Anda di halaman 1dari 33

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puji syukur saya haturkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha
Esa, karena atas asungkertawaranugraha-Nya penyusun dapat menyelesaikan Tugas Rekayasa
Gempa I ini tepat pada waktunya.
Pada Tugas Rekayasa Gempa I kali ini saya merencanakan struktur rangka atap
dengan menggunakan profil baja Double Angle pada kuda-kuda dan profil baja Channels
pada gording.
Pada kesempatan ini juga penyusun tidak lupa berterimakasih kepada Dosen pengajar
sekaligus dosen pembimbing Rekayasa Gempa I, Bapak Putu Aryastana, ST, M.Eng, M.Si
yang telah membantu dan membimbing penyusun dalam penyelesaian tugas ini.
Akhirnya, tidak lupa penyusun memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan
dalam tugas ini. Penyusun sadar bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun yang sekiranya
dapat digunakan untuk perbaikan pada tugas berikutnya. Untuk itu penyusun ucapkan terima
kasih.
Om Santhi, Santhi, Santhi, Om

Denpasar, 28 Juni 2016

Penulis/penyusun??

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................ ii
DAFTAR TABEL..................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR................................................................................................. v
PENDAHULUAN.................................................................................................... 1
1.1

Latar Belakang.................................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah............................................................................................2

1.3

Tujuan...............................................................................................................2

TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................. 3
2.1

Pengertian Gempa Bumi..................................................................................3

2.2

Sejarah Gempa Bumi.......................................................................................3


2.2.1 Gempa Padang / Sumatra 1797 (8,4 SR).......................................3
2.2.2 Gempa Mentawai / Sumatra 1833 (8,8-9,2 SR)2............................4
2.2.3 Gempa Nias / Sumatra 1861 (8,5 SR)...........................................4
2.2.4 Gempa Laut Banda 1938 (8,5 SR)...............................................4
2.2.5 Gempa Aceh / Samudera Hindia 2004 (9,1-9,3 SR)........................4
2.2.6 Gempa Nias 2005 (8,7 SR).........................................................5
2.2.7 Gempa Yogyakarta 2005 (6,2 SR)...............................................5
2.2.8 Gempa Tasikmalaya 2006 (7,7 SR)..............................................6
2.2.9 Gempa Padang 2009 (7,6 SR).....................................................6
2.2.10 Gempa Mentawai / Sumatra Barat 2010 (7,2 SR)...........................6

2.3

Penyebab Gempa Bumi....................................................................................7

2.4

Jenis Gempa Bumi...........................................................................................7


2.4.1 Berdasarkan Penyebab...............................................................7
2.4.2 Berdasarkan Kedalaman............................................................8

2.5

Dampak Gempa Bumi......................................................................................9


2.5.1 Gelombang tsunami..................................................................................
9

2.5.2 Kerusakan bangunan.................................................................................


9

2.5.3 Mengubah topografi atau bentuk muka bumi.................................9


2.5.4 Menyebabkan keretakan permukaan bumi................................................
10

2.5.5 Menyebabkan perubahan tata air tanah.......................................10


2.5.6 Mengakibatkan trauma psikis atau mental...................................10
METODELOGI...................................................................................................... 11
3.1

Pengukuran Gempa........................................................................................11

3.2

Percepatan Permukaan...................................................................................16

HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................................. 20


4.1

Sejarah Gempa di Provinsi Kalimantan.........................................................20


4.1.1 Data Kejadian Gempa di Provinsi Kalimantan.............................20
4.1.2 Hasil Analisa Data Gempa di Provinsi Kalimantan......................27

YBAB I

4.2

Penyebab Jarang Terjadi Gempa di Kalimantan............................................28

4.3

Wilayah yang dominan Diguncang Gempa Bumi di Provinsi Kalimantan....28

4.4

Dampak Gempa Bumi di Daerah Kalimantan...............................................29


