Anda di halaman 1dari 67

BAB I

PENDAHULUAN
Fraktur adalah terputusnya hubungan atau kontinuitas struktur tulang atau tulang rawan
bisa komplet atau inkomplet atau diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh gaya yang melebihi
elastisitas tulang. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat dari
trauma, beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang
menyebabkan fraktur yang patologis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis
baik yang bersifat total maupun parsial.
PENYEBAB FRAKTUR
Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, harus
mengetahui keadaan fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah.
Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir
(shearing). Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama
tekanan membengkok, memutar, dan tarikan. Trauma bisa bersifat :
o Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada
daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut
mengalami kerusakan.
o Trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari
daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada
klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Fraktur terjadi bila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut
kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Dua faktor mempengaruhi terjadinya fraktur:
o

Ekstrinsik meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan
kekuatan trauma.

Intrinsik meliputi kapasitas tulang mengasorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan,


dan densitas tulang.
Tulang cukup mudah patah, namun mempunyai kekuatan dan ketahanan untuk
menghadapi stress dengan kekuatan tertentu. Fraktur berasal dari cedera, stress berulang,
fraktur patologis.

TIPE FRAKTUR
1) Fraktur komplit
Tulang terbagi menjadi dua atau lebih fragmen. Pola fraktur pada rontgen dapat
membantu memprediksi tindakan setelah reduksi: jika fraktur transversal patahan
biasanya akan tetap pada tempatnya setelah reduksi; jika fraktu oblique atau spiral, tulang
cenderung memendek dan kembali berubah posisi walaupun tulang dibidai. Jia terjadi
fraktur impaksi, fragmen terhimpit bersama dan garis fraktur tidak jelas. Fraktur
kominutif dimana terdapat lebih dari 2 fragmen tulang; karena jeleknya hubungan antara
permukaan tulang, cenderung tidak stabil.
2) Faktur inkomplit
Disini tulang tidak secara total terbagi dan periosteum tetap intak. Pada fraktur greenstick
tulang membengkok; hal ini terjadi pada anak-anak yang tulangnya lebih lentur
dibandingkan dewasa. Anak-anak juga dapat bertahan terhadap cedera dimana tulang
berubah bentuk tanpa terlihat retakan jelas pada foto rontgen.

KLASIFIKASI FRAKTUR
Klasifikasi etiologis
1) Fraktur traumatik : terjadi karena trauma yang tiba-tiba
2) Fraktur patologis : terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan
patologis di dalam tulang
3) Fraktur stres : terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat

tertentu
Klasifikasi klinis
1) Fraktur tertutup (simple fracture) : suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan
dengan dunia luar
2) Fraktur terbuka (compound fracture) : fraktur yang mempunyai hubungan dengan
dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from
within (dari dalam) atau from without (dari luar).
Fraktur terbuka dibagi berdasarkan klasifikasi Gustilo-Anderson, yang pertama
kali diajukan pada tahun 1976 dan modifikasi pada tahun 1984.

Derajat
I
II

Luka
Laserasi <2 cm
Laserasi >2 cm,

III

disekitarnya
Luka lebar,

rusak

kontusi
hebat,

hilangnya jaringan di sekitarnya

Fraktur
Sederhana, dislokasi fragmen minimal
otot Dislokasi fragmen jelas
atau Kominutif, segmental, fragmen tulang ada
yang hilang

Tipe
I
II
III

Batasan
Luka bersih dengan panjang luka < 1 cm
Panjang luka > 1 cm tanpa kerusakan jaringan lunak yang berat
Kerusakan jaringan lunak yang berat dan luas, fraktur segmental
terbuka, trauma amputasi, luka tembak dengan kecepatan tinggi,
fraktur terbuka di pertanian, fraktur yang perlu repair vaskuler dan
fraktur yang lebih dari 8 jam setelah kejadian.

Tipe Batasan
IIIA Periosteum masih membungkus fragmen fraktur dengan kerusakan jaringan
IIIB

lunak yang luas


Kehilangan jaringan lunak yang luas, kontaminasi berat, periosteal striping

atau terjadi bone expose


IIIC Disertai kerusakan arteri yang memerlukan repair tanpa melihat tingkat
kerusakan jaringan lunak.
3) Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture) : fraktur yang disertai
dengan komplikasi misalnya malunion, delayed union, nonunion, atau infeksi
tulang
Klasifikasi garis patah tulang
1) Greenstick, yaitu fraktur dimana satu sisi tulang retak dan sisi lainnya bengkok.
2) Tranversal, yaitu fraktur yang memotong lurus pada tulang.
3) Spiral, yaitu fraktur yang mengelilingi tungkai/lengan tulang.

4) Obliq, yaitu fraktur yang garis patahnya miring membentuk sudut melintasi tulang.

Klasifikasi bentuk patah tulang


1) Complet, yaitu garis fraktur menyilang atau memotong seluruh tulang dan fragmen
tulang biasanya tergeser.
2) Incomplet, meliputi hanya sebagian retakan pada sebelah sisi tulang.
3) Fraktur kompresi, yaitu fraktur dimana tulang terdorong ke arah permukaan tulang
4)
5)
6)
7)

lain.
Avulsi, yaitu fragmen tulang tertarik oleh ligamen.
Communited (Segmental), fraktur dimana tulang terpecah menjadi beberapa bagian.
Simple, fraktur dimana tulang patah dan kulit utuh.
Fraktur dengan perubahan posisi, yaitu ujung tulang yang patah berjauhan dari tempat

yang patah.
8) Fraktur tanpa perubahan posisi, yaitu tulang patah, posisi pada tempatnya yang
normal.
9) Fraktur Complikata, yaitu tulang yang patah menusuk kulit dan tulang terlihat.

PATOFISIOLOGI FRAKTUR
Trauma yang terjadi pada tulang dapat menyebabkan seseorang mempunyai keterbatasan
gerak dan ketidakseimbangan berat badan. Fraktur yang terjadi dapat berupa fraktur tertutup
ataupun fraktur terbuka. Fraktur tertutup tidak disertai kerusakan jaringan lunak disekitarnya
sedangkan fraktur terbuka biasanya disertai kerusakan jarigan lunak seperti otot, tendon,
ligamen, dan pembuluh darah.
Tekanan yang kuat atau berlebihan dapat mengakibatkan fraktur terbuka karena dapat
menyebabkan fragmen tulang keluar menembus kulit sehingga akan menjadikan luka terbuka
dan akan menyebabkan peradangan dan memungkinkan untuk terjadinya infeksi.
Keluarnya darah dari luka terbuka dapat mempercepat pertumbuhan bakteri. Tertariknya
segmen tulang disebabkan karena adanya kejang otot pada daerah fraktur menyebabkan disposisi
pada tulang, sebab tulang berada pada posisi yang kaku.
DIAGNOSA FRAKTUR
Anamnesis
Biasanya pasien datang dengan suatu trauma, baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti
dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. Pasien biasanya datang karena
adanya nyeri yang terlokalisir dimana nyeri tersebut bertambah bila digerakkan, pembengkakan,
gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau dengan gejala-gejala
lain.
Pemeriksaan fisik
a.

Inspeksi / Look

Deformitas : angulasi, rotasi, pemendekan, pemanjangan, bengkak


Pada fraktur terbuka : klasifikasi Gustilo

b.

Palpasi / Feel ( nyeri tekan (tenderness), Krepitasi)

Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. Lakukan palpasi pada daerah
ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan dibawah cedera, daerah yang
mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi
Neurovaskularisasi bagian distal fraktur meliputi : pulsasi aretri, warna kulit, pengembalian
cairan kapler (Capillary refill test) sensasi
c.

Gerakan / Moving

Dinilai apakah adanya keterbatasan pada pergerakan sendi yang berdekatan dengan lokasi
fraktur.
d.

Pemeriksaan trauma di tempat lain : kepala, toraks, abdomen, pelvis

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi, serta ekstensi fraktur.
Untuk menghindari nyeri serta kerusakan jaringan lunak sebelumnya, maka sebaiknya
mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan
pemeriksaan radiologis.
Tujuan pemeriksaan radiologis :
- Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
- Untuk konfirmasi adanya fraktur
- Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya
- Untuk menentukan teknik pengobatan
- Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
- Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
- Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
- Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru
Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan yakni foto polos, CT-Scan, MRI, tomografi, dan
radioisotop scanning. Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur.
Radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two, terdiri dari :
1) 2 gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral

2) Memuat dua sendi di proksimal dan distal fraktur


3) Memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu ekstremitas yang cedera dan yang
tidak terkena cedera (pada anak) ; dan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah
tindakan.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan awal
Sebelum dilakukan pengobatan definitif pada satu fraktur, maka diperlukan :
1. Pertolongan pertama
Pada pasien dengan fraktur yang penting dilakukan adalah membersihkan jalan nafas,
menutup luka dengan verban yang bersih, dan imobilisasi fraktur pada anggota gerak
yang terkena agar pasien merasa nyaman dan mengurangi nyeri sebelum diangkut dengan
ambulans. Bila terdapat pendarahan dapat dilakukan pertolongan dengan penekanan
setempat.
2. Penilaian klinis
Sebelum menilai fraktur itu sendiri, perlu dilakukan penilaian klinis, apakah luka itu luka
tembus tulang, adakah trauma pembuluh darah/ saraf ataukah ada trauma alat-alat dalam
yang lain.
3. Resusitasi
Kebanyakan pasien dengan fraktur multipel tiba di rumah sakit dengan syok, sehingga
diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya sendiri berupa pemberian
transfusi darah dan cairan lainnya serta obat-obat anti nyeri.
Prinsip penatalaksanaan fraktur terdiri dari 4R yaitu recognition berupa diagnosis dan
penilaian

fraktur,

reduction,

retention

dengan

imobilisasi,

dan

rehabilitation

yaitu

mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

Recognition; diagnosis dan penilaian fraktur


Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksaan klinik, dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu
diperhatikan lokalisasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai

untuk pengobatan, dan komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah

pengobatan.
Reduction; reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat
diterima. Pada fraktur intra-artikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat
mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti
kekakuan, deformitas, serta perubahan osteoartritis di kemudian hari.
Posisi yang baik adalah alignment yang sempurna dan aposisi yang sempurna.
Fraktur seperti fraktur klavikula, iga, dan fraktur impaksi dari humerus tidak
memerlukan reduksi. Angulasi <5 pada tulang panjang anggota gerak bawah dan
lengan atas dan angulasi sampai 10 pada humerus dapat diterima. Terdapat
kontak sekurang-kurangnya 50%, dan over-riding tidak melebihi 0,5 inchi pada

fraktur femur. Adanya rotasi tidak dapat diterima dimanapun lokalisasi fraktur.
Retention; imobilisasi fraktur
Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

Penatalaksanaan awal fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur dengan splint.
Status neurologis dan vaskuler di bagian distal harus diperiksa baik sebelum maupun sesudah
reposisi dan imobilisasi. Pada pasien dengan multiple trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi
awal fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan penatalaksanaan
definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi dengan ORIF maupun
OREF.

