Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Hemoroid adalah suatu pembengkakan yang tidak wajar di daerah rectal
terkadang disertai pendarahan. Hemoroid sering dikenal di masyarakat sebagai
penyakit wasir atau ambeien, merupakan penyakit yang sering dijumpai dan telah
ada sejak jaman dulu.
Hemoroid sangat umum terjadi pada usia 50-an, 50% individu mengalami
berbagai tipe hemoroid berdasarkan luas vena yang terkena. Kurang lebih 70%
manusia dewasa mempunyai wasir ( hemoroid ), baik wasir dalam, wasir luar,
maupun keduanya. Padausia ini terjadi degenerasi dari seluruh jaringan tubuh,
juga otot sfingter menjadi tipisdan atonis (Brunner & Suddarth, 1996).Menurut
data dari badan kesehatan dunia
( WHO ) angka kejadian hemoroid terjadi di seluruh Negara, dengan
presentasi 54% mengalami gangguan hemoroid. DiIndonesia berdasarkan data
dari Kementrian Kesehatan yang diperoleh dari rumah sakit di 33 provinsi
terdapat 355 rata-rata kasus hemoroid,baik hemoroid ekternal maupun internal
( kemenkes 2009). Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Hampir
sebagian wanita hamil diIndonesia mengeluh nyeri di daerah anus akibat
hemoroid dan konstipasi (kemenkes2009). Tekanan intra abdomen yang
meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan
hormon menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan wanita,
hemoroid yang disebabkan oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang
berarti akan hilang beberapa waktu setelah melahirkan. Hemoroid bukanlah suatu
penyakit yang berbahaya. Akan tetapi hemoroid dapat mengganggu aktivitas
sehari-hari. Hal ini terjadi karena gejala-gejala klinis pada penderita hemoroid
yang sangat khas yaitu perdarahan pada waktu defekasi yang merupakan gejala
utama prolapsus suatu masa pada suatu defekasi mengeluarkan lendir, hygiene
yang sulit dijaga dan rasa sakit. (sarosy, 2012).
A. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai
berikut: Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Hemoroid.
B. Tujuan Penulis
1. Tujuan Umum
Mengetahui Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Hemoroid
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui konsep teori hemoroid
b. Mengetahui konsep asuhan keperawatan dengan hemoroid
c. Mengetahui pelaksanaan tindakan Asuhan Keperawatan pasien
dengan Hemoroid di Ruang Kamar Operasi RS Hermina
Pasteur
1

1.4 Metode Penulisan


Metode penulisan dilakukan melalui studi kasus dengan pendekatan
pemecahan masalah melalui proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian,
penegakan diagnosa, perencanaan intervensi, implementasi, dan evaluasi.
Adapun teknik penulisan bersifat deskriptif yaitu dengan memberikan
gambaran tentang pengelolaan kasus pasien dengan hemoroid. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipatif, studi
dokumenter, dan studi pustaka.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan terdiri dari lima bab sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Bab 1 Pendahuluan
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab III Tinjauan Kasus
Bab IV Pembahasan
Bab V Kesimpulan dan saran

BAB II
KONSEPDASAR
A. Hemoroid
1. Definisi
Hemoroid adalah pembengkakan atau distensi vena di daerah anorektal. Sering terjadi
namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan.Istilah
hemoroid lebih dikenal sebagai ambeien atau wasir oleh masyarakat awam. Sudah pasti
kehadirannya akan mengundang segelintir rasa tidak nyaman. Hemoroid bukan saja

mengganggu aspek kesehatan, tetapi juga aspek kosmetik bahkan sampai aspek sosial.
Secara sederhana, kita bisa menganggap hemoroid sebagai pelebaran pembuluh darah,
walaupun sebenarnya juga melibatkan jaringan lunak di sana. Hemoroid hampir mirip
dengan varises. Hanya saja, pada varises pembuluh darah yang melebar adalah pembuluh
darah kaki, sedangkan pada hemoroid pembuluh darah yang bermasalah adalahvena
hemoroidalis di daerah anorektal. (dr.delken kuswanto)
2. Anatomi dan Fisiologi
Rektum panjangnya 15 20 cm dan berbentuk huruf S. Mula mula mengikuti
cembungan tulang kelangkang, fleksura sakralis, kemudian membelok kebelakang pada
ketinggian tulang ekor dan melintas melalui dasar panggul pada fleksura perinealis. Akhirnya
rektum menjadi kanalis analis dan berakhir jadi anus. Rektum mempunyai sebuah proyeksi
ke sisi kiri yang dibentuk oleh lipatan kohlrausch. Fleksura sakralis terletak di belakang
peritoneum dan bagian anteriornya tertutup oleh paritoneum. Fleksura perinealis berjalan
ektraperitoneal. Haustra (kantong) dan tenia (pita) tidak terdapat padarektum, dan lapisan otot
longitudinalnya berkesinambungan.
Pada sepertiga bagian atas rektum, terdapat bagian yang dapat cukup banyak meluas yakni
ampula rektum bila ini terisi maka imbullah perasaan ingin buang air besar.Di bawah ampula,
tiga buah lipatan proyeksi seperti sayap sayap ke dalam lumen rektum,dua yang lebih kecil
pada sisi yang kiri dan diantara keduanya terdapat satu lipatan yanglebih besar pada sisi
kanan, yakni lipatan kohlrausch, pada jarak 5 8 cm dari anus.Melalui kontraksi serabut
serabut otot sirkuler, lipatan tersebut saling mendekati, dan pada kontraksi serabut otot
longitudinal lipatan tersebut saling menjauhi.Kanalis analis pada dua pertiga bagian
bawahnya, ini berlapiskan kulit tipis yangsedikit bertanduk yang mengandung persarafan
sensoris yang bergabung dengan kulit bagian luar, kulit ini mencapai ke dalam bagian akhir
kanalis analis dan mempunyaiepidermis berpigmen yang bertanduk rambut dengan kelenjar
sebacea dan kelenjar keringat. Mukosa kolon mencapai dua pertiga bagian atas kanalis analis.
Pada daerah ini, 6 10 lipatan longitudinal berbentuk gulungan, kolumna analis melengkung
kedalam lumen. Lipatan ini terlontar keatas oleh simpul pembuluh dan tertutup beberapa
lapisan epitelgepeng yang tidak bertanduk. Pada ujung bawahnya, kolumna analis saling
bergabung dengan perantaraan lipatan transversal. Alur alur diantara lipatan longitudinal
berakhir pada kantong dangkal pada akhiran analnya dan tertutup selapis epitel thorax.
Daerah kolumna analis, yang panjangnya kira kira 1 cm, di sebut daerah hemoroidal,
cabangarteri rectalis superior turun ke kolumna analis terletak di bawah mukosa dan
membentuk dasar hemorhoid interna. Hemoroid dibedakan antara yang interna dan eksterna.
Hemoroid interna adalah pleksus vena hemoroidalis superior di atas linea dentata/garis
mukokutan dan ditutupi olehmukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskuler di
dalam jaringan submukosa pada rektum sebelah bawah. Sering hemoroid terdapat pada tiga
posisi primer, yaitu kanandepan ( jam 7 ), kanan belakang (jam 11), dan kiri lateral (jam 3).

