Anda di halaman 1dari 43

SMF/Lab Obstetri dan Ginekologi

Tutorial Klinik

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

G1P0A0 gravid 40-41 minggu, Tunggal Hidup, Presentasi Kepala, Inpartu


Kala I Fase Laten dengan Kondiloma Akuminata

Disusun oleh
Dessy Vinoricka Andriyana

0808015022

Gina Magda Riana

0808015021

Pembimbing
dr. I. G. A. A. Sri M. Montessori, Sp.OG

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


SMF/Lab Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
2013

BAB I
PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang
Kondiloma Akuminata (KA) adalah salah satu jenis Infeksi Menular

Seksual (IMS) yang merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh negara,


termasuk Indonesia . IMS adalah infeksi yang disebabkan invasi organisme virus,
bakteri, jamur, protozoa dan ektoparasit yang sebagian besar menular melalui
hubungan seksual (HUS), baik secara genito genital, oro genital maupun ano
genital pada HUS yang berlainan jenis atau sesama jenis (Koutsky & Kiviat,
2002).
IMS yang disebabkan oleh bakteri meliputi gonore, infeksi genital non
spesifik, sifilis, ulkus mole, limfogranuloma venereum, vaginosis bakterial. IMS
yang disebabkan oleh virus meliputi herpes genitalis, KA, infeksi Human
Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS),
hepatitis B, moluskum kontagiosum. IMS yang disebabkan oleh jamur adalah
kandidosis vulvovaginal. IMS yang disebabkan protozoa dan ektoparasit adalah
trikomoniasis, pedikulosis pubis, scabies. (Brandt & Jones, 2002)
KA adalah IMS yang disebabkan oleh Humanpapilloma virus (HPV) tipe
tertentu yang menyebabkan adanya kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit dan
mukosa. KA merupakan faktor predisposisi terjadinya kanker serviks, kehamilan
ektopik, kemandulan, transmisi transvertikal pada janin, komplikasi selama
kehamilan dan persalinan serta meningkatkan risiko infeksi HIV (co factor HIV)
(Brandt & Jones, 2002)
Prevalensi KA di tiap negara berbeda, tergantung praktek seksual dan
distribusi umur penduduk. Di negara maju, prevalensi KA di masyarakat berkisar
11 46%, dan pada PSK berkisar 43 63%. Di Indonesia, prevalensi KA di
masyarakat berkisar 5 19% dan pada pasien klinik IMS sebesar 27%. Di
Propinsi Jawa Tengah hanya tercatat 17 kasus KA dari total 2329 kasus IMS pada
tahun 2004. Di Kota Semarang, kasus KA tahun 2003 tercatat sebesar 6,8% (total

IMS 73 kasus), tahun 2004 sebesar 8,6% (total IMS 151 kasus) dan bulan Januari
Agustus 2005 kasus KA meningkat menjadi 12,2% (total IMS 131 kasus).
(Yenny & Hidayah, 2013)
Kondiloma akuminata memiliki infektivitas yang tinggi, di mana
permukaan mukosa yang lebih tipis akan lebih rentan terhadap inokulasi virus
dibanding kulit yang memiliki keratin tebal. Infektivitas HPV genital dari ibu
sehubungan dengan papiloma pada anak tampaknya rendah, namun risiko
penularan dari ibu ke anak dengan perkembangan penyakit selanjutnya pada anak
diperkirakan 1 diantara 80 dan 1 diantara 1500. (Yenny & Hidayah, 2013)
Selama kehamilan, kondiloma akuminata dapat berproliferasi dengan cepat
karena perubahan imunitas dan peningkatan suplai darah, dan kelainan ini dapat
muncul dalam bentuk klinis atau subklinis (laten). Bentuk klinis lebih
menyebabkan gangguan

emosional dan fisik pada pasien karena ibu harus

melahirkan secara sectio caesaria dan jika melahirkan secara spontan akan
terdapat kemungkinan risiko kontaminasi HPV pada bayi. (Brandt & Jones, 2002)

1.2
1.2.1

Tujuan
Menambah

pengetahuan

tentang

kehamilan

dengan

kondiloma

akuiminata
1.2.2 Mengkaji ketepatan dan kesesuaian kasus yang dilaporkan dengan
literature mengenai kehamilan dengan kondiloma akuiminata

BAB 2
LAPORAN KASUS
A. Anamnesis
Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan di Kamar Bersalin Ruang Mawar
pada tanggal 01 Mei 2013.
Identitas Pasien
Nama

: Ny. R

Usia

: 20 tahun

Jenis Kelamin

: Wanita

Status Perkawinan

: Menikah

Agama

: Islam

Suku

: Bugis

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Km. 31 Bukuan

MRS

: 01 Mei 2013

Waktu

: 17.15 WITA

Identitas Suami
Nama

: Tn. J

Usia

: 21 tahun

Jenis Kelamin

: Pria

Status Perkawinan

: Menikah

Agama

: Islam

Suku

: Bugis

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Km. 31 Bukuan

Keluhan Utama :
Keluar lendir disertai darah
Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dari Poli Kandungan dan Kebidanan RSUD AWS Samarinda
pada tanggal 01 Mei 2012, kemudian masuk ke ruangan Mawar pada pukul 17.15
WITA, dengan keluhan keluar lendir disertai darah sejak pukul 01.00 WITA (15
jam sebelum MRS), keluhan perut mules mules juga dirasakan sejak 1 hari
sebelum MRS. Keluhan pengeluaran air air tidak ada.
Pasien mengatakan terdapat benjolan-benjolan pada alat kelaminnya sejak
kurang lebih saat usia kehamilan muda. Keluhan ini tidak pernah dialami
sebelumnya. Awalnya benjolan muncul hanya sedikit pada bibir kemaluan bagian
luar kemudian makin bertambah banyak hingga ke dinding vagina bagian dalam.
Benjolan tidak gatal, tidak nyeri serta tidak pernah berdarah.
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Hipertensi tidak ada


Riwayat Sakit Jantung tidak ada
Riwayat Diabetes mellitus tidak ada
Riwayat penyakit lain di alat kelamin tidak ada.
Riwayat keluhan yang serupa tidak ada
Riwayat dirawat di RS saat usia kehamilan 1 bulan karena HEG

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat Hipertensi disangkal


Riwayat Sakit Jantung disangkal
Riwayat Diabetes mellitus disangkal
Riwayat keluhan yang serupa disangkal

Riwayat Menstruasi

Usia Menarche
Lamanya haid
Jumlah darah
HPHT
TP

:
:
:
:
:

14 tahun
6 hari
3x ganti pembalut/hari
23-07-2012
30-04-2013

Status Perkawinan

Perkawinan pertama
Lamanya menikah : 11 bulan
Kawin pertama usia : 19 tahun

Riwayat Obstetri
1. Hamil ini
Riwayat Asuhan Prenatal

Bidan Puskesmas setiap sebulan sekali

Riwayat Kontrasepsi

Tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi

B. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran
: Compos Mentis, GCS E4V5M6
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
Frekuensi Nadi : 88 x/menit, regular isi cukup, kuat angkat
Frekuensi Nafas : 22 x/menit, regular
Suhu
: 36,6C, aksiler
Kepala
Mata
Konjungtiva anemis (-/-),
Sclera ikterik (-/-),
Pupil isokor 3 mm/3mm, Refleks cahaya (+/+)
Hidung
Deviasi septum nasi (-)
Pernapasan cuping hidung (-)
Telinga
Gangguan pendengaran (-)
Mulut
Sianosis (-)
Pucat (-)
Leher
Deviasi trakea (-)
Pembesaran KGB (-)
Thoraks
Paru
Inspeksi

Pergerakan dada simetris, retraksi

ICS (-), Pelebaran ICS (-)

Palpasi

Perkusi

Gerakan dada simetris.