Jenis Fiksasi :
a.

Eksternal / OREF (Open Reduction External Fixation)

Gips (plester cast)

Traksi
Jenis traksi :

Traksi Gravitasi : U- Slab pada fraktur humerus

Skin traksi
Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur sehingga fragmen akan kembali ke
posisi semula. Beban maksimal 4-5 kg karena bila kelebihan kulit akan lepas

Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.


Traksi ini dipasang pada distal tuberositas tibia (trauma sendi koksea, femur, lutut),
pada tibia atau kalkaneus ( fraktur kruris). Adapun komplikasi yang dapat terjadi
pada pemasangan traksi yaitu gangguan sirkulasi darah pada beban > 12 kg, trauma
saraf peroneus (kruris) , sindroma kompartemen, infeksi tempat masuknya pin.

- Indikasi OREF :

Fraktur terbuka derajat III

Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas

Fraktur dengan gangguan neurovaskuler

Fraktur Kominutif

Fraktur Pelvis

Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF

Non Union

Trauma multiple

b.

Internal / ORIF (Open Reduction Internal Fixation)


ORIF ini dapat menggunakan K-wire, plating, screw, k-nail. Keuntungan cara ini adalah

reposisi anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.


- Indikasi ORIF :
Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avascular nekrosis tinggi, misalnya fraktur
talus dan fraktur collum femur.
Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur avulsi dan fraktur dislokasi.
Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya fraktur Monteggia,
fraktur Galeazzi, fraktur antebrachii, dan fraktur pergelangan kaki.
Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi,
misalnya : fraktur femur.

PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR


Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu :
1. Fase hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati
kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk
hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum.
Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi
sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan
kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang
mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.

2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal


Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi
penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang berproliferasi
dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus
interna sebagai aktifitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat
pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferensiasi sel-sel mesenkimal yang tidak
berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi
pertambahan jumlah dari sel-sel osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat pada
jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Pembentukan jaringan seluler
tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa
minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada
pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah
radiolusen.
3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang
berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat
osteoblast diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlengketan polisakarida oleh garamgaram kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut sebagai woven
bone. Pada pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi
radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur.

4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)


Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah menjadi
tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamelar dan kelebihan
kalus akan diresorpsi secara bertahap.

5. Fase remodeling
Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian yang
menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini,
perlahan-lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada
tulang dan kalus eksterna secara perlahan-lahan menghilang. Kalus intermediat berubah menjadi
tulang yang kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami
peronggaan untuk membentuk ruang sumsum.

KOMPLIKASI FRAKTUR
Komplikasi fraktur dapat diakibatkan oleh trauma itu sendiri atau akibat penanganan fraktur
yang disebut komplikasi iatrogenik.
a. Komplikasi umum
Syok karena perdarahan ataupun oleh karena nyeri, koagulopati diffus dan gangguan
fungsi pernafasan.
Ketiga macam komplikasi tersebut diatas dapat terjadi dalam 24 jam pertama pasca
trauma dan setelah beberapa hari atau minggu akan terjadi gangguan metabolisme, berupa
peningkatan katabolisme. Komplikasi umum lain dapat berupa emboli lemak, trombosis vena
dalam (DVT), tetanus atau gas gangren
b.
Komplikasi Lokal
Komplikasi dini
Komplikasi dini adalah kejadian komplikasi dalam satu minggu pasca trauma, sedangkan
apabila kejadiannya sesudah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut.

Pada Tulang

1. Infeksi, terutama pada fraktur terbuka.


2. Osteomielitis dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur
tertutup. Keadaan ini dapat menimbulkan delayed union atau bahkan non union
Komplikasi sendi dan tulang dapat berupa artritis supuratif yang sering terjadi pada fraktur
terbuka atau pasca operasi yang melibatkan sendi sehingga terjadi kerusakan kartilago sendi dan
berakhir dengan degenerasi

Pada Jaringan lunak

1. Lepuh , Kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit superfisial karena edema.
Terapinya adalah dengan menutup kasa steril kering dan melakukan pemasangan elastik
2. Dekubitus.. terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips. Oleh karena itu
perlu diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah yang menonjol

Pada Otot

Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot tersebut terganggu. Hal ini
terjadi karena serabut otot yang robek melekat pada serabut yang utuh, kapsul sendi dan tulang.
Kehancuran otot akibat trauma dan terjepit dalam waktu cukup lama akan menimbulkan
sindroma crush atau trombus (Apley & Solomon,1993).

Pada pembuluh darah

Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus menerus. Sedangkan pada
robekan yang komplit ujung pembuluh darah mengalami retraksi dan perdarahan berhenti
spontan.
Pada jaringan distal dari lesi akan mengalami iskemi bahkan nekrosis. Trauma atau
manipulasi sewaktu melakukan reposisi dapat menimbulkan tarikan mendadak pada pembuluh
darah sehingga dapat menimbulkan spasme. Lapisan intima pembuluh darah tersebut terlepas
dan terjadi trombus. Pada kompresi arteri yang lama seperti pemasangan torniquet dapat terjadi
sindrome crush. Pembuluh vena yang putus perlu dilakukan repair untuk mencegah kongesti
bagian distal lesi (Apley & Solomon, 1993).
Sindroma kompartemen terjadi akibat tekanan intra kompartemen otot pada tungkai atas
maupun tungkai bawah sehingga terjadi penekanan neurovaskuler sekitarnya. Fenomena ini
disebut Iskhemi Volkmann. Ini dapat terjadi pada pemasangan gips yang terlalu ketat sehingga
dapat menggangu aliran darah dan terjadi edema dalam otot.

Apabila iskhemi dalam 6 jam pertama tidak mendapat tindakan dapat menimbulkan
kematian/nekrosis otot yang nantinya akan diganti dengan jaringan fibrus yang secara periahan-

lahan menjadi pendek dan disebut dengan kontraktur volkmann. Gejala klinisnya adalah 5 P
yaitu Pain (nyeri), Parestesia, Pallor (pucat), Pulseness (denyut nadi hilang) dan Paralisis

Pada saraf

Berupa kompresi, neuropraksi, neurometsis (saraf putus), aksonometsis (kerusakan akson).


Setiap trauma terbuka dilakukan eksplorasi dan identifikasi nervus (Apley & Solomon,1993).

Komplikasi lanjut
Pada tulang dapat berupa malunion, delayed union atau non union. Pada pemeriksaan terlihat
deformitas berupa angulasi, rotasi, perpendekan atau perpanjangan.

Delayed union

Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara normal. Pada pemeriksaan
radiografi, tidak akan terlihat bayangan sklerosis pada ujung-ujung fraktur,
Terapi konservatif selama 6 bulan bila gagal dilakukan Osteotomi. Bila lebih 20 minggu
dilakukan cancellus grafting (12-16 minggu)

Non union

Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan.


Tipe I (hypertrophic non union) tidak akan terjadi proses penyembuhan fraktur dan
diantara fragmen fraktur tumbuh jaringan fibrus yang masih mempunyai potensi untuk union
dengan melakukan koreksi fiksasi dan bone grafting.
Tipe II (atrophic non union) disebut juga sendi palsu (pseudoartrosis) terdapat jaringan
sinovial sebagai kapsul sendi beserta rongga sinovial yang berisi cairan, proses union tidak akan
dicapai walaupun dilakukan imobilisasi lama.

Beberapa faktor yang menimbulkan non union seperti disrupsi periosteum yang luas,
hilangnya vaskularisasi fragmen-fragmen fraktur, waktu imobilisasi yang tidak memadai,
implant atau gips yang tidak memadai, distraksi interposisi, infeksi dan penyakit tulang (fraktur
patologis)

Mal union

Penyambungan fraktur tidak normal sehingga menimbukan deformitas. Tindakan refraktur


atau osteotomi koreksi .

Osteomielitis

Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur
tertutup sehingga dapat menimbulkan delayed union sampai non union (infected non union).
Imobilisasi anggota gerak yang mengalami osteomielitis mengakibatkan terjadinya atropi tulang
berupa osteoporosis dan atropi otot

Kekakuan sendi

Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan imobilisasi lama, sehingga
terjadi perlengketan peri artikuler, perlengketan intraartikuler, perlengketan antara otot dan
tendon. Pencegahannya berupa memperpendek waktu imobilisasi dan melakukan latihan aktif
dan pasif pada sendi. Pembebasan periengketan secara pembedahan hanya dilakukan pada
penderita dengan kekakuan sendi menetap (Apley & Solomon,1993).
FRAKTUR HUMERUS
Fraktur humerus dapat terjadi mulai dari proksimal (kaput) sampai bagian distal
(kondilus) humerus, berupa :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Fraktur leher
Fraktur tuberkulum mayus
Fraktur diafisis
Fraktur suprakondiler
Fraktur kondiler
Fraktur epikondilus medialis

Fraktur leher humerus


Fraktur leher humerus umumnya terjadi pada wanita tua yang telah mengalami
osteoporosis sehingga terjadi kelemahan pada tulang.
- Mekanisme trauma
Biasanya pasien jatuh dan terjadi trauma pada anggota gerak atas
- Klasifikasi
Fraktur impaksi dan fraktur tanpa impaksi dengan atau tanpa pergeseran
- Pengobatan
Pada fraktur impaksi atau tanpa impaksi yang tidak disertai pergeseran dapat
dilakukan terapi konservatif saja dengan memasang mitela dan mobilisasi segera
pada gerakan sendi bahu. Bila fraktur disertai dengan pergeseran mungkin dapat
-

dipertimbangkan tindakan operasi.


Komplikasi
Kekakuan pada sendi, trauma saraf yaitu nervus aksilaris, dan dislokasi sendi bahu.

