Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MAKALAH

MANAJEMEN AGROEKOSISTEM
ASPEK BUDIDAYA TANAMAN

Disusun Oleh :
Kelompok
Dwi Bagus Irawan
145040207111035
Novency Habtuti
145040207111016
Gladys Permatasari 145040200111095
Prita Amalia
145040201111302
Parlindungan T.P
145040201111167
Donni Siswahyu P. 145040200111025
Amalia Khoirun Nisa 145040201111153
Najma khalida
145040207111006
Firly

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

KATA PENGANTAR
Pertama kami mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT,
karena atas kuasa dan kasih sayangnya telah memberikan kami kesehatan
sehingga kami

dapat menyelesaikan

makalah

mata

kuliah manajemen

agroekosistem aspek tanah.


Dalam pembentukan makalah ini, kami mengucapkan terima kasih kepada
dosen pengampuh, serta asisten tutorial dan pihak-pihak yang telah membantu
kami dalam menyelesaikan penulisan makalah akhir ini. Kami menyadari bahwa
dalam makalah akhir ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran demi sempurnya makalah akhir ini. Semoga
makalah akhir ini bermanfaat bagi kita semua.

Malang, 18 April 2016

Penyusun

ii

RINGKASAN

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... ii
RINGKASAN................................................................................................ iii
DAFTAR ISI.................................................................................................. 1
1.

2.

3.

PENDAHULUAN..................................................................................... 2
1.1

Latar Belakang.................................................................................. 2

1.2

Tujuan............................................................................................. 3

1.3

Manfaat........................................................................................... 3

PROBLEMATIKA WILAYAH....................................................................4
2.1

Deskripsi Keadaan Lahan Budidaya......................................................4

2.2
Dau

Deskripsi Masalah dalam Praktek Budidaya Tanaman Cabai pada Wilayah


4

2.3

Analisis Erosi Tanah........................................................................... 5

2.4

Analisis Kesesuaian Lahan...................................................................6

2.5

Analisis Pendapatan........................................................................... 6

2.6

Analisis Usaha Tani............................................................................ 7

2.7

Analisis Daya Dukung.........................................................................7

2.8

Analisis Agroekoteknologi....................................................................9

PELAKSANAAN ATAU PRAKTEK BUDIDAYA.........................................11


3.1 Analisis Kesesuian Lokasi Untuk Tanaman yang Akan
Ditanam Berdasar Komponen Biotik dan Abiotik Suatu Kawasan.
11
3.2
Sertakan Metode yang Akan Anda Gunakan untuk Praktek Budidaya dan
Kemukanan Alasan Mengapa Anda Mengunakan Metode Tersebut.....................12

4.

ANALISIS USAHA TANI........................................................................15

5.

KESIMPULAN...................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 19

1. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Agroekosistem merupakan ekosistem yang dimodifikasi dan dimanfaatkan


secara langsung atau tidak langsung oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan akan
pangan dan atau sandang. Karakteristik esensial dari suatu agroekosistem terdiri dari
empat sifat utama, yaitu produktivitas (productivity), kestabilan (stability),
keberlanjutan (sustainability) dan kemerataan (equitability). Untuk mencapai
tujuannya, kriteria yang digunakan untuk menentukan karakteristik agroekosistem
meliputi ekosistem, ekonomi, sosial, dan teknologi yang digunakan dalam budidaya.
Agroekosistem lahan kering umumnya dapat didefinisikan sebagai lahan yang
pemenuhan airnya hanya menggunakan air hujan sehingga tidak pernah tergenang
sepanjang tahun. Agroekosistem lahan kering dapat dibagi menjadi pertanian darat,
tegalan, dan sawah tadah hujan. Lahan kering berupa tegalan biasanya berpotensi
digunakan untuk membudidayakan komoditas pangan seperti jagung, sorghum, serta
komoditas hortikultura misalnya tomat, cabai, kacang panjang, buncis, dll.
Survei yang dilakukan berada di daerah Dau, Kabupaten Malang. Survei
dilakukan di lahan tegalan dengan tanaman cabai varietas fantastik dengan luasan
lahan kurang lebih 1,5 ha dengan kondisi lahan tidak datar dan berundak. Tanaman
cabai di tanam secara tumpang sari bersamaan dengan pohon jeruk, sedangkan
dibagian sekitar lahan terdapat tanaman tebu. Bagian tengah lahan terdapat tempat
penampung air yang dibuat untuk menampung air hujan ketika musim hujan.
Sebagian lahan kering memiliki permasalahan yang dihadapi seperti
produktivitas tanaman yang rendah, terutama untuk tananan hortikultura dan
semusim. Permasalahan yang dihadapi seperti yang dijelaskan, tanaman cabai
sebagian besar terserang penyakit busuk akibat tidak cocoknya masa tanam dengan

