Anda di halaman 1dari 112

RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN

KONSERVASI TAMAN PESISIR PANTAI PENYU PANGUMBAHAN


KECAMATAN CIRACAP KABUPATEN SUKABUMI

PEMERINTAH KABUPATEN SUKABUMI

DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN


KOMPLEK PERKANTORAN CIMAJA JALAN RAYA CISOLOK KM. 11
TELP. (0266) 436423, 436424 CIMAJA PALABUHANRATU

ii

Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan Kec. Ciracap

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi karena atas berkat dan rahmat-Nya
kami dapat menyusun Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat ini.
Penyusunan ini diperlukan sebagai sebuah rujukan pengelolaan kedepan agar dapat diperoleh hasil
yang optimal dalam melahirkan kinerja pelestarian dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana
yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.
Rencana pengelolaan dan zonasi memang selayaknya mendapat apresiasi karena dari situlah
kita berangkat: bagaimana proses perjalanannya, kemana yang mau dituju dan apa yang mau
dicapai. Maka, dengan Rencana pengelolaan dan zonasi ini pula kami dapat mengukur kinerja dan
pencapaian hasil yang diharapkan, sehingga bila mengalami hambatan dan kegagalan akan segera
dapat dievaluasi dan dideteksi akar permasalahannya, sekaligus dicarikan upaya pemecahannya
melalui perbaikan rencana dan peningkatan kapasitas SDM dan lembaga serta perubahan kebijakan
sesuai yang diperlukan.
Akhirnya pada kesempatan ini juga kami menyampaikan terima kasih yang sedalamdalamnya, antara lain kepada:
1. Menteri Kelautan dan Perikanan RI, khususnya kepada Direktorat Kawasan Konservasi
dan Jenis Ikan, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil;
2. Bupati Sukabumi;
3. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat;
4. Bappeda Kabupaten Sukabumi; dan
5. Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten Sukabumi.
Akhirnya hanya kepada Allah-lah kita bersenandung harap agar perjalanan pengelolaan
kawasan konservasi kedepan dapat lebih baik lagi dibanding dengan apa yang telah dicapai saat
ini.

Palabuhanratu,

Juni 2014

Penyusun,

Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

..

DAFTAR ISI
I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
1.2.
Tujuan
1.3.
Ruang Lingkup

..

ii

..
..
..

I-1
I-8
I-8

..
..
..
..
..

II-1
II-1
II-8
II-26
II-26

..

II-27

..

II-28

..

II-28

..
..
..
..
..
..

III-1
III-3
III-3
III-4
III-6
III-6

..

III-7

..
..
..

III-7
III-7
III-13

..

IV-1

..
..
..
..

IV-2
IV-2
IV-3
IV-3

..
..

IV-5
IV-7

II.

III.

IV.

POTENSI DAN PERMASALAHAN


PENGELOLAAN
2.1.
Potensi
2.1.1 Potensi Ekologis
2.1.2 Potensi Ekonomi
2.2.
Permasalahan
2.2.1 Masih Rendahnya Kesadaran
Masyarakat terhadap Lingkungan dan
Kepemilikan Lahan
2.2.2 Rendahnya Ketaatan Masyarakat
terhadap Hukum dan Peraturan
2.2.3 Masih Rendahnya Sinergitas
Pengelolaan (internal) dengan
Keberadaan Lingkungan Sekitar
(eksternal)
2.2.4 Permasalahan Pengelolaan
PENATAAN ZONASI
3.1
Umum
3.2
Zona Inti
3.2.1 Sub Zona Inti Daratan
3.2.2 Sub Zona Inti Perairan
3.3
Zona Pemanfaatan Terbatas
3.3.1 Sub Zona Ekowisata dan Fasilitas
Umum
3.3.2 Sub Zona Camping Ground dan Out
Bound
3.3.3 Sub Zona Surfing
3.3.4 Sub Zona Perikanan Tradisional
3.4
Zona Lainnya
RENCANA JANGKA PANJANG
4.1
Kebijakan Pengelolaan Kawasan
Konservasi Perairan
4.1.1 Visi dan Misi
4.1.2 Tujuan dan Sasaran Pengelolaan
4.2
Strategi Pengelolaan
4.2.1 Penguatan Kapasitas Kelembagaan
Pengelola dan Para Pihak
4.2.2 Penguatan Pengelolaan Sumber Daya
4.2.3 Penguatan Sosial, Ekonomi dan Budaya
Masyarakat di Sekitar Kawasan

ii

Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan Kec. Ciracap

..

IV-7

..

V-1

..

V-1

..
..

V-2
V-3

..
..

V-3
V-4

..

V-4

..
..

V-5
V-6

..
..

V-6
V-6

..

V-6

..
..

V-7
V-8

..
..

V-8
V-9

..

V-9

..
..

V-9
V-10

..

V-10

RENCANA RINCI 20 TAHUN


6.1
Rencana Jangka Menengah I Tahun
2015 s.d. 2019

..

VI-1

PENUTUP

..

VII-1

4.2.4

V.

VI.

VII.

Promosi

RENCANA JANGKA MENENGAH


5.1
Rencana Jangka Menengah I Tahun
2015 s.d. 2019
5.1.1 Penguatan Kapasitas Kelembagaan
Pengelola dan Para Pihak
5.1.2 Penguatan Pengelolaan Sumber Daya
5.1.3 Penguatan Sosial, Ekonomi dan Budaya
Masyarakat di Sekitar Kawasan
5.1.4 Promosi
5.2
Rencana Jangka Menengah II Tahun
2020-2024
5.3.1 Penguatan Kapasitas Kelembagaan
Pengelola dan Para Pihak
5.3.2 Penguatan Pengelolaan Sumber Daya
5.3.3 Penguatan Sosial, Ekonomi dan Budaya
Masyarakat di Sekitar Kawasan
5.3.4 Promosi
5.3
Rencana Jangka Menengah II Tahun
2020-2024
5.3.1 Penguatan Kapasitas Kelembagaan
Pengelola dan Para Pihak
5.3.2 Penguatan Pengelolaan Sumber Daya
5.3.3 Penguatan Sosial, Ekonomi dan Budaya
Masyarakat di Sekitar Kawasan
5.3.4 Promosi
5.4
Rencana Jangka Menengah II Tahun
2020-2024
5.4.1 Penguatan Kapasitas Kelembagaan
Pengelola dan Para Pihak
5.4.2 Penguatan Pengelolaan Sumber Daya
5.4.3 Penguatan Sosial, Ekonomi dan Budaya
Masyarakat di Sekitar Kawasan
5.4.4 Promosi

Lampiran-lampiran:
1. Peta Zonasi Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
2. Titik Koordinat Zona-zona Dalam Kawasan

iii

Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan Kec. Ciracap

I-1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Provinsi Jawa Barat dengan jarak
tempuh 95 km dari Ibukota Provinsi Jawa Barat (Bandung) dan 120km dari
Ibukota Negara (Jakarta). Secara geografis, Kabupaten Sukabumi merupakan
kabupaten terluas di Provinsi Jawa dan Bali, terletak diantara 6057-7025 Lintang
Selatan dan 106049 - 107000 Bujur Timur. Kabupaten Sukabumi mempunyai
luas wilayah 4.128 km2 atau 14,39 persen dari luas Jawa Barat atau 3,01 persen
dari luas Pulau Jawa. Panjang garis pantai sekitar 123 km, umumnya berupa
kawasan pesisir dengan garis pantai yang curam dan kondisinya relatif lestari.
Disamping itu juga berhubungan langsung dengan Zona Ekonomi Eksklusif
(ZEE) Indonesia yang masih memiliki sumber daya under exploited sehingga
terbuka peluang untuk dimanfaatkan secara optimal.
Kabupaten Sukabumi memiliki 9 (sembilan) kecamatan pesisir, yaitu:
Kecamatan Ciemas, Ciracap, Surade, Palabuhanratu, Simpenan, Cikakak,
Cisolok, Tegalbuleud dan Cibitung. Satu kecamatan menjadi daya tarik tersendiri
karena menjadi tempat bertelurnya penyu, yakni Kecamatan Ciracap, tepatnya di
Desa Pangumbahan.
Sejarah pengelolaan Pantai Pangumbahan yang terletak di pantai Selatan
Sukabumi dimulai sejak tahun 1970-an. Pada masa itu Bupati Sukabumi memberi
lisensi pengunduhan/pemungutan telur penyu selama 1 (satu) tahun kepada
pakhter (penyewa/pengontrak) tertentu melalui sistem penunjukan. Dalam 1
tahun berlakunya lisensi tersebut, pakhter hanya diperbolehkan mengunduh
sepanjang 9 bulan sedangkan sisa waktu 3 bulan dilarang untuk mengunduh
dengan tujuan memberi kesempatan bagi telur penyu untuk dapat menetas secara
alamiah. Dalam kenyataannya, waktu 3 bulan tersebut di atas justru dianggap
oleh masyarakat setempat (pihak diluar penyewa) sebagai hak mereka untuk
memungut telur penyu.
Sejarah
Periode 1973-1979: Izin pengelolaan diterbitkan oleh Bupati Sukabumi
dengan jangka waktu setahun sekali dikelola oleh CV. Daya Bakti.

I-2

Periode 1980-1990: Izin pengelolaan diterbitkan oleh Bupati Sukabumi


dengan jangka waktu 10 tahun yang dikelola oleh CV. Daya Bakti.
Pada tahun 1993, mekanisme pemilikan hak pengelolaan Pantai
Pangumbahan kembali berubah. Kali ini hak pengelolaan dilimpahkan langsung
(penunjukan langsung) oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat kepada sebuah
perusahaan. Perubahan tersebut diawali oleh Surat Gubernur Provinsi Jawa Barat
tanggal 5 Januari 1993 Nomor: 523/50/Binprod yang ditujukan kepada Menteri
Kehutanan tentang Pengelolaan Penyu dan Hasil Laut lainnya di Sukabumi
Selatan. Di dalam surat tersebut gubernur mengusulkan penataan kawasan
Pangumbahan atas zona konservasi penuh, zona diusahakan, dan zona hunian.
Dalam hal ini, zona konservasi penuh adalah zona yang berfungsi sebagai daerah
pelestarian hutan dan sumberdaya alam dengan delapan titik peneluran penyu.
Kemudian, zona diusahakan, untuk pengembangan penyu dan komoditi laut
lainnya meliputi daerah Pangumbahan. Sementara, zona hunian, yang selama ini
secara tradisi sudah menjadi daerah hunian dan pengusahaan bagi masyarakat
tani dan nelayan, meliputi daerah Ujunggenteng dan sekitarnya, diserahkan
pembinaannya kepada masyarakat agar tidak diabaikan aspek konservasi.
Atas dasar pembagian dan penetapan zona di dalam kawasan tersebut,
selanjutnya Gubernur Jawa Barat melalui suratnya tanggal 7 Desember 1993
Nomor: 523/4661/Perek tentang Pengelolaan dan Pengembangan Pusat
Persarangan Penyu di Pangumbahan Kabupaten Sukabumi telah memberikan
kepercayaan kepada CV. Daya Bakti untuk mengelola dan mengembangkan
daerah Pangumbahan sebagai pusat persarangan penyu. Pusat persarangan penyu
di Pangumbahan dikembangkan dengan maksud dapat berfungsi sebagai sentra
penelitian dan pengembangan teknologi konservasi penyu, baik bagi kepentingan
regional (Jawa Barat), nasional bahkan internasional dengan arahan dan
persetujuan pemerintah.
Pihak yang ditunjuk memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan
mengembangkan pusat persarangan penyu di Pangumbahan dalam rangka
menjamin kelestarian penyu itu sendiri serta harus dapat menjamin kelestarian
alam dan lingkungan secara menyeluruh di daerah setempat. Sebagai syarat
dalam rangka pemenuhan tanggung jawabnya tersebut, pihak yang ditunjuk

I-3

berkewajiban membangun sarana/prasarana kelengkapan sesuai kebutuhan, baik


untuk kepentingan pengembangan budidaya, pengelolaan dan pemanfaatan
produksinya maupun untuk penelitian dan pengembangan teknologi konservasi
penyu.
Dalam pengelolaannya, pihak yang ditunjuk harus bekerjasama dengan
Dinas Perikanan, baik dari segi administratif maupun teknisnya. Hak pengelolaan
yang diberikan bagi pihak yang ditunjuk tersebut adalah selama 10 tahun sejak
tanggal diterbitkannya SK Gubernur (1 Desember 1993 1 Desember 2003).
Pengelolaan dan pengembangan pusat persarangan penyu di Pangumbahan tahap
selanjutnya setelah periode 10 tahun akan ditentukan kemudian.
Selanjutnya pihak Pemerintah Kabupaten Sukabumi dengan tujuan untuk
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melakukan kerjasama dengan
pihak swasta untuk melakukan pengelolaan penyu. Kerjasama tersebut tertuang
dalam perjanjian kerjasama Nomor 660.1/PJ-13 Huk/2002 Nomor 45/DBUPTP/VII/2002 tanggal 29 Juni 2002 tentang Pengelolaan dan Pelestarian Penyu
di Kawasan Pantai Pangumbahan Desa Gunung Batu Kecamatan Ciracap
Kabupaten Sukabumi dan berdasarkan Surat Persetujuan Pimpinan DPRD
Kabupaten Sukabumi Nomor 523/295/RT tanggal 12 Juni 2002 perihal
Kerjasama Pengelolaan Pengunduhan Telur Penyu di Pantai Pangumbahan.
Dalam perjanjian tersebut, diantaranya pihak swasta yang diberi kewenangan
mengelola berhak melakukan usaha pengunduhan/pengambilan telur penyu. Hak
pengelolaan tersebut secara hukum dilandasi pada Peraturan Daerah Nomor 2
Tahun 2001 tentang Pajak Sarang Burung Walet, Telur Penyu dan Rumput laut.
Sesuai Peraturan Daerah tersebut, pihak pengelola diwajibkan untuk
menetaskan telur penyu sebesar 30% yang laik tetas guna menghasilkan tukik
sejumlah 15.000 ekor dan 70% yang kurang laik tetas dimanfaatkan untuk
membiayai manajemen pengelolaan dan pelestarian habitat. Disamping itu, pihak
pengelola diwajibkan memenuhi ketentuan lainnya, meliputi:
1. Pengelolaan dan pelestarian penyu bukan didasarkan dari aspek
komersil semata namun merupakan bagian dari upaya pelestarian
penyu dan habitatnya;

I-4

2. Melaksanakan pengelolaan persarangan dan peneluran penyu,


memperhatikan habitat dan kelestarian penyu, perlindungan terhadap
lingkungan alam serta berupaya selalu memperhatikan kesejahteraan
sekitarnya;
3. Pengelolaan agar selalu meningkatkan mutu manajemen serta
melengkapi sarana dan parasarana, diantaranya:
a. Dalam pengelolaan agar bekerjasama dengan para pakar dari
Yayasan Kelestarian Penyu Indonesia;
b. Melakukan penghijauan dan pemagaran tempat persarangan dan
peneluran penyu sepanjang 2.300 meter;
c. Berupaya membuka wisata alam;
d. Pembuatan laboratorium dengan segala kelengkapan serta fasilitas
pendukung lainnya;
e. Bekerjasama

dengan

masyarakat

sekitarnya

dengan

mempergunakan tenaga kerja setempat;


f. Mengupayakan pensertifikatan tanah/lahan menjadi status hak
pakai seluas 58,00 ha.
Menurut

pengamatan

di

lapangan

sampai

dengan

tahun

2008

menunjukkan pihak pengelola tersebut belum mampu memenuhi kewajibannya


secara maksimal sebagaimana ditentukan dalam Peraturan Daerah Nomor 2
Tahun 2001 tentang Pajak Sarang Burung Walet, Telur Penyu dan Rumput Laut.
Beberapa hal yang mengindikasikan belum dipenuhinya kewajiban-kewajiban
tersebut diantaranya adalah:
1. Minimnya perlindungan populasi dan habitat penyu (kawasan
konservasi)

sehingga

masih

terjadi

aktivitas

pencurian

dan

perdagangan telur penyu diluar jalur legal atau jalur yang diakui
oleh pemerintah daerah berdasarkan peraturan daerah terkait yang
berlaku saat itu serta adanya klaim-klaim kepemilikan lahan di dalam
kawasan;
2. Minimnya

jumlah

petugas,

dan

minimnya

pengadaan

dan

pemeliharaan sarana-prasarana yang terkait dengan konservasi penyu;

I-5

3. Belum adanya manajemen data yang baik mengenai perkembangan


populasi penyu yang disebabkan minimnya petugas dan rendahnya
kapabilitas petugas yang ada.
Peraturan Daerah tersebut saat ini telah dibatalkan berdasarkan Keputusan
Menteri Dalam Negeri Nomor 92 Tahun 2005 tentang Pembatalan Peraturan
Daerah Kabupaten Sukabumi Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pajak Sarang Burung
Walet, Telur Penyu dan Rumput Laut tertanggal 29 April 2005. Pembatalan
dilakukan karena bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun
1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Berdasarkan peraturan
perundangan ini maka penyu yang populasinya semakin menurun dengan tajam
dan termasuk satwa dilindungi sesungguhnya wajib untuk dilakukan upaya
pengawetan terhadapnya (Pasal 5 dan Pasal 6).
Namun

demikian,

pihak

penyelenggara

pemerintahan

Kabupaten

Sukabumi kembali menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2005 tentang


Pelestarian Penyu di Kabupaten Sukabumi. Dalam Peraturan Daerah tersebut,
pada

pasal

ayat

diperbolehkan

adanya

pemanfaatan

langsung

(diperdagangkan) telur penyu dari habitat alaminya. Alasan yang digunakan


adalah hasil pemanfaatan telur penyu tersebut diperlukan untuk membiayai
pengelolaan dan pelestarian penyu serta habitatnya. Perbedaan dari Peraturan
Daerah sebelumnya hanyalah pada persentase jumlah telur yang boleh
dimanfaatkan. Dalam Peraturan Daerah ini ditetapkan sebesar 50% masih boleh
dimanfaatkan dan 50% sisanya untuk ditetaskan (dilestarikan).
Pada tahun 2008, permohonan perpanjangan ijin pengelolaan kawasan
peneluran penyu Pantai Pangumbahan dari CV. Daya Bakti ditolak berdasarkan
Surat Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor B-55/Men-KP/II/2008 tanggal 14
Pebruari 2008 yang pada intinya berisi larangan pemanfaatan satwa penyu dan
bagian-bagiannya. Terhitung bulan Agustus 2008 sistem pengelolaan telur 100%
ditetaskan, biaya pengelolaan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten
Sukabumi.
Berdasarkan fakta tersebut, selanjutnya Pemerintah Kabupaten Sukabumi
merubah sistem penunjukan menjadi pemberian lisensi melalui sistem
pelelangan. Penyewa/pengontrak dalam hal ini merupakan pihak yang merupakan

I-6

pemenang lelang dan kepadanya diberikan hak memungut telur selama 1


tahun.Apabila masa 1 tahun telah selesai maka hak pemungutan telur penyu
dilelang kembali. Umumnya pemenang lelang adalah mereka yang berani
menawar harga tertinggi dan dalam pelaksanaannya mengabaikan upaya
pelestarian produksi telur untuk masa yang akan mendatang (Gunawan, Suwelo
dan Silalahi, 1999). Sistem lelang untuk dapat memiliki hak pengelolaan Pantai
Pangumbahan ini berlangsung hingga tahun 1993.
Pada tahun 2009, Pemerintah Kabupaten Sukabumi menerbitkan
Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2009 tentang Pelestarian Penyu di Kabupaten
Sukabumi dan secara otomatis Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2005 tidak
berlaku lagi.

Peraturan Daerah ini mengatur bahwa pengelolaan kawasan

konservasi penyu dapat dikelola oleh pemerintah melalui Organisasi Perangkat


Daerah

(Pasal

8).

Pengelolaan

kawasan

konservasi

diarahkan

pada

pengembangan ekowisata berbasis konservasi penyu (Pasal 8). Pada akhirnya,


terbitnya Peraturan Daerah ini semakin memperkuat status Dinas Kelautan dan
Perikanan Kabupaten Sukabumi sebagai pengelola kawasan konservasi penyu,
khususnya di Pantai Pangumbahan sebagai habitat bertelur penyu (nesting
ground).
Periode 1990-2001: Izin pengelolaan diterbitkan oleh Gurbernur Jawa
Barat jangka waktu 10 tahun yang dikelola oleh CV. Daya Bakti.
Periode 2001-2005: Perda No.2/2001 tentang pajak sarang burung wallet,
telur penyu dan rumput laut (sudah dicabut) dengan sistem pengeloaan telur 70%
dimanfaatkan 30% ditetaskan untuk dilestarikan (kewajiban pajak Rp.10,-/butir).
Perda ini ditindaklanjuti kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Sukabumi
dengan CV. Daya Bakti No. 660.1/Pj-13-Huk/2002, tanggal 29 Juli 2002
(berlaku 15 tahun).
Periode 2005-2008: Terbit Perda No.16 tahun 2005 tentang pelestarian
penyu di Kabupaten Sukabumi, dengan sistem pengelolaan telur 50%
dimanfaatkan dan 50% ditetaskan untuk dilestarikan (tidak ada pungutan pajak).
Tahun 2008: Terbit Surat Keputusan Menteri DKP No. B-55/ MenKP/II/2008 tanggal 14 Pebruari 2008 berisikan larangan pemanfaatan satwa
penyu dan bagian-bagiannya. Terhitung bulan Agustus 2008 sistem pengeloaan

I-7

telur 100% ditetaskan dan biaya pengeloaan tanggung jawab Pemerintah


Kabupaten Sukabumi.
Pada bulan Desember tahun 2008, Kawasan Penyu Pantai Pangumbahan
dicadangkan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) berdasarkan
Surat Keputusan Bupati Sukabumi Nomor 523/Kep.639-Dislutkan/2008 tentang
Pencadangan Kawasan Penyu Pantai Pangumbahan sebagai Kawasan Konservasi
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Kabupaten Sukabumi dengan Status
Taman Pesisir seluas 1.771 ha. Untuk mempersiapkan penetapannya, maka sejak
pertengahan tahun 2008 (bulan Agustus 2008) Dinas Kelautan dan Perikanan
Kabupaten Sukabumi ditunjuk sebagai Pengelola Kawasan Penyu Pangumbahan
berdasarkan

Surat

Keputusan

Bupati

Sukabumi

Nomor

523/Kep.638-

Dislutkan/2008.
Periode 2009: Terbit Perda No. 5 tahun 2009 tentang Pelestarian Penyu di
Kabupaten Sukabumi dan secara otomatis Perda Nomor 16 Tahun 2005 tidak
berlaku lagi. Perda ini mengatur bahwa pengelolaan kawasan konservasi penyu
100 % ditetaskan untuk dilestarikan dan dapat dikelola oleh pemerintah melalui
organisasi perangkat daerah (OPD). Sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam
upaya pelestarian penyu, maka kawasan konservasi penyu pantai Pangumbahan
dicanangkan sebagai Pusat Informasi Penyu (Turtle Centre) pada tanggal 22
Desember 2009 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan nama Taman
Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park).
Program PNPM Mandiri-Kelautan dan Perikanan TA. 2009 dan 2010
diberikan kepada para Penggemar (pencuri telur penyu) dan masyarakat di
sekitar kawasan konservasi sebagai salah satu solusi membuka lapangan kerja
bagi masyarakat. Adapun jenis kegiatannya adalah Budidaya Ikan Lele, Nila,
Mas, dan Bawal serta Pembuatan Pakan Ikan (pelet).
Periode 2010: Dalam rangka penguatan kelembagaan pengelola kawasan
konservasi penyu Pangumbahan, bulan Desember 2010 telah dibentuk Unit
Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Konservasi Penyu Pangumbahan berdasarkan
Peraturan Bupati Sukabumi Nomor 49 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas
Peraturan Bupati Nomor 71 Tahun 2008 tentang Struktur Organisasi dan Tata
Kerja Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi.

