Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN FITOKIMIA LANJUTAN

ISOLASI SENYAWA BIOAKTIF DARI EKSTRAK ETANOL


TERUMBU KARANG (Stylophora pistillata)

OLEH:
KELOMPOK III
NUR HAERIA

(15.01.364)

SYATRIANI HASAN

(15.01.253)

INDAH KADULLAH

(15.01.251)

IRMAWATI BAD AMAN

(15.01.274)

ANDI WORENES

(15.01.355)

ACHMAD ZUFADLI

ASISTEN

(15.01.236)

: KHAIRUDDIN, S.Si., Apt.

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI


MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah laut
sangat luas. 75% wilayah Indonesia merupakan laut sehingga memiliki potensi
sumber daya alam hayati laut yang melimpah (Rosmiati dan Suryati, 2001) .
Indonesia memegang peranan penting bagi dunia karena memiliki keragaman
hayati laut tertinggi di dunia yang merupakan sumber daya organik. Sumber
daya alam hayati laut sampai saat ini masih belum banyak diketahui dan
dimanfaatkan secara optimal (Suryati dan Ahmad, 1996).
Salah satu sumber daya alam hayati laut adalah spons. Di dalam laut
Indonesia terdapat 60.000 km persegi areal terumbu karang (spons) yang
mencakup 15 % terumbu karang dunia (Kompas, 5 April 2004). Sumber daya
organic merupakan gudang senyawa kimia yang sangat potensial sebagai
sumber senyawa baru yang unik yang tidak dapat ditemukan di laboratorium
dan mungkin sangat berguna dalam keperluan pengobatan, pertanian, dan
industri. Indonesia memiliki sumberdaya organic yang melimpah, merupakan
kekayaan yang sebagian besar belum diteliti kandungan kimianya. Oleh
karenanya Indonesia adalah suatu negara yang sangat prospektif untuk
mengembangkan kimia organik bahan alam khususnya bahan alam laut
(Achmad, 2004).
Salah satu jenis organisme yang berpotensi cukup besar dan berpeluang
mengandung senyawa aktif adalah spons. Spons merupakan biota laut yang
multiseluler primitive (metazoan) tanpa jaringan nyata, yang merupakan
sumber metabolit sekunder terkaya (Eru, 2005 & Romimohtarto, 2001), hidup
di kedalaman sampai dengan 50 meter di bawah permukan laut. Di dunia
diduga terdapat sekitar 10.000 spesies spons dan diperkirakan sekitar 200
spesies hidup di ekosistem terumbu karang Asia Tenggara (Dahuri, 2003).
sekitar 45 % senyawa bioaktif laut ditemukan pada spons laut (Anonim,
2006). Spons laut merupakan salah satu sumber senyawa-senyawa baru yang

mempunyai keunikan struktur dan toksisitas yang tinggi. Penelitian yang telah
ada terhadap spons telah menghasilkan senyawa-senyawa baru dengan struktur
unik dan memiliki aktifitas farmakologis sebagai antiviral, antileukemia,
antiparasit, antitumor, antiinflamasi, dan insektisidal (Risal, 2004).
Berbagai komponen-komponen kimia yang terkandung di dalam spons
sehingga dapat bermafaat sebagai obat tradisional perlu untuk terus dikaji dan
di teliti.Untuk alasan tersebut, maka dianggap perlu pengetahuan yang cukup
yang berhubungan dengan pengkajian komponen komponen kimia tersebut.
Dalam hal ini spons yang akan di uji kandungan kimianya adalah spons putih.
Pengujian dapat dilakukan diantaranya dengan uji pemurnian senyawa kimia
Tahapan ini merupakan tahap yang dilakukan untuk mengidentifikasi
kandungan kimia yang terkandung dalam bahan obat. Pada tahap ini dapat
diketahui golongan senyawa kimia apa saja yang terkandung dalam bahan yang
diteliti.
I.2 Rumusan Masalah
Bagaimana metode isolasi senyawa kimia dari dari spons putih?
I.3 Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukan praktikum ini adalah untuk mengetahui komponen
kimia yang terkandung dalam spons putih.
I.4 Manfaat Praktikum
Memberikan informasi tentang senyawa kimia dari spons putih
sebagai sumber bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Gambar dan Nama Spons Putih
II.1.1 Klasifikasi Tanaman
Kingdom

: Animalia

Kelas

: Anthozoa

Ordo

: Sclerectinia

Famili

: Pocillopora

Genus

: Pocilloporidae

Spesies

: Stylophora pistillata (Suharsono, 2008)

II.1.2 Morfologi Tanaman


Terumbu karang (Stylophora pistillata) merupakan koloni
bercabang dengan percabangan pendek dan ujung tumpul, koloni sering
berbentuk submassive pada koloni yang mempunyai cabang pendek
berupa kolom atau lempengan tebal. Koralit menonjol pada satu sisi yang
lain tenggelam dan tersusun tidak teratur. Konesteum ditutupi bintil
bintil kecil sehingga memberi kesan kasar. Biaanya terumbu karang ini
mempunyai warna kuning cerah dengan ujung berwarna ungu atau putih,
dan karang ini sering dijumpai ditempat dangkal (Suharsono, 2008).
II.1.3 Tempat Tumbuh
Terumbu karang (Stylophora pistillata) banyak ditemukan di laut
yang dangkal dengan kedalaman laut 3-5 m. (Suharsono, 2008)
II.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari
bagian tanaman obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zatzat aktif terdapat di dalam sel, namun sel tanaman dan hewan berbeda
demikian pula ketebalannya, sehingga diperlukan metode ekstraksi dengan
pelarut tertentu dalam mengekstraksinya (Dirjen POM, 1986).
Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen kimia
yang terdapat pada bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip

perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan


mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam
pelarut (Harbone, 1987).
Ekstrak adalah sediaan pekat bahan cair (ekstrak atau tingtur cair),
atau bahan anata (semicairan) atau bahan padat (ektrak kering) yang
umumnya secara konsisten dihasilkan dari bahan tanaman atau hewan yang
dikeringkan melalui teknik yang melibatkan penggunaan pelarut secukupnya
untuk memeperoleh campuran senyawa (Heinrich, 2010).
Pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara peyarian simplisia dengan
air dilakukan dengan cara maserasi, perkolasi atau penyeduhan dengan air
mendidih. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara
maserasi atau perkolasi. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara
perkolasi (Depkes RI, 1979).
II.3