kondisi cuacanya. Selain dari itu, kondisi air di penampungan mulai berkurang dan
hanya sedikit penampungan air yang dibuat. Penggunaan lahan yang semakin lama
semakin sempit serta ancaman degradasi dan kesesuaian lahan yang makin lama
makin menurun. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal tersebut harus ada solusi
kedepannya untuk mengatasi permasalahan tanaman cabai terutama pada penggunaan
lahan serta budidaya.
-

1.2
Tujuan
Mengidentifikasi berbagai permasalahan yang terjadi dalam penggunaan lahan

terhadap tanaman cabai.


Menemukan solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan usaha tani
terhadap tanaman cabai.

1.3
Manfaat
Dapat mengatasi permasalahan yang terjadi dalam usaha tani untuk tanaman cabai
dengan mengaplikasikan solusi yang efisien dan efektif.

2. PROBLEMATIKA WILAYAH
2.1

Deskripsi Keadaan Lahan Budidaya


Lahan yang kami amati adalah lahan milik Pak Jupri di Kecamatan
Dau, dimana lahan tersebut merupakan lahan kering yang ditanami komoditas
cabai dan jeruk. Lahan tersebut memiliki luas kurang lebih 1,5 hektar. Lahan
milik Pak Jupri ini berada agak jauh dari pemukiman warga namun demikian
lahan tersebut mudah diakses oleh kendaraan beroda empat.
Praktek budidaya lahan cukup baik, dimana dilakukan pengguludan
dan penggunaan mulsa untuk tiap guludan media tanam. Jarak tanam untuk
tanaman budiaya cabai dan jeruk tidak begitu rapat. Kondisi ini cukup ideal
mengingat tanaman budidaya jeruk yang masih berusia sekitar 2 tahun tajuk
tanaman nya tidak menutupi tanaman cabai. Lahan berbentuk petak persegi
panjang, dan berundak sekitar 1-2 m.

2.2

Deskripsi Masalah dalam Praktek Budidaya Tanaman Cabai pada


Wilayah Dau
Lahan yang kami amati ini merupakan lahan kering dimana
pengairannya memanfaatkan air hujan. Namun karena iklim yang berubahubah membuat irigasi menjadi tidak maksimal. Untuk menanggulangi masalah
irigasi ini Pak Jupri biasa mensuplai air dari daerah lain. Karena kondisi yang
mengaharuskan untuk membeli air irigasi membuat biaya yang digunakan
untuk budidaya juga bertambah.
Untuk kondisi komoditas cabai pada lahan tersebut cukup buruk
sekali dimana tanaman cabai tersebut terserang penyakit hingga menurunkan
nilai produksi dan ekonominya. Untuk menanggulangi masalah ini tidak
dilakukan perlakuan khusus untuk mengatasinya. Tetapi justru diaplikasikan
pestisida pada tanaman budidaya padahal pada lahan tersebut tidak ditemukan
indikasi hama.
4

Bahan organik yang ada di lahan tersebut juga sangat rendah, sebagian
besar pemupukan yang di lakukan ialah menggunakan pupuk anorganik.
Menurut beliau pupuk yang sering di gunakan ialah jenis blower dan phonska.
Dengan rendah nya bahan organik ini menyebabkan tanah berkurang
kesuburan nya mengingat lahan kering ialah identik dengan rendah nya
kandungan unsur hara.
2.3
Analisis Erosi Tanah
Erosi tanah yang terjadi pada lahan yang telah kami amati,
kemungkinan terjadi erosi percik. Erosi percik adalah proses pengikisan yang
terjadi oleh percikan air. Karena lahan tersebut mengandalkan irigasi dari air
hujan, sehingga benturan air hujan inilah yang menyebabkan tanah mudah
terurai sehingga mudah di bawa oleh aliran air permukaan dan akhirnya
terjadi erosi. Namun pada lahan tersebut, kemungkinan terjadi erosi percik
sangat rendah hal ini disebabkan pada lahan tersebut menerapkan pola
tanaman tumpang sari dan penggunaan mulsa.
Dilihat dari beberapa aspek tersebut dapat disimpulkan erosi tanah
yang terjadi pada lahan tersebut sangat rendah. Hal ini disebabkan karena,
pada lahan tersebut menggunakan pola tanaman tumpang sari (cabai dan
jeruk) dan pemberian mulsa. Pola tanam tumpang sari yang diterapkan pada
lahan tersebut adalah menanam tanaman jeruk dengan tanaman cabai, dimana
tajuk tanaman buah jeruk dan cabai dapat menghambat benturan air hujan
yang jatuh ke tanah. Pola tanam tumpang sari mempunyai keuntungan antara
lain dapat mengurangi resiko terjadinya erosi (Utomo, 2000). Mulsa juga
membantu mengurangi tingkat erosi tanah yang terjadi pada lahan tersebut,
karena mulsa melindungi tanah dari benturan air hujan sehingga air hujan
tidak akan langsung mengenai tanah namun tertahan oleh mulsa yang telah di
berikan.
2.4

