Anda di halaman 1dari 7

TOPIK I

EVOLUSI PELAYANAN KESEHATAN


DAN KEFARMASIAN
I.

Perkembangan Pelayanan Kesehatan

Perkembangan Kesehatan tidak terlepas dari sejarah Kesehatan Masyarakat


(Public Health), yaitu tidak terlepas dari dua tokoh mitologi Yunani Asclepius atau
Aesculapius dan Higea. Aesculapius adalah seorang dokter pertama, yang telah
melakukan pengobatan bahkan bedah dengan prosedur yang baik. Sedangkan Higea
adalah asistennya yang melakukan pencegahan penyakit dan mengajarkan kepada
masyarakat untuk hidup bersih, melaksanakan hidup seimbang, kebersihan diri
menghindari dari makanan dan minuman yang kotor dan beracun, makan makanan
yang bergizi dan cukup istirahat.
Aliran Aesculapius cenderung menunggu terjadinya penyakit atau setelah
sakit yaitu melalui Pengobatan atau Kuratif. Sedangkan aliran Higea cenderung
melakukan pencegahan penyakit (preventif) serta upaya-upaya peningkatan (promosi)
kesehatan. Mitologi tersebut menjadi inspirasi bagi embrio Ilmu Kedokteran dan
Kesehatan Masyarakat.

Periode Perkembangan Ilmu Kesehatan


1.

Periode Sebelum Ilmu Pengetahuan (Pre Scientific Period)


Sejarah kebudayaan peradaban masyarakat kuno yang berpusat di Babylonia,
Mesir, Yunani dan Roma (The Pre-Cristion Period). Pada saat itu pemerintah kota telah
melakukan upaya-upaya pemberantasan penyakit. Sebagai bukti ditemukandokumendokumen tentang peraturan-peraturan tertulis yang mengatur tentang pembuangan air
limbah (drainase), pengaturan air minum, pembuangan sampah, dan sebagainya (Hanlon,
1964). Dari hasil penemuan arkeologi pada saat itu telah dibangun WC Umum (Public
Latrine) dan sumber air minum sendiri namun untuk alasan estetika, bukan untuk alasan
kesehatan.
Pada kerajaan Romawi Kuno, peraturan-peraturan yang dibuat bedasarakan alasan
kesehatan. Dalam hal itu pegawai-pegawai kerajaan ditugaskan untuk melakukan
supervisi ke lapangan ke tempat-tempat air minum (Public Bar), warung makan, tempattempat prostitusi, dan sebagainya (Notoadmodjo, 2005).
a.

Abad Pertama sampai Abad Ketujuh

Pada masa ini berbagai penyakit menyerang penduduk. Di berbagai tempat


terjadi endemik atau wabah penyakit. Bahkan begitu banyaknya penyakit menular

dan, oleh karena itu kesehatan masyarakat makin dirasakan pentingnya (Halon,
1964). Penyakit kolera menjalar dari Inggris ke Afrika, kemudian ke Asia (khususnya
Asia Barat dan Asia Timur) dan akhirnya sampai ke Asia Selatan. Pada Abad ke 7
India menjadi pusat endemik kolera. Selain kolera penyakit lepra menyebar dari
Mesir ke Asia Kecil dan Eropa melalui emigran. Upaya-upaya yang dilakukan adalah
perbaikan lingkungan yaitu higiene dan sanitasi, pengusahaan air minum yang bersih,
pembuangan sampah, ventilasi rumah telah menjadi bagian kehidupan masyarakat
waktu itu (Notoadmodjo, 2005).
b.

Abad ke-13 sampai abad ke-17

Pada masa ini kejadian endemik Pes yang paling dasyat terjadi di China dan
India, diperkirkan 13 juta orang meninggal. Catatan lain di India, Mesir dan Gaza
13.000 orang meninggal setiap harinya, atau selamah wabah tersebut jumlah kematian
mencapai 60 juta orang. Pertistiwa tersebut dikenal dengan The Black Death. Pada
abad tersebut Kolera juga menjadi masalah di beberapa tempat. Tahun 1603 terjadi
kematian 1 diantara 6 orang karena penyakit menular. Tahun1965 meningkat menjadi
1 diantara 5 orang. Tahun 1759 tercatat penyakit-penyakit lain yang mewabah
diantaranya Dipteri, Tifus, dan Disentri.
2. Periode Ilmu Pengetahuan (Scientific Period)
a.