Metode Ekstraksi
Adapun metode ekstraksi antara lain:
1. Cara dingin
a. Maserasi
Maserasi merupakan proses penyarian yang sederhana yaitu
dengan cara merendam sampel dalam pelarut yang sesuai selama 3x5
hari

Prinsip maserasi yaitu pelarut akan menembus kea lam rongga sel
yang mengandung zat aktif, sehingga akan larut karena adanya

perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan


yang di luar sel , maka senyawa kimia yang terpekat didesak keluar.
b. Perkolasi
Perkolasi merupakan teknik penyarian dengan pelarut
organik yang sesuai secara lambat menggunakan alat perkolator

2. Cara panas
a. Refluks

b. Soxhletasi
Soxhletasi adalah metode penyarian secara berulang
ulang senyawa bahan alam dengan menggunakan alat soxhlet.

Prinsip shoxletasi adalah penyarian yang dilakukan berulang ulang


sehingga penyarian lebih sempurna dan pelarut yang digunakan
relative sedikit. Bila penyarian telah selesai maka pelarutnya dapat
diuapkan kembali dan sisanya berupa ekstrak yang mengandung
komponen kimia tertentu.
c. Infus
Infuse adala sediaan cair yang dibuat dengan menyari
simplisia nabati dengan air pada suhu 900C selama 15 menit.

(Depkes, 2000).

Adapun pelarut-pelarut yang biasa digunakan dalam proses ekstraksi :


Pelarut

Td OC

Tetapan

Viskositas

Pengembang
n-heksana
Heptana
Sikloheksana
Karbon tetraklorida
Benzene
Kloroform
Etel (dietil eter)
Etil asetat
Piridina
Aseton
Etanol
Metanol
Air
(Stahl, 2000)

760 torr
68,7
98,4
81,4
76,8
80,1
61,3
34,6
17,1
115,1
56,5
78,5
64,6
100,0

dielektrik
1,890
1,924
2,023
2,238
2,284
4,806
4,94+
0,02+
22,3+
20,7+
24,30+
33,62
80,37

Cp pada 20OC
0,326
0,409
1,02
0,969
0,652
0,580
0,233
0,455
0,974
0,316+
1,2
0,597
1,005

II.4 Uji Pendahuluan


a. Ekstraksi Cair-cair
Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen
kimia di antara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian
komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua, lalu
kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai
terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fase cair, dan
komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase tersebut sesuai dengan
tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap.
b. Ekstraksi Cair Padat
Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa komponen yang dapat
larut dipisahkan dari bahan padat dengan bantuan pelarut. Pada ekstraksi,
yaitu ketika bahan ekstraksi dicampur dengan pelarut, maka pelarut
menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat dan melarutkan ekstrak.
Larutan ekstrak dengan konsentrasi yang tinggi terbentuk di bagian dalam
bahan ekstraksi. Dengan cara difusi akan terjadi kesetimbangan konsentrasi
antara larutan tersebut dengan larutan di luar bahan padat.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai unjuk kerja
ekstraksi atau kecepatan ekstraksi yang tinggi pada ekstraksi padat-cair, yaitu:

a. Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara fase


padat dan fase cair, maka bahan itu perlu sekali memiliki permukaan yang
seluas mungkin.
b. Kecepatan alir pelarut sedapat mungkin besar dibandingkan dengan laju
alir bahan ekstraksi.
c. Suhu yang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan ekstrak
lebih besar) pada umumnya menguntungkan unjuk kerja ekstraksi
II.5 Kromatografi
Tsweet Menyatakan bahwa Kromatografi adalah suatu metode yang
mana komponen-komponen dalam campuran dipisahkan dalam suatu kolom
penjerat dalam sistem yang mengalir
IUPAC (International union of pure and applied chemistry)
Menyatakan bahwa kromatografi adalah metode pemisahan secara fisika
yang mana komponen-komponen yang akan dipisahkan terbagi diantara dua
fase, yang satu adalah fase diam sementara yang lain adalah fase gerak yang
bergerak pada arah tertentu (Gandjar & Rohman, 2013).
Teknik pemisahan kromatografi terdiri atas :
a.
b.
c.
d.

Kromatografi adsorpsi
Kromatografi partisi
Kromatografi penukar ion
Kromatografi afinitas

Teknik pemisahan dapat dilakukan dengan cara :


a.
b.
c.
d.
e.

Kromatografi kolom
Kromatografi lapis tipis (thin layer chromatography, TLC)
Kromatografi kertas
Kromatografi gas-cair (gas-liquid chromatography, GLC)
Kromatografi cair kinerja tinggi (high performance

liquid

chromatography, HPLC)
a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan salah satu metode
yang paling banyak digunakan

dan paling mudah untuk memurnikan

sejumlah kecil komponen. Metode ini menggunakan lempeng kaca atau


aluminium yang telah dilapisi dengan penyerap (misalnya silica gel)

dengan ketebalan tertentu tergantung pada jumlah bahan yang akan dimuat
ke dalam lempeng. Pelapisan ke dalam lempeng analisis biasanya memilki
ketebalan 0,2 mm, lempeng preparative dapat memilki ketebalan hingga 12 cm (Heinrich dkk, 2005).
Fase gerak dikenal sebagai pelarut pengembangan akan bergerak
sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara
menaik (ascending) atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan
secara menurun (descending). Fase diam yang digunakan

pada

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan penjerap berukuran kecil


dengan diameter partikel antara 10-30 m. Semakin kecil ukuran rata-rata
partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka
semakin baik kinerja Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dalam hal
efesiensinya dan resolusinya. Penjerap yang paling sering digunakan
adalah silika dan serbuk selulosa.
Sistem fase gerak yang paling sederhana ialah campuran 2 pelarut
organik karena adanya elusi campuran kedua pelarut ini dapat diatur
sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal.
Pemisahan pada Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yang optimal akan
diperoleh hanya jika menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan
sesempit mungkin. Penotolan sampel yang tidak tepat akan menyebabkan
bercak yang menyebar dan puncak ganda.
Bila sampel telah ditotolkan maka tahap selanjutnya adalah
mengembangkan sampel tersebut dalam suatu bejana kromatografi yang
sebelumnya telah dijenuhkan dengan uap fase gerak. Tepi bagian bawah
lempeng lapis tipis yang telah ditotoli sampel dicelupkan ke dalam fase
gerak kurang lebih 0,5-1 cm (Gandjar dan Rohman. 2007)
Prinsip KLT adalah gambaran utama yang mengukur kemampuan
daya pisah lempeng KLT adalah ukuran bercak (spot) dan dimensi fisik
lempeng. Dalam KLT hasil-hasil yang diperoleh digambarkan dengan
mencamtumkan nilai Rf nya yang merujuk pada migrasi relatif analit

terhadap ujung depan fase gerak atau eluen, dan nilai ini terkait dengan
koefisien distribusi komponen.
jarak yang ditempuh fase gerak

