Anda di halaman 1dari 15

PANDUAN

TRIASE PASIEN
IGD RSUD H. BOEJASIN PELAIHARI TAHUN 2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pelayanan Triase
Triase berasal dari bahasa Perancis trier, bahasa Inggris triage dan diturunkan dalam
bahasa Indonesia triase yang berarti sortir. Yaitu proses khusus memilah pasien
berdasarkan beratnya cedera atau penyakit untuk menentukan jenis perawatan gawat
darurat.Triase pada dasarnya adalah proses kategorisasi dimana sistem ini mulai
dikembangkan pada akhir tahun 1950an.
Sejauh ini penelusur yang di dapat bahwa sebagian besar rumah sakit di Indonesia
masih menggunakan sistem triase klasik yaitu dengan membuat kategori cepat dengan
warna hitam,merah,kuning,dan hijau yang merupakan adaptasi dari sistem triase
bencana.Sistem tiga level ini tidak cocok diaplikasikan di UGD rumah sakit modern
yang

mempertimbangkan

evidence-based

medicine

atau

kedokteran

berbasis

bukti.Sehingga muncullah beberapa sistem triase yang berbasis bukti yang bisa menjadi
acuan salah satunya yaitu ESI (Emergency Severty Indek) dari Amerika Serikat
(Sumardiko,2012 ).
Emergency Severty Indek (ESI) dikembangkan sejak akhir tahun sembilan puluhan
di Amerika Serikat.Sistem ini bersandar pada perawat dengan pelatihan triase secara
spesifik dan jugasistem ini mengelompokkan pasien lima level berjenjang.
Triase adalah sistem seleksi dan pemilahan untuk menentukan tingkat kegawatan dan
prioritas penanganan pasien yang datang di IGD, yang bertujuan untuk memilah dan
menilai pasien agar mendapatkan pertolongan medik secara cepat dan tepat sesuai
dengan prioritas kategori kegawatdaruratannya.

Tenaga medis dan paramedis IGD

RSUD Hadji Boejasin harus memahami dan dapat membedakan kondisi pasien yang
datang di IGD sebagaii berikut :
a. Gawat darurat ; yaitu pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan
menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badan lainnya akan menjadi
cacat bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.
b. Gawat tidak darurat ; yaitu pasien akibat musibah yang datang dalam keadaan gawat
tetapi tidak memerlukan tindakan darurat.
c. Darurat tidak gawat ; yaitu pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak
mengancam nyawa dan anggota badannya

d. Tidak gawat tidak darurat ; yaitu pasien yang tidak memerlukan tindakan kedaruratan
Setelah dilakukan identifikasi tenaga medis atau paramedis melakukan klasifikasi
dan

memberi label atau kode

warna

triase

pada pasien

sesuai

tingkat

kegawatdaruratannya:
a. Segera - Immediate (I) - MERAH. Pasien mengalami cedera mengancam jiwa yang
kemungkinan

besar

dapat

hidup

bila

ditolong

segera.

Misalnya

Tension

Pneumothoraks, distress pernapasan, perdarahn internal vena besar, syok, trauma


kepala.
b. Tunda - Delayed (II) - KUNING. Pasien memerlukan tindakan defintif dan
pengawasan ketat tetapi tidak ada ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan
laserasi terkontrol, fraktur tertutup pada ekstrimitas dengan perdarahan terkontrol,
luka bakar <25% luas permukaan tubuh.
c. Minimal (III) - HIJAU. Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan dan
menolong diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya : Laserasi minor, memar
dan lecet, luka bakar superfisial.
d. Expextant (0)-HITAM. Pasien mengalami cedera mematikan dan akan meninggal
meski mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar derajat 3 hampir diseluruh tubuh,
kerusakan organ vital.
Pasien mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan warna : merah, kuning,
hijau, hitam. Setelah dilakukan dan klasifikasi pasien maka diberikan pelayanan dengan
ketentuan :
a. Penderita/korban kategori triase merah dapat langsung diberikan pengobatan diruang
tindakan IGD. Tetapi bila memerlukan tindakan medis lebih lanjut, penderita/korban
dapat dipindahkan ke ruang operasi atau dirujuk ke rumah sakit lain.
b. Penderita/korban dengan kategori triase kuning yang memerlukan tindakan medis
lebih lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi dan menunggu giliran setelah
pasien dengan kategori triase merah selesai ditangani.
c. Penderita/korban dengan kategori triase hijau dapat dipindahkan ke rawat jalan, atau
bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka penderita/korban dapat
diperbolehkan untuk pulang.
d. Penderita/korban kategori triase hitam dapat langsung dipindahkan ke kamar jenazah
setelah dipastikan penderita/korban sudah meninggal.