Abad ke-18 sampai permulaan abad ke-19 (kebangkitan Ilmu Pengetahuan)

Penyakit-penyakit yang muncul bukan saja dilihat sebagai fenomena biologis


yang sempit, tetapi merupakan suatu masalah yang komplek. Pada masa ini juga
ditemukan berbagai macam vaksin dan bahan disinvektans. Vaksin Cacar oleh Luis
Pasteur, Asam Carbolic untuk sterilisasai ruangan operasi ditemukan oleh Joseph
Lister, Ether untuk Anestesi oleh Williem Marton, dan sebagainya.
Tahun 1832 di Inggris terjadi epidemik Kolera. Parlemen Inggris menugaskan
Edmin Chadwich, seorang pakar sosial untuk memimpin penyelidikan penyakit
tersebut. Atas laporanya tersebut Parlemen Inggris mengeluarkan UU tentang upayaupaya peningkatan kesehatan penduduk, termasuk sanitasi lingkungan dan tempat
kerja, pabrik, dan sebagainya. John Simon diangkat oleh pemerintah Inggris untuk
menangani masalah kesehatan.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 mulai dikembangkan pendidikan
tenaga kesehatan. Tahun 1883 Sekolah Tinggi Kedokteran didirikan oleh John
Hopkins di Baltimore AS, dengan salah satu departemennya adalah Departemen
Kesehatan Masyarakat. Tahun 1908 sekolah kedokteran mulai menyebar di Eropa,
Kanada, dan sebagainya. Dari segi pelayanan masyarakat, pada tahun 1855 untuk
pertamakalinya pemerintah AS membentuk Departemen Kesehatan yang merupakan
peningkatan dari Departemen Kesehatahn Kota yang sudah terbentuk sebelumnya.
Tahun 1972 dibentuk Asosiasi Kesehatan Masyarakat Amerika (American Public
Health Association) (Notoamodjo, 2005).

Perkembangan Ilmu Kesehatan (Bahan Pak Dedi)


1. Periode Mitos (Prasejarah/Sebelum Peradaban)
Pada era ini manusia masih memiliki kepercayaan yang kuat terhadap mitos,
karena kemarahan para dewa atau karena adanya peranan makhluk gaib.
Ascleolus Dewa kesehatan, yang dipercayai dapat menyembuhkan
semua penyakit.
2. Periode Filsafat (Kedokteran Yunani)
Pada era ini manusia menggunakan nalar, sebab-akibat fenomena zaman yunani.
Hipocrates (460-370 SM)
Sejak masa Hippocrates yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran,
belum dikenal adanya profesi farmasi. Saat itu seorang dokter yang
mediagnosis penyakit, juga sekaligus merupakan seorang apoteker yang
menyiapkan obat. Semakin berkembangnya ilmu kesehatan masalah
penyediaan obat semakin rumit, baik formula maupun cara pembuatannya,
sehingga dibutuhkan adanya suatu keahlian tersendiri. Tahun 1240 M Raja
Jerman Frederick II memerintahkan pemisahan secara resmi antara
farmasi dan kedokteran yang terkenal two silices.
3. Periode Empiris (Kedokteran Islam)
Pada era ini tidak cukup hanya berdasarkan/menggunakan nalar dan akal. Namun
harus dapat dibuktikan secara empiris.
Rhazes (832-930 M)
Melakukan pengobatan di Persia dan Bagdad, pertama membedakan
antara cacar dan campak.
Ibnu Sina (980-1037)
Menulis Canon of Medicine.
Medicine = Made of Avecine

Upaya Kesehatan
Upaya kesehatan yang selama ini berorientasi pada:

Upaya penanggulangan penyakit secara episodik.

Upaya penyembuhan saja.

Upaya kesehatan sekarang berorientasi pada:

Orientasi memelihara dan meningkatkan kesehatan penduduk, yang merupakan


suatu Orientasi Sehat Positif sebagai kebalikan dari orientasi pengobatan
penyakit yang bersifat Kuratif Responsif.
Dengan kata lain, Program kesehatan yang berorientasi pada upaya Kuratif
merupakan Health Program for Survival , sedangkan Program kesehatan yang
berorientasi pada upaya Promotif dan Preventif merupakan Health Program for
Human Development .

Upaya pelayanan kesehatan yang menekankan pada Upaya Kuratif-Rehabilitatif kurang


menguntungkan karena :
1. Intervensi yang dilakukan pada orang sakit tidak menguntungkan karena:
Penderita telah kehilangan produktifitas, Yang bersangkutan harus berobat,
Untuk kembali pada keadaan sehat produktif memerlukan waktu lama.
2. Upaya Kuratif Rehabilitatif dalam jangka panjang tidak menguntungkan karena
permintaan terhadap jenis pelayanan kuratif akan terus meningkat, sementara itu
pelayanan kuratif cenderung terkumpul pada tempat tempat yang tersedia
banyak uang, yaitu di kota kota besar saja.
3. Dari segi Ekonomi, investasi pada orang yang TIDAK atau BELUM Sakit
(SEHAT).
4. Lebih Cost Effective dan lebih Produktif daripada terhadap orang sakit.
5. Untuk meningkatkan kesehatan penduduk lebih baik tidak melalui penyediaan
banyak obat, tempat tidur di rumah sakit dan balai pengobatan, melainkan dengan
lebih memperhatikan mereka yang tidak sakit agar tetap sehat, tidak jatuh sakit
dan membuat penduduk lebih tahan terhadap penyakit.