D
Sonor
Sonor
Sonor

S
Sonor
sonor
Sonor

Auskultasi

: vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)


Suara Nafas (+)
Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tampak


Palpasi
:
Ictus cordis teraba
Perkusi
:
batas jantung kanan : axilaris anterior
line dekstra, batas jantung kiri : midclavicula line ICS

V sinistra
Auskultasi : S1 S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Cembung
Palpasi
:
Soefl, hepar dan lien tidak teraba,

nyeri tekan epigastrium (-)


Perkusi
:
timpani di seluruh lapangan abdomen
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Ekstremitas
Superior :
Hangat (+), edema (-)
Inferior
:
Hangat (+), edema (-)

Pemeriksaan Obstetrik
Inspeksi

: perut tampak melebar, tampak linea nigra

Palpasi:
Leopold I : Teraba bokong, TFU 32 cm
Leopold II: Teraba punggung kiri
Leopold III

: Teraba kepala

Leopold IV

: Sudah masuk pintu atas panggul

DJJ

: 135 x/menit

His

: 2 x dalam 10 menit, dsurasi 25-30 detik

Pemeriksaan Dalam/ Vaginal Toucher (VT):

Pada dinding vulva dan vagina teraba adanya papul yang berdungkul
dungkul dengan permukaan yang tidak rata dan kasar, portio tebal
lunak, pembukaan 2 cm, ketuban (+), bagian kepala pada hodge I,
bagian terbawah janin kepala, blood slym (+).
Pemeriksaan Status Lokalis
Inspeksi : tampak adanya papul multipel berwarna merah muda,
soliter pada dinding vulva dan vagina. Ukuran setiap papul bervariasi,
namun secara umum berukuran sekitar 1-3 mm.

Secara soliter,

diameter papul mencapai 8 cm.


Palpasi : teraba papul yang multipel dan soliter dengan konsistensi
papul yang lunak, bertangkai, permukaan yang tidak rata dan kasar
pada dinding vulva dan vagina.

.
Pemeriksaan Laboratorium
Kadar
Leukosit
Hb
Ht
Trombosit
BT
CT
GDS
HbsAg
112
Diagnosis

10/03/2013
7.700
12,2
36,1
239.000
3
8
84
-

: G1P0A0 gravid 40-41 minggu, tunggal hidup, presentasi kepala

inpartu kala I fase laten, dengan kondiloma akuiminata.

Penatalaksanaan:
Monitoring:
Observasi tanda- tanda persalinan
Observasi keluhan subjektif

FOLLOW UP ANTEPARTUM
Waktu

Observasi

01 Mei 2013

Menerima pasien dari Poli Kandungan dan Kebidanan

17.15

RSUD AWS Sjahranie Samarinda pada tanggal 01 Mei


2013 pukul 17.15 WITA dengan keluhan dengan keluhan
keluar lendir disertai darah sejak pukul 01.00 WITA (15 jam
sebelum MRS), keluhan perut mules mules juga dirasakan
sejak 1 hari sebelum MRS. Keluhan pengeluaran air air
tidak ada.
Pemeriksaan Fisik :
Komposmentis, TD = 100/70 mmHg, N = 88 kali/menit, RR
= 20 kali/menit, T = 36,6 C
Pemeriksaan Obstetrik :
Inspeksi : perut tampak memanjang, tampak linea nigra
Palpasi :
Leopold I = TFU = 32 cm, teraba bokong
Leopold I = Teraba punggung di sebelah kanan ibu
Leopold III = Teraba kepala
Leopold IV = Sudah masuk pintu atas panggul
DJJ = 135 kali/menit.
His = 2 kali dalam 10 menit dengan durasi 25 - 30 detik.
Pemeriksaan Dalam :
pada dinding vulva/vagina teraba adanya papul yang
berdungkul - dungkul, portio tebal lunak, pembukaan 2 cm,
ketuban (+), kepala pada hodge I, bagian terbawah janin
kepala, blood slym (+)
Pemeriksaan Penunjang :
Hemoglobin : 12,2
Leukosit : 7.700
Hematokrit : 36,1
Trombosit : 239.000
GDS : 84
HbsAg : Ab HIV : Non Reaktif
Diagnosa : G1P0A0 gravid 40-41 minggu, tunggal hidup,
presentasi kepala, inpartu kala I fase laten dengan
kondiloma akuiminata
Lapor dr. Sp.OG : operasi cito sectio cesarea di OK IGD

18.00

jam 20.30 WITA.


DJJ = 139 kali/menit
9

His = 2 kali dalam 10 menit selama 25-30 detik


19.00

Lapor dr. Sp. Anestesi : Acc. Operasi

20.00
20.15

TD = 110/70 mmHg, N = 84 kali/menit, RR = 16 kali/menit


DJJ = 142 kali/menit
Pasien operasi sectio cesarea di OK IGD

21.30

Bayi lahir secara sectio cesarea , dengan A/S 9-10,


perempuan, BB 3000 gram, PB 48 Cm, A/C +/-

10

LAPORAN OPERASI
Laporan Operasi

Ny. R

Mawar

20 tahun
Nama Ahli Bedah : dr. Sp.OG
Nama Ahli Anastesi : dr. Sp.An
Diagnosa Pre Operasi:
G1P0A0 gravid 40-41 minggu, tunggal hidup, presentasi kepala inpartu kala I
fase laten, dengan kondiloma akuminata
Diagnosa Post Operasi:
P1A0 post SCTP gravid aterm dengan kondiloma akuminata
Tgl 01-05-2013, pukul 21.00 WITA
Macam Operasi : SCTP
Laporan
Operasi

Anastesi general, A dan Antiseptik pada lapangan operasi dan


sekitarnya. Dilakukan incisi mediana pada dinding abdomen,
dilakukan prosedur SCTP air ketuban jernih. Lahir bayi
perempuan dengan BB 3000 gr, PB 48 cm, A/S 9/10, injeksi
2 ampul oksitosin Intra muskular, SBU dijahit jelujur 1 lapis,
rongga abdomen ditutup lapis demi lapis, perdarahan selama
operasi + 400cc.

Instruksi post op :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

IVFD D5 % : RL = 2 : 2 30 tpm
Inj. Cefotaxim 3x1 gr
Ketorolac 3x1 amp
Tramadol 3x1 amp
Metoclopramide 3x1 amp
Istirahat baring pakai bantal
Imobilisasi
Observasi peristaltik, perdarahan dan diuresis
Cek Hb 6 jam post operasi

FOLLOW UP POSTPARTUM

11

01 Mei 2013

S: Nyeri pada luka bekas operasi, kentut (-)

23.30

O: TD 130/90 mmHg, N 84x/mnt, RR 20x/mnt, T 36,7OC,


Bising usus (-)
A: P1A0 Post SC hari 0 + Condiloma Akuiminata
P:
-

Bed Rest total

02 Mei 2013

- IVFD RL 20 tpm
- Inj. Cefotaxim 3x1 gr
- Ketorolac 3x1 amp
- Tramadol 3x1 amp
- Metoclopramide 3x1 amp
S: Nyeri pada luka bekas operasi, kentut (+)

(07.00)

O: TD 110/70 mmHg, N 74x/mnt, RR 20x/mnt, T 36,7OC ,


Bising usus (+) lemah
A: P1A0 Post SC hari 0 + Condiloma Akuiminata
P:

03 Mei 2013

Bed Rest

IVFD RL 20 tpm

Inj. Cefotaxim 3x1 gr


Ketorolac 3x1 amp
Tramadol 3x1 amp

- Metoclopramide 3x1 amp


S: Nyeri pada luka bekas operasi (+) , kentut (+)
O: TD 100/70 mmHg, N 84x/mnt, RR 20x/mnt, T 36,7OC,
bising usus (+) baik
A: P1A0 Post SC hari I + Condiloma Akuiminata
P:

04 Mei 2013

Cefotaxim 2x1 gr

SF 1x1

- Parasetamol 3x1
S: Tidak ada keluhan
O: TD 110/70 mmHg, N 84x/mnt, RR 20x/mnt, T 36,3OC,
bising usus (+) baik
A: P1A0 Post SC hari II + Condiloma Akuiminata
P:

12

Cefotaxim 2x1 gr

SF 1x1

Parasetamol 3x1

Pasien dipulangkan dan kontrol ke Poli kandungan.


BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1

Definisi
Kondiloma Akuminata (KA) adalah Infeksi Menular Seksual (IMS) yang

disebabkan oleh Human Papilloma virus (HPV) tipe tertentu dengan kelainan
berupa fibroepitelioma pada kulit dan mukosa. Terdapat lebih dari 100 tipe HPV,
30 tipe HPV di antaranya merupakan penyebab infeksi kelamin (UI, 2005)
KA seringkali disebut juga penyakit jengger ayam, kutil kelamin, genital
warts. Cara transmisi KA menular melalui kontak langsung dengan penderita KA,
yang berarti cara transmisi utama KA adalah melalui hubungan seksual. Juga
dilaporkan adanya transmisi KA melalui seks oral, perabaan alat kelamin, tangan
dan perantara objek/benda yang terkontaminasi HPV 3,10,48. Selain itu, dapat
juga terjadi transmisi vertikal dari ibu ke bayi dan autoinokulasi. Masa inkubasi
dari HPV bervariasi dari 3 minggu sampai 8 bulan, dengan rata rata 2 3 bulan
pada awal kontak. (UI, 2005)

13

Gambar 1. Kondiloma Akuiminata

3.2

Epidemiologi
Prevalensi infeksi HPV dalam bentuk KA sekitar 1% pada

orang dewasa aktif secara seksual. Sekitar 15% dari kelompok


yang terinfeksi mengalami infeksi subklinis atau laten dan
setidaknya 80% sudah terinfeksi dengan satu atau lebih jenis
HPV genital. Tingkat tertinggi frekuensi infeksi terjadi pada
kelompok dewasa usia 18 28 tahun. Selama 20 tahun terakhir
prevalensi penyakit ini menunjukkan angka pertumbuhan yang
konstan termasuk pada wanita hamil. (Yenny & Hidayah, 2013)
Risiko seorang perempuan tertular KA dari partner seksualnya adalah
sebesar 30%. Namun sayangnya, KA bersifat asimptomatis. Dari semua total
kasus KA yang ada, 60%-nya tanpa gejala, hanya 1% yang muncul manifestasi
klinis sebagai vegetasi genital, 4% hanya bisa dideteksi lewat colposcopy, 10%
hanya bisa dideteksi lewat pemeriksaan DNA/RNA dan 25% adalah infeksi
menetap KA. Hal ini berarti bahwa kasus KA merupakan ice berg phenomen

sehingga kasus yang muncul ke permukaan sesungguhnya bukanlah kasus yang


sebenarnya. (Koutsky & Kiviat, 2002)
Di Indonesia, prevalensi KA pada perempuan yang datang ke klinik KB
dan klinik universitas sebesar 5 19%. Prevalensi KA jauh lebih tinggi pada
perempuan yang datang ke klinik IMS yaitu sebesar 27%. Di Propinsi Jawa
Tengah, berdasarkan data kasus IMS dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah
hanya tercatat sebanyak 17 kasus KA dari total 2.329 kasus IMS. (Yenny &
Hidayah, 2013)
3.3

Faktor Resiko
a. Aktivitas Seksual
Kondiloma akuminata atau infeksi HPV sering terjadi pada orang
yang mempunyai aktivitas seksual yang aktif dan mempunyai pasangan
seksual lebih dari 1 orang (multiple). Winer et al., pada penelitiannya
menunjukkan bahwa mahasiswi-mahasiswa yang sering bergonta-ganti
pasangan seksual dapat terinfeksi HPV melalui pemeriksaan DNA. Wanita
dengan lima atau lebih pasangan seksual dalam lima tahun memiliki resiko
7,1% mengalami infeksi HPV (anogenital warts) dan 12,8% mengalami
kekambuhan dalam rentang waktu tersebut. Pada penelitian yang lebih
luas, WAVE III yang melibatkan wanita berusia 18-25 tahun yang
memiliki tiga kehidupan seksual dengan pasangan yang berbeda berpotensi
untuk terinfeksi HPV. (Brandt & Jones, 2002)
Aktivitas seksual yang melibatkan kontak antara kulit dan selaput
lendir dari alat kelamin, mulut, maupun lubang anus akan memudahkan
penyebaran berbagai mikroorganisme yang menyebabkan infeksi ini
(Gama & Aprilianingrum, 2006).
Infeksi HPV merupakan salah satu bentuk IMS yang paling
eksklusif dengan keunikan hidup virus yang memiliki masa inkubasi
yang lama, menyerang sistem kekebelan tubuh, bisa bereplikasi dan
bermutasi di dalam tubuh. Apabila seseorang mengalami IMS maka akan
terjadi reaksi radang, reaksi radang akan merangsang banyak keluarnya
sel darah putih pada tempat yang mengalami peradangan tersebut, sel

darah putih ini merupakan target sasaran dari HPV. Proses masuknya
virus ini juga akan dipercepat apabila terjadi luka erosi pada permukaan
kulit alat kelamin yang mengalami IMS. (Koutsky & Kiviat, 2002)
b. Penggunaan Kontrasepsi
Penelitian pada 603 mahasiswa yang menggunakan alat kontrasepsi
oral ternyata menunjukkan adanya hubungan terjadinya infeksi HPV pada
servik. Namun hubungan pasti antara alat kontrasepsi oral dengan angka
kejadian terjadinya kondiloma akuminata masih menjadi perdebatan di
dunia. (UI, 2005)
Amo,

2005

mengemukakan

bahwa

kontrasepsi

hormonal

berasosiasi kuat dan meningkatkan risiko terinfeksi KA pada perempuan,


yaitu sebesar 19,45; 95% CI : 2,45 154,27 7. Penelitian lain
menemukan bahwa kontrasepsi oral berisiko sebesar 1,7; 95% CI : 1,3
2,2 untuk terjadinya KA. (Yenny & Hidayah, 2013)
Penelitian menunjukkan bahwa resiko infeksi KA semakin
meningkat selama seorang wanita menggunakan kontrasepsi oral, tetapi
risikonya kembali turun lagi setelah kontrasepsi oral dihentikan..
American Cancer Society percaya bahwa seorang wanita dan dokter
harus mendiskusikan apakah manfaat menggunakan kontrasepsi oral
lebih besar daripada potensi resiko. Seorang wanita dengan beberapa
mitra seksual harus menggunakan kondom untuk menurunkan resikonya
penyakit menular seksual lainnya tidak peduli apa bentuk kontrasepsi ia
menggunakan. (Institute, 2004)
Estrogen merangsang pertumbuhan dan perkembangan rahim pada
masa pubertas, menyebabkan endometrium (lapisan dalam rahim)
menebal

pada

paruh

waktu

pertama

siklus

menstruasi

serta

mempengaruhi jaringan payudara sepanjang hidup hal ini terjadi dari


masa pubertas sampai menopause. Progesteron yang diproduksi pada
paruh terakhir dari siklus menstruasi mempersiapkan endometrium untuk
menerima telur. Jika telur telah dibuahi maka sekresi progesteron akan
mencegah pelepasan telur dari ovarium. Untuk alasan ini, progesteron
disebut "mendukung kehamilan" hormon, dan para ilmuwan percaya

bahwa ia memiliki efek kontrasepsi berharga. Progesteron buatan


manusia yang digunakan dalam kontrasepsi oral disebut progestogen atau
progestin. Karena penelitian medis menunjukkan bahwa beberapa jenis
kanker bergantung pada hormon seks alami bagi perkembangan mereka
dan pertumbuhan, para ilmuwan telah menyelidiki kemungkinan adanya
hubungan antara penggunaan kontrasepsi oral dan risiko kanker. Para
peneliti telah berfokus banyak perhatian pada pengguna kontrasepsi oral
selama 40 tahun terakhir. Pengawasan ini telah menghasilkan kekayaan
data tentang penggunaan kontrasepsi oral dan perkembangan kanker
tertentu, meskipun hasil studi ini tidak selalu konsisten. (Koutsky &
Kiviat, 2002)
c. Merokok
Hubungan antara merokok dengan terjadinya kondiloma akuminata
masih belum jelas. Namun pada penelitian ditemukan adanya korelasi
antara terjadinya infeksi HPV pada seviks dengan penggunaan rokok tanpa
filter (cigarette) dengan cara pengukuran HPV DNA. Menurut penelitian,
tembakau yang ada di dalam bahan dasar pembuatan rokok, merusak
sistem kekebalan atau mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan
infeksi HPV pada serviks. (Malik & Amin, 2004)
PSK di Spanyol yang berumur 25 tahun ke atas dan tidak merokok
mempunyai risiko yang rendah untuk terjadinya KA (OR 0,33; 95% CI :
0,17 0,63) dibandingkan pada PSK berumur < 25 tahun dan merokok
(OR 2,28; 95% CI : 1,36 3,8) 7. Moscicki (2001) melaporkan kebiasaan
merokok berisiko terinfeksi KA sebesar 1,50; 95% CI : 0,77 2,94 5.
Namun, kedua penelitian ini belum bisa menunjukkan adanya hubungan
dosis respon merokok terhadap terjadinya KA. Penelitian oleh Wen, dapat
membuktikan bahwa kebiasaan merokok 10 batang rokok per hari berisiko
2 kali terinfeksi KA dibandingkan pada non perokok (95% CI : 1,7
3,7)15. Sedangkan Minerd (2006) memaparkan bahwa kebiasaan merokok
pada penderita HIV positif berisiko 3,9 kali lebih besar terinfeksi KA
(Yenny & Hidayah, 2013)
d. Kehamilan

