Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. AO

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 50 tahun

Agama

: Islam

Suku/Bangsa

: Makassar/Indonesia

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Makassar

No. Register

: 030952

Tanggal pemeriksaan

: 28 April 2016

Tempat pemeriksaan

: RSP

II. ANAMNESIS

Keluhan utama

: Benjolan pada kelopak mata kiri.

Anamnesis terpimpin :
Benjolan pada kelopak mata kiri dialami sejak 8 hari yang lalu. Benjolan
awalnya kecil kemudian semakin membesar dan menetap. Riwayat mata merah
(-), nyeri (+), gatal (-), rasa mengganjal (+), banyak keluar air mata (-), Banyak
kotoran mata (-), penglihatan menurun (+).

Riwayat penyakit sama sebelumnya (-), riwayat menggunakan kacamata


sebelumnya (-),riwayat trauma (-), riwayat alergi (-), riwayat penyakit gula (-),
riwayat tekanan darah tinggi (-), riwayat berobat di Rumah Sakit sebelumnya (+)
pada tanggal 24/4/2016, riwayat penyakit yang sama dalam keluarga (-).

III. STATUS GENERALIS


Keadaan Umum : Sakit sedang, Gizi cukup, Composmentis
Tanda vital : Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi: 84 x/menit
Pernafasan: 18 x/menit
Suhu : 36,5 C

IV. FOTO KLINIS

Oculus Dextra

Oculus Sinista

Oculus Sinista

V. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
Inspeksi
Pemeriksaan
Palpebra

OD
edema (-).

OS
edema (+).
Tampak benjolan superior
medial, dengan ukuran
2x4x2

mm,

warna

merah.
Apparatus lakrimalis

hiperlakrimasi (-)

hiperlakrimasi (-)

Silia

sekret (-)

sekret (-)
3

Konjungtiva

hiperemis (-)

hiperemis (-)

Bola Mata

Kesan intak

Kesan intak

Kesegala arah

Kesegala arah

Kornea

Jernih

Jernih

Bilik Mata Depan

Kesan Normal

Kesan Normal

Iris

Coklat, kripte (+)

Coklat, kripte (+)

Pupil

Bulat,

Mekanisme muscular

sentral,

Refleks Bulat,

sentral,

Cahaya (+)

Cahaya (+)

Jernih

Jernih

Palpasi

OD

OS

Tensi Okuler

Kesan Tn

Kesan Tn

Lensa

Refleks

Palpasi

Nyeri Tekan

(-)

(+)

Massa Tumor

Tidak ada

Benjolan superior medial,


dengan ukuran 2x4x2
mm,

warna

merah,

berbatas tegas, terfiksir,


permukaan rata.
Glandula Preaurikuler

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

VI. Non- Contact Tonometri (NCT):


Tidak dilakukan pemeriksaan

VII. Pemeriksaan Visus :


VOD : 20/70 f
VOS : 20/40 f

VIII. Penyinaran Oblik


Pemeriksaan

OD

OS

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Kornea

Jernih

Jernih

Bilik Mata Depan

Normal

Normal

Iris

Coklat, kripte (+)

Coklat, kripte (+)

Pupil

Bulat, sentral, RC (+)

Bulat, sentral, RC (+)

Lensa

jernih

Jernih

IX. Color Sense


Tidak dilakukan pemeriksaan

X. Light Sense
Tidak dilakukan pemeriksaan

XI. Campus visual


Tidak dilakukan pemeriksaan.

XII. Slit Lamp


SLOS : Palpebra edema (+). Tampak benjolan palpebra superior bagian
medial,

dengan

ukuran

2x4x2mm.

berwarna

merah,

konsistensi

lunak,berbatas tegas, terfiksir, permukaan rata, konjungtiva hiperemis (-),


kornea jernih, BMD kesan normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat,
sentral, RC (+), lensa jernih.

