Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemeliharaan personal hygine sangat menentukan
kesehatan, dimana individu secara sadar dan atas inisiatif
menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit.
kebersihan diri ini mencakup tentang kebersihan rambut,
telinga, gigi, mulut, kuku, serta kebersiham dalam berpakaian.

status
pribadi
Upaya
mata,

Salah satu upaya personal hygine adalah merawat kebersiham


kulit karena kulit berfungsi untuk melindungi permukaan tubuh,
memelihara suhu tubuh dan mengeluarkan kotoran-kotoran tertentu
Mengingat kulit penting sebagai pelindung organ organ tubuh, maka
kulit perlu dijaga kesehatannya. Penyakit kulit dapat disebabkan oleh
jamur, virus, kuman parasit. Salah satu penyakit kulit yang disebabkan
oelh parasit adalah skabies. Skabies (the itch, gudik, budukan dan
gatal agogogo) adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi
dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabei var, Hominis dan produknya
(Handoko, 2013). Insiden skabies di negara berkembang menunjukan
siklus fluktuasi. Distribusi, prevelensi, dan insiden penyakit infeksi
parasit pada kulit ini tergantung dari area dan populasi yang di teliti
(Akmal et al, 2013).
Skabies merupakan penyakit kulit yang terabaikan, dianggap
biasa saja dan lumrah terjadi pada masyarakat indonesia, bahkan di
dunia. Padahal tingkat prevalensi scabies ditinjau dari wilayah, usia
maupun jenis kelamin relatif ada hampir di seluruh di dunia dengan
tingkat yang bervariasi. Pencegahan penyakit scabies dipandang lebih
efektif dalam mengendalikan tingkat prevalensi skabies yang bersifat
sporadik, endemik dan epidemik. Pencegahan skabies melalui
pendidikan masyarakat menjadi satu tantangan bagi akademisi untuk
menekan prevalensi skabies (Setyaninhrum,2012 ).

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Skabies (the itch, gudik, budukan gatal agogo) adalah penyakit
kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes
scabei var, hominis dan produknya (Handoko,2013)
2.2 Epidemiologi
Penyakit skabies telat dikenal sejak zaman purbakala, yaitu
sejak sekitar 3000 tahun yang lalu . Di zaman itu penyakit ini diketahui
tersebar di Asia sejak dari dataran Cina hingga India. Sebaran skabies
pada hewan mamaliapun telah banyak diketahui sejak dulu.
Dimasa kini tampak adanya kecenderungan bahwa skabies yang
untuk beberapa tahun yang lalu telah mereda, cenderung untuk
muncul kembali termasuk di Indonesia. Spekulasi mengenai alasan
terjadinya peningkatan masih bersimpang siur. Sebagian pakar masih
menyalahkan akibat meningkatnya hubungan seksual bebas dan
berganti ganti pasangan, sanitasi lingkungan yang buruk dan
malnutrisi serta menurunya daya tahan tubuh. Pakar yang lain
menyalahkan urbanisasi dan tingginya mobilisasi pergerakan dan
kepindahan penduduk (Natadisastra,2009)
Skabies mempengaruhi semua jenis ras dan hampir ditemukan
pada semua negara di seluruh dunia dengan angka prevalensi yang
bervariasi. Di beberapa negara berkembang prevalensinya dilaporkan
6-27% populasi umum dan isidens tertinggi pada anak usia sekolah
dan remaja. Perkembangan penyakit ini juga dipengaruhi oleh keadaan
sosial ekonomi yang rendah, tingkat personal higiene yang buruk,
kurangnya pengetahuan dan kesalahan dalam diagnosis serta
penatalaksanaan. Di Indonesia, penyakit ini masih menjadi masalah
tidak saja di daerah terpencil, tetapi juga di kota-kota besar bahkan di
Jakarta. Kondisi kota Jakarta yang padat merupakan faktor pendukung
perkembangan skabies (Mansyur et al, 2006).
2.3 Etiologi
Sarcoptes scabei termasuk dalam kingdom Animalia, Filum
Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Acarina, Sub ordo Sarcoptiformes,
famili Sarcoptidae, Genus Sarcoptes, spesies Sarcoptes scabiei. Pada

manusia disebut sarcoptes scabei var.hominis. Selain itu terdapat


S.Scabei yang lain, misalnya pada kambing dan sapi (handoko, 2013).
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval,
punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini
transulen, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang
betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan
yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron.
Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki dan di depan
dean 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut,
sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan
rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat (Handoko,2013)
seperti yang terlihat pada gambar 2.1 dibawah ini:

