Anda di halaman 1dari 39

MINI PROJECT

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ODF (OPEN


DEFECATION FREE) DI DESA GELOGOR, KEDIRI,
LOMBOK BARAT

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Internship Dokter Bidang Kesehatan


Masyarakat di Puskesmas Kediri, Lombok Barat

Disusun oleh
dr. Krishna Vidya Amelia

DOKTER INTERNSHIP
PUSKESMAS KEDIRI LOMBOK BARAT
2012

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahiwabarokatuh
Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena
berkat rahmat dan karunia-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan mini project
kegiatan internship dengan judul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi ODF (Open
Defecation Free) di Desa Gelogor, Kediri, Lombok Barat.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada :
1.

dr. Qudusiyah Fahriati, selaku kepala Puskesmas Kediri, Lombok Barat.

2.

dr. Sabarudin selaku pembimbing yang banyak memberi bimbingan


kegiatan intership.

3.

Seluruh karyawan Puskesmas Kediri, Lombok Barat yang telah


membimbing di lapangan.
Demi kebaikan mini project ini, penulis mengharapkan kritik dan saran

yang bersifat membangun dari pembaca.


Akhir kata penulis mengharapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan.
Wassalamualaikum Warahmatullahiwabarokatuh

Kediri,

2012

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR........................................................................................

vi

DAFTAR ISI.....................................................................................................

ix

DAFTAR TABEL.............................................................................................

xii

DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xiii


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................

B. Perumusan Masalah.........................................................................

C. Keaslian Penelitian..........................................................................

D. Tujuan Penelitian.............................................................................

E. Manfaat Penelitian...........................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Musik..............................................................................................

22

B. Kerangka Konsep............................................................................

33

C. Hipotesis..........................................................................................

34

BAB III METODOLOGI MINI PROJECT


A. Desain Penelitian.............................................................................

35

B. Tempat dan Waktu Penelitian..........................................................

35

C. Populasi dan Sampel.......................................................................

35

D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi...........................................................

38

E. Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional...............................

38

F. Instrumen Penelitian.......................................................................

40

G. Cara Kerja.......................................................................................

41

H. Analisa Data....................................................................................

42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Profil Komunitas Umum.................................................................

35

B. Data Geografis ................................................................................

35

C. Data Demografik.............................................................................

35

D. Sumber Daya Kesehatan Yang Ada.................................................

38

E. Data Kesehatan Masyarakat...........................................................

38

BAB V DISKUSI

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan.......................................................................................

50

2. Saran.................................................................................................

50

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................

51

LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Untuk memastikan keberlanjutan lingkungan hidup, Pemerintah
Indonesia mempunyai komitmen sangat kuat dalam mencapai Millenium
Development Goals (MDGs), yang dihasilkan pada Johanesburg Summit
pada tahun 2002. Salah satu kesepakatan dalam MGDs (target 9) adalah
menurunkan separuh proporsi penduduk yang tidak mempunyai akses
terhadap air bersih dan sanitasi dasar pada tahun 2015. Terkait dengan upaya
pencapaian target di atas pemerintah berusaha memadukan prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional.
Pada saat ini setidaknya terdapat beberapa tantangan menyangkut
lingkungan hidup di Indonesia diantaranya yang berkaitan dengan
penyelamatan air dari tindakan eksploitatif yang melewati batas-batas
kewajaran dan pencemaran air, baik air tanah maupun air sungai, danau dan
rawa bahkan air laut. Berbagai kegiatan terkait dengan pencemaran air ini
misalnya pencemaran akibat kegiatan manusia di antaranya adalah kegiatan
rumah tangga dan juga aktivitas manusia yang melakukan buang air besar di
tempat terbuka.
Dalam hal sanitasi, masyarakat masih memanfaatkan toilet terbuka
yang biasanya terletak di kebun, pinggir sungai, dan parit sawah. Dengan
melakukan buang air besar di tempat terbuka hal ini akan menimbulkan

pencemaran pada permukaan tanah dan air. Perilaku semacam itu dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain faktor ekonomi karena untuk membuat
septik tank diperlukan biaya, tidak tersedianya septik tank umum dan layanan
yang baik untuk penyedotannya.
Buang air besar di area terbuka (sungai atau kebun) telah menjadi
kepraktisan dan dilakukan banyak orang di sekitarnya. Lingkungan
merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan pada
umumnya, karena berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap
genetik individu, perilaku, serta gaya hidup. Sebagaimana dikemukakan Blum
(1974) dalam planning for health, development and application of sosial
change theory, bahwa faktor lingkungan berperan sangat besar dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Lingkungan yang dimaksud
meliputi lingkungan fisik, biologi, kimia, sosial, ekonomi dan budaya.
Sampai saat ini masih banyak penduduk di negara kita terkena
penyakit yang diakibatkan karena rendahnya tingkat sanitasi. Banyaknya
penyakit-penyakit lingkungan yang menyerang masyarakat karena kurang
bersihnya lingkungan di sekitar ataupun kebiasaan buruk yang mencemari
lingkungan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan penyakit yang dibawa oleh
kotoran yang ada di lingkungan bebas tersebut baik secara langsung ataupun
tidak langsung melalui perantara.
Dari hasil cangkupan program desa Gelogor bulan Mei 2012
mengenai inspeksi sanitasi air bersih dari jumlah sarana (sumur) yang

