Anda di halaman 1dari 31

PENERAPAN METODE PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI

GEOGRAFIS UNTUK ANALISA PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN


DI KOTA PEKALONGAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Besar Mata Kuliah MKP (Inderaja untuk Penataan Ruang)
TKP 449
Dosen Pengampu : Dra. Bitta Pigawati, MT

Oleh:
Nafisah Anas
21040113120054

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan, yang telah memberikan berkat dan
karunia-Nya, sehingga tugas besar ini dapat terselesaikan. Tugas besar ini merupakan salah
satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester mata kuliah MKP (Inderaja untuk Penataan
Ruang) Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Penelitian dengan judul Penerapan Metode Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi
Geografis untuk Analisa Perubahan Penggunaan Lahan di Kota Pekalongan. Penggunaan SIG
dan Penginderaan Jauh dimaksudkan untuk mempermudah perolehan data terutama dalam
bentuk data spasial dalam area yang luas sehingga lebh efiensi dalam waktu dan tenaga.
Pembahasan di dalam tugas besar mengenai jenis tutupan lahan time series sehingga diketahui
perubahan luasan tiap jenis tutupan lahan beserta besarannya dan arahan kecenderungan
perubahannya. Dengan diketahuinya hal tersebut diharapkan dapat menjadi infromasi dan
pertimbangan dalam perencanaan Kota Pekalongan.
Penulis menyadari bahwa tugas besar ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan penelitian
selanjutnya.

Semarang, Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Untuk merencanakan suatu wilayah dan kota, seorang perencana harus mempertimbang

aspek fisik, sosial, ekonomi dan politik sehingga tercipta ruang yang aman, nyaman, produktif
dan berkelanjutan. Dalam pertimbangan aspek fisik diperlukan identifikasi kondisi permukaan
bumi sebagai wilayah rencananya sehingga dapat diketahui potensi dan masalah yang dihadapi.
Analisis permukaan bumi dapat dilakukan baik secara langsung maupun melalui penginderaan
jauh. Dalam perhitungan dan prosesnya, penginderaan jauh lebih efektif digunakan di dalam
perencanaan wilayah dan kota dengan cakupan area yang luas guna menghindari kesalahan
sehingga meningkatkan akurasi dan efektifitas waktu.
Kota Pekalongan merupakan salah satu Kota dengan pertumbuhan yang cepat di Jawa
Tengah. Hal ini disebabkan karena secara regional, Pekalongan adalah kota metropolitan yang
didukung oleh beberapa wilayah hinterland yang memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi
di berbagai bidang seperti jasa, perdagangan, pariwisata, industri, dan pertanian sehingga posisi
Kota Pekalongan dalam wilayah Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten
Pemalang dan Kabupaten Banjarnegara berfungsi sebagai pusat aktivitas perdagangan dan jasa.
Selain itu, Kota Pekalongan dikenal sebagai kota budaya, karena merupakan sentral budaya
jawa yang sarat dengan nilai-nilai sosial yang melatarbelakangi berbagai perilaku dan sikap
dalam aktualisasi kehidupan masyarakat sebagai potensi dan modal dalam pembangunan
ekonomi, sosial dan budaya.
Adanya kegiatan-kegiatan tersebut menyebabkan suatu perubahan tutupan lahan,
apabila satu tutupan lahan terkena suatu aktifitas/pengaruh maka akan mengalami peningkatan,
dapat dikatakan bahwa tutupan lahan bersifat dinamik, atau selalu mengalami perubahan. Hal
dikarenakan setiap aktivitas memerlukan wadah untuk menampungnya sementara aktivitas di
Kota Pekalongan cenderung dinamis dan selalu mengalami perkembangan sehingga perubahan
bentanglahan tidakdapat dipungkiri.
Kebutuhan lahan yang tinggi tersebut menyebabkan perubahan lahan yang terjadi
secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan yang dipengaruhi oleh pertumbuhan
penduduk maupun peningkatan kualitas pelayanan daerah pelayanannya. Merujuk pada kondisi
tersebut, jelas terlihat pentingnya suatu kajian mengenai perubahan tutupan lahan di Kota
Pekalongan mengingat informasi riwayat penggunaan lahan di Indonesia kurang terekam
dengan baik maka tumpuan utama analisis perubahan tutupan lahan adalah pada data

penginderaan jauh yang disertai dengan analisis spasial dalam informasi geografi. Informasi
perubahan tutupan lahan diperlukan untuk mengetahui kecenderungan perubahan lahan
sebagai pertimbangan dalam menekan ataupun merekayasa perubahannya yang kurang sesuai
dengan RTRW dimasa depan dalam merencanakan kota yang berkelanjutan.
1.3

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah

sebagai berikut:
1. Bagaimana tutupan lahan di Kota Pekalongan pada tahun 2001 dan 2015?
2. Seberapa luaskah perubahan tiap jenis tutupan lahan di Kota Pekalongan pada tahun
2001 hingga tahun 2015?
3. Bagaimanakah arahan perubahan lahan di Kota Pekalongan?
4. Wilayah mana sajakah yang mengalami perubahan tutupan lahan di Kota Pekalongan?
1.2

