Anda di halaman 1dari 19

SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN

TB PARU DALAM KEHAMILAN


DI RUANG VK IRD RSUD Dr. SOETOMO

Disusun Oleh :
KELOMPOK 4
1.
2.
3.
4.
5.

Ahmadi Ramadhan, S.Kep.


Diyah Hita Mariyanti, S.Kep.
Endah Eka Prayanti, S.Kep.
Husna Ardiana, S.Kep.
Kathleen Elvina Hasibuan, S.Kep.

131523143063
131523143051
131523143056
131523143061
131523143043

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
Pokok Bahasan : TB Paru dalam Kehamilan

Sasaran

: Keluarga pasien di Ruang VK IRD RSUD Dr. Soetomo

Hari/Tanggal

: Jumat, 24 Juni 2016

Tempat

: Ruang VK IRD RSUD Dr. Soetomo

Pelaksanaan

: Program Pendidikan Ners Fakultas Keperawatan Universitas


Airlangga dan TIM PKRS RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Waktu

: Pukul 09.00 WIB - selesai

A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan, diharapkan keluarga pasien
di ruang VK IRD RSUD Dr. Soetomo Surabaya mengerti dan memahami
tentang TB Paru dalam Kehamilan
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan selama 1x30 menit
diharapkan keluarga pasien di ruang VK IRD RSUD Dr. Soetomo Surabaya
mampu:
1) Memahami tentang pengertian TB Paru
2) Menyebutkan penyebab dan cara penularan TB Paru.
3) Menyebutkan tanda dan gejala TB Paru.
4) Memahami pemeriksaan yang dilakukan pada TB Paru.
5) Memahami dampak TB Paru dalam Kehamilan terhadap ibu dan janin.
6) Memahami penanganan TB Paru dalam kehamilan.
B. Pokok Bahasan
1. Pengertian TB Paru
2. Penyebab dan cara penularan TB Paru.
3. Tanda dan gejala TB Paru.
4. Pemeriksaan yang dilakukan pada TB Paru.
5. Dampak TB Paru dalam Kehamilan terhadap ibu dan janin.
6. Penanganan TB Paru dalam Kehamilan
C. Metode
1

1. Ceramah
2. Tanya jawab
D. Media
1. Banner
2. Leaflet
E. Kegiatan Penyuluhan
No
1.

2.

3.

Tahapan dan
Kegiatan Pendidikan
Waktu
5 menit sebelum Petugas
menyiapkan
acara penyuluhan daftar hadir, ruangan dan
tempat untuk peserta
penyuluhan.
Pembukaan
5 1. Mengucapkan salam
menit
dan memperkenalkan
diri.
2. Menyampaikan
tujuan dan maksud
penyuluhan.
3. Menjelaskan kontrak
waktu.
4. Menyebutkan materi
penyuluhan.
Pelaksanaan
1. Menggali
kegiatan
15
pengetahuan
dan
menit
pengalaman sasaran
penyuluhan tentang
TB
paru
dalam
kehamilan
2. Menjelaskan materi
yaitu :
a. Pengertian
TB
Paru
b. Penyebab dan cara
penularan
TB
Paru.
c. Tanda dan gejala
TB Paru.
d. Pemeriksaan yang
dilakukan pada TB
Paru.
e. Dampak TB Paru
dalam Kehamilan
2

Kegiatan Peserta
Peserta mengisi daftar
hadir dan duduk di
tempat yang telah
disediakan.
1. Menjawab salam.
2. Mendengarkan
tujuan dan maksud
dari penyuluhan.
3. Mendengarkan
kontrak waktu.
4. Mendengarkan
materi penyuluhan
yang
akan
diberikan.
1. Menjelaskan
apabila
mengetahui
tentang penyakit
TB paru dalam
kehamilan
2. Mendengarkan
materi penyuluhan
yang disampaikan.

3.

4.
4.

Penutup 5 menit

1.
2.

3.

terhadap ibu dan


janin.
f. Penanganan
TB
Paru
dalam
Kehamilan
Memberikan
kesempatan peserta
untuk
mengajukan
pertanyaan.
Menjawab pertanyaan
yang diajukan oleh
peserta penyuluhan.
Menanyakan kembali
materi yang telah
diberikan.
Penyaji
menyimpulkan materi
yang
telah
disampaikan.
Penyaji membagikan
leaflet
kepada
peserta.

