurasi
elektron yang sudah satbil, hal ini didukung kenyataan bahwa gas mulia di alam
selalu berada sebagai atom tunggal atau monoatomik. Tetapi bukan berarti gas
mulia tidak dapat berreaksi, hingga sekarang gas mulia periode 3 ke atas (Ar, Kr,
Xe, Rn) sudah dapat berreaksi dengan unsur yang sangat elektronegatif seperti

Flourin dan Oksigen.


2.3 Pembuatan Unsur-Unsur Gas Mulia
Gas mulia di alam berada dalam bentuk monoatomik karena bersifat tidak reaktif. Oleh
karena itu, ekstraksi gas mulia umumnya menggunakan pemisahan secara fisis.
Perkecualian adalah Radon yang diperoleh dari peluruhan unsure radioaktif.

2.3.1

Ekstraksi Helium (He) dari gas alam


Gas alam mengandung hidrokarbon dan zat seperti CO2, uap air, He, dan pengotor
lainnya. Untuk mengekstraksi He dari gas alam, digunakan proses pengembunan
(liquefaction). Pada tahap awal, CO2 dan uap air terlebih dahulu dipisahkan (Hal
ini karena pada proses pengembunan, CO2 dan uap air dapat membentuk padatan
yang menyebabkan penyumbatan pipa). Kemudian, gas alam diembunkan pada
suhu di bawah suhu pengembunan hidrokarbon tetapi di atas suhu pengembunan
5

He. Dengan demikian, diperoleh produk berupa campuran gas yang mengandung
50% He, N2, dan pengotor lainnya. Selanjutnya, He dimurnikan dengan proses
antara lain:

Proses kriogenik (kriogenik artinya menghasilkan dingin). Campuran gas


diberi tekanan, lalu didinginkan dengan cepat agar N2 mengembun sehingga
dapat dipisahkan, sisa campuran dilewatkan melalui arang teraktivasi yang
akan menyerap pengotor sehingga diperoleh He yang sangat murni.

Proses adsorpsi. Campuran gas dilewatkan melalui bahan penyerap


(adsorbent bed) yang secara selektif menyerap pengotor. Proses ini
menghasilkan He dengan kemurnian 99,997% atau lebih.

2.3.2

Ekstraksi He, Ne, Ar, Kr, dan Xe dari udara


Proses yang digunakan disebut teknologi pemisahan udara. Pada tahap awal, CO2
dan uap air dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian, udara diembunkan dengan
pemberian tekanan 200 atm diikuti pendinginan cepat. Sebagian besar udara akan
membentuk fase cair dengan kandungan gas yang lebih banyak, yakni 60% gas
mulia (Ar, Kr, Xe) dan sisanya 30% dan 10% N 2. Sisa udara yang mengandung He
dan Ne tidak mengembun karena titik didih kedua gas tersebut sangat rendah.
Selanjutnya Ar, Kr, dan Xe dalam udara cair dipisahkan menggunakan proses,
antara lain:

Proses adsorpsi. Pertama, O2 dam N2 dipisahkan terlebih dahulu


menggunakan reaksi kimia. O2 direaksikan dengan Cu panas. Lalu N2
direaksikan dengan Mg. sisa campuran (A, Xe, dan Kr) kemudian akan
diadsorpsi oleh arang teraktivasi. Sewaktu arang dipanaskan perlahan, pada
kisaran suhu tertentu setiap gas akan terdesorpsi atau keluar dari arang. Air
diperoleh pada suhu sekitar -80 , sementara Kr dan Xe pada suhu yang lebih
tinggi.

Proses distilasi fraksional menggunakan kolom distilasi fraksional bertekanan


tinggi. Prinsip pemisahan adalah perbedaan titik didih zat. Karena titik didih
N2 paling rendah, maka N2 terlebih dahulu dipisahkan. Selanjutnya, Ar dan O 2
dipisahkan. Fraksi berkadar 10% Air ini lalu dilewatkan melalui kolom
distilasi terpisah dimana diperoleh Ar dengan kemurinian 98% (Ar dengan
6

kemurnian 99,9995% masih dapat diperoleh dengan proses lebih lanjut). Sisa
gas, yakni Xe dan Kr, dipisahkan pada tahapan distilasi selanjutnya.
2.4 Kegunaan Unsur-Unsur Gas Mulia
Kegunaan dari setiap unsur-unsur gas mulia:
2.4.1 Helium
Helium merupakan gas yang ringan dan tidak mudah terbakar. Helium digunakan
dalam sistem pernafasan laut dalam, untuk mendinginkan magnet superkonduktor,
untuk pengembangan balon, untuk mengangkat kapal udara dan sebagai gas
pelindung untuk penggunaan. Menghirup sejumlah kecil gas ini akan menyebabkan
perubahan sementara kualitas suara seseorang. Helium cair digunakan sebagai zat
pendingin karena memiliki titik uap yang sangat rendah. Helium yang tidak reaktif
digunakan sebagai pengganti nitrogen untuk membuat udara buatan untuk
penyelaman dasar laut.
2.4.2

Argon
Argon digunakan dalam las titanium pada pembuatan pesawat terbang atau roket.
Argon juga digunakan dalam las stainless steel, sebagai pengisi bola lampu pijar
karena argon tidak bereaksi dengan wolfram (tungsten) yang panas, dan sebagai

2.4.3

atmosfer pelindung untuk menumbuhkan silikon dan kristal germanium.