Tujuan dan Sasaran

1.2.1 Tujuan
Berdasarkan dari perumusan masalah diatas, maka diperoleh rumusan tujuan yaitu
mengetahui perubahan tutupan lahan yang ada di Kota Pekalongan.
1.2.2 Sasaran
Sasaran yang di susun guna mnecapai tujuan diatas ialahsebagai berikut:
1. Mengidentifikasi tutupan lahan di Kota Pekalongan pada tahun 2001 dan 2015
2. Menganalisis luasan perubahan tiap jenis tutupan lahan di Kota Kota Pekalongan pada
tahun 2001 hingga tahun 2015
3. Menganalisis arahan peruahan tutupan lahan di Kota Pekalongan
4. Menganalisis kesesuaian lahan di Kota Pekalongan

1.4

Kerangka Pikir

INPUT

Pekalongan adalah kota metropolitan yang didukung oleh


beberapa wilayah hinterland yang memiliki potensi
ekonomi yang sangat tinggi di berbagai bidang seperti jasa,
perdagangan, pariwisata, industri, dan pertanian
Aktivitas di Kota Pekalongan cenderung dinamis
dan selalu mengalami perkembangan sehingga
berpengaruh terhadap jenis tutupan lahan

Bagaimana perubahan tutupan lahan di Kota Pekalongan?

PROSES
Identifikasi Tutupan Lahan

Analisis perubahan luasan setiap jenis


tutupan lahan

Analisis wilayah yang mengalami perubahan tutupan lahan

Analisis Kesesuaian
Pekalongan

RTRW Kota Pekalongan

OUTPUT
Kesesuaian Lahan di Kota Pekalongan

Kesimpulan dan Rekomendasi

Sumber: Hasil Analisis Pribadi, 2015


Gambar i.1
Kerangka Pikir

Lahan

di

Kota

1.5

Kerangka Analisis

Input
Tutupan Lahan di Kota
Pekalongan Tahun 2001

Proses

Output

Analisis Perubahan
luasan tiap jenis
Tutupan Lahan di
Kota Pekalongan

Perubahan luasan tiap


jenis tutupan Lahan di
Kota Pekalongan

Analisis Wilayah
yang mengalami
perubahan Tutupan
Lahan

Wilayah yang
mengalami perubahan
Tutupan Lahan

Tutupan Lahan di Kota


Pekalongan Tahun 20015

Perubahan luasan tiap


jenis tutupan Lahan di
Kota Pekalongan

Wilayah yang mengalami


perubahan Tutupan Lahan
Analisis Kesesuaian
Lahan di Kota
Pekalongan
RTRW Kota Pekalongan

Kesesuaian Lahan di
Kota Pekalongan

Kesimpulan dan
Rekomendasi

Sumber: Hasil Analisis Pribadi, 2015


Gambar i.2
Kerangka Analisis

1.6

Kajian Literatur

1.6.1 Tutupan Lahan


Aldrich dalam Lo (1995) menyatakan bahwa lahan sebagai material dasar dari suatu
lingkungan (situs) yang diartikan berkaitan dengan sejumlah karakteristik alami yaitu iklim,
geologi, tanah, topografi, hidrologi dan biologi. Lebih lanjut dijelaskan, lahan adalah suatu
lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi dan vegetasi, dimana faktor-faktor
tersebut mempengaruhi potensi penggunaannya, termasuk di dalamnya adalah akibat-akibat
kegiatan manusia baik masa lalu maupun sekarang seperti reklamasi di daerah pantai,
penebangan hutan, dan akibat-akibat lain yang merugikan seperti erosi dan akumulasi garam
(Harjdjowigeno dalam Ismail, 2004).
Istilah tutupan lahan (land cover) berkaitan erat dengan jenis kenampakan yang ada di
permukaan bumi sedangkan penggunaan lahan (land use) lebih berkaitan erat dengan kegiatan
manusia pada bidang lahan tertentu. Burley dalam Lo (1995) menjelaskan penutupan lahan
sebagai konstruksi vegetasi dan buatan yang menutup permukaan lahan. Konstruksi tersebut
seluruhnya tampak secara langsung dari citra penginderaan jauh. Terdapat tiga kelas yang
tercakup dalam penutupan lahan yaitu : (1) struktur fisik yang dibangun oleh manusia; (2)
fenomena biotik seperti vegetasi alami, tanaman pertanian dan kehidupan binatang; (3) tipe
pembangunan.
Data mengenai penutupan lahan dapat diperoleh dengan melakukan klasifikasi citra,
dimana masing-masing kenampakan yang terdapat didalam citra dapat diklasifikasikan
menjadi kelas-kelas penutupan lahan. Klasifikasi lahan merupakan penyusunan lahan ke dalam
kelas-kelas yang dipengaruhi oleh faktor karakteristik lahan, kualitas lahan, pengaruh dari
pengelolaan pertanian, penggunaan lahan, potensi penggunaan lahan, kelayakan penggunaan
lahan. Contoh pengelompokan tipe penggunaan atau penutupan lahan adalah sebagai berikut:
a. Lahan kekotaan atau bangunan, terbentuk oleh daerah yang digunakan secara intensif
dan banyak lahan yang tertutup oleh struktur. Apabila obyek mempunyai lebih dari satu
kategori, maka harus diambil kategori yang utama.
b. Lahan pertanian, dapat diartikan sebagai lahan yang penggunaannya terutama untuk
menghasilkan makanan dan serabut.
c. Lahan hutan, daerah yang kepadatan tajuk pohonnya (persentase penutup tajuk) 10%
atau lebih, batang pohonnya dapat menghasilkan kayu atau produksi kayu lainnya dan
mempengaruhi iklim atau tata air lokal.
d. Air, terdiri dari sungai, kanal, danau, waduk, teluk, muara.