I-8

Pada bulan Oktober tahun 2012, dilakukan penambahan luas Kawasan


Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan berdasarkan Surat
Keputusan Bupati Sukabumi Nomor 523/Kep.621-Dislutkan/2012 Oktober
tentang Pecadangan Kawasan Penyu Pantai Pangumbahan sebagai Kawasan
Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Kabupaten Sukabumi
dengan Status Taman Pesisir seluas 2.660,646 ha. Sebagai tindak lanjut
pencadangan, pada Bulan Nopember 2012 Bupati Sukabumi mengusulkan
penetapan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui SuratNomor
523/3145/Dislutkan/2012 tanggal 2 Nopember 2012 perihal Usulan Penetapan
Kawasan Konservasi Perairan Daerah.

1.2. TUJUAN
Tujuan Penyusunan Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Pesisir
Pantai Penyu Pangumbahan adalah sebagai pedoman dalam pengelolaan kawasan
konservasi di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan sehingga tercapai visi
dan misi dari sebuah kawasan konservasi.
Tujuan Penyusunan Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Pesisir
Pantai Penyu Pangumbahan adalah :
1. Meningkatkan kinerja pengelolaan Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan.
2. Memenuhi persyaratan dalam rangka penetapan Kawasan Konservasi
Perairan Daerah (KKPD) oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
3. Menjamin pelestarian penyu dan habitatnya di Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan secara berkelanjutan.
4. Mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan dan
perikanan di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan.
5. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di sekitar Kawasan
Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan.

1.3. RUANG LINGKUP


Rencana Pengelolaan dan Zonasi ini disusun untuk mengatur mekanisme
pengelolaan kawasan konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan di

I-9

Provinsi

Jawa

Barat

Kabupaten

Sukabumi

Kecamatan

Ciracap

Desa

Pangumbahan.
Beberapa

kegiatan

dalam

pelaksanaan

Penyusunan

Rencana

Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu


Pangumbahan antara lain:
1. Menganalisis potensi dan permasalahan dalam pengelolaan Kawasan
Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
2. Melakukan penataan zonasi yang terdiri dari zona inti, zona
pemanfaatan terbatas, dan zona lainnya.
3. Menyusun arahan Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan
Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
Lingkup jangka waktu pengelolaan Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan ini terdiri dari :
1. Rencana jangka panjang 20 tahun dengan mengacu pada Rencana

Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) serta Rencana Tata


Ruang dan Wilayah Kabupaten Sukabumi.
2. Rencana Jangka Menengah (5 tahun) dengan mengacu pada Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang diterjemahkan


dalam RKPD, sedangkan rencana jangka menengah pengelolaan
Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan diterjemahkan dalam Road
Map.

II - 1

BAB II
POTENSI DAN PERMASALAHAN PENGELOLAAN
2.1. Potensi
Potensi yang terdapat di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan, Kabupaten
Sukabumi meliputi potensi ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Ketiga potensi ini
merupakan modal dalam pengelolaan Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan.
Berikut adalah penjelasan mengenai ketiga potensi tersebut.
2.1.1. Potensi Ekologis
Potensi ekologis di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan meliputi kondisi
oseanografi dan ekosistem peisisir. Kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi terhadap
keberlangsungan kehidupan penyu.
1. Kondisi Oseanografi
Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi oseanografi di Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan adalah:
a. Pasang Surut. Pengetahuan tentang tipe pasang surut diperlukan untuk
kegiatan pengembangan pantai maupun pengelolaan lingkungannya. Untuk
mengetahui tipe pasang-surut Pantai Pangumbahan digunakan data pasang
surut yang tercatat pada stasiun pasang surut Bakorsurtanal, yang
memperlihatkan bahwa pasangsurut di perairan pesisir Pangumbahan bertipe
campuran dengan unsur ganda lebih menonjol. Hal ini menunjukkan bahwa
perairan pesisir Pangumbahan pada umumnya mengalami dua kali pasang dan
dua kali surut setiap harinya dengan ketinggian yang berbeda. Dari hasil
pengamatan pasang surut yang dilakukan oleh Geologi Kelautan, kedudukan
air terendah adalah 90 cm dan kedudukan air tertinggi mencapai 249 cm
dengan tunggangan airnya adalah 159cm.
b. Arus Laut. Manfaat dari arus bagi banyak biota adalah menyangkut
penambahan makanan bagi biota-biota tersebut dan pembuangan kotorankotorannya. Untuk algae kekurangan zat-zat kimia dan CO 2 dapat dipenuhi.
Sedangkan bagi binatang CO 2 dan produk-produk sisa dapat disingkirkan dan
O 2 tetap tersedia. Arus juga memainkan peranan penting bagi penyebaran
plankton, baik holoplankton maupun meroplankton. Terutama bagi golongan

II - 2

meroplankton yang terdiri dari telur-telur dan burayak-burayak avertebrata


dasar dan ikan-ikan. Mereka mempunyai kesempatan menghindari persaingan
makanan dengan induk-induknya terutama yang hidup menempel seperti
teritip (Belanus spp) dan kerang hijau (Mytilusviridis). Kecepatan arus di
Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan berkisar
antara 2350 cm/det.
c. Bathimetri. Batas 250 meter ke arah laut, kedalaman wilayah pesisir
Pangumbahan rata-rata berkisar antara 050 meter, pada kedalaman 10 meter
dicapai pada jarak 50100 meter, kedalaman 25 meter dicapai pada jarak 100150 meter dari garis pantai ke arah laut. Pada saat melakukan survei di
wilayah Ujunggenteng dan Pangumbahan, data kedalaman yang diukur
berkisar antara 1050 meter pada jarak 70500 meter dari garis pantai.
d. Suhu Laut. Suhu air sangat bergantung pada tempat dimana air tersebut
berada. Kenaikan suhu air di badan air penerima, saluran air, sungai, danau
dan lain sebagainya akan menimbulkan akibat sebagai berikut:
1) Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun;
2) Kecepatan reaksi kimia meningkat;
3) Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu.
Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, maka akan menyebabkan ikan
dan hewan air lainnya mati. Suhu dapat mempengaruhi fotosintesa di laut,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara langsung
yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses
fotosintesa. Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa,
sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur
hidrologi kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton.
Pengaruh suhu secara tidak langsung dapat menentukan stratifikasi massa air,
stratifikasi suhu di suatu perairan ditentukan oleh keadaan cuaca dan sifat
setiap perairan, seperti pergantian pemanasan dan pengadukan, pemasukan
atau pengeluaran air, serta bentuk dan ukuran suatu perairan. Suhu air yang
layak adalah 2732 oC. Di Indonesia, suhu udara rata-rata pada siang hari di
berbagai tempat berkisar antara 28,2 oC sampai 34,6 oC dan pada malam hari

II - 3

suhu berkisar antara12,8 oC sampai 30 oC. Keadaan suhu tersebut tergantung


pada ketinggian tempat dari atas permukaan laut. Suhu air umumnya
beberapa derajat lebih rendah dibanding suhu udara di sekitarnya. Secara
umum, suhu air di perairan Indonesia 29oC dan ini sangat mendukung habitat
penyu.
e. Salinitas. Salinitas disebabkan oleh tujuh ion utama yaitu natrium (Na),
kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), klorit (Cl), sulfat (SO 4 ), dan
bikarbonat (HCO 3 ). Sementara itu salinitas dinyatakan dalam satuan gr/l atau
permil (0/ 00 ) (Effendi, 2003). Biota estuaria biasanya mempunyai toleransi
terhadap variasi salinitas yang besar (eury-haline). Contohnya: Chanos
chanos (bandeng), Mugil (belanak) dan Tilapia (mujair). Salinitas yang tidak
sesuai dapat menghambat perkembangbiakan dan pertumbuhan. Kerang
hijau, kerang darah, dan tiram adalah jenis-jenis kerang yang hidup di daerah
estuaria. Berdasarkan hasil pengukuran salinitas air laut di perairan Pantai
Pangumbahan Kabupaten Sukabumi didapatkan salinitas antara 25-35.
f. Kondisi Kualitas Air. Kualitas lingkungan perairan adalah suatu kelayakan
lingkungan perairan untuk menunjang kehidupan dan pertumbuhan
organisme air yang nilainya dinyatakan dalam suatu kisaran tertentu.
Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kualitas
air:
1) Tingkat pemanfaatan dari penggunaan air;
2) Faktor kualitas alami sebelum dimanfaatkan;
3) Faktor yang menyebabkan kualitas air bervariasi;
4) Perubahan kualitas air secara alami;
5) Faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kualitas air;
6) Persyaratan kualitas air dalam penggunaan air;
7) Pengaruh perubahan dan keefektifan kriteria kualitas air;
8) Perkembangan teknologi untuk memperbaiki kualitas air;
9) Kualitas air yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Parameter fisik dalam kualitas air merupakan parameter yang bersifat fisik,
dalam arti dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu melalui visual,

II - 4

penciuman, peraba, dan perasa. Perubahan warna dan peningkatan kekeruhan


air dapat diketahui secara visual, sedangkan penciuman dapat mendeteksi
adanya perubahan bau pada air, peraba pada kulit dapat membedakan suhu
air, selanjutnya rasa tawar, asin dan lain sebagainya dapat dideteksi oleh lidah
(indera perasa). Hasil indikasi dari panca indera ini hanya dapat dijadikan
indikasi awal karena bersifat subjektif, bila diperlukan untuk menentukan
kondisi tertentu, misalnya kualitas air tersebut telah menurun atau tidak,
maka harus dilakukan analisis pemeriksaan air di laboratorium dengan
metode analisis yang telah ditentukan.
Sedangkan parameter kimia yang didefinisikan sebagai sekumpulan bahan/zat
kimia yang keberadaannya dalam air mempengaruhi kualitas air. Selanjutnya,
secara keseluruhan parameter biologi mampu memberikan indikasi apakah
kualitas air pada suatu perairan masih baik atau sudah kurang baik, hal ini
dinyatakan dalam jumlah dan jenis biota perairan yang masih dapat hidup
dalam perairan.
2. Ekosistem Pesisir
Ekosistem pesisir di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan terdiri dari
terumbu karang, lamun, dan vegetasi pantai. Peranan ekosistem pesisir sangat
penting untuk menjaga kondisi pantai agar tidak terjadi abrasi/degradasi
lingkungan. Untuk memahami lebih lanjut tentang ekosistem pesisir dapat dilihat
pada penjelasan sebagai berikut.
a. Ekosistem Terumbu Karang
Jumlah lokasi terumbu karang ada sekitar 7 lokasi perairan. Salah satu
lokasi perairan di wilayah pesisir Kabupaten Sukabumi adalah di perairan
Ujunggenteng sampai Pangumbahan Kec. Ciracap. Luas keseluruhan sekitar
1.305 Hadimana

batuannya

berupa gamping terumbu

karang yang

mengandung bongkah andesit dan kuarsa (RTRW Kabupaten Sukabumi,


2012). Selain sebagai habitat ikan hias, juga berfungsi sebagai objek wisata
bahari dan penahan gelombang alamiah. Diperkirakan kawasan terumbu
karang tersebut mengalami kerusakan dengan kondisi kurang baik, sekitar
50% dalam keadaan rusak dengan tutupan kurang dari 10%. Berdasarkan data

II - 5

terakhir luas terumbu karang yang masih kategori bagus sekitar 22,8 ha
dimana jenis-jenis karang yang teridentifikasi terdiri dari karang otak dan
karang meja. Di Ujunggenteng terdapat pada 3 (tiga) titik lokasi (RTRW Kab.
Sukabumi, 2012) yang membentuk spot-spot.

Gambar 1. Terumbu Karang Otak, Terumbu Karang Meja


Daerah intertidal ditemukan rataan karang/gosong yang cukup luas yaitu
Ujunggenteng. Pada rataan karang ini ditemukan berbagai jenis biota antara
lain teripang, lobster, bintang laut, bintang ular, dan bulu babi. Jenis
organisme ini merupakan organisme penghuni terumbu karang permanen.
Hasil penelitian teridentifikasi 7 (tujuh) jenis teripang. Uraian selengkapnya
disajikan pada tabel berikut:
Tabel 1. Jenis-Jenis Teripang yang ditemukan di Rataan Karang di
Ujunggenteng
No
Nama Daerah/Indonesia
Nama Ilmiah
1

Teripang timba kelong/keliling

Holothuria atra

Teripang coklat/teripang timun

Holothuria marmorata

Teripang getah putih

Holothuria vacabunda

Teripang sabuk raja

Synapta maculate

Teripang pasir

Holothuria scabra

Teripang hideung

Holothuria edulis

Teripang batu Kasur

Holothuria lecanora

Sumber: RTRW Kabupaten Sukabumi, 2012

II - 6

Disamping itu, rataan karang yang khas di pantai selatan Kabupaten


Sukabumi ditemukan juga pantai berkarang di sekitar wilayah Karanghawu,
kecamatan Cisolok; Cibulakan, Kecamatan Ciracap; dan Karangbolong,
kecamatan Surade. Secara ekologis pantai berkarang dan berbatu bermanfaat
dalam meredam energi gelombang yang menghempas pantai yang terkenal
dengan gelombangnya ini. Selanjutnya, pada rataan yang tergenang air laut
pada saat surut maupun pasang air laut ditemukan juga beragam ikan hias.
Diharapkan masyarakat yang melakukan aktifitas di sekitar kawasan perairan
ini tidak melakukan penangkapan secara maksimal yang mengakibatkan
menurunnya potensi ikan hias.
b. Ekosistem Lamun
Padang lamun adalah merupakan salah satu ekosistem khas pesisir. Di wilayah
pesisir Kabupaten Sukabumi terdapat 3 titik lokasi perairan yang ditemukan
padang lamun, diantaranya Desa Ujunggenteng, Desa Pangumbahan
Kecamatan Ciracap, dan di Minajaya Kecamatan Surade. Pada lokasi tersebut,
jenis lamun yang tumbuh adalah Enhalus sp, dan thalasia sp yang umumnya
tumbuh di atas rataan karang (reef flat). Sekitar 10-15% rataan Ujunggenteng
sampai Batunamprak 5 km (dekat pangumbahan) ditutupi lamun. Sedangkan
di perairan pantai Minajaya ditutupi lamun < 10%. Rataan karang lamun yang
tumbuh rata-rata tingginya tidak melebihi 20 cm. Kondisi ekosistem lamun
pada wilayah ini kurang baik pertumbuhannya, karena berbagai faktor
eksternal yang sangat berpengaruh pada pertumbuhannya. Luas lamun dan
rumput laut lebih kurang 50 ha sebagai makanan penyu. Hasil identifikasi
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya kerjasama dengan Klinik Iptek Mina
Bisnis

(KIMBis)

Ujunggenteng

Kabupaten

Sukabumi

menunjukan

keanekaragaman lamun (hanya beberapa contoh) di pantai Ujunggenteng dan


Pangumbahan sebagaimana gambar di bawah ini:

II - 7

Gambar 2. Keadaan Lamun di Pantai Pangumbahan dan Ujunggenteng

c. Ekosistem Vegetasi Pantai/Mangrove


Pantai Pangumbahan memiliki butiran pasir pantai berukuran besar dan
didominasi oleh pecahan cangkang moluska. Di dalamnya ditemukan juga
dinding pasir setinggi 0,5-1,5 m yang disebabkan oleh terpaan angin dan ombak
yang mengikis pantai. Sementara itu perairan kearah daratan dari Pantai
Pangumbahan dapat ditemui hutan pantai selebar 10-155 m dari pasang/surut,
yang didominasi dua formasi vegetasi pantai, yaitu Pes Caprae dan
Baringtonnia. Jenis tumbuhan yang mendominasi adalah pandan laut (Pandanus
tectorius) dan Nyamplung (Calomphium lnophllum), selain itu terdapat juga
vegetasi jenis ketapang (terminalia catappa) dan kepuh/kelumpang (Sterculia
foetida).
Jumlah lokasi mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Sukabumi ada
sekitar 5 (lima) wilayah, diantaranya disekitar muara Cipanarikan dekat hutan
Ciletuh, dan hutan pantai Pangumbahan Kecamatan Ciracap, serta di sekitar
Muara Palangpang Ciwaru Kecamatan Ciemas, Muara Cipamarangan Kecamatan
Surade, Muara Cibuni Kecamatan Tegalbuleud dan Muara Cikaso serta Pantai

II - 8

Ciroyom Kecamatan Cibitung. Jenis-jenis mangrove dari kedua lokasi ini hampir
sama yaitu dari formasi barringtonia seperti Rhizophora sp, Bruguera sp,
Soneratia sp, Pandanus sp dan Avicenia sp. Luasan rata-rata dari hutan mangrove
yang ada merata yaitu tidak melebihi 1 (satu) 10 (sepuluh) Ha, kecuali untuk
Hutan Mangrove di Ciroyom Kecamatan Cibitung mencapai luasan 82,83 Ha
(Kajian Zonasi Rinci, 2011).

Gambar 3. Hutan Mangrove dan spesies pandanus Sp


Kerusakan yang disebabkan faktor manusia diantaranya terjadi akibat: (1)
Perambahan hutan mangrove dan vegetasi pantai di sebagian muara dan
sepanjang pantai yang menyebabkan habitat flora dan fauna tertentu terganggu,
termasuk di dalamnya adalah adanya aktivitas pertambakan yang membuka lahan
sebagai areal budidaya; (2) Pemukiman yang bertentangan dengan peruntukan
dan cenderung merusak flora yang ada sehingga beralih fungsi dari greenbelt
menjadi pemukiman kumuh. Yang kedua inilah yang sampai saat ini menjadi
masalah bagi pengembangan lahan konservasi dan pembangunan sarana dan
prasarana konservasi, baik yang diperuntukkan bagi zona pemanfaatan terbatas
maupun zona pemanfaatan umum.

2.1.2. Potensi Ekonomi


Ciracap adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Sukabumi dengan jumlah
desa ada 8 (Delapan), yakni Desa Ciracap, Purwasedar, Pasirpanjang, Cikangkung,
Gunungbatu, Mekarsari, Pangumbahan, dan Ujunggenteng. Kecamatan Ciracap terletak
di Selatan Kabupaten Sukabumi, dengan beberapa area wisata seperti Pantai
Ujunggenteng, Konservasi Penyu Pangumbahan, Curug Luhur (Perbatasan Desa
Mekarsari dengan Desa Purwasedar), Ombak Tujuh di Desa Gunungbatu/Pangumbahan,

II - 9

dan lain sebagainya. Pengembangan Kecamatan Ciracap kedepan salah satunya adalah
daerah wisata, yaitu Desa Pangumbahan dan Ujunggenteng yang berada di dalam
kawasan wisata Ujunggenteng. Beberapa objek wisata menjadi andalan daerah tersebut,
terlebih karakter ombak di beberapa titik pantai yang sesuai untuk olahraga selancar air
(surfing). Selain itu, terdapat ekosistem terumbu karang untuk dijadikan objek wisata
pemancingan.
1. Sumber Daya Manusia
Jumlah penduduk di Desa Pangumbahan mengalami pertumbuhan sesuai hasil
registrasi yang biasa dilakukan sebulan sekali oleh Dinas Kependudukan dan Catatan
Sipil. Berdasarkan data kecamatan dalam angka, jumlah penduduk tahun 2010 sebanyak
4.078 jiwa, terdiri dari laki-laki 2.064 jiwa dan perempuan 2.014 jiwa, dengan kepadatan
2,13 jiwa/Ha. Penduduk Desa Pangumbahan memiliki keberagaman mata pencaharian,
termasuk di dalamnya adalah pelaku perikanan. Namun secara spesifik, dominasi yang
ada bukan pada perikanan melainkan pada pertanian lahan basah dan kering. Hal ini
karena warga setempat bukanlah pelaut ulung dan saat ini kondisi perairan laut tidak
menjanjikan seperti beberapa dekade yang lalu. Justru konservasi inilah sebenarnya yang
harus terus dijaga dan ditingkatkan peran dan daya tariknya melalui pengelolaan yang
bijak dengan tidak merusak sehingga minat wisatawan kelak datang berduyun-duyun.
Secara tersurat berdasarkan data yang ada (sumber: TPI Ujunggenteng 2014),
jumlah rumah tangga perikanan di wilayah kerja TPI Ujunggenteng yang meliputi Desa
Pangumbahan, Ujunggenteng, Gunungbatu, dan Cikangkung adalah sebanyak 1080
orang pada tahun 2013 dan meningkat menjadi 1350 orang pada tahun 2014. Jumlah ini
hanya mewakili beberapa % saja dari jumlah penduduk total yang ada di kecamatan
Ciracap. Artinya bahwa dunia perikanan praktis belum menjadi pilihan utama. Karena
itu pula maka sebaiknya kedepan baik secara langsung ataupun tidak langsung perlu
dilakukan penyadaran masyarakat yang ada untuk mengoptimalkan pesisir dan laut,
namun tentu saja secara beretika dan ramah lingkungen sebagai bagian cadangan
kehidupan generasi yang akan datang sebagai pewaris kehidupan

II - 10

2. Sumber Daya Kelautan dan Perikanan


Salah satu daya tarik Kabupaten Sukabumi diantaranya ditunjang dengan
anugerah alam sebagai tempat pendaratan penyu. Kondisi ini pula yang menjadi dasar
logo Kabupaten berbentuk penyu. Desa Pangumbahan Kecamatan Ciracap merupakan
tempat peneluran penyu, utamanya jenis Penyu Hijau (Chelonia mydas).

