Anda di halaman 1dari 4

R UANG K ONSER

TUGAS FISBANG AKUSTIK


ANDRI ADITYA HIDAYAT 13306038

Ruang konser secara garis besar merupakan


ruang yang diperuntukan untuk keperluan
pertunjukan musik. Ruang konser yang baik
secara umum adalah ruang dimana musik yang
dihasilkan oleh setiap alat music yang ada
dapat didengar dengan jelas dengan volume
suara yang cukup, harmonis, natural, dan baik
secara visual. Dalam hal ini, pemusik dan
pendengar harus bisa mendengarkan sumber
suara dengan jelas dan nyaman tanpa cacat
akustik. Sumber suara bisa berasal dari alat
musik langsung juga menggunakan speaker tergantung kebutuhan musik. Lalu bagaimanakah parameter
akustik tersebut bisa kita terapkan pada suatu ruang konser? Pada artikel ini, penulis akan menjelaskan
secara singkat saja bagaimana suatu ruang konser bisa dikatakan baik.

Sebelum kita membuat suatu ruang konser, kita harus tahu tujuan ruang tersebut untuk apa. Kita tidak
bisa memainkan musik rock pada ruang musik orkestra karena akan menghasilkan suara yang membuat
pendengar musik rock menjadi tidak nyaman, begitu pula sebaliknya. Setiap gedung memiliki
karakteristik yang berbeda-beda. Begitu pula dengan gedung konser, dalam hal ini genre musik sangat
berpengaruh.

Pertama yang harus kita tentukan adalah seberapa besar volume ruang konser tersebut dan bahan
material apa saja yang digunakan untuk permukaan ruang. Dari poin tersebut kita akan mendapatkan
0.161𝑉
nilai Reverberation Time (RT) yang dirumuskan dengan 𝑅𝑇 = . RT adalah waktu (detik) yang
𝐴.𝑆
dibutuhkan untuk suara melemah sebanyak 60dB, biasanya dilambangkan dengan RT60. RT
melambangkan seberapa dengung suatu ruangan. Suara yang didengar oleh audiens dalam sebuah
ruang terdiri dari:

1.Speech
2. Musik
3. Campuran antara musik dan speech
4. Campuran antara musik, speech dan noise
Berdasarkan list suara yang didengar oleh audiens diatas, fungsi ruang bisa kita bagisebagai berikut:

1. Ruang konferensi : dialog


2. Cinema : dialog, noise dan musik
3. Theater : dialog dan musik
4. Ruang konser musik pop/rock/jazz : musik dengan pengeras suara
5. Ruang konser orkestra : musik akustik tanpa pengeras suara
6. Ruang ibadah : dialog dan musik
7. Rumah makan : dialog dan background musik
8. Night Club : musik dengan SPL yang relatif tinggi

Dan berdasarkan list ruangan tersebut diatas, para akustisi dunia sepakat untuk membuat RT minimum
dan maksimal untuk masing-masing ruangan yang disebutkan diatas sebagai berikut:

1. Ruang konferensi : 0.6 – 1.3 (detik)


2. Cinema : 0.6 – 1.2 (detik)
3. Theater : 1 – 1,8 (detik)
4. Ruang konser musik pop : 1.4 – 2 (detik)
5. Ruang konser orkestra : 1.6 – 3 (detik)
6. Ruang ibadah : 1.8 – 3.2 (detik)
7. Rumah makan : maksimal 1.8 (detik)
8. Night Club : 0.6 – 1.6 (detik)

Rumus RT diatas merupakan waktu sabine dimana pendekatannya dilakukan dengan mengukur luas dan
volume ruang serta koefisien absorb. Masih banyak pendekatan lain seperti T15, T30, Eyrling, dan
lainnya. Kita mesti perhatikan seberapa besar rata-rata nilai absorb suatu ruang. Jika lebih besar dari 0,5
atau lebih kecil dari 0,1, maka rumus sabine tidak berlaku.

RT akan sangat ditentukan oleh material-material dalamnya. Material


reflektor dan absorber juga diperhitungkan. Namun, ruangan dengan RT
yang sudah cukup tidak berarti suara yang dihasilkannya juga akan merata.
Dalam hal ini kita harus menentukan dimana kita menempatkan reflector
dan absorber.

