Anda di halaman 1dari 24

Neonatus Cukup Bulan dan Besar untuk Masa Kehamilan dengan Sefalhematom

Gita Nur Azizah


102013182
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510, No. Telp (021) 5694-2061
Email: Gita.2013fk182@civitas.ukrida.ac.id

Pendahuluan
Ukuran janin yang berlebihan dapat menimbulkan masalah, dan makrosemia
didefinisikan secara berbeda oleh berbagai penulis. American College of Obstetricians and
Gynecologyst (2000) mendefinisikan bayi makrosomik sebagai bayi yang berat lahirnya lebih
dari 4.500 g. Sekitar sepertiga wanita yang melahirkan bayi sebesar ini akan melahirkan bayi
serupa pada kehamilan berikutnya. Salah satu trauma lahir akibat bayi makrosomik adalah
cephal hematoma. Cephalhematoma biasanya disebabkan oleh cedera pada periosteum tengkorak
selama persalianan dan kelahiran, meskipun dapat juga timbul tanpa trauma lahir. Cephal
hematola terjadi sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit
kepala. Insidennya adalah 2,5 %. Perdarahan dapat terjadi di satu atau kedua tulang parietal. Tepi
periosteum membedakan cephal hematoma dari caput sucsedeneum. Terdapat juga faktor
predisposisi yaitu seperti tekanan jalan lahir yang terlalu lama pada kepala saat persalinan,
moulage terlalu keras dan partus dengan tindakan seperti forcep maupun vacum ekstraksi. Caput
terdiri atas pembengkaakan lokal kulit kepala akibat edema yang terletak di atas periosteum.
Selain itu,sefalhematum mungkin timbul beberapa jam setelah lahir, sering tumbuh semakin
besar dan lenyap hanya setelah beberapa minggu atau beberapa bulan.1
Sasaran Pembelajaran
1
2
3
4
5
6
7

Menilai APGAR skor


Mengetahui maturity index (Ballard Score)
Menentukan usia kehamilan dengan kurva Lubchenco
Mengetahui jenis-jenis trauma lahir pada bayi batu lahir dan komplikasinya
Mengetahui penatalaksanaan, komplikasi dan edukasi yang benar
Mengetahui newborn care dan pemeriksaan fisik bayi
Mengetahui klasifikasi berat lahir

Rumusan Masalah
Bayi (40minggu) lahir vaccum dari ibu penderita DM dengan bentuk kepala yang tidak
simetris dan terdapat benjolan lunak
Skenario
Bayi 40minggu lahir via vaccum dari seorang ibu yang menderita DM gestasional dengan
berat 4000gram. Setelah lahir, bayi menangis spontan dan aktif dengan bentuk kepala tidak
simetris dan ditemukan benjolan lunak dengan diameter 10cm yang tidak melewati sutura
kranialis. Keluarga khawatir dengan kondisi tersebut dan meminta penjelasan dokter.
Hipotesis
Bayi (40minggu) ini mengalami trauma lahir di bagian kepala yaitu sefal hematoma.
Anamnesis
Saat pasien anak datang dibawa oleh orangtuanya, maka anamnesis yang dilakukan
adalah alloanamnesis. Pada skenario, didapatkan bahwa ada seorang bayi berusia 40minggu lahir
via vaccum dari seorang ibu yang menderita DM gestasional dibawa ke dokter dengan keluhan
utama bentuk kepala tidak simetris dan ditemukan benjolan lunak dengan diameter 10cm yang
tidak melewati sutura kranialis.
A. Keluhan utama: bentuk kepala tidak simetris dan ada benjolan lunak
B. Riwayat penyakit sekarang: onset= sejak kelahiran bayi
C. Riwayat kelahiran:
Tempat lahir (lahir dimana?, proses persalinannya dibantu oleh siapa?), gestasi dan
kehamilan (bayi cukup bulan), berat lahir (4000gram), kejadian perinatal (?) dan
riwayat inap di SCBU (?), APGAR score (?) (menangis spontan dan aktif)
D. Riwayat persalinan
Persalinannya vaccum, kejadian saat persalinan (?)
E. Riwayat kehamilan
Umur ibu saat mengandung bayi (?), bayi adalah anak ke berapa?, usia kehamilan
saat melahirkan bayi?, apakah pernah terdeteksi suatu penyakit selama hamil?,
apakah pernah mengkonsumsi obat-obatan selama hamil?
F. Metode pemberian makan dan penyapihan
Jika diberi susu botol, catat bagaimana susu dibuat (berapa banyak sendok/jumlah
susu)

G. Riwayat penyakit dahulu termasuk rawat inap, infeksi dan cedera, riwayat alergi
H. Riwayat penyakit keluarga: apakah memiliki riwayat keluarga seperti saudara
sekandung yang pernah mengalami hal yang sama segera setelah lahir?
I. Silsilah keluarga dengan usia saudara kandung, termasuk kematian, keguguran dan
lahir mati
J. Usia orang tua dan pekerjaannya.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik bayi baru lahir dimulai dari pengukuran berat badan, panjang badan
dan lingkar kepalanya. Bayi baru lahir normal memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Berat badan 2500 4000 gram, Panjang badan 48 52 cm, Lingkar kepala 33 35 cm, Lingkar
dada 30 38 cm. Nadi (norma 120-160 denyut/ menit), frekuensi pernapasan (norma 30-60
pernapasan/ menit).2,3