Penyakit ini tidak mempengaruhi kesuburan, hanya pada masa


kehamilan pertumbuhannya makin cepat, dan jika pertumbuhannya terlalu
besar dapat menghalangi lahirnya bayi dan dapat timbul perdarahan pasca
persalinan. Selain itu dapat juga menimbulkan kondiloma akuminata atau
papilomatosis laring (kutil pada saluran nafas) pada bayi baru lahir.
(Scwart & Greenberg, 1988)
e. Imunitas
Kondiloma

juga

sering

ditemukan

pada

pasien

yang

immunocompromised (misal : HIV). Imunitas tubuh berperan dalam


pertahanan tubuh terhadap HPV. Imunitas tubuh yang rendah berisiko 1,99
kali lebih besar (95% CI : 1,17 3,37) untuk terinfeksi KA. Imunitas
tubuh terhadap KA dapat juga diperoleh dari vaksin HPV, namun
efektifitas vaksin HPV ini masih dalam tahap penelitian. (Scwart &
Greenberg, 1988)

3.4

Patofisiologi
HPV merupakan kelompok virus DNA double-strand. Sekitar 30 jenis

HPV dapat menginfeksi traktus anogenital. Virus ini menyebabkan lokal infeksi
dan muncul sebagai lesi kondiloma papilomatous. (Institute, 2004)
HPV yang berhubungan dengan traktus genital dibagi dalam kelompok
resiko rendah dan resiko tinggi yang didasarkan atas genotipe masing-masing.
Sebagian besar kondiloma genital diinfeksi oleh tipe HPV-6 atau HPV-11.
Sementara tipe 16, 18, 31, 33, 45, 51, 52, 56, 68, 89 merupakan resiko tinggi. (UI,
2005)
Papiloma virus bersifat epiteliotropik dan replikasinya tergantung dari
adanya epitel skuamosa yang berdeferensisasi. DNA virus dapat ditemui pada
lapisan bawah epitel, namun struktur protein virus tidak ditemukan. Lapisan basal
sel yang terkena ditandai dengan batas yang jelas pada dermis. Lapisan menjadi
hiperplasia (akantosis), pars papilare pada dermis memanjang. Gambaran

hiperkeratosis tidak selalu ada, kecuali bila kutil telah ditemui pada waktu yang
lama atau pengobatan yang tidak berhasil, dimana stratum korneum hanya
mengandung 2 lapisan sel yang parakeratosis. Koibeytes terpancar pencar keluar
dari lapisan terluar dari kutil genitalia. Merupakan sel skuamosa yang zona mature
perinuclear yang luas dibatasi dari peripheral sitoplasma. Intinya bisa diperluas
dan hyperchromasi, 2 atau lebih nuclei / inti bisa terlihat.
Sel dari lapisan basal epidermis diinvasi oleh HPV. Hal ini berpenetrasi
melalui kulit dan menyebabkan mikroabrasi. Fase virus laten dimulai dengan tidak
ada tanda atau gejala dan dapat berakhir hingga bulan dan tahun. Mengikut fase
laten, produksi DNA virus, kapsid, dan partikel dimulai. Sel host menjadi
terinfeksi dan timbul atipikal morfologis koilocytosis dari kondiloma akuiminata.
Area yang paling sering terkena adalah penis, vulva, vagina, serviks, perineum,
dan perianal. Lesi mukosa yang tidak biasa adalah di orofaring, laring, dan trakea
telah dilaporkan. HPV 6 bahkan telah dilaporkan di area lain yang tidak biasa (di
ekstrimitas). Lesi simultan multiple juga sering dan melibatkan keadaan subklinis
sebagaimana anatomi yang berdiferensiasi dengan baik. Infeksi subklinis telah
ditegakkan dalam membawa keadaan infeksi dan potensi onkogenik. (Brandt &
Jones, 2002)
Kondiloma akuminata dibagi dalam 3 bentuk:
1. Bentuk akuminata
Terutama dijumpai pada daerah lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi
bertangkai dengan permukaan berjonjot seperti jari. Beberapa kutil dapat
bersatu membentuk lesi yang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol.
Lesi yang besar ini sering dijumpai pada wanita yang mengalami fluor albus
dan pada wanita hamil, atau pada keadaan imunitas terganggu. (UI, 2005)
2. Bentuk papul
Lesi bentuk papul biasanya didapati di daerah dengan keratinisasi sempurna,
seperti batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan perineum.
Kelainan berupa papul dengan permukaan yang halus dan licin, multipel dan
tersebar secara diskret. (Institute, 2004)
3. Bentuk datar

Secara klinis, lesi bentuk ini terlihat sebagai makula atau bahkan sama sekali
tidak tampak dengan mata telanjang, dan baru terlihat setelah dilakukan tes
asam asetat. Dalam hal ini penggunaan kolposkopi sangat menolong. (UI,
2005)

3.5

Tanda dan Gejala


Penyakit ini terutama terdapat di daerah lipatan yang lembab, misalnya di
daerah genitalia eksterna. Pada pria tempat predileksinya di perineum dan
perineum dan sekitar anus, sulkus koronarius, glans penis, muara uretra
eksterna, korpus dan pangkal penis. Pada wanita di daerah vulva dan
sekitarnya, inroitus vagina, kadang kadang porsio uteri. Pada wanita
yang banyak mengeluarkan fluor albus atau wanita yang hami
pertumbuhan penyakit lebih cepat.
Berbau busuk (Malik & Amin, 2004)
Warts/kutil memberi gambaran merah muda, flat, gambaran bunga kol
(Manuaba, 1998)
Pada pria dapat menyerang penis, uretra dan daerah rektal. Infeksi dapat
dormant atau tidak dapat dideteksi, karena sebagian lesi tersembunyi
didalam folikel rambut atau dalam lingkaran dalam penis yang tidak di
sirkumsisi. (Malik & Amin, 2004)
Pada wanita condiloma akuminata menyerang daerah yang lembab dari
labia minora dan vagina. Sebagian besar lesi timbul tanpa simptom. Pada
sebagian kasus biasanya terjadi perdarah setelah coitus, gatal atau
vaginal discharge (Malik & Amin, 2004)
Ukuran tiap kutil biasanya 1-2 mm, namun bila berkumpul sampai
berdiameter 10 cm dan bertangkai. Dan biasanya ada yang sangat kecil
sampai tidak diperhatikan. Terkadang muncul lebih dari satu daerah.
(Institute, 2004)
Pada kasus yang jarang, perdarahan dan obstruksi saluran kemih jika virus
mencapai saluran uretra (Manuaba, 1998)
7

Memiliki riwayat kehidupan seksual aktif dengan banyak pasangan.


(Manuaba, 1998)

3. 6

Diagnosis Banding
Papul dan nodul pseudoverrucous adalah suatu kondisi yang dapat

dilihat berkaitan dengan ureterostomi dan pada daerah perianal yang berkaitan
dengan defekasi yang tidak dapat ditahan juga bisa menyerupai kondiloma
acuminata. Papul papul yang terdapat didaerah anogenital seperti molusca
dan skintag, (UI, 2005)

Veruka vulgaris yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu abu

atau sama dengan warna kulit.


Kondiloma latum atau sifilis stadium II, klinis berupa plakat yang erosi,

ditemukan banyak Sphirochaeta pallidum


Karsinoma sel skuamosa vegetasi yang seperti kembang kol mudah
berdarah dan berbau.

