Anda di halaman 1dari 439

Perencanaan

Struktur Baja
dengan Metode

LR
F

II

(Berdasarkan SNI 03-17292002)

PERENCAATAAAT
STRUKTUR BAJA
DENGAN METODE LRFD
(Sesuai SNI 03-1729-2002)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 19 TAHUN 2002
TENTANG HAK CIPTA
PASAL 72
KETENTUAN PIDANA
SANKSI PELANGGARAN
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak
suatu Ciptaan atau memberikan izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit
Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama
7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp5.000.000.000.00 (lima miliar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,


atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang
hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama
5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

PERENCANAAN
STRUKTUR BAJA
DENGAIV
METODE
LRFD
Sesuai SNI 03-1729-2002)
AGUS SETIAWAN

.4$
PENERBIT ERLANGGA JI. H. Baping Raya No. 100 Ciracas, Jakarta 13740

http://www.erlangga.co.id e-mail: editor@erlangga.net (Anggota IKAPI)

Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD


(Sesuai SNI 03-1729-2002)
Agus Setiawan
Hak Cipta 2008 pada pengarang. Hak terbit pada Penerbit Erlangga Editor:
Lemeda Simarmata
Buku ini diset dan dilayout olch Bagian Produksi Penerbit Erlangga dengan
Power Macintosh G4 (Adobe Garamond 10 pt)
Setting oleh: Bagian Produksi PT Penerbit Erlangga
Dicetak olch: PT Gelora Aksara Pratama
12 11 10 09

9 8 6 5 4 3 2

Dilarang keras mengutip, tnenjiplak, tnettzlotokva. at,zu


baik sebagian atau keseluruhan isi buku int seira
Penerbit Erlangga.
HAK CIPTA DILINDUN GI OLEH UND ANG-UND A_NG

dalam bentuk apa pun,


tertztlis dart

PRAKATA

Metode ASD (Allowable Stress Design) dalam struktur baja telah


cukup lama digunakan, namun beberapa tahun terakhir metode
desain dalam struktur baja mulai beralih ke metode lain yang lebih
rasional, yakni metode LRFD (Load Resistance and Factor Design).
Metode ini didasarkan pada ilmu probabilitas, sehingga dapat
mengantisipasi segala ketidakpastian dari material maupun beban.
Oleh karena itu, metode LRFD ini dianggap cukup andal. Peraturan
Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI 1987) telah diganti
dengan Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan
Gedung, SNI 03-1729-2002 yang tier-basis pada metode LRFD.
Buku
ini
mencoba
memberikan
penjelasan
mengenai
perencanaan struktur baja dengan menggunakan konsep LRFD
tersebut. Beberapa contoh coal yang diberikan telah dilengkapi
dengan langkah-langkah penyelesaiannya. Dan dalam perencanaan
struktur baja metode LRFD yang digunakan dalam buku ini,
semuanya berpedoman pada SNI 031729-2002 yang telah
disebutkan sebelumnya.
Sebagai bahan perkuliahan buku ini dapat diberikan dalam dua
semester pada mata kuliah Struktur Baja. Semester pertama
mahasiswa mempelajari tentang konsep dasar LRFD, pengenalan
material baja, batang tarik dan tekan, sambungan (baut dan las),
komponen struktur balok-kolom, komponen struktur komposit serta
jenis-jenis sambungan pada konstruksi bangunan baja.
Selain dapat digunakan oleh mahasiswa Teknik Sipil, buku ini
juga dapat dijadikan pedoman perencanaan bagi konsultan maupun
praktisi yang banyak berkecimpung di dunia struktur baja.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat
dalam buku ini, sehingga saran dari berbagai pihak sangat penulis
harapkan guna perbaikan bukku ini pada edisi mendatang. Akhir
kata, penulis berharap agar buku ini dapat memacu perkembangan
implementasi metode LRFD dalam perencanaan struktur baja

khususnya di Indonesia.
Semarang, November 2008
Agus Setiawan

DAFTAR ISI

Prakata
Daftar Isi

vii

B a b 1 P E N D A H U LUA N 1
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5
1.6

Perencanaan Struktur 1
Behan 3
Konsep Dasar LRFD 5
Peluang Kegagalan
8
Indeks Keandalan 9
Desain LRFD Struktur Baja

11

Bab 2 MATERIAL BAJA DAN SITATSIFATNYA 15


2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6
2.7
2.8
2.9
2.10

Sejarah Penggunaan Material Baja 15


Material Baja 17
Sifatsifat Mekanik Baja
18
Keuletan Material21
Tegangan Multiaksial 22
Perilaku Baja pada Temperatur Tinggi
23
Pengerjaan Dingin dan Penguatan Regangan
Keruntuhan Getas
28
Sobekan La melar27
Keruntuhan Lelah 28

25

B a b 3 B ATA N G TA R N 2 9
3.1
3.2
3.3
3.4
3.5
3.6
3.7
3.8

Pe n d a h u l u a n 2 9
Tahanan Nominal 31
Luas Netto 32
Efek Lubang BerselangSeling pada Luas Netto
Luas Netto Efektif36
Geser Blok (Block Shear)
41
Kelangsingan Struktur Tarik 44
Transfer Gaya Pada Sambungan
46
Soalsoal Latihan
47

33

viii

DAFTAR ISI

B a b 4 B ATAN G T E K A N 5 0

4.1
4.2
4.3
4.4
4.5
4.6
4.7
4.8
4.9
4.10

Pen da hu l ua n 5 0
Tekuk Elastik Euler 50
Kekuatan Kolom 51
Pengaruh Tegangan Sisa
52
Kurva Kekuatan Kolom Akibat Tegangan Sisa 52
Tahanan Tekan Nominal
56
Panjang Tekuk 57
Masalah Tekuk Lokal 61
Komponen Struktur Tekan Tersusun
61
Tekuk Torsi dan Tekuk Lentur Torsi
66
Soal-soal Latihan
79

Ba b 5 KO MPONEN STRUKTUR LENTUR 8 1

5.1
5.2
5.3
5.4
5.5
5.6
5.7
5.8

Pendahuluan 81
Lentur Sederhana Profil Simetris
Perilaku Balok Terkekang Lateral
Desain Balok Terkekang Lateral 85
Lendutan Balok 88
Geser pada Penampang Gilas 91
Beban Terpusat Pada Balok
94
Teori Umum Lentur 99
Soal-soal Latihan 107

81
82

Bab 6 SAMBUNGAN BAUT 109


6. 1 Pen d a hu l ua n 1 0 9
6.2 Tahanan Nominal Baut 110
6.3 Geser Eksentris 115
6.4 Kombinasi Geser dan Tarik 123
6.5 Sambungan yang Mengalami Beban Tarik Aksial
6.6 Geser dan Thik Akibat Beban Eksentris
128
Soal-soal Latihan 132
Bab 7 SAMBUNGAN LAS 137

7. 1 Pen d a hu l ua n 1 3 7
7.2 Jen is-jenis Sambungan 138
7.3 Jenis-jenis Las 138
7.4 Pembatasan Ukuran Las Sudut 139
7.5 Luas Efektif Las 140
7.6 Tahanan Nominal Sambungan Las
7.7 Geser Eksentris-Metoda Elastik
7.8 Geser Eksentris-Metoda Plastis
7.9 Behan Eksentris Normal pada Bidang
Soal-soal Latihan 153

141
146
148

Las

152

127

DAFTAR ISI

Bab 8 TORSI 156

8.1
8.2
8.3
8.4
8.5

Pendahuluan
156
Torsi Murni pada Penampang Homogen
Pusat Geser (Shear Center)
159
Tegangan Puntir Pada Profit I
165
Anatogi Torsi dengan Lentur
172
Soalsoal Latihan
176

156

Bab 9 TE KU K TOR SI LATE RA L 178


9.1 Pendahuluan 178
9.2
Perilaku Balok I Akibat Beban Momen Seragam
9.3
Tekuk Torsi Lateral Elastis
180
9.4
Tekuk Torsi Inelastis
184
9.5
Desain LRFD Balok I
186
9.6
Lentur Dua Arah
200
Soalsoal Latihan
204

178

Bab 10 B A L OK P E LAT B E R D IN DI NG PE NU H ( PE LAT G IR DE R) 2 0 6


10.1 Pendahuluan 206
10.2 Persyaratan Balok Pelat Berdinding Penuh
208
10.3 Kuat Momen Nominal Balok Pelat Berdinding Penuh
10.4 Kuat Geser Nominal
213
10.5 Kuat Geser Nominal dengan Pengaruh Aksi Medan Tarik
10.6 lnteraksi Geser dan Lentur
221
10.7 Pengaku Vertikal
222
10.8 Pengaku Penahan Gaya Tumpu
224
10.9 Desain Balok Pelat Berdinding Penuh
233
Soalcoal Latihan 244

210
216

B a b 11 B A L O K K O L O M 2 4 6
11.1 P end ah ul ua n 246
11.2 Persamaan Diferensial untuk Kombinasi Gaya Aksial dan Lentur
11.3 Faktor Perbesaran Momen
252
11.4 Desain LRFD Komponen Struktur BalokKolom
254
11.5 Perbesaran Momen untuk Struktur Tak Bergoyang
255
11.6 Perbesaran Momen untuk Struktur Bergoyang
255
11.7 Tekuk Lokal Web pada Komponen Struktur BalokKolom
Soalsoal Latihan
277

Bab 12 KOMPONEN STRUKTUR KOMPOSIT 280


12.1 Struktur Komposit
280
12.2 Tegangan Elastis dalam Balok Komposit

282

248

256

ix

DAFTAR ISI

12.3 Lebar
Efektif Balok
Komposit
284

12.4 Sistem
Pelaksanaan
Komponen
Struktur
Komposit
288

12.5 Kuat
Lentur
Nominal
292

12.6
Penghubung
Gescr
295

1
2
.
7
B
a
l
o
k
K
o
m
p
o
s
i
t
p
a
d
a
D
a
e
r
a
h
M
o
m
e

n
N
e
g
a
t
i
f
3
0
4

1
2
.
8
L
e
n
d
u
t
a
n
3
0
6

12.9 Dek Baja


Gelombang
309

12.10 Kolom
Komposit
315

Soal
soal
Latihan
320
Bab 13

SAMBUNGA
N PADA
KONSTRUK
SI
BANGUNAN
GEDUNG
322

13.1
Sambungan
Balok Induk
dengan Balok
Anak

322

13.2
Sambungan
BalokKolom
324

13.3
Sambungan
BalokKolom
Diperkaku
325

13.4
Sambungan
Penahan
Momen
327

13.5
Sambungan
BalokKolom
dengan
Pengaku
329

Soal
soal
Latihan
332
LAMPIRAN
JAWABAN SOAL
SOAL
LATIHAN
DAFTAR
PUSTAKA
1NDEKS

Pendahuluan
TUJUAN PEMBELAJARAN
Sesudah mempelajari bab ini, rnahasiswa diharapkan dapat:
Mendefinisikan semua jenis beban yang bekerja pada suatu
struktur bangunan
Menyusun kombinasi pembebanan berdasarkan konsep LRFD
Pokok-pokok Pembahasan Bab
1.1 Perencanaan Struktur
1.2 Beban
1.3 Konsep Dasar LRFD
1.4 Peluang Kegagalan
1.5 Indeks Keandalan
1.6 Desain LRFD Struktur Baja

1.1 PERENCANAAN STRUKTUR

Perencanaan struktur dapat didefinisikan sebagai campuran antara


seni dan ilmu pengetahuan yang dikombinasikan dengan intuisi
seorang ahli struktur mengenai perilaku struktur dengan dasardasar pengetahuan dalam statika, dinamika, mekanika bahan, dan
analisa struktur, untuk menghasilkan suatu struktur yang ekonomis
dan aman, selama masa layannya.
Hingga tahun 1850 perencanaan struktur merupakan suatu seni
yang berdasarkan pada intuisi untuk menentukan ukuran dan
susunan elemen struktur. Dengan berkembangnya pengetahuan
mengenai perilaku struktur dan material, maka perencanaan struktur
menjadi lebih ilmiah.
Perhitungan yang melibatkan prinsip-prinsip ilmiah harus
dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan, namun tidak diikuti
secara membabi buta. Pengalaman intuisi seorang ahli struktur
digabungkan dengan hasil-hasil perhitungan ilmiah akan menjadi
suatu dasar proses pengambilan keputusan yang balk.
Tujuan dari perencanaan struktur menurut Tata Cara
Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-17292002) adalah menghasilkan suatu struktur yang stabil, cukup kuat,
mampu layan, awet, dan memenuhi tujuan-tujuan lainnya seperti
ekonomi dan kemudahan pelaksanaan. Suatu struktur disebut stabil
jika tidak mudab terguling, miring, atau tergeser selama umur
rencana bangunan. Risiko terhadap kegagalan struktur dan hilangnya
kemampulayanan selama umur rencananya juga harus diminimalisir
dalam batas-batas yang masih dapat diterima. Suatu struktur yang
awet semestinya tidak memerlukan biaya perawatan yang terlalu

berlebihan selama umur layannya.


Perencanaan adalah sebuah proses untuk mendapatkan suatu
hasil yang optimum. Suatu struktur dikatakan optimum apabila
memenuhi kriteria-kriteria berikut:
a.Biaya minimum
b.Berat minimum
c.Waktu konstruksi minimum

2 BAB 1 PENDAHULUAN

d.Tenaga kerja minimum


e.Biaya manufaktur minimum
f.Manfaat maksimum pada saat masa layan
Kerangka perencanaan struktur adalah pemilihan susunan dan
ukuran dari elemen struktur sehingga beban yang bekerja dapat
dipikul secara aman, dan perpindahan yang terjadi masih dalam
batas-batas yang disyaratkan. Prosedur perencanaan struktur secara
iterasi dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Perancangan. Penetapan fungsi dari struktur
b. Penetapan konfigurasi struktur awal (preliminary) sesuai
langkah 1 termasuk pemilihan jenis material yang akan
digunakan
c. Penetapan beban kerja struktur
d. Pemilihan awal bentuk dan ukuran elemen struktur
berdasarkan langkah 1, 2, 3
e. Analisa struktur. Untuk memperoleh gaya-gaya dalam dan
perpindahan elemen
f. Evaluasi. Apakah perancangan sudah optimum sesuai yang
diharapkan
g. Perencanaan ulang langkah 1 hingga 6
h. Perencanaan akhir, apakah langkah 1 hingga 7 sudah
memberikan hasil optimum
Salah satu tahapan penting dalam perencanaan suatu struktur
bangunan adalah pemilihan jenis material yang akan digunakan.
Jenis-jenis material yang selama ini dikenal dalam dunia konstruksi
antara lain adalah baja, beton bertulang, serta kayu. Material baja
sebagai bahan konstruksi telah digunakan sejak lama mengingat
beberapa keunggulannya dibandingkan material yang lain. Beberapa
keunggulan baja sebagai material konstruksi, antara lain adalah:
1.Mempunyai kekuatan yang tinggi, sehingga dapat mengurangi
ukuran struktur serta mengurangi pula berat sendiri dari
struktur. Hal ini cukup menguntungkan bagi strukturstruktur jembatan yang panjang, gedung yang tinggi atau
juga bangunan-bangunan yang berada pada kondisi tanah
yang buruk
2.Keseragaman dan keawetan yang tinggi, tidak seperti halnya
material beton bertulang yang terdiri dari berbagai macam
bahan penyusun, material baja jauh lebih seragam/homogen
serta mempunyai tingkat keawetan yang jauh lebih tinggi
jika prosedur perawatan dilakukan secara semestinya
3.Sifat elastis, baja mempunyai perilaku yang cukup dekat
dengan asumsiasumsi yang digunakan untuk melakukan
analisa, sebab baja dapat berperilaku elastis hingga
tegangan yang cukup tinggi mengikuti Hukum Hooke.
Momen inersia dari suatu profil baja juga dapat dihitung
dengan pasti sehingga memudahkan dalam melakukan
proses analisa struktur
4.Daktilitas baja cukup tinggi, karena suatu batang baja yang
menerima tegangan tarik yang tinggi akan mengalami
regangan tarik cukup besar sebelum terjadi keruntuhan
5.Beberapa keuntungan lain pemakaian baja sebagai material

konstruksi adalah kemudahan penyambungan antarelemen


yang satu dengan lainnya menggunakan alat sambung las
atau baut. Pembuatan baja melalui proses gilas panas mengakibatkan
baja
menjadi
mudah
dibentuk
menjadi
penampang-penampang
yang
diinginkan.
Kecepatan
pelaksaan konstruksi baja juga menjadi suatu keunggulan
material baja
Selain keuntungan-keuntungan yang disebutkan tersebut,
material baja juga memiliki beberapa kekurangan, terutama dari sisi
pemeliharaan. Konstruksi baja yang berhubungan

1.2 BEBAN

Gambar 1.1 Konstruksi Bangunan Rangka Baja (Sumber: Koleksi Pribadi)

langsung dengan udara atau air, secara periodik harus dicat.


Perlindungan terhadap bahaya kebakaran juga harus menjadi
perhatian yang serius, sebab material baja akan mengalami
penurunan kekuatan secara drastis akibat kenaikan temperatur yang
cukup tinggi, di samping itu baja juga merupakan konduktor panas
yang balk, sehingga nyala api dalam suatu bangunan justru dapat
menyebar dengan lebih cepat. Kclemahan lain dari struktur baja
adalah masalah tekuk yang merupakan fungsi dari kelangsingan
suatu penampang.
1.2 BEBAN

Behan adalah gaya luar yang bekerja pada suatu struktur.


Penentuan secara pasti besarnya beban yang bekerja pada suatu
struktur selama umur layannya merupakan salah satu pekerjaan
yang cukup sulit. Dan pada umumnya pencntuan besarnya beban
hanya merupakan suatu estimasi raja. Meskipun beban yang bekerja
pada suatu lokasi dari struktur dapat diketahui secara pasti, namun
distribusi beban dari elemen ke elemen, dalam suatu struktur
umumnya memerlukan asumsi dan pendekatan. Jika beban-beban
yang bekerja pada suatu struktur telah diestimasi, maka masalah
bcrikutnya adalah menentukan kombinasi-kombinasi beban yang
paling dominan yang mungkin bekerja pada struktur tersebut. Besar
beban yang bekerja pada suatu struktur diatur oleh peraturan
pembebanan yang berlaku, sedangkan masalah kombinasi dari
beban-beban yang bekerja telah diatur dalam SNI 03-1729-2002
pasal 6.2.2 yang akan dibahas kemudian. Beberapa jenis beban yang
sering dijumpai antara lain:

a.

Beban Mati, adalah berat dari semua bagian suatu


gedung/bangunan yang bersifat tetap selama masa layan
struktur, termasuk unsur-unsur tambahan,finishing, mesinmesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian tak
terpisahkan dari gedung/bangunan tersebut. Termasuk dalam
beban ini adalah berat struktur, pipapipa, saluran listrik, AC,
lampu-lampu, penutup lantai, dan plafon. Beberapa contoh
berat dari beberapa komponen bangunan penting yang
digunakan untuk

4 BAB 1 PENDAHULUAN

menentukan bcsarnya beban mati suatu gedung/bangunan


diperliharkan dalam Tabel 1.1 berikut ini:
TABEL 1.1 BERAT SENDIRI BAHAN BANGUNAN DAN KOMPONEN GEDUNG

Bahan Bangunan

Berat

Baja
Beton
Beton bertulang
Kayu (kelas I)
Pasir (kering udara)

7850 kg/m'
2200 kg/m'
2400 kg/m'
1000 kg/m3
1600 kg/m3

Komponen Gedung
Spcsi dart semen, per cm tehal
Dinding Bata merah 1/2 barn
Penutup asap genring
Penutup lantai ubin semen per cm tebal

21 kg/m2
250 kg/m=
50 kg/m'
24 kg/m'

(Somber: Pc:ran:it - an Pembebanan Indonesia Untuk Gedung, 1983)

b.

Beban Hidup, adalah beban gravitasi yang hekerja pada


struktur dalam masa layannya, dan timbul akibat
penggunaan suatu gedung. Termasuk beban ini adalah berat
manusia,
perabotan
yang
dapat
dipindah-pindah,
kendaraan, dan barang-barang lain. Karena besar dan lokasi
beban yang senantiasa berubahubah, maka pcnentuan
beban hidup secara pasti adalah merupakan suatu hal yang
cukup sulit. Beberapa contoh beban hidup menurut
kegunaan suatu bangunan, ditampilkan dalam Taipei 1.2.

TABEL 1.2 BEBAN HIDUP PADA LANTAI GEDUNG


Kegunaan Bangunan
Berat
Lantai dan rangga rumah tinggal sederhana 125 kg/m=
Lantai sekolah, ruang kulialt, kanror, toko, roserba,
restoran, hotel, asrama, dan rumah sakit
250 kg/m'
Lantai ruang olah raga
400 kg/m=
Lantai pabrik, bengkel, gudang,
perpustakaan, ruang arsip, toko
buku, ruang mesin, dan
lain-lain
400
kg/m'
Lantai gedung parkir bertingkat, untuk lantai bawah
800 kg/m'
(Sumber : Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung, 1983)

c.

Beban Angin, adalah beban yang hekerja pada struktur akibat


tekanantekanan dart gerakan angin. Beban angin sangat
tergantung dart lokasi dan ketinggian dart struktur. Besarnya
tekanan tiup harus diambil minimum sebesar 25 kg/m 2,
kecuali untuk bangunan-bangunan berikut:
1.Tekanan tiup di tepi laut hingga 5 km dart pantai harus
diambil minimum 40 kg/m2.Untuk bangunan di daerah lain yang kemungkinan tekanan
tiupnya lehih dart 40 kg/m2, harus diambil sebesar p =
V2/16 (kg/m2), dengan V adalah kecepatan angin dalam
m/s

3.Untuk cerobong, tekanan tiup dalam kg/m 2 harus


ditentukan dengan rumus (42,5 + 0,6h), dengan h
adalah tinggi cerobong seluruhnya dalam meter

1.3 KONSEP DASAR LRFD

Gambar 1.2 Konstruksi Rangka Atap dari Baja Ringan


(Smart Truss). (Swisher: Koleksi Pribadi)

Nilai tekanan tiup yang diperoleh dari hi tungan di atas harts


dikalikan dengan suatu koefisien angin, untuk rnendapatkan
gaya resultan yang bekerja pada biclang kontak tersehut.
d. Beban Gempa. adalah scmua beban statik ekivalen yang
bekerja pada struktur akibat adanya pergerakan tanah oleh
gempa bumi, baik pergerakan arah vertikal maupun
horizontal. Namun pada umumnya percepatan tanah arab
horizontal lebih besar daripada arah vcrtikalnya, sebingga
pengaruh gempa horizontal jauh lebih menentukan daripada
gempa vertikal. Besarnya gaya geser dasar (statik
ekivalen) ditentukan berdasarkan persamaan V - (
dengan C adalah

faktor respon gempa yang ditcntukan berdasarkan lokasi


bangunan dan jenis tanahnya, I adalah faktor keutamaan
gedung, R adalah faktor reduksi gempa yang tergantung pada
jenis struktur yang bersangkutan, sedangkan W, adalah berat
total bangunan termasuk beban hidup yang bersesuaian.
1.3 KONSEP DASAR LRFD

Dua filosofi yang sering digunakan dalam perencanaan struktur baja


adalah perencanaan berdasarkan tegangan kerjal working stress
design (Allowable Stress Design/ASD) dan perencanaan kondisi
batasilimit
states
design
(Load
and
Resistance
Factor
Design/LRFD). Metode ASD dalam perencanaan struktur baja telah
digunakan dalam kurun waktu kurang lebih 100 tahun. Dan dalam
20 tahun terakhir prinsip perencanaan struktur baja mulai beralih

ke konsep LRFD yang jauh lebih rasional dengan berdasarkan pada


konsep probabilitas. Untuk lebih memahami latar belakang
pengembangan metode LRFD dengan ilmu probabilitas, maka
berikut akan sedikit dibahas mengenai prinsip-prinsip dasar dalam
ilmu probabilitas. Dalam metode I,RFD tidak diperlukan analisa
probabilitas sccara penuh, terkecuali untuk situasi-situasi tidak
11111LIITI s ang tidak diatur dalam peraturan.

6 B A B 1 PEN D A HU LU A N

Ada beberapa tingkatan dalam desain probabilitas. Metode


Probabilitas Penuh (Fully Probabilistic Method) merupakan tingkat
III, dan merupakan cara analisa yang paling kompleks. Metode
Probabilitas Penuh memerlukan data-data tentang distribusi
probabilitas dari tiap-tiap variabel acak (seperti tahanan, beban,
dan lain-lain) serta korelasi antar variabel tersebut. Data-data ini
biasanya tidak tersedia dalam jumlah yang cukup sehingga
umumnya metode Probabilitas Penuh ini jarang digunakan dalam
praktek.
Tingkat II dalam desain probabilitas dinamakan metode FirstOrder Second Moment (FOSM) yang menggunakan karakteristik
statistik yang lebih mudah dari tahanan dan beban. Metode ini
mengasumsikan bahwa beban Q dan tahanan R saling bebas secara
statistik. Metode LRFD untuk perencanaan struktur baja yang diatur
dalam SNI 03-17292002, berdasarkan pada metode FOSM ini.
Beberapa istilah dalam ilmu statistik yang sering dijumpai, di
antaranya:
1.Nilai rerata
Nilai rerata dari sekumpulan data, dapat dihitung dengan
persamaan:

x.

x = _______________________________________________________1.1
dengan x adalah nilai rerata, x, adalah data ke-i dan N
Ar 1

1.2

Standar Deviasi, 6 diperoleh dengan mencari akar


kuadrat dari Varian adalah jumlah data.
2. Standar Deviasi
oVariasi data terhadap nilai rerata 1.3
=
ditentukan dengan menjumlahkan
kuadrat selisih antara masingmasing data dengan nilai
rerata dan membaginya dengan jumlah data minus satu.
Varian
1(x
N 1
3.Fungsi Kerapatan Probabilitas
Fungsi
Kerapatan
Probabilitas
(Probability
Density
Function/PDF) merupakan fungsi yang terdcfinisi pada suatu
selang interval kontinu, sehingga luas daerah di bawah kurva
(yang didefinisikan oleh fungsi tersebut) dan di atas sumbu x
adalah sama dengan satu. Untuk suatu variabel acak yang
terdistribusi normal (Gaussian), maka kurva PDF akan
mempunyai bentuk seperti suatu genta/lonceng, dan
mempunyai persamaan:
1

1fx
00<x<a
1.4
m
P(x)=
exp
427
2 1 a
dengan p(x) merupakan peluang terjadinya variabel x sebagai
fungsi dari nilai rerata in = x dan Standard Deviasi 6, dari
suatu data yang terdistribusi normal. Bentuk kurva PDF

tidak selalu terpusat pada sumbu koordinat namun tergantung dari perubahan m dan 6. Beberapa bentuk kurva PDF
untuk m dan 6 yang berbeda ditunjukkan dalam Gambar 1.3.
Selanjutnya
didefinisikan
pula
fungsi
distribusi
probabilitas, P(x) yang dirumuskan sebagai:
p(x) = f p(x)dx

1.5

1.3 KONSEP DASAR LRFD

x
Gambar 1.3 Kurva Fungsi Kerapatan Probabilitas

Nilai P(x) terletak antara 0 hingga 1, sehingga:


Prob

<x

< 00) =

p(x)dx =1

1.6

Jika distribusi data tidak simetri, maka kurva fungsi


kerapatan probabilitas logaritmik normal (lognormal) sering
digunakan. Dinyatakan secara matematis, jika Y = ln(x)
terdistribusi normal, maka x dikatakan lognormal. Fungsi lognormal digunakan dalam metode LRFD. Karena ln(x)
terdistribusi normal, maka
nilai reratanya
dan Standar Deviasi dapat ditentukan dengan
transformasi
logaritmik dari fungsi distribusi normalnya.
A = In

:\11
+

= Vin(1+ V2)

1.7
1.8

dengan V = 6 / x adalah koefisien variasi serta x dan 6


didefinisikan seperti pada persamaan 1.1 dan 1.3.
4.Koefisien Variasi
Untuk dapat memberikan gambaran terhadap penyebaran data,
maka biasanya digunakan Kocfisien Variasi (V) yang diperoleh
dari pembagian antara Standar Deviasi (G) dengan nilai rerata
(x).

5.Faktor Bias
Faktor bias, X merupakan rasio antara nilai rerata dengan
nilai nominal.
A=

1.9

8 BAB 1 PENDAHULUAN

1.4 PELUANG KEGAGALAN

Dalam konteks analisa keandalan suatu struktur, yang dimaksud


dengan istilah kegagalan (failure) adalah terjadinya salah satu dari
sejumlah kondisi batas yang telah ditentukan sebelumnya. Faktor
behan dan tahanan dipilih sedemikian rupa sehingga peluang
kegagalan suatu struktur adalah kecil sekali atau masih dalam batasbatas yang dapat diterima. Peluang kegagalan suatu struktur dapar
ditentukan jika tersedia data-data statistik (seperti nilai re-rata dan
standar deviasi) dari tahanan dan tersedia pula fungsi distribusi dari
beban.
Untuk mengilustrasikan prosedur analisa keandalan suatu
struktur, perhatikan kurva fungsi kerapatan probabilitas / PDF dalam
Gambar 1.4 dari variabel acak beban Q serta tahanan R. Jika tahanan
R lebih besar dari behan yang bekerja Q, maka struktur tersebut
dapar dikatakan masih aman (survive). Karena nilai R dan Q
bervariasi, maka akan ada kemungkinan kecil bahwa pada suatu saat
beban
Q
lebih
besar
daripada
tahanan
R.
Siruasi
ini
direpresentasikan dengan dacrah berarsir pada Gambar 1.4. Hal
inilah yang disebut dengan kegagalan (failure), dengan peluang suatu
kegagalan didefinisikan sebagai:
p(R

<

Q)

1.10

ft/r)

Vq)
Q , R

Gambar 1.4 Fungsi Kerapatan Probabilitas Tahanan dan Bcban

Fungsi kerapatan probabilitas dari R dan Q dalam Gambar 1.4


digambarkan untuk menunjukkan perbedaan nilai kocfisien variasi dari
tahanan dan beban, yaitu V r dan 1 7 . Daerah di bawah masing-masing
kurva mempunyai luas sama dengan satu, namun rerlihat bahwa tahanan R
memiliki pcnyebaran data yang lebih lebar daripada beban Q. Daerah yang
terarsir menunjukkan daerah kegagalan (fa' ilure) di mana nilai tahanan
lebih kecil dari beban. Namun demikian, luas dari daerah terarsir tersebut
tidak sama dengan besarnya peluang kegagalan, sebab daerah tersebut
merupakan gabungan dari dua buah fungsi kerapatan yang memiliki
standar deviasi serta nilai rerata yang berbeda. Untuk mencari nilai
peluang kegagalan p t, biasanya lebih sering digunakan sebuah kurva fungsi
kerapatan g,(R, Q) yang dapat digunakan secara langsung untuk
menentukan peluang kegagalan serta indeks keandalan suatu struktur. Jika
R dan Q terdistribusi normal, maka fungsi kerapatan g(gQ) dapat dituliskan
menjadi:

g(R,Q)

1.11

=R-Q

Jika R dan Q terdistribusi secara lognormal, maka g(R,Q) dapar dituliskan:


g(R,Q) = 1n(R) - In(Q) = In
Q )

1.12

1.5 INDEKS KEANDALAN

la
n :
an
an
ng
reV2
-

t
i

t
i
s

a
s
i

Dalam kedua kasus di atas, kondisi batas tercapai jika R = Q dan


kegagalan terjadi pada saat g(R,Q) < 0. Teori probabilitas
menyatakan bahwa jika dua buah variabel acak yang terdistribusi
normal digabungkan, maka akan menghasilkan fungsi kerapatan
yang normal pula. Atau dengan kata lain jika R dan Q terdistribusi
normal maka g(R,Q) juga akan terdistribusi normal. Hal serupa
dapat pula dinyarakan jika R dan Q terdistribusi lognormal, maka
g(R,Q) juga terdistribusi lognormal.
Peluang kegagalan dari I? dan Q yang terdistribusi normal dapat
R -Q
1.13
F
a

Jr

Sedangkan untuk

Q.

R dan Q
yang

terdistribusi lognormal peluang


kegagalannya:

1.14

1- 17,,

Vi?

V02

adalah
nilai rerata,
dengan R dan
a alah
dan dan
(7 () adalah
V R fungsi
koefisien variasi dari tahanan
beban, standar
serta F(deviasi,
) adalah
distribusi kumulatif. Fungsi distribusi kumulatif adalah integrasi
dari f(x) dengan batas integrasi adalah dari -00 hingga u dan akan
menghasilkan nilai peluang di mana x lebih kecil daripada u. Hasil
integrasi ini diperlihatkan dengan daerah yang berarsir dalam
Gambar 1.5.
1.5 INDEKS KEANDALAN
Alternatif lain yang lebih mudah untuk menentukan peluang
kegagalan adalah dengan menggunakan indeks keandalan (3.
Prosedur ini akan dibahas dengan menggunakan distribusi
lognormal sesuai persamaan 1.11, sebab distribusi lognormal akan
dapat menccrminkan distribusi aktual serta R dan Q secara lebih
akurat daripada distribusi normal. Selain itu, perhitungan secara
numerik untuk fungsi g(R,Q) akan lebih stabil dengan menggunakan
rasio R/Q daripada selisih R - Q.

0 0

Gambar 1.5 Definisi

Jika fungsi g(R,Q) dalam persamaan 1.12 mempunyai distribusi


lognormal, maka distribusi frekuensinya akan mempunyai bentuk
seperti kurva dalam Gambar 1.6. Kurva ini adalah kurva distribusi
frekuensi tunggal yang merupakan kombinasi dari R dan Q. Kondisi
batas pada saat R < Q sama dengan probabilitas pada saat In (R/Q)

< 0, yang ditunjukkan dengan daerah berarsir dalam Gambar 1.6


tersebut.
Jarak antara nilai rerata terhadap titik pusar adalah sama dengan
dan menjadi
ukuran dari keamanan dan koefisien dari standar deviasi, /3, sering
disebut sebagai indeks keandalan.

10

BAB 1 PENDAHULUAN

f(g)

Daerah kegagalan
Luas daerah = pf

g = In(R Q)
- In[
Gambar 1.6 Indeks Keandalan p umiak R dan Q Lognormal.
g

Jika tahanan R dan beban Q keduanya terdistribusi lognormal serta tidak sating
terkorelasi,
maka nilai rerata dari
g(R,Q)
adalah:

1.14

g=In Q
serta standar

deyiasinya adalah:
V1/12 + V,2

1.15

dengan R dan Q
adalah

nilai rerata, V V dan 1/ Q

adalah

koefisien variasi dari

R dan
Dengan menyamakan /3.6 dengan

maka diperoleh hubungan:

1.17
Hubungan antara p1 dcngan /3 dapat dihitung dengan menggunakan persamaan: p1 =
460.exp(-4,30)
in 460
Pf ,
10 ' < p f <10-9

atau

4,3
TABEL 1.3 HUBUNGAN ANTARA PELUANG KEGAGALAN DAN

INDEKS KEANDALAN

0
2,50
3,00
3,50
4,00
4,50
5,00
5,50

Pf
0,99E-02
1,15E-03
1,34E-04
1,56E-05
1,82E-06
2,12E-07
2,46E-08

P1

1,00E-02
1,00E-03
1,00E-04
1,00E-05
1,00E-06
1,00E-07
1,00E-08

2,50
3,03
3,57
4,10
4,64
5,17
5,71

1.16
1.18

1 . 6 D E S A I N L R F D S T R U K T U R B A J A 11

1111 CONTOH 1.1


Sebuah balok jembatan dari beton prategang dengan panjang bentang 27
m dan jarak antar balok sepanjang 2,4 m memiliki datadata statistik
sebagai berikut:
Efek beban
Tahanan

: Q = 4870 kN.m
: R = 7040 kN.m

aQ
CT = 1,05

= 415 kN.m

VR = 0,075

Hitunglah indeks keandalan balok beton prategang tersebut.

JAWAB:
Indeks keandalan, /3, dapat dihitung menggunakan persamaan 1.16,
terlebih dahulu harus
dihitung R dan V Q :
= XR.R = 1,05(7040) = 7390 kN.m
V = (7(2 = 415 =
0,085 Q Q 4870
Gunakan persamaan 1.16 :
3

I nR// Q

IV

in 739

+V

,9/4/ 870)

3,68
N10,075 +0,058
2

Peluang kegagalan dari balok beton prategang ini kurang lebih 1 :


10000.
1.6 DESAIN LRFD STRUKTUR BAJA
Secara umum, suatu struktur dikatakan aman apabila memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
0R > E7 Q,

1.19

Bagian kiri dari persamaan 1.19 merepresentasikan tahanan atau


kekuatan dari sebuah komponen atau sistem struktur. Dan bagian
kanan persamaan menyatakan beban yang harus dipikul struktur
tersebut. Jika tahanan nominal R dikalikan suatu faktor tahanan 0
maka akan diperoleh tahanan rencana. Namun demikian, berbagai
macam beban (beban mati, beban hidup, gempa, dan lain-lain) pada
bagian kanan persamaan 1.19 dikalikan suatu faktor beban y untuk
mendapatkan jumlah beban terfaktor
Faktor Beban dan Kombinasi Beban
Dalam persamaan 1.19 tampak bahwa tahanan rencana harus
melebihi jumlah dari bebanbeban kerja dikalikan dengan suatu
faktor beban. Penjumlahan beban-beban kerja ini yang dinamakan
sebagai kombinasi pembebanan. Menurut peraturan baja Indonesia,
SNI 03-1729-2002 pasal 6.2.2 mengenai kombinasi pembebanan,
dinyatakan bahwa dalam perencanaan suatu struktur baja haruslah
diperhatikan jenis-jenis kombinasi pembebanan berikut ini:
a.1,4D
1.20.a
b.1,2D + 1,6L + 0,5(E, atau H)

1.20.6

c.1,2D + 1,6(11 atau 11) + (71.1, atau 0,8W)


d.1,2D + 1,3W + y.L + 0,5(E atau H)
e.1,2D 1,0E + yL.L
f.0,9D (1,3W atau 1,0_E)

1.20.c
1.20.d
1.20.e
1.20.f

12

BAB 1 PENDAHULUAN

dengan:
1) adalah beban mad yang diakibatkan oleh berat konstruksi
permanen, termasuk dinding, lantai atap, plafon, partisi temp,
tangga dan peralatan layan temp
L
adalah beban hidup yang ditimbulkan oleh penggunaan gedung,
termasuk
kejut,

tetapi tidak termasuk beban lingkungan seperti angin, hujan, dan lain
lain
adalah beban hidup di atap yang ditimbulkan selama perawatan
oleh
pekerja,
peralatan,

dan material atau selama penggunaan biasa oleh orang dan benda
bergerak
H adalah beban hujan, tidak termasuk yang diakibatkan genangan
air
W adalah beban angin
E adalah beban gempa yang ditcntukan dad peraturan gempa y, =
0,5 bila L < 5 kPa, dan y , = 1 bila L > 5 kPa. Faktor beban
untuk L harus sama dengan 1,0 untuk garasi parkin, daerah
yang digunakan untuk pertemuan umum dan semua daerah
yang memikul beban hidup lehih besar dari 5 kPa.
TABEL 1.4 HUBUNGAN KOMBINASI BEBAN DENGAN INDEKS KEANDALAN

Kombinasi Beban D &


D, L, dan W D, L, dan
E

Indeks Keandalan, /3
3,0 untuk komponen struktur 4.5 untuk
sambungan
2.5 untuk komponen struktur 1,75 untuk
komponen struktur

n CONTOH 1.2:
Suatu struktur pclat lantai dipikul oleh balok dari profil WF
450.200.9.14 dengan jarak
antar balok adalah sebesar 2,5 m (as ke as). Behan mati pelat lantai
sebesar
2,5 kN/
m' dan beban hidup 4 kN/m2. Hitunglah beban terfaktor yang harus
dipikul oleh balok tersebut sesuai kombinasi I.RFD (SNI 03-1729-2002)!
JAWAB:
Tiap balok harus memikul berat sendiri ditambah beban dari pelat
selebar 2,5 m. D = 0,76 + 2,5(2,5) = 7,01 kN/m
L
= 2,5(4) = 10 kN/in
Karena hanya ada 2 jenis beban yakni beban mati dan beban hidup, maka
hanya perlu diperiksa terhadap kombinasi beban 1.1 dan 1.2 :
= 9,814
(1.20.a) U = 1,4D =
1,4(7,01)
(I.20.b) U = 1,2D +
1,6L +
ataukN/m
= 1,2(7,01) + 1,6(10) + 0,5(0) = 24,412
kN/m Jadi, beban terfaktor yang menentukan adalah
sebesar 24,412 kN/m.
n CONTOH 1.3:

Suatu sistem struktur atap dari profil WF 400.200.8.13 yang


diletakkan setiap jarak 3 m, digunakan untuk memikul beban mati
sebesar 2 kN/m 2 , beban hidup atap 1,5 kN/m - ' serta beban angin 1
kN/m 2 . Hitunglah beban terfaktor yang harus dipikul oleh profil
tersebut!
JAWAB:
Bebanbeban yang harus dipikul profil tersebut adalah:
D =0,66 + 3(2) = 6,66 kN/m
L = 0 kN/m
L =3(1,5) = 4,5 kN/m

1,6

DESAIN LFRD STRUKTUR BAJA

13

W = 3(1) = 3 kN/m
Periksa terhadap kombinasi pembebanan 1.1 hingga 1.5:
(1.20.a) U = 1,4D = 1,4(6,66) = 9,324 kN/m
(1.20.b) U = 1,2D + 1,6L + 0,5(L atau H)
= 1,2(6,66) + 1,6(0) + 0,5(4,5) = 10,242 kN/m
(1.20.c) U = 1,2D + 1,6(L atau H) + (y 1 .L atau 0,8 W)
= 1,2(6,66) + 1,6(4,5) + 0,8(3) = 17,592 kN/m
(1.20.d) U = 1,2D + 1,3W + y,.L + 0,5(L atau H)
= 1,2(6,66) + 1,3(3) + 0 + 0,5(4,5) = 14,142 kN/m
( 1. 2 0 . e ) U = 0 , 9D + 1, 3 W
= 0,9(6,66) + 1,3(3) = 9,894 kN/m atau 2,094 kN/m
Jadi, beban terfaktor yang hams dipikul profil tersebut adalah
sebesar 17,592 kN/m

nCONTOH 1.4:
Sebuah kolom baja dari suatu struktur bangunan gedung, memikul
beban-beban aksial sebagai berikut: beban coati 85 ton, beban hidup
(far; atap 25 ton, beban hidup dari lantai bangunan 110 ton, beban
angin + 35 ton, beban gempa + 30 ton. Hitunglah beban desain
kolom sesuai kombinasi LRFD!

JAWAB:
Beban-beban yang harus dipikul profit tersebut adalah:
D = 85 ton W
= + 5 ton
L = 25 ton E
= + 30 ton
L = 110 ton
misalkan diambil yl =
0,5
Periksa terhadap kombinasi pembebanan 1.1
hingga 1.6:
(1.20.a) U = 1,4D = 1,4(85) = 119
ton
(1.20.b) U = 1,2D + 1,6L + 0,5L, +
= 1,2(85) + 1,6(110)
0,5(25) = 290,5 ton
(1.20.c) U = 1,2D + 1,6L, + 0,5/,
= 1,2(85) + 1,6(25) + 0,5(110) = 197 ton
( 1. 20. c ) U = 1, 2D + 1, 6L + 0, 8W
= 1,2(85) + 1,6(25) + 0,8(35) = 170 ton
(1.20.d) U = 1,2D + 1,3W + 0,5L + 0,5L,
= 1,2(85) + 1,3(35) + 0,5(110) + 0,5(25) = 215 ton
(1.20.e) U = 1,2D + 1,OF + 0,5L
= 1,2(85) 30 + 0,5(110) = 187 ton atau 127 ton
( 1. 20. f) U = 0, 9D 1, 3 W
= 0,9(85) 1,3(35) = 122 ton atau 31 ton
( 1. 20. f) U = 0, 9D + 1, OF
= 0,9(85) + 1,0(30) = 106,5 ton atau 46,5 ton
Jadi, beban terfaktor yang harus dipikul oleh kolom tersebut adalah
sebesar 290,5 ton.
Faktor Tahanan

Faktor tahanan dalam perencanaan struktur berdasarkan metode LRFD,

ditentukan dalam tabel 6.4-2 SNI 03-1729-2002, sebagai berikut:


a.Komponen struktur yang memikul lentur
0 = 0,90
b.Komponen struktur yang memikul gaga tekan aksial0 = 0,85
c.Komponen struktur yang memikul gava tank
1)Terhadap kuat tank leleh
0 = 0,90
2)Terhadap kuat tank fraktur
0 = 0,75

14

BAB 1

d .
e .

f .
g .

PENDAHULUAN

Komponen struktur yang memikul gaya aksial


dan lentur Komponen struktur komposit
1) Kuat tekan
2) Kuat tumpu beton
3) Kuat lentur dengan distribusi tegangan
plastis
4)
Kuat lentur dengan distribusi tegangan
elastic
Sambungan
baut
Sambungan
1)
Las tumpul penetrasi penuh
2) Las sudut, las tumpul penetrasi sebagian,
las pengisi

0=

0
0
0

=
=
=
=
=
=

0=

0,9
0
0,8
5
0,6
0
0,8
5
0,9
0
0,7
5
0,9
0,7
5

2
Material Baja dan
Sifat-sifatnya
TUJUAN PEMBELAJARAN

Sesudah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:


Memahami unsur-unsur penyusun material baja
Sifat-sifat mekanik dan perilaku material baja
Pokok-pokok Pembahasan Bab
1.1 Sejarah Penggunaan Material Baja
1.2 Material Baja
1.3 Sifat-silat Mekanik Baja
1.4 Keuletan Material
1.5 Tegangan Multiaksial
1.6 Perilaku Baja pada Temperatur Tinggi
1.7 Pengerjaan Dingin dan Penguatan Regatigan
1.8 Keruntuhan Getas
1.9 Sobekan Lamelar
1.10 Keruntuhan Lelah
2.1 SEJARAH PENGGUNAAN MATERIAL BAJA

Pada masa awal penggunaannya sekitar tahun 4000 SM, besi


(komponen utama penyusun baja) digunakan untuk membuat
peralatan-peralatan sederhana. Material ini dibuat dalam bentuk besi
tempa, yang diperoleh dengan mernanaskan bijih-bijih besi dengan
menggunakan arang. Sekitar akhir abad ke-18 dan permulaan abad
ke-19, besi Luang dan besi tempa sudah mulai banyak digunakan
untuk
pembuatan
struktur
jembatan.
Jembatan
Lengkung
Coalbrookdale yang melintang di atas Sungai Severn (Inggris) adalah
jembatan pertama yang terbuat dari besi twang. Jembatan dengan
panjang bentang sekitar 30 m ini dibangun oleh Abraham Darby III.

Gambar 2.1 Coalbrookdale Arch Bridge (Sumber: www.grearbuildings.com )

16

BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA

Gambar 2.2 Eads Bridge, Sc. Louis, USA (Sumter: www.bridgepos.com )

Pada abad ke-19 muncul material baru yang dinamakan dengan


baja yang merupakan logam paduan antara besi dan karbon.
Material baja mengandung kadar karbon yang lebih sedikit daripada
besi tuang, dan mulai digunakan dalam konstruksi-konstruksi berat.
Pembuatan baja dalam volume besar dilakukan pertama kali oleh Sir
Henry Bessemer dari Inggris. Sir Henry menerima hak paten dari
pemerintah Inggris pada tahun 1855 atas temuannya tersebut.
Beliau mempelajari bahwa dengan menghembuskan aliran udara di
atas besi cair panas akan membakar kotoran-kotoran yang ada
dalam besi tersebut, namun secara bersarnaan proses ini juga
menghilangkan komponen-komponen penting seperti karbon dan
mangan. Selanjurnya komponen-komponen penting ini dapat
digantikan dengan suatu logam paduan antara besi, karbon dan
mangan, di samping itu juga mulai ditambahkan batu kapur yang
dapat mengikat senyawa fosfor dan sulfur. Dengan ditemukannya
proses Bessemer, maka di tahun 1870 baja karbon mulai dapat
diproduksi dalam Skala besar dan secara perlahan material baja
mulai menggantikan besi tuang sebagai elemen konstruksi.