Gambar 4. Jenis-jenis penyu di dunia, khusus Pangumbahan didominasi jenis


penyu hijau.
Jumlah penyu yang mendarat di Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 disajikan pada tabel
berikut ini.
Tabel 2. Jumlah Penyu yang bertelur di Kawasan Konservasi Taman Pesisir
Pantai Penyu Pangumbahan Tahun 2010-2013
Jml Telur Penyu
Jml Penyu yg
Jumlah Tukik
No
Tahun
yg telur
Bertelur
yang dilepas
ditetaskan
1
2008
3.160
316.559
125.159
2

2009

1.695

143.609

165.688

2010

1.748

157.690

109.123

2011

1.509

132.047

79.349

2012

727

66.026

76.036

2013

2.546

239.269

105.241

II - 11

Atas dasar potensi penyu tersebut kabupaten Sukabumi telah menetapkan


kawasan Pangumbahan sebagai areal konservasi penyu yang diharapkan dapat menjaga
kelestarian penyu serta bisa menjadi salah satu daya tarik wisata. Pola konservasi telah
banyak dikembangkan baik dengan intervensi anggaran kementerian kelautan dan
perikanan, anggaran APBD maupun dana pihak swasta.
Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di semua samudera di dunia.
Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman (145-208 juta tahun
yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu terdapat Archelon yang
berukuran panjang badan 6 (enam) meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba
seperti penyu masa kini. Penyu laut merupakan salah satu satwa langka dengan masa
hidup yang panjang. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi dewasa sangat lama dan
kebanyakan berpindah-pindah dari habitat satu ke yang lainnya selama periode tersebut.
Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang
memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana
di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata dari kelas reptil ini tetap harus naik ke
permukaan air untuk mengambil nafas. Ini dikarenakan penyu bernafas dengan paruparu. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu
tempuh tidak terlalu lama. Jarak 3.000 km hanya ditempuh dalam waktu 58-73 hari.
Penyu betina mengalami siklus bertelur yang beragam antara 2-8 tahun sekali
dan saat itulah mampir ke darat. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh
hidupnya di laut. Untuk ritual bertelur, penyu betina membutuhkan pantai yang berpasir
dengan suasana sepi dari manusia dan sumber bising, juga dari cahaya, gerakan dan
bayangan. Jumlah telur yang dihasilkan antara 84-120 butir (data UPTD Konservasi
Penyu Pangumbahan). Hasil tetasan dari Indonesia bisa ditemukan di Hawaii, misalnya.
Ini menunjukkan bahwa penyu bisa melanglang buana dan tidak bisa dimiliki oleh
seseorang, sekelompok orang bahkan satu negera sekalipun. Namun demikian, penyupenyu yang diterlurkan dan ditetaskan di satu tempat, misalnya di Pangumbahan
Indonesia, selanjutnya bermigrasi ke negara luar, maka saat dewasa dan siap bertelur
mereka akan kembali dan melakukan ritual bertelur dimana mereka dilahirkan.
Menurut para ahli, dari 1000 butir telur yang menetas hanya 1 ekor yang
selamat dan kembali ke tempat semula. Jumlah ini belum memperhitungkan perburuan

II - 12

manusia. Artinya bila kondisi normal hanya berhadapan dengan musuh alami, angka
yang diperoleh adalah 1 permil. Oleh karena itu perkembangannya cukup lambat dan
perlu pemahaman serta kesadaran yang tinggi dari manusia.
Terpeliharanya populasi penyu dan habitatnya di Pantai Pangumbahan dan
perairan laut sekitarnya, secara tidak langsung telah menjaga lambang Kabupaten
Sukabumi serta mendukung upaya menjaga wilayah pesisir Kabupaten Sukabumi agar
tetap dalam kondisi baik, karena penyu dapat dijadikan sebagai indikator kesehatan
lingkungan perairan laut. Kondisi ini diperlukan mengingat wilayah pesisir Kabupaten
Sukabumi yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia merupakan sumber
penghidupan setidaknya bagi 12.400 orang nelayan (Dinas Kelautan dan Perikanan
Kabupaten Sukabumi, Tahun 2009). Melalui pelestarian penyu dan habitatnya secara
tidak langsung dapat mendukung tingkat pemanfaatan sumber daya ikan pada wilayah
pesisir dan perairan laut Kabupaten Sukabumi secara berkelanjutan.
Berdasarkan pertimbangan terhadap arti penting pelestarian penyu dan
habitatnya serta dampak lanjutan dari upaya tersebut terhadap sebagian masyarakat
pesisir, Pemerintah Kabupaten Sukabumi berdasarkan Peraturan Daerah No.5 Tahun
2009 Tentang Pelestarian Penyu di Kabupaten Sukabumi telah menyatakan bahwa
wilayah pesisir yang menjadi habitat penyu, ditetapkan sebagai kawasan konservasi
daerah (Pasal 7 (2)). Dalam peraturan perundang-undangan tersebut dinyatakan pula
bahwa pengelolaan kawasan konservasi daerah yang teridentifikasi sebagai habitat penyu
akan dilaksanakan untuk memberikan perlindungan terhadap lingkungan alam
berdasarkan

azas manfaat bagi masyarakat sekitarnya (Pasal 8 (2)). Di kawasan

konservasi daerah ini dapat pula dimanfaatkan sebagai objek penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan serta kegiatan ekowisata berbasis konservasi penyu
dan habitatnya (pasal 9 dan 10).
Dalam rangka pembiayaan pengelolaan kawasan konservasi dan menjaga serta
mempertahankan keberadaan kawasan konservasi maka diperlukan sumber pendanaan
yang berkelanjutan (sustainable financing) yang bersumber dari jasa pemanfaatan
lingkungan serta fasilitas yang disediakan oleh pemerintah daerah di dalam kawasan
konservasi, sehingga keberadaan kawasan konservasi dapat dimanfaatkan secara optimal
untuk menunjang pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan, ekowisata

II - 13

dan kesejahteraan masyarakat tanpa mengganggu keutuhan dan keseimbangan ekosistem


yang ada di dalamnya.
Sebagai dampak dari pemanfaatan jasa lingkungan serta fasilitas yang
disediakan oleh pemerintah daerah di dalam kawasan konservasi, maka Pemerintah
Daerah Kabupaten Sukabumi kiranya dapat memungut biaya dalam bentuk retribusi
daerah atas beban biaya penerbitan dokumen ijin, pembinaan dan pengawasan di
lapangan, keamanan dan penegakan hukum, penatausahaan, biaya rehabilitasi
lingkungan, biaya pengelolaan dan pelayanan, penyediaan sarana di kawasan konservasi
serta jasa pemandu wisata konservasi, serta apabila memungkinkan pemberdayaan
masyarakat sekitar sebagai reward terhadap pemahaman dan kesadaran akan arti
pentingnya keberadaan penyu untuk kehidupan dan penghidupan.
Kawasan Konservasi Penyu Pangumbahan satu hamparan dengan pantai
Ujunggenteng. Ujunggenteng adalah daerah pesisir pantai Selatan Jawa Barat terletak +
200 km dari kota Jakarta.

Keunikan pantai Ujunggenteng adalah bisa menikmati

matahari terbit dan terbenam, mungkin ini lebih cocok bagi pecinta Fotografi. Pantainya
masih cukup bersih dengan ciri khas pesisir pantai selatan yang terkenal bersih airnya
dan ombaknya yang besar. Keunikan lain, yaitu di pesisir pantai sepanjang
Ujunggenteng hingga pantai Batununggul tidak terdapat ombak karena sudah tertahan
oleh beting karang yang berada sekitar 200meter sebelum garis pantai. Pada saat pasang
air laut memenuhi pantai dengan kedalaman air 0,5 ~ 1 meter, sangat cocok untuk
berendam, bermain perahu karet, juga aktivitas lain seperti kolam luas dengan air yang
berarus tenang. Bila surut, maka kita bisa berjalan ke tengah sambil melihat-lihat biota
laut seperti bintang laut, siput-siput, ikan-ikan hias yang terperangkap, udang-udang
kecil, dan bahkan cacing-cacing laut (Gambar 5).

II - 14

Gambar 5. Pantai Pangumbahan


Di daerah Ujunggenteng sendiri terdapat banyak tempat menarik, termasuk
Pantai Pangumbahan dimana wisatawan bisa melihat langsung penyu hijau (Chelonia
Mydas) bertelur pada malam hari, yang menggali lubang untuk telurnya, menutup lubang
untuk telurnya, juga anda bisa menyentuh penyu hijau tersebut di batas-batas tertentu.
Ada juga lokasi dimana kita bisa berselancar yang menurut beberapa orang asal
mancanegara merupakan tempat yang bagus karena masih bersih dan ombaknya cukup
menantang. Di Ujunggenteng juga merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh para
pemancing dari daerah lain dan menurut mereka ikannya lebih banyak serta cukup
bervariasi, konon juga masih banyak ikan Marlin. Bagi yang suka dengan ketenangan
bisa merasakannya di pantai Ujunggenteng ini, apalagi garis pantai yang panjangnya
mencapai 6 Km dan menghadap arah barat, begitu indah bila dinikmati pada saat
matahari terbenam.
Kegiatan ekowisata di Pantai Pangumbahan telah berkembang secara alamiah
sejak dikelolanya kawasan konservasi penyu tersebut dengan baik.

Disamping

keindahan pantai Pangumbahan dengan pasir putihnya, satwa penyu melalui kegiatan
pelepasan tukik menjadi salah satu atraksi wisata yang sangat menarik bagi wisatawan.
Aktivitas kepariwisataan terkait dengan makin pesatnya pengembangan
Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan dari tahun ke tahun ternyata mengalami peningkatan secara signifikan
sekalipun menunjukkan grafik yang naik turun. Pengunjung pun berasal dari kota-kota
besar yang memiliki nama dan terkenal di masyarakat sehingga kedepannya para
pelancong dapat menginformasikan kepada yang lainnya sehingga hal ini akan menjadi
promosi gratis bernilai efektif dan efisien. Dinamika kunjungan wisatawan tersebut dapat
dilihat pada Tabel di bawah mereka yang berasal dari Jakarta, Bogor, Bandung,
Tangerang, dan Sukabumi.

II - 15

Tabel 3. Perkembangan Kunjungan Wisatawan ke Kawasan Konservasi


Perairan Daerah (KKPD) Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan
Kenaikan/
No.
Asal Pengunjung
Tahun
Jumlah
Penurunan (%)

Jakarta, Bogor, Bandung,


Tangerang, Sukabumi

2009

13,176

2010

16,962

28.73

2011

21,759

28.28

2012

20,984

(3.56)

2013

24,765

18.02

2014

15,474

(37.52)

Secara rinci perkembangan jumlah kunjungan wisatawan ke KKPD Taman


Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan sebagaimana daftar Tabel 4, 5, dan 9 di bawah:
Tabel 4. Laporan Kunjungan Wisatawan Ke Pantai Pangumbahan Periode
Tahun 2009
NO.

BULAN

Januari

Pebruari

JUMLAH
PENGUNJUNG
1,096 org
78

org

Maret

761

org

April

686

org

Mei

595

org

Juni

1,204

org

Juli

1,520

org

Agustus

1,652

org

September

1,946

org

10

Oktober

590

org

11

Nopember

503

org

12

Desember

2,545

org

Jumlah

13,176

DAERAH ASAL PENGUNJUNG


Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Cianjur &
Sukabumi
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Cianjur &
Sukabumi
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Cianjur &
Sukabumi
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Sukabumi,
Bekasi dan mancanagara
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Sukabumi,
Bekasi dan mancanegara
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Sukabumi,
Bekasi dan mancanegara
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Sukabumi,
Bekasi dan mancanegara
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Sukabumi,
Bekasi & 45 orang mancanegara
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Sukabumi,
Bekasi dan 15 orang dari mancanegara
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Sukabumi,
Bekasi & 4 orang mancanegara
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Sukabum,
Bekasi dan 16 orang dari mancanegara
Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Sukabumi,
Bekasi dan 2 orang dari mancanegara

KETERANGA
N
Melihat satwa
penyu sedang
bertelur dan
melepas tukik
.

II - 16

Tabel 5. Laporan Kunjungan Wisatawan Ke Pantai Pangumbahan Periode


Tahun 2010
NO.

BULAN

JUMLAH
PENGUNJUNG

DAERAH ASAL PENGUNJUNG

Januari

1,344

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Cianjur


dan Sukabumi dan 7 orang Turis Asing

Pebruari

1,155

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi dan 22


orang Turis Asing.

Maret

544

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi dan 15


orang Turis Asing.

April

1,204

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi dan 15


orang Turis
Asing.

Mei

1,395

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi dan 37


orang Turis Asing.

Juni

1,150

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi dan 2


orang Turis Asing.

Juli

2,352

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi dan 16


orang Turis Asing.

Agustus

1,226

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi dan 81


orang Turis Asing.

Septemb
er

2,599

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi dan 24


orang Asing

10

Oktober

886

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi,


Tangerang dan 44 orang Turis Asing.

11

Nopembe
r

545

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi,


Tangerang dan 5 orang Turis Asing.

12

Desembe
r

2,562

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi dan 16


orang Turis Asing

16,962

org

Jumlah

KETERANGAN

Melihat satwa
penyu yang
sedang
bertelur,
melepas tukik
ke laut dan
Sunset

II - 17

Tabel 6. Laporan Kunjungan Wisatawan Ke Pantai Pangumbahan Periode


Tahun 2011
NO.

BULAN

JUMLAH
PENGUNJUNG

DAERAH ASAL PENGUNJUNG

Januari

1,553

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 17 orang Turis Asing

Pebruari

1,551

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 7 orang Turis Asing

Maret

1,051

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 13 orang Turis Asing

April

1,421

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 23 orang Turis Asing

Mei

1,259

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 20 orang Turis Asing

Juni

1,479

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 20 orang Turis Asing

Juli

2,302

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 26 orang Turis Asing

Agustus

1,698

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi

September

2,511

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 24 orang Turis Asing

10

Oktober

1,903

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 5 orang Turis Asing

11

Nopember

1,028

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 42 orang Turis Asing

12

Desember

4,003

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 23 orang Turis Asing

21,759

org

Jumlah

KETERANGAN

Melihat satwa
penyu yang
sedang
bertelur,
melepas tukik
ke laut dan
menikmati
Sunset

II - 18

Tabel 7. Laporan Kunjungan Wisatawan Ke Pantai Pangumbahan Periode


Tahun 2012
NO.

BULAN

Januari

JUMLAH
PENGUNJUNG

1,024

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi dan 23 orang Turis Asing

730

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi

1,588

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi

1,286

org

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,Cianjur


dan Sukabumi

2,090

org

Jabodetabek, Bandung, Balikpapan, Cianjur,


Sukabumi, Belanda, Inggris

Pebruari
2

Maret
April

Mei
Juni

Juli
Agustus

September

DAERAH ASAL PENGUNJUNG

Oktober
6

Nopember

1,769

org

Jabodetabek, Bandung, Jambi, Cianjur,


Sukabumi, Makassar, Swedia, UK

Januari

2,100

org

Jabodetabek, Bandung, Cianjur, Sukabumi,


Garut, Denpasar, Jambi, Makassar, Afrika
Selatan, Amerika, Den Haag, Perancis, Swiss

3,133

org

Jabodetabek, Bandung, Banten, Jogjakarta,


Cianjur, Sukabumi, Austria, Australia, Belgia,
Netherland, Perancis, Rusia, Serbia
Montenegro

1,663

org

Jabodetabek, Bandung, Tangerang,Karawang,


Cianjur, Sukabumi, Malaysia, Austria,
Australia,Swedia, Spanyol,

2,128

org

Jabodetabek, Bandung, Tangerang,Karawang,


Semarang, Bali, Sukabumi, Australia,
Denmark, Italia, Prancis, Thailand

1,871

org

Jabodetabek, Bandung, Batam, Sukabumi,


Estonia, Italia

1,602

org

Jabodetabek, Bandung, Tangerang,Karawang,


Cianjur, Sukabumi, Prancis

20,984

org

Org

Pebruari
8

Maret
April

Mei
Juni

10

Juli
Agustus

11

September
Oktober

12

Nopember

Jumlah

KETERANGAN

Melihat satwa
penyu yang
sedang
bertelur,
melepas tukik
ke laut dan
menikmati
Sunset

II - 19

Tabel 8. Laporan Kunjungan Wisatawan Ke Pantai Pangumbahan Periode


Tahun 2013
NO.

BULAN

Januari

JUMLAH
PENGUNJUNG

DAERAH ASAL PENGUNJUNG

947

org

Pebruari

1,478

org

Maret

1,555

org

Jabodetabek, Bandung, Cianjur,Sukabumi,


Makassar, 3 orang USA dan 1 orang Inggris

April

959

org

Jabodetabek, Bandung, Cianjur,Sukabumi,


Lampung, Tangerang, Bali dan 10 org Brazil

Mei

1,597

org

Juni

2,129

org

Jabodetabek, Bandung, Cianjur, Sukabumi,


Purwakarta,Subang, Cirebon, Yogya, dan 3
org Belanda, 2 org Malaga 10 org
NewZealand
Jabodetabek, Bandung, Cianjur, Sukabumi,
Purwakarta, Pekanbaru,dan 3 org New
Zealand , 2 org Japan, 3 org Brazil, 4 org
Australia

Juli

1,944

org

Jabodetabek, Bandung, Cianjur, Sukabumi,


Purwakarta, Bali, 2 org Portugal, 5 org UK
dan 4 org Australia

Agustus

7,359

org

September

1,256

org

Jabodetabek, Bandung, Cianjur, Sukabumi,


Purwakarta, Karawang,2 org Polandia, 6 org
Spanyol, 2 org Portugal, 2 org UK dan 3 org
Australia
Jabodetabek, Bandung, Cianjur, Sukabumi,
Purwakarta, 4 org Spanyol, 2 org Kanada,2
org Inggris, dan 2 org Australia

10

Oktober

1,674

org

11

Nopember

1,234

org

12

Desember

2,633

org

24,765

org

Jumlah

Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang,


Yogjakarta, Cianjur, Tasik, Sukabumi dan 2
orang Australia
Jabodetabek, Bandung, Cianjur, Sukabumi,
Malang, Riau dan 4 orang Malaysia, 6 orang
Rumania

Jabodetabek, Bandung, Sukabumi, New


Zealand 3 org, Australia 2 org, USA 5 org,
Marocco 1 org, Spanyol 2 org.
Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Karawang,
Cianjur, Sukabumi, 2 org Jerman, 2 org
Prancis, 6 org Inggris, 1 org New Zealand
Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Karawang,
Cianjur, Sukabumi, Papua, 2 org Prancis.

KETERANGAN

Melihat satwa
penyu yang
sedang
bertelur,
melepas tukik
ke laut dan
menikmati
Sunset

II - 20

Tabel 9. Laporan Tahunan Jumlah Pengunjung UPTD Konservasi Penyu


Pangumbahan Tahun 2014
Jumlah Pengunjung (Org)
No.

Bulan
Dewasa

Anak

Mhs/Pelaja
r

Tk/P
aud

Total (Org)

Januari

1,617

330

55

2,002

Februari

1,276

124

24

1,424

Maret

1,641

127

1,768

April

1,206

110

1,316

Mei

391

62

453

Juni

379

42

421

Juli

1,422

76

1,498

Agustus

405

75

480

September

1,104

52

1,156

10

Oktober

1,347

82

1,429

11

November

2,164

197

2,361

12

Desember

1,076

90

1,166

14,028

1,36
7

79

15,474

JUMLAH

Selain pertanian, perikanan menjadi sektor unggulan di kecamatan Ciracap,


termasuk salah satunya di Desa Pangumbahan yang menjadi penyumbang melalui
keterlibatan masyarakatnya sebagai nelayan tangkap. Data TPI Ujunggenteng tahun
2013 menyebutkan bahwa di wilayah kerja TPI Ujunggenteng Kecamatan Ciracap yang
meliputi desa Ujungenteng, Pangumbahan, Gunungbatu dan Cikangkung tercatat potensi
sumber daya kelautan dan perikanan sebagai berikut:
a.

Nelayan yang ada di pangkalan pendaratan ikan (PPI) dan tempat pelelangan ikan
(TPI) Ujunggenteng berasal dari 4 (empat) desa, yakni:
1)

Desa Ujunggenteng;

2)

Desa Pangumbahan;

3)

Desa Gunungbatu;

4)

Desa Cikangkung.

II - 21

b.

c.

d.

e.

f.

Total nelayan sebanyak 1.350 orang, terdiri dari:


1)

Desa Ujunggenteng sebanyak 851 orang;

2)

Desa Pangumbahan 187 orang;

3)

Desa Gunungbatu sebanyak 160 orang; dan

4)

Desa Cikangkung sebanyak 152 orang.

Jumlah keluarga nelayan sebanyak 4.050 jiwa, berasal dari:


1)

Desa Ujunggenteng sebanyak 2.552 jiwa;

2)

Desa Pangumbahan 261 jiwa;

3)

Desa Gunungbatu sebanyak 480 jiwa; dan

4)

Desa Cikangkung sebanyak 456 jiwa.

Data Kapal Motor dan Motor Tempel:


1)

Perahu tanpa motor sebanyak 17 buah;

2)

Motor tempel sebanyak 390 buah;

3)

Kapal motor sebanyak 12 buah;

4)

Payang sebanyak 1 buah; dan

5)

Motor gantar sebanyak 6 buah.

Jumlah alat tangkap, terdiri dari:


1)

Jaring rampus sebanyak 408 unit;

2)

Jaring angoh sebanyak 408 unit;

3)

Jaring pinggir sebanyak 10 buah;

4)

Gillnet sebanyak 60 unit;

5)

Pancing rawe sebanyak 402 unit; dan

6)

Pancing tangan sebanyak 413 unit.

Jumlah bakul:
1)

Bakul besar sebanyak 12 orang;

2)

Pengecer sebanyak 15 orang;

3)

Pengolah, terdiri dari pengolah ikan asin sebanyak 6 kelompok dan pengolah
ikan pindang sebanyak 2 kelompok.

g.

Jumlah Pelaku Utama Perikanan:


1)

Kelompok Usaha Bersama sebanyak 41 kelompok;

2)

Kelompok Pengolah dan Pemasar sebanyak 3 kelompok;

II - 22

3)
h.

Kelompok Pembudidaya Ikan sebanyak 1 kelompok.

Tingkat Pendidikan Pelaku Utama Perikanan:


1)

Tamat SD sebesar 70%;

2)

Tamat SLTP sebesar 20%;

3)

Tamat SLTA sebesar 10%.


Untuk melihat aktivitas masyarakat Desa Pangumbahan di bidang perikanan,

khususnya perikanan tangkap di laut, dapat dilihat dari keberadaan armada tangkap dan
jenis alat tangkap yang digunakan. Indicator ini hanya merupakan salah satu dari sekian
gambaran aktivitas di lapangan. Masih banyak kegiatan non perikanan yang
berkontribusi terhadap perolehan dan peningkatan pendapatan masyarakat dan menjadi
pendukung bagi keberlanjutan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Taman
Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan. Khusus untuk armada dan jenis alat tangkap di
pesisir pantai Pangumbahan dan Ujunggenteng tidak seperti halnya di Teluk
Palabuhanratu, baik keragaman jenis maupun jumlahnya tentu jauh berbeda. Namun
demikian keberadaannya sangat menentukan nasib masyarakat pesisir. Ini terbukti
bahwa sejak jaman dahulu sampai sekarang pantai Ujunggenteng dan Pangumbahan
menjadi tumpuan harapan para nelayan.
Apabila diklasifikasi, nelayan di Ujunggenteng dan Pangumbahan (yang
berlabuh di TPI Ujunggenteng) hanya terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yakni nelayan
penuh dan nelayan sambilan utama. Sementara itu nelayan sambilan tambahan tidak
ditemukan pada tahun 2013 dan muncul di tahun 2014 (Tabel 10). Hal ini diperkirakan
karena memang hampir semua warga pesisir mengandalkan mata pencahariannya dari
laut, terlepas sampai saat ini laut bisa mensejahterakan atau tidak.
Tabel 10. Jumlah Nelayan Perikanan Laut di Wilayah Kerja Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) Ujunggenteng (Konsentrasi dari Desa
Ujunggenteng dan Pangumbahan)
No.
Tahun
Nelayan (orang)
Penuh
Sambilan
Sambilan
Total
Utama
Tambahan
1.
2013
1050
30
0
1080
2.
2014
877
273
200
1350

II - 23

3.

Sumber Daya Pertanian


Dilihat dari potensi lahan usaha tani, Kecamatan Ciracap memiliki sawah

berpengairan setengah teknis 1.443 Ha, pedesaan/sederhana 1.664 Ha dan tadah hujan
1.038 Ha.
Tabel 11. Luas lahan sawah berdasarkan jenis pengairan
Sawah Pengairan (Ha)

Ciracap

175

489

Sawah
Tadah
Hujan
(Ha)
147

Purwasedar

100

321

229

650

Pasirpanjang

175

221

69

465

Cikangkung

288

270

118

676

Gunungbatu

146

95

241

Mekarsari

705

142

165

1012

Pangumbahan

55

155

210

Ujunggenteng

20

60

80

1038

4145

No.