3.7

Penegakkan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Dapat dilakukan
pemeriksaan penunjang dengan (Koutsky & Kiviat, 2002) :
a. Acetowhitening
Tes ini menggunakan larutan asam asetat 3-5% dalam akuades,
dapat menolong mendeteksi infeksi HPV subklinis atau untuk
menentukan batas pada lesi datar.
Pemeriksaan ini menolong dalam membatasi infeksi HPV ke
cerviks dan anus. Sensitivitas acetowhitening pada infeksi HPV cukup
baik dan untuk beberapa lesi hasil pemeriksaan tersebut lebih baik
dibandingkan dengan hasil pemeriksaan histopatologi pada biopsi rutin.
Acetowhitening pada lesi genital eksternal tidak spesifik untuk
kondiloma (Murtiastutik, 2010).
b. Papsmear

Seluruh wanita seharusnya dimotivasi untuk melakukan pap


smear setiap tahun, karena HPV merupakan penyebab utama pada
patogenesis carcinoma cerviks. Anal pap smear test dengan cervikscal
brush dan larutan fiksasi membantu dalam mendeteksi kelainan anus.
Oleh karena itu setiap wanita denagn kondiloma akuminata atau yang
merupakan mitra seksual pria penderita kondiloma akuminata sebaiknya
dilakukan pap smear. (Murtiastutik, 2010)
c. Dermatopatologi (Biopsi)
Biopsi diindikasikan pada keadaan berikut ini :
a. Diagnosis tidak pasti
b. Lesi tidak berespon terhadap terapi standar
c. Lesi menjadi lebih buruk selama terapi
e. Kondiloma berpigmen, indurasi, terinfeksi dan atau timbul ulkus
f. Seluruh lesi serviks (Murtiastutik, 2010)
Pemeriksaan

biopsi

ini

juga

diindikasikan

untuk

mengkonfirmasikan dan untuk menyingkirkan squamous cell carcinoma


invasif.

Pada

kondiloma

akuminata

didapatkan

akantosis

dan

papillomatosis pada lapisan malpighi, dengan penebalan dan elongasi


rete ridge. Pada lapisan malpighi bagian atas didapatkan banyak sel
vakuolisasi, tetapi distribusinya terbatas dan tidak ditemukan pada
seluruh bagian, pembuluh darah kapiler berliku-liku dan meningkat.
Lapisan tanduk mengalami parakeratosis, terutama pada lesi di
permukaan mukosa. Stratum korneum tidak terlalu tebal. Dapat pula
diperoleh gambaran mitosis, koilositosis nukleus, dobel nukleus dan
apoptosis keratinosit. Selain itu didapatkan infitrasi sel radang MN ke
dalam dermis. (Murtiastutik, 2010)
d. Deteksi DNA HPV
Adanya DNA HPV dan tipe HPV yang spesifik dapat
ditentukan dengan hibridisasi pada hapusan dan spesimen biopsi. Ada
beberapa teknik hibridisasi, antara lain hibridisasi insitu, Southern blot,
Northern blot,dot blot, filter insitu hybridization, dan polymerase chain
reaction. Ada beberapa pertimbangan dalam pemilihan metode

hibridisasi, antara lain : bahan klinis yang dianalisis, kondisi bahan


klinis,

ukuran

sampel

klinis

atau

hasil

DNA

selular,

sensitivitas,spesifisitas tipe HPV serta kepraktisan tes. (Murtiastutik,


2010)
e. Serologi
Kejadian Kondiloma akuminata merupakan pertanda kegiatan
seksual yang tidak aman, sehingga tes serologis untuk sifilis dilakukan
pada seluruh pasien untuk menyingkirkan koinfeksi dengan Treponema
pallidum (Murtiastutik, 2010).

10

3.8

Kondiloma Akuminata dalam Kehamilan

3.8.1

Kehamilan dan kondiloma acuminata/HPV


Wanita

yang

terpapar

HPV

selama

kehamilan

memiliki

kekhawatiran bahwa virus ini akan membahayakan bayi mereka. Dalam


kebanyakan kasus HPV tidak mempengaruhi perkembangan janin. (Scwart
& Greenberg, 1988)
A. Pengaruh kondiloma selama kehamilan
Kondiloma akuminata dapat berkembang selama kehamilan
karena perubahan imunitas dan peningkatan suplai darah. Transmisi
HPV dari ibu ke bayi jarang terjadi, namun dapat menyebabkan
terjadinya respiratory papillomatosis yang dapat mengakibatkan
kematian atau morbiditas seumur hidup pada anak. (Scwart &
Greenberg, 1988)
Selain itu, infeksi HPV pada trofoblas ekstravili dapat
menginduksi kematian sel dan mengurangi invasi plasenta ke dinding
rahim sehingga menyebabkan disfungsi plasenta dan secara spontan
dapat menyebabkan kelahiran premature. (Scwart & Greenberg, 1988)
B. Pengaruh kondiloma acuminata/HPV terhadap bayi
HPV tidak mempengaruhi kehamilan dan kesehatan bayi secara
langsung. Resiko transmisi virus ini terhadap bayi sangat rendah.
(Yenny & Hidayah, 2013)
Jika bayi terpapar virus saat kehamilan atau saat melahirkan
maka transmisi ini bisa menyebabkan terjadinya perkembangan
wart/kutil pada korda vokalis dan kadang pada daerah lain pada infan
atau

anak-anak.

Kondisi

ini

disebut

recurrent

respiratory

papillomatous (RRP), hal ini sangaat berbahaya, namun hal ini sangat
jarang terjadi. (Yenny & Hidayah, 2013)
Menurut Sinal, Woods (2005), melahirkan melalui jalan lahir
dari vagina yang terinfeksi dapat menyebabkan lesi (semacam luka) di
pernafasan bayi. Kutil kelamin memang ditularkan ke bayi baru lahir
atau pasangannya, dan ada kemungkinan untuk berulang (kambuh)
(Scwart & Greenberg, 1988)

10

Pada persalinan dengan Condyloma genital, adanya candyloma


beresiko:
1. Resiko penularan ke anaknya, jika dilahirkan melalui vagina.
2. Resiko terjadi perdarahan bila dilahirkan melalui vagina, yaitu bila
jaringan yang mengalami infeksi condyloma itu mengalami ruptur
(mudahnya robek), bisa menimbulkan perdarahan banyak.
Karena risiko itulah, dipertimbangkan untuk lebih baik dilahirkan melalui
sectio sesarea. (Scwart & Greenberg, 1988)
C. Aktivitas
Tidak ada restriksi kecuali menghindari hubungan seksual (Yenny
& Hidayah, 2013)
D. Diet
Tidak ada restriksi, namun sebaiknya mengkonsumsi nutrisi yang
seimbang pada program dietari untuk memastikan ibu mendapatkan sitem
imun yang optimal. (Wahyuni, 2003) Dietari program :

Sangat penting
1. vitamin B-kompleks, penting untuk multiplikasi sel
2. vitamin C, antiviral

Penting
1.

L-Cystein, suplai sulfur, sebagai preventasi dan perawatan kutil

2.

Vitamin A, menormalkan kulit dan epitel membran

3.

vitamin E, meningkatkan aliran darah dan membantu perbaikan


jaringan

4.

3. 9

Zinc, meningkatkan imunitas tubuh melawan virus

Komplikasi
KA merupakan IMS yang berbahaya karena dapat menyebabkan
terjadinya komplikasi penyakit lain yaitu :
a. Kanker serviks

11

Lama infeksi KA meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks.


