Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

I.

II.

Identitas Pasien
Nama

: Muh. Irfan

Umur

: 19 tahun

Jenis kelamin

: Pria

Kebangsaan

: WNA

Pekerjaan

: MAhasiswa

Tanggal pemeriksaan

: 07-04-2016

No RM

: 137210

Anamnesis
KU : Sesak napas
Anamnesis terpimpin
Seorang pasien umur 19 tahun datang dengan keluhan sesak napas
dikarenakan adanya luka tusuk pada dada disebelah kanan, dialami sejak 30
menit sebelum masuk rumah sakit. Luka tembus sampai ke costa. Perdarahan
aktif (+), demam (-), mual-muntah(-).
Riwayat penyakit terdahulu
Riwayat DM (-), Hipertensi (-).
Riwayat keluarga
Tidak ada yang memiliki keadaan yang sama.
Riwayat pengobatan
Pasien belumpernah berobat sebelumnya

III.

Pemeriksaan Fisik
Tanda Vital
Kesadaran

: Composmentis

Tekanan darah

: 100/70 mmHg
1

Nadi

:128 x/menit

Pernapasan

: 25 x/menit

Suhu

: 36,60c

Pemeriksaan fisik
Kepala

: Dalam batas normal

Mata

: Dalam batas normal

Hidung

: Dalam batas normal

Leher

: Dalam batas normal

Thorax

: Fremitus vocal kanan menurun. vesikuler melemah


pada paru kanan

Abdomen

IV.

: Dalam batas normal

Pemeriksaan Penunjang
Radiologi

Pemeriksaan foto thoraks posisi PA


Hasil pemeriksaan :

Hiperlusen avascular di hemithoraks kanan disertai perselubungan


yang menutupi sinus dan diapragma kanan.

Paru kanan kolaps ke medial

Cor : bentuk dan ukuran dalam batas normal, aorta baik.

Sinus costoprenicus kiri dan diafragma kiri baik.

Tulang-tulang intak.

Kesan : Hidropneumothoraks Dextra

V.

Diagnosis
Hidropneumothoraks

VI.

Penatalaksanaan
Bed rest
O2 nasal kanul 2-4 liter
IVFD NaCl 0,9% 20 tetes/menit

VII.

Prognosis
Dubia ad malam

PENDAHULUAN
Hidropneumotoraks merupakan suatu keadaan dimana terdapat udara dan
cairan di dalam rongga pleura yang mengakibatkan kolapsnya jaringan paru.
Hidropneumotoraks spontan sekunder bisa merupakan komplikasi dari TB paru
dan pneumotoraks yaitu dengan rupturnya fokus subpleura dari jaringan nekrotik
pengkejuan sehingga tuberkuloprotein yang ada di dalam masuk rongga pleura
dan udara dapat masuk dalam paru pada proses inspirasi tetapi tidak dapat keluar
paru ketika proses ekspirasi, semakin lama tekanan udara dalam rongga pleura
akan meningkat melebihi tekanan atmosfer, udara yang terkumpul dalam rongga
pleura akan menekan paru sehingga sering timbul gagal napas.
Pneumotoraks yaitu keadaan dimana terdapat udara atau gas dalam rongga
pleura. Dalam keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru
leluasa mengembang terhadap rongga toraks.
Pada hakekatnya, pengenalan radiologis dan diagnosis hidropneumotoraks,
sangat diperlukan karena hal ini menentukan terapi dan tatalaksana awal terbaik
yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya terapi yang tidak sesuai dan
komplikasi yang tidak diharapkan.