Gambar: 2.1 Gamabran Morfologi Tungau Sarcoptes scabiei (sumber:


CD, 2010)
Sarcoptes scabei memiliki 4 siklus kehidupan, yaitu dari telur
menetas akan keluar larva yang akan tumbuh menjadi nympha dan
pada proses pendewasaan akan menjadi dewasa jantan atau betina.
Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi diatas kulit, Sarcoptes
scabei jantan akan mati. Sarcoptes scabiei betina akan membuat
terowongan dengan berupaya menembus stratus korneum dalam
waktu satu jam setelah fertilitas untuk melatakantelurnya. Sarcoptes
scabei akan hidup dari menghisap cairan yang keluar dari sel-sel kulit
untuk kemudian meletakan telurnya 2 atau 4 butir sehari samoai
mencaoai 40-50 butir. Sarcoptes scbiei betina yang dibuahi ini dapat
bertahan hidup selama satu bulan. Telur akan menetas di terewongan
stratum korneum setelah 3-8 hari menjadi larva yang mempunyai 3
pasang kaki. Larva yang muncul akan meninggalkan terowongan
kepermukaan kulit untuk berpindah mencari tempat hidup yang baru
dan untuk mencari makan serta mencari pasangannya guna
melanjutkan proses filtrasi dan memulai siklus hidup baru. Setelah 2-3
hari, larva akan menjadi nimpha yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan

betina dengan 4 pasang kaki (Natadisastra,2009). Siklus hidup


Sarcoptes scabei daapt dilihat pada gambar 2.2 dibawah ini:

Gambar: 2.2 Siklus Hidup Sarcoptes scabei (Sumber CDC,2010)


2. 4 Patofisiologi

Kelainan kulit tidak hanya disebabkan oleh tungau sarcoptes


scabiei, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat dari gerakan. Gatal
yang terjadi disebabkan oleh sensitifitas terhadap sekret tungau yang
memerlukan waktu kira kira sebulan setelah infeksi. Pada saat itu
kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul,
vesikel, urtikar, dan lain lain. Dengan garukan dapat timbul erosi,
eksoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang
terjadi dapat leih luas dari lokasi tungau (Handoko,2013)
2.5 Cara Penularan
Penularannya biasanya oleh sarcoptes scabiei betina yang sudah
dibuahi atau kadang kadanga oleh bentuk larva. Dikenal pula sarcoptes
scabiei var, animalis yang kadang kadang dapat menualri manusia,
terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharan
misalnya anjing.
1. Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit) misalnya berjabat
tangan, tidur bersama dan melakukan hubungan seksual.
2. Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk,
sprei, bantal dan lain lain (Handoko,2013)
2.6Gejala Klinis
Kelainan kulit dapat berupa paula, vesikula, urtika, eksoriasi,
krusta, dan bila timbul infeksi sekunder terdapat pustula yang
dapat mengaburkan lesi primernya. Tempat tempat predileksi :
sela-sela jari tangan, telapak tanganm pergelangan tangan
sebelah dalam, siku, ketiak, daerah mammae, dasar pusar dan
peut bagian bawah, daerah genitalis eksterna dan pantat
(Murtiastutik,2012)
Ada 4 tanda kardinal:
1. Pruritus nokturna
Gatal pada malam hari yang disebabkan karena katifitas
tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan
panas (Handoko,2013). Rasa gatal yang dialami dirasa sanga
kuat dan sulit dihilangkan dengan salep kortikosteroid atau
memakan obat golongan kortikosteroid sistemik, dan rasa
gatal ini makin terasa di malam hari, Pruritus generalisata
dengan sering pula disertai oleh impetiginisasi sekunder.
Erupsi kulit yang timbul tersebut adalah karena adanya
reaksi hipersensitivitas tubuh terhadap tungau scabies
dewasa, larvanya ataupun terhadap kotoran dan feses yang
dikeluarkannya (Natdisastra,2009)