Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KOSMETOLOGI II

Shampoo lidah buaya)


Tanggal Percobaan 19 Mei 2016

Kelompok

: 4

Ketua

: Gilang Saputra

(0661 13 142)

Nama Anggota Kelompok

: 1. Novia Afriani

(0661 13 141)

2. Shelby Febriyani Rahayu(0661 13 164)


3. eva Faoziyah
Dosen Pembimbing

(0661 13 153)

: 1.Dr. Haryanto Susilo, DEA


2.Ella Noorlaela., M.Si .,Apt
3.Septia Andini, S.Farm ., Apt
4.Mindiya Fatmi, S.Farm, Apt

Assisten Dosen

:1. Ine Sintia Putri


2.Yesi Restina
3.Marybet TRH
4.Ghintya Fitaloka

Laboratorium Farmasi
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pakuan
Bogor
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori


Ketombe adalah sejenis kelainan kulit atau peradangan kulit kepala yang sangat
ringan, namun sering menjadi masalah bagi penderita karena dapat mengurangi
penampilan/daya tarik dan membuat seseorang tidak percaya diri. Hal tersebut akibat
kotornya rambut yang merupakan mahkota bagi setiap orang dan kadang-kadang disertai
rasa gatal yang mengganggu. Secara periodik kulit kepala memperbaharui diri, sel kulit
kepala yang mati secara normal akan dikeluarkan / didorong ke permukaan kulit. Sel kulit
kepala yang mati selanjutnya akan lepas dengan sendirinya.
Namun dalam kondisi kondisi tertentu pelepasan ini tidak terjadi sehingga sel sel
mati menumpuk di permukaan kulit kepala dan terlihat sebagai ketombe. Ketombe dapat
terjadi karena penumpukan sel epidermis kulit kepala dalam jumlah yang banyak.
Ketombe ini berwarna putih, kering kecil, yang terdapat pada kulit kepala paling atas.
Ketombe dapat diperparah dengan tumbuhnya mikroorganisme dirambut secara
berlebihan.
Gangguan ketombe lebih banyak terdapat pada wanita ynag tinggal di daerah tropis.
Berbagai kondisi memudahkan seorang berketombe, ada banyak teori walau penyebab
pasti belum diketahui. Faktor genetik, hiperproliferasi epidermis, keaktifan kelenjar
sebacea, stress, kelelahan, kelainan neurologi, serta kontak dengan jamur penyebab
ketombe (Kurnianto,2008).
Ptyrosporum ovale termasuk golongan jamur yang sebenarnya adalah flora normal di
rambut yang pada berbagai keadaan tertentu seperti suhu, kelembaban, kadar minyak
yang tinggi, dan penurunan faktor imunitas tubuh dapat memicu pertumbuhan jamur ini
sehingga menimbulkan masalah ketombe
Ada beberapa tanaman tradisional yang mampu membunuh Pityrosporum ovale
penyebab ketombe, salah satunya adalah lidah buaya atau Aloe vera. Lidah buaya atau
Aloe vera adalah tanaman tradisional yang banyak di gunakan untuk kepentingan medis,
dikarenakan lidah buaya mengandung saponin yang mempunyai kemampuan membunuh
jamur Pityrosporum ovale, serta senyawa antarakuionon dan kuinon sebagai anti biotik
serta penghilang rasa sakit.12 Lidah buaya juga merangsang pertumbuhan sel baru pada
kulit. Dalam gel lidah buaya terkandung lignin yang mampu menembus dan meresap

kedalam kulit, sehingga gel akan menahan hilangnya cairan dalam permukaan kulit.
Akibatnya, kulit tidak menjadi cepat kering.11,12

Terlepas dari hal hal diatas,

efektivitas lidah buaya untuk menghambat ketombe masih menjadi perdebatan di


masyarakat.