diperiksa sebanyak 165 unit, hasil resiko pencemaran rendah sebanyak 111
unit, sedang sebanyak 34 unit, tinggi sebanyak 12 unit dan amat tinggi
sebanyak 8 unit. Sedangkan mengenai survey jentik, pada 75 rumah yang
disurvey, diperoleh 54 rumah bebas jentik dan 21 rumah positif ada jentik.
Desa Gelogor pada bulan Juni 2012 masi terdapat dusun yang belum
termasuk dalam kriteria dusun dengan status ODF, seperti pada dusun Gersik
Utara dengan KK sejumlah 208 dan total penduduk 889 jiwa, yang memiliki
jamban dengan syarat terpenuhi sejumlah 170 dan presentase akses sebesar
95,6%. Itu hanya data perwakilan dusun dari dusun - dusun lainnya dengan
status belum termasuk kategori dusun dengan ODF.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap jamban telah ada
beberapa pihak yang membantu pembuatan jamban bersama untuk beberapa
keluarga di tiap dusun di Gelogor sesuai dengan kebutuhannya. Dari pihak
puskesmas pun sudah melakukan pemicuan untuk menciptakan kondisi
sanitasi yang lebih baik tanpa bantuan pihak di luar warga dan rasa takut
terhadap penyakit. Pemicuan STBM sudah dilaksanakan di semua dusun dan
hasil monitoring pasca pemicuan STBM terbangun jamban sebanyak 4 unit.
Dari uraian di atas dapat dianalisa beberapa permasalahan seperti:
1. Masih ada warga yang menggunakan air bersih yang tidak memenuhi
syarat kesehatan dan minum air yang tidak dimasak,

2. Angka bebas jentik kurang dari 95%, jadi masih termasuk daerah rawan
akan penyebaran penyakit melalui nyamuk seperti Demam Berdarah dan
Cikungunya,
3. Dari semua dusun hanya dusun Gersik utara yang warga masyarakatnya
masih BAB di sungai dan kebun.

B. Perumusan Masalah
Dari uraian di atas tentang kondisi yang terjadi di kecamatan Kediri
sebagai contoh dusun Gersik Utara desa Gelogor, dapat disimpulkan
permasalahan utama yang perlu digali yaitu faktor - faktor apakah yang
mempengaruhi ODF (Open Devecation Free) terutama di lingkup dusun
Gersik Utara, desa Gelogor, kecamatan Kediri, Lombok Barat.

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas,
maka kegiatan penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengkaji

tingkat

efektivitas Program pembangunan sanitasi yang berpengaruh pada respon


masyarakat di desa Gelogor, Lombok Barat.

D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan rekomendasi dan pertimbangan mengenai pengetahuan,
sikap, dan perilaku masyarakat terhadap sanitasi pada pemukiman di desa
Gelogor, Lombok Barat.
2. Sebagai bahan referensi bagi pihak akademis dan juga peneliti selanjutnya
dalam hal mengkaji pola perilaku masyarakat yang ada pada daerah yang
belum termasuk kategori ODF.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada tahun 2008 telah diputuskan Strategi nasional Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat melalui Kepmenkes No. 852/Menkes.SK/IX/2008. Strategi ini
menjadi acuan bagi petugas kesehatan dan instansi terkait dalam penyusunan
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi terkait dengan sanitasi total
berbasis masyarakat.
1.

Latar

Belakang

Sanitasi

Total

Berbasis

Masyarakat
Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan masalah air minum,
higiene dan sanitasi masih sangat besar. Hasil studi Indonesia Sanitation
Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006, menunjukkan 47%
masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam,
kebun dan tempat terbuka.
Berdasarkan studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia tahun
2006, perilaku masyarakat dalam mencuci tangan adalah:

Setelah buang air besar 12%,


Setelah membersihkan tinja bayi dan balita 9%,
Sebelum makan 14%,
Sebelum memberi makan bayi 7%, dan
Sebelum menyiapkan makanan 6 %.
Sementara studi BHS lainnya terhadap perilaku pengelolaan air

minum rumah tangga menunjukan 99,20% merebus air untuk mendapatkan

air minum, tetapi 47,50 % dari air tersebut masih mengandung Eschericia
coli. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian diare
di Indonesia. Hal ini terlihat dari angka kejadian diare nasional pada tahun
2006 sebesar 423 per seribu penduduk pada semua umur dan 16 provinsi
mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) diare dengan Case Fatality Rate
(CFR) sebesar 2,52.
Kondisi seperti ini dapat dikendalikan melalui intervensi terpadu
melalui pendekatan sanitasi total. Hal ini dibuktikan melalui hasil studi WHO
tahun 2007, yaitu kejadian diare menurun 32% dengan meningkatkan akses
masyarakat terhadap sanitasi dasar, 45% dengan perilaku mencuci tangan
pakai sabun, dan 39% perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah
tangga. Sedangkan dengan mengintegrasikan ketiga perilaku intervensi
tersebut, kejadian diare menurun sebesar 94%.
Pemerintah telah memberikan perhatian di bidang higiene dan sanitasi
dengan menetapkan Open Defecation Free dan peningkatan perilaku hidup
bersih dan sehat pada tahun 2009 dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004 - 2009. Hal ini sejalan dengan
komitmen pemerintah dalam mencapai target Millennium Development Goals
(MDGs) tahun 2015, yaitu meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar
secara berkesinambungan kepada separuh dari proporsi penduduk yang belum
mendapatkan akses
2.

