Anda di halaman 1dari 17

PEMBUATAN KURVA KALIBRASI KAFEIN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kafein merupakan basa sangat lemah dalam larutan air atau alkohol, tidak terbentuk
garam yang stabil. Kafein terdapat sebagai serbuk putih atau sebagai jarum mengkilat putih,
tidak berbau dan rasanya pahit. Kafein dapat larut dalam air, alkohol, atau kloroform tetapi
kurang larut dalam eter. Kelarutan meningkat dalam air panas atau alkohol panas. (Wilson
and Gidvold, 1982) Kafein dapat berfungsi sebagai stimulan dan beberapa aktivitas biologis
lainnya. Kafein juga berfungsi sebagai perangsang susunan saraf pusat yang dapat
menimbulkan dieresis, merangsang otot jantung dan melemaskan otot polos bronchus. Secara
klinis biasanya digunakan berdasarkan khasiat sentralnya, merangsang semua susunan saraf
pusat mula mula korteks kemudian batang otak, sedangkan medulla spinalis hanya
dirangsang dengan dosis besar.

Spektrofotometer UV-Vis
Spektrofotometer adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer.
Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan
fotometer adalah pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Jadi
spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relative, jika energi tersebut
ditransmisikan atau direfleksikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Nilai parameter
sebenarnya adalah ukuran ideal. Nilai tersebut hanya dapat diperoleh jika semua penyebab
kesalahan pengukuran dihilangkan dan jumlah populasi tidak terbatas. Faktor penyebab
kesalahan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain adalah faktor bahan kimia,
peralatan, analis, kondisi pengukuran, dan lain-lain. Salah satu cara yang dapat digunakan
untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran analitik ini adalah dengan proses kalibrasi.
Kalibrasi yaitu kurva antara absorbansi dengan panjang gelombang. Kurva ini dapat
menentukan panjang gelombang maksimum, terlihat dari bentuk kurvanya pada bagian
atas. Akan tetapi, pengukuran kurva kalibrasi ini didasarkan pada konsentrasi yang dihasilkan
dari metode iodimetri dan panjang gelombang maksimumnya, sehingga diperoleh kurva
kalibrasi yang linier.Tujuan kalibrasi adalah untuk mencapai ketertelusuran pengukuran.
Hasil pengukuran dapat dikaitkan atau ditelusur sampai ke standar yang lebih teliti atau tinggi
(standar primer nasional atau internasional) melalui rangkaian perbandingan yang tidak
terputus, dalam artian standar ukur itu akan lebih baik apabila berupa standar yang rantainya
mendekati SI sehingga tingkat ketidakpastian (error) makin kecil.
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran
serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg
spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan
detektor fototube. Dalam analisis secara spektrofotometri terdapat tiga daerah panjang

a.

b.

c.

d.

gelombang elektromagnetik yang digunakan, yaitu daerah UV [200 380 nm],


daerah visible [380 700 nm], daerah inframerah (700 3000 nm) (Khopkar 1990).
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur absorban suatu sampel sebagai fungsi
panjang gelombang. Tiap media akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu
tergantung pada senyawaan atau warna terbentuk. Secara garis besar spektrofotometer terdiri
dari 4 bagian penting yaitu :
Sumber Cahaya
Sumber cahaya pada spektrofotometer harus memiliki pancaran radiasi yang stabil
dan intensitasnya tinggi. Sumber energi cahaya yang biasa untuk daerah tampak, ultraviolet
dekat, dan inframerah dekat adalah sebuah lampu pijar dengan kawat rambut terbuat dari
wolfram (tungsten). Lampu ini mirip dengan bola lampu pijar biasa, daerah panjang
gelombang adalah 350 2200 nm.
Monokromator
Monokromator adalah alat yang berfungsi untuk menguraikan cahaya polikromatis
menjadi beberapa komponen panjang gelombang monokromatis yang bebeda (terdispersi).
Cuvet
Cuvet spektrofotometer adalah suatu alat yang digunakan sebagai tempat contoh atau
cuplikan yang akan dianalisis. Cuvet biasanya terbuat dari kwars, plexigalass, kaca, plastic
dengan bentuk tabung empat persegi panjang 1 x 1 cm dan tinggi 5 cm. Pada pengukuran di
daerah UV dipakai cuvet kwarsa atau plexiglass, sedangkan cuvet dari kaca tidak dapat
dipakai sebab kaca mengabsorbsi sinar UV. Semua macam cuvet dapat dipakai untuk
pengukuran di daerah sinar tampak (visible).
Detektor
Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai
panjang gelombang. Detektor akan mengubah cahaya menjadi sinyal listrik yang selanjutnya
akan ditampilkan oleh penampil data dalam bentuk jarum penunjuk atau angka digital.
Dengan mengukur transmitans larutan sampel, dimungkinkan untuk menentukan
konsentrasinya dengan menggunakan hukum Lambert-Beer. Spektrofotometer akan
mengukur intensitas cahaya melewati sampel (I), dan membandingkan ke intensitas cahaya
sebelum melewati sampel (Io). Rasio disebut transmittance, dan biasanya dinyatakan dalam
persentase (% T) sehingga bisa dihitung besar absorban (A).
Persyaratan hukum Lambert Beer, antara lain:
Radiasi yang digunakan harus monokromatik,
Energi radiasi yang diabsorpsi oleh sampel tidak menimbulkan reaksi kimia, sampel
(larutan) yang mengabsorpsi harus homogen,
Tidak terjadi fluoresensi atau phosporesensi,
Indeks refraksi tidak berpengaruh terhadap konsentrasi, jadi larutan tidak pekat (harus
encer).