Jarak yang ditempuh solut


Rf =

Nilai Rf ini terkait dengan faktor perlambatan. Nilai Rf bukanlah


suatu nilai fisika absulut untuk suatu komponen; meskipun demikian,
dengan pengendalian kondisi KLT secara hati-hati, nilai RF dapat
digunakan sebagai cara untuk identifikasi kualitatif. Disebabkan oleh
banyaknya variabel yang berpengaruh pada nilai RF misalnya adanya
sedikit perbedaan komposisi fase gerak, suhu, ukuran chamber, lapisan
penyerap, dan sifat campuran, maka penetuan nilai Rf dalam suatu sistem
KLT yang berbeda merupakan cara yang harus dilakukan ketika
melakukan identifikasi untuk membuktikan adanya suatu komponen/ analit
yang dituju dalam sampel (Gandjar dan Rohman. 2007)
b. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
Salah satu metode pemisahan yang memerlukan pembiayaan paling
murah dan memakai peralatan paling dasar ialah kromatografi lapis tipis
preparatif (KLTP). Walaupun KLTP dapat memisahkan bahan dalam
jumlah gram, sebagian besar pemakaian dalam jumlah miligram.
a. Penjerap (adsorben)
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk memeriksa pengaruh
ketebalan penjerap terhadap kualitas pemisahan (Stahl 1967) tetapi
ketebalan yang paling sering dipakai ialah 0,5-2 mm. Ukuran pelat
kromatografi biasanya 20x20 cm atau 20x40 cm. Penjerap yang paling
umum ialah silika gel dan dipakai untuk pemisahan campuran senyawa
lipofil maupun campuran senyawa hidrofil.
b. Penotolan cuplikan
Cuplikan dilarutkan dalam sedikit pelarut sebelum ditotolkan
pada pelat KLTP.Pelarut yang baik ialah pelarut atsiri (heksana,
diklorometana, etil asetat), karena pelarut kurang atsiri terjadi pelebaran

pita.Konsentrasi cuplikan harus sekitar 5-10%. Cuplikan ditotolkan


berupa pita yang harus sesempit mungkin karena pemisahan bergantung
pada lebar pita. Penotolan dapat dilakukan dengan tangan (pipet) tetapi
lebih baik dengan penotol otomatis (camag, desage,dsb), untuk pita
yang

terlalu

lebar,

dapat

dilakukan

pemekatan

dengan

cara

pengembangan memakai pelarut polar sampai kira-kira 2 cm di atas


tempat penotolan. Kemudian pelat dikeringkan dan dielusi dengan
pelarut yang diinginkan (Stahl 1976).
c. Memilih fase gerak dan mengembangkan pelat KLTP
Fase gerak biner berikut (dalam berbagai perbandingan) sangat
sering dipakai pada pemisahan secara KLTP: n-heksana-etil asetat-, nheksan-aseton, kloroform metanol, berturut-turut senyawa asam dan
senyawa basa.
Pengembangan pelat KLTP biasanya dilakukan dalam bejana
kaca yang dapat menampung beberapa pelat.Bejana dijaga tetap jenuh
dengan pelarut pengembang dengan bantuan sehelai kertas saring yang
tercelup ke dalam pengembang.
Koefisien

pemisahan

dapat

ditingkatkan

dengan

cara

pengembangan berulang. Jika pemisahan secara KLTP telah dicapai,


pelat dikeringkan dan kemudian dimasukkan lagi ke dalam bejana.
Bergantung pada Rf pita, proses ini dapat diulang beberapa kali,
walaupun ada kerugian waktu.
d. Isolasi senyawa yang sudah terpisah
Kebanyakan penjerap KLTP mengandung indikator fluoresensi
yang membantu mendeteksi kedudukan pita yang terpisah sepanjang
senyawa yang dipisahkan menyerap sinar UV.Akan tetapi beberapa
indikator menimbulkan masalah yaitu bereaksi dengan asam kadangkadang bahkan dengan asam asetat.
Untuk senyawa yang tidak menyerap sinar UV, ada beberapa
pilihan:
1) Menyemprot dengan air (misalnya saponin)

2) Menutup pelat dengan sepotong kaca menyemprot salah satu sisi


dengan pereaksi semprot
3) Menambahkan senyawa pembanding
e. Pencemar dalam senyawa yang dimurnikan KLTP
Penjerap KLTP mengandung pengikat dan indikator fluoresensi
yang susunan kimianya biasanya tidak diketahui. Ketika senyawa yang
dipisahkan dengan KLTP diekstraksi, pengikat, indikator, dan pencemar
lain kemungkinan besar terekstraksi pula. Pada kenyataannya, makin
polar pelarut pengekstraksi makin banyak bahan yang tak diinginkan
yang terekstraksi. (Hostettmann, 1995)
II.6 Uji Aktifitas
1. Uji Antioksidan
Antioksidan adalah zat penghambat reaksi oksidasi akibat radikal
bebas yang dapat menyebabkan kerusakan asam lemak tak jenuh,membran
dinding sel, pembuluh darah, basa DNA, dan jaringan lipid sehingga
menimbulkan penyakit (Subeki 1998).
Aktifitas antioksidan tidak dapat diukur secara langsung, melainkan
melalui efek antioksidan dalam mengontrol proses oksidasi. Banyak
metode yang bisa digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan.Pada
pengukuran aktifitas antioksidan perlu diperhatikan sumber radikal bebas
dan substrat. Hal ini dikarenakan antioksidan mungkin dapat melindungi
lipid dari kerusakan oleh radikal bebas, namun di waktu yang sama dapat
mempercepat kerusakan molekul sel lainnya.