e. Respon time penanganan pasien:


Kategori Merah

: 5 menit

Katergori Kuning

: 15 menit

Kategori Hijau

: 60 Menit

Kategori Hitam

: dibawa ke ruang jenazah dalam waktu max 120 menit

Berikut ini adalah contoh berbagai kondisi menurut katagori emergency atau bukan:
Kedaruratan / Merah :

Henti Jantung
Henti Napas
Sumbatan Jalan Napas
Frekvensi napas (RR) < 10X/menit
Disstres napas sangat berat ( extrem )
Tekanan darah < 80 mmHg (dewasa ) atau syok pada anak/bayi
Tidak ada respon atau hanya respon nyeri GCS < 9
Kejang terus menerus berkepajangan
Overdosis tingkat IV dan tidak responsiv atau hypoventilasi
Gangguan prilaku berat dengan ancaman segera terhadap kekerasan yang

berbahaya.
Resiko Jalan napas Stridor berat.
Kesukaran Pernapasan Berat.
Gangguan sirkulasi kulit berkeringat berubah warna karena pefusi buruk.
Detak jantung < 50 atau > 150 kali per menit (dewasa)
Kehilangan darah hebat
Nyeri dada cardiac.
Fraktur mayor
Kadar gula < dari 2 mmol/L

URGEN / KUNING

Nyeri hebat apapun penyebabnya.


Mengantuk penurunan respon GCS < 13
Riwayat penyakit resiko tinggi.
Trauma lokal berat fraktur mayor/amputasi.

Kasar dan agresiv ( px gangguan jiwa )


Hypertensi berat.
Kehilangan cukup banyak darah apapun penyebabnya.
Sesak napas sedang
Riwayat kejang.
Muntah terus menerus.
Dehidrasi.
Sangat tertekan,resiko menyakiti diri sendiri.
Psikotik akut atau gangguan pikiran
Dan kasus kasus lainnya.

NON URGEN / HIJAU

Perdarahan ringan
Cedera Kepala Ringan (CKR)
Muntah atau diare tanpa Dehidrasi
Corpal mata tanpa gangguan Penglihatan
Aspirasi benda asing tanpa distres pernapasan
Luka minor-lecet,laserasi ringan tanpa perlu jahitan.

B. Pendaftaran
Pendaftaran pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat mendapatkan
prosedur pelayanan yang berbeda dengan pasien di Instalasi Rawat Jalan, dimana
dibedakan menjadi pendaftaran pasien lama dan baru. Di Instalasi Gawat Darurat
pasien ditolong terlebih dulu baru penyelesaian administrasinya. Setelah mendapat
pelayanan yang cukup, ada beberapa kemungkinan dari setiap pasien :

Pasien boleh pulang langsung/rawat jalan

Pasien memerlukan observasi

Pasien dirujuk/dikirim ke rumah sakit lain

Pasien harus dirawat dengan persyaratan sebagai berikut :


a. Pasien yang telah diperiksa oleh dokter jaga IGD dan dinyatakan harus rawat
inap jika Pasien ada keluarganya, keluarga mendaftarkan pasien di loket TPPO
untuk mendapatkan status dan nomor rekam medis

b.

Keluarga pasien membawa surat pengantar dari dokter jaga IGD ke petugas
TPPO untuk dicarikan ruangan perawatan, petugas TPPO memberitahukan
ruangan yang kosong jika ada pasien yang perlu rawat inap (Opname)

c.

