Anda di halaman 1dari 49

1.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ikan mas (Cyperinus carpio)sangat popular diberbagai kalangan masyarakat.
Berbagai besar masyarakat sudah mengenal ikan ini karena rasanya yang enak,
gurih dan mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Berdasarkan data yang
diperoleh dari Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI (1981), ikan mas
mengandung protein 4,5 gram, karbohidrat 23,1 gram dan lemak 0,2 gram. Selain
itu mengandung kalori, fosfor (p) 134 mg, kalsium (Ca) 42 mg, besi (Fe) 1 mg,
vitamin B1 0,22 mg dan air sebanyak 71 mg. secara ekonomis usaha budidaya
ikan sangat menguntungkan dan juga sangat mendukung untuk memenuhi gizi
masyarakat. Sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan manfaat iakn, maka
tingkat kebutuhan akan daging ikan semangkin meningkat (Bachtiar dan
Lentera,2002)
Di samping itu ikan mas (Cyperinus carpio) juga merupakan jenis air tawar
yang hidup di perairan yang mengalir tenang dengan suhu dingin yaitu 25-300C.
keunggulan ikan mas lainnya antara lain, mudah dipelihara karena ikan ini
tergolong pemakan segala (omnivora), tahan terhadap serangan penyakit, mampu
beradaptasi terhadap perubahan suhu dan dapat hidup di air yang tergenang
dengan kandungan oksigen terlarut 4 mg/L. Selain itu, ikan mas tidak terlalu
mahal dengan kisaran harga, ikan mas konsumsi Rp 35.000 Rp 40.000/Kg, dan
juga harga benih ukuran 2-3 cm Rp 200 sedangkan benih dengan ukuran 3-5cm
Rp 300 artinya dapat terjangkau oleh semua golongan. Oleh sebeb itu, tidak
mengherankan apabila ikan mas termasuk salah satu komuditas unggul di sector
perikanan air tawar.
Ikan mas tergolong jenis ikan favorit yang diminati oleh konsumen.
Pemintaan pasar tidak pernah surut, bahkan menunjukan peningkatan dari tahun
ke tahun. Kondisi ini bisa dilihat dari ketersediannya dipasar. Dibandingkan jenis
ikan lainnya, ketersediaan ikan mas pasti lebih banyak (Khariuman, 2013).
Perkembangan usaha budidaya ikan mas diimbangi dengan kebutuhan benih
ikan mas. Hal ini logis karena usaha budidaya (pembesaran) ikan mas tentu
membutuhkan benih. Dengan demikian terbuka peluang usaha pebenihan ikan
mas (Narantaka, 2012).
Pembenihan adalah salah satu bentuk unit pengembangan budidaya ikan.
Pembenihan ini merupakan salah satu titik awal untuk memulai budidaya. Ikan
1

yang dibudidayakan harus dapat tumbuh dan berkembang dengan baik agar
kontiunitas produksi budidaya dapat berkelanjutan. Untuk dapat menghasilkan
benih yang bermutu dalam jumlah yang memadai dan waktu yang tepat meski
arus diimbangi dengan pengoptimalan penanganan induk dan larva yang
dihasilkan melalui pembenihan yang baik dan berkualitas.
Usaha pembenihan meliputi semua kegiatan dari pemeliharan induk,
pemijahan, penetasan telur, perawatan larva dan panen larva. Pembenihan dapat
dilakukan di kolam yang dasarnya berupa tanah dan pemanangnya tembok. Selain
itu bisa juga dilakukan di kolam yang dasar dan pematangnya berupa tanah
(Khairuman,2013).
Berdasarkan cara dan tingkat teknologi yang digunakan, pembenihan dapat
dibagi menjadi beberapa macam yaitu, secara alami atau tradisional, semi buatan
dan buatan. Karena pembenihan secara semi buatan (Induced Spawning) didalam
pemijahan tidak tergantung dari kondisi alam, keunggulan dari teknik ini bisa
mempercepat produksi pada pembenihan ikan mas tersebut sehingga kebutuhan
masyarakat dapat terpenuhi akan benih ikan mas.
Mengingat akan permintaan dan peluang untuk mencukupi kebutuhan benih
ikan mas yang berkualitas baik demi menunjang produksi pembesaran ikan mas,
maka kami tertarik untuk melakukan kegiatan Kerja Praktek Lapangan dengan
judul Teknik Pembenihan Ikan Mas (Cyperinus carpio) Secara Alami di Balai
Benih Ikan (BBI) Sejuah Kabupaten Sanggau
1.2. Pembatasan Masalah
Dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan(PKL) pembatasan masalah yang
dikemukakan meliputi :
1. Pemeliharaan induk.
2. Persiapan wadah.
3. Seleksi induk.
4. Pemijahan.
5. Penetasan telur dan perawatan larva.
6. Pendederan.
7. Pemanenan benih.
1.3. Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini adalah untuk
mengetahui dan melakukan secara langsung kegiatan Pembenihan Ikan Mas
(Cyperinus carpio) secara Induced Spawning, khususnya yang ada di Balai Benih
Ikan(BBI) Sejuah Kabupaten Sanggau.
2

1.4. Manfaat
Manfaat yang didapat dari Praktek Kerja Lapangan ini adalah sebagai
berikut :
1. Dapat melakukan keseluruhan kegiatan pembenihan ikan mas (Cyperinus
carpio) secara Induced Spawning.
2. Dapat menerapkan teori yang didapat dalam aktivitas perkuliahan secara
langsung.
3. Dapat mengusai dan mampu melaksanakan kegiatan pembenihan ikan mas
secara Induced Spawning yang baik dan benar.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi Dan Morfologi
Menurut Khairuman (2008), Pengolongan ikan mas berdasarkan ilmu
taksonomi hewan (sistem pengelompokan hewan berdasarkan bentuk tubuh dan
sifat-sifatnya) sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Osteichtyes
Ordo : Cypriniformes
Familly : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : Cyprinus Carpio

Sumber: www.ediaswanto.wordpress.com.2015/12/21

Gambar 1. Ikan Mas


Ciri ciri morfologi adalah ciri ciri yang menunjukan bentuk dan struktur
suatu organisme (Narantaka,2012). Secara umum karakteristik ikan mas memiliki
bentuk tubuh yang agak memanjang dan sedikit memipih kesamping
(compressed). Sebagian besar tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik kecuali pada
beberapa strain yang memiliki sedikit sisik. Moncognya terletak diujung tengah
(terminal) dan dapat disimbulkan (protaktil). Pada bibirnya yang lunak terdapat
dua pasang sungut (berbel) dan tidak bergerigi. Pada bagian dalam mulut terdapat
gigi kerongkongan (phaarynreal) sebanyak tiga garis berbentuk geraham.
Sirip punggung ikan mas memanjang dan bagian permukaannya terletak
berseberangan

dengan

permukaan

dengan

sirip

perut

(venteral).

Sirip

punggungnya (dorsal) berjari-jari keras, sedangkan dibagian akhir bergerigi.


Seperti halnya sirip punggung, bagian belkang sirip dubur (anal) ikan mas ini pun
berjari jari keras dan bergerigi pada ujungnya. Serip ekornya menyerupai cagak
memanjang simetris hingga kebelakang. Sisik ikan mas relatif besar dengan tipe
sisik lingkaran (cyloid) yang terletak beraturan. Garis rusak atau gurat sisi (linea
4

literalis) yang lengkap terletak di tengah tubuh dengan posisi melintang dari tutup
insang sampai keujung belakang pangkal ekor (Narantaka, 2012).
2.2. Habitat Dan Penyebaran
Ikan mas sering hidup secara alamiah dipinggiran sungai, danau, atau
perairan tawar lainnya yang artinya tidak terlu dalam dan alirannya tidak begitu
deras. Lingkungan perairan yang diinginkan jenis ikan ini adalah daerah yang
berketinggian 150 600 meter di atas permukaan laut dengan suhu air berkisar
antara 25 300C. Ikan mas termasuk ikan air tawar, namun tidak jarang ikan ini
ditemui hidup didaerah muara sungai yang berair payau. Oleh karena itu, terdapat
masyarakat

dibeberapa daerah mencoba untuk membudidayakannya didalam

yang berair payau dengan sanilitas air mencapai 20 30 permil (Andrianto,2008).