Hemoroid yang lebihkecil terdapat di antara ketiga letak primer tesebut. Hemoroid eksterna
yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior terdapat di sebelah
distal lineadentata/garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel anus.Kedua pleksus
hemoroid, internus dan eksternus berhubungan secara longgar danmerupakan awal aliran
vena yang kembali bermula dari rektum sebelah bawah dan anus.P

3. Etiologi
a. Faktor predisposisi adalah herediter, anatomi, makanan, psikis dan sanitasi,
sedangkan sebagai faktor presipitasi adalah faktor mekanis (kelainan sirkulasi
parsial dan peningkatan tekanan intra abdominal), fisiologis dan radang umumnya
faktor etiologi tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan. Menurut
Tambayong (2000) faktor predisposisi dapat diakibatkan dari kondisi hemoroid.
Hemoroid berdarah mungkin akibat dari hipertensi portal kantong-kantong vena
yang melebar menonjol ke dalam saluran anus dan rectum terjadi trombosis,
ulserasi, dan perdarahan, sehingga nyeri mengganggu. Darah segar sering tampak
sewaktu defekasi atau mengejan. Menurut Smeltzer dan Bare (2002) hemoroid
sangat umum terjadi pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe
hemoroid berdasarkan vena yang melebar, mengawali atau memperberat adanya
hemoroid.
b. Faktor penyebab terjadinya hemoroid adalah sebagai berikut:
1) Mengejan pada waktu defekasi.
2) Konstipasi yang menahun yang tanpa pengobatan.
3) Pembesaran prostat.
4) Keturunan atau hereditas.
5) Kelemahan dinding structural dari dinding pembuluh darah.
6) Peningkatan tekanan intra abdomen (seperti: Kehamilan, berdiri dan
duduk terlalu lama dan konstipasi).
4. Tanda dan Gejala
a. Tanda
1) Perdarahan
Umumnya merupakan tanda pertama hemoroid interna trauma oleh feces
yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar dan tidak bercampur
dengan feces. Walaupun berasal dari vena, darah yang keluar berwarna merah
segar karena kaya akan zat asam, jumlahnya bervariasi.
2) Nyeri
Nyeri yang hebat jarang sekali ada hubungannya dengan hemoroid interna dan
hanya timbul pada hemoroid eksterna yang mengalami trombosis dan radang.

b. Gejala
1) Anemia dapat terjadi karena perdarahan hemoroid yang berulang.
2) Jika hemoroid bertambah besar dapat terjadi prolap awalnya dapat
tereduksi spontan. Pada tahap lanjut pasien harus memasukkan sendiri setelah
defekasi dan akhirnya sampai pada suatu keadaan dimana tidak dapat
dimasukkan.
3) Keluarnya mucus dan terdapatnya feces pada pakaian dalam merupakan
ciri hemoroid yang mengalami prolap menetap.
4) Rasa gatal karena iritasi perianal dikenal sehingga pruritis anus
rangsangan mucus.
5. Pathofisiologi
Dalam keadaan normal sirkulasi darah yang melalui vena hemoroidalis
mengalir dengan lancar sedangkan pada keadaan hemoroid terjadi gangguan aliran
darah balik yang melalui vena hemoroidalis. Gangguan aliran darah ini antara lain
dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan intra abdominal. Vena porta dan vena
sistematik, bila aliran darah vena balik terus terganggu maka dapat menimbulkan
pembesaran vena (varices) yang dimulai pada bagian struktur normal di regio
anal, dengan pembesaran yang melebihi katup vena dimana sfingter anal
membantu pembatasan pembesaran tersebut. Hal ini yang menyebabkan pasien
merasa nyeri dan feces berdarah pada hemoroid interna karena varices terjepit
oleh sfingter anal.
Peningkatan tekanan intra abdominal menyebabkan peningkatan vena portal dan
vena sistemik dimana tekanan ini disalurkan ke vena anorektal. Arteriola regio
anorektal menyalurkan darah dan peningkatan tekanan langsung ke pembesaran
(varices) vena anorektal. Dengan berulangnya peningkatan tekanan dari
peningkatan tekanan intra abdominal dan aliran darah dari arteriola, pembesaran
vena (varices) akhirnya terpisah dari otot halus yang mengelilinginya ini
menghasilkan prolap pembuluh darah hemoroidalis. Hemoroid interna terjadi
pada bagian dalam sfingter anal, dapat berupa terjepitnya pembuluh darah dan
nyeri, ini biasanya sering menyebabkan pendarahan dalam feces, jumlah darah
yang hilang sedikit tetapi bila dalam waktu yang lama bisa menyebabkan anemia
defisiensi besi.
Hemoroid eksterna terjadi di bagian luar sfingter anal tampak merah kebiruan,
jarang menyebabkan perdarahan dan nyeri kecuali bila vena ruptur. Jika ada darah
beku (trombus) dalam hemoroid eksternal bisa menimbulkan peradangan dan
nyeri hebat.
6. Penatalaksanaan

Terapi yang diberikan disesuaikan dengan klasifikasi hemoroid yaitu untuk derajat
I dapat dicoba dengan menghilangkan faktor-faktor penyebab, misalnya saat
konstipasi dengan menghindari mengejan berlebihan saat BAB. Memberi nasehat
untuk diit tinggi serat, banyak makan sayur, buah dan minum air putih paling
sedikit 2.000 cc/hari dan olahraga ringan secara teratur, serta kurangi makan
makanan yang merangsang dan daging, menjaga hygiene daerah anorektal dengan
baik, jika ada infeksi beri antibiotika peroral. Bila terdapat nyeri yang terusmenerus dapat diberikan suppositoria, untuk melancarkan defekasi, dapat
diberikan cairan parafin atau larutan magnesium sulfat 10%. Bila dengan
pengobatan di atas tidak ada perbaikan, diberikan terapi skleroting (sodium
moruat) 5% atau fenol. Penyuntikan dilakukan antara mukosa dan varices, dengan
harapan timbul fibrosis dan hemoroid mengecil. Kontraindikasi pengobatan ini
adalah hemoroid eksterna, radang dan adanya fibrosis hebat di sekitar hemoroid
interna.
Pada hemoroid derajat II dapat dicoba dengan terapi sklerosing secara bertahap.
Apabila terapi sklerosing tidak berhasil dapat dilakukan tindakan operasi.
Pada derajat III dapat dicoba dengan rendaman duduk.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah operasi, bila ada peradangan diobati
dahulu. Teknik operasi pada hemoroid antara lain :
a. Prosedur ligasi pita-karet
Prosedur ligasi pita-karet dengan cara melihat hemoroid melalui anoscop dan
bagian proksimal diatas garis mukokutan di pegang dengan alat. Kemudian pita
karet kecil diselipkan diatas hemoroid yang dapat mengakibatkan bagian distal
jaringan pada pita karet menjadi nekrotik setelah beberapa hari dan lepas.
Tindakan ini memuaskan pada beberapa pasien, namun pasien yang lain
merasakan tindakan ini menyebabkan nyeri dan menyebabkan hemoroid sekunder
dan infeksi perianal.
b. Hemoroidektomi kriosirurgi
Metode ini dengan cara mengangkat hemoroid dengan jalan membekukan
jaringan hemoroid selama beberapa waktu tertentu sampai waktu tertentu.
Tindakan ini sangat kecil sekali menimbulkan nyeri. Prosedur ini tidak terpakai
luas karena menyebakan keluarnya rabas yang berbau sangat menyengat dan luka
yang ditimbulkan lama sembuh.
c. Laser Nd: YAG
Metode ini telah digunakan saat ini dalam mengeksisi hemoroid, terutama
hemoroid eksternal. Tindakan ini cepat menimbulkan nyeri. Hemoragi dan abses
jarang menjadi komplikasi pada periode pasca operatif.
d. Hemoroidektomi
Hemoroidektomi atau eksisi bedah, dapat dilakukan untuk mengangkat semua

