Anda di halaman 1dari 7

Kotak Pencarian...

Jajaran Pimpinan Dinkes Karawang

PHBS

UKBM

DESA SIAGA

PENANGGULANGAN DAMPAK ROKOK

MEDIA

DATA DAN INFORMASI

Penduduk Sasaran Program

Capaian Indikator Kesehatan

Direktori Sarana Kesehatan

Informasi Puskesmas

Pengumuman

Info Pengadaan

HOME

O
O

PROFIL
INFO PUBLIK

LAYANAN PUBLIK

O
O

GALERI
DOWNLOAD

ARTIKEL

Perilaku Tidak Merokok Di Dalam Rumah

Drg. Veronica Maulana, MKM dan Wanto Sudaryanto, MKM

Latar Belakang
Derajat Kesehatan merupakan salah satu unsur penting dalam upaya peningkatan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) bangsa Indonesia. Sementara itu, derajat kesehatan tidak hanya
ditentukan oleh pelayanan kesehatan, tetapi yang lebih dominan adalah kondisi lingkungan dan
perilaku masyarakat.
Upaya untuk mengubah perilaku masyarakat agar mendukung peningkatan derajat kesehatan
dilakukan melalui program pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Walaupun
program pembinaan PHBS ini sudah berjalan sekitar 19 tahun, namun keberhasilannya masih
jauh dari yang diharapkan. Riskesdas Tahun 2007 mengungkapkan bahwa rumah tangga di
Indonesia mempraktikkan PHBS baru mencapai 38,7%. Padahal Renstra Kementerian Kesehatan

menetapkan target pada tahun 2014 rumah tangga yang mempraktikkan PHBS adalah 70%.
Sedangkan di tingkat propinsi Jawa Barat, target PHBS tatanan rumah tangga tahun 2014
adalah 65%.
Berdasarkan hasil pendataan PHBS tatanan rumah tangga tahun 2013 di Kabupaten Karawang,
cakupan rumah tangga ber PHBS di Kabupaten Karawang adalah 52%, dimana hasil ini masih
lebih rendah dari target Provinsi Jawa Barat yaitu rumah tangga ber PHBS harus mencapai 65%.
perilaku tidak merokok di dalam rumah cakupannya masih sangat kurang yaitu 45%. Cakupan
perilaku tidak merokok di dalam rumah merupakan cakupan yang terkecil dibandingkan
cakupan indikator PHBS lainnya. Hal ini berarti perilaku merokok di dalam rumah
mempengaruhi pencapaian cakupan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Kabupaten Karawang.
Mengingat cakupan PHBS tatanan rumah tangga yang masih di bawah target propinsi dan
nasional, serta mengetahui cakupan yang terendah dari 10 indikator PHBS tatanan rumah
tangga adalah tidak merokok di dalam rumah. Maka kami tertarik untuk mengetahui gambaran
perilaku tidak merokok di dalam rumah di kabupaten Karawang tahun 2013.
Bahaya Asap Rokok Orang Lain
Banyak yang menganggap bahwa merokok merupakan hak asasi manusia. Seorang perokok
merasa berhak membelanjakan uangnya, mengambil keputusan untuk membeli rokok, dan
menanggung beban akibat pembeliannya. Akan tetapi dengan adanya resiko penyakit dan
kematian dini akibat pembelian dan penggunaannya, dan adanya fakta bahwa remaja yang
belum mampu menilai dengan benar dampak dari merokok adalah konsumen pemula terbesar,
serta adanya orang lain yang menanggung beban akibat pembelian dan konsumsi rokok oleh
perokok. Maka merokok menjadi sebuah permasalahan.
Asap rokok orang lain (AROL) adalah asap yang keluar dari ujung rokok yang menyala atau
produk tembakau lainnya, yang biasanya merupakan gabungan dengan asap rokokyang
dikeluarkan oleh perokok.Asap rokok terdiri dari asap utama (main stream) yang mengandung
25% kadar bahan berbahaya dan asap sampingan (side stream) yang mengandung 75% kadar
bahan berbahaya. Perokok pasif mengisap 75% bahan berbahaya ditambah separuh dari asap
yang dihembuskan keluar oleh perokok. (www.ino.searo.who).
Di dalam ruang tertutup, partikel-partikel racun dari asap rokok, dapat tinggal di tempat yang
sama selama kurang lebih dua jam walaupun sudah kasat mata bahkan sudah hilang baunya.
Partikel racun akan menempel di dinding, karpet, dan benda-benda di sekitarnya, siap
dilepaskan kembali ke udara untuk diisap orang lain (YLMMM, 2010)
Asap Rokok mengandung 4000 bahan kimia beracun dan tidak kurang dari 69 diantaranya
bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker.