Salah satu metode yang biasa diguanakan dalam uji aktivitas


antioksidan

adalah

menggunakan

metode

DPPH

(1,1-difenil-2-

pikrilhidrazil) berdasarkan dari hilangnya warna ungu akibat tereduksinya


DPPH oleh antioksidan. Intensitas warna dari larutan uji diukur melalui
spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang sekitar 520 nm.Hasil
dari uji ini diinterpretasikan sebagai EC50, yaitu jumlah antioksidan yang
diperlukan untuk menurunkan konsentrasi awal DPPH sebesar 50%. Pada

metode ini tidak diperlukan substrat sehingga memiliki keuntungan, yaitu


lebih sederhana dan waktu analisis yang lebih cepat (Molyneux, 2004).
2. Uji Antibakteri
Antibakteri adalah obat pembasmi bakteri, khususnya bakteri yang
merugikan manusia. Suatu bakteri yang ideal memiliki toksisitas selektif,
berarti obat antibakteri tersebut hanya berbahaya bagi bakteri, tetapi relatif
tidak membahayakan bagi hospes. Berdasarkan sifat toksisitas selektif ada
bakteri yang bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik)
dan ada yang bersifat membunuh bakteri (bakterisida) (Jawetz, 1984).
Metode yang dapat digunakan untuk uji antibakteri antara lain:
a. Metode Dilusi
Ada dua macam metode dilusi yaitu metode dilusi
cair (Macro Broth Dillition) dan metode dilusi padat (agar
dilusi). Pada dilusi cair, masing masing konsentrasi obat
ditambahkan suspensi bakteri, sedangkan dalam dilusi padat
tiap konsentrasi dicampur dengan media agar lalu ditanam
bakteri dan diinkubasi slama 24 jam.
Kegunaan dari metode dilusi ini adalah untuk mencari KHM
(Kadar Hambat Minimum) yaitu kadar obat terendah yang dapat
menghambat pertumbuhan bakteri. Kadar terkecil yang menunjukkan
hambatan terhadap pertumbuhan bakteri ditandai oleh kejernihan
media merupakan KHM. Data sifat kimia fisika dan data aktivitas
antibakteri dianalisis secara statistic dengan uji regresi linier dan non
linier.
b. Metode Difusi
Cara kirby Baue
Beberapa koloni kuman dari pertumbuhan 24 jam pada agar
diambil, disuspensikan ke dalam 0,5 ml BHI cair, diinkubasikan 4
8 jam pada 37C. Suspensi ditambahkan aquadest steril sehingga
kekeruhan tertentu sesuai dengan standar konsentrasi bakteri 10 8
CFU per ml. kapas lidi dicelupkan dalam suspense bakteri lalu
ditekan tekan pada permukaan media agar selanjutnya diletakkan

kertas semir (disk) yang mengandung antibiotic diatasnya,


diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam.

Cara Sumuran
Seperti cara kirby baue, setelah dioleskan bakteri pada
media agar dibuat semuran dengan garis tengah tertentu dan
kedalam semurandiberi larutan antibakteri dan diinkubasi pada

suhu 370C selama 18-24 jam.


Cara poor plate
Diambil suspensi bakteri satu ose dimasukan ke dalam 4 ml
agar base 1,5% yang mempunyai temperatur 500C setelah suspensi
homogen dituang pada media muellet hinton ditunggu sebentar
sampai agar tersebut membeku,

diletakan disk diatas media,

diinkubasi 15-20 jam dengan temperatur 37 0 C, interprestasikan


hasilnya sesuai standar antibiotik untuk masing-masing bakteri.
Pembacaan hasil dapat dilakukan dengan cara mengukur :
a. Zona Radikal Yaitu suatu daerah disekitar disk dimana sama
sekali tidak ada pertumbuhan bakteri
b. Zona irradikal yaitu suatu daerah di sekitar disk yang
pertumbuhan bakterinya dihambat tetapi dimatikan.
II.7 Senyawa Metabolit Sekunder
a. Alkaloid
Alkaloid juga banyak terdapat dalam tumbuhan, khususnya pada
Angiospermae (lebih dari 20% dari semua spesies menghasilkan
alkaloid). Alkaloid umumnya hanya sedikit terdapat pada tumbuhan
Gymnospermae, lycopodium, Equisetum, jamur, dan alga. Alkaloid juga
dapat ditemukan pada bakteri, jamur, binatang laut, antropoda, amphibi,
pada sejumlah burung, dan mamalia. Alkaloid sangat penting bagi
organisme yang memproduksinya. Satu fungsi utamanya adalah sebagai
pelindung dan untuk melawan herbivora maupun predator. Beberapa
alkaloid bersifat sebagai antibakteri, antijamur, dan antiviral; dan
konstituennya mungkin saja menyebabkan keracunan bagi hewan
(Fattorusso & Scafati, 2008).

Alkaloid biasanya dikelompokkan berdasarkan bentuk cincin


heterosiklik nitrogen yang terdapat di dalamnya, sebagai contoh
pirolidin, piperidin, quinolin, isoquinolin, indol. Atom nitrogen pada
alkaloid berasal dari asam amino, dan pada umumnya struktur kerangka
karbon pada asam amino prekusor akan bertahan ketika dalam bentuk
alkaloid. Prekusor asam amino yang berhubungan dengan biosintesis
alkaloid antara lain adalah ornitin, lisin, asam nikotinoat, tirosin,
triptopan, asam antranilat, dan histidin (Dewick, 2009).
b. Tannin
Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang diketahui
mempunyai beberapa khasiat yaitu sebagai astringen, anti diare, anti
bakteri dan antioksidan. Tanin merupakan komponen zat organik yang
sangat kompleks, terdiri dari senyawa fenolik yang sukar dipisahkan dan
sukar mengkristal, mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa
dengan protein tersebut (Desmiaty et al., 2008). Tanin dibagi menjadi dua
kelompok yaitu tanin terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Tanin memiliki
peranan biologis yang kompleks mulai dari pengendap protein hingga
pengkhelat logam. Tanin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan biologis
(Malangngi L.P , dkk, 2012)
c. Saponin
Saponin adalah suatu glikosida alamiah yang terikat dengan steroid
atau triterpena. Saponin mempunyai aktifitas farmakologi yang cukup luas
diantaranya meliputi: immunomodulator, anti tumor, anti inflamasi,
antivirus, anti jamur, dapat membunuh kerang-kerangan, hipoglikemik,
dan efek hypokholesterol. Saponin juga mempunyai sifat bermacammacam, misalnya: terasa manis, ada yang pahit, dapat berbentuk buih,
dapat menstabilkan emulsi, dapat menyebabkan hemolisis. Dalam
pemakaiannya saponin bisa dipakai untuk banyak keperluan, misalnya
dipakai untuk membuat minuman beralkohol, dalam industri pakaian,
kosmetik, membuat obat-obatan, dan dipakai sebagai obat tradisional.