Gambar 2.3 Home Insurance Company Building,


Chicago. (Somber WWW. ar.utexas.edu)

2.2 MATERIAL BAJA

17

Di Amerika Serikat jetnbatan kereta api pertama yang dibuat


dari baja adalah jembatan Eads, yang diselesaikan pada tahun 1874.
Jembatan yang memakan biaya sekitar $10.000.000 ini terdiri dari
tiga buah hentangan, hentangan tengah sepanjang 520 ft sedangkan
dua hentangan yang lain sepanjang 500 ft.
Struktur portal rangka baja pertama adalah Home Insurance
Company Building di Chicago yang dibangun oleh William I,e
Baron Jenny. Jenny menggunakan kolom dari besi twang yang
dibungkus dengan bata, balok-balok untuk enam lantai pertama
terbuat dari besi tempa, sedangkan balok-balok di lantai atasnya
terbuat dari balok baja struktural.
2. 2 M ATE RI AL B AJ A

Baja yang akan digunakan dalam struktur dapat diklasifikasikan


menjadi baja karbon, baja paduan rendah mutu tinggi, dan baja
paduan. Sifat-sifat mekanik dari baja tersebut seperti tegangan leleh
dan tegangan putusnya diatur dalam ASTM A6/A6M.
a.Baja karbon
Baja karbon dibagi menjadi 3 kategori tergantung dari
persentase kandungan karbonnya, yaitu: baja karbon rendah
(C = 0,03-0,35%), baja karbon medium (C = 0,35-0,50%),
dan baja karbon tinggi (C = 0,55-1,70%). Baja yang sering
digunakan dalam struktur adalah baja karbon medium,
misalnya baja BJ 37. Kandungan karbon baja medium
bervariasi dari 0,25-0,29% tergantung kctebalan. Selain
karbon, unsur lain yang juga terdapat dalam baja karbon
adalah mangan (0,25-1,50%), Silikon (0,25-0,30%), fosfor
(maksimal 0,04%) dan sulfur (0,05%). Baja karbon
menunjukkan titik peralihan leleh yang jelas, seperti nampak
dalam Gambar 2.4, kurva. a. Naiknya persentase karbon
mcningkatkan tegangan leleh namun menurunkan daktilitas,
salah sate dampaknya adalah membuat pekerjaan las
menjadi lebih sulit. Baja karbon umumnya memiliki tegangan
leleh (f) antara 210-250 MPa
b.Baja paduan rendah mum tinggi
Yang tcrmasuk dalam kategori baja paduan rendah mutu
tinggi (high-strength low-alloy steel/HSLA) mempunyai
tegangan leleh berkisar antara 290-550 MPa dengan
tegangan putus (f) antara 415-700 MPa. Titik peralihan leleh
dari baja ini nampak dengan jelas (Gambar 2.4 kurva b).
Penambahan sedikit bahan-bahan paduan seperti chromium,
columbium, mangan, molybden, nikel, fosfor, vanadium atau
zirkonium dapat memperbaiki sifat-sifat mekaniknya. Jika
baja karbon mendapatkan kekuatannya seiring dengan
penambahan persentase karbon, maka bahan-bahan paduan
ini mampu memperbaiki sifat mekanik baja dengan
membentuk mikrostruktur dalam bahan baja yang lebih
halus.
c.Baja paduan

Baja paduan rendah (low alloy) dapat ditempa dan


dipanaskan untuk memperoleh tegangan leleh antara 550760 MPa. Titik peralihan leleh tidak tampak dengan jelas
(Gambar 2.4 kurva c). Tegangan leleh dari baja paduan
biasanya ditentukan sebagai tegangan yang terjadi saat
timbul regangan permanen sebesar 0,2%, atau dapat
ditentukan pula sebagai tegangan pada saat regangan
mencapai 0,5%.
Baut yang biasa digunakan sebagai alat pengencang mempunyai
tegangan putus minimum 415 MPa hingga 700 MPa. Baut mutu tinggi
mempunyai kandungan karbon maksimum 0,30%, dengan tegangan
putus berkisar antara 733 hingga 838 MPa.

BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA

tegangan leleh akibat regangan 0,5%

800

Tegangan, MPa

18

tegangan leleh akibat regangan permanen 0,2%


700

100

baja dengan f y > 700 MPa;


tipikal untuk baja dengan f y > 450 MPa
600

80
500
regangan permanen sebesar 0,2% (0,002 inci/inci)
baja dengan f y = 345 MPa; tipikal untuk baja
dengan f < 450 MPa
tegangan leleh atas
40

Kemiringan

Baja BJ37

400

300

Esc

tegangan leleh bawah

200

batas elastis
20

daerah plastis

daerah penguatan regangan

100

Kemiringan E
0

0,005

0,010

Regangan e,

0,015

0,020

0,025

inci/inci

Gambar 2.4 Hubungan teganganregangan tipikal. (Sumber: Salmon & Johnson, Steel
Structures Design and Behavior, 4' ed.)

2.3 SIFATSIFAT MEKANIK BAJA


Agar dapat memahami perilaku suatu struktur baja, maka seorang
ahli struktur harus memahami pula sifat-sifat mekanik dari baja.
Model pengujian yang paling tepat untuk mendapatkan sifat-sifat
mekanik dari material baja adalah dengan melakukan uji tarik
terhadap suatu benda uji baja. Uji tekan tidak dapat memberikan
data yang akurat terhadap sifat-sifat mekanik material baja, karena
disebabkan beberapa hal antara lain adanya potensi tekuk pada
benda uji yang mengakibatkan ketidakstabilan dari benda uji
tersebut, selain itu perhitungan tegangan yang terjadi di dalam
benda uji lebih mudah dilakukan untuk uji tarik daripada uji tekan.
Gambar 2.5 dan 2.6 mcnunjukkan suatu hasil uji tarik material baja
yang dilakukan pada suhu kamar serta dengan memberikan laju
regangan yang normal. Tegangan nominal (fi yang terjadi dalam
benda uji diplot pada sumbu vertikal, sedangkan regangan (e)
yang merupakan perbandingan antara pertambahan panjang
dengan panjang mula-mula (AL/L) diplot pada sumbu horizontal.
Gambar 2.5 merupakan hasil uji tarik dari suatu benda uji baja
yang dilakukan hingga benda uji mengalami keruntuhan,
sedangkan Gambar 2.6 menunjukkan gambaran yang lebih detail

dari perilaku benda uji hingga mencapai regangan sebesar 2%.

2.3 SIFAT-SIFAT MATERIAL BAJA

19

Gambar 2.5 Kurva Hubungan Tegangan (5 vs Regangan (e)

A
daerah
elastis

daerah
plastis

y u

2%
regangan
permanen
Gambar 2.6 Bagian Kurva Tegangan Regangan yang I)iperbesar

Titiktitik penting dalam kurva teganganregangan antara


lain adalah:
f : batas
proporsional

: batas elastis

,, 4 :

tegangan leleh atas dan bawah

20

BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA

: tegangan putus
: regangan saat mulai terjadi efek strainhardening
(penguatan regangan) : regangan saat tercapainya
tegangan putus
Titiktitik penting ini membagi kurva teganganregangan
menjadi beberapa daerah sebagai berikut:
1.Daerah linear antara 0 dan f, dalam dacrah ini herlaku Hukum
Hooke, kemiringan dari bagian kurva yang lurus ini disebut
sebagai Modulus Elastisitas atau Modulus Young, Ef/E)
2.Daerah elastis antara 0 danf pada daerah ini jika beban
dihilangkan maka benda uji akan kembali ke bentuk semula
atau dikatakan bahwa benda uji tersebut masih bersifat
elastis
3.Daerah plastis yang dibatasi olch regangan antara 2% hingga
1,2-1,5%, pada bagian ini regangan mengalami kenaikan
akibat tegangan konstan sebesar Daerah ini dapat
menunjukkan pula tingkat daktilitas dari material baja
terse-but. Pada baja mutu tinggi terdapat pula daerah
plastis, namun pada dacrah ini tegangan masih mengalami
kenaikan. Karena itu baja jenis ini tidak mempunyai daerah
plastis yang benar-benar datar sehingga tak dapat dipakai
dalam analisa plastis
4.Daerah penguatan regangan (strainhardening) antara E, dan
Untuk regangan
lebih besar dari 15 hingga 20 kali regangan elastis
maksimum, tegangan kernbali mengalami kenaikan namun
dengan kemiringan yang lebih kecil daripada kemiringan
daerah elastis. Daerah ini dinamakan daerah penguatan
regangan
(strainhardening),
yang
berlanjut
hingga
mencapai tegangan putus. Kemiringan daerah ini dinamakan
modulus penguatan regangan (F,)
Dalam perencanaan struktur baja, SNI 03-1729-2002 mengambil
beberapa sifatsifat mekanik dari material baja yang sama yaitu:
Modulus Elastisitas, = 200.000 MPa
E
= 80.000 MPa
Modulus Geser, G
Angka poisson
= 0,30
Koefisien muai
= 12.10 - (1`'C
panjang, a
Sedangkan berdasarkan tegangan leleh dan tegangan putusnya,
SNI 03-1729-2002 mengklasifikasikan mutu dari material baja
menjadi 5 kelas mutu sebagai berikut:
TABEL 2.1 SIFATSIFAT MEKANIS BAJA STRUKTURAL

Jenis
Baja
Iii
BJ
BJ
BJ
BJ

34
37
41
50
55

Tegangan Putus
minimum, 4
(MPa)
340
370
410
500
550

Tegangan Leleh
minimum, f
(MPa)
210
240
250
290
410

Regangan
minimum
(%)
22
20
18
16
13

Menurut Kuzmanovic dan Willems (1977), mendefinisikan daktilitas


material baja
sebagai rasio antara
dengan 7.
t' =

2.1

2 . 3 K E U L E TAN MATE R I A L

21

Nilai daktilitas dari berbagai material baja berbeda-beda. Baja


mum tinggi memiliki nilai daktilitas yang lebih rendah
dibandingkan misalnya moat 13 .1 37. Beberapa baja mum tinggi
bahkan memiliki nilai daktilitas mendekati satu, atau dcngan kata
lain hampir tidak ada bagian yang mendatar pada kurva teganganregangan. Untuk baja mum tinggi ini juga tidak menunjukkan nilai
tegangan leleh (4) yang jelas, sehingga nilai tegangan leleh dari
baja mum tinggi didefinisikan sebagai besarnya tegangan yang
dapat menimbulkan regangan permanen scbesar 0,2%. Rendahnya
daktilitas juga membuat material baja menjadi lebih sensitif akibat
adanya tegangan sisa yang terjadi selama proses pcmbuatan baja
terscbut. Proses pahrikasi baja mutu tinggi juga harus diawasi
dengan lebih cermat, terutama pada saat pengelasan yang dapat
menimbulkan sobckan lamelar (dibabas dalam sub bab 2.9).
2.4 KEULETAN MATERIAL

Penggunaan material baja dengan mutu yang lebih tinggi dart B J


37 tanpa ada perlakuan panas (heat treatment) akan mengakibatkan
bahan tidak memiliki daktilitas yang baik dan bahan yang
getas/mudah patah, sehingga penggunaan material yang demikian
perlu mendapat perhatian yang lebih dari seorang perencana
struktur. Dalam perencanaan struktur baja, keuletan material
(toughness) adalah ukuran dari suatu material untuk menahan
terjadinya putus (fracture) atau dengan kata lain adalah
kemampuan untuk menyerap energi. Keuletan material juga dapat
didefinisikan sebagai kemampuan untuk menahan terjadinya
perambatan retak akibat adanya takikan pada badan material. Retak
yang mcrambat akan mengakibatkan keruntuhan getas pada
material.
Dalam uji tank uniaksial, keuletan material dapat dihitung
sebagai luas total dari kurva tegangan-regangan hingga titik putus
benda uji (pada saat kurva teganganregangan berakhir). Karena
kondisi tank uniaksial jarang dijumpai pada struktur yang
scbenarnya, maka indeks keuletan bahan dapat diukur berdasarkan
kondisi tegangan yang lebih kompicks yang terjadi pada suatu
takikan.
Salah satu cara untuk mengukur keuletan dari material adalah
dengan mclakukan eksperimen Charpy (Charpy V-notch Test). Uji
Charpy ini menggunakan benda uji balok heton persegi yang
tertumpu sederhana dan memiliki takikan berbentuk V pada bagian
tengah bentang. Balok ini kemudian dipukul dengan suatu bandul
berayun hingga patah. Energi yang diserap oleh benda uji dapat
dihitung dari tinggi jatuh bandul hingga benda uji patah. Energi yang
dapat diserap suatu benda uji akan bertambah seiring dengan kenaikan suhu pada saat pengujian dilakukan.

Gambar 2.7 Hasil U i Charpy pada Bcrbagai Temperatur

-200

-100

H igh Carbon steel


orked Errms
eppQ1
A nnealed eras

100

200

T drop ratu re rrf oj


. Lt tA l G ar b o r st e e l
A l er , r o r ur ,
Aunten din Stain
s Steel

22

BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA

Daerah transisi antara perilaku daktail dan Betas dari suatu


material dapat diperoleh dengan melakukan uji Charpy pada
berbagai temperatur. Benda uji dapat didinginkan dengan
menggunakan nitrogen cair pada suhu 196 C. Cara lain untuk
mendapatkan suhu rendah adalah dengan membuat campuran
antara nitrogen cair, alkohol, es (H,0), dan es kering (C0 7). Untuk
menaikkan temperatur dapat ditempuh dengan cara direndam pada
air mendidih atau dengan dipanaskan pada suatu tungku pembakar.
Hasil uji Charpy untuk berbagai jenis material baja pada berbagai
temperatur pengujian ditunjukkan dalam Gambar 2.7.
2.5 TEGANGAN MULTIAKSIAL

Untuk tiap kondisi tegangan multiaksial, diperlukan definisi leleh


yang jelas, definisi ini dinamakan kondisi leleh (atau teori
keruntuhan) yang merupakan suatu persamaan interaksi antara
tegangantegangan yang bekerja.
Kriteria Leleh (Huber Von Mises Hencky)

Kriteria leleh untuk kondisi tegangan triaksial menurut Huber von


Mises Hencky adalah:

2.2
Dengan 6 i, a a, adalah
merupakan tegangan
tegangan
utama,
sedangkan
CT
adalah
< 1
tegangan efektif.
Dalam
banyak
perencanaan
struktur

2.3

mendekati nol atau cukup kecil

sehingga dapat diabaikan. Dan persamaan 2.2 dapat direduksi


menjadi:
0- 2 = a12

+.,a 0- 02

2
2

Atau dapat dituliskan pula sebagai:


2

2
+ 0-2

CT 10- 2

f2 fy2

2.4 fy

Persamaan 2.3 dapat digambarkan sebagai kurva seperti dalam


Gambar 2.8.
Tegangan Geser Leleh

Titik leleh untuk kondisi geser murni, dapat ditentukan dari kurva
teganganregangan dengan beban geser, atau dengan menggunakan
persamaan 2.3. Geser murni terjadi pada bidang 45 dari bidang
utama, atau pada saat 6, = 6i, dan tegangan geser T = a,. Substitusikan G, 6 ke persamaan 2.3 sehingga diperoleh:
2

Atau:

a12 +a, a,(a1)= 3a,' = 3y


1

T = _____f

Ni3

f2

= 0,6f

2.5
2.6

Modulus Geser (G), dirumuskan sebagai G = 20+p)


Dengan E adalah modulus elastis bahan dan adalah angka Poisson.
Untuk baja, nilai modulus geser, G ---- 80000 MPa

2.6 PERILAKU BAJA PADA TEMPERATUR TINGGI

23

leh
an
an
)),
im
PY

ni
. r-

:y
2
h

it
3

Gamhar 2.8 Kriteria Leleh Encrgi Distorsi


untuk Tegangan Bidang

2.6 PERILAKU BAJA PADA TEMPERATUR TINGGI

Proses desain suatu struktur untuk


suatu beban layan pada temperatur
normal,
biasanya
jarang
sekali
memperhitungkan perilaku material
pada temperatur tinggi. Pengetahuan
mengenai sifat-sifatlperilaku material
baja pada temperatur tinggi sangat
diperlukan
terutama
pada
saat
melakukan proses pengelasan atau
pada saat struktur terekspose di dalam
api.
Pada temperatur sekitar 93 C,
kurva
tcgangan-regangan
akan
berubah menjadi tak linear lagi, dan
secara bersamaan titik leleh material
tidak tampak dengan jelas. Modulus
elastisitas,
tegangan
leleh
dan
tegangan
tarik
semuanya
akan
tereduksi seiring dengan naiknya
temperatur material. Pada temperatur

antara 430 - 540 C laju penurunan


sifat-sifat mekanik dari baja mencapai
tingkat maksimum. Tiap material baja
memiliki
kandungan
kimia
dan
mikrostruktur
yang
berbeda-beda,
namun secara umum hubungar, antara
kenaikan temperatur dengan reduksi
sifat-sifat mekaniknya ditunjukkan
dalam Gambar 2.9. Baja dengan
kandungan
karbon
yang
cukup,
seperti BJ 37, menunjukkan perilaku
"strain
aging"
pada
kisaran
temperatur 150 - 370 C. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya sedikit
kenaikan dari tegangan leleh dan
tegangan tariknya. Tegangan tarik
mengalami kenaikan sekitar 10% pada
temperatur
tersebut
dan
pada
temperatur 260 - 320 C tegangan
leleh naik kembali seperti pada
kondisi temperatur ruangan normal.
"Strain
aging"
akan
mengurangi
daktilicas material baja.
Modulus elastisitas baja tereduksi
secara cepat pada temperatur di atas
540C. Ketika temperatur mencapai 260 320C, baja mengalami deformasi sciring
dengan pertambahan

24

BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA

waktu di bawah beban yang dikerjakan. Fenomena ini


disebut dengan istilah rangkak (creep) yang biasanya
dijumpai pada material beton, pada temperatur normal
fenomena rangkak tidak dijumpai pada material baja.
Temperatur, C
1,2

400

200
1

800

600

1000

1,0
0,8
0,6
0,4
0,2
0

400
1200
2000

800
1600
Temperatur, F

(a) Efek Temperatur terhadap


Tegangan Leleh
co a)

1,0

io

o_

0. a)
cf)

1,0

o_
0,8

a- co - o o

co-te am

-0

4-

-c)
0_
o_ c E 1:7)
0,6
0 _ 0 , 8s) .

CZ

2E

cci

-5

0,4

co)
cl as co c
c co 0,2

2 a.) 2

E es) co CC CD Q.) 2

400
2000

800

1200

1600

Temperatur, F
(b)Efek Temperatur terhadap Tegangan Putus
0

0 200 1
1
0 400 600 801
0 1000
Temperatur, F
(c)Efek Temperatur terhadap Modulus
Elastisitas
Gambar 2.9 Eta Kenaikan Temperatur [el-ha-lap Sitar-sifat Mekanik
Material Baja. (Sumber: Salmon & Johnson, Steel Structures Design and
Behavior.

2.7 PENGERJAAN DINGIN DAN PENGUATAN REGANGAN

ak
na

25

Efek lain yang terjadi pada material baja akibat kenaikan


temperatur antara lain adalah naiknya tahanan impak pada takikan
pada temperatur 65 95 C, meningkatnya sifat getas material
akibat perubahan metalurgi dari material, dan naiknya ketahanan
baja terhadap korosi pada temperatur 540 C.
2.7 PENGERJAAN DINGIN DAN PENGUATAN REGANGAN
Setelah regangan leleh E = f/E pada leleh pertama terlampaui, dan
benda
uji
dibebasbebankan,
pembebanan
kembali
akan
memberikan hubungan teganganregangan yang berbeda dari
hubungan semula. Dalarn gambar 2.10 proses pembebasbebanan
terjadi dari lintasan A ke B, timhul regangan permanen OB.
Kapasitas daktilitas berkurang dari regangan OF ke BE
Pembebanan kembali dimulai dari titik B hingga mencapai daerah
penguatan regangan (titik C). Dari titik C dibebas-bebankan
kembali sampai ke titik D.
Tegangan Tank
Hubungan teganganregangan elastis-plastis

a
C7
)

E (tegangan
putus)
r
t

Kemiringan
elastis

__________Daerah plastis

peningkatan
tegangan
leleh
akibat
penguatan
regangan

penguatan regangan
__ Regangan

Daerah elastis
Regangan permanen

Gambar 2.10 hfek Penguatan Regangan

Bila material baja yang mengalami pembebanan hingga mencapai daerah


penguatan : - egangan dan kemudian beban dilepaskan beberapa saat, maka
material itu akan menam:akkan sifat yang berbeda. Hubungan tegangan
regangan tidak lagi melalui lintasan D, C dalam Gambar 2.11, namun titik
leleh baja akan meningkat. Fenomena ini disebut strain Baja yang
mengalami strain aging akan mengalami kenaikan tegangan leleh, tegangan
ririk dan tegangan putusnya, daerah plastis dengan tegangan konstan juga
mengalami ,Ltnaikan, namun daktilitas material ini mengalami penurunan.
Beban mulai diberikan kembali dari titik D, panjang lintasan DC lebih
panjang dari :ntasan BA yang mengindikasikan pula terjadi kenaikan titik
leleh, peristiwa ini disebut efek penguatan regangan. Proses pembebanan
di luar daerah elastis yang berakibat pe7.,:hahan daktilitas bahan, dan
dilakukan pada temperatur ruangan dikenal dengan istilah pengerjaan

dingin (cold form).

26 BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATN YA

ct,
peningkatan
akibat
penguatan
regangan

peningkatan
tegangan
akibat strain
aging

D
Regangan
Daktilitas setelah
penguatan regangan
dan strain aging

Gambar 2.11 Efek Strain Aging

2.8 KERUNTUHAN GETAS

Meskipun keruntuhan struktur baja pada umumnya merupakan


keruntuhan daktail, namun dalam bermacam variasi kondisi,
keruntuhan baja dapat merupakan keruntuhan getas. Keruntuhan
getas adalah merupakan suatu keruntuhan yang terjadi secara tibatiba tanpa didahului deformasi plastis, terjadi dengan kecepatan yang
sangat tinggi. Keruntuhan ini dipengaruhi oleh temperatur,
kecepatan pembebanan, tingkat tegangan, tebal pelat, dan sistem
pengerjaan. Secara garis besar, faktor-faktor yang dapat
menimbulkan keruntuhan getas pada suatu elemen struktur
ditampilkan dalam Tabc1 2.2 berikut ini:
TABEL 2.2 FAKTORFAKTOR YANG POTENSIAL MENIMBULKAN KERUNTUHAN
GETAS
No

Faktor Pengaruh

Tcrnperatur

Tcgangan tarik

Ketebalan material

Kontinuitas 3
dimensi

Takikan

Kcccpatan
pembebanan
Pcrubahan laju
regangan

Las

Efek
Makin tinggi temperatur makin besar peluang
rerjadinya keruntuhan gctas
Keruntuhan gctas hanya dapat- terjadi
di bawah tegangan tarik
Makin tebal material baja, makin besar peluang
terjadinya keruntuhan gctas
Menimbulkan cfck tegangan multiaksial yang
cenderung mengekang proses lelch baja dan
meningkatkan kecenderungan terjadinya
keruntuhan
gems
Adanya
takikan
akan meningkatkan potensi
keruntuhan getas
Makin cepat kelajuan pembebanan, makin
besar Pula peluang terjadinya keruntuhan
getas
Naiknya
kelajuan tegangan akan
meningkatkan potensi keruntuhan gems
Retakan pada las akan dapat beraksi sebagai
suatu takikan

2 . 9 S O B E KA N L A M E L A R

27

2.9 SOBEKAN LAMELAR

Pembuatan profil baja umumnya dilakukan dengan proses gilas


panas. Proses ini mengakibatkan profil mempunyai sifat yang
berbeda dalam arah gilas, arah transversal dan arah ketebalan.
Dalam daerah clastis sifat-sifat baja dalam arah gilas dan
transversal hampir sama. Namun daktilitas dalam arah ketebalan
jauh lebih kecil daripada daktilitas dalam arah gilasnya.
Sohekan lamelar merupakan keruntuhan getas yang terjadi pada
bidang gilas akibat gaya tank besar yang bekerja tegak lurus
ketebalan elemen pelat profil. Karena regangan yang diakibatkan
oleh beban layan biasanya lebih kecil dari regangan leleh, maka
Behan-Behan layan tak diperhatikan sebagai penyebab sobekan
lamelar. Pada sambungan las dengan kekangan tinggi, sobekan
lamelar disebabkan oleh penyusutan las yang mengakibatkan
timbulnya regangan yang beberapa kali lebih besar daripada
regangan lelehnya. Keruntuhan akibat sobekan lamelar dikategorikan
sebagai kcruntuhan getas. Sobekan lamelar umumnya dijumpai pada
sambungan-sambungan las berbentuk T seperti pada Gambar 2.13. Di
samping itu ukuran las juga mempengaruhi terjadinya sobekan
lamelar, sebaiknya ukuran las tidak melebihi 20 mm untuk
menghindari terjadinya sobekan lamelar.
.---"Arah
t o

)a

in
in
tit

,/transversal
Arah penggilingan

Z = Arah ketebalan
Gambar 2.12 Arah Gilas, Arah Transversal, dan Arah Ketebalan

Gambar 2.13 Sobekan Lamelar pada Sambungan T da Las Sudut

Gambar 2.14 Sohekan Lamelar Akibat Susut Sambungan Las

28

BAB 2 MATERIAL BAJA DAN SIFAT-SIFATNYA

Gambar 2.15 Pemzeriaan Las untuk Menghindari Sobekan Lamelar

Bagian pelat baja yang mengalami sobekan lamelar akan menjadi


berserabut (Gambar 2.14), hal ini mengindikasikan bahwa pelat
tersebut mcmiliki daktilitas yang rendah dalam arch ketebalan.
Salah satu cara mencegah terjadinya sobekan lamelar adalah
dengan memperbaiki detail sambungan las. Beberapa cara perbaikan
diperhhatkan dalam Gambar 2.15.

2.10 KERUNTUHAN LELAH

Pembebanan yang bersifat siklik (khususnya beban tank) dapat


menyebabkan keruntuhan, meskipun tegangan !etch baja tak pernah
tercapai. Keruntuhan ini dinamakan keruntuhan lelah (fatigue fa'
ilure). Keruntuhan lelah dipengaruhi oleh 3 faktor, yakni:
a.junilah siklus pembebanan
b.daerah tegangan layan (perbedaan antara tegangan
maksimum dan minimum)
c.cacat-cacat dalam material tersebut, seperti retak-retak kecil
Pada proses pengelasan cacat dapat diartikan sebagai takikan
pada pertemuan antara dua elemen yang disambung. Lubang baut
yang mengakibatkan dikontinuitas pada elemen juga dapat
dikategorikan sebagai cacat pada elemen tersebut. Cacat-cacat kecil
dalam suatu elemen dapat diabaikan dalam suatu proses desain
struktur, namun pada struktur yang mengalami beban-beban siklik,
maka retakan akan makin bertambah panjang untuk tiap siklus
pembebanan sehingga akan mengurangi kapasitas elemen untuk
memikul beban layan. Mum baja tidak terlalu mempengaruhi
keruntuhan lelah ini.

3
Batang Tarik
TUJUAN PEMBELAJARAN

Sesudah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:


Mengetahui perilaku keruntuhan suatu batang tarik
Melakukan proses desain penampang suatu komponen struktur
tarik
Pokok-pokok Pembahasan Bab
1.1 Pendahuluan
1.2 Tahanan Nominal
1.3 Luas Netto
1.4 Efek Lubang Berselang-seling pada Luas Netto
1.5 Luas Netto Efektif
1.6 Geser Blok (Block Shear)
1.7 Kelangsingan Struktur Tarik
1.8 Transfer Gaya pada Sambungan
bar
am

3.1 PENDAHULU AN

iiki

Batang tarik banyak dijumpai dalam banyak struktur baja, seperti


struktur-struktur jembatan, rangka atap, menara transmisi, ikatan
angin, dan lain sebagainya. Batang tarik ini sangat efektif dalam
memikul beban. Batang ini dapat terdiri dari profit tunggal ataupun
profil-profil tersusun. Contoh-contoh penampang batang tarik adalah
profil bulat, pelat, siku, siku ganda, siku bintang, kanal, WF, dan lainlain. Gambar 3.1 menunjukkan beberapa penampang dari batang
tarik yang umum digunakan.

tn
,
an

ra
tl

1E

(a) pelat
(b) bulat pejal
(h) profil kanal ganda
(i) profil S

JL

(e) profil siku ganda

L
(c) prof!! kanal

(f) profil siku bintang

(d) profil siku

(g) profil WF

Gambar 3.1 Beberapa Penampang Batang Tarik

3 0 B A B 3 B A TA N G TA R I K

Gambar 3.2 Struktur Rangka Atap Baja dengan Meng,unakan


Profil Siku. (Somber: Koleksi Pribadi)

Struktur rangka atap biasanya menggunakan profil siku tunggal


atau dapat pula digunakan dua buah profil siku yang diletakkan
sating membelakangi satu sama lain. Jarak di antara dua buah profil
siku tersebut harus cukup agar dapat diselipkan sebuah pelat (biasa
dinamakan pelat buhul) yang digunakan sebagai tempat
penyambungan antar batang. Siku tunggal dan siku ganda mungkin
merupakan profil batang tarik yang paling banyak digunakan. Profil
T biasanya juga dapat digunakan dalam struktur rangka atap sebagai
alternatif dari profil siku.

Gambar 3.3 Struktur Rangka Jembaran Kercta Api. (.Somber. Koleksi Pribadi)

Pada struktur rangka jembatan dan rangka atap yang berbentang


besar, umum digunakan profilprofil WP atau profil kanal.

3 . 2 TA H A N A N N O M I N A L 3 1
2 TAHANAN NOMINAL

Dalam menentukan tahanan nominal suatu batang tarik, harus diperiksa terhadap tiga macam
kondisi keruntuhan yang menentukan, yaitu:
a.leleh dari luas penampang kotor, di daerah yang jauh dari sambungan
b.fraktur dari luas penampang efektif pada daerah sambungan
c.geser blok pada sambungan
Menurut SNI 03-1729-2002 pasal 10.1 dinyatakan bahwa semua komponen struktur yang
memikul gaya tarik aksial terfaktor sebesar T, maka harus memenuhi:

< 0. T,

3.1

SNI 03-1729-2002 menggunakan notasi N. untuk menyatakan gaya tarik aksial ter faktor, namun dalam buku ini digunakan notasi T untuk membedakan dengan notasi
untuk gaya tekan aksial yang akan dibahas dalam bab selanjutnya. T adalah tahanan
nominal dari penampang yang ditentukan berdasarkan tiga macam kondisi keruntuhan
batang tarik seperti telah disebutkan sebelumnya.
Besarnya tahanan nominal, T, suatu batang tank untuk ripe keruntuhan leleh dan fraktur
ditentukan sebagai berikut:

udi

*.xldisi Leleh dari Luas Penampang Kotor

Bila kondisi leleh yang menentukan, maka tahanan nominal,


persamaan:

sa
g.

tk

T., dari batang tank memenuhi

T = AA .f f

ai

Dengan

3.2

A g = luas penampang kotor, mm `


f=
kuat leleh material, MPa

+Condisi Fraktur dari Luas Penampang Efektif pada Sambungan

Untuk batang tank yang mempunyai lubang, misalnya untuk penempatan baut, maka luas
penampangnya tereduksi, dan dinamakan luas netto (A). Lubang pada batang menimbulkan konsentrasi tegangan akibat beban kerja. Teori elastisitas menunjukkan bahwa
tegangan tank di sekitar lubang baut tersebut adalah sekitar 3 kali tegangan rerata pada
penampang netto. Namun saat serat dalam material mencapai regangan leleh
= fy/E,
tegangan menjadi konstan sebesar f, dengan deformasi yang masih berlanjut sehingga semua
serat dalam material mencapai e), atau lebih. Tegangan yang terkonsentrasi di sekitar lubang
tersebut menimbulkan fraktur pada sambungan.

0--

max

(a) Tegangan elastis

3f

rerata

(b) Keadaan batas

Gambar 3.4 Distribusi Tegangan Akibat Adanya Lubang pada Penampang

3 2 B A B 3 B A TA N G TA R I K

Bila kondisi fraktur pada sambungan yang menentukan, maka


tahanan nominal, T dari batang tersebut memenuhi persamaan :
T

ri

1 4

3.3

3 1 f

Dengan A = luas penampang efektif = UA,


7 = luas netto penampang, mm 2
U = koefi sien reduksi ( akan dijelaskan lebih
lanjut )
tegangan tank putus, MPa
Dengan 0 adalah faktor tahanan, yang besarnya adalah:
0 = 0,90 untuk kondisi leleh, dan
0 = 0,75 untuk kondisi fraktur
Faktor tahanan untuk kondisi fraktur diambil lebih kecil
daripada untuk kondisi leleh, sebab kondisi fraktur lebih
getas/berbahaya, dan sehaiknya tipe keruntuhan jenis n i dihindari.

3.3 LUAS NETTO


Lubang yang dibuat pada sambungan untuk menempatkan alat
pcngencang seperti baut atau paku keling, mengurangi luas
penampang sehingga mengurangi pula tahanan penampang tersebut.
Menurut SNI 03-1729-2002 pasal 17.3.5 mengenai peluhangan untuk
baut, dinyatakan bahwa suatu lubang bulat untuk baut hams
dipotong dengan mesin pemotong dengan api, atau dibor ukuran
pcnuh, atau dipons 3 mm lebih kecil dan kemudian di perbesar, atau
dipons penuh. Selain itu, dinyatakan pula bahwa suatu lubang yang
dipons hanya diijinkan pada material dengan tegangan leleh (f) tidak
lebih dari 360 MPa dan ketebalannya tidak melebihi 5600/f mm.
Sclanjutnya dalam pasal 17.3.6 diatur pula mengenai ukuran
lubang suatu baut, dinyatakan bahwa diameter nominal dari suatu
lubang yang sudah jadi, harus 2 mm lebih besar dari diameter
nominal baut untuk suatu baut yang diameternya tidak lebih dari 24
mm. Untuk baut yang diameternya lebih dari 24 mm, maka ukuran
lubang hams diambil 3 mm lebih besar.
Luas netto penampang batang tank tidak botch diambil lebih besar
daripada 85% luas bruttonya, Ajt < 0,85 A.

CONTOH 3.1:
Hitting luas netto, An dari batang tank berikut ini. Baut yang digunakan
berdiameter 19 mm. Lubang dibuat dengan metode punching.
Lubang baut

Pelat

019mm

6 x 100 mm

JAWAB:
Luas kotor,= 6 x 100 = 600
mm 2 Lebar lubang` = 19 + 2
= 21 mm
A = A ( lebar lubang x tebal pelat )
7
= 600 6(21) = 474 mm2 < 85%.A

510 mm2)

OK

3.4

EFEK LUBANG BERSELANG-SELING ..

33

3.4 EFEK LUBANG BERSELANGSELING PADA LUAS NETTO

3. 3

Lubang baut dapat diletakkan berselang-seling seperti dalam Gambar 3.5. Dalam SN1 03 1729-2002 pasal 10.2.1 diatur mengenai cara perhitungan luas netto penampang dengan
lubang yang diletakkan berselang-seling, dinyatakan bahwa luas netto hares dihitung
berdasarkan luas minimum antara potongan 1 dan potongan 2.

isi
lis
Ga mbar 3.5 Kerun tuhan P ot on gan 1 -1 c lan

ut
n-

lg
1 -

-is
in

,t,
ih
!zi
dl

Dari potongan 1-1 diperoleh:


Potongan 1Dengan: A
A.

An = A n.d.t
2:

An = A

4,'

= luas penampang kotor


= luas penampang netto

t = Leh] penampang
d
= diameter lubang
n
= banyak lubang dalam satu potongan
s,u = jarak antar sumbu lubang pada arah sejajar dan tegak lurus sumbu komponen struktur
n CONTOH 3.2:
Tentukan A n ,,, ) minimum dari batang tank berikut ini, baut = 19 mm, tebal pelat 60 mm
JAWAB:
H 55

60

60

100

--e75

34

B A B 3 B A TA N G T AR I K

Luas kotor, A g = 6 x ( 60 + 60 + 100 + 75) = 1770 mm 2


Lebar lubang = 19 + 2 = 21 mm
Potongan AD:
An = 1770 2(21)(6)=1518 mm 2
Potongan ABD:

2
2

A n = 1 7 70 - 3 ( 2 1 ) ( 6 ) + 55 x 6 + 5 5 x 6 = 1 5 1 3 m m 2
4x60 4x100
Potongan ABC:
An = 1770-3(21)(6)+ 55 2 x 6 50 2 x 6 = 1505,125 mm 2
4x60 4x100
Periksa terhadap syarat A < 0,85.Ag
0,85.A = 0,85(1770) = 1504,5 mm 2
Jadi A minimum adalah 1504,5 mm 2 .
Jika sambungan yang diletakkan berselang-seling tersebut dijumpai pada
sebuah profil
siku, kanal atau WF, maka penentuan nilai u dapat dilakukan
sebagai berikut:

a. Profi l siku sama kaki atau tak sama kaki

O
g, + 92 -

c. Frotil W
CONTOH
3.3:
0

An =
0
0

3.4 EFEK LUBANG BERSELANG-SELING ...

35
Hitung A, minimum dari batang tarik berikut, yang terbuat dari profil
siku L 100.150.10. Dengan 0 lubang = 25 mm.
JAWAB:

______________
6
0Luas kotor,
Lebar
A
g
5
lubang
Potongan
5

it

AC:

2
= 2420 mm
( tabel profil baja )
0 ____________

= 25 + 2 = 27
mm
A n = 2420 2(27)00)

= 1880
mm2

2
75 75
Potongan 6
0ABC: A n = 2420 - 3(27)00) + 75 x10
Periksa terhadap syarat An < 0,85.A g
1978,3
+ 75' x10
0,85Ag = 0,85(2420) = 2057

mm2
Jadi An minimum adalah 1880 mm2.
CONTOH 3.4:
Hitunglah luas netto dari profil CNP 20 berikut ini, jika baut yang
digunakan berdiameter 16 mm.
JAWAB:
50 + 30
8,5
= 71,5

50

O00(

100

:)

50

4 @ 50

Ukuran lubang = 16
Potongan 1: An =
3220
Potongan 2: An =
3220

IIII
2

+ 2 = 18
- 2(18)mm- 8,5(18) = 2653 mm 2
(11,5)
50 2 x(11,5+8,5)/2 50 2 x8,5
- 2(18) -2(18)(8,5) +
(11,5)
4x 100
4x 71, 5

= 2640,54 mm2

mm2

36

B A B 3 B A TA N G TA R I K

Periksa terhadap syarat A < 0,85 A


0,85(3220) = 2737 mm 2
Jadi A minimum adalah 2640,54 mm 2 .
3.5 LUAS NETTO EFEKTIF
Kinerja suatu batang tank dapat dipengaruhi oleh beberapa hal,
namun hal yang perlu diperhatikan adalah masalah sambungan
karena adanya sambungan pada suatu batang tank akan
mcmperlemah batang tersebut. Efisiensi suatu sambungan
merupakan fungsi dari daktilitas material, jarak antar alat
pengcncang, konsentrasi tegangan pada lubang baut serta suatu
renomena yang sering disebut dengan istilah shear lag.
Shear lag timbul jika suatu komponen struktur tank hanya
disambung scbagian saja, sebagai contoh adalah sambungan untuk
profil siku dalam Gambar 3.6. Profil siku tersebut hanya disambung
pada salah satu kakinya saja, sehingga bagian yang disambung akan
mengalami beban yang berlebihan sedangkan bagian lainnya tidak
menerima tegangan yang sama bcsarnya. Salah satu cara mengatasi
masalah shear lag adalah dengan memperpanjang sambungan.
Masalah shear lag dalam perhitungan diantisipasi dengan
menggunakan istilah luas netto efektif, yang dapat diterapkan pada
sambungan baut maupun las. Pasal 10.2 SNI 03-1729-2002 mengatur
masalah perhitungan luas netto efektif. Dinyatakan bahwa luas
penampang efektif komponen struktur yang mengalami gaya tank
hares ditentukan sebagai berikut:
A=
3.4
Dengan: A = luas efektif penampang
A, = luas netto penampang
U = koefi sien reduksi = 1 0,9
x = eksentrisitas sambungan
L = panjang sambungan dalam arah gaya tank
Garis berat penampang siku dan pelat

xl

x = [max(x 1 , x 2 )]
Gambar 3.6 Nil

H
x

Hi
x

unruk Profil Siku

Apabila gaya tank disalurkan dengan mcnggunakan alat sambung las, maka
akan ada 3 macam kondisi yang dijumpai, yaitu:
1.bila gaya tank disalurkan hanya oleh las memanjang ke elemen bukan
pelat, atau oleh kombinasi las memanjang dan melintang, maka: A = A
2.bila gaya tank disalurkan oleh las melintang saja:

A = luas penampang yang disambung las (U =


1)
3.bila gaya tank disalurkan ke elemen pelat oleh las memanjang sepanjang
kedua nisi bagian ujung, elemen: A, = (IA

3.5 LUAS NETTO EFEKTIF

37

Dengan: U = 1,00 untuk / > 2u ,


U = 0,87 unruk. 2u, > I _>
U = 0,75 untuk 1,5w > I > w
I = panjang las
= jarak antar las mcmanjang debar pelat)
perlu
Data
ng
fungs
i
uban
g
Sala,
sebut
a kan
yang
ljang ;
tilah
10.2
shwa
Akan

garis berat = penampang WF

1
-

Gambar 3.7 Eksentrisitas Sambungan,


Profit WI'

untuk

Gambar 3.8 Samhungan Las

,a

Selain ketentuan di atas, koefisien


reduksi U untuk beberapa penampang
menurut manual dari AISC, adalah:
1.Penampang-1 dengan h/h > 2/3
atau
penampang
T
yang
dipotong dari penampang 1,
dan sambungan pada pelat
sayap dengan jumlah baut lebih
atau sama dengan 3 buah per
baris (arah gaya)
U = 0,90
2.Untuk pcnampang yang
lain (termasuk
penampang tersusun)
dengan jumlah alat
pengencang minimal 3
buah per bark U = 0,85
3. Semua penampang

dengan banyak baut


= 2 per bark ( arah
gaya )
U = 0,75
nCONTOH

3.5:

Sebuah pelat 10 x 150 mm dihubungkan


dengan pelat berukuran 10 x 250 mm
menggunakan sambungan las seperti
pada gambar. Hitunglah tahanan tank
rencana dari struktur tersebut jika
mutu baja adalah BJ 41 (f = 250 MPa. f
= 410 MPa)

38 BAB 3 BATANG TARIK

pelat 10 x 250 mm

pelat 10 x 150 mm

J
A
W
A
B
:
K
o
n
d
i
s
i
I
e
l
e
h
:
OTC =

OAK"; =

0,90(10)(150)
(250) = 33,75 ton
Kondisi fraktur:
1
,
5
w
=
2
2
5
m
m
>
/
=
2
0
0

m
m
>
w
=
1
5
0
m
m

>

U
=
0
,
7
5

A
,
=
U
.
A
=
0
,
7
5
(
1
0
)
0
5
0
)
=
1
1

2
5
m
m
2

OT = O.A , f =
0,75(1125)(410)
= 34,6 ton
Jadi, tahanan tarik
rencana dari
komponen struktur
tersebut adalah
sebesar 33,75 ton.
CONTOH 3.6:
Hitunglah tahanan
tarik rencana dari
profil siku 50.50.5
yang dihubungkan
pada suatu pelat
buhul seperti pada
gambar berikut.
Mutu baja adalah BJ
37

t
Tu

50 <" Ag = 480 mm2

50

JAWAB:
Karena pada ujung
profil siku juga
terdapat sambungan
las, maka nilai U
harus dihitung
b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n
p
e

x = 14 mm

r
s
a
m
a
a
n
1
-

T
0
,
9
K
o
n
d
i
s
i
I
e
l
e
h
:
OT , = tpA g fy =
0,90(480)(240) =
10,368 ton
Kondisi fraktur:
14

U = 1--z = 1

To = 0,72 <0,9

(OK)

OT = 0-A e f u =
0,75(345,6)(370)
= 9,59 ton
Jadi, tahanan tarik
rencana dari
komponen struktur
tersebut adalah
sebesar 9,59 ton.

CONTOH 3.7:

Tentukan
tahanan
tarik
rencana
dari
profil
WF
300.150.6,5.9
pada
gambar berikut ini,
jika
baut
yang
digunakan mempunyai
diameter 19 mm.

3.5 LUAS NETTO EFEKTIF

14180
0

1-100

65
80 +100 =136,75
2
2

by
0

6,

0d

40

000

40

0 0

____________________________________________jl.

atu

I
---------------)
A, = 0,85.A

Ae = 0,75.A

(a) siku atau siku ganda

(b) siku atau siku ganda

tog

A, = 0,85-A

(d) WF, blh

(c) profit kanal

A. = 0,90-A
(e) WF, blh

A. = 0,90-A

> 2/3

Gambar 3.9 Nilai U untuk Berbagai Macam Tipe


Sambungan

< 2/3

(f) T, blh

> 2/3 (untuk profit WF induk)

39

4 0 B A B 3 B ATAN G TAR I K

JAWAB:
Menghitung luas :retro profit:
Potongan
= 4678 - 4(9)(19+2) = 3922 mm -1
Potongan
A

4678 - 4(9)(19+2)

2(6,5)(19+2) + 2 40i(6,5+9)/2
4x136,75

= 3694,34 mm`
85% A = 0,85(4678) = 3976,3 mm 2
Jadi, A =: 3694,34 mm 2
Karena tiap bagian profit tersambung, maka distribusi tegangan terjadi
secara merata pada bagian Hens dan web, sehingga nilai 1.i dapat
diambil sama dengan 1,0.
Kondisi
rhT = {1)A,.f = 0,90(4678)(240) = 101,04 ton
Kondisi fraktur:
A = U. A = 1,0(3694,34) = 3694,34 mm 2
= 0,75(3694,34)(370) = 102,52 ton
Jadi, tahanan tank rencana dari komponen struktur tersebut adalah
sebesar 101,04 ton.
CONTOH 3.8:
Suatu pelat baja setebal 20 mm disambungkan ke sebnah pelat
buhul dengan alat sambung baut berdiameter 19 mm. Tika mute
baja BT 37, hitunglah beban kerja maksimum yang dapat dipikul
oleh pelat tersebut (beban kerja terdiri dari 20% beban marl dan
80% beban hidup)
JAWAB:
Menghitung luas
netto, A.: Pot.1-2-3:
A,,
20(320 - 3(19 + 2)) = 5140 mm 2

01

04

4 @ 6 0 60

02

320

05
0

1-50--h- 80 --,

Pot. 1-4-2-5-3:
= 20(320 - 5(19 + 2)) + 4. 80 2 x 20 = 6433,3 mm :

Pot. 1-4-5-3:
A

4 x 60

= 20(320 - 4(19 + 2)) + 2-802 x20


4 x 60

= 5786,6 mm2

3.6 GESER BLOK

41

Pot. 1-4-6:
Arr
= 20( 320 - 3( 19 + 2)) + 80 x 20 50 2 x 20 5881, 63 mm
4x60 4x60

85% A = 0,85(320)(20) = 5440 mm 2


Jadi, A rr min - 5140 mm'
Koefisien reduksi U = 1 - ATIL = 1 - ( 1/22011.30 ) = 0,923 > 0,9
> U = 0,9 Kondisi leleh:
OT = 0/1J; = 0,90(6400)(240) = 138,24 ton
Kondisi fraktur:
A, = LTA , = 0,9(5140) = 4626 M I T I
= 0,75(4626)(370)128,3715 ton
yhT >
( = 1,2D + 1,6L)
128,3715 = 1,2(0,27) + 1,6(0,87)
128,3715 = 0,247 + 1,281" = 84,45 ton
Jadi, beban kerja maksimum yang boleh bckerja adalah sebesar
84,45 ton.
-

)ada

m.

utn
0%

6 GESER BLOK (BLOCK SHEAR)


Sebuah elemen pelat tipis menerima beban tarik, dan disambungkan
dengan alat pengencang, tahanan dad komponen tank tersebut
kadang ditentukan oleh kondisi Batas sobek, atau sering disebut
geser blok. Dalam Gambar 3.10 profil siku dcngan beban tank, yang
dihubungkan dengan alat pengencang, dapat mengalami keruntuhan
geser blok sepanjang potongan a-b-c. Bagian yang terarsir dalam
gambar akin terlepas/sobek. Keruntuhan jenis ini dapat pula tcrjadi
pada sambungan pendek yang menggunakan dua alat pengencang
atau kurang pada garis searah bekerjanya gaya.
Pengujian menunjukkan bahwa keruntuhan geser blok merupakan
penjumlahan tank leleh (atau tank fraktur) pada satu irisan dengan geser
fraktur (atau geser Mehl pada irisan lainnya yang sating tegak lurus. Dan
tahanan nominal tank dalam keruntuhan geser blok diberikan oleh
persamaan:
1.Geser Leleh - Tarik Fraktur ( fz/Am >
)
T
=
0 , 6 f , A
+ . f r r ' A r r r 3 . 5 . a
2.Geser Fraktur - Tarik Leleh (1,< 0,6 k A,n, )
Tn = 0 6/
+f
Dengan:
A = Luas kotor akibat geser
A Luas kotor akibat
tank

= Luas nett akibat


geser
= Luas netto akibat
tank
kuat tank

3.5.b

Gambar

3.10

kuat leleh

Keruntuhan Geser Blok

42 BAB 3 BATANG TARIK

Tahanan
nominal
suatu struktur tarik
ditentukan oleh tiga
macam
tipe
keruntuhan
yakni
leleh
dari
penampang
brutto,
fraktur
dari
penampang
efektif
dan geser blok pada
sambungan. Sedapat
mungkin
dalam
mendisain
suatu
komponen
struktur
tarik,
keruntuhan
yang terjadi adalah
leleh
dari
penampang
bruttonya,
agar
diperoleh
tipe
keruntuhan
yang
daktail.
CONTOH 3.9:
Bila
rasio
beban
hidup dengan beban
coati adalah sama
dengan 3, LID = 3,
hitunglah beban kerja
yang dapat dipikul
oleh
profil
L
100.100.10, dengan
baut berdiameter 16
mm yang disusun
seperti dalam gambar
berikut. BJ baja 37 (f
= 240, f = 370 )

5 x 50

J
A
W
A
B

N N N N
0

V A
0
0

T :40

:
K
o
n
d
i
s
i
l
e
l
e
h
:
=
=
0,9(19
20)
(240) =
41,472
ton
Kondisi fraktur:
A nt = 1920
- 10(16 +
2) = 1740
mm 2 (90,6
% A g)
A n , = 1920
- 2(10)(16
+ 2) + 50 2
x10 _
4 x 40
A
menentuka
n = 85% Ag
= 0,85 x
1920 =
1632 mm2
U

= 1-

.V

1716,25
mm 2 (89,4 %
A g)

2,
2

- 0,86

A, = U.A n =
0,86 x
1632 =
1403,52
mm 2
0

4
x
5
0

.
T
n

=
=
0
,
7
5
(
1
4
0
3
,
5
2
)
3
7
0
=
3
8
,
9
5
t
o
n

J
a
d
i
,
t
a
h

a
n
a
n
r
e
n
c
a
n
a
,
T
d

=
3
8
,
9
5
t
o
n
7
'
d

>
T
=
1
,
2
D
+

1
,
6
L
38,95 =
1,2D +
1,6(3D) =
6D
Diperoleh D =
6,49 ton dan L
= 19,47 ton.
Beban kerja, D
+ L = 6,49 +
19,47 = 25, 96
ton.
Bila digunakan
baut berukuran
besar
(jumlahnya
menjadi lebih
sedikit) atau
bila tebal
pelat sayap
cukup tipis,
maka perlu
ditinjau
keruntuhan
geser blok.
CONTOH
3.10:
Hitunglah
tahanan
rencana
komponen
struktur tank
berikut, yang
terhuat
dari
profil
L
80.80.8. Mutu
baja BJ 37.
Diameter baut
19 mm.