Setelah dinyatakan oleh petugas TPPO tersedia ruangan perawatan maka pasien
harus dikonsultasikan dengan dokter jaga konsulen (Dokter Penanggung Jawab
Pelayanan (DPJP)) sesuai dengan diagnosisnya.

d. Jika pasien tidak diantar keluarga dan sudah dalam keadaan sadar serta dapat
diwawancarai, petugas pendaftaran rawat inap mendatangi pasien untuk
mendapatkan identitas selengkapnya.
e. Petugas TPPO mengecek data identitas pasien ke bagian rekam medis untuk
mengetahui apakah pasien pernah dirawat/berobat ke rumah sakit.
f. Bagi pasien yang pernah berobat/dirawat maka rekam medisnya segera dikirim
ke ruang perawatan yang bersangkutan dan tetap memakai nomor yang telah
dimilikinya.
g. Bagi pasien yang belum pernah di rawat atau berobat ke rumah sakit maka
diberikan nomor Rekam Medis sebagai nomor identitas pasien baik untuk
pasien rawat jalan maupun rawat inap.

C. Inform Consent
Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif
antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa
yang tidak akan dilakukan terhadap pasien. Informed consent dilihat dari aspek hukum
bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan
sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain. Dengan demikian cukup ditandatangani
oleh pasien atau walinya, sedangkan pihak rumah sakit, termasuk dokternya, hanya
menjadi saksi.
Dalam menetapkan Persetujuan Tindakan Kedokteran harus memperhatikan
ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Memperoleh informasi dan penjelasan merupakan hak pasien dan sebaliknya
memberikan informasi dan penjelasan adalah kewajiban dokter ataudokter gigi.
2. Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran dianggap benar jika memenuhi
persyaratan dibawah ini:

a. Persetujuan atau Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan untuk


tindakankedokteran yang dinyatakan secara spesifik (The Consent must be
for what will be actually performied)
b. Persetujuan atau Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan tanpa paksaan
(Voluntary)
c. Persetujuan atau Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan oleh seseorang
(pasien) yang sehat mental dan yang memang berhak memberikannya dari
segi hukum
d. Persetujuan atau Penolakan Tindakan Kedokteran diberikan setelah
diberikan cukup (adekuat) informasi dan penjelasan yang diperlukan
tentang perlunya tindakan kedokteran dilakukan.
3. Informasi dan penjesalan dianggap cukup (adekuat) jika sekurang-kurangnya
mencakup:
a. Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran
b. Tujuan dan tindakan kedokteran yang dilakukan
c. Alternative tindakan laindan risikonya
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi;
e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
f. Risiko atau akibat pasti jika tindkan kedokteran yang direncanakan tidak
dilakukan;
g. Informasi dan Penjelasan tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan
kedokteran yang dilakukan (purpose of medical procedure)
h. Informasi akibat ikutan yang biasanya terjadi sesudah tindakan kedokteran
4. Kewajiban memberikan informasi dan penjelasan
Dokter yang akan melakukan tindakan medis mempunyai tanggungjawab
utama memberikan informasi dan penjelasan yang diperlukan. Apabila
berhalangan, informasi dan penjelasan yang harus diberikan dapat diwakilkan
kepada dokter dengan sepengetahuan dokter yang bersangkutan. Bila terjadi
kesalahan dalam memberikan informasi, tanggungjawab berada ditangan
dokter yang memberikan delegasi.
Penjelasan harus diberikan secara lengkap dengan bahasa yang mudah
dimengerti atau cara lain yang bertujuan untuk mempermudah pemahaman.
Penjelasan tersebut dicatat dan didokumentasikan dalam berkas rekam medis
oleh dokter yang memberikan penjelasan dengan mencantumkan:
a. Tanggal
b. Waktu
c. Nama
d. Tandatangan
e. Pemberi penjelasan dan penerima penjelasan.