Biarpun saponin bisa diisolasi dari binatang tingkat rendah,


sebenarnya saponin ditemukan terutama dalam tumbuh-tumbuhan.
Namanya diambil dari Genus suatu tumbuhan yaitu Saponaria, akar dari
famili Caryophyllaceae dapat dibuat sabun. Saponin juga bisa didapatkan
dalam beberapa famili tumbuhan yang lain (Dewick, 2009).
d. Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa bahan alam
yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Flavonoid pada umumnya
mempunyai kerangka flavon C6-C3-C6, dengan tiga atom karbon sebagai
jembatan antara gugus fenil yang biasanya juga terdapat atom oksigen.
Berdasarkan pada tingkat ketidakjenuhan dan oksidasi dari segmen
karbon, flavonoid selanjutnya dibagi menjadi beberapa kelas. Senyawa ini
biasanya terdapat sebagai pigmen tumbuhan untuk menarik pollinators,
atau sebagai bahan pertahanan bagi tumbuhan untuk melawan serangga
dan mikroorganisme (Rosa, dkk, 2010).

DAFTAR PUSTAKA

De la Rosa, L., Emilio A., dan Gustavo, A. 2010. Fruit and Vegetable
Phytochemicals: Chemistry, Nutritional Value and Stability. WileyBlackwell Publishing : New York.
Dewick, P. M., 2009. Medicinal Natural Products: A Biosynthetic Approach.
Wiley-VCH Verlag GmbH & Co: Weinheim.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Departmen Kesehatan


Republik Indonesia, Jakarta.
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departmen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Fattorusso, E., dan Taglialatela-Scafati, O., 2008. Modern Alkaloids: Structure,
Isolation, Synthesis and Biology. Wiley-VCH Verlag GmbH & Co:
Weinheim.
Gandjar, I., dan Rohman A. 2007. Kimia Farmasi Analisis I. Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.
Gandjar, I., dan Rohman A. 2012. Analisis Obat Secara Spektrofotometri Dan
Kromatografi. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. UGM Press: Yogyakarta.
Heinrich, M., Barnes, J., Gibbons, S., dan Williams, E.M. (2010). Farmakognosi
Dan Fitoterapi. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
Hostettmann, K., dkk. 1995. Cara Kromatografi Preparatif. ITB : Bandung.
Malangngi, L. P., Meiske S.S., dan Jessy J.E.P..2012. Penentuan Kandungan Tanin
dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Biji Buah Alpukat (Persea
americana Mill.). Jurnal MIPAUNSRAT: Manado.
Molyneux, Philip.2004. The Use of the Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin J.
Sci. Technol. 26 (2): 211-219.
Stahl, E. 2000. Analis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi. ITB : Bandung.

BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah chamber, corong pisah, Erlenmeyer,
gelas ukur, lampu UV 254 nm dan 366 nm, oven, pipa kapiler, ,seperangkat
alat maserasi, rotavapor, timbangan analitik.

III.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah air suling, lempeng KLT , etanol,
spons putih, ekstrak etanol spons, Eter, FeCl 3, HCL 2 N, H2SO4, kloroform,
Pereaksi Bouchardat, Pereaksi Mayer, Serbuk Asam Borat, Serbuk Asam
Oksalat, Serbuk Magnesium, Serbuk Seng.
III.2 Penyiapan Sampel
III.2.1 Pengambilan Sampel
Sampel terumbu karang (Stylophora pistillata) diperoleh di pesisir laut
Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan.
III.2.2 Pengolahan Sampel
Sampel terumbu karang (Stylophora pistillata) yang telah dikumpulkan
dibersihkan dari kotoran, lalu dicuci dengan air hingga bersih. Setelah itu sampel
dipotong, kemudian diangin-anginkan dan siap diekstraksi.
III.2.3 Ekstraksi sampel
Sampel terumbu karang (Stylophora pistillata)
diekstraksi

yang telah diolah

secara maserasi dengan pelarut etanol 70% selama 3 x 24 jam,

disimpan ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung sambil sering
diaduk. Setelah 3 hari, hasilnya disaring kemudian ampasnya di maserasi kembali
dengan menggunakan pelarut yang baru sampai diperoleh sari terakhir. Ekstrak
etanol yang diperoleh kemudian diuapkan penyarinya dengan menggunakan
Rotary Evaporator (Rotavapor) hingga diperoleh ekstrak etanol kental.

III.2.4 Pemisahan Garam


Ekstrak ethanol yang diperoleh dipisahkan dari garam dengan cara
ditambahkan pelarut methanol absolute, diaduk dengan magnetic stirrer kemudian
disentrifugasi pada suhu -10C selama 10 menit. Bagian yang mengendap dibuang
sedangkan supernatantnya ditempatkan pada wadah dan diuapkan sampai kering.
III.3 Identifikasi Senyawa Kimia
III.3.1 Identifikasi Alkaloid