Ikan mas yang dibudidayakan diperkolaman dapat dikawinkan sepanjang
tahun atau tidak mengenal musim. Tetapi di alam misalnya sungai, danau, ataupun
genangan airnya, ikan mas memijah pada awal atau sepanjang musim penghujan.
Biasanya memijah pada perairan dangkal, setelah mengalami kekeringan musim
kemarau, dan menempelkan seluruh telurnya pada tanaman atau rerumputan di
tepian perairan.
Menurut Santoso (1992), kebiasaan lain ikan mas yang hidup di alam selalu
mencari tempat yang aman (terutama didaerah yang ditumbuhi rumput rumput)
karena sifat teluri ikan yang menempel (adhesif). Oleh sebab itu para petani
sebelum melakukan pemijahan terlebih dahulu mencari tanaman air atau
perumputan untuk ditanah di dasar kolam. Sedangkan di Negara kita Indonesia
para petani menggunakan ijuk sebagai alat penempel telur yang lazim di sebut
kakaban.
2.3. Perkembangbiakan Ikan
Siklus hidup ikan mas dimulai perkembangan di dalam gonad (ovaruim pada
ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan yang
menghasilkan sperma). Sebenarnya pemijahan ikan mas dapat terjadi sepanjang
tahun dan tidak tergantung pada musim. Namun dihabitat aslinya, ikan mas sering
memijah pada saat awal musim hujan, karena adanya rangsangan dari aroma tanah
kering yang tergenang air. Pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir
fajar. Menjelang memijah, induk induk ikan mas aktif mencari tempat yang
rimbun, seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air.
Substrat inilah perangsang ketika terjadi pemijahan (Khairuman, 2008).
5

Supriantna (2013), telur ikan mas berbentuk bulat, bewarna bening, dan
berdiameter antara 1,5-1,8 mm. Bobot telur ikan mas berkisaran antara 0,170,20
mg. Namun demikian,ukuran dan bobot telur bervariasi tergantung dari umur atau
bobot induk. Jumlah telur yang dihasilkan induk ikan mas dalam sekali pemijahan
yaitu 84.000 - 135.000 butir perkilogram bobot induk. Tahap selanjutnya, sel-sel
didalam telur akan membelah selama puluhan jam atau 2-3 hari dan menghasilkan
larva. Larva ikan mas mempunyai kantung kuning telur yang berguna sebagai
cadangan makan bagi larva. Kantung kuning telur akan habis dalam 4-5 hari.
Ukuran larva rata-rata 0,5-0,6 mm dengan bobot antara 18-20 mg.
Selanjutnya Supriantna (2013) menambahkan, setelah menjadi larva
kemudian akan berubah menjadi kebul dalam waktu 4-5 hari. Pada tahap kebul,
ikan mas mulai memerlukan makanan yang berasal dari luar untuk menunjang
kehidupannya. Pakan alami kebul berupa zoo plankton, seperti moina, daphnia
dan rotifera. 2-3 minggu kemudian, kebul akan berubah menjadi burayat yang
berukuran 1-3 cm dengan bobot antara 0,1-0,5 gram, selanjutnya 2-3 minggu
berikutnya buraya tumbuh menjadi putihan yang berukuran sekitar 3-5 cm dengan
bobot 0,5-2,5 gram, pada masa ini sudah siap untuk didederkan. Setelah 3 bulan
berubah menjadi gelondongan yang bobot perekornya sekitar 100 gram.
Gelondongan akan tumbuh terus hingga menjadi induk, pada umumnya setelah 6
bulan dipelihara bobot ikan jantan dapat mencapai 5.000 gram, sementara itu
induk betina rata-rata bisa mencapai 1.500 gram setelah berumur 15 bulan.
2.4. Pakan Dan Kebiasaan Makan Ikan
Ikan mas di perairan alami menyantap aneka makan alami berupa organisme
hewani ataupun nabati, misalnya invertebrata air, udang udangan reni, larva dan
serangga air, kerang kerangan dan macam macam tanaman air. Ikan ini juga
lahap memakan berbagai jenis biji bijian, misalnya padi padian, jagung dan
gandum yang dicampurkan sebagai suplemen makanan buatan (artificial foods).
Bahkan ikan mas sering kali memakan bahan bahan organik berupa deatritus
dan pucuk tanaman keras yang tumbuh atau tertimbun didasar perairan. Sumber
protein, vitamin, lemak, dan mineral sebagai sumber energi metabolisme tubuh
dan pertumbuhan di perooleh dari makanan renik berpa plankton, yaitu plankton
nabati (Phytoplankton) dan plankton hewani zoo plankton (Djarijah,2001).

Ikan mas termasuk ikan pemakan segalanya. Pada umur muda (ukuran
10cm), iikan mas senang memakan jasad hewan atau tumbuhan yang hidup
didasar perairan atau kola, misalnya Chironomidae, Olighochaeta, Tubificidae,
Epimidae, Trichoptera, Moluska,dan sebagainya. Selain itu memakan Protoza dan
Zoo pankton seperti Copepod dan Cladosera. Hewan hewa kecil tersebut di
sedot bersama lumpurnya, di ambil yang dapat dimanfaatkan dan sisanya di
kelurkan melalui mulut (Santoso,1993).
2.5. Hama Dan Penyakit Ikan
Serangan hama dan penyakit merupakan salah

satu penyebab gagalnya

usaha budidaya ikan mas. Tidak jarang ikan mas yang akan dipanen mengalami
kematian akibat serangan penyakit. Serangan penyakit biasanya menimbulkan
kerugian

yang

lebih

besar

dibandingkan

dengan

serangan

hama

(Khairuman,2013).
A. Hama
Yang disebut dengan hama adalah organisme penggangu yang dapat
mengakibatkan kerugian atau kerusakan pada suatu budidaya ikan yang dalam hal
ini budidaya ikan mas. Dilapangan hama yang sering menggangu ikan mas
banyak ragamnya (Narataka,2012). Berbagai macam hama dapat dilihat pada
Tabel 1 berikut :
Tabel 1. Beberapa hama yang biasa mengganggu budidaya ikan di kolam
No Jenis hama
1 Bebeasan
(Notonecta)
2

Ucrit

kodok

Ular

Lingsang

Burung

Cara penanggulangan
Menuangkan minyak tanah ke
permukaan air 500cc/ 100 m2 luas
kolam
Hindari bahan organik menumpuk
disekitar kolam
Rajin membuang telur kodong
yang mengapung
Lakukan dengan penangkapan
Pasanglah jebakan berumpan
ditempat yang biasa dilalui
Kolam diberi penghalang dari
ranting, bambu supaya mereka
sulit menerkam ikan. Pendederan
disawah di buatkan penghalang
tali rapia atau kawat rumbai-

keterangan
Berbahaya bagi benih
karena sengatannya.
Menjepit bahan ikan
dengan taringnya.
Menyerang benih dan
ikan kecil.
Beroperasi malam
hari.
Biasanya mengincar
benih berwarna
mencolok, misalnya
merah, kuning.

Ikan gabus

Belut dan
kepiting

rumbai kain bekas.


Pintu masukan diberi saringan
Memperbaiki pematang yang
rusak.
Lakukan penangkapan.

Sebagai predator dan


kompetitor.
Kebiasan buruknya
adalah menggali
pematang.

Sumber: santoso, 1993

B. Penyakit
Penyakit adalah suatu keadaan dimana terdapat gangguan terhadap bentuk dan
fungsi tubuh sehingga berada dalam keadaan tidak normal. Penyebab penyakit
ikan ada dua, yakni jasad hidup dan bukan jasad hidup. Jasad hidup yang
menyebabkan penyakit pada ikan adalah parasit. Contoh parasit yang menyerang
ikan mas adalah virus, jamur, bakteri, protozoa, cacing dan udang renik.sementara
ini penyebab penyakit yang bukan jasad hidup adalah sifat fisika air, sifiat kimia
air, dan pakan yang kurang cocok untuk kehidupan ikan mas (Khairuman,2013).
Penyakit pada ikan mas terbilang cukup jarang jika dibandingkan dengan
penyakit yang menyerang ikan air tawar lainnya. Ada beberapa penyakit yang
menyerang ikan mas yaitu (Supriatna, 2013) :
1) Herpes
Tanda tanda ikan yang terserang penyakit ini yakni tampak luka pada kulit
(budukan) dan insang membusuk. Penyakit ini termasuk menular dan harus
diwaspadai. Ikan yang terlanjur terserang penyakit ini bisa diobati, tetapi
pengobatan tidak akan dapat membuat ikan membaik 100%. Pengobatan dapat
menggunakan Tetrasylin atau Metylin Blue. Mengenai dosis pemakaian dapat
mengikuti petunjuk pada kemasan.
2) Sisik rontok
Kalau sisik rontok karena penyakit biasanya disebabkan oleh jamur atau
bakteri. Pengobatan penyakit ini dapat di lakukan dengan memberikan larutan PK
yang dicampur dengan garam dapur. Dosis 0,5gram PK dan 5 kg garam dapur.
Selanjutnya, tebarkan larutan tersebut secara merata kepermukaan air kolam.
biasanya dengan carainin ikan akan cepat pulih dan penyakit tidak akan berlanjut
(Samatardi,2014).
2.6. Pembenihan Ikan Mas Secara Induced Spawning
Pembenihan ikan adalah usaha benih ikan melalui pemijahan, penetasan
telur, perawatan larva, dan pendederan. Produksi akhir usaha pembenihan ikan

