Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

PENATALAKSANAAN PERDARAHAN
SALURAN CERNA BAGIAN ATAS NONVARICEAL

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


di Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto

Diajukan Kepada :
Pembimbing : dr. Ruswhandi, Sp.PD, K-GEH

Disusun Oleh :
Hurdienda Faozilla Yuzakki

1410221092

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam


FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto
PERIODE 23 Mei - 08 Agustus 2016

LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN


BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

Judul Referat :

PENATALAKSANAAN PERDARAHAN SALURAN CERNA


BAGIAN ATAS NON- VARICEAL

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


di Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto

Disusun Oleh:

Hurdienda Faozilla Yuzakki

1410221092

Telah disetujui oleh Pembimbing:


Nama pembimbing

dr. Ruswhandi, Sp.PD, K-GEH.

Tanda Tangan

.......................

Tanggal

.............................

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN..................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR.........................................................................................................iii

BAB I:
PENDAHULUAN...............................................................................................................1
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................2
BAB III: KESIMPULAN..................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................15

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan pembuatan referat dengan
judul Penatalaksanaan Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas Non-Variceal yang
merupakan salah satu syarat dalam melaksanakan kepaniteraan klinik Pendidikan Profesi
Dokter di Bagian Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto.
Dalam menyelesaikan tugas ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dr.
Ruswhandi, Sp.PD, K-GEH., selaku pembimbing dalam pembuatan referat ini, serta pihak
lain yang telah membantu. Tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua
orang tua dan teman-teman sejawat dokter muda yang telah membantu baik moril maupun
materiil sehingga terselesaikannya referat ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan referat ini banyak terdapat kekurangan
dan juga masih jauh dari kesempurnaan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca.

Jakarta,

Juni 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Perdarahan saluran cerna termasuk masalah yang sering dihadapai. Manifestasi yang
dapat muncul bisa bermula dari perdarahan samar yang tidak dirasakan hingga perdarahan
masif yang mengancam jiwa. Pendekatan pada pasien dengan perdarahan dan lokasi
perdarahan saluran cerna adalah dengan menentukan beratnya perdarahan dan lokasi
perdarahan. Hematemesis (muntah darah segar atau hitam) menunjukkan perdarahan dari
saluran cerna bagian atas, proksimal dari ligamentum Treitz. Melena (tinja hitam, bau khas)
biasanya akibat perdarahan saluran cerna bagian atas, meskipun demikian perdarahan dari
usus halus atau kolon bagian kanan, juga dapat menimbulkan melena. 1
Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas (SCBA) merupakan salah satu penyakit yang
sering dijumpai di bagian gawat darurat rumah sakit. Sebagian besar pasien datang dalam
keadaan stabil dan sebagian lainnya datang dalam keadaan gawat darurat yang memerlukan
tindakan yang cepat dan tepat. Kejadian perdarahan akut saluran cerna ini tidak hanya terjadi
diluar rumah sakit saja namun dapat pula terjadi pada pasien-pasien yang sedang menjalani
perawatan di rumah sakit terutama di ruang perawatan intensif dengan mortalitas yang cukup
tinggi. 1
Perdarahan saluran cerna bagian atas memiliki prevalensi sekitar 75 % hingga 80 %
dari seluruh kasus perdarahan akut saluran cerna. Kejadian perdarahan SCBA menunjukkan
adanya variasi geografis yang besar mulai dari 48-160 kasus per 100.000 penduduk, dengan
kejadian lebih tinggi pada pria dan usia lanjut . Insidensinya telah menurun, tetapi angka
kematian dari perdarahan akut saluran cerna, masih berkisar 3 % hingga 10 %, dan belum ada
perubahan selam 50 tahun terakhir. 1,2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi
Perdarahan saluran cerna bagian atas (PSCBA) adalah kehilangan darah dari saluran

cerna atas, yang dimulai dari esophagus sampai dengan duodenum (dengan batas anatomik di
ligamentum Treitz). 1
2.2

Epidemiologi
Insidensi perdarahan akut saluran cerna bagian atas di negara barat dapat mencapai

