Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

DIHIBRID

Oleh :
1. Vira Agustin Sintaresmi

13320109

2. Mardiana Handayaningsih

13320123

3. Diyaf fatmasari

13327002

4. Pradina Oktavia Risna Putri

13327006

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN
TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG

I.

LANDASAN TEORI

II. PERMASALAHAN
III. TUJUAN
- Membuktikan hukum segregasi secara bebas
- Membuktikan hukum berpasangan secara bebas
- Membuktikan perbandingan fenotipe untuk perkawinan dihibrid adalah 9 : 3 : 3 : 1
IV.

BAHAN DAN ALAT


Kancing genetika 4 macam warna masing masing berjumlah 40 buah.

V.

CARA KERJA
1. Pisahkan tiap tiap warna menjadi 2 bagian, masing masing bagian bentuknya
sama persis. 1 bagian sebagai gamet betina dan yang lain gamet jantan.
2. Tentukan dulu lambing genotipnya misalnya :
Merah (M)
Putih (m)
Biru (B)
Kuning (b)
Buatlah pasangan kancing dengan ditangkapkan ( dianggap sebagai gamet) :
Merah Biru (MB)
Merah Kuning (Mb)
Putih Biru ( mB)
Putih Kuning (mb)
3. Gamet jantan dan gamet betina ditempatkan dalam kotak yang berbeda.
4. Ambil kancing dari kotak 1 dan kancing dari kotak ke 2. Dipertemukan dan catat
hasilnya dalam tabel.

VI.

HASIL PENGAMATAN
T = Tinggi , t = pendek, B = Kurus, b = gemuk
TB = Tinggi Kurus
Tb = Tinggi Gemuk
tB = Pendek Kurus
tb = Pendek Gemuk
Kombinasi Gen
Tinggi Kurus x Tinggi Kurus

Gen
( TTBB )

Fenotip
Tinggi Kurus

Tabulasi
IIIII II

Tinggi Kurus x Tinggi Gemuk

( TTBb )

Tinggi Kurus

IIIII IIIII IIIII II

17

Tinggi Gemuk x Tinggi Gemuk

( TTbb )

Tinggi Gemuk

IIIII

Tinggi Kurus x Pendek Kurus

( TtBB )

Tinggi Kurus

IIIII I

Tinggi Kurus x Pendek Gemuk

( TtBb )

Tinggi Kurus

IIIII IIIII IIIII III

18

Tinggi Gemuk x Pendek Gemuk

( Ttbb )

Tinggi Gemuk

IIIII IIII

Pendek Kurus x Pendek Kurus

( ttBB )

Pendek Kurus

IIIII

Pendek Kurus x Pendek Gemuk

( ttBb )

Pendek Kurus

IIIII IIII

Pendek Gemuk x Pendek Gemuk

( ttbb )

Pendek Gemuk

IIII

Tinggi Kurus

: Tinggi Gemuk : Pendek Kurus : Pendek Gemuk

48

VII.

Frekuensi
7

: 14

: 14

:4

PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini, kami melakukan percobaan persilangan dihibrid.
Persilangan dihibrid merupakan persilangan dua sifat beda. Aplikasi persilangan ini
dengan menggunakan kancing genetik yang berjumlah empat warna dengan warna

kuning (T) pembawa sifat untuk tubuh tinggi dan dominan terhadap tubuh pendek (t)
yang diwakili oleh kancing dengan warna hijau. Sedangkan warna kancing merah (B)
adalah pembawa sifat untuk tubuh kurus dan dominan terhadap warna putih (b)
sebagai pembawa sifat untuk tubuh gemuk. Setelah dipilih secara acak untuk
frekuensi genotype sebanyak 80 x, didapatkan fenotipe :
Tinggi - Kurus dengan genotype

: 7 (TTBB) : 6 (TtBB) : 17 (TTBb) : 18 (TtBb)

Tinggi - Gemuk dengan genotype

: 5 (TTbb) : 9 (Ttbb)

Pendek - Kurus dengan genotype

: 5 (ttBB) : 9 (ttBb)

Pendek -Gemuk dengan genotype

: 4 (ttbb)

Jadi, didapatkan rasio fenotipe secara berurutan, yaitu 48 : 14 : 14 : 4 = 80.


Hasil tersebut menunjukkan terjadinya prinsip berpasangan secara bebas
dapat dijelaskan dengan bagian yang diharapkan pada genotip F2 ditentukan
menggunakan metode kotak Punnett yang menunjukkan fenotip F2 dalam
perbandingan 9 : 3 : 3 : 1, hampir tepat dengan penelitian Mendel. Dari bagian
tersebut, Mendel mengusulkan sebuah pembaruan kedua yang mana sekarang dikenal
sebagai Hukum Kedua Mendel atau Law of Independent Assortment, yang
menyatakan bahwa pasangan alel dari gen-gen di locus yang berbeda bersegregasi
secara bebas dari alel yang lain sepanjang penyusunan gamet (Phillips, 1989). Prinsip
segregasi berlaku untuk kromosom homolog. Pasangan-pasangan kromosom
homolog yang berbeda mengatur sendiri pada khatulistiwa metafase I dengan cara
bebas dan tetap bebas selama meiosis. Sebagai akibatnya, gen-gen yang terletak pada
kromosom nonhomolog, dengan kata lain, gen-gen yang tidak terpaut mengalami
pemilihan bebas secara meiosis.
Pengamatan ini menghasilkan formulasi hukum genetika Mendel kedua, yaitu
hukum pilihan acak, yang menyatakan bahwa gen-gen yang menentukan sifat-sifat
yang berbeda dipindahkan secara bebas satu dengan yang lain, dan sebab itu akan
timbul lagi secara pilihan acak pada keturunannya. Individu-individu demikian
disebut dihibrida atau hibrida dengan 2 sifat beda (Goodenough, 1984).
Fenotipe : Pengamatan Harapan = Deviasi
48 45 = 3
14 15 = - 1

14 15 = - 1
45=-1
Totalnya, didapatkan dengan cara menjumlahkan setiap hasil deviasi sehingga
hasilnya 0. Dari hasil percobaan tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa frekuensi
Fenotipe untuk percobaan 80x = 48 : 14 : 14 : 4 mendekati angka rasio fenotipe
hukum mandel 2 yaitu 9:3:3:1.
VIII. KESIMPULAN
1. Hukum mandel 2 disebut perkawinan dua tertua yang mempunyai dua sifat beda
(diploid).
2. Rasio fenotipe persilangan dihibrid, yaitu 9 : 3 : 3 : 1. Walaupun dalam percobaan
ini hasilnya tidak sama persis, tetapi hasilnya hampir mendekati.
3. Pada persilangan dihibrid, kromosom berpasangan secara bebas dapat dijelaskan
dan hanya berlaku pada persilangan dihibrida yang hanya berlaku untuk gen yang
letaknya berjauhan, jika gen berdekatan, maka tidak berlaku.
4. Gen yang bersifat dominan akan menutupi gen yang bersifat resesif. Tujuan dari
persilangan dua sifat beda adalah untuk mempelajari hubungan antara pasanganpasangan alel dari karekter tersebut.
5. Dengan fenotipe hasil deviasi juga membuktikan bahwa frekuensi fenotipe
percobaan mendekati angka rasio fenotipe hokum mendel 2.
IX.

DAFTAR PUSTAKA