Anda di halaman 1dari 10

JOURNAL READING

Efek Omeprazole Terhadap Kualitas Suara Pada Pasien-Pasien Ketegangan


Otot Disfonia dengan Refluk Laringofaring

Disusun Oleh:
SHAMINEE A/P VEERAN
110100391
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH
KEPALA LEHER (THT-KL)
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN
2016
Saya yang bertanda tangan dibawah ini, telah menyerahkan hardcopy dan softcopy
makalah ilmiah kepada dr. Susi Mulyana
Nama
Shaminee A/P

Full Text

Power Point

Soft Copy

Tanda Tangan

Veeran
Yang menerima,

Telah disetujui,

Maret 2016

Maret 2016

(dr.Susi Mulyana)

(dr.Susi Mulyana)

Efek Omeprazole Terhadap Kualitas Suara Pada Pasien-pasien Ketegangan


Otot Dysphonia dengan Refluk Laringofaring
Tolga Kandogan, Gokce Aksoy, Abdullah Dalgic
Abstrak
Latar Belakang : Refluks laringofaring atau Laryngopharyngeal reflux (LPR) adalah
keadaan dimana asam lambung bergerak retrograde ke arah esofagus bagian atas,
faring, laring dan saluran nafas-cerna atas.
Objektif : Dalam penelitian ini, efek dari omeprazole terhadap kualiti suara pada
pasien-pasien ketegangan otot disphonia dengan refluks laringofaring telah dikaji.
Pasien dan Metode : Sembilan pasien, 7 laki-laki dan 2 perempuan, berusia antara
27-43 (usia rata-rata 31) diinklusikan dalam penelitian ini. Diagnosis pada
ketegangan otot disfonia dengan LPR ditegakkan melalui video laringoskopi, lingkup
kaku 70. Perubahan laring terkait dengan LPR dievaluasi sesuai dengan Reflux
Finding Score. Para pasien menerima omeprazole 20 mg dua kali sehari selama 6
bulan. Tidak ada satu pasien pun yang mendapat terapi suara. Pedoman tentang
higenis vokal juga telah dijelaskan kepada pasien. Objektif dan subjektif parameter
suara (Jitter, shimmer, NHR, Voice Handicap Index dan analisis auditif ; Kekasaran,
hembusan nafas dan suara serak)
Hasil : setelah terapi dengan omeprazole, semua parameter telah menunjukkan sutu
progress dalam kualitas suara, tetapi VHI (P=0) dan shimmer (P=0,018) adalah
signifikan.
Kesimpulan: Untuk pasien FD dengan kondisi LPR
Kata Kunci : Disfonia; Lambung, Proton Pump Inhibitor (PPI)

Latar Belakang
Laryngopharyngeal reflux (LPR) adalah keadaan dimana asam lambung bergerak
retrograde kearah esophagus bagian atas, faring, laring dan saluran nafas-cerna atas.
Sebuah episode refluks diasumsikan juga patologis. Gejala yang paling umum dari
LPR adalah suara serak/dishonia (92%). Beberapa pasien mungkin mengalami
kondisi yang lebih serius. Manifestasi laring pada LPR yang kurang umum termasuk
laringospasme, fiksasi aretenoid, stenosis laring dan karsinoma. LPR juga
berhubungan dengan pengembangan degenerasi polypoid ( Reinkes edema), nodul
pita suara dan gangguan suara fungsional. LPR juga terkait dengan banyak gejala dan
diagnosa terkait dengan kepala dan leher, dapat menjadi penyebab tunggal atau
etiologi ko-faktor dalam pengembangan banyak gangguan saluran cerna-atas.
Ketegangan otot disfonia merupakan suata gangguan suara terkait dengan laring yang
abnormal postur atau konfigurasi glottis yang disebabkan oleh kontraksi otot-otot
laring yang berlebihan dan kontraksi supraglottik adalah salah satu karakteristik
dalam ketegangan otot disfonia. Disfonia yang dihasilkan dari peningkatan
ketegangan otot di laring dan leher dengan ketegangan otot phonatory yang
meningkat secara palpasi pada otot paralaringeal dan dan suprahyoid, elevasi laring di
leher pada peningkatan nada suara, celah pada posterior glottis yang terbuka diantara
kartilago aretenoid pada fonasi, dan variasi derajat perubahan mukosa seperti nodul
pita suara atau laryngitis. Banyak faktor kronis mungkin berkontribusi pada
perkembangan gangguan ini, termasuk refluks, stress dan penggunaan suara yang
berlebihan dan kenyaringan. Pasien dengan ketegangan otot disfonia menunjukkan
stres emosional yang signifkan dan gejala yang lain dari ketegangan otot seperti
ketegangan dari leher dan bahu.
2. Tujuan

Dalam penelitian ini, efek omeprazole terhadap kualitas suara dalam ketegangan otot
disphonia dengan refluks laringofaring telah dikaji.

