Anda di halaman 1dari 33

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLITEKNIK NEGERI MEDAN

PRAKTIKUM ANALISA SARINGAN (CA)


1. Standart Uji
SNI 03-1968-1990 Metode pengujian tentang analisis saringan agregat halus dan
kasar.
AASHTO T 27-74 Sieve Analysis of Fine and Coarse Aggregates
2. Tujuan Praktikum
a. Untuk memperoleh distribusi besaran atau jumlah persentase butiran baik
agregat kasar. Distribusi yang diperoleh dapat ditunjukan dalam tabel atau
grafik.
b. Dapat melakukan perhitungan persentase agregat.
3. Dasar Teori
Agregat adalah batuan yang secara umum didefinisikan sebagai formasi kulit
bumi yang keras dan solid. Dalam ASTM (1974) mendifinisikan agregat sebagai
suatu bahan yang terdiri dari mineral padat, berupa masa berukuran besar ataupun
berupa fragmen-fragmen.
Agregat merupakan komponen utama dari lapisan perkerasan jalan, dimana
suatu perkerasan jalan terdiri dari 90-95% agregat berdasarkan persenrase berat
atau 75-85% agregat berdasarkan persentase volume. Dengan demikian, daya
dukung, keawetan dan mutu suatu perkerasan jalan ditentukan oleh sifat agregat
dan hasil pencampuran agregat dengan material lan, misalnya aspal.
Berdasarkan besar partikel-partikel agregat, agregat dapat dibedakan atas:
Agregat kasar, agregat > 4,75 mm menurut ASTM atau > 2 mm menurut
AASHTO
Agregat halus, agregat < 4,75 mm menurut ASTM atau < 2mm dan >
0,075 mm menutur AASHTO
Abu batu, agregat halus yang umumnya lolos saringan No. 200

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Gradasi atau distribusi partikel-partikel berdasarkan ukuran agregat


merupakan hal yang penting dalam menentukan stabilitas perkerasan. Gradasi
agregat mempengaruhi besarnya rongga antar butir yang akan menentukan
stabilitas dan kemudahan dalam proses pelaksanaan.
Gradasi diperoleh dari hasil analisa saringan dengan menggunakan 1 set
saringan dimana saringan yang paling kasar diletakkan di atas dan yang paling
halus terletak paling bawah.
Gradasi dibeagregat dapat dibedakan atas:
Gradasi seragam (Uniform graded)
Gradasi seragam adalah agregat dengan ukuran yang hampir
sama/sejenis atau mengandung agregat halus yang sedikit jumlahnya
sehingga tidak dapat mengisi rongga antar agregat. Gradasi seragam
disebut juga gradasi terbuka. Agregat dengan gradasi seragam akan
menghasilkan lapisan perkerasan dengan sifat permeabilitas tinggi,
stabilitas kurang, berat isi kecil.
Gradasi rapat (dense graded)
Gradasi rapat merupakan campuran agregat kasar dan halus dalam
porsi yang berimbang, sehingga dinamakan juga agregat bergradasi baik
(well graded). Agregat dengan gradasi rapat akan menghasilkan lapisan
perkerasan dengan stabilitas tinggi, kurang kedap air, sifat drainase jelek,
dan berat isi besar.
Gradasi buruk (poorly gradasi)
Gradasi

buruk

merupakan

campuran

agregat

yang

misalnya

disebabkan oleh terlampau banyaknya agregat butir halus dalam gradasi


tersebut.
Analisis saringan agregat ialah penentuan persentase berat butiran agregat
yang lolos dari satu set saringan kemudian angka-angka persentase digambarkan
pada grafik pembagian butir.

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

4. Metode Pelaksanaan
4.1 Alat dan Bahan
a. Timbangan digital dengan ketelitian 0.1 gram
b. Ayakan satu set :
Ayakan no.
Ayakan no.
Ayakan no. 3/8
Ayakan no. 4
Ayakan no. 8
Ayakan no. 30
Ayakan no. 50
Ayakan no. 80
Ayakan no. 100
Ayakan no. 200
c. Nampan
d. Kuas
e. Agregat kasar (lolos saringan 19 mm) 5500 gram
4.2 Prosedur Pelaksanaan
4.2.1 Persiapan
Agregat yang diambil dan akan diuji adalah agregat kasar dengan
spesifikasi lolos saringan 19mm (3/4). Agregat ditimbang sebanyak
5500 gram, dan dioven selama 24 Jam.

