Anda di halaman 1dari 4

Hubungan tingkat kecemasan menghadapi ujian penyetaraan n4 dengan hasil

belajar benkyoukai pada mahasiswa pendidikan bahasa jepang


Latar belakang
Pada tahun 2015 program studi pendidikan bahasa jepang universitas brawijaya mengeluarkan
kebijakan baru. Pada kebijakan tersebut ditetapkan salah satu syarat mengikuti praktik pengalaman
lapangan(ppl) adalah lulus dalam ujian nihongo nouryouku shiken level 4 atau biasa disebut n4.
Syarat yang diajukan ini berdampak pada banyaknya mahasiswa yang tidak bisa mengikuti program
ppl. Menurut data pada awal diberlakukan kebijakan ini hanya sekitar 54 mahasiswa yang bisa
mengikuti program ppl. Pada semester selanjutnya program ppl hanya bisa diikutsejumlah 13
mahasiswa karena pada kenyataan hanya mahaiswa sejumlah tersebut yang lolos ujian n4.
Menurut data ada sekitaar 50 an mahasiswa yang tidak bisa mengikuti ppl terkendala sertifikat
sebagasi bukti kelulusan n4. Namun disayangkan karena pada tahun 2016 nihongo nouryouku shiken
hanya diselenggrakan 1 kali, yakni pada bulan desember. Hal ini yang mendorong dibukanya ujian
penyetaraan n4 dibawah naungan upt bahasa. Ujian ini akan diselenggrakan pada tanggal 4 juni 2016.
Namun di samping adanya ujian penyetaraan n4 para mahasiswa juga dituntut untuk mengikuti kelas
benkyoukai. Tujuan dari adanya kelas benkyoukai ini adalah untuk membantu para mahasiswa untuk
bisa mempelajari bahsa jepang sesuai dengan kisi- kisi soal nihonggo nouryouku shiken level 4.
Pada ujian n5 peserta ujian perlu menguasai 100 sampai 120 huruf, sedangkaan dalam ujian n4
peserta ujian perlu menguasai sekitar 190 kanji. Artinya jika ditambah dengan kanji untuk level n5,
peserta ujian n4 harus menguasai 300 kanji untuk bisa membaca soal ujian dengan baik dan
memahami maknanya. Kanji untuk level n4 lebih rumit jika dibandingkan dengan kanji level n5.
Adanya kelas benykoukai ini bukan hal yang baru di kalangan mahasiswa pendidikan bahasa jepang
universitas brawijaya. Sejak angkatan pertama kelas benkyoukai telah diselenggarakan dan
berlangsung hingga saat ini. Kelas benkyoukai dibuka untuk level n4 dan n3, sedangkan untuk level
n2 sudah dijadikan mata kuliah pilihan. Sangat disayangkan benkyoukai pada tahun- tahun
sebelumnya kurang diminati oleh para mahasiswa. Hal ini bisa diketahui dari jumlah peserta kelas
benkyoukai yang sedikit.salah satu alasan para mahasiswa tidak mengikuti kelas benkyoukai adalah
sifat kelasnya yang tidak wajib.
Kecemasan ini bisa berdampak negatif terhadap motivasi dan menurunkan performa belajar, padahal
penurunan performa ini selanjutnya justru akan semakin memperbesar kecemasan itu(ghazali: 146)
Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1) Bagaimana tingkat kecemasan mahasiswa dalam menghadapi ujian penyetaraan n4?
2) Bagaimana hasil belajar benkyoukai mahasiswa?
3) Bagaimana hubungan tingkat kecemasan dengan hasil belajar benkyoukai pada mahasiswa
pendidikan baasa jepang?
Batasan masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penulis membuat batasan masalah sebagai berikut:
1.) peneliti hanya akan meneliti kelas benkyoukai n4 fib ub
2.) peneliti hanya akan meneliti kelas benkyoukai yang akan mengikuti ujian penyetaraan n4
Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab setiap masalah yang telah dirumuskan sebagai
berikut:

1) Mengetahui tingkat kecemasan yang dialami siswa dalam menghadapi ujian penyetaraan n4
2) Mengetahui hasil belajar benkyoukai n4 mahasiswa jurusan pendidikan bahasa jepang
3) Mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan hasil belajar benkyoukai n4
Manfaat penelitian