Sebanyak 1 g ekstrak dilarutkan dengan 5 mL amonia P, lalu ditambahkan


20 mL kloroform. Kemudian dikocok, sehingga diperoleh lapisan air dan lapisan
pelarut organik. Lapisan air ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendroff terbentuk
endapan merah jingga, pereaksi Mayer terbentuk endapan putih dan pereaksi
Wagner terbentuk endapan coklat.
III.3.2 Identifikasi Flavanoid
Sebanyak 1 g ekstrak ditambahkan 100 mL air panas kemudian di
didihkan selama 5 menit dan disaring. Filtrate 5 mL, ditambahkan dengan 0,05 g
serbuk mg, 1 mL HCl P, dan 1 mL amil alkohol. Campuran dikocok kuat-kuat. Uji
positif ditandai dengan munculnya warna merah, kuning atau jingga pada lapisan
amil alcohol.
III.3.3 Identifikasi Steroid / Terpenoid
Sebanyak 1 g ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 2
mL dan dikocok. Lapisan eter diambil, diteteskan pada plat tetes dan dibiarkan
sampai kering, setelah kering ditambahkan asam asetat anhidrat dan satu tetes
asam sulfat pekat. Apabila terbentuk warna orange atau kuning berarti positif
terpenoid sedangkan terbentuk warna hijau berarti steroid (Nahal, 2009).
III.3.4 Identifikasi Saponin
Sebanyak 1 g ekstrak spons puih ditambahkan 100 mL air panas kemudian
di didihkan selama 5 menit lalu disaring. Sebanyak 5 mL filtrate dikocok dalam
tabung reaksi selama 10 detik. Jika terbentuk buih atau busa selama 10 menit,
setinggi 1 cm. Pada penambahan HCL 2 N, buih tidak hilang.

III.3.5 Identifikasi Tanin


Sebanyak 1 g ekstrak spons putih ditambhakan dalam 100 mL air panas
kemudian di didihkan selama 5 menit lalu disaring sebanyak 5 mL filtrate
ditambahkan FeCL3. Uji positif ditandai dengan munculnya warna hijau
kehitaman.
III.4 Uji Toksisitas
III.4.1 Penyiapan Larva Udang

Penetasan telur udang (Artemia salina Leach) dengan cara 1 g telur udang
direndam dalam air laut sebanayak 2 L pada pH 7-8 dan diberi penerangan dengan
lampu pijar serta diaerasi selama 48 jam. Larva yang berumur 2 hari (48 jam)
digunakan sebagai hewan uji aktivitas ketoksikan.
III.4.2 Pembuatan Larutan Kontrol dan Ekstrak Uji
Larutan ekstrak dibuat dengan melarutkan ekstrak sebanyak 50 mg dalam
5 mL air laut hingga diperoleh konsentrasi 10000 ppm. Untuk ekstrak yang
kurang larut dalam air laut, dapat dilarutkan dengan DMSO atau pelarut yang
cocok, pelarutnya diuapkan kemudian dicukupkan volumenya dengan air laut.
Kemudian dari larutan stok dibuat variasi konsentrasi 0,1 ppm, 1 ppm, 10 ppm,
100 ppm dan 1000 ppm. Kontrol yang digunakan yaitu air laut atau pelarut yang
digunakan pada pengenceran ekstrak.
III.4.3 Pengujian Toksisitas
Pengujian dilakukan dengan cara dimasukkan 10 ekor larva udang yang
berumur 48 jam yang diambil secara acak kedalam masing masing vial yang
berisi ekstrak sampel atau kontrol. Ke dalam tiap vial ditambahkan 1 tetes
suspensi ragi sebagai sumber makanan. Selanjutnya disimpan ditempat yang
cukup mendapatkan cahaya lampu dan dihitung jumlah larva yang mati setiap 12
jam selama 1 hari.
Persen kematian (mortalitas) dihitung dengan cara :

%Mortalitas=

jumlah larvamati
jumlah larva awal

x 100 %

III.5 Fraksinasi
Ekstrak kental dilarutkan dengan aquades kemudian difraksinasi dalam corong pisah.
Fraksinasi dilakukan dengan dua pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda. Pertama
difraksi dengan pelarut n heksan yang bersifat non polar kemudian dikocok dan dibiarkan
hingga terbentuk dua lapisan yang terdiri dari lapisan air dan n heksan. Diambil lapisan n
heksan dan diuapkan hingga kental. Kemudian lapisan air difraksinasi kembali dengan pelarut
etil asetat yang bersifat polar, lalu dikocok dan dikocok dan didiamkan hingga terbentuk

lapisan air dan lapisan etil asetat. Diambil lapisan etil asetat dan diuapkan hingga terbentuk
ekstrak kental.
III.6 Kromatografi Kolom
Dilakukan orientasi eluen untuk menentukan eluen yang cocok dan dapat
mengelusi noda yang baik pada lempeng. Setelah dilakukan orientasi dengan
beberapa perbandingan eluen, didapatkan bahwa perbandingan eluen yang dapat
mengelusi noda dengan baik adalah eluen n-heksan : etil asetat sebanyak 6:4.
Kromatografi kolom dilakukan dengan cara fraksi etil asetat ditambahkan
silika kemudian digunakan eluen n-heksan : etil asetat (6:4) sebagai fase gerak.
Hasil dari kromatografi kolom berupa fraksi dengan berbagai warna mulai dari
berwarna bening hingga pekat, yang akan dikelompokkan menurut yang sama
terlihat secara visual warnanya.
III.7 Identifikasi dengan Kromatografi Lapis Tipis
Sampel hasil kromatografi kolom ditotolkan pada lempeng KLT secara
garis lurus kemudian lempeng KLT dimasukkan ke dalam chamber yang telah
dijenuhkan dengan eluen n-heksan : etil asetat (6:4). Diamati hingga fase gerak
mencapai batas atas lempeng. Selanjutnya lempeng KLT diamati dibawah sinar
UV dengan panjang gelombang 254 dan 366 nm untuk melihat penampakan
bercak noda, setelah itu untuk memperjelas penampakan noda, kemudian dapat di
semprot dengan menggunakan reagen asam sulfat yang merupakan reagen umum
untuk senyawa terpenoid kemudian diamati kembali dibawah sinar UV dengan
panjang gelombang 254 dan 366 nm.

III.8 Isolasi dengan Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)


Disiapkan lempeng dan ekstrak kemudian dibuat batas tanda pada
lempeng. Setelah itu, ditotolkan ekstrak secara berkesinambungan. Dimasukkan
lempeng yang telah ditotol kedalam chamber yang telah dijenuhkan dengan eluen
n-heksan : etil asetat (6:4) dan dibiarkan terelusi hingga batas atas lempeng.
Setelah terelusi, lempeng dikeluarkan dari chamber dan dilihat penampakan
nodanya pada lampu UV dengan panjang gelombang 254 nm dan panjang
gelombang 366 nm, kemudian diberi tanda dan kerok semua noda yang tampak.