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

4.2.2 Pelaksanaan
a. Mengeluarkan bahan (agregat kasar) dari oven.
b. Agregat ditimbang dan diambil sebanyak yang telah disiapkan, dan
ditimbang sebanyak 5491,7 gram.

c. Disusun ayakan dari no. hingga ayakan no. 200, dan PAN.

d. Masukkan agregat kasar ke dalam saringan.


e. Letakkan saringan pada alas multiplex yang telah dialasi oleh kain.
f. Putar dan goncang saringan selama 30 menit.

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

g. Disisihkan setiap agregat yang tertahan pada tiap nomor saringan ke


atas kertas A3 yang telah diberi nama nomor saringan.

h. Kemudian timbang agregat pada tiap nomor saringan (dari nomor


saringan hingga PAN) dengan cawan keramik, dimana cawan
keramik terlebih dahulu telah di nol kan beratnya dengan menekan
tombol ZERO pada timbangan digital, dan dicatat beratnya.

i. Hitung presentase berat yang tertinggal dan presentase lolos yang


berada di setiap saringan.

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

5. Hasil Praktikum dan Hasil Perhitungan


5.1 Analisa Saringan Agregat Kasar
Ukuran Saringan

Berat

Kumulatif

mm

Tertahan

Tertahan

Tertahan

Lolos

3/4"

100

1/2"

3011.40

3011.40

54.90

45.10

3/8"

1527.30

4538.70

82.74

17.26

No. 4

826.10

5364.80

97.80

2.20

No. 8

29.60

5394.40

98.34

1.66

No. 16

4.80

5399.20

98.43

1.57

No. 30

5.90

5405.10

98.54

1.46

No. 50

8.80

5413.90

98.70

1.30

No. 100

14.20

5428.10

98.96

1.04

No. 200

25.10

5453.20

99.41

0.59

PAN
Jumlah

32.20

5485.40

100.00

5485.40

Kehilangan Berat Agregat:

Persentase

827.81

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

% Hilang =
=

5491,7 - 5485,40
5491,7

x 100%

11.47%

6. Kesimpulan
Dari hasil analisis data didapati persen lolos tiap saringan. Dari hasil praktikum
analisis saringan agregat kasar persentase agregat hilang adalah sebesar 0,11% < 1%
yang merupakan prasyarat maksimal agregat hilang.

PRAKTIKUM BERAT JENIS DAN DAYA SERAP AGREGAT MEDIUM (MA)


1. Standart Uji
SNI 03-1969-1990 Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat
kasar.

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Spesifikasi Standar Bina Marga


2. Tujuan Praktikum
a. Untuk menghitung volume yang ditempati oleh agregat dalam berbagai
campuran yang mengandung agregat termasuk AC-WC yang dianalisis.
b. Untuk mendapatkan angka untuk berat jenis curah, berat jenis permukaan
jenuh, berat jenis semu, dan penyerapan air pada agregat halus.
c. Mampu melakukan perhitungan BJ bulk, BJ permukaan jenuh, BJ semu dan
penyerapan agregat halus.
3. Dasar Teori
Berat jenis agregat adalah rasio antara massa padat agregat dan massa air
dengan volume sama pada suhu yang sama. Sedangkan penyerapan adalah
kemampuan agregat untuk menyerap air dalam kondisi kering sampai dengan
kondisi jenuh permukaan kering (SSD = Saturated Surface Dry). Untuk
menentukan berat jenis efektif agregat harus dihitung terlebih dahulu :

Berat Jenis Curah (Bulk Specific Gravity)


Berat Jenis Jenuh Kering Permukaan (Saturated Surface Dry SSD)
Berat Jenis Semu (Apparent Specific Gravity)
Penyerapan Agregat
Berdasarkan standart SNI 03-1970-1990, Nilai BJ agregat minimal 2.5 dan

nilai penyerapan agregat maksimal 3%. Apabila nilai BJ Agregat kurang dari 2.5
dan nilai Penyerapan Agregat lebih dari 3% maka agregat tersebut tidak dapat
digunakan.
4. Metode Pelaksanaan
4.1 Alat dan Bahan

Agregat kasar yang lolos saringan No. 3/8 (12,75mm) dan tertahan

saringan No. 4 (4,75mm)


Timbangan digital
Timbangan dalam air
Saringan no. 4 (4,75 mm) dan No. 3/8 (12,75mm)
Oven

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Kain lap

4.2 Langkah Kerja


A. Persiapan
Agregat yang diambil dan akan diuji adalah agregat kasar dengan
spesifikasi lolos saringan 19mm (3/4) dan tertahan saringan No. 4
(4,75mm). Agregat ditimbang sebanyak 4500 gram, dicuci hingga bersih,
dan direndam selama 24 jam.