Pemeriksaan fisik bayi baru lahir bagian kepala


Bentuk kepala akan berbeda pada bayi yang terletak dalam posisi puncak kepala atau
bokong. Bayi dengan presentasi bokong seringkali memiliki bentuk kepala yang memanjang
dalam arah oksipito-frontal dengan prosesus oksipitalis menonjol. Setelah presentasi puncak
kepala dan persalinan per vaginam, mungkin dapat terjadi bentuk kepala yang memanjang
vertical. Terlepas dari presentasi lahir, sutura kranialis harus teraba terbuka.
Normalnya, fontanela anterior terbuka, lunak dan datar, diameternya rata-rata kurang
dari 3,5 cm. fontanela posterior sering kali hanya seukuran ujung jari atau hanya sekedar
teraba terbuka. Fontanela yang menonjol atau tegang dan pemisahan sutura tulang yang lebar
menunjukkan peningkatan tekanan intracranial.
Pada proses persalinan kadang-kadang terjadi perdarahan dari tulang kepala dan
lapisan penutupnya (periosteum) hal ini bisa mengakibatkan timbulnya benjolan di kepala
(sefal hematom) yang akan menghilang dalam beberapa minggu. Selain itu penekanan
selama proses persalinan normal juga bisa menyebabkan memar pada wajah. Sehingga
wajah terlihat tidak simetris. Tetapi asimetri wajah ini juga bisa disebabkan karena
kerusakan saraf pada wajah dan bisa sembuh dalam beberapa minggu.

Mata
Adanya pendarahan konjungtiva dan retina tidak dengan sendirinya berarti serius.
Refleks pupil timbul sesudah 28-30 minggu kehamilan. Iris harus diinspeksi untuk mencari

koloboma dan heterokromia. Kornea yang berdiameter lebih besar dari 1 cm pada bayi cukup
bulan memberikan kesan glaucoma congenital. Adanya refleks merah bilateral memberikan
kesan tidak adanya katarak atau kelainan intraokuler, leukokoria (refleks pupil putih)
memberikan kesan katarak, tumor, korioretinitis.

Telinga
Kadang-kadang ditemukan deformitas daun telinga. Kelainan, yaitu adanya ujung
kulit preartikular unilateral atau bilateral sering terjadi. Membrane timpani dapat dilihat
dengan mudah dengan otoskopi melalui kanalis auditorius eksterna yang pendek dan lurus,
normalnya membrane ini tampak abu-abu.

Hidung
Hidung dapat sedikit tersumbat oleh mucus yang terkumpul dalam lubang hidung
yang sempit. Cuping hidung seharusnya simetris.

Mulut
mulut dapat menilai apakah bayi mengalami labioskisis, labioynapalatoskisis, toothbuds dan lain-lain.

Leher
Leher relative tampak pendek. Kelainan meliputi gondok, higroma kistik, sisa celah
brakial, lesi otot sternokleidomatoideus yang agaknya terjadi karena trauma atau akibat
fiksasi posisi bayi selagi ada didalam uterus, yang masing-masing dapat menimbulkan
hematoma tau fibrosis.

Dada
Hipertrofi buah dada sering ditemukan, dan mungkin air susu dapat dijumpai. Buah
dada yang asimetris, eritema, indurasi dan lembek harus dicurigai abses buah dada.

Paru-paru
Pada keadaan tidur frekuensi normal untuk bayi cukup bulan adalah 30-40/ menit,
untuk bayi premature frekuensinya lebih tinggi dan berfluktuasi lebih lebar. Frekuensi yang
menetap dari 60/menit pada pernapasan yang teratur biasanya menunjukan penyakit jantung
dan paru-paru.
Pernapasan bayi baru lahir hampir seluruhnya diagfragmatis, sehingga selama
inspirasi bagian depan dada yang lunak biasanya tertarik ke dalam, sementara itu perutnya

mengembung. Jika bayi tenang, releks, dan warnanya normal, gerakan paradoks ini tidak
perlu diartikan bahwa ventilasi tidak cukup. Pada keadaan normal suara pernapasan bayi
adalah bronkovesikular.

Jantung
Ukuran jantung sukar diperkirakan, bergantung pada variasi normal ukuran dan
bentuk dada. Denyut nadi mungkin bervariasi normal dari 90/menit pada saat tidur rileks
sampai 180/menit selama melakukan aktivitas.

Abdomen
Hati biasanya teraba, kadang-kadang sebesar 2 cm di bawah tepi kosta. Ujung limpa
jarang dapat diraba. Dinding perut pada keadaan normal lemah (lentur pada bayi premature).
Kembung perut pada waktu atau segera sesudah lahir memberikan kesan adanya obstruksi
atau perforasi saluran cerna, kembung perut lebih lambat memberikan kesan obstruksi usus
bagian bawah, sepsis atau peritonitis.

Kulit
Lakukan inspeksi pada warna bayi. Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui
apakah ada warna pucat, ikterus, sianosis sentral, atau tanda lainnya. Bayi dalam keadaan
aterm umumnya lebih pucat dibandingkan bayi dalam keadaan preterm, mengingat kondisi
kulitnya lebih tebal.