XIII. Funduskopi :
Tidak dilakukan pemeriksaan.

XIV. Resume :
Seorang laki-laki berumur 50 tahun datang berobat ke poli mata dengan
keluhan masa tumor pada palpebra sinistra. Massa tumor pada palpebra superior
6

medial sinistra dialami sejak 8 hari yang lalu. Massa tumor awalnya kecil
kemudian semakin membesar dan menetap. Riwayat nyeri ada, rasa mengganjal
ada, penglihatan menurun ada. Riwayat pernah berobat pada tanggal 24/4/2016.
Dari pemeriksaan oftalmologi, VOD : 20/70 F, VOS : 20/ 40 F. pada
pemeriksaan slit lamp, SLOS: Palpebra edema (+). Tampak massa tumor palpebra
superior bagian medial, dengan ukuran 2x4x2mm, warna merah, konsistensi
lunak,berbatas tegas, terfiksir, permukaan rata, konjungtiva hiperemis (-), kornea
jernih, BMD kesan normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat, sentral, RC (+),
lensa jernih.

XV. Diagnosis kerja


OS Hordeoulum internum

XVI. Diagnosis Banding


Kalazion
Blepharitis
Selulitis preseptal
Tumor palpebra
XVII. Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan
XVIII. Penatalaksanaan :
Rencana refraksi
Kompres air hangat
Ciprofloxacin 500 mg 2 x 1
Methil prednisolone 4 mg 3 x 1

Anjuran OS insisi hordeolum bila infeksi terobati.

XIX. Prognosis
Quo ad Vitam

: Bonam

Quo ad Visam

: Bonam

Quo ad Sanationam

: Bonam

Quo ad Comesticam : Bonam

XX. Diskusi
Hordeolum adalah salah satu penyakit yang cukup sering terjadi pada
kelopak mata. Hordeolum merupakan infeksi atau peradangan pada kelenjar di
tepi kelopak mata bagian atas maupun bawah yang disebabkan oleh bakteri.
Hordeolum dapat timbul pada 1 kelenjar kelopak mata atau lebih. Kelenjar
kelopak mata tersebut meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis, dan Moll. Bila
kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum internum, sedangkan bila
kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena maka disebut hordeolum eksternum.
Hordeolum biasanya menyerang pada dewasa muda, namun dapat juga
terjadi pada semua umur, terutama orang-orang dengan kesehatan yang kurang
baik.
Hordeolum disebabkan oleh adanya infeksi dari bakteri Streptococcus dan
Staphylococcus, terutama Staphylococcus aureus yang akan menyebabkan
inflamasi pada kelenjar kelopak mata. Hordeolum externum timbul dari blokade
dan infeksi dari kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum timbul dari infeksi
pada kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus. Obstruksi dari kelenjarkelenjar ini memberikan reaksi pada tarsus dan jaringan sekitarnya.

Gejala utama pada hordeolum yaitu nyeri, bengkak, dan merah. Intensitas
nyeri menandakan hebatnya pembengkakan palpebra. Gejala dan tanda yang lain
pada hordeolum yaitu: eritema, terasa panas dan tidak nyaman, sakit bila ditekan
serta ada rasa yang mengganjal. Diagnosis hordeolum ditegakkan berdasarkan
gejala dan klinis yang mucul pada pasien dan pemeriksaan mata yang sederhana.
Pemeriksaan penunjang tidak diperlukan dalam mendiagnosis hordeolum.
Dari anamnesis pada pasien ini didapatkan data berupa adanya benjolan
pada kelopak mata kiri atas. Benjolan ini awalnya kecil berwarna kemerahan dan
bengkak pada kelopak mata. Benjolan ini kemudian semakin membesar dan
disertai nyeri bila disentuh. Keadaan ini sesuai dengan kepustakaan yang
mengatakan bahwa hordeolum awalnya hanya berupa benjolan kecil yang
berwarna kemerahan yang makin lama makin membesar disertai nyeri bila
tertekan. Benjolan ini menjadi besar dan mengalami reaksi radang akibat infeksi
kuman stafilokokus atau streptokokus pada kelenjar Meibom.
Dari pemeriksaan oftalmologi didapatkan adanya edema dan hiperemis
pada palpebra superior okulus sinistra. Benjolan menonjol ke arah kulit
konjungtiva tarsal tanpa pergerakan kulit. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang
menyatakan bahwa hordeolum internum

merupakan infeksi pada kelenjar

Meibom sehingga ia bertumbuh ke arah konjungtiva tarsal dan tidak ikut bergerak
dengan pergerakan kulit.
Berdasarkan gejala dan tanda yang didapat pada pasien ini disimpulkan
bahwa pasien ini mengalami hordeolum interna pada mata kiri. Ada beberapa
penyakit yang menyerupai penyakit hordeolum, seperti kalazion dan karsinoma
sel squamous.
Penanganan pada pasien yaitu dengan kompres hangat yang dilanjutkan
dengan pemberian antibiotik oral dan natrium diclofenak. Maksud pemberian
kompres hangat yaitu untuk mempermudah ekskresi sekret pada kelenjar meibom
yang terinfeksi. Ciprofloxacin merupakan antibiotik spektrum luas yang diberikan
untuk mengobati infeksi baik dari bakteri gram positif atau negatif. Cendo Xitrol
adalah obat tetes mata yang mengandung kombinasi obat kortikosteroid