Agregat diayak

Agregat dicuci

Agregat ditimbang

Agregat direndam

B. Pelaksanaan
1. Siapkan peralatan dan material yang akan digunakan.
2. Agregat dikeluarkan dari ember rendaman, lalu agregat di lap dengan
kain, hingga kering permukaan tanpa mengganggu kejenuhan agregat
(tidak mengelap agregat dalam ruangan suhu tinggi dan waktu yang
terlalu lama dibiarkan sehingga agregat tidak menjadi kering, tetap
dalam keadaan jenuh).

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

3.

Segera setelah dikeringkan, ditimbang agregat dengan timbangan


digital dalam berat 2000 gram dan 2400 gram.

Penimbangan Bj Sampel I
4.

Penimbangan Bj Sampel II

Kemudian timbang benda uji dalam air, dengan alat yang telah
dirangkai sebelumnya, yang terdiri dari timbangan digital, bejana, dan
ember yang menggantung. Yang dapat distel posisinya dengan tuas
yang berada disamping alat. Setelah didapat beratnya, lalu dicatat.
Pada saat melakukan penimbangan di dalam air, cek kembali berat
wadah berlubang didalam air, apakah beratnya telah sama dengan nol,
sehingga kita mendapati penimbangan yang benar-benar teliti.

Alat distel dan berat dinolkan

Agregat dimasukkan ke saringan

Saringan dikaitkan kembali ke timbangan digital

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Penimbangan Ba Sampel I
5.

Penimbangan Ba Sampel II

Kemudian agregat dioven selama 12 jam, lalu ditimbang dan dicatat


beratnya.

Agregat dioven

6.

Penimbangan Bk Sampel I
Penimbangan Bk Sampel II
Kemudian hitung BJ curah, BJ semu, BJ SSD, BJ efektif, dan
penyerapan air.

5. Hasil Praktikum dan Hasil Perhitungan


Perhitungan Berat Jenis Agregat Kasar :
Sampel I
Benda uji kering oven (Bk)
Berat benda uji kering permukaan jenuh
(Bj)

1988,8 gram
2001 gram

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Berat benda uji dalam air (Ba)

BJ Curah =

Bk
( BjBa)

1988,8 gram
2001 gram 1261 gram

2,69

BJ SSD =

Bj
( BjBa)

2001 gram
2001 gram 1261 gram

2,704

BJ Semu =

=
=
BJ Efektif =

=
=

Bk
( BkBa)
1988,8 gram
1988,8 gram 1261 gram
2.732
BJ Bulk +BJ Semu
2
2,69+ 2,732
2
2,711

1261 gram

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Penyerapan =

BjBk
Bk

x 100%

20011988,8
1988,8

x 100 %

= 0,613 %
Hasil Perhitungan Sampel I:
BJ Curah
BJ SSD
BJ Semu
Penyerapan
BJ efektif

=
=
=
=
=

2.69
2.704
2.732
0,613
2.711

Sampel II
Benda uji kering oven (Bk)
Berat benda uji kering permukaan jenuh
(Bj)
Berat benda uji dalam air (Ba)

2380,9 gram
2400,8 gram
1511 gram

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Bk
( BjBa)

BJ Bulk =

2380,9 gram
2400,8 gram 1511 gram

=
=

2,67
Bj
( BjBa)

BJ SSD =

2400,8 gram
2400,8 gram 1511 gram

2,698
Bk
( BkBa)

BJ Semu =

2380,9 gram
2380,9 gram 1511 gram

=
=

2,737
BJ Bulk +BJ Semu
2

BJ Efektif =

2,67 +2,737
2

=
=

2,703

Penyerapan =

BjBk
Bk

x 100%

2400,82380.9
1511

= 0,836 %

x 100 %

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Hasil Perhitungan Sampel II:


BJ Bulk
BJ SSD
BJ Semu
Penyerapan
BJ Efektif

=
=
=
=
=

2.67
2.698
2.737
0,836
2.703

6. Kesimpulan
Berdasarkan Spesifikasi Standart Bina Marga, nilai BJ agregat minimal 2.5
dan nilai penyerapan agregat maksimal 3% (Pasal 6.3.2 sub 1f). Dan dari hasil
praktikum diperoleh nilai BJ agregat sebesar 2.703 dan 2,711 dan nilai penyerapan
agregat adalah 0,836% dan 0,623%.