3.6

GESER BLOK

43

akn
i
;am
tha
n
tgla
h
mm

= 22 6

JAWAB: Kondisi
leleh:
0A gi f = 0,9(1230)(240) = 26,568 ton
Kondisi fraktur:
2
A = 1230 - 8(19 + 2) = 1062 mm
n

0,85.Ag = 0,85(1230) = 1045,5 mm 2


6
U = 1-- - 1 2290__ =0,75
A, = UA, = 0,75(1045,5) = 784,125 mm 2
0.7; 2 =

= 0,75(784,125)(370) = 21,76 ton

Periksa terhadap geser blok:


0,6154, = 0,6(370)(120 - 3,5(19 + 2))(8) = 8,26 ton
f.Ant
Karena

= 370(30 - 0,5(19 + 2))(8) = 5,77 ton

4.4,

< 0,6.4.A ny, gunakan persamaan 3.5.b, sehingga

= 0,6,fu.Am, + fy.Ag,

= 8,26 + (240)(30)(8) = 14,02 ton

0. T = 0,75 x 14,02 = 10,515 ton


Sehingga tahanan rencana, T d = 9,945 ton. Keruntuhan geser blok terjadi
karena jarak antar baut yang kecil, Peraturan Baja Indonesia SNI
mensyaratkan jarak minimal antar alat pengencang adalah 3 kali diameter
nominalnya.
CONTOH 3.11:
Hitunglah tahanan rencana dari profil siku 100.100.10 pada sambungan berikut,
jika mutu baja yang digunakan adalah BJ 41. Perhitungkan pula terhadap geser
blok!

L
tebal

profi l

JAWAB: Kondisi
leleh:
0.T = 0.A g f = 0,9(1920)(250) = 43,2 ton
Kondisi fraktur:
A n = 1920 mm 2
852
U = 1- - 1 27_ - 0,624

44

B A B 3 B A TA N G TA R I K

Ay = 1920 mm2 x
= 28.2 mm

Pelat 10 mm

(I , 4 7 0, 624 (192 0) = 1198, 08 m m 2


= 0,75(1198,08)(410) = 36,84 ton

Periksa terhadap geser blok:


A

= (200)(10) + (75)(10) = 2750 mm 2

A g r = 100(10) = 1000 mm 2
A = 2750 mm2

A = 1000 mm2
0,6(410)(2750) = 67,65 ton
= 410(1000) = 41 ton
>

terjadi geser fraktur tank lelch

= 0,61;.A + 4.A

gi

= 0,6(410)(2750) + (250)(1000) =

69,4875 ton
(p.1" = 0,75 x 69,4875 = 10,515 ton
Jadi, tahanan tank rencana dari profi l terscbut adalah sebesar 36,84
ton.

3.7 KELANGSINGAN STRUKTUR TARIK


Untuk mengurangi problem yang terkait dengan lendutan bcsar dan
vibrasi, maka komponen struktur tarik harus memenuhi syarat
kekakuan. Syarat ini berdasarkan pada rasio kelangsingan, k = L/r.
1)engan 2 adalah angka kelangsingan struktur, L adalah panjang
komponen struktur, sedangkan r adalah jari-jari girasi (r = A). Nilai. diambil
maksinmm 240 untuk batang tank utama, dan 300 untuk batang tank
sekunder.

nCONTOH 3.12:
Suatu struktur rangka batang dengan pembebanan scperti pada
gambar berikut: Periksalah apakah batang AB cukup kuat menahan

gaya tank yang bekerja padanya, jika beban kerja merupakan


kombinasi dari 20%D dan 80%L. Asumsikan banyak baut adalah
1 bans baut = 19 mm). Mutu baja BJ 37.

45

3. 7 K E L A N G S I N G A N S TR U K TU R TAR I K

411
1
1
1
1k.
A
7.5 ton

1 5 ton

70 70 7

15ton

15ton

JAWAB:

15ton

Tcrlebih dahulu hams dicari besar reaksi pada titik B serta gaya batang AB,
dengan menggunakan rumus-rumus dasar ihnu statika.
=0
- R,,(1.2) + 15(3 + 6 + 9) + 7,5(6) + 15(4)
= 0 R,. = 31,25 ton
Dengan cam Ritter melalui potongan 1, dapat dicari bcsarnya gaya
barang AB:
D15 ton
p =0
0 4

S 13 (4)

31,25(3) = 0

/.;

Al

S = 23,4375 ton

Pada batang AB bekerja gaya tarik terfaktor, 7 - , sebesar:


= 1,2(0,2)(23,4375) + 1,6(0,8)
(23,4375) = 35,625 ton
koma
rasio
anjan
g
maksi
-

Pcrilcsa syarat kelangsingan batang tarik:


-

L 300
= 141,5 < 240
7,12

Kondisi lelch:
0.7;= Q f.A o = 0,90(240)(2)(940) = 40,608 ton
Kondisi fraktur:
A

= 2(940 - 7(21)) = 1586

mm

jik
a
adala

Ambil U = 0,85

OK

46 BAB 3 BATANG TARIK


3.8 TRANSFER GAYA PADA SAMBUNGAN

Pada umumnya lubang pada batang tarik digunakan oleh alat


pengencang, baut, atau paku keling, untuk mentransfer gaya dari
satu batang tarik ke batang tarik lainnya.
Anggapan dasar: Alat pengencang dengan ukuran yang sama akan
menyalurkan gaya yang sama besarnya bila diletakkan secara
simetri terhadap garis netral komponen struktur tarik.
CONTOH 3.12:
Hitunglah gaya tarik nominal maksimum dari komponen struktur
tarik berikut ini. Bila tebal pelat 6 mm, diameter baut 19 mm, dan
mutu baja BJ 37.

1
0
3

50
100

100
50

I-60+60+60H

a.

JAWAB:

potongan 1-3-1: (Gaya 100% T )


= 6(300 - 3(19 +
2))
=
Aef =
0,5 x 6
= 1U
3 x 60 '0,9 U

A,

0,9(1422)(370)

= 1422 mm2
(79%.Ag)
0,9
= 47,35 ton

b.potongan 1-2-3-2-1: ( Gaya 100% T )


A = 6(300 - 5(19 + 2)) + 4. 6 0 ' x
4 x 50
T = U.Af
= 0,9(0,85)(1800)(370) = 50,95 ton

1602 mm2
(89%.Ag)

c.potongan 1-2-2-1: ( Gaya 90% T,)


A

= 6(300 - 4(19 + 2)) + 2.60' x 6 4 x 50 - 1512 mm2 (84%.Ag)

=
= 0,9(1483,2)(370) =
50,35 ton T, = 50,35 10,9 =
55,94 ton
Jadi, T maksimum adalah 47,35 ton.

P.:

47

SOAL-SOAL LATIHAN

SOAL-SOAL LATIHAN

pak
gay
a
ikt

Bila

=2 1

Sebuah batang tarik berukuran 10 mm x 175 mm disambung


ameter 25 mm. Mutu baja yang digunakan adalah BJ 37. Hitunglah
tahanan
tarik rencana
batang tersebut
dengan mengasumsikan Ae = A.
10 mm X 175 mm

0 0 0

Gambar P.3.1

= 3.2 Sebuah batang tarik dari pelat berukuran 10 min x 190 mm, harus
memikul beban coati
sebesar 110 kN dan beban hidup 200 kN. Mutu baja BJ 41 dan
diameter baut 25 mm.
Dengan mengasumsikan
An, periksalah kecukupan batang
tersebut!
10 mm x 190 mm

0 0
0
0
Gambar P3.2
125
mm_

16 mm x 125
mm

125
mm

16 mm x 125
mm

is

= 3.3 Hitunglah besamya luas efektif, A& pada tiaptiap komponen struktur
tarik berikut ini!
(a)

Gambar P3.3

las

(b)

las

3.4 Scbuah batang tarik dari profil siku tunggal seperti pada gambar (dari
baja dengan mutu
BJ 41). Jika baut yang digunakan berdiameter 22 mm, hitunglah
tahanan tarik rencana dari batang tersebut!

48

BAB 3 BATANG TARIK

L 75.75.7

40

75

40

Gambar P 3.4

Profit siku 100.150.10 dari baja BJ 37 disambungkan ke sebttab pelat


simpul dengan baut
berdiameter 25 mm. Batang ini memikul beban mad 200 kN, beban
hidup 400 kN serta beban angin 150 kN. Periksalah apakah profil
siku 100.150.10 tersebut mencukupi untuk memikul beban-beban
yang bekerja!
P.3.5

55
150
Gambar P.3.5

60

Batang tank yang terbuat dad pelat berukuran 6 mm x 125 mm


disambung dengan las
memanjang di kedua sisinya. Panjang las yang digunakan adalah 175
mm. Jika mutu baja adalah BJ 41, hitunglah tahanan tank rencananya!
P.3.6

Sebuah pelat berukuran 10 mm x 250 mm dari baja bermutu BJ 37


disambungkan dengan
baut berdiameter 22 mm. Hitunglah tahanan tank rencana dari
batang tersebut!
P.3.7

Gambar P3.7

SOAL-SOAL LAT1H AN

49

3.8 Profit siku 100.100.12 disambung dengan baut berdiameter 19 mm seperti pada
gambar.
Jika mum baja yang digunakan adalah BJ 37. berapakah tahanan tarik
50

50

50

50

:65

Gambar 3. 8

rencana dari batang tersebut?

bau
t

=.3.9 Hitunglah tahanan geser blok dari suatu komponen struktur tarik berikut, jika
mum baja
BJ 41 dan diameter baut yang dipakai adalah 22 mm!

Serr
a

ntu
k

= 3.10Hitunglah beban tarik terfakmr maksimum yang dapat dipikul oleh batang tarik
4 0

n
las
baja

7 5 7 5
______

4 0

CNP 20

60

100
nga
n

50

Gambar P.3.10

t = 10 mm

berikut,
dengan mernpertimbangkan pengaruh geser blok. Mum baja yang
digunakan adalah BJ 37 dan diameter baut 19 mm.
Pilihlah profi t siku yang cukup ekonomis yang dapat digunakan untuk
batang bawah dari suatu konstruksi kuda-kuda baja (BJ 37) berikut
ini. Semua batang disambung dengan menggunakan las memanjang.
= 50 kN (tipikal)

8 @ 2,75 m = 22 m

2.75 m

4
Batang Tekan
TUJUAN PEMBELAJARAN

Sesudah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:


Memahami kondisi-kondisi dalam merencanakan suatu komponen
struktur tekan
Memahami pengaruh tegangan sisa, panjang tekuk dan tekuk
lokal dalam merencanakan komponen struktur tekan
Melakukan analisis dan desain penampang untuk memikul beban
tekan aksial
Pokok--pokok Pembahasan Bab 4.1 Pendahuluan
4.2 Batang Tekan 4.3 Kekuatan Kolom 4.4 Pengaruh Tegangan Sisa 4.5 Kurva Kekuatan
Kolom Akibat Tegangan Sisa
4.6 Tahanan Tekan Nominal 4.7
Panjang Tekuk
4.8 Masalah Tekuk Lokal
4.9 Kornponen Struktur
Tekan Tersusun 4.10
Tekuk Torsi clan Tekuk Lentur
Torsi

4.1 PENDAHULUAN

Dalam bab ini akan dibahas


mengenai komponen-komponen struktur yang mengalami gaya aksial
tekan. Batang-batang tekan yang banyak dijumpai yaitu kolom dan
batangbatang tekan dalam struktur rangka batang. Komponen
struktur tekan dapat terdiri dari profil tunggal atau profil tersusun
yang digabung dcngan menggunakan pelat kopel.
Syarat kestabilan dalam mendisain komponen struktur tekan
sangat perlu diperhatikan, mengingat adanya bahaya tekuk
(buckling) pada komponen-komponen tekan yang langsing.
4.2 TEKUK ELASTIK EULER

Teori tekuk kolom pertama kali diperkenalkan olch Leonhard Euler


di tahun 1744. Komponen struktur yang dibebani secara
konsentris, di many seluruh serat bahan masih dalam kondisi
elastik hingga terjadinya tekuk, perlahan-lahan melengkung.
Perhatikan Gambar 4.1.

Gambar

4.1

Kolom Euler

4 . 3 K EK U ATAN K O L O M 51

Akibat terlenturnya batang tersebut, maka titnbul momen lentur


sekunder yang besarnya:
M(x) = Py(x)
4.1
Dengan mengingat bahwa:
cr y
M(x)
d x`
EI

to

4.2
Sehingga dari 4.1 dan 4.2 diperoleh suatu persamaan diferensial linear
orde dua dengan koefisien konstan:
cr y P
dx' EI +y
4.3
Dengan mengubah K 2 = P/EI, maka solusi persamaan 4.3 adalah:
y(x) = A.sin Kx + B.cos Kx
4.4
Dari kondisi Batas:
y(0). 0
0 = 0 +B --)B= 0
y(L) = 0
0 = A sin KL

4.5.a
4.5.b

Solusi dari 4.5.b ada tiga kemungkinan, A = 0 yang berarti tak ada
lendutan, KL = 0 yang berarti tak ada beban, serta KL = N.7r (N =
1,2,3,...). Sehingga diperoleh:
N 2 . 7 2

K 2 = _______ =
L2
EI
4.6
Atau dari 4.6, dengan N = 1 (N ditctapkan sedemikian hingga P
memberikan tingkat energi
4.7
yang minimum), diperoleh:
EI
L

ami
ngdar
i

Dan tegangan tekan yang


terjadi:
7 2E
I = =
(LI r )

4.8

Pendekatan Euler pada umumnya diabaikan dalam disain karena


hasil dari percobaanpercobaan yang dilakukan tak sesuai dengannya.
Pendekatan Euler hanya mungkin terjadi bila nilai 1 yang cukup besar
(1 > 110). Untuk nilai 1 yang lebih kecil, akan terjadi tekuk inelastis. Dan bila nilai 1 < 20
akan terjadi leleh pada seluruh penampang. Pada kenyataannya, keruntuhan kolom lebih
banyak terjadi akibat tekuk inelastis.

pe
r-

3 KEKUATAN KOLOM
Kolom ideal yang memenuhi persamaan Euler, harus memenuhi anggapananggapan se)mbagai berikut:
Lam
1. kurva hubungan tegangan-regangan tekan yang sama di
seluruh penampang
bar
2. tak ada tcgangan sisa
3.kolom benar-benar lurus dan prismatis
4.beban bekerja pada titik berat penampang, hingga batang
melentur

5.kondisi tumpuan harus ditentukan secara pasti


6.berlakunya teori lendutan keen (small deflection theory)
7.tak ada puntir pada penampang, selama terjadi lcntur
Bila asumsiasumsi di atas dipenuhi, maka kekuatan kolom dapat
ditentukan bcrdasarkan:

5 2 B A B 4 B A TA N G T E K A N

= _______________________E'A=.A
(LI r)2

4. 9

dengan:
E t = tangen Modulus Elatisitas ada
tegangan P A = luas kotor
penampang batang kL/r = rasio
kelangsingan efektif
k = faktor panjang
efektif
panjang batang

r = jari-jari girasi

Komponen tekan yang panjang akan mengalami keruntuhan


elastik, sedangkan komponen tekan yang cukup pendek dapat
dibebani hingga lcleh atau bahkan hingga memasuki daerah
penguatan regangan. Namun, dalam kebanyakan kasus keruntuhan
tekuk terjadi sctelah sebagian dari penampang melintang batang
mengalami lcleh. Kejadian ini dinamakan tekuk inelastik
4.4 PENGARUH TEGANGAN SISA
Tegangan sisa (residual stress) adalah tegangan yang masih tinggal
dalam suatu komponen struktur yang dapat diakibatkan oleh beberapa
hal seperti
1.proses pcndinginan yang tak mcrata akibat proses gilas panas
2.pcngerjaan dingin
3.pembuatan lubang atau pemotongan saat fabrikasi
4.proses pengelasan
Pada umumnya tegangan sisa banyak dihasilkan akibat proses 1
dan 3. Besarnya tegangan sisa tak tcrgantung pada kuat leleh
bahan, namun bergantung pada dimcnsi dan konfigurasi penampang,
karena faktor-faktor tersebut mempengaruhi kecepatan pendinginan. Profit WF atau profil H setelah dibcntuk melalui proses
gilas panas, maka bagian sayap menjadi lebih tebal dari bagian
badannya, mendingin lebih lambat daripada bagian hadan. Bagian
ujung sayap mempunyai daerah sentuh dengan udara yang lebih luas
dibandingkan daerah pertemuannya dengan badan. Konsekuensinya,
tegangan tekan sisa terjadi pada ujung sayap dan pada daerah
tengah dari hadan. Sedangkan tegangan sisa tarik terjadi pada
daerah pertemuan antara sayap dan hadan.
4.5 KURVA KEKUATAN KOLOM AKIBAT TEGANGAN SISA
Akibat pengaruh tegangan sisa, kurva tegangan regangan seperti
diperlihatkan pada Gambar 4.2.
P/A

P/A
P/A

akibat tegangan
sisa

leleh
inelastik

Pp/A
elastik

(a)

(b)

53

4.5 KURVA KEKUATAN KOLOM

daerah leleh (f, = f)

4.9

fy

72E
inelastik f-

\2

elastik

can
s;ga

ini
x
0

20

90 110

Gambar 4.2 Pengaruh "tegangan Sisa

Untuk memperhitungkan efek dari


leleh awal yang diakibatkan oleh tegangan sisa, perhatikan saw serat
pada penampang sejarak x dari sumbu dengan regangan nol yang
diakibatkan oleh lentur.
Iy
a
ns
i
tk
a
da
)ih

,ar

sumbu dengan regangan nol

:egangan = Et.E)

jarak ke serat terluar

I;arnbar 4.3 tegangan pada Serat Sejarak x dati Sumbn Regangan Nol Akibat Lentur
:aka kontribusi momen lentur dari tegangan pada satu sera adalah:
ITT

(tegangan)(luas)(lengan momen) = (9.E ix)(dA)(x)

4.10

pada seluruh penampang:


JI = fO.E,.x2dA = H f 0.E.x'tIA
_
teori lenturan balok, bahwa jarijari
kelengkungan:
R=

4.11

4.12

5 4 B A B 4 B ATAN G T E K A N

1
=

M
=

4.13

E'I

Sehingga:
E' I = 2 m = E x d4 0
1

4.14
4.15

= I SEI x`dA
A

Lihat kembali kurva


tegangan
regangan
ideal
(garis
putus)
pada
Gambar
4.2,
untuk f < f , maka E
= E, dan untuk f = f
E = 0, maka 4.15
menjadi:

4.17

E = E x2c/A = E

4.18

4.16

A (lastik)

7 E'

7r2E I

A' I
Atau

E
(I II)

P =
= f A

(kL 10'
g
g

'

Bila tak ada tegangan


sisa dalam komponen
struktur tekan, pada
scat I = I, dan f - 1,
berlaku:

7"E

fy
0

=
2

tr

atau A =

fr

4.19

Gambar 4.4 Komponen


Struktur ekan Tanpa
Tegangan Sisa

Tegangan sisa pada


komponen
struktur
tekan
mempengaruhi
bentuk
kurva
pada
daerah 11 < 1 < 12 ,
di maim 0 < le < I.
Pada daerah 0 < 1 <
11, scr = fy.
CONTOH 4.1:
Gambarkan kurva
(f vs 2) untuk tekuk
arah sumbu lemah,
dari profi l I berikut
ini, yang
mempunyai
Profi l
hasil
gilas
panas ini mempunyai
kurva tegangan sisa
yang
sudah
disederhanakan
seperti pada gambar.
Abaikan
konrribusi
dari
bagian
badan
(web). Hasil pengujian
menunjukkan
kurva
tegangan
regangan
material elastoplastik,
E = 200.000 MPa.

55

4.5 KURVA KEKUATAN KOLOM ..

JAWAB:
4.13

Akibat beban luar, regangan yang timbul dalam nap serat bahan adalah sama. Hingga
ter-

4.14

capainya regangan leleh ey yang pertama kali, beban yang bekerja


diekspresikan dengan:
P= fa.d.A=

4.15
Setelah sebagian dari penampang mengalami leleh, maka beban
k

11

kerja menjadi: P (A 4,) fy+ff clA


diabaikan

<
11

4.16

b/4 b/2 b/4

fy/3

4.1 Saat bekerja beban I = P/A < 2f/3, fseluruh penampang masih elastik, sehingga E = E,
:
y
8
atau mengingat persamaan 4.16 menghasilkan E' = E (karena fe = I), sehingga:
4. 1 9
I= 2(1/12)(f )(b / 2)3 . (b I 2)-'
1
_______ =
3
3
I
2(1/12)()(b)
b
8
atau ___
k L = A

7x' (200000)
= 111,072
(2 /3)(240)

( t i t i k 1)

Bila bekerja gaga f. = P/A > 2f/3, ujung Hens akan mulai mengalami
leleh, yang berakibat < I, sehingga:
/ 2(1/12)(ff')(b / 2)3
_
I
2(1 I 12)(tf)(b)3
=
k .L=

(b 12)3 1
b'

72E(I, I I)

(kL I r)

8(kI. I r)2

=
72(200000)
(2 / 3)(8)(240) = 39, 27

Dan ketika bekerja gaya


ng
isa
an

(titik
2)

= P/A = f, maka:

E
: = 8(k L I r) 2
k.
____ = A =
r

71'2(200000)
= 32,06
(8)(240)

(titik

56

B A B 4 B A TA N G T E K A N

Dan bila tak ada pengaruh tegangan sisa, akan diperoleh


7

k.L
____ = A =
r

(200000)

240

(titik
4)

= 90,69

fy
kurva Euler

2/3 f

32,06 39,27

I
0

90,69 111,072

0,35 0,433

1,225

4.6 TAHANAN TEKAN NOMINAL


Suatu komponen struktur yang mengalami gaya tekan konsentris, akibat
beban terfaktor Nu, menurut SNI 03-1729-2002, pasal 9.1 harus
memenuhi:
< 0,N

4.20

D e n g a n : 0 = 0, 8 5
/V = beban terfaktor
= kuat tekan nominal komponen struktur = A f
Tegangan kritis untuk daerah clastik, dituliskan
sebagai:
f, _ 77'E _
1
sehingga

4.21

4.22

Daya dukung nominal Ar i, struktur tekan dihitung sebagai berikut:


N = A -f =A

4.23

4 . 7 PAN J A N G T E K U K 5 7
D e n ga n be sa r n ya w d it e n tu ka n ole h A, ya i tu :
Untuk A < 0,25
( titik 4)

maka

Untuk 0,25 < A

Untuk

=1

4.24.a

1,43
= _____________________________________________4.24.b
1,6-0,67A

< 1,2 maka

maka Lv = 1, 25A2

> 1,2

4.24.c

PANJANG TEKUK
Kolom de nga n ke kangan ya ng besar terha dap r ota si dan translasi pada uj ungujungn ya
(contohn ya tumpua n jepit) a ka n ma mpu menaha n be ban ya ng le bih besar diba ndingkan
dengan kolom ya ng mengala mi r ota si ser ta tra nsla si pada ba gia n tumpua n ujungn ya (c on tohn ya adala h tumpuan se ndi). Sela in kondisi tumpuan ujung, besar be ban ya ng da pat
diter ima ole h suatu komponen str uktur te kan juga tergantung dari panjang efe ktifn ya .
Se ma kin ke cil pa njang efektif sua tu komp one n struktur te kan, ma ka se ma kin kec il pula

risikonya terhadap masalah tekuk.

Garis putus
menu nj u kkan
posisi kolom
pada saat
tertekuk

1
li

terfakto
4.20

Varga
K teoretis

0,5

0,7

K desain

0,65

0. 80

1,0

1,2

1,0

2,0

2,0

1,0

2,10

2,0

4.21
jepit
sendi
4.22

Keterangan

1.T1

rol tanpa rotasi


ujung bebas

4.2:

Gambar 4.5 P a n j an g Teku k un tu k B e be r a pa K on d i s i Lr Ic la ka n 'G a mba r - . 6 -1 S N 1 0 3 -17 29 -20 02 )

58 BA B 4 B ATAN G TEKA N

Panjang
efektif
suatu kolom secara
sederhana
dapat
didefinisikan sebagai
jarak di antara dua
titik
pada
kolom
tersebut
yang
mempunyai
momen
sama dengan nol, atau
didefinisikan
pula
sebagai
jarak
di
antara dua titik belok
dari
kelengkungan
kolom. Dalam
perhitungan
kelangsingan
komponen
struktur
tekan
komponen
struktur
yang digunakan harus
dikalikan suatu faktor
panjang tekuk k untuk
memperoleh panjang
efektif
dari
kolom
tersebut.
Besarnya
faktor panjang efektif
sangat
tergantung
dari
kondisi
perletakan
pada
ujung-ujung
komponen
struktur
tersebut.
Prosedur
penentuan
nilai
k
dilakukan
dengan
analisa
tekuk
terhadap suatu kolom,
dan
cara
analisa
tersebut tidak dibahas
dalam buku ini.
SNI 03-1729-2002
pasal
7.6.3.1
memberikan
daftar
nilai faktor panjang
tekuk untuk berbagai
kondisi
tumpuan
ujung
dari
suatu
kolom. Nilai k ini
diperoleh
dengan
mengasumsikan
bahwa kolom tidak
mengalami goyangan
atau translasi pada
ujung-ujung

tumpuannya.
Nilai
k
untuk
komponen
struktur
tekan dengan dengan
kondisi-kondisi
tumpuan ujung yang
ideal seperti dalam
Gambar 4.5 dapat
ditentukan
secara
mudah dengan menggunakan
ketentuanketentuan di atas,
namun untuk suatu
komponen
struktur
tekan
yang
merupakan
bagian
dari suatu struktur
portal kaku seperti
dalam Gambar 4.6,
maka nilai k harus
dihitung berdasarkan
suatu
nomogram.
Tumpuan-tumpuan
pada
ujung kolom
tersebut
ditentukan
oleh hubungan antara
balok dengan kolomkolom lainnya. Portal
dalam Gambar 4.6.a
dinamakan
sebagai
portal
bergoyang
sedangkan
portal
dalam Gambar 4.6.6
disebut sebagai portal
tak
bergoyang
(goyangan
dicegah
dengan
mekanisme
kerja dari bresingbresing
yang
dipasang).
(
a
)
(
b
)

Gambar 4.6
Portal Kaku
Bergoyang dan
Tanpa Goyangan

Nilai
k
untuk masing
masing
sistem portal
tersebut
dapat dicari
dari
nomogram
dalam
Gambar 4.7.
Terlihat
dalam
Gambar
4.7
bahwa nilai k
merupakan
fungsi dari GA
dan G8 yang
merupakan
perbandingan
antara
kekakuan
komponen
struktur yang
dominan
terhadap
tekan (kolom)
dengan
kekakuan
komponen
struktur yang
relatif bebas
terhadap
gaya
tekan
(balok). Nilai

G ditetapkan
berdasarkan
persamaan:

'
L

G=_______
L
L
b

4.25

4 . 7 PAN J A N G TE K U K 5 9

ak di
atau
)
alam
uktu
r
njan
g
3ndi
si
ilai k
tidak
teku
k en
gan
ujun
g

Persamaan 4.25 dapat dikecualikan untuk kondisi--kondisi berikur:


a.
untuk komponen struktur tekan yang dasarnya tidak terhubungkan
secara kaku pada pondasi (contohnya tumpuan sendi), nilai G tidak boleh diambil
kurang dari 10, kecuali bila dilakukan analisa secara khusus untuk mendapatkan
nilai G tersebut
b.
untuk komponen struktur tckan yang dasarnya terhubungkan secara kaku
pada pondasi (tumpuan jepit), nilai G tidak boleh diambil kurang dari 1, kecuali
dilakukan analisa secara khusus untuk mendapatkan nilai G tersebut\

Besaran\L dihitung dengan menjumlahkan kekakuan scmua komponen struktur


tekan (kolom)dengan bidang lentur yang samayang terhubungkan secara
kaku pada
ujung komponen struktur yang sedang ditinjau. r
Besarandihitung dengan menjumlahkan kekakuan semua komponen struktur
lentur (balok)dengan bidang lentur yang sama_yang terhubungkan secara kaku pada

tpua
n
men
gyang

a
nilai
kolo
m
Po r t a
l
amba
r
kerja

Gambar 4.7 Nomogram Faktor Pan jang 'rank, k (S N1 03-1729-2002

G1).7.6-2)

n CONTOH 4.2:
oogra
m iari
G,1
omina
n

Hitunglah nilai k untuk masingmasing kolom dalam


struktur berikut:

JAWAB:
3 m
K

ujung komponen struktur yang sedang ditinjau.

soot

10
0
5.03.0

10

GA

59.0
100
9

5.0
3
0

0.8

1.0

0
0.
8

08:
06

=07

0
C.4

- 0.7
04
0
3

0
6

01-

0
2

x130 0 -50 0
30
20

5.0
- -40

10 0

30

40

20

90
8
700
60
50

0
10.0

30
20

15

100.
0
30

20

90
10.0
80
7.0
60

50
40

3.0
2.0

1 0 .

1.

0.1

0
0.5
a) Kornponen Struktur lak
bergoyang

(5)Komponen Struktur bergoyang

6 0 B A B 4 B ATAN G TE K A N
Faktor kekakuan masingmasing elemen:

L (cm)

ILL

4720

350

13,486

4720

300

15,73

WF 250.125.6.9

4050

350

11,57

WF 250.125.6.9

4050

300

13,5

GH

WF 200.200.8.12

4720

350

13,486

HI

WF 200.200.8.12

4720

300

15,73

BE

WF 450.200.9.14

33500

600

55,83

I (cm')

Elemen

Profil

AB

WF 200.200.8.12

BC

WF 200.200.8.12

DE
EF

CF

WF 400.200.8.13

23700

600

39,5

EH

WF 450.300.11.18

56100

900

62,33

WF 400.300.10.16

38700

900

43

Faktor G tiaptiap joint:


Joint

S (I/L)c / S (I/L)b

A
B

(13,486+15,73) 155,83

0,523

15,73 / 39,5

0,398

(11,57+13,5) / (55,83+62,33)

0,212

13,5 / (39,5+43)

0,164

10

10

10

(13,486+15,73) / 62,33

0,469

15,73 / 43

0,366

Faktor panjang efektif, k, masingmasing kolom:


Kolom

GA

GB

AB

10

0,523

1,80

BC

0,523

0,398

1,15

DE

10

0,212

1,72

EF

0,212

0,164

1,07

GH

10

0,469

1,79

HI

0,469

0,366

1,18

4. 9 K O MP O N E N S TR U K T U R TE K A N TE R S U S U N

61

=8 MASALAH TEKUK LOKAL

Jika penampang melintang suatu komponen struktur tekan cukup


tipis, maka akan ada kemungkinan timbul tekuk lokal. Jika tekuk lokal
terjadi maka komponen struktur tersebut tidak akan lagi mampu
memikul beban tekan secara penuh, dan ada kemungkinan pula
struktur tersebut akan mengalami keruntuhan. Profil-profil WF
dengan tebal Hens yang tipis cukup rawan terhadap bahaya tekuk
lokal, sehingga penggunaan profil-profil demikian sebaiknya
dihindari.
SNI 03-1729-2002 membatasi rasio antara lebar dengan
ketebalan suatu elemen, dan penampang suatu komponen struktur
dapat diklasifikasikan menjadi penampang kompak, tak kompak dan
langsing. Suatu penampang yang menerima beban aksial tekan
murni, kekuatannya harus direduksi jika penampang tersebut
termasuk penampang yang langsing. Rasio antara lebar dengan tebal
suatu elemen biasanya dinotasikan dengan simbol
Untuk profil WF maka kelangsingan flens dan web dapat
dihitung berdasarkan rasio bf /2ti dan h/t dengan bf dan tf adalah
lebar dan tebal dari liens sedangkan h dan tw adalah tinggi dan
tebal dari web. Jika nilai I lebih besar dari suatu batas yang
ditentukan, Ar, maka penampang dikategorikan sebagai penampang
langsing dan sangat potensial mengalami tekuk lokal. Batasanbatasan A. untuk berbagai tipe penampang ditunjukkan dalam
Gambar 4.8.

x. KOMPONEN STRUKTUR TEKAN TERSUSUN


Komponen struktur tekan dapat tersusun dari dua atau lebih
profil, yang dilakukan dengan menggunakan pelat kopel. Analisis
kekuatannya harus dihitung terhadap sumbu bahan dan sumbu
bebas bahan. Sumbu bahan adalah sumbu yang memotong
semua elemen komponen struktur tersebut, sedangkan sumbu
bebas bahan adalah sumbu yang sama sekali tidak, atau hanya
memotong sebagian dari elemen komponen struktur tersebut.
Analisis dilakukan sebagai berikut:
Kelangsingan pada arah sumbu bahan (sumbu x)
dihitung dengan:

4.2
6

4.2
7

kLx
r

Dan pada arah sumbu bebas bahan harus dihitung kelangsingan ideal4.2
A:

zy

71

= .A'Y + A
2 '

da n
kL

A = ______ dan A =
r

Dengan:

LL

panjang komponen struktur tekan arah x dan

arah y
k
i

x" y, rni n

rn

= faktor panjang tekuk


= jarijari girasi komponen struktur

konstanta yang besarnya ditentukan dalam


peraturan
L1
= jarak antar pelat kopel pada arah komponen
struktur tekan
Pelat kopel yang digunakan harus cukup kaku sehingga memenuhi
persamaan:
=

6 2 BA B 4 BATAN G TEKAN

612

t,

>101

4.29

Den ga n: / p = m om en ine s ia pelat kopel , untu k pelat kopel di mu ka dan di


b
t t

_________L_.

L__ _1
d

b11.250/NIfy
d I t 335Af y

bF / 2t, 250/NifrT,
h I t, 5_ 6654(

-4-

DIt5 22000 f

t
1- b-.4J

It

-s

blt< 6251

h / .665/NiTy

b/t5..250/&,

b I t 625/ /f
b I t 200/ f: -

b t 250/ If y
h 1 t 5_ 665/1(

Gambar 4.8 Nilai Batasuntuk Berbagai Tipc

PenanTAT::

4.9

4.29

K O M P O N E N S T R U K T U R TE K A N T E R S U S U N 6 3

belakang yang tebalnya t dengan tinggi h, maka


= momen inersia minimum sate buah profi l
a = jarak antar dua pusat titik berat elemen komponen
struktur
//

Selain ketentuan tersebut di atas, unruk menjaga kestabilan clemen


elemen penampang komponcn struktur tersusun, maka harga
Ay, dan 21, harus
memenuhi:

1,2 2.,

4.30

A' 50

Pelat kopel harus dihitung dengan rnengar i ip bahwa pada


seluruh panjang komponen struktur tersusun rersebur bekerja gava
lintang yang besarnya:
D = 0,02 N
4.31
nCONTOH 4.3:
Rencanakan komponen struktur retain berikut .rcmakai profil
takan jcpit scndi. Beban aksial tekan terfaktor
7
Mutu
iMPa, = 370 NIPa). Panjang batang L = 45(;)
Gambar 4.9 Pelat

Kopel pada Batang Tckan Tersusiin

a' = 298 mm
b = 201 mm t = 9

C o b a p r o fi l W F 3 0 0 . 2 0 0 . 9 . 1 4
inm

disi perle= 120 toys.


= 240

64

B A B 4 B ATA N G T E K A N

t = 14 mm

r = 18 rnm
h = d-2(t f + r o ) = 234 mm
r = 126 mm
ry = 47,7 mm
A = 8336 mm2
JAWAB:
Periksa kelangsingan penampang:
Fl e n s

b/2

201

= 7,18
2x14
250
= 16,14

250

J240 612
OK

<A
tf

Web

h234

= 26
OK

665

665

f, N/240

h <

= 42,92

tw

Kondisi tumpuan jepitsendi, k = 0,8.


Arah sumbu kuat (sumbu x):
k.L

0,8x4500

= 28,57

126

A \ if

28,57 \ I

1,6-0,67k

= A240 =Y 0,3149
=
71 E
7r 200000
0,25<k<1,2-3W=
1,43
_________________
120
1,43 u.)
____________ = 0,73<1
1,0295 =
' 1,6(0,67x0,3149)
4.f= =A
ton

240 = 8336 =194,3


1,0295

0,85x194,3
Arah sumbu lemah (sumbu y):

OK

4 . 9 K O MP O N E N S TR U K T U R TE K A N TE R S U S U N

65

k.L
0,8x4500
A = ___Y =
= 75,47
47,7
= Ay \t if y
` ) E 7

75,47 \ I 240 = 0,832


2 0 0 0 0 0
1, 43
<1,2 (.L.;
=
1,43

0,25 < A

=
1,6 (0,67x0,832)
N=A.f =A

cv.

=
240
1,372
=
1,372

= 0,97<1
120
_ ____________

=145,82 ton
.N 0,85x145,82

OK

OK
Jadi, profil WF 300.200.9.14 cukup untuk memikul beban tekan
terfaktor 120 ton.

OK
t = 14 mm
A = 4609 mm2
rg
= 29,8 mm
= 62,9 mm

CONTOH 4.4:
Rencanakan komponen struktur tekan berikut, yang menerima beban
aksial tekan terfaktor, N = 60 ton. Gunakan profil T. Panjang batang 4000
mm, dengan kondisi tumpuan
jepitjepit. Mutu baja BJ 37.
Coba
profi l T125.250 d =
125
mm b = 250 mm
t W = 9 mm

JAWAB:
Periksa kelangsingan penampang:
Flens

bt

250
= 8,93
2.t f 2 x14
250 250
= 16 , 1 4
f -s/2.40

bt

2.t r

OK

We b

OK

d125

=13,88
t
9
3 3 5 3 3=
5 21,62

\ Ty V240
d

<A

Kondisi tumpuan jepitjepit, faktor panjang tekuk k = 0,65.

OK

66

B A B 4 B A TA N G T E K A N

Arah sumbu lemah (sumbu x):


k.L
0,65x4000
= 87, '5
29,8
87, 25 240
7
200000 = 0,9617
\ I
1,43
0 , 2 5 < A < 1, 2
1,60
,
67A,
1,43
_____________ = 1,4963
1,6 (0,67x0,9617)
= ___\

240
= A f = A
= 4609. 1, 4963 = 73,93 ton

60
______ = _____________ = 0,95-5 <1
0N
0,85x73,93

OK

Arah sumbu kuat (sumbu y):


4L
0 65 v4000
62 9= 41,335
,
=
A y er

41,335
240
=

0,25 < A <1,2

0,
4556
200000
1,43
= ____________
1,6-0,67A

1, 43

1,6(0,67.0,4556)
=A
N.
0 AT

=A

= 1,1043

= 4609_2 40 =100 16 ton


1,1043

120
= 0,705 <1
0,85x100,16

OK

jadi, profil T 125.250 cukup untuk memikul beban terfaktor N = 60


ton. 4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR TORSI
Jika sebuah komponen struktur tekan dibebani beban aksial tekan
sehingga terjadi tekuk terhadap keseluruhan elemen tersebut (bukan
tekuk lokal), maka ada tiga macam potensi tekuk yang mungkin
terjadi di antaranya:
a.Tekuk lentur, pada umumnya kekuatan komponen struktur
dengan beban aksial tekan murni ditentukan oleh tekuk lentur.
Hing,ga kini komponen struktur tekan yang dibahas adalah komponen
struktur tekan yang mengalami tekuk lentur. Tekuk lentur
mengakibatkan defleksi tehadap sumbu lemah (sumbu dengan rasio
kelangsingan terbesar). Setiap komponen struktur tekan dapat
mengalarni kegagalan akibat tekuk lemur,
b.Tekuk torsi, model tekuk ini terjadi akibat adanya puntir dalam
sumbu memanjang komponen struktur tekan. Tekuk torsi hanya terjadi
pada elemen-elemen yang langsing dengan sumbu simetri ganda.
Benruk profil standar hasil gilas panas umumnya ridak mempunyai
resiko terhadap tekuk torsi, namun profil yang tersusun dari pelatpelat tipis harus diperhitungkan terhadap tekuk torsi. Sebagai contoh,
penampang yang riskan terhadap tekuk torsi adalah penampang
berbentuk silang dalam Gambar 4.10.h. Penampang ini dapat disusun

dari empat buah profil siku yang diletakkan saling membelakangi.

67

4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR ...

c.
Tekuk lemur torsi, yang terjadi al:1).dt kombinasi da.ri tekuk
lentur dan tekuk
torsi. Batang akan terlentur dan terpuntir secara bersamaan. Tekuk
lentur torsi dapat terjadi pada penampang-penampang dengan sate
sumbu simetri saja seperti profil kanal, T, siku ganda, dan siku
tunggal sama kaki. Selain itu juga dapat terjadi pada penampangpenampang tanpa sumbu simetri seperti profit siku tunggal tak sama
kaki dan profil Z.
Gambar 4.11.a menunjukkan sebuah komponen struktur tekan
dengan penampang melintang berbentuk silang, sedangkan Gambar
4.11.b adalah sebuah potongan sepanjang 4 dari komponen struktur
tersebut. Pada suatu potongan elemen dA bekerja gaya tekan fdil.
Pada awainva tegangan yang terjadi adalah scragam pada seluruh
panjang elemen

)K

k
Gambar 4.10 Tiga Macam Model Tekuk Komponen Struktur Tekan

\\

K
sebab beban tekan (a)
yang
bekerja
konsentris.
Akibat
beban
Tekuk
Lentur adalah
(b) Tekuk
Torsi
(c) Tekuk
Lentur
yang bekerja akhirnya suatu titik yang tcrletak sejarak Torsi
z dari ujung
elemen akan tertekuk seperti pada Gambar 4.11.c. Perpindahan pada
titik tersebut dari posisi awalnya adalah sebesar u + du. Dar; Gambar
4.11.a diperoleh hubungan:
u = r0
4.32
dengan f adalah sudut puntir dan r adalah jarak dari pusat geser ke
dA.
Jumlahkan momen-momen terhadap sumbu z dalam Gambar 4.9.b:
dTv = r.dQ.dr = 0

4.33

Jumlahkan pula momen-momen dalam Gambar 4.11.d:


dMdr + Qdr.dz + fdA.du = 0
Dari persamaan 4.34, selesaikan untuk Q dan kemudian
diferensialkan ke-z:
dNI
du

4.34

4.35

68

B A B 4 B ATAN G T E K A N

(c)
(d)
Gambar 4.11 Tekuk
Lentur Torsi pada
Penampang Berbentuk
Silang

dQ

dr =

u + du

d' M
(a)
____
dr f
dA ti

61

_____

4.36
dz2

dz

dz2

Bagilah persamaan
4.33 dengan dz, dan
substitusikan
hasilnya ke dalam
persamaan
4.36:
dT,, +

f r.

dQ

dT,

Q.dr

.4

dz
( d2 M

d'uj
___dz'
+
.1- dz: dr f 614 dz2

M.dr

3.
dz

(M+dM)dr t)

.dr

dz

fdA

(M + dM)dr

(Q + dQ) dry
dA

= 04.38

dT, + i r '612 M
dr f i rd u .dA
=0
4.39
d z .I
2
2
A dz
.,

Karena
M
adalah
momen
per
satuan
r, maka
momen
pada
elemen
dA (=
t.dr)
adalah
M.dr,
sehingg
a:

dz

4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR ...

d2u
dr u
Mdr = ________= E
dz2
12 dz2

69

4.40

Dengan I = t 3 .drI12 adalah momen inersia dari elemen dA.


Diferensiasikan persamaan 4.40 dua kali ke-z dan substitusikan
d 2 M/dz 2 ke dalam persamaan 4.39, sehingga diperoleh hubungan:
dT,
3
u
tr d4 u
=0
+ E
4.41
4 .
dz
12J A el.c r.dr+ f fr-dz,rdA
Karena

= GJ- do ,

d20Substitusikan dTv/dz
ke dalam persehingga

az; =GI dz2

dT

samaan 4.41:
-G J .0" +

E.t3
12

4.42

dr + f .0" j r2 dA = 0

Dengan mengingat
3
bahwa:
1
r 2 dr = 4x -.r 3 = 4.b
3
A
3
dan f r2.di4 = I, (Ii, adalah Inersia polar)

4.43
4.44

Maka persamaan 4.42 dapat disederhanakan


E . ? 4 . 6 3
Imenjadi:
0
-G.J.0"+
+ f .0". p =
12
3
0'
4.b3
12

C)

E.1-3
atau 9

imaan

ah

.0' +(f I - G . J ) . 0 " = 0

atau 0' K2 r" = 0


dengan K2 =

idal

+(f I n -G J).0" = 0

4.46
4.47

Faktor b 3 .t3 /9 disebut sebagai konstanta torsi warping, C u , untuk


penampang berbentuk silang. Masalah konstanta torsi warping ini
akan dibahas lebih lanjut dalam bab VIII tentang torsi. Persamaan
4.47 dapat disederhanakan menjadi:
fI -GJ
cyv ___________
EC
0" = 0
4.48

4.36

4.39

4.45

4.38

4.49

fI -G-J
P
4.50
EC,,

Persamaan 4.49 merupakan suatu persamaan diferensial linear


homogen orde kcempat,
yang mempunyai solusi:
0=

Kz + B.cos Kz + Cz + D

4.51

Konstanta A, B, C, dan D dapat ditentukan dengan menggunakan kondisi


batas yang ada. Jika tumpuan pada ujung-ujung kolom adalah jepit,
maka dapat digunakan empat buah kondisi batas sebagai berikut:
0z= 0 = 0 0 =B+ D
dtz = L = 0 0 = A.sin KZ + B.cos KL + CL + D

du\ z 0 = 0
(

dz1

0 = A.K + C

70

B A B 4 B ATAN G TE K A N

du z = L = 0

= A.Kcos KI.
B.Ksin KL + C
dz

Eliminasikan C dan D
dari
keempat
persamaan
tersebut
sehingga diperolch dua
bud, persamaan linear:
A(sin KL KL) +
B(cos KL 1) = 0
A(cos KL 1)
B.sin KL

Solusi dari sistem


persamaan
linear
tersebut
eksis
jika
determinan
dari
persamaan
tersebut
sama dengan nol, jika
evaluasi
terhadap
determinan dilakukan
dan
disamakan
dengan
nol,
maka
akan
diperoleh
persamaan:
la (
sin 2.sin________________

2
2)

KL

cos
=0
4.5
3

Persamaan
4.53
terpenuhi, jika K112 =
TC atau KLI2 = 4,49.
Substitusikan nilai akar
terkecil
ke
dalam
persamaan
4.50,
sehingga
didapatkan
tegangan
kritis
minimum:
+

I
P

\2__
(1/ X L)
2

4.54

Jika ujung-ujung kolom


adalah tumpuan sendi,
maka kondisi batas
yang ada adalah

LP

d2u/dz2 = 0 pada z = 0
dan z = L, serta 0 = 0
pada kedua ujung
kolom, maka diperoleh
besar tegangan kritis:

f, =

G J 7 2 E.C
4.55
L2 .1

Secara umum f c , dapat


dituliskan menjadi:
GJ 72.E.C.
f,

4.56
1p (KLy.ip

Dengan
k
adalah
faktor panjang efektif
yang tergantung pada
tumpuan ujung kolom,
k = 1/2 untuk jepit dan
k = 1 untuk sendi.
Persamaan
4.56
berlaku untuk profilprofil
dengan
dua
sumbu
simetri
(sebagai
contoh
adalah profil silang
dan
profil
WF).
Selanjutnya
dapat
ditentukan
jari-jari
girasi
profil
yang
dapat
menimbulkan
tekuk
lentur
torsi,
yaitu
dengan
cara
menyamakan f r dari
persamaan 4.8 dan f c ,
dari persamaan 4.56:
7

EGI 72E-6
= ____+
______
I
kg,/
P (K0 2
2

'

LP

4.56

4.57

,
C +0,041(k1)
2

Lps

Jika r, dari persamaan


4.57 lebih kccil dari
atau r profil, maka

keruntuhan profil akan


ditentukan oleh tekuk
lentur torsi. / ti dalam
persamaan 4.57 adalah
momen inersia polar
terhadap pusat geser.

4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR .

uah

71

CONTOH 4.5:
Tentukan ripe keruntuhan komponen struktur tekan berikut ini, jika
diketahui bahwa panjang kolom tersebut adalah 4,5 m dan pada ujungujung kolom tidak terjadi momen torsi (kekangan jepit).
JAWAB:

2.a
2.b

I=I=

1
b = 15 cm

an
:an

Ip s = I + I = 5400 cm 4

b = 15 cm
53

j = 4. 1 .6 3 .t = 4. 1 .15(12) 3
3
3
= 34,56 cm4

L15 cm -1-15 cm -J

cil
b34-3 (15x1,2)3 C
9
9
54

rz
2

ar
5

it

,
3
2x15 3 x1,2
= 2700 cm
3

=648 cin6

=
6,124
cm 72
2648 + 0,04(34,56)(450/2)2
rt
= 13,08 cm2
5400
= 3,62 cm
,\12700

Jadi, profil tersebut akan mengalami keruntuhan akibat tekuk lentur


torsi.
CONTOH 4.6:
Periksalah apakah keruntuhan tekuk lentur torsi dapat terjadi pada
profil WF 400.200.8.13
berikut ini:
J AWAB :

r b = 200 1 1itf= 13
L____, ,....-1 ---1
i
w=

3
=2140576=1 4

h = 400

.... 1
2
13)
(1740.104)/4
n.

J z- - 12(200)(13) 3 + (3708) 3 ]

Cu =h2.1) /4

= (400
=65149515.10 4 mm 4

= Ix + I = (23700 + 1740).104 = 25440.104 mm 4


C
r

0, 04 J-L 2 = 65149515.10 4 0,04 x 2140576 x L 2


t
25440
+ 10 25440.104

= V2560,91+0,0003361 2
r, min = 50,60 mm (dicapai jika L = 0 mm)

karena rt min > ry, (= 45,4 mm), maka profil ini ridak akan mengalami
tekuk lentur torsi, dan keruntuhannya akan ditentukan oleh tekuk lentur
terhadap sumbu y.