(deksametason) dan antibiotik (neomisina dan polimisina). Kortikosteroid


mempunyai efek antiinflamasi atau menekan peradangan. Obat ini juga
mengurangi permeabilitas pembuluh darah dan mengurangi pembentukan jaringan
parut atau scar. Sedangkan neomisina dan polimisina mempunyai efek
antibakterial. Na Diclofenac merupakan salah satu jenis dari obat anti inflamasi
non steroid yang dapat mengurangi keluhan subyektif nyeri dan mengurangi
peradangan pada jaringan.
Apabila dengan terapi konservatif tidak ada perbaikan atau nanah tidak
dapat keluar maka dapat dilakukan tindakan operatif berupa insisi untuk
mengeluarkan nanah pada benjolan, diteruskan kuretase seluruh isi jaringan
meradang di dalam kantongnya.

BAB I
PENDAHULUAN
Kelopak mata adalah bagian mata yang sangat penting. Kelopak mata
melindungi kornea dan berfungsi dalam pendisribusian dan eliminasi air mata.
Penutupan kelopak mata berguna untuk menyalurkan air mata ke seluruh
permukaan mata dan memompa air mata melalui punctum lakrimalis.(1)
Kelainan yang didapat pada kelopak mata bermacam-macam, mulai dari
yang jinak sampai keganasan, proses inflamasi, infeksi mau pun masalah struktur
seperti hordeolum, ektropion, entropion dan blepharoptosis. Kebanyakan dari
kelainan kelopak mata tidak mengancam jiwa atau pun mengancam penglihatan.(1)
Hordeola dan chalazia adalah beberapa penyakit inflamasi dikelopak mata
yang paling umum ditemui dalam praktek Optometric. Banyak pasien mencoba
mengobati lesi ini konservatif menggunakan pengobatan rumah. Seringkali,
pengobatan tersebut bermanfaat. Namun pada kondisi yang menetap, beberapa
individu untuk penanganan lebih lanjut ke doker mata.(2)

10

Hordeolum merupakan infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi


kelopak mata bagian atas maupun bawah yang disebabkan oleh bakteri.
Hordeolum dapat timbul pada 1 kelenjar kelopak mata atau lebih. Kelenjar
kelopak mata tersebut meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis, dan Moll. Bila
kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum internum, sedangkan bila
kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena maka disebut hordeolum eksternum. (1-4)
Hordeolum biasanya terjadi akibat infeksi dari Staphylococcus aureus dan
dapat dikaitkan dengan staphylococcal blepharitis. Lesi ini dapat terjadi karena
kelelahan, kurang asupan nutrisi, stres, dan dapat timbul kembali.(1-3)
Hordeolum disebabkan oleh adanya infeksi dari bakteri Streptococcus dan
Staphylococcus, terutama Staphylococcus aureus yang akan menyebabkan
inflamasi pada kelenjar kelopak mata. Hordeolum externum timbul dari blokade
dan infeksi dari kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum timbul dari infeksi
pada kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus. Obstruksi dari kelenjarkelenjar ini memberikan reaksi pada tarsus dan jaringan sekitarnya.(1-3)
Gejala utama pada hordeolum yaitu nyeri, bengkak, dan merah. Intensitas
nyeri menandakan hebatnya pembengkakan palpebral. Gejala dan tanda yang lain
pada hordeolum yaitu: eritema, terasa panas dan tidak nyaman, sakit bila ditekan
serta ada rasa yang mengganjal. (5, 6)
Diagnosis hordeolum ditegakkan berdasarkan gejala dan klinis yang mucul
pada pasien dan pemeriksaan mata yang sederhana. Pemeriksaan penunjang tidak
diperlukan dalam mendiagnosis hordeolum. Diagnosis banding dari hordeolum,
yaitu: kalazion, tumor palpebral dan selulitis preseptal. (7)
Penatalaksanaan yang dilakukan pada hordeolum yaitu: pada stadium
infiltrate dilakukan kompres hangat, diberikan salep mata antibiotika (seperti:
polimiksin, kloramfenikol, dan gentamisisn), diberikan oral antibiotika (seperti:
amoksisilin, cephalosporin, dan eritromisin), dan analgetika (seperti asam
mefenamat, paracetamol). Stadium supuratif dilakukan insisi jika sudah ada
fluktuasi atau sudah 2 minggu tidak membaik. (6)
Prognosis baik apabila hordeolum tidak ditekan atau ditusuk karena
infeksi dapat menyebar ke jaringan sekitar.(5)