APGAR SKOR
Apgar score merupakan metode praktis yang secara sistematis digunakan untuk menilai
bayi baru lahir segera sesudah lahir, untuk membantu mengidentifikasi bayi yang memerlukan
resusitasi akibat asidosis hipoksik. Skor yang rendah tidak selalu berarti janin mengalami
hipoksisa-asidosis, factor-faktor tambahan dapat mengurangi skor. Skor apgar juga tidak
meramalkan mortalitas neonates atau palsi serebral selanjutnya. Apgar skor menit-1
mengisyaratkan perlunya tindakan resusitasi segera, dan skor menit-5, -10, -15, dan -20
menunjukan kemungkinan keberhasilan dalam melakukan resusitasi bayi. Skor apgar 0-3 pada
menit -20 meramalkan tingginya mortalitas dan morbiditas.4
Penilaian apgar ini sangat penting karena untuk meminimalkan asfiksia pada bayi yang
merupakan kelanjutan dari nilai apgar yang rendah. Pada waktu persalinan denyut jantung bayi
juga harus di pantau dengan dopler atau linek untuk mengetahui kesejahteraan janin dalam

kandungan. Penilaian ini tidak hanya dilakukan sesaat setelah lahir, tetapi juga dilakukan pada
menit ke-5 serta menit ke-10 setelah kelahiran bayi.4

Kriteria Apgar Score


Tabel 1. Apgar Score4
Warna

Nilai 0
Nilai 1
Seluruh badan Warna

Kulit

biru/pucat

Nilai 2
kulit Warna

tubuh

norma tubuh, tangan,

merah

muda dan kai normal

tapi tangan dan merah


kaki kebiruan
Tidak ada

Jantung
Respon

Tidak

Reflek

respon terhadap menangis

menit
ada Meringis

stimulasi

tidak

lemah

menit
atau Meringis

ada

atau

ketika batuk

saat

stimulasi

atau Sedikit gerakan

tidak ada
Tidak ada

Lemah

atau Grimance

bersin

distimulasi

Pernafasa

muda,

sianosis
<100 kali atau >100 kali atau Pulse

Denyut

Tonus Otot Lemah

Akronim
kulit Appearance

saluran nafas
Bergerak aktif

Activity

atau Menangis Kuat Respiration

tidak teratur

pernafasan baik
dan teratur

Interprestasi Score
Tabel 2. Interprestasi Score4
Jumlah score
7-10
4-6

Interprestasi
Normal
Asfiksia Ringan

Catatan
Memerlukan

tindakan

medis

segera seperti penyedotan lender


yang menyumbat jalan napas,
atau pemberian oksigen untuk
membantu bernafas

0-3

Asfiksia Berat

Memerlukan

tindakan

medis

yang lebih intensif


Maturity Index (Ballard Index)
System penilaian ini dikembangkan oleh Dr. Jeanne L Ballard, MD untuk menentukan
usia gestasi bayi baru lahir melalui penilaian neuromuscular dan fisik. Penilaian neuromuscular
meliputi postur, square window, arm recoil, sudut popliteal, scarf sign dan heel to ear maneuver.
Penilaian fisik yang diamati adalah kulit, lanugo, permukaan plantar, payudara, mata/telinga, dan
genitalia. 5

Penilaian Maturitas Neuromuskular


Untuk mengamati postur, bayi ditempatkan terlentang dan pemeriksa menunggu sampai bayi
menjadi tenang pada posisi nyamannya. Jika bayi ditemukan terlentang, dapat dilakukan
manipulasi ringan dari ekstremitas dengan memfleksikan jika ekstensi atau sebaliknya. Hal
ini akan memungkinkan bayi menemukan posisi dasar kenyamanannya. Fleksi panggul
tanpa abduksi memberikan gambaran seperti posisi kaki kodok.5 Liat gambar 1

Square Window
Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap peregangan ekstensor
memberikan hasil sudut fleksi pada pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jari-jari bayi
dan menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari dengan lembut. Hasil sudut antara
telapak tangan dan lengan bawah bayi dari preterm hingga posterm diperkirakan berturutturut > 90 , 90 , 60 , 45 , 30 , dan 0 .5 Liat gambar 2

Arm Recoil
Arm recoil dilakukan dengan cara evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi,
fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan kedua lengan
dan lepaskan.Amati reaksi bayi saat lengan dilepaskan. Skor 0: tangan tetap terentang/
gerakan acak, Skor 1: fleksi parsial 140-180 , Skor 2: fleksi parsial 110-140 , Skor 3: fleksi
parsial 90-100 , dan Skor 4: kembali ke fleksi penuh.5 Liat gambar 3

Popliteal Angle

Dengan bayi berbaring telentang, dan tanpa popok, paha ditempatkan lembut di perut bayi
dengan lutut tertekuk penuh. Setelah bayi rileks dalam posisi ini, pemeriksa memegang kaki
satu sisi dengan lembut dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan tangan
yang lain.

Jangan memberikan tekanan pada paha belakang, karena hal ini dapat

mengganggu interpretasi.5
Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti terhadap ekstensi. Ukur sudut yang
terbentuk antara paha dan betis di daerah popliteal. Perlu diingat bahwa pemeriksa harus
menunggu sampai bayi berhenti menendang secara aktif sebelum melakukan ekstensi kaki.
Posisi Frank Breech pralahir akan mengganggu manuver ini untuk 24 hingga 48 jam pertama
usia karena bayi mengalami kelelahan fleksor berkepanjangan intrauterine.5 Liat gambar 4

Scarf Sign
Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi berbaring telentang,
pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis tengah tubuh dan mendorong tangan bayi
melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari dari tangan sisi lain pemeriksa
diletakkan pada siku bayi. Siku mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua bahu
harus tetap menempel di permukaan meja dan kepala tetap lurus dan amati posisi siku pada
dada bayi dan bandingkan dengan angka pada lembar kerja, yakni, penuh pada tingkat leher
(-1); garis aksila kontralateral (0); kontralateral baris puting (1); prosesus xyphoid (2); garis
puting ipsilateral (3); dan garis aksila ipsilateral (4).5 Liat ambar 5