Analisa Perilaku
Cakupan perilaku merokok di dalam rumah yang masih tinggi disebabkan oleh faktor faktor,
terutama faktor lingkungan dan faktor individu itu sendiri. Dalam makalah kali ini kami akan
menganalisa permasalahan dari aspek perilaku masyarakat, tenaga kesehatan sebagai faktor
pendorong dan kebijakan pemerintah sebagai faktor penguat.
Perilaku Masyarakat
Rendahnya pemahaman masyarakat dan sering kali ditambah dengan berbagai mitos yang
berkembang di masyarakat justru merugikan masyarakat sendiri, dan terus dihembushembuskan oleh industri tembakau untuk menghalangi perlindungan kesehatan masyarakat.
Teori psikologi menyebutkan kebiasaan-kebiasaan sehat sangat dipengaruhi oleh sosialisasi
pada awal kehidupan, terutama pengaruh orangtua sebagai acuan untuk meniru. Namun
beberapa bagian yang terjadi di Indonesia adalah, orangtua tidak menjadikan momen meniru
pada anak-anak sebagai cara untuk mengajarkan kebiasaan sehat, tetapi malah sebaliknya.
Dilihat dari data Susenas, 85,4 persen perokok aktif merokok dalam rumah bersama anggota
keluarga, diantaranya anak-anak dan lebih dari 70 persen atau lebih dari 43 juta anak
Indonesia serumah dengan prokok aktif (Pusat Promkes Kesehatan, 2011). Angka ini berarti,
sebagian besar anak-anak Indonesia melihat secara langsung bagaimana orangtuanya, maupun
anggota keluarga yang lain merokok di hadapannya langsung. Hal ini jelas bertentangan dengan
kebiasaan sehat. Orangtua maupun anggota keluarga yang lain tentu tidak memberikan contoh
yang baik bagi si anak. Mereka melakukan kegiatan merokok di dalam rumah, yang selain
menyebabkan si anak menjadi perokok pasif yang sama-sama berbahaya bagi tubuh
mereka, anak-anak juga menirukan atau menjadikan orangtua atau anggota keluarga
mereka yang merokok tersebut sebagai seorang model. Anak-anak tersebut belajar
mengobservasi dari orang-orang di sekitarnya. Belajar melalui observasi jauh lebih efisien
dibanding belajar melalui pengalaman langsung. Melalui observasi anak dapat memperoleh
respon yang tidak terhingga banyaknya, yang mungkin diikuti dengan hubungan atau penguatan
(www.kesehatam.kompasiana.com).
Keluarga yang terbiasa dengan perilaku merokok atau tidak melarang perbuatan tersebut,
sangat berperan untuk menjadikan seorang anak menjadi perokok dibandingkan dengan
keluarga yang bukan perokok. Beberapa penelitian melaporkan, anak yang kedua orang tuanya
merokok kemungkinan besar akan menjadi perokok juga, terlebih jika saudara kandung yang
lebih tua seorang perokok, anak-anak tersebut memiliki risiko empat kali lipat untuk menjadi
perokok. (www.digilib.unimus.com).
Tenaga Kesehatan

Melalui program promosi kesehatan sebagaimana kebijakan nasional promosi kesehatan,


Tenaga kesehatan berupaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui
pembelajaran diri oleh, untuk dan bersama masyarakat agar mereka dapat menolong dirinya
sendiri serta mengembangkan kegiatan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.
Upaya tersebut antara lain

Penyuluhan tentang bahaya merokok di pondok pesantren, penyuluhan di SD/MI,


SMP/MTS, penyuluhan pada tokoh masyarakat, sosialisasi pada lintas sektor tentang
penerapan kawasan tanpa rokok serta pemantapan kemampuan petugas kesehatan
terhadap deteksi dini penyakit akibat rokok.