Dalam hal dokter menilai bahwa penjelasan yang akan diberikan dapat
merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasienmenolak diberikan
penjelasan, maka dokter dapat memberikan penjelasan kepada keluarga
terdekat dengan didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain sebagai saksi.
Hal-hal yang disampaikan pada penjelasan adalah:
(1) Penjelasan tentang diagnosis dan keadaan kesehatan pasien dapat meliputi:
a. Temuan klinis dari hasil pemeriksaan medis hingga saat tersebut;
b. Diagnosis penyakit atau dalam hal belum dapat ditegakkan, maka
sekurang-kurangnya diagnosis kerja dan diagnosis banding;
c. Indikasi atau keadaan klinis pasien yang membutuhkan dilakukannya
tindakan kedokteran;
d. Prognosis apabila dilakukan tindakan dan apabila tidak dilakukan
tindakan.
(2) Penjelasan tentang tindakankedokteran yang dilakukan, meliputi:
a. Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan preventif,
diagnostik, terapeutik, ataupun rehabilitatif;
b. Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami pasien selama
dan sesudah tindakan, serta efek samping atau ketidaknyamanan yang
mungkin terjadi;
c. Alternatif tindakan lain berikut kelebihan dan kekurangannya
dibandingkan dengan tindakan yang direncanakan;
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-masing
alternatif tindakan;
e. Perluasan tindakan yang mungkin dilakuakn untuk megatasi keadaan
darurat akibat risiko dan komplikasi tersebut atau keadaan tak terduga
lainnya;
Perluasan tindakan kedokteran yang tidak terdapat indikasi sebelumnya,
hanya dapat dilakukan untuk menyelamatkan pasien. Setelah perluasan
tindakan kedokteran dilakukan, dokter atau dokter gigi harus
memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarga terdekat.
(3) Penjelasan tentang risiko dan komplikasi tindakan kedokteran adalah
semua risiko dan kompliksi yang dapat terjadi mengikuti tindkan
kedokteran yang dilakukan, kecuali:
a. Risiko dan komplikasi yang sudah menjadi pengetahuan umum;
b. Risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi atau dampaknya
sangat ringan;
c. Risiko dan komplikasi yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya
(unforeseeable).

(4) Penjelasan tentang prognosis, meliputi:


a. Prognosis tentang hidup matinya (ad vitam);
b. Prognosis tentang fungsinya (ad functionam);
c. Prognosis tentang kesembuhan (ad senationam).
Yang berhak untuk memberikan persetujuan setelah mendapatkan informasi
adalah:
a. Pasien sendiri, yaitu apabila telah berumur lebih atau sama dengan 18 tahun,
atau telah menikah
b. Bagi pasien dibawah umur 18 tahun, persetujuan (informed consent) atau
Penolakan Tindakan Medis diberikan oleh mereka menurut hak sebagai
berikut:
1) Ayah/ibu kandung
2) Saudara-saudara kandung
c. Bagi pasien dibawah umur 18 tahun dan tidak mempunyai orangtua atau
orangtuanya berhalangan hadir, persetujuan (informed consent) atau Penolakan
Tindakan Medis diberikan oleh mereka menurut hak sebagai berikut:
1) Ayah/ibu adopsi
2) Saudara-saudara kandung
3) Induk semang
d. Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, persetujuan (informed consent)
atau Penolakan Tindakan Medis diberikan oleh mereka menurut hak sebagai
berikut:
1) Ayah/ibu kandung
2) Wali yang sah
3) Saudara-saudara kandung
e. Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampunan (curatelle),
persetujuan (informed consent) atau Penolakan Tindakan Medis diberikan oleh
mereka menurut hak sebagai berikut:
1) Wali
2) Curator
f. Bagi pasien dewasa yang telah menikah/orang tua, persetujuan (informed
consent) atau Penolakan Tindakan Medis diberikan oleh mereka menurut hak
sebagai berikut:
1) Suami/istri
2) Ayah/ibu kandung
3) Anak-anak kandung
4) Saudara-saudara kandung
Cara pasien menyatakan persetujuan dapat dilakukan secara terucap (oral consent),
tersurat (written consent), atau tersirat (implied consent). Setiap tindakan
kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis
yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Persetujuan

tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.


Persetujuan tertulis dibuat dalam bentuk pernyataan yang tertuang dalam formulir
Persetujuan Tindakan Kedokteran.
Persetujuan secara lisan diperlukan pada tindakan kedokteran yang tidak
mengandung risiko tinggi. Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan dianggap
meragukan, maka dapat dimintakan persetujuan tertulis.

