Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

KEMOTERAPI
ABSORPSI
Hari, tanggal : Sabtu, 7 November 2015

Kelompok 4
1. Mila Rosa
(0661 13 146)
2. Marwah (0661 13 189)
3. Repli Dika
(0661 13 169)
Dosen Pembimbing:
Nisa Najwa, M.Farm., Apt
Drh. Mien Rachminiwati, M.Sc., Ph.D
Asisten Dosen :
Fani Anggraeni
Jenny Aditya

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR

2015

LEMBAR PENGESAHAN
ABSORPSI
7 November 2015

Dosen Pembimbing
1.
2.
3.
4.

Drh. Mien Rachminiwati, M.Sc., Ph.D


E. Mulyati Effendi., MS
Yulianti, M.Farm
Nisa Najwa, M.Farm., Apt

Ketua:

Mila Rosa
(066113146)

Repli Dika
(066113169)

Marwah
(066113189)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

1.2

Tujuan Percobaan
Mempelajari faktor yang mempengaruhi absorpsi obat yang mempengaruhi intemsitas

efek obat yang timbul.


Memahami bahwa media yang mempengaruhi absorpsi obat, mempunyai peran

penting dalam menentukan potensi suatu sediaan obat.


Mempelajari pengaruh pH media terhadap kecepatan absorpsi di lambung.
Latar Belakang

Absorpsi obat berperan penting untuk akhirnya menentukan efektivitas obat. Absorpsi
atau penyerapan zat aktif adalah masuknya molekul-molekul obat kedalam tubuh atau
menuju ke peredaran darah tubuh setelah melewati sawar biologik (Aiache, dkk, 1993). Agar
suatu obat dapat mencapai tempat kerja di jaringan atau organ, obat tersebut harus melewati
berbagai membran sel. Sebelum obat diabsorpsi, obat harus dilarutkan dalam larutan cairan
biologis terlebih dahulu. Kelarutan (cepat-lambatnya melarut) menentukan banyaknya obat
yang terabsorpsi. Disolusi obat didahului oleh pembebasan obat dari bentuk sediaannya. Obat
yang terbebaskan dari bentuk sediaannya belum tentu diabsorpsi, jika obat tersebut terikat
pada kulit atau mukosa maka disebut adsorpsi. Jika obat dapat tembus ke dalam kulit, tetapi
belum masuk ke kapiler disebut penetrasi. Hanya jika obat meresap atau menembus dinding
kapiler dan masuk ke dalam saluran darah maka itu disebut absorpsi (Joenoes, 2002).
Kecepatan banyaknya obat yang diabsorspsi untuk kemudian mencapai reseptor
memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap onset obat, banyaknya obat yang mencapai
dan menduduki reseptor menentukan intensitas kerja obat sedangkan lamanya obat berada
direseptor menentukan durasi atau lamanya kerja obat. selain mengalami absorpsi dan
distribusi sebagian obat mengalami metabolisme kemudian diekskresikan ke luar tubuh.
Kecepatan metabolisme dan ekskresi dapat mempengaruhi lama kerja obat atau durasi obat.
Bentuk sediaan dan cara pemberian merupakan penentu dalam memaksimalkan
proses absorbsi obat oleh tubuh karena keduanya sangat menentukan efek biologis suatu obat
seperti absorpsi, kecepatan absorpsi dan bioavailabilitas (total obat yang dapat diserap), cepat
atau lambatnya obat mulai bekerja (onset of action), lamanya obat bekerja (duration of
action), intensitas kerja obat, respons farmakologik yang dicapai serta dosis yang tepat untuk
memberikan respons tertentu
Obat sebaiknya dapat mencapai reseptor kerja yang diinginkan setelah diberikan
melalui rute tertentu yang nyaman dan aman seperti suatu obat yang memungkinan diberikan
secara intravena dan diedarkan di dalam darah langsung dengan harapan dapat menimbulkan
efek yang relatif lebih cepat dan bermanfaat.