jaringan sisa yang terlibat dalam proses ini. Setelah prosedur operatif selesai,
selang kecil dimasukkan melaui sfingter untuk memungkinkan keluarnya flatus
dan darah.
Untuk Terapi setelah operasi dapat dilakukan dengan cara suppositoria yang
mengandung anestesi, antibiotika, analgetik dan astrigent. Tiga hari post operasi
diberikan diit rendah sisa untuk menahan BAB. Jika sebelum tiga hari ingin BAB,
tampon dibuka dan berikan rendaman PK hangat (37oC) dengan perbandingan
1:4000 selama 15-20 menit. Setelah BAB, lalu dipasang lagi tampon baru. Jika
setelah tiga hari post operasi pasien belum BAB diberi laxantia. Berikan
rendaman duduk dengan larutan PK hangat (37oC), perbandingan 1:4000 selama
15-20 menit sampai dengan 1-2 minggu post operasi.
Pada penatalaksanaan hemoroid tingkat IV dapat dilakukan dengan istirahat
baring dan juga operasi. Bila ada peradangan diobati dahulu.
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Inspeksi
1) Hemoroid eksterna mudah terlihat terutama bila sudah mengandung
thrombus.
2) Hemoroid interna yang prolap dapat terlihat sebagai benjolan yang
tertutup mukosa.
3) Untuk membuat prolap dengan menyuruh pasien mengejan.
b. Rectal touch
1) Hemoroid interna biasanya tidak teraba dan tidak nyeri, dapat teraba bila
sudah ada fibrosis
2) Rectal touch diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma
recti.
3) Anoscopi
Pemeriksaan anoscopi diperlukan untuk melihat hemoroid interna yang belum
prolap. Anoscopi dimasukkan dan dilakukan sebagai struktur vaskuler yang
menonjol ke dalam lubang.
8. Fokus Intervensi
a. Pre Operasi
1) Pengkajian
a) Pengkajian yang dilakukan pada pola persepsi kesehatan dan
pemeliharaan kesehatan adalah kebiasaan olahraga pada pasien, kemudian diit
rendah serat, selain itu juga perlu dikaji mengenai kebiasaan klien tentang
minum kurang dari 2.000 cc/hari. Hal lain yang perlu dikaji adalah mengenai
riwayat kesehatan klien tentang penyakit sirorcis hepatis.
b) Pengkajian mengenai pola nutrisi metabolik pada klien adalah mengenai
berat badan klien apakah mengalami obesitas atau tidak. Selain itu juga perlu

dikaji apakah klien mengalami anemia atau tidak. Pengkajian mengenai diit
rendah serat (kurang makan sayur dan buah) juga penting untuk dikaji.
Kebiasaan minum air putih kurang dari 2.000 cc/hari.
c) Pengkajian pola eliminasi pada klien adalah mengenai kondisi klien
apakah sering mengalami konstipasi atau tidak. Keluhan mengenai nyeri
waktu defekasi, duduk, dan saat berjalan. Keluhan lain mengenai keluar darah
segar dari anus. Tanyakan pula mengenai jumlah dan warna darah yang keluar.
Kebiasaan mengejan hebat waktu defekasi, konsistensi feces, ada darah/nanah.
Prolap varices pada anus gatal atau tidak.
d) Pengkajian pola aktivitas dan latihan pada klien mengenai kurangnya
aktivitas dan kurangnya olahraga pada klien. Pekerjaan dengan kondisi banyak
duduk atau berdiri, selain itu juga perlu dikaji mengenai kebiasaan
mengangkat barang-barang berat.
e) Pengkajian pola persepsi kognitif yang perlu dikaji adalah keluhan nyeri
atau gatal pada anus.
f) Pengkajian pola tidur dan istirahat adalah apakah klien mengalami
gangguan pola tidur karena nyeri atau tidak.
g) Pengkajian pola reproduksi seksual yang perlu dikaji adalah riwayat
persalinan dan kehamilan.
h) Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap serat. Koping yang
digunakan dan alternatif pemecahan masalah.
2) Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri b.d. adanya pembengkakan, trombus pembuluh darah pada anus.
b) Resti perdarahan b.d. penekanan pada vena hemoroidal akibat konstipasi.
c) Cemas b.d. rencana pembedahan dan rasa malu.
d) Kurang pengetahuan b.d. kurang informasi tentang operasi.
3) Intervensi Keperawatan
a) Nyeri b.d. adanya pembengkakan, trombus pembuluh darah pada anus.
Kriteria hasil: nyeri pada anus berkurang dengan skala nyeri 0-1, wajah pasien
tampak rileks.
Rencana tindakan:
(1) Kaji skala nyeri
Rasional: Menentukan tingkat nyeri, untuk menentukan tindakan yang tepat.
(2) Anjurkan untuk menarik nafas dalam setiap kali timbul nyeri.
Rasional: Mengurangi rasa nyeri.
(3) Berikan posisi yang nyaman sesuai dengan keinginan pasien.
Rasional: Memberikan rasa nyaman.
(4) Observasi tanda-tanda vital.

Rasional: Identifikasi dini komplikasi nyeri ditandai dengan peningkatan


tekanan darah.
(5) Berikan bantal/alas pantat.
Rasional: Untuk mengurangi rasa nyeri.
(6) Anjurkan untuk tidak mengejan yang berlebihan saat defekasi.
Rasional: Mengurangi rasa nyeri dan prolap varices.
(7) Berikan rendaman duduk sesuai anjuran duduk.
Rasional: Mengurangi rasa nyeri.
(8) Kolaborasi untuk pemberian terapi analgetik.
Rasional: Mengurangi rasa nyeri.
b) Resti perdarahan b.d. penekanan pada vena hemoroidal akibat konstipasi.
Kriteria Hasil: Tidak terjadi perdarahan yang ditandai dengan: tanda-tanda
vital dalam batas normal, tidak timbul perdarahan pada feces dalam waktu 1-2
hari.
Rencana tindakan:
(1) Kaji tanda-tanda vital (TD, N, S, RR) setiap 4 jam.
Rasional: Indikator dini terhadap resiko perdarahan hebat ditandai dengan
tidak adanya peningkatan TD dan Nadi.
(2) Monitor tanda-tanda hipovolemia.
Rasional: Deteksi dini untuk tindakan segera.
(3) Periksa daerah rectal setiap 2 jam/setelah BAB.
Rasional: Deteksi dini perdarahan untuk pertolongan segera.
(4) Beri air minum 2-3 liter/hari.
Rasional: Hidrasi yang adekuat membuat konsistensi feces lembek.
(5) Berikan banyak makan sayur dan buah.
Rasional: Meningkatkan masa feces sehingga lebih mudah dikeluarkan.
(6) Anjurkan untuk segera berespon bila ada rangsangan BAB.
Rasional: Untuk mencegah rangsangan hilang dan akan terjadi konstipasi.
(7) Kolaborasi untuk pemberian laxantia dan analgetik.
Rasional: Pelunak feces dan mengurangi nyeri saat BAB.
c) Cemas b.d. rencana pembedahan
Kriteria Hasil: pasien mengatakan kecemasan berkurang, pasien berpartisipasi
aktif dalam perawatan.
Rencana tindakan:
(1) Kaji tingkat kecemasan.
Rasional: Menentukan tingkat kecemasan untuk menentukan tindakan yang
tepat.
(2) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang pembedahan.
Rasional: Menentukan informasi yang akan diberikan.

(3)

Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaannya.


Rasional: Mengurangi kecemasan.
(4) Dampingi dan dengarkan pasien.
Rasional: Meningkatkan rasa percaya dan rasa aman sehingga mengurangi
cemas.
(5) Libatkan keluarga atau pasien lain yang menderita penyakit yang sama
untuk memberikan dukungan.
Rasional: Sebagai support sistem dan mengurangi rasa malu.
(6) Anjurkan pasien untuk mengungkapkan kecemasannya.
Rasional: Untuk mengurangi cemas.
(7) Kolaborasi dengan dokter untuk penjelasan prosedur operasi.
Rasional: Pengetahuan yang cukup tentang prosedur operasi akan
mengurangi cemas.
(8) Kolaborasi untuk terapi anti cemas (bila perlu).
Rasional: Mengurangi cemas.
d) Kurang pengetahuan b.d. kurang informasi tentang operasi.
Kriteria Hasil: pasien mengatakan ketidaktahuan mengenai tindakan operasi
berkurang.
Rencana tindakan:
(1) Kaji tingkat pengetahuan
Rasional: Mengetahui tingkat pengetahuan tentang penyakit
(2) Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakit
Rasional: Meningkatkan pengetahuan
(3) Diskusikan program latihan yang sesuai ketentuan
Rasional: menentukan program latihan yang sesuai
(4) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan
hidup yang perlu
Rasional: Perubahan yang harus diprioritaskan secara realistik untuk
menghindari rasa tidak menentu dan berdaya.
b. Post Operasi
1) Pengkajian
a) Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan adalah pengkajian
mengenai keadaan lingkungan yang tenang (nyaman), pengkajian mengenai
pengetahuan tentang perawatan pre operasi. Selain itu juga penting dilakukan
pengkajian mengenai harapan klien setelah operasi.
b) Pengkajian pola nutrisi metabolik setelah operasi adalah mengenai
kepatuhan klien dalam menjalani diit setelah operasi.
c) Pengkajian pola eliminasi setelah operasi adalah ada tidaknya perdarahan.
Pengkajian mengenai pola BAB dan buang air kecil. Pemantauan klien saat
mengejan setelah operasi, juga kebersihan setelah BAB dan buang air kecil.

