Anda di halaman 1dari 20

Makalah Keperawatan Gerontik

Asuhan Keperawatan Lansia dengan Diabetes Mellitus

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ais Marwah
Arfiana Nurani
Dwi Wahyu STY
Enjela Popi
Fara Dila Santi
Rizqi Rachmilia
Rochma Pratiwi SS

(P17420613045)
(P17420613047)
(P17420613052)
(P17420613053)
(P17420613055)
(P17420613070)
(P17420613071)

PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN SEMARANG


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
SEMARANG
TAHUN 2016

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Proses menua adalah keadaan yang tidak dapat dihindarkan. Manusia
seperti halnya semua makhluk hidup didunia ini mempunyai batas
keberadaannya dan akan berakhir dengan kematian. Perubahan-perubahan
pada usia lanjut dan kemunduran kesehatannya kadang-kadang sukar
dibedakan dari kelainan patologi yang terjadi akibat penyakit. Dalam bidang
endokrinologi hampir semua produksi dan pengeluaran hormon dipengaruhi
oleh enzim-enzim yang sangat dipengaruhi oleh proses menjadi tua.
Diabetes mellitus yang terdapat pada usia lanjut gambaran klinisnya
bervariasi luas dari tanpa gejala sampai dengan komplikasi nyata yang
kadang-kadang menyerupai penyakit atau perubahan yang biasa ditemui pada
usia lanjut.
Dalam makalah ini dibahas masalah penyakit diabetes pada usia lanjut
beserta asuhan keperawatannya.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan pada klien lansia dengan diabetes
mellitus.
2. Tujuan Khusus
a.

Mengetahui definisi diabetes mellitus

b.

Mengetahui etiologi diabetes mellitus

c.

Mengetahui klasifikasi diabetes mellitus

d.

Mengetahui patofisiologi diabetes mellitus

e.

Mengetahui manifestasi klinik diabetes mellitus

f.

Mengetahui pemeriksaan diagnostik diabetes mellitus

g.

Mengetahui penatalaksanaan diabetes mellitus

h.

Mengetahui etiologi diabetes mellitus

i.

Mengetahui asuhan keperawatan diabetes mellitus

C. MANFAAT

a. Mahasiswa memahami definisi diabetes mellitus


b. Mahasiswa memahami diabetes mellitus
c. Mahasiswa memahami diabetes mellitus
d. Mahasiswa memahami diabetes mellitus
e. Mahasiswa memahami klinik diabetes mellitus
f. Mahasiswa memahami diagnostik diabetes mellitus
g. Mahasiswa memahami diabetes mellitus
h. Mahasiswa memahami diabetes mellitus
i. Mahasiswa memahami asuhan keperawatan diabetes mellitus

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
(Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes Melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula
(glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif
(Arjatmo, 2002).
Diabetes miletus adalah penyakit karena kekurangan hormon insulin
sehinga glukosa tidak dapat diolah oleh badan dan kadar glukosa dalam darah
meningkat, lalu dikeluarkan dalam kemih yang menjadi terasa manis. (Kamus
Kedokteran Ramali, Ahmad hal 92).
B. Etiologi
Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan bertambahnya umur, intoleransi
terhadap glukosa juga meningkat, jadi untuk golongan usia lanjut diperlukan
batas glukosa darah yang lebih tinggi daripada orang dewasa non usia lanjut.
Pada NIDDM, intoleransi glukosa pada lansia berkaitan dengan obesitas,
aktivitas fisik yang berkurang,kurangnya massa otot, penyakit penyerta,
penggunaaan obat-obatan, disamping karena pada lansia terjadi penurunan
sekresi insulin dan insulin resisten. Lebih dari 50% lansia diatas 60 tahun yang
tanpa keluhan, ditemukan hasil Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) yang
abnormal. Intoleransi glukosa ini masih belum dapat dikatakan sebagai
diabetes. Pada usia lanjut terjadi penurunan maupun kemampuan insulin
terutama pada post reseptor.
Pada lansia cenderung terjadi peningkatan berat badan, bukan karena
mengkonsumsi kalori berlebih namun karena perubahan rasio lemak-otot dan
penurunan laju metabolisme basal. Hal ini dapat menjadi faktor predisposisi