Definisi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disebut sebagai


STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi
melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.
Open Defecation Free yang selanjutnya disebut sebagai ODF adalah
kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar
sembarangan. Cuci Tangan Pakai Sabun adalah perilaku cuci tangan dengan
menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir. Pengelolaan Air Minum
Rumah Tangga yang selanjutnya disebut sebagai PAMRT adalah suatu proses
pengolahan, penyimpanan dan pemanfaatan air minum dan air yang
digunakan untuk produksi makanan dan keperluan oral lainnya seperti
berkumur, sikat gigi, persiapan makanan/minuman bayi. Sanitasi total adalah
kondisi ketika suatu komunitas:

Tidak buang air besar (BAB) sembarangan.


Mencuci tangan pakai sabun.
Mengelola air minum dan makanan yang aman.
Mengelola sampah dengan benar.
Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.
Jamban sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk

memutus mata rantai penularan penyakit. Sanitasi dasar adalah hdala sarana
sanitasi rumah tanggayang meliputi sarana buang air besar, sarana
pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga.
3.

Isu dan Tantangan STBM


Tantangan pembangunan sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial
budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar (BAB) di

sembarang tempat, khususnya ke badan air yang juga digunakan untuk


mencuci, mandi dan kebutuhan higienis lainnya.
Buruknya kondisi sanitasi merupakan salah satu penyebab kematian
anak dibawah 3 tahun yaitu sebesar 19% atau sekitar 100.000 anak
meninggal karena diare setiap tahunnya dan kerugian ekonomi diperkirakan
sebesar 2,3% dari Produk Domestik Bruto (studi World Bank, 2007).
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, penanganan
masalah sanitasi merupakan kewenangan daerah, tetapi sampai saat ini
belum memperlihatkan perkembangan yang memadai. Oleh sebab itu,
pemerintah daerah perlu memperlihatkan dukungannya melalui kebijakan
dan penganggarannya
4.

Peran

dan

Tanggung

Jawab

Pemangku

Kepentingan
RT/Dusun/Kampung
a. Mempersiapkan masyarakat untuk berpartisipasi (gotong royong)
b. Memonitor pekerjaan di tingkat masyarakat
c. Menyelesaikan permasalahan/konflik masyarakat
d. Mendukung/memotivasi
masyarakat
lainnya,setelah
mencapai
keberhasilan sanitai total (ODF) di lingkungan tempat tinggalnya
e. Membangun kapasitas kelompok pada lokasi kegiatan STBM
f. Membangun kesadaran dan meningkatkan kebutuhan
g. Memperkenalkan opsi-opsi teknologi
h. Mempunyai strategi pelaksanaan dan exit strategi yang jelas
Pemerintah Desa
a. Membentuk tim fasilitator desa yang anggotanya berasal dari kaderkader desa, Para Guru, dsb untuk memfasilitasi gerakan masyarakat.
Tim ini mengembangkan rencana desa, mengawasi pekerjaan mereka
dan menghubungkan dengan perangkat desa

b.
c.

Memonitor kerja kader pemicu STBM dan memberikan bimbingan


Mengambil alih pengoperasian dan pemeliharaan (O & M) yang sedang

d.

berjalan dan tanggungjawab ke atas


Memastikan keberadilan di semua lapisan masyarakat, khususnya
kelompok yang peka

Pemerintah Kecamatan
a. Berkoordinasi dengan berbagai lapisan Badan Pemerintah dan memberi
b.

dukungan bagi kader pemicu STBM


Mengembangkan pengusaha lokal untuk produksi dan suplai bahan

c.
d.

serta memonitor kualitas bahan tersebut


Mengevaluasi dan memonitor kerja lingkungan tempat tinggal
Memelihara database status kesehatan yang efektif dan tetap ter-update

secara berkala
Kabupaten Pemerintah
a. Mempersiapkan rencana kabupaten untuk mempromosikan strategi baru
b. Mengembangkan dan mengimplementasikan kampanye informasi
c.
d.
e.

tingkat kabupaten mengenai pendekatan yang baru


Mengkoordinasikan pendanaan untuk implementasi strategi STBM
Mengembangkan rantai suplai sanitasi di tingkat kabupaten
Memberikan dukungan capacity building yang diperlukan kepada
semua institusi di kabupaten.