Analisis Kesesuaian Lahan


Tanaman yang ditanam pada lahan yang kami amati ialah tanaman
cabai dan jeruk. Tanaman cabai merupakan tanaman yang tidak tahan

terhadap hujan lebat yang terus menerus. Selain itu, genangan air pada daerah
penanaman bisa mengakibatkan kerontokan daun dan bakal buah berguguran.
Namun pada lahan yang telah kami amati, lahan tersebut sesuai untuk
pertumbuhan tanaman cabai dimana pada lahan tersebut mengandalkan irigasi
dari air hujan sehingga tidak menyebabkan tanaman cabai jenuh dengan air.
Beberapa hal yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman cabai agar dapat
tumbuh dengan baik, antara lain kondisi iklim dan tanah tanah. Iklim meliputi
sinar matahari dimana penyinaran yang dibutuhkan adalah pernyinaran secara
penuh, bila penyinaran tidak penuh pertumbuhan tanaman tidak normal.
Curah hujan juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman cabai dan curah hujan
yang dikehendaki yaitu 800-2000 mm/tahun, suhu dan kelembaban yang
sesuai untuk pertumbuhan cabai ialah suhu 21oC-28oC untuk siang hari,
malam hari 13oC-16oC. Tanah, cabai sangat sesuai ditanam pada tanah yang
datar namun dapat juga di tanaman pada tanah yang berundak. Tanaman cabai
juga dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah,
mulai dari tanah berpasir hingga liat (Harpenas, 2010). Dari faktor-faktor
tersebut dapat disimpulkan bahwa lahan yang telah kami amati sangat sesuai
untuk pertumbuhan tanaman cabai, di lahan tersebut tanah nya berundak dan
iklim disana sangat mendukung pertumbuhan tanaman budidaya cabai dan
jeruk.
Analisis Pendapatan

2.5

Lahan yang dimiliki Pak Jupri seluas kurang lebih 1,5 ha yang
ditanami seluruhnya dengan tanaman cabai varietas fantastik yang di
tumpangsarikan dengan tanaman jeruk. Menurut pendapat beliau total biaya
dari keseluruhan luas lahan sekitar 1,5 ha tersebut ialah 40-45 juta, mulai dari
pembelian bibit, biaya perawatan, biaya pupuk dan air irigasi serta biaya
untuk buruh. Dalam keadaan normal tidak terserang penyakit yang sigifikan
pendapatan hasil produksi nya sekitar 60 juta, namun pada kondisi yang
terserang penyakit seperti jumlah produksi nya juga sangat menurun drastis,
sehingga menyebabkan penghasilan yang di dapat juga akan semakin sedikit.