Moscicki, 2001 melaporkan bahwa risiko tertinggi terkena kanker serviks
adalah pada kasus infeksi KA selama 1 2 tahun (RH 10,27; 95% CI :
5,64 18,69). Risiko ini menurun pada infeksi KA selama < 1 tahun (RH
7,4; 95% CI : 4,74 11,57) dan infeksi KA selama 2 3 tahun RH 6,11;
95% CI : 1,86 20,06. (Brandt & Jones, 2002)
Kanker serviks merupakan penyebab kematian kedua pada
perempuan karena kanker di negara berkembang dan penyebab ke 11
kematian pada perempuan di AS. Tahun 2005, sebanyak 10.370 kasus
kanker serviks baru ditemukan dan 3.710 diantaranya mengalami kematian
(Koutsky & Kiviat, 2002)
b. Kanker genital lain
Selain menyebabkan kanker serviks, KA juga dapat menyebabkan
kanker genital lainnya seperti kanker vulva, anus dan penis. (Koutsky &
Kiviat, 2002)
c. Infeksi HIV
Seseorang dengan riwayat KA lebih berisiko terinfeksi HIV.
(Scwart & Greenberg, 1988)
d. Komplikasi selama kehamilan dan persalinan
KA selama masa kehamilan, dapat terus berkembang membesar di
daerah dinding vagina dan menyebabkan sulitnya proses persalinan. Selain
itu, kondisi KA dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga
terjadi transmisi penularan KA pada janin. (Wiknjosastro, Saifuddin, &
Rachimhadhi, 2007)

3.10 Penatalaksanaan
Karena virus infeksi HPV sangat bersifat subklinis dan laten, maka
tidak terdapat terapi spesifik terhadap virus ini, maka perawatan diarahkan
pada pembersihan kutil kutil yang tampak dan bukan pemusnahan virus.
Pemeriksaan adalah lesi yang muncul sebelum kanker serviks adalah sangant

12

penting bagi pasien wanit yang memiliki lesi klinis atau riwayat kontak.
Perhatian pada pribadi harus ditekankan karena kelembaban mendukung
pertumbuhan kutil (Wiknjosastro, Saifuddin, & Rachimhadhi, 2007)
a. Kemoterapi
1. Podophylin
Podophylin adalah resin yang diambil dari tumbuhan dengan
kandungan beberapa senyawa sitotoksik yang rasionya tidak dapat dirubah.
Podophylino yang paling aktif adalah podophylotoksin. Jenis ini mungkin
terdiri atas berbagai konsentrasi 10 25 % dengan senyawa benzoin
tinoture, spirit dan parafin cair.yang digunakan adalah tingtur podofilin 25
%, kulit di sekitarnya dilindungi dengan vaselin atau pasta agar tidak
terjadi iritasi setelah 4 6 jam dicuci. Jika belum ada penyembuhan dapat
diulangi setelah 3 hari, setiap kali pemberian tidak boleh lebih dari 0,3 cc
karena akan diserap dan bersifat toksik. Gejala toksik ialah mual, muntah,
nyeri abdomen gangguan alat napas dan keringat kulit dingin. Pada wanita
hamil sebaiknya jangan diberikan karena dapat terjadi kematian fetus.
Respon pada jenis perawatan ini bervariasi, beberapa pasien membutuhkan
beberapa sesi perawaan untuk mencapai kesembuhan klinis, sementara
pasien pasien yang lain menunjukkan respon yang kecil dan jenis
perawatan lain harus dipertimbangkan. (Malik & Amin, 2004)
2. Podofilytocin
Ini merupakan satu bahan aktif resin podophylin dan tersedia
sebanyak 0,5 % dalam larutan eatnol. Ini merupakan agen anti mitotis
dan tidak disarankan untuk penggunaan pada masa kehamilan atau
menyusui, jenis ini lebih aman dibandingkan podophylin apilkasi mandiri
dapat diperbolehkan pada kasus kasus keluhan yang sesuai (Manuaba,
1998)
3. Asam Triklorasetik ( TCA )
Ini agent topikal alternatif dan seringkali digunakan pada kutil
dengan konsentrasi 30 50 % dioleskan setiap minggu dan pemberian
harus sangat hati hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam.

13

Bahan ini dapat digunakan pada masa kehamilan. (Scwart & Greenberg,
1988)
4.

Topikal 5-Fluorourasil (5 FU )
Cream 5 Fu dapat digunakan khususnya untuk perawatan kutil
uretra dan vulva vagina, konsentrasinya 1 5 % pemberian dilakukan
setiap hari sampai lesi hilang dan tidak miksi selama pemberian. Iritasi
lokal bukan hal yang tidak bisa. (Koutsky & Kiviat, 2002)

5. Interferon
Meskipun interferon telah menunjukkan hasil yang menjanjinkan
bagi verucciformis dan infeksi HPV anogenital, keefektifan bahan ini
dalam perawatan terhadap kutil kelamin masih dipertanyakan. Terapi
parentral dan intralesional terhadapa kutil kelamin dengan persiapan
interferon alami dan rekombinasi telah menghasilkan tingkat respon yang
berkisar antara 870 80 % pada laporan laporan awal. Telah ditunjukkan
pula bahwa kombinasi IFN dengan prosedur pembedahan ablatif lainnya
menghasilkan tingkat kekambuhan ( relapse rate ) dan lebih rendah. Efek
samping dari perlakuan inerferon sistemik meliputi panyakit seperti flu dan
neutropenia transien (Koutsky & Kiviat, 2002)
b. Non Farmakologis
Obat Kutil pada kelamin (Kutil Kondiloma pada pria / Kutil
Jengger Ayam pada wanita). Penggunaan: Bubuk WARTS POWDER
dicampur dengan air hangat dan dioleskan pada bagian yang sakit, secara
teratur 2x sehari. Tidak pedih, ampuh dan aman karena terbuat dari bahanbahan alami. (UI, 2005)
c. Terapi pembedahan
1. Kuret atau Kauter ( Elektrokauterisasi )
Kuret atau Kauter ( Elektrokauterisasi ) dengan kondisi anastesi
lokal dapat digunakan untuk pengobatan kutil yang resister terhadap
perlakuan topikal munculnya bekas luka parut adalah salah satu
kekurangan metode ini. (UI, 2005)
2. Bedah Beku ( N2, N2O cair )

14

Bedah beku ini banyak menolong untuk pengobatan kondiloma


akuminata pada wanita hamil dengan lesi yang banyak dan basah. (UI,
2005)
3. Laser
Laser karbodioksida efektif digunakan untuk memusnahkan
beberapa kutil kutil yang sulit. Tidak terdapat kekawatiran mengenai
ketidakefektifan karbondioksida yang dibangkitkan selama prosedur
selesai, sedikit meninggalkan jaringan parut. (Unpad, 1997)
4. Terapi Kombinasi
Berbagai kombinasi terapi yang telah dipergunakan terhadap kutil
kelamin yang membandel, contohnya kombinasi interferon dengan
prosedur pembedahan, kombinasi TCA dengan podophylin, pembedahan
dengan podophylin. Seseorang harus sangat berhati hati ketika
menggunakan terapi kombinasi tersebut dikarenakan beberapa dari
perlakuan tersebut dapat mengakibatkan reaksi yang sangat serius.
(Unpad, 1997)
3. 11 Prognosis
Kondiloma akuminata dapat memberikan prognosis baik teapi
tingkat rekurensi tinggi. Tingkat rekurensi bervariasi mulai 20-50% setelah
dilakukan berbagai jenis terapi. Tetapi terapi bedah dengan pemberian
imiquimod terlihat lebih efektif. Meskipun banyak pilihan terapi namun
belum diputuskan terapi yang optimal untuk kondiloma akuminata.
Pengaruh terhadap kehamilan, perkembangan kehamilan, janin sangat
minimal. (Brandt & Jones, 2002)
Walaupun

sering

mengalami

residif,

prognosis

kondiloma

akuminata baik. Oleh karena itu, faktor predisposisi perlu dicari misal
higiene, adanya fluor albus atau kelembaban pada pria akibat tidak
sirkumsisi. Tingkat kekambuhan lebih dari 50% sesudah 1 tahun dan dapat
terjadi karena :
1. Infeksi ulang dari kontak seksual

15

2. Masa inkubasi HPV yang panjang


3. Lokasi virus pada lapisan kulit superfisial yang jauh dari kelenjar limfe
4. Menetapnya virus pada kulit di sekitar lesi, folikel rambut atau tempat
yang tidak dapat dijangkau oleh intervensi yang digunakan
5. Lesi yang tidak dijumpai atau lesi yang dalam (Murtiastutik, 2010)
3. 12

Pencegahan
Hanya ada satu cara pencegahan terhadap infeksi HPV atau
Kondiloma akuminata yaitu menghindari kontak langsung dengan virus.
Penularan infeksi HPV langsung dari orang ke orang melalui mikrolesi.
Jika KA tampak secara klinis pada daerah genitalia, kontak seksual
sebaiknya dihindari terlebih dahulu, sampai pengobatan telah selesai dan
berhasil. Selain itu, para mitra seksual juga perlu diperiksa akan adanya
kondiloma akuminata. Pasien dengan kutil anogenital perlu disadarkan
bahwa yang bersangkutan dapat menularkan penyakitnya, sehinga
pengobatan harus dilakukan pada kedua pasangan