BAB II
METODE KERJA
ALAT dan BAHAN
a) Alat :
1.
2.
3.
4.
5.

Beaker glass.
Kertas grafik.
Labu ukur.
Pipet gondok.
Spektrofotometer.

b)
1.
2.
3.

Bahan :
Aquadest.
Sampel urin manusia.
Tablet Kafein.

METODE KERJA
I.

Operating Time
Dibuat larutan stock Caffein 100 ppm dengan cara mencampurkan 100 mg Caffein
lalu di add Aquadest 100 ml.
Dipipet larutan 10 ml, lalu di add Aquadest 100 ml. (100 ppm)
Dibaca intensitas warna yang terjadi pada spektrofotometer pada 545 nm dengan blanko air.
Dilihat absorbannya pada internal waktu 5 menit paling tidak selama 60 menit.

II. Menentukan Panjang Gelombang Maksimum


Dibuat larutan Caffein 1000 ppm menjadi 100 ppm.
Dibaca intensitas warna yang terjadi pada spektrofotometer pada panjang gelombang 273 nm,
diplotkan serapan yang terbaca, panjang gelombang pada kertas grafik numerik dan tetapan
beberapa panjang gelombang maksimumnya.
III.

Membuat Kurva Kalibrasi


Dibuat deret kalibrasi 4, 6, 8, 10, dan 12 ppm dari larutan stock.
4 ppm 4 ml + add Aquadest 100 ml.
6 ppm 6 ml + add Aquadest 100 ml.
8 ppm 8 ml + add Aquadest 100 ml.
10 ppm 10 ml + add Aquadest 100 ml.
12 ppm 12 ml + add Aquadest 100 ml.
Dibaca intensitas warna yang terjadi dari masing masing kadar pada panjang gelombang
yang telah ditentukan, dibuat persamaan dari kurva kalibrasi dengan menggunakan
persamaan kuadrat terkecil. Dihitung koefisien korelasinya.
ANALISIS VITAMIN C TOTAL DALAM CUPLIKAN URIN
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Vitamin C atau asam askorbat adalah komponen penting dalam makanan karena berguna
sebagai antioksidan dan mengandung khasiat pengobatan. Vitamin C mudah diabsorpsi secara
aktif, tubuh dapat menyimpan hingga 1500 mg vitamin C bila di konsumsi mencapai 100 mg
sehari. Konsumsi melebihi taraf kejenuhan akan dikeluarkan melalui urin.
Vitamin C pada umumnya hanya terdapat di dalam pangan nabati, yaitu sayur dan buah
seperti jeruk, nenas, rambutan, papaya, gandaria, tomat, dan bawang putih (Allium sativum
L). Peranan utama vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen interseluler. Kolagen
merupakan senyawa protein yang banyak terdapat dalam tulang rawan, kulit bagian dalam
tulang, dentin, dan vasculair endothelium. Asam askorbat sangat penting peranannya dalam
proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan lisin menjadi hidroksi prolin dan hidroksilisin.
Terdapat beberapa metode untuk mengetahui kadar vitamin C pada suatu bahan pangan.
Diantaranya adalah metode spektrofotometri dan metode titrasi.
Vitamin digolongkan dalam dua golongan yaitu vitamin yang larut dalam air
mempunyai toksisitas rendah karena Jumlah yang berlebih cepat diekskresikan melalui urin.
Sebaliknya pemakaian vitamin yang larut dalam lemak dengan jumah yang berlebihan akan
menyebabkan tertimbunnya senyawa tersebut dalam tubuh dan dapat menimbulkan efek
toksik. Penelitian menunjukkan bahwa vitamin C memegang peranan penting dalam
mencegah terjadinya aterosklerosis. Vitamin C mempunyai hubungan dengan metabolisme
kolesterol. Kekurangan vitamin C menyebabkan peningkatan sintesis kolesterol. Peran
Vitamin C dalam metabolism kolesterol adalah melalui cara: vitamin C meningkatkan laju
kolesterol dibuang dalam bentuk asam empedu, vitamin C meningkatkan kadar HDL,
tingginya kadar HDL akan menurunkan resiko menderita penyakit aterosklerosis, vitamin C
dapat berfungsi sebagai pencahar sehingga dapat meningkatkan pembuangan kotoran dan hal
ini akan menurunkan pengabsorbsian kembali asam empedu dan konversinya menjadi
kolesterol. Pada metode Spektrofotometri ini, larutan sampel (vitamin C) diletakkan pada
sebuah kuvet yang disinari oleh cahaya UV dengan panjang gelombang yang sama dengan
molekul pada vitamin C yaitu 269 nm. Analisis menggunakan metode ini memiliki hasil yang
akurat. Karena alasan biaya, metode ini jarang digunakan (Sudarmaji, 2007).
Urine
Bersama-sama dengan urine dieksresikan juga air dan senyawa-senyawa yang larut
dalam air. Jumlah dan komposisi urine sangat berubah-ubah dan tergantung pemasukan bahan
makanan, berat badan, usia, jenis kelamin, dan lingkungan hidp seperti temperature,
kelembaban, aktivitas tubuh dan keadaan kesehatan. Karena eksresi urin dan komposisinya
kebanyakan dihubungkan dengan waktu 24 jam.
Seorang dewasa memproduksi 0,5-2,0 liter urine setiap hari, yang terdiri dari 90% air.
Urine mempunyai suatu nilai pH yang asam (kira-kira 5,8). Tentu saja nilai pH urine
dipengaruhi oleh keadaan metabolisme. Setelah makan sejumlah besar bahan makanan dari
tumbuh-tumbuhan, nilai pH urine meningkat hingga di atas 7.