TINJAUAN PUSTAKA
HIDROPNEUMOTHORAKS
A. Definisi
Hidropneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara dan
cairan di dalam rongga pleura yang mengakibatkan kolapsnya jaringan
paru.1

B. Etiologi dan Patogenesis


Keadaan fisiologi

dalam

rongga dada pada waktu inspirasi tekanan

intrapleura lebih negatif dari tekanan intrabronkial, maka paru


mengembang mengikuti gerakan dinding dada sehingga udara dari luar
akan terhisap masuk melalui bronkus hingga mencapai alveol. Pada saat
ekspirasi dinding dada menekan rongga dada sehingga tekanan intrapleura
akan lebih tinggi daripada tekanan udara alveol atau di bronkus akibatnya
udara akan ditekan keluar melalui bronkus.1,2
Tekanan intrabronkial akan meningkat apabila ada tahanan pada
saluran pernafasan dan akan meningkat lebih besar lagi pada permulaan
batuk, bersin atau mengejan. Peningkatan tekanan intrabronkial akan
mencapai puncak sesaat sebelumnya batuk, bersin, dan mengejan. Apabila
di bagian perifer bronki atau alveol ada bagian yang lemah, maka
kemungkinan terjadinya robekan bronki atau alveol akan sangat mudah.1,2
Dengan cara demikian dugaan terjadinya pneumotoraks dapat
dijelaskana yaitui jika ada kebocoran di bagian paru yang berisi udara
melalui robekan atau pleura yang pecah. Bagian yang robek tersebut
berhubungan dengan bronkus. Pelebaran

alveolus dan septa-septa

alveolus yang pecah kemudian membentuk suatu bula yang berdinding


6

tipis di dekat daerah yang ada proses non spesifik atau fibrosis
granulomatosa. Keadaan ini merupakan penyebab yang paling sering dari
pneumothoraks.1,2
Ada beberapa kemungkinan komplikasi pneumotoraks, suatu
katup bola yang bocor yang menyebabkan tekanan pneumotoraks
bergeser ke mediastinum. Sirkulasi paru dapat menurun dan mungkin
menjadi fatal. Apabila kebocoran tertutup dan paru tidak mengadakan
ekspansi kembali dalam beberap minggu , jaringan parut dapat terjadi
sehingga tidak pernah ekspansi kembali secara keseluruhan. Pada keadaan
ini cairan serosa terkumpul di dalam rongga pleura dan menimbulkan
suatu hidropneumotoraks.1,2
Hidropneumotoraks spontan sekunder bisa merupakan komplikasi
dari TB paru dan pneumotoraks yaitu dengan rupturnya fokus subpleura
dari jaringan nekrotik perkejuan sehingga tuberkuloprotein yang ada di
dalam masuk rongga pleura dan udara dapat masuk dalam paru pada
proses inspirasi tetapi tidak dapat keluar paru ketika proses ekspirasi,
semakin lama tekanan udara dalam rongga pleura akan meningkat
melebihi tekana atmosfer, udara yang terkumpul dalam rongga pleura akan
menekan paru sehingga sering timbul gagal napas.1,2
Pneumotoraks merupakan suatu kondisi dimana terdapat udara
pada kavum pleura. Pada kondisi normal, rongga pleura tidak terisi udara
sehingga paru-paru dapat leluasa mengembang terhadap rongga dada.
Udara dalam kavum pleura ini dapat ditimbulkan oleh :
a. Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal
dari alveolus akan memasuki kavum pleura. Pneumothorax jenis ini
disebut sebagai closed pneumotoraks. Apabila kebocoran pleura
visceralis berfungsi sebagai katup, maka udara yang masuk saat
inspirasi tak akan dapat keluar dari kavum pleura pada saat ekspirasi.
7

Akibatnya, udara semakin lama semakin banyak sehingga mendorong


mediastinum kearah kontralateral dan menyebabkan terjadinya tension
pneumotoraks.
b. Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat
hubungan antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang
yang terjadi lebih besar dari 2/3 diameter trakea, maka udara
cenderung lebih melewati lubang tersebut dibanding traktus
respiratorius yang seharusnya. Pada saat inspirasi, tekanan dalam
rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke kavum
pleura lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru
ipsilateral. Saat ekspirasi, tekanan rongga dada meningkat, akibatnya
udara dari kavum pleura keluar melalui lubang tersebut. Kondisi ini
disebut sebagai open pneumotoraks.1,2

C. Gambaran Radiologis
Pada gambaran radiologi hidropneumotoraks merupakan perpaduan antara
gambaran

radiologi

dari

efusi

pleura

dan

pneumotoraks.