(Murtiastutik, 2010)

Penggunaan kondom pada saat melakukan hubungan mungkin


dapat membantu menurunkan risiko terjadinya penularan. Data yang
terbaru mengenai efikasi penggunaan kondom dalam mencegah penularan
infeksi HPV masih kurang. Kondom tidak dapat melindungi dari infeksi
HPV, karena HPV dapat ditularkan melalui kontak kulit ke kulit pada area
tubuh yang terinfeksi HPV, seperti kulit genetalia atau anus yang tidak
tertutup kondom. (Murtiastutik, 2010)
Cara pencegahan yang lain untuk menghindari kontak langsung
yaitu dengan mengurangi atau membatasi jumlah pasangan seksual.
Seorang dengan KA yang telah mendapatkan pengobatan dan lesi sudah
tidak tampak atau menghilang, sebaiknya menggunakan kondom selama
berhubungan jika mempunyai pasangan seksual banyak. Sedangkan
pencegahan terhadap HIV bertujuan untuk : Membuat pasien memahami
perlunya menghindari perilaku berisiko. Sebagai pelaksana adalah
konselor tingkat dasar. Konseling ini berisikan, pemahaman HIV/AIDS
dan dampak fisik serta psikososial, Cara penularan dan tidak menularkan,

16

pencegahan, pemahaman perilaku hidup sehat, serta mendorong perubahan


perilaku kearah hidup sehat. Perubahan prilaku ini merupakan tujuan yang
sangat penting. (Murtiastutik, 2010)

3.14

Kesehatan Ibu dan Anak


a. Bagi ibu dianjurkan melakukan perawatan diri dan bayi, serta
memeriksakan diri ke dokter bila terjadi masalah selama masa nifas.
b. Untuk perencanaan kehamilan kembali jangan berjarak selama lebih
kurang satu tahun dari persalinan sekarang, untuk memberikan
kesempatan pada luka untuk sembuh dengan baik.
c. Dianjurkan memakai kontrasepsi selain kontrasepsi oral.
d. Bila hamil kembali, harus diawasi dengan pemeriksaan antenatal yang
baik dan benar.
e. Anjurkan ibu untuk selalu membersihkan alat kelaminnya dengan air
hangat.
f. Anjurkan pada ibu untuk senantiasa menjaga personal hygiene.
g. Jelaskan pada ibu tentang tanda dan gejala penyakit menular seksual
sehingga sesegara mungkin mencari pengobatan.
h. Anjurkan pada pasien untuk memriksa keadaannya 1 bulan setelah
pengobatan untuk mencegah timbulnya atau munculnya luka-luka baru.
Pemeriksaan lanjutan dibutuhkan setiap minggu sampai seluruh kutil
benar-benar hilang. Informasikan pada pasien tentang keadaan yang
dialami saat ini
i. Anjurkan pada pasien untuk menghindari aktivitas seksual sampai
tidak ditemukan komplikasi atau sampai dengan pengobatan terakhir
dan sampai ditemukan hasil yang negatif pada pemeriksaan.

17

BAB 4
PEMBAHASAN
A. Anamnesis
Fakta

Teori
Faktor

1. Pernikahan pertama

Risiko

terjadinya

condiloma

akuiminata :
1. Aktivitas seksual
Kondiloma akuminata sering
terjadi pada orang yang mempunyai
aktivitas seksual yang aktif dan
mempunyai pasangan seksual lebih

2. Pasien

tidak

menggunakan

kontrasepsi

dari 1 orang (multiple).


2. Penggunaan Kontrasepsi
Kontrasepsi hormonal dan oral
berasosiasi kuat dan meningkatkan
risiko terinfeksi KA pada perempuan
3. Merokok
Pada

3. Pasien tidak merokok

penelitian

ditemukan

adanya korelasi antara terjadinya


infeksi HPV pada seviks dengan
penggunaan

rokok

tanpa

filter

(cigarette) dengan cara pengukuran


HPV DNA.
4. Kehamilan
Penyakit ini tidak mempengaruhi
4. Riwayat Obstetri : G1P0A0

kesuburan, hanya pada masa kehamilan


pertumbuhannya makin cepat, dan jika
pertumbuhannya terlalu besar dapat
menghalangi lahirnya bayi dan dapat
timbul perdarahan pasca persalinan.
5. Imunitas
Kondiloma juga sering ditemukan

18

pada pasien yang immunocompromised


5. Ab HIV : Non Reaktif

(misal : HIV).
Tanda dan Gejala :
1. Berbau busuk
2. Sebagian besar lesi timbul tanpa
simptom.
3. Pada sebagian kasus biasanya terjadi

Keluhan Pasien :
1. Tidak berbau
2. Kutil yang timbul tidak terasa
nyeri
3. Tidak pernah berdarah, gatal

perdarahan setelah coitus, gatal atau


vaginal discharge
4. Pada kasus yang jarang, perdarahan
dan obstruksi saluran kemih jika

(-), keputihan (+).

virus mencapai saluran uretra


5. Memiliki riwayat kehidupan seksual

4. Tidak ada keluhan BAK.

aktif dengan banyak pasangan.


5. Riwayat kehidupan seksual aktif
dengan

banyak

pasangan

disangkal.

Pada pasien ini mengeluh keluar lendir dan darah, perut terasa mules
namun tidak ada pengeluaran air air. Keluhan yang dirasakan pasien
menunjukkan pasien telah menunjukkan tanda tanda inpartu. Tanda inpartu
meliputi adanya his yang adekuat, pengeluaran lendir dan darah, serta adanya
penipisan dan pendataran serviks. Selain keluhan tersebut, pasien juga mengeluh
adanya kutil di alat kemaluan pasien, yang tumbuh secara tiba tiba tanpa
menunjukkan gejala apapun. Pada kondiloma akuiminata, pertumbuhan papul
terjadi secara cepat dan sering tidak menunjukkan gejala.
Menurut pengakuan pasien, pasien hanya berhubungan dengan suami,
begitu pula dengan suami. Pasien tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi.
Pasien tidak merokok. Namun saat ini pasien sedang hamil. Menurut teori, faktor
resiko untuk terjadinya kondiloma akuiminata adalah aktivitas seksual yang
dilakukan dengan lebih dari satu pasangan, penggunaan kontrasepsi, merokok,
kehamilan dan imuntas yang rendah. Pasien ini sedang hamil, kehamilan dapat
menyebabkan

pertumbuhan

kondiloma

menjadi

makin cepat, dan

jika

19

pertumbuhannya terlalu besar dapat menghalangi lahirnya bayi dan dapat timbul
perdarahan pasca persalinan.
B. Pemeriksaan Fisik
Fakta

Teori

Pemeriksaan Status Lokalis

Pemeriksaan

Fisik

pada

Kondiloma

Akuiminata :
Inspeksi

Inspeksi :

Tampak

adanya

papul

multipel

berwarna

merah

muda, soliter pada dinding

Terutama dijumpai pada daerah

lipatan dan lembab.


Terlihat
vegetasi

vulva dan vagina. Ukuran

dengan

setiap

seperti jari.
Beberapa kutil dapat bersatu

papul

namun

secara

bervariasi,
umum

berjonjot

membentuk lesi yang lebih besar

berukuran sekitar 1-3 mm.

sehingga tampak seperti kembang

Secara soliter, diameter papul


mencapai 8 cm.

permukaan

bertangkai

kol.
Lesi

yang

dijumpai

besar

pada

ini

wanita

sering
yang

mengalami fluor albus dan pada


wanita hamil, atau pada keadaan

imunitas terganggu
Ukuran tiap kutil biasanya 1-2
mm,

namun

bila

berkumpul

sampai berdiameter 10 cm dan


bertangkai. Dan biasanya ada
yang sangat kecil sampai tidak
diperhatikan. Terkadang muncul
lebih dari satu daerah
Palpasi :
Permukaan lesi tidak rata, kasar,
berjonjot jonjot, konsistensi
Palpasi

lunak, bertangkai.
20

Teraba papul yang multipel


dan soliter dengan konsistensi
papul yang lunak, permukaan
yang tidak rata dan kasar
pada

dinding

vulva

dan

vagina.