BAB II

BAB III

BAB IV

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Gempa bumi ad alah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam

bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Energi
yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempabumi sehingga efeknya
dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.
Indonesia merupakan daerah rawan gempa. Penyebab Indonesia sering dilanda bencana alam
gempa bumi dikarenakan oleh wilayah Tanah Air dilalui jalur subduksi maupun sesar yang
ada di daratan. Jalur subduksi merupakan pertemuan antara lempeng daratan Eurasia dengan
lempeng Samudra Hindia Australia. Lempeng Australia ini bergerak 5-7 sentimeter per tahun.
Dalam kurun waktu 200 tahun, otomatis patah. Disaat itulah ketika lepas energi kemudian
terjadi gempa. Selain itu, daratan Indonesia dikelilingi sesar. Diantaranya sesar Sumatra,
Cimandiri, Bandung, Ciputat. Sesar lainnya adalah Yapen. Sesar ini bergerak aktif meskipun
tidak seaktif subduksi lempeng.
Hampir semua bagian pulau besar di Indonesia pernah atau bahkan sering terpapar
bencana gempa bumi. Jika mengkaji Indonesia pada urusan risiko gempa, memang negeri ini
berada dalam tingkatan tertinggi. Jalur gempa yang ada di Indonesia yaitu ada pada wilayah
Maluku hingga Sulawesi Utara, daerah-daerah sepanjang pantai Barat Sumatera, pantai
Selatan Jawa, Nusa Tenggara Barat.
Ada satu pulau di Indonesia yang terlewat dan seakan jarang sekali ada berita gempa
bumi. Pulau Kalimantan adalah satu-satunya wilayah di Indonesia yang sangat jarang terkena
guncangan gempa. Dilihat dari struktur pembentuk lempeng bumi di bawah lapisannya, Pulau
Kalimantan memang berada kokoh di atas lempeng Eurasia. Tanpa sekilas terlihat bentuk
satupun patahan yang melintang. Di atas permukaan, bentuk topografi Pulau Kalimantan pun
nampak datar, menunjukkan minimnya aktivitas tektonik di bawah permukaannya.
Namun potensi gempa di pulau Kalimantan tak sesederhana yang dikira. Faktanya
hampir tak ada lokasi di atas muka bumi ini yang betul-betul bebas dari bencana gempa.
hampir semua batuan dasar di bumi ini pernah mengalami tekanan (stress) dan masih
menyimpan tenaga (strain) yang bisa terlepas kapanpun.
Tanda bahwa Kalimantan tak seutuhnya aman dari potensi gempa tergambar jelas
pada gempa kuat dengan magnitude 6,1 skala Richter pada posisi 3,61 Lintang Utara dan

117,67 Bujur Timur, Senin dini hari tadi pukul pukul 02.47 Wita. Pusat gempa berada di
kedalaman 10 kilometer dan berjarak 29 km sebelah timur laut Tarakan.

1.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah gempa di Provinsi Kalimantan dalam kurun waktu 100 tahun
terakhir?
2. Mengapa Provinsi Kalimantan jarang terjadi gempa bumi?
3. Wilayah manakah yang dominan diguncang gempa bumi di Provinsi Kalimantan
dalam kurun waktu 100 tahun terkahir?
4. Bagaimana dampak gempa bumi di daerah Kalimantan 100 tahun terakhir?

1.3

Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah gempa di Provinsi Kalimantan dalam kurun waktu 100
tahun terakhir
2. Untuk mengetahui mengapa Provinsi Kalimantan jarang terjadi gempa bumi
3. Untuk mengetahui wilayah manakah yang dominan diguncang gempa bumi di
Provinsi Kalimantan dalam kurun waktu 100 tahun terkahir
4. Untuk mengetahui dampak gempa bumi di daerah Kalimantan dalam kurun waktu
100 tahun terakhir

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Gempa Bumi
Gempa Bumi adalah pergerakan (bergesernya) lapisan batu bumi yang berasal dari
dasar atau dari bawah permukaan bumi. Atau definisi gempa bumi yang lebih langkapnya
yaitu getaran atau goncangan yang terjadi karena pergerakan (bergesernya) lapisan batu bumi
yang berasal dari dasar atau dari bawah permukaan bumi dan bisa juga disebabkan adanya
letusan gunung api.
Gempa Bumi diukur dengan menggunakan alat Seismometer. Moment magnitudo
adalah skala yang paling umum dimana gempa Bumi terjadi untuk seluruh dunia. Skala
Rickter adalah skala yang dilaporkan oleh observatorium seismologi nasional yang diukur
pada skala besarnya lokal 5 magnitude. Kedua skala yang sama selama rentang angka mereka
valid. Gempa 3 magnitude atau lebih sebagian besar hampir tidak terlihat dan besarnya 7
lebih berpotensi menyebabkan kerusakan serius di daerah yang luas, tergantung pada
kedalaman gempa. Gempa Bumi terbesar bersejarah besarnya telah lebih dari 9, meskipun
tidak ada batasan besarnya. Gempa Bumi besar terakhir besarnya 9,0 atau lebih besar adalah
9,0 magnitudo gempa di Jepang pada tahun 2011 (per Maret 2011), dan itu adalah gempa
Jepang terbesar sejak pencatatan dimulai. Intensitas getaran diukur pada modifikasi Skala
Mercalli.(Sumber: wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi)
2.2