3. Mengajukan
pertanyaan
mengenai materi
yang disampaikan.
4. Mendengarkan dan
memperhatikan
jawaban penyaji.
1. Peserta menjawab
pertanyaan
penyaji.
2. Peserta
mendengarkan
kesimpulan materi
yang
telah
disampaikan.
3. Peserta menerima
leaflet.

F. Pengorganisasian
1. Pembimbing Akademik

: Ni Ketut Alit Amini, S.Kp., M.Kes.

2. Pembimbing Klinik

: Lilik Hidayati, A.Md.Keb., S.Pd.

3. Penyaji

: Ahmadi Ramadhan, S.Kep.

4. Moderator

: Husna Ardiana, S.Kep.

5. Observer

: Diyah Hita Mariyati, S.Kep.

6. Fasilitator

: 1. Kathleen Elvina H, S.Kep.


2. Endah Eka Prayanti, S.Kep.

G. Pembagian Tugas
1. Penyaji
1) Menggali pengetahuan keluarga pasien tentang penyakit TB paru
2) Menyampaikan materi untuk peserta penyuluhan.
2. Moderator
1) Bertanggung jawab atas kelancaran acara.
2) Membuka dan menutup acara.
3

3) Mensetting waktu penyaji sesuai dengan rencana kegiatan.


3. Fasilitator
1) Membantu kelancaran acara penyuluhan.
2) Mendorong peserta untuk bertanya kepada penyaji.
3) Membagikan leaflet kepada semua peserta penyuluhan.
4. Observer dan Notulen
1) Mengamati jalannya acara penyuluhan.
2) Mencatat pertanyaan dari peserta.
3) Mengevaluasi serangkaian acara penyuluhan mulai dari pembukaan
hingga penutupan.
H. Setting Tempat

LCD

I. Kriteria Evaluasi
1. Kriteria Struktur
1) Kontrak waktu dan tempat diberikan 1 hari sebelum acara.
2) Pengumpulan SAP 1 hari sebelum acara.
3) Peserta hadir pada tempat yang telah ditentukan.
4) Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa bekerja sama
dengan TIM PKRS RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

5) Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum dan


saat penyuluhan dilaksanakan.
2. Kriteria Proses
1) Acara dimulai tepat waktu.
2) Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
3) Peserta mengikuti kegiatan sesuai dengan aturan yang telah dijelaskan.
4) Peserta mendengarkan dan memperhatikan materi penyuluhan.
5) Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan POA.
6) Pengorganisasian berjalan sesuai dengan pembagian tugas.
3. Kriteria Hasil
1) Peserta yang datang sejumlah 7 orang atau lebih.
2) Ada umpan balik positif dari peserta seperti dapat menjawab
pertanyaan yang diajukan pemateri.
3) Peserta mampu menjawab dengan benar 75% dari pertanyaan penyaji.

MATERI PENYULUHAN TB PARU DALAM KEHAMILAN


5

A. Definisi
Tuberkolusis (TB) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh
basil Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis ) yang merupakan salah
satu penyakit saluran pernapasan bagian bawah.
B. Penyebab dan Cara Penularan
Penyebab dari penyakit tuberculosis adalah Mycobacterium tuberculosis .