Fraktur tuberkulum mayus humerus


Fraktur dapat terjadi bersama dengan dislokasi humerus atau merupakan fraktur tersendiri
akibat trauma langsung di daerah sendi bahu. Biasanya terjadi pada orang tua dan
umumnya tidak mengalami pergeseran.
- Pengobatan
Fraktur dengan dislokasi humerus yang telah direposisi, biasanya fraktur juga
tereposisi dengan sendirinya. Pengobatan fraktur tanpa pergeseran fragmen dengan

cara konservatif. Pada fraktur yang disertai pergeseran fragmen sebaiknya dilakukan
operasi dengan memasang screw.
- Komplikasi
Painful arc syndrome
Fraktur diafisis humerus
Fraktur diafisis humerus biasanya terjadi pada 1/3 tengah humerus dimana trauma dapat
bersifat memuntir yang menyebabkan fraktur spiral dan bila trauma bersifat langsung
dapat menyebabkan fraktur transversal, oblik pendek, atau komunitif. Fraktur patologis
biasanya terjadi pada 1/3 proksimal humerus.
- Gambaran klinis
Pada fraktur humerus ditemukan pembengkakan, nyeri tekan serta deformitas pada
daerah humerus. Pada setiap fraktur humerus harus diperiksa adanya lesi nervus
-

radialis terutama pada daerah 1/3 tengah humerus.


Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan lokalisasi dan konfigurasi fraktur.
Pengobatan
Prinsip pengobatan adalah konservatif karena angulasi dapat tertutup oleh otot dan
secara fungsional tidak terjadi gangguan, disamping itu 1/3 kontak cukup memadai
untuk terjadinya union.
Pengobatan konservatif dibagi atas :
Pemasangan U slab
Pemasangan gips tergantung (hanging cast)
Pengobatan operatif dengan pemasangan plate dan screw atau pin dari Rush atau
pada fraktur terbuka dengan fiksasi eksterna.
Indikasi operasi yaitu :

Fraktur terbuka
Terjadi lesi nervus radialis setelah dilakukan reposisi (jepitan nervus radialis)
Nonunion
Pasien yang segera ingin kembali bekerja secara aktif
Fraktur suprakondiler humerus
Fraktur ini lebih sering terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa. Pengobatannya
seperti pada fraktur diafisis humerus.
Fraktur kondilus humerus
Fraktur ini jarang terjadi pada orang dewasa dan lebih sering pada anak-anak.

Mekanisme trauma
Biasanya terjadi pada saat tangan dalam posisi out stretched dan sendi siku dalam
posisi fleksi dengan trauma pada bagian lateral atau medial. Fraktur kondilus lateralis

lebih sering terjadi daripada kondilus medialis humerus.


Klasifikasi dan pemeriksaan radiologis

1. pada satu kondilus


2. Fraktur interkondiler (fraktur Y atau T)
3. Fraktur komunitif
Fraktur kondiler sering bersama-sama dengan fraktur suprakondiler.
Gambaran klinis
Nyeri dan pembengkakan serta pendarahan subkutan pada daerah sendi siku.
Ditemukan nyeri tekan, gangguan pergerakan serta krepitasi pada daerah tersebut.
Pengobatan
Fraktur tanpa pergeseran fragmen tidak memerlukan reposisi, cukup dengan
pemasangan gips sirkuler selama 6 minggu dan dilanjutkan dengan fisioterapi secara
hati-hati.
Fraktur kondiler adalah fraktur yang mengenai permukaan sendi sehingga
memerlukan reduksi dengan operasi segera, akurat dan rigid sehingga mobilisasi
dapat dilakukan secepatnya.

FRAKTUR LENGAN BAWAH

Fraktur kepala dan leher radius

Fraktur ini terjadi pada saat seseorang jatuh dengan posisi tangan dalam out stretched.
Klasifikasi dibagi dalam :
o
o
o
o

Tipe 1, terbelah vertikal


Tipe 2, fraktur disertai dengan kemiringan
Tipe 3, fraktur shearing (terbelah)
Tipe 4, remuk/ hancur

Untuk tatalaksananya, pada fraktur tipe 1 dan 2 dengan sudut kemiringan yang tidak
terlalu besar diatasi dengan mengistirahatkan sendi siku menggunakan mitela. Fraktur
yang pecah sebaiknya dilakukan eksisi. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu kekauan
sendi dan osteoartritis.

Fraktur Monteggia

Fraktur Monteggia sering ditemukan pada orang dewasa dan merupakan fraktur 1/3
proksimal ulna disertai dislokasi radius proksimal.
Pada orang dewasa sebaiknya dilakukan operasi dengan fiksasi interna yang rigid dan
mobilisasi segera sendi siku.
Klasifikasi Fraktur dislokasi Monteggia menurut Bado:

- Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi anterior disertai dislokasi
anterior kaput radius
- Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi posterior disertai
dislokasiposterior kaput radii dan fraktur kaput radii
- Fraktur ulna distal processus coracoideus dengan dislokasi lateral kaput radio
- Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal ulna dengan dislokasi anterior kaput radii dan
fraktur 1/3 proksimal radii di bawah tuberositas bicipitalis

Fraktur diafisis radius dan ulna

Fraktur radius sendiri biasanya terjadi karena trauma langsung. Untuk tatalaksananya,
fraktur yang tidak bergeser diatasi dengan gips di atas siku dan fleksi pada siku,
sedangkan yang bergeser sebaiknya dengan memasang fiksasi interna.
Fraktur ulna sering terjadi pada seseorang yang menangkis benda keras. Untuk
tatalaksananya, sama seperti fraktur radius.
Fraktur diafisis radius dan ulna terjadi karena trauma memuntir yang mengakibatkan
fraktur oblik atau spiral pada daerah ulna dan radius dengan ketinggian yang berbeda,
sedangkan trauma langsung menyebabkan fraktur dengan garis transversal. Karena
adanya hubungan yang erat pada posisi supinasi dan pronasi, maka fraktur kedua tulang
harus direposisi secara akurat baik rotasi maupun kesejajarannya.
Gambaran klinisnya yakni terdapat pembengkakan dan nyeri tekan serta deformitas pada
lengan bawah.
-

Pengobatan
Pengobatan fraktur yang tidak bergeser berupa pemasangan gips di atas siku dengan
meletakkan lengan bawah dalam posisi pronasi pada fraktur 1/3 distal, posisi netral
pada fraktur 1/3 tengah dan pada fraktur 1/3 proksimal dengan pemasangan gips di
atas siku dalam posisi supinasi. Apabila ada kelainan perlekatan otot pronator dan
supinator tulang radius dan ulna, reduksi serta imobilisasi yang baik sulit dilakukan.
Reduksi yang akurat sangat diperlukan karena tangan mempunyai fungsi untuk
pronasi dan supinasi. Pengobatan yang paling baik adalah dengan pemasangan

fiksasi rigid dengan operasi yang mempergunakan plate dan screw pada kedua
-

tulang.
Komplikasi
Malunion termasuk cross union akan memberikan gangguan dalam pronasi

dan supinasi
Delayed union
Nonunion
Fraktur Galeazzi

Fraktur Galeazzi pertama kali diuraikan oleh Riccardo Galeazzi yaitu fraktur pada 1/3
distal radius disertai dislokasi sendi radio-ulnar distal.
- Pengobatan
Pada fraktur ini harus dilakukan reposisi secara akurat dan mobilisasi segera karena
bagian distal mengalami dislokasi. Dengan reposisi yang akurat dan cepat maka
dislokasi sendi ulna distal juga tereposisi dengan sendirinya. Apabila reposisi spontan
tidak terjadi maka reposisi dilakukan dengan fiksasi K-wire. Operasi terbuka dengan

fiksasi rigid mempergunakan plate dan screw.


Fraktur distal radius
Fraktur distal radius dapat dibagi dalam fraktur Colles, fraktur Smith, dan fraktur Barton.
o Fraktur Colles

Pertama kali diutarakan oleh Abraham Colles. Merupakan jenis fraktur yang
paling sering ditemukan pada orang dewasa di atas usia 50 tahun dan lebih sering
pada wanita daripada pria.

- Mekanisme trauma
Fraktur terjadi bila terjatuh dalam posisi tangan out stretched pada orang tua
dengan tulang yang sudah osteoporosis.
Fraktur Colles terdiri atas fraktur radius 1 inci di atas pergelangan tangan,
angulasi dorsal fragmen distal, pergeseran ke dorsal dari fragmen distal, dan
fraktur prosesus stiloid ulna.

- Gambaran klinis
Terdapat riwayat trauma dengan pembengkakan pergelangan tangan pada orang
yang berumur lebih dari 50 tahun, nyeri dan deformitas berbentuk garpu.
Gambaran ini terjadi karena adanya angulasi dan pergeseran ke dorsal, deviasi
radial, supinasi, dan impaksi ke arah proksimal.
- Pengobatan

Fraktur tanpa pergeseran diobati dengan pemasangan gips sirkuler di bawah


siku, lengan bawah dalam keadaan pronasi, deviasi ulna, serta fleksi. Pada
fraktur dengan pergeseran fragmen dilakukan reposisi dengan pembiusan
umum atau lokal. Imobilisasi dengan gips dilakukan selama enam minggu dan
dilanjutkan dengan fisioterapi yang intensif.

o Fraktur Smith

Biasa disebut juga sebagai fraktur Colles terbalik. Fraktur jenis ini lebih sering
ditemukan pada pria daripada wanita. Fraktur Smith pertama kali dikemukakan
oleh R.W. Smith. Ditemukan deformitas dengan fragmen distal mengalami
pergeseran ke volar dimana garis fraktur tidak melalui persendian.
- Pengobatan
Fraktur Smith biasanya bersifat tidak stabil sehingga sebaiknya difiksasi
dengan plate buttress.
o Fraktur Barton

Merupakan fraktur pada radius distal dengan fragmen distal melalui sendi dan
terjadi pergeseran fraktur serta seluruh komponen sendi ke arah volar. Untuk
tatalaksananya, seperti pada fraktur Smith.
FRAKTUR FEMUR
Fraktur Proksimal Femur

Intracapsular fraktur termasuk femoral head dan leher femur


Capital
: uncommon
Subcapital
: common
Transcervical : uncommon
Basicervical : uncommon
Entracapsular
fraktur
termasuk
Intertrochanteric
Subtrochanteric

trochanters

Fraktur Leher Femur

Tingkat kejadian yang tinngi karena faktor usia yang merupakan akibat dari
berkurangnya kepadatan tulang

Fraktur leher femur dibagi atas intra- (rusaknya suplai darah ke head femur) dan extra(suplai darah intak) capsular. Diklasifikasikan berdasarkan anatominya. Intracapsular
dibagi kedalam subcapital, transcervical dan basicervical. Extracapsular tergantung dari
fraktur pertrochanteric

Sering ditemukan pada pasien yang mengkonsumsi berbagai


macam obat seperti corticosteroids, thyroxine, phenytoin and

furosemid
Kebanyakan hanya berkaitan dengan trauma kecil
Fraktur Intracapsular diklasifikasikan
o Grade I
: Incomplete, korteks inferior tidak sepenuhnya rusak
o Grade II
: Complete, korteks inferior rusak, tapi trabekulum tidak angulasi
o Grade III
: Slightly displaced, pola trabekular angulasi
o Grade IV
: Fully displaced, grade terberat, sering kali tidak ada kontinuitas
tulang

Fraktur Pada Batang Femur


Pada patah tulang diafisis femur biasanya pendarahan dalam cukup luas dan besar sehingga
dapat menimbulkan syok. Secara klinis penderita tidak dapat bangun, bukan saja karena nyeri,

tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur. Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi ke luar,
terlihat lebih pendek, dan bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat pendarahan ke dalam
jaringan lunak. Pertautan biasanya diperoleh dengan penanganan secara tertutup, dan normalnya
memerlukan waktu 20 minggu atau lebih.
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas
dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu
klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan
daerah yang patah.