adalah benih ikan secara fisiologi maupun marfologi menyurupai induknya serta
menghasikan benih yang memiliki ketahanan fisik atau tubuh yang baik/sehat.
Usaha pembenihan yang baik akan menghasilkan benih benih ikan yang telah
aktif dan mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan serta resisten terhadap
hama dan penyakit (Djarijah,2001).
Pada kegiatan pembenihan terhadap sub kegiatan lain yang harus di kerjakan
secara bertahap. Kegiatan tersebut yaitu :
2.6.1. Wadah Dan Media
Tujuan persiapan wadah adalah untuk menciptakan membuat lingkungan
kolam pemijahan sesuai dengan persyaratan hidup ikan. Tekstu dan struktur tanah
yang ideal untuk memijah ikan mas adalah tanah liat berpasir yang memiliki sifat
kedepan air dan tidak masam. Lingkungan kolam terhindar dari pencemaran
bahan-bahan beracun. Kegiatan persiapan kolam meliputi pengeringan, rehabilitas
kolam, pemupukan, pengapuran, dan pengairan. Untuk menciptakan kondisi
alamiah yang dapat merangsang induk ikan segera mmelakukan pemijahan, maka
kolam pemijahan harus di keringkan selama beberapa hari. Tingkat kekeringan
yang ideal di tandai dengan adanya retakan tanah dan perubahan warna dari basah
kehitam-hitaman menjadi kering-keputihan atau warna muda (Djarijah, 2001).
Dalam kegiatan penyiapan kolam pemijaan perlu tiga kolam untuk
pemijahan ikan mas yaitu kolam pemijahan, kolam penetasan dan kolam
penedederan. Tetapi pada perakteknya hanya disisipkan dua kolam bahkan satu
kolam. Hal ini dimungkinkan karena kolam pemijahan pun dapat difungsikan
sebagai kolam penetasan atau pun kolam penetasan difungsikan sebagai kolam
pendederan (Adrianto,2008).
Selain kolam tanah, bak budidaya lainnya adalah bak tembok atau bak beton
yang akan digunakan untuk budidaya ikan harus dilakukan persiapan wadah
sebelum dipergunakan untuk melakukan kegiatan budidaya. Persiapan wadah
bertujuan untuk mengkondisikan wadah agar dapat digunakan secara efesien dan
memenuhi persyaratan lingkungan yang optimal, sehingga ikan dapat hidup
dengan laju pertumbuhan yang optimum (Gusrina,2008).
2.6.2.
Pemeliharaan Dan Seleksi Induk
Calon induk ataupun induk yang akan dikawinkan di kelola didalam
pemeliharaan induk. Kolam tersebut berfungsi mempercepat proses kematangan
telur. Karena fungsinya begitu maka induk-induk yang sudah dewasa perlu

dirawat dalam kondisi kolam yang menyehatkan untuk perkembangan atau


pematangan gonad. Oleh sebab itu perlu diperhatikan komposisi makanan yang
diberikan maupun areal yang dibutuhkan. Lazimnya kolam pemeliharaan induk
terdiri dari dua buah yaitu satu kolam untuk induk jantan dan yang satu untuk
kolam betina. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah perkawinan sendiri karena
induk betina gampang terangsang oleh bau sperma jantan yang keluar tanpa
disengaja dan mengikuti arus air (Santoso, 1992).
Seleksi induk ikan mas dilakukan untuk memilih tingkat kematangan gonad
setiap jenis kelamin dan fekunditas atau kemampuan mengasilkan telur. Dengan
kata lain, seleksi induk ikan adalah memilih induk ikan yang unggul dan telah siap
untuk dipijahkan induk ikan mas jantan dan induk mas betina dapat diseleksi
menurut perbedaan kelamin sekunder. Pada umum nya induk ikan mas betina
yang sudah kelamin memiliki ciri ciri yang mudah di bedakan dengan induk
jantan ataupun induk betina yang belum siap untuk berpijah (Djarijah, 2001).
Gusrina (2008), Calon-calon induk tersebut dipelihara sampai ukuran
tertentu untuk di pijahkan. Induk ikan mas jantan lebih cepat matang gonad
dibbandingkan dengan mas betina. Umur ikan mas jantan 10 12 bulan dengan
bobot 0,6 - 0,75 kg sudah sampai matang kelamin, sedangkan induk betina yang
ideal mencapai matang gonad pada umur 1,5 2 tahun dengan berat 2 3 kg.
Induk ikan mas yang aka di pijah kan harus benar benar dapat di bedakan antara
jantan dan betina. Adapun ciri ciri induk jantan dan betina ikan mas dapat dilihat
pada Tabel 2 berikut ini :
Tabel 2. Ciri Ciri Induk Jantan Dan Induk Betina Ikan Mas
No.
1

Jantan
Sirip dada relatif panjang,
jari- jari luar tebal
Lapisan sirip dada kasar
Kepala tidak melebar

Betina
Sirip dada relatif pendek, lunak, lemah,
jari-jari luar tipis
Lapisan dalam sirip dada licin
Kepala relatif kecil, bentuk agag
meruncing
Tubuh lebih tebal atau gemuk di
bandingkan jantan pada umur yang
sama

Tubuh lebih tipis atau


langsing, ramping
dibandingkan dengan betina
pada umur yang sama
Gerakannya gesit

Sehat dan tidak cacat

Sehat dan tidak cacat

2
3
4

Gerangkannya lamban dan jinak

10

Sisik teratur dan warna


cerah

Sisik teratur dan warna cerah

Sumber : Gusrina, 2008

Kegiatan pemberokan ikan mas dilakukan karena gonad induk masih banyak
megandung lemak. Kandungan lemak yang tinggi dapat menghambat kelurnya
telur saat di pijahkan atau distreefing. Dengan diberokan, kandungan lemak akan
berkurang.
Arie, (2011) di samping itu pemberokan bertujuan pula untuk memudahkan
dalam membedakan induk yang gendut karena telur atau gendut karena makanan.
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberokan, yaitu :
a. Air harus bersih (tidak mengandung pakan) serta mengalir secara kontinyu
agar ikan tidak mengalami stres dan oksigen dapat di suplai secara terus
menerus.
b. Induk tidak boleh diberi pakan tambahan agar kandungan lemaknya tidak
bertambah
c. Pemberokan dilakukan selama 2-3 hari.
2.6.3. Pemijahan
Pemijahan adalah upaya mengawinkan induk jantan dan betina di dalam
kolam atau bak yang disediakan. Sebelum induk jantan dan induk betina yang siap
untuk dipijahkan dimasukan ke dalam kolam atau bak pemijahan terlebih dahulu
melakukan penimbangan induk kemudian melakukan penyuntikan dengan
menggunakan hormon ovaprim. Perbandingan induk yang digunakan yaitu 1:1.
Induk betina yang sudah matang telur di rangsang opulasi dengan penyuntikan
hormone ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg bobot induk betina. Jika diperlukan
induk jantan juga disuntik dengan dosis yang sama. Dosis yang digunakan pada
induk jantan yaitu 0,3/kg bobot induk jantan. Selanjutnya induk jantan dan induk
betina

di

tempatkan

setelah

penyuntikan

ikan

sudah

mulai

memijah

(Nugroho,2011).
Bagian tubuh ikan yang relatif aman untuk suntik adalah pada bagian intra
muscular. penyuntikan secara intra muscular dilakukan pada bagian punggung,
yaitu dibagian otot yang paling tebal. Pada ikan mas penyuntikan dilakukan pada
3 4 sisik kebawah. Teknik penyuntikan dilakukan dengan arah jarum suntik
membuat sudut 600 ,dan jarum dimasukan sedalam kurang lebih 1,5 cm atau
tergantung pada besar kecilnya ukuran ikan mas. Pada saat dilakukan penyuntikan
sebaiknya ikan dibungkus dengan jaring adar tidak lepas (Khairuman,2008).
11

Induk matang kelamin yang sudah disuntik kemudian di masukan kedalam


hapa pemijahan yang sudah dipisahkan seperti pemijahan secara alami. Pemijahan
biasanya terjadi 6 7 jam setelah penyuntikan. Telur diteteskan kedalam hapa dan
induk di pindahkan setelah selesai memijah, selanjutnya perawatan telur dan larva
(Khairuman,2013).
2.6.4. Perawatan dan Penetasan Telur
Penetasan telur dari kakaban atau hapa dapat dilakukan langsung dikolam
pendederan atau kolam penetasan telur, dan penetasan telur ikan mas dapat pula di
lakukan dengan menggunakan hapa atau plastik pemijahan langsung di kolam
(Prahasta,2009).
Air sebagai media penetasan telur harus bebas dari pollutan (bahan polusi /
cemaran) dan tidak keruh atau tersuspensi oleh bahan-bahan organik, terutama
lumpur tanah. Untuk itu, air yang di gunakan untuk penetasan telur ikan mas
sebaiknya di alirkan melalui bak pengendapan (filter) dan dikucurkan secara
kontinyu melalui pintu air yang kapasitas atau debitnya dapat diatur. Suhu air
selama penetasan telur di pertahankan pada kisaran 220 C- 240 C. Sedangkan debit
atau kecepatan alirannya di hitung berdasarkan perkiraan jumlah telur atau larva.
Kecepatan aliran air untuk penetasan telur sebanyak 1.000.000 2.000.000 butir
telur atau larva adalah 20 30 liter/menit. Kecepatan aliran ini akan menentukan
konsentrassi oksigen terlaut yang dibutuhkan sebgai sumber energi dalam
perkembangan embrio. Masa inkubasi telur ikan mas berkisar 24 48 jam atau 1
-2 hari, oleh karena itu pada hari ke 3 kakaban harus segera di angkat dan telur
telur yang tidak menetas atau membusuk segera di bersihkan dengan
menggunakan skoppnet bermata halus (Djarijah,2001).
2.6.5. Perawatan Larva
Untuk mencegah matinya larva yang sudah menetas perlu diperhatikan hal
berikut, dua hari setelah telur menetas atau larva ikan mas tidak menempel lagi
pada kakaban, maka kakaban harus di angkat. Benih-benih ikan mas yang telah
berusia lima hari di dalam hapa diberi makanan yang berbentuk larutan kuning
telur. Makanan larva ikan mas yang berbentuk larutan kuning telur di buat dengan
cara, telur direbus sampai matang, kemudian isi telur yang telah matang di
pisahkan antara putih telur dan kuning telurnya, hanya diambil kuning telurnya
saja. Kemudian bungkus dengan kain kasa yang halus bungkusan kuning telur di
12

remas-remas didalam air, sehingga kuning telur tersebut habis tercampurkan


dengan semua dengan air yang di siapkan. Air yang digunakan untuk mencampur
remasan kuning telur tersebut sekitar