terjadinya diabetes mellitus. Penyebab diabetes mellitus pada lansia secara


umum dapat digolongkan ke dalam dua besar :
1. Proses menua/kemunduran (Penurunan sensitifitas indra pengecap,
penurunan fungsi pankreas, dan penurunan kualitas insulin sehingga
insulin tidak berfungsi dengan baik).
2. Gaya hidup (life style) yang jelek (banyak makan, jarang olahraga, minum
alkohol, dll.) Keberadaan penyakit lain, sering menderita stress juga dapat
menjadi penyebab terjadinya diabetes mellitus.
Selain itu perubahan fungsi fisik yang menyebabkan keletihan dapat
menutupi tanda dan gejala diabetes dan menghalangi lansia untuk mencari
bantuan medis. Keletihan, perlu bangun pada malam hari untuk buang air
kecil, dan infeksi yang sering merupakan indikator diabetes yang mungkin
tidak diperhatikan oleh lansia dan anggota keluarganya karena mereka
percaya bahwa hal tersebut adalah bagian dari proses penuaan itu sendiri.
Beberapa faktor yang berkaitan dengan penyebab diabetes miletus pada
lansia (Jeffrey) :
a. Umur yang berkaitan dengan penurunan fungsi sel pancreas dan
sekresi insulin
Umur yang berkaitan dengan resistensi insulin akibat kurangnya massa
b.
c.
d.
e.

otot dan perubahan vaskuler


Obesitas, banyak makanaktivitas fisik yang kurang
Penggunaan obat yang bermacam-macam
Keturutan
Keberadaan penyakit lain, sering menderita stres

C. Klasifikasi
1. Diabetes Tipe I
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut baik
melalui proses imunologik maupun idiopatik
Pada Diabetes melitus tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel
beta pankreas. Pasien diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang
merupakan predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta pankreas.
Respon autoimun dipacu oleh aktivitas limfosit, antibodi terhadap sel
pulau langerhans dan terhadap insulin itu sendiri.

Karakteristik Diabetes Melitus tipe I:


a. Mudah terjadi ketoasidosis
b. Pengobatan harus dengan insulin
c. Onset akut
d. Biasanya kurus
e. Biasanya terjadi pada umur yang masih muda
f. Berhubungan dengan HLA-DR3 dan DR4
g. Didapatkan antibodi sel islet
h. 10%nya ada riwayat diabetes pada keluarga
Faktor penyebab lain dari Dm tipe I adalah:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri, tetapi
mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah
terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada
individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana
antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi
terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai
jaringan asing, Yaitu oto antibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans
dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang
menimbulkan destruksi selbeta.
2. Diabetes Tipe II
Pada diabetes melitus tipe 2 yang sering terjadi pada lansia, jumlah
insulin normal

tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada

permukaan sel yang kurang sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel
sedikit dan glukosa dalam darah menjadi meningkat.
Bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi
insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama
resistensi insulin. Karakteristik DM tipe II :
a. Sukar terjadi ketoasidosis
b. Pengobatan tidak harus dengan insulin
c. Onset lambat

d.
e.
f.
g.
h.
i.

Gemuk atau tidak gemuk


Biasanya terjadi pada umur > 45 tahun
Tidak berhubungan dengan HLA
Tidak ada antibodi sel islet
30%nya ada riwayat diabetes pada keluarga
100% kembar identik terkena

D. Patofisiologi
Dalam proses metabolisme, insulin memegang peranan penting yaitu
memasukkan glukosa ke dalam sel yang digunakan sebagai bahan bakar.
Insulin adalah suatu zat atau hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pankreas.
Bila insulin tidak ada maka glukosatidak dapat masuk sel dengan akibat
glukosa akan tetap berada di pembuluh darah yangartinya kadar glukosa di
dalam darah meningkat. Pada Diabetes melitus tipe 3 terjadi kelainan sekresi
insulin oleh sel beta pankreas.Pasien diabetes tipe ini mewarisi kerentanan
genetik yang merupakan predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta
pankreas. Respon autoimun dipacu oleh aktivitas limfosit, antibodi terhadap
sel pulau langerhans dan terhadap insulin itu sendiri. Pada diabetes melitus
tipe 2 yang sering terjadi pada lansia, jumlah insulin normal tetapi jumlah
reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang sehingga
glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah menjadi
meningkat
E. Manifestasi Klinik
Keluhan umum keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia,
polifagia pada lansia umumnya tidak ada. Osmosis dieresis akibat glukosuria
tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi atau dapat muncul keluhan
nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan
haus pada pasien diabetes miletus lansia kurang dirasakan akibatnya mereka
tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia
atau baru terjadi pada stadium lanjut. Sebaliknya yang sering mengganggu
pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh
darah dan saraf. Pada diabetes miletus lansia terdapat perubahan patofisiologi
akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa
gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan

yang sering

muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan


pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai
yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Glukosa darah sewaktu
a. Kadar glukosa darah puasa
b. Tes toleransi glukosa
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes miletus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan:
a. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
b. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
c. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat.
G. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan
aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi
komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe
diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1. Diet
Suatu perencanaan makanan yang terdiri dari 10% lemak, 15% Protein,
75% Karbohidrat kompleks direkomendasikan untuk mencegah diabetes.
Kandungan rendah lemak dalam diet ini tidak hanya mencegah
arterosklerosis, tetapi juga meningkatkan aktivitas reseptor insulin.
2. Latihan
Latihan juga diperlukan untuk membantu mencegah diabetes. Pemeriksaan
sebelum latihan sebaiknya dilakukan untuk memastikan bahwa klien lansia
secara fisik mampu mengikuti program latihan kebugaran. Pengkajian
pada tingkat aktivitas klien yang terbaru dan pilihan gaya hidup dapat
membantu menentukan jenis latihan yang mungkin paling berhasil.
Berjalan atau berenang, dua aktivitas dengan dampak rendah, merupakan
permulaan yang sangat baik untuk para pemula. Untuk lansia dengan
NIDDM, olahraga dapat secara langsung meningkatkan fungsi fisiologis

dengan mengurangi kadar glukosa darah, meningkatkan stamina dan


kesejahteraan emosional, dan meningkatkan sirkulasi, serta membantu
menurunkan berat badan.
3. Pemantauan
Pada pasien dengan diabetes, kadar glukosa darah harus selalu diperiksa
secara rutin. Selain itu, perubahan berat badan lansia juga harus dipantau
untuk mengetahui terjadinya obesitas yang dapat meningkatkan resiko DM
pada lansia.
4. Terapi (jika diperlukan)
Sulfoniluria adalah kelompok obat yang paling sering diresepkan dan
efektif hanya untuk penanganan NIDDM. Pemberian insulin juga dapat
dilakukan untuk mepertahankan kadar glukosa darah dalam parameter
yang

telah ditentukan untuk membatasi komplikasi penyakit yang

membahayakan.
5. Pendidikan
a. Diet yang harus dikomsumsi
b. Latihan
c. Penggunaan insulin
H. Komplikasi
Komplikasi diabetes mellitus diklasifikasikan menjadi:
1. Komplikasi akut
Diabetes ketoasidosis
Diabetes ketoasidosis adalah akibat yang berat dari deficit insulin yang
berat pada jaringan adipose, otot skeletal, dan hepar. Jaringan tersebut
termasuk sangat sensitive terhadap kekurangan insulin. DKA dapat
dicetuskan oleh infeksi ( penyakit)
2. Komplikasi kronis
a. Retinopati diabetic
Lesi paling awal yang timbul adalah mikroaneurism pada pembuluh
retina. Terdapat pula bagian iskemik, yaitu retina akibat berkurangnya
aliran darah retina. Respon terhadap iskemik retina ini adalah
pembentukan pembuluh darah baru, tetapi pembuluh darah tersebut
sangat rapuh sehingga mudah pecah dan dapat mengakibatkan
perdarahan vitreous. Perdarahan ini bisa mengakibatkan ablasio retina
atau berulang yang mengakibatkan kebutaan permanen.
b. Nefropati diabetic