Menyediakan sarana pojok merokok ( Kawasan tanpa Rokok (KTR) dibeberapa tempat /
instansi yang akan melokalisir para perokok sehingga asap rokok tidak menganggu orang
lain serta diharapkan dapat memunculkan budaya malu untuk merokok di sembarang
tempat,

Menyediakan sarana promosi kesehatan berupa baliho, banner dan poster tentang
bahaya merokok yang dapat dijadikan sarana sosialisasi pada masyarakat.

Penyuluhan dan KTR yang selama ini dilakukan oleh petugas kesehatan, belum bisa dikatakan
berhasil karena petugas kesehatan kurang melibatkan masyarakat sebagai pelaku dan
penderita dari perilaku tidak sehat. Teknik yang dilakukan masih didominasi oleh penyuluhan
massa yang sifatnya satu arah. Hal ini dikarenakan kurangnya kompetensi petugas kesehatan
tentang cara konseling, kurangnya mengikuti pelatihan pelatihan pemicuan dan
pemberdayaan serta kurangnya waktu untuk belajar mandiri, seperti membaca buku, mengkaji
masalah dan lain-lain.
Kebijakan
Ketika masyarakat belum sepenuhnya memahami resiko bahaya asap rokok orang lain,
pemerintah berkewajiban menegakkan peraturan yang efektif melindungi warganya secara
penuh dan tidak hanya memberikan perlindungan parsial dengan membiarkan masyarakat
terkontaminasi asap rokok orang lain di ruang tertutup. Keseriusan pemerintah dapat terlihat
dari ada tidaknya kebijakan yang telah dibuat untuk mendukung program kawasan tanpa rokok.
Kebijakan (Policy) adalah sejumlah keputusan yang dibuat oleh mereka yang bertanggung
jawab dalam bidang kebijakan tertentu. Kebijakan Publik (Public Policy) adalah kebijakan
kebijakan yang dibuat oleh pemerintah atau negara. Kebijakan Kesehatan (Health Policy)
adalah segala sesuatu untuk mempengaruhi faktor faktor penentu di sektor kesehatan agar
dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Kebijakan mengenai rokok tergolong
dalam kebijakan kesehatan yang juga merupakan bagian dari kebijakan publik
(puspromkes,2011).