2.6

Analisis Usaha Tani


Dalam kaitan usaha tani yang dijalankan, Pak Jupri awalnya
menanami lahannya dengan tanaman jeruk, namun karena jeruk yang ditanam
masih kecil dan banyak lahan yang masih kosong, maka di tumpang sarikan
dengan tanaman cabai agar penghasilan dapat meningkat dan juga lahan yang
kosong dapat dimaksimalkan pengguaannya. Bibit diperoleh dengan membeli.
Dalam penanamannya, cabai ditanam satu bedengan dengan jeruk dengan
jarak tertentu. Pemeliharaan tanaman cabai dilakukan dengan pemupukan,
pengairan, dan penanganan gulma. Untuk pemupukan, Pak Jupri melakukan
seminggu sekali sesuai dengan dosis tertentu saat cabai berumur sekitar 30-40
hst untuk merangsang pembungaan.
Pengairan atau irigasi yang di lakukan menggunakan air hujan ketika
hujan turun, namun jika musim kemarau cenderung membeli air dari daerah
lain karena air irigasi dari sumber air maupun penampungan air hujan tidak
mencukupi. Dalam pengelolaan gulma Pak Jupri menggunakan herbisida
dengan pengaplikasian di larutkan dengan air dan disemprotkan di alur antara
bedengan. Dalam hal pemanenan Pak Jupri menggunakan tenaga buruh,
sedangkan pemasarannya pembeli akan datang langsung ke pak Jupri sesuai
dengan kesepakatan, namun dalam pengamatan yang kami lakukan kebetulan
cabai milik pak Jupri hampir keseluruhan terserang penyakit, namun menurut
Pak Jupri hal tersebut tidak sampai membuat beliau mengalami kerugian
karena harga cabai saat itu masih tergolong tinggi. Akan tetapi dari tingginya
harga cabai tersebut keuntungan nya sangat rendah karena produksi cabai dari
lahan nya tidak optimal.

2.7

Analisis Daya Dukung


Lahan kering dalam keadaan alamiah biasanya peka terhadap erosi,
terutama bila keadaan tanahnya miring atau tidak tertutup vegetasi, tingkat
kesuburannya rendah, air merupakan faktor pembatas dan biasanya tergantung
dari curah hujan serta lapisan olah dan lapisan bawahnya memiliki
7

kelembaban yang amat rendah. Menurunnya produktivitas lahan pada tanah


datar dapat pula terjadi karena hilangnya unsur hara dari solum tanah melalui
pencucian hara dan aliran permukaan. Menurut Manik (2003:12), daya
dukung lahan adalah suatu ukuran jumlah individu dari suatu spesies yang
dapat didukung oleh lingkungan tertentu. Daya dukung suatu wilayah sangat
ditentukan oleh potensi sumber daya (alam, buatan, dan manusia). Teknologi
untuk mengelola sumber daya (alam, buatan, manusia), serta jenis pekerjaan
dan pendapatan penduduk.
Pada sektor pertanian, kemampuan daya dukung (Carrying Capacity
Ratio) merupakan perbandingan antara lahan yang tersedia dan jumlah petani.
Untuk itu perlu diketahui berapa luas lahan rata-rata yang dibutuhkan per
kepala keluarga, potensi lahan yang tersedia dan penggunaannya untuk
kegiatan pertanian.
Tahapan analisis daya dukung sebenarnya sangat fleksibel dan dinamis
artinya langkah yang dapat ditempuh untuk menganalisis daya dukung sangat
beragam. Secara sederhana bisa menggunakan rumus berikut:
Axr
CCR = ------------HxhxF
Dimana:
CCR = kemampuan daya dukung
A = jumlah total area yang dapat digunakan untuk kegiatan
pertanian/perkebunan
r = frekuensi panen per hektar per tahun
H = jumlah KK (rumah tangga)
h = persentase jumlah penduduk yang tinggal
F = ukuran lahan pertanian rata-rata yang dimiliki petani
Asumsi umum sebagai interpretasi hasil perhitungan analisis daya
dukung sebagai berikut:

1. Jika CCR > 1


Artinya berdasarkan kuantitas lahannya, masih memiliki kemampuan
untuk mendukung kebutuhan pokok manusia dan masih mampu menerima
tambahan penduduk. Pembangunan di wilayah tersebut masih dimungkinkan
bersifat ekspansif dan eksploratif lahan.
2. Jika CCR < 1
Artinya berdasarkan jumlah lahan yang ada, maka di wilayah tersebut
sudah tidak mungkin lagi dilakukan pembangunan yang bersifat ekspansif dan
eksploratif lahan. Lahan-lahan yang berada pada posisi demikian perlu
mendapatkan

program

peningkatan

produktivitas,

intensifikasi

dan

ekstensifikasi melalui perbaikan teknologi atau menekan pertumbuhan


penduduk.
3. Jika CCR = 1
Artinya berdasarkan jumlah lahan, daerah ini masih memiliki
keseimbangan antara kemampuan lahan dan jumlah penduduk, namun
demikian kondisi ini perlu diwaspadai karena jika pertambahan penduduk
tidak terkendali akibat pembangunan yang sangat cepat akan dapat
menyebabkan menurunnya kemampuan daya dukung, untuk itu peran
pemerintah dalam mengendalikan pembangunan yang memicu penambahan
penduduk sangat diperlukan. Pada lahan yang kita amati berupa lahan keing
dengan komoditasnya cabai dan jeruk yang di tanam secara tumpang sari.
2.8