d) Pengkajian pola aktivitas dan latihan yang penting adalah mengenai


aktivitas klien yang dapat menimbulkan nyeri, pengkajian keadaan kelemahan
yang dialami klien.
e) Pengkajian pola tidur dan istirahat adalah mengenai gangguan tidur yang
dialami klien akibat nyeri.
f) Pengkajian pola persepsi kognitif adalah mengenai tindakan yang
dilakukan klien bila timbul nyeri.
g) Pengkajian pola persepsi dan konsep diri klien adalah kecemasan yang
dialami klien setelah operasi.
2) Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri b.d. adanya luka operasi
b) Gangguan mobilitas fisik b.d. menurunnya kekuatan/ketahanan
konstruktur nyeri.
c) Resiko tinggi perdarahan b.d. hemoroidectomi
d) Defisit perawatan diri b.d. kelemahan, nyeri.
e) Resiko tinggi infeksi b.d. adanya luka operasi di daerah anorektal.
f) Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. resiko tinggi perdarahan.
3) Intervensi Keperawatan
a) Nyeri b.d. adanya luka operasi.
Kriteria Hasil: klien mengatakan nyeri pada luka operasi berkurang dengan
skala nyeri 0-1, wajah pasien tampak rileks.
Rencana tindakan:
(1) Kaji skala nyeri
Rasional: Menentukan tingkat nyeri, untuk menentukan tindakan yang tepat.
(2) Anjurkan teknik nafas dalam dan pengalihan perhatian.
Rasional: Untuk mengurangi rasa nyeri.
(3) Berikan posisi supine.
Rasional: Mengurangi regangan pada daerah anorectal.
(4) Observasi tanda-tanda vital.
Rasional: Identifikasi dini komplikasi nyeri.
(5) Berikan bantalan flotasi di bawah bokong saat duduk.
Rasional: Menghindari penekanan pada daerah operasi.
(6) Kolaborasi untuk rendaman duduk setelah tampon diangkat.
Rasional: Kehangatan meningkatkan sirkulasi dan membantu menghilangkan
ketidaknyamanan.
(7) Kolaborasi pelunak feces dan laksatif. Beri masukan oral setiap hari
sedikitnya 2-3 liter cairan, makanan berserat.
Rasional: Feces yang keras menekan insisi operasi.
(8) Kolaborasi untuk pemberian terapi analgetik.

Rasional: Mengurangi nyeri.


b) Gangguan mobilitas fisik b.d. menurunnya kekuatan/ketahanan
konstruktur nyeri.
Kriteria hasil: klien mampu melakukan pergerakan secara bertahap.
Rencana tindakan:
(1) Tentukan kemampuan fungsional (skala 0-4) dan alasan
ketidakseimbangan.
Rasional: mengidentifikasi kebutuhan atau tingkat intervensi yang dibutuhkan.
(2) Catat respon emosional/ tingkah laku untuk mengubah kemampuan.
Rasional: perubahan fisik dan kehilangan kemandirian seringkali menciptakan
perasaan marah, frustasi dan depresi yang dapat dimanifestasikan sebagai
keengganan untuk ikut serta dalam aktivitas.
(3) Berikan motivasi dan latihan pada klien dalam memenuhi kebutuhan
ADL sesuai dengan kebutuhan.
Rasional: motivasi dapat meningkatkan perasaan klien untuk berusaha
memenuhi kebutuhan ADL.
(4) Anjurkan keluarga untuk membantu melatih dan beri motivasi.
Rasional: keluarga berperan penting dalam membantu melatih dan memberi
motivasi klien.
c) Resiko tinggi perdarahan b.d. hemoroidectomi.
Kriteria Hasil: Tidak terjadi perdarahan setelah perawatan 48 jam, balutan luka
operasi tidak basah, tanda-tanda vital dalam batas normal.
Rencana tindakan:
(1) Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam selama 24 jam pertama.
Rasional: Indikator dini perubahan volume darah.
(2) Monitor tanda-tanda hipovolemik.
Rasional: Deteksi dini untuk tindakan segera.
(3) Periksa daerah rectal atau balutan setiap dua jam selama 24 jam pertama.
Rasional: Deteksi dini perdarahan untuk pertolongan segera.
(4) Berikan kompres dingin.
Rasional: Vasokonstriksi pembuluh darah.
(5) Kolaborasi untuk pemeriksaan Hb dan Ht.
Rasional: Indikator lain perubahan volume darah.
(6) Kolaborasi untuk pemberian terapi astrigen.
Rasional: Untuk menciutkan pembuluh darah.
d) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan, nyeri.
Kriteria hasil: aktifitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri.
Rencana tindakan :
(1) Kaji tingkat kemampuan dan tingkat kekurangan untuk melakukan
kegiatan sehari hari.

Rasional: Membantu dalam merencanakan pemenuhan kebutuhan secara


individual.
(2) Beri bantuan dalam pemenuhan kebutuhan ADL klien sesuai kebutuhan.
Rasional :Untuk memandirikan pasien.
(3) Libatkan keluarga dalam perawatan diri pasien.
Rasional: Supaya klien merasa diperhatikan oleh keluarganya.
e) Resiko tinggi infeksi b.d. adanya luka operasi di daerah anorektal.
Kriteria Hasil: luka sembuh dengan baik, tanda-tanda vital dalam batas
normal.
Rencana tindakan:
(1) Observasi tanda-tanda vital.
Rasional: Peningkatan nilai tanda-tanda vital merupakan indikator dini proses
infeksi.
(2) Berikan rendaman duduk setiap kali setelah BAB selama 1-2 minggu.
Rasional: Mematikan kuman penyebab infeksi.
(3) Kaji daerah operasi terhadap pembengkakan dan pengeluaran pus.
Rasional: Merupakan tanda-tanda infeksi.
(4) Ganti tampon setiap kali setelah BAB.
Rasional: Mencegah infeksi.
(5) Kolaborasi untuk pemberian terapi antibiotika.
Rasional: Membunuh bakteri yang menyebabkan infeksi.
f) Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. resiko tinggi perdarahan.
Kriteria hasil: pasien tidak mengalami kekurangan volume cairan, TTV dalam
batas normal.
Rencana tindakan:
(1) Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran, tinjau ulang catatan intra
operasi.
Rasional: dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi
pengeluaran cairan/keutuhan pengantian dan pilihan-pilihan mempengaruhi
intervensi.
(2) Kaji pengeluaran urinarius terutama untuk tipe prosedur operasi yang
dilakukan.
Rasional: mungkin akan terjadi penurunan (penghilangan setelah prosedur
pada sistem genitourinarius dan atau struktur yang berdekatan.
(3) Pantau tanda-tanda vital pasien.
Rasional: hipertensi, takikardi, penurunan pernafasan mengidentifikasi
kekurangan cairan.
(4) Periksa pembalut, alat drain pada interval reguler. Kaji luka untuk
terjadinya pembengkakan.
Rasional: perdarahan yang berlebihan dapat mengacu pada

hipovolemia/hemoragi. Pembengkakan lokal mungkin mengindikasikan


formasi hematoma/perdarahan.