Sejarah Gempa Bumi


Secara geologis, Indonesia berada pada batas pertemuan tiga lempeng tektonik utama

dunia yaitu Lempeng Eurasia,Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Kondisi ini
mengakibatkan pada beberapa daerah terdapat aktivitas gempa dan vulkanisme yang
aktif.Sepanjang sejarahnya, Indonesia telah beberapa kali dilanda gempa bumi dengan
kekuatan yang sangat dahsyat yang menyebabkan jatuhnya banyak korban.Berikut,
merupakan kejadian-kejadian gempa dahsyat yang pernah terjadi di Indonesia yang diambil
dari berbagai sumber.
2.2.1 Gempa Padang / Sumatra 1797 (8,4 SR)
Gempa bumi Sumatra 1797 adalah yang pertama dalam serangkaian gempa
bumi besar yang merupakan pecah bagian dari segmen Sumatra dari megathrust
Sunda. Hal ini menyebabkan tsunami yang sangat merusak di dekat Padang, di mana
sebuah kapal Inggris 150-200 ton didorong hingga sejauh 1Km ke pedalaman sungai
3

Arau.Pulau Sumatra terletak di batas lempeng konvergen antara Lempeng IndoAustralia dan Lempeng Eurasia. Konvergensi antara lempeng sangat miring di dekat
Sumatra, dengan perpindahan yang sedang diakomodasi oleh dip-slip dekat faulting
sepanjang zona subduksi, yang dikenal sebagai megathrust Sunda, dan dekat murni
strike-slip faulting sepanjang sesar Sumatra Besar. Peristiwa slip utama pada interface
zona subduksi biasanya tipe megathrust. Secara historis, raksasa megathrust gempa
bumi telah dicatat pada tahun 1797, 1833, dan 1861, sebagian besar dari mereka
dikaitkan dengan tsunami yang menghancurkan.
2.2.2

Gempa Mentawai / Sumatra 1833 (8,8-9,2 SR)2


Gempa bumi Sumatra 1833 terjadi pada tanggal 25 November 1833, sekitar

pukul 22:00 waktu setempat, dengan kekuatan gempa diperkirakan dalam kisaran 8,89,2 SR. Hal ini menyebabkan tsunami besar yang membanjiri pantai barat daya pulau
tersebut. Tidak ada catatan yang dapat diandalkan mengenai korban jiwa, yang ada
hanya informasi mengenai tingkat kerusakan yang terkait dengan gempa bumi atau
tsunami.Namun, tsunami jelas menghancurkan sepanjang pantai barat daya Sumatra
dari Pariaman ke Bengkulu.Ada juga satu laporan kerusakan yang signifikan di
Seychelles.Besarnya bencana ini telah diestimasi dengan menggunakan catatan
pengangkatan microatolls karang.
2.2.3

Gempa Nias / Sumatra 1861 (8,5 SR)


Gempa bumi Sumatra 1861 terjadi pada tanggal 16 Februari 1861. Gempa ini
adalah yang salah satu dalam urutan gempa bumi yang berdekatan pecah
bagian dari segmen Sumatra dari megathrust Sunda. Hal ini menyebabkan
bencana tsunami yang menyebabkan beberapa ribu kematian. Gempa
dirasakan sejauh semenanjung Malaysia dan bagian timur Jawa.