Pada pasien ini ditemukan adanya papul multipel berwarna merah muda,
soliter pada dinding vulva dan vagina. Ukuran setiap papul bervariasi, namun
secara umum berukuran sekitar 1-3 mm. Secara soliter, diameter papul mencapai
8 cm. Pada palpasi diperoleh, papul yang multipel dan soliter dengan konsistensi
papul yang lunak, permukaan yang tidak rata dan kasar pada dinding vulva dan
vagina. Menurut teori kondiloma memiliki 3 bentukan :
1. Bentuk akuminata
Terutama dijumpai pada daerah lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi
bertangkai dengan permukaan berjonjot seperti jari. Beberapa kutil dapat
bersatu membentuk lesi yang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol.
Lesi yang besar ini sering dijumpai pada wanita yang mengalami fluor albus
dan pada wanita hamil, atau pada keadaan imunitas terganggu.
2. Bentuk papul
Lesi bentuk papul biasanya didapati di daerah dengan keratinisasi sempurna,
seperti batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan perineum.
Kelainan berupa papul dengan permukaan yang halus dan licin, multipel dan
tersebar secara diskret.
3. Bentuk datar
Secara klinis, lesi bentuk ini terlihat sebagai makula atau bahkan sama sekali
tidak tampak dengan mata telanjang, dan baru terlihat setelah dilakukan tes
asam asetat. Dalam hal ini penggunaan kolposkopi sangat menolong.

21

C. Pemeriksaan Penunjang

Tidak

Fakta
dilakukan

pemeriksaan

penunjang

Teori
Perlu dilakukan pemeriksaan
darah

serologis

membedakan

dengan

kondiloma lata pada sifilis)


Wanita yang memiliki kutil di
leher

rahimnya,

menjalani

(untuk

harus

pemeriksaan

papsmear secara rutin


Histopatologi
Tes Asam Asetat
Kolposkopi
HPV DNA

Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan


diagnosis. Menurut teori, perlu dilakukan pemeriksaan darah serologis,
pemeriksaan papsmear jika kondiloma ditemukan di leher rahim, serta
histopatologi, tes asam asetat dan kolposkopi.
D. Diagnosis
G1P0A0

Fakta
gravid 40-41

Teori
minggu,

tunggal hidup, presentasi kepala

Anamnesis
Pemeriksaan Fisik

inpartu kala I fase laten, dengan


kondiloma akuiminata

Diagnosa pada pasien ini adalah G1P0A0 gravid 40-41 minggu, tunggal
hidup, presentasi kepala inpartu kala I fase laten, dengan kondiloma akuiminata.
Penegakkan diagnosis pada kondiloma akuiminata berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Namun dalam kasus ini, hanya
dilakukan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

22

E. Penatalaksanaan

Fakta
Jenis persalinan pada pasien ini

Teori
Pada persalinan dengan Condyloma

adalah melalui operasi sectio

genital, adanya candyloma beresiko:

cesarea.

1. Risiko penularan ke anaknya, jika


dilahirkan melalui vagina.
2. Risiko terjadi perdarahan bila
dilahirkan melalui vagina, yaitu
bila jaringan yang mengalami
infeksi condyloma itu mengalami
ruptur (mudahnya robek), bisa
menimbulkan

perdarahan

banyak.
Terapi post operasi :
1.

Bed Rest total

2.

Infus RL 20 tpm

Terapi post operasi :


1. Bed Rest total,
2. Infus Ringer

Laktat,

menjaga keseimbangan cairan


dalam tubuh
3. Inj.
Cefotaxim,

3.

Inj. Cefotaxim 3x1 gr

untuk

antibiotik

golongan sefalosporin generasi


ketiga yang berfungsi sebagai
bakterisidal.
4. Ketorolac 3x1

4.

Ketorolac 3x1 amp

amp,

suatu

analgetik non narkotik untuk


penatalaksanaan jangka pendek
terhadap

nyeri

akut

sedang

sampai berat setelah prosedur


bedah.
5. Tramadol

3x1

amp,

untuk

mengurangi nyeri sedang hingga


5.

Tramadol 3x1 amp

berat pasca pembedahan.


6. Metoclopramide 3x1 amp, untuk
mengurangi rasa mual pasca

23

6.

Metoclopramide 3x1
amp

operasi
7. SF 1x1, zat yang penting untuk
pembentukan sel darah merah,
menjadi cadangan zat besi bagi

7.

janin, mengoptimalkan fungsi

SF 1x1

otot.
8. Parasetamol

3x1,

sebagai

antianalgetik dan antipiretik.


Terapi
8.

Parasetamol 3x1

Selama di ruangan pasien tidak

terhadap

Kondiloma

Akuiminata

Kemoterapi
Nonfarmakologis
Pembedahan

diberikan terapi untuk kondiloma


akuiminata.

Namun

pasien,

disarankan setelah pulang dari


Rumah Sakit untuk kontrol di
Poli Kulit Kelamin RSUD AWS
Samarinda.

Pada pasien ini, penatalaksaan yang diberikan untuk mengakhiri


kehamilannya adalah dengan sectio cesarea. Menurut teori, sectio cesarea
merupakan jenis persalinan yang tepat di berikan pada ibu hamil dengan
kondilama akuiminata, karena resiko penularan ke bayinya jika dilahirkan secara
pervaginam. Selain itu, resiko perdarahan pasca persalinan bila jaringan yang
mengalami infeksi ruptur. Untuk itu, pilihan untuk terminasi kehamilan melalui
sectio cesarea tepat.

F. Prognosis
Fakta

Teori
24

Prognosis : bonam

Kondiloma

akuminata

dapat

memberikan

prognosis baik dengan perwatan yang teliti


dengan memeperhatikan higiene serta jaringan
parut yang timbul sangat sedikit. Pengaruh
terhadap kehamilan, perkembangan kehamilan,
janin sangat minimal.

25

BAB 5
KESIMPULAN

Pasien wanita 20 tahun dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan


penegakan diagnosis yang telah sesuai dengan literature dalam mendukung
diagnosis G1P0A0 gravid 40-41 minggu, tunggal hidup, presentasi kepala inpartu
kala I fase laten, dengan kondiloma akuiminata.
Penatalaksanaan pada pasien ini adalah sectio cesarea, dan terapi suportif
pasca operasi.
Prognosis untuk pasien ini adalah bonam karena Kondiloma akuminata
dapat memberikan prognosis baik dengan perwatan yang teliti dengan
memeperhatikan higiene serta jaringan parut yang timbul sangat sedikit. Pengaruh
terhadap kehamilan, perkembangan kehamilan, janin sangat minimal.

26

DAFTAR PUSTAKA

Brandt, A., & Jones, D. (2002). Historical Perspective on Sexually Transmitted


Disease. New York: McGraw Hill.

Gama, A., & Aprilianingrum, F. (2006). Pengaruh Aktivitas Seksual dan Vagina
Douching terhadap Timbulnya Infeksi Menular Seksual Kondiloma
Akuimanata. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Institute,

M.

(2004).

Diambil

kembali

dari

Human

Papilloma Virus:

www.medinstitute.org

Koutsky, K., & Kiviat, N. (2002). Genital Human Papilomavirus. New york:
McGraw Hill.

Malik, S., & Amin, S. (2004). Penyakit Menular Seksual. Makassar: Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Manuaba, I. (1998). Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC.

Scwart, D., & Greenberg, D. (1988). Genital Condylomas in Pregnancy. New


York: Obstet Gynecol.

UI, F. (2005). Infeksi Menular Seksual. Jakarta: FK UI.

Unpad, F. (1997). Bagian Obstetri dan Ginekologi. Bandung: Elstar Ofset.

27

Wahyuni, C. (2003). Diambil kembali dari Faktor - Faktor yang Mempengaruhi


Terjadinya Infeksi HPV: http://adln.lib.unair.ac.id

Wiknjosastro, H., Saifuddin, B. A., & Rachimhadhi, T. (2007). Ilmu Kebidanan.


Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Yenny, W. S., & Hidayah, R. (2013). Kondiloma Akuiminata pada Wanita Hamil :
Salah Satu Modalitas Terapi. Jurnal Kesehatan Andalas .

28