1.2 Tujuan Percobaan


2. Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan shampoo dari daun lidah buaya
3. Mahasiswa dapat membuat shampoo dari daun lidah buaya sebagai anti ketombe

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Lidah buaya
a. Deskripsi

Lidah buaya (Aloe vera L) merupakan tanaman asli Afrika, yang memiliki ciri
fisik daun berdaging tebal, sisi daun berduri, panjang mengecil pada ujungnya,
berwarna hijau, dan daging daun berlendir. Pada awalnya lidah buaya sebagai tanaman
hias yang ditanam di pekarangan rumah. Lidah buayatumbuh subur di daerah yang
berhawa panas dan terbuka dengan kondisi tanah yang gembur dan kaya bahan organik.
Pembudidayaan lidah buaya tergolong sangat mudah dan tidak memerlukan biaya dan
perawatan yang besar. Hal ini akan mendorong dan pertimbangan untuk menjadikan
lidah buaya sebagai bahan baku makanan ( Sudarto, 1997).
b. Taksonomi
Dunia : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Liliflorae
Suku : Liliaceae
Marga : Aloe
Spesies : Aloe barbadensisMiller
Furnawanthi (2002)
c. Komponen dan Manfaat Lidah Buaya
Unsur-unsur kimia yang terkandung di dalam daging lidah buaya menurut para
peneliti antara lain : lignin, saponin, anthraquinone, vitamin, mineral, gula dan enzim,
monosakarida dan polisakarida, asam-asam amino essensial dan non essensial yang
secara bersamaan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang menyangkut
kesehatan tubuh. Kekayaan akan kandungan bahan yang didapat berfungsi sebagai
bahan kosmetik, obat dan pelengkap gizi menjadikan lidah buaya sebagai tanaman
ajaib, karena tidak ada lagi tanaman lain yang mengandung bahan yang
menguntungkan bagi kesehatan selengkap yang dimiliki tanaman tersebut. Di samping
itu keistimewaan lidah buaya terletak pada selnya yang mampu untuk meresap di dalam
jaringan kulit, sehingga banyak menahan kehilangan cairan yang terlalu banyak dari
dalam kulit
unsur utama dari cairan lidah buaya adalah aloin, emodin, resin, gum dan unsur
lainnya seperti minyak atsiri. Dari segi kandungan nutrisi, gel atau lendir daun lidah
buaya mengandung beberapa mineral seperti Zn, K. Fe dan vitamin seperti vitamin A.
Lidah buaya tidak menyebabkan keracunan pada manusia maupun hewan, sehingga
sebagai bahan industri lidah buaya dapat diolah menjadi produk makanan dalam bentuk
serbuk, gel, jus dan ekstrak. Cairan yang keluar dari potongan lidah buaya tadi bila

diuapkan menjadi bentuk setengah padat, dapat digunakan sebagai alat pencuci perut
atau obat pencahar
d. Kandungan zat gizi lidah buaya per 100 gram
Tabel 1. Kandungan gizi lidah buaya
Zat Gizi

Kandungan / 100 g
Bahan

Energi (Kal)

4,00

Protein (g)

0,10

Lemak (g)

0,20

Serat (g)

0,30

Abu (g)

0,10

Kalsium (mg)

85,00

Fosfor (mg)

186,00

Besi (mg)

0,80

Vitamin C (mg )

3,476

Vitamin A (IU)

4,594

Vitamin B1(mg)

0,01

Kadar Air (g)

99,20
Sumber : Departemen Kesehatan R.I., (1992).

Zat aloin yang terkandung dalam lidah buaya berfungsi sebagai pencahar, sudah
digunakan orang Yahudi sejak abad ke-4 SM. Hal ini dikemukakan oleh Celsus dan
dilanjutkan oleh Dioscordes yang menegaskan bahwa Aloe vera berguna untuk
mengobati sakit perut, sakit kepala, gatal, kerontokan rambut, perawatan kulit dan luka
bakar. Bahkan, di Amerika Selatan, lidah buaya resmi diakui sebagai obat pencahar dan
pelingdung kulit saat didaftarkan dalam United State Pharmacopoeia (USP) pada tahun
1820 (Furnawanthi, 2002).
Gel lidah buaya juga memperlihatkan aktivitas anti penuaan karena mampu
menghambat proses penipisan kulit dan menahan kehilangan serat elastin serta
menaikkan kandungan kolagen dermis yang larut air. Lidah buaya terbukti dapat

menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes. Lidah buaya mengandung
saponin yang mempunyai kemampuan membunuh kuman, serta senyawa antrakuinon
dan kuinon sebagai antibiotik dan penghilang rasa sakit. Lidah buaya juga merangsang
pertumbuhan sel baru dalam kulit. Dalam gel lidah buaya terkandung lignin yang
mampu menembus dan meresap ke dalam kulit, sehingga sel akan menahan hilangnya
cairan tubuh dari permukaan tubuh. Adapun manfaat lain dari lidah buaya adalah untuk
mengobati cacingan, susah buang air besar, sembelit, penyubur rambut, luka bakar atau
tersiram air panas, jerawat, noda hitam, batuk,diabetes, radang tenggorokan,
menurunkan kolestero.
Cairan bening seperti jeli diperoleh dengan membelah batang lidah buaya. Jeli
ini mengandung zat antibakteri dan anti jamur yang dapat menstimulasi fibroblast yaitu
sel-sel kulit yang berfungsi menyembuhkan luka. Selain kedua zat tersebut, jeli lidah
buaya juga mengandung salisilat, zat peredam sakit dan anti bengkak seperti yang
terdapat dalam aspirin
A. Ketombe
Untuk masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah tropis dengan kelembaban
tinggi, kulit kepala akan selalu berkeringat dan berminyak, sehingga memicu
tumbuhnya mikroorganisme di rambut secara berlebihan dan mengakibatkan iritasi di
kulit kepala. Serta peningkatan pengelupasan sel kulit yang akan menyebabkan rasa
gatal pada kulit kepala. Akibat garukan yang dilakukan pada kulit kepala, terjadilah
pelepasan keratin epidermal yang kemudian akan menempel pada batang rambut dan
jatuh ke baju. Seringkali juga timbul luka di kulit kepala yang akan menyebabkan
infeksi sekunder akibat adanya mikroba lain. Selain itu, garukan akibat rasa gatal ini
juga bisa menyebabkan kerontokan rambut. Untuk mencegah timbulnya ketombe,
kesehatan kulit kepala harus selalu dijaga.
Terjadinya ketombe (yang dalam bahasa medisnya disebut dandruff), gejala
awalnya ditandai dengan rasa gatal, yang kemudian diikuti dengan mengelupasnya kulit
akibat pembelahan sel secara berlebihan dan adanya mikroorganisme yang berlebihan
pada kulit kepala. Prinsip kosmetik anti ketombe adalah untuk menurunkan kadar
minyak permukaan kulit kepala atau jumlah sekresi sebum, membunuh mikroba
penyebab ketombe serta mengurangi gejala gatal dan rambut rontok. Sediaan anti
ketombe dalam kosmetik biasanya disajikan dalam bentuk sediaan: shampo, hair cream
bath atau dapat juga dalam bentuk tonik.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya ketombe antara lain :


1. Iklim dan cuaca yang merangsang kegiatan kelenjar kulit.
2. Makanan yang berkadar lemak tinggi.
3. Stress yang menyebabkan menigkatnya aktifitas kelenjar palit.

