Anda di halaman 1dari 11

PENETAPAN KADAR CRP SECARA KUALITATIF

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

:
:
:
:
:

Wiwin Hadianti
B1J014029
III
2
Maretra Anindya Puspaningrum

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016

I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Manusia memiliki kemampuan yang dikenal sebagai imunitas. Imunitas
adalah kemampuan tubuh untuk menolak substansi asing dan sel-sel. Respon
imun meliputi respon imun spesifik maupun non spesifik.Respon non spesifik
merupakan garis pertahanan tubuh yang pertama. Respon imun non spesifik
memblokir masuknya dan menyebarnya gen-gen penyebab penyakit, sedangkan
respon spesifik melibatkan dua jenis respon yaitu respon yang diperantarai
antibodi dan sel (Guyton, 1990).
Secara umum, orang yang merokok, memiliki tekanan darah tinggi, berat
badan berlebih, dan tidak mampu aktif secara fisik cenderung memiliki kadar
CRP yang tinggi, sedangkan orang yang kurus dan atletis cenderung memiliki
kadar CRP yang rendah. Setengah variasi kadar CRP antara setiap orang
diwariskan sehingga menunjukkan kadar yang telah diwariskan orang tua dan
kakek-nenek kepada anda melalui gen-gen yang mereka memiliki. Peranan
fundamental yang dimiliki CRP dalam inflamasi, sebuah proses sangat penting
untuk penyembuhan luka, untuk menghilangkan bakteri dan virus, dan untuk
berbagai proses kunci yang penting bagi kelangsungan hidup (Ganong, 1983).
CRP merupakan sebuah komponen penting dari sistem imun, kumpulan
protein yang dibuat oleh tubuh kita ketika berhadapan dengan infeksi atau trauma
utama. CRP ditemukan sekitar 70 tahun yang lalu oleh para ilmuwan dengan
menyelidiki respons inflammatory manusia. Setiap orang menghasilkan CRP,
tetapi dengan jumlah berbeda tergantung pada beberapa faktor, termasuk faktor
genetik dan faktor gaya hidup.Protein C-reactif (C-reactive protein, CRP) dibuat
oleh hati dan dikeluarkan ke dalam aliran darah. CRP beredar dalam darah
selama 6-10 jam setelah proses inflamasi akut dan destruksi jaringan. Kadarnya
memuncak

dalam

48-72

jam,

seperti

halnya

uji

laju

endap

darah

(erithrocyte sedimentation rate, ESR), CRP merupakan uji non-spesifik tetapi


keberadaan CRP mendahului peningkatan LED selama inflamasi dan nekrosis
lalu segera kembali ke kadar normalnya (Ganong, 1983).
I.2 Tujuan
Tujuan praktikum acara ini adalah untuk mendeteksi keberadaan CRP dalam
serum darah dan mengetahui kadar CRP dalam serum darah.

II. MATERI DAN CARA KERJA


II.1 Materi
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Antihuman CRP
antibodi, serum sampel, kontrol positif, dan kontrol negatif.
Alat yang digunakan adalah mikropipet 20 l, plate CRP, dan batang
pengaduk.
II.2 Cara Kerja
Metode yang digunakan dalam acara praktikum kali ini adalah sebagai
berikut:
1. Alat yang diperlukan disiapkan.
2. Reagent dihangatkan hingga mencapai temperatur kamar, antihuman CRP
antibodi digoyang pelan-pelan sampai homogen.
3. Pada plate CRP dipipet di tempat yang berbeda yaitu :
a. Serum sampel sebanyak 1 tetes
b. R+ : Kontrol positif sebanyak 1 tetes
c. R- : Kontrol negatif sebanyak 1 tetes
d. Antihuman CRP anbodi masing masing 1 tetes
4. Dicampur dengan pengaduk yang berbeda dan cairan dilebarkan sepanjang
sisi lingkaran, digoyang selama 2 menit.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