1.3

Hipotesis

Absorpsi obat dalam suasana asam yang terjadi di lambung akan lebih besar
dibandingkan absorpsi obat dalam suasana basa, karena absorpsi Asam Salisilat dalam
HCL yang terjadi di lambung lebih besar dibandingkan absorpsi Asam Salisilat dalam
NaHCO3 yang terjadi di lambung.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Absorpsi dari obat mempunyai sifat-sifat tersendiri. Beberapa diantaranya dapat
diabsorpsi dengan baik pada suatu cara penggunaan, sedangkan yang lainnya tidak (Ansel,
1989). Absorpsi obat adalah langkah utama untuk disposisi obat dalam tubuh dari sistem
LADME (Liberasi-Absorpsi-Distribusi-Metabolisme-Ekskresi). Bila pembebasan obat dari
bentuk sediaannya (liberasi) sangat lamban, maka disolusi dan juga absorpsinya lama,
sehingga dapat mempengaruhi efektivitas obat secara keseluruhan (Joenoes, 2002).
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat :
1. Pengaruh besar-kecilnya partikel obat
Kecepatan disolusi obat berbanding langsung dengan luas permukaan yang dalam
kontak dengan cairan/pelarut; bertambah kecil partikel, bertambah luas permukaan total,
bertambah mudah larut (Joenoes, 2002).
2. Pengaruh daya larut obat
Pengaruh daya larut obat atau bahan aktif tergantung pada :
a. Sifat kimia: modifikasi kimiawi obat
b. Sifat fisik: modifikasi fisik obat
c. Prosedur dan teknik pembuatan obat
d. Formulasi bentuk sediaan/galenik dan penambahan eksipien (Joenoes, 2002).
3. Beberapa faktor lain fisiko-kimia obat
a. pKa dan derajat ionisasi obat
Konsentrasi relatif bentuk ion/molekul bergantung pada pKa obat dan juga pada pH
lingkungannya. Kebanyakan obat berupa asam lemah atau basa lemah; oleh karena absorpsi
dengan cara difusi pasif hanya terjadi dalam bentuk tidak terionisasi (atau molekul), maka
perbandingan obat yang tidak terionisasi sangat menentukan absorpsi. pKa obat merupakan
faktor penting, apakah obat itu bila diberikan per oral diabsorpsi lebih banyak di lambung
atau lebih banyak di usus (Joenoes, 2002).
b. Koefisien partisi lemak atau air (Joenoes, 2002).
Kebanyakan zat aktif merupakan basa atau asam organik, maka dalam keadaan terlarut
sebagian molekul berada dalam bentuk terionkan dan sebagian dalam bentuk tak terionkan.
Jika ukuran molekul tidak dapat melalui kanal-kanal membran, maka polaritas yang kuat dari
bentuk terionkan akan menghambat proses difusi transmembran. Hanya fraksi zat aktif yang
tak terionkan dan larut dalam lemak yang dapat melalui membran dengan cara difusi pasif.
Untuk obat yang zat aktifnya merupakan garam dari suatu asam kuat atau basa kuat, derajat
ionisasi berperan pada hambatan difusi transmembran. Sebaliknya untuk elektrolit lemah