Penolakan Tindakan Kedokteran dapat dilakukan pada kondisi :


1. Pasien dan/atau keluarga terdekatnya menolak tindakan kedokteran setelah
menerima penjelasan tentang tindakan kedokteran yang akan dilakukan.
2. Jika pasien belum dewasa atau tidak sehat akalnya, maka yang berhak
memberikan atau menolak memberikan persetujuan tindakan kedokteran
adalah orangtua, keluarga, wali atau kuratornya.
3. Bila pasien yang sudah menikah, maka suami atau istri tidak diikutsertakan
menandatangani persetujuan tindakan kedokteran, kecuali untuk tindakan
keluarga berencana yang sifatnya irreversible; yaitu tubektomi atau vasektomi.
4. Jika orang yang berhak memberikan persetujuan menolak menerima informasi
dan kemudian menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan dokter atau dokter
gigi. Maka orang tersebut dianggap telah menyetujui kebijakan medis apapun
yang akan dilakukan dokter atau dokter gigi.
5. Apabila yang bersangkutan, sesudah menerima informasi, menolak untuk
memberikan persetujuannya, maka penolakan tindakan kedokteran tersebut
harus dilakukan secara tertulis. Akibat penolakan tindakan kedokteran tersebut
menjadi tanggungjawab pasien.
6. Penolakan tindakan kedokteran tidak memutuskan hubungan dokter pasien
7. Persetujuan yang sudah diberikan dapat ditarik kembali (dicabut) setiap saat,
kecuali tindakan kedokteran yang direncanakan sudah sampai pada tahapan
pelaksanaan yang tidak mungkin lagi dibatalkan.
8. Dalam hal persetujuan tindakan kedokteran diberikan keluarga, maka yang
berhak menarik kembali (mencabut) adalah anggota keluarga tersebut atau
anggota keluarga lainnya yang kedudukan hukumnya lebih berhak sebagai
wali.

9. Penarikan kembali (pencabutan) persetujuan tindakan kedokteran harus


diberikan secara tertulis dengan menandatangani format yang disediakan.
Dokumen yang diperlukan dalam inform consent:
1. Semua hal-hal yang sifatnya luar biasa dalam proses mendapatkan persetujuan
tindakan kedokteran harus dicatat dalam rekam medis.
2. Seluruh dokumen mengenai persetujuan tindakan kedokteran harus disimpan
bersama-sama rekam medis.
3. Format persetujuan tindakan kedokteran atau penolakan tindakan kedokteran,
menggunakan formulir dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Diketahui dan ditandatangani oleh dua orang saksi. Tenaga keperawatan
bertindak sebagai salah satu saksi;
b. Formulir asli harus disimpan dalam berkas rekam medis pasien;
c. Formulir harus sudah mulai diisi dan ditandatangani 24 jam sebelum
tindakan kedokteran;
d. Dokter yang memberikan penjelasan harus ikut membubuhkan tandatangan
sebagai bukti bahwa telah memberikan informasi dan penjelasan
secukupnya;
e. Sebagai tandatangan, pasien atau keluarganya yang buta huruf harus
membubuhkan cap jempol jari kanan.
Prosedur pemberian persetujuan inform consent :
1. Panggil pasien/ wali, saksi, penterjemah (bila diperlukan) untuk mendapakan
penjelasan tentang informed consent.
2. Jelaskan informasi tentang tindakan medis yang akan dilakukan kepada pasien.
3. Jelaskan manfaat dan resiko yang dapat ditimbulkan jika tindakan tersebut
dilakukan.
4. Berikan formulir informed consent untuk dibaca dan dimengerti
5. Tandatangani formulir informed consent oleh pasien/ wali, saksi, penterjemah
(jika diperlukan).
6. Tanda tangan dokter, sebagai bukti sudah menjelaskan kepada pasien/ wali,
saksi dan penterjemah (jika diperlukan)
7. Tulis nama, alamat dan tanda tangan saksi
8. Setelah inform consent lengkap diisi masukkan ke dalam status rekam medis
pasien.
Persetujuan Tindakan Kedokteran/ Informed Consent tidak berlaku pada 5 keadaan

1.
2.
3.
4.

Keadaan darurat medis


Ancaman terhadap kesehatan masyarakat
Pelepasan hak memberikan consent (waiver)
Clinical privilege (penggunaan clinical privilege hanya dapat dilakukan pada

pasien yang melepaskan haknya memberikan consent.