Infeksi terjadi melalui penderita TB yang menular. Penderita TB yang menular


adalah penderita dengan basil TB di dalam dahaknya, dan bila mengadakan
ekspirasi paksa berupa batuk atau bersin akan menghembus keluar percikan
dahak halus (droplet nuclei) yang berukuran kurang dari 5 mikron dan yang
akan melayang di udara. Droplet nuclei ini mengandung basil TB yang akan
melayang-layang di udara, jika droplet nuclei ini hinggap di saluran penapasan
yang besar, misalnya trakea dan bronkus, droplet nuclei akan segera
dikeluarkan oleh gerakan silia selaput lendir saluran pernapasan, tetapi bila
droplet nuclei ini berhasil masuk sampai ke dalam alveolus ataupun menempel
pada mukosa bronkiolus, droplet nuclei akan menetap dan basil TB akan
mendapat kesempatan untuk berkembang biak.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh jumlah kuman
yang dikeluarkan dari paru. Semakin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan
dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif
(tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.
Seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan
lamanya menghirup udara tersebut. Faktor endogen seperti daya tahan tubuh,
usia, dan penyakit penyerta (infeksi HIV, limfoma, leukemia, malnutrisi, gagal
ginjal, diabetes melitus dan terapi imunosupresif) juga mempengaruhi
kerentanan seseorang tertular kuman TB.
Mycobacterium tuberculosis dapat mati jika terkena cahaya matahari
langsung selama 2 jam. Karena kuman ini tidak tahan terhadap sinar ultra
violet. Mycobacterium tuberculosis mudah menular, mempunyai daya tahan
tinggi dan mampu bertahan hidup beberapa jam ditempat gelap dan lembab.
Oleh karena itu, dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant (tidur), tertidur

lama selama beberapa tahun. Basil yang ada dalam percikan dahak dapat
bertahan hidup 8-10 hari.
C. Tanda dan Gejala
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu
atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan seperti dahak
bercampur darah, batuk darah, sesak napas, badan lemas, penurunan nafsu
makan, penurunan berat badan, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan
fisik dan demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala diatas dapat juga
dijumpai pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis,
asma dan kanker paru.
D. Pemeriksaan TB Paru
1. Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis pasti TB dapat ditegakkan dengan ditemukannya Basil
Tahan Asam (BTA) pada pemeriksaan sputum. Hasil pemeriksaan
dinyatakan positif jika sedikitnya dua dari tiga spesimen sputum Sewaktu,
Pagi, Sewaktu (SPS) hasilnya positif. Jika hanya satu spesimen yang positif
perlu dilakukan pemeriksaan rontgen toraks atau pemeriksaan sputum
ulang. Jika hasil rontgen toraks mendukung kearah TB, maka penderita
didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Jika rontgen toraks tidak
mendukung kearah TB maka pemeriksaan sputum harus diulang.
Jika gejala klinis mengarah TB tetapi hasil pemeriksaan ketiga
sputum SPS negatif, maka diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya
kotrimoksazol atau amoksisilin) selama 1-2 minggu. Bila tidak terdapat
perubahan, namun secara klinis masih mencurigakan TB, perlu dilakukan
pemeriksaan sputum SPS ulang. Jika hasil SPS positif, maka didiagnosis
sebagai penderita TB BTA positif. Jika hasil SPS tetap negatif, lakukan
pemeriksaan rontgen toraks untuk mendukung diagnosis TB. Jika hasil
rontgen toraks mendukung TB, maka didiagnosis sebagai TB BTA negatif
rontgen positif. Jika rontgen tidak mendukung TB, maka penderita tersebut
bukan TB.
2. Test Tuberkulin
7

Alasan alternatif dilakukan tes tuberkulin adalah untuk wanita hamil


dengan resiko tinggi, dan lebih baik digunakan PPD (purified protein
derivative) berkekuatan 5 TU (intermediate strength) yakni dengan
menyuntikkan 0,1 cc tuberkulin 5 TU intrakutan.
Setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan, akan timbul reaksi
berupa indurasi kemerahan yang terdiri dari infiltrat limfosit yakni reaksi
persenyawaan antara antibodi seluler dan antigen tuberkulin. Banyak
sedikitnya reaksi persenyawaan antibodi seluler dan antigen tuberkulin
dipengaruhi oleh antibodi humoral, pada ibu hamil makin besar pengaruh
antibodi humoral, makin kecil indurasi yang ditimbulkan.
Biasanya hampir seluruh penderita tuberkulosis memberikan hasil
mantoux yang positif (99,8%). Sisa dari tes ini dapat positif seumur hidup
pada 96-97% pasien. Kelemahan tes ini juga terdapat positif palsu yakni
pada pemberian BCG atau terinfeksi Mycobacterium lain.
3. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis foto thorax tidak dilakukan secara rutin
pada kehamilan karena sangat beresiko terhadap janin. Dengan pelindung,
pemeriksaan radiologis dapat dilakukan pada penderita yang tes
tuberkulinnya positif menyusul setelah tes awal negatif dan pada penderita
dengan riwayat dan pemeriksaan fisik yang mengarah ke arah tuberkulosis
walaupun tes tuberkulin awal negatif.
E.