berupa garam yang berasal dari asam lemah atau basa lemah yang sedikit terionisasi, maka
difusi melalui membran tergantung kelarutan bentuk tak terionkan (satu-satunya yang
berpengaruh pada konsentrasi), serta derajat ionisasi molekul (Syukri, 2002).
Contoh membran biologis: sel epitel saluran cerna, sel epitel paru, sel endotel buluh
darah kapiler, sawar darah-otak, sawar darah-cairan serebrospinal, plasenta, membran
glomerulus, membran tubulus renalis, dan sel epidermis kulit.
Usus Halus
Pencernaan makanan yang dimulai dalam lambung, dilanjutkan dalam usus halus oleh enzimenzim yang dihasilkan mukosanya dan dibantu agen pengemulsi dan enzim yang disekresi ke
dalam lumennya oleh hati dan pankreas (Fawcett, 1994). Usus halus merupakan lanjutan
lambung yang terdiri atas tiga bagian yaitu duodenum yang terfiksasi, jejunum dan ileum
yang bebas bergerak. Diameter usus halus beragam tergantung pada letaknya (2-3 cm) dan
panjang keseluruhan antara 5-9 m. Panjang tersebut akan berkurang oleh gerakan regangan
otot, yang melingkari peritoneum (Aiache, dkk, 1993). Bahan obat dari lambung masuk ke
duodenum; fungsi utama duodenum dan bagian pertama jejunum adalah untuk sekresi,
sedangkan fungsi bagian kedua dari jejunum dan ileum ialah untuk absorpsi. pH usus halus
meningkat dari duodenum 4-6, jejunum 6-7, ileum 7-8. pH dalam usus halus berperan besar
dalam hal absorpsi obat, sebagai akibat disolusi dari berbagai bentuk sediaannya. Pada pH
yang berbeda-beda absorpsi optimal suatu obat tergantung juga pada pKa obat.
Lambung
Lambung merupakan bagian dari saluran cerna setelah esofagus dan sebelum duodenum.
Tukak (ulkus) dapat terjadi pada mukosa, submukosa, dan kadangkadang sampai lapisan
muskularis dari traktus gastrointestinal berhubungan dengan asam lambung yang cukup
mengandung HCl; Termasuk tukak yang terdapat pada bagian bawah esofagus, lambung, dan
duodenum bagian atas (Sujono Hadi, 2002). Tukak lambung dapat disebabkan oleh zat yang
dapat menginduksi sekresi asam lambung, misalnya histamin dan anti inflamasi nonsteroid.
Kerja berat, stress berat, tidak tenang, atau kurang tidur juga menyebabkan asam lambung
yang tinggi. Sering terlambat makan, kebiasaan minum obat yang bersifat asam saat perut
kosong, minum minuman beralkohol dan menghisap rokok berlebihan juga dapat menjadi
penyebab tukak lambung. Demikian pula dengan infeksi bakteri Helicobacter pylori yang
dapat menyerang lapisan submukosa lambung.
Absorpsi melalui pemberian oral dapat melalui lambung atau melalui usus halus. Absorpsi
obat di lambung terjadi pada obat yang memiliki harga pH sangat asam, dalam lambung
diabsorpsi terutama asam lemah dan zat
netral yang lipofil, contoh asetosal dan barbital.
Sedangkan, absorpi di usus halus Dalam usus halus berlaku kebalikannya, yaitu basa lemah
yang diserap paling mudah, misalnya alkaloida. Beberapa obat yang bersifat asam atau basa
kuat dgn derajat ionisasi tinggi dgn sendirinya diabsorpsi dgn sangat lambat. Zat lipofil yang
mudah larut dalam cairan usus lebih cepat diabsorpsi.

BAB III
METODE KERJA
3.1 ALAT dan BAHAN

Alat :
Alat bedah.
Alat suntik dengan stopcock dan selang karet.
Papan Fiksasi.
Tabung reaksi.
Timbangan.

Bahan :
Asam Salisilat HCl 0.1 N.
Deretan konsentrasi Asam Salisilat.
Kloroform untuk membius.
Larutan FeCl3 dalam HNO3 0.1%
Larutan fisiologis HCl 0.9 N.
.Larutan garam faali 37
Tikus mencit yang telah dipuasakan.
Urethan.

3.2 CARA KERJA


1. Dipuasakan mencit selama 24 jam.
2. Ditimbang berat badan mencit dan dibuat data biologis mencit.
3. Dianestesi mencit dengan pentotal dosis.
4. Diterlentangkan mencit yang sudah terbius diatas papan fiksasi.
5. Dicukur bulu bulu disekitar abdomen.
6. Disayat kulit didaerah linea alba dibelakang kartilago ke arah belakang sekitar 3-4 cm.
7. Dikeluarkan lambung, diikat esophagus dengan benang.
8. Dibuat sayatan didaerah pylorus, dimasukan pipa gelas dan fiksasi.
9. Dihubungkan pipa dengan alat suntik melalui stopcock.
10. Dibersihkan lambung dengan larutan garam faali.

11. Dimasukan salisilat sebanyak 4-6 mL.


12. Dicatat waktu mulai Asam salisilat dimasukan dan dikocok melalui spoit, diambil 2 mL
sebagai konsentrasi awal (Ct0).
13. Dimasukan kembali lambung ke dalam rongga perut.
14. Diambil kembali cairan yang tersisa sebagai (Ct1).

Cara menentukan konsentrasi Asam salisilat


a. Disaring cairan yang diambil dari lambung kemudian disaring dengan kertas saring.
b. Ditambahkan 5 mL reagen kedalam 1 mL filtrat (FeCl3 1% dalam HNO3 0.1 N).
c. Dibandingkan warna yang terbentuk dengan deretan konsentrasi standar Asam
salisilat pada tabung reaksi.

DAFTAR PUSTAKA
Ganiswara, Sulistia G (Ed), 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi IV. Balai Penerbit
Falkultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Katzung, Bertram G., Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta.

Setiawati, A. dan F.D. Suyatna, 1995, Pengantar Farmakologi Dalam Farmakologi dan
Terapi, Edisi IV, Editor: Sulistia G.G, Gaya Baru, Jakarta.
Priyanto. 2008. Farmakologi Dasar Edisi II. Depok: Leskonfi