72 BAB 4 BATANG TEKAN

SNI 03-1729-2002
pasal 9.2 mensyaratkan
pemeriksaan terhadap
tekuk lentur torsi untuk
profil-profil siku ganda
dan profil T. Dinyatakan
bahwa
kuat
tekan
rencana akibat
tekuk lentur torsi,
komponen
struktur
tekan yang terdiri dari
siku
ganda
atau
T,

berbentuk
memenuhi:

harus
4.58

<
N,21,

Dengan:
= 0,85
Ni,.n=
Ag ',dt
fit
2H

4 f,

4.59

(1,,,+4, ) 2

Dan:
GJ

kr
1)2

Iy

=
A

H =1

Keteranga

4.60

2
2
+xo + Yo

X0 +Yo
_2

4.61

2\

4.62

ro

a.x0, yo merupakan koordinat pusat geser terhadap titik berat, x 0 =


0 untuk siku
ganda
dan profil T.
n CONTOH 4.7:
b
.
f
=
f
/
(
0
Periksalah apakah
crY
Y
F.
G
adalah
modulus
profi l L 60.90.10
c.
G =
berikut cukup kuat
2(1+ v)
menahan beban
d.
J adalah
aksial terfaktor
= 30 konstanta puntir, J 1 3
ton, jika panjang
batang 3 m dan
kondisi perletakan
jepit-sendi. Mutu
baja BJ 37.

Data profil
A = 1410
mm2 ex =
30,5 mm e
y= 15,6 mm
I =112.104
mm`'
= 39,6.10 4 mm 4
r = 28,2
mm
x
r = 16,8
mm r q =
12,8 mm t
= 8 mm

tp
A
L
V

L
ie

10

eY

I._

60]

4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR ...

JAWAB:

orsi
ibat

73

Periksakelangsingan penampang b 90 n
Flens

.tau

10

200200
penampang tak kompak

1-f y

12,91
A.1240

b 200
___<

.59

t 114,
Web
60

Tak ada syarat

Kondisi tumpuan jepitsendi, k = 0,8


Dicoba menggunakan 6 buah pelat kopel:
3000

61

OK

Al
62

ku

OK

1.875.331,2 mm4
= 6-1 =600 L,= 600
_____________ = 46,875<50
12,8

t;i
or
BJ

Arah sumbu bahan (sumbu x):


0 8x3000
=____' = '
= 85,10
/7
28,2 ,
(= 85,10) > 1,2 Al (= 56,25)
Arah sumbu bebas bahan (sumbu y):
Ay = 2 (Ay, + Ag(ey + tp12)2)
A

= 2 (39,6.104 + 1410 (15,6+4)2) =

Ap,op=

2 x 1410 = 2820 mm2

A r ri

poin

-_________ = /1875331'2 = 25,7878 mm


' 2820

= k.L y = 0,8x3000
_________ = 93,06
25,7878

Kelangsingan ideal:
2 _Fri2

Al

46,8752 = 104,1989
2
Ary = 93,06 +22
A ty

( =

104,1989) > 1,2 A, ( = 48,696 )

Karena A. > Ax, tekuk terjadi pada sumbu bebas


bahan
fy 104,1989 240
TC

200000

= 1,1489

7 4 B A B 4 B A TA N G T E K A N

0,25<

1,43
cU = _______________
1,6-0,67/1

<1,2

1,43
________________ = 1,722
1,6(0,67x1,1489)
N = Ag.f. = A,.______ =2820240
w..
1,722

= 39,3
ton

Periksa terhadap tekuk lentur torsi: A it


A

/It

,y+frz
2H

1
_

2H

ft =

(f,y+f-J2
f Y+

( ,

1 I1

frz)2
G.J A.ro
G=

200000
= 76923 MPa
2(1+ v) 2(1+0,3)

J = 1 b.t 3 = 2
y0 = e

.60.10 3 + 1 3 .(90-10).10 3
3

- t/2 = 30,5 - (10/2) = 25,5 mm x

_ 2

co,1,722
f a t = 1 3 4 , 41 M Pa

= 93333,3
mm4

=0

(112 +39,6).104 +0+25,52 =


1187,84 mm2 2820
= 2143,314 MPa
+1,

+x,+y,

N1,. =g fit = =
2820
134,41
= 37,9 ton
xo x+.Y0
= 1 0+25 ,5` = 0,4526
H
1187,84
3acti, tekuk lentur torsi
menentukan. 0c.N
f, nit = 0,85 x
= 139,373 MPa
37,9 = 32,2 ton
o.N it
Profil J

_30
_____ = 0,93<1
32,2
60.90.10 cukup kuat.

75

4 '0 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR ..

nCONTOH 4.8:
Sebttah komponen struktur tekan dengan beban aksial terfaktor

= 80 ton clan memiliki

panjang batang 4,5 m. Rencanakan komponen struktur tersebut dari dua buah profil kanal tersusun,
rencanakan pula dimcnsi pelat kopelnya. Mum baja BJ 37.

JAWAB:

75

10

75

Dicoba profil kanal CNP 20:


Data CNP 20 A = 3220 mm 2
w , ;
\ e ~ = 2 0 , 1 m m

I = 1910. 10' m m
148.10' mm`'
r = 77 mm

200

21,4 mm

t f =11,5 mrn
t = 8,5 mm

t - 10 mm

Kondisi tumpuan jepit-sendi, k = 0,65


Periksa kelangsingan penampang:

I)

Fl ens

75

11,5
250
250
______= _____

.
6,52

A1240

= 16,137

b 250

OK

t
h 200

We b

____ = 23,53
8,5

t .,,

665

665

r7,
-11'

.V240

= 42,92

OK
OK

<

Dicoba pasang 10 pelat kopek


4500
5 0 0
10-1
L,
500
= ______ -=
21,4

L =

= 23,36<50

OK

Arab sumbu x.

0,653:4500
=
= 37,99
77
(= 37,99) > 1,22(=
28,032)
k.L,

OK

76 B A B 4 B ATAN G TE K A N

Arah sumbu y:
I
= 2 (l y, + Ag(e),
+ t/2)2 )
= 2 (148.104 +
3220
y

= V _________
A p , / ,
6440 = 33,01
A

= kl, = 0,65x4500
= 88,61 mm
ri
33,01

Kelangsingan ideal:

= Ai 2 188,612+-223,362
OK

= 91,64
Karena Iry>
bahan

tekuk terjadi pada sumbu bebas


fy =

E
0,25 <

1,2

(20,1
+
5)2)
7.017.264,4 mm4

91,64 AI 240
7r200000 = 1,0105
1,4
3
1,6-0,67

co , =

A.

A p4/ = 2 x 3220 =
6440 mm 2
1 , 4 3
Co =
1,6
(0,67x1,0105)
N = =1,549
A
= 99,78
A ___=
6440
=
ton
gr

2
4
0
g

1,5
49
0,.N= 0,85 x
99,78 = 84,8 ton
Nu_ ______
=0,94<1
.N 84,8
Perhitungan dimensi
pelat kopel:
Syarat kekakuan pelat

OK

kopel, adalah harus


dipenuhinya:
IP
I
a
Li
= I yr.y =
148.104 mm4
L / = 500 mm
a
=
2
e
+
t
=
(2
x
2
0,
1)
+
1
0
=
5
0,
2
m
m

I
P

1,
11)

I _?_10.148.104 50,2
500
P

/, >1485920 mm 4

4.10 TEKUK TORSI DAN TEKUK LENTUR ...

Bila Ir = 2.112t.h3 , dengan tebal pelat

(t =

77

8 mm), diperoleh h > 103,6 mm.

Gunakan h = 110 mm.


Cek kekuatan pelat kopel:

D u = 0,02 N = 0,02 x 80 ton = 1,6 ton


Gaya sebesar 1,6 ton dibagi untuk 10 pelat kopel, sehingga masing
masing kopel memikul 0,16 ton.
Kuat geser pelat
kopel:
110
== ______________ =13,75
t
8
5
k = 5+__________ = 5+
OK

(alh)2

(50,2/1/

5
10

= 29

)2

29x200000
k.E _
= 171
1,1 _____11
240
k .E
f
y
k,<1,1 ' sehingga
fy

V = 2.0,6fy.21,= 2(0,6)(240)(110)(8) =
25,344 ton 0V, = 0,9 V = 0,9(25,344) =
22,8 ton

OK

V = 0,16 = 0,009 <1

OK

n CONTOH 4.9:
Sebuah kolom dari profil baja (BJ 37) dengan panjang batang 5 m,
mempunyai tumpuan ujung sendi-sendi. Pada arah sumbu lemah diberi
sokongan lateral di tengah bentang. Beban aksial terfaktor, N = 75 ton.
Pilihlah profil WF yang mencukupi kebutuhan kolom tersebut.
JAWAB:
Coba profil INP 30:
Data INP
30: d =
300 mm b
mmmm
2500 t=a , 125
= 10,8

I
I
I

= 16,2 mm
h = 241 mm
tf

I
I

I
I

2500 A = 6910 mm
= 9800.10 4 mm 4
I = 451.10 4 mm 4
r, = 119 mm
r = 25,6 mm

r--

7 8 B A B 4 B A TA N G T E K A N

Periksa
kelangsingan
penampang:
/712
125

Flens

2
x
1
6,
2
170
170

_
1
0
,
9
7
\
2
4
0
b/2
170
<
______
pena
mpan
g
komp
ak

Ad
i

W e b

2 4 1
=
______
=
22,31
t,
10,8

1680
1689=108,44
f,
1,

240

1
6
8
0
<
t,,,- \ /f,

penamp
ang

kompak

Arab sumbu bahan


(sumbu
5
=
__________
000
017 = 42
,
11
9
Arah
s
u
m
b
u
b
e
b
a
s
b
a
h
a
n
(
s
u
m
b
u
y
)
:
k
.
L
,
.

2
5
0
0

,
7
,
6
5
6

r
> A (barang
menekuk ke
arah sumbu
lemah)
E
IT
AI

2
0
0
0
0
0
97,
656
=
1,0
768
0,25 < A < 1,2
w = 1,6
0,672
1,43
1
,
4
3

( 0 , =
=
1 , 6 2 7 7
1,6
(0,67x1,0
768
240
N

:
f

A
,
=

6
9
1
0
1
,
6
2
7
7

=
1
0
1
.
8
8

t
o
n

7
5

_____ =
_____
=0,866<1
1p,..N 86,6

SOAL-SOAL LATIHAN

79

3AL-SOAL LATIHAN
=1 1 P.4.3

Hitunglah tahanan tekan rencana dari masing-masing komponen


struktur tekan yang ditunjukkan dalam Gambar P.4.1 P4.3!

/MY

WF 400.400.13.21
(BJ 37)

WF 300.300.10.15
(BJ 41)

Gambar P.4.2

Gambar P.4.1

WF 250.250.9.14 (BJ 55)

Gambar P.4.3
P.4.6

Periksalah bahaya tekuk lokal dari masing-masing komponen struktur


tekan dalam soal P.4.1 P4.3!
-

P.4.9

Iika masing-masing komponen struktur tekan dalam soal P.4.1 P.4.3


diberi pengekang lateral dalam arah sumbu leinah, hitunglah besamya
tahanan tekan rencananya !
Profil WF 350.175.7.11 digunakan sebagai suatu komponen struktur tekan
dengan panjang
m. Pada tiap interval 3 m dipasang pengekang lateral dalam arah
sumbu lemah. Ujungujung komponen struktur tekan tersebut berupa
tumpuan sendi dan mutu baja BJ 37. Jika rasio DIL = 0,5, hitunglah
beban kerja yang dapat dipikul oleh komponen struktur tekan tersebut!

8 0 B A B 4 B A TA N G T E K A N
P.4.11Sebuah komponen struktur tekan didesain agar mampu menahan beban
tekan aksial yang
terdiri dari beban mati 500 kN dan beban hidup 1000 kN. Batang ini
memiliki panjang 8,5 m dan pada jarak 3,5 m dari tepi atas dipasang
pengekang lateral dalam arah sumbu lemah. Dengan menggunakan
mutu baja BJ 41 pilihlah profil WF yang ekonomis ! (turnpuan ujung
adalah sendi).
P.4.12 Suatu portal bergoyang terdiri dari kolom WF 200.200.8.12 dan balok
WF 250.125.6.9,
mutu baja BJ 37. Tiap batang disusun sedemikian rupa sehingga
lentur terjadi dalam arah sumbu kuat. Asumsikan k = 1,0. Hitunglah
besarnya k untuk kolom-kolom portal tersebut dengan menggunakan
nomogram yang add. Hitunglah pula tahanan tekan rencana dari
kolom tersebut!

5
Gambar P.4. 1 2

1
yang
mjan
g
umbu
(turn
5.6.9.
Jalam

5
Komponen Struktur Lentur
TUJUAN PEMBELAJARAN

Sesudah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:


Melakukan analisis dan desain komponen struktur lemur yang
memiliki kekangan lateral secara menerus pada bagian sayap
tekan
Memahami perilaku balok akibat lentur dua arah
Pokok-pokok
Pembahasan Bah 1.1
Pendahuluan
1.2 T.entur Scderhana Profil
Simetris 1.3 Perilaku Balok
Terkekang Lateral 1.4
Desain Balok Terkekang
Lateral 1.5 Lendutan Balok
1.6 Geser pada
Penampang Gilas 1.7
Beban Terpusat pada
Balok 1.8 Teori Umum
Lentur
E . PENDAHULUAN

Balok adalah komponen struktur yang memikul beban-beban


gravitasi, seperti beban mati dan beban hidup. Komponen struktur
balok merupakan kombinasi dari elemen tekan dan elemen tarik,
sehingga konsep dari komponen struktur tarik dan tekan yang telah
dipelajari dalam bab terdahulu, akan dikombinasikan dalam bab ini.
Pembahasan dalam bab ini diasumsikan bahwa balok tak akan
tertekuk, karena bagian elemen yang mengalami tekan, sepenuhnya
terkekang baik dalam arah sumbu kuat ataupun sumbu lemahnya.
Asumsi ini mendekati kenyataan, sebab dalam banyak kasus balok
cukup terkekang secara lateral, sehingga masalah stabilitas tidak
perlu mendapat penekanan lebih.
2 LENTUR SEDERHANA PROFIL SIMETRIS

Rumus umum perhitungan tegangan akibat momen lentur, seperti


dipelajari dalam mata kuliah Mekanika Bahan (G = M. c/1) dapat
digunakan dalam kondisi yang umum. Tegangan lentur pada
penampang profit yang mempunyai minimal satu sumbu simetri, dan
dibebani pada pusat gesernya, dapat dihitung dari persamaan:
f=

S,

5.1
Iy

dengan Sy. = dan Sy =

5.2

M . c, M, . c ,
sehingga f = _______________________________________________________5.3
Dengan:

M.

= tegangan lentur
momen lentur arah x dan y

82 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR

=
M
o
d
u
l
u
s
p
e
n
a
m
p
a
n
g
a
r
a
h
x
d
a
n
=
M
o
m
e
n
I
n
e
r
s
i
a
a
r
a
h
x

d
a
n
y
= jarak dari titik berar
ke tepi serat arah x dan
y
Gambar
5.1
menunjukkan
beberapa
penampang
yang
mempunyai minimal satu bu.1.sumbu simetri.

S =

1T

cy

Gambar 5.1

Modulus
Penampang Berbagat Tipe Profi l
Simetri
5
Y

5.3 PERILAKU BALOK TERKEKANG


LATERAL

Distribusi tegangan pada


sebuah penampang WF
akibat momen lentur,
diperlihatkan dalam
Gambar 5.2. Pada daerah
beban layan, penampang
masih elastik (Gambar.
5.2.a kondisi elastik
berlangsung hingga
tegangan pada serat
terluar mencapai kuat
lelehnya (f Setelah
mencapai regangan leleh
(E
y ), regangan akan
M x _
terus naik tanpa
diikuti kenaikar tegangan
(Gambar 5.3).
Ketika kuat leleh
tercapai pada serat
terluar (Gambar 5.2.b),
tahanan momen nomina:
sama dengan momen leleh
dan besarnya adalah:
YY

M =M =Sf

5.4

Dan pada saat kondisi pada

S =

Gambar 5.2.d tercapai,


semua serat dalam
penampang melampaui
regangan lelehnya, dan
dinamakan kondisi plastis.
Tahanan momen nominal
dalam kondisi ini dinamakan
momen plastis Mr, yang
besarnya:
= f,-'f dA = 4.7
5.5

Dengan Z dikenal sebagai


modulus plastis.
e<s, a<f y

Gambar 5.2 Distribusi

M < My,

Tegangan pada
(a)
Level Behan lierbed

E=E 6 f

E>E1, 6=f y

M = Myx
(b)

<

< Mp
(c)

E E

M=M
(d)

5 . 3 P E R I L A K U B A L O K TE R K E K A N G L ATE R A L

1+.

Daerah elastis

Gambar 5.3

83

Daerah plastis

Diagram TeganganRegangan Material Baja

6=f

Selanjutnya diperkenalkan istilah faktor bentuk (shape factor, SF),


yang merupakan perbandingan antara modulus plastis dengan modulus
tampang, yaitu:
SF = =

M ________= Z

5.6

M.

Untuk profil WF dalam lentur arah sumbu kuat (sumbu x), faktor bentuk
berkisar antara 1,09 sampai 1,18 (umumnya 1,12). Dalam arah sumbu
lernah (sumbu y) nilai faktor bentuk bisa mencapai 1,5.
CONTOH 5.1:
Tentukan faktor bentuk penampang persegi berikut, dalam arah
sumbu kuat (sumbu x)! JAWAB:
,

Z,--=2[b- , =
h

/=

2 4=
1

S = -b.h3

12
________
1
SF h/2

=1
12 . b . h - = 3 =1,5
2
1 .12.
,
11
6
2

n CONTOH 5.2:
Tentukan faktor bentuk dari profil WF berikut, terhadap sumbu y!
d
i

t-

84 BAB 5
K
O
M
P
O
N
E
N

S
T
R
U
K
T
U
R

L
E
N
T
U
R

J
A
W
A
B
:
Z
=
2

(d
-2t
)

".t

4)
2
4
1
Z
=
,
+

4
-.

(d2t
.

I .

'
=
2[1
1,.
93
+

I____
.

(d 2

/,.
=
1
f.

1
(d
2t

).t
,

6
S.
I.
1
,
1
=

_____

=
11.17
H- .(d
2t t)

_______
3

b/2
6

D
a
n
fa
kt
or
b
e
nt
u
k
1.
z t

201

SF
=
2

1,
5
S

,
t3
.
t
+

P
a
d
a
sa
at
ta
h
a
n
a
n
m
o
m
e
n
pl
as
ti
s
M

te
rc
a
p
ai
,
p
e
n
a
m

p
a
n
g
b
al
o
k
ak
a
n
te
ru
s
b
e
rd
ef
or
m
as
i
d
e
n
g
a
n
ta
h
a
n
a
n
le
nt
ur
k
o
ns
ta
n
/I/
,
k
o
n
di
si
in
i
di
n
a
m
ak
a
n

se
n
di
pl
a
st
is
.
P
a
d
a
su
at
u
b
al
o
k
te
rt
u
m
p
u
se
d
er
h
a
n
a
(s
e
n
di
ro
l),
m
u
nc
ul
n
ya
se
n
di
pl
as
ti
s
di
d
ae
ra
h
te
n
g

a
h
b
e
nt
a
n
g
ak
a
n
m
e
ni
m
b
ul
ka
n
si
tu
as
i
ke
ti
d
ak
st
a
bi
la
n,
ya
n
g
di
n
a
m
ak
a
n
m
e
k
a
ni
s
m
e
k
er
u
ntu
h
a
n.
S

ec
ar
a
u
m
u
m
,
k
o
m
bi
n
as
i
a
nt
ar
a
3
se
n
di
(s
e
n
di
se
b
e
n
ar
n
ya
d
a
n
se
n
di
pl
as
ti
s)
ak
a
n
m
e
n
g
ak
ib
at
ka
n
m
ck
a

ni
s
m
e
ke
ru
nt
u
h
a
n.
D
al
a
m
G
a
m
ba
r
5.
4
su
d
ut
ro
ta
si
e
el
as
ti
k
da
la
m
da
er
ah
be
ba
n
la
ya
n
M,

hi
n
g
ga
se
ra
t
te
rl
u
ar
m
e
nc

a
p
ai
k
u
at
le
le
h
fy
p
a
d
a
sa
at
S
u
d
ut
ro
ta
si
ke
m
u
di
a
n
m
e
nj
a
di
in
el
as
ri
k
p
ar
si
al
hi
n
g
g
a
m
o
m
e
n
pl
as
ti
s
M
p

te
rc
a
p
ai
.
K
et
ik
a
se
n
di
pl
as
ti
s
te
rc
a
p
ai
,
k
ur
va
M
-O
m
e
nj
a
di
h
or
iz
o
nt
al
d
a
n
le
n
d
ut
a
n
b
al
ok
te
ta
p
bc
rt
a
m
b
a

h.
D
a
n
p
a
d
a
te
n
g
a
h
b
e
nt
a
n
g
ti
m
b
ul
ro
ta
si
O,
,
ya
n
g
m
e
n
g
ak
ib
at
ka
n
le
n
d
ut
a
n
b
al
ok
ta
k
la
gi
ko
nt
in
u.
A
g

ar
p
e
n
a
m
p
a
n
g
m
a
m
p
u
m
e
nc
a
p
ai
O,
ta
n
p
a
m
e
ni
m
b
ul
ka
n
ke
ru
nt
u
h
a
n
ak
ib
at
ke
ti
d
ak
st
a
bi
la
n
in
i,
m
ak
a
h

ar
us
di
pc
n
u
hi
ke
ti
g
a
m
ac
a
m
sy
ar
at
ya
k
ni
ke
ka
n
g
a
n
la
te
ra
l.
p
er
b
a
n
di
n
g
a
n
le
b
ar
d
a
n
te
b
al
H
e
ns
(b
/tf
),
p
er
b

a
n
di
n
g
a
n
ti
n
g
gi
d
a
n
te
b
al
w
e
b
(h
/c
).
q=

beb
an
laya
n
Dak
tilit
as
Kel
eng
kun
gan
u=
010
p

= beban layan terfaktor

(a)
karakteristi
k momenrotasi
Gambar
5.4 Sendi
Planis
dan
Kurva
MM

5.4 DESAIN BALOK TERKEKANG LATERAL 85 4

DESAIN BALOK TERKEKANG LATERAL


Tahanan balok dalam desain LRFD harus memenuhi
5.7

persyaratan: 0b-M,
Dengan: o h = 0, 90
M n = tahanan momen nominal
M terfaktor
= momen nlentur akibat beban

Dalam perhitungan tahanan momen nominal dibedakan antara


penampang kompak, tak kompak, dan langsing seperti halnya saat
membahas batang tekan. Batasan penampang kompak, tak kompak, dan
langsing adalah:
Penampang
: <
1 .
kompak
Penampang
tak
: < <X
2 .
kompak
Langsing
: >
3 .
M

MP____
berlacla
igah
7111
1ikan

tak kompak

__________________

M r

3erat
istik
ijadi
Masi
:
that

kompak

10-

b/t

Gambar 5.5 Tahanan Momen Nominal Penampang Kompak dan Tak Kompak
:

ESAMPANG KOMPAK

Tahanan momen nominal untuk balok terkekang lateral dengan


penampang kompak:
=M=

Zf

5.8

Dengan: M p = tahanan
momen plastis Z =
modulus plastis
kuat leleh
:

ESAMPANG TAK KOMPAK

Tahanan momen nominal pada saat =


M

= mr. =

Dengan: f

f ).s

adalah:
5.9

= tahanan leleh

f,
= t eg an ga n si sa
S = modul us penampang

Besarnya tegangan sisa f = 70 MPa untuk penampang gilas panas, dan


115 MPa untuk penampang yang dilas.

Bagi penampang tak kompak yang mempunyai


<X<
maka besarnya tahanan
momen nominal dicari dengan melakukan interpolasi linear,
sehingga diperoleh:

8 6 B A B 5 K O M P O N E N S T R U K T U R L EN T U R

-/1.

M + _______M.

5.10

Dengan: X = kelangsingan penampang balok (= b/21--)


X , tahel 7.5-1 Peraturan Baja
Untuk balok-balok hibrida di mana fyi.> f maka perhitungan /1// hams
didasarkan pada nilai terkecil antara (1)1,f-f) dengan'4,.
n CONTOH 5.3:
Rcncanakan balok untuk memikul beban coati, D = 350 kg/m dan beban
hidup, L = 1500 kg/m. Bentang balok, L = 12 m. Sisi tekan flens
terkekang lateral. Gunakan profil baja WF dengan f, = 240 MPa dan f =
450 MPa.
JAWAB:

11111111111111111111111111111110

= 1,2D+1,6L=

1,2(350)+1,6(1500)
2820 kg/m = 2,82 ton/m
12 m
I

- .
8

2 82.122 = 50,76 ton.m

M "" 50,76 - 56,4


ton.m " Ob 0,90
1
Z= b-t f (d-t 1 .)+ 4 -t,.(d-2t f ) 2

ZY =

.tj

4
2 =d2(ro+tf)

- ")
(d-2t .)

Untuk f = 240 MPa


Coba profil WF 350.350.12.19
%f

350
=7
=9,21
x19

h 350-2(20+19)
=22,67
12

170
?
f,
16

80

i f,,

\d

170
= 10,97
,
A12
40

370 \

if, -f.

2550

6 = 108,44
A124
0
1

80

1,

370 - 28,37
,
A/ 240-70

= 164,6
A/240
2550

5 , 4 D E S A I N B A L O K TE R K E K A N G L ATE R A L

10

87

Penampang kompak!
Z. = b.t f -(dt I )+ 1 .t ,.(d-21 1 -) 2

= 350(19)(350 19) + I (12)(350 2(19)) 2 = 2493182 mm 3


4
M = Z a . f = 2493182(240) = 59,84 ton.m
Z

.da

M (= 59,84 ton.m) > /14,45 (= 56,4 ton.m)

) fi t

OK

Untuk f; = 450
MPa Coba profil
350.350.12.19
b

350
=
=9,21

24( 2x19
h
350-2(20 +19)
= =
= 22,67
t
12

xp
170170
=
f y A450

8 , 0 1

16801680
= _______________=79,2
,\Ify
-\450

370

370

1 8 , 9 8
Alf} -\/450-70
25502550
120,2
A/450

Penampang tak kompak!


Mp = Z
M. =

= 2493182(450) = 112,19 ton.m


=

(4-4

f) d/2

M = = (450 70) 40300.10 4 = 87,5 ton.m


350/2
(profil terlalu kuat, coba profil lain yang
lebih kecil) Coba WF 300.300.10.15

300 =10
2 x 1 5

10
170

170

h 300-2(18+15)
== 23,4

-\1450

370
=

1 8 , 9
A1450-70

370

1680

1680 =
79,2
A1450

2550 2550
j450____________________120,2

88

BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR

Penampang tak kompak!


1
Z = b.t f .(dt1)+ 4.c.(d-2t f)2
Z = 300(15)(300 15) + (10)(3003 2(15)) 2 =
1464750 mm 4

= Z.. f = 1464750(450) =
65,91 ton.m =(f-f).s x = (;y-

fr) d72
= ( 450 70 ) .

101
51, 68 t on . m
300/2
20400=

'____M +-~ M

18,98-10 .65,91+ 10-8,01 51,68= 63,32 ton.m


18,98-8,01
18,98-8,01
M (= 63,32 ton.m) > Mu / (1) (= 56,4 ton.m)

OK

5.5 LENDUTAN BALOK


SNI 03-1729-2002 pasal 6.4.3 membatasi besarnya lendutan yang
timbul pada balok. Dalam pasal ini disyaratkan lendutan maksimum
untuk balok pemikul dinding atau finishing yang getas adalah
sebesar L/360, sedangkan untuk balok biasa lendutan tidak boleh
lebih dari L/240. Pembatasan ini dimaksudkan agar balok
memberikan kemampulayanan yang baik (serviceability). Besar
lendutan pada beberapa jenis pembebanan balok yang umum terjadi
ditunjukkan sebagai berikut:

16.E./

10 1 ' 4 _ 5 ( 1 L 2 \ L 2 _ 5 M G -L 2
384.EI 488q0.iEI 48 El.

A
1 1 2

A
2 P.b(3L2 4b2)
=i
A L / 2 L/2
_ L
5 m8 . MI
4
H - 3 M 2)

2 mi .L 2 m-2.L 2
48 El 16H
5 m .L

A L/2
=

5 . 5 L E N D U TA N B A L O K 8 9

Karena M o = M + 0, 5( M, + M 2 ), maka
5..L 2 (iv
48-ET \s

0,1.M,)

Dalam beberapa kasus tertentu, terkadang masalah batasan


lendutan lebih menentukan dalam pemilihan profil balok daripada
tahanan momennya.
nCONTOH 5.4:
Rencanakan komponen struktur balok berikut yang memikul beban
mati, D = 200 kg/m dan beban hidup L = 1200 kg/m. Panjang
OK

JAWAB:

qu =

1,2 D + 1,6L

111111111111
111111111 A
balo
k.
atau
tidak
amp
u-

q,

1,2(200) + 1,6(1200) = 2,16 t/m


1
= .a
_. (2,16)(8)2

8 i"

= 17,28 ton.m

bentang balok L = 8 m. Mutu baja BJ 37. Disyaratkan batas lendutan


tak melebihi L/300.
Asumsikan penampang adalah kompak, maka tahanan rencana
46.M adalah: 06.M = Ob'Mp = 01,'Zxfy

Perh

, =

M
17 ,28.10 7
O - f 0,90X240 = 800000 mm3 = 800 cm3
h

Coba profil WF 300.200.8.12 = 822,60 cm3)


Cek kelangsingan penampang:
=
=

b
2.t

=8,33
2x12

h 294-2(12+18)

170

200

170

= 29,25

370

370

f)

168 1680 = 10,97


0 A1 240

/240-70
2550 = 255
0
N, If A/24
0

90 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR

Penampang kompak!
Selanjutnya dihitung I perlu untuk memenuhi syarat lendutan.
M L = 1 -1200.872 = 18,75 ton.m =
18,75.10 Nmm 8
(untuk memeriksa syarat lendutan, hanya beban hidup saja yang
dipertimbangkan)
5-q.L 4 5.M.L 2
A=
384.EI 48.E/
5.M.L2
5x9,6.107 x80002
Ix perlu = _______________________________
48..
E(
48 x 200000 x 8000
300

- 12000.10 4 mm 4 =
12000 cm'

Profi t WF 300.200.8.12 tak mencukupi karena memiliki I = 11300


cm 4 . Selanjutnya profi l diganti dengan WF 350.175.7.11 yang
memiliki I = 13600 cm'' dan Z t = 840,85
CM-3

Cek lendutan:
A

_ 5.q.L4
5-M.L2
5x9,6.10x80002
384.EI 48.E/
48 x 200000 x 13600.104
= 23,53 mm < L ( = 26,67 mm)
300

Dalam contoh soal ini tampak bahwa kondisi batas layan (lendutan) lebih
menentukan daripada kondisi batas tahanan, dalam proses desain profil
yang aman.
n CONTOH 5.5:
Rencanakanlah komponen struktur balok baja berikut ini dengan
menggunakan profil WF seekonomis mungkin. Asumsikan terdapat
kekangan lateral yang cukup pada bagian flens
tekan profit. Disyaratkan pula bahwa lendutan
tidak botch melebihi L/300. Gunakan mutu baja BJ 37!
P (D = 4 ton;L = 10 ton)
4m

8 m

JAWAB:
Asumsikan profil kompak!
M 41 640'
M = M = _______=
- 46,22.10
p
n
0 , 9 Nmm

= 1,2(4) +

5.

1,6(10) = 20,8 ton

Pu4 4 x 20,8x8
- 41,6 ton.m

41,6.10

Nmm

5 .6 G E SE R PA DA PE N A M PA N G G I L A S

91

46,22.10
________________ - 1925,83cm3
f1,
240

Z, perlu

Gunakan profit WF 500.200.10.16 (4 = 2096,36


cm3 ; I, = 47800 cm4) Akibat berat scndiri profil,
momen lentur bertambah menjadi:
M = 1,2( .(0,0897)(8)) +
41,6 = 42, 4611
ton. m 8

ijut nya
840,85

Periksa syarat
kelangsingan profil:
h
2(16+20)
b1500 200
- 6,25 - 42,8
tu,
10
2.t. 2 x 16

<

<

170

=1680

10,97

- ____ - 108,44
All

Pcnampang kompak!
M = z,f ) , = 2096,36,103(240) = 50,31 ton.m
= 0,90(50,31) = 45,281 ton.m > 42,4611

entukar
an profi t

ton.m

48E/
48 x lendutan:
200000 x 47800 x 10000
Periksa terhadap
syarat
3
P.1
10.104 X 8 00 03
Amax
= 11,16 mm < 300 (= 26,66 mm)

la bagian

Gunakan

6 GESER PADA PENAMPANG GILAS

Perencanaan balok yang memiliki bentang panjang


biasanya lebih ditentukan oleh syarat lendutan
daripada syarat tahanan. Balok dengan bentangbentang menengah, ukuran profil lebih ditentukan
akibat lentur pada balok. Namun demikian, pada
balok-balok dengan bentang pendek, tahanan geser
lebih menentukan dalam pemilihan profil.
Untuk menurunkan persamaan tegangan geser
untuk penampang simetri, lihat potongan dz dari
balok pada Gambar 5.6, dengan free body-nya dalam

Gambar 5.6.a. Bila tegangan geser satuan v, bekerja


sejarak y 1 dari sumbu netral, maka dari Gambar
5.6.c diperoleh hubungan:
dC' = v.t.dz

5.11

Dan gaya horizontal akibat momen lentur adalah:


-=

C y 2

f.dA

5.12

+ dC' = f( f -Pdf)dA

5.13

92 B AB 5 KO MPO N EN STR UK TU R LE N TU R

f
(a)
(b)

wrirs
um
dA ____

f+df

C
yt

dz

(c)

Gambar 5.6

Penurunan Persamaan
tegangan Geser

Mengurangkan persamaan 5.13


dengan persamaan 5.12 diperoleh:
r2
dC

'

df

5.14

df.cM

dM y
I

5.15
m-

Y2

dC' = d

5.16

Dari persamaan 5.16 dan 5.12


diperoleh hubungan:
LIM
V

dengan mengingat bahwa V = dM/dz,


serta Q = f y.dA, maka diperoleh
persamaan bagi tegangan geser yang
sangat familiar bagi kita:
V.
v= Q

5.17

' 2

f .dA
dz t . I
1,1

5.18

/.t
Dengan V adalah gaya geser, dan Q
adalah statis momen terhadap garis

y2

netral. Terkadang untuk menghitung


tegangan geser, digunakan rumus
pendekatan yang merupakan harga

5.6 GESER PADA PENAMPANG GILAS 93

rata-rata luas penampang web, dengan mengabaikan efek dari lubang alat pengencang,
"-F dC

yaitu:
=

=
Ad.t,
V

5.19

n CONTOH 5.5:
Hitung distribusi tegangan geser elastik pada profi l WF
350.350.12.19 yang memikul
beban geser layan sebesar 95 ton. Hitung pula berapa besar gaya
geser yang dipikul oleh
flens dan berapa yang dipikul oleh pelat web.
Tegangan pada pertemuan antara flens dan web:
V = 95 ton = 95.10 4 N
Q = 350( 19)( 175 - 9,5) = 1100575 mm 3
i - d C " 9 5 . 1 0

x 1 1 0 0 5 7 5
l

cueb

- 216,2 MPa
40300.10 4 x 12

95.1(6:1100575
v - _________________ - 7,41 MPa
fien
40300.10 4 x 350
Tegangan pada sumbu netral:
Q = 1100575 +
1/2 (175-19) 2 (12)
= 1246591 mm 3
95.10 4 x1246
591

216,2 MPa

5.16

244,88 MPa

5.1
7
bag

5.14

5.15

40300.10 4 x12

- 244,88 MPa

350__

1______119

t- 1____

175

___________ 1 2

175

7,41 MPa
(a)

(b) Tegangan geser

Gaya geser yang dipikul oleh flens dan web, masing-masing adalah: Vans = 2
(1/2)(7,41)(19)(350) = 4,927 ton
f

web

= 95 - 4,927 = 90,073 ton

Tampak bahwa 94% gaya geser dipikul oleh web.


Bila digunakan rumus pendekatan dari persamaan 5.19:

94 BAB 5 KO MPONEN STRUKTUR LENTUR

95.104

- 226,19 MPa (7,34% di bawah harga


maksimum)
d.t, 350x12

TAHANAN GESER NOMINAL PENAMPANG GILAS

Dalam contoh 5.5 tampak bahwa gaya geser sebagian besar dipikul
oleh web jika web dalam kondisi stabil (artinya ketidakstabilan akibat
kombinasi geser dan lentur tak terjadi). Kuat geser nominal pelat
web ditentukan oleh SNT 03-1729-2002 pasal 8,8.3, yaitu:
=

0,60.4A,

5.20

De ng an : f = k uat le l e h w eb
2=1, = luas penampang web
Persamaan 5.20 dapat digunakan bila dipenuhi syarat kelangsingan
untuk tebal pelat web sebagai berikut:
h 1100
5.21
t
"

Dan kuat geser rencana harus memenuhi


persamaan: 5.22

n CONTOH 5.6:
Tentukan tahanan geser rencana profil WF 300.300.10.15, data
profil:
d = 300 mm
Mutu baja BJ 37 (f = 240 MPa, f u
370

MPa)
b = 300
mm =
15 mm t
= 10
mm
h = d-2 (r 0 + t 1 ) 300- 2 (18+15) = 234 mm
Cek persamaan 5.21:

t,
h

1100
= 71
fy

= 23,4
10

234

1100
/ 240

Karena persamaan 5.21 terpenuhi, maka:


17 =

= 0,6(240)(234)(10) = 33,69 ton

V d = 0,90.17 = 0,90(43,2) = 30,321 ton

5.7 BEBAN TERPUSAT PADA BALOK


Bila balok dikenai beban terpusat, leleh lokal akibat
tegangan tekan yang tinggi diikuti dengan tekuk
inelastik pada daerah web akan terjadi di sekitar
lokasi beban terpusat itu. Gaya tumpu perlu (R) pada
pelat web harus memenuhi:

< 0.R n
5.23
Dengan: (/) = faktor reduksi
R = kuat tumpu nominal pelat web akibat beban
terpusat

5 . 7 B E B A N T E R P U S AT PAD A B A L O K

95

Bila persamaan 5.23 dipenuhi, maka tak diperlukan pengaku


(stiffener) pada pelat web. Besarnya R, ditentukan mcnurut SNI 031729-2002 pasal 8.10:
1.Lentur lokal pada Bens
R = 6,254U

web
adi)
.

5.24

0,90
5. 25

2.Leleh lokal pada web


R = (ix.k + N)f.y.w.t,
5 .7>d = 12,5

web
k

= 1,0
adalah tebal pelat sayap ditambah jari-jari
peralihan, mm
/V adalah dimensi longitudinal pelat perIcrakan, minimal
sebesar k , turn
5.21

k
________

T
N+5k

IN+2,5k---1

___01

45'

N
N = panjang dukung
k = jarak dari muka

>

sayap terluar ke
kaki lengkungan
badan (yang
diberikan dalam)
AISC Manual

5.26

cud
_
itu.

bersama dengan
dimensi
(penampang)
R = beban terpusat yang disalurkan ke gelegar
Gambar 5.7 Balok dengan Behan Terpusat

3. Lipat pada web


(

Ri=0,',t,2 1+77
tf

0,79

j> d 12;n =
3N/d = 3N

0,39 j . 112

se
=

4 N
0,2

bila:N/d
>0,2

96 BA B 5 K O MP O NE N S TR U K TUR LEN TU R

4. Tekuk web

R
,

Gambar 5.8 Tekuk Web Bergoyang


t

Ada dua kasus pada


tekuk web
bergoyang:
a.bila sisi tekan
Hens dikekang

n=
b2
terhadap rotasi
pada posisi kerja
Ru:
h b
untuk
<2,3
R

tu , L b

h b f
1+0,4
Lb

\3

5.27

C .E.tn 3 .t
r

Jika - b> 2 3 t, Lb
b.Jika sisi tekan
Hens tak dikekang
terhadap
untuk:
rotasi
untuk h b

M<_M1

f <17
tu, Lb
Cr.E.tu,3 .t f
3

h2
Jika

(
, b

h bf >1,7 tw Lb
3,25

t L
wLb

1,62

0,4 h

R1

0 = 0,85
5 . L entur p ad a pel a t
w eb
3 ____________
R =24,084
WE

5.28
71

= 0,90
CONTOH 5.7:

5.28

P,
=
60
ton

P
.
60
ton

1
1
:3

,2
=
60
to
n

T 3

u2

60
to
n
300

3000
6000
3000
300

5 . 7 B E B A N TE R P U S AT PAD A B A L O K

97

Periksa apakah komponen struktur tersebut perlu stiffener atau tidak!


Gunakan profil WF 300.800.14.26, k = 54 mm, f = 240 MPa, N = 200 mm.
JAWAB:
1.Leleh lokal pada web
Daerah lapangan (j
> d)
0.1?, = 0 (a.k + N) fr;w.tw
= 1,0(5(54) + 200)(240)(14)
= 157,92 ton (> P ul = 60 ton, tak perlu stiffener)
Daerah tumpuan (j
< d) = (a.k +
N). f j w t
= 1,0(2,5(54) + 200)(240)(14)
= 112,56 ton (< P u1 +P ii2 = 120 ton, perlu stiffener)

5.2
7

2.Lentur lokal pada


flens OR, = 06,25tiff
= 0,90(6,25)(262)(240)
= 91,26 ton (> .1), = 60 ton, tak perlu stiffener)

5.2

3. Lipat pada web


Daerah lapangan (j > d/2)
.1,
5
t
0-Rn= 0.0c.tw2 1+71
= 0,75(0,79)(14)2

yf

[1:4x200
, 800

= 142,14 ton (> P


0-Rn= 0.a.tu, 1+71
2

f
tf

)(14
0 , 2 26

(200000 x 240 x 26
14

=
60

E fl f. t f

ton, tak perlu stiffener)


Daerah tumpuan (j < d/2)
,5

t,

\
1

(800 sz.)

A
= 0,75(0,39)(14)2 h bf =
Lb
14

2 300
6000

= 71,24 ton (< P b1 -FPu2 = 120 ton, perlu stiffener)

4.

Tekuk web bergoyang (asumsikan nisi tekan flens terkekang

terhadap rotasi)
_____________ 8 0 0
___________________ 54
14

300
6000

bf
Lb

2,47 > 2,3

98 BAB 5 KOMPONEN STRUKTUR LENTUR

n CONTOH 5.8:
Tentukan dimensi bearing plat untuk tumpuan balok, bila diketahui
reaksi tumpuan akibat beban mati, D = 10 ton, dan reaksi akibat
beban hidup, L = 20 ton. Balok yang digunakan WF 350.350.12.19 (k
= 39 mm). Balok ini terletak di atas beton yang mempunyai
f
22,5 MPa.
JAWAB:
1,2D + 1,6L = 1,2(10) + 1,6(20) = 44 ton
R n = R/(1) = 44/1,0 = 44 ton

Panjang hearing plat harus memenuhi persamaan 5.25 dan 5.26.


Dari persamaan 5.25:
Rr

= (2,5k + N)1: yu ,.t u ,

N=

'

2,5k =

fy,.tu,

440000
240x12

(2,5x39) = 55,27 mm 60 mm

Tahanan tumpu nominal


dari beton: P = 0,85.f .
Al

Al

erbi

440000
P_______________ - 23000 mm2
0,85.f', 0,85x22,5

Lebar pelat, B = 23000/60 = 383 mm 390 mm


Periksa lipat pada web:
N/d = 60/350 = 0,17 < 0,2
\ 1,5
2

R n = 0,39. 1 ;

1+3__________

R = 0,39x12

t t,

160 ( 12 y 5
1+3
200000x240x1
350 19
9

O.R u = 0,75 x 61,5 = 46,1 ton (> 44 ton, OK!)

Sehingga dimensi pelat, N = 60 mm x B = 390 mm. Selanjutnya


adalah menentukan tebal pelat.
Tegangan tumpu merata, p = 440000 18,8 MPa
60x390
Daerah kritis bagi lentur diambil sepanjang ujung luar Hens hingga
sejarak k dari tengah web.

8/2

Ar M=
=

Mu 1884195-39) .N
= 228758,4.N

5.8 TEORI UMUM LENTUR 99

(P.Z.f; >
tt

0.X.AT42..fy
t2 >

M 4
, masukkan harga-harga yang
0,9 xfy xN

sudah diketahui, diperoleh t > 65 mm.


ai

Karena ukuran bearing plat terlalu tebal, maka dimensinya perlu


diperbesar. Dicoba, memakai N = 200 mm clan B = 360 mm. Dan bila
dihitung kembali akan ditemukan persyaratan t > 33,5 mm. Ambil t = 35
mm.
Secara umum tebal pelat dapat dihitung melalui persamaan:

5.8 TEORI UMUM LENTURt =

Sejauh ini pembahasan hanya terbatas pada bentuk-bentuk profil


simetris, sehingga rumus f = Mr/I dapat digunakan untuk menghitung
tegangan lentur elastik. Pembahasan berikut akan lebih memperurnum
lenturan pada batang prismatic (batang yang mempunyai bentuk
penampang melintang sama di setiap potongannya). Diasumsikan pula
dalam balok ini tak terjadi puntir.
Perhatikan balok dengan penampang seragam pada Gambar 5.9 yang
dikenai momen pada bidang ABCD. Bidang ABCD membentuk sudut y
terhadap bidang xz. Momen ini direpresentasikan dengan vektor normal
terhadap ABCD.

Gambar 5.9

Akan
n gah

Balok Prismatis dengan Lemur Murni

M = M cos yl
m, = M sin y

bidang
beban

sumbu
potongan
a-anetral
y

Perhatikan pula potongan sejarak z pada Gambar 5.10. Syarat kesetimbangan dalam free
body dipenuhi bila:
0

fa-dA = 0
A

5.29

10 0 B A B 5 KOM P O N EN S T R U K T U R L EN T U R

EM,= 0 > M = fy .17 .dA


A

5.30

EM = 0 )

5.31
fx.a.d
A. A
Momen M dan M positif bila menghasilkan lentur positif, artinya
lentur yang mengakibatkan tekan pada bagian atas balok dan tarik pada
bagian bawah.
LENTUR DALAM BIDANG YZ

Jika lentur terjadi dalam bidang yz, tegangan


terhadap y, sehingga:
6 =

proporsional

k 1 .y

Gunakan persamaan 5.29 hingga 5.31 memberi hasil:

A
y

5. 32

k, f y.dA = 0 A
M = k, f y2
=

5. 33
5. 34
5. 35

= k, xy.dA = k y l

Gambar 5.10 Free Body Balok pada Potongan Sejarak z

Persamaan 5.33 menunjukkan bahwa x haruslah sumbu berat. Dari persamaan 5.34 dan 5.35
memberikan:

MM

k= ' =________

5.36

I Dan sudut y dapat ditentukan


5.37

sebagai:
tang= ____ =

Bila penampang memiliki minimal satu sumbu simetri = 0, y = it/2)


maka beban
dan lentur terjadi dalam bidang yz.
LENTUR DALAM BIDANG XZ

Bila lentur terjadi dalam bidang xz, tegangan


terhadap x, sehingga:

proporsional

5 .8 TEORI UMUM LENTUR 101

5.30

5.38
hingga 5.31 memberi hasil:
5.39
5.40
5.41
G = k,.y

Gunakan persamaan 5.29


5.42
5.31
5.33
5.34
5.35

k 2 fx.dA=0
Leng-

Mx=

k 2 xy = k 2 .1 x y
M

f x 2 . d A = k 2 1,
A

5.32

Dan
sud
ut y
har
usla
h:
M
t
a
n
g
=
_
'

Ian
5.34

5.36

5.37
ka

;ga:

=
M
Dalam kasus
penampang yang
memiliki paling
sedikit
satu
sumbu simetri I y
= 0 dan tan y =
0, maka beban
dan
lentur
terjadi
dalam
bidang xz.
LENTUR DI LUAR BIDANG
XZ DAN YZ

Tegangan total a
merupakan
penjumlahan dari
tegangan akibat
lentur
dalam
bidang xz dan yz.
6 = k + kyx
5.43
M
k2 =
9, k I +

.
1

5
.
4
4
.

M = k .1 + k2

5.45
y

xy

Menyelesaika
n persamaan 5.44
dan 5.45 serta
substitusi
ke
persamaan
5.43
akan diperoleh:
M I -My I"2

CT = _______________________________________

'

Persamaan
5.46 merupakan
persamaan umum
lentur,
dengan
mengasumsikan:
balok
lurus,
prismatis, sumbu
x dan y adalah
dua sumbu berat
saling
tegak
lurus,
material
elastik linear, tak
ada
pengaruh
puntir.