Dampak TB pada Kehamilan


1. Efek TB Terhadap Sistem Genitalia
Banyak diantara penderita TB yang mengalami infertilitas. Sistem
genitalia dapat terjadi fokus primer dari TB paru, dan sistem genital yang
sering terkena dalam tuba fallopi, dengan bagian distal yang terkena lebih
dahulu. Infeksi dapat menyebar ke bagian proksimal dari tuba fallopi dan
akhirnya ke uterus. Jika kuman sudah menyerang organ reproduksi wanita
tersebut dapat mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus tidak siap
menerima hasil konsepsi.
Menurut Oster (2007) bahwa TB paru (baik laten maupun aktif)
tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari.
8

Namun, jika kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan


gangguan kesuburan. Kesempatan untuk memiliki anak menjadi tidak
tertutup sama sekali, kemungkinan untuk hamil masih ada. Idealnya,
sebelum memutuskan untuk hamil, wanita pengidap TB mengobati TBnya terlebih dulu.
2. Efek TB Terhadap Kehamilan
Kehamilan

menyebabkan

sedikit

perubahan

pada

sistem

pernapasan, karena uterus yang membesar dapat mendorong diafragma


dan paru ke atas serta sisa udara dalam paru kurang, namun penyakit
tersebut tidak menjadi lebih berat. Efek TB pada kehamilan tergantung
pada beberapa faktor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia
kehamilan saat menerima pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT),
status nutrisi, penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan
mendapatkan fasilitas diagnosis dan OAT.
Sebelum tahun 1940, kehamilan

dianggap

sesuatu

yang

mengganggu penyembuhan TB paru dan wanita dengan TB paru


dianjurkan untuk tidak hamil, jika terjadi konsepsi maka dilakukan aborsi.
Sejak saat itu, banyak dokumentasi yang menyatakan bahwa riwayat TB
tidak berubah dengan adanya kehamilan pada penderita yang diobati. TB
akan meningkat secara progresif antara 15-30% pada penderita yang tidak
diobati selama 2,5 tahun pertama.
TB aktif tidak membaik atau memburuk dengan adanya kehamilan.
Reaktivasi TB paru yang inaktif juga tidak mengalami peningkatan selama
kehamilan. Angka reaktivasi TB paru kira-kira 5-10% tidak ada perbedaan
antara mereka yang hamil maupun tidak hamil. Tetapi kehamilan bisa
meningkatkan risiko TB inaktif menjadi aktif terutama periode post
partum.
Jana et al. (1994) melaporkan TB paru aktif menyebabkan
komplikasi dari 79 kehamilan di India. Bayi dari wanita yang menderita
TB mempunyai berat badan lahir rendah dua kali lipat, meningkatnya
persalinan prematur dan meningkatnya kematian perinatal enam kali lipat.
Hal ini dianggap berhubungan dengan terlambatnya diagnosis pengobatan
yang tidak lengkap dan teratur, dan luasnya kelainan pada paru.
9

3. Efek TB Terhadap Janin


Menurut Oster (2007), jika kuman TB hanya menyerang paru,
maka akan ada risiko terhadap janin, seperti abortus, terhambatnya
pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari
ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB kongenital).
Gejala TB kongenital bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,
seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah,
pembesaran hati dan limfa.11 Penularan kongenital sampai saat ini masih
belum jelas, apakah bayi tertular saat masih di kandungan atau setelah
lahir. Jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa,
maka wanita memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan,
karena bayi dapat mengalami masalah setelah lahir.
F. Penatalaksanaan
1. Pengobatan Umum TB
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan
mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Paduan OAT yang
digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di
Indonesia:

Kategori 1 : 2HRZ/4H3R3.

Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3.

Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan HRZE

Kategori Anak: 2HRZ/4HR

10

Tabel 2.1 Jenis, sifat dan dosis OAT


Terdapat sebelas OAT yang terdapat di Amerika Serikat, empat
diantaranya dipertimbangkan menjadi obat primer karena keefektivitasan
dan toleransinya pada penderita, yaitu isoniazid, rifampicin, ethambutol,
dan streptomycin. Obat sekunder adalah obat yang digunakan dalam kasus
resisten obat atau intolerensi terhadap obat, yaitu paminasalicyli acid,
pyrazinamide, cycloserine, ethionamide, kanamycin, viomycin dan
dacapreomycin.
2.

Pengobatan TB pada Kehamilan


Pengobatan TB aktif pada kehamilan hanya berbeda sedikit dengan
penderita yang tidak hamil. Pengobatan jangka panjang selama setahun
dengan isoniazid diberikan kepada mereka yang tes tuberkulin positif atau
tidak menunjukkan gejala aktif. Beberapa penelitian tidak menunjukkan
efek teratogenik dari isoniazid pada wanita post partum. Beberapa
rekomendasi menunda pengobatan ini sampai 3-6 bulan post partum.
Isoniazid termasuk obat yang perlu dipertimbangkan keamanannya
selama kehamilan. Penelitian bahwa isoniazid, ethambutol, rifampicin
aman untuk kehamilan jika diberikan dalam dosis yang tepat dan efek
teratogenik terhadap janin manusia belum dapat dibuktikan. Penelitian
menunjukkan obat lain yang dapat digunakan selama kehamilan adalah
kanamicyn,

viomisin,

capreomisin,

pyazinamide,

cycloserine

dan

thiosemicatbazone. Menurut The Centers for Disease Control and


Prevention (CDC) bahwa kontranindkasi OAT pada wanita hamil meliputi
streptomycin, kanamicyn, amikacin, capreomicin dan fluoroquinolones.
Pada TB aktif dapat diberikan pengobatan dengan kombinasi 2
obat, biasanya digunakan isoniazid 5 mg/kg/hari (tidak lebih 300 mg/hari)
dan ethambutol 15 mg/kg/hari. Pengobatan ini tidak direkomendasikan
jika diketahui penderita telah resisten terhadap isoniazid. Jika dibutuhkan
pengobatan dengan 3 obat atau lebih dapat ditambah dengan rifampicin.
Tetapi streptomycin sebaiknya tidak digunakan karena berisiko permanent
ototoxic dan dapat menembus barrier placenta. Terapi dengan isoniazid
mempunyai banyak keuntungan (manjur, murah, dapat diterima penderita)
dan merupakan pengobatan yang aman selama kehamilan.
11

Tata laksana TB pada neonatus mencakup beberapa aspek yaitu


ibu, bayi yang dilahirkan dan lingkungan keluarga. Ibu yang terdiagnosis
TB berdasarkan pemeriksaan fisik, radiologik dan bakteriologik menjelang
atau saat persalinan harus diisolasi. Bila ibu telah didiagnosis TB aktif
pada kehamilan, pengobatan anti tuberkulosis (OAT) langsung diberikan
tanpa mengesampingkan efek samping OAT pada janin. Obat yang
rekomendasi oleh WHO dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
yaitu kombinasi rifampisin, isoniasid, pirazinamid dan etambutol.
Regimen OAT sama seperti pada kasus TB lainnya kecuali streptomisin
tidak diberikan karena bersifat teratogenik. Pada ibu yang telah cukup
mendapat pengobatan sebelumnya selama kehamilan, pada umumnya
selama persalinan proses tuberkulosis sudah tenang.
Dokter ahli kebidanan bersama dokter anak harus saling berdikusi
sebelum bayi dilahirkan. Setelah bayi dilahirkan segera lakukan
pemeriksaan patologi anatomi plasenta dan pemeriksaan mikrobiologi dari
darah vena umbilikalis untuk mencari gambaran tuberkel dan atau kuman
TB. Setelah ibu diisolasi, evaluasi klinis dan foto toraks dilakukan pada
neonatus. Gejala klinis TB kongenital sulit dibedakan dengan sepsis
bakterial pada umumnya. Sehingga bila gejala klinis sesuai dengan sepsis
bakterialis