100 per 100.000 penduduk/tahun, dengan kejadian lebih tinggi pada pria daripada wanita. 1
Sedangkan di Indonesia populasi sebenarnya belum diketahui, namun demikian angka
terjadinya perdarahan saluran cerna bagian atas menunjkan adanya variasi geografis yang
besar berkisar 48-160 kasus per 100.00 penduduk, dengan penderita paling banyak pada pria
dan usia lanjut.2
Penyebab paling sering perdarahan SCBA adalah perdarahan ulkus peptikum (PUP)
dengan presentase 31 67 %, selanjutnya diikuti oleh gastritis erosive, esophagitis,
keganasan, perdarahan variceal dan robekan Mallory-Weiss.2
Suatu studi kasus retrospektif di Pusat Endoskopi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
Jakarta yang dilakukan selama tahun 2001-2005 pada pasien yang menjalani endoskopi, dari
4.154 orang, sebanyak 807 (20,15 %) orang mengalami perdarahan SCBA. Pada studi yang
sama, penyebab paling sering adalah pecahnya varises esofagus (280 kasus, 33,4%) diikuti
dengan perdarahan ulkus peptikum (225 kasus, 26,9%), dan gastritis erosive (219 kasus,
26,2%). 3
2.3

Etiologi dan Patofisiologi


Penyebab paling sering terjadinya pedarahan saluran cerna adalah, penyakit ulkus

peptikum yang disebabkan oleh infeksi H.pylori maupun penggunaan obat-obat antiinflamasi non steroid. Kemudian yang paling jarang terjadi menyebabkan perdarahan
adalah, gastritis, varises esophagus dan robean Mallory-Weiss.4 Dalam buku The Merck
Manual of Patient Symptoms, berikut ini merupakan presentase penyebab perdarahan
saluran cerna bagian atas 4 :

1. Duodenal ulcer (20 30 %)


2. Gastric atau duodenal erosions (20 30 %)
3. Varices (15 20 %)
4. Gastric ulcer (10 20 %)
5. Mallory Weiss tear (5 10 %)
6. Erosive esophagitis (5 10 %)
7. Angioma (5 10 %)
8. Arteriovenous malformation (< 5 %)
9. Gastrointestinal stromal tumors
2.3.1

Penyakit-penyakit Ulcerative atau Erosive

1. Penyakit Ulkus Peptikum


Ulkus peptikum adalah keadaan terputusnya kontinuitas mukosa yang meluas di
bawah epitel atau kerusakan pada jaringan mukosa, submukosa hingga lapisan otot
dari suatu daerah saluran cerna yang langsung berhubungan dengan cairan lambung
asam. Faktor utama penyebabnya adalah infeksi H.pylori dan penggunaan NSAID. 5
Permukaan epitelium dari lambung atau usus rusak dan berulkus dan hasil dari
inflamasi yang disebabkan oleh faktor utama tersebut akan menyebar sampai ke dasar
mukosa dan submukosa. Asam lambung dan enzim pencernaan memasuki jaringan
menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada pembuluh darah dan jaringan di sekitarnya.5
Beberapa gejala yang sering dirasakan penderita adalah perih, rasa seperti terbakar,
nyeri, pegal, dan lapar. Rasa nyeri berlangsung terus-menerus dengan intensitas ringan
sampai berat biasanya terletak di bawah sternum. Makan dapat meredakan rasa sakit
sementara, namun akibat blockade karena terjadi edema pada gaster hingga
duodenum, akan mencegah makanan melewati lambung sehingga menyebabkan mual
atau muntah setelah makan. 5
2. Stress Ulcer
Bagaimana terjadinya stress ulcer belum dapat diketahui hingga saat ini. Namun
dalam buku Current Diagnosis and Treatment in Gastroenterology stress ulcer
dikaitkan dengan hipersekresi asam pada pasien mucosal ischemia dan alterasi pada
mucus gastric. 6
3. Medication-Induced Ulcer

Penggunaan obat-obatan yang menyebabkan perdarahan saluran cerna bagian atasa


paling sering adalah, aspirin dan NSAIDs. Obat-obatan tersebut dapat menyebabkan
erosi gastroduodenal atau ulcers, khususnya pada pasien lanjut usia. 6
2.3.2

Mallory Weiss Tear


Mallory- Weiss Tear muncul pada bagian distal esophagus di bagian
gastroesophageal junction. Perdarahan akan terjadi akibat terlibatnya esophageal
venous atau arterial plexus. Peningkatan risiko pada kasus ini dapat terjadi pada
pasien dengan hipertensi portal. Mallory-Weiss Tear merupakan diagnosis keempat
yang menyebabkan perdarahan saluran cerna bahagian atas, terhitung sekitar 5 % dari
seluruh kasus. 6

