Anda di halaman 1dari 7

DEMOKRASI: ALAT ATAU TUJUAN?

Hakikat Demokrasi
Pertama-tama, saya akan menguraikan pendapat saya mengenai hakikat
demokrasi. Menurut Abraham Lincoln, demokrasi adalah pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.1 Hal tersebut berarti kekuasaan tertinggi
dalam sistem demokrasi ada di tangan rakyat dan rakyat memiliki hak,
kesempatan, dan suara yang sama dalam mengatur kebijakan pemerintahan.
Menurut saya, demokrasi adalah suatu cara, alat, atau proses. Sebagai suatu
alat, bentuk-bentuk demokrasi dapat selalu berubah dan dapat dievaluasi secara
terus-menerus. Misalnya di negara Indonesia. Indonesia telah menerapkan
demokrasi sejak Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1945. Akan tetapi,
bentuk demokrasi yang diterapkan di Indonesia terus berubah. Pada awalnya,
Indonesia menerapkan demokrasi liberal. Namun bentuk demokrasi liberal
dianggap masyarkat sebagai cangkokan negara Barat. Mereka mengadakan
demonstrasi besar-besaran untuk menolaknya. Selanjutnya pada tahun 1958,
Presiden Indonesia pertama, Bung Karno membubarkan Dewan Perwakilan
Rakyat dan mengubah Indonesia dengan demokrasi terpimpin (yang notabene
justru lebih menyengsarakan rakyat). Sistem tersebut berakhir pada tahun 1966
ketika Orde Baru yang dipimpin oleh Suharto memperkenalkan format politik
demokrasi Pancasila (yang sebenarnya juga sama dengan demokrasi terpimpin).
Pada tahun 1988, otokrasi Suharto itu rubuh sehingga Indonesia kembali menjadi
bentuk demokrasi liberal.2
Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa bentuk demokrasi selalu berubah.
Padahal antara bentuk demokrasi satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan
secara prinsipal. Pada zaman Orde Baru. Saat itu, demokrasi dianggap baik
apabila ada pemilihan umum reguler, tetapi tidak ada pengawasan jalannya
pemerintahan dari masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu, hal tersebut
berubah. Pada masa sekarang ini, demokrasi dianggap baik apabila ada pemilihan
umum reguler, ada partisipasi masyarakat, ada pembentukan undang-undang
melalui legislator di parlemen, dan ada pengawasan kabinet melalui lembaga
negara independen. Namun bentuk demokrasi yang demikian bisa jadi berubah

1 Abraham Lincoln in His Time and Ours, https://www.gilderlehrman.org/history-byera/lincoln/essays/abraham-lincoln-and-jacksonian-democracy, diakses terakhir pada 27
Mei 2016, pukul 21.02
2 Goenawan Mohamad, Demokrasi dan Disilusi, Orasi Ilmiah pada Nurcholish Madjid
Memorial Lecture II di Universitas Paramadina pada tanggal 23 Oktober 2008, hal. 2

sepuluh tahun ke depan. Tidak ada yang tahu sampai kapan anggapan demokrasi
yang demikian akan bertahan.

Namun demikian, demokrasi bukanlah alat yang dapat ditanggalkan ketika


sebuah tujuan sudah tercapai. Demokrasi adalah alat yang harus selalu
direvitalisasi agar kehidupan berbangsa, benegara, dan bermasyarakat menjadi
lebih bermartabat. Jadi, demokrasi bukan tujuan karena tujuan adalah sesuatu
sasaran yang hendak dicapai.3 Dengan demikian, tujuan seharusnya juga tidak
pernah berubah. Tujuan dasar hidup berbangsa, benegara, dan bermasyarakat yang
berlaku di segala zaman bukanlah demokrasi, melainkan hidup aman, damai, adil,
makmur, dan sejahtera. Itu semua merupakan kebenaran mutlak bagi rakyat. Bagi
bangsa Indonesia sendiri, tujuan bangsa Indonesia termuat dalam alinea ke-4
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Walaupun
demikian, demokrasi sebagai alat tidak berarti bahwa demokrasi dapat
dinomordukan di bawah tujuan luhur yaitu untuk meningkatkan dan mencapai
kesejahteraan rakyat.
Menurut Adnan Buyung Nasution, demokrasi bukan hanya suatu cara, alat,
atau proses, tetapi adalah nilai-nilai atau norma-norma yang harus menjiwai dan
mencerminkan keseluruhan proses kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Demokrasi bukan hanya kriteria di dalam merumuskan cara atau proses
untuk mencapai tujuan, melainkan tujuan itu sendiri pun harus mengandung nilainilai atau norma-norma demokrasi.4 Jadi menurut Adnan Buyung Nasution,
demokrasi bukan hanya cara, tetapi juga tujuan yang harus dibangun terusmenerus sebagai suatu proses. Oleh karenanya, demokrasi tidak boleh
dinomorduakan di bawah tujuan yang luhur (untuk meningkatkan dan mencapai
kesejahteraan rakyat) karena hal itu berarti kita tidak memahami makna
demokrasi, dan bahkan dapat membuka peluang untuk kembali ke cara-cara
otoriter, totaliter, daan fasisme. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa
pada zaman Orde Lama (yang menggunakan demokrasi terpimpin) dan Orde
Baru (yang menggunakan demokrasi Pancasila), bangsa Indonesia diperbodoh
dengan alasan demi mencapai tujuan yang luhur karena tujuan yang luhur itulah
3 Tujuan, http://kbbi.web.id/tujuan, diakses terakhir pada 27 Mei 2016, pukul 20.41
4 Adnan Buyung Nasution, 2010, Pikiran dan Gagasan: Demokrasi Konstitusional,
Jakarta: Kompas, hal. 3