Heel to Ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul dengan memberikan fleksi
pasif atau tahanan terhadap otot-otot posterior fleksor pinggul. Dengan posisi bayi terlentang
lalu pegang kaki bayidengan ibu jari dan telunjuk, tarik sedekat mungkin dengan kepala
tanpa memaksa, pertahankan panggul pada permukaan meja periksa dan amati jarak antara
kaki dan kepala serta tingkat ekstensi lutut ( bandingkan dengan angka pada lembar kerja).
Penguji mencatat lokasi dimana resistensi signifikan dirasakan. Hasil dicatat sebagai
resistensi tumit ketika berada pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu (1); puting baris
(2); daerah pusar (3); dan lipatan femoralis (4).5 Liat gambar 6

Gambar 1. Postur Bayi

Gambar 2. Square Window

Gambar 4. Popliteal Angle

Gambar 5. Scarf Sign

Gambar 3. Arm Recoil

Gambar 6. Heel to Ear

Pemeriksaan Fisik5

Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya bersamaan dengan
hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung, yaitu vernix caseosa. Oleh karena itu kulit
menebal, mengering dan menjadi keriput dan / atau mengelupas dan dapat timbul ruam
selama pematangan janin. Fenomena ini bisa terjadi dengan kecepatan berbeda-beda pada
masing-masing janin tergantung pada pada kondisi ibu dan lingkungan intrauterin. Sebelum
perkembangan lapisan epidermis dengan stratum corneumnya, kulit agak transparan dan
lengket ke jari pemeriksa. Pada usia perkembangan selanjutnya kulit menjadi lebih halus,
menebal dan menghasilkanpelumas, yaitu vernix, yang menghilang menjelang akhir
kehamilan. pada keadaan matur dan pos matur, janin dapat mengeluarkan mekonium dalam

cairan ketuban. Hal ini dapat mempercepat proses pengeringan kulit, menyebabkan
mengelupas, pecah-pecah, dehidrasi, sepeti sebuah perkamen.5

Lanugo
Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Pada extreme prematurity kulit janin
sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo mulai tumbuh pada usia gestasi 24 hingga 25 minggu
dan biasanya sangat banyak, terutama di bahu dan punggung atas ketika memasuki minggu
ke 28. Lanugo mulai menipis dimulai dari punggung bagian bawah. Daerah yang tidak
ditutupi lanugo meluas sejalan dengan maturitasnya dan biasanya yang paling luas terdapat di
daerah lumbosakral. Pada punggung bayi matur biasanya sudah tidak ditutupi lanugo. Variasi
jumlah dan lokasi lanugo pada masing-masing usia gestasi tergantung pada genetik,
kebangsaan, keadaan hormonal, metabolik, serta pengaruh gizi. Sebagai contoh bayi dari ibu
dengan diabetes mempunyai lanugo yang sangat banyak. Pada melakukan skoring pemeriksa
hendaknya menilai pada daerah yang mewakili jumlah relatif lanugo bayi yakni pada daerah
atas dan bawah dari punggung bayi.5 Liat gambar 7

Permukaan Plantar
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior ini kemungkinan berkaitan
dengan posisi bayi ketika di dalam kandungan. Bayi dari ras selain kulit putih mempunyai
sedikit garis telapak kaki lebih sedikit saat lahir. Di sisi lain pada bayi kulit hitam dilaporkan
terdapat percepatan maturitas neuromuskular sehingga timbulnya garis pada telapak kaki
tidak mengalami penurunan. Namun demikian penialaian dengan menggunakan skor Ballard
tidak didasarkan atas ras atau etnis tertentu. Bayi very premature dan extremely immature
tidak mempunyai garis pada telapak kaki. Untuk membantu menilai maturitas fisik bayi
tersebut berdasarkan permukaan plantar maka dipakai ukuran panjang dari ujung jari hingga
tumit. Untuk jarak kurang dari 40 mm diberikan skor -2, untuk jarak antara 40 hingga 50 mm
diberikan skor-1.5 Liat gambar 8

Payudara
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat stimulasi esterogen ibu
dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi yang diterima janin. Pemeriksa menilai
ukuran areola dan menilai ada atau tidaknya bintik-bintik akibat pertumbuhan papila
Montgomery. Kemudian dilakukan palpasi jaringan mammae di bawah areola dengan ibu jari
dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam millimeter.5

Mata/Telinga
Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring perkembangannya menuju
matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas palpasi ketebalan kartilago kemudian
pemeriksa melipat daun telinga ke arah wajah kemudian lepaskan dan pemeriksa mengamati
kecepatan kembalinya daun telinga ketika dilepaskan ke posisi semulanya. Pada bayi
prematur daun telinga biasanya akan tetap terlipat ketika dilepaskan. Pemeriksaan mata pada
intinya menilai kematangan berdasarkan perkembangan palpebra. Pemeriksa berusaha
membuka dan memisahkan palpebra superior dan inferior dengan menggunakan jari telunjuk
dan ibu jari. Pada bayi extremely premature palpebara akan menempel erat satu sama lain
(GambarII.13). Dengan bertambahnya maturitas palpebra kemudian bisa dipisahkan
walaupun hanya satu sisi dan meningggalkan sisi lainnya tetap pada posisinya. Hasil
pemeriksaan pemeriksa kemudian disesuaikan dengan skor dalam tabel. Perlu diingat bahwa
banyak terdapat variasi kematangan palpebra pada individu dengan usia gestasi yang sama.
Hal ini dikarenakan terdapat faktor seperti stres intrauterin dan faktor humoral yang
mempengaruhi perkembangan kematangan palpebra.5 Liat gambar 9a,9b