2.3.3

Gastro esophageal Varices


Esophageal varices dan gastric varices adalah vena collateral yang berkembang
sebagai hasil dari hipertensi sistemik ataupun hipertensi segmental portal. Beberapa
penyebab dari hipertensi portal termasuk prehepatic thrombosis, penyakit hati, dan
penyakit postsinusoidal. Hepatitis B dan C serta penyakit alkoholic liver adalah
penyakit yang paling sering menimbulkan penyakit hipertensi portal intrahepatic di
Amerika Serikat. 6

2.3.4

Pengaruh Obat NSAIDs


Penggunaan obat ini dapat mengganggu proses peresapan mukosa, proses
penghancuran mukosa, dan dapat menyebabkan cedera. Faktor yang menyebabkan
peningkatan penyakit tukak gaster dari penggunaan NSAIDs adalah usia, jenis
kelamin, pengambilan dosis yang tinggi atau kombinasi dari NSAIDs, penggunaan
NSAIDs dalam jangka waktu yang lama, penggunaan disertai antikoagulan, dan
severe comorbid illness. 7

NSAID
COX-1

Kerusakan
epitel

COX-2

Menurunkan aliran

Ketidakcocokan

Menurunkan

Meningkatkan

darah ke mukosa,

agregasi

angiogenesis

perlengketan

mengurangi sekresi

palatelet

mucus dan
bikarbonat.

Aktivasi

leukosit
Impaired
Defence

leukosit
Acid Back
Diffusion

Impaired
healing

Ketidakcocokan
agregasi
palatelet

Bagan 1. Patofisiologi perdarahan SCBA non variceal 5


Kerusakan dan terjadi
(http://physrev.physiology.orgcontentphysrev8841547F2.large.jpg)

perdarahan pada bagian


2.4

Manifestasi Klinis

mukosa

Perdarahan saluran cerna bagian atas memliki 3 gejala khas yaitu :


1. Hematemesis
Muntah darah dan mengindikasikan adanya perdarahan saluran cerna atas, yang
berwarna coklat merah atau coffee ground. 7,8
2. Hematochezia
Keluarnya darah dari rectum yang diakibatkan perdarahan saluran cerna bahagian
bawah, tetapi dapat juga dikarenakan perdarahan saluran cerna bahagian atas yang
sudah berat. 7,8

3. Melena
Kotoran (feses) yang berwarna gelap yang dikarenakan kotoran bercampur asam
lambung; biasanya mengindikasikan perdarahan saluran cerna bahagian atas, atau
perdarahan daripada usus-usus ataupun colon bahagian kanan dapat juga menjadi
sumber lainnya. 7
Selain gejala tersebut diatas, dapat disertai gejala anemia yaitu pusing, syncope,
angina atau dyspnea.8 Beberapa studi juga menunjukan adanya nyeri epigastrium,
heartburn, disfagia, berat badan turun, dan jaundice. 10
2.4

Diagnosis

2.4.1

Anamnesis
Sekitar 30% pasien akan datang dengan keluhan utama berupa hematemesis, 20
% datang karena melena dan 50 % dengan kedua keluhan. Tetapi sekitar 5 % pasien
dengan perdarahan ulkus datang dengan hematoskezia yang merupakan tanda
perdarahan berat. Pada kasus tersebut dibutuhkan perhatian khusus terutama
hemodinamik, karena kehilangan darah dalam jumlah banyak akan menimbulkan
syok.1
Dalam anamnesis yang perlu ditekankan 10 :
1. Sejak kapan terjadinya perdarahan dan berapa perkiraan darah yang keluar
2. Riwayat perdarahan sebelumnya
3. Riwayat perdarahan dalam keluarga
4. Ada tidaknya perdarahan dibagian tubuh lain
5. Penggunaan obat-obatan terutama antiinflamasi nonsteroid dan antikoagulan
6. Kebiasaan minum alkohol
7. Mencari kemungkinan adanya penyakit hati kronis, demam berdarah, demam
tifoid, GGK, DM, hipertensi, alergi obat-obatan
8. Riwayat transfusi sebelumnya

2.4.2

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan secara umum meliputi penilaian hemodinamik (denyut nadi, tekanan
darah), lalu pernafasan, status kesadaran, konjungtiva pucat, capillary refill yang
melambat, tanda sirosis hati kronik. 1
Kemudian dari pemeriksaan abdomen, basanya terdapat nyeri tekan. Sedangkan
pada pemeriksaan rectal touch beberapa diteukan feses kehitaman pada handscone.
Adanya stigmata penyakit hati kronik, suhu badan dan perdarahan di tempat lain,
tanda tanda Langkah awal menentukan beratnya perdarahan dengan memfokuskan
status hemodinamiknya. Pemeriksaan meliputi :

Tekanan darah dan nadi posisi baring

Perubahan ortostatik tekanan darah dan nadi

Ada tidaknya vasokonstriksi perifer ( akral dingin )

Kelayakan nafas

Tingkat kesadaran

Produksi urin.