Pada

hidropneumothorax cairan pleura selalu bersama-sama udara, maka


meniscus sign tidak tampak. Pada foto lurus maka akan dijumpai air fluid
level meskipun cairan sedikit. Pada foto tegak terlihat garis mendatar
karena adanya udara di atas cairan. Gambaran radiologi pada
hidropneumotoraks ini ruang pleura sangat translusen dengan tak
tampaknya gambaran pembuluh darah paru, biasanya tampak garis putih
tegas membatasi pleura visceralis yang membatasi paru yang kolaps,
tampak gambaran semiopak homogen menutupi paru bawah, dan
penumpukan cairan di dalam cavum pleura yang menyebabkan sinus
costofrenikus menumpul.3,4

Hidropneumotoraks
PNEUMOTHORAKS
A. Definisi
Pneumotoraks adalah keadaan dimana terdapat udara atau gas dalam
rongga pleura. Dalam keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara,
supaya paru-paru leluasa mengembang terhadap rongga toraks.1
Masuknya udara ke dalam rongga pleura dibedakan atas:
1. Pneumotoraks spontan: Timbul sobekan subpleura dari bulla sehingga
udara dalam rongga pleura melalui suatu lubang robekan atau katup.
Keadaan ini dapat terjadi berulang kali dan sering menjadi keadaan
yang kronis. Penyebab lain ialah suatu trauma tertutup terhadap dinding
dan fistula bronkopleural akibat neoplasma atau inflamasi.
2. Udara lingkungan luar masuk ke dalam rongga pleura melalui luka
tusuk atau pneumotoraks disengaja (artificial) dengan terapi dalam hal
pengeluaran atau pengecilan kavitas proses spesifik yang sekarang tidak
dilakukan lagi. Tujuan pneumotoraks sengaja lainnya ialah diagnostik
untuk membedakan massa apakah berasal dari pleura atau jaringan

paru. Penyebab-penyebab lain ialah akibat tindakan biopsi paru dan


pengeluaran cairan rongga pleura.
3. Masuknya udara melalui mediastinum yang biasanya disebabkan trauma
pada trakea atau esophagus akibat tindakan pemeriksaan dengan alatalat (endoskopi) atau benda asing tajam yang tertelan. Keganasan dalam
mediastinum dapat pula mengakibatkan udara dalam rongga pleura
melalui fistula antara saluran nafas proksimal dengan rongga pleura.
4. Udara berasal dari subdiafragma dengan robekan lambung akibat suatu
trauma atau abses subdiafragma dengan kuman pembentuk gas. 4

B. Klasifikasi
Pneumotoraks dapat juga dibagi atas:
1. Pneumotoraks terbuka. Gangguan pada dinding dada berupa hubungan
langsung antara ruang pleura dan lingkungan atau terbentuk saluran
terbuka yang dapat menyebabkan udara dapat keluar masuk dengan
bebas ke rongga pleura selama proses respirasi.
2. Pneumotoraks tertutup. Misal terdapat robekan pada pleura viseralis dan
paru atau jalan nafas atau esofagus, sehingga masuk vakum pleura
karena tekanan vakum pleura negatif.
3. Pneumotoraks valvular. Jika udara dapat masuk ke dalam paru pada
proses inspirasi tetapi tidak dapat keluar paru ketika proses ekspirasi.
Akibat hal ini dapat terjadi peningkatan tekanan intrapleural. Karena
tekanan