2.2.4

Gempa Laut Banda 1938 (8,5 SR)


Gempa bumi Laut Banda 1938 terjadi di wilayah Laut Banda pada tanggal 1

Februari 1938, dan merupakan gempa bumi terbesar ke-9 pada abad ke-20. Kekuatan
gempa bumi ini adalah 8,5 Skala Richter, dan menyebabkan tsunami setinggi 1.5
meter, tetapi tidak terdapat korban jiwa pada peristiwa ini.
2.2.5

Gempa Aceh / Samudera Hindia 2004 (9,1-9,3 SR)


Kekuatan gempa pada awalnya dilaporkan mencapai 9,0 SR. Gempa terjadi

pada waktu 7.58.53 WIB. Pusat gempa terletak pada bujur 3.316 LU 95.854BT
kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer.Gempa ini merupakan
4

gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir yang menghantam Aceh.
Gempa yang mengakibatkan tsunami ini menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di
8 negara. Ombak tsunami setinggi 30 meter.Bencana ini merupakan kematian terbesar
sepanjang sejarah. Indonesia, Sri Langka, Inda, dan Thailand merupakan negara
dengan jumlah kematian terbesar.
2.2.6

Gempa Nias 2005 (8,7 SR)


Gempa bumi Sumatra 2005 terjadi pada pukul 23.09 WIB pada 28 Maret 2005.

Pusat gempanya berada di 2 04 35 LU dan 97 00 58 BT, 30 km di bawah


permukaan Samudra Hindia, 200 km sebelah barat Sibolga, Sumatra atau 1400 km
barat laut Jakarta, sekitar setengah jarak antara pulau Nias dan Simeulue. Catatan
seismik memberikan angka 8,7 skala Richter (BMKG di Indonesia mencatat 8,2) dan
getarannya terasa hingga Bangkok (Thailand) sekitar 1.000 km jauhnya. Dengan
kekuatan sebesar 8,7 SR, gempa ini merupakan gempa bumi terbesar kedua di dunia
sejak tahun 1964 hingga tahun 2010. Segera setelah terjadi, muncul peringatan akan
kemungkinan datangnya tsunami yang akhirnya tidak terjadi. Gempa ini kemungkinan
terpicu oleh gempa sebelumnya yang mengguncang Aceh pada bulan Desember 2004.
2.2.7

Gempa Yogyakarta 2005 (6,2 SR)


Gempa bumi Yogyakarta adalah peristiwa gempa bumi tektonik kuat yang

mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006
kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Gempa bumi tersebut berkekuatan
6,2 pada skala Richter. Menurut BMKG, posisi episenter gempa terletak di koordinat
8,26 LS dan 110,31 BT. Secara umum posisi gempa berada sekitar 25 km selatanbarat daya Yogyakarta, 115 km selatan Semarang, 145 km selatan-tenggara
Pekalongan dan 440 km timur-tenggara Jakarta. Walaupun hiposenter gempa berada
di laut, tetapi tidak mengakibatkan tsunami.Gempa juga dapat dirasakan di Solo,
Semarang, Purworejo, Kebumen dan Banyumas. Getaran juga sempat dirasakan
sejumlah kota di provinsi Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Kediri, Trenggalek,
Magetan, Pacitan, Blitar dan Surabaya. Ribuan rumah warga juga hancur rata dengan
tanah atau rusak sedang, namun tidak dapat ditempati lagi. Rumah-rumah di Wedi,
Gantiwarno, dan Prambanan adalah yang paling banyak hancur. Paling kurang 1.224
bangunan rusak dan memakan korban lebih dari 3000 orang. Fasilitas umum, seperti
sekolah, kantor kecamatan, kantor polsek, kelurahan, tidak luput dari kehancuran.

Jalanan aspal juga retak dan terbelah di banyak tempat.Sambungan telepon dan listrik
terputus juga putus akibat gempa tersebut.

2.2.8

Gempa Tasikmalaya 2006 (7,7 SR)


Gempa bumi Jawa Juli 2006 ialah gempa bumi berkekuatan 7,7 SR, versi

bmkg, pada skala Richter di lepas pantai Jawa Barat, Indonesia. Terjadi pada 17 Juli
2006 pada pukul 8.19 WIB.Gempa bumi ini menyebabkan tsunami setinggi 2 meter
yang menghancurkan rumah di pesisir selatan Jawa, membunuh setidaknya 659
jiwa.Tsunami itu menghantam desa-desa di pesisir selatan Jawa di Cipatujah,
Tasikmalaya dan Pangandaran, Ciamis.Dilaporkan tempat liburan pantai Jawa Barat
di Pangandaran mengalami rusak parah. Menurut U.S. Geological Survey (USGS)
gempa bumi ini berpusat pada 9.295 LS 107.347 BT , 48,6 km di bawah dasar laut.
Berada 225 km (140 mil) timur laut Pulau Natal dan 240 km (150 mil) tenggara
Tasikmalaya, Indonesia, dan 358 km (222 mil) selatan Jakarta.
2.2.9