Perdarahan akut dalam jumlah besar melebihi 20 % volume intravaskular akan


mengakibatkan kondisi hemodinamik tidak stabil dengan tanda tanda sebagai
berikut:

Hipotensi ( tekanan darah < 90/60 mmHg , frekuensi nadi > 100x/menit )

Tekanan diastolik ortostatik turun > 10 mmHg atau sistolik turun > 20 mmHg

Frekuensi nadi ortostatik meningkat > 15/menit

Akral dingin

Kesadaran menurun

Anuria atau oliguria


Kecurigaan perdarahan akut dalam jumlah besar selain ditandai kondisi

hemodinamik tidak stabil ialah bila ditemukan: hematemesis, hematokezia, darah


segar pada aspirasi pipa nasogastrik dengan, hipotensi persisten, 24 jam
menghabiskan transfusi darah melebihi 800 1000 mL. 11
Pada pemeriksaan fisik perlu diperhatikan kulit dan mukosa penyakit sistematik.
Perlu juga dicari stigmata pasien dengan sirosis hati karena pada pasien sirosis hati
dapat disertai gangguan pembekuan darah, perdarahan gusi, epistaksis, ikterus dengan
air kemih berwarna seperti teh pekat, muntah darah atau melena.
Pemeriksaan fisik lainnya yang penting yaitu masa abdomen, nyeri abdomen,
rangsangan peritoneum,

penyakit paru,

Pemeriksaan yang tidak boleh dilupakan

penyakit jantung, penyakit rematik dll.


adalah colok dubur. Warna feses ini

mempunyai nilai prognostik. Dalam prosedur diagnosis ini penting melihat aspirat
dari Naso Gastric Tube (NGT). Aspirat berwarna putih keruh menandakan perdarahan
tidak aktif, aspirat berwarna merah marun menandakan perdarahan masif sangat
mungkin perdarahan arteri. Seperti halnya warna feses maka warna aspirat pun dapat
memprediksi mortalitas pasien. Walaupun demikian pada sekitar 30% pasien dengan
perdarahan tukak duodeni ditemukan adanya aspirat yang jernih pada NGT. 1
2.4.3

Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan yang perlu diperhatikan 10 :
1. Elektrokardiagram (terutama pasien berusia > 40 tahun)
2. BUN, kreatinin serum
3. Elektrolit (Na, K, Cl)
4. NGT

5. Endoskopi
Pemasangan nasogastric tube (NGT) dinilai dapat beranfaat untuk penilaian klinis
awal. Pada saat pemasangan, maka dinilai aspiratnya. Jika didapatkan darah merah
segar, maka pasien membutuhkan evaluasi endskopik segera dan perawatan intensif.
Apabila terdapat warna coffee ground, maka pasien membutuhkan rawat inap dan
evaluasi endoskopik dalam waktu 24 jam. Namun demikian aspirat normal tidak
menyingkirkan perdarahan saluran cerna. Sekitar 15% pasien dengan aspirat normal,
tetap mempunyai perdarahan saluran cerna aktif atau risiko tinggi mengalami
perdarahan ulang. 1
Pemeriksaan darah rutin digunakan untuk melihat adanya tanda-tanda penurunan
Hb akibat kehilangan darah dalam jumlah banyak. Penurunan kadar hemoglobin
1g/dL diasosiasikan dengan kehilangan darah 250mL. Selain itu perbandingan antara
hematocrit dan hemoglobin dilihat untuk menentukan adanya ketidakseimbangan
hemodinamik.1
Selain digunakan untuk mendektesi ulkus peptikum, pemeriksaan endoskopi juga
digunakan untuk mengevaluasi stigmata yang berkaitan dengan risiko perdarahan
ulang. Penilaian risiko perdarahan ulang tersebut dinilai menggunakan klasifikasi
Forrest, digambarkan sebagai berikut 1 :
Ulkus dengan perdarahan aktif menyemprot (Forrest IA);
Ulkus dengan perdarahan merembes (Forrest IB);
Ulkus dengan pembuluh darah visibel tak berdarah (Forrest IIA);
Ulkus dengan bekuan adheren (Forrest IIB);
Ulkus dengan bintik pigmentasi datar (Forrest IIC); dan
Ulkus berdasar bersih (Forrest III).