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
a. Pengkajian Awal Rawat Inap
1. Identitas Pasien
Nama
: Ny.E
No. RM
: G 089781
Usia
: 43 tahun 11 bulan
Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat
Agama
Suku
Pendidikan
Pekerjaan
Tanggal pengkajian

: Jl. Sarijadi Blok 5 No. 135


: Islam
: Sunda
: SMA
: Ibu Rumah Tangga
: 21/06/2016 pkl 22.10 diperoleh dari:

Pasien
Diagnosa Medis
Tindakan

: Heoroid grade III


: Hemoroidektomy

2. Biodata Penanggung Jawab


Nama
: Tn. Y
Usia
: 39 tahun
Jenis kelamin
: Laki Laki
Alamat
: Jl. Sarijadi Blok 5 No. 135
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Karyawan Swasta
Agama
: Islam
Hubungan dengan pasien
: Suami
B. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama : cemas
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
OS mengatakan rencana tindakan op hemoroidectomy pkl. 07.30 tgl 2206-2016. Keluhan saat di rumah os pernah ada perdarahan dari anus
sejak tgl 04 juni 2016, saat ini sudah tidak ada pendarahan. Os mengeluh
ada batuk pilek.
c. Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat opname hemoroid, kelenjar tyroid, dan appendectomy, untuk
tahunnya os lupa, riwayat hipertensi sejak tahun 2007
d. Riwayat penyakit keluarga :
Ada dari ayah
e. Riwayat penggunaan obat :
Ada, Amlodipin 5mg
f. Riwayat Alergi :
Tidak ada
g. Riwayat Transfusi Darah, Kemoterapi, Radioterapi :
Tidak ada
h. Golongan Darah :
Golongan darah pasien adalah O +
C. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
b. Kesadaran
c. GCS
d. Tanda Vital

: pasien tampak sakit sedang


: compos mentis
: E4 M6 V5
: TD = 140/110mmHg, Suhu = 36,2C,
HR = 80x/mnt, RR = 20x/mnt

e. Antropometri
f. Pemeriksaan Persistem
Sistem
Susunan
Saraf
Pusat

: BB = 66,2 kg, TB = tidak dikaji


:
:

Kesadaran CM, Kepala tidak ada


kelainan,

ubun-ubun

datar,

wajah tidak ada kelainan, leher


tidak ada kelainan, kejang tidak
ada, kekuatan otot kuat.
Posisi mata tidak ada kelainan,

Sistem
Penglihata
n

Sistem
Pendengar
an
Sistem
Penciuma
n
Sistem
Pernafasa
n

ikterik.
Tidak ada kelainan.

Tidak ada kelainan.

Pola
nafas
normal,
volume
pernafasan normal, pernafasan
dada, irama nafas teratur,
kesulitan bernafas tidak ada,
batuk dan sekresi tidak ada.

Sistem
Kardiovas
kuler
Sistem
Pencernaa
n

Sistem
Genitouria
Sistem
Reproduk
si

Sistem
Integumen
Sistem
Muskulos
keletal

Warna kulit normal, nyeri dada tidak


ada, denyut nadi teratur, akral
hangat, pulsasi kuat.
Tidak ada nyeri tekan di area perut.
Mulut, gigi, lidah, tenggorokan,
anus tidak ada kelainan.
Peristaltik usus dan pola BAB
tidak ada kelainan.
Kebersihan baik, organ dan pola
BAK tidak ada kelainan.
Menarche: umur 13 th, siklus haid
28 hari, lama haid 7 hari, HPHT
Gangguan
haid
tidak
ada,
penggunaan kontrasespsi tidak,
payudara tidak ada kelainan.
Turgor baik, warna tidak ada
kelainan, integritas kulit utuh.
Pergerakan sendi bebas, kekuatan
otot baik. Nyeri sendi, fraktur,
edema tidak ada.

g. Kenyamanan

konjungtiva anemis, sklera tidak

Keluhan nyeri tidak ada, skala nyeri 0


h. Pola Kehidupan
Pola
A
kt
iv
ita
s

Pola
N
ut
ris
i
Pola
Ti
du
r
Pola
El
i
m
in
as
i

:
Sebelum Sakit
Aktivitas
makan/minu
m,
mandi,
eliminasi,
berpakaian,
dan
berpindah
dilakukan
secara
mandiri.
Frekuensi makan
3x
sehari,
jenis
makanan
padat, habis
1 porsi.
Lama tidur 6/7
jam,
tidak
ada
gangguan.
BAK 6/7 jam
kali sehari,
tidak
ada
keluhan,
warna
kuning
jernih. BAB
1 kali sehari,
warna
kuning,
konsistensi
lunak.

Setelah Sakit
Aktivitas
makan/minum
,
mandi,
eliminasi,
berpakaian,
dan berpindah
dilakukan
dengan secara
mandiri.
Frekuensi makan
3x
sehari,
jenis makanan
lunak, habis
1/2 porsi.
Lama tidur 10
jam, tidak ada
keluhan.
BAK 7 kali sehari,
tidak
ada
keluhan,
warna kuning
jernih. BAB 1
kali
sehari,
warna kuning,
konsistensi
lunak.

i. Sosial dan Budaya


:
Pasien beragama islam dan tidak bekerja. Pasien tinggal bersama suami
yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Pendidikan suami pasien
akademi dan berasal dari suku sunda.
j. Proteksi
:
Status mental pasien terorientasi penuh. Status psikologis cemas (skala
1) ditandai dengan pasien mengucapkan secara verbal merasa cemas

karena akan menjalani operasi. Penggunaan restain tidak ada.


Pengkajian resiko jatuh morse resiko rendah.
k. Pengkajian Fungsi
:
Kemampuan aktivitas sehari hari mandiri, pasien mampu berjalan
tanpa menggunakan alat ambulasi, ekstrimitas atas dan ekstrimitas
bawah tidak ada kelainan, kemampuan menggenggam dan koordinasi
baik.
l. Kebutuhan Penkes
:
Bicara normal, bahasa sehari hari yang digunakan bahasa Indonesia,
hambatan belajar tidak ada. Pasien dan keluarga menginginkan
informasi tentang terapi yang akan dilakukan.
m. Kebutuhan Privasi
Pasien dan keluarga mengatakan tidak membutuhkan privasi khusus.
DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
Nyeri
Pola Tidur
Mobilisasi/ aktivitas
Integritas kulit
Perawatan diri
Infeksi
Keselamatan pasien
Nutrisi
Eliminasi
Pengeahuan/ komunikasi
Keseimbangan dan elektrolit
Pola nafas
Tumbuh kembang
Suhu tubuh
Perfusi jaringan
Konflik jaringan
Jalan nafas
Lain lain: Cemas
RENCANA KEPERAWATAN
1.
2.
3.
4.

Observasi TTV
Kaji tingkat cemas pasien
Anjurkan os untuk berdoa
Libatkan keluarga untuk memberikan dorongan untuk memberikan
perhatian
5. Kolaborasi dengan DPJP
D. Pengkajian Perioperatif

1. Pre Operasi
a. Keadaan Umum
b. Kesadaran
c. TTV

: Baik
: CM, E4M6V5
: Suhu = 36C, HR = 80x/mnt, RR = 20x/mnt,
TD = 140/90 mmHg, TB = 160cm, BB = 66,3kg.
d. Golongan Darah
:0+
e. Assesment Nyeri : Tidak ada Nyeri
f. Status Mental
: Orientasi baik, pasien cukup kooperatif.
g. Status Psikologis : Pasien dan keluarga tampak tenang.
h. Riwayat Penyakit : Hipertensi 2007, asma
i. Riwayat Keluarga : Asma
j. Indikasi Operasi
: Hemoroid grade III
k. Jenis Operasi
: Hemoroidektomy
i. Keluhan Utama
: Os mengatakan cemas akan dilakukan operasi. OS
mengatakan 2 minggu yg lalu saat BAB keluar darah segar.
l. Pengobatan Saat Ini : amlodifin 5mg 1x1 tab (malam)
m. Alat Bantu
: ya, gigi palsu
n. Riwayat Operasi : Jenis operasi: wasir, 1999 Sarkansi
Jenis Operasi: usu buntu, SMA di RSHS
Jenis Operasi: tiroid, 2006 di sartika ani
o. Alergi
: Tidak ada
p. Komplikasi operasi yg lalu: tidak ada
q. Hasil Laboratorium: Pre op Besar/ kecil
r. Kebutuhan penkes : Tindakan
s. Survey Head to Toe:
Dalam Batas Normal
Lokasi

Kepala
Leher
Dada
Abdom
en
Genitali
a
Integu
me
n
Ekstrim
itas

Ya

Tidak

Jika
Tid
ak
Jel
ask
an

t. Checklist Pre Op

No

Kegiatan

1.