Urine memiliki komponen organic dan anorganik. Urea, asam urat dan kreatinin
merupakan beberapa komponen organic dari urine. Ion-ion seperti Na, K, Ca serta anion Cl
merupakan komponen anorganik dari urine. Warna kuning pada urine, disebabkan oleh
urokrom, yaitu family zat empedu, yang terbentuk dari pemecahan hemoglobin. Bila
dibiarkan dalam udara terbuka, urokrom dapat teroksidasi, sehingga urine menjadi berwarna
kuning tua. Pergeseran konsentrasi komponen-komponen fisiologik urine dan munculnya
komponen-komponen urine yang patologik dapat membantu diagnose penyakit. Dalam
farmakokinetik, urin dapat digunakan sebagai salah satu objek pemeriksaan selain plasma
darah, untuk penentuan beberapa parameter farmakokinetik.
Urine dan Parameter Farmakokinetik
Data eksresi obat lewat urine dapat dipakai untuk memperkirakan bioavailabilitas.
Agar dapat diperkirakan yang sahih, obat harus dieksresi dengan jumlah yang bermakna di
dalam urine dan cuplikan urine harus dikumpulkan secara lengkap. Jumlah kumulatif obat
yang dieksresi dalam urine secara langsung berhubungan dengan jumlah total obat yang
terabsorbsi. Di dalam percobaan, cuplikan urinedikumpulkan secara berkala setelah
pemberian produk obat. Tiap cuplikan ditetapkan kadar obat bebas dengan cara yang spesifik.
Kemudian dibuat grafik yang menghubungkan kumulatif obat yang dieksresi terhadap jarak
waktu pengumpulan. Eliminasi suatu obat biasanya dipengaruhi oleh eksresi ginjal atau
metabolisme (biotransformasi).

Spektrofotometer UV-Vis membandingkan cuplikan standar yaitu substrat gelas


preparat. Hasil pengukuran dari spektrofotometer UV-Vis menunjukkan kurva hubungan
transmitan dan panjang gelombang. (Basset 1994). Spektrofotometer terdiri dari beberapa
jenis berdasar sumber cahaya yang digunakan, yaitu: spektrofotometer Vis (Visible),
spektrofotometer UV (Ultra Violet), spektrofotometer UV-Vis, dan Spektrofotometri IR (Infa
Red). Pada spektrofotometri Vis, yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah cahaya
tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap
oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380 750 nm. Berbeda dengan
spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sample dengan
sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Senyawa yang dapat
menyerap sinar UV terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna (bening dan
transparan). Spektrofotometri UV-Vis menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda,
sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible yaitu photodiode yang dilengkapi dengan
monokromator dan dapat digunakan baik untuk sample berwarna juga untuk sample tak
berwarna. Sedangkan, spektrofotmetri IR berdasar pada penyerapan panjang gelombang infra
merah yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 m.
Pada umumnya sampel yang digunakan dalam bentuk larutan yang sudah diencerkan
dengan jumlah konsentrasi tertentu. Larutan dengan konsentrasi yang rendah akan lebih
mudah diketahui transmitannya karena kerapatan pada molekulnya kecil sehingga
kemampuan menyerap radiasi elektromagnetnya kecil dan banyak radiasi yang terbaca oleh
detektor pada alat spektrofotometer. Setiap senyawa punya serapan maksimal pada panjang

gelombang tertentu. Panjang gelombang ini dinamakan panjang gelombang maksimum. Pada
panjang gelombang maksimum, hubungan antara absorbansi dan konsentrasi senyawa bisa
disetarakan.
BAB II
METODE KERJA
ALAT dan BAHAN
a) Alat :
1. Beaker glass.
2. Botol coklat.
3. Labu ukur.
4. Pipet gondok.
5. Sentrifunge.
6. Spektrofotometri.
7. Vial.

b) Bahan :
1. Aquadest.
2. Sampel Urin Manusia.
3. Tablet Vitamin C.