Pemerintah Provinsi
a. Berkoordinasi dengan berbagai instansi/lembaga terkait tingkat Provinsi
b.
c.

dan mengembangkan program terpadu untuk semua kegiatan STBM


Mengkoordinasikan semua sumber pembiayaan terkait dengan STBM
Memonitor perkembangan strategi nasional STBM dan memberikan

bimbingan yang diperlukan kepada tim Kabupaten


d. Mengintegerasikan kegiatan higiene dan sanitasi yang telah ada dalam
e.

strategi STBM
Mengorganisir pertukaran pengetahuan/pengalaman antar kabupaten

Pemerintah Pusat

a.

Berkoordinasi dengan berbagai instansi/lembaga terkait tingkat Pusat

b.
c.

dan mengembangkan program terpadu untuk semua kegiatan STBM


Mengkoordinasikan semua sumber pembiayaan terkait dengan STBM
Memonitor perkembangan strategi nasional STBM dan memberikan

bimbingan yang diperlukan kepada tim Provinsi


d. Mengintegerasikan kegiatan higiene dan sanitasi yang telah ada dalam
e.

strategi STBM
Mengorganisir pertukaran pengetahuan/pengalaman antar kabupaten
dan/atau provinsi serta antar negara

5.

Rencana Kerja dan Indikator STBM


a.

Rencana Kerja
Setiap pelaku pembangunan STBM mengembangkan rencana aksi serta
pembiayaannya untuk pencapaian sanitasi total yang disampaikan kepada
pemerintah daerah.

b.

Indikator
Output :
-

Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana


sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas

dari buang air di sembarang tempat (ODF).


Setiap rumahtangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan

makanan yang aman di rumah tangga.


Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu
komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar,
terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air,sabun, sarana cuci

tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.


Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.
Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.

Outcome :
-

Menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis


lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

6.

Strategi Nasional STBM


a. Penciptaan Lingkungan Yang Kondusif
1) Prinsip
Meningkatkan dukungan pemerintah dan pemangku kepentingan
lainnya dalam meningkatkan perilaku higienis dan saniter.
2) Pokok Kegiatan
- Melakukan advokasi dan sosialisasi kepada pemerintah dan
pemangku kepentingan lainnya secara berjenjang
Mengembangkan kapasitas lembaga pelaksana di daerah.
Meningkatkan kemitraan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah,
Organisasi Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat dan

Swasta.
b. Peningkatan Kebutuhan
1) Prinsip
Menciptakan perilaku komunitas yang higienis dan saniter untuk
mendukung terciptanya sanitasi total.
2) Pokok kegiatan
- Meningkatkan peran seluruh pemangku kepentingan dalam
perencanaan
-

dan

pelaksanaan

sosialisasi

pengembangan

kebutuhan.
Mengembangkan kesadaran masyarakat tentang konsekuensi dari
kebiasaan buruk sanitasi (buang air besar) dan dilanjutkan dengan

pemicuan perubahan perilaku komunitas.


Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilih teknologi,

material dan biaya sarana sanitasi yang sehat.


Mengembangkan kepemimpinan di masyarakat (natural leader)
untuk menfasilitasi pemicuan perubahan perilaku masyarakat.

Mengembangkan sistem penghargaan kepada masyarakat untuk


meningkatkan dan menjaga keberlanjutan sanitasi total.

c. Peningkatan Penyediaan
1) Prinsip
Meningkatkan ketersediaan sarana sanitasi yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.
2) Pokok kegiatan
- Meningkatkan kapasitas produksi swasta lokal dalam penyediaan
-

sarana sanitasi.
Mengembangkan kemitraan dengan kelompok masyarakat,
koperasi, lembaga keuangan dan pengusaha lokal dalam

penyediaan sarana sanitasi.


Meningkatkan kerjasama dengan lembaga penelitian perguruan
tinggi untuk pengembangan rancangan sarana sanitasi tepat guna.

d. Pengelolaan Pengetahuan (Knowledge Management)


1) Prinsip
Melestarikan pengetahuan dan pembelajaran dalam sanitasi total.
2) Pokok kegiatan
- Mengembangkan dan mengelola pusat data dan informasi.
- Meningkatkan kemitraan antar program-program pemerintah, non
pemerintah dan swasta dalam peningkatan pengetahuan dan
-

pemberlajaran sanitasi di Indonesia.


Mengupayakan masuknya pendekatan sanitasi total dalam

kurikulum pendidikan.
e. Pembiayaan
1) Prinsip
Meniadakan subsidi untuk penyediaan fasilitas sanitasi dasar.
2) Pokok kegiatan
- Menggali potensi masyarakat membangun sarana sanitasi sendiri
- Mengembangkan solidaritas sosial (gotong royong).
- Menyediakan subsidi diperbolehkan untuk sanitasi komunal.
f. Pemantauan Dan Evaluasi
1) Prinsip
Melibatkan masyarakat dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi
2) Pokok kegiatan

Memantau kegiatan dalam lingkup komunitas oleh masyarakat


Pemerintah Daerah mengembangkan sistem pemantauan dan

pengelolaan data.
Mengoptimumkan pemanfaatan hasil pemantauan dari kegiatan-

kegiatan lain yang sejenis


Pemerintah dan pemerintah daerah mengembangkan sistem
pemantauan berjenjang.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

1.

Rancangan Penelitian
a.

Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian tentang
respon masyarakat terhadap pemanfaatan dan pengelolaan sarana MCK
di desa Gelogor, Kediri, Lombok Barat adalah penelitian deskriptif. Yaitu
suatu metode dalam penelitian mengenai keadaan status manusia, objek,
kondisi suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa
sekarang. Analisa data yang telah didapat dalam penelitian ini dianalisa
menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode pengambilan dan
pengolahan data kuantitatif. Penelitian yang akan dilakukan ini termasuk
dalam penelitian eksplanasi karena ingin mengetahui hubungan antara
faktor faktor yang berpengaruh pada sikap

masyarakat terhadap

pengelolaan dan pemanfaatan fasilitas sanitasi.


Pendekatan

kuantitatif

ini

dipilih

karena

penelitian

ini

menggunakan variabel-variabel yang jelas serta akan membandingkan

hasil penelitian dengan ukuran-ukuran tertentu mengenai faktor-faktor


pengubah sikap masyarakat dan pengelolaan serta pemanfaatan fasilitas
MCK di desa Gelogor, Kediri, Lombok Barat.
Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk memuat
gambaran secara sistematik mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta
hubungan antara fenomena yang diselidiki.
b.

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di wilayah desa Gelogor, Kediri,
Lombok Barat. Waktu penelitian adalah tanggal 1 5 Agustus 2012.

2.

Subyek Penelitian dan Cara Pengambilan Sampel


1.

Subyek Penelitian
Subyek yang diteliti adalah masyarakat yang tinggal di wilayah desa
Gelogor, Kediri, Lombok Barat dengan kriteria inklusi sebagai berikut:
a. Kepala keluarga di desa Gelogor
b. Bisa membaca dan menulis
c. Bersedia menjadi responden

2.

Cara Pengambilan sampel


Pengambilan sampel secara acak dengan menggunakan proporsi
binomunal (binomunal proportions).

3. Teknik Pengumpulan Data


1.

Variabel Penelitian
a. Variabel bebas : Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Masyarakat
b. Variabel terikat : Penyakit Hipertensi

Dalam penelitian kali ini variabel yang akan diteliti adalah tingkat
pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap penyakit hipertensi.
2.

Definisi Operasional
a.

Pengetahuan

adalah

suatu

hasil

dari

penginderaan terhadap suatu obyek tertentu yang membuat orang


menjadi tahu. Maksud pengetahuan dalam penelitian ini adalah
penelitian mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hipertensi, tapi
hanya dalam batas tahu (know).
b.

Sikap

adalah

respon

evaluatif

yang

didasarkan pada proses evaluasi diri yang disimpulkan berupa


penilaian positif maupun negatif. Maksud sikap dalam penelitian ini
adalah penilaian terhadap penyakit hipertensi baik itu berupa penilaian
positif maupun negatif.
c.

Perilaku

dalam

penelitian

ini

adalah

keaktifan atau kesediaan masyarakat dalam hal-hal yang berhubungan


dengan hipertensi.
3.

Cara Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan metode kuesioner untuk mengumpulkan data. Data


diambil secara aksidental yaitu dari responden yang kebetulan bertemu dengan

peneliti dan memenuhi kriteria inklusi. Jenis data yang dikumpulkan adalah
data primer yang diperoleh langsung dari responden.
4.

Alat Pengumpulan Data


a.

Kuesioner berjumlah 30 soal, yang terdiri


dari :
(1)

Pengetahuan : 10 soal

(2)

Sikap

(3)

Perilaku

b.

: 10 soal
: 10 soal

Alat tulis

4. Teknik Analisis
1.

Teknik Penyajian Data

Peneliti menyajikan data hasil penelitian yang diperoleh dari kuesioner yang
telah disebar dalam bentuk tabel agar lebih mudah dipahami.
2.

Pengolahan Data

Data-data hasil jawaban diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut :


a.

Editing

Memeriksa data, memeriksa jawaban, memperjelas, serta melakukan


pengecekan terhadap data yang telah dikumpulkan.
b.

Coding

Memberikan kode jawaban menggunakan angka untuk memudahkan dalam


analisis.

c.

Transfering

Memindahkan jawaban atau kode dalam master tabel.


d.

Menentukan tingkat pengetahuan, sikap, dan


perilaku responden ke dalam kategori kualitatif. Penilaian kategori
kualitatif menurut Arikunto (1998) adalah :
Nilai : 76 100% : Baik
56 75% : Cukup
40 55% : Kurang

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Karakteristik Responden


Komunitas merupakan kelompok masyarakat yang berinteraksi secara
sosial berdasarkan kesamaan kebutuhan dan nilai-nilai untuk meraih tujuan.
Di Wilayah Dusun Karanglo, Desa Tlogoadi, Kecamatan Mlati, Sleman
terdapat 187 KK. Dari jumlah tersebut yang memenuhi kriteria inklusi sebagai
responden adalah sebanyak 39 warga masyarakat.
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Dusun Karanglo, Desa
Tlogoadi, Kecamatan Mlati, Sleman dengan menggunakan kuesioner yang
diajukan kepada reponden yang berjumlah 32 responden yang memenuhi kriteria
inklusi yaitu warga masyarakat Dusun Karanglo, Desa Tlogoadi, Kecamatan