Periksa
gelang
identita
s dan
resiko

2.

3.

4.

5.

Ya

No
1.

Surat
pengant
ar
operasi

Surat
persetuj
uan
operasi

Surat
persetuj
uan
anastesi

Masalah
bahasa/
komuni
kasi

Tidak

2.

3.

4.

5.

Kegiat
an
Puasa
(ja
m
02
.0
0)
Protes
a
lu
ar
di
bu
ka
Protes
a
da
la
m
Make
up
,
cat
ku
ku
,
pe
rhi
as
an
di
bu
ka
Persia
pa
n
ku
lit
di
cu
ku
r/
pe
na
nd
aa
n
ar

Ya

tdk

Tdk

Tdk

No

Kegiatan

6.

Gigi palsu,
soft
lens,pa
ce
maker,
implan,
proteas
e

7.

8.

9.

10.

Periksa
kelengk
apan
RM/
RI/RJ

Hasil
Laborat
orium

Hasil
rontgen
/
CT
scan/M
RI,
EKG,
Echo/
Angiog
rafi
Konsultasi
spesiali
s lain :
penyaki
t
dalam/
jantung
/ paru
paru/an

Ya

Tidak

No
6.

7.

8.

9.

10.

Kegiat
an
ea
Pengo
so
ng
an
ka
nd
un
g
ke
mi
h/
hu
kn
ah
Infus
ter
pa
sa
ng
/
IV
lin
e
Persed
iaa
n
da
ra
h
BJJ
di
de
ng
ar
ka
n
Obat
ya
ng
dis
ert
ak
an

Ya

tdk

Tdk

Tdk

Tdk

No
11.

Kegiatan

Ya

Tidak

ak
Penandaan
area
operasi

No
11.

Kegiat
an
Obat
ter
ak
hir
ya
ng
di
be
rik
an

Ya

Tdk
ada

2. Intra Operasi
a. Time out
: Ya
b. Mulai Operasi
: 07.40
Selesai Operasi : 08.15
c. Jenis Operasi
: Hemoroidectomy
d. Tipe Operasi
: Elektif
e. Tingkat Kesadaran
: CM
f. Jenis Anastesi
: Spinal
g. Lokasi pemasangan IV line : Tangan kiri
h. Posisi Lengan
: Terletang kanan/kiri
i. Posisi Operasi
: Litotomi
j. Kateter urine
: Tidak
k. Persiapan Kulit
: Iodine 10%
l. Pemakaian cauter
: Tidak
m. Lokasi patient plat
: Tidak
n. Kondisi kulit pre op
: Utuh
o. Kondisi kulit post op
: Utuh
p. Penghangat
: Tidak
q. Pemakaian Tourniquet
: Tidak
r. Pemakaian Implant
: Tidak
s. Pemakaian drain
: Tidak
t. Irigasi Luka
: NaCl 0,9%
u. Pemasangan Tampon
: Ya jenis: Kassa 2 Buah rencana di lepas:
besok tgl 22/06/16 oleh perawat
v. Spesimen
: Tidak di PA
3. Post Operasi
a. Pasien pindah ke RR
b. Keadaan umum
c. Keluhan di RR
d. Tingkat Kesadaran
e. TTV

: 22/0/16 pukul 08.45 WIB


: Sakit sedang
: TAK
: CM
: Suhu = 36,5C, HR = 88x/mnt,
RR = 20x/mnt, TD = 140/90mmHg

f.
g.
h.
i.
j.

Jalan Nafas
Pernafasan
Terapi Oksigen
Kulit
Sirkulasi

k.
l.
m.
n.
o.

Posisi Pasien
Kondisi Balutan
Assesment Nyeri
Assesment Resiko Jatuh
Intake output
Cairan Masuk
Kristal
oid
Koloid

: Tidak ada masalah


: Spontan
: 2 L dengan nasalcanule
: Lembab
: Seluruh tubuh tampak merah muda,
CRT < 2 dtk
: Terlentang
: Kering
: tidak ada
: Skor Morse4 (resiko rendah)
:
Cairan Keluar
Urine

120cc/j
am
-

Transf
usi

Total

120

Perdar
ah
an
Lain
Lai
n
Total

p. Terapi :
- Cifofroxcacin 2x500 PO
- Keterolax 2x1 PO
- Asam Tranexsamat 2x500 PO
- Ardium 3x1 PO
- Ambacin Extra (IV)
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Tanggal pemeriksaan: 10-06-2016
No. RM
: G. 089781
Nama Pasien
: Ely Yulia Ny. (P)
Tgl. Lahir/Umur
: 26-07-1972/ 43 tahun 11 bulan
Dokter Pengirim
: Dr. Liza Nursanti SpB
Pem
e
r
i
k
s
a
a

Hasil

Nilai
No
rm
al

Satu
a
n

Keteran
gan

n
H
H
e
m
a
t
o
l
o
g
i
R
u
t
i
n
Hem
o
g
l
o
b
i
n
Tro
m
b
o
s
i
t
leko
s
i
t
Tro
m
b
o
s
i
t
Gluk
o
s
a

13,1

12,016,
0

g/dl

36,9

36,046,
0

10.820

4.50010.
000

/ul

359.00
0

150.00
0400
.00
0

/ul

92,0

70,014,
0

Mg/d
l

S
e
w
a
k
t
u

F. Rumusan Diagnosa Keperawatan


Pre operasi :
1. Cemas berhubungan dengan proses pembedahan
Intra operasi :
1.
Resiko cedera intra operasi berhubungan dengan kebutuhan posisi
pembedahan, pemasangan alat elektromedik, kehilangan sensori protektif
sekunder terhadap anastesi
Post operasi :
1. Resti injuri berhubungan dengan kelemahan fisik pasca anastesi,
pusing, mual

G. Intervensi
DIAGNOSA DAN PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN HEMOROIDECTOMY

NO
Dx

DIAG
NO
SA

1. Cemas
b.d
pengetahuan
mengenai
penyakit
dan
prosedur
pembedahan
ditandai dengan :

TGL
D
I
T
E
G
A
K
A
N
NAM
A
P
E
R
A
W
A
T
09/02
/1
6
06.30
Zr.
In
dr

PERENCANAAN

TU
J
U
A
N

Ce

KRITERIA
HASIL

m
a
s t
e

Menyatakan
kecemasan
berkurang
Menyatakan
kesiapan operasi
Ekspresi
wajah
rileks

RENCANA TINDAKAN

Kaji
tingkat
kecemasan,
catat
perilaku
pasien
(gelisah.
Kontak
mata, menolak)
Berikan lingkungan
yang tenang dan

TANG
G
AL
TE
R
AT
AS
I
N
A
M
A
PE
RA
W
AT
09/02/
16
08.00
Zr.
Ind
ria

NO
Dx

DIAG
NO
SA

Ds :
- Pasien
mengatakan
takut
untuk
dilakukan
operasi
DO :
- Ekspresi
wajah tampak
tegang
- TTV
TD
=
.mmHg
HR = x/mnt
RR = x/mnt
Suhu = C
- Skala cemas

TGL
D
I
T
E
G
A
ia

PERENCANAAN
TU
J
KRITERIA
U
HASIL
A
N
r - TTV normal
a - Skala cemas 1
t
a
s
i
s
e
t
e
l
a
h
d
i
l
a
k
u
k
a
n

RENCANA TINDAKAN

anjurkan tetap rileks


Berikan kesempatan
mengungkapkan
pertanyaan
dan
berikan umpan balik
Libatkan
orang
terdekat
untuk
memberikan support
mental
Libatkan
keluarga
untuk mendampingi
pasien
berdoa
sebelum operasi
Berikan
penkes
mengenai
prosedur
persiapan
pembedahan
Kolaborasi pemberian
sedative
sesuai
indikasi

TANG
G
AL
TE
R
AT
AS

NO
Dx

DIAG
NO
SA

TGL
D
I
T
E
G
A

PERENCANAAN
TU
J
KRITERIA
U
HASIL
A
N
t
i
n
d
a
k
a
n
k
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n
s
e
l
a