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

PRAKTIIKUM BERAT JENIS ASPAL KERAS


1. Standart Uji
AASHTO T-228-68 Standard Method of Test for Specific Gravity of Semi-Solid
Asphalt Materials
SNI 06 2441 1991 Metode Pengujian Berat Jenis Aspal Padat
RSNI S-01-2003 Persyaratan Aspal Keras Berdasarkan Penetrasi

2. Tujuan Praktikum

Untuk memahami, mengetahui dan menentukan berat jenis aspal.


Untuk mendapatkan nilai berat jenis aspal padat dengan menggunakan rumus
berat jenis hasil pengujian.

3. Dasar Teori
Aspal merupakan material perekat (comentitious), berwarna hitam atau coklat
tua dengan unsure utama bitumen. Aspal adalah material yang digunakan untuk
bahan pengikat bahan agregat. Pada suhu ruang, aspal adalah material yang
berbentuk padat sampai agak padat dan bersifat termoplastis, (Sukima, 2003).
Aspal keras/panas (Asphalt Cement, Ac) adalah aspal yang digunakan dalam
keadaan cair dan panas, aspal ini berbentuk padat pada keadaan penyimpanan
temperatur ruang (25oC 30oC). Aspal semen terdiri dari beberapa jenis
tergantung dari proses pembuatannya dan jenis minyak bumi asalnya.
Pengelompokan aspal semen dapat dilakukan berdasarkan nilai penetrasi (tingkat
kekerasan pada temperatur 25oC ataupun berdasarkan nilai Visiositasnya.
Di Indonesia aspal semen biasanya dibedakan berdasarkan nilai penetrasi.
o
o
o
o
o

AC pen 40/50 yaitu AC dengan penetrasi antara 40 - 50


AC pen 60/70 yaitu AC dengan penetrasi antara 60 - 70
AC pen 84/100 yaitu AC dengan penetrasi antara 85 - 100
AC pen 120/150 yaitu AC dengan penetrasi antara 120 - 150
AC pen 200/300 yaitu AC dengan penetrasi antara 200 - 300

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Aspal semen dengan penetrasi rendah digunakan di daerah bercuaca panas


(lalu lintas dengan volume tinggi) sedangkan aspal semen dengan penetrasi tinggi
digunakan untuk daerah bercuaca dingin dengan lalu lintas ber volume rendah.

Sumber: RSNI S-01-2003 Persyaratan Aspal Keras Berdasarkan Penetrasi


Berat jenis aspal adalah perbandingan antara berat jenis aspal padat dan berat
air suling dengan isi yang sama pada suhu 15,6C atau 25 C, (SNI 06 2441
1991).
Berat jenis diperlukan sebagai data konversi di lapangan, yaitu mengkonversi
dari berat ke volume atau dari volume ke berat. Sesuai dengan persyaratan aspal
keras menurut RSNI S 01 2003, yaitu spesifikasi berat jenis aspal keras
berdasarkan penetrasi minimal 1 ( >1 ). Berdasarkan jenis bitumennya, hard
grades bitumen memiliki berat jenis diantara 1,045-1,065.

4. Metode Pelaksanaan
4.1

Alat dan Bahan

Aspal Shell Pen 60-70

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

4.2

Piknometer gelas
Piknometer Plastik ukuran 500 mL
Gelas ukur 1000 mL
Air Suling (Aquadest)
Tissue

Langkah Kerja

1. Letakkan kedua piknometer dan termometer pada gelas ukur 1000 mL,
lalu diisi gelas ukur dengan air suling secara perlahan sampai batas
kestabilan piknometer (hingga piknometer tidak akan jatuh atau goyang
akibat gaya angkat air).

Gelas ukur yang berisi piknometer di isi dengan air suling


2. Dimasukkan gelas ukur yang berisi piknometer yang telah direndam
dengan air suling ke dalam lemari pendingin dan dibiarkan selama 15
menit dengan suhu 251C.

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Gelas ukur yang berisi piknometer dan thermometer di masukkan kedalam


lemari pendingin
3. Angkat piknometer dari gelas ukur, dan piknometer dilap dengan tissue
(pada saat mengelap piknometer diisyaratkan untuk tidak kontak langsung
antara tangan dengan piknometer, karena dapat menyebabkan suhu
piknometer tidak pada suhu 25C). Kemudian timbang berat piknometer
dengan timbangan ketelitian 0,01 gram dan dicatat beratnya sebagai berat
pikometer kosong.