Gempa Padang 2009 (7,6 SR)


Gempa bumi Sumatra Barat 2009 terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di

lepas pantai Sumatra Barat pada pukul 17.16.10 WIB tanggal 30 September 2009.
Gempa ini terjadi di lepas pantai Sumatra, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.
Gempa menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatra Barat seperti
Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota
Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan
Kabupaten Pasaman Barat. Menurut data sedikitnya 1.117 orang tewas akibat gempa
ini yang tersebar di 3 kota & 4 kabupaten di Sumatra Barat, korban luka berat
mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan
135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, & 78.604 rumah rusak
ringan.
2.2.10 Gempa Mentawai / Sumatra Barat 2010 (7,2 SR)
Gempa ini terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, pada
hari Senin 24 Oktober 2010 pukul 21.42 WIB. Gempa yang berpusat di 3,61 Lintang
Selatan-99,93 Bujur Timur pada pusat 78 km barat daya Pagai Selatan, Kepulauan
Mentawai, Sumbar; 174 km Barat Daya Mukomuko-Bengkulu ini diikuti tsunami
setinggi 3-7m. Gempa berkekuatan 7,2 skala Richter ini juga menyebabkan Tsunami
setinggi 3-10 meter yang mengakibatkan setidaknya 77 desa hancur dan menelan
6

korban

30

orang

lebih.

(FTI).

(Sumber:cohesive98.wordpress.com/2012/06/29/sejarah-gempa-dahsyat-diindonesia)
2.3 Penyebab Gempa Bumi
Kebanyakan gempa Bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh
tekanan yang disebabkan lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu semakin
membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan
lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa Bumi akan terjadi.
Gempa bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan lempengan tersebut. Gempa
bumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan
translasional. Gempa bumi fokus dalam kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan
litosfer yang terjepit kedalam mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km.
Beberapa gempa bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di
dalam gunung berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya
letusan gunung berapi. Beberapa gempa bumi (jarang namun) juga terjadi karena
menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam, seperti Dam Karibia di
Zambia, Afrika. Sebagian lagi (jarang juga) juga dapat terjadi karena injeksi atau
akstraksi cairan dari/ke dalam bumi (contoh. Pada beberapa pembangkit listrik tenaga
panas bumi dan di Rocky Mountain Arsenal. Terakhir, gempa juga dapat terjadi dari
peledakan bahan peledak. Hal ini dapat membuat para ilmuwan memonitor tes rahasia
senjata nuklir yang dilakukan pemerintah. Gempa bumi yang disebabkan oleh
manusia seperti ini dinamakan juga seismisitas terinduksi.
Tapi pada daerah kalimantan gempa biasanya lebih dominan terjadi akibat pergeseran
lempeng (gempa tektonik) di karenakan dikalimantan tidak terdapat gunung berapi. Dan
kalimantan merupakan suatu daerah yang jarang mengalami gempa di banding wilayang lain
di daerah sumatra dan jawa, kalimantan jarang terjadi gempa di karenakan daerah ini jauh
dari titik-titik pusat gempa dan tektonik aktif. Laupun begitu kalimantan juga pernah mengali
gempa besar yang terjadi pada daerah tarakan pada tanggal 21 desember 2015.
2.4 Jenis Gempa Bumi
Jenis gempa Bumi dapat dibedakan berdasarkan:
2.4.1

Berdasarkan Penyebab
7

1.

Gempa Vulkanik.
Gempa Bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu

pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai


kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa Bumi ini
banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di Bumi, getaran gempa
Bumi yang kuat mampu menjalar keseluruh bagian Bumi. Gempa Bumi
tektonik disebabkan oleh pelepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran
lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan
dengan tiba-tiba.
2. Gempa Tektonik.
Gempa Bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi
sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan
menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya
gempa Bumi. Gempa Bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut.
3.