Genital (Pria)
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum kurang lebih pada
minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis kanan yakni pada sekitar minggu ke
32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis inguinalis bagian atas atau bawah
pada minggu ke 33 hingga 34 kehamilan. Bersamaan dengan itu, kulit skrotum menjadi lebih
tebal dan membentuk rugae. Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat di
dalam zona berugae. Pada nenonatus extremely premature scrotum datar, lembut, dan kadang
belum bisa dibedakan jenis kelaminnya. Berbeda halnya pada neonatus matur hingga
posmatur, scrotum biasanya seperti pendulum dan dapat menyentuh kasur ketika berbaring.
Pada cryptorchidismus scrotum pada sisi yang terkena kosong, hipoplastik, dengan rugae
yang lebih sedikit jika dibandingkan sisi yang sehat atau sesuai dengan usia kehamilan yang
sama.5 Liat gambar 10

Genital (wanita)
Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus harus diposisikan telentang
dengan pinggul abduksi kuranglebih 45o dari garis horisontal. Abduksi yang berlebihan
dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak lebih menonjol sedangkan aduksi

menyebabkankeduanya tertutupi oleh labia majora. Pada neonates extremely premature labia
datar dan klitoris sangat menonjol dan menyerupai penis. Sejalan dengan berkembangnya
maturitas fisik, klitoris menjadi tidak begitu menonjol dan labia minora menjadi lebih
menonjol. Mendekati usia kehamilan matur labia minora dan klitoris menyusut dan
cenderung tertutupi oleh labia majora yang membesar. Labia majora tersusun atas lemak dan
ketebalannya bergantung pada nutrisi intrauterin. Nutrisi yang berlebihan dapat
menyebabkan labia majora menjadi besar pada awal gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang
menyebabkan labia majora. Cenderung kecil meskipun pada usia kehamilan matur atau
posmatur dan labia minora serta klitoris cenderung lebih menonjol.5 Liat gambar 11

Gambar 7. Lanugo5

Gambar 9b. Palpebra5


Interpretasi Hasil

Gambar 8. Permukaan Plantar5

Gambar 10. Genital laki-laki5

Gambar 9a. Daun Telinga5

Gambar 11. Genital Wanita5

Masing-masing hasil penilaian baik maturitas neuromuskular maupun fisik disesuaikan dengan
skor di dalam tabel (Tabel 3) dan dijumlahkan hasilnya. Interpretasi hasil dapat dilihat pada tabel
skor. 5
Tabel 3. Ballard Score

Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis terutama tergantung pada pemeriksaan fisik atau pengamatan, biasanya
laboratorium tes tidak diperlukan, CT scan atau X-ray tengkorak dapat dilakukan jika muncul

gejala-gejala neurologis. Pada CT atau MRI, sefalohematoma kelihatan sebagai lesi berbentuk
bulan sabit (crescent-shaped) yang berdekatan dengan luar tengkorak, dan hiperdense.6

Gambar 12. Sefalohematoma pada CT scan. Anak panah menunjukkan lapisan luar
yang ditutupi periosteum6
Working Diagnosis

Bayi Besar Menurut Kehamilan


Batasan makrosomia adalah bayi yang dilahirkan dengan berat badan lebih dari
4000gram. Dari berbagai penelitian didapatkan kesan bahwa hyperinsulinemia dan peningkatan
penggunaan zat makanan bertanggungjawab pada peningkatan ukuran badan janin, hipotesis
perdersen menyebutkan bahwa hiperglikemia maternal merangsang hiperinsulinemia janin dan
makrosomia.7
Klasifikasi Berdasarkan Berat Badan
Kalsifikasi bayi yang lahir dengan berat badan sama atau kurang dari 2500 gram disebut
bayi berat badan lahir rendah (BBLR). BBLR dikelompokan sebagai berikut:8
a. Bayi berat badan lahir amat sangat rendah, yaitu bayi yang lahir dengan berat bada
kurang dari 100 gram.
b. Bayi berat badan lahir sangat rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang
dari 1500 gram.
c. Bayi berat badan lahir cukup rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan 15012500 gram.

Klasifikasi Berdasarkan Umur Kelahiran8


a. Bayi premature adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan belum mencapai 37
minggu.
b. Bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 38-42 minggu.
c. Bayi lebih bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan lebih dari 42 minggu.
Klasifikasi Berdasarkan Umur Kehamilan Dan Berat Badan8
a. Bayi kecil untuk masa kehamila (KMK) dalam Bahasa inggris disebut small for
gestational age (SGA) atau small for date (SFD), yaitu bayi yang lahir dengan
keterlambatan pertumpuhan intrauteri dengan berat badan terletak dibawah persentil ke10 dalam grafik pertumbuhan intrauterine.
b. Bayi sesuai untuk masa kehamilan (SMK) atau dalam Bahasa inggris disebut appropriate
for gestasional age (AGA), yaitu bayi yang lahir dengan berat badan sesuai dengan badan
untuk masa kehamilan, yaitu berat badan terletak antara persentil ke-10 dan ke-90 dengan
grafik pertumbuhan intra uterin.
c. Bayi besar untuk masa kehamilan atau dalam bahasa inggris disebut large for gestational
age (LGA), yaitu bayi yang lahir dengan berat badan lebih besar untuk usia kehamilan
dengan berat badan terletak di atas persentil ke-90 dalam grafik pertumbuhan intrauterin.
Dokter ahli pediatrics dihadapkan pada masalah hubungan antara usia kehamilan dan
pertumbuhan janin. Dengan Kurva Lubchenco diharapkan dapat