Mlati, Sleman yang bisa membaca dan menulis serta berusia > 60 tahun
didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 2. Karakteristik Responden


DATA KEADAAAN SARANA SANITASI DI DESA GELOGOR
KECAMATAN KEDIRI KABUPATEN LOMBOK BARAT
SESUDAH PEMICUAN TAHUN
2011

NO

NAMA DUSUN

Jmlh
KK

Jmlh
Jiwa

Jumlah dan jenis jamban


Cemplun
Plengsenga
leher
g
n
Angsa

Gelogor Pusat

155

380

86

Gelogor Selatan

290

1025

148

Gelogor Tengah

230

815

65

Gelogor Utara

199

760

181

Gelogor Timur

275

1200

207

Gersik Selatan

474

1245

221

Gersik Utara

305

1325

242

Jumlah

1928

6750

1150

Tambahan Yg
dicapai bulan ini
Jml
Tambah
jamban
an
Dibangu
Pemanfa
n
at
Memenu
hi
( Jiwa )
Syarat

Hasil komulatif bulan lalu

Jml
Dibangu
n
Memenu
i
Syarat

Pemanfaat
( Jiwa )

Komulatif sampai bulan ini


Prosenta
Jml
Total
se
Pemanfa
jamban
at
Akses
Memenu
hi
( Jiwa )
Syarat

Open defecation free (ODF)


Jumla
h
Kasus

Sud
ah

Belum

Diare

88

439

88

439

83,6

268

1340

268

1340

132,8

150

722

151

728

80,9

181

904

182

911

123,7

279

1392

18

282

1410

133,6

289

1450

290

1456

147,5

167

835

15

170

850

95,6

S
B

Dari tabel diketahui bahwa berdasarkan tingkat pendidikan dari 32


responden sebagian besar adalah berpendidikan SD sebanyak 24 responden
(75,00%), SMP atau sederajat sebanyak 4 responden (12,50 %), SMA atau
sederajat sebanyak 4 responden (12,50%), dan tidak ada responden yang
mempunyai tingkat pendidikan Perguruan Tinggi. Sedangkan menurut jenis
kelamin, 14 orang responden (43,75%) adalah pria, sedangkan selebihnya 18
orang (56,25%) adalah wanita.

Dari pengukuran tekanan darah didapatkan hasil 12 orang (37,50%)


memiliki tekanan darah normal, 2 orang (6,25%) memiliki tekanan darah rendah,
sedangkan selebihnya 18 orang (56,25%) memiliki tekanan darah tinggi.

4.2. Hasil dan Pembahasan


Tabel 3. Tingkat Pengetahuan Responden terhadap Penyakit Hipertensi.
No.

Pernyataan

1.
2.

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi.


Seseorang dikatakan hipertensi jika tekanan
darah sistolnya lebih dari 140 mmHg
Hipertensi itu berbahaya.
Hipertensi tidak dapat menular
Hipertensi termasuk penyakit keturunan
Faktor resiko yang dapat menyebabkan
hipertensi adalah stress, kurang olah raga,
banyak makan makanan asin, banyak
makan makanan berlemak, dan merokok.

3.
4.
5.
6.

7.
8.

9.

10.

Hipertensi berhubungan dengan makanan


asin.
Makanan yang dapat menyebabkan
hipertensi adalah daging kambing dan
makanan yang banyak mengandung garam.
Kebiasaan hidup sehari-hari yang dapat
menyebabkan hipertensi adalah malas
berolahraga, stress yang berlebihan, dan
merokok.
Hipertensi dapat menyebabkan penyakit
lumpuh separo / stroke.

Mengetahui
N
%

Tidak Mengetahui
N
%

29

90,62

9,38

21,88

25

78,12

8
31
7

25,00
96,87
21,88

24
1
25

75,00
3,13
78,12

13

40,63

19

59,37

32

100,00

28,13

23

71,87

21,87

25

78,13

32

100,00

Pada tingkat pengetahuan didapatkan responden dalam kategori kurang


(54,69%). Hal ini disebabkan karena sebagian besar responden hanya
berpendidikan SD sehingga kurang memiliki pengetahuan yang cukup tentang
hal-hal yang berkaitan dengan hipertensi terutama mengenai batasan tekanan

darah seseorang bisa disebut dengan hipertensi, tingkat kegawatan dari penyakit
hipertensi, penyebab hipertensi serta faktor-faktor resiko hipertensi. Faktor usia
yang sudah tergolong lansia menyebabkan mereka sudah tidak memiliki
kemampuan berfikir seperti saat mudanya yang akhirnya akan berpengaruh
langsung terhadap tingkat pengetahuannya. Selain itu kemungkinan disebabkan
juga karena tidak sampainya atau kurangnya informasi tentang penyakit hipertensi
kepada responden sehingga mereka menjadi kurang begitu mengerti tentang
penyakit hipertensi, bahkan kemungkinan besar informasi-informasi ataupun
penyuluhan-penyuluhan tentang hal-hal yang berkaitan dengan penyakit hipertensi
tidak sampai ke masyarakat sehingga masyarakat kurang begitu mengerti tentang
penyakit hipertensi.
Dari 25 responden terdapat 78,12% yang tidak mengetahui penyebab
penyakit hipertensi. Kebanyakan dari mereka tidak mengetahui bahwa pola hidup,
dan pola makan yang baik sangat mempengaruhi untuk terjadi hipertensi,
responden mengira bahwa penyakit hipertensi itu tidak berhubungan dengan pola
hidup dan pola makan yang baik.