4. Genetik/keturunan tertentu yang mempunyai lemak kulit berlebihan.


5. Obat obatan yang menstimulasi kelenjar minyak.
6. Higien kulit yang buruk sehingga menyebabkan peningkatan jumlah flora kulit.
7. Usia tertentu, seperti usia remaja, dimana terjadi perubahan hormon yang akan
menstimulasi kelenjar sebaceus untuk menghasilkan sebum.
8. Obat-obatan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh.
Zat aktif yang umum digunakan sebagai anti ketombe:
1. Sulfur
Sulfur memiliki sejarah panjang pada pengobatan kulit seperti untuk acne ointment
, sampo anti ketombe dan antidote karena terpapar material radioaktif secara akut. Efek
anti ketombe karena kemampuannya sebagai keratolitik. Sulfur dapat digunakan
sebagai anti ketombe sampai dengan kadar 10% dan dapat dikombinasi dengan asam
salisilat untuk meningkatkan efek anti ketombenya
2. Asam Salisilat
Asam salisilat merupakan zat yang sering ditambahkan pada produk perawatan
kulit untuk perawatan jerawat dan psoriasis. Efek pada kulit sebagai keratolitik,
dijadikan dasar penambahan asam salisilat pada produk sampo perawatan ketombe.
Pada kulit dapat mempercepat regenerasi sel. Dalam peraturan Ka Badan POM No.
HK.00.05.42.1018 kadar asam salisilat dibatasi 3% untuk produk bilas dan Selenium
sulfida dengan kadar 1% dan 2,5%

3. Selenium sulfida
digunakan pada kulit kepala untuk mengontrol gejala ketombe dan seborrheic
dermatitis. Mekanisme kerjanya sebagai anti ketombe dengan menghambat
pertumbuhan sel baik yang hiperproliferatif atau normal. Selenium sulfida 1%
digunakan sebagai anti ketombe sedang selenium sulfida mikronisasi 0,6%. Efek
samping dari penggunaan selenium sulfida adalah iritasi kulit, rambut kering atau
berminyak, rambut rontok .2% untuk produk lainnya.
4. Seng pirition
Bekerja sebagai anti mitosis, bakteriostatik dan fungistatik ( drugs ). Seng pirition
merupakan anti ketombe yang efektif dan bersifat anti fungi. Efek anti ketombe
berdasarkan kemampuan molekul pirition yang tak terionisasi untuk mengganggu
transpor membran dengan menghambat mekanisme energi pompa proton sehingga
dapat menghambat pertumbuhan jamur. Dalam peraturan Ka Badan POM No.
HK.00.05.42.1018, kadar Seng pirition sebagai anti ketombe dibatasi 2% untuk produk
dibilas dan 0,1% produk non bilas.

5.

Pirokton O lamine

Pirokton olamin atau Octopirox adalah suatu senyawa digunakan sebagai terapi
infeksi jamur. Seringkali digunakan sebagai salah satu komponen sampo anti ketombe
sebagai pengganti seng pirition. Selenium Sulfida Selenium sulfida dengan kadar 1%
dan 2,5% digunakan pada kulit kepala untuk mengontrol gejala ketombe dan seborrheic
dermatitis. Mekanisme kerjanya sebagai anti ketombe dengan menghambat
pertumbuhan sel baik yang hiperproliferatif atau normal. Selenium sulfida 1%
digunakan sebagai anti ketombe sedang selenium sulfida mikronisasi 0,6%. Efek
samping dari penggunaan selenium sulfida adalah iritasi kulit, rambut kering atau
berminyak, rambut rontok .
Meskipun produk kosmetik yang beredar sudah dinyatakan aman namun
penggunaan terus menerus dalam jangka panjang seperti saat ini ada kecenderungan
penggunaan anti ketombe yang berbentuk shampo digunakan setiap hari serta kondisi
pengguna yang beragam maka kemungkinan bisa terjadi hal hal yang tidak diinginkan
yang dapat merugikan kesehatan.
Pada penggunaan anti ketombe efek samping yang mungkin terjadi adalah :
1. Dermatitis yang terjadi pada kulit kepala
2. Kerusakan rambut antara lain rambut rontok, berubah warna dan patah patah.
3. Efek samping sistemik. Meskipun ini jarang terjadi namun dalam pemakaian
jangka panjang, terus menerus dan bahkan kecenderungan penggunaan sampo
anti ketombe setiap hari memungkinkan dapat terjadi efek samping yang lebih
serius.
Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya terhadap penggunaan sediaan
kosmetik anti ketombe di samping pembuatannya harus memenuhi ketentuan-ketentuan
yang berlaku, pada penandaan/etiket harus mencantumkan beberapa peringatan perhatian
untuk produk-produk yang mengandung bahan tertentu seperti pirokton olamin, selenium
disulfide dan seng pirition.Peringatanperhatian yang harus dicantumkan pada produk
anti ketombe tergantung dari bahan yang digunakan adalah :
1. Mengandung Pirokton olamin ;
a. Hindari penggunaan bila terjadi iritasi.
b. Hindari kontak dengan mata.
2. Selenium disulfide;
a. Mengandung selenium disulfida
b. Hindari kontak dengan mata atau kulit yang terbuka
3. Seng Piriton ;