Desa/
Kelurahan

Teknis

Teknis

Pedesaan

Total

1443

1664

Jumlah
(Ha)
811

Sementara itu wilayah Kecamatan Ciracap memiliki potensi lahan darat seluas
12.878 Ha, yang dikelola oleh petani danpihak swasta (perkebunan).
Tabel 12. Tata guna lahan darat di wilayah Kecamatan Ciracap
No

Desa

Pekaranga
n (Ha)

Ladang/

Kebun

Kebun

Kolam/

Hutan

Lain-

Tegalan

Rakyat

Swasta

Tamba

Negara

lain

(Ha)

(Ha)

(Ha)

k (Ha)

(Ha)

(Ha)

Jumlah
(Ha)

Ciracap

32

349

227

190

801

Purwasedar

35

425

211

513

543

1732

Pasirpanjang

95

429

120

74

160

886

Cikangkung

192

678

350

150

374

1746

Gunungbatu

62

625

340

2144

420

190

4101

Mekarsari

91

700

340

648

1782

Pangumbahan

51

335

300

175

863

Ujunggenteng

48

427

320

172

967

606

3968

2198

2198

24

420

1462

12878

Total

II - 24

Sedangkan petani di Kecamatan Ciracap pada umumnya memiliki lahan sempit


dimana 59,5% diantaranya hanya memiliki lahan seluas 0,01-0,25 Ha atau dikenal
dengan petani gurem.
Tabel 13. Rata-rata kepemilikan lahan sawah di Kecamatan Ciracap Tahun 2013
Rata-rata kepemilikan sawah (%)
No

Desa

< 0,1 Ha
(%)

0,10-0,25
Ha (%)

0,26-0,5
Ha (%)

0,511,00
Ha (%)

> 1,00
Ha(%)

Ciracap

20

35

30

10

Purwasedar

15

40

30

10

Pasirpanjang

20

40

28

10

Cikangkung

15

35

40

Gunungbatu

20

40

30

Mekarsari

20

35

30

10

Pangumbahan

15

40

30

10

Ujunggenteng

20

35

30

18,3

37,5

31,2

3,9

Rata-rata

Sebagian besar mata pencaharian masyarakat Desa Pangumbahan adalah petani


lahan kering (sawah tadah hujan). Kegiatan pertanian yang dominan sebagai mata
pencaharian pokok masyarakat Desa Pangumbahan adalah pertanian padi sawah. Selain
itu, mereka juga melakukan budidaya tanaman palawija di ladang dengan jenis dominan
kacang tanah yang produksi rata-ratanya lebih kurang 3 ton/ha, di samping tanaman
lainnya seperti bawang dan semangka. Adapun kegiatan peternakan didominasi oleh
jenis sapi, domba, kambing, ayam dan bebek yang rata-rata dilepas tidak dikandangkan.
Luas wilayah Desa Pangumbahan 1.916 Ha, dengan struktur penggunaan tanah
sebagaimana tabel di bawah ini:

II - 25

Tabel 14. Struktur Penggunaan Lahan di Desa Pangumbahan


NO.

PERUNTUKAN
TANAH

Tanah Sawah (milik)

Tanah Kering (milik)

Tanah Basah
(HGU U 17)

Tanah Perkebunan
(HGU)

Tanah Fasilitas
Umum

Tanah Hutan
JUMLAH LUAS

LUAS (ha)

RINCIAN

Irigasi Teknis
295 teknis
Tadah hujan
Tegal/Ladang
180
Pemukiman
Tanah Rawa
89 Pasang Surut
Tambak Udang
Perkebunan Rakyat
967,57 Perkebunan Negara
Perkebunan Swasta
Tanah Kas Desa
Perkantoran Pemerintah
Lapangan
32,83
Kuburan
Lainnya (jalan, sungai
dll)
Hutan Lindung
Hutan Produksi
146,1
Hutan Konservasi (HPL)
Greenbelt (HGU U 15)
1.916

LUAS (ha)
125
170
97
83
0
0
89
0
0
967,57
1,03
3
2
26,8
0
0
58.5
87,6
1.916

Tingginya luasan lahan kering dan masih rendahnya luasan tanah sawah
sebagaimana ditunjukkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa peluang pengembangan
pembangunan ekonomi desa dari sektor pertanian dalam arti luas masih sangat terbuka,
diantaranya melalui peningkatan kemampuan teknologi dan industri ramah lingkungan
yang akan mampu menghasilkan nilai tambah bagi usaha ekonomi masyarakat dimasa
depan.

II - 26

2.2

Permasalahan

2.2.1

Masih Rendahnya Kesadaran Masyarakat terhadap Lingkungan &


Kepemilikan Lahan
Keterbatasan kemampuan dan rendahnya kesadaran masyarakat akan
lingkungan yang nyaman, asri dan berpenataan yang baik serta tidak mengertinya
mana hak dan mana kewajiban juga mana hak milik pribadi dan mana milik
orang lain atau milik pemerintah, menyebabkan semrautnya kondisi pemukiman
warga. Selain tata letak yang tidak beraturan, rumah-rumah juga kurang
mempunyai bentuk yang indah untuk dipandang, serta kedai-kedai dan tempat
istirahat yang kurang representatif bertebaran disana-sini. Akibatnya aktivitas
yang ada kurang kondusif bagi ritual penyu bertelur. Demikian juga dengan
kepemilikan lahan yang sesungguhnya bukan haknya menjadikan satu dengan
yang lain tidak ada kejelasan status namun diakui sebagai haknya. Ini membuat
masalah tersendiri bagi pemerintah dalam merencanakan pengelolaan dan
penataan kawasan konservasi kedepan. Akhirnya, optimalisasi pelestarian penyu
menjadi lamban dan tingkat kesejahteraan masyarakatpun susah untuk dicapai
karena terjadi perbedaan yang tajam antara konsep pengelolaan kawasan dengan
kehendak masyarakat yang terkesan memaksakan.
Di dalam kawasan sendiri terdapat 12 (dua belas) bangunan masyarakat yang
seharusnya tidak bercokol disitu. Demikian juga dengan lahan pertanian pepaya
dan palawija lainnya marak berkembang dalam kawasan. Dengan demikian
kondisi menjadi rancu dan samar mana pemilik dan penguasa serta mana yang
bukan.

II - 27

Gambar 6.

2.2.2

Pemukiman & pertanian warga yg berada dalam kawasan


konservasi Perairan Daerah (KKPD), Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan.

Rendahnya Ketaatan Masyarakat terhadap Hukum dan Peraturan


Minimnya ketaatan masyarakat terhadap hukum dan peraturan selain
dicerminkan dengan pelanggaran terhadap eksistensi penyu yang tergolong jenis
langka dan dilindungi serta penempatan lahan yang bukan pada miliknya, juga
susahnya pengaturan berupa rencana relokasi sehingga keluar dari kawasan
konservasi dan menempati lahan yang diperuntukkan dengan segala pengaturan
dan penataan yang dirancang dan ditetapkan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Gambar 7. Tembok pembatas dijebol dijadikan jalan umum: (atas: dekat


pos 6) dan (bawah: dekat pos 1).

II - 28

2.2.3

Masih Rendahnya Sinergitas Pengelolaan (internal) dengan Keberadaan


Lingkungan Sekitar (eksternal)
Keberadaan KKPD seyogyanya menghasilkan dua dimensi pembangunan,
yakni pelestarian penyu dan habitatnya serta peningkatan kesejahteraan
masyarakat sekitar. Namun dengan beragam masalah dan masih belum
optimalnya

konektivitas

antara

pengelola

dengan

masyarakat

sekitar

berkonsekwensi terhadap belum diperolehnya valuasi yang signifikan dari


pengelolaan penyu ini. Indikator yang nyata adalah produksi telur dan tukik
belum sesuai target, demikian juga dengan kerawanan sarana dan prasarana yang
terus terancam, kesadaran masyarakat yang lamban beranjak serta beratnya
menerapkan berbagai aturan untuk menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan
secara bersama-sama pula. Kurangnya pemahaman dan rendahnya kesadaran
masyarakat terhadap program pemerintah dinilai sebagai persoalan krusial dan
hampir membuyarkan program konservasi. Oleh karena itu pendekatan yang
harus ditempuh adalah upaya pendekatan personal dan organisatoris. Masyarakat
membutuhkan pengakuan dan pihak penyelenggaran konservasi sebaiknya
banyak berbaur. Hal yang dilakukan saat ini dan kedepan oleh UPTD Konservasi
Penyu Pangumbahan

adalah dengan seringnya melakukan anjang sono,

silaturrahim, ikut serta kegiatan keagamaan serta mengundang pihak masyarakat


dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh UPTD. Diharapkan dengan model
tadi akan bisa mencairkan kebekuan yang selama ini menjadi ganjalan besar bagi
terciptanya kawasan konservasi yang bisa diterima semua pihak.
2.2.4

Permasalahan Pengelolaan
Permasalahan pengelolaan Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan antara
lain berupa pencurian telur penyu oleh manusia maupun predator (biawak, anjing
dan lain-lain). Di samping itu pemahaman masyarakat terhadap upaya
pengelolaan penyu agar tetap lestari relatif masih rendah sehingga perlu
dilakukan sosialisasi dan publikasi secara terus menerus. Hal ini perlu dilakukan
mengingat penyu hijau merupakan ikon Kabupaten Sukabumi dan sebagai daya
tarik pariwisata bahari sehingga apabila keberadaan penyu tidak dijaga dengan
baik maka akan terjadi penurunan kunjungan wisata bahari ke Pangumbahan.

II - 29

Permasalahan lain yang timbul adalah sebagian lahan yang menjadi


kewenangan UPTD untuk melakukan pengelolaan konservasi berada dalam
penguasaan masyarakat sehingga menyebabkan terjadinya gesekan antara
pengelola dengan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan
pendekatan secara persuasif agar masyarakat yang tinggal di dalam kawasan
konservasi bersedia keluar dan tidak melakukan kegiatan yang tidak bertanggung
jawab.
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas perlu dilakukan upaya pendekatan
kepada masyarakat dari pihak pengelola maupun pemerintah daerah berupa:
1. Adanya jaminan dari pemerintah daerah bahwa masyarakat yang bersedia
keluar dari kawasan konservasi akan mendapat tanah pengganti yang dekat
dengan kawasan konservasi;
2. Melakukan upaya pembukaan mata pencaharian alternatif agar masyarakat
dapat mempunyai usaha baru guna menyongsong perkembangan kegiatan
wisata bahari yang semakin meningkat;
3. Melakukan penataan sebagian kawasan yang digunakan sebagai tempat
aktivitas kegiatan wisata bahari secara memadai dan ramah lingkungan;
4. Melakukan gerakan sadar lingkungan dan sadar wisata melalui pendidikan
formal maupun non formal sejak dini;
Terdapat beberapa faktor ancaman yang dapat menurunkan populasi Penyu
laut di Pantai Pangumbahan seperti kerusakan habitat sarang penyu, pemangsaan
alami, pemungutan telur, perburuan liar, penangkapan secara tidak langsung.
Ancaman terhadap telur penyu adalah pemungutan telur di lokasi peneluran dan
pemangsaan predator seperti biawak, babi hutan, elang, ikan besar pada tingkat
telur hingga anakan (tukik). Hanya 1 s/d 3 % anakan yang mampu mencapai
tingkat dewasa (Enrenfeld, D.W. 1974).
Beberapa peneliti pernah melaporkan bahwa presentase penetasan telur
hewan ini secara alami hanya sekitar 50 % dan belum di tambah dengan adanya
beberapa predator-predator lain saat mulai menetas dan saat kembali ke laut untuk
berenang. Predator alami di daratan misalnya kepiting pantai (Ocypode saratan,
Coenobita sp.), burung dan tikus. Sedangkan di laut, predator utama hewan ini
antara lain ikan-ikan besar yang beruaya di lingkungan perairan pantai.

II - 30

Tingkat kematian anakan penyu menuju dewasa sangat tinggi, diasumsikan


hanya sebutir sampai dengan tiga butir telur yang bertahan hidup dari 100 butir
yang dihasilkan seekor induk penyu. Sedangkan ancaman yang paling utama
adalah penangkapan oleh manusia. Penangkapan baik yang disengaja maupun yang
tidak dapat mengancam kelangsungan populasi penyu.
Penyu laut dapat mengeluarkan lebih dari 200 telur per sarang dan bertelur
beberapa kali selama musimnya, agar semakin banyak penyu yang berhasil
mencapai tingkat dewasa. Keseimbangan antara penyu laut dan pemangsanya
dapat menjadi lawan bagi keberlanjutan hidup penyu saat pemangsa baru
diintroduksi atau jika pemangsa alami tiba-tiba meningkat sebagai hasil dari
kegiatan manusia. Seperti yang terjadi di pantai perteluran di Guianas, kini anjing
menjadi ancaman utama bagi telur dan penetasan (Anonim, 2001).
Kerawanan terhadap penyu dapat dikelompokkan kedalam dua golongan,
yakni kerawanan penyu akibat ulah manusia dan kerawanan penyu akibat alam.
1.

Kerawanan Penyu akibat manusia


Kerawanan penyu akibat ulah manusia berdasarkan data di lapangan
diantaranya; pencurian telur penyu, lalulintas kapal nelayan dan kapal
tambang yang mengganggu lintasan penyu, rusaknya habitat pantai yang
mengakibatkan penyu tidak mau mendarat untuk bertelur.
Jumlah penyu yang mendarat dan bertelur di pantai Pangumbahan saat ini
masih tetap bertahan. Jumlahnya berkisar antara 700 3000 ekor.
Kerawanan kelestarian penyu yang paling besar terjadi pada saat penyu
bertelur.

Kehilangan telur penyu amat rawan karena penyu di wilayah

Pangumbahan tidak hanya bertelur di kawasan konservasi Pangumbahan


namun juga di areal BKSDA serta diluar wilayah kerja BKSDA.
Memperhatikan kondisi tersebut maka harus diambil langkah untuk
memperluas wilayah zona inti kawasan konservasi untuk melindungi habitat
pendaratan penyu.
Kerawanan lain yang dihadapi, yakni ketika tambang pasir besi sudah
mulai dilakukan yakni akan mengganggu lalu lintas penyu yang akan
mendarat di Kawasan Konservasi Perairan Daerah, Taman Pesisir Pantai

II - 31

Pangumbahan. Maka, perlu diatur zonasi rinci untuk lintasan kapal di laut
sekitar pantai Pangumbahan.
Perubahan ekosistem pantai akibat campur tangan manusia juga menjadi
salah satu penyebab kerawanan terhadap jumlah penyu yang mendarat. Saat
ini zona yang ditetapkan sebagai zona inti masih ada yang berstatus HGU
dan dikuasai oleh swasta, kondisi eksiting lahan tersebut dimanfaatkan oleh
masyarakat diantaranya untuk penginapan dengan menggunakan cahaya
lampu (listrik) sehingga besar kemungkinan penyu tidak jadi mendarat.
Masalah lain di lokasi HGU tersebut tanaman penghijauan di wilayah
sempadan pantai ditebang dengan alasan menghalangi pemandangan.
a. Permasalahan saat pengumpulan telur penyu
Berdasarkan hasil survey, problem yang dihadapi dalam proses
pengumpulan telur adalah:
1) Pencurian Telur Penyu; Pencurian telur penyu merupakan masalah
yang sering ditemukan pada proses pengelolaan konservasi penyu di
Pantai Pangumbahan, berdasarkan penuturan petugas dan hasil survey
pencuri berasal dari kampung yang berbatasan dengan Pantai
Pangumbahan. Pencuri melakukan kegiatan terutama di malam hari,
mereka mencuri diantara kelengahan petugas pengumpul telur.
Keberadaan pencuri ini sering ditemukan petugas, pencuri hanya
mengambil telur tapi tidak pernah mengambil daging.
2) Keterbatasan Kinerja. Pengumpulan telur penyu dilakukan dengan
tujuan melakukan penetasan telur penyu di tempat yang aman. Sebab
penetasan telur di pantai secara alamiah tanpa penjagaan akan
terancam oleh pencuri maupun hewan-hewan predator. Untuk
menghindari hal tersebut, telur diambil petugas dan ditetaskan di
tempat aman. Kegiatan pengumpulan telur ini dilakukan oleh petugas
dari UPTD.
3) Permasalahan yang muncul adalah, telur lebih dulu diambil pencuri
saat petugas berada di pantai sisi lain, baik sedang berjaga maupun
menunggu penyu yang sedang bertelur (proses penyu bertelur

II - 32

memerlukan waktu sekitar 2 jam). Permasalahan lain saat frekuensi


penyu bertelur tinggi banyak telur yang terpaksa tidak bisa
dipindahkan sehingga akan terancam oleh pencuri maupun hewan buas
pencari telur.
4) Luas Area Pantai peneluran penyu di Pantai Pangumbahan
membentang sepanjang 2,3 kilometer. Seluruh area sepanjang pantai
merupakan kawasan peneluran penyu meskipun dengan lokasi yang
berpindah-pindah. Pantai yang begitu luas tersebut menyebabkan
permasalahan

tersendiri

pada

proses

menemukan

maupun

mengumpulkan telur penyu untuk dipindah ke tempat penetasan semi


alami.
b. Permasalahan saat penetasan dan pembesaran penyu
Setelah telur penyu dikumpulkan dari pantai tempat bertelur. Kemudian,
telur dikumpulkan pada tempat penetasan semi alami. Tempat ini disebut
semi alami karena telur ditetaskan tetap pada media pasir hanya tempatnya
yang dipindah dari pantai tanpa perlakukan apapun. Permasalahan yang
muncul adalah adanya hewan pengganggu, variasi daya tetas dan viabilitas
tukik.
1) Hewan pengganggu. Hewan pengganggu yang sering merusak telur
saat dipenetasan adalah tikus dan biawak. Tikus umumnya menyerang
telur dalam ruangan, sedangkan biawak mengambil telur yang
ditetaskan pada tempat yang terbuka. Petugas telah melakukan
pencegahan, tapi sekali waktu hewan-hewan ini berhasil merusak telur
yang sedang ditetaskan.
2) Daya tetas. Daya tetas telur hasil penetasan semi alami mengalami
fluktuasi, pada bulan April 2007 daya tetas mencapai 87,5% sedangkan
pada bulan maret daya tetas mencapai 77,1%. Daya tetas sebagaimana
yang terlihat pada data di atas sebenarnya belumlah ideal, di lapang
daya tetas telur dapat mencapai mendekati 100%. Rendahnya daya
tetas

ini

sangat

dimungkinkan

akibat

pengangkutan maupun proses penetasan.

proses

pengambilan,

II - 33

3) Viabilitas tukik. Setelah telur menetas muncullah anak penyu kecil


yang disebut dengan tukik. Tukik ini akan mengalami dua macam
perlakuan. Perlakuan pertama tukik dirawat sekitar satu minggu dan
perlakuan kedua tukik dirawat dalam waktu yang lebih lama. Tempat
perawatan tukik di Pangumbahan telah mengalami perubahan,
beberapa tahun yang lalu menggunakan aquarium berukuran 4 kali 3
meter, namun kemudian berubah menggunakan bak-bak kecil diameter
3050 cm. Selama dua tahun ini tidak ada data jumlah kematian tukik
selama dalam proses perawatan, namun dalam survey ditemukan
sejumlah tukik mati dalam perawatan. Beberapa tukik mati akibat
serangan jamur pada bagian mata, sedangkan tukik yang lain mati
dengan tidak ada tanda-tanda kerusakan morfologi, dimungkinkan
tukik banyak mati akibat stress saat penggantian air, kepadatan, stres
suhu atau mungkin cemaran akibat sisa metabolismenya sendiri.
Berkaca dari pengalaman tersebut, maka tukik-tukik hasil tetasan
langsung dilepas ke laut untuk segera menyesuaikan dengan alam
sebagai habitat aslinya.
c. Permasalahan saat pelepasan penyu ke laut
Pada proses pelepasan merupakan tahapan yang relatif tidak ada masalah
yang ditemukan. Proses pelepasan dilakukan setelah tukik di rawat selama
sekitar satu minggu setelah menetas, atau dalam perlakukan lain tukik
dilepas dalam kurun waktu perawatan yang lebih lama. Proses pelepasan di
darat tidak ditemukan permasalahan, namun sangat mungkin tukik-tukik
yang masih lemah mati akibat stres. Namun, saat tukik masuk perairan maka
musuh-musuh alaminya sudah menunggu, antara lain ikan-ikan berukuran
besar sebagai pemangsanya.
2.

Permasalahan lain selain proses kegiatan konservasi penyu


Selain permasalahan yang telah dirinci di atas, permasalahan secara
umum yang dihadapi adalah keterbatasan petugas, tidak ada tenaga ahli
khusus dan belum ada kepastian hukum secara penuh.
a. Keterbatasan petugas. Kegiatan pengumpulan telur dilakukan oleh para

II - 34

pemuda yang diswadayakan khusus untuk penyelamatan telur penyu.


Sebanyak 25 orang bertugas sebagai penyelamat telur sepanjang 2,3
Km Jalur Pantai pangumbahan. Mereka bekerja bergantian sepanjang
malam menjaga telur penyu dan memindahkannya ke tempat penetasan
semi alami. Dalam bertugaspun petugas mengatur cuti secara bergiliran,
sehingga setiap patroli malam hanya bertugas sekitar 10-15 orang dengan
kawasan yang harus dipantau sepanjang 2,3 km.
b. Tidak ada staf ahli khusus dalam bidang konservasi di area konservasi
Taman Pesisir Pantai Pangumbahan. Penyu merupakan satwa langka
dunia, kehidupannya terutama di alam bebas, belum didapatkan
penjelasan yang pasti. Untuk itu diperlukan tenaga ahli khusus yang
menangani pengelolaan penyu di Pangumbahan mengingat penyu menjadi
ikon Kabupaten Sukabumi namun belum teridentifikasi walaupun sudah
lama. Ketidakberadaan tim ahli yang khusus menangani pengelolaan
penyu menyebabkan tidak adanya standar operasional khusus dan
pelaksanaan kegiatan terevaluasi secara signifikan.
c. Kepastian hukum atas pelanggaran. Pencurian jelas terjadi, peredaran
telur penyu di pasar-pasar tradisional banyuwangii juga ditemukan
(Prihanta, 2006). Namun nampaknya semua responden meragukan
kepastian hukum pada para pelaku, terbukti peredaran telur terus terjadi,
pencurian terus berlanjut bahkan terindikasi tersangka adalah pelakupelaku lama. Demikian pula di Kawasan Konservasi Perairan Daerah
Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan masih saja terjadi pencurian.
Akan tetapi, pelanggarnya bisa bebas karena tidak terlacak dan jauh dari
jangkauan hukum.
3.

Kerawanan penyu akibat alam


Rusaknya habitat penyu selain diakibatkan oleh tangan manusia, juga
rusak akibat alam. Akibat alam berdampak pada kerusakan padang lamun
dan terumbu karang diantaranya disebabkan oleh sedimentasi aliran air
sungai yang membawa lumpur berlebih sehingga mengendap diatas terumbu
karang atau menimbun padang lamun. Pengaruh alam yang juga berdampak
pada habitat penyu diantaranya abrasi pantai yang mengakibatkan rusaknya

II - 35

vegetasi di wilayah pantai. Demikian pula dengan persampahan, baik yang


dibawa melalui kiriman air laut yang pasang maupun karena buangan
sampah pengunjung yang datang dengan serta meninggalkan sisa-sisa
sampah makanan saat makan dan minum.
a. Kerawanan Terhadap Terumbu Karang
Terumbu karang di Kawasan Konservasi Pangumbahan saat ini banyak
mengalami kerusakan.

Kerusakan ini disebabkan oleh beberapa hal,

diantaranya karena penangkapan ikan dan sedimentasi.


Penurunan tutupan karang dapat disebabkan adanya faktor manusia, yaitu
akibat penangkapan ikan di kawasan Pangumbahan dan Ujunggenteng.
Jaring yang menempel di karang hidup akan mengakibatkan stres pada
karang yang selanjutnya akan menimbulkan kematian. Penyebab kematian
karang juga dapat disebabkan adanya tingkat kekeruhan yang tinggi dan
kecerahan yang rendah. Perairan Ujunggenteng dan Pangumbahan secara
umum mempunyai tingkat kekeruhan yang relative sedang. Hal ini
menyebabkan kecerahan di permukaan perairan cukup sedang, demikian pula
dengan dasar hanya beberapa meter saja. Penyebab kekeruhan terutama
adanya aliran sungai Cikarang dimana di sepanjang sungai dilakukan
kegiatan pengambilan pasir sungai. Bahkan ada yang mengeluhkan bahwa di
bagian hulunya pun terdapat penggosokan batu yang notabene menggunakan
bahan kimia dan masuk aliran sungai serta bermuara ke pantai laut.
Keberadaan sedimen di area terumbu karang mempunyai pengaruh
negatif. Melalui mekanisme shading dan smotheering sedimen dapat
menyebabkan pertumbuhan karang terhambat atau bahkan mematikannya.
Efek dari sedimentasi dapat menyebabkan bioerosi (proses biologi yang
bersifat merusak struktur terumbu karang)

pada karang oleh berbagai

organisme macroboring seperti spons, cacing, gastropoda dan bivalvia.