Fraktur ini dibagi menjadi :


1. Tertutup
2. Terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah
dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;
Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya
diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.
Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar.
Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang
ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)
-

Gambaran Klinis

Penderita pada umumnya dewasa muda. Ditemukan pembengkakan dan deformitas


pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai dan mungkin
datang dalam keadaan syok.
-

Penatalaksanaan

A. Terapi konservatif
-

Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi definitif untuk
mengurangi spasme otot

Traksi tulang berimbang dengan bagian Pearson pada sendi lutut. Indikasi traksi terutama
yang bersifat kominutif dan segmental.

Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah terjadi union fraktur secara klinis
B. Terapi operatif

Pemasangan plate and screw terutama pada fraktur proksimal dan distal femur

Mempergunakan K-nail, AO-nail atau jenis-jenis lain baik dengan operasi tertutup
ataupun terbuka. Indikasi K-nail, AO-nail terutama pada fraktur diafisis.

Fiksasi eksternal terutama pada fraktur segmental, fraktur kominutif, infected


pseudoartrosis atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang hebat. 1

Gambar

Gambar

Comminuted mid-femoral shaft fracture

Femoral shaft fracture postinternal fixation.

Fraktur Distal Femur

Supracondylar
Nondisplaced
Displaced
Impacted
Continuited

Condylar
Intercondylar

FRAKTUR TIBIA DAN FIBULA


Fraktur tibia dan fibula dapat terjadi pada bagian proksimal (kondilus), diafisis atau persendian
pergelangan kaki.

Fraktur Kondilus Tibia

Fraktur kondilus tibia lebih sering mengenai kondilus lateralis daripada medialis serta fraktur
pada kedua kondilus
-

Mekanisme trauma

Fraktur kondilus lateralis terjadi karena adanya abduksi tibia terhadap femur dimana
kaki terfiksasi pada dasar, misalnya trauma sewaktu mengendarai mobil
-

Klasifikasi Sederhana (Adam)


1. Fraktur kompresi komunitif
2. Tipe depresi plateau

3. Fraktur oblik
-

Klasifikasi kompleks (Rockwod)


1. Fraktur yang tidak bergeser
2. Kompresi lokal
3. Kompresi split
4. Depresi total kondiler
5. Fraktur aplit
6. Fraktur komunitif

Fraktur tidak bergeser apabila depresi kurang dari 4mm, sedangkan yang bergeser
apabila depresi melebihi 4mm
-

Gambaran Klinis
Pada anamnesis terdapat riwayat trauma pada lutut, pembengkakan dan nyeri serta
hemartosi. Terdapat gangguan dalam pergerakan sendi lutut.

Pemeriksaan radiologis
Dengan foto rontgen posisi AP dan lateral dapat diketahui jenis fraktur, tetapi
kadang-kadang diperlukan pula foto oblik dan pemeriksaan laminagram.

Pengobatan
1. Konservatif
Pada fraktur yang tidak bergeser dimana depresi kurang dari 4mm dapat
dilakukan beberapa pilihan pengobatan, antara lain:
- Verban elastis
- Traksi
- Gips sirkuler

Prinsip pengobatan adalah mencegah bertambahnya depresi, tidak menahan beban


dan segera mobilisasi pada sendi lutus agar tidak terjadi kekauan sendi
2. Operatif
Depresi yang lebih dari 4 mm dilakukan operasi mengangkat bagian depresi dan
ditopang dengan bone graft. Pada fraktur split dapat dilakukan pemasangan screw
atau kombinasi screw dan plate untuk menahan bagian fragmen terhadap tibia.
- Komplikasi
1. Genu valgium ; terjadi oleh karena depresi yang tidak direduksi dengan baik
2. Kekakuan lutut ; terjadi karena tidak dilakukan latihan lebih awal
3. Osteoartritis ; terjadi karena adanya kerusakan pada permukaan sendi sehingga
bersifat ireguler yang menyebabkan inkonkruensi sendi lutut

Fraktur Kondilus Medialis


Sama seperti fraktur kondilus lateralis tetapi lebih jarang ditemukan
Fraktur Diafisis Tibia dan atau Fibula
Fraktur diafisis tibia dan fibula lebih sering ditemukan bersama-sama. Fraktur dapat juga
terjadi hanya pada tibia atau fibula saja.
- Mekanisme trauma
Fraktur diafisis tibia dan fibula terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan
menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma rotasi
akan menimbulkan fraktur tipe spiral. Fraktur tibia biasanya terjadi pada batas antara
1/3 bagian tengah dan 1/3 bagian distal sedangkan fraktur fibula pada batas 1/3
bagian tengah dengan 1/3 bagian proksimal, sehingga fraktur tidak terjadi pada
ketinggian yang sama. Tungkai bawah bagian depan sangat sedikit ditutupi otot

sehingga fraktur pada daerah tibia sering bersifat terbuka. Penyebab utama terjadinya
fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas.

- Gambaran klinis
Ditemukan gejala fraktur berupa pembengkakan, nyeri dan sering ditemukan
penonjolan tulang keluar kulut
- Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan lokasi fraktur, jenis fraktur, apakah
fraktur pada tibia dan fibula atau hanya pada tibia saja atau fibula saja. Juga dapat
ditentukan apakah fraktur bersifat segmental.
- Pengobatan
1. Konservatif
Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur dengan
manipulasi tertutup dengan pembiusan umum. Pemasangan gips sirkuler untuk
imobilisasi, dipasang sampai di atas lutut.
Prinsip reposisi:
o
o
o
o

Fraktur tertutup
Ada kontak 70% atau lebih
Tidak ada angulasi
Tidak ada rotasi

Apabila ada angulasi, dapat dilakukan koreksi setelah 3 minggu (union secara
fibrosa). Pada fraktur oblik atau spiral imobilisasi dengan gips biasanya sulit
dipertahankan, sehingga mungkin diperlukan tindakan operasi.
Cast bracing adalah teknik pemasangan gips sirkuler dengan tumpuan pada tendo
patella (gips Sarmiento) yang biasanya dipergunakan setelah pembengkakan mereda
atau telah terjadi union secara fibrosa.

2. Operatif
Terapi operatif dilakukan pada:
o
o
o
o

Fraktur terbuka
Kegagalan dalam terapi konservatif
Fraktur tidak stabil
Adanya malunion

Metode pengobatan operatif:


o
o
o
o
-

Pemasangan plate and screw


Nail intermeduker
Pemasangan screw semata-mata
Pemasangan fiksasi eksterna
Indikasi pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur tibia:
o Fraktur tibia terbuka grade II dan III terutama apabila terbuka kerusakan

jaringan yang hebat atau hilangnya fragmen tulang


o Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)
Komplikasi
1. Infeksi
2. Delayed union atau nonunion
3. Malunion
4. Kerusakan pembuluh darah (sindroma kompartemen anterior)
5. Trauma saraf terutama pada nervous peroneal komunis
6. Gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki. Gangguan ini biasanya disebabkan
karena adanya adhesi pada otot-otot tungkai bawah.

KESIMPULAN
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis,
baik yang bersifat total maupun parsial.
Diagnosis fraktur berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Pasien biasanya datang karena adanya nyeri yang terlokalisir dimana nyeri tersebut bertambah
bila digerakkan, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak,
krepitasi atau dengan gejala-gejala lain. Pada pemeriksaan fisik, perlu diperhatikan adanya syok,
anemia atau pendarahan, kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul, dan abdomen, dan faktor predisposisi
misalnya pada fraktur patologis. Pada pemeriksaan lokal dilakukan inspeksi (Look), palpasi
(Feel), pergerakan (Move), pemeriksaan neurologis , dan dilakukan pemeriksaan radiologis.
Penatalaksaan dari fraktur yaitu dengan reposisi, fiksasi, union dan rehabilitasi. Terdapat
berbagai komplikasi yagn didapatkan bila penanganan fraktur ini tidak adekuat diantaranya yaitu
malunion, delayed union maupun nonunion.

BAB I
PENDAHULUAN

Dislokasi sendi adalah tergesernya permukaan tulang yang membentuk persendian


terhadap tulang lainnya. Cedera pada sendi dapat mengenai bagian permukaan tulang yang
membuat persendian dan tulang rawannya, ligament, atau kapsul sendi rusak. Dari beberapa
penelitian diperkirakan sekitar 42.1 kejadian dislokasi dari 100.000 orang dan penyebab tersering
adalah akibat kecelakaan lalu-lintas (57.4%) diikuti dengan terjatuh (27.5%). Dislokasi yang
paling sering terjadi adalah dislokasi sendi bahu dan lebih sering terjadi pada laki-laki
dibandingkan pada perempuan. Dislokasi harus ditangani dengan segera karena penundaan
tindakan dapat menimbulkan nekrosis avaskular tulang persendian serta kekakuan sendi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Dislokasi adalah perpindahan suatu bagian. Dislokasi sendi atau disebut juga luksasio
adalah tergesernya permukaan tulang yang membentuk persendian terhadap tulang lainnya.
Dislokasi dapat berupa lepas komplet atau parsial , atau subluksasio.
B. KLASIFIKASI DISLOKASI
Klasifikasi dislokasi menurut penyebabnya adalah:
1. Dislokasi kongenital
Hal ini terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan seseorang, paling sering
terlihat pada daerah panggul (hip).
2. Dislokasi spontan atau patologik
Hal ini dapat terjadi akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi.
misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan
tulang yang berkurang.
3. Dislokasi traumatik
Dislokasi traumatik adalah suatu kedaruratan ortopedi, yang memerlukan
pertolongan segera. Hal ini membuat sistem vaskularisasi terganggu, susunan
saraf rusak dan serta kematian dari jaringan. Trauma yang kuat membuat tulang

keluar dari posisi anatomisnya dan mengganggu jaringan lain seperti merusak
struktur sendi, ligamen, saraf, dan sistem vaskular. Seringkali terjadi pada orang
dewasa. Bila tidak ditangani dengan segera dapat terjadi nekrosis avaskuler
(kematian jaringan akibat anoksia dan hilangnya pasokan darah) dan paralisis
saraf.