Gempa Tumbukan.
Gempa bumi ini diakibatkan oleh tumbukan meteor atau asteroid yang

jatuh ke bumi, jenis gempa bumi ini jarang terjadi


4. Gempa Runtuhan.
Gempa bumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah
pertambangan, gempabumi ini jarang terjadi dan bersifat lokal.
5. Gempa Buatan.
Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas
dari manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir atau palu yang dipukulkan ke
permukaan bumi.
2.4.2

Berdasarkan Kedalaman

1. Gempa Bumi Dalam


Gempa Bumi dalam adalah gempa Bumi yang hiposentrumnya berada lebih
dari 300 km di bawah permukaan Bumi (di dalam kerak Bumi). Gempa Bumi
dalam pada umumnya tidak terlalu berbahaya.
2. Gempa Bumi Menengah
Gempa Bumi menengah adalah gempa Bumi yang hiposentrumnya berada
antara 60 km sampai 300 km di bawah permukaan bumi. Gempa Bumi
menengah pada umumnya menimbulkan kerusakan ringan dan getarannya lebih
terasa.
3. Gempa Bumi Dangkal
8

Gempa Bumi dangkal adalah gempa Bumi yang hiposentrumnya berada


kurang dari 60 km dari permukaan Bumi. Gempa Bumi ini Biasanya
menimbulkan kerusakan yang besar.
2.5 Dampak Gempa Bumi
Goncangan gempa bisa sangat hebat dan dampak yang ditimbulkannya juga
tidak kalah dahsyat. Gempa merupakan salah satu fenomena alam yang menimbulkan
bencana. Dilihat dari efek atau akibat yang ditimbulkan, kejadian-kejadian yang
mungkin terjadi mengiringi peristiwa gempa bumi sebagai berikut :
2.5.1 Gelombang tsunami
Salah satu akibat dari gempa bumi adalah munculnya gelombang tsunami jika
sumber gempa di bawah laut. Gelombang tsunami tersebut muncul jika di pusat
gempa terjadi patahan lempeng bumi turun sehingga air laut surut sementara. Akan
tetapi tidak lama kemudian gelombang sangat tinggi dan berkecepatan luar biasa
menerjang pantai dan masuk jauh ke daratan. Selanjutnya gelombang ini merusak apa
saja yang dilaluinya.Sebelum tsunami muncul, biasanya muncul tanda-tanda seperti
terjadi gerakan tanah, getaran kuat, muncul cairan hitam atau putih dari arah laut,
biasanya juga terdengar bunyi keras, tercium bau garam menyengat dan air laut terasa
dingin.
2.5.2 Kerusakan bangunan
Gempa merupakan suatu pergerakan permukaan bumi disebabkan oleh
pergerakan lempeng tektonik yang terdapat di bawah permukaan bumi. Dengan
bergoyangnya permukaan bumi, maka bangunan-bangunan seperti gedung sekolah,
pusat pertokoan, perkantoran, maupun rumah-rumah penduduk dapat hancur atau
paling tidak retak.
2.5.3 Mengubah topografi atau bentuk muka bumi
Dari hasil penelitian Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Yogyakarta diketahui
bahwa terjadi perubahan topografi tanah di sekitar Yogyakarta akibat gempa bumi
tanggal 27 Mei 2006 yang lalu. Gempa bumi tersebut memicu longsoran tanah dan
mengakibatkan perubahan struktur tanah di daerah-daerah berlereng curam akibat
guncangan gempa. Struktur tanah seperti ini berbutir kasar dan dalam kondisi kering
akan merapat. Akibat pengaruh gempa, tegangan pori udara dalam lapisan tanah pasir
meningkat, dan tegangan efektif tanah menurun hingga mencapai nilai terendah.
9

Dengan demikian tanah kehilangan kekuatan sehingga mengakibatkan runtuhnya


lapisan di atas pembentuk lereng dan memicu terjadi tanah longsor.
2.5.4 Menyebabkan keretakan permukaan bumi
Selain tsunami dan hancurnya infrastruktur, gempa bumi juga mengakibatkan
keretakan permukaan tanah. Keretakan ini disebabkan permukaan tanah ikut bergerak
ketika lempeng tektonik di bawahnya saling berbenturan.
2.5.5 Menyebabkan perubahan tata air tanah
Pada dasarnya sebelum terjadi gempa tata air tanah bersifat terbuka, tidak
bertekanan, berlapis-lapis sesuai dengan struktur batuan dan tanah sehingga ada mata
air kecil, relatif besar, dan sudah terbentuk kantong-kantong air di bawah tanah.
Kantong-kantong air tersebut secara rutin terisi oleh saluran primer, sekunder, dan
tersier berdasarkan struktur dan kestabilan tanah yang telah terbentuk sebelumnya.
Ketika terjadi gempa bumi lapisan dalam kantong-kantong air ini patah sehingga
terjadi kebocoran, lapisan tanah terkoyak, dan bergeser. Oleh karena itu wajar jika
setelah gempa tiba-tiba ada mata air yang mati, sumur kering, atau muncul mata air
baru di tempat lain. Hilangnya mata air atau munculnya mata air baru di tempat lain
akibat patahan dan pergeseran kantong-kantong air ini menunjukkan adanya
perubahan tata air setelah guncangan gempa.
2.5.6 Mengakibatkan trauma psikis atau mental
Ternyata bencana gempa, gunung meletus, dan