5. Pasien yang tidak kompeten dalam memberikan consent
D. Sistem Komunikasi
Pada dasarnya pelayanan komunikasi di sektor kesehatan terdiri dari :
a. Komunikasi kesehatan
Sistem kornunikasi ini digunakan.untuk menunjang pelayanan kesehatan di bidang
administratif.
b. Komunikasi medis
Sistem komunikasi ini digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan di bidang
teknis-rnedis.
1) Tujuan
Untuk mempermudah dan mempercepat penyampaian dan penerimaan
informasi datam rnenanggulangi penderita gawat darurat.
2) Fungsi komunikasi medis dalam penanggulangan penderita gawat darurat
adalah:
a) Untuk memudahkan masyarakat daarn meminta pertolongan kesarana
kesehatan (akses kedalam sistim IGD)
b) Untuk mengatur dan membimbing pertolongan medis yang diberikan di
tempat kejadian dan selama perjalanan kesarana kesehatan yang lebih
memadai.
c) Untuk mengatur dan memonitor rujukan penderita gawat darurat dan
puskesmas ke rumah sakit atau antar rumah sakit.
d) Untuk mengkoordinir penanggulangan medik korban bencana.
Teknologi komunikasi di Indonesia telah berkembang pesat dan sernakin
modern, namun demikian sarana komunikasi medis belum sepenuhnya menjangkau dan
dikembangkan di seluruh pelosok tanah air. Oleh karena itu, jenis komunikasi dalam
penanggulangan penderita gawat darurat dapat berupa:
a. Komunikasi tradisionil misalnya kentongan, beduk, trompet, kurir/mulut ke
mulut
b. Komunikasi modern misalnya telepon/telepon genggam, radio komunikasi,

a.

teleks/telegram, facsimile, komputer dan telemetri.


Yang dimaksud dengan sarana kornunikasi adalah berupa:
Sentral komunikasi (Pusat konunikasi)
Fungsi Pusat Komunikasi

1. Mengkoordinir penanggulangan penderita gawat darurat mulai dari


tempat kejadian sampai ke sarana kesehatan yang sesuai (rumah sakit)
-

yaitu dengan:
menerima dan nenganalisa permintaan pertolongan
mengatur ambulans terdekat ke tempat kejadian
menghubungi rumah sakit terdekat untuk mengetahui fasilitas yang
tersedia (tempat tidur kosong) pada saat itu yang dapat diberikan

untuk penderita gawat darurat


- Mengatur/memonitor rujukan penderita gawat d rurat.
2. Menjadi pusat komando dan mengkoordinasi penanggulangan medis
korban bencana.
3. Berhubungan dengan sentral komunikasi medis dari kota lain, instansi
lain dan kalau perlu dengan negara lain.
4. Dapat diambil alih oleh aparat keamanan (TNI/POLRI) bila negara
berada dalam keadaan darurat (perang)
Syarat-syarat sentral komunikasi :
- Harus mempunyai nomor telepon khusus (sebaiknya 3 digit).
- Mudah dihubungi dan memberikan pelayanan 24 jam sehari
- Dilayani oleh tenaga medis atau paramedis perawatan yang terampil
dan berpengalaman.
Alat - alat sentral komunikasi
- Telepon
- Radio komunikasi
- Teleks/facsimile
- Komputer bila diperlukan
- Tenaga yang terampil dan komunikatif
- Konsulen medis yang menguasai masalah kedaruratan medis.
b. Jaringan komunikasi
Agar rahasia medis setiap penderita tetap terjamin, maka tenaga untuk
keperluan komunikasi seyogianya adalah tenaga medis atau paramedis
perawatan yang telah dididik dalam bidang penanggulangan penderita gawat
darurat bidang komunikasi
Tata Laksana Sistem Komunikasi IGD RSUD Hadji BoejasinPelaihari :
1. Antara IGD dengan unit lain dalam IGD RSUD Hadji BoejasinPelaihari dengan
nomor extension masing-masing unit.
2. Antara IGD dengan dokter konsulen/rumah sakit lain/yang terkait dengan
pelayanan di luar rumah sakit dengan menggunakan pesawat telepon langsung
dari IGD melalui nomor 0512- atau melalui operator di 0512-Antara IGD dengan
petugas

ambulance

yang

berada

dilapangan

menggunakan

telepon/handphone
3. Dari luarIGD RSUD Hadji Boejasin Pelaihari melalui operator.