Dislokasi berdasarkan tipe kliniknya dapat dibagi menjadi :


1. Dislokasi Akut
Umumnya dapat terjadi pada bagian bahu, siku tangan dan panggul. Dislokasi ini
dapat juga disertai nyeri akut serta pembengkakan di sekitar sendi.
2. Dislokasi Berulang
Jika suatu trauma pada daerah dislokasi sendi diikuti oleh frekuensi berulang,
maka dislokasi akan berlanjut dengan trauma yang minimal, hal disebut dislokasi
berulang. Umumnya terjadi pada sendi bahu (shoulder joint) dan sendi
pergelangan kaki atas (patello femoral joint). Dislokasi berulang biasanya sering
dikaitkan dengan fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang
patah akibat dari kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

Dislokasi berdasarkan daerah anatomis


1. Dislokasi sendi bahu (shoulder joint)
Dislokasi yang sering terjadi pada atlet adalah dislokasi sendi bahu dan sendi
panggul. Sendi dapat menjadi macet karena tergeser dari posisi anatomisnya, selain
itu juga akan terasa nyeri. Ligamen-ligamen pada sendi yang pernah mengalami
dislokasi biasanya menjadi kendor, sehingga sendi tersebut memiliki kemungkinan
untuk mengalami dislokasi kembali.

Anatomi sendi bahu


Secara anatomi sendi bahu merupakan sendi peluru (ball and socket joint) yang
terdiri atas bonggol sendi dan mangkuk sendi. Cavitas sendi bahu sangat dangkal,
sehingga memungkinkan seseorang dapat menggerakkan lengannya secara leluasa
dan melaksanakan aktifitas sehari-hari. Namun struktur yang demikian akan
menimbulkan ketidakstabilan sendi bahu dan seringkali menimbulkan gangguan pada
bahu.
Sendi bahu merupakan sendi yang komplek pada tubuh manusia dibentuk oleh
tulang-tulang yaitu skapula (shoulder blade), klavikula (collar bone), humerus (upper
arm bone) dan sternum. Darah persendian bahu mencakup empat sendi, yaitu sendi
sternoclavicular,

sendi

glenohumeral,

sendi

acromioclavicular,

dan

sendi

scapulothoracal.

Gambar 3. Anatomi Sendi Bahu


Dislokasi biasanya disebabkan karena terjatuh yang bertumpu pada tangan dan
bahu, humerus. Pada dislokasi berulang, labrum dan kapsul sering terlepas dari
lingkar anterior glenoid.

Klasifikasi Dislokasi Bahu

Gambar 4. Klasifikasi Sendi Bahu

Dislokasi Anterior
Dislokasi preglenoid, subcoracoid, subclaviculer. Paling sering ditemukan jatuh
dalam keadaan out stretched atau jatuh yang menyebabkan rotasi eksternal bahu
atau cedera akut karena lengan dipaksa beraduksi, dan ekstensi. Trauma pada
scapula memiliki gambaran klinis nyeri hebat dengan gangguan pergerakan bahu,
kontur sendi bahu rata, kaput humerus bergeser ke depan yang ditemukan pada
pemeriksaan radiologis.
Manifestasi
Penderita biasanya menyangga lengan yang cedera pada bagian siku dengan
menggunakan tangan sebelahnya. Lengan dalam posisi abduksi ringan selain itu
kontur terlihat squared off dan penderita mengeluh sangat nyeri.
Pada dislokasi sendi bahu anterior dapat dilakukan beberapa traksi untuk
mereposisi sendi yang telah mengalami dislokasi, antara lain:

1. Teknik Cooper-Milch
a. Dibawah conscious sedation, tempatkan penderita pada posisi supine dengan
siku fleksi 90.
b. Luruskan siku dan dengan sangat perlahan pindahkan lengan pada posisi
abduksi penuh yang ditahan pada traksi lurus dimana seorang asisten

mengaplikasikan tekanan yang lembut pada sisi medial dan inferior dari
humeral head.
c. Adduksi lengan secara bertahap.
d. Pasang collar dan cuff, kemudian lakukan X-ray post reduksi.

Gambar 5. Teknik Cooper-Milch

2. Teknik Stimsons
Metode yang memanfaatkan gaya gravitasi, yang sering dilakukan pada ED yang
sangat sibuk.
a. Berikan analgesic IV dimana penderita berbaring pada posisi pronasi dengan
lengan tergantug di sebelah trolley dengan beban seberat 2,5-5 g tertarik pada
lengan tersebut.
b. Perlahan setelah 5-30 menit, lakukan rotasi relokasi bahu.
c. Pasang collar dan cuff, periksa X-ray post reduksi.

Gambar 6. Teknik Stimson

3. Teknik Hipocrates
a. Reposisi dilakukan dengan menggunakan general anestesi.
b. Lengan pasien ditarik kea rah distal punggung dengan sedikit abduksi,
sementara kaki penolog berada diketiak pasien untuk mengungkit kaput
humerus ke arah lateral dan posterior.
c. Setelah reposisi, bahu dipertahankan dalam posisi endorotasi dengan penyangga
ke dada selama paling sedikit 3 minggu.
d. Pasang collar dan cuff, periksa X-ray post reduksi.

Gambar 7. Teknik Hipocrates


4. Teknik Kocher
Penderita ditidurkan di atas meja. Penolong melakukan gerakan yang dapat dibagi
menjadi 4 tahap :
a. Tahap 1 : dalam posisi siku fleksi, penolong menarik lengan atas ke arah distal.
b. Tahap 2 : dilakukan gerakan eksorotasi dari sendi bahu.
c. Tahap 3 : melakukan gerakan adduksi dan fleksi pada sendi bahu.
d. Tahap 4 : melakukan gerakan endorotasi sendi bahu.
Setelah tereposisi, sendi bahu difiksasi dengan dada dengan menggunakan verban
dan lengan bawah digantung dengan sling (mitella) selama 3 minggu.
5. Teknik Countertraction
Bermanfaat sebagai sebuah maneuver back-up ketika cara-cara diatas gagal.
a. Dibawah conscious sedation, tempatkan pasien berbaring supine dan tempatkan
rolled sheet di bawah aksila dari bahu yang terkena.
b. Abduksi lengan sampai 45 dan aplikasikan sustained in line traction sementara.
Asisten memasang traksi pada arah yang berlawanan menggunakan rolled sheet.
c. Setelah relokasi, pasang collar dan cuff, periksa X-ray post reduksi.
d. Penempatan : klinik ortopedik setelah 3 hari.

6. Teknik Spaso
Walaupun teknik ini tidak dikenal secara luas, tetapi dianggap bahwa metode ini
merupakan metode yang paling mudah dilakukan dengan angka keberhasilan yang
tinggi.
a. Dibawah conscious sedation, letakkkan lengan yang sakit di dinding dada.
b. Fleksikan lengan pada bahu, dan lakukan rotasi eksternal secara simultan. Pada
kebanyakan kasus, sebelum bahu mencapai fleksi ke depan 90, akan terdengar
bunyi clunk, dan head humerus telah kembali pada posisinya.
c. Adduksi lengan
d. Pasang collar dan cuff, periksa X-ray post reduksi.

Dislokasi Posterior
Biasanya trauma langsung pada sendi bahu dalam keadaan rotasi interna, serta
terjulur atau karena hantaman pada bagian depan bahu, selain itu dapat juga

terkait dengan adanya kontraksi otot saat kejang atau cedera akibat tersetrum
listrik.
Manifestasi
Lengan dalam posisi rotasi internal dan adduksi. Penderita merasakan nyeri dan
dapat terjadi penurunan pergerakan dari sendi bahu.

Dislokasi Inferior
Pada luksasio erecta, posisi lengan atas dalam posisi abduksi, kepala humerus
terletak di bawah glenoid, terjepit pada kapsul yang robek. Karena kerobekan
kapsul sendi lebih kecil disbanding kepala humerus, maka sangat susah kepala
humerus ditarik keluar, hal ini disebut efek lubang kancing (Button hole effect).
Pengobatan dapat dilakukan dengan melakukan reposisi tertutup seperti dislokasi
anterior, jika gagal dilakukan reposisi terbuka dengan operasi.

Manifestasi Klinis
Abduksi lengan atas dengan posisi hand over head. Selain itu, hilangnya kontur
bulat dari bahu.
2. Dislokasi sendi siku tangan (elbow joint)
Cedera biasanya digolongkan berdasarkan arah pergeserannya, tetapi pada 90%
dislokasi siku, kompleks radioulna bergeser ke posterior atau ke posterolateral, sering
bersama-sama dengan fraktur pada prosessus tulang.
Penyebab dislokasi posterior biasanya terjatuh pada posisi tangan yang terentang
dengan posisi siku dalam ekstensi. Begitu teerjadi dislokasi posterior, pergeseran
lateral juga dapat terjadi. Banyak terjadi kerusakan jaringan lunak: kapsul anterior
dan otot brakhialis robek, ligamen kolateral terentang atau mengalami ruptur, dan
saraf serta pembuluh sekelilingnya mungkin dapat mengalami kerusakan.
Pasien menyangga lengan bawahnya dengan siku yang sedikit berfleksi. Kalau
pembengkakan tidak hebat, deformitas jelas terlihat. Terdapat nyeri spontan, nyeri

sumbu dan gerak abnormal sangat terbatas pada posisi kurang lebih 30. Pada
pemeriksaan dorsal siku, didapat perubahan pada segitiga sama kaki yang dibentuk
oleh olecranon, epikondilus lateral, dan epikondilus medial. Segitiga yang noral sama
kaki berubah menjadi segitiga yang tidak sama kaki. Olecranon dapat teraba di bagian
belakang.
Anatomi
Elbow atau siku dibentuk oleh tiga tulang yaitu distal humeri, proksimal ulnar dan
proksimal radius.