menunjukkan hubungan

pertumbuhan janin dan usia kehamilan. Dari Kurva Lubchenco dimungkinkan definisi yang
lebih tepat lahir prematur dan adopsi luas dari istilah "kecil untuk usia kehamilan", "besar untuk
usia kehamilan", "kelambatan pertumbuhan intrauterine," dan janin dysmaturity. Hal ini juga
membentuk dasar untuk memeriksa bayi dengan berat badan lahir lebih besar dari nilai persentil
lebih 90% atau berat badan lahir kurang dari persentil kurang dari 10, sehingga dapat diprediksi
masalah medis yang mungkin terjadi.9

Gambar 13. Grafik Lubchenco (sumber: http://www.nature.com/pr/journal/v45/n42/fig_tab/pr19991327f1.html)

Cephalhematoma
Cephalhematoma adalah perdarahan yang terjadi di bawah periosteum satu atau lebih
tulang-tulang tengkorak kepala. Hematoma terletak tak pada satu, atau kadang-kadang sekali
kedua os perietale dan bentuknya menyerupai caput succedanum. Cephalhematoma oleh trauma
pada tulang kepala antara lain:10
1.
2.
3.
4.

Tekanan pada kepala yang lama terhadap servix, perineum os pubis


Kerusakan yang disebabkan oleh daun-daun forceps
Rotasi kepala secara manual yang sulit
Kompresi dan relaksasi yang cepat dari kekuatan yang berkerja pada kepala janin, seperti
pada partus precipitatus.

Perlakuan ini dapat juga terjadi pada persalinan normal spontan. Oleh karena perdarahan terjadi
dibawah periosteum, pembengkakannya terbatas pada tulang yang terkena dan tidak melewati
garis-garis sutura, ini merupakan salah satu cara untuk membedakan dengan caput succedaneum.
Pembengkakannya timbul dalam beberapa jam setelah lahir dan oleh karena absorsinya lama
maka untuk hilangnya perlu waktu 6 sampai 12 minggu. Darah cepat menjendal di tepi dan tetap
cair ditengah. Kadang-kadang sekali terjadi ossifikasi pada jendalan darah dan menyebabkan
deformitas yang permanen pada tulang kepala. Kesehatan bayi tidak terganggu, dan otak tidak
mengalami kerusakan.10

Cephalhematom tidak memerlukan pengobatan local. Dapat diberikan vitamin K untuk


mengurang perdarahan selanjutnya. Daerahnya harus dilindungi terhadap luka tetapi jendalan
darah tidak perlu dikeluarkan. Kadang-kadang terjadi infeksi dengan pembentukan abses yang
harus didrainase.10
Diffential Diagnosis
Trauma lahir
Perjalanan pendek dalam jalan lahir merupakan perjalanan yang tidak bebas bahaya bagi
janian. Namun untungnya, resiko menjadi lebih kecil karena teknik untuk mendeteksi gawat
janin telah berkembang. Bayi yang dinilai terlalu besar untuk jalan lahir atau tidak maju dalam
persalinan dan menjadi gawat janin dilahirkan melalui seksio caesarea sehingga manipulasi
obstetric untuk kelahiran pervaginam jarang diperlukan. Risiko trauma lahir lebih besar pada
kelahiran sungsang, bayi premature, partus presipitatus dan bayi besar diluar perkiraan.12
Beberapa cedera yang disebabkan oleh kelahiran tampak tidak nyaman dilihat, namun
dapat sembuh dalam waktu singkat. Tidak dapat dihindari, bagian presentasi menjadi edema dan
memar.
Caput Succedaneum
Caput succedaneum adalah pembengkakan kulit kepala setempat yang terbentuk dari
efusi serum. Tekanan pada lingkaran cervix menyebabkan obstruksi darah balik sehingga kulit
kepala yang terletak didalam cervix menjadi edematous. Caput terbentuk pada persalinan dan
setelah ketuban pecah. Caput tidak terbentuk apabila bayi sudah mati, his tidak baik atau cervix
tidak menempel dengan erat pada kepala. 10
Letak

caput

bermacam-macam

tergantung

pada

posisi

kepala.

Pada

posisi

occipitoanterior (OA) caput berbentuk di vertex, yakni di sebelah kanan sutura sagittalis pada
occipitoanterior kiri (LOA) dan disebelah kiri pada occipitoanterior kanan (ROA). Pada waktu
flexi menjadi lebih jelas dalam persalinan maka bagian belakang vertex menjadi bagian terendah
dan caput terbentuk pada bagian itu, sedikit disebelah kanan atau kiri dari sebelumnya. Jadi kalua