III.1

Hasil

Gambar 3.1. Hasil Pengujian Kadar CRP

III.2

Pembahasan
CRP merupakan kumpulan protein yang dibuat oleh tubuh kita ketika

berhadapan dengan infeksi atau trauma utama. CRP ditemukan sekitar 70 tahun
yang lalu oleh para ilmuwan dengan menyelidiki respons inflammatory manusia.
Setiap orang menghasilkan CRP, tetapi dengan jumlah berbeda tergantung pada
beberapa faktor, termasuk faktor genetik dan faktor gaya hidup. Protein C-reactif
(C-reactive protein, CRP) dibuat oleh hati dan dikeluarkan ke dalam aliran
darah. CRP beredar dalam darah selama 6-10 jam setelah proses inflamasi akut
dan destruksi jaringan. Kadarnya memuncak dalam 48-72 jam, seperti halnya uji
laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR), CRP merupakan uji nonspesifik tetapi keberadaan CRP mendahului peningkatan LED selama inflamasi
dan nekrosis lalu segera kembali ke kadar normalnya (Ganong, 1983 ). Protein
C-reaktif (CRP) adalah suatu protein plasma dari keluarga pentraxin dan reaktan
fase akut yang menampilkan sensitivitas tinggi sebagai penanda peradangan
umum. Sejumlah penelitian telah menunjukkan partisipasi aktif dari molekul ini
dalam proses aterogenik, dan karena penemuan teknik-sensitivitas tinggi untuk
penentuan. Protein C-reaktif (CRP) sangat bermanfaat dalam identifikasi pasien

berisiko tinggi, sebagai indikator prognostik dan bahkan sebagai target terapi
pada populasi yang besar (Salazar et al., 2014).
CRP menjadi indikator peradangan yang dini dan lebih dapat diandalkan
dibanding reaktan-reaktan fase akut serum lainnya, dari diagnosis banding
pneumonia bakterial versus virus. Manfaat CRP dapat diketahui dengan
kadarnya yang meningkat secara dramatik pada infeksi bakteri (Speicher &
Smith, 1996). CRP biasanya ditemukan dalam konsentrasi rendah dalam serum,
yang kadarnya cepat meningkat dalam beberapa jam setelah infeksi, kerusakan
jaringan dan ditemukan dalam organ hati. CRP dapat meningkatkan fagositosis,
menghambat fungsi trombosit dan mengaktivasi komplemen. Fungsinya tidak
diketahui, tetapi telah disarankan bahwa CRP mencegah terjadinya autoimunitas
terhadap antigen intraseluler yang dikeluarkan oleh jaringan rusak (Tizard,
1982). Kadar CRP akan meningkat tajam di dalam serum saat 6 jam setelah
terjadinya inflamasi dan selama proses inflamasi sistemik berlangsung. Kadar
CRP dalam serum dapat meningkat dua kali lipat sekurang-kurangnya setiap 8
jam dan mencapai puncaknya setelah kira-kira 48-72 jam. Setelah diberikan
pengobatan yang efektif dan rangsangan inflamasi hilang, maka kadar CRP akan
turun atau menghilang secepatnya seiring dengan proses kesembuhan (Guyton,
1990).
.Cara kerja untuk mengetahui kadar CRP membutuhkan beberapa bahan
dan alat yaitu mikropipet 20 l, plate CRP, batang pengaduk, antihuman CRP
antibodi, serum sampel, kontrol positif, dan kontrol negatif. Pertama-tama pada
bulatan plate CRP pertama dipipetkan kontrol positif sebanyak 1 tetes (40 l),
setelah itu dipipetkan antihuman CRP antibodi sebanyak 1 tetes (40 l),
kemudian dicampur sampai homogen dengan batang pengaduk selama 2 menit.
Hasil dari kontrol positif adalah positif terjadi aglutinasi, hal ini menunjukan
bahwa kadar CRP lebih dari 6 mg/l. Kontrol negatif sebanyak 1 tetes (40 l)
dipipetkan pada bulatan plate CRP kedua, setelah itu dipipetkan antihuman CRP
antibodi sebanyak 1 tetes (40 l), kemudian dicampur sampai homogen dengan
batang pengaduk selama 2 menit. Hasil dari kontrol negatif adalah tidak terjadi
aglutinasi, hal ini menunjukan bahwa kadar CRP pada kontrol negatif 6 mg/l.
Serum sampel sebanyak 1 tetes (40 l) dipipetkan pada bulatan plate CRP yang
belum digunakan, setelah itu dipipetkan antihuman CRP antibodi sebanyak 1
tetes (40 l), kemudian dicampur sampai homogen dengan batang pengaduk