III.9 KLT Dua Dimensi


Hasil kerokan silika ditambahkan dengan etanol kemudian disentrifus
untuk memisahkan senyawa dengan silika, kemudian ditotolkan pada lempeng
yang telah diaktifkan. Setelah itu dimasukkan lempeng yang telah ditotol kedalam
chamber yang telah dijenuhkan dengan eluen n-heksan : etil asetat (6:4) dan
dibiarkan terelusi hingga batas atas lempeng, diputar 90 lalu dielusi kembali.
Setelah elusi ke 2 mencapai batas atas, dikeluarkan dari chamber dan keringkan
kemudian dilihat penampakan nodanya pada lampu UV dengan panjang
gelombang 254 nm dan panjang gelombang 366 nm.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 Hasil Ekstraksi
Rendemen =

Berat ekstrak yang diperoleh


Berat simplisia yang diekstraksi

x 100%

11,3 gram
500 gram

Rendemen =

x 100% = 2,26%

IV.2 Hasil Uji aktivitas toksisitas dengan metode BSLT


Konsentrasi

Log Konsentrasi

% Mortalitas

Probit

100

8,09

10

100

8,09

100

100

8,09

1000

100

8,09

(ppm)
1

9
8

f(x) = - 0x + 8.09
R = 0

7
6
5
Probit 4
3

Linear ()

Linear ()

1
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

Log Konsentrasi

IV.3 Hasil Fraksinasi


Ekstrak

11,3 gram

Bobot Ekstrak

Fraksi Hasil

Bobot Fraksi

yang Dipartisi

Partisi

(g)

5 gram

Etil asetat
n-heksan
air

1,02
0,56
4,73

IV.4 Hasil Kromatografi Kolom


Bobot Fraksi

Fraksi
1

(g)
16

34

57,46

42,21

15

IV.5 Hasil KLT Dua Dimensi


Rf =

Jarak yang ditempuh solut


Jarak yang ditempuh fase gerak

Rf =

3,3
3,5

= 0,94

BAB V
PEMBAHASAN
BSLT
Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) adalah salah satu metode uji toksisitas
yang banyak digunakan dalam penelusuran senyawa bioaktif yang bersifat toksik
dari bahan alam. Metode ini dapat digunakan sebagai bioassay-guided fractination
dari bahan alam, karena mudah, cepat, murah dan cukup reproducible.
Uji toksisitas dengan metode BSLT ini merupakan uji toksisitas akut
dimana efek toksik dari suatu senyawa ditentukan dalam waktu singkat, yaitu
rentang waktu selama 24 jam setelah pemberian dosis uji. Prosedurnya dengan
menentukan nilai LC50 dari aktivitas komponen aktif tanaman terhadap larva
Artemia salina Leach. Suatu esktrak dikatakan toksik berdasarkan metode BSLT
jika harga LC< 1000 g/ml.
LC50 adalah konsentrasi dari suatu senyawa kimia di udara atau dalam air
yang dapat menyebabkan 50% kematian pada suatu populasi hewan uji atau
makhluk tertentu. Penggunaan LC50 dimaksudkan untuk pengujian
ketoksikan dengan perlakuan terhadap hewan uji secara
berkelompok yaitu pada saat hewan uji dipaparkan suatu bahan
kimia melalui udara maka hewan uji tersebut akan menghirupnya
atau percobaan toksisitas dengan media air. Nilai LC 50 dapat
digunakan untuk menentukan tingkat efek toksik suatu senyawa
sehingga dapat juga untuk memprediksi potensinya sebagai
antikanker.
Dalam praktikum ini dilakukan variasi konsentrasi yang
berbeda masing-masing yaitu konsentrasi 1, 10, 100, dan 1000
g/ml untuk membandingkan toksisitas dan efek toksik yang
ditimbulkan masing-masing konsentrasi tersebut. Setelah itu,
untuk melihat pada konsentrasi berapakah larva udang
mengalami LC50. Dan air laut sebagai kontrol dimaksudkan untuk
melihat respon kematian dari sampel. Spons putih digunakan
untuk mengetahui apakah sampel tersebut memiliki khasiat
sebagai obat antikanker, dan alasan digunakannya larva udang
dalam
percobaan
ini
adalah
karena
larva
udang
merupakan general biossay sehingga semua zat dapat
menembus masuk menembus dinding sel larva tersebut.

Pengujian

terhadap

ekstrak

etanol

spons

putih

disimpulkan bahwa konsentrasi untuk mematikan 100% larva


udang (Artemia salina) sehingga dapat dikatakan ekstrak spons
putih pada percobaan ini memiliki potensi toksisitas akut
menurut metode BSLT yaitu pada perlakuan dengan hewan coba
larva Artemia salina Leach.

a.

Kromatografi Kolom Konvensional (KKK)


Pada metode ini, kolom diisikan dengan adsorben yang berupa
padatan dalam hal ini adalah silika gel yang dicampurkan dengan pelarut n
heksan hingga membentuk bubur silika (slurry). Slurry dimasukkan dengan hatihati kedalam kolom kromatografi yang telah diisikan n-heksan yang sebelumnya
telah disumbat dengan kapas dan kertas saring yang berfungsi sebagai penahan
adsorben agar tidak keluar bersama eluen. Pengisian kolom harus dikerjakan
secara seragam dan sepadat mungkin untuk menghindari terjadinya gelembunggelembung udara. Jika terdapat gelembung-gelembung udara dalam kolom maka
akan berpotensi menyebabkan pecahnya kolom.
Prinsip dari kromatografi kolom jenis ini adalah kecenderungan
komponen kimia untuk terdistribusi ke dalam fase diam atau fase gerak dengan
proses elusi berdasarkan gaya gravitasi. Kolom kromatografi atau tabung untuk
pengaloran karena gaya tarik bumi (gravitasi) atau system bertekanan rendah
biasanya terbuat dari kaca yang dilengkapi dengan kran.
Hal lain yang dapat dilakukan agar tidak terjadi pemecahan kolom
adalah dengan menambahkan eluen secara kontinu agar udara tidak masuk
kedalam kolom. Kolom yang padat diindikasikan dengan warna slurry yang
semakin memutih dan kecepatan alir eluen yang semakin lambat. Jika kolom

sudah memadat, larutan sampel kemudian diisikan kedalam kolom . Mekanisme


yang terjadi pada kromatografi kolom ialah sample akan terelusi oleh eluen (nheksan) melalui fase diam silika gel. Senyawa organik terelusi oleh eluen proses
elusi terjadi karena keseimbangan distribusi zat analit pada fase gerak n-heksan
dan fase diam selika gel. Elusi terus berlangsung hingga tidak ada lagi yang
tinggal dalam kolom. Proses elusi ini menghasilkan eluat yang diharapkan
mengandung banyak betakaroten.
Kelebihan kromatografi kolom :
1.

