Anda di halaman 1dari 5

DEBT-COVENANT VIOLATIONS AND MANAGERS

ACCOUNTING RESPONSES
1. RINGKASAN
Pelanggaran atas perjanjian utang akan memicu berbagai pinalti keuangan seperti
kemungkinan percepatan jatuh tempo utang, peningkatan tingkat bunga, penyerahan jaminan,
atau negosiasi ulang masa utang. Dalam rangka menghindari risiko pinalti tersebut, manajer
cenderung akan menaikkan laba bersih untuk mengurangi kemungkinan perusahaan
mengalami pelanggaran atas perjanjian utang. Semakin suatu perusahaan mendekati
pelanggaran utang, manajemen akan cenderung memilih prosedur akuntansi yang dapat
memindahkan laba periode mendatang ke periode berjalan. Tujuan dari tindakan ini adalah
untuk mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami pelanggaran atas perjanjian utang.
Penelitian terdahulu meneliti mengenai pilihan manajer akuntansi ketika perusahaan
hampir mengalami kendala perjanjian utang. Beberapa penelitian memperdebatkan respon
manajemen dalam menghindari pinalti ataupun terjadinya pelanggaran perjanjian utang yaitu
pelanggaran perjanjian utang kemungkinan besar mempengaruhi pilihan kebijakan akuntansi
ini dengan hasil yang beragam [Healy dan Palepu (1990), DeFond dan Jiambalvo (1994), dan
DeAngelo, DeAngelo, dan Skinner (1994)]. Hal ini membuat peneliti ingin meperluas
penelitian terdahulu dengan tujuan untuk menguji perubahan akuntansi, biaya dari kegagalan,
dan pelanggaran perjanjian utang berbasis akuntansi. Sampel yang digunakan adalah 130
perusahaan yang melaporkan adanya pelanggaran pada laporan keuangan tahunannya yang
pertama kali melanggar kesepakatan utangnya selama periode tahun 1980 sampai 1989,
ditambah dengan 130 perusahaan yang memiliki kemiripan industri dan ukuran, dan tidak
melakukan pelanggaran kesepakatan utang.
Pengujian dilakukan secara cross-sectional dengan menggunakan chi-square test untuk
melihat perbedaan perubahaan metode akuntansi yang dilakukan sebelum dan pada saat
perusahaan melakukan pelanggaran perjanjian utang. Signifikansi perubahan dilihat dengan
melakukan analisis t-test. Hasil perhitungan secara statistik menunjukkan perbedaan yang
signifikan pada tingkat 2%. Hal ini berarti manajer perusahaan yang memiliki fleksibilitas
akuntansi dan menanggung beban gagal bayar lebih memilih melakukan perubahan akuntansi
yang meningkatkan laba sebagai tanggapan atas ketatnya batasan perjanjian utang. Bukti
manajer beralih sementara ke prosedur akuntansi yang meningkatkan laba ketika gagal bayar
secara teknis dapat dilihat pada hasil chi-square. Dalam panel A statistik chi-square untuk
sampel yang melakukan pelanggaran adalah 7.46 dan signifikan pada tingkat 0,01. Panel B
menyajikan statistik chi-square untuk sampel kontrol hanya 0,006.. Hasil ini memberikan

bukti pendukung bahwa manajer beralih sementara ke prosedur akuntansi yang meningkatkan
laba ketika gagal bayar secara teknis
Peneliti menemukan bahwa respon manajer perusahaan pada saat menjelang kegagalan
adalah melakukan perubahan akuntansi dengan meningkatkan laba (income increasing) dan
biaya kegagalan yang dikenakan oleh pemberi pinjaman serta fleksibilitas akuntansi yang ada
untuk manajer adalah faktor penentu bagi manajer akuntansi. Pelanggaran yang berhubungan
dengan pendatapan bersih serta pembatasan modal kerja merupakan pelanggaran yang sering
dilakukan. 52% dari kasus-kasus para pemberi pinjaman membutuhkan konsekuensi dari para
peminjam untuk menyelesaikan kegagalan. Namun, penelitian ini gagal mengindikasikan
pengaruh motivasi rencana bonus dan strategi pilihan metode akuntansi terhadap praktik
manajemen laba.
Skema yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Kajian Empiris:

Kajian Teoritis
Teori Keagenan
Teori Akuntansi Positif

Rumusan Masalah
Hipotesis

Smith dan Warner (1979) dan Leftwich


(1983).
Healy dan Palepu (1990).
Castle (1980).
Dechow, Sloan, dan Sweeney (1993).
DeFond dan Jiambalvo (1994).
DeAngelo dan Skinner (1994)

Uji Statistik

2. MOTIVASI PENELITIAN
Hasil Penelitian
Peneliti termotivasi untuk melakukan
penelitian untuk mengembangkan hasil penelitian
sebelumnya. Peneliti memeriksa perusahaan-perusahaan yang melanggar pembatasan yaitu
Simpulan dan Saran

kekayaan bersih dan pembatasan modal kerja, peneliti ingin menunjukkan apakah perubahan
akuntansi sebenarnya menunda pelanggaran atas perjanjian utang, dan memberikan bukti
bahwa respon akuntansi dari manajer tergantung dari apakah biaya gagal bayar dibebankan
oleh kreditur, apakah manajer memiliki fleksibilitas akuntansi, dan apakah biaya pajak yang
signifikan berkaitan dengan perubahan akuntansi yang ada.
3. MASALAH PENELITIAN
a. Apakah manajer membuat keputusan akuntansi dalam menanggapi pengetatan kendala
perjanjian utang atau penurunan likuiditas?
b. Apakah tanggapan akuntansi manajer tergantung pada apakah pemberi pinjaman
membebankan biaya standar?
c. Apakah manajer memiliki fleksibilitas akuntansi?
4. LANDASAN TEORI

a. Teori keagenan. Teori keagenan memandang perusahaan sebagai nexus of contracts,


yaitu organisasi yang terikat kontrak dengan beberapa pihak seperti kontrak dengan
pemegang saham, supplier, karyawan (termasuk manajer) dan pihak-pihak lain yang
terkait. Perusahaan juga memiliki ikatan kontrak dengan kreditur jika perusahaan
tersebut melibatkan utang sebagai salah satu pendanaannya. Agen dianggap sebagai
pihak yang ingin memaksimumkan dirinya tetapi ia tetap selalu berusaha memenuhi
kontrak. Terkait dengan kontrak utang, perusahaan merupakan agen dan kreditur
sebagai prinsipal.
b. Teori akuntansi positif. Tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelaskan dan
memprediksi praktik-praktik akuntansi. Terdapat tiga hipotesis berdasarkan teori
akuntansi positif mengenai tindakan oportunistik perusahaan yang mendorong pihak
manajemen melakukan manajemen laba. Ketiga hipotesis tersebut adalah rencana bonus,
kontrak utang, dan biaya politik.
5. HIPOTESIS
Peneliti tidak menjelaskan secara jelas mengenai hipotesis yang digunakan dalam
penelitian ini. Oleh karena itu, kami mengasumsikan hipotesis pada penelitian ini adalah
sebagai berikut:
H1: Manajer membuat membuat keputusan akuntansi dalam menanggapi pengetatan
kendala perjanjian utang atau penurunan likuiditas.
H2: Tanggapan akuntansi manajer tergantung pada apakah pemberi pinjaman
membebankan biaya standar.
H3: Manajer memiliki fleksibilitas akuntansi.

6. KARAKTERISTIK DESAIN PENELITIAN


a. Rantai Kausal dan Validitas Logika
Penelitian ini menunjukkan rantai kausalitas dan validitas logika yang baik, yaitu
terdapat penjelasan penelitian sebelumnya beserta permasalahannya yang menjadi latar
belakang dalam penelitian ini. Validitas logika dalam penelitian ini adalah adanya praktik
manajemen laba yang akan berdampak pada perusahaan yang melakukan perjanjian
utang dan cenderung untuk melanggar perjanjian utang yang telah disepakati.
b. Pengendalian Variabel Extraneous
Variabel extraneous dikendalikan dengan cara menggunakan purposive sampling.
Sampel diperoleh sebanyak 130 perusahaan yang membahas perubahan akuntansi, biaya
standar, dan pelanggaran perjanjian berbasis akuntansi. Kriteria pemilihan sampel terdiri