dapat diberikan terapi kombinasi anti tuberkulosis dan

antibiotik. Pemantauan klinis pada neonatus meliputi apakah terdapat


prematuritas, berat lahir rendah, distres pernapasan, hepato-splenomegali,
demam, letargi, toleransi minum yang buruk, gagal tumbuh, atau distensi
abdomen. Bila pada pemantauan klinis terdapat limfadenopati, lesi di kulit,
atau sekret pada telinga dilakukan pemeriksaan mikrobiologi dan atau
patologi anatomi. Bila didapatkan hepatomegali selama pemantauan klinis
dilakukan pemeriksaan USG abdomen, dan bila ditemukan kompleks
primer maka dilanjutkan dengan biopsi hati. Pemantauan klinis kadangkadang perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu.
Gejala klinis TB kongenital dapat timbul segera setelah lahir atau
hingga minggu kedua dan ketiga kehidupan. Bila pada neonatus terdapat
gejala TB maka diagnosisnya adalah TB perinatal dan terapi TB langsung
12

diberikan.

Terapi

yang

dianjurkan

adalah

isoniasid

dosis

5-10

mg/kgBB/hari, rifampisin dosis 10-15 mg/kgBB/hari dan pirazinamid


dosis 25-35 mg/ kgBB/hari. Lakukan pemeriksaan bilas lambung sebelum
pemberian terapi. Setelah terapi TB selama 1 bulan (usia 1 bulan) lakukan
pemeriksaan uji tuberkulin. Namun pada neonatus dengan gejala klinis TB
dan didukung oleh satu atau lebih pemeriksaan penunjang (foto toraks,
patologi anatomi plasenta dan mikrobiologis darah v.umbilikalis) maka
dapat langsung diobati selama 6 bulan tanpa pemerikaan uji tuberkulin.
Apabila pada usia 1 bulan uji tuberkulin positif maka diagnosis TB
ditegakkan dan diberikan terapi TB selama 6 bulan disertai pemeriksaan
foto toraks dan bilas lambung. Namun bila hasil uji tuberkulin negatif,
masih mungkin TB karena faktor imunitas yang imatur pada neonatus.
Dalam hal ini terapi TB diteruskan disertai pemeriksaan tuberkulin pada
usia 3 bulan. Apabila hasil uji tuberkulin pada usia 3 bulan positif maka
diagnosis TB ditegakkan dan diberikan terapi TB selama 6 bulan. Namun
apabila hasilnya negatif maka diagnosis bukan TB dan terapi TB
dihentikan.Selain mendapat terapi TB, pemberian nutrisi harus adekuat.
Bayi dipisahkan selama minimal 2 minggu pemberian terapi TB pada ibu,
namun ASI tetap dapat diberikan. Kandungan OAT di dalam ASI pada ibu
yang mendapat terapi TB hanya dalam jumlah yang kecil dan tidak
berpotensi menimbulkan infeksi pada bayi. Selain itu pemantauan
peningkatan berat badan, tanda vital, dan keluhan lain harus dilakukan
dengan ketat.
Apabila neonatus lahir dari ibu TB aktif namun pemeriksaan klinis
dan penunjang dalam batas normal, maka neonatus tetap berpotensi untuk
terinfeksi M.tuberculosis. Tata laksana awal adalah pemberian profilaksis
primer INH dengan dosis 5- 10 mg/kgBB/hari selama 1 bulan kemudian
dilakukan uji tuberkulin untuk mengetahui apakah pasien telah terinfeksi.
Apabila setelah 1 bulan uji tuberkulin positif maka diagnosis TB dapat
ditegakkan dan diberikan terapi TB selama 6 bulan disertai pemeriksaan
foto toraks dan bilas lambung. Namun bila setelah 1 bulan uji tuberkulin
negatif maka pemberian profilaksis primer INH diteruskan sampai 3 bulan
13