yang dijadikan alasan pembenaran terhadap cara-cara otoriter dan represif yang
digunakan oleh pihak penguasa, yaitu tujuan menghalalkan segala cara.

Pendapat Adnan Buyung Nasution tersebut sejalan dengan pendapat Bung


Karno. Menurut Bung Karno, demokrasi adalah alat, bukan tujuan. Maksudnya
adalah demokrasi menjadi alat rakyat untuk mengatasi dan keluar dari kemelut
kesemrawutan perpolitikan Indonesia dan sebagai alat untuk mencapai tujuan
rakyat. Tujuan demokrasi adalah mencapai suatu masyarakat yang adil dan
makmur yang penuh dengan kebahagiaan meteriil dan spirituil. 5 Demokrasi bukan
satu-satunya bentuk masyarakat yang dapat digunakan sebagai alat. Semua bentuk
masyarakat digunakan sebagai alat bagi pengikutnya untuk untuk mencapai
masyarakat yang dicita-citakan, misalnya nasional-sosialisme dan diktatur
proletariat. Namun, perbedaan demokrasi dengan bentuk masyarakat yang lain
adalah demokrasi tidak dapat hanya dijadikan sebagai alat semata. Demokrasi
harus digabungkan dengan kepercayaan dalam usaha untuk mencapai masyarakat
yang bentuknya dicita-citakan.6
Menurut saya, demokrasi adalah alat terbaik dibandingkan dengan alat-alat
yang ada (seperti diktatorisme, otoritarianisme, dsb). Walaupun demikian,
demokrasi memiliki beberapa kelemahan. Menurut Jacques Ranciere, Salah satu
kelemahan demokrasi adalah tidak dapat menampun dan mewakili seluruh lapisan
masyarakat sehingga demokrasi selalu menghasilkan kekecewaan (disilusi). 7
Dalam kenyataannya, ada kaum yang tidak tertampung dalam demokrasi. Mereka
disebut le Riel atau kaum minoritas. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam
praktiknya, demokrasi (baik itu demokrasi langsung maupun demokrasi
perwakilan) akan lebih menguntungkan kaum mayoritas. Oleh karena itu,
demokrasi harus selalu dikaitkan dengan Hak Asasi Manusia dan gerakan atau
perjuangan alternatif untuk kesetaraan dan harapan yang tidak tertampung dalam
demokrasi.
Demokrasi untuk Rakyat
5 Jazim Hamidi dan Mustafa Lutfi, 2010, Civic Education: Antara Realitas Politik dan
Implementasi Hukumnya, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hal. 198.
6 Wawan Tunggul Alam, 2003, Demi Bangsaku: Pertentangan Bung Karno Vs Bung
Hatta, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hal. 399-400.
7 Goenawan Mohamad, Op. Cit., hal. 4