3. Bahan dan Metode


Sembilan pasien, 7 laki-laki dan 2 perempuan, berusia antara 27-43 (usia rata-rata 31)
dimasukkan dalam penelitian ini. Semua pasien adalah perokok dan pasien yang lakilaki juga merupakan peminum sosial.

Diagnosis pada ketegangan otot disfonia

dengan LPR ditegakkan melalui video laringoskopi, lingkup kaku 70, (Karl Storz,
Germany). Perubahan laring terkait dengan LPR dievaluasi sesuai dengan Reflux
Finding Score. Para pasien menerima omeprazole 20 mg dua kali sehari selama 6
bulan. Tidak ada satu pasien pun yang mendapat terapi suara. Pedoman tentang
higenis vokal juga telah dijelaskan kepada pasien.
3.1. Analisis Akustik
Jitter, shimmer dan NHR dianalisis sekitar 3 detik dengan menggunakan Program
Multi Dimensi Suara (MDPV) dengan Computerized Speech Lab CSL 4300B (Kay
Elemetrics LTD., Lincoln Park, NJ, USA) secara berkelanjutan. Jitter adalah
pengukuran variabilitas siklus ke siklus dan mendeteksi penyimpangan dalam
frekuensi siklus dalm sinyal akustik. Shimmer merupakan pengukuran variasi sikus ke
siklus dalam amplitude sinyal akustik dan untuk mengukur seberapa banyak
intensitas dari fonasi yang terganggu dari siklus ke siklus. NHR, noise to harmonic
ratio merupakan evaluasi umum kebisingan yang terdeteksi dalam sinyal akustik.
3.2 Indeks Suara Handicap
Para pasien diinstruksikan bahwa laporan ini adlah bagaimana kebanyakan orang
menggambarkan suara dan efek dari suara tersebut terhadap kehidupan mereka. Para
pasien telah mencatat seberapa sering mereka memilki pengalaman yang sama. 0=
Tidak pernah 1= Hampir Tidak Pernah 2=Kadang-Kadang 3= Hampir selalu 4=

Selalu. 0-30 = Merupakan skor rendah, dan menunjukkan bahwa kemungkinan besar
Handicap yang terkait dengan kelainan adalah dalam jumlah yang minimal. 31-60 =
Menunjukkan handicap yang terkait adalah dalam jumlah sedan dikarenakan
permasalahan suara. 60-120 = skor ini menunjukkan jumlah handicap yang serius dan
signifikan disebabkan oleh permasalahan suara. Pasien pasien ini telah
menyelesaikan skala VHI sebelum dan selepas pengobatan PPI.
3.3. Analisis Auditif
Suara kasar, hembusan nafas dan suara serak diperkirakan oleh dokter yang hadir
4. Hasil
Pra dan pasca pengobatan dengan omeprazole data akustik ditampilkan dalam Tabel
1. Setelah pengobatan dengan omeprazole, semua parameter menunjukkan suatu
perbaikan dalam kualitas suara, namun hanya VHI (P=0) dan Shimmer (P=0.018)
adalah signifikan secara statistika.
5. Diskusi
Peningkatan Jitter dan Shimmer telah ditemukan untuk menjadi korelasi akustik dari
kualitas suara yang disebut sebagai kasar, keras atau serak. Jitter ditemukan salah satu
prediktor terbaik dalam mendeteksi suara serak dan hembusan nafas. Rasio NHR
menunjukkan informasi objektif tentang hembusan nafas dan itu adalah untuk
prediksi untuk menilai keparahan suara kasar dan hembusan nafas. Oleh karena itu,
NHR diyakini berkorelasi dengan indeks suara serak.
Walaupun ambulatory 24 hour double-probe pH monitoring merupakan baku emas
untuk menegakkan diagnosa LPR, namun LPR juga dapat ditegakkan atas gejala
klinis dan temuan dari laring. Dalam waktu 2 sampai 3 bulan pengobatan,
kebanyakan pasien telah melaporkan perbaikan gejala yang signifikan; namun
dibutuhkan tempoh 6 bulan atau lebih untuk temuan laring dari LPR untuk
diselesaikan. Oleh yang demikian, pengobatan dengan menggunakan PPI dua kali

