Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH SEMINAR USULAN PENELITIAN

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN SIRSAK (Annona


muricata L.) DALAM RANSUM TERHADAP JUMLAH
ERITROSIT DAN LEUKOSIT ITIK TEGAL JANTAN

Oleh:
AHSIN MUHAMAD MUDRIK
D1E012107

Pembimbing I: Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P.


Pembimbing II: Drh. Mohandas Indradji, M.P.
Seminar akan dilaksanakan pada:

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
PURWOKERTO
2015
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ternak itik merupakan salah satu komoditi unggas yang
cukup penting sebagai penghasil telur dan daging, untuk
mendukung ketersediaan protein hewani yang murah dan mudah
didapat. Salah satu jenis itik yang banyak dipelihara peternak
adalah itik Tegal. Itik Tegal dikenal sebagai itik yang produksinya
tinggi, sehingga itik Tegal banyak diusahakan oleh peternak,
terbukti itik Tegal tidak hanya berkembang di kabupaten Tegal,
namun juga berkembang di jawa Barat, Papua, Aceh, Lampung
dan Sulawesi Selatan (Susanti dan Prasetyo, 2007). Pemilihan
bibit

itik

merupakan

salah

satu

faktor

terpenting

dalam

keberhasilan usaha peternakan itik. Seleksi itik yang sering


dilakukan peternak biasanya berdasarkan penampilan tubuh,
hasilnya kurang memuaskan karena kurangnya pendekatan
secara fisiologis (Ismoyowati dkk, 2006).
Profil darah dapat menunjukkan keadaan fisiologis maupun
patologis seekor ternak. Pemeriksaan darah dapat digunakan
untuk mendiagnosis penyakit atau kelainan-kelainan dalam
darah atau organ pembentuk tubuh ternak (Napirah dkk, 2013).
Darah juga berperan dalam membentuk sistem kekebalan tubuh,
sehingga

perlu

diketahui

memiliki

kekebalan

tubuh

untuk
tinggi

memperoleh

ternak

terhadap

penyakit

produktivitas tinggi (Ismoyowati dkk, 2006).

yang
dan

Radikal bebas dapat sangat mudah menerobos masuk


kedalam sel dan dapat mengakibatkan berbagai kerusakan,
termasuk memicu pembelahan sel, misalnya sel-sel darah. Selsel darah yang sering membelah maka semakin besar terjadinya
perubahan jumlah sel-sel darah yaitu eritrosit dan leukosit
(Sundaryono, 2011).
Sirsak lebih dikenal sebagai tanaman buah. Namun, saat ini
salah satu tumbuhan yang mengandung antioksidan tinggi ini,
telah banyak dijadikan sebagai tanaman obat (Syahida dkk,
2012). Antioksidan yang terkandung dalam daun sirsak yaitu
senyawa flavonoid yang memiliki efek kesehatan baik dalam
mengatasi radikal bebas (Puspitasari dkk, 2015).
Perumusan Masalah
Salah satu upaya untuk meningkatkan status kesehatan
ternak akaibat adanya radikal bebas dalam tubuh ternak yaitu
dengan memanfaatkan antioksidan. Senyawa antioksidan yang
dapat digunakan yaitu flavonoid yang terdapat dalam daun
sirsak. Status kesehatan hewan dapat diketahui melalui profil
darah, karena darah merupakan komponen yang mempunyai
peranan penting dalam pengaturan fisiologis tubuh. Profil darah
yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah eritrosit (sel
darah merah) leukosit (sel darah putih). Adapun rumusan
masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana

pengaruh

penambahan

tepung

daun

sirsak

(Annona muricata L.) dalam ransum terhadap jumlah eritrosit


dan leukosit itik Tegal jantan.
2. Berapa persentase penambahan tepung daun sirsak (Annona
muricata L.) dalam ransum yang tepat terhadap jumlah
eritrosit dan leukosit itik Tegal jantan.
Hipotesis