Sejak tahun 1999, melalui PP 19/2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, Indonesia
telah memiliki peraturan untuk melarang orang merokok di tempat-tempat yang ditetapkan.
Peraturan Pemerintah tersebut, memasukkan peraturan Kawasan Tanpa Rokok pada bagian
enam pasal 22 25. Seperti disebutkan pada PP Nomor 19/2003 pasal 22 bahwa tempat umum,
sarana kesehatan, tempat kerja, tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat
ibadah dan angkutan umum dinyatakan sebagai kawasan tanpa rokok. Pasal 25 memberikan
kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok. Namun
peraturan tersebut belum menerapkan 100% Kawasan Bebas Asap Rokok karena masih
dibolehkan membuat ruang khusus untuk merokok dengan ventilasi udara di tempat umum dan
tempat kerja. Dengan adanya ruang untuk merokok, kebijakan kawasan tanpa rokok nyaris
tanpa resistensi. Pada kenyataannya, ruang merokok dan ventilasi udara, secara ilmiah
terbukti tidak efektif untuk melindungi perokok pasif, disamping rawan manipulasi dengan
dalih hak azasi bagi perokok (puspromkes, 2011).
Menindaklanjuti pasal 25 PP 19/2003, beberapa pemerintah daerah telah mengeluarkan
kebijakan Kawasan Tanpa Rokok. Sampai dengan awal tahun 2013 baru terdapat 58 (lima puluh
delapan) Kabupaten/Kota di 23 (dua puluh tiga) propinsi yang memiliki kebijakan kawasan
tanpa rokok (republika.com).
Di Kabupaten Karawang sendiri, peraturan kawasan tanpa rokok belum secara eksplisit.
Peraturan mengenai Kawasan Tanpa Rokok berada pada Peraturan Pemerintah Daerah
Kabupaten Karawang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan dan
Keindahan. Dalam peraturan tersebut pada pasal 26 masih menyediakan ruang khusus untuk
merokok sehingga dapat dikatakan Pemda Kabupaten Karawang belum menerapkan 100%
Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
Selain kebijakan nasional yang telah ada, penetapan bea cukai rokok yang tinggi ditujukan agar
perokok dapat mengurangi kebiasaan merokoknya atau bahkan menghilangkan sama sekali.
Jika perokok mengeluarkan biaya terus-menerus dengan biaya yang mahal dapat dilihat masa
mendatang keuangan akan semakin tipis. Kemudian stimulus untuk merokok dikondisikan
dengan pengeluaran terus menerus untuk membeli rokok yang mahal, dan menghasilkan respon
keuangan yang menipis. Pada akhirnya merokok dapat secara tunggal menjadi stimulus bagi
keuangan yang menipis. Ini menjadi ketakutan sendiri bagi masyarakat, terutama masyarakat
kalangan bawah karena kebutuhan hidup yang diperlukan banyak, tetapi keuangan yang ada
tidak mencukupi. Dari gambaran ini, perokok akan berangsur-angsur mengurangi kebiasaan
merokok untuk menghindari keuangan yang menipis (www.kesehatan.kompasiana.com) .
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan

Cakupan perilaku tidak merokok di dalam rumah masih rendah di Kabupaten Karawang
disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor individu itu sendiri. Dari perilaku masyarakat,
dengan masih tingginya aktivitas merokok di dalam rumah bersama anggota keluarga yang lain,
maka berdasarkan teori psikologi, anak menjadikan orang tua sebagai model, sehingga anak
melakukan observasi perilaku orang tua dan akhirnya anak meniru perilaku merokok di dalam
rumah.
Selain itu, mengingat rendahnya pemahaman masyarakat dan mitos yang berkembang di
masyarakat, petugas kesehatan sebaiknya tidak hanya melakukan kegiatan penyuluhan massa
akan tetapi sosialisasi mengenai dampak bahaya merokok terutama merokok di dalam rumah,
perlu disampaikan dengan teknik konseling dan pemicuan pada masyarakat agar masyarakat
tau, mau dan mampu menghentikan perilaku merokok di dalam rumah.
Ketika masyarakat belum sepenuhnya memahami resiko bahaya AROL, pemerintah
berkewajiban menegakkan peraturan yang efektif melindungi warganya secara penuh.
Keseriusan pemerintah dapat terlihat dari ada tidaknya kebijakan yang telah dibuat, yaitu
mendukung program kawasan tanpa rokok. Kebijakan KTR menjadi sangat efektif untuk
meningkatkan perilaku tidak merokok di dalam rumah dan melindungi perokok pasif yang
terpapar AROL.
Rekomendasi
1. Bagi Dinas Kesehatan, mengadvokasi penentu kebijakan dalam pembuatan Kawasan
Tanpa Rokok (KTR).
2. Bagi Petugas Kesehatan Puskesmas, meningkatkan kemampuan mengembangkan
pemberdayaan masyarakat, meningkatkan sosialisasi dampak bahaya rokok yang efektif
melalui penyuluhan, konseling dan pemicuan.
3. Bagi masyarakat khususnya orang tua sebagai role model, harus mampu memberikan
contoh perilaku hidup bersih dan sehat agar anak dapat meniru perilaku sehat tersebut.
Orang tua ataupun anggota keluarga yang lainnya tau, mau, dan mampu tidak lagi
berperilaku merokok di dalam rumah.
(Sumber: dari berbagai sumber dan observasi)

Sundapura Technologies