RENCANA TINDAKAN

TANG
G
AL
TE
R
AT
AS

NO
Dx

DIAG
NO
SA

TGL
D
I
T
E
G
A

PERENCANAAN
TU
J
KRITERIA
U
HASIL
A
N
m
a

RENCANA TINDAKAN

TANG
G
AL
TE
R
AT
AS

1
j
a
m
2. Resiko
cedera
intra
operasi
berhubungan
dengan kebutuhan
posisi
pembedahan,
pemasangan alat
elektromedik,
kehilangan
sensori protektif
sekunder terhadap
anastesi ditandai
dengan :
Ds : Do :
- Pasien
kehilangan

09/02
/1
6
07.00
Zr.
In
dr
ia

Cid

e
r
a
o
p
e
r
a
s
i
t
i
d
a

Pasien
bebas
dari
cedera
selama
operasi
(luka
bakar,
injury.
Dislokasi
sendi)

1. Kaji apakah pasien memiliki


faktor
resiko
sebelumnya
misalnya kedinginan, luka
bakar, injury
2. Kaji kondisi pasien seperti
kemampuan rentang gerak,
abnormalitas
fisik,
status
sirkulasi
3. Bila mungkin selalu tanyakan
kepada pasien apakah ada rasa
terbakar, panas, selama dalam
pembaringan
4. Kurangi kerentangan terhadap
cidera jaringan/ anggota tubuh :
- Luruskan leher dan tulang
belakang secara bersamaan
- Jangan abduksikan sendi

09/02/
16
09.00
Zr.
ind
ria

NO
Dx

DIAG
NO
SA
sensori pada
bagian..
Pasien
terpasang alat
elektromedik

Posisi pasien
saaat
pembedahan
.

TGL
D
I
T
E
G
A

PERENCANAAN
TU
J
KRITERIA
U
HASIL
A
N
k

RENCANA TINDAKAN
lebih dari 90 derajat
Pasang
elektromedik
sesuai protokol
5. Berikan penkes tentang efek
dari penekanan yang lama saat
pembaringan
6. Kolaborasi, selalu minta ijin
kepada ahli anastesi untuk
memindahkan pasien/ merubah
posisi pasien yang dianastesi
-

t
e
r
j
a
d
i
s
e
t
e
l
a
h
d
i
l
a
k
u
k

TANG
G
AL
TE
R
AT
AS

NO
Dx

DIAG
NO
SA

TGL
D
I
T
E
G
A

PERENCANAAN
TU
J
KRITERIA
U
HASIL
A
N
a
n
t
i
n
d
a
k
a
n
k
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n
s

RENCANA TINDAKAN

TANG
G
AL
TE
R
AT
AS

NO
Dx

DIAG
NO
SA

TGL
D
I
T
E
G
A

PERENCANAAN
TU
J
KRITERIA
U
HASIL
A
N
e
l
a
m
a
2
j
a
m

RENCANA TINDAKAN

TANG
G
AL
TE
R
AT
AS

Implementasi
TINDAKAN DAN EVALUASI KEPERAWATAN

TG
L
/
TINDAKAN

RESPON

Melakukan operan dengan Zr. J

Pasien rencana operasi hemoroidektomy


riwayat asma terakhir kambuh ketika
batuk-batuk 2 hari yg lalu, riwayat
hipertensi, TD: 160/100 mmhg,
konsumsi obat amlodipine 5mg 1x
(malam) Obat habis terakhir minum
tanggal 20-06-2016 jam 23.30,
riwayat pendarahan segar di anus,
tanggal 04-06-2016 sampai dengan
tanggal 20-06-16, riwayat hipertensi
2007 ke dr. Juita di sarijadi diberikan
amlodipin, puasa dari jam 00.00
advice dr. Liza tidak usah di
beriantibiotik
Mengganti baju pasien

J
A
M
22/
0
6
/
1
6
07.
0
5

07.

Melakukan asesman lanjutan


0

NAM
A
P
E
R
A
W
A
T
Zr.
In
dr
ia

Zr.
In

TG
L
/
TINDAKAN

RESPON

Menyarankan pasien dan keluarga untuk


berdoa

Pasien dan keluarga berdoa

Mengantar pasien ke ruang operasi dengan


menggunakan blankar

Pasien dipindahhkan sesuai prosedur

Mengatur posisi pasien litotomy di meja


operasi

Alat elektromedik telah terpasang

Memasang monitor

Monitor terpasang sesuai prosedure

J
A
M
5
07.
1
0
07.
1
5
07.
2
0
07.25

NAM
A
P
E
R
A
W
A
T
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr. Indria
Zr.
In
dr
ia

07.40
07.45

Menyaksikan dokter anastesi melakukan


anastesi spinal,
Melakukan skintest ambacine

Zr.
In
dr

TG
L
/
TINDAKAN

RESPON

07.48

Menghitung kasa awal bersama instrumen

Kasa Awal terlampir

5
0

Menyaksikan asisten operator mencuci


daerah operasi dengan menggunakan
povidone iodine

Area operasi di bersihkan menggunakan


povidone iodine

Menyaksikan dokter operator melakukan


operasi

Jaringan Hemoroid di masukkan ke


kantong lalu di PA

Mengobservasi
operasi

Tanda-tanda cidera operasi tidak terjadi

J
A
M

07.

07.
5
5
08.
0
0
08.

tanda-tanda

cidera

intra

Menghitung kasa akhir bersama instrumen

Terpasang kassa tampon didaerah anus 2


buah alat kassa lengkap hasil
terlampir

Menyaksikan dokter operator selesai operasi

Operasi selesai

1
0
08.

NAM
A
P
E
R
A
W
A
T
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.

TG
L
/
TINDAKAN

RESPON

J
A
M
1
5
08.

Merapikan pasien
2
0

08.

Melakukan kolaborasi dengan dokter anastesi


2
5

08.
3
0
08.
4
0
08.
4
0

Melakukan kolaborasi dengan dokter


anastesi untuk memindahkan pasien
ke ruang pemulihan. Pasien boleh
pindah ruangan.

Memposisikan pasien terlentang di tempat


tidur
Memindahkan pasien dari kamar operasi ke
RR menggunakan blankar

Pasien dipindahkan sesuai prosedur

Melakukan assessment lanjutan

DS:

klien mengatakan sudah tidak


cemas, DO: KU: sedang, kesadaran
CM, pasien tampak tenang, skala

NAM
A
P
E
R
A
W
A
T
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr

TG
L
/
TINDAKAN

RESPON

Memasang penghalang tempat tidur

cemas 1, kaki pasien tidak dapat


digerakan, nadi kuat teratur, tidak
terdapat cuping hidung, nafas normal
dan teratur.
Penghalang tempat tidur terpasang.

J
A
M

08.

NAM
A
P
E
R
A
W
A
T
ia

Zr.

5
0
09.

In
dr
ia
Mengobservasi keadaan kaki pasien

Kaki pasien belum bisa digerakan

Mengobservasi TTV

Hasil terlampir

1
5
09.

Zr.

4
0
10.
0
0
10.

In
dr
ia
Menjelaskan hal-hal yang
dilakukan selama bedrest

tidak

Mengobservasi keadaan kaki pasien


3

boleh

Pasien dan keluarga mengerti

Zr
In
di
ri
a

Kaki pasien sudah bisa digerakan sedikit

Zr.
In

TG
L
/
TINDAKAN

RESPON

11.0
5

Mendampingi doter Shinta visite

Pasien boleh pindah ruangan

11.2
5

Mengganti baju pasien oleh senja

Memakaikan celana dalam pasien

11.3
5

Mengobservasi TTV Pasien

Hasil terlampir

J
A
M
0

NAM
A
P
E
R
A
W
A
T
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia
Zr.
In
dr
ia

H. Evaluasi
I.

J. T
G
L
/

L. N
A
M
A
K. EVALUASI

J
A
M
M. 1
1
.
4
5

Y.
Z.
AA.
AB.
AC.
AD.
AE.
AF.
AG.
AH.
AI.
AJ.
AK.
AL.
AM.
AN.
AO.
AP.
AQ.
AR.

N.
S:
O.
Os mengatakan tidak cemas lagi
P.
O:
Q.
Keadaan umum baik, os tampak tenang,
kesadaran CM, Skala cemas O, kaki dapat digerakan,
tidak terdapat nafas cuping hidung, nadi kuat teratur, nafas
normal dan teatur.
R.
A:
S.
Dx I: Cemas teratasi
T.
Dx II: Cedera intra operatif tidak terjadi
U.
Dx III: Resti injuri tidak terjadi
V.
P:
W.
Lanjutkan intervensi

P
E
R
A
W
A
T
X. Z
r
.
I
n
d
r
i
a

AS.
AT.
AU.
AV.
AW.
AY.
BA.