e. Lahan basah, daerah yang permukaan air tanahnya padat, dekat atau diatas permukaan
lahan hampir sepanjang tahun.
f. Lahan gundul, lahan yang kemampuannya terbatas untuk mendukung kehidupan dan
vegetasi atau penutup lainnya
1.6.2 SIG
Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem yang

mampu

mengumpulkan, menyimpan, mentransformasikan (mengedit, memanipulasi, menyetarakan


format, dan lain sebagainya) (Kartasasmita, 2001). Definisi lain yang dikemukakan oleh Jaya
(2002) menjelaskan SIG sebagai sebuah sistem yang berbasis komputer, terdiri dari perangkat
keras berupa komputer (hardware), perangkat lunak (software), data geografis dan sumber daya
manusia (brainware), yang mampu merekam, menyimpan, memperbaharui, dan menganalisis
dan menampilkan informasi yang berreferensi geografis. Widjoyo dalam Bagja (2000)
menyatakan SIG sebagai suatu sistem yang mampu mendeskripsikan obyek-obyek di
permukaan bumi dalam tiga hal yaitu: data spasial yang berkaitan dengan koordinat geografi
(contoh: lintang, bujur, ketinggian), data atribut yang tidak berkaitan dengan koordinat geografi
(contoh: iklim, jenis tanah), serta hubungan data spasial, data atribut dan waktu.
Aplikasi SIG diberbagai bidang sampai saat ini semakin jauh berkembang. Prahasta
(2002) menjelaskan beberapa hal yang menjadi alasan bahwa konsep dan aplikasi SIG sangat
menarik untuk digunakan dalam berbagai bidang ilmu yaitu SIG sangat efektif, dapat
digunakan sebagai alat bantu, mampu menguraikan unsur-unsur yang terdapat di permukaan
bumi ke dalam bentuk beberapa layer atau coverage data spasial, memiliki kemampuan yang
sangat baik dalam memvisualisasikan data spasial dan bentuk atribut-atributnya serta dapat
menurunkan data-data secara otomatis tanpa keharusan untuk melakukan interpretasi secara
manual. SIG dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu, salah satunya dalam bidang
perencanaan (perencanaan pemukiman, transmigrasi, perencanaan tata ruang wilayah,
perencanaan kota, perencanaan lokasi dan relokasi industri, pasar, pemukiman),
1.6.3 Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh adalah suatu cara pemantauan tentang sifat dan kondisi suatu obyek
atau fenomena alam di permukaan bumi untuk mendapatkan informasi tentang obyek itu
sendiri ataupun sekitarnya tanpa harus kontak langsung dengan obyek tersebut melalui suatu
alat (sensor) (Kartasasmita, 2001). Penginderaan jauh memiliki kemampuan dalam melakukan
pemantauan untuk mendapatkan informasi. Informasi yang diperoleh adalah merupakan
kenampakan suatu obyek yang dapat dilihat melalui foto udara atau citra satelit.

Dalam kegiatannya, penginderaan jauh harus mempunyai alat untuk memperoleh data,
tenaga penghubung dari obyek ke sensor, ada obyek ada sensor serta keluaran. Alat yang
digunakan untuk memperoleh data berupa alat pengindera atau platform (pesawat terbang,
satelit, pesawat ulang alik atau wahana lainnya). Sedangkan tenaga penghubung yang
membawa data tentang obyek ke sensor berupa tenaga radiasi elektromagnetik. Antara tenaga
dan obyek terjadi suatu interaksi, sehingga obyek, daerah/gejala di permukaan bumi dapat
dikenali pada hasil rekaman dalam bentuk data penginderaan jauh yang dikumpulkan dan
direkam berdasarkan variasi tenaga elektromagnetik. Hasil rekaman tersebut pada akhirnya
sampai kepada pengguna data sesuai dengan tujuan masing-masing. Secara keseluruhan,
penginderaan jauh disebut sebagai suatu sistem karena terdiri dari serangkaian komponen yaitu
tenaga, obyek, sensor, data dan pengguna.
1.6.4 Keterkaitan SIG (Sistem Informasi Geografis) dan Penginderaan Jauh
Howard (1996) menyatakan keterkaitan SIG dan penginderaan jauh adalah sebagai
berikut, informasi yang diturunkan dari analisis citra penginderaan jauh dilakukan untuk
diintegrasikan dengan data yang disimpan dalam bank data SIG. Tujuan utama integrasi
penginderaan jauh dan SIG berasal dari ahli penginderaan jauh. Keinginan ini ditunjukkan
dalam pertumbuhan jumlah sistem analisis citra digital berkapasitas kecil dengan kemampuan
SIG. Biasanya masukkan dari data penginderaan jauh (data rekaman) pada sistem SIG harus
dilengkapi dengan intervensi manusia pada analisisnya. Dalam klasifikasi dan ketepatan letak,
analisis data penginderaan jauh lebih kasar dibandingkan klasifikasi yang dibutuhkan oleh para
pengguna SIG.Hal ini disebabkan ukuran piksel dari data penginderaan jauh lebih kasar dari
yang dibutuhkan di dalam sistem informasi geografis. Meskipun pengenalan pola dengan
komputer memenuhi persyaratan beberapa kategori tematik, masalah dasar untuk sistem
integrasi otomatis terletak pada perbedaan-perbedaan yang ada antara konteks spasial citra
yang diperlukan interpretasi visual. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa dalam perkembangan
integrasi penginderaan jauh dan SIG adalah estimasi bahwa aliran data memiliki arah (dari
sistem analisis penginderaan jauh ke sistem informasi geografis) yang sama. Aliran yang
sebaliknya tidak diinginkan, tetapi juga realistis diperlukan dalam analisis penginderaan jauh.
Hambatan utama terhadap pendekatan ini adalah biaya untuk membuat basis data digital SIG,
tetapi hal tersebut dapat ditekan dengan cara peningkatan dan perbaikan tersedianya perangkat
keras dan perangkat lunak serta peta-peta digital yang telah tersedia dalam bentuk digital.
Dari hasil penginderaan jauh dapat diketahui kenampakan bumi (data real time atau
data yang sebenarnya), dapat dilakukan klasifikasi sesuai dengan data yang sebenarnya
kemudian dirubah dalam format SIG menjadi vektor dan diintegrasikan dengan data-data