Definisi operasional
Hubungan : timbal balik atau sebab akibat antara yang berkaitan erat
Kecemasan : reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang, dan karena itu
berlangsung tidak lama (ramaiah,1999)
Ujian penyetaaan n4 : kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa setara nihongo
noryouku shiken n4
Hasil belajar : evalusi proses belajar
Benkyoukai : kelas yang diadakan untuk belajar bersama bertujuan untuk menghadapi ujian nihongo
nouryouku shiken

Kajian pustaka
Landasan teori
Kecemasan

Fator-faktor kecemasan
Kecemasan menghadapi ujian
Tingkat kecemasan
Ujian
Ujian penyetaraan n4
Hasil belajar
benkyoukai

Penelitian terdahulu
Hipotesis
Ha: terdapat hubungan yang positif antara tingkat kecemasan menghadapi ujian
dengan hasil belajar benkyoukai
H0: terdapat hubungan yang negatif antara tingkat kecemasan menghadapi
ujian dengan hasil belajar benkyoukai

Metode penelitian
Rancangan penelitian
Penelitian adalah suatu proses, yaitu suatu rangkaian langkah-langkah yang
dilakukan secara terencana dan sistematis guna mendapatkan pemecahan
masalah atau mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tertentu
(Suryabrata, 2010 : 11). Penelitian pendidikan merupakan penelitian yang
mengangkat masalah-masalah dalam pendidikan. Sukardi (2003:16) menyatakan
bahwa, bidang garapan yang menjadi pokok penelitian kependidikan adalah
menekankan pada sekitar masalah pendidikan.
Dalam pendidikan bahasa Jepang. Sutedi (2011:25) menyatakan bahwa
penelitian pendidikan bahasa Jepang pada prinsip nya dilakukan untuk
memperbaiki dan memecahkan segala masalah yang berhubungan dengan
pendidikan dan pengajaran bahasa Jepang mulai dari program pengajaran,
proses pembelajaran, sampai pada hasil belajar. Menurut Hardjana (2010:12)
metode adalah cara yang sudah dipikirkan masak-masak dan dilakukan dengan
mengikuti langkah-langkah tertentu guna mencapai tujuan yang hendak dicapai.
Metode penelitian merupakan cara untuk menyelesaikan suatu masalah
penelitian yang dilaksanakan secara terencana dan sistematis. Metode penelitian
pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan
dan kegunaan tertentu (Sugiyono,2007:2).
Dari beberapa pendapat para ahli yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan
bahwa metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk
memecahkan masalah dalam penelitian. Khususnya masalah dalam penelitian
pendidikan.Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian
deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk

menggambarkan, menjabarkan suatu fenomena yang terjadi saat ini dengan


menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah secara aktual. Masalah
dalam penelitian deskriptif adalah masalah-masalah yang terjadi saat penelitian
ini dilakukan (Sutedi, 2011:58)
Menurut Arikunto (2005), terdapat beberapa jenis penelitian yang dapat
dikategorikan sebagai penelitian deskriptif yaitu: penelitian survei (survey
studies), studi kasus (case studies), penelitian perkembangan (developmental
studies), penelitian tindak lanjut (follow up studies), analisis dokumen
(documentary analysis), dan penelitian korelasional (correlational studies).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan studi korelasi (correlational studies).
Penelitian korelasional merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua atau beberapa variabel
(Arikunto,2005:247). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian
ini menggunakan metode penelitian deskriptif jenis korelasi dengan pendekatan
kuantitatif.

Sample populasi
Instrumen penelitian
Pengumpulan data
Analisis data

Daftar pustaka
Djiwandon, S. E. W. (1989). Psikologi Pendidikan (Rev-2). Grasindo.
Rahmania,dr. savitri.(1999). All you know wanted to know about anxiety. Edisi
1,mien joebhaar.pustaka populer obor.jakarta
Ghazali, syukur(2010).pembelajaran keterampilan berbahasa dengan
pendekatan komuniktif-interaktif. Refika aditama.Bandung
Suryabrata, Sumadi.2010.Metodologi Penelitian.Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada
Sutedi, Dedi. 2011. Penelitian Pendidikan Bahasa Jepang, Bandung: Humaniora.
Sukardi.2003.Metodologi penelitian pendidikan:kompetensi dan
praktiknya.Yogyakarta:Bumi aksara
Hardjana 2010. Pengertian metode menurut para ahli. (online). Tersedia pada:
http://belajarpsikologi.com/metode/.(juli 2016)
Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Cetakan Ketujuh, Penerbit. Rineka
Cipta, Jakarta.