pesawat

E. Transportasi Pasien
Menunjang kelancaran pelayanan di IGD yang tak kalah penting adalah kesigapan
petugas Ambulance selama dalam perjalanan dari menjemput pasien hingga ke rumah
sakit untuk mendapat pelayanan di Instalasi Gawat darurat. Dalam perjalanan petugas
IGD yang menjemput juga sudah melakukan triage dalam perjalanan dan melakukan
koordinasi pada petugas IGD yang siap menyambut kedatangan ambulance untuk
penanganan lebih lanjut.
Tujuan layanan transportasi pasien adalah memindahkan penderita gawat darurat
dengan aman tanpa memperberat keadaan penderita ke sarana kesehatan yang memadai
a. Sarana transportasi terdiri dari
1) kendaraan pengangkat
2) peralatan medis dan non medis)
3) petugas (tenaga medis/paramedis)
4) obat-obatan life saving dan life suppor
b. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk transportasi pendenita gawat darurat
1) Sebelum diangkat
a) gangguan pernapasan dan kardiovaskuler telah ditanggulangi
b) perdarahan telah dihentikan
c) luka-luka telah ditutup
d) patah tulang tetah difiksasi
2) Selama perjalanan harus selalu diperhatikan dan dimonitor
a) Kesadaran
b) Pemapasan
c) Tekanan darah
d) Denyut nadi
e) Keadaan luka
c. Sesuai dengan keadaan geografis di Indonesia yang terdri dan ribuah pulau, maka

d.

jenis kendaraan yang dapat digunakan pada umumnya adalah:


1) Kendaraan Darat
a) Angkutan trandisional: tandu/digotong
b) Angkutan modern
1) Kendaraan umum roda empat: berupa mobil, pick up dan truk
2) Kendaraan roda tiga: berupa bemo, bajaj, becak dan lain-lain.
3) Kendaraan khusus untuk penderita yaitu ambulance darat
2) Kendaraan laut
a) Angkutan tradisional: perahu dan rakit
b) Angkutan modern: kapal, perahu motor, ambulan laut
3) Kendaran udara (ambulans udara)
Ambulance (Kendaraan Pelayanan Medik)
Ambulan darat
a) Fungsi ambulance darat secara umurn adalah
- Sebagai alat untuk transportasi penderita (200 km)
- Sebagai sarana kesehatan untuk menangguIang penderita gawat
darurat di tempat kejadian

b)

Sebagai rumah sakit lapangan pada penanggulangan penderita gawat

darurat dalam keadaan bencana


Klasifikasi ambulance sesuai fungsinya sebagai berikut:
1) Ambulance transportasi
2) Ambulance gawat darurat
3) Ambulance rumah sakit lapangan
4) Ambulance pelayanan medik bergerak
5) Kereta jenazah
Tujuan penggunaan.persyaratan kendaraan secara teknis, medis dan
kebutuhan tenaga pengelota lihat lampiran 1
Ambulance Air
Sama dengan ambulance darat
Ambulance Udara
Fungsi ambulance udara adalah sebagai alat angkut udara penderita gawat
darurat dan lokasi kejadian ke rumah sakit.
Untuk pelayanan transporatsi pasien di IGD RSUD Hadji BoejasinPelaihari hanya
mempunyai ambulance darat yang berfungsi sebagai ambulance transportasi, ambulance
gawat darurat dan kereta jenazah. Tata Laksana transportasi pasien IGD :
1. Bagi pasien yang memerlukan penggunaan ambulance sebagai transportasi, maka
perawat IGD mengubungi supir ambulance.
2. Perawat menuliskan data-data penggunaan ambulance (nama pasien, no. RMK,
ruangan rawat inap, waktu pengggunaan dan tujuan penggunaan)
3. Perawat menghubungi petugas supir amblance untuk menyiapkan kendaraan
4. Petugas IGD / Rawat Inap
mengantar pasien sampai ke Ambulance
menyerahkan mandat selanjutnya ke supir.
5. Pasien yang kondisinya gawat harus didampingi oleh perawat IGD/rawat inap
6. Sopir mengantarkan pasien ke tempat tujuan

dan