1/4

liter air untuk 1 telur. Setelah

berbentuk larutan, masukan makanan-makanan kuning telur tersebut kedalam alat


penyemprot agar memudahkan pemberian makanan, atau dapat juga larutan
tersebut dipercik-percikan secara marata.Berikan larutan kuning telur selama lima
hari. Kebutuhan kuning telur perhari adalah 1 butir untuk benih sebanyak 100.000
ekor. perawatan larva ikan mas dalam haffa berlangsung sampai larva berumur 4
sampai 5 hari. Selanjutnya, benih ikan mas itu disebut benih ikan mas lepas haffa
(prahasta,2009).
2.6.6. Pendederan
Pendederan di lakukan dalam dua tahap, yakini pendederan pertama dan
pendederan kedua. Jangka waktu pendederan pertama berlangsung selama 2-3
minggu dan pendedern kedua lebih kurang selama tiga minggu (khairuman,2013).
Ketinggian kolam pendederan sebaiknya dibuat 70-80cm dengan kedalaman
40-60cm pengisisan air dilakukan secara bertahap (supriatna,2013). Berikut
aplikasinya :
1. Mula mula air diisi hingga ketinggian 40 cm. Ketinggian tersebut
dipertahankan selama 10 hari.
2. 10 hari berikutnya, ketinggian air di tambah menjadi 10-50cm.
3. 10 hari selanjutnya, ketinggian air ditambah lagi menjadi 60 cm. Ketinggian
tersebut dipertahankan hingga masa pendederan berakhir (panen benih).
Pendederan pertama biasanya selama 1 bulan karena kolam sudah kurang
mampu lagi menyediakan pakan alami ikan mas. Oleh karena itu, benih benih
ikan harus diberikan pakan tambahan berupa dedak halus, tepung kedelai, dan lain
sebagainya (Pratiwi,2013).
Pada 10 hari pertama kegiatan pedederan, larva ikan mas diberi pakan
butiran PF 1.000. selanjutnya pakan yang diberikan berupa pellet L1 hingga akhir
masa pendederan. Pellet L1 ini sudah tidak perlu lagi dicampurkan dengan air,
teteapi bisa langsung diberikan. Pemberian pakan dilakukan 2-3 kali per hari,
yakini pada pagi hari kira-kira pukul 09.00, pukul 13.00 dan pukul 16.00.
pemberian pakan dilakukan sambil mengntrol respon ikan terhadap pakan. Jika
sudah mulai lamban merespon pakan, pemberian mulai dikurangai sedikit demi
sedikit hingga akhirnya dihentikan (Supriatna,2013).
13

SNI : 01 6133 1993, drajat kelangsungan hidup benih berkisar antara


60% - 80% .
2.6.7. Panen Benih
Pemanenan dilakukan setelah benih mencapai ukuran yang siap untuk
didederan ditempat lain, biasanya setelah benih berumur 2-3 minggu sejak
penebaran. Pemanenan sebaiknya dilakukan saat suhu masih rendah yakni pada
pagi atau sore hari. Jika panen belum selesai tetapi suhu udara sudah mulai panas,
sebaiknya kegiatan panen dihentikan dan dilanjutan keesokan harinya, tetapi
kolam harus diairi kembali hingga penuh (Khairuman,2013).
Cara panen yang biasa dilakukan oleh petani ikan mas cukup gampang.
Langkah awal adalah menyurutkan air kolam secara perlahan hingga
ketinggiannya menjadi 20-30 cm. Pemanenan dilakukan secara hati hati agar
benih tidak terluka (Khairuman,2013).

14

3. METODOLOGI
3.1. Waktu Dan Tempat PKL 1
Praktek kerja lapangan (PKL) ini dilaksanakan pada tanggal 4 Januari sampai
dengan 18 Januari 2016, di Balai Benih Ikan (BBI) Sejuah Kabupaten Sanggau
Provinsi Kalimantan Barat.
3.2. Metode Pengambilan Data
Metode pengumpulan data merupakan cara yang dipakai dalam pengumpulan
data, sedangkan alat pengumpulan data adalah alat bantu yang digunakan dalam
pengumpulan data (Mustari,2012).
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam praktek kerja lapangan ini
adalah deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, partisipasi, dan
wawancara.
1. Observasi adalah metode pengumpulan data dimana peneliti atau para
kolaboratornya mencatat

informasi sebagaimana mereka melakukan

pengamatan secara langsung dan apa yang telah mereka saksikan pada saat
penelitian. Observasi meliputi kegiatan-kegiatan yang dilakukan, pengamatan
langsung di lapangan dan aktifitas di lapangan (Gulu,2002).
2. Partisipasi adalah kegiatan langsung yang dilakukan oleh peneliti untu
mendapatkan hasil sesuai yang dilakukan.
3. Wawancara adalah salah satu cara untuk mengumpulkan informasi yang utama
dalam kajian pengamatan. Dilakukan dengan tanya jawab secara lisan dan
jawaban disimpan secara tertulis, melalui rekaman kaset, video atau media
elektronik lainya. Wawancara bisa bersifat langsung ataupun tidak langsung
(Mustari, 2012).
Pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer maupun sekunder.
Sumber primer merupakakan sumber data yang memberikan data kepada
pengumpul data, sedangkan sumber skunder adalah sumber data yang secara tidak
langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalkan melalui dokumen
atau arsip (Sumarni dan Wahyuni, 2006)
3.2.1. Data Primer
Data primer adalah data yang dihasilkan dari sumber primer.sumber
primer mengambarkan bahan sumber yang terdekat dengan orang, imformasi,
periode atau ide yang dipelajari (Mustari, 2012).

15

Adapun data primer yang diambil dalam praktek kerja lapangan ini adalah:
A. Pemeliharaan Induk
Data data yang akan di ambil dalam pemeliharan induk yaitu, jenis pakan,
dosis, frekuensi, dan kandungan nutrisi pakan. Data data tersebut dapat dilihat
pada tabel 3 berikut :
Tabel 3. pengambilan data pengambilan induk.
No
1
2
3
4
5
6
7

Parameter
pengamatan
Umur
Berat
Panjang
Jumlah
Luas wadah
Pakan
Kualitas air

Cara pengambilan data


Wawancara
Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi

Alat yang
digunakan
Timbangan
Penggaris
Meteran
Alat ukur kualitas air

B. Persiapan wadah
Data data yang akan diambil pada tahap persiapan wadah dan media
meliputi jenis serta ukuran wadah (panjang,lebar,tinggi wadah,dan tinggi air),
lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini :
Tabel 4. Cara pengambilan data pada persiapan wadah
No
1
2
3
4
5
6

Parameter
pengamatan

Cara pengambilan data

Alat yang

Jenis wadah
Ukuran wadah
Pembersihan wadah
Lama pengeringan
Tinggi air
Jumlah kakaban

Observasi dan partisipasi


Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi

digunakan
Meteran
Sikat dan air
Meteran
-

C. Seleksi induk
Untuk mendapatkan data mengenai induk, dilakukan wawancara langsung
dengan nara sumber dan melakukan kegiatan secara langsung. Ada pun data yang
akan di ambil dalam kegiatan seleksi induk yaitu asal induk, jumlah, dan tingkat
kematangan gonad. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table 5 berikut ini :
Tabel 5. Cara pengambilan data pada seleksi induk

16

No

Cara pengambilan data

Parameter
pengamatan
Asal

Wawancara

Alat yang
digunakan
-

Umur

Wawancara

Jumlah induk

Observasi dan partisipasi

Panjang induk

Observasi dan partisipasi

Penggaris

Berat induk

Observasi dan partisipasi

Timbangan

Tingkat kematangan
gonad
Kelengkapan organ
tubuh

Observasi dan partisipasi

Kateter

Observasi dan partisipasi

D. Pemijahan
Data yang diambil dalam tahapan pemijahan yaitu jumlah pasangan induk
yang dipijahkan, waktu memijah, jumlah telur yang di hasilkan, bahan
perangsang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 6 dibawah ini :
Tabel 6. Cara pengambilan data pada pemijahan
No

Parameter
pengamatan

Cara pengambilan
data

1
2
3

Jumlah induk
Waktu memijah
Jumlah
telur(fekunditas)
Jumlah telur yang
terbuahi(HR)
Kualitas air

Observasi dan partisipasi Observasi dan partisipasi Observasi dan partisipasi Timbangan

4
5

Alat yang
digunakan

Observasi dan partisipasi Kaca


persegi(sampel)
Observasi dan partisipasi Alat ukur kualitas air

Untuk mandapatkan data fekunditas dan fertilisasi rate dapat dihitung


menggunakan rumus berikut :
1. Fekunditas(F)
Murtidjo (2001), fekunditas adalah jumlah telur yang dihasilkan oleh induk
betina per ekor. Untuk menghitung fekunditas dapat dilakukan dengan beberapa
metode diantaranya:
a) Gravimetrik
Perhitungan fekunditas telur dengan metode gravimetrik dilakukan dengan
cara mengukur berat seluruh telur yang di pijahkan dengan teknik pemindahan air.