METODE KERJA

Pemberian Vitamin C dengan Pengumpulan Urin

Diminum obat tablet vitamin c dengan air 200 ml lalu ditampung urin didalam botol coklat
sebagai larutan blanko.
Diminum kembali air sebanyak 200 ml setiap urinasi dan ditampung kembali dalam botol
coklat lain.
Diulangi prosedur sebanyak 6 kali selama 6 jam.

Analisis Cuplikan Vitamin C Total dalam Urin

Ditentukan kadar vitamin c total dalam urin masing-masing interval waktu jam ke-1, 2, 3, 4,
5, dan 6.
Diambil 1 ml cuplikan urin dan ditambahkan Aquadest hingga 10 ml.
Dibaca serapan pada panjang gelombang maksimum yang didapatkan dari sampel urin.
Dilakukan pengenceran jika nilai yang terbaca masih terlalu besar.
Dihitung parameter farmakokinetik vitamin c.

ANALISIS VITAMIN B1 TOTAL DALAM CUPLIKAN URIN


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tiamin atau vitamin B1 merupakan kompleks molekul organik yang mengandung satu
inti tiazol dan pirimidin. Dalam badan zat ini akan diubah menjadi tiaminpiroposfat atau
tiamin-PP. Pada dosis kecil atau dosis terapi tiamin tidak memperlihatkan efek
farmakodinamik yang nyata. Pada pemberian intravena secara cepat dapat terjadi efek
langsung pada pembuluh darah perifer berupa vasodilatasi ringan, disertai penurunan darah
yang bersifat sementara. Meskipun tiamin berperan dalam metabolisme karbohidrat,
pemberian dosis besar tidak mempengaruhi kadar gula darah. Pada manusia reaksi toksik
setelah pemberian parenteral biasanya terjadi karena reaksi alergi. Tiaminpiroposfat adalah
bentuk aktif tiamin yang berfungsi sebagai koenzim dalam karboksilasi asam piruvat dan
asam ketoglutarat. Peningkatan kadar asam piruvat dalam darah merupakan salah satu
defisiensi tiamin.
Tiamin merupakan kompleks molekul organik yang mengandung satu inti tiazol dan
pirimidin. Farmakokinetik dan Fisiologi. Pada dosis kecil tau dosis terapi tiamin tidak
memperlihatkan efek farmakodinamik yang nyata. Tiamin berperan dalam metabolisme
karbohidrat, pemberian dosis besar tidak mempengaruhi kadar gula darah. Tiamin pirofosfat
adalah bentuk aktif tiamin berfungsi sebagai koenzim dalam karboksilasi asam pirufat dan
asam ketoglutarat. Vitamin B1 (Tiamin) berfungsi sebagai metabolisme antara pada banyak
reaksi penting, misalnya metabolisme karbohidrat berperan sebagai koenzim dalam
dekarboksilasi asam-asam alfa keto.
Defisiensi Tiamin :
Defisiensi berat menimbulkan penyakit beri-beri yang gejalanya terutama tampak pada
sistem saraf dan kardiovaskular. Gejala yang tibul berupa pada sistem kardiovaskular dapat
berupa gejala insufisiensi jantung antara lain sesak napas setelah kerja jasmani, palpitasi,
takikardi, gangguan ritme serta pembesaran jantung dan perubahan elektrokardiogram.
Farmakokinetik :
Absorpsi per oral berlangsung dalam usus halus dan duodenum, maksimal 8-15 mg/hari
yang dicapai dengan pemberian oral sebanyak 40 mg.

Sifat fisika dan kimia Tiamin Hidroklorida (vitamin B1) yaitu Serbuk Kristal atau Kristal
tidak berwarna, putih atau hampir putih. Sangat mudah larut dalam air, sedikit larut dalam
alkohol, larut dalam gliserol. Simpan pada wadah bukan metal. Terlindung dari cahaya
langsung. Sedangkan mekanisme Vitamin B1 (Tiamin), setelah dikonversi menjadi tiamin
pyrophosphate. Fungsinya dengan adenosine tripospat (ATP) dalam metabolisme karbohidrat.

Defisiensi vitamin B1 (tiamin) menghasilkan beriberi, dikarakteristik oleh manifestasi GI