Dapat digunakan untuk analisis dan aplikasi preparative

2.

Digunakan untuk menentukan jumlah komponen campuran

3.

Digunakan untuk memisahkan dan purifikasi substansi

Kekurangan kromatografi kolom :


1. Untuk mempersiapkan kolom dibutuhkan kemampuan teknik dan manual
2. Metode ini sangat membutuhkan waktu yang lama (time consuming)
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa daun bunga
terompet (Mandevillae folium) didapatlan hasil kromatografi kolom dengan
jumlah fraksi 9 dan menggunakan 7 eluen berdasarkan tingkat kepolaran yang
lebih tinggi yang selanjutnya akan diisolasi kembali dengan metode yang cocok.
Pada sinar UV tidak menampakkan noda, hal tersebut dapat disebabkan adanya
faktor kesalahan

KLTP
Pada praktikum ini dilakukan percobaan Kromatografi lapis tipis preparatif
(KLTP). Dimana pada KLT preparative pada dasarnya sama dengan kromatografi
lapis tipis biasa, namun perbedaan yang nyata ialah pada KLT preparative
menggunakan lempeng kaca yang besar (ukuran 10 x 20 cm) dengan ketebalan

0,5 dan sampel ditotolkan berupa garis lurus pada salah satu sisi lempeng. Dan
pada bagian langkah akhir silica akan dikeruk yang mana disebut sebagai
isolate.
KLTP memiliki keuntungan yaitu sebagai salah satu metode pemisahan
yang memerlukan pembiayaan paling murah dan memakai peralatan dasar.
Sedangkan kerugian KLTP yaitu pengambilan senyawa dari plat yang dilanjutkan
dengan pengekstraksian penjerap memerlukan waktu lama dan jika senyawa
beracun harus dikeruk dari plat akan meningmbulkan banyak masalah terus.
Cara kerja dari metode ini diambil fraksi aktif dari hasil KK dan kemudian
ditotolkan berbentuk pita garis penotolan yang telah dibuat sebelumnya.
Lempeng yang digunakan berukuran 10 x 20 cm. setelah sampel ditotolkan,
kemudian dikembangkan dengan eluen loroform : aseton1 :9 didalam chamber
KLTP. Setelah pengelusian, lempeng-lempeng dan diaamati di bawah lampu UV.
Kemudian pita-pita tersebut dideteksi dan diberi bawah lampu UV. Kemudian
pita-pita tersebut dideteksi dan diberi tanda kemudian dikeruk yang selanjutnya
disebut sebagai isolate. Senyawa dideteksi adalah flavonoid yang ditandai
dengan noda yang berpendar di bawah UV 366 nm.

Pada praktikum KLTP digunakan 2 hasil jenis fraksi yaitu fraksi


dari hasil KKK dan KCV. Dimana fraksi KKK yang diambil itu fraksi
berwarna Hijau sedangkan pada KCV fraksi yang diambil yaitu yang
berwarna kuning. Tujuannya untuk membandingkan fraksi yang mana
paling Nampak noda untuk dikerok. Dimana hasil yang diperoleh yaitu
fraksi dari KCV yang paling baik atau paling bagus, karena bercak pita
yang terbentuk terbentuknya beberapa pita pada lempeng KLTP dimana

pita yang akan dikeruk pada lempeng adalah pita yangmemiliki warna
yang lebih kuning berlatar ungu yang dapat disebut sebagai fraksi aktif,.
Pada praktikum yang dilakukan di dapatkan nilai Rf pada fraksi 1
yaitu 0,94118 cm dan nilai Rf untuk fraksi 2 yaitu 0,76471 cm.
DUA DIMENSI
KLT 2 arah atau 2 dimensi ini bertujuan untuk meningkatkan
resolusi

sampel

ketika

komponen-komponen

solute

mempunyai

karakteristik kimia yang hampir sama, karenanya nilai Rf juga hampir


sama sebagaimana dalam asam-asam amino. Selain itu, 2 sistem fase
gerak yang sangat berbeda dapat digunakan secara berurutan sehingga
memungkinkan untuk melakukan pemisahan analit yang mempunyai
tingkat polaritas yang berbeda
Adapun

identifikasi

bercak

yang

dilakukan

pada

pegujian

Kromatografi lapis tipis dua dimensi yaitu :


a. Pada UV 254 nm
Pada UV 254 nm, lempeng akan berflouresensi sedangkan sampel
akan tampak berwarna gelap. Penampakan noda pada lampu UV 254 nm
adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan indikator
fluoresensi yang terdapat pada lempeng.Fluoresensi cahaya yang tampak
merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut
ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi
yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil
melepaskan energi.
b. Pada UV 366 nm
Pada UV 366 nm noda akan berflouresensi dan lempeng akan
berwarna gelap. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm adalah

karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor


yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda tersebut.Fluoresensi
cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh
komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi
dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan
semula sambil melepaskan energi.Sehingga noda yang tampak pada
lampu UV 366 terlihat terang karena silika gel yang digunakan tidak
berfluororesensi pada sinar UV 366 nm.
Berdasarkan percobaan dapat disimpulkan bahwa spons putih
didapatkan hasil pada KLT dua dimensi terdapat noda pada UV 254.

BAB VI
KESIMPULAN
BSLT
Kolom
KLTP
Dari Praktikum yang dilakukan diperoleh 1 pita yang aktif sebagai anti kanker

LAMPIRAN

Dua Dimensi

KLTP