selama 2 menit. Hasil dari serum sampel adalah tidak terjadi aglutinasi, hal ini
menunjukan bahwa kadar CRP pada serum sampel adalah 6 mg/l. Hasil
praktikum menunjukkan bahwa sampel serum kontrol negatif yang diuji tidak
terbentuk gumpalan-gumpalan putih (aglutinasi) sehingga menunjukkan hasil
negatif. Lingkaran 2 ditetesi dengan sampel kontrol positif, terjadi aglutinasi
sehingga dapat diketahui bahwa kontrol mengandung konsentrasi CRP dalam
batas normal di dalamnya. Lingkaran ke-3,4,5, dan 6 ditetesi dengan sampel
plasma tidak terdapat gumpalan putih (terjadi aglutinasi). Hal ini berarti bahwa
di dalam plasma tidak mengandung konsentrasi CRP yang menandakan tidak
terjadinya peradangan infeksi atau kerusakan jaringan. Menurut Speicher &
Smith (1996), dalam konsentrasi CRP dalam keadaan normal adalah 0,00080,004 g/l atau 0,08-4 mg/dl sedangkan dalam keadaan peradangan akut,
konsentrasinya kira-kira 0,4 g/l atau 40 mg/dl dengan waktu respon CRP yaitu
antara 6-10 jam. Keadaan peradangan akut akan terjadi aglutinasi bila diadakan
uji CRP dengan mencampurkan serum dengan reagen CRP.
Menurut Hidana & Ariyanto (2014), cara kerja pemeriksaan CRP
dilakukan dengan membiarkan seluruh komponen pada suhu kamar kemudian
slide ditetesi reagen lateks dan serum (disamping reagen), kemudian dicampur
sampai homogen dan digoyang-goyang. Setelah 2 menit dilihat reaksi yang
terjadi pada slide, kontrol positif dan negatif juga harus diikut sertakan dalam
pemeriksaan CRP. Hasil positif menandakan terjadinya aglutinasi dan
menunjukkan keberadaan CRP lebih dari 6 mg/L. Setiap sampel dalam
pemeriksaan CRP dikerjakan duplo.
Kadar C-Reactive Protein (CRP) akan meningkat cepat pada infeksi,
disebut respon fase akut. Peningkatan CRP berhubungan dengan peningkatan
konsentrasi interleukin-6 (IL-6) di dalam plasma yang sebagian besar diproduksi
oleh makrofag. Makrofag merupakan sel imun yang berperan langsung dengan
kadar besi dalam tubuh manusia. Sitokin, radikal bebas, serta protein fase akut
yang dihasilkan oleh hati akan mempengaruhi homeostasis besi oleh makrofag.
Konsentrasi protein fase akut meningkat secara signifikan selama proses
inflamasi akut karena tindakan pembedahan, infark miokard, infeksi, dan tumor.
Peningkatan disebabkan oleh sintesis di hati, namun tidak dapat digunakan untuk
menentukan penyebab inflamasi. Pengukuran protein fase akut dapat digunakan
untuk mengamati progresivitas dari inflamasi serta melihat respon terapi dengan

melihat nilai protein fase akut saat mulai meningkat dan kadar yang tertinggi
(Marshall, 2000).
Sitokin adalah protein yang dibuat oleh sel-sel yang mempengaruhi
perilaku sel-sel lain. Sitokin bertindak pada reseptor sitokin tertentu dalam sel
yang mereka pengaruhi. Sitokin merupakan protein-protein kecil sebagai
mediator dan pengatur immunitas, inflamasi dan hematopoesis. CRP dalam
plasma diproduksi oleh sel hepatosit hati terutama dipengaruhi oleh Interleukin
6 (IL-6). CRP merupakan marker inflamasi yang diproduksi dan dilepas oleh
hati dibawah rangsangan sitokin-sitokin seperti IL-6,Interleukin 1 (IL-1), dan
Tumor Necroting Factor (TNF-). Beberapa obat seperti colchicine dapat
menghambat