Lesi renal yang khas dari nefropati diabetic adalah glomerulosklerosis


yang nodular yang tersebar dikedua ginjal yang disebut sindrom
Kommelstiel-Wilson. Glomeruloskleriosis nodular dikaitkan dengan
proteinuria, edema dan hipertensi. Lesi sindrom Kommelstiel-Wilson
ditemukan hanya pada DM.
c. Neuropati
Neuropati diabetic terjadi pada 60 70% individu DM. neuropati
diabetic yang paling sering ditemukan adalah neuropati perifer dan
autonomic.
d. Displidemia
Lima puluh persen individu dengan DM mengalami dislipidemia.
e. Hipertensi
Hipertensi pada pasien dengan DM tipe 1 menunjukkan penyakit
ginjal, mikroalbuminuria, atau proteinuria. Pada pasien dengan DM
tipe 2, hipertensi bisa menjadi hipertensi esensial. Hipertensi harus
secepat mungkin diketahuin dan ditangani karena bisa memperberat
retinopati, nepropati, dan penyakit makrovaskular.
f. Kaki diabetic
Ada tiga factor yang berperan dalam kaki diabetic yaitu neuropati,
iskemia, dan sepsis. Biasanya amputasi harus dilakukan. Hilanggnya
sensori pada kaki mengakibatkan trauma dan potensial untuk ulkus.
Perubahan mikrovaskuler dan makrovaskuler dapat mengakibatkan
iskemia jaringan dan sepsis. Neuropati, iskemia, dan sepsis bisa
menyebabkan gangrene dan amputasi.
g. Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan dengan kadar glukosa darah di bawah 60
mg/dl, yang merupakan komplikasi potensial terapi insulin atau obat
hipoglikemik oral. Penyebab hipoglikemia pada pasien sedang
menerima pengobatan insulin eksogen atau hipoglikemik oral.

I. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas
DM pada pasien usia lanjut umumnya terjadi pada usia 60 tahun dan
umunya adalah DM tipe II (non insulin dependen) atau tipe DMTTI

b. Keluhan utama
DM pada usia lanjut mungkin cukup sukar karena sering tidak khas
dan asimtomatik (contohnya: kelemahan, kelelahan, BB menurun,
terjadi infeksi minor, kebingunan akut atau depresi).
c. Riwayat penyakit dahulu
Terjadi pada penderita dengan DM yang lama
d. Riwayat penyakit sekarang
Pada umumnya pasien datang ke RS dengan keluhan gangguan
penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta
kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar
sembuh dengan pengobatan lazim.
e. Riwayat penyakit keluarga
Dalam anggota keluarga tersebut salah satu anggota keluarga ada yang
menderita DM
2. Pemeriksaan Fisik
a. Sel (Perubahan sel)
Sel menjadi lebih sedikit,jumlah dan ukurannya menjadi lebih besar,
berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangbya cairan intrasel.
b. Sistem integumen
Kulit keriput akibat kehilangan lemak, kulit kering dan pucat dan
terdapat bintik-bintik hitam akibat menurunnya aliran darah kekulit
dan menurunnya sel-sel yang memproduksi pigmen, kuku pada jari
tengah dan kaki menjadi tebal dan rapuh. Pada orang berusia 60 tahun
rambut wajah meningkat, rambut menipis/botak dan warna rambut
kelabu, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya..
c. Sistem muskuler
Kecepatan dan kekuatan kontraksi otot skeletal berkurang pengecilan
otot karena menurunnya serabut otot. Pada otot polos tidak begitu
berpengaruh.
d. Sistem pendengaran
Presbiakusis (menurunnya pendengaran pada lansia) membran timpani
menjadi altrofi menyebabkan austosklerosis, penumpukkan serumen
sehingga mengeras karena meningkatnya keratin
e. Sistem penglihatan
1) Karena berbentuk speris, sfingther pupil timbul sklerosis dan
hilangnya