1. Terdapat pengaruh penambahan tepung daun sirsak (Annona


muricata L.) dalam ransum terhadap jumlah eritrosit dan
leukosit itik Tegal jantan.
2. Penambahan 15% tepung daun sirsak (Annona muricata L.)
per kilogram pakan merupakan level penambahan yang tepat
terhadap jumlah eritrosit dan leukosit itik Tegal jantan.
Tujuan Penelitian
Menentukan persentase penambahan tepung daun sirsak
(Annona muricata L.) dalam ransum yang optimal terhadap
jumlah eritrosit dan leukosit itik Tegal jantan.
Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi ilmiah penambahan tepung daun sirsak
(Annona muricata L.) dalam ransum terhadap jumlah eritrosit
dan leukosit itik Tegal jantan.
2. Sebagai dasar penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan
tepung daun sirsak sebagai campuran ransum itik Tegal
jantan.
TINJAUAN PUSTAKA
Itik

tegal

termasuk

dalam

salah

satu

itik

lokal

yang

berkemampuan produksi tinggi. Produksi telur itik Tegal mampu


mencapai 230 butir/ekor/tahun dengan bobot mencapai 70 gram
(Srigandono, 1991). Hal ini menyebabkan ketersediaan bibit itik
jantan

dari

jenis

itik

petelur

cukup

banyak,

mengingat

perbandingan DOD jantan dan betina yang dihasilkan pada


setiap siklus produksi penetasan adalah 1:1. Penggunaan itik
pejantan sebagai usaha penggemukan itik selain menggunakan
itik pedaging saat ini banyak menggunakan DOD itik pejantan
dari itik petelur. Disamping harganya lebih murah, DOD jantan
petelur

memiliki

pertumbuhan

yang

dibandingkan DOD betina. (Wakhid, 2010).

relatif

lebih

cepat

Pemilihan bibit itik merupakan salah satu faktor terpenting


dalam keberhasilan usaha peternakan itik. Seleksi itik yang
sering dilakukan peternak biasanya berdasarkan penampilan
tubuh,

hasilnya

kurang

memuaskan

karena

kurangnya

pendekatan secara fisiologis (Ismoyowati dkk, 2006). Darah


merupakan komponen yang mempunyai fungsi penting dalam
pengaturan fisiologis tubuh dan dapat dijadikan parameter dari
kesehatan

hewan

(Napirah

dkk,

2013).

Guyton

(1983)

menjelaskan bahwa pemeriksaan darah merupakan salah satu


metode untuk menetapkan suatu diagnosis penyakit yang dapat
memberi gambaran tentang keadaan patologis dan fisiologis.
Kelainan-kelainan dalam darah atau organ-oran pembentuk
tubuh ternak dapat diketahui melalui pemeriksaan darah. Profil
darah yang baik akan menunjang proses fisiologis yang menjadi
lebih baik (Ali dkk, 2013).
Winarsi (2007), menjelaskan bahwa di dalam sel darah merah
terdapat glutation, meskipun bukan sebagi enzim, namun
glutation merupakan kosubstrat bagi enzim glutation perokside.
Oleh karena itu, glutation berperan juga sebagai antioksidan.
Glutation dalam sel eritrosit mencegah terjadinya oksidasi
hemoglobin menjadi oksihemoglobin ketika tubuh melakukan
aktivitas. Fungsi glutation sebagai antioksidan melalui beberapa
mekanisme. Senyawa tersebut secara kimia dapat berreaksi
dengan oksigen singlet, radikal superoksida, dan hidroksil, dan
secara langsung dapat berperan sebagai scavenger radikal
bebas. Sedangkan peran flavonoid sebagai antioksidan didalam
sel darah merah bertindak sebagai penampung radikal hidroksil
dan

superoksida

(Sundaryono, 2011).

sehingga

melindungi

lipid

membran

Peningkatan dan penurunan jumlah leukosit dapat terjadi


karena pengaruh fisiologis dan patologis. Peningkatan jumlah
leukosit dalam darah disebut leukositosis. Leukositosis yang
terjadi karena faktor fisiologis yang disebabkan karena aktivitas
otot,

rangsangan

ketakutan

dan

gangguan

emosional.

