Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN


DENGAN
KASUS ASMA BRONCHIALE DI RUANG
UGD RUMAH SAKIT

Disusun Oleh :
NIM: 22012

AKADEMI KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURABAYA

Kasus ini kami ambil dari ruang UGD Rumah Sakit pada saat mengikuti
praktek

keperawatan Akademi

Keperawatan

Universitas

Muhammadiyah

Surabaya mulai tanggal juli 200 sampai dengan ju200

Mahasiswa praktek,

Nim : 22012
Mengetahui,
Kepala ruang UGD
Rumah Sakit

Nip.

Pembimbing ruang UGD


Rumah Sakit

Nip.
Pembimbing Pendidikan
Akper Unmuh Surabaya

Nip

1. Konsep Dasar
I.

Pengertian
Asma bronchiale adalah keadaan respon abnormal saluran nafas
terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan saluran
nafas (IPD jilid II, 2001).
Asma bronchiale dibagi menjadi 3 kategori yaitu :
1. Ektsrinsik / alergi
Asma yang disebabkan oleh bahan alergen seperti spora, jamur, debu,
bulu binatang dan yang lebih jarang adalah susu atau coklat. Dan
asma yang umumnya dimulai sejak kanak-kanak dengan anggota
keluarga yang mempunyai riwayat penyakit seperti hayfever,
dermatitis.
2. Asma intrinsik
Ditandai dengan faktor yang tidak jelas. Asma ini sering muncul
setelah umur 40 tahun. Serangan ini makin lama makin sering
sehingga akan terjadi brontitis kronik.
3. Asma campuran
Kombinasi ekstrinsik dan instrinsik

II.

Etiologi
Penyebab dari asma bronchiale belum diketahui secara pasti
namun berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa dasar gejala asma
adalah inflamasi dan respon saluran nafas yang berlebihan. Asma saat ini
dipandang sebagai penyakit inflamasi saluran nafas. Inflamasi ditandai
dengan adanya kalor (panas karena vasodilatasi) dan rubor (kemerahan
karena vasodilatasi), tumor lekssutasi plasma dan edema), dolor (rasa
sakit karena rangsangan sensoris) dan fuction laesa (fungsi yang
terganggu) ternyata ke enam syaraf tersebut dijumpai pada asma, sifat
saluran nafas pasien asma sangat peka terhadap berbagai rangsangan
iritan (debu), zat kimia (histamin) dan feses (kegiatan jasmani).

III. Anatomi
Respirasi adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang
mengandung O2 kedalam tubuh serta menghembuskan udara yang
banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.
Saluran pernafasan di bagi menjadi 2 zona yaitu :
1. Zona konduksi
Terdiri dari hidung, faring, trakea, bronkus dan bronkus terminalis.
2. Zona respiratorik
Terdiri dari bronkioli respiratorik, duktus alveoli
IV. Patofisiologis
Destruksi saluran nafas pada asma merupakan kombinasi spasme
otot bronkus, sumbat mukus edema dan inflamasi dinding bronkus.
Destruksi bertambah berat selama ekspirasi karena secara fisiologis
saluran

nafas

menyempit.

Gejala

mengi

menandakan

adanya

penyempitan di saluran nafas besar, sedang pada saluran nafas yang kecil
gejala batuk dan sesak lebih dominan dibanding mengi. Penyempitan
saluran nafas ternyata tidak merata di seluruh bagian paru. Ada daerah
yang kurang mendapat ventilasi, sehingga darah kapiler yang melalui
daerah tersebut mengalami hipoksemia. Untuk mengatasi kekurangan O2
tubuh melakukan hiperventilasi, agar kebutuhan O2 terpenuhi. Tetapi
akibat pengeluaran CO2 sehingga PCO menurun dan menimbulkan
alkalosis respiratorik pada serangan asma yang lebih berat lagi banyak
Dekstruksi saluran nafas
saluran nafas tertutup oleh mukus sehingga tidak memungkinkan lagi
terjadi pertukaran gas. Hal ini menyebabkan hipokremia dan kerja ototEdema
Saluran
nafasCO2,
Inflamasiberat
dinding
ototmukus
pernafasan bertambah
sertabronkus
terjadi peningkatan
produksi
menyempit
peningkatan produksi CO2 dapat mengakibatkan gagal nafas.
Gangguan
Sesak
pertukaran gas
Ventilasi
berkurang
CO2 Meningkat
Hipoksemia
Hipoksemia
Alkalosis
respiratorik
CO2 meningkat
O2 menurun
Asma bronchiale