Penimbangan Piknometer I

Penimbangan Piknometer II

4. Isilah piknometer dengan air suling, kemudian tutup piknometer tanpa


menekan penutupnya. Lalu diletakkan piknometer yang berisi air suling
pada gelas ukur selama 15 menit. Kemudian piknometer diangkat dari
gelas ukur dan dikeringkan dengan tissue tanpa kontak langsung dengan
tangan. Setelah dilap, piknometer berisi air suling ditimbang dengan

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

timbangan ketelitian 0,01 gram dan dicatat beratnya sebagai berat


piknometer + air suling.

Pengisian air suling Piknometer I

Pengisian air suling Piknometer II

5. Kosongkan piknometer dari air suling dan keringkan sisi dalam


piknometer. Kemudian ambil contoh Aspal Shell Pen 60-70, dan bentuk
benda uji seperti bola berdiameter lebih kecil dari diameter mulut
piknometer. Kemudian masukkan benda uji ke dalam piknometer tanpa
menyentuh sisi-sisi dalam piknometer dan tutup piknometer. Piknometer
yang telah berisi bola aspal dimasukkan ke dalam gelas ukur yang diatur
suhunya selama 10 menit, kemudian piknometer dikeluarkan dan
sikeringkan lalu ditimbang dengan timbangan ketelitian 0,01 gram dan
dicatat beratnya sebagai berat piknometer + contoh.

Penimbangan Piknometer I + Aspal

Penimbangan Piknometer I I+ Aspal

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

6. Isilah piknometer yang telah berisi benda uji dengan air suling, kemudian
tutup piknometer tanpa menekan penutupnya. Lalu diletakkan piknometer
yang berisi air suling pada gelas ukur selama 10 menit. Kemudian
piknometer diangkat dari gelas ukur dan dikeringkan dengan tissue tanpa
kontak langsung dengan tangan. Setelah dilap, piknometer berisi benda uji
+ air suling ditimbang dengan timbangan ketelitian 0,01 gram dan dicatat
beratnya sebagai berat piknometer + air suling + benda uji.

Pengisian air suling + Aspal


7. Kemudian hitung berat jenis aspal.

penimbangan air suling + Aspal

5. Hasil Praktikum dan Perhitungan


Hasil Praktikum :
URAIAN
Berat Picnometer (W1)

I
30,38

II
30,77

Satuan
Gram

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Berat Picnometer + air (W2)


Berat Picnometer + aspal (W3)
Berat Picnometer + air + aspal (W4)

56,52
33,58
56,66

SAMPEL I
Berat Air

= W2 W1
= 56,52 gram 30,38 gram
= 26,14 gram

Berat Aspal

= W3 W1
= 33,58 gram 30,38 gram
= 3,20 gram

Volume Air

= W4 W3
= 56,66 gram 33,58 gram
= 23,08 cc

Volume Aspal

= Berat Air Volume Air


= 26,14 gram 23,08 gram
= 3,06 cc

Berat Jenis Aspal =

Berat Aspal
Volume Aspal
3,20 gram
3,06 cc

= 1.046 gr/cc

SAMPEL II
Berat Air

= W2 W1
= 57,18 gram 30,77 gram
= 26,41 gram

57,18
33,59
57,33

Gram
Gram
Gram

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Berat Aspal

= W3 W1
= 33,59 gram 30,77 gram
= 2,82 gram

Volume Air

= W4 W3
= 57,33 gram 33,59 gram
= 23,74 cc

Volume Aspal

= Berat Air Volume Air


= 26,41 gram 23,74 gram
= 2,67 cc

Berat Jenis Aspal =

Berat Aspal
Volume Aspal
2,82 gram
2,67 cc

= 1.056 gr/cc
Uraian
Berat Air
Berat Aspal
Volume Air
Volume Aspal
Berat Jenis Aspal
Berat Jenis Aspal

Berat
26,14
3,2
23,08
3,06
1.046

Berat
26,41
2,82
23,74
2,67
1.056
1.051

Satuan
gram
gram
Cc
Cc
gr/cc
gr/cc

6. Kesimpulan
Berdasarkan RSNI S 01 2003 parameter yang digunakan untuk
menunjukkan berat jenis aspal agar memenuhi syarat adalah minimal satu ( >1) dan
spesifikasi hard grades bitumen diantara 1,045-1,065. Dari hasil praktikum dan
perhitungan diperoleh berat jenis aspal (I) = 1,046 dan berat jenis aspal (II) = 1.056,

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

rata-rata yang didapat dari kedua percobaan adalah 1,051. Berarti hasil percobaan
yang dilakukan memenuhi syarat/spesifikasi: 1,051 > 1.

