Anda di halaman 1dari 6

MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN YANG MELANGGAR PERJANJIAN

UTANG
1. RINGKASAN
Informasi keuangan telah digunakan secara luas sebagai alat penilaian kinerja.
Demikian juga kontrak utang yaitu dalam bentuk perjanjian utang. Kontrak dikatakan efisien
apabila mendorong pihak yang berkontrak melaksanakan apa yang diperjanjikan tanpa
perselisihan dan para pihak mendapatkan hasil (outcome) yang paling optimal dari berbagai
kemungkinan alternatif tindakan yang dapat dilakukan agen (Suwardjono, 2005). Watts dan
Zimmerman (1986) menyatakan bahwa angka-angka akuntansi dapat digunakan untuk
mengendalikan pelaksanaan perjanjian utang, dengan tujuan dibatasinya keputusan investasi
dan pendanaan yang akan menurunkan nilai perusahaan. Oleh karena itu, kontrak utang
sering kali memasukkan perjanjian yang bersifat membatasi tindakan peminjam dan
menentukan pengawasan untuk memastikan bahwa syarat-syarat kontrak utang dipenuhi.
Dalam hal kontrak utang, perusahaan merupakan agen dan kreditur sebagai prinsipal.
Teori keagenan mengatakan bahwa agen biasanya bersikap oportunis dan tidak menyukai
risiko (risk averse). Manajer perusahaan yang mendekati atau telah melanggar perjanjian
utang akan berusaha untuk mementingkan kepentingannya sendiri dan menghindari risiko
yang ada. Debt-covenant hypothesis menyatakan bahwa jika semua hal lain tetap sama,
semakin dekat perusahaan dengan pelanggaran perjanjian utang yang berbasis akuntansi,
lebih mungkin manajer perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi yang memindahkan
laba yang dilaporkan dari periode masa datang ke periode saat ini. Alasannya bahwa laba
bersih yang dilaporkan naik akan mengurangi probabilitas kegagalan teknis (Scott, 2000).
Jadi sangat dimungkinkan manajer perusahaan memengaruhi angka-angka akuntansi pada
laporan keuangan, khususnya angka laba bottom line.
Penelitian ini mendeteksi manajemen laba dengan akrual diskresioner. Hasil yang
diperoleh pada penelitian sebelumnya pun masih beragam. Hasil menunjukkan bahwa ada
yang tidak berhasil menemukan indikasi manajemen laba ketika perusahaan bermasalah
(Amanah 2002; Syam 2004); ada yang menemukan indikasi manajemen laba yang
meningkatkan laba ketika dalam kondisi bermasalah (Djakman 2003; Kusumawati dan
Sasongko 2005) dan ada juga yang menemukan indikasi manajemen laba yang menurunkan
laba yang dilaporkan (Kusumawati dan Sasongko, 2005).
Populasi penelitian ini terdiri dari semua perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Jakarta. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling
1