Os Humerus
Os humerus merupakan tulang terpanjang pada anggota gerak atas. Ujung atas
os humerus terdiri dari sebuah caput humeri yang membuat persendian dengan
rongga glenoidalis scapula dan merupakan bagian dari persendian bahu. Di
bagian bawah kaput terdapat bagian yang ramping di sebut collum anatomicum
dan di sebelah luar terdapat tuberositas mayor serta bagian dalam terdapat
tuberositas minor. Di antara kedua tuberositas terdapat celah, yaitu sulcus
intertubercularis.
Pada batang os humerus terdapat tuberositas deltoid, yaitu tempat melekatnya
insersio otot deltoideus. Di sebelah dorsal dari tuberositas deltoid terdapat
sulcus yang membelit disebut sulcus nerve radialis.
Pada ujung bawah os humerus terdapat permukaan sendi yang berhubungan
dengan tulang lengan bawah. Trochlear yang terletak di sebelah sisi dalam
tempat persendian os ulna dan sisi luar terdapat caspitulum yang bersendian
dengan os radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah os humerus terdaapat

dua epicondylus, yaitu epindocylus lateral dan medial


Os Radius
Tulang radius terletak di sisi lateral pada lengan bawah dan merupakan tulang
yang lebih pendek dibandingkan dengan os ulna. Os radius mempunyai batang
dan dua ujung atas, yaitu kaput yang berbentuk kancing. Di bagian bawah

terdapat tuberositas radii.


Os Ulna
Tulang ulna terletak di sisi medial pada lengan bawah yang terdiri atas sebuah
batang dan dua ujung. Ujung os ulna masuk dalam persendian siku yang disebut
prosessus olecranon. Prosessus ini menonjol ke atas di sebelah posterior dan

masuk ke dalam fossa olecrani os humerus. Prosessus koronoideus os ulna


menonjol di depannya dan tempat masuk di dalam fossa coronoid os humerus,
bila siku dibengkokkan.
Batang os ulna semakin ke bawah semakin mengecil dan memberi kaitan pada
otot yang mengendalikan gerak sendi pergelangan tangan dan jari-jari. Ujung
bawah os ulna terdiri dari caput ulna yang bersendian dengan os radius dan
prosessus styloideus yang menonjol ke bawah.
Untuk menghubungkan tulang humerus dengan tulang ulna dan radius, maka
diperkuat oleh ligamentum-ligamentum yang terletak pada sendi siku.

Ligamen-ligamen itu terdiri dari


Ligamen collateral ulnare yaitu ligamen yang berasal dari epicondylus medial
humerus dan memperkuat sendi humeroulnaris di sisi medial.
Ligamen collateral radial yaitu ligamen yang terbentang dari epicondylus lateral
humeri ke ligamen anular radii menuju os ulna dan memperkuat sendi
humeroradial di sisi lateral.
Ligamen anular radii yaitu ligamen yang bersama dengan ligamen collateral radial
menahan capitulum humeri pada tempatnya.

8. Anatomi Sendi Siku


Elbow joint terdiri atas 3 sendi, yaitu : humeroulnar joint, humeroradial joint, dan
proximal radioulnar joint. Ketiga sendi tersebut dibungkus oleh kapsul sendi yang
sama. Tulang yang membentuk elbow dan forearm adalah os humerus bagian distal,
os radius dan os ulna. Elbow joint diperkuat oleh ligamen collateral radial/lateral dan
ligamen collateral ulnar/medial serta ligamen annulare.

Artikulasio Humeroradialis
Persendian ini dibentuk oleh capitulum humeri dan fovea capitulum radii.
Gerakan yang terjadi adalah fleksi dan ekstesi sendi siku, terjadi pada bidang
gerak sagittal dengan axisnya frontal, serta mempunyai lingkup gerak sendi 0

145.
Artikulasio Humeroulnaris
Humeroulnar joint merupakan sendi berbentuk hinge (engsel) dengan trochlea
humeri yang ovular bersendi dengan fossa trochlearis ulna. Permukaan trochlea
humeri menghadap ke arah anterior dan bawah membentuk sudut dari shaft
humeri. Fossa trochlearis ulna menghadap ke atas dan anterior membentuk sudut
45 dari ulna. Pada umumnya, bagian posterior sulcus trochlearis tampak berjalan
vertikal tetapi pada bagian posterior tampak berjalan oblique sehingga pada saat
ekstensi penuh akan terbentuk kea rah distal lateral carrying angle pada lengan
(Normal = 15).
Gerak utama pada sendi ini adalah fleksi-ekstensi (fossa yang konkaf slide dalam
arah yang sama dengan gerak ulna). Sendi ini paling stabil pada close pack
position ekstensi elbow. Untuk mencapai ROM penuh, maka gerak fleksi selalu
disertai varus angulasi (lateral slide) dan gerak ekstensi selalu disertai valgus
angulasi (medial slide).
Gerak arthrokinematika pada humeroulnar joint adalah gerak slide mengikuti
gerak angular tulang. Gerakan yang terjadi adalah fleksi dan ekstensi sendi siku.

Terjadi pada bidang gerak sagittal dengan aksisnya frontal, serta mempunyai
lingkup gerak sendi 0-145.

Artikulasio Radioulnaris
Persendian ini dibentuk oleh kepala dari radius dengan ulna. Sendi ini bergerak
secara simultan dengan proksimal radioulnar joint. Saat gerak pronasi-supinasi,
fossa ulnaris radii yang konkaf bergerak slide dalam arah yang sama dengan gerak
tulang.

3. Dislokasi pergelangan tangan (wrist joint)


Cedera pergelangan tangan banyak terjadi di antara para atlet olahraga. Evaluasi
awal pada cedera pergelangan tangan untuk menentukan pengobatan seawal mungkin
seringkali dilakukan oleh dokter dan praktisi medis. Dislokasi pergelangan tangan
perlu disadari lebih awal dan segera dirujuk untuk mencegah terjadinya komplikasi
lebih lanjut, seperti sakit yang berkepanjangan dan perlunya suatu tindakan operasi
untuk pengobatannya.
Anatomi pergelangan tangan
Pergelangan tangan disusun oleh beberapa bagian yang terdiri dari tulang radius
dan tulang ulna bagian distal, 8 tulang karpal, dan tulang-tulang metakarpal bagian
proksimal. Tulang karpal bagian distal terdiri dari beberapa tulang berikut : hamate,
capitate, trapezoid, dan trapezium, sedangkan bagian proksimal terdiri dari tulang
berikut: scaphoid, lunate, triquetrum, dan pisiform.
Tulang-tulang karpal kemudian saling diikat satu dengan yang lainnya oleh satu
set kompleks ligamen, termasuk ligamen interosseous, ligamen volar, ligamen dorsal,
dan sebuah komplek fibrikartilago yang berbentuk segitiga mempunyai nama lain
TFC. Ligamen dorsal lebih lemah dibandingkan ligamen volar, sehingga dislokasi
lebih sering terjadi pada bagian tersebut.

Gambar 9. Anatomi Pergelangan Tangan


Tulang-tulang karpal berfungsi sebagai penghubung antara tangan dan tubuh
bagian atas. Suatu stress yang berulang terus menerus pada ligamen karpal membuat
lebih rentan cedera, hal ini sering terjadi pada atlet. Olahraga seperti orang yang
sering bermain skateboard dan juga pemain sepak bola, umumnya mengalami cedera
tersebut. Contoh lain adalah atlet yang mempunyai risiko jatuh dari ketinggian,
seperti pesenam.
Meskipun cedera lebih sering terjadi pada benturan yang sangat keras, ada
beberapa laporan yang mengatakan bahwa benturan yang ringan pun dapat
menyebabkan cedera pada beberapa orang.
Mekanisme cedera pada kasus ini biasanya terjadi pada seseorang yang jatuh dari
ketinggian dan pergelangan tangan dalam posisi hiperekstensi. Benturan yang keras
adalah yang paling sering menjadi penyebab umum pada cedera jenis ini. Bagian
distal tulang karpal umumnya berdislokasi dari bagian dorsal ke baris proksimal.
Dislokasi ini terjadi sebagai akibat dari patah tulang skafoid atau dislokasi dari sendi
scapholunate, dan jika tekanannya lebih parah, dislokasi tulang perilunate dapat
terjadi. Trans-skafoid perilunate fraktur-dislokasi lebih sering terjadi daripada
dislokasi tulang perilunate. Mayfield dan kawan-kawan telah mengklasifikasikan
dislokasi pergelangan tangan menjadi beberapa tingkatan, antara lain sebagai berikut
(lihat gambar dibawah ini):

Stage I dislokasi scapholunate akibat sobekan pada ligament interoseus

scapholunate dan ligament radiolunate.


Stage II subluksasi sendi Lunate-capitate yang diakibatkan dari cederanya

sendi capitolunate.
Stage III dislokasi sendi Lunate-capitate yang akibat terdapatnya cedera pada

ligamen interoseus triquetrolunate.


Stage IV dislokasi tulang lunate yang akibat terdapatnya cedera pada ligamen
radioulnate bagian dorsal.

4. Dislokasi sendi panggul (hip joint)


Dislokasi panggul dapat terjadi ketika caput femur keluar dari daerah acetabulum
(socket) pada pelvis. Dislokasi ini dapat terjadi apabila daerah tersebut mengalami
benturan keras seperti pada kecelakaan mobil ataupun jatuh dari ketinggian tertentu.
Pada kecelakaan mobil, dimana akibat terbenturnya lutut membentur dashboard
sehingga terjadi deselerasi yang cepat dan tekanan dihantarkan dari femur ke panggul.
Kadang dislokasi pada sendi panggul ini juga dapat disertai adanya fraktur. Dislokasi
pada sendi panggul merupakan jenis dislokasi yang amat serius dan membutuhkan
penanganan yang cepat. Diagnosis dan terapi yang tepat untuk menghindari akibat
jangka panjang dari hal ini yaitu nekrosis avaskuler dan osteoarthritis.

Gambar 10. Dislokasi Sendi Panggul

Anatomi Panggul
Sendi panggul atau articulation coxae adalah persendian antara caput femoris
yang berbentuk hemisphere dan acetabulum os coxae yang berbentuk mangkuk
dengan tipe ball and socket. Permukaan sendi acetabulum berbentuk tapal kuda dan
di bagian bawah membentuk takik disebut incisura acetabula. Rongga acetabulum
diperdalam dengan adanya fibrokartilago dibagian pinggirnya yang disebut sebagai
labrum acetabuli. Persendian ini dibungkus oleh capsula dan melekat di medial pada
labrum acetabuli.
Simpai sendi jaringan ikat di sebelah depan diperkuat oleh sebuah ligamentum
yang kuat dan berbentuk Y, yakni ligamentum ileofemoral yang melekat pada SIAI
dan pinggiran acetabulum serta pada linea intertrochanterica di sebelah distal.
Ligamentum ini mencegah ekstensi yang berlebihan sewaktu berdiri. Di bawah sipai
tadi diperkuat oleh ligamentum pubofemoral yang berbentuk segitiga. Dasar
ligamentum melekat pada ramus superior ossis pubis dan apex melekat dibawah pada
bagian bawah linea intertrochanterica. Ligamentum ini membatasi membatasi
gerakan ekstensi dan abduksi. Di belakang simpai ini diperkuat oleh ligamentum
ischiofemorale yang berbentuk spiral dan melekat pada corpus ischium dekat margo
acetabula.
Ligamentum ini mencegah terjadinya hiperekstensi dengan cara memutar caput
femoris ke arah medial ke dalam acetabulum sewaktu diadakan ekstensi pada
articulation coxae. Ligamentum teres femoris berbentuk pipih dan segitiga.
Ligamentum ini melekat melalui puncaknya pada lubang yang ada di caput femoris
dan melalui dasarnya pada ligamentum transversum dan pinggir incisura acetabula.
Ligamentum ini terletak pada sendi dan dibungkus membrane synovial.
Sistem vaskularisasi pada sendi panggul berasal dari cabang arteria circumflexa
femoris lateralis dan arteria circumflexa femoris medialis dan arteri untuk kaput
femoris, cabang arteria obturatoria. Sendi panggul juga dipersarafi oleh nervus
femoralis yang memberi percabangan ke muskulus rectus femoris, nervus
obturatorius atau pada bagian anterior sementara nervus ischiadicus mempersarafi
pada daerah muskulus quadratus femoris dan sendi panggul juga dipersarafi oleh
nervus gluteus superior.