produksi

CRP,

sedangkan

obat

immunosupresif

saperti

cortikosteroid dan yang lainnya atau obat anti radang (Non Steroid Anti
Inflamation Drug) tidak dapat menghambat sekresinya. Sintesa CRP di hati
berlangsung sangat cepat setelah ada sedikit rangsangan, konsentrasi serum
meningkat diatas 5mg/L selama 6-8 jam dan mencapai puncak sekitar 24-48 jam.
Waktu paruh dalam plasma adalah 19 jam dan menetap pada semua keadaan
sehat dan sakit, sehingga satu-satunya penentu konsentrasi CRP di sirkulasi
adalah menghitung sintesa IL-6 dengan demikian menggambarkan secara
langsung intensitas proses patologi yang merangsang produksi CRP. Kadar CRP
akan menurun tajam bila proses peradangan atau kerusakan jaringan mereda dan
dalam waktu sekitar 24-48 jam telah mencapai nilai normal kembali .Kadar CRP
stabil dalam plasma dan tidak dipengaruhi variasi diurnal (Guyton, 1990).
Prinsip dari pemeriksaan CRP adalah antigen CRP di dalam serum akan
bereaksi secara imunologis dengan antibodi anti-CRP di dalam partikel lateks
sehingga akan terjadi aglutinasi. Reaksi aglutinasi menunjukkan adanya antigen
CRP di dalam sampel serum yang diperiksa dan secara klinis menunjukkan
kemungkinan adanya reaksi peradangan, dalam pemeriksaan CRP dengan
metode lateks aglutination ini digunakan slide test berlatar belakang gelap yang
telah berisi beberapa lingkaran sebagai tempat mereaksikan antigen dalam serum
dan antibodi anti-CRP pada reagen lateks. Latar belakang gelap bertujuan untuk
mempermudah pengamatan, karena campuran yang terbentuk dari homohenisasi
reagen lateks dan serum berwarna putih. Reaksi positif ditandai dengan adanya
aglutinasi. Reaksi aglutinasi ditunjukkan dengan terbentuknya butir-butir halus
seperti pasir pada campuran, dalam setiap pengujian CRP, harus selalu

disertakan serum kontrol positif dan serum kontrol negatif. Serum kontrol positif
merupakan serum standar yang positif mengandung CRP, sedangkan serum
control negatif merupakan serum standar yang tidak mengandung CRP
(Marshall, 2000).
Menurut Baue (2000), fungsi dan peranan CRP di dalam tubuh (in vivo)
belum diketahui seluruhnya, banyak hal yang masih merupakan hipotesis,
meskipun CRP bukan suatu antibodi, tetapi CRP mempunyai berbagai fungsi
biologis yang menunjukkan peranannya pada proses peradangan dan mekanisme
daya tahan tubuh terhadap infeksi.Beberapa hal yang diketahui tentang fungsi
biologis CRP ialah:
1. CRP dapat mengikat C-polisakarida (CPS) dari berbagai bakteri melalui
reaksi presipitasi/aglutinasi.
2. CRP dapat meningkatkan aktivitas dan motilitas sel fagosit seperti granulosit
dan monosit/makrofag.
3. CRP dapat mengaktifkan komplemen baik melalui jalur klasik mulai dengan
C1q maupun jalur alternatif.
4. CRP mempunyai daya ikat selektif terhadap limfosit T. Dalam hal ini diduga
CRP memegang peranan dalam pengaturan beberapa fungsi tertentu selama
proses keradangan.
5. CRP mengenal residu fosforilkolin dari fosfolipid, lipoprotein membran sel
rusak, kromatin inti dan kompleks DNA-histon.
6. CRP dapat mengikat dan mendetoksikasi bahan toksin endogen yang
terbentuk sebagai hasil kerusakan jaringan.
Konsentrasi dari CRP ditentukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara
kualitatif dengan mengamati perubahan warna yang terjadi, sedangkan
kuantitatif dimana dapat mengukur kadar sampai < 0,2 0,3 mg/L sehingga
disebut dengan high sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP). Metode
berdasarkan reaksi antara antigen dan antibodi dalam larutan buffer dan diikuti
dengan pengukuran intensitas sinar dari suatu sumber cahaya yang diteruskan
melalui proses imuno presipitasi yang terbentuk dalam fase cair. Penelitian
Baue (2000) memakai metode imunoturbidimetri menggunakan reagen Cardiac
C-Reactive Protein (latex) High Sensitive-Roche. Sampel yang berisi CRP
(sebagai antigen) ditambah dengan R1 (buffer) kemudian ditambah R2 (latex
antibodi anti CRP) dan dimulai reaksi dimana antibodi anti CRP yang berikatan
dengan mikropartikel latex akan bereaksi dengan antigen dalam sampel untuk