Bila penampang
mempunyai setidaknya
satu sumbu simctri,
maka dengan mensubstitusikan I y = 0,
persamaan
5.46
menjadi:
0.=

_Mx
x

X
+ I v

Dari
persamaan
5.37 dan
5.42
didefinisikan
tang =________________
My
Bila
tegangan dalam
sumbu
netral
sama dengan nol,
6
dalam
persamaan 5.46
dapat disubstitusi
dengan
nol,
selesaikan untuk
x/y
akan
diperoleh bentuk:
x

y
2
M -m .1

/ ./ -1
x
" Y
y

5.47

5.48

102 B A B 5 K O M P O N E N S T R U K T U R L E N T U R

Dari Gambar 5.9 tampak bahwa

tan

a = x/y, sehingga persamaan 5.48


dapat

M'
M

ditulis sebagai:
- t a l l y /

tan a =

5.49

xy

tang

Jika penampang memiliki paling


tidak saw buah sumbu simetri I = 0):
I
tana = tany

5.50

n CONTOH 5.9:
Sebuah
profil
WF
400.400.13.21
dikenai beban yang membentuk sudut
50 terhadap sumbu vertikal. Hitung
kemiringan sumbu netral!
DataprofilWF400.400.13.21:
mm. = 66600.10mm4 dan/=
22400.104
4
tang=tan85
tana = tany
/,
tana =

22400
.tan(85 )
66600

a=
s u75,42
mbu netral

n CONTOH 5.10:
Balok dengan bentang 3 m memikul
beban merata 0,75 ton/m (termasuk
berat sendiri). Digunakan profil siku tak
sama
kaki
L
75.170.10.
Hitung
tegangan pada titik A, B, dan C, bila
profil dapat melentur dalam arah
sembarang dan hitung pula bila profit
diasumsikan hanya melentur pada
bidang vertikal saja.
I

= [170(85 62,1)(-15,2 + 5)

5
bidang
beban

+ 65(-62,1 + 5)(32,5 + 10
15,2)110
I
/

7
0
9
.
1
0
4

m
m
4

8
8
,
2
.
1
0
4

m
m
4

= 1410325,5 ram/1

6
2
,
1

m
m

1
5
,
2

m
m

5.8 TEORI UMUM LENTUR 103

ulis

75

.49
170

.50
AB

.dap

= 0,75 tonim

1 Mill I

_____________L - 3 m M.

= 1 = 0,84375 tm
8
M. = 0,84375.107
Nmm
M= 0

Lentur terjadi pada arah


sembaran g:
(/

IY -I

7
0,84375.10
488,
2.104.107,9 - (1410325,5x
-15,2))
fA= Y 2 -

(7
09
x8
8,
2.
10
8

(-

1
4
1
0
3
2
5,
5)
2

=
+
1
4
5,
8
8
M
P
a
M (/

-/.,.x)

0,84375.10
488,2.104.107,9 (-1410325,5x5,2))
fB _________
I./ 2-/
(7
0
9
x
8
,2
8
-)1
0
(4
-1
0
3
2
2
5
)xY
y

fc =

=
+
17
3,7
9
MP
a

111(1,,.y1, .x
I I:y - I
y

(709x
Lentur dalam bidan g
vertikal raja:
M, .y
0,84375.10 7

.107,9 _
tA = tB =
=
709.104
128,4 MPa
x

fc1V1

0,84375-107-62,1
= - 7 3 ' 9 M Pa

709.104,-Y

Persamaan-persamaan
umum
lentur
di
atas
berlaku
hanya
untuk
material yan g elastik linear
(G < 4). Bila material telah
mencapai
batas
plastis,
maka persamaan berikut
dapat
dipakai
untuk
material
yan g
memiliki
palin g tidak satu sumbu
simetri.
M
____________+M'<1
Ob'itc Ob.Mn
Den g an: M
a
d
a
l
a
h
m
o
m
e
n

diri)
.
dan

t
e
r
f
a
k
t
o
r
a
d
a
l
a
h

t
a
h
a
n
a
n
l
e
n
t
u
r
n
o
m
i
n
a
l
=
0
,
9
0

104 BAB 5 KO MPONEN STRUKTUR LENTUR

n CONTOH 5.11:
Rencanakanlah struktur gording pada suatu rangka atap dengan ketentuan
sebagai berikut:
ketentuan
Jarak antar gording
= 1,25 m
Jarak antar kuda-kuda = 4 m
Sudut kemiringan atap = 25
Penutup atap genteng, berat = 50
kg/m 2
Tekanan tiup angin
= 40
kg/m2
lip channel 150.65.20.3,2, dengan
JAWAB:
datadata:
Coba menggunakan profil
light
Ix = 332.104 mm4
I
= 54.104 mm4
3
3
Z = 44,331.10 mm Z
3
3
= 12,268.10 mm

Beban mati:
Berat gording
Berat atap = 1,25(50)
q
Beban hidup:
Di tengahtengah
gording P
Beban angin:
Tekanan angin
Koefisien angin tekan
Koefisien angin hisap
w

tekan

(i)

Insap

150

=7,51 kg/m
=62,5 kg/m
=70,01 kg/m
= 100 kg
= 0,1
= 40 kg/m2
=0,02a 0,4
= 0,02(25)
0,4
=0,4
=0,1(40)
(1,25)
=0,4(40)
(1,25)

= 5 kg/m
= 20
kg/m

Mencari momenmomen pada


gording:
Pada arah sumbu lemah dipasang
trekstang pada tengah bentang
sehingga L = 12 x jarak kudakuda =
2 m.

Akibat beban
mad:
q = 70,01 kg/m
qx = q.cos 25 = 70,01(cos 25) =
63,45 kg/m qy = q.sin 25 =
70,01(sin 25) = 29,59 kg/m

5.8 TEORI UMUM LENTUR 105

M = - 1 (63,45)(4)2

fltuan

= 126,9 kg.m

(29,59)(2)2
= 14,795 kg.m
8
Akibat beban hidup: P = 100 kg

M = _ 1 (P-cos

= 1 _ (100)(cos
25)(4) = 90,631 kg.m
4
4
M = 4 (Psin ot).L 4 (100)(sin 25)(2) = 21,131 kg.m
Y

Akibat angin:
Karena beban angin bekerja tegak lurus
sumbu x sehingga hanya ada angin tekan: M
=

(5)(4)2 = 10 kg.m

angin hisap:

1
- 8 (-20)(4) 2 = -40 kg.m

Kombinasi Beban:
Kombinasi Behan
1.U= 1,4 D
2.U = 1,2D + 0,5L
3. U = 1, 2D + 1 ,6 L
U = 1,2D + 1,6L, + 0,8W
4.U = 1,2D + 1,3 W +
5.U = 0,9D 1,3 W

Arah x (kg.m)
Arah y (kg.m)
177,66
197,5955

297,2896
305,2896
210,5955

127,21
74,21

Jadi M = 305,2896 kg.m = 305,2896.10 4 N.mm


Muy = 51,5636 kg.m
= 51,5636.104 N.mm
x
Asumsikan penampang kompak:
jarak
M = Zx Y f = 44,331 . 10 3 (240) 10639440 N.mm
M
"Y
Y Z
= 12,268.10 3 (240) = 2944320 N.mm
Untuk mengantisipasi masalah puntir maka M ny dapat
dibagi 2 sehingga:
M_____+
M's, <1,0
Ob'Mnx
Ob'Mny

/2

20,713
28,3195
51,5636
51,5636
28,3195
13,3155
13,3155

305,2896.104

51,5636.104
- 0,32 + 0,39 = 0,71 < 1,0
0,9 x 10639440 Y 2 -0,9-2944320

OK

10 6 B A B 5 K O M P O N E N S T R U K T U R L E N T U R

Untuk struktur berpenampang I


dengan rasio h/ ./d < 1' 0 dan
merupakan bagian dari
struktur
dengan
kekangan
lateral
penuh
maka
harus
dipenuhi persyaratan seperti
pada SNI 03-1729-2002 pasal
11.3.1 sebagai berikut:
lc (
<1,0
5.52
0b.A/I pc ,s(1)1,'M py
D:

C.A1my
no,

C, .1t4"
as

vn

Dengan ketentuan:
(1)
b
J
114 :
Untuk b /d <
0,5
c = 1,0
01/
ny
Untuk 0,5 < < 1,0 :
c = 1,6
Untuk b r /d < 0,3 :
= 1,0
>
:
Untuk 0,3 < b f /d <
B = 0,4 + b ./d
1,0
f
'
1,0
n CONTOH 5.12:
Periksalah kekuatan profil WF
250.250.9.14 untuk memikul
momen akibat beban mati M D,
= 2 ton.m, M D = 0,6 ton.m
serta momen akibat beban
hidup M L = 6 ton.m dan /11
=
2,8
ton.m.
Asumsikan
terdapat
sokongan
lateral
yang cukup untuk menjaga
kestabila - n struktur. Gunakan
mutu baja BJ 37!
. 11/

JAWAB:
Hitung momen terfaktor dalam
arah x dan y:
M
=
1
,
2
(
2
)
+
1

<1,0

,
6
(
6
)
=
1
2
t
o
n
.
m
M
u
y

=
1
,
2
(
0
,
6
)
+
1
,
6
(
2
,
8
)
=

5
,
2
t
o
n
.
m
Periksa kelangsingan
penampang:
h= 250
= 8,93 <
10,97)
2t1 2x14
h

250-2(14+16)_

1680
- 21,1
t,
P
e
n
a
m
p
a
n
g
k
o
m
p
a
k
!
H
i
t
u
n
g
r
a
s
i
o
b
f

/
d

17 0

AlfY

(= 108,44)
9

(-

b l = 250
- =- 1 - p e r i ks a d e n g a n
p e r s a m a a n 5. 5 2 da n 5. 53
d 250

Mx.
= MX
=
Z I f y
=
936,
89.1
03(2
40) =
22,4
8536
ton.
m M
= My
= ZJ;
=
442.
103(
240)
=
10,6
08
ton.
m
ny

Karena M, = M re M il ) , = M pj
serta
dengan
mengambil
nilai C = C = 1,0 dan (0,4 +
b/d) = 1,4, maka persamaan
5.53 lebih menentukan!

,1,4 (
.A/ )
1,4
tlX

+ ________UY

\. Ob M 7/), ,/

011.11

1,0x12

x 5,2

0,9 x22,48536,

<1 ,0

/ iny

+1

1,4

02

1,0

,0,9x10,608

Jadi, profil WF 250.250.9.14 cukup


kuat untuk memikul beban momen
lentur tersebut.

= 0,9086 < 1,0

OK

SOAL-SOAL LATIHAN 107

SOALSOAL LATIHAN

lari

NI

= 5.1 Suatu komponen struktur lentur terbuat dari dua buah pelat sayap
ukuran 12 mm x 190
mm dan pelat badan ukuran 9 mm x 425 mm. Mum baja yang
digunakan adalah BJ 41.
a)Hitunglah modulus plastis penampang (Z) dan momen plastis (Al)
dalam arah sumbu kuat
b)Hitunglah besarnya modulus penampang elastis (5) dan momen
leleh (M) dalam arab sumbu kuat

.52
.53

= 5.2 Suatu komponen struktur lentur terbuat dari dua buah pelat sayap yang
berbeda, yaitu
12 mm x 300 mm (sayap atas) dan 12 mm x 175 mm (sayap bawah)
serta pelat badan ukuran 9 mm x 400 mm. Hitunglah besarnya
modulus plastis penampang dalam arah sumbu kuat dan hitung
pula besarnya momen plastis yang bersangkutan. Gunakan mum
baja BJ 37!

nati
dan
esta
-

= 5.3 Suatu balok baja seperti pada gambar terbuat dari profil WF
500.200.10.16 (dari baja
BJ 37), dengan kekangan lateral menerus pada sisi liens tekan.
Periksalah apakah profil tersebut mencukupi untuk memikul beban
seperti pada gambar!
P, =

50 kN
= 20 kN/

INUMMINUIMINUMMINUMMI

4,5 m

4,5 m
Gambar P.5.3

= 5.4 Sebuah balok dengan panjang 7,5 m tertumpu dengan sendi pada
ujung kanan, dan
tertumpu dengan rol pada jarak 1,5 m dari ujung kiri seperti pada
gambar. Hens tekan balok terkekang lateral secara menerus.
Periksalah apakah profil WF 250.125.6.9 dari baja BJ 41 mencukupi
untuk memikul beban-beban tersebut! (beban sudah termasuk berat
sendiri profil)
= 5 kN/m;

= 20 kN/m

1111111111111111111111111111119011111111111

I/7

t
(0,4

1,5 m

6 m

Gambar P.5.4

but.

= 5.5Profil WF 400.200.8.13 sepanjang 10 m ditumpu sederhana pada kedua

OK

ujungnya, dan
digunakan sebagai suatu komponen struktur lentur. Bagian sayap
tckan terkekang lateral
secara menerus dan mutu baja yang digunakan adalah BJ 37.
Jika
rasio
LID
=
3,
hitunglah
beban kerja total yang diperbolehkan bekerja (dalam kN/m) pada
balok tersebut!

1 0 8 B A B 5 K O MP O N E N S T R U K T U R L E N T U R

Rencanakanlah balok baja dengan profil WF pada struktur berikut


dengan seekonomis
mungkin. Disyaratkan pula batas lendutan tidak boleh melebihi L/300
(mutu baja BJ 37). Perhitungkan pula berat sendiri profit!
P.5.6

PD = 40 kN/m; P L = 50 kN/m

7fr
4m

4m

Gambar P.5.6

Hitunglah besarnya tahanan geser rencana dari profilprofil


berikut:
a)WF 700.300.13.24, f = 250 MPa
P.5.7

b)WF 400.400.13.21, f = 290 MPa


c)WF 250.250.9.14, f = 410 MPa
Desainlah ukuran bearing plat yang diperlukan untuk
mendistribusikan reaksi dari balok
WF 500.200.10.16 yang memiliki panjang bentang 4,8 m diukur
dari as ke as tumpuan. Balok memikul beban mati sebesar 50 kN/m
dan beban hidup 50 kN/m. Balok menumpu pada Binding beton
bertulang dengan f', = 25 MPa. Mutu baja dan bearing plat adalah BJ
37.
P.5.8

Profil WF 400.200.8.13 memikul beban yang membentuk sudut 10 0


terhadap sumbu
vertikal. Hitunglah sudut kemiringan sumbu netral profil tersebut,
diukur dari sumbu vertikal penampang.
P.5.9

Desainlah profit WF yang dapat memikul momen lentur dua arch


sebagai berikut:
Mr, = 80 Nmm
M10 = 175 Nmm
M D) , = 5 Nmm
M L = 15 Nmm
Asumsikan terdapat pengekang lateral menerus pada balok tersebut,
gunakan mutu baja BJ 37!
P.5.10

Rencanakan struktur gording dari suatu rangka atap dengan data


berikut:
= 1,5 m
Jarak antar gording
= 3,75 m
Jarak antar kuda= 200
kuda Sudut
= 25
kemiringan atap
kg/m2 =
Berat penutup atap
Tekanan tiup angin
20 kg/m2
Gunakan mum baja
P.5.11

aomi
s J
37).

Sambungan Baut
TUJUAN PEMBELAJARAN

Sesudah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:


Menghitung kapasitas baut sebagai alat sambung dalam suatu
konstruksi baja
Melakukan proses analisis dan desain sambungan baja yang
menggunakan baut sebagai alat sambungnya

balok
puan.
umpu
adala
h
.
umbu
;umb
u

u
baja

Pokok-pokok Pembahasan Bab


1.1 Pendahuluan
1.2 Tahanan Nominal Baut
1.3 Geser Eksentris
1.4 Kombinasi Geser dan Tarik
1.5 Sambungan yang Mengalami Beban Tarik Aksial
1.6 Geser dan Tarik Akibat Beban Eksentris

1 PENDAHULUAN

Setiap struktur baja merupakan gabungan dari beberapa komponen


batang yang disatukan dengan alat pengencang. Salah satu alat
pengencang di samping las (akan dibahas dalam bab VII) yang
cukup populer adalah baut terutama baut mutu tinggi. Baut mutu
tinggi menggeser penggunaan paku keling sebagai alat pengencang
karena beberapa kelebihan yang dimilikinya dibandingkan paku
keling, seperti jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit, kemampuan
menerima gaya yang lebih besar, dan secara keseluruhan dapat
menghemat biaya konstruksi. Selain mutu tinggi ada pula baut mutu
normal A307 terbuat dari baja kadar karbon rendah.
Dua tipe dasar baut mutu tinggi yang distandarkan oleh ASTM
adalah tipe A325 dan A490. Baut ini mempunyai kepala berbentuk
segi enam. Baut A325 terbuat dari baja karbon yang memiliki kuat
leleh 560 630 MPa, baut A490 terbuat dari baja alloy dengan kuat
leleh 790 900 MPa, tergantung pada diameternya. Diameter baut
mutu tinggi berkisar antara 1/2 - 11/2 in, yang sering digunakan
dalam struktur bangunan berdiameter /4 dan 7/8 in, dalam desain
jembatan antara 7/8 hingga 1 in.
Dalam pemasangan baut mutu tinggi memerlukan gaya tarik awal
yang cukup yang diperoleh dari pengencangan awal. Gaya ini akan
memberikan friksi sehingga cukup kuat untuk memikul beban yang
bekerja. Gaya ini dinamakan proof load. Proof load diperoleh dengan
mengalikan luas daerah tegangan tarik (A) dengan kuat leleh yang
diperoleh dengan metoda 0,2% tangen atau 0,5% regangan (lihat bab
II) yang besarnya 70% untuk A325, dan 80% f untuk A490.
3

A = 4 ff[d

0,974312

n
Dengan: d b adalah diameter nominal baut
n
adalah jumlah ulir per mm

6.1

1 1 0 BA B 6 S A M BU NG A N B A U T

Baut mutu normal dipasang kencang tangan. Baut mum tinggi


mula-mula dipasang kencang tangan, dan kemudian diikuti 1/2
putaran lagi (turn-of-the-nut method). Dalam Tabel 6.1 ditampilkan
ripe-ripe baut dengan diameter, proof load dan kuat tank
minimumnya.
TABEL 6.1 TIPE TIPE BAUT
Tipe Baut
A307
A325
28.6 38.1
A490

Diameter
(mm)
6.35 - 104
12.7 25.4
510
12.7 38.1

Proof Stress
585
725
825

(MPa)

Kuat Tarik Min.


(MPa)
60
825
1035

Sambungan baut mutu tinggi dapat didesain sebagai sambungan tipe


friksi (jika dikehendaki tak ada slip) atau juga sebagai sambungan
ripe tumpu.
6.2 TAHANAN NOMINAL BAUT

Suatu baut yang memikul beban terfaktor, R, sesuai persyaratan


LRFD harus memenuhi:
I? < cb.R
6.2
Dengan Rn adalah tahanan nominal baut sedangkan Q adalah faktor
reduksi yang diambil
sebesar 0,75. Besarnya Ry berbedabeda untuk masing-masing ripe
sambungan.
Tahanan Geser Baut

Tahanan nominal satu buah baut yang memikul gaya geser


memenuhi persamaan:
R =ln rbAh

6.3

Dengan: r = 0,50 untuk baut tanpa ulir pada bidang geser


r = 0,40 untuk baut dengan ulir pada bidang geser
f b adalah kuat tank baut (MPa)
Ab adalah luas bruto penampang baut pada daerah
tak berulir rra adalah jumlah bidang geser
Tahanan Tarik Baut

Baut yang memikul gaya tank tahanan nominalnya dihitung


menurut:
R=

0,754b.45

6.4

Dengan: f h adalah kuat tank baut (MPa)


A b adalah luas bruto penampang baut
pada daerah tak berulir
Tahanan Tumpu Baut

Tahanan tumpu nominal tergantung kondisi yang


terlemah dari baut atau komponcn pelat yang
disambung. Besarnya ditentukan sebagai berikut:

6.5

R = 2 4.d

'

t f

Dengan: d h adalah diameter baut pada daerah tak berulir


t adalah tebal pelat
kuat tank putus rerendah dari baut atau pelat

6.2 TAHANAN NOMINAL BAUT 111

Persamaan 6.4 berlaku untuk semua baut, sedangkan untuk lubang


baut selot panjang tegak lurus arah gaya berlaku:
6.6

Rr =

.(MPa)

Tata letak baut diatur dalam SN1 pasal 13.4. Jarak antar pusat
lubang baut harus diambil tidak kurang dari 3 kali diameter
nominal baut, dan jarak antara baut tepi dengan ujung pelat haws
sekurang-kurangnya 1,5 diameter nominal baut. Dan jarak
maksimum
antar pusat lubang baut tak botch melebihi 15tp maksimum t adalah
tebal pelat lapis tertipis
dalam sambungan) atau
200 mm, sedangkan jarak
tepi aksimum hams tidak
melehihi (4t + 100 mm)
atau 200 mm.

za dikeht:-

harus

6.:
yang diaml
;an.

3d b < S < 15t atau 200 mm


1,5d, < S 1 < ( 4t p + 100mm ) atau 200 mm
Gambar 6.1 Tata

amaan:

Letak Baut

CONTOH 6.1:
Hitung beban kerja tank
maksimum untuk sambungan
tumpu berikut, yang menyatudua buah pelat (BJ 37)
berukuran 16 x 200 mm. Baut
yang digunakan berdiameter
mm, f, b = 825 MPa dan tanpa 2 0 0
dalam bidang geser. Behan
hidup yang bekerja 3
besarnya kali beban mad.
1

22
ulir

40

40 1-75
6.-

tipe
kan

0
T

kompone
n

CrT I
i! !

6.
1

64-J T

11110-T

t 16

112 B A B 6 S AM BU N G A N B AU T

A
A
Ae
Leleh:

JAWAB:
Periksa kekuatan pelat terlebih dahulu, lakukan analisa seperti batang tarik!
= 16(200) = 3200 mm 2
= 3200 - 2( 22 + 3,2 ).16 = 2393,6 mm 2
= An = 2393,6 mm 2
0.T = df A = 0,90(240)(3200) = 69,12 ton
0.T = = 0,75(370)(2393,6) = 66,42 ton
Fraktur:
Tinjau tahanan baut:
1
2
Geser:
= 0.0,54h.m.Ab = 0,75(0,5)(825)(1)( /4-Tc-22 )= 11,76
ton/baut 0,75(2,4)(22)(16)(370) =
23,44 ton/baut
Tumpu: 0.R = 0.2,4.db.tpf
tahanan untuk 4
Tahanan geser menentukan,
baut:
sehingga 0.T = 4 x 11,76
= 47,04 ton
Dari 3 kemungkinan tersebut, 0. T = 47,04 ton yang menentukan.
> Tt,
47,04 > 1,2D + 1,6L
47,04 > 1,2D + 1,6(3D) = 6D
D < 7,84 ton dan L < 23,52 ton
Jadi, beban hidup yang boleh terjadi sebesar D + L = 7,84 + 23,53 = 31,36
ton.
nCONTOH 6.2:
Rencanakan sambungan baut sekuat pelat yang disambung bagi
komponen struktur tarik berikut ini. Pelat dari baja BJ 55 (f = 410
MPa, f t , = 550 MPa). Gunakan baut diameter 19 mm (tanpa ulir di
bidang geser, f, b = 825 MPa). Rencanakan baut diatur dalam dua
baris.
6 x150
T/2 4111-1________________________________________
11110- T
T / 2

10 x 150

JAWAB:
Jumlah luas dua pelat luar lebih besar dari luas pelat tengah, sehingga
perhitungan didasarkan pada pelat yang tengah.
Ag
A

= 10(150) = 1500 mm 2
= [ 150 - 2( 19 + 3,2) ](10) = 1056 mm 2

Max.A, = 0,85 A g = 0,85 (1500) = 1275 mm 2


A
= A = 1056 mm 2
Leleh: 0.T, = 0.f y .A g = 0,90(410)(1500) =
55,35

ton

Fraktur:

0.T,

01.A,

0,75(550)(1056) = 43,56 ton


Jadi, jumlah baut dihitung berdasarkan gaya 43,56 ton.
Tinjau tahanan baut:
Geser:
0.0,5.4b.m.Ab = 0,75(0,5)(825)(2)(1/4.n.19 2)= 17,54 ton/baut
Tumpu: 0.R = 0.2,4.d b .t p f = 0,75(2,4)(19)(10)(550) = 18,81 ton/baut

6.2 TAHANAN NOMINAL BAUT 113


Tahanan geser menentukan!
43,56
baut diperlukan 4 baut
17,54

30 60 30

tari
k
met
er

CONTOH 6.3:
Hitung jumlah baut yang
diperlukan oleh komponen
struktur
berikut
yang
memikul beban mati (D = 3
ton) dan beban hidup (L =
15 ton). Gunakan baut
tanpa ulir di bidang geser,
d b = 19 mm, f bb = 825 MPa.
Pelat yang disambung dari
baja BJ 37. Aturlah baut
dalam 2 baris.

T/2 -411

115 0

6 x 250

T
T/2 III-- _____________________________
6 x 250
JAWAB:
Hitung beban tarik
terfaktor,

T
,
=
1,
2
D
+
1,
6

L
=
1,
2(
3)
+
1,
6(
1
5)
=
2
7,
6
to
n

Pe
la
t
te
n
g
a
h
m
e
n
e
nt
u
ka

n
d
al
a
m
p
er
hi
tu
n
g
a
n
ke
k
u
at
a
n:

= 6 x 250 =
1500 mm 2
A

= [ 250 - 2.
(19+3,2)].6 = 1233,6
mm 2
an di-

Max

A = 0,85A g =

0,85 x 1500 = 1275 mm 2


Ae
mm2
Lel
eh:

T
=
Of
yA
g=
0,9
0(2

= A = 1233,6

40)
(15
00)
=
32,
4
ton
Fra
ktu
r:

0.
T
=
01
..A
e=
0,7
5(3
70)
(12
33,
6)
=
34,
23
ton

O.T.( = 32,4
ton ) >

T. (= 27,6 ton)

OK

Perencanaan baut:
Geser:

O.R =
0.0,5fub
-m-Ab =
0,75(0,
5)(825)
(2)
(1/4 i
192)
=

17,54
ton/bau
t
Tumpu:

= 0.2,44.tpf! =
0,75(2,4)(19)
(6)(370) =
7,59 ton/baut
27,6
baut diperlukan ___= 3,6
-= 4 baut
L 59

1,5db = 28,5 --- 30 mm


3db = 57 = 60 mm

114 BA B 6 SA M BU NGA N
B AU T
30
190
30
30

Cek keruntuhan geser blok!


+ 3,2)
A
= 24 90 19
1(6) =
1,54
= 24 30 19
680,4
Are
0,5(
mm 2
+ 3,2) 1(6) = 226,8 mm 2
0
,
6
4
.
A
.

,
=
0
,
6
(
3
7
0
)
(
6
8
0
,
4
)
=

1
5
,
1
t
o
n

4
.
A
n
r

=
3
7
0
(
2
2
6
,
8
)
=
8
,
3
9
t
o
n
Karena

4.

, maka

kondisi geser fraktur tank


leleh menentukan:
(1).R b. , = (0,64-24.,+
.f7 Age)
= 0,75
( 0,6(370)
(680,4) +
240(60)(6) ) =
17,80 ton
Ternyata keruntuhan geser
blok lebih menentukan
daripada keruntuhan lelch
ataupun
fraktur, bahkan
mengatasinya, maka jarak
baut perlu diubah!
50

80

i. 3

An

= 2.[ 130 1,54


19 + 3,2 ) 1(6) = 1160,4
mm 2

A
ll

50

=
5
0

0
,
5
4
1
9
+
3
,
2
)
1
(

__9

150
50

6
)
=
4
6
6
,
8
m
m
2

0
,
6
4
,

=
0
,
6
(
3
7
0
)
(
1
1
6
0
,
4
)
=
2

5
,
7
6
t
o
n
f,. Ane
= 370(466,8)
= 17,27 ton
Karena 0,64 ,A.,>

4 maka

kondisi geser fraktur tank


leleh menentukan:
0.Rhs

= 0. (0,64-A.,+
Ag)
= 0,75 ( 0,6(370)
(1160,4) +
240(100)(6) ) =
30,12 ton > T

6. 3

G E S E R E K S E N TR I S

115

Sambungan Tipe Friksi

Sem ua contoh di atas didisain sebagai sambungan tipe rumpu,


apabila dikehendaki sambungan tanpa slip (tipe friksi), maka satu baut
yang hanya memikul gaya geser terfaktor, 1,7, dalam bidang
permukaan friksi harus memenuhi

(=

6.7

Kuat rencana, Vd = 0. V , adalah kuat geser satu baut dalam


sambungan tipe friksi yang besarnya dihitung menurut:
Vd =

Dengan: p
rn

0
0

p in. proof load

6.8

koefisien gesek = 0,35


adalah jumlah bidang geser
= 1,0 untuk lubang standar
= 0,85 untuk lubang selot pendek dan lubang besar
= 0,70 untuk lubang selot panjang tegak lurus arah gaya
= 0,60 untuk lubang selot panjang sejajar arah gaya

3 GESER EKSENTRIS

Apabila gaya P bekerja pada garis kerja yang tidak melewati titik berat kelompok
baut, maka akan timbul efek akibat gaya eksentris tersebut. Beban P yang
mempunyai eksentrisitas sebesar e, adalah ekuivalen static dengan momen P
itaupu dikali e ditambab dengan sebuah gaya konsentris P yang bekerja pada
sambungan. Karena baik momen maupun beban konsentris tersebut memberi
i
efek geser pada kelompok baut, kondisi ini sering disebut sebagai geser eksentris.
Dalam mendisain sambungan seperti ini, dapat dilakukan dua macam
pendekatan yaitu:
1. analisa elastik, yang mengasumsikan tak ada gesekan antara pelat yang
kaku dan alat pengencang yang elastik
2. analisa plastis, yang mengasumsikan bahwa kelompok alat pengencang
dengan beban eksentris P berputar terhadap pusat rotasi sesaat dan
deformasi di setiap alat penyambung sebanding dengan jaraknya dari
pusat rotasi.

Gambar 6.2 Contoh Sambungan Gcscr Eksentris


Gambar 6.3 Kombinasi Momcn dan Geser

M = Pe

Oh

116 BAB 6 S AMBUNGAN BAUT

Analisa Elastik
Prosedur analisa ini didasarkan pada konsep mekanika bahan sederhana, dan digunakan
sebagai prosedur konservatif. Untuk menurunkan persamaan yang digunakan dalam analisa
ini, perhatikan sambungan yang menerima beban momen M dalam Gambar 6.4.a. Abaikan
gesekan antara pelat, momen sama dengan jumlah gaya dalam Gambar 6.4.b dikalikan
jaraknya ke titik berat kelompok baut.

M=

+ R2.d2 + + Rod6 = 1 R.d

6.9

R4
Gambar 6.4 Sambungan dengan Beban Momen

R3 ./

..41

Rs

Jika tiap baut dianggap elastik dan mempunyai luas yang sama, maka gaya
R dari tiap baut
d3 d
juga proporsional terhadap jarak ke titik berat kelompok baut tersebut.

R2

d,

=-=

d,

d6

6.10

... R dapat dituliskan dalam

Atau

=;
d,

R,=
-

d2; ...........;

bentuk:

R =d,'
d

6.11

Substitusikan 6.10 ke persamaan 6.8:


,
R

M=

.d-

R
.114 =

R
d

+=.d d

d + .........., -1=

d,

6.12

Sehingga gaya pada baut 1:


R

=
I

M.d

6.13

Id'

Dengan cara yang sama, maka gaya pada


R,=

Md

R, =M-d ,

'

bautbaut yang lain adalah:

M.(16

6.1-t

Atau secara umum dituliskan:


R = M.d

6.1

6.3 GESER EKSENTRIS

117

Apabila gaya R, diuraikan dalam arah x dan y seperti dalam Gambar 6.5,
maka dapat dituliskan komponen gaya dalam arah x dan y:
x
R
R
6.16
R = .1?
d
d
Substitusikan 6.15 ke 6.14 diperoleh:
My
M.x
R= _____________R =_____
6.17

aka:.

lika:6.''

Gambar 6.5

tari

Gaya R Diuraikan dalam Arah x dan y

Karena d2 = x2 + y2 maka persamaan 6.17 secara umum dapat

6.1'

dituliskan lagi:
My
Mx
R =________________ R=____________
+If
lx2 y`
Dengan hukum penjumlahan vektor, maka gaya R
didapatkan dari:

6.1

R= IR +R

6.18

6.19

Untuk menghitung gaya total akibat beban eksentris seperti pada


Gambar 6.2.a, maka pengaruh gaya R,, memberikan kontribusi gaya
kepada tiap baut sebesar:
R=

6.20

6.1_
Dengan N adalah jumlah baut. Dan total resultan gaya pada tiap baut yang mengalami gaya
eksentris adalah:
6.1

R=

(R + R)
6.21

CONTOH 6.4:
6.1

Hitunglah gaya maksimal yang bekerja dalam satu baut,


untuk suatu komponen struktur

b e r i k u t y a n g m e m i k u l g a y a e k s e n t r i s s e p e r t i p a d a g a m b a r.
6.1'

J AWA B :
Baut yang menerima gaya terbesar adalah baut nomor 1, 3, 4, dan 6.
Pada
baut
nomor
4 bekerja gayagaya:

118

BAB 6 SAMBUNGAN BAUT

M.y
1500)(75
R= =__________=3 ton
Lx2+1 y2 37500
100

M.x1500x50
R ____________=________
Ix) +1.y
37500

12
R - P -- = = 2 C011 1
N 6
Gaya
total pada
baut
nomor 4:
R=

+(R + R) = V3 2

5 ton

nCONTOH 6.5:
Hitung gaya R yang
bekerja
pada
baut
nomor 4 berikut ini, bila
kelompok baut tersebut
memikul beban P 1, = 5
ton yang membentuk
sudut a terhadap sumbu
horizontal,
di
mana
besarnya tan a =

JAWAB:
e = 160 mm
M = 5 (160) = 800 ton
mm

2 ton

M = 12(125) = 1500 ton

mm
+I y2 = 6(50)2 +
4(75)2 =
37500 mm2

+ (2 + 2) 2 =

e = 75 + 50 = 125 mm

4
(
5
0
)
2

4
(
7
5
)
2

3
2
5
0
0

m
m
2

G
a
y
a

g
a
y
a

y
a
n
g

b
e
k
e
r
j
a

p
a
d
a

a
u
t

n
o
m
o
r

2
:

R ______________
M. y
= 1,85800x75
ton >
X
.
32500

2 7 +1y2
2

M.x800x50
__________,
,_1,23
__________=
ton 1

+I y-

32500
_ P. c o s a 5 x 0 , 8
= 4 = 1 ton
4
>
R

Kii -

P. s i n a 5 x 0 , 6
R =____4
4=
_= 0,75 ton

6 . 3 G E S E R E K S E N TR I S

119

160

150

Pu = 5 ton

Total gaya R pada baut 2:


R=

AR+ RHY +(R, +

) 1)2 +(1,23 + 0,75) \2 = 3,47 ton


R= \10,85Rv+

terseb
ut
ontal,

nCONTOH 6.6:
Dua buah profil CNP 24 dihubungkan dengan pelat setebal 10 mm,
sebagai alat sambung digunakan baut A325 db = 22 mm (tanpa ulis
dalam bidang geser). Tersedia dua pola baut seperti dalam gambar,
yaitu pola I dan pola II. Pada kondis tersebut bekerja beban terfaktor
P. yang sama besar dan berlawanan arah. Jika diketahui
perbandingan beban hidup dengan beban mad adalah 3 (L = 3D):
a.tentukan pola mana yang lebih balk
b.dengan pola yang lebih baik tersebut, hitung beban kerja
PU

140

220

220

120 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT

JAWAB:
Pola baut I: baut yang menerima gaya terbesar adalah bautbaut
atas dan bawah M = Pu.( 184 + 72 + 184 ) = 440 Pu
r, = V36 2 +60 2 = 70 mm
R=

M.r, =

440.Pu.70

1r (4x70 )+(2x362)
2

1,3879.P,

Pola baut II : semua baut menerima gaya yang sama besar


M
= Pu.( 220 + 220 ) =
440 Pu
r

= 70 mm

Mr 440.P 70
R=_____=_______, =1,0476.P u
r2
6x70 -

S.

Ternyata pola baut II lebih baik, gaya yang dipikul tiap baut sama besar
dan lebih kecil daripada gaya maksimum baut 1 pada pola I.
Selanjutnya menghitung tahanan satu buah baut:
Geser: O.Ru = 0.0,5fub.m.A6 = 0,75(0,5)(825)(2)(1/41E-22 2)= 23,52 ton
Tumpu:O.R u = 0.2,4.d b .t p f? = 0,75(2,4)(22)(10)(370) = 14,652 ton
Tahanan tumpu menentukan!
1,0476.P < 14,652 ton
< 13,986 ton
13,986 > 1,2D + 1,6L
13,986 > 1,2D + 1,6(3D) = 6D
D < 2,331 ton L < 6,993 ton
Beban kerja yang boleh bekerja D + L < 9,324 ton (= 2,331 + 6,993)

Analisa Plastis
Cara analisa ini dianggap lebih rasional dibandingkan dengan cara
elastik. Beban P yang bekerja dapat menimbulkan translasi dan rotasi
pada kelompok baut. Translasi dan rotasi ini dapat direduksi menjadi
rotasi murni terhadap pusat rotasi sesaat. Lihat gambar 6.6.
P

CG

Titik berat
penyambung (C.G.)

Pusat rotasi
sesaat (I.C.)
Gambar 6.6 Pusat Rotasi Sesaat

kelompok alat

6.3 GESER EKSENTRIS 121

Dari persamaan kesetimbangan diperoleh hubungan:


)awah

Psino = 0

6.22

=0

IR.cosei Peas =0
i=1

6.23

=0

R..di P(e + xn .c.os + y .sin 5) = 0


i=i

6.24

=0
i=1

Dengan substitusi: r o = x o .cos 6 + y o -sin 8, persamaan 6.24 menjadi:


M=

R.d P(e+ = 0
i=1

6.25

Di mana o adalah jarak terdekat antara pusat rotasi sesaat (IC)


dengan titik berat (CG).
lebih kecil

Sambungan Tipe Tumpu

Untuk sambungan tipe tumpu, slip diabaikan dan deformasi tiap alat
pengencang proN 7- sional terhadap jaraknya ke pusat rotasi sesaat.
Analisa dilakukan sebagai 0,55
berikut:
=

Ei-

exp(-0,4

6.26

Dengan: R I adalah tahanan nominal


satu baut A, adalah deformasi
baut i dalam mm,
A dari hasil eksperimental adalah sama dengan 8,6 mm
max

n CONTOH 6.7:
Hitung P n yang boleh bekerja pada sambungan berikut ini, lakukan
analisa plastic. A=a7 sambung yang digunakan adalah baut A325
(d b = 22 mm, f u b = 825 MPa) tanpa dalam bidang geser.

Beban P yang
Iasi dan rotasi
gambar 6.6.

JAWAB:
e = 75 + 50 = 125 mm
R ni = 0,54 b .A b .m = 0,5(825)('/4 122 2 )(1)

= 15,68
ton

122 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT


Behan
bekerja
pada
sumbu y, 8 = 0, dengan
mengganti y/d untuk sin 0
serta x/d, untuk cos maka
persamaan 6.22, 6.23, 6.25
menjadi:
Op

ER,..--3d1= 0
R

d,

6.26

= /3,

6.27

=Pje+r)

6.28
= d.

Ingat juga asumsi:

d
=
d.
'

.8,6
Persamaan 6.25 hingga 6.27
diselesaikan dengan trial and

error.
1. Misalkan r 0 diambil
sama dengan 75
mm, proses
hitungan ditabelkan
sebagai berikut:
No. baut x i
1
2
3
4
5
6

25
25
25
125
125
125

yi

d.

A.

R.

(R x i / d.)

Ri.di

75
0
-75
75
0
-75

79,057
25,000
79,057
145,774
125,000
145,774

4,664
1,475
4,664
8,600

14,295
10,053
14,295
15,401
15,223
15,401

4,520
10,053
4,520
13,207
15,223
13,207

1130,090
251,323
1130,090
2245,127
1902,883
2245,127

60,730

8904,640

Dari persamaan 6.27


didapat P= 60,730
ton
Dari persamaan 6.28
didapat P =
= 44,5232 ton
Karena basil tidak
cocok, proses diulangi
lagi.
2.

Coba r o = 51,46 mm

8904,640
(125 + 75)

7,374
8,600

No. baut
1
2
3
4
5
6

x.
1,46
1,46
1,46
101,46
101,46
101,46

y.

d.

A.

R.

(R..x. / d.)

Ri.d,

75
0
-75
75
0
-75

75,014
1,460
75,014
126,171

5,113
0,100
5,113
8,600
6,916
8,600

0,283
2,634
0,283
12,385
15,130
12,385

1089,942
3,845
1089,942
1943,217

101,460
126,171

14,530
2,634
14,530
15,401
15,130
15,401

1535,055
1943,217

43,099

7605,219

Dan persamaan 6.27 didapat P,, = 43,099 ton


7605, 219
Dari persamaan 6.28 didapat P ' =

(125 + 51, 46)

= 43,0988 ton

OK

6.4 KOMBINASI GESER DAN TARIK 123

Sambungan Tipe Friksi


Analisa hampir sama dengan tipe tumpu hanya saja R = konstan yaitu:
6.2t

6.29

= 1,13x /I x Proof Load x

R.

nCONTOH 6.8:

6.2-

Kerjakan kembali contoh 6.7 sebagai sambungan tipe friksi. Karena R,


konstan,
maka
persamaan 6.25, 6.26, dan 6.27 menjadi:

6.2:!

RI21=0

6.30

R x= P

6.31

d.

eb az

Rld= P(e+ro)

JAWAB:
Dengan cara trial and error, diperoleh
.d.
No. Baut
0,09(
1,323
0,091
12,88--.

xi

9,569

9,569

5
6

15,12 -

ro = 59,569 mm.

1
3
4

5,12-

6.32

Yi

9,569
109,569

75
0
-75
75

109,569
109,569

0
-75

di

xi/di

75,60797
9,56900
75,60797
132,77939
109,56900

0,12656
0,00000
0,12656

132,77939

0,82520

535,91272

2,90351

0,82520

1,00000

Dari 6.31: P, = R,.2,90351


R(535,91272)
Dari 6.32: P =____________= R .2,90359
(125+59,569)
Karena R t = 1,13 x 0,35 x 1 /4.ir.22 2 x 0,75 x 585 x 1 = 6,5963 ton
(digunakan baut A325, d b = 22 mm), sehingga P = 2,90359 x
6,5963 = 19,153 ton.
Rcd

4 KOMBINASI GESER DAN TARIK

89,942

Pada umumnya sambungan yang ada merupakan kombinasi geser

dan tarik. Contoh


3,845

sambungan yang merupakan kombinasi geser dan tarik terlihat pada

Gambar 6.7. Pada


sambungan (a) akibat momen maka baut tepi atas akan mengalami
tarik yang sebanding
)43,217
dengan momen yang bekerja. Sambungan ini digunakan bila momen
tidak terlalu besar,
)35,055
dan untuk momen yang besar biasanya digunakan sambungan, (b)
momen disalurkan
)43,21 7
melalui sayap dan diterima oleh baut-baut pada sayap tersebut.
69,942

Sambungan Tipe Tumpu


Persamaan interaksi geser dan tarik dari berbagai stud: eksperimental, dapat
direpresentasikan sebaga persamaan lingkaran berikut ini:
Ole
2
12

' Rnvi

[R <-1

305,2 1
9

6.33

124 BA B 6 SA M B U N G AN BA U T

Dengan:

Rut

adalah beban tank terfaktor pada baut

1?, adalah beban geser terfaktor pada baut

adalah tahanan rencana pada baut dalam


tank saja adalah tahanan rencana pada
baut dalam geser saja = 0,75
Rnt dan 12 2 , masingmasing adalah tahanan nominal tank dan geser
yang besarnya:
R

ut

= 075f4b-Ab

6.34

6.35.a

R 7 2 = m.0,51L Ab
b

7 , a t a u m.0,41:bAb

6.35.b

(b)

2 profil siku
Profil
struktural
11

2 profit siku
siku

(a)

(c)

Gambar 6.7 Sambungan Kombinasi Geser

(d)

dan Tank

Persamaan 6.35.a untuk baut tanpa ulir


dalam
bidang geser, sedangkan 6.35.b untuk baut dengan ulir pada bidang geser.
Peraturan menyederhanakan persamaan interaksi geser-tarik pada 6.32,
menjadi sebuah R
persamaan garis lurus:
tnt

Ov

[OR 1

nv

22

+[

Dengan C adalah suatu konstanta.


Persamaan 6.36 dapat dituliskan
sebagai:
R _C(/) R

R12

6 .3 6

6 .3 7

6.4 KOMBINASI GESER DAN TARIK 125

____ tarik
o t.R,

Gambar 6.8 Kurva Interaksi Tahanan Geser

1,0

ya:

Tarik (Sambungan Tipe Tumpu)

Bagi baut), dan substitusikan R rtt dan

T1 Z ,

6.34
6.38

6.35.a
6.35.1)

6.39
persamaan 6.37 dengan Ab (luas penampang
dari persamaan 6.34 dan 6.35. diperoleh:
R <
).211

0(0,75.f! ).A,

0(0, 75.f,'

0,75.(0,5-

f!)-A b A 5
ft < r of = 0.(9,75f,b.c 2/;)/
Untuk baut dengan ulir pada
bidang geser diperoleh:
ft<

[of = (I).(0,754b-C

2,5f)]
6.40
Nilai konstanta C dalam
peraturan ditetapkan
besarnya adalah 1,3. Nilai 2
dan 2,5 (koefisien f ur ) dalam
peraturan direduksi menjadi
1,5 dan 1,9.Besarnya nilai 4
f untuk masing-masing mutu

baut ditabelkan berikut ini


dalam Tabel 6.2.
Dalam perencanaan
sambungan yang memikul
kombinasi geser dan tarik, ada
dua persyaratan yang harus
dipenuhi:

5.b untul

adi sebual

6.3(
A325 dengan ulir
di bidang geser
A325 tanpa ulir di
bidang geser A490
dengan ulir di
bidang geser A490
tanpa ulir di
bidang geser

6.3-

Tanpa ulir di bidang geserfb .m


1.
= V <6 . 4 1
. (bidang
P i 0,
c n-A
=geser
o f t .m
.Ab
Dengan ulir2 di
4.0..f!
b

TABEL 6.2 NILAI Oft UN

Tipe Baut
04807
1,9f) < 0.621
0-(807
1,54) < 0.621
0.0010
1,9f) < 0.779
0.(1010
1,5f.) < 0.779

126 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT

Sambungan Tipe Friksi


Untuk sambungan
tipe friksi berlaku
hubungan:

1,13x proofload

.0.y 1
_____________
/n
_____________
6.43
Dengan:
V

=
1
,
1
3
.
p
p
r
o
o
f

l
o
a
d
.
m

P
r
o
o
f
l

o
a
d
=
0
,
7
5

6.5 F.

x
A
h

X
p
r
o
o
f
s
t
r
e
s
s
Ab
adalah luas
bruto baut
T
adalah
beban tarik
terfaktor
Pd

adalah
jumlah
baut

nCONTOH 6.9:
Hitung
kecukupan
jumlah baut bagi

sambungan
berikut ini (tipe
tumpu dan tipe
friksi), diketahui
beban terdiri dari
10% beban mad
dan 90% beban
hidup. Baut A325
tanpa ulir di
bidang geser.

P = 1,2(0,1)(35) +
1,6(0,9)(35) P.= 54,6
ton

= P x = 0,8 x 54,6 =
43,68 ton V = P y = 0,6
JAWAB:

x 54,6 = 32,76 ton

35 ton
a

. Sambungan tipe tumpu:


V
32, 76
Geser: f, = =
MPa

= 143,634

n. A, 6. 1/4 .g.222
0,5.0.f .m = 0,5 x 0,75 x 825 x 1 = 309,375 MPa
b

T
a
r
i
k
:
f
=

8
0
7

1
,
5
1
;

,
=
8
0
7

(
1
,
5
x
1
4
3
,
6
3
4
)
=
5
9
1
,
5
4
9
M
P
a
(

1
).
R
,

c
l
)
.
4
A
b

=
0
,
7
5
x
5
9
1
,
5
4
9
x
1
/
4
.
T
c
.
2
2
2

=
1
6
,
8
6
5

t
o
n

7
.
/
n
=
4
3
,
6
8
/
6
=
7
,
2
8
t
o
n

T./n <
b. Sambungan
ripe friksi
V = 1,13 x p
x proof load

x m
= 1,13 x
0,35 x 1 x

proof
load =
0,3955

p
r
o
o
f
l
o
a

d
=
.
n
.
2
2
2

x
0
,
7
5
x
5
8
5
=
1
6
,
6
8
t
o
n

O
.
V
=
1

x
0
,
3
9
5
5
x
1
6
,
6
8
=
6
,
5
9
7
t
o
n

1
7

.
I
n
=
3
2
,
7
6
/
6

=
5
,
4
6
t
o
n

6.5 SAMBUNGAN YANG MENGALAMI BEBAN... 127

43,86/
0.17,, 1__ = 6,597 1 ____________________ = 4,038 ton
1,13.proofbad
1,13x16,68
Tn

6.43

Kin > 0. V (baut tak mencukupi untuk sambungan tipe friksi!!)


5 SAMBUNGAN YANG MENGALAMI BEBAN TARIK AKSIAL

Tarik aksial yang terjadi tak bersamaan dengan geser, dijumpai


pada batang-batang tarik seperti penggantung (hanger) atau
elemen struktur lain yang garis kerja bebannya tegak lurus dengan
batang yang disambungnya. Untuk memahami efek akibat beban
eksternal pada baut mutu tinggi yang diberi gaya tarik awal,
perhatikan sebuah baut dan daerah pengaruhnya pada pelat yang
disambung. Pelat yang disambung mempunyai ketebalan t dan luas
kontak antara pelat adalah A.

tanp

P (beban luar)

Gambar 6.9 Pengaruh Pratar k Awal Ak bar Beban Tank Aksial

Pada saat pemasangan awal, baut mutu tinggi sudah diberi gaya pra tarik
awal T6, hal ini mengakibatkan pelat tertekan sebesar C., dari
keseimbangan gaya:
O K Th

6.44

Beban luar akhirnya bekerja, sehingga keseimbangan gaya sekarang seperti tampak dalam
7
Gambar 6.9.c.:
Tb = pratarik awal
,
P + C./ =

6.45

P mengakibatkan baut memanjang sebesar:


O K Gaya
3
1, = f
-t
T T
4.Eb

6.46

Pada saat yang sama tekanan di antara pelat mengakibatkan pelat memendek sebesar:
C C
8 =_____
A ..Er .t
6.47
P
P

Dengan: Eb, E adalah modulus elastisitas baut dan pelat


P

Tt

adalah gaya akhir yang bekerja pada baut setelah beban bekerja

Cf

adalah gaya tekan akhir antara pelat setelah beban bekerja

128 BA B 6 SA M B U N G AN BA U T

Menyamakan 5b dan 6 diperoleh hubungan:


Ah.E

_C,Cf
Ap.E p

6.48

Substitusikan C., dari 6.44 dan C f dari 6.45 ke persamaan 6.48


didapatkan:
Tf T T, T f + P
A,.Eb
Ap.Ep

6.49

T T + Karena E b dan E sama untuk material baja, maka 6.49


dapat ditulis dalam bentuk:
P
6.50
,

1+AlTb

Ab
nCONTOH 6.10:
Baut A325 berdiameter 22 mm menerima gaya tarik aksial seperti
dalam gambar. Jika A = 6000 mm2. Hitung gaya tarik akhir pada baut
(Tf) bila beban kerja terdiri dari 20% beban mati dan 80% beban
hidup.
JAWAB:
O.Rn = 0,754b.0,75.Ab = 0,75(825)(0,75)(1/41c.222). 17,64 ton
Ru = 1,2(0,2R) + 1,6(0,8R) = 1,52 R = 17,64 ton
R
= 11,61 ton
Tb = proof stress x 0,75 Ab = 585(0,75)(1/4-Tc.222)= 16,678 ton

AP 6000
A

=15,784

) 4 7 .7.22 2

T =T6+ A_________________=16,678+1+15,78
1+

Ab

= 17,37 ton

6.6 GESER DAN TARIK AKIBAT BEBAN EKSENTRIS


Perhatikan momen M yang bekerja pada sambungan konsol dalam
Gambar 6.10 yang mengakibatkan tarik pada baut atas. Jika
digunakan baut mutu tinggi yang mempunyai gaya pra tarik awal,
maka gaya ini akan menekan pelat atau penampang yang disambung .
Sumbu netral akibat beban momen M akan terjadi di titik berat
daerah kontak.
Tekanan tumpu awal fb, akibat gaya pratarik, dianggap seragam
sepanjang daerah kontak b.d yang sama dengan:
fb b . d

6.51

6.6 GESER DAN TARIK AKIBAT BEBAN ...

129

Gambar 6.10 Geser dan Tarik Akibat Beban Eksentris

6.4

Dengan ET adalah proof load kalijumlah


baut. Tegangan tarik f
padabagianatasbidangkontakakibat
momen
M, adalah:

6.4
c

d
/
d
/

6.52
b1

6.5(

lika
i

th

M.d 12 6.M
I
b.d2

fbi
fb =________

Beban T pada baut teratas sama dengan


perkalian antara daerah pengaruhnya (lebar
b kali jarak antara baut, p) dengan fth, atau:

d2

6.54

6.55

T = fth.bp
Substitusikan persamaan 6.52 ke 6.53 diperoleh hubungan: T
6.M.p

Jika baut terluar berjarak p/2 terhadap bagian

atas bidang kontak, maka T menjadi:


(
T 6.M.p
. d p)
d2
d

CONTOH 6.11:
Hitung beban kerja P dalam sambungan berikut
ini, jika digunakan baut A325, db = 19 mm
(tanpa ulir di bidang geser). Beban yang bekerja
terdiri dari 20% beban mati dan 80% beban
hidup.