Kedua, saya akan menguraikan pendapat saya mengenai peruntukan


demokrasi. Menurut saya, demokrasi tentunya dibuat untuk rakyat karena
demokrasi adalah pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat. Latar belakang dari
adanya ide tentang demokrasi ini adalah adanya anggapan bahwa setiap warga
negara memiliki hak yang sama dan tidak seorang pun berhak memerintah orang
lain begitu saja. Anggapan tersebut menunjukkan bahwa rakyat adalah pemegang
kedaulatan tertinggi dalam pemerintahan. Itulah yang disebut sebagai kedaulatan
rakyat.
Konsep demokrasi juga muncul saat Revolusi Perancis dan Perang
Kemerdekaan Amerika. Saat itu, demokrasi digunakan sebagai jargon revolusi
oleh para elit bangsawan untuk menggerakkan rakyat yang sudah lama tertindas.
Dengan adanya konsep demokrasi yang diusung Perancis dan Amerika, Perancis
berhasil membentuk republik Perancis dan Amerika berhasil terbebas dari
kekangan Inggris. Hal tersebut sekali lagi menunjukkan bahwa demokrasi
digunakan untuk kepentingan rakyat.
Gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi adalah pengakuan hakikat
manusia. Maksudnya adalah pada dasarnya manusia memiliki kemampuan yang
sama dalam hubungannya antara yang satu dengan yang lainnya. Demokrasi
ditujukan untuk kepentingan rakyat. Hal tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri
demokrasi, yang antara lain mensyaratkan hal-hal sebagai berikut:
1. Ada lembaga perwakilan rakyat yang mencerminkan kehendak rakyat;
2. Ada pemilihan umum yang bebas untuk mengangkat dan menetapkan
keanggotaan lembaga perwakilan rakyat;
3. Kekuasaan rakyat dilaksanakan oleh lembaga yang bertugas mengawasi
pemerintah; dan
4. Susanan lembaga negara ditetapkan dalam rumusan undang-undang dasar
negara.
Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa demokrasi meletakkan rakyat sebagai
pemegang kekuasaan tertinggi. Kekuasaan tidak lagi dimonopoli oleh kaum
penguasa yang diktator. Akan tetapi, ditujukan sepenuhnya untuk kesejahteraan
dan kemakmuran rakyat. Dari rakyat, maksudnya adalah kebutuhan yang coba
untuk dipenuhi adalah kebutuhan rakyat sendiri. Oleh rakyat, maksudnya adalah
rakyat-lah yang membuat kebijakan (walaupun diwakilkan dalam lembaga
perwakilan rakyat). Untuk rakyat, maksudnya adalah semua kebijakan yang
diambil digunakan untuk kepentingan rakyat sendiri.
Menurut saya, demokrasi bertujuan untuk hal-hal sebagai berikut:
1. Mewujudkan kedaulatan rakyat
Contohnya, dalam demokrasi perwakilan. Demokrasi perwakilan memang
membatasi partisipasi rakyat untuk secara langsung ikut memerintah (berbeda
dengan demokrasi langsung), tetapi demokrasi perwakilan juga merupakan

kekuatan rakyat karena rakyat dapat meminta pertanggungjawaban


pemerintah atas segala kebijakan dan tindakannya.
2. Memanusiakan manusia
Nilai-nilai demokrasi dapat memanusiakan manusia karena nilai-nilainya
bertitik tolak dari nilai-nilai luhur. Tujuan demokrasi adalah
memasyarakatkan manusia secara fungsional dengan penuh rasa kebersamaan
serta tasa tanggung jawab sehingga demokrasi dapat meningkatkan
kesejahteraan manusia.8 Dalam kehidupan demokrasi, setiap orang dihargai
hak asasinya secara sama. Setiap orang tidak dibeda-bedakan berdasarkan
suku, agama, ras, antargolongan (SARA), dan lain sebagainya. Di dalam
sistem yang tidak demokratis, orang kaya akan senantiasa mendapat
perlakuan berlebih dibandingkan dengan orang miskin dan pejabat tinggi
akan mendapatkan perlakukan berlebih dibandingkan dengan orang yang
tidak memiliki jabatan. Kondisi tersebut yang menimbulkan suatu
diskriminasi.
3. Mencegah tumbuhnya pemerintahan oleh kaum otokrat yang kejam dan licik
Masalah yang paling mendasar dalam dunia politik adalah mencegah
tumbuhnya pemerintahan yang otokratis. Sepanjang sejarah yang permah
dicatat, termasuk di zaman kita, para pemimpin yang didorong oleh rasa gila
kebesaran, kelainan jiwa, kepentingan pribadi, keyakinan agama, perasaan
keunggulan batin, atau hanya emosi dan kata hati, telah mengeksploitasi
kemampuan negara yang luar biasa melalui pemaksaan dan kekerasan untuk
mencapai tujuan pribadi mereka.9 Dalam demokrasi, pemimpin bertindak
sebagai pelayan, yaitu seseorang yang memberikan pelayanan kepada rakyat,
sehingga rakyat adalah raja yang harus mendapatkan pelayanan yang baik
dari pemimpinnya. Oleh karena itulah, dalam demokrasi kesewenangwenangang penguasa (seperti pada otoritarianisme atau totaliterisme) dapat
ditekan dan semuanya ditujukan untuk kepentingan rakyat.
4. Menjamin hak asasi setiap warga negara
Demokrasi bukan hanya sebuah proses memerintah. Demokrasi juga pada
intinya adalah sistem hak karena hak adalah unsur penting dalam lembaga
politik demokratis. Hak tersebut adalah salah satu bahan utama dalam
membangun proses pemerintahan yang demokratis.10 Demokrasi memberikan
berbagai kesempatan bagi setiap warga negara untuk memiliki partisipasi
8 Ahmad Suhelmi, 2007, Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan
Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
hal. 296.
9 Robert A. Dahl, 2001, Perihal Demokrasi:Menjelajahi Teori dan Praktik Demokrasi
Secara Singkat, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hal. 63-64.