vektor lainnya hasil digitasi dari informasiinformasi geografis lainnya. Contoh penginderaan
jauh yang digunakan dalam proses penelitian ini yaitu:
Klasifikasi Tak Terbimbing
Klasifikasi tidak terbimbing merupakan metode yang memberikan mandat sepenuhnya
kepada sistem/komputer untuk mengelompokkan data raster berdasarkan nilai spektralnya
masing-masing, intervensi pengguna dalam hal ini diminimalisasi. Jenis metode ini digunakan
bila kualitas citra sangat tinggi dengan distorsi atmosferik dan tutupan awan yang rendah
Klasifikasi Terbimbing
Klasifikasi terbimbing (supervised classification) merupakan metode yang dipandu dan
dikendalikan

sebagian

besar

atau

sepenuhnya

oleh

pengguna

dalam

proses

pengklasifikasiannya. Intervensi pengguna dimulai sejak penentuan training area hingga tahap
pengklasterannya. Klasifikasi terbimbing dalam hal ini mensyaratkan kemampuan pengguna
dalam penguasaan informasi lahan terhadap areal kajian.
1.6.5 Karakteristik Citra LANDSAT
Landsat 8 merupakan kelanjutan dari misi Landsat yang untuk pertama kali menjadi
satelit pengamat bumi sejak 1972 (Landsat 1). Satelit LDCM (Landsat-8) dirancang
menggunakan suatu platform dengan pengarahan titik nadir yang distabilkan tiga-sumbu.
Satelit LDCM (Landsat-8) ini diorbitkan pada pada ketinggian :705 km, dengan inklinasi :
98.2, periode : 99 menit, waktu liput ulang (resolusi temporal):16 hari yang mendekati
lingkaran sikron matahari. Satelit landsat 8 memiliki sensor Onboard Operational Land Imager
(OLI) dan Thermal Infrared Sensor (TIRS) dengan jumlah kanal sebanyak 11 buah. Diantara
kanal-kanal tersebut, 9 kanal (band 1-9) berada pada OLI dan 2 lainnya (band 10 dan 11) pada
TIRS.

Sumber: L http://landsat.usgs.gov/L8_band_combos.php
Gambar i.3
Perbedaan Panjang Gelombang landsat 7 dan 5 terhadap Landsat 8

Tabel i.1
Karakteristik Band Citra Landsat 8
Band
Band 1 - coastal aerosol
Band 2 blue
Band 3 green
Band 4 red
Band 5 Near
Infrared (NIR)
Band 6 - Short-wave Infrared
(SWIR) 1
Band 7 - Short-wave Infrared
(SWIR) 2
Band 8 - Panchromatic
Band 9 Cirrus
Band 10 TIRS 1

Panjang
gelombang
0,43-0,45
0,45-0,51
0,53-0,59
0,64-0,67
085.-0.88

Kegunaan untuk pemetaan


Studi pesisir dan aerosol
Pemetaan batimetri, membedakan tanah
Menekankan vegetasi puncak, yang berguna untuk
menilai kekuatan tanaman
Mendiskriminasikan lereng vegetasi
Menekankan konten biomassa dan garis pantai

1,57-1,65

Mendiskriminasikan kadar air tanah dan


vegetasi; menembus awan tipis
2,11-2,29
Peningkatan kadar air tanah dan vegetasi,penetrasi awan
tipis
0,50-0,68
Resolusi 15 meter, definisi gambar yang lebih tajam
1.36 -1.38
Peningkatan deteksi kontaminasi awan cirrus
10,60-11,19
Resolusi 100 meter, pemetaan termal dan perkiraan
kelembaban tanah
Band 11 TIRS 2
11,5-12,51
Resolusi 100 meter, Peningkatan pemetaan termal
dan perkiraan kelembaban tanah
Sumber: L http://landsat.usgs.gov/L8_band_combos.php

Sensor pencitra OLI pada Lansat-8 mempunyai kanal-kanal spektral yang menyerupai
sensor ETM+ (Enhanced Thermal Mapper plus) pada Landsat-7. Hanya saja sensor OLI ini
mempunyai tambahan kanal-kanal yang baru yaitu : kanal deteksi aerosol garis pantai (kanal1: 443 nm) dan juga kanal untuk deteksi cirrus (kanal 9: 1375 nm). Berdasarkan karakteristik
diatas, maka band yang digunakan dalam identifikasi tutupan lahan ialah band 1, 2, 3, 4, 5, 6,
7 dan 9 karena band 8 merupakan citra pankromatik yang juga memiliki resolusi spasial yang
berbeda, sementara band 10 dan 11 merupakan band pemetaan suhu yang juga memiliki
resolusi spasial yang berbeda.
Kanel pada Citra Landsat 8 mengalami penambahan band, sehingga kombinasi yang
digunakan untuk membuat komposit RGB berbeda dari Landsat 7 dan Landsat 5. Misalnya,
band true color 4, 3, 2 digunakan untuk membuat inframerah warna ( CIR ) gambar dengan
menggunakan Landsat 7 atau Landsat 5 . untuk membuat komposit CIR menggunakan Landsat
8 maka kombinasi bandnya ialah 5, 4, 3.