Sedimentasi juga merupakan faktor utama yang mengakibatkan kematian
karang keras pada saat proses rekrutmen melalui mekanisme smotheering.
Kondisi stress pada karang yang diakibatkan oleh sedimentasi juga dapat
terlihat dari menurunnya densitas zooxanthellae dan konsentrasi klorofil
pada jaringan polip karang.

II - 36

Pengaruh sedimen terhadap terumbu karang terjadi secara langsung


maupun tidak langsung. Secara langsung sedimen yang terdeposit akan
menutupi permukaan polip karang sehingga akan meningkatkan kebutuhan
energi metabolik untuk menghilangkannya kembali. Secara tidak langsung
sedimen yang tersuspensi dapat menghalangi masuknya penetrasi sinar
matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis alga simbion karang,
zooxanthellae. Apabila jumlah sedimen cukup tinggi dan melebihi batas
kemampuan polip karang untuk beradaptasi, maka akan terjadi kematian dan
penurunan penutupan karang hidup pada Perairan Karang Kreteg. Selain itu,
jika

sedimen

mengandung

sejumlah

besar

bahan

organik

akan

mengakibatkan terjanya invasi oleh alga.

Gambar 8.

Jaring ikan yang dapat mengakibatkan stress pada karang (A);


Pemutihan Karang (Coral Bleaching) pada tutupan terumbu
karamg (B).

Masa pemulihan terumbu karang yang rusak oleh sedimentasi tak dapat
diprediksi, karena kerusakan akibat sedimentasi telah mengubah tipe substrat
yang sebelumnya pasir dan batuan karang menjadi lumpur berdebu yang
halus dan gampang melayang oleh arus. Substrat ini menutup karang yang
akhirnya mati dan ditumbuhi makroalga. Pemulihan karang akan sulit terjadi
karena laju pertumbuhan alga jauh lebih cepat daripada laju pertumbuhan
karang.
Beberapa upaya yang dilakukan dalam memulihkan tutupan terumbu
karang adalah dengan kegiatan Transplantasi Terumbu karang pada kegiatan

II - 37

Pemanfaatan dan Pemulihan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Secara


Terpadu dan Berkelanjutan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten
Sukabumi bersumber APBD II Kabupaten Sukabumi. Pada tahun 2014
dilaksanakan

di

perairan

Kalapacondong

dan

Bagal

Batere

Desa

Ujunggenteng dengan jumlah 2.800 substrat. Setelah mengalami perjalanan


waktu 1 (satu) tahun dilaporkan bahwa pertumbuhannya cukup baik. Dengan
demikian maka kedepannya kegiatan serupa harus terus dilakukan seiring
dengan kebutuhan peningkatan tutupan terumbu karang bagi kelimpahan
produksi ikan dan stok keanekaragaman hayati laut sebagai sumber mata
pencaharian potensial dan warisan bagi anak cucu kelak.
b. Kerawanan Terhadap Lamun.
Keberadaan Lamun di pantai Ujunggenteng dan Pangumbahan telah
banyak mewarnai dinamika yang berkembang di tengah masyarakat. Di satu
sisi lamun banyak dimanfaatkan oleh Penyu Hijau (Chelonia Mydas) sebagai
pakan utama, di lain sisi banyak masyarakat yang mengunduh untuk
kepentingan ekonomi dan perbaikan taraf hidup. Dua sisi inilah yang masih
menjadi permasalahan. Dalam hal kepentingan masyarakat ternyata dampak
dan persoalan yang timbul dalam pemanfaatan lamun adalah pengambilan
yang belum terukur secara volumetric dan cara yang tidak ramah lingkungan.
Saat ini lamun diunduh secara tidak terjadwal dan dalam jumlah yang
mengikuti kebutuhan pasar. Sedangkan ketidakramahan terhadap lingkungan
karena alat yang digunakan adalah benda tajam seperti sabit, gergaji, pisau
dan lain-lain dengan cara mengambil lamun sampai dengan akar dan bahkan
karangnya sebagai penempel/substrat lamun. Dengan model seperti ini maka
bukan saja terjadi perebutan kebutuhan dengan penyu, melainkan kedepan
sumber daya ini menjadi rusak karena substratnya terambil dan jumlah
lamun menipis dengan habisnya cadangan pertumbuhan (dipanen/diunduh
secara total dari pucuk sampai akar). Alhasil dapat kita pastikan bahwa
apabila tidak dilakukan rencana pengelolaan dan pengendalian secara
maksimal dengan menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat maka
potensi lamun hanya akan menjadi kenangan. Dampak terburuk jangka

II - 38

panjang adalah menurunnya produksi ikan, termasuk penyu, karena kawasan


lamun sebagai sumber pakan biota laut sudah tidak ada lagi.
c. Kerawanan terhadap vegetasi pantai
Kerusakan vegetasi pantai yang diakibatkan oleh manusia diantaranya
terjadi penebangan liar oleh para petani penyadap. Terjadi juga penebangan
vegetasi pantai karena konversi lahan menjadi lahan pertanian dan atau
pemukiman serta tempat berdagang/berjualan. Kejadian ini bukan saja terjadi
di luar kawasan akan tetapi di dalam kawasan sehubungan masih terdapat
beberapa warga sekitar yang bermukim di dalam kawasan. Bahkan masih
ditemukan luasan tanaman papaya milik pengusaha yang sampai saat ini
dikembangkan di dalam kawasan. Sementara itu jenis vegetasi yang biasa
ditebang adalah katapang, nyamplung, waru dan lamtoro. Sedangkan
kerusakan yang disebabkan alam diantaranya oleh arus pasang dan angin
barat. Kejadian ini hanya pada saat tertentu dan tidak menimbulkan
kerusakan yang fatal sehingga bisa diperbaharui melalui program dan aksi
rehabilitasi sumber daya hayati vegetasi pantai yang selama ini acapkali
dilakukan oleh UPTD Konservasi Penyu Pangumbahan. Tercatat sudah
mencapai ribuan pohon vegetasi pantai yang ditanam di kawasan konservasi,
baik yang diinisiasi dan difasilitasi kalangan internal Dislutkan dan UPTD
maupun lintas OPD dan lembaga lainnya yang peduli lingkungan. Beberapa
jenis tanaman vegetasi pantai yang ditanam adalah nyamplung, ketapang,
butun, bintaro, pandan, waru laut, dan ketapang laut.
4. Upaya yang Dilakukan oleh UPTD
UPTD Konservasi Penyu telah melakukan beberapa upaya dalam mengatasi
berbagai macam permasalahan yang ada di sekitar Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan antara lain:
a. Penanggulangan terhadap kerawanan penyu berupa:
1) Kerjasama dengan masyarakat yang disebut dengan KKPS (Kelompok
Konservasi Penyu Sukabumi) untuk menekan kehilangan telur penyu yang
mendarat di sekitar pantai Pangumbahan Sukabumi, termasuk telur-telur
penyu yang mendarat di wilayah BKSDA;

II - 39

2) Mengajukan permohonan lahan HGU di sekitar zona inti untuk


dikeluarkan surat pelepasan haknya sehingga menjadi lahan HPL Pemda 3
(tiga);
3) Penanganan lahan kritis di hulu sungai serta reboisasi di wilayah sempadan
pantai;
4) Kerjasama dengan BIO FARMA dan WWF dalam rangka pelatihan dan
adopsi penyu sehingga pengelolaan telur penyu lebih intensif dan terawasi
lagi serta adanya peningkatan pemahaman dan kesadaran bagi warga
sekitar;
5) Mengusulkan program CSR yang lain melalui Bappeda Kabupaten
Sukabumi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Penanggulangan terhadap kerawanan mangrove berupa:
1) Kerjasama dengan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) Genteng
Nusantara, Balawista, Kompepar, Pemuda Pelopor, Kelompok Pemuda
Kedusunan serta Karang Taruna untuk menanam mangrove di beberapa
muara, yakni: Muara Cigebang, Ciseupan, Cipaku, Cikodehel, Cibuaya
dan Cikarang;
2) Rencana rehabilitasi di Muara Cipanarikan sebagai muara terdekat dengan
kawasan konservasi, khususnya Pos VI;
3) Diadakan sosialisasi pengelolaan mangrove kepada Pokmaswas dan warga
masyarakat;
4) Diadakan percontohan pengelolaan mangrove mulai dari pembibitan,
penanaman sampai dengan pemeliharaan.
c. Penanggulangan terhadap kerawanan terumbu karang, sudah dilakukan hal-hal
sebagai berikut:
1) Kerjasama dengan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas)
Genteng Nusantara dan Klinik IPTEK Mina Bisnis (KIMBis) untuk
melakukan transplantasi terumbu karang di Perairan Bagal Batere dan
Kalapacondong;
2) Diadakan sosialisasi pengelolaan terumbu karang kepada Pokmaswas dan
warga masyarakat;

II - 40

3) Akan terus dilakukan transplantasi terumbu karang dengan menggunakan


dana APBD II dan bermitra dengan para pihak yang tidak mengikat;
4) Diadakan percontohan pengelolaan terumbu karang mulai dari pembuatan
substrat, pengambilan sponge, penanaman sampai dengan pemeliharaan.
d. Penanggulangan terhadap kerawanan vegetasi pantai, berupa:
1) Kerjasama dengan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas)
Genteng Nusantara dan Klinik IPTEK Mina Bisnis (KIMBis) untuk
melakukan penanaman vegetasi pantai di pesisir Ujunggenteng dan
Pangumbahan;
2) Diadakan sosialisasi pengelolaan vegetasi pantai kepada Pokmaswas dan
warga masyarakat;
3) Akan terus dilakukan penanaman vegetasi pantai dengan menggunakan
dana APBD II dan bermitra dengan para pihak yang tidak mengikat;
4) Diadakan percontohan pengelolaan vegetasi pantai mulai dari pembibitan,
penanaman sampai dengan pemeliharaan
e. Penanggulangan Kurangnya Sarana dan Prasarana Pendukung Pengelolaan,
akan dilakukan:
1) Pembuatan kolam sentuh beragam ukuran dengan bentuk kotak-kotak dan
bundar berada di sekitar Pos 1;
2) Pemagaran lingkungan kawasan sepanjang 10 meter kearah laut (dekat
pos 1) dan di beberapa bagian pagar yang rusak sekitar 20 meter (pagar
precast) di dekat pos 6;
3) Jogging track di dalam kawasan dengan ukuran panjang 3.000 meter x
lebar 1,5 meter yang berada di dalam kawasan berjejer dengan pagar yang
mengitari lingkungan kawasan konservasi;
4) Infratsruktur jalan di luar kawasan yang merupakan kewenangan OPD
terkait sepanjang 3.000 meter x lebar 3 meter, dimulai dari pintu gerbang
UPTD sampai dengan muara Cipanarikan;
5) Menara Pengawas yang dibangun atau diletakkan di area peneluran
berdekatan dengan Pos 2 dimana ritual peneluran penyu banyak
ditemukan diantara pos 3 dan 3;

II - 41

6) Camera CCTV sebanyak 8 (delapan) titik berlokasi di Ruang Penetasan,


Komplek Perkantoran dan di setiap pos pengawasan dari mulai pos 1
sampai dengan pos 6
f. Penanggulangan

Terhadap

Keberadaan

Infrastruktur

Kawasan,

akan

dilakukan:
1) Peningkatan intensitas piket, penjagaan dan pengawasan;
2) Peningkatan sosialisasi, pembinaa dan anjangsono serta silaturrahim
kepada

masyarakat

dalam

berbagai

ajang

kegiatan

keagamaan,

kemasyarakatan dan kepemerintahan serta pembangunan;


3) Pemagaran dengan bahan yang lebih kuat dan berkualitas sehingga susah
untuk dijebol;
4) Mengembangkan konsepsi pengelolaan konservasi sesuai tuntutan zaman
dan perkembangan kemasyarakatan.
5. Kegiatan Penelitian dan Pendidikan
Dukungan persepsi sudah barang tentu beragam, ada yang kontra dan ada pula
yang pro. Kepentingannya adalah pada sisi kebutuhan. Bagi mereka yang banyak
menikmati akan arti pentingnya KKPD terhadap ekonomi dan pembangunan
wisata, maka kelompok ini akan banyak pro. Namun demikian bagi mereka yang
hidupnya berketergantungan selalu mencari celah untuk menikmati langsung
telur penyu, maka kelompok ini merasa gerah akan keberadaan KKPD Taman
Pesisir Penyu Pangumbahan. Dalam hal ini untuk memperoleh data akurat dan
obyektivitas dukungan dan persepsi masyarakat diperlukan sebuah survey dan
observasi. Salah satu contoh yang tiap tahun dilakukan adalah dengan
menerjunkan mahasiwa jurusan FEMA (Fakultas Ekologi Manusia) Institut
Pertanian Bogor.
Dari catatan yang ada dalam 2 (dua) tahun terakhir terinventarisir kegiatan
penelitian dan pendidikan di Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan, yakni tahun 2014 dan 2015. Selama tahun 2014 terdapat 4
(empat) kategori penelitian, yakni: (1) kepariwisataan; (2) oceanografi; (3)
pengelolaan kawasan berbasis jasa ekosistem; dan (4) teknis pengelolaan
penangkaran. Sementara itu pada tahun 2015 terdapat kegiatan penelitian dengan
4 topik penelitian, namun dapat dikelompokkan menjadi 2, yakni: (1) teknis

II - 42

pengelolaan penangkaran; dan (2) pengelolaan konservasi penyu secara


kolaboratif. Selengkapnya disajikan pada Tabel di bawah ini:
Tabel 15 . Kegiatan Penelitian Tahun 2014
No
1.

2.

Tanggal
Asal
3 Maret 2014 Sekolah Tinggi
Pariwisata
Bandung
2 Oktober LIPI
2014

3.

14 Oktober Program
2014 Magister
Sekolah Pasca
Sarjana IPB

4.

27 Oktober Program
2014 Magister
Sekolah Pasca
Sarjana IPB

Jumlah
Topik
1 org Destinasi Wisata di Pantai
Pangumbahan, Sukabumi
10 org Analisa oseanografi di
Perairan Pangumbahan,
Sukabumi
1 org Studi Implementasi
Pengelolaan Kawasan
Konservasi Habitat Penyu
melalui Pendekatan
Skema Pembayaran Jasa
Ekosistem
1 org Pengaruh kedalaman
sarang dan intensitas
cahaya terhadap lama
masa inkubasi penyu hijau
di pantai pangumbahan
Sukabumi

Tabel 16, Kegiatan Penelitian Tahun 2015


No
1.

2.

Tanggal
Asal
24 Maret 2015 Fakultas
Perikanan Dan
Ilmu Kelautan,
UNDIP

6 April 2015 Fakultas Ilmu


Sosial Dan Ilmu
Politik, UNPAD

Jumlah
Topik
3 org 1. Studi Persentase dan
Jumlah Telur Penyu di
Pantai Pangumbahan.
2. Pengaruh Kedalaman
Sarang Terhadap
Kebersihan Penetasan
Penyu Hijau di Pantai
Pangumbahan Sukabumi.
3. Habitat Bertelur dan
Tingkat Keberhasilan
Penetasan Telur Penyu
Hijau di Pantai
Pangumbahan Sukabumi
1 org Kerjasama Pemerintah
Daerah Kabupaten
Sukabumi dan WWF dalam
Konservasi Penyu

II - 43

Dalam kerangka perbaikan tata kelola dan memperoleh input persoalan


pengelolaan sebaiknya kegiatan penelitian terus dilakukan dengan melibatkan
beragam kalangan dan latar belakang yang berbeda pula. Khususnya dalam hal
manajemen perlu diberikan muatan perbaikan sehingga dari hari ke hari akan
tampak nyata progres perbaikan. Sementara dalam hal penerapan teknis
penangkaran nampaknya tidak begitu urgen mengingat para pelaku konservasi
sudah melakukan kegiatan secara prosedural dalam waktu yang relative lama dan
mengadop habitasi penyu sesuai kondisi alam aslinya.
6. Infrastruktur Penunjang KKPD
Seiring dengan perkembangan waktu dan tuntutan akan makin dibutuhkannya
model pengelolaan KKPD secara baik dan benar serta tanggung jawab yang
berdampak positif terhadap lingkungan sekitarnya sebagaimana misi dan visi
awal yang dibangun, maka kebutuhan infrastruktur penunjang menjadi bagian
cukup penting. Dari tahun ke tahun Pemerintah Kabupaten Sukabumi
memberikan apresiasi dengan mengalokasikan dana yang jumlahnya di atas ratarata sekalipun tidak bisa ditampilkan disini. Dana tersebut berasal dari DAK
maupun APBD II Kabupaten Sukabumi.
Khusus mengenai pendanaan yang bersumber dari DAK yang lebih
difokuskan pada pembangunan fisik, KKPD Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan tergolong memperoleh dana cukup besar dalam setiap tahunnya.
Hal ini untuk mengejar kebutuhan dan memberikan kondisi nyaman bagi
keberadaan penyu dan pengelolanya serta para wisatawan yang datang untuk
melakukan rekreasi dan atau pendidikan dan penelitian. Dengan demikian maka
upaya pelestarian sebagai tujuan utama dan mengoptimalkan manajerial dari
pelaku konservasi dan penangkaran akan dapat tercipta dengan baik sehingga
representative bagi pengembangan sebuah kawasan konservasi. Tabel di bawah
menunjukkan kegiatan pembangunan dan atau pengadaan sarana dan prasarana
penunjang konservasi yang dilakukan dalam kurun waktu 2009 s.d. 2014.

II - 44

Tabel 17. Inventarisasi Sarana Dan Prasarana UPTD Konservasi Penyu Taman
Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan Periode 2009-2014
Tahun
No.
Jenis Sarana
Kondisi terakhir
Ket
dibangun
1. Kantor
2009
Baik
2

Ruang serba guna

2010

Baik

2010

Kurang baik

(Aula)
3

Ruang penetasan
outdoor

Ruang penetasan indoor

2010

Baik

Shelter Pos 1,2,3,4,5,6

2010

1,3,4,5,6 rusak

Ruang tukik

2010

Kurang baik

Pondok jaga

2010

Baik

Pondok Pemandu

2010

Kurang baik

Mess Karyawan 3 Unit

2010

Kurang baik

10

Pondok Wisata 4 Unit

2010

Kurang baik

11

Pos Satpam

2011

Baik

12

Mushola

2011

Baik

13

Kolam Sentuh

2011

Rusak

14

Gedung Info

2012

Baik

15

WC umum

2012

Baik

16

Kantin

2013

Baik

17

Pagar BRC

2013

Kurang baik

18

Pagar Precase 2.3 km

2009-2014

Kurang baik

19

Lampu penerangan

2014

Baik

perkantoran
20

Pengerasan jalan

2014

Baik

21

Tembok penahan air

2014

Baik

II - 45

7. Kegiatan Destructive Fishing


Sampai saat ini perilaku masyarakat di pesisir selatan kabupaten Sukabumi,
khususnya nelayan, mayoritas masih berkutat pada ketergantungan terhadap
pesisir dan laut. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena secara turun temurun dan
warisan budaya nenek moyang mereka adalah pelaut. Halnya demikian, baik
secara sengaja ataupun tidak dalam cara penangkapan ikan terkadang mengarah
pada destructive fishing. Demikian pula cara memperlakukan pesisir dan
sempadan pantai kurang memperhatikan kaidah-kaidah keberlanjutan.
Pengertian destructive fishing secara luas sebenarnya bukan hanya sekedar
merusak sumber daya hayati ikan dengan cara tangkap tidak ramah lingkungan,
melainkan mengambil dan menangkap yang seharusnya sudah tidak dilakukan
sama sekali, termasuk pula dalam hal perusakan sumber daya ikan. Misalnya,
mengambil benih ikan laut seperti impun dan anak-anak sidat (glass eel dan
elver) secara berlebihan dan atau ikan hias, serta jenis ikan yang tergolong
dilindungi, langka dan hampir punah. Terlebih dengan terbitnya Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan, yaitu Per.01/MEN/2015 tentang penangkapan
lobster, kepiting dan rajungan, dimana lobster berukuran di bawah 200 gram
dilarang untuk ditangkap, termasuk di dalamnya lobster dan kepiting yang
dibawah ukuran dan atau sedang mengerami telurnya. Khusus di pantai
Pangumbahan yang termasuk dalam wilayah kerja TPI Ujunggenteng, banyak
nelayan menangkap anak-anak layur yang sesungguhnya belum waktunya.
Ditemukan pula hasil tangkapan hiu yang saat ini ada beberapa yang tertangkap
dan sudah termasuk dilarang, baik yang tergolong perlindungan penuh atau
batasan ukuran. Yang terjadi baru-baru ini adalah menangkap benur udang
lobster juga ditemukan dalam frekuensi dan volume yang banyak pula. Yang
mengerikan lagi adalah penangkapan ikan plus benihnya tersebut di atas,
khususnya benur lobster, dilakukan di KKPD Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan di bagian Zona Inti perairan yang luasnya 1.771 ha. Tentu saja
perilaku demikian sangat mengganggu ekosistem habitat dan penyunya itu
sendiri. Berdasarkan laporan lisan dari petugas UPTD Penyu Pangumbahan,
bahwa pada pertengahan Juni 2015 ini terjadi tangkapan benur udang di zona inti
perairan KKPD dimana tiap malamnya lebih dari 100 perahu beroperasi dengan

II - 46

melibatkan personil 2-3 orang per perahu, atau sekitar 300 orang nelayan. Bisa
dibayangkan bahwa penyu dewasa yang akan bertelur dan sangat sensitif
terhadap cahaya, gerakan dan bayangan, otomatis akan terganggu proses ritual
bertelurnya. Oleh karenanya akan wajar bila penyu yang akan bertelur urung
niatnya dan kembali ke alam bebas atau bertelur di Negara lain.

Gambar 9. Benih lobster (benur) yang ditangkap di Zona Inti Perairan di KKPD
Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
Destructive fishing yang nampak saat ini adalah masih bergelimangnya
masyarakat yang ingin memanfaatkan telur penyu untuk dikonsumsi sendiri atau
diperjualbelikan. Klasik alasannya, bahwa mereka lakukan demikian karena
membela perut sehingga pernyataan mereka adalah Kami tidak akan makan bila
tidak diizinkan memungut telur penyu. Oleh karena ancaman dari kebiasaan
buruk ini terus terjadi, maka mau tidak mau dan suka tidak suka pengawalan
kawasan konservasi harus terus dilakukan secara komprehensif. Kegiatan ini
dilakukan secara formal oleh segenap karyawan maupun keterlibatan dari para
pihak seperti aparat kepolisian, AL, pihak kecamatan dan desa, serta berbagai
elemen masyarakat tanpa pandang bulu sampai kepada aparat penegak hukum
lainnnya. Disamping itu, perlu adanya sarana dan prasarana yang memperkecil

II - 47

terjadinya pencurian telur penyu seperti pembangunan pagar yang kokoh dan
kuat, pengamanan dari penegak hukum, pemasangan CCTV dan upaya
koordinasi serta pemberdayaan masyarakat, termasuk di dalamnya adalah
sosialisasi dan pembinaan terhadap warga sekitar secara sinambung dengan
pembekalan dan pemberdayaan pada kegiatan ekonominya.