Umumnya reflector digunakan pada bagian dinding depan dan atap suatu
gedung konser. Tujuannya agar suara dipantulkan mengarah kepada musisi
dan pendengar. Pada bagian atap, seringkali kita lihat reflector dengan arah
yang berbeda-beda dan tidak merata. Ini merupakan treatment agar semua
pendengar mendengarkan musik/sumber suara dengan baik. Di bagian dinding samping biasanya
terdapat gabungan antara reflector dan absorber, bahkan berfungsi sebagai diffusor. Dinding samping
diusahakan untuk menyerap suara agar pendengar mendengar suara langsung lebih jelas. Tapi bukan
berarti tidak ada suara yang dipantulkan. Hanya, kita mengurangi suara tersebut agar tidak terjadi delay
gap. Pada bagian sudut ruang dan bagian belakang, dipasang absorber untuk mencegah flutter echo.
Terkadang juga dipasang bass trap bila diperlukan seperti yang biasa dilakukan di studio musik.

Bentuk dan material reflector, absorber, dan diffuser berbeda-beda


bergantung pada seberapa kebutuhan kita. Sebagai acoustic engineer, kita
harus tahu bagaimana spectrum frequency yang terjadi pada suatu ruang. Dari
situ kita bisa tahu jenis reflector, absorber, diffuser apa yang harus kita
gunakan dan dimana ditmpatkan.

Reverberation serta penempatan komponen akustik tadi akan berpengaruh


pada faktor lain seperti clarity, intelligibility, intimacy, dan
warm. Clarity merupakan faktor yang menjelaskan kejelasan
sumber suara. Biasa ditulis D50 untuk speech dan C80 untuk
musik. Bila suara terlalu berdengung pada ruangan, tentu
kita tidak bisa memperhatikan dengan jelas suara/ucapan
atau nada apa yang dimainkan musisi di panggung. Dan bila
RT lebih kecil dari persyaratan, ruangan akan terasa dead.
Misal, di kamar mandi kita mendegar suara kita
mendengung akibat reverb yang besar, suara kita pun
menjadi seolah berubah akibat kejelasan suara ucap pun
berubah. Nilai yang baik untuk speech biasanya D50 sekitar diatas 55%, music C80 kisaran -2 sampai 8
dB.

Yang diinginkan adalah ruangan konser bisa terasa live. Live biasanya digambarkan dengan karakter
warmth dan bright suatu suara. Penempatan komponen akustik akan memberi karakter warmth dan
bright pada suatu ruang. Ruang dikatakan warmth bila ada frekuensi dibawah 350Hz, dan bright bila ada
frekuensi diatas 350HZ. Keduanya diusahakan memiliki SPL flat atau mengikuti respon telinga kita.

Hal lain yang harus kita perhatikan adalah bentuk ruang konser. Ini akan berpengaruh pada bagaimana
kita memposisikan pendengar agar merasa nyaman secara audio visual. Posisi pendengar harus
mendapat suara langsung dari sumber suara. Karenanya biasanya dibuat undak agar pendengar dari
depan hingga belakang mendapat kejelasan audiovisual yang baik. Kursi pendengar yang kosong harus
memiliki nilai koefisien penyerap mendekati bahkan sama dengan ketika kursi tersebut diisi. Tujuannya
agar jumlah penonton tidak mempengaruhi ambience ruangan. Berikut ini beberapa nilai koefisien serap
kursi:
Bentuk ruang akan mempengaruhi seberapa diffuse suatu ruang, frekuensi ruang, juga cacat akustik
yang terjadi. Contohnya, ruang dengan bentuk kubus akan menghasilkan ketidak harmonisan frekuensi
yang didengar, bila terdapat permukaan sejajar akan menghasilkan flutter echo, ruang terlalu besar
membuat suara tidak fokus, dan lain-lain. Disamping ini adalah table rasio suatu ruang yang diizinkan
agar frekuensi resonansi berimbang sehingga suara yang didengar
lebih harmonis.

Ini semua hanya aspek kecil saja yang kita bahas. Masih banyak yang
perlu kita perhatikan untuk membuat suatu ruang konser yang baik
seperti nilai STC bahan peredam, NR, NC, dan lainnya. Semoga
bermanfaat. Terima kasih.

Pustaka

Long, Marshall.2006.Architectural Acoustic.California:Elsevier Inc

http://jokosarwono.wordpress.com/

http://www.ethanwiner.com/acoustics.html