Anda di halaman 1dari 5

A.

Kepatuhan
I.
Pengertian
Kepatuhan atau ketaatan (compliance/adherence) adalah tingkat
pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh
dokternya atau oleh orang lain (Smet, 1994).
Kepatuhan pasien sebagai sejauh mana perilaku pasien sesuai
dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan (Niven,
2002).
Penderita yang patuh berobat adalah yang menyelesaikan
pengobatan secara teratur dan lengkap tanpa terputus selama minimal 6
bulan sampai dengan 9 bulan (Depkes RI, 2000).
Penderita dikatakan lalai jika tidak datang lebih dari 3 hari sampai
2 bulan dari tanggal perjanjian dan dikatakan Drop Out jika lebih dari 2
bulan berturut-turut tidak datang berdoa setelah dikunjungi petugas
kesehatan (Depkes RI, 2000).
Oleh karena itu menurut Cramer (1991, Compliance and Medical
Practice Clinical Trial, 1, http://www.pudmed.guv. Diperoleh tanggal 6
Februari 2007), kepatuhan penderita dapat dibedakan menjadi:
1. Kepatuhan penuh (Total compliance)
Pada keadaan ini penderita tidak hanya berobat secara teratur
sesuai batas waktu yang ditetapkan melainkan juga patuh memakai
obat secara teratur sesuai petunjuk.
2. Penderita yang sama sekali tidak patuh (Non compliance)
Yaitu penderita yang putus berobat atau tidak menggunakan obat
sama sekali.
II.

Faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan


Menurut Smet (1994), faktor-faktor yang mempengaruhi
kepatuhan adalah:
a. Faktor komunikasi
Berbagai aspek komunikasi antara pasien dengan dokter
mempengaruhi ketidaktaatannya, misalnya informasi dengan

pengawasan yang kurang, ketidakpuasan terhadap aspek


hubungan emosional dengan dokter, ketidakpuasan terhadap
obat yang diberikan.
b. Pengetahuan
Ketetapan dalam memberikan informasi secara jelas dan
eksplisit terutama sekali penting dalam pemberian antibiotik.
Karena sering kali pasien menghentikan obat tersebut setelah
gejala yang dirasakan hilang bukan saat obat itu habis.
c. Fasilitas kesehatan
Fasilitas kesehatan merupakan sarana penting dimana
dalam memberikan penyuluhan terhadap penderita diharapkan
penderita menerima penjelasan dari tenaga kesehatan yang
meliputi: jumlah tenaga kesehatan, gedung serba guna untuk
penyuluhan dan lain-lain.
Sementara itu menurut Niven (2002), bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kepatuhan adalah:
a. Faktor penderita atau individu
1) Sikap atau motivasi individu ingin sembuh
Motivasi atau sikap yang paling kuat adalah dalam diri
individu sendiri. Motivasi ingin tetap mempertahankan
kesehatannya sangat berpengaruh terhadap faktor-faktor
yang berhubungan dengan perilaku penderita dalam
kontrol penyakitnya,
2) Keyakinan
Keyakinan merupakan dimensi spiritual yang dapat
menjalani kehidupan. Penderita yang berpegang teguh
pada keyakinannya akan memiliki jiwa yang tabah dan
tidak

mudah

putus

asa

serta

dapat

menerima

keadaannya.
b. Dukungan keluarga
Dukungan keluarga merupakan bagian dari penderita yang
paling dekat dan tidak dapat dipisahkan. Penderita akan
merasa senang dan tenteram apabila mendapat perhatian
dan dukungan dari keluarganya, karena dengan dukungan