Sumber: L http://landsat.usgs.gov/L8_band_combos.php
Gambar i.4
Perbedaan Kombinasi RGB landsat 7 dan 5 terhadap Landsat 8

1.6.4 Kota Pekalongan


Kota Pekalongan merupakan salah satu kota di Propinsi Jawa Tengah dan menjadi
daerah pelayanan/hub bagi kawasan hinterlandnya yang meliputi Kabupaten Batang,
Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Banjarnegara. Kota ini terletak
di jalur Pantura yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya. Pekalongan berjarak 101
km sebelah barat Semarang, atau 384 sebelah timur Jakarta. Pekalongan dikenal dengan
julukan kota batik, karena batik Pekalongan memiliki corak yang khas dan variatif. Kota
Pekalongan masuk jaringan kota kreatif UNESCO dalam kategori crafts & folk art pada
Desember 2014 dan memiliki city branding World's city of Batik. Kota Pekalongan
mempunyai luas 45,25 km2 dan secara geografis terletak pada 6504265544 LS
10937551094219 BT. Batas-batas administrasi Kota Pekalongan adalah :
a.

sebelah Utara, berbatasan dengan laut Jawa

b.

sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Batang

c.

sebelah Selatan, berbatasan dengan Kabupaten pekalongan dan Kabupaten Batang

d.

sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan


Berdasarkan posisi strategis Kota Pekalongan ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan

Nasional dan kawasan andalan Provinsi Jawa Tengah, yang diharapkan menjadi pusat
pertumbuhan wilayah Jawa Tengah bagian timur. Dinamika pertumbuhan pembangunan Kota
Pekalongan tersebut juga didukung oleh potensi ekonomi yang sangat tinggi, khususnya di
bidang perdagangan, jasa, pariwisata, industri dan lain sebagainya. Salah produk RTRW Kota

Pekalongan ialah peta rencana pola ruang dimana didalamnya terdapat rencana peruntukkan
ruang yang dapat dijadikan acuan dalam pemanfaatan ruang.

Sumber: BPS Kota Pekalongan


Gambar i.5
Peta Rencana Pola Ruang Kota Pekalongan

BAB 2
LANGKAH KERJA

2.1

Diagram Kerja

Citra Provinsi Jawa Tengah


tahun 2001

Citra Provinsi Jawa Tengah


tahun 2015

Menggabungkan Band 1, 2, 3,
4, 5 dan 7

Menggabungkan Band 1, 2, 3,
4, 5, 6, 7 dan 9

Koreksi Geometrik

Koreksi Geometrik

Koreksi Radiometrik

Koreksi Radiometrik

Citra Komposit true color

Citra Komposit true color

Pemotongan Citra (Cropping)

Pemotongan Citra (Cropping)

Klasifikasi Tutupan Lahan


(unsupervised classification)

Klasifikasi Tutupan Lahan


(unsupervised classification)

Analisis Perubahan Tutupan Lahan

Analisis Wilayah yang Mengalami Perubahan Tutupan Lahan

RTRW Kota

Kesesuaian Penggunaan Lahan

Pekalongan
Tidak
sesuai

Sesuai

Kesimpulan dan
Rekomendasi

2.3

Tahapan Kerja
Menggabungkan Band
1. Membuka applikasi ErMapper dengan mengetikkan keyword ErMapper pada kotak
pencarian di windows kemudian tekan tombol enter

2. Maka tampilan applikasi ErMapper akan muncul

3. Klik fileopen lalu pilih salah satu band citra tahun 2001 yang digunakan kemudian
klik OK

4. Klik edit algorithm

lalu klik duplicate

sebanyak 5 kali sehingga pseudo layer

menjadi 6 kemudian ubah nama layer tersebut seperti gambar dibawah

5. Klik band 2 kemudian klik load data set

kemudian pilih citra sesuai dengan nama

terakhir yang sesuai dengan nama layer lalu klik OK this layer only. Lakukan hal
tersebut pada band yang lainnya

6. Klik filesave as kemudian beri nama gabung dengan ekstensi .ers lalu klik OK, OK

7. Melakukan langkah diatas untuk citra 2015 dengan jumlah pseudo layer menjadi 8,
band yang terpilih ialah 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan 9 menjadi file 2015.ers.
Koreksi geometrik
1.

klik processgeocoding wizard

2.

Pada tab start, input file pilih citra yang digunakan yakni gabungan.ers (citra landsat
yang digunakan) kemudian klik OK.

3.

Pada tab polynomial setup pilih linear.

4.

Pada tab GCP Setup, output coordinate space klik change kemudian datum pilih
WGS84, projection pilih SUTM49 dan coordinate system type pilih eastings/northings
kemudian klik OK dan save.

5.

Pada tab GCP Edit, klik add new GCP sehingga menjadi empat kolom untuk GCP.
Letakkan masing-masing titik GCP pada lokasi yang mudah dikenali yakni di sekitar
Kota Semarang sehingga muncul nilai dari sel x dan y

6.