PRAKTIIKUM PENETRASI

1. Standart Uji
SNI 06-2456-1991Metode Pengujian Penetrasi Bahan-Bahan Bitumen

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

RSNI S-01-2003, Spesifikasi Aspal Berdasarkan Penetrasi

2. Tujuan Praktikum
a. Tujuan umum :
Mahasiswa dapat menentukan nilai kekerasan aspal dengan melakukan
pengujian penetrasi menggunakan alat penetrometer, dimana pengujian ini
akan menjadi acuan penggunaan aspal dilapangan dan kondisi tertentu.
b. Tujuan khusus :
Dapat memahami prosedur pelaksanaan pengujian penetrasi bahan-bahan

bitumen
Dapat terampil menggunakan peralatan pengujian penetrasi aspal dengan

baik dan benar


Dapat melakukan pencatatan dan analisa data pengujian yang diperoleh
Dapat menyimpulkan besarnya nilai aspal yang diuji berdasarkan standar
yang diacu.

3. Dasar Teori
Yang dimaksud dengan penetrasi adalah masuknya jarum penetrasi ukuran
tertentu, beban tertentu, dan waktu tertentu ke dalam aspal pada suhu tertentu.
Aspal keras (asphalt cement ) adalah suatu jenis aspal minyak yang di dapat dari
residu hasil destilasi minyak bumi pada keadaan hampa udara. Metode ini
dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dakam pelaksanaan pengujian untuk
menentukan penetrasi aspal keras atau lembek (solid atau semi solid ). Dengan
tujuan menyeragamkan cara pengujian untuk pengendalian mutu bahan dalam
pelaksanaan pembangunan. Pengujian untuk mendapatkan angka penetrasi dan
dilakukan pada aspal keras atau lembek. Hasil pengujian tersebut kemudian
digunakan dalam pekerjaan : pengendalian mutu aspal keras atau lembek, untuk
keperluan pembangunan atau pemeliharaan jalan.
Nilai penetrasi dinyatakan sebagai rata-rata sekurang-kurangnya dari 3
pembacaan. Berdasarkan SNI 06-2456-1991 nilai penetrasi dinyatakan sebagai

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

rata-rata sekurang-kurangnya dari 3 pembacaan dengan ketentuan bahwa hasil


pembacaan tidak melampaui di bawah ini :
Hasil penetrasi

0 - 49

50 - 149

150 - 179

200

Nilai toleransi

Nilai penetrasi diukur dinyatakan dalam nilai yang merupakan kelipatan


0,1mm nilai penetrasi menentukan kekerasan aspal makin tinggi nilai penetrasi
makin lunak aspal tersebut begitu sebaliknya.
Pembagian kekerasan dan kekenyalan aspal :
1. Aspal pen 40/50 : bila jarum penetrasi benda pada range ( 40 59)
Jalan dengan volume lalu lintas tinggi.
Daerah dengan cuaca iklim panas.
2. Aspal pen 60/70 : bila jarum penetrasi benda pada range ( 60 79)
Jalan dengan volume lalu lintas sedang atau tinggi.
Daerah dengan cuaca iklim panas.
3. Aspal pen 85/100 : bila jarum penetrasi benda pada range ( 85 100)
Jalan dengan volume lalu lintas sedang / rendah.
Daerah dengan cuaca iklim dingin.
4. Aspal pen 120/150 : bila jarum penetrasi benda pada range ( 120 150)
Jalan dengan volume lalu lintas rendah.
Daerah dengan cuaca iklim dingin.
5. Aspal pen 200/300 : bila jarum penetrasi benda pada range ( 200 300)
Jalan dengan volume lalu lintas sangat rendah.
Daerah dengan cuaca iklim sangat dingin.
Aspal yang penetrasinya rendah digunakan untuk daerah panas dan lalu lintas
dengan volume tinggi, sedangkan aspal dengan penetrasi tinggi digunakan untuk
daerah bercuaca dingin dan lalu lintas rendah.
Hubungan

penetrasi

dengan

pelaksanaan

mengetahui:
1. Lokasi konstruksi jalan
2. Jenis konstruksi yang dilaksanakan
3. Suhu perkerasan, iklim kepadatan lalu lintas