Tabel 4. Sikap Responden terhadap Penyakit Hipertensi.


No.
1.

2.

Pernyataan

Penderita hipertensi harus rajin ke


puskesmas / rumah sakit untuk mengecek
tekanan darahnya.
Hipertensi belum dapat disembuhkan,
sehingga tidak perlu berobat ke puskesmas /
rumah sakit.

Setuju

Tidak Setuju
N
%

30

93,75

6,25

6,25

30

93,75

3.

4.
5.
6.
7.
8.

9.

10.

Hipertensi dapat menyebabkan penyakit


jantung.
Hipertensi tidak dapat dikendalikan dengan
olah raga.
Stress dapat meningkatkan resiko terjadinya
hipertensi.
Penderita hipertensi tidak perlu mengontrol
pola makannya.
Mengurangi makanan berlemak dan asin
dapat mencegah terjadinya hipertensi.
Berolah raga secara teratur 2 3 kali
seminggu selama 20 30 menit dapat
mengurangi resiko terjadinya hipertensi.
Setiap orang tidak perlu untuk mengetahui
tanda dan gejala penyakit hipertensi
Minum air putih yang banyak dapat
mengurangi resiko hipertensi

18

56,25

14

43,75

21,88

25

31

96,87

3,13

6,25

30

93,75

30

93,75

6,25

31

96,87

3,13

26

81,25

18,75

27

84,37

15,63

78,12

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa, sikap warga Dusun Karanglo,
Desa Tlogoadi, Kecamatan Mlati, Sleman terhadap penyakit hipertensi adalah
baik (80,62%). Hal ini terlihat dari sebagian besar responden setuju bila penderita
hipertensi harus rajin kepuskesmas atau rumah sakit untuk memeriksakan tekanan
darahnya karena hipertensi merupakan penyakit yang belum dapat disembuhkan.
Sebagian besar responden sebanyak 30 orang (93,75%) setuju bahwa penderita
hipertensi perlu mengontrol pola makannya serta mengurangi makanan berlemak
dan asin.
Tabel 5. Perilaku Responden terhadap Penyakit Hipertensi
No.

Pernyataan

1.

Memeriksakan tekanan darah minimal 2


minggu sekali
Pernah menderita hipertensi
Periksa rutin, mengurangi atau menghindari

2.
3.

Ya

Tidak

9,38

29

90,62

9
31

28,13
96,87

23
1

71,87
3,13

4.
5.

6.

7.
8.
9.
10.

faktor pemicu hipertensi, dan berolahraga.


Merokok 1 batang sampai 1 bungkus
seharinya.
Melakukan olah raga 2 sampai 3 kali
seminggunya.
Melakukan periksa rutin ke dokter,
berolahraga, mengurangi konsumsi garam,
berhenti minum alkohol, dan berhenti
merokok.
Kelebihan berat badan
Minum minuman beralkohol
Diantara anggota keluarga ada yang
menderita penyakit lumpuh separo.
Dalam keluarga ada yang menderita
hipertensi

21,88

25

78,12

13

40,63

19

59,37

16

50,00

16

50,00

2
0

6,25
0

30
32

93,75
100,00

6,25

30

93,75

10

31,25

22

68,75

Perilaku warga Dusun Karanglo, Desa Tlogoadi, Kecamatan Mlati, Sleman dalam kaitannya dengan penyakit
hipertensi adalah tergolong cukup (70,31%). Ditandai dengan persentase yang cukup untuk perilaku yaitu rutin
memeriksakan tekanan darahnya ke puskesmas dan posyandu, olah raga yang memang setiap hari sudah dilakukan
dengan durasi 20-30 menit perhari bahkan lebih karena berkaitan dengan pekerjaan mata pencaharian mereka yang
sebagian besar adalah petani. Akan tetapi sebanyak 7 responden (21,88%) dari responden memiliki kebiasaan merokok
walaupun mereka sudah mengerti dan menyadari akan bahaya yang dapat ditimbulkan dari rokok, karena mereka
merasa sulit untuk berhenti merokok.

Dalam hal ini terlihat bahwa tingkat pengetahuan dan sikap


seseorang akan berpengaruh terhadap pembentukan perilaku seseorang.
Sedangkan perilaku seseorang terdiri dipengaruhi tiga bagian penting yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotor. Kognitif dapat diukur dari pengetahuan, afektif
dari sikap atau tanggapan, dan psikomotor diukur melalui tindakan yang
dilakukan (Notoatmodjo, 1993). Oleh karena itu adanya pengetahuan, sikap yang
baik yang telah ada sebelumnya akan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku
yang baik pula.
Dalam

proses

pembentukan

dan

perubahan

tingkah

laku

dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam dan luar individu.
Faktor yang berasal dari dalam individu mencakup pengetahuan, kecerdasan,
persepsi, emosi, dan motivasi yang berfungsi untuk mengolah rangsang dari luar.