Gambar 1. Stigmata endoskopik perdarahan ulkus peptikum, klasifikasi Forrest :


A. perdarahan aktif menyemprot. B. perdarahan merembes. C. pembuluh darah
visible dengan bekuan sekeliling. D. bekuan aheren. E. bintik pigmentasi dasar. F.
ulkus berdasar bersih. 1
2.5

Penatalaksanaan

2.5.1

Penatalaksanaan dini
Selain membantu sebagai alat diagnosis awal, pemasangan NGT bertujuan untuk
mencegah aspirasi, dekompresi dan menilai perdarahan. Kemudian pemberian cairan
intravena untuk resusitasi sangatlah penting untuk menggantikan cairan yang hilang.
Selain itu, pemberian transfusi sebaiknya dipikirkan bergantung pada kondisi umum
dan tanda vital pasien, biasanya ditetapkan transfusi pada hemoglobin 7.0 g/dL
kecuali pada kasus perdarahan yang masih berlangsung. 11

2.5.2

Non-Endoskopis
a. Kumbah lambung
Salah satu usaha menghentikan perdarahan yang sudah lama dilakukan adalah
kumbah lambung lewat pipa nasogastrik dengan air suhu kamar. Prosedur ini
diharapkan mengurangi distensi lambung dan memperbaiki proses hemostatik,
namun demikian manfaatnya dalam menghentikan perdarahan tidak terbukti.
Kumbah lambung ini sangat diperlukan untuk persiapan pemeriksaan endoskopi
dan dapat dipakai untuk membuat perkiraan kasar jumlah perdarahan.
Berdasarkan percobaan hewan, kumbah lambung dengan air es kurang

menguntungkan, waktu perdarahan menjadi memanjang,perfusi dinding lambung


menurun dan bisa timbul ulserasi pada mukosa lambung.
b. Pemberian vitamin K
Pemberian vitamin K pada pasien dengan penyakit hati kronis yang mengalami
perdarahan SCBA diperbolehkan, dengan pertimbangan pemberiaan tersebut
tidak merugikan dan relatif murah.
c. Vasopressin
Vasopressin dapat menghentikan perdarahan SCBA lewat efek vasokonstriksi
pembuluh darah splanknik, menyebabkan aliran darah dan tekanan vena porta
melihat. Digunakan di klinik untuk perdarahan akut varises esofagus sejak 1953.
Pernah dicobakan pada perdarahan non varises, namun berhentinya perdarahan
tidak berbeda dengan plasebo. Terdapat dua bentuk sediaan, yakni pitresinyang
mengandung vasopressin murni dan preparat pituitari gland yang mengandung
vasopressin

dan

oksitosin.

Pemberiaan

vasopressin

dilakukan

dengan

mengencerkan sediaan vasopressin 50 unit dalam 100 ml dekstrose 5%, diberikan


0,5-1 mg/menit/IV selama 20-60 menit dan dapat diulang tiap 3 sampai 6 jam;
atau setelah pemberian pertama dilanjutkan per infus 0,1-0,5 U/menit.
Vasopressin dapat menimbulkan efek samping serius berupa insufisiensi koroner
mendadak, oleh karena itu pemberiannya disarankan bersamaan preparat nitrat,
misalnya nitrogliserin intravena dengan dosis awal 40 mcg/menit kemudian
secara titrasi dinaikkan sampai maksimal 400mcg/menit dengan tetap
mempertahankan tekanan sistolik di atas 90 mmHg.
d. Somatostatin dan analognya (octreotid)
Somatostatin dan analognya (octreotid) diketahui dapat menurunkan aliran darah
splanknik, khasiatnya lebih selektif dibanding dengan vasopressin. Penggunaan di
klinik pada perdarahan akut varises esofagus dimulai sekitar tahun 1978.
Somatostatin dapat menghentikan perdarahan akut varises esofagus pada 70-80%
kasus, dan dapat pula digunakan pada perdarahan non varises. Dosis pemberian
somastatin, diawali dengan bolus 250 mcg/iv, dilanjutkan per infus 250 mcg/jam
selama 12-24 jam atau sampai perdarahan berhenti, octreotid dosis bolus 100 mcg
intravena dilanjutkan perinfus 25 mcg/jam selama 8-24 jam atau sampai
perdarahan berhenti.