intrapleural

meningkat

maka

dapat

terjadi

tension

pneumotoraks. 4

10

C. Gejala Klinis
Adanya keluhan-keluhan dan gejala-gejala klinis pneumotoraks
amat tergantung pada besarnya lesi pneumotoraks dan ada tidaknya
komplikasi penyakit paru. Beberapa pasien menunjukkan keadaan
asimtomatik dan kelainan hanya dapat ditemukan pada pemeriksaan foto
dada rutin. Pada beberapa kasus, pneumotoraks terluput dari pengamatan. 1
Gejala yang utama adalah berupa rasa sakit yang tiba-tiba dan
bersifat unilateral serta diikuti sesak nafas. Kelainan ini ditemukan pada
80-90% kasus. Gejala-gejala ini lebih mudah ditemukan bila penderita
melakukan aktivitas berat. Tetapi pada sebagian kasus, gejala-gejala masih
gampang ditemukan pada aktivitas biasa atau waktu istirahat. 1
Rasa sakit tidak selalu timbul. Rasa sakit ini bisa menghebat atau
menetap bila terjadi perlengketan antara pleura viseralis dan pleura
parietalis. Suatu waktu perlengketan ini bisa sobek pada tekanan kuat dari
pneumotoraks,

sehingga

terjadi

perdarahan

intrapleura

(hemato-

pneumotoraks). 1
Kadang-kadang gejala klinis dapat ditemukan walaupun kelainan
pneumotoraksnya sedikit, misalnya perkusi yang hipersonar, fremitus yang
melemah sampai menghilang, suara nafas yang melemah sampai
menghilang pada sisi yang sakit. 1
Pada lesi yang lebih besar atau pada tension pneumotoraks, trakea dan
mediastinum dapat terdorong ke sisi kontralateral. Diafragma tertekan ke
bawah, gerakan pernafasan tertinggal pada sisi yang sakit. Fungsi respirasi
menurun, terjadi hipoksemia arterial dan curah jantung menurun. 1
Kebanyakan pneumotoraks terjadi pada sisi kanan (53%), sedangkan
sisi kiri (45%) dan bilateral hanya 2%. Hampir 25% dari pneumotoraks
spontan berkembang menjadi hidropneumotoraks. 1
11

Disamping keluhan-keluhan dan gejala-gejala klinis tersebut di atas,


diagnosis lebih meyakinkan lagi dengan pemeriksaan sinar tembus dada. 1

D. Gambaran Radiologis
Bayangan udara dalam rongga pleura memberikan bayangan radiolusen
yang tanpa struktur jaringan paru (avascular pattern) dengan batas paru
berupa garis radioopak tipis yang berasal dari pleura visceral (gambar 1
dan 2).5

Gambar 1

12

Gambar 2

Pada foto terlihat bayangan udara dari pneumotoraks yang


berbentuk cembung, yang memisahkan pleura parietalis dengan pleura
viseralis. Bila pneumotoraksnya tidak begitu besar, foto dengan pernafasan
dalam (inspirasi penuh) pun tidak akan menunjukkan kelainan yang jelas.
Dalam hal ini dianjurkan membuat foto dada dengan inspirasi dan
ekspirasi penuh. Selama ekspirasi maksimal udara dalam rongga pleura
lebih didorong ke apeks, sehingga rongga intrapleura di apeks jadi lebih
besar. Selain itu terdapat perbedaan densitas antara jaringan paru dan udara
intrapleura sehingga memudahkan dalam melihat pneumotoraks, yakni
kenaikan densitas jaringan paru selama ekspirasi tapi tidak menaikkan
densitas pneumotoraks. 1
Suatu hasil rontgen diperoleh sehabis ekspirasi maksimum akan
membantu dalam menetapkan diagnosa, sebab paru-paru kemudian secara
relatif lebih tebal/padat dibanding pneumotoraks itu. Penurunan volume
paru terjadi sehabis ekspirasi tetapi ruang pneumotoraks tidak berubah.
13