Sedangkan pengaruh patologis dapat disebabkan karena proses


apatologis

dalam

tanggapan

terhadap

serangan

penyakit.

jumlah leukosit di atas kisaran normal dapat menjadi indikasi


adanya infeksi (Triana, 2006). Penelitian yang dilakukan Restuati
(2013) menyimpulkan bahwa ekstrak daun sirsak memiliki
pengaruh terhadap leukosit yang terdiri dari neutrofil, limfosit,
dan monosit pada tikus putih. Jumlah total leukosit meningkat
setelah diberi ekstrak daun sirsak. Peningkatan jumlah leukosit
seiring dengan fungsi murisolin (senyawa dalam acetogenin)
melindungi dan memulihkan sistem kekebalan tubuh.
Bagian tanaman sirsak, mulai dari daun, sampai kulit batang
dan akarnya, dapat dimanfaatkan sebagai obat. Namun banyak
penelitian yang menyatakan bahwa daun sirsak yang dianggap
sebagai bagian yang paling berkhasiat. Daunnya telah banyak
digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan juga
sebagai sumber vitamin C (Prasetyorini dkk, 2014). Londok dan
Mandey (2014), melaporkan bahwa pada daun sirsak terdapat
senyawa

steroid,

flavonoid,

tannin,

dan

saponin.

Adanya

flavonoid dapat menyapu adanya radikal bebas. Flavonoid


bertindak penampung yang baik radikal hidroksil superoksida,
dengan demikian melindungi membran lipid terhadap reaksi
yang merusak ribosom. Winarsi (2007) menambahkan, efek
proteksi flavonoid dapat digunakan pada penyakit-penyakit yang
diakibatkan

oleh

radikal

bebas.

Potensi

flavonoid

sebgai

antioksidan berkaitan erat dengan manfaatnya bagi kesehatan,


termasuk perlindungan dari serangan penyakit.
METODE PENELITIAN DAN ANALISIS
Metode Penelitian
Materi Penelitian
Materi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah 60
ekor itik Tegal jantan berumur 30 hari, kandang litter, tempat
pakan,

tempat

minum,

lampu,

seperangkat

alat

fumigasi

kandang, kapur, ember, antiseptik, spuit, kapas, antikoagulan


EDTA, alkohol 70%, gelas ukur, timbangan, hand counter, pipet
thoma, Larutan modifikasi Ress dan Ecker, aspirator, larutan
Hayem, bilik hitung, dan mikroskop.

Komposisi ransum basal

yang digunakan dalam penelitian ini merupakan campuran dari


bebrapa bahan pakan, yang terdiri dari jagung giling, dedak padi,
PMM,

SBM,

minyak,

lisin,

metionin,

topmix,

NaCl

dan

CaCo3.Komposisi ransum yang digunakan dapat dilihat pada


tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Ransum Basal selama Penelitian
Komposisi Bahan Pakan
(%)
Jagung Giling
Dedak Padi
PMM
SBM
Minyak
Lisin
Metionin
Topmix
NaCl
CaCo3
Tepung Daun sirsak
Total (%)

S0
38,2
30,0
17,0
7,0
6,1
0,1
0,3
0,2
0,1
1
0
100

Perlakuan
S1
S2
38,2
38,2
30,0
30,0
17,0
17,0
7,0
7,0
6,1
6,1
0,1
0,1
0,3
0,3
0,2
0,2
0,1
0,1
1
1
5
10
105
110

S3
38,2
30,0
17,0
7,0
6,1
0,1
0,3
0,2
0,1
1
15
115

Macam Peubah
Peubah yang diukur dalam penelitian ini adalah jumlah
eritrosit dan leukosit itik Tegal jantan.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak
lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Masing-masing
petak perlakuan berisi 3 ekor itik Tegal jantan. Empat taraf
tepung daun sirsak sebagai perlakuan terdiri dari:
S0 : Penambahan 0% (Kontrol positif, tanpa penambahan tepung
daun Sirsak)
S1 : Penambahan 5% tepung daun sirsak per kg pakan
S2 : Penambahan 10% tepung daun sirsak per kg pakan
S3 : Penambahan 15% tepung daun sirsak per kg pakan
Model matematik yang digunakan adalah rancangan acak
lengkap (RAL) (Steel and Torrie, 1993), sebagai berikut:
Yij = +i + ij
Keterangan:
Yij