posisinya LOA maka kaput terletak dibagian belakang os parietale kanan, dan pada ROA di
bagian belakang os parietale kiri.10
Besar kecilnya caput succedanum merupakan petunjuk beratnya tekanan yang dikenakan
pada kepala. Caput yang besar menunjukan adanya tekanan yang berat dari atas dan tahanan dari
bawah. Caput yang kecil dijumpai pada his yang lemah atau tahanan yang ringan. Caput terbesar
didapatkan pada panggul sempit setelah partus yang lama dan sukar. Pada partus yang lama
caput yang besar menunjukan kemungkinan adanya disproporsi kepala panggul atau posisi
occipitoposterior, sedangkan caput yang kecil kemungkinan adanya inertia uteri. Caput terlihat
waktu lahir, mulai menghilang segera sesudahnya dan umumnya akan hilang sama sekali setelah
24 jam sampai 36 jam.10
Hematoma Subgaleal
Hematoma subgaleal merupakan perdarahan pada ruang antara periosteum tulang
tengkorak dan aponeorosis galeal kulit kepala. Sembilan puluh persen kasus terjadi akibat alat
vakum yang dipasang pada bayi saat proses kelahiran. Hematoma subgaleal memiliki kekerapan
yang tinggi terhadap terjadinya trauma kepala (40%), seperti perdarahan intracranial atau fraktur
tengkorak. Kejadian tersebut memiliki hubungan yang signifikan dengan beratnya perdarahan
subgaleal.11
Diagnosis umumnya atas dasar klinik, yaitu adanya massa yang berfluktasi pada kulit
kepala (terutama pada oksipital). Pembengkakan tersebut timbul secara bertahap dalam 12-72
jam setelah proses persalinan. Meskipun demikian, pada kasus yang berat dapat terjadi segera
setelah lahir. Hematoma tersebar melampaui seluruh kalvaria. Hematoma subgaleal timbulnya
secara perlahan dan kadang-kadang tidak dapat dikenali dalam beberapa jam. Pasien dengan
hematoma subgaleal dapat mengalami syok hemoragik. Pembengkakan dapat mengaburkan
fontanel dan melewati garis sutura (berbeda dengan sefalhematom). Harus diantisipasi
kemungkinan terjadinya hiperbilirubinemia yang signifikan. Bila tidak disertai syok atau trauma
intracranial, prognosis jangka panjang umumnya baik.11
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan hematokrit. Penanganan meliputi
observasi ketat untuk mendeteksi perburukan klinik dan terapi terhadap terjadinya syok dan
anemia. Tranfusi dan fototerapi mungkin diperlukan. Pemeriksaan untuk mengetahui adanya
gangguan pembekuan darah mungkin diperlukan.11

Tabel 4. Cedera kepala.13

Etiologi

Persalinan lama
Persalinan yang lama dan sukar, dapat menyebabkan adanya tekanan tulang pelvis ibu
terhadap tulang kepala bayi, yang menyebabkan robeknya pembuluh darah.14

Tarikan vakum atau cunam


Persalinan yang dibantu dengan vacum atau cunam yang kuat dapat menyebabakan
penumpukan darah akibat robeknya pembuluh darah yang melintasi tulang kepala ke
jaringan periosteum.14

Kelahiran sungsang yang mengalami kesukaran melahirkan kepala bayi.14

Epidemiologi

Insiden jejas lahir diperkirakan 2-7/1000 kelahiran hidup.Faktor-faktor predisposisisnya


meliputi makrosomia, prematuritas, disproporsi kepala terhadap panggul, distosia, kelahiran
yang lama, dan presentasi bokong.Secara keseluruhan, 5-8/100.000 bayi meninggal karena
trauma lahir, dan 25/100.000 meninggal oleh karena jejas anoksik; jejas demikian mewakili 23% kematian bayi.Bahkan jejas sementara yang mudah dilihat oleh orang tuanya menimbulkan
kecemasan dan pertanyaan yang memerlukan nasehat suportif dan informatif. Pada mulanya
beberapa jejas mungkin laten; tetapi kemudian menyebabkan penyakit atau skuele yang berat.9
Patofisiologi
A Bagian kepala yang hematoma bisanya berwarna merah akibat adanya penumpukan
daerah yang perdarahan sub periosteum.10
B Pada partus lama (kala I lama, kala II lama), kelahiran janin dibantu dengan
menggunakan vacum ekstraksi atau forseps yang sangat sulit. Sehingga moulage
berlebihan dan menyebabkan trauma kepala dan selaput tengkorak rupture. Sehingga
menyebabkan pendarahan sub periosteum dan terjadi penumpukan darah sehingga terjadi
Cephal Hematoma.Bayi baru lahir sering mengalami sephalohematoma, terdapat
kumpulan darah di antara periosteum dan tulang tengkorak, dan oleh karena itu
penyebarannya terhambat sehingga tidak melewati garis tengah. Cedera jenis ini sering
dijumpai pada trauma jalan lahir. Sebaliknya, pembengkakan post partum dikepala
pada anak yang lebih tua biasanya mencerminkan hematoma subgaleal.10
C

Pada kelahiran spontan (kepala bayi besar) terjadi penekanan pada tulang panggul ibu.
Sehingga moulage terlalu keras atau berlebihan dan menyebabkan trauma kepala dan
selaput tengkorak rupture. Sehingga menyebabkan pendarahan sub periosteum dan terjadi
penumpukan darah sehingga terjadi Cephal Hematoma.Karena adanya tekanan yang
berlebihan, maka akan menyerap dan terabsorbsi keluar sehingga oudema.10

Gambar 2. Traumatik vaginal delivery with vacum10


Gejala klinik
Berikut ini adalah tanda-tanda dan gejala Cephal hematoma:10
1

Adanya fluktuasi

Adanya benjolan, biasanya baru tampak jelas setelah 2 jam setelah bayi lahir

Adanya chepal hematoma timbul di daerah tulang parietal. Berupa benjolan timbunan
kalsium dan sisa jaringan fibrosa yang masih teraba. Sebagian benjolan keras sampai
umur 1-2 tahun. Tempatnya tetap.

