Anda di halaman 1dari 5

A.

Jaringan saraf pusat


Cerebellum
Sajian cerebellum dipulas dengan cara Ramon Y Cajal diamati dengan
pembesaran kecil, nterdapat substansia grissea (bagian korteks) dan substansia
alba (bagian medula). Substansia grissea terletak di tepi sajian terlihat mempunyai
banyak intisel. Pada korteks cerebellum sebenarnya terdiri dari 2 lapisan, ytaitu
lapisan molecular disebelah luar dan lapisan granular di bagian dalam. Substansia
alba terletak di tengah dan gambarannya lebih pucat.
Sel purkinje letaknya di lapisan molecular, badan selnya terdapat pada batas
antara lapisan molecular dan granular, sedangkan dendritnya mengarah ke lapisan
molecular. Inti9nya besar, bentuknya bulat atau lonjong, dengan anak inti yang
umumnya jelas. Aksonnya masuk ke dalam lapisan granular.

Ganglion spinalis
Sel ganglion sebenarnya adalah sel saraf (neuron) yang umumnya berbentuk
polygonal. Percabangan sitoplasma meskipun ada, biasanya tidak terlihat jelas dan
hanya terlihat pangkalnya. Inti sel bulat atau lonjong dengan anak inti yang jelas.
Substansia tigroid walaupun tidak jelas tetapi dapat dilihat berupa bintik-bintik
besar berwarna biru hitam di sekitar inti dalam sitoplasma. Di sekitar sel ganglion
dapat dilihat banyak potongan serat saraf juga sel satelit.

Medula spinalis
Sel saraf motorik terdapat dalam kornu anterior medulla spinalis. Bagian ini
mudah dikenali Karena dalam sajian medulla spinalis terdapat pada baian tengah

mempunyai gamabran mirip kupu-kupu. Kornu anterior pada sajian tampak sebagai
bagian sayap yang gemuk dan merupakan daerah yang banyak mengandung
neuron. Seperti sel saraf lainnya, cirinya ialah sel besar berbentuk bulat atau
lonjong dengan anak inti yang jelas. Badan sel dan dendrite biasanya terlihat
mengandung badan nissl sedangkan akson atau neurit tidak. Pangkal akson disebut
akson hillock, tidak mengandung substansia nissl, sehingga mudah dikenali. Tidak
semua sel saraf motorik terpotong melalui aksonnya.

B. Jaringan saraf perifer


Jaringan saraf perifer adalah berkas saraf di luar susunan saraf pusat. Berkas
saraf ini terdiri atas dendrite dan neurit (akson). Dalam berkas ini, antara keduanya
tidak dapat dibedakan secara histologik.
Sel saraf tepi potongan memanjang terlihat sebagai pita-pita tebal dengan pita
tipis din tengahnya yang biasanya lebih gelap. Pita yang tebal merupakan selubung
myelin dan pita tipis ditengahnya adalah akson. Di tepi selubung myelin dapat
terlihat inti sel Schwann yang sering tidak dapat dibedakan dengan inti fibroblast
dan sel endotel.
Selubung myelin di beberapa tempat tampak mempunyai nodus ranvier. Pada
nodus ni akson tidak tertutup selubung myelin.
Sel Schwann, intinya berbentuk lonjong terletak memanjang sejajar selubung
myelin dengan kromatin agak padat. Pada sajian potongan melintang , inti sel

Schwann tampak berbentuk mirip ginjal di tepi suatu serat saraf. Endoneurium
tampak pada sajian potongan memanjang dan melintang, sedangkan perineurium
dan epineurium lebih jelas pada potongan melintang.

C. Badan akhir saraf


Badan vater pacini terdapat dalam sajian kulit, di dalam jaringan hypodermis
atau subkutis. Bangunan ini merupakan badan khusus yang bersifat sensoris. Alat
pengindera ini terdiri atas sejumlah lapisan fibroblast dan ruangan berisi cairan
jaringan yang tersusun berlapis-lapis dengan serat saraf tak bermielin ditengahnya
sehingga pada salah satu potongannya akan terlihat berupa sejumlah lingkaran
konsentris mengelilingi sebuah bintik. Bintik ini sebenarnya bagian ujung serat saraf
yang akan bermielin lagi setelah keluar dari badan tsb.
Muscle spindle (gelendong otot) teradapat diantara serat muskuler skelet,
tetapi merupakan badan khusus saraf sensoris. Biasanya dipelajari pada potongan
melintang, tampak berupa sekelompok serat otot khusus dalam berkas tersendiri.

D. Sel glia
Motor end plate merupakan ujung serat saraf motorik. Bangunan ini tampak
berupa percabangan ujung saraf bermielin yang berakhir pada serat otot skelet.
Bagian yang menempel pada serat otot tidak bermielin lagi dan terlihat
percabangan seperti cakar ayam.

Badan meissner terdapat dalam sajian kulit jari di dalam papilla dermis.
Sebagian papil ini berisi jaringan ikat dengan pembuluh darahnya dan sebagian
lainnya berisi badan khusus saraf sensoris. Bangunan ini terdiri atas percabangan
ujung serat saraf sensoris yang diselubungi sel Schwann yang tersusun horizontal
melingkar ke ujung. Dalam sajian tampak mirip jaringan ikat yang tersusun berpilin
membentuk suatu bangunan-bangunan bulat telur. Didalamnya terdapat
percabangan ujung serat saraf.

Astrosit merupakan sel jaringan ikat susunan saraf pusat. Terdapat dua jenis
astrosit, yaitu astrosit protoplasmosis dan astrosit fibrosa. Keduanya tergolong sel
glia besar. Astrosit protoplasmosis banyak ditemukan dalam substansia grissea otak
dan sedikit dalam substansia alba. Badan selnya kurang lebih sebesar badan sel

pyramid (sel saraf dalam korteks serebri). Intinya juga besar tapi sukar dikenali.
Sitoplasmanya bercabang banyak dan tampak gemuk atau tebal.
Astrosit fibrosa besarnya kurang lebih sama dengan astrosit
protoplasmosis. Sel ini terutama terdapat dalam substansia alba otak dan sedikit di
substansia grissea. Initinya juga sukar dilihat. Percabangan sitoplasmanya banyak
tapi kurus.
Yang tergolong sel glia lain disebut sel glia kecil yaitu oligodendroglia dan microglia.
Oligodendroglia merupakan sel glia yang cukup besar tapi masih lebih kecil
daripada astrosit. Sel ini terdapat dalam substansia grissea dan alba, biasanya
dekat sel pyramid. Badan sel tampak mirip kacang kedelai. Percabangan
sitoplasmanya kurus dan hanya sedikit. Initiselnya mudah dilihat biasanya besar.
Microglia merupakan sel glia yang paling kecil. Sel ini terdapat baik dalam
substansia grissea maupun substansia alba. Badan sel agak gepeng, intinya sukar
dilihat. Percabangan sitoplasma langsung dari badan sel cukup besar,disebut
cabang primer. Cabang primer ini kemudian bercabang lagi menjadi sekunder dst.
Yang agak istimewa bahwa cabang tersebut kedudukannnya selalu kurang lebih
tegak lurus terhadap cabang sebelumnya.

Dafpus
Gunawijaya FA, Kartawiguna E. Penuntun Praktikum dan Kumpulan Foto Mikroskopik
Histologi. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti; 2007. p. 52-64.