= Jumlah eritrosit/ leukosit darah itik Tegal


= Nilai tengah respon
= Pengaruh pemberian tepung daun sirsak (S0, S1, S2,
S3)
ij = Penyimpangan yang timbul secara acak dari perlakuan
ke-i ulangan ke- j (galat percobaan)
i
= Banyaknya perlakuan (S0, S1, S2, S3)
j
= Banyaknya ulangan (1, 2, 3, 4, 5)
Tabulasi Data
Data yang diperoleh ditabulasikan dalam tabel tabulasi, data
kemudian di analisis menggunakan analisis variansi. Apabila
perlakuan

berpengaruh

nyata,

akan

dilakukan

uji

lanjut

menggunakan uji Ortoghonal Polinomial dan uji Beda Nyata Jujur


(BNJ) sesuai dengan (Steel and Torrie, 1993).
Tabel 2. Tabulasi data

Perlakuan
S0
S1
S2
S3
Total

U1

U2

Ulangan
U3
U4
Yij

U5

Perlakuan Yi

Y ()

3.1. Metode Analisis


3.1.1.
Definisi Operasional
1. Itik Tegal adalah salah satu bangsa itik asli jawa Tengah yang
tepatnya berasal dari kabupaten Tegal dengan ciri tubuh
langsing menyerupai botol, tinggi sekitar 50 cm, posisi berdiri
yang hampir tegak, dengan berat standard lebih kurang 1,5
kg.
2. Eritrosit atau sel darah merah adalah bagian dari salah satu
sel darah yang berbentuk seperti cakram kecil yang memiliki
permukaan cekung atau seperti lempeng bikonkaf.
3. Leukosit atau sel darah putih adalah sel darah yang tidak
berwarna,

umumnya berperan dalam mempertahankan

tubuh terhadap penyusupan benda asing.


4. Daun sirsak berbentuk bulat panjang dengan ujung lancip
pendek. Daun tuanya berwarna hijau tua dan daun mudanya
berwarna hijau kekuningan. Daun sirsak tebal dan sedikit
kaku dengan urat daun menyirip atau tegak pada urat daun
pertama.
Cara Pengukuran Peubah
Jumlah eritrosit
Darah itik dihisap dengan pipet thoma sampai batas angka
0,5 pada pipet, kemudian larutan Hayem (pengencer) dihisap
sampai angka 101. Selanjutnya dilakukan pengocokan dengan
cara kedua ujung pipet thoma ditututup menggunakan ibu jari
dan jari tengah. Cairan dalam pipet thoma dikeluarkan 1-2 tetes
dan dibuang, kemudian pada tetesan selanjutnya ujung pipet
makro ditempelkan pada salah satu bilik hitung yang telah diberi

gelas penutup dan kertas tissue pada sisi lainnya. Cairan dalam
pipet

thoma

selanjutnya

akan
bilik

mengalir

hitung

memenuhi

diletakkan

di

bilik

hitung

bawah

dan

mikroskop.

Perhitungan butir eritrosit menggunakan hand counter. Jumlah


eritrosit diketahui dari eritrosit yang ada di dalam 5 bilik hitung
daerah R. perhitungan dilakukan dari sebelah kiri secara zigzag.
Jumlah

eritrosit

yang

terhitung

disimbolkan

dengan

A,

perhitungan dalam 1 mm3 darah diketahui dengan perhitungan


sebagai berikut (Sastradiparja dkk, 1989).
A x 104
Jumlah leukosit
Perhitugan jumlah leukosit dilakukan dengan menggunakan
pipet leukosit dengan bantuan aspirator hingga batas angka 0,5
pada pipet, ujung pipetnya dibersihkan menggunakan tissue.
Larutan modifikasi Ress & Ecker dihisap sampai tanda 11 yang
tertera pada pipet seleukosit kemudian dihomogenkan. Sample
siteteskan dalam

hemocytometer,

dibiarkan beberapa

saat

hingga larutan mengendap. Perhitungan jumlah leukosit dalam


hemocytometer, digunakan empat kotak yang terletak diempat
sudut kamar hitung, masing masing terdiri dari 16 buah kotak
yang

luasnya

mm2.