respon

terhadap

sinar,

lensa

menjadi

keruh,

meningkatnya ambang penglihatan (daya adaptasi terhadap


kegelapan lebih lambat, susah melihat gelap).
2) Hilangnya akomodasi menurunnya lapang pandang karena
berkurangnya luas pandangan.
3) Menurunnya daya membedakan warna hijau atau biru pada skala.
f. Sistem pernafasan
Otot-otot
pernafasan
kehilangan
kekuatan
dan
menjadi
kaku,menurunnya aktivitas silia, paru kurang elastis, alveoli kurang
melebar biasanya dan jumlah berkurang. Oksigen pada arteri menurun
menjadi 75 mmHg. Karbon oksida pada arteri tidak berganti
kemampuan batuk berkurang.
g. Sistem Kardiovaskuler
Katub jantung menebal dan menjadi kaku. Kemampuan jantung
memompa darah menurun 1% pertahun. Kehilangan obstisitas
pembuluh darah, tekanan darah meningkat akibat meningkatnya
resistensi pembuluh darah perifer.
h. Sistem Gastrointestinal
Kehilangan gigi, indra pengecap menurun, esofagus melebar, rasa
lapar menurun, asam lambung menurun waktu pengosongan lambung,
peristaltik lemah sehingga sering terjadi konstipasi, hati makin
mengecil.
i. Sistem Perkemihan
Ginjal mengecil, nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun
sampai 50%, laju filtrasi glumerulus menurun sampai 50%, fungsi
tubulus berkurang sehingga kurang mampu memekatkan urine,
proteinuria bertambah, ambang ginjal terhadap glukosa meningkat,
kapasitas kandung kemih menurun karena otot yang lemah, frekuensi
berkemih meningkat, kandung kemih sulit dikosongkan, pada orang
terjadi peningkatan retensi urin dan pembesaran prostat (75% usia
diatas 60 tahun).
j. Sistem Reproduksi
Selaput lendir vagina menurun/kering, menciutnya ovarium dan
uterus, atrofi payudara testis masih dapat memproduksi meskipun
adanya penurunan secara berangsur-angsur, dorongan seks menetap
sampai usia 70 tahun asal kondisi kesehatan baik

k. Sistem Endokrin
Produksi semua hormon menurun, fungsi paratiroid dan sekresinya
tidak berubah, berkurangnya ACTH, TSH, FSH dan LH. Menurunnya
aktivitas tiroid sehingga laju metabolisme tubuh (BMR) menurun.
Menurunnya produk aldusteran, a. menurunnya sekresi, hormon
godad, progesteron, estrogen dan testosteron.
l. Sistem Sensori
Reaksi menjadi lambat kurang sensitif terhadap sentuhan (berat otak
menurun sekitar 10-20%)
3. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan metabolisme protein, lemak.
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan osmotik diuresis
ditandai dengan tugor kulit menurun dan membran mukasa kering.
c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status
metabolik(neuropati perifer) ditandai dengan gangren pada extremitas
d. Kelelahan berhubungan dengan kondisi fisik yang kurang
e. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan glukosa darah yang tinggi.
4. Intervensi Keperawatan
a. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan metabolisme protein, lemak
Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi
pasien dapat terpenuhi.
Kriteria Hasil:
1) Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
2) Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
Intervensi
Rasional
Timbang berat badan sesuai indikasi.
Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat.
Tentukan program diet, pola makan dan Mengidentifikasikan
kekurangan
dan
bandingkan dengan makanan yang penyimpangan dari kebutuhan terapeutik.
dapat dihabiskan klien.
Auskultrasi bising usus, catat nyeri Hiperglikemi, gangguan keseimbangan cairan
abdomen

atau

perut

kembung, dan elektrolit menurunkan motilitas atau

mual,muntah dan pertahankan keadaan fungsi lambung (distensi atau ileus paralitik).

puasa sesuai indikasi.


Berikan
makanan
mengandung

nutrisi

cair
dan

yang Pemberian makanan melalui oral lebih baik


elektrolit. diberikan

pada

klien

sadar

dan

fungsi

Selanjutnya memberikan makanan yang gastrointestinal baik.


lebih padat.
Identifikasi makanan yang disukai.
Kerja sama dalam perencanaan makanan.
Libatkan keluarga dalam perencanaan Meningkatkan rasa keterlibatannya, memberi
makan.
Observasi

informasi pada keluarga untuk memahami


tanda

kebutuhan nutrisi klien.


hipoglikemia Pada metabolisme kaborhidrat (gula darah

(perubahan tingkat kesadaran, kulit akan berkurang dan sementara tetap diberikan
lembap atau dingin, denyut nadi cepat, tetap

diberikan

insulin,

maka

terjadi

lapar, peka rangsang, cemas, sakit hipoglikemia terjadi tanpa memperlihatkan


kepala, pusing).

perubahan tingkat kesadaran.

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan osmotik diuresis ditandai


dengan tugor kulit menurun dan membran mukosa kering.
Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan cairan atau
hidrasi pasien terpenuh
Kriteria Hasil:
Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital
stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik,
haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas
normal.
Intervensi
Kaji riwayat klien sehubungan dengan Membantu
lamanya atau intensitas dari gejala volume

Rasional
memperkirakan

kekurangan

total.