sehari, perubahan gaya hidup, dan pengaturan diet disarankan untuk periode minimal
6 bulan bagi pasien dengan LPR.
Insiden LPR pada pasien dengan suara serak yang kronis adalah lebih tinggi secara
signifikan dibanding dari kejadian LPR pada orang sehat. LPR memiliki peranan
besar

yang negatif terhadap kualitas suara pasien. Perawatan yang tepat dengan PPI dapat
mengurangi masalah refluk terkait pasien secara signifikan. Setelah pengobatan
dengan PPI, lesi tipikal LPR pada mukosa laring akan berkuran sebagian besar dan
fungsi vokal laring akan bertambah baik. Oleh karena itu, LPR tidaklah boleh
diabaikan dalam pengobatan pasien disfonia. Terapi omeprazole empirik adalah wajar
sebagai pendekatan awal untuk pasien yang yang diduga terkait laryngitis posterior
refluk. Sejumlah pasien yang signifikan bertambah baik dengan terapi antirefluk.
Prevalensi refluks pada pasien dengan gangguan suara mungkin setinggi 50%.
Kualitas suara yang terganggu mungkin merupakan keluhan utama laringitis iritasi
posterior tanpa rasa sakit tekak atau gejala lainnya.
Terdapat penelitian yang menunjukkan kualitas suara memburuk dan kemampuan
fonasi dibatasi pada pasien LPR.

Oguz et al. melaporkan dalam penelitian mereka bahwa gangguan frekuensi


mengukur seperti Jitter dan Shimmer lebih tinggi pada pasien LPR. Hasil yang sama
juga diperoleh oleh Hanson et. Al. Mereka mempelajari pasien dengan gejala
laringitis kronik dimana mereka menerima omeprazole dan tindakan pencegahan
antirefluk. Penelitian ini menunjukkan Jitter, Shimmer dan perbaikan dalam sinyal
bagi parameter suara setelah diterapi dengan omeprazole menurun dengan signikan
secara statistika. Selby et al.menyatakan bahwa setelah pasien LPR mendapat terapi
PPI, perbaikan yang

kecil tetapi signikan telah ditemui pada persepsi kualitas suara pasca perawatan.
Tidak ada perubahan yang signikan yang ditemukan sebelum dan setelah pengobatan
berarti untuk salah satu pengukuran akustik kecuali untuk harmonis-to-noice ratio
(HNR). Shaw et al. menemukan bahwa regimen omeprazole membawa perbaikan
pada semua gejala secara signifikan kecuali granuloma. Pada pasien yang mempunyai
keluhan suara serak, pengukuran akustik Jitter, shimmer, frekuensi habitual dam

rentang frekuensi sebelum pengobatan menunjukkan perbaikan yang signifikan.