III - 1

BAB III
PENATAAN ZONASI
3.1. Umum
Zonasi kawasan konservasi perairan adalah suatu bentuk rekayasa teknik
pemanfaatan ruang di kawasan konservasi perairan melalui penetapan batas-batas
fungsional sesuai dengan potensi sumber daya dan daya dukung, serta prosesproses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan ekosistem.
Berdasarkan

Peraturan

Menteri

Kelautan

dan

Perikanan

Nomor

PER.30/MEN/2010 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi


Perairan, disebutkan bahwa zonasi di dalam kawasan konservasi perairan terdiri
dari zona inti, zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan, dan zona lainnya.
Akan tetapi berdasarakan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
PER.17/MEN/2008 tentang Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil,
penzonasian dibagi menjadi zona inti, zona pemanfaatan terbatas dan zona
lainnya. Secara administrasi, kawasan Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
masuk dalam wilayah Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi,

mencakup

daratan dan perairan dengan luas total perairan seluas 2.706,09 ha. Sesuai dengan
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.30/MEN/2010, untuk
memenuhi syarat minimum luasan zona inti sebesar 2% dari luas kawasan maka
luas minimum zona inti di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan adalah 54,12
Ha. Adapun luas zona inti di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan adalah
512,80 Ha.
Zonasi dalam kawasan konservasi

Taman Pesisir Pantai Penyu

Pangumbahan dilakukan berdasarkan fungsi dengan mempertimbangkan potensi


sumberdaya, daya dukung dan proses ekologis. Kawasan Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan memiliki tiga zona sesuai dengan luasan karakteriatik fisik,
bio-ekologis, kondisi sosial, ekonomi, dan budaya. Seperti dijelaskan dalam
Gambar 9 di bawah ini, zonasi berdasarkan hasil kajian adalah sebagai berikut:

III - 2

Gambar 9, Peta Zonasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan


1. Zona Inti; zona yang mempunyai kriteria ciri khas ekosistem alami, dan
mewakili keberadaan biota tertentu dan merupakan satu-satunya yang
harus dilindungi untuk menjamin kelangsungan hidup jenis-jenis ikan
tertentu untuk menunjang pengelolaan perikanan yang efektif dan
menjamin berlangsungnya proses bio-ekologis secara alami.
2. Zona Pemanfaatan Terbatas; zona yang diperuntukkan untuk
perlindungan habitat dan populasi ikan; pariwisata dan rekreasi;
penelitian dan pengembangan; dan/atau pendidikan.
3. Zona lainnya; wilayah yang mengelilingi atau berdampingan dengan
area inti dan teridentifikasi di area penyangga, untuk melindungi area
inti dari dampak negatif kegiatan manusia, dimana hanya kegiatankegiatan yang sesuai dengan tujuan konservasi yang dapat dilakukan.

III - 3

Ada pun batas-batas zona Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai


Penyu Pangumbahan disajikan pada tabel berikut :
Tabel 18. Titik Koordinat Batas Kawasan Konservasi Taman Pesisir
Pantai Penyu Pangumbahan
No
Lintang Selatan
Bujur Timur
0
1
106 2008,37
702107,88
2
10602112,72
702255,04
3
10602258,85
701906,78
0
4
106 2405,70
702051,93
5
10602319,03
701907,07
0
6
106 2409,09
702074,03
3.2. Zona Inti
Zona inti adalah bagian kawasan perlindungan habitat penyu yang mutlak
dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas
manusia. Tujuan Zona Inti adalah untuk melindungi dan melestarikan penyu
beserta habitatnya
Berdasarkan analisa spasial tentang batas-batas kawasan koservasi dengan
menggunakan data citra satelit serta groundchek di lapangan, Kawasan
Konservasi Perairan Daerah Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
Kabupaten Sukabumi dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan, dan zona
lainnya. Zonasi kawasan terbagi zona inti daratan, zona inti perairan, zona
ekowisata dan fasilitas umum, zona surfing, zona camping ground, zona
perikanan tradisional, zona perlindungan lamun, dan zona rehabiltasi terumbu
karang.
Zona inti daratan merupakan tempat bertelurnya penyu sebagai sentra
konservasi penyu. Pada zona inti daratan hanya dilengkapi dengan tiga pos jaga
dan rencana ke depan akan dibangun menara pengawas.

Zona inti perairan

merupakan wilayah yang dilindungi untuk mengawasi pengambilan terumbu


karang, padang lamun termasuk ikan. Pada zona ini nelayan dilarang mengambil
sumberdaya laut.
3.2.1. Sub Zona Inti Daratan
Potensi pada subzona inti daratan dapat dilihat dari potensi penyu
mendarat dan vegetasi pantai. Zona inti telah ditetapkan, yakni wilayah Pos III, IV

III - 4

dan V. Pada ketiga pos tersebut selama tahun 2013 jumlah penyu mendarat
sebanyak 1.348 seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 19. Jumlah Penyu mendarat pada POS III, IV dan V di Kawasan
Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan Tahun 2013
No

Bulan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
JUMLAH

Jumlah penyu mendarat


Tidak
Jumlah
Bertelur
11
14
25
10
7
17
16
5
21
23
11
34
39
35
74
103
48
151
202
34
236
193
37
230
223
48
271
128
17
145
63
36
99
34
11
45
1.045
303
1.348

Bertelur

Adapun kondisi vegetasi pantai pada daerah tersebut termasuk dalam


kondisi cukup baik karena di sepanjang garis pantai masih didominasi vegetasi
dari jenis pandan laut (Pandanus sp.) yang disukai penyu sebagai tempat naungan
sarang. Disamping itu, ada juga jenis vegetasi lain seperti ketapang (Terminalia
catappa) dan nyamplung (Calophyllum inophyllum), dengan luas penutupan lebih
kecil dari vegetasi pandan laut (Pandanus sp).
3.2.2. Sub Zona Inti Perairan
Potensi pada subzona inti perairan adalah tempat penyu berkembang biak
(kawin dan persiapan bertelur), tempat pemulihan penyu setelah bertelur dan
mencari makan. Disamping itu, sebagai tempat induk penyu menunggu tukik yang
baru menetas menuju ke laut.
Di subzona inti perairan ini juga terdapat jenis ikan yang memiliki nilai
ekonomis tinggi yaitu ikan kuwe (giant travelly) terutama pada saat tukik yang
baru menetas menuju ke laut.

III - 5

Kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada zona inti di Taman
Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan dapat dilihat pada Tabel 20 berikut ini.
Tabel 20. Kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada zona inti di Taman
Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
Perumusan
Kegiatan

No

Jenis
Kegiatan

Kegiatan yang
boleh tetapi
dengan izin

1
2

Penelitian
Pendidikan, Pemeliharaan, Pemulihan, Rehabilitasi dan
Peningkatan Sumber Daya Ikan dan Ekosistemnya

Kegiatan yang
tidak
diperbolehkan

Wisata Menyelam

Berenang dan Snorkling

3
4

Wisata Speargun/Memanah Ikan


Wisata watersport:
- Jetsky
- Banana Boat
- Windsurf
- Surfing
- Wisata watersport lainnya
Wisata Perahu Kaca (Glass Bottom Boat)

5
6

8
9

Sarana dan pelayanan untuk melakukan wisata


petualangan
- marine walk
- kapal layar cruise, kapal selam
- penenggelaman kapal (ship wreck)
Berlayar melintas
Tambatan kapal (Muoring buoy)

10

Berlabuh (Kapasitas kapal <10 GT)

11

Berlabuh (Kapasitas Kapal >10 GT)

12
13

Upacara adat, ritual keagamaan


Menyelam untuk mengambil biota

14

Pengambilan karang hidup atau mati

15

Aktifitas Penangkapan Ikan:


- Pancing
- Jaring Atas
- Panah/Speargun
- Rawai Dasar

III - 6

- Pancing cumi pada malam hari (tidak buang)


- Mengambil biota/angsat (gleaning)
- Jaring terinjang (gill net)
- Jaring Mogong
- Jaring Trawl, Jaring Muro ami, Huhate (pole & line),
Payang, Bubu, Akar Tuba, Sianida, Bom/Bahan
Peledak dan alat tangkap yang tidak ramah
lingkungan lainnya.
16

Penangkapan ikan dengan menggunakan kompressor

17

Pemasangan Rumpon
Pembuatan foto, video, film untuk tujuan
komersial
Pembuatan foto, video, film untuk tujuan non
komersial

18
19

3.3. Zona Pemanfaatan Terbatas


Zona pemanfaatan terbatas terdiri dari Sub Zona Ekowisata dan Fasilitas
Umum, Sub Zona Camping Ground dan Out Bound, Sub Zona Surfing, dan Sub
Zona Perikanan Tradisional. Untuk lebih jelasnya kegiatan/pemanfaatan pada
setiap sub zona pemanfaatan terbatas sebagai berikut
3.3.1. Sub

zona

ekowisata

dan

pembangunan:
1. Kantor UPTD
2. Pendederan telur penyu
3. Kolam sentuh
4. Aula
5. Guest House
6. Mess Karyawan
7. Gudang
8. Mushola
9. Ruang tukik
10. Kamar mandi/WC
11. Gedung info
12. Pos Jaga
13. Rumah Genset

fasilitas

umum,

diperuntukkan

untuk

III - 7

14. Kantin
15. Pos Wisata
16. Lahan Parkir
Ekowisata di Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan terbagi ke dalam dua golongan, yakni:
1. Wisata malam hari berupa:
a. Melihat penyu bertelur,
2. Wisata siang hari berupa:
a. Melepas tukik pada sore hari (sekitar pukul 17.00 WIB);
b. Jogging ke lokasi pantai pasir putih dengan keindahan sunset;
c. Melihat film dokumenter tentang ritual penyu bertelur; dan
d. Berfoto dengan penyu di kolam sentuh.
3.3.2. Sub zona camping ground dan out bound
Berdasarkan potensi yang ada berupa lahan yang relatif datar dan rawa,
akses relatif mudah dijangkau, dan panorama yang indah dan udara alami yang
segar alami maka akan dijadikan sebagai obyek wisata berupa:
1. Camping ground
2. Panjat tebing buatan (rock climbing)
3. Jembatan tali di atas rawa
4. Jembatan kayu tunggal (birma crosser)
5. Flying Fox
3.3.3. Sub zona surfing
Berdasarkan potensi yang ada berupa lahan yang relatif datar, akses relatif
mudah dijangkau, kondisi perairan yang tidak berbahaya, ombak yang besar dan
kontinyu maka lokasi tersebut akan dijadikan sebagai obyek wisata berselancar
(surfing).
3.3.4. Sub zona perikanan tradisional
Berdasarkan potensi yang ada berupa lahan yang relatif datar dan rawa,
akses relatif mudah dijangkau, kondisi perairan yang tidak berbahaya, sumber
daya ikan yang melimpah dan secara turun temurun menjadi tempat nelayan

III - 8

tradisional menangkap ikan maka lokasi tersebut akan dijadikan sebagai sub zona
perikanan tradisional.
Besarnya animo masyarakat terhadap konservasi penyu dan guna menjaga
keberlangsungan pengelolaan maka Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi
mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas
Perda No. 1 Tahun 2013 Tentang Retribusi Tempat Rekreasi, Pariwisata dan
Olahraga, Pasal 9A berbunyi sebagai berikut:
1. Besarnya tarif retribusi di Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan meliputi:
a. Retribusi memasuki Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan (Menyaksikan Film Dokumenter, Melihat
Penyu di Kolam Sentuk dan Pelepasan Tukik ke laut):
No.

Klasifikasi Pengunjung

1.

Tarif (Rp.)

Keterangan

Umum:
1) Dewasa

10.000

Per orang

2) Anak-anak

5.000

Per orang

2.

Romobongan Mahasiswa/Pelajar

5.000

Per Orang

3.

Rombongan Anak TK, PAUD dan sederajat

2.500

Per Orang

b. Retribusi melihat ritual Penyu Bertelur di Area Pantai Peneluran


pada

Kawasan

Konservasi

Taman

Pesisir

Pantai

Penyu

Pangumbahan:
No.
1.

Klasifikasi Pengunjung

Tarif (Rp.)

Keterangan

Umum:
1) Dewasa

150.000

Per orang

2) Anak-anak

50.000

Per orang

2.

Rombongan Mahasiswa/Pelajar

75.000

Per Orang

3.

Rombongan Anak TK, PAUD dan sederajat

25.000

Per Orang

III - 9

c. Retribusi Bahan, Sarana & Fasilitas diluar Pondok Wisata,


Kegiatan Penelitian & Pendidikan, KKPD Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan:
No.

1.

Bahan dan Sarana / Alat

Klasifikasi

Penelitian

Pengunjung

Keterangan

Bahan Penelitian:

Umum

150.000

Per org/hari

a. Penyu Dewasa

Mahasiswa /

100.000

Per orang/hari

b. Tukik (anak penyu)

Pelajar

c. Telur penyu
2.

Tarif (Rp.)

Sarana / Alat Penelitian:


a. Peralatan laboratorium:
b. Peralatan lapangan
1) Baju lapangan
2) Jas hujan
3) Senter
4) Teropong malam
5) Ember/wadah telur
6) Alat ukur
7) Alat hitung
c. Bak karantina
d. Peralatan penetasan
1) Bronjong
2) Ember
3) Patok bambu
4) Spidol permanen
5) Senter
e. Peralatan perawatan tukik
1) Bak fibre glass
2) Ember / waskom

III - 10

d. Retribusi Fasilitas di Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai


Penyu

Pangumbahan

untuk

kegiatan

Non-Penelitian

dan

Pendidikan:
No.
1.

2.

Klasifikasi Pengunjung

Keterangan

Ruang Pertemuan:
a. Umum

250.000

Per jam

b. Mahasiswa/Pelajar

150.000

Per jam

1.000.000

Per hari

500.000

Per hari

1) Umum

750.000

Per hari

2) Mahasiswa/Pelajar

376.000

Per hari

Pondok Wisata (VIP)


1) Umum
2) Mahasiswa/Pelajar

3.

Tarif (Rp.)

Pondok Wisata (Standar)

e. Retribusi Kegiatan Shooting Film, Video dan Foto:


No.
1.

2.

3.

Klasifikasi

Tarif (Rp.)

Keterangan

Shooting Film:
a. Komersil

5.000.000

Per produksi

b. Dokumenter

2.500.000

Per produksi

a. Komersil

5.000.000

Per produksi

b. Dokumenter

2.500.000

Per produksi

a. Komersil

1.500.000

Per paket

b. Dokumenter

1.000.000

Per paket

Shooting Video:

Pengambilan Foto

2. Jumlah Pengunjung sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dibatasi


sesuai dengan daya tampung dan daya dukung sarana dan kawasan;
3. Ketentuan mengenai Daya Tampung dan Daya Dukung Kawasan
sebagaimana dimaksud ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Bupati
Sebagai tindak lanjut dari fasilitas yang terdapat pada Sub zona ekowisata
dan fasilitas umum, Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi melengkapi sarana
dan prasana sebagai berikut:
1. Perkantoran
2. Ekowisata Ritual Penyu bertelur
3. Ekowisata pelepasan tukik

III - 11

4. Sarana rekreasi kolam sentuh


5. Pemutaran film dokumenter
6. Wisata alam pasir putih
7. Pemandangan matahari terbenam (Sunset)
8. Fasilitas umum lainnya.
Sedangkan untuk melengkapi fasilitas dimaksud, akan dilakukan beberapa
kegiatan guna kenyamanan pengunjung dan keamanan di Kawasan Konservasi
sebagai berikut:
1. Pembuatan jalan lingkungan (jogging track)
2. Pemasangan kamera CCTV di Pos Pemantauan, tempat penetasan,
gedung informasi, dan tembok pembatas kawasan di pos I dan VI
3. Pembuatan Menara Pengawas
4. Pembuatan Shelter wisata
5. Penyediaan transportasi sepeda
6. Optimalisasi kolam sentuh
7. Optimalisasi kafetaria dan souvenir
Sebagai panduan kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan di
subzona ekowisata dan fasilitas umum dapat dilihat pada Tabel 20.
Table 20 Kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan di zona pemanfaatan
terbatas
Perumusan
Kegiatan

Kegiatan yang
boleh tetapi
dengan izin

No

Jenis

1
2

Penelitian
Melihat penyu bertelur

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Ikut serta dalam pelepasan tukik


Melihat pemandangan matahari terbenam (sunset)
Olahraga : jogging, bersepeda
Menonton film dokumenter
Melihat penyu di kolam sentuh
Masuk dengan ijin dan dikawal oleh pemandu
Membawa lampu senter dan menyalakan blitz kamera
Mengambil telur penyu, tukik dan penyu
Menunggangi penyu
Membawa tas, senjata tajam dan senjata api,
Berenang, sepak bola, voli, dan main layang-layang

III - 12

Kegiatan yang

14
15
16
17
18
1

Membawa makanan/minuman ke pantai


Berkemah, membuat api unggun dan tidur di pantai
Berjualan
Surfing pada siang hari
Perikanan berkelanjutan
Wisata Menyelam

tidak

Berenang dan Snorkling

diperbolehkan

3
4

Wisata Speargun/Memanah Ikan


Wisata watersport:
- Jetsky
- Banana Boat
- Windsurf

- Wisata watersport lainnya


Wisata Perahu Kaca (Glass Bottom Boat)
Sarana dan pelayanan untuk melakukan wisata

petualangan
- marine walk

8
9

- kapal layar cruise, kapal selam


Berlayar melintas
Tambatan kapal (Muoring buoy)

10

Berlabuh (Kapasitas kapal <10 GT)

11

Berlabuh (Kapasitas Kapal >10 GT)

12
13

Upacara adat, ritual keaagamaan


Menyelam untuk mengambil biota

14

Pengambilan karang hidup atau mati

15

Aktifitas Penangkapan Ikan:


- Pancing
- Jaring Atas
- Panah/Speargun
- Rawai Dasar
- Pancing cumi pada malam hari (tidak buang
- Mengambil biota/angsat (gleaning)
- Jaring terinjang (gill net)
- Jaring Mogong

III - 13

- Jaring Trawl, Jaring Muro ami, Huhate (pole & line),


Payang, Bubu, Akar Tuba, Sianida, Bom/Bahan
Peledak dan alat tangkap yang tidak ramah
16

Penangkapan ikan dengan menggunakan kompressor

17

Pemasangan Rumpon
Pembuatan foto, video, film

untuk tujuan

18

komersial
Pembuatan foto, video, film untuk tujuan non

19
20

komersial
Panggung hiburan di malam hari

21

Shooting di malam hari

22

Membuang sampah sembarangan

23

Menunggangi penyu

3.4. Zona Lainnya


Zona lainnya di kawasan konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangu,bahan terdiri dari 2 (dua) zona yaitu sub zona perlindungan lamun dan sub
zona rehabilitasi terumbu karang.Sub zona perlindungan lamun dimaksudkan agar
sumber makanan bagi penyu hijau tetap tersedia sehingga keberadaan penyu
sebagai icon Pangumbahan

tetap terjaga. Sedangkan sub zona rehabilitasi

terumbu karang dimaksudkan untuk melindungi pantai dari terjangan ombak dan
melindungi keberadaan sumber daya ikan terutama ikan hias dan ikan karang,
maka lokasi tersebut dijadikan sebagai sub zona rehabilitasi terumbu karang.

III - 14

Sebagai panduan kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan di zona
lainnya sebagaimana tercantum pada Tabel 22.
Table 22. Kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan di zona lainnya
Perumusan
Kegiatan
No
Jenis
Kegiatan
1
Penelitian
2
Wisata Menyelam

Kegiatan yang
boleh tetapi
dengan izin

Kegiatan yang
tidak
diperbolehkan

3
4
5

Berenang dan Snorkling


Pembuatan foto, video, film untuk tujuan non komersial
Pembuatan
foto,
video,
film
untuk
tujuan
komersial

Pendidikan, Pemeliharaan, Pemulihan, Rehabilitasi dan


Peningkatan Sumber Daya Ikan dan Ekosistemnya

7
1

Melihat penyu di kolam sentuh


Wisata Speargun/Memanah Ikan

Sarana dan pelayanan untuk melakukan wisata


petualangan
- kapal layar cruise, kapal selam

3
4

Budidaya
Wisata Perahu Kaca (Glass Bottom Boat)

Menyelam untuk mengambil biota

Berlabuh (Kapasitas Kapal >10 GT)

8
9

Aktifitas Penangkapan Ikan:


Tambatan kapal (Muoring buoy)
- Pancing
- Jaring Atas
- Panah/Speargun
- Rawai Dasar
- Mengambil biota/angsat (gleaning)
- Jaring terinjang (gill net)
- Jaring Mogong
- Jaring Trawl, Jaring Muro ami, Huhate (pole & line),
Payang, Bubu, Akar Tuba, Sianida, Bom/Bahan
Peledak dan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan
lainnya

10

Penangkapan ikan dengan menggunakan kompressor

11

Pemasangan Rumpon

IV - 1

BAB IV
RENCANA JANGKA PANJANG
4.1 Kebijakan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan

Seiring dengan Visi Kabupaten Sukabumi, yakni: Mewujudkan


Masyarakat Kabupaten Sukabumi yang Berakhlaq Mulia, Maju, dan
Sejahtera. Sejalan dengan VISI di atas, maka ada 3 (tiga) MISI utama yang
akan dijalankan, yaitu :
1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia yang Berakhlak
Mulia;
2. Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih dan
Berkemampuan Memajukan Masyarakat;
3. Membangun Perekonomian yang Tangguh, Berbasis Potensi
Lokal, dan Berwawasan Lingkungan
Misi

yang

berhubungan

dengan

kegiatan

konservasi

penyu

dikelompokan ke dalam misi Membangun Perekonomian yang Tangguh,


Berbasis Potensi Lokal, dan Berwawasan Lingkungan, dengan sasaran
Berkembangnya Pengelolaan Potensi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan
yang berdayaguna dan hasil guna. Misi tersebut diterjemahkan dalam
Kebijakan Peningkatan Daya Beli dan Ketahanan Pangan Masyarakat.
Urusan tentang konservasi penyu di dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah dikelompokkan dalam Urusan Kelautan dan
Perikanan, melaksanakan program dengan tujuan dan sasaran Program
Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan.
Program ini bertujuan untuk mengelola dan mendayagunakan potensi sumber
daya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil secara optimal, adil, dan lestari
melalui keterpaduan antar berbagai pemanfaatan sehingga memberikan
kontribusi yang layak bagi pembangunan nasional, pembangunan daerah, dan
peningkatan kesejahteraan rakyat, serta untuk mengelola, mengembangkan,
dan memanfaatkan sumber daya perikanan secara optimal, adil, dan
berkelanjutan dalam rangka peningkatan devisa, nilai tambah hasil perikanan,
serta pendapatan nelayan, pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir lainnya.

IV - 2

Sasaran program adalah berkembangnya pengelolaan potensi sumber daya


kelautan dan perikanan yang berdaya guna dan hasil guna.
4.1.1. Visi dan Misi

Atas dasar nilai-nilai tersebut maka visi untuk Pengelolaan Kawasan


Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan adalah Terwujudnya
kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekowisata berbasis
pelestarian penyu dan habitatnya. Visi tersebut di atas akan diwujudkan
melalui pelaksanaan misi-misi sebagai berikut:
1. Melakukan

penguatan

kelembagaan

pengelola

kawasan

konservasi;
2. Melakukan peningkatan sosial ekonomi dan budaya masyarakat;
3. Melakukan pemahaman dan penyadaran masyarakat terhadap
eksistensi pentingnya konservasi melalui sosialisasi, pembinaan,
pendampingan dan pola partisipasi dalam pengelolaan KKPD.
4.1.2. Tujuan dan Sasaran Pengelolaan

Berdasarkan usulan visi dan misi yang dikemukakan maka ditetapkan


tujuan tahun 2015 2034 sebagai berikut:
1. Menguatnya kelembagaan dan organisasi pengelolaan kawasan
konservasi;
2. Meningkatkan pengembangan ekowisata berbasis konservasi
penyu;
3. Meningkatkan status pengelolaan konservasi penyu menjadi
mandiri di tahun 2019
4. Meningkatkan kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat
sekitar kawasan konservasi;
5. Meningkatnya pemahaman dan penyadaran masyarakat terhadap
eksistensi pentingnya konservasi melalui sosialisasi, pembinaan,
pendampingan dan pola partisipasi dalam pengelolaan KKPD.