tsunami tidak hanya

mengakibatkan kerusakan fisik atau bangunan, harta benda, dan jiwa manusia, tetapi
juga kondisi kejiwaan bagi para korban. Akibat bencana tersebut, sebagian besar
korban

dapat

mengalami

penderitaan

biopsikososial

yaitu

gangguan

akan

kewaspadaan den kepekaan yang berlebihan terhadap sekadar perubahan suara,


perubahan keadaan, dan aneka perubahan kecil lain yang sebenarnya wajar terjadi di
tengah kehidupan sehari-hari.

10

BAB III
METODELOGI
3.1

Pengukuran Gempa
Dalam pengukuran gempa biasanya ada dua cara yang dipakai sebagai pedoman

ukuran kekuatan gempa yaitu magnitude dan local intensity. Magnitude adalah ukuran
kekuatan gempa, menggambarkan besarnya energi yang terlepas pada saat gempa terjadi dan
merupakan hasil pengamatan Seismograf. Di Indonesia (BMKG) Magnitude menggunakan
skala Richter (SR). Konsep Magnitude Gempa sebagai skala kekuatan relatif hasil dari
pengukuran fase amplitude dikemukakan pertama kali oleh K. Wadati dan C. Richter sekitar
tahun 1930 (Lay. T and Wallace. T.C,1995).Untuk mengukur intensitas kekuatan gempa, ada
beberapa macam skala, antara lain.
Skala Richter adlh skala yang digunakan untuk memperlihatkan besarnya kekuatan
gempa. Alat yang digunakan untuk mencatat Skala Richter disebut SEISMOGRAPH. Skala
Richter dalam perkembangannya skala ini banyak diadopsi untuk gempa-gempa yang terjadi
di tempat lainnya. Skala Richter ini hanya cocok dipakai untuk gempa-gempa dekat dengan
magnitudo gempa di bawah 6,0. Di atas magnitudo itu, perhitungan dengan teknik Richter ini
menjadi tidak representatif lagi.
Skala Richter atau SR didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari amplitudo
maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh instrumen
pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat gempanya.
Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram) dari
seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya
sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3 mikrometer) sama
dengan 3,0 skala Richter. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles Richter.
Ukuran Kekuatan Skala Richter & Akibat Yang Ditimbulkannya :
1. < 2.0 (kurang dr 2 SR) Gempa kecil , tidak terasa
2. 2.0-2.9 Tidak terasa, namun terekam oleh alat
3. 3.0-3.9 Seringkali terasa, namun jarang menimbulkan kerusakan
4. 4.0-4.9 Dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh
bergetar. Kerusakan tidak terlalu signifikan.

11

5. 5.0-5.9 Dapat menyebabkan kerusakan besar pada bangunan pada area yang
kecil.
Umumya kerusakan kecil pada bangunan yang didesain dengan baik
6. 6.0-6.9 Dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km
7. 7.0-7.9 Dapat menyebabkan kerusakan serius dalam area lebih luas lbh dr 160km.
8. 8.0-8.9 Dapat menyebabkan kerusakan serius hingga dalam area ratusan mil
(mile)
9. 9.0-9.9 Menghancurkan area ribuan mil.
10. > 10.0 (lebih dr 10 SR) Belum pernah terekam.
Pada tahun 1902 seorang seismolog dan vulkanolog dari Italia bernama Giuseppe
Mercalli mengusulkan skala intensitas dari I sampai dengan XII. Pada tahun 1931, Harry O.
Wood dan Frank Neumann memodifikasi skala Mercalli ini, dan disebut skala Modified
Mercalli Intensity (MMI Scale) untuk mengukur intensitas gempa yang terjadi di California,
Amerika.Skala MMI mempunyai 12 tingkatan intesitas gempa (I s/d XII). Setiap tingkatan
intensitas didefinisikan berdasarkan pengaruh gempa yang didapatdari pengamatan, seperti
goncangan tanah, dan kerusakan dari struktur bangunan seperti gedung, jalan, dan jembatan.
Tingkat intensitas I sampai VI, digunakan untuk mendeskripsikan apa yang dilihat dan
dirasakan orang selama terjadinya gempa ringan dan gempa sedang. Sedangkan tingkat
intensitas VII sampai dengan XII digunakan untuk mendeskripsikan kerusakan pada struktur
bangunan selama terjadinya gempa kuat.
Tabel 3 1 Skala intensitas Modified Mercalli (MMI)