Gagal nafas

V.

Gejala Klinis
Gejala Klinis asma adalah batuk, mengi dan sesak nafas. Pada
awal serangan sering gejala tidak jelas seperti rasa berat di dada dan pada
asma alergik bisa disertai pilek atau bersin. Meskipun pada mulanya
batuk tanpa disertai sekret tetapi pada perkembangan selanjutnya pasien
akan mengeluarkan Sekret, pada asma alergi, sering hubungan antara
pemajanan alergen dengan gejala asma tidak jelas. Terlebih lagi pasien
asma alergi pencetus non alergik seperti asap rokok, asap yang
merangsang infeksi saluran nafas ataupun perubahan cuaca

VI. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan laboratorium dapat dibagi atas :
1. Pemeriksaan sputum
Pada pemeriksaan sputum ditemukan
-

Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari


kristal eosinofil.

Netrofil dengan eosinofil yang terdapat pada sputum umumnya


bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang-kadang
terdapat mukus plug.

2. Pemeriksaan darah

Pada pemeriksaan darah yang rutin diharapkan terjadi


peningkatan eosinofil sedangkan leokosit dapat meningkatkan atau
normal, walaupun terdapat komplikasi.
-

Analisis gas darah pada umumnya normal, akan tetapi dapat pula
terjadi hipoksomia, asidosis.

Kadang-kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan


IDH.

3. Pemeriksaan radiologi
Kelainan yang didapat adalah :
-

Bila disertai dengan bronchitis maka bercak-bercak dihilus akan


bertambah.

Bila terjadi emfirema (COPD) maka gambaran radiolosan akan


semakin bertambah.

Bila komplikasi pneumonia maka terdapat gambaran infiltrasi


pada paru-paru.

4. Pemeriksaan faal paru


Berdasarkan pemeriksaan faal paru maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
-

Setiap

pasien

menunjukkan

peningkatan

resistensi

jalan

pernafasan dan penurunan expiratory flow rate (kecepatan aliran


ekspirasi)
-

Peningkatan fluktuasi dari tekanan intrapleura.

5. Scaning paru
Dengan scaning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa
redistribusi udara selama serangan asma ternyata tidak menyeluruh,
pada paru-paru sedangkan pada pemeriksaan xenon 133 melalui
pembuluh darah dapat dilihat redistribusi radioaktif tidak menyeluruh
pada kedua paru.
VII. Penatalaksanaan
Pada penderita asma bronchiale dapat ditinjau dari berbagai
pendekatan seperti :
a. Mencegah ikatan alergen IGE

Menghindari alergen, tampaknya sederhana tetapi sukar untuk


dilakukan.
b. Mencegah pelepasan mediator
Premedikasi dengan natrium kromolin dapat mencegah spasme
bronkus yang dicetuskan oleh alergen natrium kromolin mekanisme
konjungtiva diduga mencegah penglepasan mediator dari mastosif
obat tersebut tidak adapat mengatasi spasme bronkus yang telah
terjadi, oleh karena itu hanya dipakai sebagai obat profilaktif pada
terapi pemeliharaan.
c. Melebarkan saluran nafas dengan bronkodilator
Kortikosteroid tidak termasuk obat golongan bronkodilator tetapi
secara tidak langsung, dapat melebarkan saluran nafas.
d. Mengurangi respons dengan jalan meredam inflamasi saluran nafas.
Implikasi terapi proses inflamasi diatas adalah meredam inflamasi
yang ada baik dengan natrium kromolin, atau secara lebih paten
dengan kartikosteroid baik secara oral, parenteral atau inhalasi
VIII. Komplikasi
- Pneumotoraks
- Pneumodiastinum dan erofirema subkutis
- Atelektasis
- Gagal nafas
- Bronkitis
- Fraktur iga