Terapi antirefluk dengan omeprazole adalah efektif, suatu perbaikan yang objektif
dapat dilihat.
Suara dan kualitas suara adalah bagian dari identitas seseorang dan penilaian kita
tentang orang lain dapat dipengaruhi oleh karakteristik ini. Dengan demikian masalah
vokal dapat memicu konsekuensi psikologis, emosional dan social yang negative
untuk individu yang terkena. Dampak terbesar dari LPR cenderung di bidang fungsi
sosial, meskipun emosional dan psikologis kesejahteraan baik dan kinerja peran juga
mungkin akan terpengaruh. Empat gejala kunci yang telah didentifikasi yang
mempengaruhi pasien LPR: masalah suara, batuk kronik, throat clearing dan sulit
menelan, terutama dalam konteks lingkungan sosial dan pekerjaan. Gejala LPR
tampaknya menyebabkan masalah psikologis, emosional dan sosial yang cukup besar.
Cesari et al menuntun ke suatu hipotesis korelasi yang mungkin yaitu terdapat
hubungan antara durasi refluk dan disfungsi dari otot aretenoid, tergantung atas
kelelahan otot yang kronis, dengan kompensasi laring yang berterusan. Belafsky et.al
melaporkan temuan yang setara mendukung hipotesis ini. Mereka menyatakan bahwa
MTD mungkin merupakan indikasi dari insufisiensi glottal yang mendasari. Dalam
menghadapi gangguan suara organic, Hiperkinetik laryngeal behaviours mungkin
digunakan untuk mencapai penutupan dari glottal. Kompensasi laryngeal behavior
seperti itu mungkin dapat menutupi diagnosis yang benar. MTP yang abnormal adalah
umum bagi pasien yang menderita glottal insuffiensi. Para dokter harus teliti dan
sadar bahawa kompensasi hiperkinetik laryngeal behavior mungkin munyerupai
kondisi organic.
Dalam investigasi otot laring intrinsik, terutama dari yang otot interarythenoid , telah
ditentukan anatomi otot IA dan klasifikasi histokimia dan immunohistokimia dari
extrafusal dan intrafusal (muscle spindle) fibers. Serat extrafusal merupakan oksidatif
tipe 1 dan glycotic tipe IIA dan IIX. Serat intrafusal dari gelendong otot (muscle
spindle) diidentifikasi melalui kehadiran tonik dan neonatal myocin. Hasil tersebut

menunjukkan bahwa otot IA mempunyai fenotipe yang serupa dengan ekstremitas


skeletal. Otot tyroaretenoid dan posterior circoaretenoid memiliki ko-ekspresi
myosin, ketiadaan dari serat intrafusal dan serat tersebut ditegorikan dalam kelompok
unusual, malah ciri-ciri tidak dimiliki pada otot IA. Kesimpulannya adalah otot IA
memiliki fungsional yang signifikan terhadap mempertahankan posisi lipatan vokal
sewaktu fonasi. Kehadiran gelendong menunjukkan perbedaan dalam kontrol motor
dibandingkan dengan otot cricoaretenoid dan thyroaretenoid posterior. Sebagai
tambahan, serat extrafusal memiliki karakteristik yaitu ia bias mengimplikasi otot IA
dalam ketegangan otot disfonia dan adductor disfonia spasmodik.
Dalam suatu penelitian Willems-Blommer et.al mengatakan bahwa pasien dengan
LPR berhubungan dengan disfonia menggambarkan suatu perbaikan yang signifikan
dengan pengobatan PPI, lanzoprazole 30 mg setiap hari selama 6 minggu. Ada juga
penelitian membuktikan bahwa pengoabatan PPI lebih efektif dalam pengobatan LPR
sehingga suara menjadi lebih baik. Etiologi multifaktorial dari LPR menggambarkan
gejala seperti suara serak dengan dibuktikan adanya ketegangan otot disfonia. Dengan
pengobatan secara adekuat terhadap LPR, prognosisnya dinyatakan baik.
Kebanyakan pasein dengan FD menderita LPR. Dari sini diketahui bahwa LPR
merupakan suatu penyakit yang menganggu kualitas suara pada pasien. Etiologi LPR
adalah laringitis posterior yang menyebabkan destruksi pergerakan mukosa. Selain
itu, LPR menyebabkan malfungsi interaretenoid otot sehingga suatu celah muncul
diantara otot ini. Akhirnya terjadi suatu kompensasi dari otot yang menyebabkan
suatu spasme yang menyebabkan dinamik struktur laring sehingga menyebakan suatu
reduksi dari kualitas suara.
Penelitian ini mengatakan bahwa pengobatan PPI menyebabkan perbaikan kualitas
suara pada pasien LPR. Walaupun dengan pengobatan PPI tidak sembuh secara total
tetapi timbul suatu perbaikan sehingga pasien tidak memerlukan terapi suara yang
berkelanjutan. Pada pasien FD dengan LPR direkomendasikan untuk melanjutkan

pengobatan PPI. Pasien dengan LPR juga memerlukan perubahan pola hidup untuk
mengekalkan kualitas suara. Setelah pengobatan dengan omeprazole semua pasien
harus di followup dan monitor. Akhirnya pasien FD dengan kondisi LPR
direkomendasikan untuk menjalani pengobatan LPR sebagai strategi terapi.