Analisis Agroekoteknologi
Survei yang dilakukan berada di daerah Dau, Kabupaten Malang.
Survei dilakukan di lahan tegalan dengan komoditas tanaman cabai dan jeruk,
cabai menggunakan varietas fantastik dengan luasan lahan kurang lebih 1,5 ha
dengan kondisi lahan tidak datar dan berundak.Tanaman cabai di tanam secara
tumpang sari bersamaan dengan pohon jeruk, sedangkan dibagian sekitar
lahan terdapat tanaman tebu. Bagian tengah lahan terdapat suatu wadah yang
digunakan untuk penampung air hujan yang digunakan untuk irigasi. Namun

wadah atau kolam tersebut terlalu kecil untuk mencukupi kebutuhan air
seluruh lahan sehingga dalam musim kemarau kemarin Pak Jupri mengaku
harus membeli air untuk irigasi.

10

3. PELAKSANAAN ATAU PRAKTEK BUDIDAYA


3.1 Analisis Kesesuian Lokasi Untuk Tanaman yang Akan Ditanam Berdasar
Komponen Biotik dan Abiotik Suatu Kawasan.

Dari hasil survei yang telah kami lakukan, penggunaan lahan milik
Pak Jupri ini digunakan untuk membudidayakan tanaman cabai dan jeruk
yang di tanam secara tumpang sari. Dari seluruh kegiatan produksi yang telah
dilakukan, pada lahan tersebut menurut kami memang cocok untuk ditanami
kedua komoditas tersebut. Bapak Jupri sebenarnya ingin fokus untuk
membudidayakan komoditas jeruk, akan tetapi karena tanaman jeruk memiliki
usia produktif pada tahun ke lima, maka sambil menunggu usia produktif
pohon jeruk maka beliau menanam cabai diantara pohon jeruk yang beliau
budidayakan.
Menurut kami penggunaan lahan Pak Jupri untuk membudidayakan
tanaman cabai dirasa sangat cocok. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang
mempengaruhi, yaitu faktor biotik dan abiotik. Untuk faktor abiotik, yaitu
berupa suhu, iklim dan keadaan tanah serta ketersediaan air yang ada di lahan
yang

digunakan

untuk

budidaya

tersebut.

Faktor-faktor

tersebut

mengakibatkan lahan Pak Jupri menjadi lahan yang cenderung kering ketika
mulai memasuki musim kemarau. Mengingat lahan tersebut merupakan lahan
tegalan yang menggunakan sistem pengairan tadah hujan dalam memenuhi
kebutuhan airnya. Sehingga jika digunakan untuk membudidayakan tanaman
cabai tidak menyebabkan tanaman cabai jenuh dengan air, kelembaban pada
lahan tersebut sangat rendah, Beberapa hal yang mempengaruhi pertumbuhan
tanaman cabai agar dapat tumbuh dengan baik, antara lain kondisi iklim dan
tanah. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, iklim meliputi sinar matahari
dimana penyinaran yang dibutuhkan adalah pernyinaran secara penuh, pada
saat itu kanopi pohon jeruk belum terlalu lebar sehingga tanaman cabai dapat
memperoleh pencahayaan secara penuh. Curah hujan juga mempengaruhi
pertumbuhan tanaman cabai,karena berada di dataran tinggi maka curah hujan