1/16

Jumlah

leukosit

yang

terhitung

disimbolkan dengan B dan untuk mengetahui jumlah leukosit


dalam 1 mm3 darah diketahui dengan perhitungan sebagai
berikut (Sastradiparja dkk, 1989).
B x 50
Model Analisis
Model analisis yang digunakan yaitu analisis variansi, sebagai
berikut:
Tabel 3. Anlisis Variansi
Sumber
variansi

Jumlah
Kuadrat

Deraja
t

Kuadrat
tengah

hitung

F
0.05

tabel

0.0

10

Perlakua
n Galat

Total

JKP
JKG

JKT

Bebas
3
16

1
KTP
KTG

KTP/KTG

3.13

5.01

=
KT G
KK=
x
Y

19

100%

Keterangan:
JKP
: Jumlah Kuadrat Perlakuan
JKG
: Jumlah Kuadrat Galat
JKT
: Jumlah Kuadrat Total
KTP : Kuadrat Tengah Perlakuan
KTG : Kuadrat Tengah Galat
S
: Simpangan Baku/ Standar Deviasi
KK
: Koefisien Keragaman
Kriteria Penerimaan Hipotesis
Penerimaan hipotesis, yaitu apabila Fhitung lebih kecil dari Ftabel,
tidak berpengaruh nyata, maka H 0 diterima dan apabila Fhitung
lebih besar dari Ftabel, berpengaruh nyata.
Tahap Urutan Kerja Penelitian
Tahap Persiapan Kandang
Persiapan kandang meliputi pembersihan kandang litter
sejumlah 20 unit dengan ukuran 1,5x 1 x 1,25 m. Kandang
didesinfektan menggunakan kapur

dan disemprot antiseptic.

Selain itu kandang yang akan digunakan dilengkapi dengan


tempat pakan, tempat minum dan lampu.
Tahap Penyiapan Tepung Daun Sirsak
Daun sirsak yang digunakan adalah daun sirsak yang
memiliki ciri warna hijau tua. Daun sirsak dipanen, dipotong
kecil-kecil, kemudian dikeringkan. Daun sirsak yang sudah kering,
digiling hingga menjadi tepung kemudian dicampurkan dalam
ransum basal sesuai persentase yang akan digunakan dalam
penelitian (0%, 5%, 10%, 15% per kilogram pakan).

11

Tahap Pemeliharaan
Pemberian pakan dilakukan setiap hari yaitu pada pagi dan
sore dengan proporsi pemberian yang sama setiap petak
perlakuan.

Jumlah

pakan

yang

diberikan

dua

kali

sehari

didasarkan pada every day basis (120 g/ekor/hari). Pemberian air


dilakukan secara adlibitum. Kebersihan kandang dipantau dan
dibersihkan setiap hari. Lama pemeliharaan yaitu 35 hari, 5 hari
preliminary dan 30 hari untuk masa penelitian.
Pengambilan Data
Pengambilan data dilakuka pada akhir pemeliharaan dengan
mengambil satu ekor itik Tegal jantan dari tiap petak perlakuan.
Pengambilan

sampel

darah

sebanyak

ml

melalui

vena

brachialis menggunakan spuit. Darah ditampung dalam tabung


reaksi yang didalamnya berisi antikoagulan berupa EDTA.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian
disetujui,

akan

mulai

dilaksanakan

setelah

tanggalsampai

usulan

dengan

penelitian
Penelitian

dilaksanakan di Perumahan Ketapang Indah Blok C4, Nomor 25a,


Rt/Rw: 05/10, Sokaraja Kulon.
Tabel 4. Jadwal Kegiatan Penelitian
N
o
1

Jadwal
Kegiatan

Bulan ke1
2
3
4
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Persiapan
Preliminary
Pemeliharaan
Pengambilan
data
Analisis data
Penyusunan
laporan akhir
DAFTAR PUSTAKA