(Gastrointestinal), neuropati perifer dan defisist cerebral. Sumber eksogen (dari luar tubuh)
vitamin B1 / tiamin diperlukan untuk metabolisme karbohidrat. Berfungsi sebagai koenzim
dalam metabolisme karbohidrat dan rantai cabang asam amino.
Kebutuhan sehari vitamin B1 arena tiamin penting untuk metabolisme energi,
terutama karbohidrat, maka kebutuhan akan tiamin umumnya sebanding dengan asupan
kalori. Kebutuhan minimum adalah 0,3 mg/1000 kcal, sedangkan AKG di Indonesia ialah
0,3-0,4 mg/hari untuk bayi, 1,0 mg/hari untuk orang dewasa dan 1,2 mg/hari untuk wanita
hamil. Tiamin berguna untuk pengobatan berbagai neuritis yang disebabkan oleh defisiensi
tiamin, misalnya pada neuritis alkoholik yang terjadi karena sumber kalori hanya alkohol
saja, wanita hamil yang kurang gizi, atau penderita emesis gravidarum. Pada trigeminal
neuralgia, neuritis yang menyertai anemia, penyakit infeksi dan pemakaian obat tertentu,
pemberian tiamin kadang-kadang dapat memberikan Tiamin juga digunakan untuk
pengobatan penyakit jantung dan gangguan saluran cerna yang dasarnya defisiensi tiamin.
Prinsip dasar Spektrofotometri serapan atom adalah interaksi antara radiasi
elektromagnetik dengan sampel. Spektrofotometri serapan atom merupakan metode yang
sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah (Khopkar, 1990). Teknik ini adalah
teknik yang paling umum dipakai untuk analisis unsur. Teknik-teknik ini didasarkan pada
emisi dan absorbansi dari uap atom. Komponen kunci pada metode spektrofotometri Serapan
Atom adalah sistem (alat) yang dipakai untuk menghasilkan uap atom dalam sampel.
Cara kerja Spektroskopi Serapan Atom ini adalah berdasarkan atas penguapan larutan
sampel, kemudian logam yang terkandung di dalamnya diubah menjadi atom bebas. Atom
tersebut mengapsorbsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan dari lampu katoda
(Hollow Cathode Lamp) yang mengandung unsur yang akan ditentukan. Banyaknya
penyerapan radiasi kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu menurut jenis
logamnya. Jika radiasi elektromagnetik dikenakan kepada suatu atom, maka akan terjadi
eksitasi elektron dari tingkat dasar ke tingkat tereksitasi. Maka setiap panjang gelombang
memiliki energi yang spesifik untuk dapat tereksitasi ke tingkat yang lebih tinggi.

BAB II
METODE KERJA
ALAT dan BAHAN
a) Alat :
1. Beaker glass.
2. Botol coklat.
3. Labu ukur.
4. Pipet gondok.
5. Sentrifunge.
6. Spektrofotometri.
7. Vial.

b) Bahan :
1. Aquadest.
2. Sampel Urin Manusia.
3. Tablet Vitamin B1.

METODE KERJA

Pemberian Vitamin B1 dengan Pengumpulan Urin

Diminum obat tablet vitamin B1 dengan air 200 ml lalu ditampung urin didalam botol
coklat sebagai larutan blanko.
Diminum kembali air sebanyak 200 ml setiap urinasi dan ditampung kembali dalam botol
coklat lain.
Diulangi prosedur sebanyak 6 kali selama 6 jam.

Analisis Cuplikan Vitamin B1 Total dalam Urin

Ditentukan kadar vitamin B1 total dalam urin masing-masing interval waktu jam ke-1, 2, 3,
4, 5, dan 6.
Diambil 1 ml cuplikan urin dan ditambahkan Aquadest hingga 10 ml.
Dibaca serapan pada panjang gelombang maksimum yang didapatkan dari sampel urin.
Dilakukan pengenceran jika nilai yang terbaca masih terlalu besar.
Dihitung parameter farmakokinetik vitamin B1.

ANALISIS VITAMIN B6 TOTAL DALAM CUPLIKAN URIN


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Vitamin B6 atau Piridoksin merupakan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan
tubuh. Vitamin ini berperan sebagai salah satu senyawa koenzim A yang digunakan tubuh
untuk menghasilkan energi melalui jalur sintesis asam lemak, seperti spingolipid dan
fosfolipid. Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam metabolisme nutrisi dan memproduksi
antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap antigen atau senyawa asing yang
berbahaya bagi tubuh. Vitamin ini merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah
didapatkan karena vitamin ini banyak terdapat di dalam beras, jagung, kacang-kacangan,
daging, dan ikan. Kekurangan vitamin dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kulit pecahpecah, keram otot, dan insomnia.
Vitamin B6 merupakan jenis vitamin yang larut air. Pemberian vitamin B6 pada
umumnya untuk mengkoreksi kekurangan vitamin B6 dan membantu mengurangi gejala
neuritis yang disebabkan oleh pemakaian isoniazid (INH) pada terapi TB. Sumber makanan
yang banyak mengandung vitamin ini antara lain daging, sayuran dengan daun berwarna
hijau, sereal gandum utuh, ragi, dan pisang. Kebutuhan vitamin B6 berdasarkan U.S. RDA
adalah untuk pria sebanyak 15-19 mg/hari, wanita 14-15 mg/hari, kehamilan 18 mg/hari,
dan laktasi sekitar 20 mg/hari.
Farmakodinamik Obat
Pemberian piridoksin secara oral dan parenteral tidak menunjukkan efek
farmakodinamik yang nyata. Dosis sangat besar yaitu 3-4 g/kg BB menyebabkan kejang dan
kematian pada hewan coba tetapi dosis kurang dari ini umumnya tidak menimbulkan efek
yang jelas. Piridoksal fosfat dalam tubuh merupakan koenzim yang berperan penting
dalam metabolisme berbagai asam amino, di antaranya dekarboksilasi, transminasi, dan
rasemisasi triptofan, asam-asam amino yang bersulfur dan asam amino hidroksida.
Farmakokinetik Obat
Piridoksin, piridoksal, dan piridoksamin mudah diabsorpsi melalui saluran cerna.
Metabolit terpenting dari ketiga bentuk tersebut adalah 4-asam piridoksat. Ekskresi melalui
urin terutama dalam bentuk 4-asam piridoksat dan piridoksal.
Indikasi
Pencegahan dan pengobatan defisiensi B6, diberikan bersama vitamin B lainnya
atau sebagai multivitamin untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin B kompleks.
Indikasi lain adalah untuk mencegah dan mengobati neuritis perifer oleh obat seperti INH,