11

pada lahan tersebut sudah dianggap mencukupi untuk pertumbuhan cabai agar
mencapai hasil yang optimal.
Untuk faktor biotiknya yaitu berupa hama dan penyakit yang menjadi
salah satu hama penting pada komoditas cabai dan jeruk yang dibudidayakan
oleh Pak Jupri. Hama yang di temukan selama kegiatan survei adalah kutu
kebul (Bemisia tabacci). Hama ini ditemukan di daun tanaman cabai dan juga
tanaman jeruk dalam jumlah yang cukup banyak. Bisa jadi karena lahan
tersebut merupakan wilayah endemik dari hama kutu kebul. Selain adanya
hama, ditemukan juga penyakit busuk pada cabai sehingga mengakibatkan
penurunan hasil produksi dari tanaman cabai. Sedangkan untuk komoditas
jeruknya tidak ditemukan adanya penyakit penting komoditas jeruk.
Dari seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi proses budidaya di
lahan milik Pak Jupri, baik itu faktor biotik maupun faktor abiotiknya dapat di
tarik kesimpulan bahwa lahan tersebut cocok untuk di tanami komoditas cabai
maupun komoditas jeruk.
3.2 Sertakan Metode yang Akan Anda Gunakan untuk Praktek Budidaya
dan Kemukanan Alasan Mengapa Anda Mengunakan Metode Tersebut.
Pada lahan yang kami amati, praktek budidaya petani ialah
membudidayakan tanaman cabai dan jeruk. Teknik budidaya dilakukan secara
tumpangsari dimana jeruk di tumpangsarikan dengan cabai. Jeruk yang di
tanam masih berusia 2 tahun sehingga tajukan atau kanopi tanaman jeruk
tidak menutupi cabai. Metode ini sangat efektif karena sambil menunggu
tanaman jeruk sampai berproduksi, lahan yang kosong di manfaatkan dengan
di tanamai tanaman cabai untuk memaksimalkan lahan sehingga dapat
meningkatkan pendapatan. Cabai yang di tananam pada lahan ini ialah cabai
varietas fantastik.
Hanya saja saat kami melakukan wawancara dan survei ke lahan
petani, kondisi cabai sangat buruk sekali, tanaman cabai terserang penyakit
sehingga hasil produksi nya sangat memprihatinkan karena hampir 80%
12

kondisi lahan, tanaman cabai seluruhnya terserang penyakit. Menurut


pengakuan beliau, kondisi ini tidak mengakibatkan kerugian hanya saja
keuntungan yang di dapat minim sekali dan nyaris hanya bisa balik modal.
Kondisi yang menjadi penyelamat menurut pengakuan beliau ialah harga
cabai yang masih berkisar Rp45.000/kg sehingga petani tidak terlalu merugi.
Pada lahan yang kami amati metode dalam praktek budidaya yang di
lakukan oleh Pak Jupri sudah cukup baik yaitu meliputi pengguludan,
penggunaan mulsa, pemupukan, penyiangan gulma serta pengairan. Namun
dalam pelaksanaan nya masih belum begitu efektif dan masih ada metodemetode lain yang belum di jalankan. Seperti halnya dalam hal pengairan, pada
lahan milik pak Jupri tidak begitu efesien karena sumber air hanya
mengandalkan hujan mengingat pada musim tersebut adalah musim kemarau
sehingga dalam pengairan, pak Jupri harus membeli air dan ini mengakibatkan
biaya dalam budiaya yang di lakukan menjadi lebih besar. Selain itu melihat
kondisi cabai yang hampir seluruh nya terserang penyakit, beliau mengaku
pasrah saja. Tidak ada penanganan khusus atas hal ini, menurut nya biaya
yang di keluarkan sudah cukup besar, selain itu sudah mendekati masa panen
sehingga ia membiarkan serangan penyakit tersebut.
Metode yang dapat di lakukan atau di tambahkan ialah pembenahan
sistem irigasi dan penambahan pupuk organik serta pengendalian hama dan
penyakit.
1. Perbaikan Sistem Irigasi
Pada praktek budidaya yang di lakukan oleh Pak Jupri, sistem irigasi
masih belum optimal. Salah satu alternatif yang dapat di gunakan ialah
dengan menggunakan system irigasi tetes (drip irigation). Karena system
irigasi ini menitik beratkan kepada efisiensi penggunaan air serta optimalisasi
penyerapan air oleh tanaman. Namun salah satu kendala dalam sistem irigasi
ini ialah sumber air, tidak ada sumber air di sekitar lahan tersebut sehingga
sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Tetapi salah satu alternatif yang

13

dapat di gunakan adalah metode panen air. Dimana pada saat musim
penghujan petani dapat menampung air pada kolam dan menjadikan nya
sebagai sumber air dalam metode irigasi tetes
2. Penambahan Pupuk Organik
Pemupukan yang dilakukan oleh