IV - 3

Sedangkan sasaran yang ingin dicapai selama 20 (dua puluh) tahun


sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2034 adalah:
1. Terbentuknya UPTD BLUD Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan;
2. Tersedianya

sistem

pendanaan

yang

berkesinambungan

(sustainable financing) untuk pengelolaan dan pengembangan


kawasan konservasi;
3. Terselenggaranya ekowisata berbasisi penyu yang berkelanjutan;
4. Terpeliharanya batas dan kondisi kawasan serta zona pengelolaan;
5. Terlaksananya monitoring dan pengawasan sumber daya di setiap
zona pengelolaan;
6. Terwujudnya rehabilitasi habitat dan populasi penyu;
7. Tersedianya sarana prasarana konservasi penyu yang memadai;
8. Terselenggaranya penelitian dan pendidikan yang mendukung
kepentingan konservasi;
9. Meningkatnya

pemberdayaan

masyarakat

sekitar

kawasan

konservasi;
10. Tumbuh dan berkembangnya peran serta dan keterlibatan
masyarakat dalam bentuk pemahaman, kesadaran dan partisipasi
pengelolaan KKPD.
4.2

Strategi Pengelolaan
Program pengelolaan kawasan konservasi dan peningkatan sosial

ekonomi dan budaya masyarakat selain berdasarkan visi-misi dan tujuansasaran juga harus didasarkan pada sejumlah faktor, termasuk konsekuensi
ekologis, kelayakan, peluang keberhasilan, dan biaya. Adapun programprogram yang menjadi faktor kunci keberhasilan pengelolaan kawasan
konservasi dan peningkatan sosial ekonomi dan budaya masyarakat di sekitar
kawasan konservasi meliputi:
4.2.1. Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pengelola dan Para Pihak, berupa

kegiatan:
1. Penguatan kelembagaan pengelolaan kawasan dengan inokator:

IV - 4

a. Formasi penerimaan dan penempatan pegawai baru PNS dan


Non PNS;
b. Forum Koordinasi Kelompok Kerja (Pokja) dan Pengelola;
c. Inisiasi pembentukan kelompok kerja (lintas sektoral terkait,
perguruan tinggi, LSM, kelompok masyarakat, dunia usaha);
d. Inisiasi pembentukan BLUD; dan
e. Pembentukan BLUD
2. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia unit organisasi
pengelola dan masyarakat dengan indikator:
a. Pendidikan formal (S1/S2);
b. Bimbingan teknis (Bimtek) terhadap pengelola dan kelompok
masyarakat;
c. Sosialisasi;
d. Magang
e. Tunjangan kinerja resiko tinggi
3. Pembangunan dan peningkatan sarpras pengelolaan dengan
indikator:
a. Identifikasi kebutuhan dan desain sarpras berupa Master Plan,
Detail Enginering Design (DED), Market, Action Plan;
b. Pembangunan sarana dan prasarana dengan indikator berupa
kolam sentuh, infrastruktur jalan, jalan lingkar dalam
kawasan/jogging track, shelter 1-6, menara pengawas 3 pos,
bangunan klinik penyu, pagar pembatas penetasan pantai,
pembangunan MIS (Management Information System), dan
mess karyawan;
c. Pengadaan sarpras dengan indikator berupa CCTV Infra-Red;
Speed Boat (lengkap), Mobil Double Cabin; Roda Dua Trail,
ATV; Radio Reciever, HT; Teropong Infra-Red;

Room

Theater (peralatan audio visual); Meubeler (kantor, mess,


ruang rapat, room theater mushola); Infocus

dan Screen;

Sarana Tapal Batas Laut; Rambu-rambu Konservasi; Papan


Informasi; Papan Nama Kawasan (billboard); Kamera Infra-

IV - 5

Red (1 set), Perlengkapan kerja karyawan (seragam kerja,


sepatu boot, jas hujan, topi, tas lapang, senter); peralatan
penetasan; peralatan kualitas air; peralatan tagging; peralatan
klinik penyu; pengadaan hardware dan software MIS;
peralatan selam (BCD, regulator, wetsuit, masker); snorkel,
fins, tabung, kompresor; dan peralatan kantor.
4. Pengembangan

kebijakan

dan

aturan

pengelolaan

dan

pemanfaatan dengan indikator:


a. Penyusunan aturan pengelolaan dan pemanfaatan berupa Perda
ekowisata berbasis konservasi penyu (BLUD); Perbup
kemitraan; konsultan individu (profesional/LSM), pengelolaan
ekowisata; Perbup retribusi; dan SOP.
b. Penataan batas kawasan berupa SK Bupati tentang Tim
Penataan Batas;
c. Kebijakan Pengawasan terpadu berupa Perbup tentang
Pengawasan Terpadu dan SK Bupati tentang Tim Pengawasan
Terpadu;
5. Inisiasi dan pengembangan pendanaan berkelanjutan dengan
indikator:
a. Identifikasi pendanaan berkelanjutan dan
b. Pengembangan model investasi dalam kawasan.
6. Pengawasan dengan indikator:
a. Patroli rutin dan
b. Patroli terpadu
7. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring, dan
b. Evaluasi
4.2.2. Penguatan Pengelolaan Sumber Daya berupa kegiatan:

1. Perlindungan dan pelestarian ekosistem terkait dan biota dengan


indikator:
a. Perlindungan dan pelestarian ekosistem terumbu karang;
b. Perlindungan dan pelestarian ekosistem vegetasi pantai;

IV - 6

c. Perlindungan dan pelestarian ekosistem lamun;


d. Perlindungan dan pelestarian ekosistem mangrove;
e. Perlindungan dan pelestarian populasi penyu berupa tagging
standar, tagging transmitter, dan klinik penyu.
2. Rehabilitasi ekosistem terkait dan biota dengan indikator
rehabilitasi

ekosistem

terumbu

karang,

lamun,

dan

mangrove/vegetasi pantai.
3. Penelitian dan pengembangan dengan indikator:
a. Identifikasi garis dasar (base line) biofisik : (penyu, terumbu
karang, lamun, vegetasi pantai);
b. Identifikasi garis dasar (base line) sosial ekonomi budaya; dan
c. Penelitian dan pengembangan teknologi pengelolaan sumber
daya pesisir.
4. Pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan dengan
indikator:
a. Model pengelolan ekowisata berbasis konservasi penyu;
b. Pengelolaan wisata bahari (surfing, sunset, outbound)
5. Penguatan dan pengembangan data informasi dengan indikator:
a. Penyusunan basis data dan informasi;
b. Validasi dan penyelarasan data.
6. Koordinasi pengawasan dengan indikator:
a. Rakor bidang pengawasan tingkat provinsi;
b. Rakor bidang pengawasan tingkat nasional.
7. Penguatan penyadaran masyarakat dengan indikator:
a. Sosialisasi kepada masyarakat;
b. Publikasi media cetak dan elektronik berupa koran (radar &
PR); radio (RSPD & Swasta); televisi lokal; televisi Nasional;
c. Edukasi kepada kalangan pelajar dan mahasiswa;
d. Pemberian penghargaan berupa kader konservasi; pemerhati
penyu; pemerhati lingkungan.
8. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan

IV - 7

b. Evaluasi.
4.2.3. Penguatan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitar kawasan

1.

Penguatan sosial dan budaya dengan indikator:


a. Inventarisasi keberadaan adat, seni, budaya dan/atau kearifan
lokal;
b. Inventarisasi dan fasilitasi dukungan dan persepsi masyarakat.

2. Penguatan ekonomi dengan indikator:


a. Inventarisasi kondisi perekonomian masyarakat di sekitar
kawasan;
b. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi; dan
c. Fasilitasi akses permodalan masyarakat di sekitar kawasan.
3. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
4.2.4. Promosi

1. Penguatan sistem informasi promosi dengan indikator:


a. Penguatan sistem informasi promosi ;
b. Promosi pada tingkat internasional (pameran).
2. Aksi promosi dengan indikator:
a. Promos pada tingkat internasional (pameran) berupa pameran,
leaflet dan bilboard);
b. Promosi pada tingkat nasional (pameran) berupa pameran,
leaflet dan bilboard);
c. Promosi pada tingkat lokal (pameran) berupa pameran, leaflet
dan bilboard);
d. Promosi paket wisata.
3. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.

V-1

BAB V
RENCANA JANGKA MENENGAH
Rencana jangka menengah ini merupakan penjabaran dari visi, misi, tujuan, sasaran
pengelolaan, dan strategi pengelolaan kawasan. Rencana jangka menengah ini berlaku
selama 5 (lima) tahun. Rencana jangka menengah ini diwujudkan dalam bentuk programprogram untuk menjalankan strategi sebagaimana tersebut di atas.
Dengan mengacu kepada Peraturan Dirjen KP3K Nomor 44/KP3K/2012 Tentang
Pedoman Teknis Evaluasi Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil
(E-KKP3K) setiap pengelolaan yang dilaksanakan selain memiliki tujuan yang terinci dari
penjabaran visi dan misi suatu kawasan, juga harus dilengkapi dengan tujuan-tujuan
pengelolaan kawasan konservasi, baik dari aspek biofisik, sosial ekonomi-budaya serta tata
kelola (kelembagaan).
Untuk mencapai strategi pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan, dilakukan melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah,
Rencana Pembangunan Jangka Menengah daerah, Rencana Tahunan sebagai berikut:
5.1.

Rencana Jangka Menengah I tahun 2015-2019 (5 Tahun Pertama)

5.1.1. Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pengelola dan Para Pihak, berupa kegiatan:
1. Penguatan kelembagaan pengelolaan kawasan dengan inokator:
a. Formasi penerimaan dan penempatan pegawai baru PNS;
b. Forum Koordinasi Kelompok Kerja (Pokja) dan Pengelola;
c. Inisiasi pembentukan kelompok kerja (lintas sektoral terkait, perguruan
tinggi, LSM, kelompok masyarakat, dunia usaha);
d. Inisiasi pembentukan BLUD.
2. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia unit organisasi pengelola dan
masyarakat dengan indikator Sosialisasi;
3. Pembangunan dan peningkatan sarpras pengelolaan dengan indikator:
a. Identifikasi kebutuhan dan desain sarpras berupa Master Plan, Detail
Enginering Design (DED), Market, Action Plan;
b. Pembangunan sarana dan prasarana dengan indikator berupa kolam sentuh,
infrastruktur jalan, jalan lingkar dalam kawasan (jogging track), shelter 1-6,
pagar pembatas penetasan pantai, dan mess karyawan;

V-2

c. Pengadaan sarpras dengan indikator berupa CCTV infra red; roda dua trail;
dan peralatan kantor;
d. Pemeliharaan sarpras.
4. Pengembangan kebijakan dan aturan pengelolaan dan pemanfaatan dengan
indikator:
a. Penyusunan aturan pengelolaan dan pemanfaatan berupa Perda tentang
ekowisata berbasis konservasi penyu (BLUD); Perbup kemitraan; konsultan
individu (profesional/LSM), Pengelolaan ekowisata; Perbup retribusi; dan
SOP.
b. Penataan batas kawasan berupa SK Bupati tentang Tim Penataan Batas;
c. Kebijakan Pengawasan terpadu berupa Perbup Pengawasan Terpadu dan SK
Bupati Tim tentang Pengawasan Terpadu;
5. Pengawasan dengan indikator:
a. Patroli rutin; dan
b. Patroli terpadu.
6. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.1.2. Penguatan Pengelolaan Sumber Daya berupa kegiatan:
1. Perlindungan dan pelestarian ekosistem terkait dan biota dengan indikator:
a. Perlindungan dan pelestarian ekosistem terumbu karang;
b. Perlindungan dan pelestarian ekosistem vegetasi pantai;
c. Perlindungan dan pelestarian ekosistem lamun;
d. Perlindungan dan pelestarian ekosistem mangrove;
e. Perlindungan dan pelestarian populasi penyu berupa tagging standar,
tagging transmitter, dan klinik penyu;
2. Rehabilitasi ekosistem terkait dan biota dengan indikator rehabilitasi ekosistem
terumbu karang, lamun, dan mangrove/vegetasi pantai.
3. Penelitian dan pengembangan dengan indikator:
a. Identifikasi garis dasar (base line) biofisik: (penyu, terumbu karang, lamun,
dan vegetasi pantai);
b. Identifikasi garis dasar (base line) sosial ekonomi budaya; dan
c. Penelitian dan pengembangan teknologi pengelolaan sumber daya pesisir.

V-3

4. Penguatan dan pengembangan data dan informasi dengan indikator:


a. Penyusunan Basis Data dan Informasi;
b. Validasi dan penyelarasan data.
5. Koordinasi pengawasan dengan indikator:
a. Rakor bidang pengawasan tingkat provinsi
b. Rakor bidang pengawasan tingkat nasional
6. Penguatan penyadaran masyarakat dengan indikator:
a. Sosialisasi kepada masyarakat
b. Publikasi media cetak dan elektronik berupa koran (radar & PR), radio
(RSPD & Swasta), televisi lokal, dan televisi Nasional;
c. Edukasi kepada kalangan pelajar dan mahasiswa;
d. Pemberian penghargaan berupa kader konservasi, pemerhati penyu, dan
pemerhati lingkungan.
7. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.1.3. Penguatan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitar kawasan
1.

Penguatan sosial dan budaya dengan indikator:


a. Inventarisasi keberadaan adat, seni, budaya dan/atau kearifan lokal;
b. Inventarisasi dan fasilitasi dukungan dan persepsi masyarakat.

2. Penguatan ekonomi dengan indikator:


a. Inventarisasi kondisi perekonomian masyarakat di sekitar kawasan;
b. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi; dan
c. Fasilitasi akses permodalan masyarakat di sekitar kawasan.
3. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.1.4. Promosi
1. Penguatan sistem informasi promosi dengan indikator:
a. Penguatan sistem informasi promosi
b. Promosi pada tingkat internasional (pameran)
2. Aksi promosi dengan indikator:

V-4

a. Promosi pada tingkat internasional (pameran) berupa pameran, leaflet dan


billboard;
b. Promosi pada tingkat nasional (pameran) berupa pameran, leaflet dan
billboard;
c. Promosi pada tingkat lokal (pameran) berupa pameran, leaflet dan
billboard;
d. Promosi paket wisata.
3. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.2.

Rencana Jangka Menengah II tahun 2020-2024 (5 Tahun kedua)

5.2.1. Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pengelola dan Para Pihak, berupa kegiatan:
1. Penguatan kelembagaan pengelolaan kawasan dengan indikator:
a. Formasi penerimaan dan penempatan pegawai baru PNS dan Non PNS;
b. Forum Koordinasi Kelompok Kerja (Pokja) dan Pengelola;
c. Pembentukan BLUD
2. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia unit organisasi pengelola dan
masyarakat dengan indikator:
a. Pendidikan formal (S1/S2);
b. Bimbingan teknis (Bimtek) terhadap pengelola dan kelompok masyarakat;
c. Sosialisasi;
d. Magang
e. Tunjangan kinerja resiko tinggi
3. Pembangunan dan peningkatan sarpras pengelolaan dengan indikator:
a. Pembangunan sarana dan prasarana dengan indikator berupa Jalan lingkar
dalam kawasan (jogging track), shelter 1-6, menara pengawas 3 pos,
bangunan klinik penyu, pembangunan MIS (Management Information
System;
b. Pengadaan sarpras dengan indikator berupa speed boat (lengkap), roda dua
trail, ATV, dan peralatan kantor;
c. Pemeliharaan sarpras.
4. Inisiasi dan pengembangan pendanaan berkelanjutan dengan indikator:
a. Identifikasi pendanaan berkelanjutan; dan

V-5

b. Pengembangan model investasi dalam kawasan.


5. Pengawasan dengan indikator:
a. Patroli rutin; dan
b. Patroli terpadu.
6. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.2.2. Penguatan Pengelolaan Sumber Daya berupa kegiatan:
1. Perlindungan dan pelestarian ekosistem terkait dan biota dengan indikator:
a. Perlindungan dan pelestarian ekosistem terumbu karang;
b. Perlindungan dan pelestarian ekosistem vegetasi pantai;
c. Perlindungan dan pelestarian ekosistem lamun;
d. Perlindungan dan pelestarian ekosistem mangrove;
e. Perlindungan dan pelestarian populasi penyu berupa tagging standar,
tagging transmitter, dan klinik penyu.
2. Rehabilitasi ekosistem terkait dan biota dengan indikator rehabilitasi ekosistem
terumbu karang, lamun, dan mangrove/vegetasi pantai.
3. Pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan dengan indikator:
a. Model pengelolaan ekowisata berbasis konservasi penyu;
b. Pengelolaan wisata bahari (surfing, sunset, dan outbound).
4. Koordinasi pengawasan dengan indikator:
a. Rakor bidang pengawasan tingkat provinsi;
b. Rakor bidang pengawasan tingkat nasional.
5. Penguatan Penyadaran masyarakat dengan indikator:
a. Sosialisasi kepada masyarakat;
b. Publikasi media cetak dan elektronik berupa koran (radar & PR), radio
(RSPD & Swasta), televisi lokal, dan televisi nasional;
c. Edukasi kepada kalangan pelajar dan mahasiswa;
d. Pemberian penghargaan berupa kader konservasi, pemerhati penyu, dan
pemerhati lingkungan.
6. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.

V-6

5.2.3. Penguatan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitar kawasan


1. Penguatan ekonomi dengan indikator:
a. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi; dan
b. Fasilitasi akses permodalan masyarakat di sekitar kawasan.
2. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.2.4. Promosi
1. Aksi promosi dengan indikator:
a. Promosi pada tingkat internasional (pameran) berupa pameran, leaflet dan
billboard;
b. Promosi pada tingkat nasional (pameran) berupa pameran, leaflet dan
billboard;
c. Promosi pada tingkat lokal (pameran) berupa pameran, leaflet dan
billboard;
d. Promosi paket wisata.
2. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.3.

Rencana Jangka Menengah III Tahun 2025-2029 (5 Tahun ketiga)

5.3.1. Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pengelola dan Para Pihak, berupa kegiatan:
1. Penguatan kelembagaan pengelolaan kawasan dengan indikator:
a. Formasi penerimaan dan penempatan pegawai baru PNS dan Non PNS;
b. Forum Koordinasi Kelompok Kerja (Pokja) dan Pengelola;
c. Inisiasi pembentukan BLUD; dan
d. Pembentukan BLUD.
2. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia unit organisasi pengelola dan
masyarakat dengan indikator:
a. Pendidikan formal (S1/S2);
b. Bimbingan teknis (Bimtek) terhadap pengelola dan kelompok masyarakat;
c. Sosialisasi;
d. Magang;
e. Tunjangan kinerja resiko tinggi.

V-7

3. Pembangunan dan peningkatan sarpras pengelolaan dengan indikator:


a. Pembangunan sarana dan prasarana dengan indikator berupa Shelter 1-6;
b. Pengadaan sarpras dengan indikator berupa speed boat (lengkap), roda dua
trail, radio reciever, HT, teropong infra-red, room theater (peralatan audio
visual), meubeler (kantor, mess, ruang rapat, room theater mushola),
infocus dan screen, sarana tapal batas laut, rambu-rambu konservasi, papan
informasi, papan nama kawasan (billboard), kamera infra-red [1 set]
perlengkapan kerja karyawan (seragam kerja, sepatu boot, jas hujan, topi,
tas lapang, senter), peralatan penetasan, peralatan kualitas air, peralatan
tagging, peralatan klinik penyu, pengadaan hardware dan software MIS,
peralatan selam (BCD, regulator, wetsuit, masker), Snorkel, fins, tabung,
kompresor, dan peralatan kantor;
c. Pemeliharaan sarpras.
4. Inisiasi dan pengembangan pendanaan berkelanjutan dengan indikator
pengembangan model investasi dalam kawasan.
5. Pengawasan dengan indikator:
a. Patroli rutin; dan
b. Patroli terpadu.
6. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.3.2. Penguatan Pengelolaan Sumber Daya berupa kegiatan:
1. Perlindungan dan pelestarian ekosistem terkait dan biota dengan indikator:
a. Perlindungan dan pelestarian ekosistem terumbu karang;
b. Perlindungan dan pelestarian ekosistem vegetasi pantai;
c. Perlindungan dan pelestarian ekosistem lamun;
d. Perlindungan dan pelestarian ekosistem mangrove;
e. Perlindungan dan pelestarian populasi penyu berupa tagging standar,
tagging transmitter, dan klinik penyu.
2. Rehabilitasi ekosistem terkait dan biota dengan indikator rehabilitasi ekosistem
terumbu karang, lamun, dan mangrove/vegetasi pantai.
3. Pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan dengan indikator:
a. Model pengelolan ekowisata berbasis konservasi penyu;

V-8

b. Pengelolaan wisata bahari (surfing, sunset, dan outbound).


4. Koordinasi pengawasan dengan indikator:
a. Rakor bidang pengawasan tingkat provinsi;
b. Rakor bidang pengawasan tingkat nasional.
5. Penguatan Penyadaran masyarakat dengan indikator:
a. Sosialisasi kepada masyarakat;
b. Publikasi media cetak dan elektronik berupa koran (radar & PR), radio
(RSPD & Swasta), televisi lokal, dan televisi nasional.
c. Edukasi kepada kalangan pelajar dan mahasiswa;
d. Pemberian Penghargaan berupa kader konservasi, pemerhati penyu, dan
pemerhati lingkungan.
6. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.3.3. Penguatan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitar kawasan
1. Penguatan ekonomi dengan indikator:
a. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi; dan
b. Fasilitasi akses permodalan masyarakat di sekitar kawasan.
2. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.3.4. Promosi
1. Aksi promosi dengan indikator:
a. Promosi pada tingkat internasional (pameran) berupa pameran, leaflet, dan
billboard;
b. Promosi pada tingkat nasional (pameran) berupa pameran, leaflet, dan
billboard;
c. Promosi pada tingkat lokal (pameran) berupa pameran, leaflet, dan
billboard;
d. Promosi paket wisata.
2. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.

V-9

5.4.

Rencana Jangka Menengah IV Tahun 2030-2034 (5 Tahun keempat)

5.4.1

Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pengelola dan Para Pihak, berupa kegiatan:


1. Penguatan kelembagaan pengelolaan kawasan dengan indikator:
a. Formasi penerimaan dan penempatan pegawai baru PNS dan Non PNS;
b. Forum Koordinasi Kelompok Kerja (Pokja) dan Pengelola;
2. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia unit organisasi pengelola dan
masyarakat dengan indikator:
a. Pendidikan formal (S1/S2);
b. Bimbingan teknis (Bimtek) terhadap pengelola dan kelompok masyarakat;
c. Sosialisasi;
d. Magang
e. Tunjangan kinerja resiko tinggi
3. Pembangunan dan peningkatan sarpras pengelolaan dengan indikator:
a. Pembangunan sarana dan prasarana dengan indikator berupa kolam sentuh,
infrastruktur jalan, dan jalan lingkar dalam kawasan (jogging track);
b. Pengadaan sarpras dengan indikator berupa speed boat (lengkap), mobil
double cabin, roda dua trail, dan peralatan kantor;
c. Pemeliharaan sarpras.
4. Inisiasi dan pengembangan pendanaan berkelanjutan dengan indikator
pengembangan model investasi dalam kawasan.
5. Pengawasan dengan indikator:
a. Patroli rutin; dan
b. Patroli terpadu.
6. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.