sikloserin, hidralazin, penisilamin yang bekerja sebagai antagonis piridoksin dan/atau


meningkatkan ekskresinya melalui urin. Pemberian pada wanita yang menggunakan
kontrasepsi oral yang mengandung estrogen juga dibenarkan karena kemungkinan
terjadinya defisiensi piridoksin pada wanita-wanita tersebut. Piridoksin juga dilaporkan
dapat memperbaikin gejala keilosis, dermatitis seboroik, glositis, dan stomatitis yang tidak
memberikan respon terhadap tiamin, riboflavin, dan niasin serta dapat mengurangi gejalagejala yang menyertai tegangan prahaid (pramesntrual tension). Indikasi lain yaitu untuk
anemia yang responsive terhadap piridoksin yang biasanya sideroblastik dan mungkin
disebabkan kelainan genetik. Vitamin B6 bekerja sama dengan semua vitamin B lainnya,
khususnya niacin, asam folat, dan cobalamin dan kontribusinya ke berbagai fungsi dalam
tubuh. Asam amino dikonversi oleh vitamin B6 menjadi protein dan juga diperlukan untuk
mengubah gula yang tersimpan dalam tubuh menjadi energi penting. Pada dasarnya, vitamin
B6 penting untuk mengubah protein yangdikonsumsi menjadi protein yang dibutuhkan tubuh
dan juga untuk mengubah karbohidrat dari bentuk yang disimpan dalam tubuh ke bentuk
yang dapat digunakan untuk energi ekstra.
Metode spektrofotometri
Pada daerah ultraviolet, piridoksin, piridokamin dan piridoksal menunjukkan daerah
penyerapan yang karakteristik walaupun tidak ada maksimum untuk ketiganya. Kadar
vitamin B6 jumlah dalam larutan buffer pH 6,75 dapat diterapkan pada panjang gelombag
325 nm. Pada panjang gelombang ini, piridoksin dan piridoksamin menunjukkan absorbansi
maksimum. Prosedur penetapan dalam tablet tunggal secara spektrofotometri panjang
gelombang maksimum (291 nm).
Kekurangan vitamin B-6 dapat menyebabkan beberapa permasalahan
seperti peradangan kulit (dermatitis), depresi, kebingungan, kejang, kelemahan otot , sulit
berkonsentrasi dan bahkan anemia. Oleh karenanya Vitamin B6 sering dijadikan sebagai
salah satu pengobatan beberapa penyakit tersebut. Selain itu, vitamin B6 Juga dapat
membantu mengontrol kadar homosistein.
Tubuh manusia tidak dapat mensintesis vitamin B6, maka dari itu hanya dapat
diperoleh dari makanan dan minuman. Sumber makanan dari vitamin B6 diantaranya
beberapa buah, sayuran, kacang-kacangan, sereal, ikan, unggas, dan daging. Beberapa
makanan yang kaya akan vitamin ini seperti pisang, alpukat, kenari, tomat, kentang, keledai,
bayam, dan gandum. Sedangkan manfaat dari vitamin B6 berperan penting dalam proses
koordinasi metabolisme tubuh, secara menyeluruh memastikan fungsi normal dari sistem
saraf, regulasi hormon, memperbaiki jaringan, pertumbuhan sel, dan pembentukan sel darah
merah, asam nukleat, dan asam amino.

BAB II
METODE KERJA
ALAT dan BAHAN
a)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Alat :
Beaker glass.
Botol coklat.
Labu ukur.
Pipet gondok.
Sentrifunge.
Spektrofotometri.
Vial.

b) Bahan :
1. Aquadest.
2. Sampel Urin Manusia.
3. Tablet Vitamin B6.

METODE KERJA

Pemberian Vitamin B6 dengan Pengumpulan Urin

Diminum obat tablet vitamin B6 dengan air 200 ml lalu ditampung urin didalam botol
coklat sebagai larutan blanko.
Diminum kembali air sebanyak 200 ml setiap urinasi dan ditampung kembali dalam botol
coklat lain.
Diulangi prosedur sebanyak 6 kali selama 6 jam.

Analisis Cuplikan Vitamin B6 Total dalam Urin

Ditentukan kadar vitamin B6 total dalam urin masing-masing interval waktu jam ke-1, 2, 3,
4, 5, dan 6.
Diambil 1 ml cuplikan urin dan ditambahkan Aquadest hingga 10 ml.
Dibaca serapan pada panjang gelombang maksimum yang didapatkan dari sampel urin.
Dilakukan pengenceran jika nilai yang terbaca masih terlalu besar.
Dihitung parameter farmakokinetik vitamin B6.