17

Selanjutnya, telur diambil sebagian kecil, di ukur beratnya , dan jumlah telur
dihitung.
F=

W
n
w

Keterangan : F = fekunditas
W = berat telur total (gram)
w = berat telur sampel (gram)
n = jumlah telur sampel (butir)
b) Volumetrik
Perhitungan fekunditas telur dengan metode volumetrik dilakukan dengan cara
mengukur volumeseluruh telur yang dipijahkan dengan teknik pemindahan air.
Selanjutnya, telur diambil sebagian kecil, diukur volumenya, dan jumlah telur
dihitung. Selanjutnya fekunditas telur dapat diketahui dengan menggunakan
rumus.
F=

V
n
v

Keterangan : F= Fekunditas
V= volume telur seluruhnya
v= volume sampel sebagian kecil telur
n = jumlah telur dari sampel telur
2. Fertilisasi Rate (FR)
Murtidjo (2001), menyatakan bahwa Fertilisasi Rate merupakan pebandingan
antara telur yang hidup dan jumlah telur yang dikeluarkan yang dinyatakan dalam
persen. Untuk memperoleh nilai telur yang terbuahi cukup dilakukan dengan cara
mengambil sebagian atau secara sampling setelah 1 jam pemijahan. Fertilisai
Rate dapat dihitung dengan menggunnakan rumus berikut :
FR=

jumlah telur yang terbuahi


100
jumlah telur seluruhnya

E. Penetasan telur dan perawan larva

18

Data-data yang diambil pada tahapan ini diantaranya, jumlah telur yang
menetas jenis pakan, jumlah larva, kualitas air dan sebagainya. Agar lebih jelas
dapat dilihat pada Tabel 7 berikut :
Tabel 7. Cara Pengambian Data Pada Penetasan Telur dan Perawatan Larva
No
1
2
3
4
5
6
7

Parameter
pengamatan
Julah telur yang menetas
(HR)
Jumlah larva
Jenis pakan
Dosis pakan
Frekuensi pemberian
pakan
Waktu pemberian pakan
Kualitas air

Cara pengambilan data


Observasi dan partisipasi

Alat yang
digunakan
Volume sampel

Observasi dan partisipasi


Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi
Observasi dan partisipasi

Observasi dan partisipasi


Observasi dan partisipasi

Alat ukur
kualitas air

Untuk mendapatkan data daya tetas telur dapat dilakukan dengan cara
menghitung jumlah larva secara sampling. Larva yang telah menetas diambil lima
titik dan dihitung jumlahnya, pengambilan diambil dengan menggunakan literan
dihitung dengan menggunakan rumus berikut :
- Daya tetas/ hatching rate (HR)
Menurut Zairi (2002), daya tetas telur atau Hatching Rate dapat dihitung
dengan rumus:
jumlah telur yang menetas
HR=
100
jumlah telur total
F. Pendederan
Data dan cara pengambilan data pada kegiatan pendederan dapat dilihat pada
Tabel 8 berikut ini :
Tabel 8. Cara pengambilan data pada pendederan
No
1
2
3
4
5
6

Parameter
pengamatan
Janis wadah
Jumlah benih yang
didederkan
Cara pendederan
Lama pendederan
Jenis pakan
Dosis

Cara pengambilan data


Wawancara dan partisipasi
Wawancara dan partisipasi

Alat yang
digunakan
-

Wawancara dan partisipasi


Wawancara dan partisipasi
Wawancara dan partisipasi
Wawancara dan partisipasi

19

No
7
8
9
10

Parameter
pengamatan
Frekuensi pemberian
pakan
Waktu pemberian
pakan
Kualitas air
Pertumbuhan

Cara pengambilan data


Wawancara dan partisipasi

Alat yang
digunakan
-

Wawancara dan partisipasi

Wawancara dan partisipasi


Wawancara dan partisipasi

G. Pemanenan benih
Data data dalam kegiatan pemanenen benih diantaranya yaitu, jumlah panen,
waktu panen, cara panen, dan lain lain. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Tabel 9 berikut ini :
Tabel 9. Pengambilan data dan pemanenan benih
No. Parameter
1
2
3
4
5

pengamatan
Jumlah panen
Ukuran benih
Waktu panen
Cara panen
Survival rate (SR)

Cara pengambilan

Alat yang digunakan

data
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara

Untuk mendapatkan data SR, dapat dihitung dengan menggunakan rumus


berikut :
- Kelangsungan hidup/ Survival Rate (SR)
Menurut Zairin (2002), survival rate (SR) atau kelolosan hidup dapat dihitung
dengan rumus :
SR=

larva yang hidup setelah pemeliharaan


100
larvaawal pemeliharaan

Keterangan : SR = survival rate / derajat kelolosan hidup larva


H. Hama dan penyakit
Data data yang diamati dan diambil dalam pengamatan hama dan penyakit
adalah jenis jenis hama dan penyakit serta penanggulangannya. Data yang
diambil dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini :
Tabel 10. Pengamatan hama dan penyakit
No. Parameter
pengamatan
1
Hama
2
penyakit

Cara pengambilan
data
Observasi
Observasi

Alat yang digunakan


-

20

3.2.2. Data Sekunder


Data sekunder adalah sumber data sacara tidak langsung memberikan data
kepada pengumpul data misalkan melalui dokumen atau arsip (sumarni dan
wahyuni, 2006). Data sekunder dapat dilihat pada Tabel 11 berikut :
Tabel 11. Cara Pengambilan Data Sekunder
No
1
2
3
4
5
6

Parameter pengamatan
Sejarah berdirinya usaha
Letak geografis
Struktur oragnisasi
Peran dan fungsi
Sarana dan prasarana
Referensi yang berkaitan dengan

Cara pengambilan data


Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Observasi

kegiatan pembenihan ikan mas


3.2.3. Analisis Data
Analisis adalah suatu usaha untuk mengurai suatu maslah atau suatu fokus
kajian menjadi bagianbagian (decomposision) hingga susunan atau tatanan
berbentuk suatu yang diurai itu tampak dengan jelas dan karenanya bisa secara
lebih terang ditangkap atau lebih jernih dimengerti duduk perkaranya (satori dan
khomariah, 2012).
Analisis data adalah kegiatan tentang bagimana data yang telah
dikumpulkan itu di olah, dikasifikasi, dibedakan dan kemudian dipersiapkan
untuk dipaparkan (mustar,2012). Analisis data yang digunakan dalam kegiatan
praktek kerja lapangan (PKL) ini adalah analisis kulitatif dan kuntitatif sebagai
barikut :
1) Kulitatif
Analisis kulitatif merupakan sumber dari diskirpsi yang luas dan berlandaskan
kokoh, serta menguat penjelasan prosesproses yang terjadi luang lingkup
setempat. Data yang muncul lebih banyak berwujud katakata, bukan rangkaian
angka, data kualitatif dikumpulkan dalam berbagai cara misalnya abservasi,
wawancara, intisari dokumen, rekaman kemudian di proses melalui pencatatan,
pengetikan, dan penyuntingan selanjutnya di analisis secara kulitataif (Satori dan
Khomariah,2012).
Analisis data secara umum di rincikan dengan sifat sifat : tertutup, jangka
masa panjang, mendalam (Musari, 2012)

21

Data data yang di analisis adalah sebagai berikut :


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pemeliharaan induk
Persiapan wadah
Seleksi induk
Pemijahan
Penetasan telur dan perawatan larva
Pendederan
Pamanenan benih

2) Kulitatif
Analisis kualitatif adalah analisis ayang mempergunakan alat analisis bersifat
kuantitatif.

Hasil analisis yang di sajikan dalam bentuk angka-angka yang

kemudia di jelaskan dan di interpresentasikan dalam bentuk uraian. Data-data


yang di analisis kuantitatif adalah sebagi berikut :
a. Fertilisasi Rate (FR)
b. Hatching Rate (HR)
c. Survival Rate (SR)

22

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Keadaan Umum Lokasi
4.1.1 Letak Geografis
Desa Sejuah termaksuk daerah beriklim teropis. Batas wilayah BBI
Sejuah, Kecematan Kembayan, Kabupaten Sanggau adalah sebagai berikut :
Bagian Utara

: Berbatasan dengan sungai Sejuah

Bagian Barat

: Berbatasan dengan Desa Ngalok

Bagian Selatan

: Berbatasan dengan Kembayan

Bagian Timur

: Berbatasan dengan Desa Moboi.