Gambar 11. Anatomi Panggul


Dislokasi sendi panggul terbagi menjadi dua yaitu dislokasi anterior dan dislokasi
posterior tergantung berat atau tidaknya trauma tersebut.
1. Dislokasi Posterior 90% dislokasi ini terjadi pada daerah panggul, dimana tulang
femur terdorong keluar dari socket atau acetabulum arah ke belakang (backward
direction). Dislokasi posterior ditandai dengan pergelangan kaki atas (tulang femur)
yang berotasi interna dan adduksi, panggul dalam posisi fleksi namun pada bagian
lutut serta pergelangan kaki bawah justru pada posisi yang berkebalikan. Biasanya
disertai juga dengan penekanan dari nervus ischiadicus.
2. Dislokasi Anterior (Obturator Type) Dislokasi ini sering disebabkan tekanan
hiperekstensi melawan tungkai yang abduksi sehingga caput femur terangkat dan
keluar dari acetabulum, caput femur terlihat di depan acetabulum socketnya dengan
arah maju ke depan (forward direction) sehingga daerah panggul mengalami
abduksi dan rotasi eksterna menjauhi dari bagian tengah tubuh.

3. Dislokasi Sentral terjadi apabila kaput femur terdorong ke dinding medial


acetabulum

pada

rongga

panggul,

namun

kapsul

tetap

utuh.

Terdapat

pembengkakan di daerah tungkai proksimal tetapi posisi tetap normal, nyeri tekan
pada daerah trochanter, dan gerakan sendi panggul menjadi terbatas.

Klasifikasi Dislokasi Sendi Panggul Anterior menurut Epstein yaitu :


Tipe 1 : Dislokasi superior termasuk pubis dan subspinosa
1A Tidak terdapat fraktur
1B Terdapat fraktur atau impaksi dari caput femur
1C Terdapat fraktur dari acetabulum
Tipe 2 : Dislokasi inferior termasuk obturator dan perineal
2A Tidak terdapat fraktur
2B Terdapat fraktur atau impaksi dari caput femur
2C Terdapat fraktur acetabulum
Congenital Hip Joint Dislocation
Dislokasi panggul kongenital merupakan suatu fase ketidakstabilan sendi panggul
pada bayi baru lahir. Dalam keadaan normal, panggul bayi baru lahir dalam keadaan
stabil dan sedikit fleksi. Insidensi ketidakstabilan adalah 5-20 per 1000 kelahiran
hidup, namun biasanya panggul menjadi stabil secara spontan dan dengan
pemeriksaan ulang 3 minggu setelah kelahiran insidensi berkurang menjadi 1-3 per
1000 kelahiran hidup. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya faktor
genetik, faktor hormonal yaitu tingginya kadar estrogen, progesterone, dan reaksi lain
pada ibu dalam beberapa minggu terakhir kehamilan dapat memperlonggar
ligamentum pada bayi, malposisi intrauterine (terutama posisi bokong dengan kaki
yang ekstensi) dapat mempermudah terjadinya dislokasi hal ini berhubungan dengan
lebih tingginya insidensi pada bayi yang merupakan anak sulung dimana versi
spontan kemungkinan untuk terjadinya lebih kecil, serta faktor pasca kelahiran.
Dislokasi sendi panggu secara kongenital memiliki gambaran klinis yaitu asimetri
pada lipatan-lipatan kulit paha. Pemeriksaan klinik untuk mengetahui dislokasi
panggul bawaan pada bayi baru lahir adalah uji Ortolani, uji Barlow, dan terdapatnya
tanda Galleazi.

Gambar 12. Foto Rontgen Dislokasi Sendi Panggul


5. Dislokasi sendi lutut (kneecap joint)
Dislokasi patella paling sering disebabkan oleh robeknya ligamen yang berfungsi
untuk menstabilkan dari sendi lutut tersebut. Ligamen yang paling sering mengalami
cedera dalam hal ini yaitu ligamentum krusiatum, dimana hal ini dapat terjadi ketika
bagian lateral dari lutut mengalami suatu tekanan atau benturan keras. Padahal
ligamen ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk penyembuhannya. Dislokasi
sendi lutut atau patella ini dapat menyebabkan cederanya otot quadriceps, yang akan
memperparah dalam hal ini terutama bila terjadi efusi pada bagian lutut atau dalam
keadaan terlalu cepat melakukan pemanasan, dan terlalu cepat untuk kembali
melakukan suatu aktivitas (olahraga). Dislokasi pada sendi lutut jarang terjadi. Hal ini
terjadi akibat trauma yang cukup besar seperti terjatuh, tabrakan mobil, dan cedera
yang terjadi secara cepat. Bila sendi lutut mengalami dislokasi, maka akan terlihat
terjadinya deformitas. Bentuk dari kaki akan terlihat bengkok atau mengalami
angulasi. Kadang dislokasi pada sendi lutut ini akan mengalami relokasi secara
sendiri. Lutut dalam hal ini akan menjadi sangat bengkak dan sakit.

Anatomi
Sendi lutut dibentuk oleh epifisis distalis tulang femur, epifisis proksimalis, tulang
tibia dan tulang patella, serta mempunyai beberapa sendi yang terbentuk dari tulang
yang berhubungan, yaitu antar tulang femur dan patella disebut articulatio patella
femoral, antara tulang tibia dengan tulang femur disebut articulatio tibio femoral dan

antara tulang tibia dengan tulang fibula proksimal disebut articulatio tibio fibular
proksimal.
Sendi lutut merupakan suatu sendi yang disusun oleh beberapa tulang, ligamen
beserta otot, sehingga dapat membentuk suatu kesatuan yang disebut dengan sendi
lutut atau knee joint.

Gambar 14. Anatomi Sendi Lutut

Anatomi sendi lutut terdiri dari:


1. Tulang pembentuk sendi lutut antara lain:
a. Tulang femur
Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar di dalam tulang kerangka pada
bagian pangkal yang berhubungan dengan acetabulum membentuk kepala sendi
yang disebut kaput femoris. Di sebelah atas dan bawah dari columna femoris

terdapat taju yang disebut trochanter mayor dan trochanter minor, di bagian ujung
membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang disebut condyles
medialis dan condyles lateralis, di antara kedua condyles ini terdapat lekukan
tempat letaknya tulang tempurung lutut (patella) yang disebut dengan fossa
condyles.
b. Tulang tibia
Tulang tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal melekat pada os fibula,
pada bagian ujung membentuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan
terdapat taju yang disebutnos malleolus medialis.
c. Tulang fibula
Merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang membentuk
persendian lutut dengan os femur pada bagian ujungnya. Terdapat penonjolan
yang disebut os maleollus lateralis atau mata kaki luar.
d. Tulang patella
Jarak patella dengan tibia saat terjadi gerakan adalah tetap dan yang berubah
hanya jarak patella dengan femur. Fungsi patella di samping sebagai perekatan
otot-otot atau tendon adalah sebagai pengungkit sendi lutut. Pada posisi fleksi
lutut 90, kedudukan patella di antara kedua condyles femur dan saat ekstensi
maka patella terletak pada permukaan anterior femur.

2. Ligamentum pembentuk sendi lutut

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Gambar 15. Susunan Ligamen Sendi Lutut


Susunan ligamen sendi lutut, yaitu:
Ligamentum krusiatum anterior
Meniscus lateralis
Ligamen collateral fibula
Ligamen capitis fibula posterior
Caput fibula
Femur, condyles medial
Ligamen meniscofemorale posterior
Ligamen collateral tibia
Ligamen popliteum obliqum
Ligamen cruciatum posterior

6. Dislokasi sendi pergelangan kaki (ankle joint)


Dislokasi pergelangan kaki (ankle) adalah suatu kondisi dimana rusaknya dan
robeknya jaringan konektif di sekitar pergelangan kaki disertai dengan berubahnya
posisi tulang dalam suatu daerah persendian. Pergelangan kaki terdiri dari dua tulang
yaitu tulang fibula dan tibia yang berdampingan. Kedua tulang ini turut membangun
persendian pada pergelangan kaki. Sendi pergelangan kaki terdiri atas kapsul sendi
dan beberapa ligamen yang membantu kestabilan dari persendian. Dalam
pergerakannya, stretching atau pemanasan yang berlebihan dapat merusak dari
jaringan konektif yang ada, sehingga tulang pada persendian ini dapat keluar dari
posisi normalnya atau mengalami dislokasi.