ANALISIS KAFEIN TOTAL DALAM CUPLIKAN URIN


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kafein merupakan alkaloid kristal xanthine berwarna putih dan rasanya pahit yang
bisa digunakan sebagai perangsang syaraf (psychoactive stimulant) dan juga memiliki efek
diuretik pada manusia dan hewan. Kafein ditemukan oleh ahli kimia Jerman, Friedrich
Ferdinand Runge (1819). Dia menamainya dengan istilah "Kaffein" yaitu sebuah senyawa
kimia yang ada pada kopi. Kafein juga dinamai "Guaranine" karena ditemukan pada guarana,
"Mateine" ketika ditemukan pada mate, dan "Theine" ketika ditemukan pada teh. Semua
nama ini merupakan sinonim dari kafein. Pada manusia, kafein merupakan perangsang sistem
saraf pusat (central nervous system-CNS), memiliki efek sementara menghilangkan kantuk
dan mengembalikan kesadaran. Banyak minuman yang mengandung kafein, misalnya kopi,
teh, minuman ringan dan minuman energi. Kafein merupakan zat psychoactive yang paling
banyak dipakai diseluruh dunia dan legal.
Tanaman kopi sudah lama dikenal orang di Indonesia maupun di negaranegara lain.
Biji dari tanaman ini digunakan sebagai minuman penyegar yang banyak digemari orang
pada umumnya. Zat yang berperan di dalam biji kopi sehingga dapat digunakan sebagai
minuman penyegar adalah kafein. Kafein dapat merangsang sistim syarat pusat terutama
celebral corteks dalam dosis kecil (1OO sampai 15O mg), merangsang celebrum, dan dosis
yang lebih besar merangsang pusat modullary dan syaraf tulang belakang. Hasil dari
rangsangan ini dapat menimbulkan daya pikir lebih cepat dan jernih sehingga mempunyai
ingatan lebih tajam, membuat pertimbangan lebih cepat, perasaan ngantuk dan lelah akan
menjadi hilang, walaupun hanya bersifat sementara.
Penggunaan yang berlebihan dari minuman yang mengandung kafein, akan
menimbulkan rasa gelisah (neurosis), tidak dapat tidur (insomia) dan denyut jantung tidak
beraturan (trachcardia). Di dalam jaringan memalia kafein mengalami 3 reaksi enzimatik
yaitu : demetilasi membentuk salah satu dari dimetil xanthin; theophyline (1,3 dimetil
xanthin); theobromin (3,7 dimetil xanthin) atau para xanthin (1,7 dimetil xantin), oksidasi
membentuk turunan asam dan cincin terbuka membentuk diamino urasil. Di dalam tubuh
manusia 7O% dosis kafein pada mulanya diubah menjadi paraxanthin, dan selanjutnya 25%
lagi dengan cara yang sama didemetilasikan membentuk TheoPhyllin dan Theobromin
kurang dari 5% mengalami reaksi yang tidak termasuk demetilasi. Suatu penelitian telah
dilakukan bahwa produk akhir dari kafein pada manusia adalah 1 metil asam urat dan 1,3 di
metil asam urat dalam jumlah yang kecil masih kita temukan secara utuh di dalam urin.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara tegas menetapkan kadar kafein
dalam minuman berernergi maksimal 50 mg. Jika lebih dari itu maka dalam jangka panjang
pengkonsumsinya bisa terkena penyakit ginja, jantung, darah tinggi, diabetes, stroke, dan
risiko abortus untuk wanita hamil. Secara jangak panjang konsentrasi kafein yang

terakumulasi di dalam tubuh dalam jumlah yang melebihi batas dapat menimbulkan
gangguan kesehatan. Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam
biji kopi, daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat dan beberapa minuman penyegar. Kafein
memiliki berat molekul 194,19 gram/mol. Dengan rumus kimia C 8H10N8O2 dan pH 6,9
(larutan kafein 1 % dalam air ). Secara ilmiah, efek kafein terhadap kesehatan sebetulnya
tidak ada, tetapi yang ada adalah efek tak langsungnya seperti menstimulasi pernafasan dan
jantung, serta memberikan efek samping berupa rasa gelisah (neuroses), tidak dapat tidur
(insomnia) dan denyut jantung tak beraturan (tachycardia). Kopi dan teh banyak mengandung
kafein dibandingkan jenis tanaman lain, karena tanaman kopi dan teh menghasilkan biji kopi
dan daun teh yang sangat cepat, sementara penghancurannya sangat lambat.
Spektrofotometri adalah salah satu teknik analisis fisika kimia yang didasarkan
pengabsobsian energi cahaya oleh suatu sistem kimia sebagai fungsi dari panjang gelombang
radiasi. Spektrofotometri uv-vis adalah pengukuran serapan cahaya di daerah ultraviolet (200
350 nm) dan sinar tampak (350 800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan cahaya uv atau
cahaya tampak mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital
keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi.
Panjang gelombang cahaya uv atau cahaya tampak bergantung pada mudahnya promosi
elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron,
akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan
energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa
yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang
lebih mudah dipromosikan dari pada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih
pendek. Prinsip dari spektrofotometri UV-VIS senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah
tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikandari pada
senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih pendek. Jika radiasielektromagnetik
dilewatkan pada suatu media yang homogen, maka sebagian radiasi ituada yang dipantulkan,
diabsorpsi, dan ada yang transmisikan. Radiasi yang dipantulkandapat diabaikan, sedangkan
radiasi yang dilewatkan sebagian diabsorpsi dan sebagianlagi ditransmisikan.
Absorpsivitas hanya tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul dan panjang gelombang
atau frekuensi radiasi yang digunakan. Spektrum absorpsi ( kurva absorpsi ) adalah kurva
yang menggambarkan hubungan antara absorban atau transmitan suatu larutan terhadap
panjang gelombang atau frekuensi radiasi. Pemilihan panjang gelombang untuk analisis
kuantitatif dilakukan berdasarkan pada spektrum absorpsi yang diperoleh pada percobaan.
Pengukuran absorpsi harus dilakukan pada panjang gelombang absorban maksimum maks
karena :
1.