yang efektif, persamaan dalam memberikan suara, pemahaman yang jernih,


pengawasan akhir terhadap agenda, dan pencakupan orang dewasa.11 Tidak
ada satupun sistem non-demokratis yang memberikan warga negaranya
susunan hak politik seluas demokrasi tersebut.

5. Membantu orang-orang untuk melindungi kepentingan mereka


Setiap orang menginginkan beberapa hal, seperti kelangsungan hidup,
makanan, tempat bernaung, kesehatan, cinta, rasa hormat, rasa aman,
keluarga, teman-teman, pekerjaan, waktu luang, dan lain-lain. Demokrasi
melindungi kesempatan dan kebebasan tersebut lebih baik daripada semua
sistem politik alternatif yang pernah terjadi.12
6. Mewujudkan kesetaraan bagi setiap rakyat
Demokrasi bertujuan memperlakukan setiap orang sama dan sederajat dalam
setiap kebijakan pemerintah. Dalam demokrasi, setiap orang (yang bukan
legislator) berhak untuk mengawasi jalannya kebijakan pemerintah. Begitu
pula dengan para legislator, mereka berkewajiban untuk mendengarkan
masukan-masukan dari rakyat dengan mengutamakan kepentingan umum.
Prinsip kesetaraan tersebut tidak hanya menuntut bahwa setiap orang
memiliki hak yang sama dalam setiap kebijakan pemerintah, tetapi juga
menuntut perlakukan yang sama terhadap pendapat dan pilihan setiap rakyat.
7. Memenuhi kepentingan dan kebutuhan umum
Semakin besar partisipasi rakyat dalam menentukan kebijakan, maka semakin
besar pula kemungkinan kebijakan tersebut mencerminkan aspirasi rakyat.
8. Membantu mewujudkan keutamaan
Menurut Thomas Aquinas sebagaimana yang dikutip oleh Jean Baechler,
keutamaan adalah sikap permanen tertentu yang membuat manusia sanggup
bertindak berdasarkan apa yang dianggap baik. 13 Demokrasi menuntut
keutamaan-keutamaan spesifik.
9. Mengajarkan kompromi
10Ibid., hal. 69
11 Ibid., hal. 53
12 Ibid., hal. 72-73.
13 Jean Baechler, 2001, Demokrasi: Sebuah Tinjauan Analitis, Yogyakarta: Kanisius,
hal. 182.

Demokrasi tidak hanya mengasumsikan adanya perbedaan pendapat dan


kepentingan pada sebagian besar masalah kebijakan, tetapi juga menghendaki
bahwa perbedaan tersebut harus dikemukakan dan didengarkan.

SUMBER:
Alam, Wawan Tunggul. 2003. Demi Bangsaku: Pertentangan Bung Karno Vs
Bung Hatta, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Baechler, Jean. 2001. Demokrasi: Sebuah Tinjauan Analitis. Yogyakarta:
Kanisius.
Dahl, Robert A. 2001. Perihal Demokrasi:Menjelajahi Teori dan Praktik
Demokrasi Secara Singkat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Hamidi, Jazim dan Mustafa Lutfi. 2010. Civic Education: Antara Realitas Politik
dan Implementasi Hukumnya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Nasution, Adnan Buyung. 2010. Pikiran dan Gagasan: Demokrasi Konstitusional.
Jakarta: Kompas.
Suhelmi, Ahmad. 2007. Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan
Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Goenawan Mohamad, Demokrasi dan Disilusi, Orasi Ilmiah pada Nurcholish
Madjid Memorial Lecture II di Universitas Paramadina pada tanggal 23
Oktober 2008, hal. 2
Abraham Lincoln in His Time and Ours, https://www.gilderlehrman.org/historyby-era/lincoln/essays/abraham-lincoln-and-jacksonian-democracy, diakses
terakhir pada 27 Mei 2016, pukul 21.02
Tujuan, http://kbbi.web.id/tujuan, diakses terakhir pada 27 Mei 2016, pukul 20.41