Neon
Neon dapat digunakan untuk pengisi bola lampu neon. Neon digunakan juga
sebagai zat pendingin, indikator tegangan tinggi, penangkal petir, dan untuk pengisi

2.4.4

tabung-tabung televisi. Neon terutama dipergunakan untuk pembuatan tanda.


Kripton
Kripton bersama argon digunakan sebagai pengisi lampu fluoresen bertekanan
rendah. Kripton juga digunakan dalam lampu kilat pada blitz kamera untuk
fotografi kecepatan tinggi. Lampu menara pada mercusuar menggunakan gas
krypton. Landasan pacu bandara menggunakan bola lampu yang berisi gas krypton
sebagai penerangan dan penunjuk jalan bagi pesawat terbang yang akan mendarat

2.4.5

atau meninggalkan landasan di malam hari.


Xenon
Xenon dapat digunakan dalam pembuatan lampu untuk bakterisida (pembunuh

bakteri), digunakan dalam pembuatan tabung elektron, untuk mengisi lampu sorot,
2.4.6

dan sebagai pengisi bola lampu disko yang berwarna-warni.


Radon
Radon kadang digunakan oleh beberapa rumah sakit untuk kegunaan terapeutik,
untuk penyelidikan hidrologi yang mengkaji interaksi antara air bawah tanah, anak
sungai dan sungai. Radon yang bersifat radioaktif digunakan dalam terapi kanker.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Gas mulia adalah unsur-unsur yang
terdapat dalam golongan VIIIA yang memiliki kestabilan yang sangat tinggi dan sebagian
ditemukan di alam dalam bentuk monoatomik. unsur-unsur yang terdapat dalam gas mulia
yaitu Helium (He), Neon (Ne), Argon(Ar), Kripton(Kr), Xenon (Xe), Radon (Rn). Gas-gas
mulia ini memiliki jumlah yang sedikit didalam atmosfer. Sebagaimana kita ketahui,
atmosfer kita didominasi oleh gas-gas nitrogen (N2) dan oksigen (O2) yang masing-masing
meliputi 78% dan 21% volume udara Kandungan Gas-Gas Mulia dalam Udara. Bahwa gas
mulia yang paling banyak dijumpai di atmosfer adalah argon, menduduki peringkat ke 3
setelah nitrogen dan oksigen. Akan tetapi, gas mulia yang paling banyak terdapat di alam
semesta adalah helium.
8

Gas mulia ini memiliki sifat fisika dan kimia, antara lain gas mulia merupakan gas yang
tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Gas mulia adalah satu-satunya kelompok
gas yang partikel-partikelnya berwujud atom tunggal (monoatomik).
Karena gas mulia di alam dalam bentuk monoatomik dan bersifat tidak reaktif. Oleh karena
itu, ekstraksi (pembuatan) gas mulia umumnya menggunakan pemisahan secara fisis.
Perkecualian adalah Radon yang diperoleh dari peluruhan unsure radioaktif.
Unsur-unsur gas mulia juga memiliki berbagai macam kegunaan seperti, gas Helium yang
berguna untuk mendinginkan magnet superkonduktor, untuk pengembangan balon, untuk
mengangkat kapal udara dan sebagai gas pelindung untuk penggunaan.
3.2 Saran
Kami menyarankan kepada pembaca sekalian untuk terus mempelajari bagaimana unsurunsur senyawa organik maupun anorganik dialam ini terbentuk, seperti contohnya gas
mulia ini.

DAFTAR PUSTAKA
http://arulgroup.blogspot.sg/2013/10/gas-mulia.html
http://www.academia.edu/10992008/MAKALAH_KIMIA_GAS_MULIA
http://ads.speedupplaza.com/pinbox.php?
vardetect=NULL&imsi=NULL&tipemodem=NULL&pinid=NULL&sversi=9.3.5
http://arulgroup.blogspot.sg/2013/10/gas-mulia.html
http://coretansowel.blogspot.co.id/2013/02/makalah-gas-mulia-kimia-anorganik.html
http://gas-mulia.blogspot.co.id/
http://ilmu-duniadanakhirat.blogspot.co.id/2013/11/materi-kimia-unsur-gas-mulia.html
http://www.ilmukimia.org/2013/12/golongan-gas-mulia.html