12

Dari penjelasan mengenai tingkat kerusakan bangunan yang dapat terjadi akibat
gempa, terlihat bahwa penentuan dari nilai Skala Mercalli sangat bersifat subjektif karena
beberapa hal sebagai berikut :
1. Tergantung pada jarak epicenter sampai tempat yang dimaksud.
2. Keadaan geologi setempat
3. Kualitas dari bangunan-bangunan setempat di lokasi terjadinya gempa.
4. Pengamatan manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan panik akibat kekacauan yang
biasanya terjadi pada saat gempa.
Salah satu skala yang paling sering digunakan untuk mengukur kekuatan atau
besarnya gempa adalah Skala Richter (Richter Magnitude Scale), atau disebut Local
Magnitude (ML). Skala ini dibuat oleh DR. Charles F. Richter dari California Institute of
Technology pada 1934. Skala Richter didasarkan pada skala logaritma dan ditulis dalam
angka Arab (1, 2, 3, . ).
Magnitude gempa dinyatakan dengan huruf M dan didefinisikan sebagailogaritma dari
amplitude maksimum dalam mikron, tercatat pada jarak 100 km dari epicenter dengan
seismometer standar Wood-Anderson dengan periode bebas 0,8 detik, pembesaran 2800 kali
dan dengan faktor peredaman 0,8.
Hubungan antara magnitude M dengan jumlah energi (strain energy) yang dilepaskan
dapat dinyatakan dengan persamaan:
log E=11,4 +1,5M (erg atau dynecm)
Dari rumus diatas terlihat, bahwa peningkatan dalam satuan M berarti peningkatan
dalam energi sebanyak 101,5. Jadi, suatu gempa dengan magnitude M = 7 melepaskan 32 kali
lebih banyak energi daripada gempadengan megnitude M = 6 dan 1000 kali lebih banyak
energi daripada gempa dengan magnitude M = 5.
Magnitude gempa dapat mencermikan kondisi sesungguhnya dari besarnyagempa.
Magnitude tidak memberikan gambaran mengenai derajat kerusakan yang disebabkan oleh
gempa. Perlu dicatat, bahwa suatu gempa denganmagnitude besar yang terjadi di tengah
samudera, mungkin tidak akanmengakibatkan kerusakan pada bangunan, bahkan getarannya
13

pun mungkin tidak akan dirasakan oleh manusia yang berada di darat. Sebaliknya suatu
gempa dengan magnitude rendah tetapi mempunyai pusat gempa yang dekat pada suatu kota
yang padat penduduk serta penuh dengan bangunan-bangunan, mungkin akan menyebabkan
banyak kerusakan.
Tabel 3.

14

15

16

17

18

19

20

21

22

1.

Grafik Magnitude Gempa Kalimantan

2.
2

3.

4.
3

23

1.

24

2.

3.

25

26

27

http://news.liputan6.com/read/2395027/bmkg-16-gempa-susulan-guncang-kotatarakan-kalimantan-utara

http://sains.kompas.com/read/2012/12/04/13085475/Sebagian.Warga.Kalsel.Rasakan.
Gempa.Ringan

www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/

http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gempabumi-a-tsunami/kejadian-gempabumi-atsunami/686-tanggapan-gempa-tarakan-kalimantan-utara-56-sr-20-januari-2015

https://daryonobmkg.wordpress.com/2015/12/21/gempabumi-tarakan-kalimantanutara/

https://rovicky.wordpress.com/2015/12/21/lagi-gempa-kalimantan/

http://www.antaranews.com/berita/274616/gempa-kalimantan-barat-karenapergeseran-lempeng-kecil

https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi

28