dan diperoleh sebanyak 13 perusahaan yang melanggar perjanjian utang dan/atau pelanggaran
pembayaran pokok dan bunga untuk periode amatan tahun 2000 hingga 2004 serta 20
perusahaan kontrol. Analisis penelitian diawali dengan uji asumsi klasik untuk memperoleh
parameter-parameter dari persamaan regresi yang akan digunakan untuk menghitung nilai
non-discretionary accruals. Dilanjutkan dengan uji hipotesis dengan menggunakan uji beda
pada periode sebelum dan saat terjadi pelanggaran utang. Sebelum menentukan alat uji beda
parametrik atau nonparametrik yang akan digunakan pada pengujian hipotesis satu dan dua
maka dilakukan uji normalitas.
Uji normalitas hipotesis pertama menunjukkan bahwa nilai signifikan KolmogorovSmirnov Z > 0,05 untuk diskresioner akrual sebelum, saat, dan sesudah pelanggaran
perjanjian utang. Oleh karena itu, uji beda yang digunakan adalah parametrik yaitu PairedSample T-test. Hasil pengujian pada periode sebelum dan saat melanggar perjanjian utang
menunjukkan bahwa rata-rata akrual diskresioner periode sebelum melanggar secara statistik
signifikan lebih besar daripada rata-rata akrual diskresioner periode saat perusahaan
melanggar perjanjian utang. Hasil pengujian pada periode saat dan setelah melanggar
perjanjian utang menunjukkan bahwa rata-rata akrual diskresioner saat melanggar secara
statistik signifikan lebih kecil atau sama dengan rata-rata akrual diskresioner periode setelah
perusahaan melanggar perjanjian utang.
Uji normalitas hipotesis kedua menunjukkan bahwa nilai signifikan KolmogorovSmirnov Z > 0,05 diskresioner akrual sebelum, saat, dan sesudah pelanggaran perjanjian
utang untuk perusahaan kontrol maupun perusahaan sampel. Oleh karena itu, uji beda yang
digunakan parametrik yaitu Independen Sample T-test. Hasil pengujian sebelum melanggar
perjanjian utang menunjukkan bahwa rata-rata akrual diskresioner perusahaan yang
melanggar perjanjian utang secara statistik lebih kecil atau sama dengan rata-rata akrual
diskresioner perusahaan kontrol pada periode sebelum terjadi pelanggaran perjanjian utang.
Hasil pengujian saat melanggar perjanjian utang menunjukkan bahwa rata-rata akrual
diskresioner perusahaan yang melanggar perjanjian utang secara statistik lebih kecil atau
sama dengan rata-rata akrual diskresioner perusahaan kontrol pada saat terjadi pelanggaran
perjanjian utang.
Pengujian hipotesis pertama memberikan bukti empiris bahwa perusahaan yang
melanggar perjanjian utang melakukan praktik manajemen laba yang menaikkan laba yang
dilaporkan pada periode sebelum terjadi pelanggaran yaitu t-1. Hal ini sesuai dengan hasilhasil penelitian sebelumnya seperti DeFond dan Jiambalvo (1994); Sweeney (1994); dan
Rosner (2003). Hasil ini mendukung pandangan konvensional bahwa perjanjian utang
2

memotivasi manajer untuk melakukan manajemen laba. Sedangkan untuk periode saat terjadi
pelanggaran, hipotesis yang diajukan tidak didukung. Hasil ini sesuai dengan penemuan
DeFond dan Jiambalvo (1994).
Pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa perusahaan yang melanggar perjanjian
utang dan perusahaan kontrol sama-sama melakukan manajemen laba pada periode sebelum
dan saat terjadi pelanggaran perjanjian utang. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian di
Indonesia seperti penelitian Amanah (2002); Syam (2004) dan Kusumawati dan Sasongko
(2005). Jadi penelitian ini memberikan bukti empiris mengenai tidak adanya kecenderungan
perusahaan yang melanggar perjanjian utang melakukan manajemen laba lebih besar daripada
perusahaan yang tidak melanggar perjanjian utang. Berarti ada faktor-faktor lain selain
pelanggaran perjanjian utang yang memicu manajemen perusahaan melakukan manajemen
laba.
Skema yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Kajian Empiris:

Kajian Teoritis
Teori Keagenan
Teori Akuntansi Positif

Rumusan Masalah
Hipotesis
Uji Statistik
Hasil Penelitian

DeFond dan Jiambalvo (1994)


Sweeney (1994)
Peltier-Rivest (1999)
Jaggi dan Lee (2001)
Rosner (2003)
DeAngelo et al. (1994)
Saleh dan Ahmed (2005)
Djakman (2003)
Syam (2004)
Surifah (2001)
Kusumawati dan Sasongko (2005)
Amanah (2002)
Andriyani (2004)