12

Ali, A.S, Ismoyowati, dan D. Indrasanti. 2013. Jumlah Eritrosit,


Kadar Hemoglobin, dan Hematokrit Berbagai Jenis Itik Lokal
terhadap Penambahan Probiotik dalam Ransum. Jurnal
Ilmiah Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas jenderal
Soedirman. Purwokerto. 1 (3): 1001-1013.
Ersi, H. 2011. Khasiat dan Manfaat Daun Sirsak dalam Menumpas
Kanker. Tim Elang Media. Jakarta.
Guyton, A.C. 1983. Fisiologi Kedokteran. Penerjemah: Dharma A.
dan Lukito. Medical Physiology . EGC. Jakarta.
Ismoyowati, T., Yuwanta, J.H.P. Sidadolong, dan S. Keman. 2006.
Peformans Reproduksi itik Tegal Berdasarkan status
Hematologis. Jurnal Animal Production. 8 (2): 88-93.
Jain, N. 1993. Essential of Veterinary Hematology. Lea & Febriger.
Philadelphia.
Londok, J.M.R dan J.S. Mandey. Potensi Fitokimia dan Aktivitas
Antimikroba Daun Sirsak (Annona muricata Linn) sebagai
Kandidat Bahan Pakan Ayam Pedaging. Jurnal LPPM Bidang
Sains dan Teknologi. Fakultas Peternakan Unstrat Manado. 1
(1): 30-36.
Napirah, A., Supadmo dan Zuprizal. 2013. Pengaruh Penambahan
Tepung Kunyit (Curcuma domestica valte) dalam Pakan
Terhadap Parameter Hematologi Darah Puyuh (Coturnixcoturnix Japonica) Pedaging. Buletin Peternakan. Fakultas
Peternakan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. 37 (2):
114-119.
Prasetyorini, Moerfiah, S. Wardarun, dan R. Zaldy. 2014. Potensi
Antioksidan Berbagai Sediaan Buah Sirsak (Annona
muricata Linn). Fakultas MIPA Universitas Pakuan. Bogor. 37
(2): 137-144.
Puspitasari, M.L., T.V. Wulansari, T.D. Widyaningsih, J.M. Maligan,
dan N.I.P. Nugrahini. 2015. Aktivitas Antioksidan Suplemen
Herbal Daun Sirsak (Annona muricata L.) dan Kulit Manggis
(Garcinia mangostana L.): Kajian Pustaka. Jurnal Pangan
dan Agroindustri. 4 (1): 283-290.
Restuati, M. 2013. Uji Efek Ekstrak Daun Sirsak (Annona
muricata) terhadap Leukosit Tikus Putih (Rattus norvegicus).

13

Prosiding Semirata FMIPA UNILA. Jurusan Biologi FMIPA


Universitas Negeri Medan. Medan.
Sadikin, M. 2013. Biokimia Darah. Widya Medika. Jakarta.
Sastradiparja, D,. S.H.S Sikar, R. Wijayakusuma, T. Ungerer, A.
Maad, H. nasution, R. Suriawinta, dan R. Hamzah. 1989.
Penuntun Praktikum Fisiologi Veteriner. Pusat Antar
Universitas Ilmu Hayati. IPB. Bogor.
Srigandono, B. 1991. Ilmu Unggas Air. Gajah Mada University
Press. Yogyakarta.
Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur
Statistika, Suatu Pendekatan Biometric. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Sundaryono, A. 2011. Uji aktvitas senyawa flavonoid total dari
Gynura segetum terhadap peningkatan eritrosit dan
penurunan leukosit pada menchit (Mus musculus). Jurnal
exacta. 9 (2): 8-16.
Susanti, T dan L.H. Prasetyo. 2007. Panduan Karakterisasi Ternak
Itik. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Syahida, M., M.Y. Maskat, R. Suri, S. Mamot. dan H. Hadijah. 2012.
Soursop (Annona muricata L.): Blood Hematology and
Serum
Biochemistry
of
Sparague-Dawley
Rats.
Internatsional Food Research Journal. 19 (3): 955-959.
Triana, E. 2006. Pengaruh pemberian Beras yang Difermentasi
oleh Monascus Purpureus Jmba terhadap Darah Tikus Putih
(Rattus sp.) Hiperkolesterolemia. Jurnal Biodiversitas. 7 (4):
317-321.
Wakhid, A. 2010. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Itik. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Winarsi, H. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Kanisius.
Yogyakarta.