Kepala tampak bengkak dan berwarna merah, karena perdaraahan subperiosteum

Tampak benjolan dengan batas yang tegas dan tidak melampaui tulang tengkorak ( tidak
melewati sutura).

Pada perabaan terasa mula mula keras kemudian menjadi lunak, tetapi tidak leyok pada
tekanan dan berfluktuasi.

Benjolan tampak jelas lebih kurang 6 8 jam setelah lahir

Benjolan membesar pada hari kedua atau ketiga, pembengkakan terbatas

Benjolan akan menghilang dalam beberapa minggu.

Komplikasi
Perdarahan yang terjadi dapat menyebabkan anemia dan hipotensi. Namun, hal ini jarang
terjadi. Penyembuhan hematoma merupakan predisposisi terhadap terjadinya hiperbilirubinemia.
Hiperbilirubinemia

terjadi

akibat

penghancuran

sel

darah

merah

pada

hematoma.

Hiperbilirubinemia karena hematoma sefal terjadi lebih lambat daripada hiperbilirubinemia


fisiologis. Kadang-kadang hematoma sefal disertai pula dengan fraktur tulang tengkorak
dibawahnya (5-20% kasus) atau perdarahan intracranial. Hematoma sefal jarang terjadi focus
infeksi yang menyebabkan meningitis atau osteomielitis. Resolusi hematoma sefal terjadi
beberapa minggu dan umumnya disertai kalsifikasi.13
Pencegahan
Penanganan persalinan yang baik dapat mengurangi angka kejadian trauma lahir.
Kemajuan teknologi yang memungkinkan dokter spesialis kebidanan mengenal factor-faktor
risiko trauma lahir melalui USG dan alat-alat untuk memantau kesejahteraan janin sebelum
memutuskan persalinan pervaginan. Penggunaan peralatan yang menyebabkan trauma lahir
seperti rotasi midforseps atau vakum juga berkurang. Adapun alternative yang dipilih saat ini
adalah persalinan dengan cara bedah sesar.13
Penatalaksanaan
Penanganan hematoma sefal biasanya hanya observasi. Meskipun ada sisanya,
sefalhematoma tidak memerlukan pengobatan, walaupun poto terapi mungkin diperlukan untuk
memperbaiki hiperbilurubinemia. Transfusi karena anemia atau hipovolemia hanya diperlukan
bila terdapat akumulasi darah yang cukup banyak. Aspirasi hematoma sefal tidak dianjurkan dan
cenderung dapat meninggatkan resiko infeksi. Terjadinya gangguan pembekuan darah harus
dipertimbangkan pada setiap kasus hematoma sefal.13
Prognosis
Sebagian besar trauma lahir termasuk sefalhematom, caput succadeneum dan lain-lain
dapat sembuh sendiri dan prognosisnya baik.11

Kesimpulan
Cephal hematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Cephal hematoma terjadi
sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala.Cephal
hematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran
perdarahannya.P ada neonatus dengan cephal hematoma tidak diperlukan pengobatan, namun
perlu dilakukan fototdrapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia.Tindakan insisi dan drainase
merupakan kontraindikasi karena dimungkinkan adanya resiko infeksi.Kejadian cephal
hematoma dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.Maka dari
itu sebagai seorang bidan kita harus terampil memberikan asuhan pada bayi baru lahir baik yang
normal maupun memilik kelainan untuk menghindari terjadinya cephal hematoma tersebut.

Daftar Pustaka
1. Azis AH, Esty W. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta: EGC; 2009.h.17-26.
2. Behrman, Kliegman, Arvin. Ilmu kesehatan anak nelson. Edisi 15. Vol 1. Jakarta :
penerbit buku kedokteran EGC. 2000 .p.535-6, 576-577
3. Appleton, Lange. Buku ajar pediatric Rudolph. Edisi 20. Vol 2. Jakarta : penerbit buku
kedokteran EGC. 2007.p.1249.
4. Prawiharjo S. Buku Pedoman Praktis Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan
Bina Pusta.2002
5.
6. Zorc JJ. Clinical handbook of paediatrics. United States: Library of congress cataloguing
in publication data, 2013.h.86
7. OSullivan MJ, Skyler JS, Raimer KA, Abu-Hamad A. Diabetes and Pregnancy. 2 nd ed.
Norwalk Connectocut : Appleton & Lange, 2000.h. 357-75
8. Surasmi A, Handayani S, Kusuma HN. Bayi berisiko tinggi. Jakarta:EGC.2002.h.3-5
9. Jonathan C. At a glance : anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga; 2007.
h.66-7.
10. Cunningham G, Brahm U. Obstetri williams. Cedera pada janin dan neonatus. Ed.23.
Jakarta: EGC, 2012.h.317-320.
11. Prawirohardjo S. Ilmu kebidanan. Edisi 4. Jakarta: bina pustaka sarwono prawirahardjo.
2010. p.719-723
12. Gunadi H. Dasar dasar pediatric. Edisi.3. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC. 2008.
p. 47-49.

13. Lissauer T, Fanaroff AA. At a glance neonatologi. Jakarta : penerbit erlangga. 2009.
p.42-43.
14. Sylviati M D. Klasifikasi bayi menurut berat lahir dan masa gestasi. Dalam: Kosim MS,
Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku ajar neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit
IDAI, 2010.h.11-25.
15. Jonathan C. At a glance : anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga; 2007.
h.66-7.
16. Cunningham G, Brahm U. Obstetri williams. Cedera pada janin dan neonatus. Ed.23.
Jakarta: EGC, 2012.h.317-320.