Buka applikasi google earth kemudian zoom pada lokasi yang dikenali yakni Kota
Semarang, beri tanda pada empat titik yang dikenali (yang sama persis titik pada GCP
edit Geocoding Wizard ErMapper) kemudian klik kanan pada titik tersebut dan lihat nilai
eastings dan northingnya kemudian salin nilai tersebut pada kolom easting dan northing
di geocoding wizard ErMapper.

Setelah semua sel easting dan northing terisi, ubah mode edit menjadi on maka nilai RMS
akan muncul, nilai RMS merupakan nilai kesalahan sehingga semakin kecil maka
semakin akurat koreksi geometrik yang dilakukan. Untuk membuat nilai RMS menjadi
lebih kecil, geser titik pada GCP di ErMapper, lakukan hal ini hingga semua nilai RMS
mendekati 0 (nol), kemudian klik save.

7.

Pada tab Rectify, output info ubah menjadi TIF kemudian klik OK dan klik save dan
Save File and Start Rectification, maka proses rektifikasi dimulai.

Tunggu beberapa saat hingga muncul pemberitahuan rektifikasi selesai kemudian klik
OK.

Koreksi radiometrik
1.

klik fileopen gabungan.tiff

2.

klik algorithm

3.

Klik R maka akan muncul nilai actual input limit, ubah nilai tersebut menjadi 0-255

lalu klik edit transform limit

4.

Melakukan langkah 3 pada G dan B kemudian klik filesave

5.

Melakukan langkah 1-4 pada citra 2015.

Citra komposit
1.

Membuka citra yang telah terkoreksi radiometri kemudian klik algorithm

dan

mengatur susunan RGBnya menjadi 321.

2.

klik windownew window pada window baru tersebut klik fileopen pilih citra
tahun 2015 yang telah terkoreksi geometrik.

3.

klik algorithm

dan mengatur susunan RGBnya menjadi 432.

Pemotongan Citra
1.

Mengubah format batas administrasi *.shp menjadi *.erv. Pada menu bar klik
Utilitiesimport Vector dan GIS formatESRI shape fileimportOK.

Pada input file pilih shp batas adminstrasi Kota Pekalongan, pada output file pilih
ekstensinya menjadi erv, map projection pilih SUTM49, geodetic datum pilih WGS84,
set color pilih warna merah untuk batas croppingnya. Setelah itu klik OK. Jika proses
tersebut berhasil maka pemberitahuan akan muncul

2.

Membuka file batas wilayah yang telah diimpor pada citra, buka Algorithm klik
editadd vector layerannotation.

Dari annotation layer klik load dataset untuk membuka file batas wilayah studi yang
telah diimport tadi dalam bentuk erv kemudian klik OK. Maka batas administrasi akan
muncul pada citra.

3.

Pada kotak dialog Algorithm, klik layer Annotation Layer kemudian klik tool
Annotate Vector layer

Klik tool Select/edit points mode, kemudian klik area

dalam batas adminstrasi pada citra.

Klik Display/edit object attribute, kemudian ketikkan gabungan (sesuai nama


citranya) klik apply yesclose.

Kemudian klik tool Save Asraster regionOKOK.

4.

Klik edit formula

. klik icon R. Pada kotak input formula ketikkan if inregion

(gabungan) then i1 else null kemudian klik apply changes.

5.

Melakukan langkah 4 untuk layer G dan B.

6.

klik filesave as. Klik OK , yes kemudian OK. Maka hasil cropping akan muncul

7.

Melakukan langkah 2-6 pada citra 2015.

Klasifikasi Tutupan Lahan (Unsupervised Classification)


1.

klik ProcessclassificationISOCLASS Unsupervised Classification

2.

pada kotak dialog Unsupervised Classification, pilih citra yang telah terpotong pada
langkah sebelumnya pada input data set, all untuk bands to use dan ketikkan nama
output pada output dataset. Autogenerate isikan 10, maximum iteration isikan 50 dan
maximum number of class isikan 8 dan biarkan data yang lain kemudian klik OK maka
proses klasifikasi akan dimulai.

3.

klik windowsnew windows pada menu bar

Kemudian buka file klasifikasi tadi dengan klik fileopen maka akan muncul window
berwarna hitam

klik kanan pada citra kemudian klik algorithm. klik editchange raster layerclass
display maka tampilan klasifikasi citra ditampilkan dalam bentuk pankromatik hitam
putih.

3.

klik editedit class

Ganti warna dan keterangan sesuai tutupan lahan yang mungkin, kemudian klik save.
Klik refresh

pada algorithm maka warna pada window akan berubah sesuai

pengaturan.
4.

Melihat luasan dari setiap jenis tutupan lahan, Klik viewstatisticarea summary
report

Isikan input data file klasifikasi tadi kemudian klik OK maka akan muncul tabel luasan
wilayah per kelas.

BAB 3
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Hasil dan Pembahasan


Berdasarkan langkah kerja yang telah dilakukan, didapatkan beberapa output dan

analisis sebagai berikut:


a.