11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Palpebra
Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang
dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip
melindungi kornea dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior
berakhir pada alis mata; palpebra inferior menyatu dengan pipi. (1)
Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial ke
dalam terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan
areolar, jaringan fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva
pelpebrae). Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena
tipis, longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak
subkutan. Muskulus orbikularis okuli berfungsi untuk munutup palpebra.
Serat ototnya mengelilingi fissura palpebra secara konsentris dan meluas
sedikit melewati tepian orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi.
Bagian otot yang terdapat di dalam palpebra dikenal sebagai bagian

12

pratarsal; bagian diatas septum orbitae adalah bagian praseptal. Segmen


luar palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli dipersarafi oleh
nervus facialis.(1,2,8)
Jaringan Areolar terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli,
berhubungan degan lapis subaponeurotik dari kulit kepala. Tarsus
merupakan struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan
fibrosa padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas
jaringan penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di
kelopak atas dan 20 buah di kelopak bawah). (2)
Konjungtiva

Palpebra,

bagian

posterior

palpebrae

dilapisi

selapismembran mukosa, konjungtiva palpebra, yang melekat erat pada


tarsus. Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan)
menjadi tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu
mata, glandula Zeiss dan Moll. Glandula Zeiss adalah modifikasi kelenjar
sebasea kecil yang bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata.
Glandula Moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke
dalam satu baris dekat bulu mata. Tepian posterior berkontak dengan bola
mata, dan sepanjang tepian ini terdapat muara-muara kecil dari kelenjar
sebasesa yang telah dimodifikasi (glandula Meibom atau tarsal). (1,2)
Punktum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior
palpebra. Punktum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui
kanalikulus terkait ke sakus lakrimalis. (1,2,4)
Fisura palpebrae adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang
dibuka. Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. Kanthus
lateralis kira-kira 0,5 cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut
tajam. Septum orbitale adalah fascia di belakang bagian muskularis
orbikularis yang terletak di antara tepian orbita dan tarsus dan berfungsi
sebagai sawar antara palpebra orbita. Septum orbitale superius menyatu
dengan tendo dari levator palpebra superior dan tarsus superior; septum
orbitale inferius menyatu dengan tarsus inferior. (1)

13

Retraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior,


bagian otot rangka adalah levator palpebra superioris, yang berasal dari
apeks orbita dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah
aponeurosis dan bagian yang lebih dalam yang mengandung serat-serat
otot polos dari muskulus Muller (tarsalis superior). Di palpebra inferior,
retraktor utama adalah muskulus rektus inferior, yang menjulurkan
jaringan fibrosa untuk membungkus meuskulus obliqus inferior dan
berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan orbikularis okuli.
Otot polos dari retraktor palpebrae disarafi oleh nervus simpatis. Levator
dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotoris. (1,2)
Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra.
Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal
nervus V, sedang kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V. (2)

Gambar1. Anatomi kelopak mata potongan sagital


2.2 Definisi
Hordeolum merupakan infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi
kelopak mata bagian atas maupun bawah yang disebabkan oleh bakteri.
Hordeolum dapat timbul pada 1 kelenjar kelopak mata atau lebih. Kelenjar
14

kelopak mata tersebut meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis, dan Moll.
(1,2)

Berdasarkan tempatnya, hordeolum terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:


hordeolum interna terjadi peradangan pada kelenjar Meibom. Pada
hordeolum interna ini benjolan mengarah ke konjungtiva (selaput kelopak
mata bagian dalam). Hordeolum eksterna terjadi peradangan pada kelenjar
Zies dan kelenjar Moll. Benjolan ini Nampak dari luar pada kulit kelopak
mata (palpebra). (2,4)