Luas keseluruhan BBI Sejuah adalah 4,5 Ha, BBI sejuah memiliki
sumber air yang berasal dari sungai sejuah. Keadaan alam di sekitar lokasi BBI
Sejuah cukup menunjang untuk usaha budidaya perikanan, karena jauh dari
pencemaran industri dan sumber airnya merupakan sumber aliran air dari
pegunungan /perbukitan.
4.1.2. Sejarah Berdirinya
BBI sejuah pertama kali berdiri pada tahun 1991 dan pada saat itu BBI
sejuah hanya memiliki 3 buah kolam dengan komoditas ikan Mas. Pada saat ini
jumlah kolam bertambah menjadi 38 kolam dengan komoditas ikan Lele, ikan
Mas, Ikan Patin, Ikan Bawal, Ikan Gurame, Ikan Nila Merah, Ikan Nila Nirwana,
Ikan Baung, Ikan Arwana Silver. Kolam terbagi menjadi 10 petak kolam induk
dan 28 petak kolam pendederan.
Pada tahun 2008 BBI Sejuah berdasarkan Sk Bupati pada tahun 2010
Balai Benih Ikan Sejuah menjadi unit teknisi daerah di bidang Perikanan. Luas
area jarak BBI yang terletak di Desa Sejuah dengan Kembayan adalah 5 Km, dari
Kantor Camat 8 Km, dan dari Kabupaten Sanggau 80 Km. Penduduk Desa Sejuah
sebagian besar bermata pencarian sebagai petani dan mayoritas menganut Agama
Kristen.

4.1.3. Struktur Organisasi

23

Balai Benih Ikan Sejuah terletak dibawah Dinas Pertanian,Perikanan


Kab.Sanggau. Struktur Organisasi yang digunakan adalah sistem organisasi secara
vertikal yang artinya semua kegiatan staf dan pegawai melaporkan pertangguang
jawaban kepada staf yang lebih tinggi. Dan kegiatan tersebut harus sesuai dengan
keputusan dari pimppinan Unit BBI Sejuah. Selain itu tugas pokok pempinan unit
adalah sebagai berikut :
a) Pimpinan Unit, merencanakan dan mengkoordinasikan semua kegiatan sesuai
dengan tujuan dan fungsi agar tepat pada sasarannya.
b) Memeberikan arahan lansung kepada staf / anggota lainnya tentang kegiatan
yang akan dilakukan setiap hari.
c) Terjun langsung kelapangan dan melakukan hal yang sepatutnya dilakukan.
d) Memutuskan suatu perintah dan kebijakan yang mendukung keberhasilan
usaha.
e) Mengeanalisis dan mengevaluasi setiap bulan kegiatan yang telah dilakukan.
f) Membuat laporan bulanan sebagai pembanding kegiatan selanjutnya.
g) Dalam melakukkan tugas dibantu oleh :
1) Seksi Administrasi
Seksi administrasi ini bertugas untuk mengurus administrasi kegiatan
seperti surat menyurat, keuangan, dan perlengkapan usaha
2) Manejer pengandalian Mutu
- Bertugas untuk mengatur kapan mas produktif dan kapan masa jeda
produksi, menyeleksi induk kapan yang mau di pijahkan.
Menyeleksi, breding, terhadap benih yang dihasilkan.
Menentukan jenis pakan yang diberikan.
Melakukan kontrol dan melakukan platihan.
Mengendalikan (mencegah dan memberantas)
3) Manejer Produksi dengan tugas :
- Merencanakan jadwal kegiatan pembenihan
- Melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan
- Meningkatkan Produksi
- Bertangguang jawab kepada perkerjaan
4) Manejer pemasaran dengan tugas:
- Mengatur rencana penjualan
- Membuat promosi tenteng penjualan
- Menciptakan kreativitas yang dapat membangun kelompok
5) Manejar laboratorium dengan tugas :
- Mengatur rencana obat-obatan dan alat-alat kualitas air
- Meneliti penyakit-penyakit pada ikan
- Melakukan pencegahan/penanggualangan penyakit ikan
-

Jumlah pegawai BBI Sejuah kab.Sanggau sebanyak 2 orang pegawai negri


termasuk pemimpin unit, 2 orang tenaga honor Dinas, 2 orang honor BBI, dan 4

24

orang tenaga kerja tidak tetap. Berikut adalah bagian struktur organisasi di BBI
Sejuah kab. Sanggau.

PIMPINAN UNIT
IMAN SUTAKWA, A.md

25

4.1.4. Sarana dan Prasarana


Kebersihan suatu usaha pembenihan ikan mas sangat tergantung pada
sarana dan prasarana yang digunakan. Saranadan prasaranayang
digunakan padaMUTU
MANEJER PENGENDALIAN
kegiatan pembenihan ikan mas di Balai Benih Ikan (BBI)
Sejuah sangat
MUHERMAN
diperlukan guna mendukung kelancaran kegiatan pembenihan tersebut, mulai dari
persiapan wadah hingga pendederan benih. Prasarana yang digunakan untuk
kegian usaha pembenihan ikan mas di BBI Sejuah adalah sebagai berikut :
MANEJER

Tabel 12. Sarana dan Prasarana

No
Jenis
ADMINISTRASI
.
1 SILVIA
kolam

MANEJAR

Spesifikasi

PRODUKSI

MANEJAR

Jumlah

PEMASARAN

Fungsi

MANEJER
LABORATORIUM

YULIANUS
-

HERKULANUS.K
38 petak
Tempat pembenihan dan WILLY
WAHYUNI,SKM
KUKAH
pembesaran ikan KURNIAWAN, A.md
2 Kolam Pemijahan
5m x 3m
2 petak
Tempat pemijahan dan
perawatan telur
3 Kolam Induk
15m x 10m
10 petak Tempat pemeliharaan
TIM MANAJEMEN PRODUKSI
induk
4 Kolam Pendederan 30m
x
40m
28
petak
Tempat pendederan benih
IRFAN
5 Bak Pemijahan
2mAKOB
x 4m =
20 petak Tempat pemijahan dan
RIKI
4m
perawatan telur
MARWAN
2,5m x 2,5m
YULIUS
=6m RIO
2m x 2m =
10m

Tabung Oksigen

8 buah

7
8

Kantong Plastik
Pakan

84 ton : 12
bulan

200 kg
7
ton/bula
n
5 buah
12 buah
30 buah

9 Timbangan
10 Happa
11 Waring

12
13
13
14
15

Paranet
Kantor
Gudang Pakan
Gudang Pupuk
Rumah Jaga

2mx4m =15
4mx6m= 10
6mx8m= 5
100m
-

1 gulung
1 unit
1unit
1unit
1unit

Memberikan oksigen yang


dikemas
Untuk packing ikan
Makanan ikan

Untuk menimbang ikan


Untuk wadah pemijahan
Tempat penyimpanan
benih dan konsumsi
Tempat pelekatnya telur
Tempat pelayanan
Tempat menyimpan pakan
Tempat menyimpan pupuk
Sebagai tempat penjagaan
26

No
Jenis
.
16 Ruang Packing
17 Asrama

1unit
1unit

18 Ruang Hatchery
19 Ruang Karantina

1unit
1unit

20 Sumur Bor

2 buah

21 Jalan Lingkar
Kolam
22 Seteling Air
23 rumah Dinas

500m

4 buah
1 unit

24 Aula
25 Laboratorium

1 unit
1 unit

26 Workshop

1 unit

27 Lampu Tiang
28 Lampu
29 Serokan

Larva = 12
Benih = 10
Induk = 5
-

13 unit
26 buah
27 buah

34 Selang

1@100m

35 Alat Laboratorium

30
gulung
1 paket

36 Alat Perkolaman

1 paket

37 Alat kantor

1 paket

38 Gerobak dorong

7 unit

39 Tosa

3 unit

40 Masin penghalus
pakan

1 unit

30
31
32
33

Sortir seleksi
Akuarium
Bak Fiber Bundar
Aerator

Spesifikasi

Jumlah

1 set
40 buah
4 buah
10 buah

Fungsi
Tempat pengemasan ikan
Tempat penginapan
kariawan
Tempat pembenihan
Tempat pemberantasaan
hama dan penyakit
Sumber air untuk
kariawan
Untuk mempermudah
pengawasan/jalan
Tempat penampung air
Tempat penginapan
kariawan Dinas
Tempat pelatihan
Untuk penelitian pada
ikan
Tempat penyimpanan
barang
Tempat lampu
Menerangi jalan/sekitar
Wadah pengambilan ikan

Untuk seleksi benih


Untuk penetasan telur
Tempat pemijahan ikan
Untuk memberi oksigen
didalam air
Untuk saluran oksigen
Untuk mempermudah
kegiatan di laboratorium
Untuk mempermudah
kegiatan di perkolaman
Untuk mempermudah
kegiatan di kantor
Untuk mengantar
pakan/pupuk.
Untuk mengantar ikan
pesanan.
Untuk menggiling pakan
dari kasar ke halus.

Sumber : Data Lapangan, 2016


27

4.1.5. Daya produksi


Produksi dan harga benih ikan yang ada di BBI Sejuah dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :
Ukura
n
23
35
58
8 12

Ikan

Ikan

Ikan

Ikan

Ikan

nila
200
300
400
500

mas
200
300
400
500

lele
200
300
400
500

patin
300
350
450
550

bawal
350
450
500
700

Ikan
gurame
1000
2000
2500
3000

Sumber : Data Lapangan, 2016

Daerah Pemasaran di sekitar wilayah kembayan, Meliau, Tayan, Entikong,


Jangkang, Noyan, Balai Karangan, dan Sanggau Kapuas. Dari hasil produksi yang
diperoleh BBI Sejuah pada tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 13. Daya produksi
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Bulan
Januari
febuari
Maret
April
Mey
Juni
Juli
Agustus
September

10.

Oktober

11.
12.