Oleh karena itu secara relatif pneumotoraks lebih berhubungan dengan


apru-paru sehabis ekspirasi dibanding inspirasi dan kiranya pleura viseral
lebih kecil berhubungan dengan pneumotoraks. Sehingga lebih mudah
untuk menggambarkannya.1
Foto lateral decubitus pada sisa yang sehat dapat membantu dalam
membedakan pneumotoraks dengan kista atau bulla. Pada pneumotoraks
udara bebas dalam rongga pleura lebih cenderung berkumpul pada bagian
atas sisi lateral. 1
Jika pneumotoraks luas, akan menekan jaringan paru ke arah hilus
atau paru menjadi kuncup/kolaps di daerah hilus dan mendorong
mediastinum ke arah kontralateral. Selain itu sela iga menjadi lebih lebar.
Udara dalam ruang pleura jadi lebih radiolusen dibandingkan paru-paru
yang bersebelahan dengan pneumotoraks tersebut, terutama sekali jika
paru-paru berkurang volumenya, dimampatkan atau terkena penyakit yang
meningkatkan kepadatan paru-paru.7
Ketika pneumotoraks terjadi pada pasien dengan atelektase lobus,
udara terkumpul dalam ruangan pleura yang dekat dengan paru-paru yang
mengempis. Oleh karena itu distribusi udara yang tidak normal pada
pasien ini menyebabkan pengempisan lobus. Pada tension pneumotoraks
pergeseran dari struktur mediastinal kesan pada paru dan kesan pada
diafragma sudah terlihat. Ketika kehadiran cairan sebagai tambahan dari
udara atau gas pada film dengan cahaya horisontal memperlihatkan tingkat
atau batas udara dengan cairan. Ketika udara intrapleura terperangkap pada
posisi yang tidak biasa oleh karena penggabungan kadang-kadang
pneumotoraks bisa terlihat pada subpulmonary, terutama pada pasien
COPD (Chronic Pulmonary Obstruktif Disease) dan penurunan dari fungsi
paru dan juga diobservasi sepanjang permukaan tenagh dari paru bayi yang
baru lahir sering diperiksa dengan posisi terlentang. Dalam situasi ini
harus dibedakan dengan pneumomediastinum. Ketika garis sambungan
14

depan terlihat pada neonatus, yang mengindikasikan pneumotoraks


bilateral, karena garis ini biasanya tidak terlihat pada pasien. Pada bayi
neonatus pneumotoraks dapat dievaluasi dengan foto anteroposterior atau
lateral pada saat yang sama.7
Pada orang dewasa yang sakit kritis diuji dengan posisi setengah
duduk atau terlentang, udara dalam ruang pleura mungkin nampak
anteromedial sepanjang medistinum, pada suatu posisi subpulmonary, pada
posisi apicolateral atau posteromedial dalam area paraspinal. Udara
mungkin dapat diamati dalam celah interlobus, terutama sekali di dalam
celah kecil sisi kanan pneumotoraks. Tanda cekungan yang dalam
diuraikan oleh Gordon pada foto posisi terlentang pada pasien
pneumotoraks. Foto ini terdiri dari radiolusen yang relatif pada kedalaman
sulcus costophrenicus samping yang menandakan udara dalam area ini.7
Hasil diagnosa mungkin tidak dapat terlihat dalam foto polos. Oleh
karena itu, CT dapat digunakan jika informasi mengenai kehadiran atau
ketidakhadiran pneumothoraks adalah hal yang sangat penting, karena
pneumothoraks relatif lebih mudah dideteksi pada CT sesuai potongan
aksis.7
Secara ringkas, hasil dianogsa pneumothorax mungkin sulit untuk
dibuat dalam pemeriksaan hasil radiografi dada. Terutama sekali pada foto
pasien dalam posisi terlentang, proyeksi samping mungkin bisa untuk
,mengkonfirmasikan kehadiran pneumothoraks manakala proyeksi dari
depan samar-samar. Ketika pneumothoraks kecil foto pada saat inspirasi
seringkali berharga; dan ada kalanya, ketika lokasi pneumothoraks
disekeliling hadir, foto oblique dan foto lateral diperlukan untuk visualisasi
yang nyata. Adakalanya lingkaran radioopak ditemukan pada hilus atau
dibawah pada pasien pneumothoraks yang besar atau luas.7