dilapangan

adalah

untuk

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Dari sudut pandang rekayasa, ragam dari komposisi unsur aspal biasanya
tidak ditinjau lebih lanjut, untuk menggambarkan karakteristik ragam respon
aspal tersebut diperkenalkan beberapa parameter, salah satunya adalah Pen
(penetrasi). Nilai ini menggambarkan kekerasan aspal pada suhu standar yaitu
25C yang diambil dari pengukur kedalaman penetrasi jarum standar ( 5gr/100gr)
dalam rentang waktu standar (5 detik). BRITISH standar membagi nilai penetrasi
tersebut menjadi 10 macam, dengan rentang nilai penetrasi 15 s/d 40, sedangkan
AASTHO mendefinisikan nilai pen 40-50 sebagai nilai pen untuk material
sebagai bahan bitumen terlembek / terlunak.
Penetrasi sangat sensitif terhadap suhu, pengukuran diatas suhu kamar
menghasilkan nilai yang berbeda variasi suhu terhadap nilai penetrasi dapat
disusun sedemikian rupa hingga dihasilkan nilai grafik antara suhu dan penetrasi.
Penetrasi index dapat ditentukan dari grafik tersebut.

4. Metode Pelaksanaan
4.1 Alat dan Bahan

Cawan dari baja atau gelas silinder


Sample aspal
Alat penetrasi
Tempat pendingin aspal yang telah dicetak dicawan
Gelas ukur + air dingin

4.2 Langkah Kerja

1. Ambil sample aspal yang telah dipanaskan, tuang kedalam cawan lalu
dinginkan. Setelah dingin masukkan kedalam air sebelum diuji.

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

2. Siapkan alat penetrasi, masukkan sample kedalam wadah yang terdapat


dalam alat penetrasi dan atur jarum ke angka nol untuk mengkalibrasikan
dan atur jarum sampai mendekati sample.
3. Kemudian tuangkan air dingin ke dalam wadah penetrasi hingga melebihi
permukaan cawan sample.
4. Turunkan jarum penetrasi hingga menyentuh permukaan aspal pada
cawan.
5. Catat bacaan jarum penetrometer pada awal. Lalu tekan tekan tombol
pada penetrometer sembari memulai stopwatch dan ditahan selama 5
detik, kemudian catat bacaan jarum akhir, jarum akhir dikurangi bacaan
jarum awal, itulah nilai penetrasi aspal.
6. Lakukan kembali dengan meletakkan jarum penetrasi ditempat yang
berbeda dengan jarak kurang lebih 4 dari tempat sebelumnya, catat
hasilnya dan lakukan hingga terdapat selisih 4.

5. Hasil Praktikum dan Hasil Perhitungan


Hasil Praktikum :

Penetrasi pada suhu 25


Pengamatan 1
Pengamatan 2
Pengamatan 3
Pengamatan 4
Pengamatan 5
Rata-rata =

I
130
131
131
131
134
131,4

6. Kesimpulan
Berdasarkan

SNI

06-2456-1991, dari hasil


pengujian

nilai

rata-rata

penetrasi sebesar 131,4 dan dapat disimpulkan bahwa aspal masuk kedalan aspal

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

penetrasi 120/150 yang digunakan pada jalan dengan volume lalu lintas
sedang/rendah bercuaca iklim rendah.

PRAKTIKUM ABRASI / KEAUSAN

1. Standart Uji
a. SNI 03-2417-1991 Metode pengujian keausan agregat dengan mesin abrasi
Los Angeles.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum pengujian abrasi agregat adalah:
a. Mengetahui, menentukan dan memahami Keausan Agregat.
b. Mampu menggunakan peralatan sesuai fungsinya.
c. Mampu melakukan perhitungan ketahanan agregat terhadap keausan dengan
menggunakan mesin Abrasi Los Angeles.
3. Dasar Teori
Daya tahan agregat adalah ketahanan agregat untuk tidak hancur/pecah oleh
pengaruh mekanis ataupun kimia. Degradasi didefinisikan sebagai kehancuran
agregat menjadi partikel-partikel yang lebih kecil akibat pengaruh mekanis yang
diberikan pada waktu penimbunan pemadatan ataupun oleh beban lalu lintas.

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Disintegrasi didefinisikan sebagai pelapukan pada agregat menjadi butir-butir


halus akibat pengaruh kimiawi seperti kelembapan, kepanasan ataupun perbedaan
temperatur sehari-hari. Dengan mesin Los Angeles, hal yang dapat diuji adalah
karena pengaruh Mekanis atau degradasi saja. Sedangkan disintegrasi dengan
metode uji yang lain.
Faktor yang mempengaruhi tingkat degradasi adalah:
a.
b.
c.
d.
e.