tersebut akan menimbulkan kepercayaan dirinya untuk


menghadapi atau mengelola dengan lebih baik.
c. Dukungan sosial
Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari
anggota keluarga lain merupakan faktor-faktor yang penting
dalam kepatuhan terhadap program medis. Keluarga dapat
mengurangi ansietas pasien dengan cara menyampaikan
antusias mereka terhadap tindakan tertentu dari pasien, dan
secara terus menerus memberikan penghargaan yang positif
bagi pasien yang telah mampu beradaptasi dengan program
pengobatannya.
B. Tingkat Kepatuhan Kemoterapi
Kepatuhan pasien mengacu pada kemauan dan kemampuan
seorang individu untuk mengikuti saran medis, mengonsumsi obat sesuai
dengan yang diresepkan, mematuhi jadwal konsultasi medis, serta
menyelesaikan tindak lanjut medis sesuai dengan rekomendasi (Yegenoglu
dkk, 2003). Kepatuhan pasien dapat pula dikonotasikan sebagai partisipasi
dan keterlibatan aktof pasien dalam mempertahankan resimen atau cara
hidup diyakini akan bermanfaat serta oemahaman pasien bahwa hubungan
terapeutik dengan petugas medis sebagai sesuatu yang sangat penting
dalam keberhasilan mengikuti resimen pengobatan sesuai dengan yang
diresepkan (Bosworth dkk, 2008).
Penelitian dilakukan pada penderita kanker yang menjalani
kemoterapi di ruang kemoterapi RS Ken Saras Semarang, secara umum
semua responden kooperatif, meskipun ada juga beberapa responden yang
merasa kurang nyaman. Akan tetapi setelah diberikan penjelasan, akhirnya
responden tersebut bisa menerima. Pengambilan data dilakukan tanggal 29
Maret 2014 sampai 12 April 2014 pada 52 responden.
Kepatuhan adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap
instruksi atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang
ditentukan (Maryati, 2011). Berdasarkan penelitian sebagian besar

responden patuh dalam menjalani kemoterapi sebesar (88,5%) dan yang


tidak patuh sebesar (11,5%).
Hasil penelitian menunjukkan ratarata umur responden adalah 48,
94 tahun. Menurut peneliti masa dewasa tengah adalah usia yang paling
panjang dalam usia periode perkembangan. Individu pada usia ini
berusaha

untuk

penyakitnya.
Hasil

mengembangkan

penelitian

ini

dirinya

dalam

menunjukkan

penyembuhan

ratarata

responden

berpendidikan SMA dan Perguruan Tinggi (86,5%). Menurut peneliti


pendidikan memiliki peran yang penting dalam mempengaruhi seseorang
untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki baik dalam hal
kepribadian maupun kualitas hidup dengan memanfaatkan pengetahuan
yang dimilikinya, sehingga semakin tinggi pendidikan yang diperoleh
maka semakin tinggi pengetahuannya. Tingkat pendidikan pasien berperan
dalam kepatuhan, tetapi memahami instruksi pengobatan dan pentingnya
perawatan mungkin lebih penting dibandingkan dengan tingkat pendidikan
pasien (Kamerrer, 2007). Menurut Maryati (2011) juga menyatakan bahwa
tingkat pendidikan pasien dapat meningkatkan kepatuhan, jika pendidikan
tersebut merupakan pendidikan yang aktif yang diperoleh sacara mandiri
atau lewat tahapan tertentu.
Selama menjalani pengobatan, banyak hal yang harus dihadapi
oleh seorang pasien, diantaranya efek samping dari pengobatan
kemoterapi. Efek samping yang dirasakan oleh setiap pasien berbeda
beda, mulai dari rasa mual, kerontokan rambut, infeksi pada rongga mulut,
rasa nyeri pada seluruh tubuh hingga disfungsi seksual. Dengan adanya
berbagai efek samping tersebut akan semakin mempengaruhi perilaku
patuh pasien untuk tetap menjalani kemoterapi. Hasil penelitian ini
menunjukkan sebagian besar pasien patuh menjalani kemoterapi meski ada
beberapa yang tidak sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan
dikarenakan keadaan umum pasien yang tidak memenuhi syarat untuk
dimasukkannya obat kemoterapi, pasien harus dirawat di rumah sakit
untuk perbaikan kondisi agar obat bisa dimasukkan.

DAFTAR PUSTAKA
http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=2508
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/153/jtptunimus-gdl-fitrianaku-7609-5babiv.pdf
http://jurnalwacana.psikologi.fk.uns.ac.id/index.php/wacana/article/view/29/29