AX.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
AZ.

Analisa Data

BB.

BH.

BC.
Tan
g
g
a
BD. Data
l
Fokus
/
J
a
m
BG. Pre Operasi
BI. 2 BK.
Ds :
1 - Pasien
mengatakan
/
takut untuk dilakukan
0
operasi
6 BL.
DO :
/ - Ekspresi
wajah
1
tampak tegang
6 - TTV
BJ. 2
BM.TD = 123/ 76
3
mmHg
.
BN. HR = 96x/mnt
0
BO. RR = 28x/mnt
0
BP. Suhu = 36,3 C
- Skala cemas 2
BQ.

BE.Etiol
ogi

BR.Pasie
n
renca
na
dilak
ukan
tinda
kan
pemb
edaha
n
Hem
orodc
tomy
BS.
BT. Pasie
n dan
kelua
rga
kuran
g
mend
apatk
an
infor
masi
BU.
BV.Pasie
n dan

BF. Pr
ob
le
m

BZ. Ce
m
as

BB.

BC.
Tan
g
g
a
l
/
J
a
m

BD. Data
Fokus

BE.Etiol
ogi

BF. Pr
ob
le
m

kelua
rga
kuran
g
peng
etahu
an
tenta
ng
peny
akit
dan
prose
dur
pemb
edaha
n
BW.
BX. Ce
mas
BY.
CB.

CA. Intra Operatif


CC.2 CE.
Ds : 2 CF.
Do :
/ - Pasien
kehilangan
0
sensori pada seluruh
6
tubuh sebagai efek
/
tindakan anstesi umum
1 - Pasien terpasang alat
6
elektromedik (monitor
CD.
dan pasien plat cauter)
07.2
CG. Posisi
pasien
5
saaat
pembedahan
adalah
terlentang
dengan posisi lengan
terlentang kiri/kanan

CH. Pas
ien
dilak
ukan
tinda
kan
biops
i
exter
pasi
CI.
CJ. Pasie
n
dilak
ukan
anast
esi
spina
l dan

CQ.
Resiko
ce
de
ra

BB.

BC.
Tan
g
g
a
l
/
J
a
m

BD. Data
Fokus

BE.Etiol
ogi

BF. Pr
ob
le
m

pema
sanga
n alat
elektr
omed
ik
selam
a
opera
si
CK.
CL. Pasie
n
kehil
anga
n
senso
ri
dibag
ian
ektre
mitas
bawa
h
CM.
CN. Res
iko
meni
mbul
kan
ceder
a
CO.
CP.
CS.

CR. Post Operasi


CT. 2 CV.
Ds : 2 CW. Do :
/ - Keadaan umum :
0
tampak sakit sedang
6 - Kesadaran CM
/ - TTV

DD. Pas
ien
dilak
ukan
tinda
kan

DL.Re
sti
inj
uri
be
rh

BB.

BC.
Tan
g
g
a
l
/
J
a
m
1
6
CU.
08.4
5

BD. Data
Fokus

BE.Etiol
ogi

CX. TD = 140/90
mmHg
CY. HR = 89x/mnt
CZ. RR = 20x/mnt
DA. Suhu = 36C
DB.
DC.

BF. Pr
ob
le
m

anast
esi
Spina
l
DE.
DF. Kele
maha
n otot
DG.
DH. Eks
pansi
paru
tidak
adek
uat
DI.
DJ. Resti
injuri
DK.

ub
un
ga
n
de
ng
an
ke
le
m
ah
an
fis
ik

DM.
DN.
I.

HASIL ANALISA
DO.

DP. Tinjauan Teori

DS.

DT.Penyebab
dari
hemoroid adalah
mengejan terlalu
lama
DX.
EB.
EF.

DW.
EA.
EE.

EI.
EJ.
EK.
EL.
EM.

DQ. Tinja
uan
Khusu
s
DU.

DR. Kese
njanga
n

DY.
EC.
EG.

DZ.
ED.
EH.

DV.

EN.
EO.
EP.
EQ.
ER.
ES.
ET.
EU.
EV.
EW.
EX.
EY.
EZ.
II.
PEMBAHASAN
FA.
Dokumentasi adalah suatu catatan yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti
dalam persoalan hukum. Sedangkan pendokumentasian adalah merupakan pekerjaan
mencatat atau merekam peristiwa baik dari objek maupun pemberi jasa yang dianggap
berharga dan penting.
FB.
Dokumentasi asuhan keperawatan adalah suatu pencatatan yang diisi oleh perawat
dan berisi tentang riwayat kesehatan klien. Status kesehatan klien saat ini, perawatan yang
dilakukan, perawatan dan pengobatan yang telah diberikan, serta sebagai pertanggung
jawaban dan pertanggung gugatan terhadap asuhan keperawatan yang telah diberikan.
FC.
Dokumentasi asuhan keperawatan harus dibuat dengan lengkap, jelas, objektif,
dan harus ditandatangani oleh perawat, karena mempunyai manfaat yang penting bila melihat
dari berbagai aspek yaitu:
1. Hukum
FD.
Semua catatan informasi tentang klien merupakan dokumentasi resmi dan
bernilai hukum. Bila menjadi suatu masalah (misconduct) yang berhubungan dengan
profesi keperawatan, di mana sebagai pemberi jasa dan klien sebagai pengguna jasa,
maka dokumentasi dapat dipergunakan sewaktu-waktu. Dokumentasi tersebut dapat
dipergunakan sebagai barang bukti di pengadilan.
FE.
2. Kualitas Pelayanan
FF.
Pendokumentasian data klien yang lengkap dan akurat, akan memberi
kemudahan bagi perawat dalam membantu menyelesaikan masalah klien. Dan untuk
mengetahui sejauh mana masalah klien dapat teratasi dan seberapa jauh masalah dapat
diidentifikasi dan dimonitor melalui dokumentasi yang akurat. Hal ini akan membantu
meningkatkan kualitas (mutu) pelayanan keperawatan.
FG.
3. Komunikasi
FH.
Dokumentasi keadaan klien merupakan alat perekam terhadap masalah
yang berkaitan dengan klien. Perawat atau profesi kesehatan lain dapat melihat

dokumentasi yang ada dan sebagai alat komunikasi yang dijadikan pedoman dalam
memberikan asuhan keperawatan.
FI.
FJ.
FK.
FL.
FM.
FN.
FO.
FP.
FQ.
FR.
FS.
FT.
FU.
BAB V
FV.KESIMPULAN DAN SARAN
FW.
FX.
FY.
FZ.
A. KESIMPULAN
GA.
Dari hasil analisa kasus yang dilakukan terhadap konsep Asuhan Keperawatan
pada pasien dengan Hemoroid di Ruang Operasi RS Hermina Pasteur, maka dapat
disimpulkan:
1. Kemampuan perawat dalam menguasai suatu konsep dasar penyakit dan asuhan
keperawatan masih perlu ditingkatkan.
2. Kepatuhan perawat terhadap proses dokumentasi asuhan keperawatan masih perlu
ditingkatkan.
GB.
B. SARAN
GC.
Setelah penulis menguraikan dan menyimpulkan, maka penulis dapat
menyampaikan saran sebagai berikut:
1. Melakukan pendidikan dan pelatihan bagi perawat tentang konsep penyakit
2. Melakukan pendidikan dan pelatihan bagi perawat tentang konsep asuhan
keperawatan
3. Melakukan pendidikan dan pelatihan bagi perawat dalam pendokumentasian
GD.
GE.
GF.
GG.
GH.
GI.
GJ.
GK.
GL.

GM.
GN.