Hindari kontak dengan mata

BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat dan Bahan

A. Alat

B. Bahan

1. Beaker Glass

1. Aquadest panas

2. Blender

2. Ekstak daun lidah buaya

3. Batang pengaduk

3. Gliserin

4. Cawan uap

4. Metil paraben

5. Gelas ukur

5. Pewarna

6. Pisau

6. Pewangi

7. Perkamen

7. Sodium Borat

8. Mixer

8. Sodium Lauril Sulfat

9. Spatel

9. Sodium Bikarbonat

3.2 Cara Kerja


1. Pembuatan ekstrak daun lidah buaya
- Ditimbang 250 gram daun lidah buaya yang telah dikupas,
- kemudian di potong potong dan dimasukan kedalam blender
- ditambahkan air 100 ml
- di blender sampai halus kemudian disaring dan diambil filtratnya.
2. Pembuatan Shampoo
1. Kedalam beaker glass yang telah berisi air panas 100 ml ditambahkan secara
berurutan dan dilakukan pengadukan pada setiap kali penambahan
a. Sodium Lauril Sulfat
b. Sodium Bikarbonat
c. Ekstrak daun lidah buaya
d. Glycerin
- Dimixer semua bahan sampai larut dan tercampur sempurna

2. Setelah terlarut sempurna, ditambahkan :


a. Sodium Borat
b. Sisa air panas 87,5 ml (dimixer sampai tercampur dengan rata)
3. Kemudian pada shampoo yang telah jadi ditambahkan pewarna hijau, pewangi dan
metil paraben sebagai pengawet, kemudian diaduk sampai semuanya larut.
4. Dan diambil sample untuk dilakukan pengujian
Pengujian :
1. Apek Organoleptik (warna dan bau)
2. Kelarutan
3. pH

BAB IV
Bahan
Sodium lauryl sulfat
Sodium bikarbonat
Ekstrak daun lidah buaya
Glycerin
Sodium Borat
Pewarna hijau
Pewangi apel
Metil paraben
Aquadest

Jumlah yang
digunakan
25 g
4,5 ml
15 ml
2g
2g
qs
qs
0,1 g
187,5 ml

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Data Formulasi

4.2 Hasil Pengamatan


Pengujian
1. Apek organoleptik:
Bau
Warna
2. Kelarutan
3. pH
4. Kekentalan

Hasil Pengamatan
++
++
++
7
1. 19
2. 20

Keterangan :

+
++
+++

: kurang menyengat, pekat dan larut


: cukup menyengat, pekat dan larut
: sangat menyengat, pekat dan larut

4.3 Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu membahas mengenai shampo daun lidah buaya yang
digunakan sebagai shampo anti ketombe. Bahan-bahan yang digunakan ialah Sodium Lauryl
Sulfate yang merupakan surfaktan yang paling umum digunakan yang harganya pun relatif
lebih murah. Memiliki daya pembersih (Detergensi) yang tinggi bahkan di dalam air yang
susah sekalipun, memiliki kemampuan membentuk busa yang baik, efektif pada pH yang
netral ataupun asam serta mudah tercuci dengan air. Sodium bikarbonat yang berfungsi
sebagai alkali ringan yaitu untuk pestabil larutan dan fungsi glycerin yaitu bersifat
moisturizing yang dapat melembabkan kulit rambut sehingga kulit rambut terjaga
kesegarannya, digunakan pewarna yaitu sebagai nilai estetika dimana warna sangat
diperlukan untuk menarik minat pengguna untuk memakai produk dan digunakan pewangi
supaya menjaga keharuman rambut sehingga rambut bisa menjadi lembut, lembab, wangi dan
segar.