Realisasi produksi
145.964 ekor
169.269 ekor
131.670 ekor
123.310 ekor
93.716 ekor
94.573 ekor
95.355 ekor
57.514 ekor

November
Desember

Keterangan
Musim kemarau
Banyak kegiatan perehaban
54.850 ekor
koalam
Banyak larvamati dan tingkat
35.625 ekor
kekeruhan tinggi
51.405 ekor 40.190 ekor -

Sumber : Data Lapangan, 2016

4.2. Hasil
4.2.1 Persiapan Wadah
Persiapan wadah merupakan awal dalam rangkaian kegiatan pemijahan
ikan mas, ada beberapa perlangkapan pendukung yang harus di penuhi berupa
happa, paranet, dan kayu balok. Untuk dapat mengetahui lebih jelas uraian
persiapan wadah dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini :
Tabel 14. Wadah Pemijahan

28

No
.
1
2
3
4
5
6

Jenis

Keterangan

Jenis Wadah
Ukuran
Tinggi Air
Jenis Substrat
Jumlah Paranet
Jumlah Kayu Balok

Happa
2 meter x 2 meter
42cm
Paranet
1 Buah @ 2m x 2m
3 Buah @ 3 meter panjang

Sumber : Data Lapangan, 2016

Pembenihan ikan mas pada Prakter Kerja Lapangan (PKL) wadah yang
digunakan untuk pemijahan adalah kolam beton yang berukur 5 m x 3 m sebelum
kolam digunakan terlebih dahulu kolam dibersihkan dengan menggunakan sikat
dan dikeringkan selama 2 hari, kemudian membersihkan saluran pemasukan
(inlet) dan saluran pembuangan (outlet) agar kualitas air pada saat pemijahan
terjaga dengan baik. Selanjutnya letakkan kayu balok di atas kolam beton sesuai
dengan panjang happa kemudian ikat tali happa dimasing-masing sudut atas lalu
beri pemberat agar happa tidak timbul, kemudian pasang paranet dengan ukuran
2m2.
4.2.2

Pemeliharaan Induk
Calon induk ataupun induk yang dikawinkan dari hasil seleksi yang telah

dilakukan harus disediakan tempat khusus yaitu kolam pemeliharaan induk.


Kegiatan pemeliharaan induk dapat dilihat Tabel 15 berikut :
Tabel 15. Pemeliharaan Induk
No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Uraian
Asal Induk
Wadah induk
Ukuran
Tinggi Air
Jumlah Induk
Jenis Pakan
Dosis
Frekuensi
Berat Rata-rata
Bentuk Badan

10
11

Umur Rata-rata

Jantan

15m x 10m

Betina
BBIS anjungan
Kolam tanah
15m x 10m

180

60
Apung dan tinggelam
3%
3%
Pagi dan sore
Pagi dan sore
400-800gram
3-5 kg
Kecil, Perut langsing
Besar, perut gendut jika
diraba dengan tangan
terasa lembut.
5-6 bulan
1,5 2,5 tahun

29

No
.
12
13

Uraian
Gerakan
Cara Pemberian
Pakan

Jantan

Betina

Lincah

Lamban
Satu titik

Sumber : Data Lapangan, 2016

4.2.3. Seleksi Induk


Berdasarkan seleksi induk yang dilakukan, dapat beberapa hasil dari
kriteria induk. Beberapa kriteria tersebut dapt dilihat pada Tabel 16 berikut :
Tabel 16. Seleksi Induk
No
.

Kriteria Induk
Ciri ciri
Matang gonad

1.
2.
3.
4.
6.

Gerakan
Berat
Panjang
Periode

Jantan

Betina

Perut jika diurut akan


mengeluarkan cairan
berwarna putih yaitu
sperma
Lincah
3 kg
34 cm

Perut terasa lembut,alat


kelamin bundar,
menonjol, dan berwarna
kemerah-merahan
Lamban
2,9 kg
50 cm

Sumber : Data Lapangan, 2016

4.2.4. Pemijahan
Setelah melalui proses seleksi induk, kegiatan selanjutnya pemijahan.
Pemijahan dilakukan yaitu secara alami. Proses pemijahan dapat dilihat pada
Tabel 17 berikut :
Tabel 17. Proses Pemijahan
No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Proses

Waktu

Waktu pelepasan induk 16.30-16.52


kedalam wadah pemijahan
Sistem pemijahan
Metode
Banyaknya induk
Bobot induk

Ikan mulai memijah


Ikan selesai memijah
Pengangkatan induk

02.02 WIB
05.05 WIB
06.00 WIB

Keterangan
Sore
Tradisional
Massal
Induk Jantan = 5 ekor
Induk Betina = 1 ekor
Induk jantan = 3 kg
Induk Betina = 2,9 kg
Pagi
Pagi
Pagi

Sumber : Data Lapangan, 2016

30

Sebelum induk dimasukan kedalam wadah pemijahan yang sudah


disiapkan, maka induk harus di timbang terlebih dahulu untuk mengetahui berat
induk yang akan dikawinkan. Berdasarkan hasil timbangan berat induk dapat
dilihat pada Tabel 18 berikut :
Tabel 18. Berat Induk Sebelum Mijah
No.
Jantan
1.
3 kg
2.
Total 3 kg

Betina

Jumlah

2,9 kg
2,9 kg

5 ekor
1 ekor
6 ekor

Sumber : Data Lapangan, 2016

Selesai pada proses pemijahan induk akan diangkat dan kemudian


ditimbang kembali. Berat induk yang setelah mijah dapat dilihat pada Tabel 19
berikut.
Tabel 19. Berat induk setelah mijah
No.
Jantan
1.
3 kg
2.
Total 3 kg

Betina

Jumlah

2,7 kg
2,7 kg

5 ekor
1 ekor
6 ekor

Sumber : Data Lapangan, 2016

Berat induk sebelum mijah dan sesudah mijah diketahui maka dapat
dihitung jumlah Fekunditas dangan menghitung selisih bobot induk dan
mengambil berat beberapa sampling telur. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada
Tabel 20 berikut :
Tabel 20. Fekunditas Ikan Mas
No
.
1
2
3
4
5
6
7

Uraian
Bobot induk sebelum memijah
Bobot induk setelah memijah
Selisih bobot induk
Bobot telur sampling
Jumlah telur sampling
Jumlah telur keseluruhan
Jumlah fekunditas

Jumlah

Satuan

2.900
2.700
200
1,12
933
166.607
40.209

Gram
Gram
Gram
Gram
Butir
Butir
Butir

Sumber : Data Lapangan, 2016

4.2.5. Penetasan Telur


Menghitung drajat penetasan telur dilakukan dengan cara volumetrik,
sedangkan perhitungan drajat telur diketahui seperti Tabel 21 berikut:
31

Tabel 21. Jumlah Larva Ikan Mas (HR)


No
.
1
2
3
4
5

Uraian

Jumlah

Satuan

Jumlah rata-rata sampel


Volume sampel
Volume wadah pemeliharaan
Jumlah larva keseluruhan (HR)
Derajat penetasan telur (HR)

11,2
100
1.208.000
135.296
81,2

Ekor/ml
ml
ml
Ekor
%

Sumber : Data Lapangan, 2016

Setelah larva menetas kemudian dilakukan sampling untuk mengetahui


julah larva keseluruhan. Hasil sampling dapat dilihat pada Tabel 22 berikut :
Tabel 22. Sampling larva keseluruhan tingkat Hatching Rate (HR)
No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jumlah sampling
Sampling ke 1
Sampling ke 2
Sampling ke 3
Sampling ke 4
Sampling ke 5
Sampling ke 6
Sampling ke 7
Sampling ke 8
Sampling ke 9
Jumlah larva
Rata rata

Jumlah larva
12
9
13
11
22
7
7
9
11
101
11,2

Sumber : Data Lapangan, 2016

4.2.6. Perawan Larva


Larva yang telah menetas kemudian dilakukan peeliharaan. Selama
pemeliharaan larva diberikan pakan berupa kuning telur. Proses prawatan larva
dapat dilihat pada Tabel 23 berikut.
Tabel 23. Perawatan Larva
No.
1

Hari
Hari ke-1 samapi 2
Hari ke- 3 sampai 6

2
3

Hari ke- 7

Keterangan
Larva masih mempunyai cadangan makanan
yang berupa kantong kuning telur.
Pemberian pakan berupa kuning telur yang
direbus dengan dosis 1 butir dengan frekuensi
2 kali sehari (pagi,sore).
Panen larva dan siap di tebar ke kolam
pendederan.