Jenis anggregat
Gradasi aggregat
Bentuk aggregat
Ukuran partikel
Energi pemadatan

Perhitungan kadar keausan agregat :


Keausan Agregat =
Berat benda uji semulaBerat benda tertahan saringanno .12
x 100
Berat bendauji semula

Nilai Keausan Agregat dikatakan baik apabila nilai abrasi/keausan kurang dari
40%, jika nilai abrasi lebih dari 40% maka keausan agregat jelek/tidak baik.
4. Metode Pelaksanaan
a. Alat
1)
2)
3)
4)
5)

Set saringan yang terdiri dari saringan No. 3/4 dan saringan No. 3/8
Saringan No. 12 (1.7 mm).
Timbangan/neraca kapasitas lebih dari 5 kg.
Oven Agregat.
Mesin Abrasi Los Angeles yang dilengkapi bola-bola baja denga diameter

rata-rata 4.68 cm sebanyak 12 bola.


6) Pan.
7) Agregat

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

Agregat yang diambil adalah agregat yang berasal dari agregat sedang
(medium aggregate) pada tumpukan bahan pada Laboratorium Perkerasan
Jalan Politeknik Negeri Medan.
b. Langkah Kerja
1) Persiapan
Agregat yang diambil untuk pengujian abrasi agregat adalah agregat
medium (MA) yang lolos saringan No. 3/4 tertahan saringan No. 1/2
dan agregat medium (MA) yang lolos saringan No. 1/2" tertahan saringan
No. 3/8, masing-masing sebanyak 2500 gram.
Agregat yang telah diayak, dicuci bersih dan dioven pada suhu 140
10oC.
2) Persiapan
a) Dikeluarkan agregat dari oven dan didinginkan pada suhu ruangan,
hingga suhunya mencapai suhu ruangan.
b) Timbang agregat dengan berat masing-masing agregat 2500 gram.
c) Campur jadi satu kedua agregat tersebut sehingga jumlah total agregat
adalah 5000 gram.
d) Masukkan benda uji ke dalam mesin abrasi Los Angeles.
e) Nyalakan mesin tersebut sehingga berputar lalu hitung putaran
permenit yang dihasilkan alat Los Angeles. Pada pengujian kali ini
didapati putaran permenit yang dihasilkan oleh alat Los Angeles
adalah sebesar 32 putaran per menit. Sehingga untuk mendapatkan
putaran sebanyak 500 putaran diperlukan waktu sebanyak

15

menit.
f) Setelah diputar selama 15 menit, matikan mesin tersebut lalu
keluarkan benda uji ke dalam wadah yang telah disediakan.
g) Kemudian ayak benda uji dengan ayakan no. 12. Agar tidak merusak
ayakan No. 12, agregat diayak terlebih dahulu dengan ayakan No. 4.
h) Ambil benda uji yang tertahan lalu masukkan ke dalam oven, dan
dioven selama 24 jam.

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

i) Setelah itu, taruh agregat di wadah agar panasnya hilang selama


hingga suhunya mendekati suhu ruangan.
j) Kemudian timbang benda uji.
k) Hitung presentase keausan agregat.

5. Hasil Praktikum dan Hasil Perhitungan


Hasil Praktikum :
Uraian
Berat Agregat Awal
Berat Agregat setelah dimasukkan

Nilai
5000
3472

Satuan
gram
gram

mesin

Lolos

Tertahan

3/4"

1/2"

1/2"
3/8"
3/4"
No.12
Jumlah Berat

Berat

Berat

Sebelum
a (gram)

Sesudah
b (gram)

2500

= 5000 gram 3472 gram


= 1528 gram
% Abrasi =

c
x 100
a

a = 5000 gram
b = 3472 gram

2500
5000

Penyelesaian

3472
3472

c
b

=a

LABORATORIUM PERKERASAN JALAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MEDAN

1528 gram
x 100
5000 gram

= 30.56 %
6. Kesimpulan
Berdasarkan SNI 03-2417-1991 syarat untuk memenuhi nilai abrasi/keausan adalah
kurang dari 35%. Hasil praktikum abrasi/keausan didapat nilai abrasi sebesar 30.56%.
Jadi nilai keausan agregat tersebut memenuhi yaitu 30.56% < 35%.