Simpulan dan Saran

2. MOTIVASI PENELITIAN
Peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian sebab pada penelitian terdahulu
memberikan hasil yang beragam, penelitian pada bidang ini di Indonesia sangat terbatas, dan
isunya sedikit berbeda. Perbedaannya yaitu perusahaan yang mengalami masalah (Surifah
2001; Amanah 2002; Syam 2004; dan Kusumawati dan Sasongko 2005) serta perusahaan
yang memiliki kontrak perjanjian utang (Andriyani, 2004). Selain itu peneliti ingin
memberikan bukti empiris mengenai pola praktik manajemen laba yang dilakukan oleh
perusahaan yang melanggar perjanjian utang. Selain itu peneliti juga ingin mengetahui
apakah perusahaan yang melanggar perjanjian utang melakukan manajemen laba lebih besar
daripada perusahaan yang tidak melanggar perjanjian utang, dengan cara menguji kembali
3

praktik manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang melanggar


perjanjian utang.
3. MASALAH PENELITIAN
a. Apakah manajemen perusahaan yang melanggar perjanjian utang termotivasi untuk
melakukan manajemen laba melalui discretionary accruals yang meningkatkan laba?
b. Apakah manajemen laba perusahaan yang melanggar perjanjian utang lebih besar
daripada manajemen laba perusahaan yang tidak melanggar perjanjian utang?
4. LANDASAN TEORI
a. Teori keagenan. Teori keagenan memandang perusahaan sebagai nexus of contracts,
yaitu organisasi yang terikat kontrak dengan beberapa pihak seperti kontrak dengan
pemegang saham, supplier, karyawan (termasuk manajer) dan pihak-pihak lain yang
terkait. Perusahaan juga memiliki ikatan kontrak dengan kreditur jika perusahaan
tersebut melibatkan utang sebagai salah satu pendanaannya. Agen dianggap sebagai
pihak yang ingin memaksimumkan dirinya tetapi ia tetap selalu berusaha memenuhi
kontrak. Terkait dengan kontrak utang, perusahaan merupakan agen dan kreditur
sebagai prinsipal.
b. Teori akuntansi positif. Tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelaskan dan
memprediksi praktik-praktik akuntansi. Terdapat tiga hipotesis berdasarkan teori
akuntansi positif mengenai tindakan oportunistik perusahaan yang mendorong pihak
manajemen melakukan manajemen laba. Ketiga hipotesis tersebut adalah rencana bonus,
kontrak utang, dan biaya politik.
5. HIPOTESIS
H1: Manajemen perusahaan yang melanggar perjanjian utang termotivasi untuk
melakukan manajemen laba melalui discretionary accruals yang meningkatkan laba.
H2: Manajemen laba perusahaan yang melanggar perjanjian utang lebih besar daripada
manajemen laba perusahaan yang tidak melanggar perjanjian utang.
6. KARAKTERISTIK DESAIN PENELITIAN
a. Rantai Kausal dan Validitas Logika
Penelitian ini menunjukkan rantai kausalitas dan validitas logika yang baik, yaitu
terdapat penjelasan penelitian sebelumnya beserta permasalahannya yang menjadi latar
4