;.10
yang
2mpuny
ai

6.51

130 BAB 6 SAM BU N GAN BAUT

- 75

40

IN
I

3@80

40

JAWAB:

= 1,2(0,2P) +

1,6(0,8P) = 1,52.P

6.M .p[d p1 = 6x1,52.Px75

320-

x801

801 =
d
2

d
3
2
0
2

3
2
0

P
=
1
,

0,40.P

5
2
.
P

________ 0,19P

c/9.1?,, = 0,75(0,5
41') m. Ab = 0,75(0,5)
(825)(1)(1/4.1 -c-192)=
8,77 ton
0.A b .( 807
- 1,5 . f ) <
0.621.4,
=
0,75(807)A b
- 0,75(1,54.A b )<
0,75(621)4,
= 0,75(807)
(t/4)0'0(19 2 )0,75(1,5.4,.A
b)
<
0,75(621)e/41
c-192)
m
a
x
T
=
1
7
,
1
6
1
,
1
2

5
.
V
<
1
3
,
2
t
o
n

S
a
m
a
k
a
n
T
d
e
n
g
a
n
m
a
x
T
u

:
0,4.P
= 17,16 1,125( 0,19 P)
P
= 27,96 ton
Periksa max V dan batas
atas T (13,2 ton):
V
= 0,19.P =
0,19(27,96) =
5,3124 ton < 8,77
ton
= 0,4.P =
0,4(27,96) = 11,184 ton
< 13,2 ton
Sehingga beban kerja P
adalah 27,96 ton.
Cara lain untuk
menganalisa
sambungan kombinasi
geser dan tarik yang
menerima
beban
eksentris
dilakukan
dengan
menghitung
tegangan tarik dalam
baut dengan memakai
teori lentur f = My/I,
atau:
= M.y =

f ________
/

6.56
L A b .y 2

Jika semua baut


memiliki ukuran sama,
maka gaga tank T dalam
sebuah baut adalah:
T Abf -

6.57
Y

6.6 GESER DAN TARIK AKIBAT BEBAN ... 131

Persamaan 6.57 sebenarnya identik dengan 6.55, jika d dalam 6.55


sama dengan n.p, di mana n adalah jumlah baut dalam satu baris, maka
6.55 menjadi:
T =6-M.p[n.p pi 12.M [p(n-1)
n2-132 n.p
n'.p2
2

6.58

Perhatikan bahwa p(n 1)/2 adalah jarak baut terluar terhadap


setengah tinggi kontak area, yang identik dengan y dalam 6.57. Satu
baris baut dengan jarak p dapat diasumsikan sebagai tampang
persegi dengan
6.59
lebar A/p dan
tinggi
n.p.
Momen inersia penampang ini adalah:
1
1=
A
.3.(n.p)
12 p
Prosedur pendekatan yang terakhirmudah daripada cara analisa yang
terdahulu.
75

CONTOH 6.12:
Hitung jumlah baut (A325, db = 22 mm) untuk
sambungan berikut ini, yang menerima beban
mati D = 3,5 ton dan beban hidup L = 25 ton.

40

n @ 80
4

OK
JAWAB:
ierir
na :
mak
a.

= 1,2(3,5) + 1,6(25) = 44,2 ton

O.Rn, = 0,75(0,54 b)m.Ab = 0,75(0,5)(825)(1)(1/4.n.22 2)= 11,76 ton


Coba pakai 10 baut (5 buah per baris):
Ey e = 4 [160 2 + 80 2 ] = 128000 mm 2

6./

=
M4=
.y8,2875
= 44,2x150x160
ton
y2
128000

4
2
V = " =______= 4,42 ton < 0-Rb, (= 11,76 ton)
n
10

OK

132 BAB 6 SAMBUNGAN BAUT


Periksa interaksi geser dan tarik:

P.

(807 1,5.f,D) < 621

= (807 1,5. ) < 621

= 807 1,5
2
4 .n.22

4, 42404
1

632,58 MPa

Gunakan f = 621 MPa


0.R, (Af.Ab = 0,75(621)(1/4.7t.222)= 17,705 ton
(= 8,2875 ton) < 0.Rm (= 17,705 ton)

OK

SOALSOAL LATIHAN
P.6.1

Hitunglah beban kerja layan yang dapat dipikul oleh komponen struktur
tarik berikut
ini, jika baut yang digunakan adalah baut mutu tinggi A325
berdiameter 3 /4" dengan ulir di luar bidang geser, sedangkan mutu
pelat baja adalah BJ 37. Diketahui pula bahwa perbandingan beban
hidup dan beban mati adalah 3
(LID = 3).
t = 10
mm
60
60 1.4.4.1
50 1.
60
50'

Gambar P.6.1

P.6.2

Dua buah pelat setebal 20 mm disambung dengan suatu pelat sambung


setebal 10 mm
seperti tampak dalam gambar. Baut yang dipakai sebagai alat
pengencang adalah baut A325 berdiameter 5/8" dengan ulir di luar
bidang geser. Mutu pelat baja adalah BJ 37 . Hitunglah tahanan tarik
rencana yang diperbolehkan bekerja pada komponen struktur
tersebut!
40 50 50 40
60_
40 t

_______

t 2 0 m m
t = 1 0 m m
G a m b a r
P. 6 . 2

SOAL-SOAL LATIHAN

133

P.6.3Tentukan jumlah baut yang diperlukan untuk menahan gaya tarik sekuat
profil iL
100.100.10 seperti tampak dalam gambar, untuk beberapa tipe
sambungan sebagai berikut:
Kasus
a
b

0 baut

Mutu baja
BJ
BJ
BJ
BJ

/4 " - A 325
/4 " - A 325
7
/8 " - A 325
7
/8 " - A 325

37
37
37
37

3
3

Tipe sambungan
Ulir di luar bidang
Sambungan tanpa
Ulir di dalam bidang
slip
geser
Sambungan tanpa
slip

t = 12 mm

Gambar P.6.3

P.6.4
gaya
:
ut
ili
r
wa

Sebuah batang tarik dari siku tunggal 120.120.12 (BJ 37) digunakan untuk menahan
tarik yang terdiri dari 40 kN beban mati dan 120 kN beban hidup.
Asumsikan tebal pelat sambung adalah 12 mm. Jika digunakan baut
A325 berdiameter 1/2" dengan ulir di luar bidang geser, hitunglah
jumlah baut yang dibutuhkan
Hitunglah besarnya beban layan yang dapat dipikul oleh profil
2CNP20 dari baja BJ 37 seperti pada gambar berikut. Baut yang
digunakan adalah A325 berdiameter 7/8 " dengan ulir di luar bidang
geser. Beban terdiri dari 25% beban mati dan 75% beban hidup.

b
i

a
3
t

m
m
u
t
7
.
u
r

t = 15 mm

4)- 0 4 -04

Gambar P.6.5

401
4 @ 75
0.1 40
1 4 _________________

60
80
60

BAB 6 SAMBUNGAN BAUT

6.6
besarnya beban
layan maksimum, P,
yang menimbulkan
geser eksentris pada
sambungan
dalam Gambar
P.6.6. Beban
terdiri dari
25% beban
mati dan 75%
beban hidup.
Baut yang
digunakan
adalah A325
berdiameter
7/8" dengan
ulir di luar
bidang geser.
Asumsikan
pelat cukup
kuat menahan
beban
tersebut (BJ
37)
a)Gunakan
metode elastis
b)Gunakan
metode plastis

Gambar P.6.6

P.6.7
besarnya beban
layan, P, yang terdiri
dari 20% beban mati
150
dan 80% beban
hidup, pada
sambungan
yang terlihat
dalam

t = 10 mm

Gambar
P.6.7,
gunakan
baut
A325
berdiameter
7 "
/8
dengan
ulir di dalam
bidang geser.
Mutu baja BJ
37
a)Gunakan
metode
elastis
b)Gunakan
metode
plastis
Gambar 26.7

150

3@75
Pelat, t = 12 mm

SOAL-SOAL LATIHAN

135

Rencanakan sambungan geser eksentris dalam Gambar P.6.8 dengan


baut A325 berdiameter /8". Disyaratkan bahwa baut disusun dalam
dua lajur dengan jarak vertikal antar baut adalah 75 mm. Beban
terdiri dari 40% beban mati dan 60% beban hidup. Gunakan metode
elastis. Mutu baja BJ 37.

Posisi baut teratas

130 kN

t = 10 mm
Gambar P6.8

ban
6.9 Sambungan geser eksentris (sambungan A) dalam Gambar P.6.9 berikut
ini menggunakan
am
baut A325 berdiameter 7/8" dengan ulir di luar bidang geser. Beban
terdiri
dari
30
kN
beban mati dan 150 kN beban hidup. Hitunglah jumlah baut yang
dibutuhkan dengan cara elastis. Berikutnya rencanakan pula
sambungan profil L 100.100.10 ke flens kolom (sambungan B), t flens =
20 mm.
200

55
sambunganB

t -

10 mm

Gambar P.6.9

Sambungan A

6.10 Hitunglah jumlah baut yang dibutuhkan pada sambungan dalam Gambar P.6.10,
jika sambungan A direncakan sebagai sambungan sekuat profil. Gunakan baut
A325 berdiameter 1/2" dengan ulir di luar bidang geser.

136 BA B 6 SA M B U N G AN BA U T

tf = 20 mm
tw = 20 mm
Sambungan B
Sambungan A

Gam bar
P.6.I0

7
Sambungan Las
TUJUAN PEMBELAJARAN
Sesudah Mempelalari hab ini,.mahasiswa diharapkan dapat:
Mampu membedakan jenis-jenis sambungan las
Merighitung kapasitas las dari masing-masing jenis las
Melakukan proses analiiis dan desain sambungan konstruksi baja dengan
menggurialcan berbagai jenis las yang ada
POkok-pokok Pembahasan Bab
1.1 Peridahuluan
1.2 jenis-jenis Sambungan
1.3 jenis-jenis Las
1.4 Pembatasan Ukuran Las Sudut
1.5 Luas Efektif Las
1.6 Tahanan Nominal Sambungan Las
1.7 Geser Eksentris Metode Elastik
1.8 Geser Eksentris Metode Plastis
1.9 Beban Eksentris Normal pada Bidang Las
1 PENDAHULUAN

Pengelasan adalah suatu proses penyambungan bahan logam yang menghasilkan peleburan
bahan dengan memanasinya hingga suhu yang tepat dengan atau tanpa pemberian tekanan
dan dengan atau tanpa pemakaian bahan pengisi. Meskipun pengetahuan tentang las sudah
ada sejak beberapa ribu tahun silam, namun pemakaian las dalam bidang konstruksi dapat
terbilang masih baru, hal ini antara lain disebabkan pemikiran para ahli mengenai beberapa
kerugian las yaitu bahwa las dapat mengurangi tahanan lelah bahan (fatigue strength)
dibandingkan paku keling dan mereka juga berpendapat bahwa tidak mungkin untuk
memastikan kualitas las yang baik.
Melalui banyak penelitian tentang las, belakangan las mulai banyak digunakan dalam
bidang konstruksi. Hal ini antara lain karena proses penyambungan dengan las memberikan
beberapa keuntungan, yakni:
1.dari segi ekonomi, harga konstruksi dengan menggunakan las lebih murah dibandingkan
dengan pemakaian baut atau keling, hal ini dikarenakan pemakaian pelatpelat
sambungan maupun pelat buhul dapat dikurangi. Pada konstruksi rangka jembatan
bahkan dapat mengurangi berat baja hingga 15% jika dipakai sambungan las
2.pada beberapa jenis elemen struktur tertentu, tidak mungkin memakai baut atau keling
untuk menyambungnya, seperti contoh adalah proses penyambungan kolom
bundar, tentu lebih memungkinkan untuk memakai las
3.struktur yang disambung dengan las akan lebih kaku daripada baut/keling
4.komponen struktur dapat tersambung secara kontinu
5.mudah untuk membuat perubahan desain dalam struktur
6.tingkat kebisingan dalam pekerjaan las lebih rendah daripada baut/keling

138

BAB 7 SAMBUNGAN LAS

7.2 JENISJENIS SAMBUNGAN


Beberapa jenis sambungan yang sering ditemui dalam sambungan las
adalah:
1.Sambungan sebidang (butt joint), sambungan ini umumnya
dipakai untuk

pelat datar dengan ketebalan sama atau hampir sama,


keuntungan sambur:,z.r ini adalah tak adanya eksentrisitas.
Ujung-ujung yang hendak disambung dipersiapkan terlebih
dulu (diratakan atau dimiringkan) dan elemen yang
sambung harus dipertemukan secara hati-hati.
2.Sambungan lewatan (lap joint), jenis sambungan ini paling
banyak karena sambungan ini mudah disesuaikan keadaan
di lapangan dan juga penyar- bungannya relatif lebih
mudah. Juga cocok untuk tebal pelat yang berlainar.
3.Sambungan tegak (tee joint), sambungan ini banyak
dipakai terutama membuat penampang tersusun
seperti bentuk I, pelat girder, stiffener,
4.Sambungan sudut (corner joint), dipakai untuk penampang
tersusun berben:-_z kotak yang digunakan untuk kolom atau
balok yang menerima gaya torsi var-L besar
5.Sambungan sisi (edge joint), sambungan ini bukan jenis
struktural dan digunak,- untuk menjaga agar dua atau lebih
pelat tidak bergeser satu dengan lainnya
.

(b) lap joint

(a) butt joint

(c) tee joint

Gambar 7.1

d) corner joint

(e) edge joint

Tipetipe Sambungan Las

7.3 JENISJENIS LAS


Jenisjenis las yang sering dijumpai antara lain:
1.Las tumpul (groove welds), las ini dipakai untuk menyambung
batangbatang sebidang, karena las ini harus menyalurkan
secara penuh beban yang bekerja, maka las ini harus
memiliki kekuatan yang sama dengan batang yang
disambungnya. Las tumpul di maim terdapat penyatuan
antara las dan bahan induk sepanjang tebal penuh
sambungan dinamakan las tumpul penetrasi penuh.
Sedangkan bila tebal penetrasi lebih kecil daripada tebal

penuh sambungan. dinamakan las tumpul penetrasi


sebagian.
2.Las sudut (fillet welds), tipe las ini paling banyak dijumpai
dibandingkan tipe las yang lain, 80% sambungan las
menggunakan ripe las sudut. Tidak memerlukan presisi
tinggi dalam pengerjaannya.
3.Las baji dan pasak (slot and plug welds), jenis las ini biasanya
digunakan bersamasama dengan las sudut. Manfaat
utamanya adalah menyalurkan gaya geser pada sambungan
lewatan bila ukuran panjang las terbatas oleh panjang yang
tersedia untuk las sudut.

7.4 PEMBATASAN UKURAN LAS SUDUT

139

at
;a
n
rus
dipai
lm1.

tuk

A
A

tuk
ang

(a) groove welds

kan

_____________e f r

(b) fillet welds

Irisan A-A
(d) plug welds

Irisan A-A
I _______ I K
(c) slot welds
Gambar 7.2 Jenisjenis Sambungan Las
-

.4 PEMBATASAN UKURAN LAS SUDUT


Ukuran las sudut ditentukan oleh panjang
kaki. Panjang kaki harus ditentukan sebagai
panjang a, dan a2 (Gambar 7.3). Bila kakinya
sama panjang, ukurannya adalah tw. Ukuran
minimum las sudut, ditetapkan dalam Tabel
7.1.

mgPa n
g
ran
g
han
tuh.

a2

a2

(a) Las sudut konkaf


las sudut konveks

(b)

Gambar 7.3 Ukuran Las Sudut

TABEL 7.1 UKURAN MINIMUM LAS SUDUT


Tebal Pelat (t, mm) Paling Tebal Ukuran
Minimum Las Sudut (a, mm)
t<7

7 < < 10
10 < t < 15

las
15 < t
6

kan
ma)
ada
edi
a

Sedangkan pembatasan ukuran ma


a.Untuk komponen dengan tebal
setebal komponen
b.Untuk komponen dengan tebal 6,4
kurang dari tebal komponen

140

BAB 7 SAMBUNGAN LAS

Panjang efektif las sudut adalah seluruh panjang las sudut


berukuran penuh dan paling tidak harus 4 kali ukuran las, jika kurang
maka ukuran las untuk perencanaan dianggap sebesar 'A kali panjang
t < 6,4

mm

(a)
Gambar 7.4 Ukuran Maksimum Las

t > 6,4
mm

a,ai= t1,6
(b)

efektif.
7.5 LUAS EFEKTIF LAS

Kekuatan dari berbagai jenis las yang telah dibahas di depan,


berdasarkan pada luas efektif las. Luas efektif las sudut dan las
tumpul adalah hasil perkalian antara tebal efektif (t) dengan panjang
las. Tebal efektif las tergantung dari ukuran dan bentuk dari las
tersebut. dan dapat dianggap sebagai lebar minimum bidang
keruntuhan.
Las Tumpul

Tebal efektif las tumpul penetrasi penuh adalah tebal pelat yang
tertipis dari komponen
yang disambung. Untuk las tumpul penetrasi sebagian perhatikan
Gambar 7.5.
Las Sudut

Tebal efektif las sudut adalah jarak nominal terkecil dari kemiringan
las dengan titik sudut di depannya.
Asumsikan
T
T
bahwa las sudut mempunyai ukuran
kaki
yang
sama, a, maka tebal efektif to adalah
0,707a. Jika
ukuran las tak sama panjang, maka (b) T = T, + T 2 te = tebal efektif
harus dihitung dengan memakai T
hukumhukum trigonometri.

T2

( a ) T, < T 2 ; t e = T 1
(d) = D

45 < a < 60

Tidak ada celah

(c) t = D 3,2 mm

Gambar 7.5 Tebal Efektif Las Tumpul

7 . 6 TA H A N A N N O M I N A L S A M B U N G A N L A S 1 4 1
qr

lin ;
gap

10
t
___________________

a.b

.1a2 +b2
Gambar 7.6 Tebal Efektif Las Sudut

F !
but.

6 TAHANAN NOMINAL SAMBUNGAN


LAS

Filosofi umum dari LRFD


terhadap persyaratan keamanan
suatu struktur, dalam hal ini
terutama untuk las, adalah
terpenuhinya persamaan:

ones

cpR nu,

to

Dengan: 0 adalah faktor


tahanan
R adalah tahanan
nominal per satuan
panjang las
R adalah beban terfaktor
per satuan panjang las
mdur

-as

Tumpul

maka
Kuat las tumpul penetrasi
penuh ditetapkan sebagai berikut:
haru,
a.
Bila
sambungan
dibebani
dengan
gaya
tarik
atau
gaya tekan aksial
terhadap
luas
efektif, maka:
= 0,90.t1;
(bahan
dasar)
(P.R.= 0,90.1-4

(las)

b. Bila sambungan
dibebani dengan gaya
geser terhadap luas
efektif, maka:
0,90.t,.
(0,64)
(bahan
dasar)
0,80.t;
(0,6f)
(las)
Dengan f dan f
adalah kuat leleh
dan kuat tarik
putus.

_as Sudut
Kuat rencana per satuan
panjang las sudut,
ditentukan sebagai berikut:
0.1?. = 0,75.t;
(0,6L) (las)
O.R. = 0,75.1-;
(0,6f) (bahan
dasar) 7.4.b

as

Baji dan Pasak

Kuat rencana bagi las baji


dan pasak ditentukan:
0.R.
Dengan
A
.
a
d
a
l
a
h
l
u
a
s
g
e
s

e
r
e
f
e
k
t
i
f
l
a
s
a
d
a
l
a
h
k
u
a
t
t
a
r
i
k
p
u
t
u
s
l
o
g
a
m
l
a
s

142 BAB 7 SAMBUNGAN LAS

n CONTOH 7.1:
Tentukan ukuran dan
tebal las sudut pada
sambungan lewatan
berikut ini. Sambungar
menahan beban tank D =
10 ton dan L = 30 ton.
Diketahui f , = 490
MPa; = 40( MPa.
16 x 180

4 0 to n

a.b
a2 + b2

JAWAB:
Persyaratan ukuran las:
Maksimum = tebal
pelat 1,6 = 16 1,6
= 14,4 mm
Minimum = 6 mm
(Tabel 7.1)
Gunakan las ukuran 10 mm
t
= 0,707.a = 0,707 x 10 =
7,07 mm
Kuat rencana las sudut
ukuran 10 mm per mm
panjang:
= 04.(0,60-4) = 0,75(7,07)
(0,60 x 490) = 1558,935
N/mm
Dan
kapasita
s las ini
tak
boleh
melebihi
kuat
runtuh
geser
pelat:
Max
01?,
=
4t(0,6
0 f) =
0,75(16)
(0,60
x
400)
=

2880
N/mm
Beban tank terfaktor,
T = 1,2D + 1,6L =
1,2(10) + 1,6(30) =
60 ton
Panjang total las
dibutuhkan,
60.104L =___________ = 384,8 mm
390 mm
1558,935
Jika las sudut yang
digunakan hanya berupa
las memanjang saja pada
batang tank datar, panjang
tiap las sudut tidak boleh
kurang dari jarak tegak
lurus di antara keduanya,
dan panjang total tidak
melebihi 1,5 kali panjang
yang
dibutuhkan.
Oleh
karena
itu,
untuk
persoalan di am, maka
diambil panjang las tiap
nisi
adalah
250
mm
(Gambar (a)). Dapat pula
digabung
antara
las
memanjang
dan
las
melintang,
yang
dapat
mengurangi
panjang
sambungan
lewatan
(Gambar (b)).

7.6 TAHANAN NO MINAL SAMBUN GAN LAS

143

Sambungan Seimbang (Balanced Connection)


igan Dalam beberapa kasus, batang menerima tank aksial yang memiliki eksentrisitas terhadap
400
sambungan las. Perhatikan profil siku yang menerima beban tank aksial dalam Gambar
7.7 dan disambung dengan memakai las sudut. Gaya T bekerja pada
titik berat profil siku. Beban T ini akan ditahan oleh gaya F 1 , F,, dan
F 1 dari sambungan las. Gaya F, dan F diasumsikan bekerja tepat pada
sisi profil siku. Gaya F, akan bekerja pada titik berat las 2 yang
berjarak d/2 dari sisi profil siku. Ambil keseimbangan momen
terhadap titik A:
3

1MA = FIdF2.c112.+T-e= 0

7.6

atau:
F =T.eF2

7.7
d
2

F,= cb-RnA,

7.9

7.10

nu

Gaya F, dihitung berdasarkan tahanan las (P.R kali panjang las, L :


7.8
Dari keseimbangan gaya horizontal diperoleh:
=

=0

Selesaikan persamaan 7.6 dan 7.9 didapatkan:


=T 1-d

F
2

Gambar 7.7

Penyeimbangan Sambungan Las


T_____

:ang
tank
n
CONTOH 7.2 :
eetuan
150
ya itu,
untus.
1.)).

75-

1 TETo
7

Selanjutnya panjang las 1 dan 3 dihitung


sebagai berikut:
F3
Lwl =___1sambungan
Rencanakan
las
sudut
untuk menahan gaya tank sekuat 7. 1 1
Fw3
____
.1
profil siku0L?,,
0.1?nu,
100.100.10 dari BJ
37. Mutu las f w =
490 MPa.

1 44 B A B 7 S A M B U N G A N L A S

JAWAB:
Hitung tahanan rencana dari profil siku, diambil harga
terkecil dari:

0.7 = 0,90o g =

0,90(240)(1920) = 41,472 ton

= 0,75.f,A= 0,75(370)(0,85 x 1920) = 45,288 ton


Sambungan akan didesain terhadap 0.T.
41,472 ton Pilih ukuran las dan hitung
Ukuran minimum = 4 mm (Tabel 7.1)
Ukuran maksimum = 10 1,6 = 8,4 mm
Pakai ukuran las 4 mm
= (p.t.0,60L = 0,75(0,707 x 4 )(0,60)(490) =
623,6 N/mm
= 00,60.4
Menentukan ukuran
las = 0,75(10)(0,60)(370) = 1665
F2 =
6,236 ton

= 623,6 x 100 =

= T. e F 2 4 1 , 4 7 2 x 2 8 , 2 6 , 2 3 6 =
d 2 100

ton
8,58

F3 = 41,472 8,58 6,236 = 26,656 ton


F 8,58 x104
L = 1________ = ___________137,58 140 mm
O.Rnw
623,6
26,656 x104
L = 3
= 427,45 430 mm
O.Ra. 623,6
w3

nCONTOH 7.3:
Rencanakan kembali contoh 7.2, namun tanpa las ujung (las 2).
JAWAB:
=
T.e F 2 41,472 x 28,2
= 11
, 7 ton
F
d 2 1 0 0
= 41,472 11,7 = 29,772 ton
Te F 2 41,472 x 28,2
F=

= 137,58 ..= 140 mm


d4
2 3 0
m100
m
,,,,,
1

1
L
w=

F=8' ' 5 8
x 4
--R
623,610 = 427,45
1

7 . 6 TAH A N A N N O MI N A L S A MB U N G A N L A S 1 4 5

n CONTOH 7.4:
Hitung beban kerja yang boleh bekerja pada sambungan berikut ini,
jika diketahui persentase beban mati adalah 20% dan beban hidup
80%. Pelat yang disambung terbuat dari baja BJ 37 dan mutu las f w =
490 MPa.
Pelat 15 x 250

JAWAB:
Hitung kuat rencana
berukuran 10 mm

dari las sudut


dengan panjang 120 mm

=
(0,60)

= 0,75(0,707 x 10)
(490) = 1558,935 N/mm

max O.R =

04.0,60.4

Las sudut 10 mm, L i,, = 120 mm

= 0,75(15)(0,60)

Las pasak
(I) 35
(370)
=

2497,5 N/mm

Lw1.0.Rnu, 2(120)(1558,935) = 37,41 ton Kuat


rencana yang diberikan oleh las pasak
berdiameter 35 mm:
T2 =

0 ,7 5X

.71-.352 X 0,60 X 490

21,21 ton

= Ti + T2 = 37,41 + 21,21 = 58,62 ton


Periksa kekuatan pelat:
= 0,901;A g = 0,9(240)(15)(250) = 81 ton
0.7 = 0,75:f.4, = 0,75(370)(15)(250) =
104,1 ton Kuat rencana las menentukan!!

= 58,62 > 1,2D + 1,6 L


>1,2(0,27) + 1,6(0,87)
>1,52T
T < 38,56
ton

n CONTOH 7.5:
Hitung beban kerja sambungan las sudut dan baji berikut ini. Bila
diketahui perbandingan beban mati dan hidup adalah 1 : 5 (D/L =
1/5). Pelat yang disambung dari baja BJ 37 dan mutu las f = 490
MPa.
Las sudut, a = 5 mm, L = 100 mm

50 mm

Pelat 10 x 200

146 BAB 7 SAMBUNGAN LAS

JAWAB:
Kuat rencana las sudut:
O . R = 04,(0,60f) = 0,75(0,707 x 5 )(0,60)(490) = 779,4675
N/mm
T, =

2(100)(779,4675) = 15,58 ton

Kuat rencana las baji:


A, = (50 10).20 + 1/8.7[.20 2 = 957 mm 2
T,

=
=

0,75(957)(0,60)(490) = 21,1 ton


= 15,58 + 21,1 = 36,68 ton

Periksa kekuatan pelat:


= 0,90f..A g = 0,90(240)(10)(200) = 43,2 ton
0.7 2 =
= 0,75(370)(10)(200) = 55,5 ton
Sehingga 0. 7, = 36,68 ton > 1,2D + 1,6 L
>
+ 1,6(5D)
> 1,2D
Didapat D < 3,98 ton dan L < 19,9 ton. Beban kerja T < 3,98 + 19,9 (=
23,88 ton). 7.7 GESER EKSENTRIS METODA ELASTIK
(tegangan akibat geser langsung)

Analisa

7.12

didasarkanpadaprinsipmekanikabahanhomogen,menggabungkanantarageselangsung
denganpuntir.Teganganpadapenampanghomogen:A =

f 'a

I
P
Dengan r
P

=
b a

T .

r
m

( t e g
m e n

n
i

r )
7 . 1

adalah jarak dari titik berat ke titik tegangan


adalah momen inersia polar

Untuk kasus dalam Gambar 7.8, komponen tegangan yang


diakibatkan oleh geser lan. , :
sung adalah:
fx = P

7. 1+

(a) Sambungan

(b) Penampang lintang efektif

Gambar 7.8 Sambungan Konsol dengan Geser Eksentris

7.7

GESER EKSENTRIS - METODA ELASTIK 147

Dan tegangan akibat


puntiran:
T (P .e, +P .e)-y
f" = _____
T . y = x Y Y ). e.yx
I
A
P
T.x.
(P,...e yFP,.ex ).x
f" =___.

7.15.
a
7.15.b

Dengan:
I=I+
+14.:V.2

+1A.5,2+1/
7.16

Momen Inersia polar, I, untuk las


dalam Gambar 7.8.b adalah:
= 2

ton).

=
ira

-t

12

te

2[L,.t,..y21+ 2

7.17
3

"le

12

.t

Untuk keperluan praktis suku pertama dalam 7.17 diabaikan karena t


cukup kecil, sehingga persamaan 7.17 dapat dituliskan kembali sebagai :
7.12

= [12.L .y72+L 31

7.18

n CONTOH 7.6:
Hitung beban rnaksimum (N/mm) pada

305
b

1051
I

ser
lang-

konfigurasi las

L - 3 0berikut ini.

Asumsikan ketebalan
pelat tak
mempengaruhi. Jika
diketahui pula beban
terdiri dari beban
mati 20% dan beban hidup 80%,
rencanakan ukuran las yang
mencukupi
490 MPa)

P=6,5 ton

100

JAWAB:
Hitung letak titik berat kelompok las, ambil statis momen
terhadap las tegak:
2_
x150x 75
x _____________=45 mm

148

BAB 7 SAMBUN GAN LAS

Panjang las, L w = ( 2 x 150 ) + 200 = 500 mm


=

___.2003 + (150.1002.2)+ 2.____.150 + (2.150.302)+ 200.452


12
12
= 4904166,67 rnm'
Komponen Gaya pada las di titik A dan B akibat geser langsung:
P 6,5.104
130 N/mm
RV = L
500
Komponen gaya akibat torsi terhadap titik berat las:

T. y 6,5.104 X 305 x 100


= = ___= 4 0 4 , 2 5 N / m m
- I P 4 7 0 1 6 6 6 , 6 6 7 T.x 6 , 5 . 1 0 4 x 3 0 5

R=

x105
=________________= 424,46 N/mm

Y iP 4701666,667
Resultan gaya, R:
R = V421,66 2+ (442,74+130 2 ) = 686,18 N/mm
Gaya terfaktor, / 3 :

= 1,2D + 1,6L = 1,2(0,2 x 6,5) + 1,6(0,8 x 6,5) = 9,88 ton


Gaya terfaktor yang bekerja pada las, k:

R = R.(P/P) = 711,216 (9,88/6,5) = 1042,99 N/mm


Tahanan oleh las, 0.1?,,,:

0,754 ; 0,60.f,,,,= 0,75 (0,707.a) 0,60 x 490 = 155,8935 a


Untuk mencari ukuran las, samakan~R ttw dengan
155,8935.a = 1042,99

--->

a = 6,69 mm = 7 mm

7.8 GESER EKSENTRIS METODA PLASTIS


Metoda ini jauh lebih rumit daripada metoda elastik, seperti halnya pada saat pembahasan
geser eksentris pada sambungan baut. Beban dianggap berputar terhadap pusat rotasi
sesaat. Dalam analisa plastis ini kelompok las dibagi-bagi menjadi segmen-segmen yang
lebih kecil. Dan tahanan R, dari masing-masing segmen las ini proporsional terhadap
jaraknya ke pusat rotasi sesaat. Arah kerja R diasumsikan tegak lurus terhadap garis jarak
titik berat segmen las ke pusat rotasi sesaat.
Tahanan rencana dari segmen las per satuan panjang adalah:
= 0-t.0,60L;(1 + 0,50.sini50)

7.19

Dengan 0 = 0,75

0 adalah sudut beban diukur dari sumbu memanjang arah las


Jika segmen
las merupakan
bagian
konfigurasi
5 dari suatumenjadi:
eksentris,
persamaan
7.19
dimodifikasi
R. = maka
0,601L.t/1
+ 0,50.sin'
0)_

yang terkena beban geser

A
_____ 19 09._____
A

7.20

7.8 GESER EKSENTRIS METODA PLASTIS

149

Dengan:
R r adalah tahanan nominal segmen las, N/mm
0 adalah sudut beban diukur dari sumbu memanjang las,
derajat
A, adalah deformasi elemen ke i = r . . CA L/ min
= 5,31.(0 + 2) -03 2 .a mm
A = 2 7, 6 1 . ( 0 + 6) - " ' a < 4, 3 1 8 . a , m m
a adalah panjang kaki las sudut, mm
Langkah-langkah dalam menyelesaikan soal geser eksentris
sambungan las (metoda plastis) adalah sebagai berikut:
1. Bagilah konfigurasi las menjadi segmen-segmen yang lebih
kecil
2. Tentukan letak pusat rotasi sesaat (coba-coba)
3. Asumsikan gaya R dan R. dari tiap segmen las bekerja dalam
arah tegak lurus terhadap garis yang menghubungkan pusat
rotasi sesaat dengan titik berat segmen las
4. Hitung 0, dalam derajat
5. Hitung d m , d u dan kemudian cari harga Air minimum
6. Hitung Ai
7. Hitung R. dari persamaan 7.20
8. Dari persamaan kesetimbangan:

EM=

P(e + ro) ERir +

P = ___________j
e + ro

F=0

7.23

P = ER i ,cos 0

7.24

i+

ER -sin 0i

7.19
ro
Las Sudut

7.21
7.22

P = I(Ri)y+ E(R)y

hasa
n
esaa
t.
lebi
h
Ikny
a
bera
t

Gambar 7.9

ER.r

Tahanan R dari Segmen

150 BAB 7 SAMBUNGAN LAS

n CONTOH 7.7:
Kerjakan kembali contoh
7.6, dengan metoda
plastis. Dengan ukuran
las a = 6,935 mm.
hitunglah P yang boleh
bekerja pada sambungan
tersebut, bandingkan
hasilnya dengan metoda
elastik.
50

50

# 2.

50

50

50

11

5
PRS

CG

r
JAWAB:
Las mendatar akan
dibagi tiga segmen @ 50
mm, dan las tegak akan
dibagi menjadi segmen
@50 mm. Perhitungan
hanya dilakukan
setengah bagian saja,
mengingat konfigurasi
las yang simetris.
Perhitungan
ditampilkan dalam tabel
berikut, diperoleh P r =
18,57 ton.
Dari
basil
analisa
elastik, dengan ukuran
las yang sama (= 6,935
mm) diperoleh P = 6.:
ton ( 35% analisa
plastis).

Segmen
1
2
3
4
5

0
121.7231
71.7231
21.7231
-3.2769
-3.2769

-41.7231 mm
mm
305

a
f,
L
e
P

6.935
490
50
305
18.57

mm
MPa
mm
mm
ton

100
100
100
75
25

157.5326
123.0618
102.3323
75.07155
25.21385

50.59564
35.64926
12.256
87.49822
82.53247

10.36184
11.53185
15.73482
8.740985
8.90212

13.89325
16.95775
28.98673
10.02515
10.38714

0.088193
0.137799
0.283261
0.133541
0.411962

min

0.088193

A.

A,/A

(R)y

13.89325
10.85317
9.024978
6.620777
2.223682

1.340809
0.941148
0.573567
0.757441
0.249792

1889.17
1757.412
1410.733
2109.739
1657.889

1459.734
1024.258
299.4705
-92.0909
-215.466

297605.9
216270.3
144363.5
158381.4
41801.77

setengah

2475.905

858422.8

total

4951.811

1716846

Dari persamaan 7.22 diperoleh:


P.,

1716846/(305 + 41,7231) = 4951,63 N/mm

Dari persamaan 7.24 diperoleh:


P

4951,811 N/mm

jadi, nilai r sudah henar

GE
SE
R
EK
SE
NT
RIS
ME
TO
DA
PLA
TIS

152 BAB 7 SAMBUNGAN LAS

7.9 BEBAN EKSENTRIS NORMAL PADA BIDANG LAS


Perhatikan sambungan konsol menggunakan las, yang dikenai beban eksentris normal. dalam
Gambar 7.10.
P

Mc _M
I W

2teL,,
A 2

e c

Gambar 7.10 Tegangan pada Las Vertikal Akibat Geser dan Lentur
C

n CONTOH 7.8:
Hitung ukuran las yang diperlukan bagi sambungan pada Gambar 7.10 tersebut, bila
diketahui beban kerja P = 4,5 ton terdiri dari 20% beban man dan 80% beban hidup.
Eksentrisitas, e = 150 mm dan panjang las
250 mm. (f, u, = 490 MPa)
JAWAB:
Beban kerja terfaktor,

P = 1, 24 0, 20 x 4, 5 ) + 1, 64 0, 8 x 4, 5 ) = 6, 84 ton
Akibat geser P
langsung:P
(1? )

"'

A = 2x1xL,,

6,84.10 =

136,8 N/mm

2x1x250

Akibat momen Pe:


M-c 6,84.10 4 .150.125
(R),= ________________________= 492,48 N/mm
2. 1 x1x2503
12
Gaya Resultan:
OR,

per

, = j136,8 2 +492,48 2 = 511,127 N/mm

Tahanan las:
= 0.t.0,60L = 0,75 x 0,707.a x 0,6 x 490 = 155,8935.a

nw

511,127

=3,278 mm = 4 mm
a

peril,

155,8935

_A
SOAL-SOAL LATIHAN 153

SOALSOAL LATIHAN
norma
.

Tentukan besarnya beban maksimum terfaktor, To yang dapat bekerja


pada sambungan seperti dalam Gambar P.7.1. Mutu baja yang
digunakan adalah BJ 37, sedangkan mutu las f = 490 MPa, dengan
ukuran 6 mm.
1.

150 mm

Pelat 100 mm x 12 mm

Gambar P7.1

. 7" 7 .2 Jika sambungan dalam soal P.7.1 harus memikul beban mati sebesar 75
kN dan beban
hidup sebesar 175 kN, tentukan panjang las yang diperlukan,
gunakan mutu las f =
f
490 MPa.
= 7.3

Tentukan besarnya beban layan maksimum, T, yang dapat dipikul


oleh
sambungan
pada
Gambar P7.3. Kedua batang tersebut terbuat dari pelat berukuran
175 mm x 19 mm. Las yang digunakan berukuran 10 mm (fu, = 490
MPa) dan mutu baja adalah BJ . (LID = 4)

)ut,
bila
hidup.

Gambar P.7.3

7.4Hitunglah panjang las sudut Ll dan L2 pada sambungan yang direncanakan sekuat profil
L 50.50.5. Gunakan ukuran minimum las dengan mutu fuw = 490 MPa dan mutu baja BJ
37.

Gambar P.7.4

154 BAB 7 SAMBUNGAN LAS

Hitunglah beban terfaktor maksimum yang diperbolehkan bekerja pada


sambungan dengar
menggunakan las pasak dan las sudut dalam Gambar P7.5.
Gunakan mum baja BJ dan mum las f = 490 MPa. Diketahui pula
bahwa ukuran las sudut 6 mm.
R7.5

Pelat 200 x 10

50 mm

Las pasak 0 20 mm

Gambar P.7.5

Hitunglah beban layan, T, yang dapat dipikul oleh batang tarik yang
disambung denga:P.7.6

Pelat 2 @ 75 x 8

-44 75 mm

Pelat 150 x 12

r ________________

menggunakan las sudut ukuran 6 mm (fnw= 490 MPa) seperti dalam


Gambar P.7.6. Mur.. baja yang digunakan adalah BJ 41. (LID = 4)
Gambar P.7.6

120kn

250

250
Pelat 250 x 12

Pelat 250x12

14-150-041-150-04

Gunakan analisa elastis untuk menentukan beban maksimum pada


las (dalam N/mm
untuk sambungan yang terdapat dalam Gambar P.7.7.
P.7.7

Gambar P.7.7

SOAL-SOAL LATIHAN 155

ngan
37

P.7.8

Gunakan analisa elastis untuk menentukan beban maksimum pada las (dalam N/mm)
untuk sambungan yang terdapat dalam Gambar P.7.8.
120kn
75

250
Pelat 250 x 9

250
Pelat 250x9
141-125-1441-175-0.1

Gambar P.7.8

!ngan
Vluul

mm

P.7.9 P.7.10
Kerjakan kembali soal P.7.7 dan P.7.8 dengan menggunakan metode plastic!

8
Torsi
TUJUAN PEMBELAJARAN

Sesudah mempelajari bab ini, mahasiswa


diharapkan dapat: Mempelajari perilaku balok
yang memikul beban momen torsi
Menentukan besarnya tegangan-tegangan yang terjadi pada
penampang profil
Melakukan desain penampang berdasarkan momen torsi yang
bekerja
Pokok-pokok Pembahasan Bab
1.1 Pendahuluan
1.2 Torsi Murni pada Penampang Homogen
1.3 Pusar Geser (Shear Center)
1.4 Tegangan Puntir pada Profit 1
1.5 Analogi Torsi dengan Lentur
8.1 PENDAHULUAN

Pengaruh torsi/puntir terkadang sangat berperan penting dalam


disain struktur. Kasus to sering dijumpai pada balok induk yang
memiliki balok-balok anak dengan bentang tak sama panjang. Profit
yang paling efisien dalam memikul torsi adalah profit buncLberongga (seperti cincin). Penampang ini lebih kuat memikul torsi
daripada penampan.: bentuk I, kanal, T, siku atau Z dengan luas
yang sama.
Suatu batang pejal bulat bila dipuntir, maka tegangan geser
pada penampang di titik akan bervariasi sesuai jaraknya dart pusat
batang, dan penampang yang semula datLakan tetap datar serta
hanya berputar terhadap sumbu batang.
Pada tahun 1853 muncul teori klasik torsi dart SaintVenant, is
mengatakan bahv._ jika batang dengan penampang bukan lingkaran,
bila dipuntir maka penampang semula datar tidak akan menjadi
datar lagi setetah dipuntir, penampang ini menjadi (warping) keluar
bidang.
8.2 TORSI MURNI PADA PENAMPANG HOMOGEN

Perhatikan momen torsi, T, yang bekerja pada batang pejal homogen.


Asumsikan tak ac__ pemilinan keluar bidang.
Kelengkungan torsi, 0, diekspresikan sebagai:

d0
B=
dz
Dan regangan geser, y, dart suatu elemen sejarak r dart
pusat adalah:
y=r

44)

dz

=r0

Dart hukum Hooke, tegangan geser


akibat torsi: = 7.G

8.:

8.:

8.3

8.2 TORSI MURNI PADA PENAMPANG HOMOGEN 157

Gambar 8.1 Torsi pada Batang Pejal

To r s i

adalah sedemikian sehingga:

dT = T-dA.r = y.G-dAr = r 2 .
(d0/dz).G.dA

8 . 4

Mengintegralkan persamaan 8.4 akan


diperoleh:

= fdO r2 .G=

Adz

dz

Dengan:

8 . 5

.Gfr2.dA=

adalah Modulus

) ersia polar (untuk penampang


a d a l a h k o n sGt ea snet ra =
t o r s i , a t a u m o2m( 1
e+
n vi n
lingkaran)

Te g a n g a n g e s e r, ' c , d a r i p e r s a m a a n 8 . 2 d a n 8 . 3 a d a l a h :

Tr
=

r.______dz (3-

Dari

persamaan

8.6

dapat

disimpulkan

bahwa

tegangan

geser

akibat torsi sebanding dengan jarak dari titik pusat torsi.

enampang Lingkaran
Pe rhat i kan pe na mp an g b e rb e nt uk l in g ka ran d e ng an jar i- jar i r

1 4

r, r. 1
=

4
2

4)
.

171.. (r,2_rilr,2,r 12),

( r2 _ X r,

dan

r2,

di

mana rl

<

rz
r

= r

del =

f2.7r.r 3 .dr

158 BAB 8 TORSI


Jika r2 = ri + t maka r22. = ( + t )2 = ri2 + 2 rit + t2
TC

Maka J= .t

I
+2.ri.t+t2)

2
Untuk.tr=
maka:
1 = 0,
=____
J

TC.1- 3 7r t4

jr

(2

04 =

qr.d4

2 2 32 32 T .(d
12)= 16.T

maks = 1

___.rc.d 4
32

71-44

Untuk t 0, maka:
i
i
t
t t2 1
(2.r,)3
jr.t
2
J= __.r. 2+ r )4.1 . 2+2+ 2 :=--22r.t '
2
1
\
r1 r 1 j
8
1
J = 4.g. t.d 3

(d +t
T. 2 i =
. a k , =
I 3
4

Penampang Persegi
Perhatikan penampang persegi yang mengalami geser akibat torsi,
pada Gambar 8.2. Regangan geser = 7
regangan geser =

t/2
Gambar 8.2 Torsi pada Penampang Persegi

Regangan geser, y adalah:


dO t \
dz \2)

=2.

8-

d0

= t

dz

Berdasarkan hukum Hooke, tegangan geser,


diekspresikan
sebagai:

T = y.G=t.G.dz =

d t p T. t
J

E.

8 . 3 P U S AT G E S E R ( S H E A R C E N T E R ) 15 9

Dari teori elastisitas, Teak terjadi di tengah dari sisi panjang


penampang persegi dan bekerja sejajar sisi panjang tersebut.
Besarnya merupakan fungsi dari rasio b/t dan dirumuskan sebagai:
ki.T
T i = ______________________________________________________________________________ 8.9
M a r.

Dan konstanta torsi penampang persegi adalah:


J=

8.10

Besarnya k, dan k2 tergantung dari rasio b/t, dan ditampilkan dalam


Tabel 8.1.
TABEL 8.1 HARGA K 1 DAN

b/t

1,0
4,81
0,141

k,

1,2

1,5

K,

UNTUK PERS AMA AN 8.9 DAN 8.10

2,0

2,5

3,0

4,0

5,0

00

3,0
4,57
4,33 3,88 3,88
3,75
3,55 3,44
0,166 0,196 0,229 0,249 0,263 0,281 0,291 0,333

Drofi l I, Kanal, T dan Siku

Dari Tabel 8.1 tampak untuk b/t yang besar maka harga k, dan k2
akan cenderung konstan. Untuk penampang-penampang berbentuk
I, kanal, T dan Siku, maka perhitungan konstanta torsinya diambil
dari penjumlahan konstanta torsi masing-masing komponennya yang
berbentuk persegi, sehingga dalam hal ini:
J=

5.3

.b-t3

P U S AT G E S E R ( SHE AR C ENT ER)

Perhatikan elemen pada Gambar 8.3 berikut ini.

8.11

Gambar 8.3

Tegangan pada Penampang ipis Terbuka Akibat Lentur

Titik

8.-

(a
)

(b
)

160

BAB 8 TORSI

Kesetimbangan gaya dalam arah z adalah:


D(Tr) , .dz t

as

as

+ao2dzds=0
az

8.12

atau
t

acrz

as

8.13

az

Dari persamaan 5.46:


az=

M x .I y M y I x y M y I x M x I x y
I2 Y + III2_____________-X
x y x7
y x.y

aa

V I V x I
x.yy Maka:

az
Dan

8.14

.x

ix.iyIxy2 1+T 2
Ix T .'y
V .I V. I S

Tt=

.I S

xYY

AY. Sytdc _________2


Y fxtds.
2
IxIy Ixy 0
Ix.1 yIxy 0

8.15

Dari Gambar 8.3.b, maka momen terhadap titik 0 (CG) adalah:


V-X

8.16

= f(rt)r.ds = fr x(zt________)615.

Karena: r = xi +
dyj 77.

yj maka

x dr =

Sehingga V.x, 174 =

dr

= dxi +

(x.dy y.dx) k

8.17

frt(x.dy y.dc)

Mengingat persamaan 8.15, maka:


V .1 V .I S
yy

124x.dy y.dx) =

xxy

V .1 V
xx

2
j
x y
0

. 1 yI . j

yxy.rxt. ,
ds

IxIyIxy

.(x.dy y.dx) =

nr

V[I xy-iXt-dc
1

(x. dy y-dx)

V,
f yt.dsj+(

-1172

Ix.Iy

xY

..fxt.ds
0

Dari persamaan 8.17 dan 8.18, maka


diperoleh:
1_____________

ds f I jyt.

Yo =

8.18

xt.ols x.4
y.dx)

n[

Titik (x,y) merupakan pusat geser penampang.