Tutupan Lahan Kota Pekalongan tahun 2001


Berdasarkan langkah kerja yang telah dilakukan menggunkaan citra Landsat 5 tahun

2001 dengan komposit band 321 menggunakan klasifikasi tak terbimbing maka didapat output
berupa peta tutupan lahan Kota Pekalongan tahun 2001. Pada peta terlihat bahwa tutupan lahan
Kota Pekalongan terdiri

dari bangunan, tanah gundul, hutan, pertanian dan air dimana

persebarannya relatif hampir di seluruh bagian. Pada daerah pesisir didominasi oleh tutupan
lahan hutan, pada daerah selatan didominasi oleh pertanian pada tengah wilayah didominasi
oleh tuupan terbangun sementara tanah gundul tersebar hampir merata di semua bagian.
Diperkirakan tutupan lahan tanah gundul ini merupakan lapangan, pematang, sawah kering
usai panen maupun yang siap panen. Berikut peta tutupan lahan Kota Pekalongan Tahun 2001.

awan
Lahan Basah

Sumber: Hasil Analisis Pribadi, 2015


Gambar iii.1
Peta Tutupan Lahan Kota Pekalongan Tahun 2001

Komposisi tutupan lahan Kota Pekalongan tahun 2001 diketahui bahwa tutupan lahan
didominasi oleh tutupan hutan sebesar 35%, kemudian kawasan terbangun sebesar 29% dan
tanah gundul (pematang, sawah kering ataupun lapangan) sebesar 22% dan sisanya ialah lahan
basah (tambak), air dan pertanian. Pada peta terlihat bahwa terdapat tutupan awan yang
menghalangi area penelitian sebesar 4% sehingga analisis tutupan lahan menjadi kurang
informastif, hal ini dikarenakan citra yang digunakan (landsat 5) merupakan citra pasif yang
hanya mengandalkan energi matahari sehingga tidak mampu mengatasi gangguan berupa
awan. Berikut tabel persentase luasan tutupan lahan Kota Pekalongan Tahun 2001 dari total
luas wilayah 45,25 Km2

Persentase Tutupan Lahan Kota Pekalongan


Tahun 2001
5%

3%

4%

22%

29%

35%
2%

Air

Awan

Tanah Gundul

Hutan

Lahan Basah

Terbangun

Pertanian

Sumber: Hasil Analisis Pribadi, 2015


Gambar iii.2
Diagram Janis Tutupan Lahan Kota Pekalongan Tahun 2001

b.

Tutupan Lahan Kota Pekalongan tahun 2015


Berdasarkan langkah kerja yang telah dilakukan menggunkaan citra Landsat 8 tahun

2015 dengan komposit band 432 menggunakan klasifikasi tak terbimbing maka didapat output
berupa peta tutupan lahan Kota Pekalongan tahun 2015. Pada peta terlihat bahwa tutupan lahan
Kota Pekalongan terdiri dari bangunan, tanah gundul, hutan dan pertanian yang persebarannya
relatif hampir di seluruh bagian. Pada daerah pesisir didominasi oleh tutupan lahan pertanian
dan terbangun, pada daerah timur didominasi oleh tanah gundul yang mengindikasikan adanya
sawah yang telah siap panen ataupun usai panen sehingga memiliki nilai spektral yang sekelas
dengan tanah kosong seperti peatang. Berikut peta tutupan lahan Kota Pekalongan Tahun 2015.

Sumber: Hasil Analisis Pribadi, 2015


Gambar iii.3
Peta Tutupan Lahan Kota Pekalongan Tahun 2015

Komposisi tutupan lahan Kota Pekalongan tahun 2015 diketahui bahwa tutupan lahan
didominasi oleh tutupan terbangun sebesar 35%, hal ini menunjukkan bahwa Kota Pekalongan
pada Tahun 2015 sudah mengalami perkembangan yang ditandai area terbangunnya sudah
mendominasi. Persentase luasan tanah gundul (pematang, sawah kering ataupun lapangan)
sebesar 27% dan pertanian sebesar 26% dan sisanya ialah hutan sebesar 12% hal ini
menandakan kurangnya ruang terbuka hijau di Kota Pekalongan yang seharusnya mencapai
30% menurut UU RI No.26 tahun 2007. Hanya terdapat empat jenis tutupan lahan yang
terdeteksi oleh citra landsat 8 dengan pengolahan data klasifikasi tak terbimbing. Berdasarkan
hal tersebut hal ini menandakan adanya konversi lahan. Pada peta sudah tidak terdapat tutupan
awan yang menghalangi area penelitian sehingga analisis tutupan lahan menjadi lebih
informastif. Berikut tabel persentase luasan tutupan lahan Kota Pekalongan Tahun 2001 dari
total luas wilayah 45,25 Km2

Persentase Tutupan Lahan di Kota Pekalongan


Tahun 2001
12%

35%

27%

26%

Terbangun

Pertanian

Tanah Gundul

Hutan

Sumber: Hasil Analisis Pribadi, 2015


Gambar iii.4
Giagram Janis Tutupan Lahan Kota Pekalongan Tahun 2015

3.2

Analisis
Perubahan Tutupan Lahan di Kota Pekalongan
1800
1600
1400
1200
1000
800
600
400
200
0
2001

2015

Air

Awan

Tanah Gundul

Lahan Basah

Terbangun

Pertanian

hutan

Sumber: Hasil Analisis Pribadi, 2015


Gambar iii.3
Grafik Perubahan Tutupan Lahan Tahun 2001 2015
Tabel iii.2
Tabel Besar Perubahan Tutupan Lahan Kota Pekalongan Tahun 2001-2015
Tutupan
Lahan
Air
Awan
Tanah Gundul
Hutan
Lahan Basah