Gambar 2. Hordeolum Interna


2.3 Epidemiologi
Data epidemiologi

internasional

Gambar 3. Hordeolum Eksterna


menyebutkan

bahwa

hordeolum

merupakan jenis penyakit infeksi kelopak mata yang paling sering


ditemukan. Insidensi tidak bergantungan dengan ras dan jenis kelamin.
Dapat mengenai semua usia, tapi lebih sering menyerang pada dewasa
muda.(3,5)
2.4 Etiologi
Hordeolum

merupakan

infeksi

yang

disebabkan

oleh

bakteri

Staphylococcus dan Streptoccocus pada kelenjar sebasea kelopak mata.


Staphylococcus aureus merupakan agent infeksi pada 90-95% kasus
hordeolum. (1,3)
2.5

Patofisiologi
Hordeolum disebabkan oleh adanya infeksi dari bakteri Staphylococcus
aureus yang akan menyebabkan inflamasi pada kelenjar kelopak mata.
Hordeolum externum timbul dari blokade dan infeksi dari kelenjar Zeiss
atau Moll. Hordeolum internum timbul dari infeksi pada kelenjar Meibom
yang terletak di dalam tarsus. Obstruksi dari kelenjar-kelenjar ini

15

memberikan reaksi pada tarsus dan jaringan sekitarnya. Kedua tipe


hordeolum dapat timbul dari komplikasi blefaritis. Apabila infeksi pada
kelenjar Meibom mengalami infeksi sekunder dan inflamasi supuratif
dapat menyebabkan komplikasi konjungtiva. (2)
2.6
Gambaran Klinis
Gejala utama pada hordeolum yaitu nyeri, bengkak, dan merah. Intensitas
nyeri menandakan hebatnya pembengkakan palpebral. Gejala dan tanda
yang lain pada hordeolum yaitu: eritema, terasa panas dan tidak nyaman,
sakit bila ditekan serta ada rasa yang mengganjal. Biasanya disertai dengan
adanya konjungtivitis yang menahun, kemunduran keadaan umum, acne
vulgaris. (1,2,4)
Ada 2 stadium pada hordeolum, yaitu: stadium infiltrat yang ditandai
dengan kelopak mata bengkak, kemerahan, nyeri tekan dan keluar sedikit
kotoran. Stadium supuratif yang ditandai dengan adanya benjolan yang
berisi pus (core). (1,6)
2.7 Diagnosis
Diagnosis hordeolm ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis yang
muncul pada pasien dan dengan melakukan pemeriksaan mata yang
sederhana. Karena kekhasan dari manifestasi klinis penyakit ini
pemeriksaan penunjang tidak diperlukan dalam mendiagnosis hordeolum.
(3)

2.8
Diagnosis Banding
Diagnosis banding dari hordeolum, yaitu: kalazion, tumor palpebra, dan
selulitis preseptal. Kalazion merupakan suatu peradangan granulomatosa
kelenjar Meibom yang tersumbat. Kalazion memberikan gejala benjolan
pada kelopak mata, tidak hiperemi, dan tidak ada nyeri tekan, serta adanya
pseudoptosis. Hal yang membedakan antara kalazion dan hordeolum
adalah pada hordeolum terdapat hiperemi palpebra dan nyeri tekan. (1,6)

16

Gambar 3. Kalazion
Selulitis preseptal merupakan infeksi umum pada kelopak mata dan
jaringan lunak periorbital yang dikarakteristikkan denan adanya eritema
pada kelopak mata yang akut dan edema. Yang membedakan selulitis
preseptal dengan hodeolum adalah perjalanan penyakitnya, yang ditandai
dengan adanya demam yang diikuti oleh pembengkakan. (5)

Gambar 4. Selulitis preseptal


Tumor palpebra merupakan suatu pertumbuhan sel yang abnormal
pada kelopak mata. Adapun gejala yang membedakan antara tumor
palpebra dengan hordeolum adalah tidak adanya tanda-tanda peradangan
seperti hiperemi dan hangat. Tumor palpebra harus ditegakkan
diagnosisnya dengan pemeriksaan biopsy. (5)

Gambar 5. Karsinoma sel basal Gambar 6. Karsinoma sel squamous


2.9 Penatalaksanaan
Pada umumnya hordeolum dapat sembuh dengan sendiri dalam waktu
5-7 hari. Penatalaksaan pada hordeolum dilakukan dengan terapi