e. Obat-obatan golongan antisekresi asam


Obat-obatan golongan antisekresi asam yang dilaporkan bermanfaat untuk
mencegah perdarahan ulang SCBA karena tukak peptik ialah inhibitor proton
dosis tinggi. Diawali oleh bolus omeprazole 80 mg/iv kemudian dilanjutkan per
infus 8 mg/KGBB/jam selama 72 jam, perdarahan ulang pada kelompok plasebo
20% sedangkan yang diberi omeprazole hanya 4,2%. Suntikan omeprazole yang
beredar di Indonesia hanya untuk pemberian bolus, yang bisa digunakan per infus
ialah persediaan esomeprazole dan pantoprazole dengan dosis sama seperti
omeprazole. Pada perdarahan SCBA ini antasida, sukralfat, dan antagonis
reseptor H2 dalam mencegah perdarahan ulang SCBA karena tukak peptik kurang
bermanfaat.
2.5.3

Terapi endoskopi
Endoskopi telah menjadi alat untuk diagnosis dan tatalaksana PSCBA yang
utama. Tindakan ini memungkinkan untuk dilakukan identifikasi sumber pendarahan
dan terapi pada saat yang sama. Tujuan terapi endoskopik adalah untuk menghentikan
pendarahan aktif dan mencegah perdarahan ulang. Konsensus internasional dan AsiaPasifik menganjurkan endoskopi dini dalam waktu 24 jam setelah pasien dirawat. 6
Pasien dengan ulkus dengan dasar bersih diberi diet lunak dan dipulangkan
setelah endoskopi dengan syarat hemodinamik stabil, hemoglobin cukup dan stabil,
tidak ada masalah kesehatan lain.
Pada pasien dengan perdarahan ulkus yang aktif, terapi hemostasis sebaiknya
dalam bentuk kombinasi (epinefrin ditambah modalitas lain seperti penempatan klim
hemostatik, termokoagulasi, dan elektrokoagulasi).
Pasien dengan stigmata secara endoskopi risiko tinggi (perdarahan aktif,
pembuluh darah yang terlihat, bekuan bekuan (klasifikasi Forrest) umumnya
dirawat inap selama 3 hari bila tidak ada perdarahan ulang dan tidak ada indikasi lain
untuk rawat inap. Pasien boleh diberi diet cair segera setelah endoskopi kemudian
diganti secara bertahap. 9,10
Pasien dengan perdarahan ulang biasanya dapat ditangani dengan terapi
endoskopik. Namun demikian, pembedahan darurat atau embolisasi angiografik
mungkin diperlukan pada saat-saat tertentu, seperti :
Perdarahan memancar (spurting) yang tidak dapat dihentikan dengan endoskopi,
Titik pendarahan tidak dapat dilihat oleh karena pendarahan aktif yang masif, dan

Perdarahan ulang yang muncul setelah endoskopi terapeutik kedua.


2.5.4

Penatalaksaan pasca endoskopi


Pasien diberikan PPI secara oral atau intravena sebagai antisekretorik. Selain itu
juga untuk eradikasi H.pylori.
INITIAL ASSESMENT
History & physical exam.
Vital sign
Large bore iv line
NGT
Laboratory exam.
Hb, ht, thrombocyte
Hemostasis
Hemodynamic stable
No active bleeding

Hemodynamic instability
Active bleeding

Emperical treatment
RESUSCITATION
Crystalloid solution
Colloid solution
Blood transfusion
Correction for coagulation
Hemodynamic stable
Bleeding stop

Hemodynamic instability
Bleeding continued
Vasoactive drugs

Elective UGI endoscopy

Definitive treatment

Emergency or Early UGI


endoscopy
Esophageal/
gastric ulcer

Ulcer

Ligation
or SB
tube

Hemostatic
injection /
urgent surgery

Surgery

Bleeding site
non-visualized
Intervetional
diagnostic &
therapeutic
radiology /
urgent surgery