Pak Jupri

sebagian

besar

menggunakan pupuk anorganik jenis blower dan phonska serta pengaplikasian


pupuk organik masih rendah. Penmbahan pupuk organik dapat memperbaiki
sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pemupukan organik bagaikan investasi
jangka panjang pada tanah karena sifat nya yang slow release dan tidak
menimbulkan residu kimiawi yang berbahaya serta dapat memperaiki kondisi
tanag. Sifat fisik tanah yang baik, dapat meningkatkan daya ikat air sehingga
air tidak mudah lepas dari ikatan agregat tanah tersebut. Dengan demikian
persentase kehilangan air dapat di tekan seminim mungkin.
3. Pengendalian Hama dan Penyakit
Pada lahan Pak Jupri pengendalian hama dan penyakit masih belum
optimal, mengingat kondisi yang hampir keseluruhan lahan terserang
penyakit. Seharusnya pada awal gejala adanya indikasi penyakit, tindakan
penanganan sudah di lakukan namun apabila sudah melebihi batas ambang
ekonomi dapat di lakukan dengan pengendalian menggunakan pestisida
dengan dosis yang di anjurkan.
Selain itu gagal panen kali ini juga di akibatkan karena tidak adanya
rotasi tanam. Sehingga hama dan penyakit yang ada pada musim tanam
sebelumnya kembali menyerang tanaman budidaya selanjutnya. Rotasi tanam
ini perlu di lakukan untuk memotong siklus hidup hama dan penyakit

14

4. ANALISIS USAHA TANI


Pada hasil fieldtrip yang dilakukan di Kecamatan Dau, lahan cabai
yang dikelola oleh Bapak Jupri memiliki luas 1,5 ha, dengan pola tanam
yang digunakan adalah tumpang sari dengan komoditas jeruk. Lahan yang
dikelola merupakan kepemilikan sendiri, namun tidak sedikit petani disana
menggarap lahan yang bukan milik sendiri (punya orang lain). Pendapatan
Pak Jupri berasal dari usaha tani cabai dan jeruk yang benihnya didapatkan
dari membeli benih bersertifikat. Semua usaha tani dijual semua, dan tidak
ada yang dikonsumsi sendiri. Dalam analisis usaha tani cabai, benih yang
digunakan adalah benih hibrida unggul varietas fantastik dengan jarak tanam
yang digunakan 65x70 cm dengan sistem berhadapan antar baris tanaman dan
umur panen 90-95 hari. Varietas ini beradaptasi baik di dataran sedang sampai
tinggi dengan ketinggian 600-900 m dpl (Hamid, 2012). Jumlah benih pada
tiap hektarnya adalah 18000 tanaman/ha dengan hasil produksi sebesar 27
ton/ha. Pupuk yang digunakan adalah pupuk N dengan dosis 250 kg/ha dan
pupuk P dengan dosis 500 kg/ha. Sistem pengairan yang digunakan adalah
sistem tadah hujan dan pada musim kemarau pak Jupri akan membeli air jika
air pada penampungan tidak dapat mencukupi kebutuhan air bagi tanaman.
Permasalahan yang terjadi pada lahan cabai tersebut adalah tingginya tingkat
serangan hama kutu kebul dan penyakit busuk cabai yang menyebabkan
penurunan hasil produksi hingga dapat menyebabkan gagal panen.
Pada pengamatan indikator stabilitas dan keberlanjutan di lahan dan
daerah tersebut untuk kecukupan dan ketersediaan pangan dan gizi seimbang
dapat diakses dengan mudah. Pangan yang diproduksi dalam masyarakat
sebesar 26-40% atau lebih, sedangkan yang diperoleh dari produsen pangan
lokal di luar masyarakat 25%, tumbuh secara organik sebesar 25% dan dari
tanaman asli 50%. Produksi surplus pangan berasal dari dalam masyarakat.
Penggunaan bahan kimia khususnya insektisida dan fungisida dalam produksi
pangan atau pertanian biasa digunakan atau dapat dikatakan sangat tinggi
dengan ditemukannya sampah pembungkus yang tertinggal di lahan. Sehingga
15