Gambar 16. Dislokasi Pergelangan Kaki

Dislokasi pergelangan kaki biasanya terjadi akibat trauma atau terjadi dorongan yang
keras terhadap tulang pergelangan sehingga terpisah. Hal ini dapat terjadi akibat benturan
langsung, kecelakaan motor atau pun cedera berat pada pergelangan tersebut (severe
sprain). Mekanisme dari dislokasi ini terjadi sebagai kombinasi dari posisi plantar flexi
pada bagian pergelangan kaki namun kaki juga mengalami baik inversi maupun eversi
agar dapat menahan beban.
Seseorang dengan dislokasi pada pergelangan kakinya biasanya akan merasakan nyeri
yang sangat hebat ketika mengalami cedera. Nyeri tersebut bahkan dapat membuat pasien
tidak dapat melakukan aktivitas serta menahan beban sama sekali. Nyeri biasanya
dirasakan pada bagian pergelangan kaki namun dapat terjadi penjalaran nyeri pada bagian
kaki sekitarnya. Nyeri sendiri dapat dirasakan ketika bagian pergelangan kaki tersebut
disentuh. Selain nyeri didapatkan juga bengkak dalam hal ini. Pergerakan dari sendi lutut
ini juga akan semakin terbatas akibat membengkaknya daerah sendi dalam hal ini. Mati
rasa atau kebas dan kesemutan juga dapat dirasakan pada bagian

Anatomi
Sendi ini merupakan modifikasi hinge joint. Sendi ini dibentuk oleh ujung distal
tibia, fibula dan talus (trochlea tali). Ujung distal tibia dan fibula membentuk
bangunan seperti garpu yang diperkuat oleh ligamentum tibiofibularis anterior dan
posterior. Tulang talus terletak persis ditengah garpu tersebut. Maleollus lateralis
lebih panjang dibandingkan dengan maleollus medialis.
Pada bagian medial sendi ini diperkuat oleh ligamentum deltoid atau ligamentum
collaterale mediale, yang terdiri dari empat buah ligamentum, yaitu :

Ligamentum tibionaviculare
Ligamentum tibiotalare posterior
Ligamentum tibiotalare anterior
Ligamentum tibiocalcaneare

Pada lateral sendi ini diperkuat oleh ligamentum T yang terdiri dari :

Ligamentum talofibulare anterior


Ligamentum talofibulare posterior
Ligamentum calcaneofibulare

Gerakan yang terjadi pada sendi ini yaitu dorsal fleksi dan plantar fleksi. Dalam
keadaan normal, plantar fleksi ini bias dilakukan sampai punggung kaki segaris
dengan permukaan depan tungkai bawah. Dengan demikian, ROM plantar fleksi
normal adalah 90. Dari jumlah tersebut sendi pergelangan kaki ini hanya memberi
andil sejumlah 45. Dorsal fleksi mempunyai ROM +20 dari posisi netral. Posisi
netral kaki adalah apabila posisi kaki membentuk sudut 90 dengan tungkai bawah.
Gerakan plantar fleksi dihambat oleh ligamentum-ligamentum yang berjalan dari
maleollus bagian depan ke punggung kaki yaitu ligamentum talofibulare anterior,
tibiotalare anterior dan ligamentum tibionaviculare.
Gerakan dorsal fleksi terutama dihambat oleh tendon Achilles. Selain itu, karena
trochlea tali bagian anterior lebih lebar daripada bagian posterior sehingga pada saat
gerakan dorsal fleksi, trochlea tali bagian anterior ini terjepit rapat di antara kedua
maleollus sehingga tidak memungkinkan untuk bergerak ke dorsal fleksi lebih lanjut.

C. PEMERIKSAAN
1. Anamnesis
Pada anamnesis perlu ditanyakan mengenai adanya riwayat trauma, bagaimana
mekanisme terjadinya trauma, apakah terasa ada sendi yang keluar, bila trauma
minimal, hal ini dapat terjadi pada dislokasi rekuren atau habitual.
2. Pemeriksaan Fisik
Look
a) Tampak adanya perubahan kontur sendi pada ekstremitas yang mengalami
dislokasi
b) Tampak perubahan panjang ekstremitas pada daerah yang mengalami dislokasi
c) Tampak adanya perubahan warna pada daerah yang mengalami dislokasi sendi
Feel
Didapatkan nyeri tekan pada daerah sendi yang cedera.
Move

Akan terlihat keterbatasan pada pergerakan sendi baik pada pergerakan sendi secara
aktif maupun pasif serta ketidakstabilan pada pergerakan pasien serta dinilainya
kekuatan otot pada daerah persendian.
Selain itu, perlu juga dilakukan pemeriksaan neurologis pada daerah persendian yang
mengalami cedera untuk mengetahui apakah terdapat cedera persarafan pada daerah
tersebut yang dapat menjadi komplikasi dini dari dislokasi.
3. Pemeriksaan Penunjang
a) X-Ray : dilakukan pemeriksaan berupa foto rontgen pada daerah persendian yang
mengalami cedera, hal ini juga dilakukan guna memastikan apakah terdapat
fraktur pada tulang di daerah persendian. Bisa juga dilakukan pemeriksaan
radiologi melalui CT-Scan ataupun MRI.

Gambar 17. Foto Rontgen Dislokasi


b) Arteriogram : hal ini dilakukan untuk melihat apakah terdapat cedera pada
pembuluh darah di daerah persendian yang mengalami dislokasi.

D. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada seseorang dengan dislokasi diantaranya
1) Cedera pada saraf yang dapat menyebabkan kelemahan pada daerah otot yang
dipersarafi.
2) Cedera pada pembuluh darah di tulang, bahkan dapat menyebabkan avaskuler
nekrosis (osteonekrosis).
3) Fraktur dislokasi, yang akan semakin memperburuk keadaan dari pasien

E. PENATALAKSANAAN
1. Relokasi : Penanganan yang dilakukan pada saat terjadi dislokasi adalah melakukan
reduksi ringan dengan cara menarik persendian yang bersangkutan pada sumbu
memanjang. Tindakan reposisi ini dapat dilakukan di tempat kejadian tanpa
anastesi. Namun tindakan reposisi tidak bisa dilakukan dengan reduksi ringan,
maka diperlukan reposisi dengan anastesi lokal dan obat obat penahan rasa sakit.
Reposisi tidak dapat dilakukan jika penderita mengalami rasa nyeri yang hebat,
disamping tindakan tersebut tidak nyaman terhadap penderita bahkan dapat
menyebabkan syok neurogenik, ataupun

menimbulkan fraktur. Dislokasi sendi

dasar misalnya dislokasi sendi panggul memerlukan anestesi umum terlebih dahulu
sebelum direposisi.
2. Imobilisasi : sendi diimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga
agar tetap dalam posisi stabil, beberapa hari beberapa minggu setelah reduksi
gerakan aktif lembut tiga sampai empat kali sehari dapat mengembalikan kisaran
sendi, sendi tetap disangga saat latihan.
3. Dirujuk : Dislokasi yang kadang disertai oleh cederanya ligamen bahkan fraktur
pada tulang yang dapat semakin memperparah hal tersebut, maka untuk mencegah
hal tersebut setelah dilakukan pemeriksaan dan penanangan awal maka perlu
dilakukan rujukan segera kepada spesialis ortopedi sehingga dapat diperiksa dan
ditangani lebih lanjut (dapat dilakukannya operasi atau tindakan pembedahan).

Indikasi untuk dilakukan operasi atau pembedahan diantaranya :


1. Pada seseorang dengan dislokasi yang disertai fraktur di daerah sekitar persendian
2. Pada dislokasi yang tidak dapat direposisi secara tertutup
3. Pada dislokasi yang memilki resiko ketidakstabilan dari sendi berulang,
osteonekrosis, serta arthritis pasca trauma

F. PROGNOSIS
Prognosis dislokasi sendi pada umumnya baik apabila tidak terdapat komplikasi lebih
lanjut, dimana hal tersebut didukung dengan dilakukannya fisioterapi yang rutin pada
daerah persendian tersebut sehingga fungsi dari sendi dapat kembali normal dalam
beberapa bulan

BAB III
KESIMPULAN

Dislokasi harus ditangani dengan segera karena penundaan tindakan dapat menimbulkan
nekrosis avaskular tulang persendian serta kekakuan sendi. Dengan penanganan yang segera dan
tepat, prognosis dislokasi sendi pada umumnya baik apabila tidak terdapat komplikasi lebih
lanjut, dimana hal tersebut didukung dengan dilakukannya fisioterapi yang rutin pada daerah
persendian tersebut sehingga fungsi dari sendi dapat kembali normal dalam beberapa bulan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. 3rd ed.
USA : Lippincott Williams and Wilkins. 1999. p 619-23.
2. Chairuddin, R. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, ed 3. Jakarta: PT. Yarsif Watampone,
2007.
3. Kwon Y, Zuckerman J. Chapter 34: Subluxations and Dislocations About The
Glenohumeral

Joint.

Available

at

http://www.msdlatinamerica.com/ebooks/RockwoodGreensFracturesinAdults/sid930742.
html. Acessed on: October 5th 2014.
4. Nordin M, Frankel H. basic Biomechanic of the Musculoskeletal System. Lea and
Febriger. London: 225-34.
5. Anonym.
Glenohumeral

Dislocation.

Available

at:

http://www.ebmedicine.net/topics.php?
paction=showTopicSeg&topic_id=120&seg_id=2486. Accessed on: September 29th 2014.
6. Mochart
M.
Wrist
Fractures
and
Dislocation.
Available
at:
http://emedicine.medscape.com/article/1285825-overview. Accessed on: September 25th
2014.
7. Halimi

K.

Wrist

Dislocation

in

Sport

Medicine.

Available

at:

http://emedicine.medscape.com/article/98552-overview. Accessed on: October 3rd 2014.


8. Haelstad
M.
Elbow
Dislocation.
Available
at:
http://emedicine.medscape.com/article/96758-overview. Accessed on: September 27th
2014.
9. American Academy of Orthopaedic Surgeons. Elbow Dislocation. Available at:
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00029. Accessed on: October 2nd 2014.

DAFTAR PUSTAKA

1. Solomon L, et al (eds). Apleys system of orthopaedics and fractures. 9 th ed. London:


Hodder Arnold; 2010.
2. Chapman MW. Chapmans

orthopaedic

surgery.

3rd

ed.

Boston:

Lippincott

Williams&wilkins; 2001. p 756-804.


3. Rasjad C. Pengantar ilmu bedah ortopedi. Jakarta: Yarsif Watampone; 2009. p. 325-6;
355-420.
4. Konowalchuk BK, editor. Tibia shaft fractures [online]. 2012. [cited 2012 Feb 28].
Available from: http://www.emedicine.medscape.com/article/1249984
5. Salter RB. Textbook of disorders and injuries of the muesculoskeletal system. USA:
Williams & Wilkins; 1999. p. 436-8.
6. Universitas
sumatera
utara.

Fraktur.

Available

at:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33107/5/Chapter%20I.pdf. Accessed on
January 4th, 2014.
7. Weissleder, R., Wittenberg, J., Harisinghani, Mukesh G., Musculoskeletal Imaging in
Primer of Diagnostic Imaging.4th Edition. United States: Mosby Elsevier; 2007.
8. Holmes, Erskin J., A-Z of Emergency Radiology. Cambridge University; 2004.
9. Sjamsuhidat. R., De Jong., Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah.. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran; 2003.
10. Apley, A.Graham. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem APLEY. Ed.7. Jakarta : Widya
Medika.1995
11. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : PT. Yarsif Watampone.
2007
12. Sjamsuhidajat R, De Jong Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC.2004.