5.4.2

Penguatan Pengelolaan Sumber Daya berupa kegiatan:


1. Perlindungan dan pelestarian ekosistem terkait dan biota dengan indikator:
a. Perlindungan dan pelestarian ekosistem terumbu karang;
b. Perlindungan dan pelestarian ekosistem vegetasi pantai;
c. Perlindungan dan pelestarian ekosistem lamun;
d. Perlindungan dan pelestarian ekosistem mangrove;

V - 10

e. Perlindungan dan pelestarian populasi penyu berupa tagging standar,


tagging transmitter, dan klinik penyu;
2. Rehabilitasi ekosistem terkait dan biota dengan indikator rehabilitasi ekosistem
terumbu karang, lamun, dan mangrove/vegetasi pantai.
3. Pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan dengan indikator:
a. Model pengelolan ekowisata berbasis konservasi penyu;
b. Pengelolaan wisata bahari (surfing, sunset, dan outbound).
4. Koordinasi pengawasan dengan indikator:
a. Rakor bidang pengawasan tingkat provinsi;
b. Rakor bidang pengawasan tingkat nasional.
5. Penguatan penyadaran masyarakat dengan indikator:
a. Sosialisasi kepada masyarakat;
b. Publikasi media cetak dan elektronik berupa koran (radar & PR), radio
(RSPD & Swasta), televisi lokal, dan televisi Nasional;
c. Edukasi kepada kalangan pelajar dan mahasiswa;
d. Pemberian penghargaan berupa kader konservasi, pemerhati penyu, dan
pemerhati lingkungan.
6. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.
5.4.3

Penguatan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat disekitar kawasan


1. Penguatan ekonomi dengan indikator:
a. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi; dan
b. Fasilitasi akses permodalan masyarakat di sekitar kawasan.
2. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.

5.4.4

Promosi
1. Aksi promosi dengan indikator:
a. Promosi pada tingkat internasional (pameran) berupa pameran, leaflet, dan
billboard;
b. Promosi pada tingkat nasional (pameran) berupa pameran, leaflet, dan
billboard;

V - 11

c. Promosi pada tingkat lokal (pameran) berupa pameran, leaflet, dan


billboard;
d. Promosi paket wisata.
2. Monitoring, evaluasi dengan indikator:
a. Monitoring; dan
b. Evaluasi.

VI - 1

BAB VI
RENCANA RINCI 20 TAHUN
Pengembangan kawasan konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan di Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat perlu mendapat
dukungan dari berbagai pihak, mulai lokal, nasional, regional, maupun
internasional. Hal ini disebabkan dari aspek lokasi sangat strategis yakni
dekat dengan Ibu Kota Jakarta yang dapat ditempuh melalui jalan darat jika
lancar hanya sekitar 3-4 jam tapi jika tidak lancar (macet) bisa mencapai 7-9
jam. Disamping itu, juga sudah ada modal transportasi Kereta Wisata dari
Bogor menuju Kota Sukabumi pulang-pergi dengan jadwal perjalanan 3 kali
sehari. Sedangkan jika ditempuh melalui udara hanya sekitar 30 menit dari
Lanud Halim Perdana Kusuma.
Potensi konservasi penyu dan keindahan alam di Taman Pesisir Pantai
Penyu Pangumbahan jika dilakukan pembangunan secara bertahap melalui
perencanaan yang baik serta didukung pendanaan berkelanjutan maka akan
memberikan dampak positif bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan
konservasi tersebut. Demikian pula terhadap pembangunan Kabupaten
Sukabumi, baik melalui peningkatan kualitas sumber daya alam, maupun
kepariwisataan, dan pemberdayaan masyarakatnya. Diharapkan suatu saat
masyarakat akan merasa memiliki keberadaan kawasan konservasi tersebut
dengan menjaga kelestarian lingkungan sehingga daya dukung lingkungan
akan meningkat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diususun
kebijakan berupa strategi, kegiatan, uraian kegiatan dan indikator pencapaian
hasil sebagaimana yang tercantum dalam Tabel 23 dan tabel 24 berikut ini.

VI - 2

Tabel 23. Rencana Rinci Kegiatan 5 Tahun Pertama Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
No.
A.

Strategi
Penguatan
Kapasitas
Kelembagaan
Pengelola dan
Para Pihak

Kegiatan
1

Penguatan
kelembagaan
pengelolaan kawasan

Uraian Kegiatan
a.

b.

c.

Peningkatan
kapasitas sumber
daya manusia unit
organisasi pengelola
dan masyarakat

Indikator
Kinerja

RPJM TAHUN I

KET

2015

2016

2017

2018

2019

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'
'

'
'

'

'

'
'

'

'

'

'

'

Formasi penerimaan dan


penempatan pegawai baru
-

PNS

Non PNS

5
30

Forum Koordinasi
-

Pokja

2/th

Pengelola

4/th

Inisiasi pembentukan
kelompok kerja (lintas sektoral
terkait, pergutuan tinggi ,
LSM, Kelompok Masyarakat,
dunia usaha)

1 paket

d.

Inisiasi pembentukan BLUD

3 paket

e.

Pembentukan BLUD

1 paket/

a.

Pendidikan formal (S2)

4 orang

b.

Bimbingan teknis

Pengelola

30 org/5th

Kelompok masyarakat

20 kel/thn

c.

Sosialisasi

6x/th

d.

Magang (3 org: pengelola)

2x/5th

e.

Tunjangan kinerja resiko


tinggi

35 org/th

VI - 3

Pembangunan dan
peningkatan sarpras
pengelolaan

a.

b.

Identifikasi kebutuhan dan


desain sarpras
- Master plan

1 dok

'

DED

1 dok

'

Maket

2 unit

'

Action plan

1 dok

'

Pembangunan sarpras
-

Kolam sentuh

1 unit

'

'

Infrastruktur jalan

3 km

'

'

'

'

- Jalan lingkar dalam


kawasan/jogging track
- Shelter 1-6

6 unit

'

'

Menara Pengawas 3 POS

3 unit

'

'

'

'

Bangunan Klinik penyu

1 unit

'

- Pagar Pembatas Penetasan


pantai

1 unit

'

'

1 paket

1 unit

'

10 unit

'

'

- Pembangunan MIS
(Management Information
System)
- Mess Karyawan
c.

3 km

Pengadaan sarpras
-

CCTV infra red

Speed Boat (lengkap)

1 unit

'

Mobil Double Cabin

1 unit

Roda dua Trail

5 unit

'

'

'

ATV

2 unit

'

Radio Reciever

1 paket

'

'

HT

10 unit

'

'

VI - 4

Teropong infra red

'

'

'

'

'

'

'

1 paket

'

1 paket

'

'

1 paket

'

1 paket

'

- Room theater (peralatan


audio visual)
- Meubeler (kantor, mess,
ruang rapat, room theater
mushola)
- Infocus + screen

1 paket

Sarana Tapal batas laut

1 paket

Rambu-rambu konservasi

Papan Informasi

- Papan nama kawasan


(billboard)
- Kamera infra red
- 1 set Perlengkapan kerja
karyawan :(seragam
kerja,sepatu boot, jas hujan,
topi, tas lapang, senter)

1 paket
1 paket

1 paket

Peralatan penetasan

1 paket

'

Peralatan kualitas air

1 paket

'

Peralatan Tagging

2 unit

'

'

Peralatan klinik penyu

35 paket/th

'

'

- Pengadaan hardware dan


software MIS

1 paket

'

`- Peralatan Selam (BCD,


regulator,wetsuit,masker)

1 paket

'

1 paket

'

1 set

'

'

1 paket /th

'

'

'

'

'

- Snorkel, fins,
tabung,kompresor)
- Peralatan Kantor
d.

4 unit

Pemeliharaan sarpras

VI - 5

Pengembangan
kebijakan dan aturan
pengelolaan dan
pemanfaatan

a.

Penyusunan aturan
pengelolaan dan pemanfaatan

4 paket

Perda ekowisata berbasis


konservasi penyu (BLUD)

1 paket

'

- Perbup kemitraan :
konsultan individu
(profesional/LSM),
Pengelolaan ekowisata

1 paket

'

Perbup retribusi

1 paket

SOP

1 paket

'

'
-

b.

Penataan batas kawasan


- SK Bupati Tim Penataan
Batas

c.

6
7

Inisiasi dan
pengembangan
Pendanaan
berkelanjutan

Pengawasan
Monitoring, evaluasi

a.
b.

'
1 paket

Kebijakan Pengawasan
terpadu
- Perbup Pengawasan
terpadu
- SK Bupati Tim Pengawasan
terpadu
Identifikasi pendanaan
berkelanjutan

1 dokumen

Pengembangan model
investasi dalam kawasan

1 dokumen

'
-

1 paket

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

1 paket

'
'
'

a.

Patroli rutin

1 kali/mgg

b.

Patroli terpadu

12 kali /th

a.

Monitoring

2 kali/th

b.

Evaluasi

'

'

'

'

'

2 kali/th

'

'

'

'

'

VI - 6

B.

Penguatan
Pengelolaan
Sumber daya

Perlindungan dan
pelestarian ekosistem
terkait dan biota

a.

Perlindungan dan pelestarian


ekosistem terumbu karang

1 paket/th

b.

Perlindungan dan pelestarian


ekosistem vegetasi pantai

1 paket/th

c.

Perlindungan dan pelestarian


ekosistem lamun

1 paket/th

d.

Perlindungan dan pelestarian


populasi penyu:
- Tagging standar
'- Tagging

transmiter

- Klinik penyu
2

Rehabilitasi ekosistem
terkait dan biota

Penelitian dan
pengembangan

a.

a.

b.
c.

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

9 unit

'
-

'
-

'
'

'
'

'
'

2 paket

'

30 unit

Rehabilitasi ekosistem :
-

Terumbu karang

1 paket/2th

'

'

'

Lamun

1 paket/2th

'

'

'

Vegetasi pantai

1 paket/2th

'

'

'

1 dokumen

'

1 dokumen

'

Identifikasi garis dasar (base


line) biofisik : (Penyu,Terumbu
karang, Lamun,Vegetasi
pantai)
Identifikasi garis dasar (base
line) Sosekbud
Penelitian dan Pengembangan
teknologi pengelolaan sumber
daya Pesisir

VI - 7

- Pengaruh zat additif kimia


dan alami terhadap efektifitas
gangguan predator telur
penyu
4

Pemanfaatan sumber
daya kelautan dan
perikanan

a.

b.

6
7

Penguatan dan
Pengembangan data
dan informasi

a.
b.

1 dokumen

'

Model Pengelolan ekowisata


berbasis konservasi penyu

1 dokumen

'

Pengelolaan wisata bahari


(surfing, sunset, outbound)

1 paket

Penyusunan Basis Data dan


informasi

1 paket

Koordinasi
pengawasan

a.

Validasi dan penyelarasan


data
Rakor bidang pengawasan

b.

Ratek bidang penngawasan

Penguatan
Penyadaran
masyarakat

a.

Sosialisasi kepada masyarakat

b.

Publikasi media cetak dan


elektronik :
- koran (radar & PR)

c.
d.

1 dokumen

2 kali/th

2 kali/th
20 kali/5th

2 kali/th

-'radio (RSPD & Swasta)

12 kali/th

- televisi lokal

12 kali/th

-televisi Nasional

6 kali/th

Edukasi kepada kalangan


pelajar dan mahasiswa
Pemberian Penghargaan

2 kali /th

- kader konservasi

1 kali/thn

1 kali/th

'
'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

VI - 8

- pemerhati penyu
- pemerhati lingkungan
8
C.

Penguatan
sosial, ekonomi,
dan budaya
masyarakat
disekitar
kawasan

Monitoring, evaluasi
Penguatan sosial dan
budaya

a.

Monitoring

b.

Evaluasi

a.

Inventarisasi keberadaan
adat, seni, budaya dan/atau
kearifan lokal

b.

Penguatan ekonomi

a.

b.
c.

3
D.

Promosi

Monitoring, evaluasi
Penguatan
sistem
informasi promosi

Aksi promosi

Inventarisasi dan fasilitasi


dukungan dan persepsi
masyarakat terhadap
keberadaan konservasi penyu
Inventarisasi kondisi
perekonomian masyarakat di
sekitar kawasan

1 kali/thn

'

'

'

'

'

1 kali/thn
2 kali/th

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

2 kali/th

'

'

'

'

'

1 paket
'

'

1 paket
'

'

1 paket

Pemberdayaan masyarakat di
sekitar kawasan konservasi

1 paket

Fasilitasi akses permodalan


masyarakat di sekitar
kawasan

1 paket

'

'

'

'

'

'

1 paket

'

Monitoring

'

a.

2 kali/th

b.

Evaluasi

'

'

'

'

'

2 kali/th

a.

Identifikasi potensi wisata

'

'

'

'

'

1 paket

b.

Pembentukan networking
promosi

'

a.

Promosi pada tingkat


internasional (pameran)

'

VI - 9

pameran

1 paket/thn

Leaflet

'

'

'

'

'

1 paket/thn

'

'

'

'

'

pameran

1 paket/thn

Leaflet

'

'

'

'

'

1 paket/thn

Bilboard

'

'

'

'

'

1 paket/thn

'

'

'

'

'

pameran

2 paket/thn

Leaflet

'

'

'

'

'

1 paket/thn
5 unit/5
thn
1 paket/thn

'

'

'

'

'

'

'

'

'

'

Bilboard
b.

c.

Promosi pada tingkat nasional

Promosi pada tingkat lokal

Bilboard

Monitoring, evaluasi

d.

Promosi paket wisata

a.

Monitoring

'

'

'

'

'

1 kali/th

b.

Evaluasi

'

'

'

'

'

1 kali/th

'

'

'

'

'

VI - 10

Tabel 24. Rencana Strategis 20 Tahun Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
Strategi
A.

Penguatan
Kapasitas
Kelembagaan
Pengelola dan
Para Pihak

Kegiatan
1

Penguatan
kelembagaan
pengelolaan
kawasan

Uraian Kegiatan
a.

b.

c.

d.
e.
2

Peningkatan
kapasitas
sumber daya
manusia unit
organisasi

a.
b.

Indikator
Kinerja

Formasi penerimaan dan


penempatan pegawai
baru
-

PNS

Non PNS

30

RPJMD I

RPJMD II

RPJMD III

RPJMD IV

2015-2019

2029-2024

2025-2029

2030-2034

Forum Koordinasi
-

Pokja

2/th

Pengelola

4/th

Inisiasi pembentukan
kelompok kerja (lintas
sektoral terkait,
pergutuan tinggi , LSM,
Kelompok Masyarakat,
dunia usaha)
Inisiasi pembentukan
BLUD
Pembentukan BLUD
Pendidikan formal
(S1/S2)
Bimbingan teknis
-

Pengelola

1 paket

3 paket
1 paket/
4 orang

30 org/5th

KET

VI - 11

pengelola dan
masyarakat

Pembangunan
dan
peningkatan
sarpras
pengelolaan

Kelompok masyarakat

20 kel/thn

c.

Sosialisasi

6x/th

d.

Magang (3 org: pengelola)

2x/5th

e.

Tunjangan kinerja resiko


tinggi
Identifikasi kebutuhan
dan desain sarpras
- Master plan

35 org/th

a.

b.

1 dok

DED

1 dok

Maket

2 unit

Action plan

1 dok

Pembangunan sarpras
-

Kolam sentuh

1 unit

Infrastruktur jalan

3 km

- Jalan lingkar dalam


kawasan/jogging track

3 km

6 unit

Shelter 1-6

- Menara Pengawas 3
POS
- Bangunan Klinik
penyu
- Pagar Pembatas
Penetasan pantai

3 unit

1 unit

1 unit

VI - 12

- Pembangunan MIS
(Management
Information System)
c.

Mess Karyawan

1 paket

1 unit

Pengadaan sarpras
-

CCTV infra red

Speed Boat (lengkap)

1 unit

Mobil Double Cabin

1 unit

Roda dua Trail

5 unit

ATV

2 unit

Radio Reciever

1 paket

HT

10 unit

Teropong infra red

- Room theater
(peralatan audio visual)
- Meubeler (kantor,
mess, ruang rapat, room
theater mushola)
- Infocus + screen
- Sarana Tapal batas
laut
- Rambu-rambu
konservasi
- Papan Informasi

10 unit

4 unit

1 paket

1 paket

1 paket
1 paket

1 paket

1 paket

VI - 13

- Papan nama kawasan


(billboard)

1 paket

Kamera infra red

1 paket

- 1 set Perlengkapan
kerja karyawan
:(seragam kerja,sepatu
boot, jas hujan, topi, tas
lapang, senter)

1 paket

Peralatan penetasan

1 paket

Peralatan kualitas air

1 paket

Peralatan Tagging

2 unit

- Peralatan klinik
penyu
- Pengadaan hardware
dan software MIS

35 paket/th

- Peralatan Selam
(BCD,
regulator,wetsuit,masker,
- snorkel, fins, tabung,
kompresor)
- Peralatan Kantor

Pengembangan
kebijakan dan
aturan
pengelolaan
dan
pemanfaatan

d.

Pemeliharaan sarpras

a.

Penyusunan aturan
pengelolaan dan
pemanfaatan
- Perda ekowisata
berbasis konservasi
penyu (BLUD)

1 paket
1 paket
1 paket
1 set
1 paket /th

1 paket

VI - 14

b.

c.

Inisiasi dan
pengembangan
Pendanaan
berkelanjutan

Pengawasan
Monitoring,
evaluasi

Perbup kemitraan :

1 paket

konsultan individu
(profesional/LSM),
Pengelolaan ekowisata

1 paket

Perbup retribusi

1 paket

SOP

Penataan batas kawasan


- SK Bupati Tim
Penataan Batas
Kebijakan Pengawasan
terpadu
- Perbup Pengawasan
terpadu
- SK Bupati Tim
Pengawasan terpadu

20
dokumen
1 paket

2 paket

a.

Identifikasi pendanaan
berkelanjutan

b.

Pengembangan model
investasi dalam kawasan

a.

Patroli rutin

b.

Patroli terpadu

a.

Monitoring

2 kali/th

b.

Evaluasi

2 kali/th

1 dokumen

1 dokumen
1
kali/minggu
12 kali /th

VI - 15

B.

Penguatan
Pengelolaan
Sumber daya

Perlindungan
dan
pelestarian
ekosistem
terkait dan
biota

a.
b.
c.
d.

Perlindungan dan
pelestarian ekosistem
terumbu karang
Perlindungan dan
pelestarian ekosistem
vegetasi pantai
Perlindungan dan
pelestarian ekosistem
lamun
Perlindungan dan
pelestarian populasi
penyu:
- Tagging standar
'- Tagging

transmiter

- Klinik penyu
2

Rehabilitasi
ekosistem
terkait dan
biota

Penelitian dan
pengembangan

a.

1 paket/th
1 paket/th
1 paket/th

30 unit
9 unit
2 paket

Rehabilitasi ekosistem :
-

Terumbu karang

1 paket/2th

Lamun

1 paket/2th

- Mangrove/Vegetasi
pantai
Identifikasi garis dasar
(base line) biofisik :
(Penyu,Terumbu karang,
Lamun,Vegetasi pantai)

1 paket/2th

b.

Identifikasi garis dasar


(base line) Sosekbud

1 dokumen

c.

Penelitian dan
Pengembangan teknologi
pengelolaan sumber daya
Pesisir

1 dokumen

a.

1 dokumen

VI - 16

6
7

Pemanfaatan
sumber daya
kelautan dan
perikanan
Penguatan dan
Pengembangan
data dan
informasi
Koordinasi
pengawasan
Penguatan
Penyadaran
masyarakat

a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.

c.
d.

Model Pengelolan
ekowisata berbasis
konservasi penyu
Pengelolaan wisata
bahari (surfing, sunset,
outbound)
Penyusunan Basis Data
dan informasi

1 dokumen

Validasi dan
penyelarasan data
Rakor bidang
pengawasan
Ratek bidang
penngawasan
Sosialisasi kepada
masyarakat
Publikasi media cetak
dan elektronik :

1 dokumen

1 paket

1 dokumen

2 kali/th
2 kali/th
20 kali/5th

- koran (radar & PR)

2 kali/th

-'radio (RSPD & Swasta)

12 kali/th

- televisi lokal

12 kali/th

- televisi Nasional

6 kali/th

Edukasi kepada
kalangan pelajar dan
mahasiswa
Pemberian Penghargaan

2 kali /th

- kader konservasi

1 kali/th

- pemerhati penyu

1 kali/th

VI - 17

C.

Penguatan
sosial,
ekonomi, dan
budaya
masyarakat
disekitar
kawasan

Monitoring
dan evaluasi
Penguatan
sosial dan
budaya

- pemerhati lingkungan

1 kali/th

a.

Monitoring

b.

Evaluasi

a.

Inventarisasi keberadaan
adat, seni, budaya
dan/atau kearifan lokal

b.

Penguatan
ekonomi

Promosi

Penguatan
sistem
informasi
promosi
Aksi promosi

2 kali /th

2 kali /th

1 paket

1 paket

1 paket

1 paket

1 paket

a.

2 kali /th

b.

Evaluasi

2 kali /th

a.

Identifikasi potensi
wisata
Pembentukan
networking promosi
Promosi pada tingkat
internasional (pameran)

a.

c.
Monitoring
dan evaluasi

Inventarisasi dan
fasilitasi dukungan dan
persepsi masyarakat
terhadap keberadaan
konservasi penyu
Inventarisasi kondisi
perekonomian
masyarakat di sekitar
kawasan
Pemberdayaan
masyarakat di sekitar
kawasan konservasi
Fasilitasi akses
permodalan masyarakat
di sekitar kawasan
Monitoring

b.

b.
a.

1 paket
1 paket

VI - 18

pameran

1 paket

Leaflet

1 paket

Bilboard

1 paket

Promosi pada tingkat


nasional
pameran

1 paket

Leaflet

1 paket

Bilboard

1 paket

Promosi pada tingkat


lokal
pameran

1 paket

Leaflet

1 paket

Bilboard

1 paket

d.

Promosi paket wisata

1 paket

a.

Monitoring

1 kali /th

b.

Evaluasi

1 kali /th

b.

c.

Monitoring
dan evaluasi

VII - 1

BAB VII
PENUTUP

Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan di


Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat Tahun 2015-2034 merupakan dokumen yang
memuat kebijakan pengelolaan Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan di Kabupaten
Sukabumi Provinsi Jawa Barat, yang meliputi visi dan misi, tujuan dan sasaran
pengelolaan, dan strategi pengelolaan untuk mengarahkan dan mengendalikan program dan
kegiatan pengelolan Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan di Kabupaten Sukabumi
Provinsi Jawa Barat. Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan

merupakan acuan untuk menyusun rencana kerja tahunan oleh Satuan

Organisasi Unit Pengelola Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan .


Untuk itu, semua pihak yang terkait dalam pengelolaan Taman Pesisir Pantai Penyu
Pangumbahan di Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat diharapkan mendukung
Rencana Pengelolaan Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan secara partisipatif.
Mengingat pengelolaan Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan di Kabupaten
Sukabumi Provinsi Jawa Barat bersifat dinamis dan adaptif, maka Rencana Pengelolaan
Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan di Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat
dapat dilakukan peninjauan kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun sekali.
Namun demikian, peninjauan kembali dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali
dalam 5 (lima) tahun dengan mempertimbangkan dalam kondisi lingkungan strategis
tertentu yang berkaitan dengan bencana skala besar, dalam kondisi lingkungan strategis
tertentu yang berkaitan dengan batas teritorial negara yang ditetapkan dengan undangundang, dalam kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan batas wilayah
Kabupaten Sukabumi yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan, dan/atau
apabila terjadi perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi Jawa Barat, dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukabumi.

BAB VIII
LAMPIRAN