15

EFUSI PLEURA
A. Definisi
Efusi pleura merupakan suatu kondisi dimana adanya akumulasi cairan
pleura yang berlebihan didalam rongga pleura yang disebabkan karena
ketidakseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran cairan pleura. 8
Rongga pleura dalam keadaan normal berisi cairan 10 ml sampai 20 ml yang
berfungsi dalam proses pernapasan. Akumulasi cairan yang melebihi normal,
akan menimbulkan gangguan dengan memberikan gejala klinis dan terdeteksi
pada pemeriksaan klinis dan radiologis. Efusi pleura dapat berupa eksudat
dan transudat.1
B. Etiologi
1. Hambatan reabsorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti
pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediastinum, dan
sindroma vena cavasuperior 1,2
2. Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis,
pneumonia, virus, bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang
menembus ke rongga pleura), karena tumor dan trauma ) Di Indonesia
80% disebabkan oleh tuberculosis. 1,2

C. Diagnosis
1. Keluhan Pokok
Dari asimptomatis sampai keluhan berupa :10

Nyeri dada

Sesak napas

Batuk

Demam

16

Lebih senang tidur atau berbaring kesatu arah (sisi yang berisi
cairan).
Keluhan-keluhan tersebut bergantung pada jumlah dan jenis
cairan, kalau banyak atau purulen keluhan lebih berat.

2. Tanda Penting
Pada sisi yang sakit 10

Dinding dada lebih cembung dan gerakan tertingal

Vocal premitus melemah

Pekak, batsnya merupakan garis lengkung dari medial bawah ke


lateral atas disebut garis Ellis Domoiseau

Bunyi pernapasan menurun atau menghilang pada sisi yang sakit

Mediastinum terdorong kearah yang sehat, dapat di raba pada


trachea

Iktus kordis berpindah kesisi yang sehat

3. Pemeriksaan Penunjang
Radiologi.
Pada Radiologi permulaan didapati menghilangnya sudut
kostofrenik. Bila cairan lebih dari 300 ml, akan terlihat cairan
dengan permukaan melengkung atau bayangan seperti kurva, dengan permukaan
daerah lateral lebih tinggi bagian medial. Bila permukaannya horizontal dari lateral
kemedial, maka terdapat udara dalam rongga tersebut yang dapat berasal dari luar
atau dalam paru-paru sendiri. Cairan bebas akan mengikuti posisi grativitasi.3,4,14
Cairan yang kurang dari 300 cc, pada fluoroskopi maupun foto toraks PA
tidak tampak. Mungkin kelainan yang tampak hanya berupa penumpulan sinus
kostofrenikus. Foto toraks PA dan posisi lateral dekubitus pada sisi yang sakit
seringkali memberi hasil yang memuaskan bila cairan pleura sedikit, atau cairan

17

subpulmonal yaitu tampak garis batas cairan yang sejajar dengan kolumna
vertebralis atau serupa garis horizontal.4,5
Sekitar 200 ml cairan pleura dapat dideteksi pada foto toraks PA, sebaliknya
jika hanya cairan 50 ml dapat dideteksi pada foto lateral. Foto lateral dekubitus dapat
membedakan penebalan pleura dan cairan. Pada posisi supine, cairan pleura akan
melapisi bagian posterior dan tampak sebagai berkas berawan yang opak pada salah
satu lapangan paru dengan chorak vaskuler pada foto toraks.4,5,6

Foto Thorax PAdan Right Lateral Dekubitus, tampak pleural reaction, sudut
kostofrenikus tumpul dan garis batas cairan / meniskus sign 15

18

D. Penatalaksanaan
1. Terapi Umum
2. Medikamentosa

Obat pertama
Tuberkulostatik

(umumnya

Efusi

Pleura

merupakan

komplikasi TB).
Antibiotic bila ada infeksi sekunder.

Obat Alternatif
Terapi simptomatik
Prednisone, bila cairan cukup banyak dan disebabkan oleh
TB Paru.
Roborantia
Enzim proteolitik.