Hal pertama yang kami lakukan adalah melarutkan Sodium Lauryl Sulfate ke dalam
aquadest panas hambatan yang kami alami pada proses kali ini perlunya waktu yang lama
dalam proses pelarutan. Kemudian kami campurkan ekstrak lidah buaya yang sudah disaring
kedalam pelarut tersebut dan di kocok tujuan pengocokkan di sini yaitu untuk
menghomogenkan bahan-bahan yang telah dimasukan, kemudian kami campurkan sedikit
demi sedikit bahan seperti Sodium bikarbonat, Gliceryn, Sodium borat, Pewarna hijau,
Pewangi, Metil Paraben kemudian dikocok kembali hingga campuran terlihat merata.
Selanjutnya dilakukan beberapa pengujian seperti uji organoleptis yang diantaranya bau
dan warna, kelarutan, pH dan kekentalan (viskositas). Dari hasil pengujian didapatkan bau
dan warna shampo yang kami buat cukup menyengat dan cukup wangi (++). Selanjutnya
kelarutannya cukup larut karena terdapat sedikit endapan yang diakibatkan bahan yang
kurang larut, dengan pH 7 yang berarti netral sedangkan pH shampo seharusnya adalah basa
karena jika shampo bersifat asam dapat mengiritasi kulit rambut. Hal tersebut dikarenakan
sodium lauryl sulfat yang kami gunakan tidak larut sempurna, karena bahan tersebut dapat
meningkatkan kebasaan pada shampo. Sedangkan Pada pengujian kekentalan menggunakan
viskometer brookfield dengan spindle 2 dan pengadukan 100 RPM pengujian dilakukan
duplo sehingga didapatkan hasil 19 cp dan 20 cp. Hasil tersebut menandakan bahwa shampo
yang dibuat kurang kental (encer) sedangkan shampo seharusnya kental seperti shampo
kemasan yang beredar dipasaran. Hal tersebut terjadi karena beberapa bahan seperti sodium
lauryl sulfat dan sodium bikarbonat yang digunakan kurang larut yang diakibatkan karena air
aquadest yang kurang panas.

BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:

Lidah buaya merupakan tumbuhan yang baik untuk bahan aktif pembuatan shampoo

yang berfungsi sebagai anti ketombe.


Sodium Lauryl Sulfat merupakan bahan yang bersifat sebagai surfaktan dan dapat

meningkatkan kebasaan pada shampo.


Pada beberapa pengujian shampo seperti didapatkan hasil kelarutan (++), bau (++),
warna (++) dan didapatkan pH 7 (netral) dan kekentalan (19 cp & 20 cp).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, departemen kesehatan republik indonesia. 1992. Jakarta.

Anonim, Naturakos Vol. IV/No.11, SEPTEMBER 2009. ISSN 1907-6606. BADAN POM RI.
Furnawanthi I. Khasiat dan manfaat lidah buaya si tanaman ajaib. Jakarta: AgroMedia
Pustaka; 2002.
Kusumadewi. Penanggulangan ketombe secara kosmetik. In : Sugito T, Dwikarya M, Amsafi
P, Dwihastuti P, Wasitaatmaja SM, editors. Ketombe dan penanggulanganya.
Jakarta: Tira Pustaka; 1989. p. 29-34.
Ronny PH. Penatalaksanaan ketombe secara medis. In : Sugito T, Dwikarya M, Amsafi P,
Dwihastuti P, Wasitaatmadja SM, editors. Ketombe dan Penanggulanganya.
Jakarta : Tira pustaka ; 1989. p. 23-5.

Anda mungkin juga menyukai