8 .1 9 .a

8.3 PUSAT GESER (SHEAR CENTER)

161

n CONTOH 8.1:
Tentukan koordinat geser bagi penampang
pusat
berikut ini:

12

x 0 = q + ab

13

a=
2.b4 . + d.tw
ab

d/2

2a 1=

- d. t w
212.6 +

d.tw
(1 - a) b
14

d/2

15


1,1
Mencari
n

/ = 0, maka:

S
-

0 = 1 . fy t. ch
/ x y . fx t. ci s (x . d y - y. dx )
X

'9

I..Iy-1,3,2 0_

nS

Y )

0 =___.5 Yt.CIS(X.4

.dX

x 00

0<s<b
S

1s

Sid

=.dri= 2
2
si = 0
> = (1
a).1>
s = b > = ctb

Syt.ds

sd
s

yt. = yff'.(x+ (1 a)b) untuk


x = ab Jryt.cis = dff '
jdc
..b
o
o
2

SI

=x+

ab

nS

i i yt ai(x.aji - y.dx)= 5 `=-2 .9c.


(x + (1 WO
00

(1

2 .dx
- (1-a)b

d` ff. arb
4
(x + (1 a)b)clx

= ______________ i

d2 4 2
`J

8i

d2 .0".62

9 .a

-(1-a )b
d2

).b

2 -[1 x2 + (1- oc).b.x( ab


(1 a)b

d2 .9` [1 ct2 b2 (1 a) b 2
4

.a

[ .b

- (1- a)2 .b2 + (1- a)2 .b21

]= !

162 BAB 8 TORSI


b<s<b+d

S2
Syt.ds.=-d.9'4+
y = - s2 + d/2

5H2+-d).tw.ds2
2

= - y + dI2

o
o

S2 = 0

-y

=
dI2
S2 =

d
-> y
= dI2

.ab.dy

S2
jyt.ds=-d
1(-s2+d

).tw.ds2
2
0

tf .

--

1)+t.w

1 2 d
2.s2 +27'2

= -d1.tw.(y+-61\2
-y+

22
22
2

Untuk y = dI2 fyt.cis=-d

5
1
di 1
d
yt.ds(x.dyy.dx) =
- y+
+ -.d .tw - y
+
2

0 0
d/2
2

dl

r 2d 1
d

= i -2..b-=.tw y2
-d.y+
+-.d.twHy+-111\
.ab.dy
2
42
2,
1
+2

-ly2 + d.y-d12
ai,
d/2
2
=
2
/
m
e
.
b
.
2

(
d
)

_
1

4
w

:
3
3

v
+
2
1
.
d
.
t
u

\ ti Y dI2
24w.
[i
d .4..b._-dl2)_1

j
]

a
b

[
=

= -ab[--

1 174
H-2...21
.tw.d3 ab

1
2

1
1
t
w
d
3
+
2

-.
1
7
4
I2
1
=
a
.
b
.
1
2
b + d < s < 2b + d

syt.ds

S
3
r

a 4..ds3
J
o
-

=--1.'.b-'14'.(x+ab)
2
n

-(1-a)b ,

fsyt.ds(x.dy y.dx.)_

f [a .4.4 d . _.,

6
x+a12)1.L-dx
J

2
/
2
2

oo
ab
[
_

4 d2 w.b.x
(1a
4 )b
d2 . .r 2
f+abx
'''
ab
ab

_1 . ,
..
(1-a)b'\

8.3 PUSAT GESER (SHEAR CENTER)

163

21

.d .d

= 8.d .y'.12-

Sehingga:
x = 1 1.d
I,, 8

1 .,, .b2 = 1 el' .y..62


ab.I,--8.d2
/ 4

2' 2
.b

x = y..(bd)2 +a.b.
4.1,

+ab.I,

y'.(b.d)2
4.1

Mencari y .:
= ___________2-1
yt.ds I fxt
o
o
s
1"
I = 0, maka: Yo = --ifxt.ds(x.dyy.dx)
I

0<s<b
f

xr.ds =

y.dx)

y 00

s,

0
=

22

(1 0)12.S i

2.(x

+(1a)b)2 (1a).(x +(la)b).61

xr

i
S

Untuk
nS
ab x =
ffx-t.ds(x.dy y.dx)a.b
=

00

d . v e

2
.63 1.b3+ .a.b3
6 2 2

62

0. xt(.dsx= 2 2 .(2a
+ 1)( 1
a ) b ) 2
( 1
a ) . (d x
+
( 1
a ) b ) . b 1 .

. d x
2
1
\
.(1a).(x + (1a)b)2 .b ab
ab (1a)b , 2
(1a)b
6

d2

.b'+ .a.b'
3
2

_______ d.tf [ d . t w ) + 3 . b . Y .
2
6(2.b.+ d.tw)
[ b.+2.d.tw 12 L2.b.+d.tw
b<s<b+d
S

b2

fx.t.ds =
2
0

r x.tw.ds2

1a
3+ 2

164 BA B 8 TOR S I

-1)+

2
=b 2

- y + d\

Untuk y = - d/2

ixt.ds = ______2

f f x t . d s ( x . d y - y. d x ) =
fi o

a .b.ti

.b 3

f2 [

.(2a -1) +

a .b.tw.d

rb2.

X2

tf

_______.(2a-1) -e1/2

.(2a-1)+ .b.tw. - y+ .ab.dy

z 2.1.w. __.,2

a .b

c t ' b

. ( 2 a

d 12

1 ) . (

d ) + a

-d/2]
d/
2

2 d

. b

=2
(Lb .d.(2a

a .b

.d

.b

- d .tw

.d.tw
+ d.tw

. t w. d

b.

2
a.b

.d

+_____________________________

.d.tw+ b.q

2.

.d .twi

d.tw

+ d.tw

b + d < s < 2h + d

53

b2

. ( 2 a - 1 ) + a . b . t w. d +

xt.ds =

2
.(2a -1)+
2

b2

x .ds3

1)+

1
a . b . t w. d

a . b . t w. d

--

4 '.(-x +a b) 2 + a.b. q` .(-x +a b)

nS

= f f xt .ds(x
oo

-(1-a)b

.dy y.dx) =
,r

b2____:1

ab

.(2a -1)+a.b.tw.d

( 1,2 tf

_ . _______________-

2
[

1).x

( 1

a b

1
.tf .(- x + ab)3 -(1- a)b
(

b2
2 . t f

I
+
a . b . t w. d . x

( 1

- d2

.dx

a ) b

i
-

a b

.6

a ) b

-14'.(-x+ab) +a.b..(-x+ab) .

-1

ab

.a.b.v

.(-

ab)

( 1

a ) b
a b

' . ( 2 a - 1 ) ( - b ) + a . b . t w. d ( - b ) +

-1

.' .63

- 2 -

.a.b. .b2

8.4 TE GANGAN PUNTIR PADA PROFIL I 165

1
d .b2 [

1
2

b (2a 1)+a.tw.d
2
6

1 b.vc(2.b.+ d
.d.tw
d . .d.tw
(b .v92
.tw)2.6 + d .tw 2(2.b.+ d
2 [ 2(2b.+ d .tw) + d .tw 6
.tw)
2 d.b2
2.6 .d .tw
(b .vc)2
6(2.b.+ d.tw) 6(2.b.ve-F d .tw)

d.b2

____________(2.d.tw+b.0
2 6(2.b.+d.tw)

b.ff + 2.d awl


12 L2.b.-Fd.tw]

Sehingga:
l[dyYo = /

12 ,2.b.+d.tw

.123

b +2.d .tul+o d
12

yo=

1 +2.d .tw
2.b.+d.tw

Dan

pusat geser adalah:


(b .d)

koordin )

+ab ;0

at

4.I

3.4 TEGANGAN PUNTIR PADA PROFIL I

Pembebanan pada bidang yang tak melalui pusat geser akan


mengakibatkan batang terpuntir jika tak ditahan oleh pengekang
luar. Tegangan puntir akibat torsi terdiri dari tegangan lentur dan
geser. Tegangan ini harus digabungkan dengan tegangan lentur dan
geser yang bukan disebabkan oleh torsi.
Torsi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni torsi murni (pure
torsionl SaintVenant's Torsion) dan torsi terpilin (warping torsion).
Torsi
k+q
murni
PH

Pusat

Pusat

Pusat
geser
(SC) _____________1

T = PH

geser

PH

(a)

Gambar 8.4 Penampang dengan


Behan Torsi

T = Pe
(b)

geser
Titik
berat

T = P(k+q)
(c)

mengasumsikan bahwa penampang melintang yang datar akan tetap


datar setelah mengalami torsi dan hanya terjadi rotasi raja.
Penampang bulat adalah satu-satunya keadaan torsi murni. Torsi
terpilin timbul bila flens berpindah secara lateral selama terjadi torsi.

166 BAB 8 TORSI


Torsi Murni (Saint-Venant's Torsion)

Seperti halnya kelengkungan lentur (perubahan kemiringan per


satuan panjang) dapat diekspresikan sebagai M/EI = d2y/dz2, yakni
momen dibagi kekakuan lentur sama dengan kelengkungan, maka
dalam torsi murni momen M dibagi kekakuan torsi GJ sama dengan
kelengkungan torsi (perubahan sudut puntir 0 per satuan panjang).
d0
M, = Gj
8.20
dz
Dengan: M adalah momen torsi murni (Saint
Venant's Torsion) G adalah modulus geser
J
adalah konstanta torsi
Menurut persamaan 8.6 tegangan akibat M sebanding dengan
jarak ke pusat torsi. Torsi Terpilin (warping)
Sebuah balok yang memikul torsi M, maka bagian flens tekan akan
melengkung ke sa.Lsatu sisi lateral, sedang flens tarik melengkung
ke sisi lateral lainnya. Penampang pac.. Gambar 8.5 memperlihatkan
balok yang puntirannya ditahan di ujung-ujung, namun flea bagian
atas berdeformasi ke samping (arah lateral) sebesar 141 Lenturan ini
menimbulkategangan normal lentur (tarik dan tekan) serta tegangan
geser sepanjang flens.
Secara umum torsi pada balok dianggap sebagai gabungan
antara torsi murni torsi terpilin.

Gambar 8.5 Torsi pada Profil I

Persamaan Diferensial untuk Torsi pada Profil I

8.2:

Dari Gambar 8.5, untuk sudut 0 yang kecil


akan diperoleh:
u f = 0.
2
Bila of didiferensialkan 3 kali ke-z, maka:
d 3 uf
h d 30
dz3

Dari hubungan momen dan kelengkungan:


d ' u

dz

f
2

_ Mf
E.I f

8.2:

8.4 TEGANGAN PUNTIR PADA PROFIL I

167 Dengan M1 adalah momen lentur pada satu flens. It. adalah momen Inersia satu
ipa:
gar
g a r.
1.20

flens terhadap sumbu-y dari balok. Karena V = dM/dz, maka:

d3u1

dz3

8.24

E-I f

Dan menyamakan persamaan 8.22 dengan 8.24 akan


diperoleh bentuk: dz330
If. h
Vf = E 2 . d

8.25

Dalam Gambar 8.5, komponen momen torsi


yang menyebabkan
lenturan lateral
dari flens, sama dengan gaya geser flens dikalikan h, sehingga:
h2 d30
0
M = V h = E I
= E.0 . d 3
8.26
3
.
f.
2 dz
dz3
alaE
)ada
E'en
,
I ka r
.

Dengan C = 1/./92/2, disebut sebagai konstanta torsi terpilin (torsi

warping).
Momen torsi total yang
bekerja pada balok adalah
jumlah dari M dan M 4 , yakni:

Mz
+M,=G.Jdq)E.C,

d,

M,

dz

8.28

8.27

dz3

Jika persamaan 8.27 dibagi dengan EC:

d30 G.J
dz3 E.C. dz

Mz
E.C

Dengan mensubstitusikan X 2 = G.J/E.C, akan didapatkan suatu PD


Linear Tak Homogen:

d30
dz3

dO = M,
E.C,
dz

E.C

8.29

Solusi PD ini adalah:


0 = 0h + OP =(A1.e +
Atau 0 = A.sinh

Dengan)= I G.J

CONTOH 8.2:

+ Bcosh

+
+ C + f(z)

) +(.f,(z))

8.30.a
8.30.b

Turunkan persamaan bagi sudut puntir 0, hitung pula turunan


pertama, kedua dan ketiganya, untuk balok dengan momen torsi T
pada tengah bentang. Balok tertumpu sederhana.
8.21

0 = 0

0 = 0

8.22

8.23

C
M,= Ms +

= T/2

M, = T/2

168 BAB 8 TORSI

TI

JAWAB:
Momen M adalah konstan yaitu T/2, misalkan
Op = C, +
Substitusikan O p ke dalam persamaan 8.28:
1
T
.c2 =
_____.
-->
E.C,
C2 = 2
2.G.J
2

Sehingga solusi umum PD adalah:


0 = A sinh + B cosh kz + C +
2.G. J

.z

Konstanta A, B, dan C diperoleh dari Boundary Condition


berikut ini:
(
P(z = 0)= 0
dan
0(z. L) = 0
0 d a n 0 "
(z = L) = 0
Dalam kasus ini, PD tak kontinu di L/2, sehingga pada L/2
kemiringan sama
atau 0 1 =
= O.
L12)

Dari

,=

0:
0=B+
C
Dan dari 0")
=0
(z. 0)
2
0 = A.V.sinh Xz + B.X .cosh
"

A=

0 =B
Sehingga didapatkan pula C = 0
Dari 0
f_,2) = 0:
2. G. J

1
2.G. J coshAL/2
Sehingga solusi khusus PD adalah:
0 = ________
T
sinhAz
2.G.JA[ coshAL/2
Az __________
Diperoleh pula:

0 = A.A.coshAL/2+

T
o' =

[1 cosh2.z

2.G. JL coshAL/2]

,51011111111111

1 III I I I

8.4 TEGANGAN PUNTIR PADA PROFIL I 169

TA, [ sinhAz
2.G.J[ cosh21/2

122 r coshA.z
2.G.J[coshAL/2_
egangan Torsi
Tegangan geser
= Ms "

8.31

dz

Tegangan geser akibat torsi

adalah:

SaintVenant

akibat torsi

warping

= Vf -Qf

8.32

If .t f
berikut
:

Besarnya Q1 diambil sebagai

A..)7=

Qf =

b.t f
2

Dan V f dari persamaan8.2


610 5:
V
I
h
= E 1.. .
2 dz
Sehingga dengan mengambil

8.33

.12
2
.t 8

ens-

hargamutlaknya:

r' =1

d23

8.34

Gambar 8.6

Perhitungan Scads Momen Q .

Tegangan tarik dan tekan akibat lentur lateral dari flens adalah:
= M f .x

If

8.35

Tegangan ini bervariasi secara linear sepanjang sayap, dan mencapai


maksimal pada x b/2. Nilai Mf diperoleh dari substitusi persamaan 8.21
ke
hjd 20 = E.C d20
8.36
M = E.I
I
f 2 dz2
h

8.23, yaitu:

170 BAB 8 TORSI


Dan pada x = b/2:
Cr = E.If

11

d20 b

2 ) dz

8.3 -

2.1f

E.b.h d 0
8.38

4 dz2
Secara ringkas, 3 macam tegangan yang timbul pada profil I
akibat torsi adalah:
a.tegangan geser T pada web dan Hens (Torsi Saint Venant,
b.tegangan geserpada Hens akibat lentur lateral (torsi warping,
NI,)
c.tegangan normal (tarik dan tekan) G , akibat lentur lateral
Hens (Mt)
ab. -

bu

n CONTOH 8.3:
Sebuah balok WF 500.200.10.16 tertumpu sederhana menerima
beban terpusat di tengaF bentang (P = 10 ton) dengan eksentrisitas
5 cm. Hitunglah kombinasi tegangan yang timbul akibat lentur dan
torsi.

= 0,5 ton m= 5.10' Nmm


T =10 x
0,05
2,6 =
v 0,3
untuk
E 2.E.(1+v)
1
50
0
=
3
3
3 -.[2.(200).16 + (500 -16).10 ] =
J = 11 -4000________
702133,33
mm 4 1= 1,24936.10'
(500-16) 2 2 mm'
1
.b.t 3
_____________
8000
.2003.16.
12
2
2
Data
profil : G.J = 702133,33 = 4,649.10-4/mm
= 47800
2,6
cm4 Sx =
x1,24936.1012
a. Torsi Murni (Saint Venant's Torsion)
T. =

cosh,.z
= G.t. T [1
dz 2.G.J coshAL/2

8.4 TEGANGAN PUNTIR PADA PROFIL I

2 . ,

T 1 1

c o s h A z

171

1
2 . J
L
c o s h a / 2

5.10 6 .t
coshAz
= __________. 1 ______ = 3,561.41 coshAz
2 x 702133,33 3,288 _
3,288
Tegangan geser maksimum pada z = 0, dan nol pada z = L/2
=

"C

coshOl
3,561 x1611
= 39,65 MPa
3,288

[ cosh
.,(,,,t) pd.,,,o) = 3,561x10.[1 ___ = 24,78 MPa
3,288

b. Torsi
Warping
Tegangan
geser
=

E.

b2.h (1'0

16 dz 3
=

E.b2'hT*A2[ coshAz 16
2.G. J coshAL/2_

zw = 2,421.

2,6 x 2002.(500 16) x 5.106x (4,649.10-4)2


coshAz
r,, = _________________
32 x 702133,33
3,288

coshAz
3,288
Tegangan geser ini bekerja pada tengah tebal flens dan nilai
maksimum terjadi
pada z = L/2, sedangkan minimum pada z = 0.
t

tu , ( Hens, z L/2 )

u,

ens, -0

fl7

= 2,421 MPa
= 2,421.

0,736 MPa

3,288

Tegangan normal
E.b.h d 2 0
bu = ___
4 dz2
E.b.h T.A sinhAz
.

4
coshAI/
sinhAz
2.G.
2
J
Cr
bu, =
8.J GcoshAL/
sinhAz
6
-4
2 .(500- 16)
5.10
x4
,649
.10
x200
ab , = ___________________________________________
2 6. _______
47

1224,

le

8x702133,33

cosha/2_

Tegangan ini mencapai


maksimum di z = L/2 dan nol di z = 0.
3 131
'
= 10415_____ = 99,18 MPa
3,288

172 BAB 8 TORSI


c. Lentur Biasa
Tegangan
normal
P.L
105.8000
Crb = ___ ___________ = 104,712 MPa
4.S
4 x1910.103
Tegangan geser akibat lentur, konstan dari z = 0
sampai 5.10
z = 4L/2
.Q V .Q =
= _____
I.t
47800.104.t
Tegangan geser maksimum di
flens:
Q = (200 16
2
x 16

16

flens, 7. = o L/2 )
d==

= 367840 mm 3

x(500,

5.10 .367840
4

47800.104x16 = 2,4 MPa

Tegangan geser maksimum di web


Q = [200x16.

500-16

0500-32)

500-31

x10. _______ = 1048180 mm


4

5.10 .1048180
4

= 10,96 MPa
web, z = 0 clan z - L/2 )
47800.10 4 x 10
Rangkuman:
Jenis Tegangan
Tegangan normal
- Lentur vertikal, a b
- Lentur torsi, Ghw

Tumpuan

Lapangan

(z = 0)

(z = L/2)

0
0

104,712
99,18
203,892

Tegangan Geser, Web

Saint Venant, T ,
- Lentur vertikal,

24,78
10,96

0
10,96

35,74
Tegangan Geser, Flens

- Saint Venant,
- Torsi Warping,
- Lentur vertikal,

39,65

0,736

2,421

2,4

2,4

42,786

8.5 ANALOGI TORSI DENGAN LENTUR


Penyelesaian masalah torsi dengan menggunakan persamaan
diferensial, memakan wat,-_ yang cukup banyak, dan cukup
digunakan dalam analisa saja. Untuk keperluan prak: disain,
digunakan analogi antara torsi dan lentur biasa. Misalkan beban
torsi T dalaGambar 8.7 dikonversikan menjadi momen kopel P H kali
h, maka gaya P H dapat dianua: sebagai beban lateral yang bekerja

pada flens balok.

8.5 ANALOGI TORSI DENGAN LENTUR 173

Sistem struktur pengganti mempunyai gaya geser konstan


sepanjang setengah bentang balok, padahal distribusi gaya geser
yang
menimbulkan
lenturan
lateral
hanyalah
akibat
warping/pemilinan raja. Sehingga struktur pengganti ini akan
menimbulkan gaya lateral yang lebih besar dan akibatnya momen
lentur Mf yang menimbulkan tegangan normal juga lebih besar dari
keadaan sebenarnya.

eJP H

h pH .%

eN,a

r,

PH

r---* ---1

PH/2

I L/2

PH/2
L/2_______________________________L/2

14

Gambar 8.7 Analogi Torsi dan Lentur

n CONTOH 8.4:

Hitung tegangan pada profil WF 500.200.10.16 (coal 8.3) dengan


memakai analogi lentur.
4000 m

PH= 5.106/484 = 10330,58 N

1
A

V f

V f

JAWAB:
Mf = Vf L/2 L/2 =
Cr

2.M

'=S

1033058

.4000 = 20661160 Nmm (untuk satu flens)

2 x20661160 = 193,1 MPa


214.103

Tegangan geser akibat torsi, dengan M = T12 = 2,5.106 Nmm


M .t 2,5.1(6(16
=______=
= 56,97 MPa (flens)

J 702133,33

174 BAB 8
TORSI

M .t 2,5.106x10
= 35,6 MPa (web)
J 702133,33

Zf _________________________________

Tegangan geser pada Hens akibat


lentur
lateral:
Vf.Qf
=
(10330,58/2)x 80000 =
2,42 MPa
If .tf
1
.2003.16 x16
12
Dengan Qf =.16.2 = 80000 mm3
20
00
2
4
Rangkuman:

Jenis Tegangan

Analogi Lentur

Pers. Diferensial

Teg. Normal: 6b +
104,71 + 193,1 = 297,812
203,892 MPa
Tampak
hasil
hitungan den10,9
gan memakai metoda analogi lentur
Teg. Geser
Web:
35,74 MPa
+ 35,6 = 46,56 MPa
memberikan
yang lebih besar,
untuk
suatu 42,786 MPa
'c + ti
6
2, +
56,97itu
+ dilakukan
2,42 = 61,79
modifikasi
sebaFlens:
Teg. Geser
gai berikut:
"C +
4 MPa

Dari persamaan 8.25, untuk kasus pada contoh 8.2, maka


V dapat dituliskan bentuk:

8.3'

later
V=
f 2.1;\coshAL/2T(
a
Den g an T/h merupakan beban lateral, dan T/2h
adalah g aya g eser akibat lentur Momen lentur
lateral
coshAzdapat diekspresikan seba g ai : T L \
Mf =
_
8.4
.

coshAL/2
2.h 2
\

M f .h = p x T .L
4

Dengan /3 =
coshAz

8.4
1

Persamaan 8.40 dapat dimodifikasi la gi menjadi bentuk:


Di mana TL/4 mirip dengan momen lentur biasa untuk beban
terpusat pada balok tctumpu sederhana. Harga [3 untuk berbagai
tipe pembebanan dapat dibaca dalam lampir 1 yang terdapat pada
akhir buku ini.
CONTOH 8.5:
Hitung kembali tegangan akibat torsi dari contoh 8.4 dengan
menggunakan metoc_ analogi lentur yang dimodifikasi.
M f = 20661160 Nmm
XL = 4,649.10' x 8000 = 3,72
Dan tabel dengan a = 0,5 dan AL = 3,72 diperoleh
/3 = 0,5136 Mf = 0,5136 x 20661160 =
10611571,78 Nmm
2.M f 2 x10611571,78

'

____________________= 99,17 MPa


S
214.103

8. 5

Bandingkan dengan basil dari


memberikan 0 6 , = 99,18 MPa

ANALOGI TORSI DENGAN LENTUR 175

Persamaan

Diferensial

yang

Untuk keperluan disain, maka dengan menggunakan persamaan


lentur biaksial dan mengkonversikan momen torsi menjadi sepasang
momen lentur lateral yang bekerja pada masing-masing flens, harus
dipenuhi persamaan berikut:
_______ M" Ob.fy
S, S

8.43

Dengan: M adalah momen lentur vertikal


M (akibat
adalah torsi)
momen
uylentur lateral
S S adalah tahanan momen terhadap sumbu x
dan y adalah faktor reduksi = 0,90
f
adalah kuat leleh material
n CONTOH 8.6:
Rencanakan profil bagi balok berikut ini yang memikul beban mati
D = 5 kN/m dan beban hidup L = 10 kN/m. Beban bekerja dengan
eksentrisitas 8 cm dari sumbu profil. Panjang balok L = 8 m dan
balok tertumpu sederhana di kedua ujungnya. BJ37.
D. 5
kN/m; L
= 10

kN/m

1111111111101111111111111111111 A

to-200--01
JAWAB:
Misalkan digunakan profil WF 500.200.10.16 (berat sendiri = 0,897 kN/m) q. =
1,2(5) + 1,6(10) = 22 kN/m
Mti = 81.q.L2 = -1-8.(22 + 1,2(0,897)).82 = 184,6112 kN.m
Mom en torsi te rbagi rata, m adalah: m = 22
x 0, 08 = 1, 76 m. kN/m
Dari analogi lentur, momen lentur lateral M f yang bekerja pada satu flens adalah:

M =

1m
f

8h

11,76
2
x_______x8 = 29,1 kNm
8 0,484

176

BAB 8 TORSI

Dengan memakai modifikasi analogi lentur, untuk a = 0,5 dan AL = 3,72;


maka C_- tabel diperoleh /3 = 0,4092, sehingga momen
lentur lateral menjadi:
Mf = 0,4092 x 29,1 = 11,91 kNm Dari
persamaan 8.43:
M
54bf;
SS
v
184,6112.10 6 2x11,91.10 6
+ __________.0,90x 240
1910.10'
214.103
207,965 MPa < 216 MPa
uY

OK

SOALSOAL LATIHAN
P.8.1 P.8.3
Hitunglah nilainilai maksimum dari tegangan normal (G n), tegangan
geser web/bada: (^c,, b) dan tegangan geser flens/sayap ('r n) dari balok
dalam Gambar P8.1 P.8.3 berikuini!

U2

___
1

Gambar P.8.1 P8.3

Soal

Profil

P (kN)

L (m)

P.8.1
P8.2
P8.3

WF 600.200.11.17
WF 350.350.12.19
WF 250.250.9.14

50
40
20

10
8
6

e (mm)
100
150
10

P.8.4 P.8.6
Kerjakan kembali soal P.8.1 P8.3 dengan menggunakan metode
analogi lentur modifikasi!
P.8.7
Periksalah apakah profil WF 400.200.8.13 cukup untuk digunakan dalam
komponen
struktur dalam Gambar P8.7. Gunakan cara analogi lentur modifikasi,
dengan menganggap mutu baja adalah BJ 37!

SOAL-SOAL LATIHAN

mak _

177

P = 120 kN

1J2

112

Sebuah balok dengan bentang 12 m tertumpu sederhana, memikul


sebuah beban terpusat di tengah bentang sebesar 40 kN (20% D dan
80% L) . Jika beban membentuk eksentrisitas sebesar 10 cm dari
sumbu badan profil, disainlah dimensi balok seekonomis mungkin
eb/b, _
(dari IWF BJ 37) dengan menggunakan metode analogi lentur
modifikasi (abaikan berat
3 be:.
sendiri balok)
40 kN (20% D; 80% L)

112

112

1110,1

9
Tekuk Torsi Lateral
TUJUAN PEMBELAJARAN
Sesudah mempelajari bab ini, rnahasiswa diharapkan dapat:
Melakukan analisis dan desain komponen struktur lentur
Memahami pengaruh tekuk torsi lateral akibat tidak
adanya kekangan menerus pada sisi sayap tekan
Pokok-pokok Pembahasan Bab
1.1 Pendahuluan
1.2 Perilaku Balok I Akibat Beban Momen Seragam
1.3 Tekuk Torsi Lateral Elastis
1.4 Tekuk Torsi Inelastis
1.5 Desain LRFD Balok I
1.6 Lentur Dua Arah
9.1 PENDAHULUAN

Perhatikan struktur balok tanpa kekangan lateral dalam Gambar


9.1. Pembebana:-. : bidang web balok akan menghasilkan
tegangan yang sama besar antara titik A c_ - (menurut teori umum
balok). Namun adanya ketidaksempurnaan balok dan eksen::
beban, maka akan mengakibatkan perbedaan tegangan antara A
dan B. Tegangan juga mengakibatkan distribusi tegangan yang
tidak sama sepanjang lebar sayap.
Flens tekan dari balok dapat dianggap sebagai kolom. Sayap
yang diasumsikan
_
kolom ini akan tertekuk dalam arah lemahnya akibat lentur terhadap
suatu sumbu sepen Namun karena web balok memberikan sokongan
untuk mencegah tekuk dalam arah ini. flens akan cenderung
tertekuk oleh lentur pada sumbu 2-2. Karena bagian tank dari
berada dalam kondisi stabil, maka proses tekuk lentur dalam arah
lateral tersebut akan dibi_- dengan proses torsi sehingga terjadilah
tekuk lentur torsi (Lateral Torsional Buckling).
Ada dua macam kategori sokongan lateral, yakni:
1. sokongan lateral menerus yang diperoleh dengan
menanamkan flens tekan 7 ke dalam pelat lantai beton
2. sokongan lateral pada jarak-jarak tertentu yang diberikan
oleh balok atau
_
melintang dengan kekakuan yang cukup
9.2 PERILAKU BALOK I AKIBAT BEBAN MOMEN SERAGAM

Untuk menurunkan persamaan desain bagi balok yang mengalami


tekuk torsi laterL gunakan ilustrasi sebuah balok yang menerima
beban momen seragam yang tidak terk,_ secara lateral. Beban
momen seragam tersebut menyebabkan tekanan konstan pad,.

flens sepanjang bentang tak terkekang. Jika ada variasi momen,


maka gaya tekan flens bervariasi sepanjang bentang tak terkekang.
Hal ini mengakibatkan gaya tekan
rata yang lebih rendah sepanjang bentang tersebut. Gaya tekan
rata-rata yang lebih
_
ini mengurangi peluang terjadinya tekuk torsi lateral.

9.2 PERILAKU BALOK I AKIBAT BEBAN ... 179

Titik A

------

Lendutan lateral
dari flens tekan

3-'Th---7- ,-------,,, - - B
Tampak atas

Lendutan lateral
dari flens tekan

Pembebanan pada bidang badan

ffilimmmum
111111Mumni ib

Flens tekan
A

Tampak samping
Tampak samping

Gambar 9.1 Balok Terkekang Lateral pada lijung - ujungnya

Tekuk torsi lateral adalah kondisi batas yang menentukan


kekuatan sebuah balok. Sebuah balok mampu memikul momen
maksimum hingga mencapai momen plastis (M1). Tercapai atau
tidaknya momen plastis, keruntuhan dari sebuah struktur balok
adalah salah satu dari peristiwa berikut:
1. Tekuk lokal dari Hens tekan
2. Tekuk lokal dari web dalam tekan lentur
3. Tekuk torsi lateral
Ketiga macam keruntuhan tersebut dapat terjadi pada kondisi
elastis maupun inelastis. Gambar 9.2 menunjukkan perilaku dari
sebuah balok yang dibebani momen konstan M dengan bentang
tak terkekang L. Empat kategori dari perilaku balok tersebut
adalah:
1. Jika L cukup kecil (L < L )' maka momen plastis, M, tercapai
dengan deformasi
yang besar. Deformasi yang besar
ditunjukkan oleh kapasitas rotasi R.AH, dengan R > 3 adalah
faktor daktilitas. Kemampuan berdeformasi (kapasitas
rotasi) adalah kemampuan menerima regangan Hens yang
besar dengan stabil. Perilaku ini ditunjukkan oleh kurva 1
pada Gambar 9.2
2. Jika L diperbesar sehingga L pd < L < L , maka balok dapat
mencapai
namun
dengan kapasitas rotasi yang lebih kecil (R < 3). Hal ini
dikarenakan kurang cukupnya kekakuan Hens dan/atau
web untuk menahan tekuk lokal, atau kurangnya sokongan

lateral untuk menahan tekuk torsi lateral. Perilaku


inelastis ini ditunjukkan oleh kurva 2 pada Gambar 9.2
3. Bila panjang bentang tak terkekang diperbesar lagi (L < L <
L), maka M hanya mampu mencapai M , dengan kapasitas
rotasi yang sangat terbatas. Tekuk lokal Hens dan web
serta tekuk torsi lateral mencegah tercapainya
4. Perilaku elastis (L <
dengan tahanan momen M ditentukan
oleh
tekuk
elastis, serta tekuk lokal flens, tekuk lokal web dan tekuk
torsi lateral

180 BAB 9 TEKUK TORSI LATERAL

Gambar 9.2 Balok dengan Behan


Momen Konstan Tanpa Kekangan
Lateral

b
,

Inelastis
3

M
Gambar 9.3 Hubungan

Mp

C
Deformasi dengan Momen

Op
Plastis,RAl
Batasan untukL0
y
s
L
o
,da
n
L
ak
an
di
ba
ha
s
da
la
m
su
bb
ab
9.
4.
'

1
es,

B
p

Rey ,

Rotasi

9.3 TEKUK TORSI LATERAL


ELASTIS

Untuk menurunkan
persamaan
pada
balok
I
yang
mengalami tekuk
torsi lateral e._
akibat
beban
momen
seragam
M,
perhatikan

Amax

est

Regangan flans rata-rata

gambar 9.4 yang


menunjukkan
posisi se: _ balok I
yang tertekuk.
Beban momen
Mo yang
diberikan pada
bidang yz dapat
diuraikan
terhadap Su-x
dan z menjadi
komponenkomponennya yaitu
dan Mz'.
Dengan rt-_,
asumsikan
deformasi kecil,
maka
kelengkungan pada
bidang y' z dapat
dituliskan 7 jadi:
dv
E dz2
=M,
2

Demikian juga pada


bidang x z:
du
E-I ____=M ,=M
2

-0

y dz2

9.3 TEKUK TORSI LATERAL ELASTIS 181

Persamaan diferensial untuk balok I yang menerima beban torsi


telah diturunkan dalam bab VIII (persamaan 8.27):
9.
3

Mz,=GJ_____ E.C, d2o


dz
dz
Dari Gambar 9.4 (a) diperoleh hubungan:
MZ d, u
=dz

9.
4

Jika persamaan 9.3 dan 9.4 disamakan


akan diperoleh:
3
du
(10
0
- .M =GJ
E.0

9.
5

(a) Tampak atas

dv

(b) Tampak samping

ir:7

-v

dz

Gambar 9.4 Balok I dengan Beban


Momen Seragam,

Mendiferensialkan persamaan 9.5 ke-z


didapatkan:
d 40
2u
= Gd2o E.0 _______
Jz2
w dz4
dz2
Dari persamaan 9.2 dapat dituliskan
hubungan:
d2u M-

9.
6

9.
7

1 82 B A B 9 T EK U K TOR S I LATE R A L

Selanjutnya substitusikan persamaan 9.7 ke dalam persamaan


9.6:
2
E.0 d4 0 -GJ___________ mo0=0
dz4
d z 2 E .1

Dengan memisalkan:

c,

dan /3= _A102

2a=__GJ

E.0

E .0

maka persamaan 9.8 dapat ditulis kembali menjadi:


c/40

9..

-2a_______-R0J30 = 0

dz4
Untuk memperoleh solusi dari persamaan 9.10, maka dapat
dimisalkan: =Aerrrx
el
_____ = A.m2.e mz
dz2

9.11
9.11
-

d4
_____ = Am4-e "`.4

9.

dz4
Substitusikan persamaan 9.11 ke dalam persamaan 9.10 untuk
mendapatkan: Am4.e"' - 2a.A)n2.e"`z - P.Aemz = 0

9.12
9.1_

A.e" (m 4 - 2am 2 - f3) = 0


Karena emz dan A # 0, maka persamaan 9.12.b hanya
terpenuhi bila m4 - 2a.M2 - 13 = 0
Akar-akar dari persamaan 9.13

9.1-

adalah: M2 = a + il3+a2
A

9.1-

atau m = A la- \ /P+a 2

Dari persamaan 9.14.b tampak bahwa m dapat berupa dua akar real dan
dua
> a.

kompleks sebab \ii3+


Misalkan:

(2 akar real)

n = a + VP+aq2 =

tij

f3 + a'

9.1=

(2 akar kompleks)

9.1 z

maka solusi dari persamaan 9.10 adalah:


= Al.e"z +

+ A3e ufz +

Dengan mengingat persamaan Euler yang


menyatakan: e rqz = cos qz + i sin qz
e

cos qz - i sin qz,

maka persamaan 9.16 dapat dituliskan


kembali menjadi: 0 = Are' + A,.e-"z + A3cos qz + A3.isin qz
+ A4.cos qz = Ai.el" +
0 = Ai.e' +

9.: -

qz

+ (A3 + A4)cos qz + (A3 - A4)i- sin qz


+ A5-cos qz + A6.sin qz

9.1.
9.:

9.3 TEK UK TORSI LATE RAL ELASTIS

serta diperoleh turunan kedua 0 terhadap z


yaitu:
dz2

d20

A 6 -,92 -sin qz

, 2.e n, A2 ., 2 . e- .L- A 5 .q 2 -cos qz -

183

9.19

A1 n

Selanjutnya konstanta A 1, A2 , A5, dan A G


diperoleh dari kondisi batas yang menyatakan:
9

0=0

d0 =

pada z = 0 dan z

=L
dz

9.20

-2

Untuk 0 = 0 pada z = 0, diperoleh:


0 = A 1 + A2 + AS
2

__d

Untuk = 0 pada z = 0, diperoleh:


dz2
0 = A1n2 + A2.n2 - A5.q2

9.21

Dari persamaan 9.20 dan 9.21 diperoleh persamaan:


0 = A5.(n2 + q2)

dz
2

= A5 = 0

9.22

sehingga persamaan 9.20 menjadi:


Al = - A2

9.23

dan persamaan 9.18.c dapat dituliskan menjadi:


0 = Ar(en` - e-") + A6.sin qz
atau 0 = 2.A1sinh nz + A6.sin qz
__2
dand 0 = 2.A n 2 .sinh nz - A 6 1 2 -sin qz

9.24.a
9.24.b
9.24.c

17 .

s-

is
lr

1'

Dari9.18.c
kondisi
batas
0 = 0 pada z menjadi:
= L
Akhirnya persamaan
dapat
disederhanakan
diperoleh:
0
=
2.A
sinh
nL
+
A
.sin
qL
c
6
0 = A6.sin qz
9.29
Pada = 0 maka 0 = 0:
dan untuk " = 0 pada z = L
diperoleh
pula: dz 2
0 = A6.sin
qL
0 = 2.A 1n .sinh nL - A 6.q .sin qL
2

9.30
9.26

Kalikan persamaan 9.25 dengan q2serta jumlahkan hasilnya dengan


persamaan 9.26 untuk mcndapatkan:
2.Ar(n2 + q2)sinh nL = 0

9.25

9.27

Karena (n 2 + q 2 ) # 0 dan sinh nL = 0 hanya jika n = 0, sehingga A l


harus sama
dengan nol, dan persamaan 9.13 menjadi:
Al = - A2 = 0

9.28

1 84 B A B 9 T E K U K T O R S I L ATE R A L

Karena A 6 # 0, maka
sin qL = 0 =qL=Nit

atau q =
Nir

N2.n2

Substitusikan persamaan 9.31.b dan 9.9 ke dalam persamaan


9.15.b untuk peroleh:
(
M 2
GJ \z
GJ
E 2 . 0
2 /-

untuk nilai N = 1
n2 GJ

L2+

M2

GJ \2

2.E.C1,
atau

(TC2 2

TC2

GJ

E 2 .,/ y2
r

L2

Untuk M = M, maka:
2 E 22
.72 {
7rz.E
.0.1 +________y
atau ( L22\
L2__C u , +EGJI
n2E21 y-G/ M 2
2
Y
L
L2E
cr
Akhirnya persamaan
9.36 dapat disusun
menjadi:
G.J+

MC =r

inE\

I . 0w

Persamaan 9.37 merupakan persamaan yang


menyatakan besarnya momen yar__ ditahan oleh profit I
akibat tekuk torsi lateral. Untuk memperhitungkan pengaru:momen tak seragam, SNI 03-1729-2002 (pasal 8.3.1)
menyatakan bahwa momcuntuk kondisi tekuk torsi lateral
untuk profit I dan kanal ganda, adalah:
M= C b .

71

IrE 2
E.I y .G.J+ L ) IY. 0w

9. 4 T E KUK TORS I I NE L AS T I S

Sekarang perhatikan Gambar 9.3, ketika serat tekan


mencapai regangan sebesar lebih besar dari E (e > f/E).
Pada keadaan ini cukup potensial untuk terjadin, _ torsi
lateral inelastic. Meskipun kekakuan torsi tidak terlalu
terpengaruh oleh residu, namun tegangan residu ini
memberi pengaruh cukup besar terhadap tahar-- tekan.
Akibat adanya tegangan residu tahanan momen elastic
maksimum, M adalar
=

Vicy-

9 . 4 T E KU K T O R S I I N E L A S T I S 1 8 5

Pada umumnya sokongan lateral dipasang pada lokasi yang


direncanakan mampu mencapai momen plastis, M p , dan jarak antar
sokongan lateral relatif pendek. Dengan mengabaikan kekakuan
torsi, GI, maka
9.40
persamaan
9.37
menjadi:
Mr = L2
.I
.r

9.41

Karena M harus mencapai M ,


substitusikan M = Z f untuk M
Substitusikan

9.42

fy

juga Cw = ly.h2/4, ly= A. r


Lp

2
y ,

serta L adalah panjang bentang tak

= 1,76 E

fy

terkekang, maka persamaan


9.41 dapat dituliskan
kembali menjadi:
L

7r2EhA

ry

2.

fy

9.44

Zx
Dengan menganggap hA/Zr, = 1,5, maka:

2.f
L

'_5
y

=272\1E

ir2E1
Untuk dapat mencapai kapasitas rotasi R < 3, SNI 03-1729-2002
(Tabel 8.3-2) mengambil harga yang lebih rendah, yaitu:
<

9.43
Bila diinginkan kapasitas rotasi yang lebih besar (R
3) untuk
digunakan dalam
analisis plastis, SNI 03-1729-2002 (pasal 7.5.2) mensyaratkan:
L
ry

/ M2

fy

Dengan:
f adalah tegangan leleh material, MPa
adalah momen ujung yang terkecil,
N-mm M2 adalah momen ujung yang

25000+15000(m/

terbesar, N-mm
r adalah jari-jari girasi terhadap sumbu lemah, mm
1/M2 bertanda positif untuk kasus kelengkungan ganda dan
negatif untuk kelengkungan tunggal

Jika hanya dikehendaki M= Mr, maka panjang bentang talc


terkekang diatur sedemikian rupa agar L = Lr, sehingga:
L, = X,

- 1 - I
2
v 1+ v 1+ X,. fL 9.45

Dengan:
fL. =4 -f
EGJA
2
I
t

GJ I

XL =

X2 = 4

186 BAB 9 TEKUK TORSI LATERAL 9.5

DESAIN LRFD BALOK I


Setiap komponen struktur yang memikul momen lentur, harus
memenuhi pers.._ - (/),M > /14t ;

Dengan:
adalah faktor reduksi untuk lentur = 0,90
M n adalah kuat nominal momen lentur dari
penampang M adalah beban momen lentur
terfaktor
b

Besarnya kuat nominal momen lentur dari penampang ditentukan


sebagai Kasus 1: M = M (R 3)
Agar penampang dapat mencapai kuat nominal M J = M p ,
maka penampar - .: kompak untuk mencegah terjadinya tekuk
lokal. Syarat penampang kompak sesuai dengan Tabel 7.5-1
SNI 03-1729-2002, yaitu . untuk flens (b/2t f ) dan url: _
(hlt ) tidak boleh melebihi . Batasan nilai untuk A ditampilkan pad a Tabel 9.:
harus kompak, pengaku lateral harus diberikan sehingga panjang
bentang tak
.
L, tidak melebihi LPd yang diperoleh dari persamaan 9.47.

25000 +15000
Lpd=

7/ \
M
l
X YY

-fy

TABEL 9.1 BATASAN RASIO KELANGSINGAN


BALOK I

Ap

UNTUK PENAMPANG K2'

(Modulus Elastisitas, E = 200000 MPa)


Tegangan
Leleh f)
(MPa)
210
240
250
290
410

Fekuk Lokal Flens


b
170

11,73
10,97
10,75
9,98
8,4

Te k u k L o k a l Tekuk Torsi
L
79,
We b

Al t
115,93
108,44
106,25
98,65
82,97

54,52
50,99
49,96
46,39
39,02

Kasus 2: M n = M (R < 3)
Agar penampang d P apat mencapai momen plastis M dengan
kapasitas rotasi R < penampang harus kompak dan tidak
terjadi tekuk lokal (b/2t t dan h/t u , < X r ). lateral harus diberikan
sehingga panjang bentang tak terkekang L tidak melebihi
ditentukan oleh persamaan 9.43 (untuk C 5 = 1).
L

790 (untuk E = 200000 MPa)

K a s u s 3: M >
Dalam kasus 3 tejadi tekuk torsi lateral untuk penampang kompak
(X. 5.. Xp). Kuat :- nominal didekati dengan hubungan linear antara
titik 1 (L , M) dengan titik 2 (L pada Gambar 9.5. Kuat momen lentur

nominal dalam kasusP 3 ditentukan dala 03-1729-2002 (pasal 8.3.4).

9.5 DESAIN LRFD BALOK I 187

M=
G.

M +(M M )L

LrLp

adalah
kuat
nominal
yang
tersedia
untuk beban layan ketika
serat terluar penampang
mencapai
tegangan
f
(termasuk
tegangan
residu)
dan
dapat
diekspresikan sebagai:
M
r

=
S
x

(
f

9.51

9.52.

f
p

)
9
.
5
0

a
9.52.
b

Dengan:
fY adalah tegangan
leleh profil
fr adalah tegangan
residu (70 MPa
untuk penampang
dirol & 115 MPa
untuk penampang
dilas)
adalah modulus
penampang
Panjang Lr diperoleh
dari persamaan 9.52:
.r
L = X1_________Y N11+ \11+X2.k2
r

f
l

9.49

e
n
g
a
n
:
=

fi

f fr
TC EGJA

S V 2
2

I
s `6'
4 =

Kasus 1,

Iy

= M p (Analisis Plastis)

Gambar 9.5 Kuat


Momen Lentur
Nominal Akibat
Tekuk Torsi
Lateral Kasus

4: M >
Kasus ini terjadi jika:
1. L < L < L
2. A p <= b/2.1 1 ) <
A r (flens tak kompak)

3. < (A = h/c) < Ar


(web tak kompak)
Pers. 9.48
Pers. 9.49

Pers. 9.50

Kasus 2, MI = M P I
(Tanpa Analfsis Plas
Pers. 9.52

- - - -

- - - -

I
1
I Kasus 3 & 4, Mn =
M

i
Pd

1
1 4(Perilaku Inelastis) vp

LP

a, K sus 5

Lr

(Perilaku Elastis)

188 B A B 9 T EK U K TOR S I L ATER A L

Kuat momen lentur nominal dalam kasus 4 harus dihitung


berdasarkan kead yang paling kritis dari tekuk lokal flens, tekuk
lokal web serta tekuk torsi lateral. Ur:- _ membatasi terhadap tekuk
lokal flens serta tekuk lokal web, SNI 03-1729-2002 I p_ 8.2.4)
merumuskan:
M= Mp (Mp M)

A,p

Sedangkan kondisi batas untuk tekuk torsi lateral ditentukan


berdasarkan
M=

Cb. [Mr + (M. M, L'L M

Lr LP J P
Dengan faktor pengali momen, Cb, ditentukan oleh persamaan:
m.
= _________125M
<
2,3
2,5Mma. +3-M A+ 4.MB+3.Mc
Dengan:
Mmaxadalah momen maksimum pada bentang yang ditinjau
1
M A adalah momen pada /4 bentang tak terkekang
MB adalah momen pada tengah bentang tak
terkekang Mc adalah momen pada 3A
bentang tak terkekang
Kuat momen lentur nominal dalam kasus 4 ini diambil dari nilai
yang terkecil
persamaan 9.54 dan 9.55. Batasan rasio kelangsingan penampang,
untuk penam:r
tak kompak ditampilkan dalam Tabel 9.2.
TABEL 9.2 BATASAN RASIO KELANGSINGAN AR UNTUK

PENAMPANG -- KOMPAK BALOK I


(Modulus Elastisitas, E = 200000 MPa)
Tegangan Leleh
(MPa)

Tekuk Lokal Flens

370

h 2550
fy

2.ti
210
240
250
290
410

Tekuk Lokal
Web

2,64
2,18
2,06
1,68
1,09

t,

fy

175,97
164,60
161,28
149,74
125,94

Kasus 5: M. <
Kasus 5 terjadi bila L> Lr dan kelangsingan dari flens serta web tak
melebihi 2r (pena:--7_ kompak). Kuat nominal momen lentur dalam
kondisi ini ditentukan sebagai beriLM =

cr

hr

rE\2
E.I .G.J+ ____ IY .0w
L

Persamaan9.56dapatpuladituliskandenganmenggunakanvariabelX1 dandalam
persamaan9.52.bdanc,sehinggamenjadi: C S

"yi =
n

. X
Lir

x 1

1+

X12 X2

2(Liry)2

9.5 DESAIN LRFD BALOK I

=NM

189

CONTOH 9.1:
'i.ebuah balok tertumpu sederhana dengan beban seperti dalam
gambar di bawah ini.
P = 150 kN
= 15 kN/m

1111111111111111
111111111111
A

2,25 m

I.
2,25 m

1.
2,25 m

2,25 m

.1

Beban merata terdiri dari 15% D dan 85% L, beban terpusat terdiri
dari 40% D serta 60% L. Balok tersebut diberi sokongan lateral pada
ujung-ujungnya serta setiap jarak 2,25 m. Mutu baja adalah BJ 37.
JAWAB:
1,6(0,85) = 2, + 20,4 = 23,1 kN/m
(15)
(15)
7 + 144 = 216 kN
+ 1,6(0,6)
= 72
Pu = 1,2(0,4)
(150)
(150)
M y = (23,1)(9) 2 + - 1 (216)(9) = 233,8875 + 486 = 719,8875
kN.m
qu = 1,2(0,15) +

8 Perin

= 719,8875 10,9 = 799,875 kN.m

Estimasikan apakah sokongan lateral cukup dekat untuk mendesain


balok agar dapat mencapai momen plastis, M (tanpa analisa plastis).
Asumsikan penampang kompak untuk mencegah tekuk lokal, dan balok
berada dalam kasus 2 (M, = Mr).
Panjang maksimal bentang tak terkekang adalah:
790.r 790.r
= ,__Y = 50,99.r
fy N/240

perlu = M perlu = 799,875 kN.m

Z perlu =

MP
er
P
=
fy

bs

799 875.10 6
= .332.812,5 mm 3
240

Penampang terkecil yang memiliki Z > 3.332.812,5 mm 3 adalah


400.400.13.21 (Z = 3600,13 cm3).
Periksa kuat momen lentur nominal dari penampang, dengan
menyertakan berat sendiri balok:
M (berat sendiri) = 1,2. 3 (1,72)(9) 2 = 20,898 kN.m
M = 719,8875 + 20,898 = 740,7855 kN.m
M = M = 44 = 3600,13.10 3 (240) = 864,0312 kN.m

= 0,9 x 864,0312 = 777,628 kN.m > M S (= 740,7855


kNm)

190 BA B 9 TEK UK TORS I LATER AL

Cek kelangsingan
penampang:
b

4
0
0
1
7
0

2
.
t
f

111111111111111111111N
111111111111111111 A

2
x
2
1

8,5 m

8,5 m

Al

9,52 <
(- 10,97)
fY

400 2(21)1680
___________
= 27,53 <
(- 108,44)
t
13
Alf),
h

= 50,99.r =
50,99(101) = 5149,99
mm = 5,14999 m
Y

LP > L (= 2,25 m)

sesuai asumsi awal,


termasuk kasus 2.
n CONTOH 9.2:
Periksa apakah profil WF
700.300.12.24 cukup kuat
untuk memikul beban Jaya:pada gambar berikut ini, jika
pada balok diberi sokongan
lateral pada tengah serta
pada tumpuan-tumpuan.
(mutu baja BJ 37)
q0 =

5 kN/m qL

= 15 kN/m

JAWAB:
Berat
sendiri

profil WF 700.300.12.24 = 1,85


kN/m

q = 1,2(5 +1,85) + 1,6(15) = 32,22


M

kN/m

= _ 1.q n -L 2 = 1(32,22)(17) 2 =
1163,9475 kN.m
L
fy
Y V240
X

X2

2.105x8.104x324,23.104x23550
2
5760.103

Jr

=
13480,141 MPa
06
1
2 =4
=
2,2535.10- mm4
4
/N2

=r

Lr

\ G J J I
f

3,457
m

\2

12338352.106
5760.103
8.104
10800.104
4
x324,23.10 ,

I A i l - F A l l + X 2 V,
f, ) 2

=67,8,
(13480,14106)I________________________________
-4
1+V1+2,2535.10 (240

70)

24
070

=
10398,342
mm =
10,398 m
L (= 3,457 m)
< L (= 8,5 m)
< L r (= 10,398

m)

9.5

Cek
kelangsingan:
2.t f 2 x 24
h
=50,15
t,

191

Penampang Kompak
Kasus 3

700-2(24)

DESAIN LRFD BALOK I

< 2 (= 108,4
4)

13

C6
=

25.M.,+3.MA+4.MB+3.Mc.
M

raio
ms,

a x

= 1163,9475 kN.m

M A = 509,227 kN.m
M B = 872,96 kN.m

M c = 1091,2 kN.m
12,5x1163,9475
=
C I,
1,
,
,
3
(2,5 x1163,9475)+(3 x 509,227) + (4 x 872,96) + (3
x1091,2)
Mr = Sif y f) = 5760.10 3 4240 70) = 979,2 kN.m
M = Z x f y = 6248,79-10 3 .240 = 1499,7096 kN.m
L, L
[
M = Cb
Mr+(MpMI_Lp
= 1,3
= 1458,027 kN.m < M (=1499,7096 kN.m)

OK

= 0,9 x 1458,027 = 1312,2243 kN.m >


1163,9475 kN.m

OK

nCONTOH 9.3:
Pilihlah penampang WF yang ekonomis bagi balok pada struktur di
bawah ini. Sokongan lateral dipasang pada kedua tumpuan serta
pada kedua lokasi beban terpusat. (mutu baja BJ 37)

= 25 kN(D);
A

90 kn(L)
B

7,5 m

8,5 m

JAWAB:

P ia = 1,2(25) + 1,6(90) =
174 kN P 2 = 1,2(15) -F
1,6(30) = 66 kN

P2 = 15

kN(D);
30 kn(L)

C
6 ,5 m

192 BAB 9 TEKUK TORSI LATERAL

492 kNm
D i

c o b a

m e

n g g u n a

6 0 0 . 2 0 0 .