Dua Golongan Pelayanan Kesehatan


1. Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau pelayanan kesehatan
masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali
diperlukan masyarakat pada saat mereka mengalami ganggunan kesehatan atau
kecelakaan.
2. Pelayanan kesehatan sekunder dan tersier (secondary and tertiary health care),
adalah rumah sakit, tempat masyarakat memerlukan perawatan lebih lanjut
/rujukan. Di Indonesia sendiri terdapat berbagai tingkat rumah sakit, mulai dari
rumah sakit tipe D sampai dengan rumah sakit kelas A.

II.

Perkembangan Pelayanan Kefarmasian


Ruang lingkup dari praktek farmasi sangat luas termasuk penelitian,
pembuatan, peracikan, penyediaan sediaan obat, pengujian, serta pelayanan informasi
obat atau berhubungan dengan layanan terhadap pasien diantaranya layanan
kefarmasian.

Sejarah Perkembangan Farmasi


1. Zaman Sebelum Peradaban
Pada zaman ini, manusia belajar dari alam. Air, dedaunan, bahkan lumut pada
masa itu digunakan sebagai soothing application.
2. Pada Zaman Babylonia Kuno (2600 SM)
Merupakan awal mula dilakukannya praktek kefarmasian, yaitu pada penanganan
demam, telah diberlakukan resep (dari alam) dan juga petunjuk pada
pencampurannya (compounding), yang kemudian diikuti dengan pengiriman doa
kepada dewa dewa.
3. Farmasi Pada Zaman Cina Kuno (2000 SM)
Shen Nung, menguji coba (pada diri sendiri) khasiat ratusan tanaman herbal
sebagai obat yang diambil dari batang, akar, daun, dan bagian tanaman lainnya.
4. Zaman Papyrus Ebers (1500 SM)
Pengobatan di Mesir sudah berlangsung sejak 2900 SM, namun rekam jejak
kefarmasian terbaik pada zaman ini tercatat pada zaman Papyrus Ebers yang
mencatat 800 peresepan dengan 700 macam obat pada zaman itu.
5. Zaman Theophrastus (Father of Botany) (300 SM)
Merupakan seorang ahli botani yang mempelajari tumbuhan dan khasiatnya
seperti penemuan Belladona, juga merupakan seorang guru.
6. The Royal Toxicologist Mithridates VI (100 SM)
Penemuan racun, penawar racun, dan cara pencegahan keracunan.
7. Terra Sigillata Awal Trademark Obat.
8. Dioscorides Seorang saintis yang mencari obat-obatan.

Perkembangan Ilmu Farmasi (Bahan Pak Dedi)


1. Era Farmasi Klasik (Compounding)
Berfokus pada peracikan dan formulasi obat
2. Era Farmasi Industri (Manufacturing)
Pembuatan obat diambil alih oleh Industri Farmasi. Kerja Apoteker hanya
mendistribusikan obat
3. Era Klinik (PC/MTM)
lebih berorientasi kepada pasien, asuhan kefarmasian.
Peralihan dari drug oriented ke patient oriented

PERUBAHAN PROFESI FARMASI

Tahap Tradisional (sebelum 1960)


Fungsi farmasis : menyediakan, membuat & mendistribusikan obat. Melibatkan
seni & ilmu pembuatan obat dari sumber alam atau sintetik menjadi bentuk
sediaan/produk yang sesuai untuk mencegah, mendiagnosa atau mengobati
penyakit.

Tahap Transisional (1960-1970an)


Ilmu kedokteran cenderung lebih spesialistik.
Obat-obat baru yang efektif secara terapeutik berkembang pesat sekali.
Meningkatnya biaya kesehatan sektor publik.
Tuntutan masyarakat akan pelayanan medis dan farmasi yang bermutu
tinggi.
Muncul Farmasi bangsal (ward pharmacy) atau farmasi klinis (clinical
pharmacy).

Tahap Masa Kini

Pelayanan teknis dan non teknis


o Pelayanan teknis
o Pelayanan pasien
o Pengadaan, pengelolaan, dan distribusi alkes
o Pendidikan dan pelatihan
o Penelitian dan pengembangan

Pelayanan farmasi klinis

Tahap Pharmaceutical Care (Asuhan Kefarmasian)


Pelayanan menekankan :
Penilaian (Assesment)
Pengembangan perencanaan perawatan (development of a care plan)
Evaluasi

REFERENSI
Bender, George A., Great Moments in Pharmacy, WSU College of Pharmacy, Parke,
Davis & Company.
Indonesian Health Profile, 2001
Soekidjo, Notoatmodjo, 2005, Peran Pelayanan Kesehatan Swasta dalam Menghadapi
Masa Krisis, Suara Pembaruan Daily.
Pharmaceutical care_bahan ajar_Dedy Almasdy_Dr (Clin. Pharm.)