membentuk kompleks Ag-Ab. Presipitasi dari kompleks Ag-Ab ini diukur


secara turbidimetrik (Baue, 2000).
Penyakit yang dikaitkan dengan peningkatan kadar CRP adalah hepatitis
aktif kronik, dermatomiositis, leukimia, polimiosis, artritis kronik, polimiosis,
skleroderma, lupus eriternatosus sistemik dan kolitif ulselatif (Gambino, 1982).
Reaktif konsentrasi serum C yang tinggi protein (CRP) telah ditemukan di
stroke iskemik akut (AIS) patients1-10, yang mencerminkan respon inflamasi
sistemik setelah stroke. Ada kemungkinan bahwa peningkatan CRP memiliki
hubungan dekat dengan tingkat cedera jaringan otak, sebelumnya penelitian
Luo et al. (2012) lebih memerhatikan peran prognostik yang hasilnya,
bagaimanapun, studi korelasi antara kadar CRP yang tinggi dan tingkat
keparahan stroke, terutama dengan subtipe stroke adalah terbatas.
Peradangan atau infeksi kronis dihipotesiskan dapat merupakan asosiasi
dari perkembangan kanker payudara. Hubungan antara C-reactive protein CRP
sebagai alat penanda adanya system inflamasi dan resiko kanker payudara
jarang ditemukan. 27919 wanita sehat berumur kurang lebih 45 tahun yang
bebas dari kanker dan penyakit kardiovaskular memiliki tingkatan plasma CRP
yang terukur pada baseline. Selama 10 tahun penelitian, 892 wanita mengalami
perkembangan kanker payudara (Zhang, 2007).

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kadar CRP akan meningkat tajam di dalam serum saat 6 jam setelah
terjadinya inflamasi dan selama proses inflamasi sistemik berlangsung. Kadar
CRP dalam serum dapat meningkat dua kali lipat sekurang-kurangnya setiap
8 jam dan mencapai puncaknya setelah kira-kira 48-72 jam. Serum sampel
darah tidak terjadi aglutinasi, hal ini menunjukan bahwa kadar CRP pada
serum sampel adalah 6 mg/l dan tidak berada pada keadaan infeksi.

DAFTAR REFERENSI
Baue, A.E. 2000. History of MOF and Definition of Organ Failure. In : Multiple
Organ Failure Patophysiology, Prevention and Therapy. New York: SpringerVerlag..
Gambino, S.R. 1982. A CRP Supplement. Lab Report for Physicians, 4(1), pp.1-3.
Ganong, W. F. 1983. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Guyton, A.C. 1990. Human Physiology and Mechanism of Disease 3rd Edition. New
York: Academic Press Inc.
Hidana, R., & Ariyanto. 2014. Gambaran Kadar CRP pada Keturunan Diabetes
Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Sukaraja. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada,
12(1), pp.102-105.
Luo, Y., Wang, Z., Li, J., & Xu, Y. 2012. Serum CRP Concentrations and Severity of
Ischemic Stroke Subtypes. Can. J. Neurol. Sci. 39(1), pp.69-73.

Marshall, J.C. 2000. Multiple Organ Failure Patophysiology, Prevention and


Therapy. New York: Springer-Verlag.
Salazar, J., Martinez, M. S., Chavez, M., Toledo, A., Anez, R., Torres, Y., Apruzzese,
V., Silva, C., Rojas, J., & Bermudez, V. 2014. C-Reactive Protein: Clinical and
Epidemiological Perspectives. Cardiology Research and Practice. 6058(10),
pp.1-10.
Speicher, E.C & J.W Smith Jr.1996. Pemilihan Uji laboratorium yang Efektif.
Jakarta: ECG.
Tizard, S. 1982. Pengantar Imunologi Veteriner. Surabaya: Airlangga University
Press.
Zhang, S. M., Jennifer Lin, Nancy R. Cook, I-Min Lee, JoAnn E. Manson, Julie E.
Buring, & Paul M. Ridker. 2007. C-Reactive Protein and Risk of Breast
Cancer. Journal Natl Cancer Inst, 99, pp.890 894.