Bagan 2. Penanganan Perdarahan Saluran Cerna 3

2.6

Prognosis
Identifikasi letak perdarahan adalah langkah awal yang paling penting dalam

pengobatan. Setelah letak perdarahan terlokalisir, pilihan pengobatan dibuat secara langsung
dan kuratif. Meskipun metode diagnostik untuk menentukan letak perdarahan yang tepat telah
sangat meningkat dalam 3 dekade terakhir, 10-20% dari pasien dengan perdarahan saluran
cerna bagian bawah tidak dapat dibuktikan sumber perdarahannya. Oleh karena itu, masalah
yang kompleks ini membutuhkan evaluasi yang sistematis dan teratur untuk mengurangi
persentase kasus perdarahan saluran cerna yang tidak terdiagnosis dan tidak terobati.
Dalam penatalaksanaan perdarahan SCBA banyak faktor yang berperan terhadap hasil
pengobatan. Ada beberapa prediktor buruk dari perdarahan SCBA antara lain, umur diatas 60
tahun, adanya penyakit komorbid lain yang bersamaan, adanya hipotensi atau syok, adanya
koagulopati, onset perdarahan yang cepat, kebutuhan transfusi lebih dari 6 unit, perdarahan
rekurens dari lesi yang sama. Setelah diobati dan berhenti, perdarahan SCBA dapat berulang
lagi atau rekurens. Secara endoskopik ada beberapa gambaran endoskopik yang dapat
memprediksi akan terjadinya perdarahan ulang antara lain tukak peptik dengan bekuan darah
yang menutupi lesi, adanya visible vessel tak berdarah, perdarahan segar yang masih
berlangsung.12

BAB III
KESIMPULAN
Perdarahan saluran cerna bagian atas (PSCBA) adalah kehilangan darah dari saluran
cerna atas, yang dimulai dari esophagus sampai dengan duodenum (dengan batas anatomik di
ligamentum Treitz. Dengan insidensi perdarahan akut saluran cerna bagian atas di negara
barat dapat mencapai 100 per 100.000 penduduk/tahun, dengan kejadian lebih tinggi pada
pria daripada wanita. Penyebab paling banyak adalah duodenal ulcer (20 30 %), gastric atau
duodenal erosions (20 30 %).

Perdarahan SCBA memiliki tiga klinis khas yaitu,

hematemesis, hematochezia dan melena. Penataaksanaan paling penting pada awal adalah
lakukan segera resusitasi cairan, diikuti dengan pemasangan NGT, lakukan endoskopi dan
pemberian PPI hingga eradikasi H.pylori.

DAFTAR PUSTAKA
1. Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI). Konsensus Nasional Penatalaksanaan
Perdarahan Saluran Cerna Atas Non Varises di Indonesia. Jakarta. 2012 .
2. Jutabha, R., et al. 2003. Acute Upper Gastrointestinal Bleeding. Dalam: Friedman,
S.L., et al. Current Diagnosis & Treatment in Gastroenterology 2 ed. USA: McGrawHill Companies, 53 67.
3. Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas. Bagian Ilmu Penyakit Dalam RS Dr Hasan
Sadikin FK UNPAD. Bandung. 2010
4. Syam AF, Abdullah M, Makmun D, Simadibrata MK, Djojoningrat D, Manan C, et al.
The Causes of Upper Gastrointestinal Bleeding in the National Referral Hospital :
Evaluation on Upper Gastrointestinal Tract Endoscopic Result in Five Years Period.
The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology and Digestive Endoscopy
2005; 6 : 71-4
5. Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara. 2011.
6. Sanusi IA. Tukak lambung. 1 ed. Jakarta: Interna Publishing; 2011.
7. Anand, B.S., 2011. Peptic Ulcer Disease, Bayler College of Medicine. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/181753-overview#a0156 (Accesed 11 June
2016)
8. Porter, R.S., et al., 2008. The Merck Manual of Patient Symptoms. USA: Merck
Research Laboratories.
9. Laine, L., 2008. Gastrointestinal Bleeding. Dalam: Fauci, A.S., et al. Harrisons
Principles of Internal Medicine: 17th ed. Vol 1. USA: McGraw-Hill Companies, 257
260.
10. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Marcellus SK, Setiati S. 2007. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Edisi ke-4. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia .
11. Djojoningrat D. Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas (Hematemesis Melena). 1
ed.Jakarta: Interna Publishing; 2011.

12. Soeprapto, P., et al., 2010. Kegawatdaruratan Gastrointestinal Dalam: Juffrie, M., et
al. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi: 1st ed. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 27
50.