1 1 . 1 7 .

k e

g s

k a n

p r o fi

Bidang Momen Ultimit


492,1875 kNm

b
S

C
2

_
-=
<

5 , 8 8

6 0 0
=
4

=
=

1
9
=

2
1
,
8
5 4 , 5 4

7
<

5
1 0 8 , 4 4

1 1

t
7 5

m
0 , 9

L =

7 , 5

L = r =
____________________
x41,2
790

790

2 1 0 0 , 9 6

A l f ) ,

A /

m m

X
TC

2590.103

2.1
05
X8.
104
X9
0,6
2.1
04
X1
34,
4102
2

2
j2_______=
X

2590.103_________j 1926037,67 .106

4
G.

90,62.104

1 0 , 9 7

2x17

t f

8.104 X

2280.104

4 , 3 1 2 8 2 . 1 0 - 4

mm4/N2

Lr = r. ________

X
jf
y
f
r)
2

f
= 41,2

[11977,92346

2
1
+
v
1
+
4
,
3
1
2
8
2
.
1
0
4

(
2
4
0
7
0
)
2

= 6272,73
6 , 2 7 3

Lr(=

6 , 2 7 3

p e n a m p a n g
m a s u k

k a s u s

7 , 5

m )

m )

>

d a n

k o m p a k ,

m a k a

5 .

= Zxfy =

2 8 6 3 , 1 8

m m

L (=

K a r e n a

( 2 4 0 )

6 8 7 , 1 6

k N . m

= M - = C b E . I . G. J +
L

7rE2

C'
w

9.5 DESAIN LRFD BALOK I 193

Karena Mi/M2 = 0, maka Cb = 1,67


7
.2,28.10 x1926037,67
2105 x 2,28.10' x M
M =1,67
7500
7500\
.106
4
8.10
x
kN.m
<
j
=
90,62.10
4
559,4244
+
O
Mb .M = 0,9(559,4244) = 503,482 kNm > M (= 492,1875
kN.m)

Segmen B:
L (= 8,5 m) > L r (= 6,273 m) 3 kasus 5
C
2,5Mmux + 3M, + 4/1/B+ 3M, 12,5Mmx
Mmax
= 492,1875 kNm
M A = 261,890625
kNm M B =
31,59375
kNm M c =
Cb
198,703125
kNm
1 2 , 5

4 9 2 , 1 8 7 5

(2,5 x 492,1875) + (3 x 261,890625) + (4 x 31,59375) + (3


x198,703125) = 2,24
(

5`2 M n =

\2

E.I y .G.J
IV.
2TX2-10 4
7
4
2.105x +
2,28.10
+
7
6
Ex 8.10 x 90,62.10
2,28.10 x1926037,67.10
8500 \
8500 i

M =2,24 ic

Mu = 625,702 kN.m < Mp


Pb'Ma = 0,9(625,702) = 563,1315 kN.m > M (= 492,1875
kN.m)

OK

n CONTOH 9.4:
Sebuah penampang tersusun berbentuk I yang dilas seperti dalam
gambar, digunakan sebagai balok tertumpu
sederhana sepanjang 13,5 m. Hitunglah beban
hidup layan yang diijinkan bagi balok tersebut, jika
diketahui beban mati = 20 kN/m (sudah termasuk
berat sendiri). Mutu baja yang digunakan adalah BJ 55
(f = 410 MPa)
flens 16 x 400

Sokongan lateral diberikan pada setiap 1/3 bentang dan


pada kedua tumpuan.

web 8 x 700

111111111111111111111111111111111111111111
A
_______________

Ct-

4,5m __________ 4,5m

4,5 m

194 BAB 9 TEKUK TORSI LATERAL


JAWAB:

Hitung properti dari penampang:


A = (2 x 16 x 400) + (8 x 700) = 18400 mm 2
3
3
= (8)(700) + 2. 1 (400)(16) + 2(400)(16)2
(350+8)
12
=

s - 12
I =

186946638933
3

2.1.16.(400) 3 + 1 48) 3 .700 =


/
= 96,3171
= mm
11170696533,3
r =
A
18400
= 2(16)(400)(350+8) + 2(8)(350) (350 \ = 5562400
mm 3
J

1 -[2(400)(16) 3 + 70048)3 ] = 1211733,33 mm 4


3

1_x16 X 400 X NO +16)


C _______________- 12
mm6
2
2
2

IE-G-J.A

Xi =

- 21873322,67.106

712.105x8.104x1211733,33x18400

S2

5107756,648

= 8217,73 MPa

G.

4(sx'\ 2

5107756,648 \ 21873322,67.10
I,8.10 x1211733,33,170696533,3
2

= 1,423.10-3 mm4/N2
Periksa terhadap tekuk lokal flens dan tekuk lokal web
Flens: k = ______=
= 12,5
b
400
2.t f2x 16
420

420

V(fyfr)lk,

X < < X - - > ta k k om pa k

V(410-115)/0,4276

170
170
p

= ____
f

700
8

ke

'1410

"957

= 87,5

Vhaw

A/87,5

= 0,4276 -3 0,35 < ke < 0,763


OK!!

9 .5 DES AIN LR FD BALOK I 195

Web:

2t, = h = 700 =

87,5
tu,
8
1680 1680
=
=
- 82,97
ify A/410
2550 2550
A

= 125,935

i410

2t. p < < k b ) tak kompak

= Zr.fy = 5562400(410) = 2280,584 kN.m


= 5107756,648.(410 - 115) = 1506,788 kN.m
Mr=
Hitung M berdasarkan batasan untuk tekuk lokal
Hens:

M = mp

mr) A,r

= 2280,584 - (2280,584 - 1506,788)


= 1862,406 kNm

( 12,5-8,3957
15,9903 8,3957

Hitun g M berdasarkan batasan


untuk tekuk lokal web:

-Ap

Mn =M (M Mr)

87,5-82,97
Ap

= 2198,999 kNm
Periksa terhadap tekuk torsi lateral:
790
790
_________x96,3171 = 3757,842 mm =
m - 1506,788)
= 2280,584 3,757842
- (2280,584
125,935-82,97
= r

A/410
I

X,
- v 1+

A/

1+X,

-f)

fY

= 96,3171.
8217,73
410-115

`V1+.v

I
1+1,423.10-3(410-115)2

= 9275,96 mm = 9,27596 m
Karena Lp(= 3,757842 m) < L (= 4,5 m) < (= 9,27596 m) dan penampan g
tak kompak
maka soal ini termasuk dalam kasus 4.
Kuat momen lemur nominal ditentukan berdasarkan persamaan:

L L

M +(m m ) r
C ten ah
<sehin
M gga:
untuk M
seg=
men
adalahL,1,01,
g
Lp
b.
M = 1,01.[1506,788+(2280,584 -1506,788)

Besarnya nilai C

\ 9275,96-4500

= 1924,411 kN.m < M (= 2280,584)

9275,963,757842

OK

196 B A B 9 T EK U K TOR S I L ATER A L

Kesimpulan:
Tekuk lokal Hens : M = 1862,406 kN.m
Tekuk lokal web
: M = 2198,999 kN.m
Tekuk torsi lateral : M = 1924,411 kN.m
Kuat momen nominal M profil diambil yang terkecil, M =
1862,406 kN.m
ob.mn = 0,9(1862,406) =
1676,1654 kN.m
max Mn =
kN.m
M

ob.mn=

1676,1654

= 1,2.MD + 1,6.ML

1676,1654 = 1,2.1(20)(13,5) 2
+ 1,6.M L 8
ML
= 705,885 kNm
8xM = 8x705,885 =
,
30,985 kN/m
L 2
1 3
5 2
nCONTOH 9.5:
Profil WF 200.200.8.12 digunakan sebagai balok tertumpu
sederhana dengan benta 8 m dan sokongan lateral pada kedua
ujungnya. Balok ini diperlukan untuk beban mati merata sebesar
2 kN/m. Hitunglah beban hidup layan yang diijinkan beke: pada
balok tersebut jika mutu baja yang digunakan adalah BJ 37!
Hitunglah pula bera: persentase kenaikan beban hidup yang
diijinkan jika mutu baja adalah BJ 55!
XL

JAWAB:
Untuk mutu baja BJ 37
790
790
r = 50,2 = 2559,913 mm

Vfy V240
x
2.105x8-104x26,04.10 4x63,53.102
3
472. 10
2

, K LEG. J.A =
S

= 24213,79 MPa
X2

= 4 ( Sx )2 Cz, =
2

141376.10

472-10 3

'\

G.J I ) , \ 8.10x26,04.10 ) 1600-10 4 =

1,8144.10 -5 mm 4 /N 2
..
i __________________
Lr = Y r ( X
' All-F\11+ X2(1, f.)2
f

V1+ V1+1,8144-101240 70)2


X240-70)

= 50,2. (24213,79

Lp

= 10688,64 mm = 10,68864 m
2,559 m) < L (= 8 m) < L r (= 10,68864 m)
200
8,33 < 10,9
2x12
7

(=

200= 22 <
2(12)
8
108,4

b
f

h
t,

9.5 DESAIN LRFD BALOK I 197

M = S x (f y f) = 472.10 3 (240 70) = 80,24 kN.m


M = Z xi f y = 513,15.10 3 (240) = 123,156 kN.m
M=

b.

[M (111 PM ) Lr rL

P
L L

\ 10688,64-8000
= 1,14[8 0 ,24+023,156-8024)
10688,64-2559,913 = 107,656
kNm
M = 0-M = 0,9(107,656) = 96,8904 kN.m
M
= 1,2MD + 1,6ML

ML

96,8904 = 1,2.1(2)(8) 2 + 1,6M L


8
= 48,5565 kN.m
8xM, = 8x48,5565 = 6,07 kN/m
L2
82

RL

790

untuk mutu baja BJ 55


790
L=
r =__ -50,2 = 1958,57 mm
Y
\1410

} Penampang

Kompak Kasus
3

L, = r. _________ All+All+X2(fyfr)2
[fYfr

= 50,2-(24213,79 \11+V1+1,8144.10-5(410- )2
70 410-70 ,
= 5939,347 mm = 5,939347 m
L (= 8 m) > LT (= 5,939347 m) kasus 5
y

M = M =

E.I-GI+

ir.12
1.
L Y.0

lr X

Mn =1,148000
ir 2.105x1,6407x 8-104 x 26,04.104+
2105
8000
1,6102x141376.106
= 127,108 kN.m

M s = 0.M = 0,9(127,108) = 114,3972 kN.m


M
= 1,2Mp + 1,6ML
114,3972= 1,2.- 1
8
ML

L2

.(2)(8)2 + 1,6ML
8x ML _8x=
59,7,437
2 49825
kN/m
8
59,49825 kN.m

Persentase tambahan beban hidup yang dapat bekerja jika mutu


baja diubah dari

BJ 37 menjadi BJ 41 adalah sebesar 7 ' 437-6 ' 07 x100%= 22,52%.


6,07

198 B A B 9 T EK U K TOR S I L ATER A L

CONTOH 9.6:
P i l i h l a h p r o fi t W F y a n g e k o n o m i s u n t u k d i g u n a k a n s e b a g a i b a l o k l a n t a i
perpustaL yang tertumpu sederhana. Sokongan lateral dipasang pada
kedua ujungnya dan pada lo,__ beban-beban terpusat. Lendutan akibat
beban hidup tak boleh melebihi L/300. Gun2,_ mutu baja BJ 37!

JAWAB:
= 1,2(30) + 1,6(30) = 84 kN
qu = 1,2(5) + 1,6(15) = 30 kN/m
D i c o b a m e n g g u n a k a n p r o fi l W F 6 0 0 . 3 0 0 . 1 2 . 2 0
790

790

L _ _____. 1 " =
Af;
11240
P = 30 kN(D)
dan 30
kN(L)
.I1U
ffIll

Akibat beban

Akibatbeban

x68,5. 3493,11 mm

q = 5 kN/m(D)
dan 15 kN/m(L)

::!!" 11M
11

BMD

C
472,5 kN.m
3,5m

F-4,5 m

472,5 kN.m

____4,5 m--.1

378 kN.m

378 kN.m

12.105x8.104x191,56.104x192,5.102

_ KIEGJA___

S2

illibih...

4020.103

=13422,598 MPa
2

4020.10 3

,8104 x191,56104,

7259040.106

9020.104

= 2,2151.10-`' mm4/N2
X

r
X2

GI ,

68,5.

= r

Cw = 4r
1y

13422,598

\2

frfll

f )

+ V1+ 2,2151.101240 70)2 =

240 70
10432,405 mm

9.5 DESAIN LRFD BALOK I

199
Cek

} Penampang

penampang:
Kasus
Kompakb= 300
3
170
2.tf 2x20 =7'5 <
(= 10,"
h

588-2(20) Aify
45,67 <
16 80
__
(
=
1
0
8
,
4
4
)

12
"NifY

Segmen AB = CD (L =
4,5 m)
L (= 3,493 m) < L (=
4,5 m) < L (= 10,432
m)
Penampang Kompak
Menghitung nilai Cb:
MA
=
269,
578
125
kN.
m
MB
=
501,
187
5
kN.
m
Mc

=
694,
828
125
kN.
m
Mmax.

= 850,5 kN.m

Cb = ________________________________
~2,5x850,5)+ (3 x
269,578125) + (4 x
501,1875)+ (3 x
694,828125)
= 1,5135
Mp = Z f =
4308,91.10 3 (2
40) =
12,5x85
0,5

1034,1384
kN.m M r = 5 .
.(f y jc) =
4020.10 3 (240
70) = 683,4
kN.m

= Ch. M r-F(M,

M )LLi

L,L

\
10432,4
05-4500

= 1,5135[6 8 3,4+(1034,1384
-683,4)
10432,4
5
3493,11
=
1488,1
94
kN.m >
Mp (=
1034,1
384
kN.m)
gunaka

nM=
Mp=
1034,1
384
kN.m
(P.M = 0,9(1034,1384) =
930,725 kN.m > M max (=
850,5 kN.m)
Segmen BC (L = 2,5 m)
L (= 2,5 m) < Lp (=
3,493 m)
M = M p = 1034,1384
kN.m
0.
Mb
0,
9(
10
34
,1
38
4)
=
93
0,
72
5
kN
.m
0.
M
<
M
u
max

(=
87
3,
93
75
kN
.m

)
Cek terhadap syarat
lendutan:
8
5

Pa ( 3 L 2 4 a 2 ) +
q14

24E.I
384E./

dengan:
P
=
3
0
k
N
=
3
0
0
0
0
N
q
=
1
5
k
N
/
m
=
1
5
N
/
m
m

200

BAB 9 TEKUK TORSI LATERAL

E
I
L

= 4,5 m = 4500 m
= 200000 MPa
= 1,18.10 9 mm4
= 11,5 m = 1150
(5

30000 x 45

24x2.

= 7,526 + 14
<
9.6 LENTUR DUA ARAN
Jika
pena
mpan
g
bentu
kI
dibeb
ani
oleh
mome
nM
yang
meng
akiba
tkan
lent:sumb
u
kuat,
serta
mome
nM
yang
meng
akiba
tkan
lentu
r
pada
sumb
u
lema
h, rn
disi
batas
kekua
tan

komp
onen
strukt
ur
terse
but
ditent
ukan
oleh
leleh
akiba
t
komb
inasi
yang
beker
ja
atau
oleh
tekuk
torsi
latera
l.
Conto
h
komp
onen
yang
me7:_
lentu
r
dala
m
dua
arah
adala
h
strukt
ur
gordi
ng
atau
strukt
ur
balok
keran
(cran
e
girde
r).
P
e
r

e
n
c
a
n
a
a
n
s
t
r
u
k
t
u
r
b
a
j
a
m
e
t
o
d
e
L
R
F
D
u
n
t
u
k
b
a
l
o
k
y
a
n
g
m
e

n
g
a
l
a
m
i
d
u
a
a
r
a
h
,
m
e
n
s
y
a
r
a
t
k
a
n
p
e
m
e
r
i
k
s
a
a
n
t
e
r
h
a
d
a
p
:
1.kondisi
batas leleh:

f u n

Ob fy

2.kondisi
batas tekuk
torsi lateral:
(

PiiMnx

ux

Dengan:

M
f

u
n

a
d
a
l
a
h
t
e
g
a
n
g
a
n
n
o
r
m
a
l
(
t
a
r
i
k
a
t
a
u
t
e
k

a
n
)
a
k
i
b
a
t
b
e
b
a
n
t
e
r
f
a
k
t
o
r
M
u
x

a
d
a
l
a
h
m
o
m
e
n
t
e
r
f
a
k
t
o
r
t
e
r

h
a
d
a
p
s
u
m
b
u
x
(
s
u
m
b
u
k
u
a
t
)
M
y
a
d
a
l
a
h
m
o
m
e
n
t
e
r
f
a
k
t
o
r
t
e
r
h

a
d
a
p
s
u
m
b
u
y
(
s
u
m
b
u
l
e
m
a
h
)
y

a
d
a
l
a
h
f
a
k
t
o
r
r
e
d
u
k
s
i
u
n
t
u
k

l
e
n
t
u
r
=
0
,
9
0
Mrx
adalah
kuat
momen
nominal
penamp
ang
(dihitung seperti pada
pemeriksaan tekuk torsi
lateral)
nCONTOH 9.7:
Re
nc
an
ak
anl
ah
seb
ua
h
ko
mp
on
en
str
ukt
ur
bal
ok
ker
an
(BJ
37)
dal
am
ga
mb
ar
ber

jik
a
dik
eta
hui
dat
adat
a
seb
ag
ai
ber
iku
t:
Bentang
bangunan =
18 m
K
a
p
a
s
i
t
a
s
k
e
r
a
n
=
2
0
t
o
n
B
e
r
a
t
s
e
n

d
i
r
i
k
e
r
a
n
=
1
6
t
o
n
Berat takel
= 7 ton
Berat sendiri
rel
= 30 kg/m
Jarak roda
roda
= 3,8 m
Jarak antar
kolom = 6
m
Jarak
minimum
lokasi takel
terhadap rel
=1

9.6 LENTUR DUA ARAH 201

e
L

min = 1 m

18 2(0,5) = 17,5 m

JAWAB:
Menentukan reaksi pada roda
roda1 m
keran:
p = 20 + 7 = 27 ton
berat keran = 16 ton
11111111111MMINIIII2111111M11

17,5 ton

Berat takel + kapasitas keran = 7 +


20 = 27 ton
R A = 1,6(27 1 6 5 + 16 = 53,5312
ton
RA

= 58,88432 ton

Tinjau balok keran bentang 6 m


3,95 m

2,05 m
58,88432 ton

29,4422 ton

29,4422 ton

0,95 m

0,95 m

202 BAB 9 TEKUK TORSI LATERAL

R 1 = 58,88432 x

2,0

R2 = 58,88432x

6 5 = 20,1188 ton

' 95

= 38,7615 ton

Akibat beban hidup:


Momen maksimum akibat beban hidup tercapai jika titik tengah
dari salah satu 1- dengan gaya resultan berada tepat pada
tengah-tengah bentang balok. Dari gambar atas, momen
maksimum akan terjadi di titik a atau di titik b.
Momen maksimum di a = 20,1188(3 0,95) =
41,24354 ton.m Momen maksimum di b =
38,7655(2,05 1,9) = 5,814825 ton.m
Dari basil perhitungan di atas, diperoleh momen maksimum
sebesar 41,24354 : m, dengan mempertimbangkan koefisien kejut
sebesar 1,15, maka momen maksirr. _pada balok keran akibat
beban hidup adalah sebesar 1,15(41,24354) = 47,43 ton.m.
Akibat beban mati:
Berat sendiri rel

= 30 kg/m

Berat sendiri balok keran = 150


kg/m +
Total
MIL=

= 180 kg/m
1 1,2. (180)(6)2 = 972 kg.m = 0,972 ton.m

Sehingga momen total:


= 47,73 ton.m + 0,972 ton.m = 48,402 ton.m = 484,02 kN.m
Momen akibat gaya rem melintang:
Gaya rem melintang biasanya diambil sebesar 1/15 dari beban kapasitas keran + bztakel (untuk 2 roda). Sehingga:
beban lateral per roda = x 1
2 15 (20+7)(1,6) = 1,44 ton
Telah dihitung sebelumnya bahwa akibat beban roda 29,4422 ton menimbu_.._
momen maksimum sebesar 41,24354 ton.m. Sehingga dapat dihitung momen
akibat
lateral sebesar 1,44 ton adalah:

f u n

M 1,44
x41,24354 =
2,0172 ton.m = 20,172
kN.m
"Y

29,4422

Sebagai balok keran dicoba profil WF


400.400A3.21. Selanjutnya profil ini diperiksa
terhadap kondisi batas leleh dan kondisi tekuk
torsi lateral.
i) Pemeriksaan terhadap kondisi batas leleh
M

uY

Sx

Sy

_ 484,02.10 6 20,172.10 6
3330.103

1120.103

= 163,36 MPa <

( P

f y (= 0,9(240) = 216 MPa)


9.6 LENTUR DUAARAH

ii)

203

terhadap tekuk torsi


lateral
= 790
790
fy
V240

Pemeriksa
an

4
2105x8.10
x273,18104x218,7102
2

7c

=7
S,

xi

3330.103 v

= 20633,56 MPa
=

X2

GI )

= 3,30374.

= y

LT

\2

C
wy

8043896.16
0
22400.10

- 4(
10

-4

x,
A

4 N2

nurn

i l 1-F-v1+x 2 (f ) ,-

\ fY

fr)2
= 101

(2063351

2
A/141+3,30374.101240-70)
240-70

18983,8 mm

L (= 5,1504 m ) < L (= 6 m) < Ly(= 18,9838 m) Cek


penampang:
b
400
2.t,
2x21
h

170

= 9,524 < _____(= 10,97)

4 0 0 - 2 ( 2 1 ) 1 6 8 0
= 27,54 <
13
lf;

tu,

M r = sx.
M = Z
M

n=

= 1.

(4,

(=
108,44)
= 3330.103(240 - 70) = 566,1 kN.m

f = 3600,13.103(240) = 864,03 kN.m


Ch.

m r

LrLp

L,-L1

566,1+(864,03-566,1 18983,8-6000 )
18983,8 -5150,4
= 845,73 kNm < M (= 864,03 kN.m)
O b .M= 0,9(845,73) = 761,157 kNm < M (= 484,02 kN.m)
Jadi, WF 400.400.13.21 dapat dipakai sebagai balok keran tersebut.

204 B A B 9 T EK U K TOR S I L ATER A L


SOALSOAL LATIHAN
P.9.1 P.9.3
Tentukan besar beban layan terpusat maksimum, yang dapat bekerja di tengah
bentang balok tertumpu sederhana, dalam masing-masing kasus berikut:
Soal

Penampang

Bentang (m)

P.9.1
P.9.2
P.9.3

WF 400.200.8.13
WF 450.200.9.14
WF 500.200.10.16

6
7,25
9

f . (MPa)
240
250
410

Kekangan lateral dipasang pada kedua ujung tumpuan, sedangkan beban layan terc
- 65% beban hidup dan 35% beban mad.
P.9.4

- P.9.6
Tentukan/pilihlah profil WF yang ekonomis untuk digunakan sebagai balok yang rr -rbeban
merata sebagai berikut :
Soal

qD

(kN/m)

P.9.4
P.9.5
P.9.5

qL (kN/m)

Bentang (m)

20
20
8.5

6
6
9

8.75
8.75
3

Kekangan lateral

f (MPa)
240
240
410

Menerus
Ujung & tengah ben-.:.Tiap 3 m dan pada ujur, .

Asumsikan bahwa semua beban sudah termasuk berat sendiri profil!


P.9.7

Pilihlah profil WF yang ekonomis untuk digunakan sebagai balok dalam struktur 7
ini: (gunakan baja BJ 37)

semsommumesemma

A
F-4,5 m

4,5 m

4,5 m

Kekangan lateral diberikan pada ujung-ujung balok dan pada lokasi beban terp_
P.9.8

Periksalah apakah profil WF 350.175.7.11 terhadap lentur dan geser jika mutu = .
dipakai BJ 41. Kekangan lateral hanya dipasang pada kedua tumpuan
dan pa dari kantilever.
PO'

L
qc

3m

PL. 45 kN qp= 4 kN/m


(termasuk berat se-m.,-

qL= 15 kN/m
Gambar P.9.8

3m

2,5 m

P D = 10 kN

SOAL-SOAL LATIHAN 205

rZLL,LI
L.

Sebuah penampang tersusun berbentuk I seperti pada Gambar P.9.9,


digunakan sebagai balok tertumpu sederhana sepanjang 15 m.
Hitunglah beban Iayan maksimum, qmaks, yang dapat dipikul oleh
balok tersebut, jika mutu baja yang digunakan adalah BJ 37, dan
perbandingan beban hidup dengan beban mati adalah tiga (LID = 3).
Sokongan lateral dipasang tiap jarak 1/3 L.

300mmx12mm

ImmSO x 6 mm

3 m________3 m_______3 m
11111111111111111111M1111111MUM111111

Gambar P.9.9

10 Rencanakanlah sebuah struktur balok keran dengan menggunakan


profil WF (BJ 37)
dengan data-data sebagai berikut:
Bentang bangunan
= 20 m
Kapasitas keran
= 25 ton
Berat sendiri keran
= 15 ton
Berat takel
= 8 ton
Berat sendiri rel
= 30 kg/m
Jarak rodaroda
= 3,5 m
Jarak antar kolom
=5m
Jarak minimum lokasi takel terhadap rel = 1 m

Lt

10
Balok Pelat Berdinding
Penuh (Pelat Girder)
TUJUAN PEMBELAJARAN
SSesudah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat.:
Mernahami perilaku suatu balok pelat berdinding penuh,
termasuk perilaku len= geser, aksi medan tank serta
pengaku vertikalnya
Melakukan analisis dan desain suatu komponen struktur
lemur bentang panianc dengan menggunakan balok pelat
berdinding penuh
Pokok-pokok Pembahasan Bab
1.1 Pendahuluan
1.2 Persyaratan Balok Pelat Berdinding Penuh
1.3 .Kuat Momen Nominal Balok Pelat Berdinding Penuh
1.4 Kuat Geser Nominal
1.5 Kuat Geser Nominal dengan Pengaruh Aksi Medan Tarik
1.6 Interaksi Geser dan Lentur
1.7 Pengaku Vertikal
1.8 Pengaku Penahan Gaya Tumpu
1.9 Desain Balok Pelat Berdinding Penuh
10.1 PENDAHULUAN
Balok pelat berdinding penuh atau yang lebih sering disebut
pelat girder adalah komponen struktur lentur yang tersusun
dari beberapa elemen pelat. Balok pelat be-_ ding penuh pada
dasarnya adalah sebuah balok dengan ukuran penampang
melintang _ besar serta bentang yang panjang. Penampang
melintang yang besar tersebut merur konsekuensi dari
panjangnya bentang balok. Jika profit baja gilas panas yang ter:,
masih kurang cukup untuk memikul beban yang bekerja akibat
panjangnya ber.7_ - maka alternatif pertama yang ditempuh
adalah dengan menambahkan elemen pelat salah satu atau
kedua flens profit. Jika alternatif ini masih belum mampu
membetahanan momen yang mencukupi, maka biasanya dibuat
sebuah balok yang tersusur. _ elemenelemen pelat yang
disambung satu dengan yang lainnya (balok pelat berdirpenuh).
Jika bentang yang diperlukan sangat panjang, maka tinggi dan
berat balok berdinding penuh akan cukup besar pula, sehingga
alternatif lain adalah dengan : - gunakan struktur rangka
batang.
Beberapa penampang melintang dari balok pelat berdinding
penuh dalam Gambar 10.1. Bentuk penampang yang sering
digunakan terdiri dari sebuah badan (web) dengan dua buah

pelat sayap (flens) yang dihubungkan satu sama lain der _ las
(Gambar 10.1.a). Jenis penampang kotak (Gambar 10.1.b) yang
mempunyai dua 7 _ pelat badan dan dua buah pelat sayap, adalah
bentuk penampang yang mempunyai tar._ torsi cukup baik dan
dapat digunakan untuk panjang bentang tak terkekang yang

10.1 PENDAHULUAN 207

(a)

(b)

(c)

Gambar 10.1 Penampang Balok Pelat Berdinding Penuh

Sebelum dikenal metode pengelasan maka


digunakan sambungan baut atau paku keling
seperti pada Gambar 10.1.c. Jenis lain dari
balok pelat berdinding penuh adalah balok
hibrida yang terdiri dari pelat badan dan pelat
sayap dengan mutu baja yang berbeda.
Pada dasarnya balok pelat berdinding penuh
adalah merupakan sebuah balok yang tinggi.
Batasan yang digunakan bagi sebuah balok
seperti dibahas dalam Bab IX, masih akan
digunakan.
M
Cb =1
Gambar 10.2
P
menunjukkan
kurva
Mr
hubungan
antara
kuat
momen nominal M vs rasio
=
/I, =1,76
Lr/ry
kelangsingan
A.
Batasan
untuk tekuk
Tak kompak
torsi
lateral
(Gambar
10.2.a) hanya
berlaku untuk
penampang
yang kompak.
170

4 2 0
= __________

(a) Batasan Tekuk Torsi Lateral

;..=L/ry

(b) Batasan Tekuk Lokal Flens

A= b/2t,

Po. 115)/Ic

n:=

Gambar 10.2
Kondisi Batas
untuk Balok
Tedentur

Tak kompak

(c) Batasan Tekuk Lokal Web

Balok pelat berdinding penuh

1680

2550
p

=
hlt

208

BAB 10 BALOK PELAT BERDINDING PENUH (PELAT GIRDER)

Kuat momen nominal, 111, untuk penampang yang tak


kompak (A, < 7 < harus ditentukan berdasarkan ketiga macam
kondisi batas, yaitu tekuk torsi lateral,
lokal flens serta tekuk lokal web. Nilai Mn yang terkecil dari
ketiganya adalah nilai
_
menentukan besarnya kuat momen nominal dari suatu komponen
struktur terlentur.
Profil baja dengan web yang langsing, 2L (= hitt) < 9
(.25501\14,), dikategon., - sebagai balok pelat berdinding penuh.
Penampang dengan nilai A tidak melebihi
mampu mencapai f tanpa mengalami tekuk elastis. Kuat lentur dan
geser dari
_
balok pelat berdinding penuh sangat tergantung dari web profil,
web yang langsing menimbulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. tekuk akibat lentur pada bidang web, akan mengurangi
efisiensi dari web un-_, memikul momen lentur
2. tekuk pada flens tekan dalam arah vertikal akibat kurang
kakunya web
3. tekuk akibat geser
Hal khusus yang dijumpai pada komponen struktur balok pelat
berdinding per-___- ialah adanya pemasangan pengaku melintang
(stiffener). Perencanaan pengaku yang dapat meningkatkan kuat
geser pasca tekuk (post buckling strength) dari balok pc-_
berdinding penuh. Pengaku yang dipasang pada balok pelat
berdinding penuh aim mengakibatkan balok tersebut memiliki
perilaku seperti rangka batang, bagian web ark- memikul gaya
tarik diagonal sedangkan pengaku akan memikul gaya tekan.
Perilaku .- disebut sebagai aksi medan tarik (tension-field action).
10.2 PERSYARATAN BALOK PELAT BERDINDING PENUH

Komponen
struktur
dapat
dikategorikan
sebagai balok biasa
atau sebagai balok pc
_ berdinding penuh,
tergantung dari rasio
kelangsingan web, hl
t,,,, dengan h adalah
tinz_
bersih bagian web dan
tw

adalah

tebal

dari

web. Jika
<25501 J fY maka kompor,struktur tersebut dikategorikan sebagai balok biasa, dan jika nilai
h/t. > 2550/ maka dalam perencanaannya harus dikategorikan
sebagai balok pelat berdinding pen__Untuk balok hibrida maka
f diambil
dari
ini nilai
disebabkan
karc
Y nilai f flens, hal
stabilitas dari web untuk menahan tekuk lentur tergantung pada
regangan yang tendalam Hens.

Batas atas dari kelangsingan web, harus ditetapkan untuk


mencegah terjadinya tek_ vertikal dari Hens. Batas atas dari hit.)
merupakan fungsi dari perbandingan a/h, denL-_-

tv

potongan 1-1
a

a adalah jarak antar pengaku vertikal, dan h adalah tinggi bersih dari
web.

210

BAB 10 BALOK PELAT BERDINDING PENUH (PELAT GIRDER)

Gambar 10.5 Komponen Gaya Vertikal dari Flens


Tegangan tekuk elastic untuk elemen pelat didefinisikan sebagai:

fr

1 1V

2)(b/t)2

Untuk b =h, t=tw sertanilai k =1,maka: 71.2.E


12(1-

.fcr

v1(h/c)
Dengan menyamakan persamaan 10.3 dan 10.5 maka diperoleh:

2.61 .Af .E f

7r

.E

1 1 v Xh/0
2

tie")

mengingat bahwa t w .b = Aw , maka persamaan 10.6 dapat diselesaikan untuk h/r .


IT2

E it

1
h
ta,

24(1 v2) A

Besarnya of harus mencapai tegangan leleh liens fyf dan jika


tegangan residu diperr kan maka:

Ef = (f +9/E
Substitusikan 6 f . =
E f dari persamaan 10.8 serta mengambil nilai E = _
MPa dan v = 0,3, maka diperoleh:
h 1 3 4 5 0 0 VA w / A f

t-

( fyf

Nilai Aw/Af umumnya di bawah 0,5, dan besarnya tegangan residu untuk penampang adalah
115 MPa, sehingga persamaan 10.9 menjadi:

95110
ilf)f(fyf

+115

10

Untuk perencanaan besarnya bltz , maksimum diambil sebesar:


h
c

95000
f f f y f + 115 )

Persamaan 10.11 berlaku untuk nilai a/h > 1,5, sedangkan


untuk a/h < 1,5 nilai h - maksimum dapat diambil sebesar:
h 5250

tw

10.:

10.11

Aifyj

10.3 KUAT MOMEN NOMINAL BALOK PELAT BERDINDING PENUH


Kuat momen nominal dari komponen struktur balok pelat berdinding penuh, ditentukar. dalam SNI
03-1729-2002 pasal 8.4.1:
M = K.SL

10.13

10.3 KUAT MOMEN NOMINAL BALOK PELAT ...

211

Dengan:
fer adalah tegangan kritis yang besarnya akan ditentukan
kemudian S adalah modulus penampang
K adalah koefi sien balok pelat berdinding penuh
Koefisien balok pelat berdinding penuh, K, diambil sebesar:
ar
h 2550 < 1
1200+300-a, _t,,

K1

10.14

Dengan a, adalah perbandingan lugs pelat badan terhadap pelat


sayap (a, = A u,/Ad. Kuat momen nominal dari balok pelat berdinding
penuh diambil dari nilai terkecil dari keruntuhan tekuk torsi lateral
(yang tergantung panjang bentang) dan tekuk lokal Hens (yang
tergantung pada tebal Hens tekan).
De Keruntuhan Tekuk Torsi Lateral

Kelangsingan yang diperhitungkan adalah kelangsingan dari bagian


balok pelat berdinding penuh yang mengalami tekan.
=

10.15.a
rT

= 1,76

10.15.b

= 4,40 IE

10.15.c

Dengan L adalah panjang bentang tak terkekang, dan 17- adalah jarijari
girasi daerah pelat sayap ditambah sepertiga bagian web yang
mengalami tekan.
Jika 2< li p keruntuhan akan terjadi akibat leleh, sehingga:

1:1

10.16.a
Jika A

f.

Cbf. 1

< A < keruntuhan yang terjadi adalah tekuk


torsi lateral inelastis:
1
2

s
.
Jika A c > A, maka keruntuhan yang terjadi adalah tekuk torsi
lateral elastis:
(

10.16.b

10.16.c

fr
\

Dengan:
f

<

10.16.d

De Keruntuhan Tekuk Lokal Flens Tekan

Faktor kelangsingan yang diperhitungkan adalah berdasarkan


perbandingan lobar dengan
tebal Hens tekan.

10.17.a

A =

2.t f

212

BAB 10 BALOK PELAT BERDINDING PENUH (PELAT GIRDER)

10.:

=
0,38.
k, .
E

"3

10

0,35 < le e < 0,763

= 1,35
dengan:
ke

10.:

h
1

Jika kG _s kp keruntuhan akan terjadi akibat leleh, sehingga:


fr

=4,

Jika X < X _<keruntuhan yang terjadi adalah tekuk lokal flens inelastis:
fr =
1___________ s fy
(

10.1!

Jika X G >maka keruntuhan yang terjadi adalah tekuk lokal flens elastis,
10.1'!
fr r

f.

Dengan:
f

= f

fy

0,5Cb.ff yy

0,5fy

(a)
1

A p =0,38.

1( A,11 2

f =1,35
.
.E
A ,k o

Ap
f

Ay

,2

2 \, AG
Cambar 10.6 Batasan Balok Pelat Berdinding Penuh (a) Tekuk Torsi Lateral, (b)Tekuk Lokal Flens
As

4/2/,

(b)

10.4 K UAT G ES ER NO MIN A L 213

Balok pelat berdinding penuh dengan kuat leleh yang berbeda


antara Hens dengan web, sering dinamakan sebagai balok hibrida.
Pada umumnya kuat leleh bagian flens lebih tinggi daripada
bagian web, sehingga bagian web akan mengalami leleh terlebih
dahulu sebelum kuat maksimum Hens tercapai. Kuat momen
nominal dari balok hibrida adalah:
= Kg.S.L.R,

Mn
Dengan
:
R,

10.19
12+a,(3mm 3 )

dan: ar = AjAf = rasio antara luas penampang melintang


web dengan penampang melintang Hens
= y f = rasio antara kuat leleh web dengan kuat leleh
fl ens
).4 KUAT GESER NOMINAL
Kuat geser desain dari balok pelat berdinding penuh adalah 01 7n,
dengan 0v = 0,9. Kuat geser balok pelat berdinding penuh
merupakan fungsi dari rasio tinggi dan tebal web (h/c) serta
dipengaruhi pula oleh jarak di antara pengaku vertikal yang
dipasang. Kuat geser balok pelat berdinding penuh dapat
dibedakan menjadi kuat geser pratekuk dan kuat geser pasta
tekuk yang dihasilkan dari aksi medan tank. Aksi medan tank
hanya terjadi jika pada balok pelat berdinding penuh dipasang
pengaku vertikal. Jika tak ada pengaku vertikal, atau bila jarak
antara pengaku vertikal cukup jauh, maka kuat geser balok
berdinding penuh hanya disumbang oleh kuat geser pratekuk.
Perhatikan sebuah panel pada balok pelat berdinding penuh yang
memiliki jarak antar pengaku vertikal sebesar a dan tinggi bersih
sebesar h, pada Gambar 10.7. Dalam
daerah yang memikul gaya geser besar
f C r
serta momen lentur yang kecil, maka
1
dapat diasumsikan bahwa panel tersebut
akan memikul geser murni (Gambar 10.7.c).
Tekuk Elastis Akibat Geser Murni
Tegangan tekuk elastis untuk sebuah elemen pelat adalah:
= k.
1
V

Tt.E

2)(b/ )
t2

10.21

Untuk kasus geser murni pada balok pelat berdinding penuh,


maka persamaan 10.21 dapat dituliskan menjadi:
Jika didefinisikan besaran baru tanpa dimensi, C, sebagai rasio
antara tegangan tekuk geser'Lcrdengan tegangan geser leleh Ty maka:

ir2.E.k
12(1 v2Xh/02
Nilai merupakan fungsi dari rasio a/h, dalam SNI 03-1729-2002 pasal
8.8.2, ditetapkan:
kn = 5 +

5
(/

er

10.23

10.22

214

BAB 10 BALOK PELAT BERDINDING PENUH (PELAT GIRDER)

7r2

C=________________________________
T
2
Ty. 12f
1 V hit

'

. 1 1 0 .

1111

(a)Geser murni dalam elemen


Teori Geser pada Balok Pelat Berdinding Pcnuh

Gambar 10.7

Dengan mensubstitusikan 'Ey = 0,6.f


serta v = 0,3 maka diperoleh nilai daerah
tekuk elastis:
= 1,5 k " .E_1
pasal 8.8.5)
fr

Tekuk

(NO'

(SNI 03-1729-2002,

________a__________iv]
(b) Tegangan utama pada panel
akibat mengalami geser murni

(b)Tegangan utama dalam elemen


geserGeser
murni Murni
Inelastisakibat
Akibat

Pada daerah transisi antara tekuk elastis dengan


leleh, besarnya T adalah:
I(

T,

kT

proporsional)'( 1

, ,

Jika

0,8r

7r2 .E.k

12(1v2XhIt,)
persamaan 10.26 dibagi dengan ti serta
mengambil nilai
maka diperoleh bentuk:
C=

(12 v , _
r
10

Dengan mengambil Zv = 0,6.f serta v = 0,3


maka diperoleh nilai C untuk tekuk inelastis:
.E
,
= 1,10. " (SN1 03-1729-2002, pasal 8.8.4)
Kuat geser nominal dari balok pelat berdinding
penuh ditentukan sebagai her:.

pm
por
sio
nal

Nilai ditentukan dalam persamaan 10.25 untuk


tekuk elastis (C, < 0,8) dan
tekuk inelastis nilai C t , ditentukan dalam
persamaan 10.28 (C > 0,8).

10.4 KUAT GESER NOMINAL 215

1.

UntuknilaiC=1,makapersamaan10.28dapatdituliskandalambentuk: = 1,10.

Jika nilai
melebihi batas
tersebut maka kuat geser nominal balok
pelat berdinding penuh adalah:
17 =
2.

0,61;.4 (SNI 03-1729-2002, pers. 8.8-3.a)

10.30
tidak

10.31

Batas antara tekuk inelastis dengan tekuk elastis dicapai untuk


nilai Cr= 0,8, sehingga persamaan 10.28 dapat dituliskan dalam
bentuk:
h =

1,37.

10.32

Jika 1,10. ____ < (WO< 1,37.

, maka kuat geser nominal


balok
k

fy

pelat berdinding penuh adalah:


V=

1,10.

k .
E

n' E

1
(hlt,)

(SNI 03-1729-2002, pers. 8.8-4.a)


3. Untuk > 1,37. I k
berdinding

10.33

, maka kuat geser nominal balok pelat

penuh adalah:
V=

.k.E

(SNI 03-1729-2002,pers.8.8-5.a)

(hlt,)2

Gambar 10.8 Tekuk pada Web Balok Pelax Berdinding Penuh Akibat Geser Murni

10.34

216

BAB 10 BALOK PELAT BERDINDING PENUH (PELAT GIRDER)

10.5 KUAT GESER NOMINAL DENGAN PENGARUH AKSI MEDAN TARIK

Gaya geser yang bekerja pada balok pelat berdinding penuh


dapat menimbulkan (elastic dan inelastis). Tahanan pasca
tekuk yang timbul dari mekanisme rangka yang bekerja pada
panel balok pelat berdinding penuh yang dibatasi oleh
pengaku-per vertikal. Mekanisme rangka batang ini dinamakan
sebagai aksi medan tarik, gay tekan dipikul oleh pengaku
vertikal sedangkan gaya-gaya tarik diterima oleh pelat
(Gambar 10.9).

tiny

vc.cik

*,:k

vv:k

N:A

,:k

vl%

Gambar 10.9 Aksi Medan Tarik Balok Pelat Berdinding Penuh

Kapasitas geser balok pelat berdinding penuh dengan


mempertimbangkan ta.._ pasca tekuk akibat medan tarik ditunjukkan
dalam Gambar 10.10.

C,

T c/

Pergeseran regangan, C , > 1

Ty

boleh

1,0
0,8

B
tanpa
pengaku J _

pengaku vertikal

perlu

very

E
Pasca tekuk
(pakai pengaku vertikal)

__________________ D
1,10

k'.E

1,37

k .E

260

h/t,

Gambar 10.10 Kapasitas Geser dengan Aksi Medan Tarik

Aksi medan tarik boleh disertakan dalam perhitungan kuat geser


balok pelat ding penuh apabila a/h < 3 dan a/h < [260/h/c)12. Selain itu

aksi medan tarik tak = diperhitungkan untuk balok hibrida serta pada
panel-panel ujung (panel A pada GI-10.9) balok pelat berdinding penuh.

10.5 KUAT GESER NOMINAL DENGAN PENGARUH ... 217

Kuat geser nominal balok pelat berdinding penuh dengan


mempertimbangkan aksi medan tarik dapat diekspresikan sebagai:
=

V!/'

10.35

Dengan V er = c.(0,6f iv ).A sesuai persamaan 10.29. Nilai C


ditentukan dalam persamaan 10.25 dan 10.28 untuk tekuk elastis
dan inelastic. V f . merupakan sumbangan dari aksi medan tarik yang
akan diturunkan dalam bab ini.
Optimum Aksi Medan Tank
Perhatikan tegangan tarik at yang timbul pada suatu panel balok pclat
berdinding penuh dengan membentuk sudut y terhadap bidang
horizontal, pada Gambar 10.11. Besarnya gaya tarik diagonal total, T
yang timbul sepanjang tinggi web adalah:
T =t.tw.h.cos y

10.36

Gambar 10.11 Tegangan Tank pada Web Akibat Aksi Medan Tank

Komponen gaya dalam arah vertikal merupakan gaya geser V yang


besarnya:
V = Tsin y =t11V.h-cos ysin

10.37

Jika gaya tarik diagonal, T, ini timbul pada Hens maka


diperlukan pengaku vertikal, sebab kekakuan vertikal dari Hens
cukup kecil do Hens telah bekerja untuk memikul momen lentur
yang diterima oleh balok pelat berdinding penuh. Dalam keadaan
ini biasanya diberi pengaku vertikal yang dapat didisain untuk
menahan komponen vertikal dari gaya tarik tersebut. Gaya gcscr A
V .yang timbul pada pengaku vertikal adalah:
AV, = 6r s t sin y

10.38

Gambar 10.12 Gaya yang Timbul Akibat Aksi Medan Tank


h

_____a_____I