2. Asuhan Keperawatan
I.

Pengumpulan data
a. Identitas klien
b. Keluhan utama

Biasanya pada klien dengan asma bronchiale mengeluh sesak nafas


c. Riwayat kesehatan
-

Riwayat kesehatan dahulu


Penyakit yang pernah diderita sebelumnya seperti sesak nafas
batuk dan disertai dahak dan alergi.

Riwayat kesehatan sekarang


Ditanyakan : -

Kapan terjadinya

Sering / kadang-kadang

Batuk produktif atau non produktif

Sputum dan warna

Riwayat kesehatan keluarga


Biasanya merupakan faktor keturunan dari salah satu anggota
keluarga.

II.

Pola Fungsi kesehatan


1. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Meliputi persepsi klien terhadap kesehatan dan penyakitnya.
Apa yang dilakukan klien bila merasa sakit
2. Pola nutrisi dan metabolisme
Meliputi makanan klien dalam sehari, adakah alergi makanan tang
bisa menyebabkan sesak.
3. Pola aktivitas dan latihan
Gangguan aktivitas / kebutuhan istirahat, akibat sesak nafas dan
batuk sehingga dapat menghambat aktivitas sehari-hari termasuk
pekerjaan harus dibatasi.
4. Pola eliminasi
Pada pola ini klien tidak mengalami gangguan
5. Pola tidur dan istirahat
Pada pasien ini mengalami gangguan pada pola tidur yang
diakibatkan sesak nafas dan batunya
6. Pola sensori dan kognitif

Bagaiman Klien dalam menghadapi penyakitnya, apakah dapat


mengerti cara penanggulangan pertama jika kambuh penyakitnya
7. Pola persepsi dan konsep diri
Persepsi klien tentang penyakitnya dan bagaiman konsep diri dalam
menghadapi penyakit yang dideritanya
8. Pola hubungan dan peran
Dalam hal ini hubungan dan peran klien terganggu karena klien
mungkin merasa bahwa dirinya orang yang sakit-sakitan
9. Pola reproduksi dan sexual
Mengalami gangguan akibat penurunan libido yang diakibatkan sesak
nafas yang ia alami.
10. Pola penanggulangan stress
Bagaimana

klien

menghadapi

masalah

yang

membebaninya

sekarang, cara penanggulangannya.


11. Pola tata nilai dan kepercayaan
Dalam pola ini kadang ada yang mempercayakan diri pada hal-hal
yang ber sifat ghoib.
III. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum
kesadaran, TTV, sesak nafas dan batuk, suara tambahan (whezing,
ronchi)
2. Dada
-

Inspeksi

: Pada klien asma terlihat pergerakan otot bantu


pernafasan, pernafasan cuping hidung.

Palpasi

: Meliputi pergerakan dada kanan + kiri simetris atau


tidak, ada atau tidaknya nyeri tekan.

Perkusi

: Klien asma suara ketok sonor antara dada kanan dan


kiri.

Auskultasi : Terdapat suara tambahan, berupa whezing ronchi.

3. Abdomen
-

Inspeksi

: Pada klien terlihat otot bantu pernafasan perut

Palpasi

: Ada tidaknya nyeri klien pembesaran hati atau limfe

Perkusi

: Pada penyakit ini peristaltik usus tidak ada


gangguan.