Punksi pleura (torakosintesis) kalau cairan massif, jangan lebih


dari 1000-1500 cc setiap kali punksi. Kalau ada empiema, pasang
WDS (water Sealed Drainase)10

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Asril Bahar, Penyakit-penyakit Pleura, Buku Ajar Penyakit Dalam, Jilid II,
Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
2. Darmanto Djojodibroto, 2009, Respirologi, EGC
3. Sjahriar rasad, 2009, Radiologi diagnostik, jakarta, Balai penerbit FKUI
4. Kahar Kusumawidjaja, 2000, Pleura dan Mediastinum, Radiologi diagnositik,
Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
5. A. Adam A. K. Dixon, 2007, Diagnostik Radiology, Ed 5, Churchill
Livingstone.
6. Bahtiar Murtala, 2013, Radiologi Trauma dan Emergensi, IPB Press.
7. David Sutton, 1987, A Textbook of Radiology and Imaging, Ed. 4, Churchill
Livingstone, Edinburgh, london, Melbourne and New York.
8.

A. Halim Mubin, 2002, Pneumothoraks, Ilmu Penyakit Dalam, Diagnostik


dan Terapi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal 238-240

9. Luhur S. Soeroso, 2007, Mutiara Paru, EGC, Jakarta.


10. A. Halim Mubin, 2002, Efusi Pleura, Ilmu Penyakit Dalam, Diagnostik dan
Terapi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal 236-237
11. Lyndon Saputra, 2009, Kapita Selektan Kedokteran Klinik, Binarupa Aksara
Publisher, Tangerang. Hal 468-469
12. Sean O. Henderson, 2002, Kedokteran Emergensi, EGC, Jakarta.
13. Peter C. Hayes, Diagnosis dan Terapi, EGC. Jakarta. Hal 104-109
20

14. Medford A, Maskell N. Pleural Effusion. JAMA. 2009; 301(3): 344-344.


Doi:10.1001/jama.301.3.344. Di akses pada tanggal 13 Maret 2013 dari
website: http://jama.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=183244.
15. Rubins J, Mazonifer Z. Pleural Effusion. Medscape Reference. Diakses pada
tanggal 13 Maret 2013 dari website:
http://emedicine.medscape.com/article/299959-overviw#showall.

21

Kesimpulan
1. Pada gambaran radiologi hidropneumotoraks merupakan perpaduan antara
gambaran

radiologi

dari

efusi

pleura

dan

pneumotoraks.

Pada

hidropneumothorax cairan pleura selalu bersama-sama udara, maka


meniscus sign tidak tampak. Pada foto lurus maka akan dijumpai air fluid
level meskipun cairan sedikit. Pada foto tegak terlihat garis mendatar
karena adanya udara di atas cairan. Gambaran radiologi pada
hidropneumotoraks ini ruang pleura sangat translusen dengan tak
tampaknya gambaran pembuluh darah paru, biasanya tampak garis putih
tegas membatasi pleura visceralis yang membatasi paru yang kolaps,
tampak gambaran semiopak homogen menutupi paru bawah, dan
penumpukan cairan di dalam cavum pleura yang menyebabkan sinus
costofrenikus menumpul.
2. Pada gambaran radiologi pneumotoraks, bayangan udara dalam rongga
pleura memberikan bayangan radiolusen yang tanpa struktur jaringan paru
(avascular pattern) dengan batas paru berupa garis radioopak tipis yang
berasal dari pleura visceral.
3. Pada gambaran radiologi atelektasis, menunjukkan tanda-tanda langsung
dan tidak langsung dari suatu atelektasis. Tanda-tanda langsung meliputi
pengurangan volum bagian paru baik bagian lobaris, segmental atau
seluruh paru dengan akibat kurangnya aerasi sehingga memberikan
bayangan lebih suram (densitas tinggi), serta pergeseran fissura interlobar.
Ada pun tanda-tanda tidak langsung meliputi pergeseran mediastinum ke
arah atelektasis, elevasi hemidifragma, sela iga menyempit, pergeseran
hilus dan hiperaerasi kompensatori terhadap parenkim paru disekitarnya.
4. Pada gambaran radiologi emfisema pulmonum menunjukkan hiperinflasi
paru, diafragma letak rendah dan mendatar, peningkatan ruang udara
retrosternal, penurunan tanda vaskular/bulla (emfisema), jantung tampak
sempit memanjang, peningkatan bentuk bronchovaskular (bronchitis),
normal ditemukan saat periode remisi (asma).
22

23