atas (1) sampel merupakan perusahaan manufaktur, (2) perusahaan yang pertama kali
melanggar batasan perjanjian utang selama tahun 1980-1989 mengecualikan perusahaan
yang melanggar selama 1977-1979 dan perusahaan yang melakukan fleksibilitas
akuntansi untuk mengatasi dan menghindari batasan tersebut, (3) sampel dipilih dari
Compustats Expanded Annual Industry atau Annual Research Files, dan (4) perusahaan
yang masih hidup, dan bukan perusahaan yang akhirnya mengajukan kebangkrutan,
likuidasi, atau diambil alih, yang diklasifikasikan sebagai perusahaan kontrol yang
diambil dari Compustats Expanded Annual Industrial File dan bukan dari Compus-tats
Research File.
c. Validitas Internal
Validitas internal berkenaan dengan derajat akurasi antardesain penelitian dan hasil yang
dicapai. Penelitian ini memiliki validitas internal yang cukup baik karena terdapat
konsistensi antara masalah penelitian, hipotesis, dan analisis data, sehingga hasil
penelitian dapat menjawab masalah penelitian yang diungkapkan peneliti.
d. Validitas Eksternal
Validitas eksternal pada penelitian ini rendah, karena sampel yang dipilih untuk penelitian
ini hanya perusahaan pada sektor manufaktur dengan ukuran tertentu yang melakukan
pelanggaran utang pertama kali dan telah menggunakan fleksibilitas prosedur akuntansi
untuk menghindari kendala perjanjian utang. Pemilihan sampel yang hanya pada satu
sektor yaitu manufaktur, menyebabkan hasil penelitian sulit untuk digeneralisasi pada
jenis perusahaan selain manufaktur.
e. Pengumpulan dan Analisis Data
Data penelitian mengenai perusahaan yang melakukan pelanggaran utang periode 19801989 diperoleh dari Compustats Expanded Annual Industrial atau Annual Research Files.
Berdasarkan laporan tahunan yang diperoleh melalui National Automated Accounting
Research System (NAARS), ditemukan sebanyak 750 pelanggaran perjanjian utang oleh
sekitar 300 perusahaan dalam periode 1977-1990. Penggolongan utang (yang dilanggar)
sebagai utang jangka panjang atau untuk menjelaskan reklasifikasi utang ditemukan pada
catatan kaki dari laporan keuangan tahunan perusahaan.
f. Uji Statistik
Uji Statistik yang dilakukan dibagi ke dalam beberapa pengujian yang dilakukan yang
bermaksud untuk mengetahui perubahan akuntansi sukarela. Pengujian tersebut
diantaranya, yaitu pertama, untuk menguji perubahan dalam prosedur akuntansi peneliti
mengkalkulasi uji t dan uji penjumlahan peringkat Wilcoxon. Kedua, untuk menganalisa
cross section dari perubahan akuntansi sukarela digunakan analisis regresi, dan yang

ketiga, untuk menguji biaya kegagalan dan flexibilitas akuntansi menggunakan two tailed
test dan chi-square test.
g. Konsistensi antara Masalah Penelitian, Hipotesis dan Analisis Data
Pada penelitian ini masalah penelitian dan hipotesis tidak dijelaskan secara eksplisit.
Namun dari keseluruhan penelitian ini, terdapat konsistensi antara masalah penelitian,
hipotesis dan analisis data yang dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian.
f. Konsistensi antara Hasil Pengujian dengan Simpulan
Pada penelitian ini, hasil pengujian telah konsisten dengan simpulan penelitian, di mana
penelitian ini menyimpulkan bahwa para manajer dari perusahaan yang mendekati gagal
bayar merespon dengan perubahan akuntansi peningkatan laba (income-increasing) dan
biaya gagal bayar yang dikenakan oleh pemberi pinjaman serta fleksibilitas akuntansi
yang tersedia bagi para manajer adalah faktor penentu penting dari tanggapan akuntansi
para manajer.
g. Implikasi Kebijakan
Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan akuntansi (income-increasing) dapat
dilakukan oleh manajer yang memiliki fleksibilitas akuntansi, dan dikenakan biaya
kegagalan terkait dengan keadaan perusahaan yang mendekati gagal bayar, dan perjanjian
utang yang diperketat. Selain itu, penelitian ini memberikan informasi kepada
shareholder dan kreditor untuk lebih memahami trik-trik yang dapat menimbulkan
manajemen laba.