Adanya

proses

infeksi

seperti muntah dan pengeluaran urine mengakibatkan

demam

dan

keadaan

yang berlebihan.

hipermetabolik

yang

meningkatkan

kehilangan air.
Pantau tanda-tanda vital, catat adanya Hipovolemi dimanifestasikan oleh hipotensi
perubahan tekanan darah ortostatik.

dan takikardia. Perkiraan berat ringannya


hipovolemi saat tekanan darah sistolik turun

10 mmHg dari posisi berbaring ke duduk


Pantau

pola

napas

atau berdiri.
adanya Perlu mengeluarkan asam karbonat melalui

seperti

pernapasan Kussmaul atau pernapasan pernapasan yang menghasilkan kompensasi


yang berbau keton.

alkalosis

respiratoris

terhadap

keadaan

ketoasidosis. Napas bau aseton disebabkan


pemecahan asam asetoasetat dan harus
Pantau

frekuensi

dan

berkurang bila ketosis terkoreksi.


kualitas Hiperglikemia dan asidosis menyebabkan

pernapasan, penggunaan otot bantu pola dan frekuensi pernapasan normal. Akan
napas,

adanya

periode

apnea

sianosi.

dan tetapi

peningkatan

kerja

pernapasan,

pernapasan dangkal dan cepat serta sianosis


merupakan

indikasi

dari

kelelahan

pernapasan atau kehilangan kemampuan


Pantau

suhu,

warna

kulit,

kelembapannya.

melalui kompensasi pada asidosis.`


atau Demam, menggigil, dan diaphoresis adalah
hal umum terjadi pada proses infeksi, demam
dengan kulit kemerahan, kering merupakan

tanda dehidrasi.
Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, Merupakan indicator tingkat dehidrasi atau
turgor kulit, dan membrane mukosa.

volume sirkulasi yang adekuat.

c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik


(neuropati perifer) ditandai dengan gangren pada extremitas.
Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan tidakterjadi komplikasi.
Kriteria Hasil:
a. Menunjukan peningkatan integritas kulit
b. Menghindari cidera kulit
Inspeksi
warna,

Intervensi
kulit terhadap

Rasional
perubahan Menandakan aliran sirkulasi buruk yang

turgor, vaskuler, perhatikan dapat menimbulkan infeksi

kemerahan.
Ubah posisi setiap 2 jam beri bantalan Menurunkan
pada tonjolan tulang

tekanan

menurunkan iskemia

pada

edema

dan

Pertahankan alas kering dan bebas Menurunkan iritasi dermal


lipatan
Beri
perawatan

kulit

seperti Menghilangkan kekeringan pada kulit dan

penggunaan lotion
robekan pada kulit
Lakukan perawatan luka dengan teknik Mencegah terjadinya infeksi
aseptik
Anjurkan pasien untuk menjaga agar Menurunkan resiko cedera pada kulit oleh
kuku tetap pendek
karena garukan
Motivasi klien untuk makan makanan Makanan
TKTP
TKTP

dapat

membantu

penyembuhan jaringan kulit yang rusak

d. Kelelahan berhubungan dengan kondisi fisik yang kurang.


Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan kelelahan dapat
teratasi.
Kriteria Hasil:
a. Mengidentifikasikan pola keletihan setiap hari.
b. Mengidentifikasi tanda dan gejala peningkatan aktivitas penyakit
yang mempengaruhi toleransi aktivitas.
c. Mengungkapkan peningkatan tingkat energi.
d. Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam
aktivitas yang diinginkan.
Intervensi
Diskusikan kebutuhan akan aktivitas. Pendidikan
Buat

jadwal

perencanaan

dan untuk

Rasional
dapat memberikan

meningkatkan

tingkat

motivasi
aktivitas

identifikasi aktivitas yang menimbulkan meskipun klien sangat lemah.


kelelahan.
Diskusikan penyebab keletihan seperti Dengan mengetahui penyebab keletihan,
nyeri sendi, penurunan efisiensi tidur, dapat menyusun jadwal aktivitas.
peningkatan upaya yang diperlukan
untuk ADL.
Bantu mengidentivikasi pola energi dan Mengidentifikasi waktu puncak energi dan
buat rentang keletihan. Skala 0-10 kelelahan membantu dalam merencanakan
(0=tidak lelah, 10= sangat kelelahan)

akivitas untuk memaksimalkan konserfasi


energi dan produktivitas.