jumlah skoring adalah 29 yang menunjukan perlunya tindakan untuk


melakukan keberlanjutan.
Pada indikator kemerataan dapat dikatakan pendapatan Pak Jupri tiap
musim tanam dengan harga jual pasar Rp 45.000/kg termasuk mengalami
keuntungan sedikit dimana berat buah tiap tanaman 1,5 kg walau terkena
penyakit pada lahan tersebut. Status kepemilikan rata-rata lahan petani di
daerah tersebut adalah lahan orang lain dengan rata-rata luas lahan yang
dimiliki petani adalah 0,25-1 ha.
Dari hasil fieldtrip dan wawancara di atas dapat dikatakan
agroekosistem lahan kering di pertanaman cabai Bapak Jupri tidak dapat
berlanjut dan stabil dilihat pada indikator stabilitas dan keberlanjutan yaitu
adanya serangan penyakit sebesar 80% yang mengakibatkan gagal panen dan
penggunaan bahan kimia yang berlebih. Dari permasalahan itu ada bebereapa
metode yang akan digunakan agar agroekosistem tersebut dapat stabil dan
berlanjut, yaitu penggunaan sistem tanam bergilir dan tumpang sari untuk
mengurangi dan memutus siklus penyakit dan hama yang ada di pertanaman
cabai, penggunaan pupuk organik untuk memulihkan kembali kondisi tanah
agar daya ikat air meningkat, dan penggunaan sistem irigasi tetes untuk
mengefisiensi penggunaan air serta optimalisasi penyerapan air oleh tanaman.
Dengan diterapkannya metode di atas diharapkan dapat memperbaiki
hasil produksi dan kondisi agroekosistem di lahan tersebut. Pada indikator
produktivitas, tanaman utama tetap menggunakan komoditas cabai varietas
fantastik dengan polikultur komoditas jeruk tetapi dilakukan rotasi tanaman
cabai dengan komoditas kacang. Sehingga dapat menekan serangan hama dan
penyakit di lahan tersebut. Peluang penanaman baru ini sesuai dengan kondisi
lahan dan iklim di daerah tersebut dimana kacang tidak memerlukan banyak
air pada budidayanya dan cocok di tanam di lahan kering serta tidak
merugikan bagi tanaman jeruk yang telah ditanam sebagai tanaman polikultur
cabai. Dari indikator stabilitas dan keberlanjutan diharapkan terjadi perubahan
pada pangan yang diproduksi tumbuh secara organik sebesar 65% atau lebih,
16

penggunaan bahan kimia khususnya insektisida dan fungisida dalam produksi


pangan atau pertanian digunakan secara minimal, jika penyakit dan hama
melebihi ambang batas. Penggunaan metode irigasi tetes dimaksudkan untuk
mengurangi modal pengairan khususnya pada musim kemarau dan pemberian
pupuk organik agar penyerapan air oleh tanaman lebih meningkat sehingga
produksi yang dihasilkan lebih tinggi dibanding produksi awal sebelum
metode diterapkan. Dari hasil metode tersebut dapat menunjukan awal yang
baik bagi agroekosistem untuk menuju keberlanjutan.

17

5. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa lahan milik Pak Jupri yang berada di daerah Dau,
Kabupaten Malang, merupakan lahan kering (tegalan) dimana pengairannya hanya
memanfaatkan air hujan. Lahan tersebut memiliki luas kurang lebih 1,5 hektar.
Teknik budidaya dilakukan secara tumpangsari, dimana jeruk di tumpangsarikan
dengan cabai. Metode ini sangat efektif karena dapat memanfaatkan lahan yang
kosong dan juga

sambil menunggu tanaman jeruk berproduksi,. Cabai yang di

tanaman pada lahan ini adalah cabai varietas fantastic.


Agroekosistem pertanian di daerah Dau jika ditinjau dari aspek bp masih
dalam kategori yang rendah karena masih adanya penggunaan pupuk anorganik
dalam pengolahan tanah. Jika ditinjau dari aspek hpt bahwa keadaan agroekosistem
pada lahan tersebut masih belum seimbang dan optimal karena jumlah hama dan
penyakit yang didapatkan di lahan lebih banyak jika dibandingkan dengan musuh
alaminya. Meskipun petanian yang berada di lahan pak Jupri sudah mengarah pada
pertanian organik, namun perlu adanya penggunaan bahan organik dan meminimalisir
penggunaan pestisida anorganik.

18

DAFTAR PUSTAKA
Hamid, Abdul dan Munir Haryanto. 2012. Untung besar dari bertanam cabai hibrida.
Jakarta : AgroMedia Pustaka. 96 halaman
Harpenas, Asep & R. Dermawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Mamiek Rahardjo. 2003. Pengumpulan Data Analisis Daya Dukung Lahan dan
Tekanan Penduduk Pada Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Jurnal
Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi UNS
Utomo, M. 2000. Pengelolaan Lahan Kering Berkelanjutan. Dalam Erwanto, dkk.
2000 (Ed). Prosiding Seminar Nasional III Pengembangan Wilayah Lahan
Kering. Pengelolaan Wilayah Lahan Kering Secara Berkelanjutan Unutuk
Mendukung Otonomi Daerah. Universitas Lampung.

19