kemudian dilakukan uji tuberkulin untuk mengetahui apakah pasien telah


terinfeksi. Bila setelah 3 bulan uji tuberkulin tetap negatif dan telah
dibuktikan tidak ada sumber penularan lagi maka profilaksis primer INH
dapat dihentikan. Namun bila positif, harus dinilai klinis dan pemeriksaan
penunjang. Bila terdapat kelainan maka didiagnosis TB dan diberikan
terapi TB selama 6 bulan. Apabila pemeriksaan tidak mendukung TB,
maka diberikan profilaksis sekunder selama 6-12 bulan. Pemberian BCG
hanya dapat dilakukan apabila bayi belum terinfeksi M.tuberculosis yaitu
pada saat 3 bulan dan uji tuberkulin negatif. Tata laksana terhadap
lingkungan meliputi lingkungan keluarga. Harus dicari adanya sumber
penularan atau keluarga lain yang tertular melalui pemeriksaan klinis,
laboratorium maupun radiologis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008.
2. Bahar A, Amin Z. Tuberkulosis paru. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jilid 2. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI,
2007. 988-993
3. Aditama TY, et al. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberkulosis
di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006.

14

4. Alsagaff H, Mukty A. Tuberkulosis Paru. Dalam: Dasar-Dasar Ilmu


Penyakit Paru. Jakarta: Airlangga, 2002. 73-108
5. Cunningham et al. Penyakit Paru. Dalam: Obstetri Williams. Jakarta:
EGC, 2000. 1387-1389
6. Danusantoso H. Ilmu Penyakit paru. Jakarta: Hipokrates; 2000.
7. Dharmawan, dkk. 2004. Diagnosis dan Tata Laksana Neonatus dari Ibu
Hamil Tuberkulosis Aktif. Sari Pediatri, Vol. 6, No. 2, September 2004:
85-90
8. Rubenstein D, Wayne D, Bradley J. Lecture Notes: Kedokteran Klinis.
Edisi 6. Jakarta: Erlangga; 2007.
9. Hopewell PC. Tuberculosis and Other Mycobacterial Disease. In:
Textbook of Respiratory Medicine. 4th Ed. USA: Saunders, 2005. 9791043
10. Bothamley G. Drug Treatment for Tuberculosis during Pregnancy: Safety
Considerations. Drug Safety Vol. (7): 553-65, 2001.
11. Danusantoso H. Ilmu Penyakit paru. Jakarta: Hipokrates; 2000.
12. Ravligion MC, Obrien RJ. Tuberculosis. In: Harrisons Principles of Internal
Medicine. 16th Ed. USA: Mc-Graw-Hill, 2005

13. Loto OM, Awowole I. Tuberculosis in Pregnancy: A Review. Journal of


Pregnancy. 2012;2012:17.

LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PENYULUHAN MAHASISWA


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA

No
1.

Tahapan
dan Waktu

Kegiatan Pendidikan

5
menit Petugas menyiapkan daftar hadir,
sebelum
ruangan dan tempat untuk peserta
acara
penyuluhan.
15

Penilaian
Ya
Tidak

penyuluhan

2.

Pembukaan 5
menit

3.

Pelaksanaan
1. Menggali
pengetahuan
dan
kegiatan 15
pengalaman sasaran penyuluhan
menit
tentang kanker serviks
2. Menjelaskan materi yaitu :
Pengertian TB Paru
Penyebab dan cara penularan TB
paru
Tanda dan gejala TB Paru
Pemeriksaan yang dilakukan
pada TB paru
Damapk TB Paru dalam
Kehamilan terhadap ibu dan
janin
Penanganan TB paru dalam
kehamilan
3. Memberikan kesempatan peserta
untuk mengajukan pertanyaan.
4. Menjawab
pertanyaan
yang
diajukan oleh peserta penyuluhan.

4.

Penutup
menit

1. Mengucapkan
salam
dan
memperkenalkan diri.
2. Menyampaikan tujuan dan maksud
penyuluhan.
3. Menjelaskan kontrak waktu.
4. Menyebutkan materi penyuluhan.

1. Menanyakan kembali materi yang


telah diberikan.
2. Penyaji menyimpulkan materi yang
telah disampaikan.
3. Penyaji membagikan leaflet kepada
peserta.

16

Saran :

Pertanyaan :

Jawaban :

DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN MAHASISWA PROGRAM


PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
Ruang

: VK IRD RSUD Dr. Soetomo Surabaya


17

Hari/tanggal

: Jumat, 24 Juni 2016

Waktu

: 30 menit

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.

Nama

Tanda Tangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.

18