17

medikamentosa pada stadium infiltrate dan pembedahan untuk fase


supuratif atau tidak sembuh dengan menggunakan terapi medikamentosa.(1)
Untuk terapi medikamentosa dapat dilakukan dengan memberikan
kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk
membantu drainase, kemudian bersihkan kelopak mata dengan air bersih
atau pun dengan sabun atau sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti
sabun bayi. menghindari menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat
menimbulkan infeksi yang lebih serius. Menghindari pemakaian makeup
pada mata, karena kemungkinan hal itu menjadi penyebab infeksi,
menghindari memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke
kornea. (2,4,9)
Terapi dengan menggunakan antibiotika topikal diindikasikan bila
dengan kompres hangat selama 24 jam tidak ada perbaikan, dan bila
proses peradangan menyebar ke sekitar daerah hordeolum. Bacitracin atau
tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam selama 7-10 hari. Dapat juga
diberikan eritromicin salep mata untuk kasus hordeolum eksterna dan
hordeolum interna ringan. Antibiotik sistemik diberikan bila terdapat
tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda pembesaran kelenjar limfe di
preauricular, pada kasus hordeolum internum dengan kasus yang sedang
sampai berat. Dapat diberikan cephalexin atau dicloxacilin 500 mg per oral
4 kali sehari selama 7 hari. Bila alergi penisilin atau cephalosporin dapat
diberikan clindamycin 300 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari atau
klaritromycin 500 mg 2 kali sehari selama 7 hari. Analgetika seperti asam
mefenamat atau paracetamol dapat juga diberikan. (4,10)
Pembedahan dilakukan apabila dengan terapi medikamentosa tidak
berespon dengan baik dan hordeolum tersebut sudah masuk dalam stadium
supuratif, maka prosedur pembedahan diperlukan untuk membuat drainase
pada hordeolum. Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi
topikal dengan pantokain tetes mata. Dilakukan anestesi filtrasi dengan
prokain atau lidokain di daerah hordeolum. Hordeolum internum dibuat
insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus (vertikal) pada margo

18

palpebral dan pada hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar (horizontal)


dengan margo palpebra. (1,2,6,9)
2.10

Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari hordeolum adalah selulitis

palpebral yang merupakan radang jaringan ikat longgar palpebral di depan


septum orbita, serta abses palpebral. (2)
2.11

Prognosis
Walaupun hordeolum tidak berbahaya dan komplikasinya sangat

jarang, tetapi hordeolum sangat mudah kambuh. Hordeolum biasanya


sembuh sendiri atau pecah dalam beberapa hari sampai minggu. Dengan
pengobatan yang baik hordeolum cenderung sembuh dengan cepat dan
tanpa komplikasi. Prognosis baik apabila hordeolum tidak ditekan atau
ditusuk karena infeksi dapat menyebar ke jaringan sekitar. (2,4)

DAFTAR PUSTAKA

1.

Khurana A. Comprehensive Opthalmology. fourth ed. New Dehli: New


Age International (P) Ltd: 2007. p. 350-8.

2.

Skorin L. Hordeolum and chalazion treatment 2002. p 25-7

19

3.

Wagner P, Lang Gehard K. The Eyelids. In: G. Lang, editor.


Opthalmology. 2 ed. New York. Thieme. 37-40 p.

4.

Newyork; Available from: www.FHSHealth.org/HealthEducation.aspx.

5.

Joanne car, Ff. Opthalmology Referral Guidelines. NHS oxfordshire.


2012:19-20.

6.

vaughan As. General Opthalmology. 17th ed. Newyork.

7.

JJustad, MD D. Conjuctivities (pinkeye). Health guidelines pinkeye and


styes. 2013:[1-3 pp.].

8.

James C. tsai ea, et al. Oxford American Handbook of Opthalmology. first


ed. New York2011. 103-13 p.

9.

N.R. Galloway,W.M.K. Amoaku, P.H. Galloway and A.C. Browning.


Common Eye Diseases and their Management. Third ed. New York:
Springer: 2006. p 33-46

10. Khaw P, Shah P, Elkington A. ABC Of Eyes. Fourth Edition. London: BMJ
Publishing Group Ltd: 2004. p 29-32

20