Faktor dari luar individu meliputi lingkungan sekitar baik fisik maupun non fisik
seperti iklim, manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Apabila
ditelusuri lebih dalam maka perilaku memberikan pengaruh yang sangat luas
karena dapat memberikan pengaruh secara langsung maupun tidak langsung
terhadap penggunaan pelayanan kesehatan di masyarakat khususnya mengenai
penyakit hipertensi.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Dusun Karanglo,

Desa Tlogoadi, Kecamatan Mlati, Sleman, dapat disimpulkan bahwa:

1. Tingkat pengetahuan masyarakat Dusun Karanglo, Desa Tlogoadi,


Kecamatan Mlati, Sleman, terhadap hipertensi tergolong kurang.
2. Tingkat sikap masyarakat Dusun Karanglo, Desa Tlogoadi, Kecamatan
Mlati, Sleman, terhadap hipertensi tergolong baik.
3. Tingkat perilaku masyarakat Dusun Karanglo, Desa Tlogoadi, Kecamatan
Mlati, Sleman, terhadap hipertensi tergolong cukup.

5.2.

Saran
Saran-saran yang dapat disampaikan penulis berkaitan dengan penelitian

tentang pengetahuan, sikap, perilaku masyarakat terhadap penyakit hipertensi ini


adalah:
1. Untuk Puskesmas:
a. Diharapkan puskesmas lebih aktif dalam upaya promotif dan
preventif kepada masyarakat tentang masalah hipertensi untuk
menurunkan angka kesakitan akibat hipertensi.
b. Dalam hal pengobatan hipertensi, puskesmas diharapkan dapat
memberikan resep obat untuk penderita hipertensi untuk jangka
waktu yang lebih lama.
c.Perlunya edukasi pada masyarakat tentang faktor resiko, bahaya,
pencegahan dan pengobatan hipertensi terutama mengenai hal-hal
praktis yang perlu diketahui masyarakat mengenai penyakit
hipertensi seperti:

o Berhenti

merokok

dan

mengurangi

asupan

kolesterol dalam makanan.


o Berolah raga secara teratur.
o Mengurangi

makanan-makanan

yang

banyak

menggunakan garam dapur.


o Menghindari minuman-minuman dan makanan yang
mengandung alkohol.
o Menurunkan berat badan apabila terdapat kelebihan
berat badan.
o Memasyarakatkan

penggunaan

Tensimeter

di

kalangan masyarakat serta menyarankan agar setiap


rumah mempunyai Tensimeter sendiri-sendiri.
2. Untuk Masyarakat:
a. Perlunya

kesadaran

masyarakat

untuk

lebih

memperhatikan

kesehatannya dengan cara mengurangi faktor-faktor resiko penyebab


hipertensi dengan cara menurunkan berat badan, berhenti merokok,
berhenti mengkonsumsi alkohol, mengurangi konsumsi makanan
yang terlalu asin, mengurangi konsumsi makanan berlemak dan olah
raga secara teratur.
b. Masyarakat diharapkan lebih aktif mengontrol kondisi kesehatannya,
terutama tekanan darah dan segera berobat bila terdapat gejala-gejala
hipertensi.

DAFTAR PUSTAKA
American Medical Association, 2003, The Seventh Report of The Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High
Blood Pressure, JAMA, vo. 289, no. 19 :2560-71
Irmanputhra, Joy. (2010). Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Diakses 16 Juli
2012,

dari

http://sanitasitotalberbasismasyarakat.blogspot.com/2010/06/pengertianstbm.html

Lampiran 1
LEMBAR KUESIONER
Kediri, Juli 2012
Kepada:
Yth.

Bapak/Ibu/Saudara / saudari di desa Gelogor


Assalamu'alaikum wr. wb.
Bersama ini kami beritahukan bahwa dalam rangka penyusunan mini

project dokter internship, bapak/ibu/saudara telah kami pilih untuk menjadi salah
satu responden dalam penelitian kami. Penelitian yang kami lakukan berjudul
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi ODF (Open Defecation Free) di Desa
Gelogor

yang

bertujuan

untuk

mengkaji

tingkat

efektifitas

program

pembangunan sanitasi dalam mengubah perilaku masyarakat di desa Gelogor.


Kami berharap Bapak/Ibu/Saudara berkenan mengisi kuesioner ini dengan
apa adanya sesuai dengan pandangan atau pengetahuan Bapak/Ibu/Saudara.
Penelitian ini bersifat ilmiah dan tidak bertendensi politis atau golongan tertentu
serta bersifat netral. Data-data yang Bapak/Ibu/Saudara sampaikan akan kami
jamin kerahasiannya, dan diharapkan dapat menjadi masukan bagi pelaksanaan
pembangunan fasilitas sanitasi yang lebih baik dan berkelanjutan.
Demikian atas perhatian dan kesediaan Bapak/Ibu/Saudara mengisi
kuesioner ini kami ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum wr. wb.

Hormat kami,

dr. Krishna Vidya Amelia

Anda mungkin juga menyukai