Auskultasi : Meliputi ada tidaknya kembung, suara pekak atau


redup

IV. Diagnosa keperawatan


1. ketidak efektifan jalan nafas b/d produksi mukus yang meningkat.
2. Kecemasan berhubungan dengan sesak nafas.
3. Resiko

terjadinya

infeksi

berhubungan

dengan

kurangnya

pengetahuan tentang paparan pathogen, rendahnya pertahanan tubuh.


V.

Perencanaan
Dx I

Ketidak efektifan jalan nafas b/d produksi mukkus yang

meningkat.
Tujuan

: Pembersihan jalan nafas klien dapat normal

KH

: Batuk klien dapat berkurang

Intervensi :
1)Gunakan nebulizer untuk pengeluaran sekret
R / Memudahkan dalam melakukan pengeluaran sekret
2)Ajarkan metode batuk efektif
R/ Sekret dapat keluar dengan mudah
3)Beri posisi semi fowler pada klien
R/ Agar memudahkan / memberi rasa nyaman pada klien agar tidak
sesak.
4)Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi bronkodilator
R/ Untuk melebarkan saluran pernafasan
Dx II

: Cemas berhubungan dengan sesak nafas.

Tujuan

: Klien dapat mengelola kecemasan

KH

: Klien tidak merasakan cemas lagi

Intervensi :
1)Ajarkan pada klien tentang teknik relaxaxi

R / Untuk mengurangi kecemasan pada klien.


2)Beri penjelasan pada klien tentang hal-hal apa saja yang dapat
mengakibatkan keparahan pada penyakitnya.
R/ Agar klien mengetahui apa saja yang dapat mengakibatkan atau
memperparah penyakitnya.
3)Anjurkan klien untuk menghindari hal-hal yang dapat mengakibatkan
bertambahnya sesak yang ia alami.
R/ Untuk mengurangi sesak yang dialami klien
4)Hindarkan klien dari hal-hal yang membuat dia cemas
R/ Untuk mengurangi cemas yang dialami klien.
Dx III

: Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan kurangnya


pengetahuan tentang paparan pathogen, rendahnya pertahanan
tubuh.

Tujuan

: Klien dapat melakukan pencegahan terhadap penyebaran


infeksi

dan

menunjukkan

perubahan

dalam

perilaku

kesehatan.
KH

: Klien menyatakan pemahaman dalam proses penyakit dan


kebutuhan pengobatan, melakukan perubahan pola hidup
untuk memperbaiki kesehatan.

Intervensi :
1)Jelaskan pada klien tentang penyebaran infeksi, bersin, droplet selama
batuk.
R / Pemahaman dalam proses penyakit akan membantu klien untuk
mencegah penyebaran infeksi.
2)Instruksikan klien batuk dan meludah dengan benar (tampung dalam
sputum pot dan beri desinfektan)
R/ Perubahan perilaku perlu untuk mencegah penyebaran penyakit.
3)Monitor temperatur sesuai dengan indikasi.
R/ Reaksi febris adalah indikator berlanjut infeksi
4)Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian dan alasan pengobatan yang
lama.

R/ Meningkatkan kerja sama dalam program pengobatan dan


mencegah obat sesuai perbaikan kondisi klien.

DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer. Dkk (1999)., Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta, Media
Aesculapius FKUI.
Marlyn E. Doenges, (2000)., Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC.
Prof. Dr. H. Slamet Suyono, SPPD, KE dkk (2001), Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta,
Gaya Baru.

LEMBAR PENGESAHAN

Kasus ini kami ambil dari ruang Paviliun Sofa Rumah Sakit Siti Khodijah
Surabaya, pada saat mengikuti praktek keperawatan Akademi Keperawatan
Universitas Muhammadiyah Surabaya mulai tanggal 05 Januari 2004 sampai
dengan 18 Januari 2004

Mahasiswa praktek,

MOCH. WINDI
Nim : 200138
Mengetahui,
Kepala ruang Paviliun Sofa
Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang

Pembimbing ruang Paviliun Sofa


Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang

___________________
Nip.

___________________
Nip.

Pembimbing Pendidikan
Akper Unmuh Surabaya

Nip