Perubahan
(Ha)
-110,52
-389,63
351,36
-482,42
-121,1

Terbangun
411,93
Pertanian
340,38
Sumber: Hasil Analisis Pribadi, 2015

Berdasarkan grafik dan tabel diatas terlihat bahwa terdapat perubahan tutupan lahan
yang drastis selama 14 tahun terakhir, yakni dari tahun 2001 menuju 2015. Perubahan tersebut
terjadi pada tutupan lahan hutan yang turun hingga 482,42 Ha, kemudian lahan terbangun yang
bertambah 411 Ha, Tanah Gundul (tegalan atau sawah kering) bertambah 351 Ha, dan
Pertanian 340 Ha. Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya konversi lahan dalam upaya
memenuhi kebutuhan permukiman dan pangan dimana Kota Pekalongan tumbuh menjadi Kota
industri, selian itu fungsi kota ini melayani daerah hinterlandnya sehingga pembangunan
bepusat di Kota Pekalongan terlebih adanya jalan pantura yang memudahkan aksesibilitas
tentunya menarik masyarakat untuk tinggal disana. Konversi lahan yang kemungkinan terjadi
ialah pada hutan dimana lahan ini mengalami penurunan luas sementara tanah gundul sebagai
area sawah kering, pertanian dan terbangun meningkat.
Jika dikaitkan dengan daya dukung lahan yang berasal dari rencana pola ruang Kota
pekalongan, maka tidak terdapat ketidaksesuaian lahan eksisting terhadap rencana. Namun,
Kota Pekalongan masih perlu menyediakan setidaknya RTH seluas 30% dari wilayah total
dimana pada peta hasil analisis hanya terdapat 12%.
3.3

Kesimpulan dan rekomendasi

3.3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa:

Tutupan lahan di Kota Pekalongan pada tahun 2001 terdiri atas bangunan, tanah gundul,
hutan, pertanian dan air yang didominasi oleh tutupan hutan sebesar 35%, kemudian
kawasan terbangun sebesar 29% dan tanah gundul (pematang, sawah kering ataupun
lapangan) sebesar 22%. Namun pada tutupan lahan tersebut terdapat awan sehingga
mengurangi keakuratan persentase luasan tutupan lahan.

Tutupan lahan di Kota Pekalongan pada tahun 2015 terdiri atas bangunan, tanah gundul,
hutan dan pertanian yang didominasi oleh tutupan terbangun sebesar 35%, hal ini
menunjukkan bahwa Kota Pekalongan pada Tahun 2015 sudah mengalami
perkembangan yang ditandai area terbangunnya sudah mendominasi. Namun
persentase hutan hanya sebesar 12% hal ini menandakan kurangnya ruang terbuka hijau
di Kota Pekalongan yang seharusnya mencapai 30% menurut UU RI No.26 tahun 2007.

Sepanjang tahun 2001 hingga 2015, terdapat perubahan penggunaan lahan di Kota
Pekalongan. Perubahan terbesar terjadi pada tutupan lahan hutan yang turun hingga

482,42 Ha, kemudian lahan terbangun yang bertambah 411 Ha, Tanah Gundul
bertambah 351 Ha, dan Pertanian yang juga bertambah 340 Ha

Jika dikaitkan dengan daya dukung lahan yang berasal dari rencana pola ruang Kota
pekalongan, maka tidak terdapat ketidaksesuaian lahan eksisting terhadap rencana.
Namun, Kota Pekalongan masih perlu menyediakan setidaknya RTH seluas 30% dari
wilayah total dimana pada peta hasil analisis hanya terdapat 12%.

3.3.2 Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat direkomendasikan bagi stakeholder
setempat untuk menyediakan ruang terbuka hijau baik itu berupa pengaktifan fungsi hutan,
sempadan sungai, sempadan jalan dan taman. Pengadaan RTH ini dapat dilaksanakan dengan
meminimalisir pembangunan secara horizontal, yakni vertikal sehingga tiap bangunan dapat
menyumbang ruang terbuka hijau bagi Kota Pekalongan, selain itu pengadaan konversi lahan
dengan mengganti lahan pertanian maupun tanah gundul yang kurang produktif menjadi
tanaman kayu produktif.

DAFTAR PUSTAKA

Prahasta, Eddy. 2009. Sistem Informasi Geografis Konsep Konsep Dasar (Perspektif Geodesi
dan Geomatika). Bandung. Informatika.
Saripin, Ipin. 2003. Kajian Pemanfaatan Satelit Masa Depan:Sistem Penginderaan Jauh Satelit
Ldcm (Landsat-8) Buletin Teknik Pertanian Vol.8 No.2.
Sitanggang, Gokmaria. Kajian Pemanfaatan Satelit Masa Depan: Sistem Penginderaan Jauh
Satelit Lcdm (Lansat-8) Peneliti Bidan Bangfaja. LAPAN.
Sutanto.1998. Penginderaan Jauh (Jilid 1). Jogjakarta:Gadjah Mada University Press.
Bintarto R. 1977. Geografi Sosial. Yogyakarta: U.P Spring.
Chapin F. Stuart and Edward J. Kaiser. 1979. Urban Land Use Planning. University Chicago:
University of Illionis Press.
Dilang, Merisa. 2008. Implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW): Studi Kasus
Indikasi
Rahayu, Sri. 2009. Kajian Konversi Lahan Pertanian di Daerah Pinggiran Kota Yogyakarta
Bagian Selatan (Studi Kasus di Sebagian Daerah Kecamatan Umbulharjo). Jurnal
Pembangunan Wilayah dan Kota. Universitas Diponegoro, Semarang. Volume (5),
Desember 2009, 365372.