Berikan

aktivitas

alternatif

dengan Mencegah kelelahan yang berlebih.

periode istirahat yang cukup/ tanpa


diganggu.
Pantau nadi , frekuensi nafas, serta Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat
tekanan darah sebelum dan seudah ditoleransi secara fisiologis.
melakukan aktivitas.
Tingkatkan partisipasi

klien

dalam Memungkinkan kepercayaan diri/ harga diri

melakukan aktivitas sehari-hari sesuai yang positif sesuai tingkat aktivitas yang
kebutuhan.
dapat ditoleransi.
Ajarkan untuk mengidentifikasi tanda Membantu dalam mengantisipasi terjadinya
dan

gejala

peningkatan

yang
aktivitas

menunjukkan keletihan yang berlebihan.


penyakit

dan

mengurangi aktivitas, seperti demam,


penurunan berat badan, keletihan makin
memburuk.
e. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan glukosa darah yang tinggi.
Tujuan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi tandatanda infeksi
Kriteria Hasil:
a. Tidak ada rubor, kalor, dolor, tumor, fungsiolesia.
b. Terjadi perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya
infeksi.
Observasi

Intervensi
tanda-tanda infeksi

Rasional
dan Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang

peradangan sperti demam, kemerahan, biasanya

telah

mencetuskan

keadaan

adanya pus pada luka, sputum purulen, ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi
urine warna keruh atau berkabut.
nosokomial.
Tingkatkan upaya pencegahan dengan Mencegah timbulnya infeksi nosokomial.
melakukan cuci tangan yang baik pada
semua orang yang berhubungan dengan
pasien termasuk pasiennya sendiri.
Pertahankan teknik aseptik pada Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan

prosedur invasif.

menjadi meddia terbaik dalam pertumbuhan

kuman.
Berikan perawatan kulit dengan teratur Sirkulasi

perifer

bisa

terganggu

dan

dan sungguh-sungguh, masase daerah menempatkan pasien pada peningkatan risiko


tulang yang tertekan, jaga kulit tetap terjadinya kerusakan pada kulit.
kering, linen kering dan tetap kencang.
Berikan tisue dan tempat sputum pada Mengurangi penyebaran infeksi.
tempat yang mudah dijangkau untuk
penampungan sputum atau secret yang
lainnya.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Diabetes mellitus merupakan suatu gangguan kronis yang ditandai
dengan metabolisme karbohidrat dan lemak yang diakibatkan oleh
kekurangan insulin atau secara relatif kekurangan insulin.
Klasifikasi diabetes mellitus yang utama adalah tipe I : Insulin
Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) dan tipe II : Non Insulin Dependent
Diabetes Mellitus (NIDDM)
Faktor yang berkaitan dengan penyebab diabetes mellitus pada lansia
adalah Umur yang berkaitan dengan penurunan fungsi sel pankreas dan
sekresi insulin, Umur yang berkaitan dengan resistensi insulin akibat
kurangnya massa otot dan perubahan vaskuler, Obesitas, banyak makan,
Aktivitas fisik yang kurang, Penggunaan obat yang bermacam-macam,
Keturunan, Keberadaan penyakit lain, sering menderita stress.
Pada DM lansia tidak terjadi poliuria, polidipsia, akan tetapi keluhan
yang sering muncul adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik
pada pembuluh darah dan saraf. Prinsip penatalaksanaan DM lansia adalah
Menilai penyakitnya secara menyeluruh dan memberikan pendidikan
kepada pasien dan keluarganya, Menghilangkan gejala-gejala akibat
hiperglikemia,Lebih bersifat konservatif, Mengendalikan glukosa darah dan
berat badan.

DAFTAR PUSTAKA

Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek


Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.
Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih
bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.
Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa
YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.
Luecknote, Annette Geisler, Gerontologic Nursing second Edition, St. Louis
Missouri : Mosby,Inc, 2000.
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry
Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.
Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia
Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.
Francis S Greenspan, John D Baxter. Endokrinologi dasar & klinik edisi 4, Jakarta
: EGC, 1998.