Kepekaan maksimum dapat diperoleh jika larutan dengan konsentrasi tertentu


memberikan signal yang kuat pada panjang gelombang tersebut.

2.

Perbedaan absorban sangat minimal dengan berubahnya panjang gelombang disekitar


panjang gelombang absorban maksimum sehingga kesalahan pengukuran sangat kecil.
Pelarut yang digunakan untuk spektrofotometri harus memenuhi persyaratan tertentu

agar diperoleh hasil pengukuran yang tepat. Pertama-tama, pelarut harus dipilih yang
melarutkan komponen analat, tetapi sesuai dengan bahan kuvet.
BAB II
METODE KERJA
ALAT dan BAHAN
a)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Alat :
Beaker glass.
Botol coklat.
Labu ukur.
Pipet gondok.
Sentrifunge.
Spektrofotometri.
Vial.

b) Bahan :
1. Aquadest.
2. Sampel Urin Manusia.
3. Tablet Kafein.

METODE KERJA

Pemberian Kafein dengan Pengumpulan Urin

Diminum obat tablet Kafein dengan air 200 ml lalu ditampung urin didalam botol coklat
sebagai larutan blanko.
Diminum kembali air sebanyak 200 ml setiap urinasi dan ditampung kembali dalam botol
coklat lain.
Diulangi prosedur sebanyak 6 kali selama 6 jam.

Analisis Cuplikan Kafein Total dalam Urin

Ditentukan kadar Kafein total dalam urin masing-masing interval waktu jam ke-1, 2, 3, 4, 5,
dan 6.
Diambil 1 ml cuplikan urin dan ditambahkan Aquadest hingga 10 ml.
Dibaca serapan pada panjang gelombang maksimum yang didapatkan dari sampel urin.
Dilakukan pengenceran jika nilai yang terbaca masih terlalu besar.
Dihitung parameter farmakokinetik Kafein.

DAFTAR PUSTAKA
Pauling, L. 1971. General Chemistry Edisi 4. Jakarta : Gaya Baru.
Sunita Sudarmadji, A. M. dan Lana Sularto. 2007. Pengaruh Ukuran Perusahaan,
Profitabilitas, Leverage, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary
Disclosure Laporan keuangan Tahunan. Jurnal PESAT Volume 2. Jakarta : Universitas
Gunadarma.
Sandra Goodman.1991. Vitamin C : The Master Nutrient. Dalam : Muhilal dan Komari
Ester-C. Vitamin C Generasi III. Cetakan ketiga. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman 96-97
Prawirokusumo,Soeharto,Prof.Dr.M.Sc.1991. Biokimia Nutrisi dan Vitamin. Yogyakarta :
BPFE.

Leon Shargel, Andrew B.C.Yu. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi
Kedua Alih bahasa : Fasich & Siti Sjamsiah. Surabaya : Airlangga University Press.

Anonim. 2011. Klasifikasi dan Metabolisme Vitamin. http://imbang .staff.umm.ac.id/files /


2010/02/Klasifikasi_dan_Metabilisme_vitamin_imba
Anonim. 2010. Mekanisme Kerja Vitamin.http://eprints.undip.ac.id/13893/2/bab_1-3.pdf
Anton. 2012. Magnesium.http://digilib.unsri.ac.id/download/MGSO4%20.pdf
Elmhurst. 2012. Mineral.http://www.elmhurst.edu/~richs/EC/102/Lectures/Minerals.pdf
Rafael. 2012. Macam-Macam Vitamin. http ://casswww .ucsd. edu/archive/ personal/ puetter/
vitamin.pdf
Almatsier S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Day, R.A. dan A.L. Underwood. 1981. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi Keempat. Jakarta :
Penerbit Erlangga.
Guyton, A . C . 2007. Biokimia untuk Pertanian. Medan : USU-Press.
Bassett, J., R.C. Denney, G.H. Jeffery, dan J. Mendham. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif
Anorganik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Khopkar, S.M., 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia Press.