belakang dalam penelitian ini, kemudian dijelaskan mengenai teori keagenan yang
dikaitkan dengan kinerja tiap perusahaan, beserta contoh-contoh kasus yang mendasari
penyimpulan hipotesis. Validitas logika dalam penelitian ini adalah adanya praktik
manajemen laba yang akan berdampak pada perusahaan yang melakukan perjanjian
utang dan cenderung untuk melanggar perjanjian utang yang telah disepakati.
b. Pengendalian Variabel Extraneous
Variabel extraneous dikendalikan dengan cara menggunakan purposive sampling.
Validitas eksternal dalam penelitian ini adalah data cross section. Sampel diperoleh
sebanyak 13 perusahaan yang melanggar perjanjian utang dan/atau pelanggaran
pembayaran pokok dan bunga untuk periode amatan 2000 sampai dengan 2004 dan 20
perusahaan kontrol. Sampel dipilih dengan kriteria meliputi, 1) perusahaan-perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEJ periode amatan 2000-2004 dengan tujuan untuk
mengeluarkan periode krisis yang pernah terjadi di Indonesia yaitu periode 1997. Sampel
juga dibatasi hanya perusahaan manufaktur karena perusahaan non-manufaktur akan
memiliki karakteristik yang berbeda, 2) perusahaan yang melakukan pelanggaran
perjanjian utang serta menyatakannya di catatan laporan keuangannya atau dinyatakan
dalam laporan auditor independen, 3) perusahaan yang mengungkapkan perjanjian utangrasio keuangan dan tidak menyatakan pelanggaran perjanjian utang diklasifikasikan
sebagai perusahaan kontrol, 4) perusahaan memiliki data sembilan tahun yaitu lima tahun
mulai t-2 sampai t-6 merupakan periode estimasi sedangkan t-1, t, dan t+1 merupakan
periode kejadian, 5) perusahaan-perusahaan yang datanya tidak lengkap dikeluarkan dari
sampel.
c. Validitas Internal
Validitas internal berkenaan dengan derajat akurasi antara desain penelitian dan hasil
yang dicapai. Penelitian ini memiliki validitas internal yang cukup baik karena terdapat
konsistensi antara masalah penelitian, hipotesis, dan analisis data, sehingga hasil
penelitian dapat menjawab masalah penelitian yang diungkapkan peneliti. Namun,
jumlah sampel yang digunakan tergolong kecil dan terdapat bias dalam pemilihan sampel
yaitu perusahaan dalam sampel diketahui telah melanggar perjanjian utang.
d. Validitas Eksternal
Validitas eksternal berkaitan dengan generalisasi hasil penelitian, di mana generalisasi
ini dapat dilihat sampel yang digunakan oleh peneliti pada penelitiannya. Pada penelitian
ini, metode penentuan sampelnya menggunakan purposive sampling, di mana terdapat
beberapa kriteria yang ditetapkan penulis untuk layak menjadi sampel. Penetapan
5

kriteria sampel yang dilakukan peneliti cukup banyak, sehingga menghasilkan sampel
yang kecil. Sampel yang kecil menyebabkan semakin besar peluang kesalahan
generalisasi, oleh karena itu, validitas eksternalnya rendah.
e. Pengumpulan dan Analisis Data
Pada penelitian ini terdiri dari semua perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Jakarta, dengan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive
sampling. Data yang digunakan adalah: (a) data pelaporan perusahaan mengenai
pernyataan kepatuhan dan pelanggaran perjanjian utang yang terkait dengan rasio
keuangan serta pembayaran pokok dan bunga, dinyatakan pada catatan laporan keuangan
dan laporan auditor independen dan (b) data untuk perhitungan akrual dapat diperoleh
dari laporan tahunan dan Indonesian Capital Market Directory. Analisis data pada
penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif.
f. Uji Statistik
Pengujian asumsi klasik dilakukan untuk memperoleh parameter-parameter dari
persamaan regresi yang akan digunakan untuk menghitung nilai non-discretionary
accruals. Pengujian hipotesis menggunakan uji beda pada periode sebelum dan saat
terjadi pelanggaran utang. Hipotesis pertama menggunakan uji beda parametrik yaitu
Paired-Samples T-test, dan untuk pengujian hipotesis kedua, menggunakan IndependenSample T-test.
g. Konsistensi antara Masalah Penelitian, Hipotesis, dan Analisis Data
Pada masalah penelitian, hipotesis dan analisa data, telah terdapat konsistensi yang
cukup baik, sehingga dapat menghasilkan simpulan yang mendukung validitas internal.
h. Konsistensi Hasil Pengujian dan Simpulan
Terdapat konsistensi yang baik antara hasil pengujian hipotesis dengan simpulan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak adanya kecenderungan perusahaan yang
melanggar perjanjian utang melakukan manajemen laba lebih besar daripada perusahaan
yang tidak melanggar perjanjian utang.
i. Implikasi Kebijakan
Pada suatu perjanjian kontrak utang, terdapat dua kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu
perjanjian utang dipenuhi sesuai dengan yang diperjanjikan atau perjanjian utang
dilanggar. Oleh karena itu, kreditor harus lebih berhati-hati dalam menganalisa laporan
keuangan yang disajikan oleh manajemen dalam kaitannya terhadap kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajibannya.

Anda mungkin juga menyukai