Sumber : Data Lapangan, 2016

32

Selama dalam perawatan, larva diberikan kuning telur rebus yang


dihaluskan dengan menggunakan belender atau mesin penggiling makanan dan
ditebar merata pada larva. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 24 berikut.
Tabel 24. Pakan Larva
No. Uraian
1
Jenis pakan
2
Dosis
3
Frekuensi
Cara pemberian
4

Keterangan
Kuning telur
1 butir
3 kali sehari
Kuning telur di saring dan di tebar
kan secara merata

Sumber : Data Lapangan, 2016

4.2.7. Panen Larva


Setelar perawatan larva kegiatan berikut adalah panen larva. Berikut
adalah proses panen larva yang dilakukan pada Tabel 25 berikut.
Tabel 25. Panen Larva
Alat panen
Serokan larva
ember

Waktu panen
Jam 06.45

Cara panen
Sebelum melakukan pemanenan
mula mula diambil batu yang
terpasang didalam happa, kemudian
kayu yang sudah terpasang
sebelumnya, diputar-putar bersamaan
happa sambil disiram berlahan
lahan diluar happa agar larva tersebut
tidak melekat dihappa, sampai ruang
gerak larva sempit, kemudian larva
ditangkap dengan menggunakan
serokan halus dengan cara berlahan
lahan kemudian dimasukan kedalam
ember yang telah diisi air, kemudian
tuangkan kedalam kolam pendederan
secara berlahan-lahan dan sebarkan
larva diberbagai kolam agar larva
tidak mengalami stres

Sumber : Data Lapangan, 2016

Sebelum dilakukan pendederan larva akan dilakukan sampling agar


mengetahui juamlah larva yang masih hidup. Hasil sampling dapat dilihat pada
Tabel 26 berikut :
Tabel 26. Jumlah tingkat kelangsungan hidup larva ikan mas (survival Rate)

33

No
.
1
2
3
6
7
8

Uraian
Jumlah rata-rata sampel
Volume sampel
Volume wadah pemeliharaan
Jumlah larva keseluruhan (SR)
Persentase SR
Mortalitas

Jumlah

Satuan

8,9
100
1.208.000
107.512
79,4
20,5

Ekor/ml
ml
ml
Ekor
%
%

Sumber : Data Lapangan, 2016

Tabel 27. Sampling Survival Rate (SR)


No
Jumlah Sampling
.
1 Sampling ke- 1
2 Sampling ke- 2
3 Sampling ke- 3
4 Sampling ke- 4
5 Sampling ke- 5
6 Sampling ke- 6
7 Sampling ke- 7
8 Sampling ke- 8
9 Sampling ke- 9
Jumlah larva
Rata rata

Jumlah Larva yang masih hidup


10
9
8
13
7
12
7
8
6
80
8,9

Sumber : Data Lapangan, 2016

4.2.8. Pendederan
Pendederan larva merupakan tahap terakhir dari kegiatan pembenihan.
Sebelum dilakukan pendederan maka persiapan wadah pendederan harus
dipersiapkan terlebih dahulu. Untuk lebih jelas perapian wadah pendederan dapat
dilihat pada Tabel 28 berikut.
Tabel 28. Pendederan Larva
No.
1
2
3
4
5

Jenis
Jenis wadah
Ukuran
Tinggi air
Pupuk alami
Kapur

Keterangan
Kolam
30 m x 40 m
30cm
Pupuk kandang
Kapur dolomite

Sumber : Data Lapangan, 2016

4.2.9. Panen benih


Pemanenan dilakukan setelah benih mencapai ukuran yang siap untuk di
dederkan, setelah benih berumur 2-3 minggu dari saat penebaran.
Tabel 29. Panen benih
34

No.
Uraian
1 Jumlah panen
2 Ukuran benih
3 Waktu panen
Cara panen
4
5

Survival rate (SR)

Keterangan
30.000 70.000 ekor
23
Sore atau pagi
saluran pembuangan dipasang
waring, Kolam di keringkan sarta
ikan di alirkan melalui kemalir.
Rata rata 60 %

Sumber : Data Lapangan, 2016

4.3. Pembahasan
4.3.1. Pemeliharaan induk
Pemeliharaan induk yang di lakuan di BBI Sejuah adalah pada kolam
beton dasar tanah yang berukur 15 m x 10 m x 1 m, untuk induk jantan dan betina
dipelihara dalam kolam terpisah tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya
pemijahan secara liar, dengan ukuran koalam yang sama besar dan juga sama

terdapat saluran pemasukan dan saluran pembuangan air. Sesuai menurut


santoso(1992), mengatakan kolam pemeliharaan induk terdiri dari dua buah yaitu
satu kolam untuk induk jantan dan yang satu untuk kolam betina. Hal tersebut
bertujuan untuk mencegah perkawinan sendiri karena induk betina gampang
terangsang oleh bau sperma jantan yang keluar tanpa disengaja dan mengikuti
arus air.
Tinggi air pada kolam pemeliharaan induk yaitu 30 cm untuk induk jantan
maupun induk betina, induk ikan mas yang terdapat di BBI Sejuah yang berasal
dari BBIS anjongan dengan jumlah induk jantan 180 ekor dan jumlah induk betina
yaitu 60 ekor yang masih dipelihara selama 1,5-2,5 tahun. Induk-induk ikan mas
ini diberi pakan berupa pellet terapung dan pellet tenggelam dengan masing35

masing dosis 3% dari bobot tubuhnya. Frekuensi yang diberikan yaitu 2 kali
sehari, pagi jam 09.00 WIB, dan sore jam 16.00. cara pemberian pakan yaitu
diberikan pada satu titik kolam saja, ini akan membiasakan ikan makan pada satu
tempat dan sangat memudahkan kita untuk membari umpan. Untuk pemelihara
induk sebaiknya calon innduk pilihan perlu dijaga kesehatan serta senantiasa
diberi makanan bergizi dan berprotein tinggi. Makanan tersebut berupapelet
dengan kandungan protein 31 33 %. Untuk melihat data hasil pememliharaan
dapat dilihat pada Tabel di bawah ini :
Tabel . Kandungan pellet terapung jenis 781
No.
1
2
3
4
5

Komposisi
Protein
Lemak
Serat
Kadar Abu
Kadar Air

Jumlah
31 33 %
35%
46%
10 13 %
11 13 %

Gambar . kolam pemeliharaan induk jantan

36

Gambar . kolam pemeliharaan induk betina


4.3.2. Persiapan Wadah
Sebelum kegiatan pemijahan, bak tembok atau bak beton yang akan
digunakan untuk budidaya ikan harus dilakukan persiapan wadah sebelum
dipergunakan untuk melakukan kegiatan budidaya. Persiapan wadah bertujuan
untuk mengkondisikan wadah agar dapat digunakan secara efesien dan memenuhi
persyaratan lingkungan yang optimal, sehingga ikan dapat hidup dengan laju
pertumbuhan yang optimum hal ini dikemukakan oleh Gusrina,(2008). Kolam
yang dipakai untuk pemijahan ini adalah kolam beton yang dasarnya semen dan
dilengkapi saluran pemasukan dan saluran pembuangan, sebelum dikeringkan
terlebih dahulu air sisa pemijahan kemarin dibuang melalui saluran pembuangan
serta membersikan dinding dan dasar kolam dengan menggunakan sikat,
kemudian keringkan kolam selama 2 hari agar mempercepat proses pemijahan/
rangsangan, selanjutnya membersihkan dan memperbaiki saluran pemasukan dan
seluran pembuangan agar air dapat mengalir dengan lancar serta kualitas air dapat
terjaga dengan baik. Aliri air dengan ketinggian 42 cm, kemudian letakkan kayu
balok panjang yang akan digunakan sebagai ikatan setiap sudut atas happa, ikat
setiap sudut happa ke kayu yang sudah diletakkan ke atas kolam pemijahan agar
happa tidak timbul dipermukaan maka happa harus diberi pemberat berupa batu.
Selanjutnya, pasangan paranet dengan ukuran 2 m x 2 m agar menutupi
permukaan air yang ada di happa, fungsi paranet adalah pengganti kakaban atau
tempat untuk menempel telur. Keunggulan menggunakan paranet ini adalah
mudah dibersihakan dan menggunakannya tidak terlalu susah, adapun kekurangan

37

menggunakan paranet ini adalah mudah berlipat ketika ikan memijah.


Sebelumnya paranet tersebut dibersihkan dan disikat kemudian dijemur dibawah
sinar matahari sampai kering. Kegiatan persiapan wadah yang dilakukan dapat
dilihat pada gambar berikut.
Gambar . Mempersiapkan Wadah Pemijahan
Gambar. Wadah pemijahan sudah siap digunakan

4.3.3. Seleksi Induk


Seleksi induk bertujuan untuk memilih tingkat kematangan gonad setiap
jenis kelamin dan fekunditas atau kemampuan menghasilkan telur. Dengan kata
lain seleksi induk adalah memilih induk ikan yang unggul dan telah siap untuk
dipijahkan. Beberapa hal yang digunakan sebagai pertimbangan untuk melakukan

38

seleksi induk adalah ukuran berat ikan, umur ikan dan tingkat kematangan gonad
(Djarijah,2001).
Induk jantan ikan mas yang akan dikawinkan memiliki berat masingmasing yaitu 0,6 kg/ekor dan umur mencapai 7-9 bulan, untuk induk betina yang
akan dikawinkan mempunyai berat 2,9 kg/ekor, umurnya mencapai 2-2,5 tahun.
Menurut Gusrina (2008), Calon-calon induk tersebut dipelihara sampai ukuran
tertentu untuk di pijahkan. Induk ikan mas jantan lebih cepat matang gonad
dibbandingkan dengan mas betina. Umur ikan mas jantan 10 12 bulan dengan
bobot 0,6 - 0,75 kg sudah sampai matang kelamin, sedangkan induk betina yang
ideal mencapai matang gonad pada umur 1,5 2 tahun dengan berat 2 3 kg.
Induk ikan mas yang aka dipijah kan harus benar benar dapat dibedakan antara
jantan dan betina. Hasil seleksi induk yang dilakukan di lapangan sudah sesuai
dengan pendapat Gusrina. untuk tabel seleksi dapat dilihat pada Tabel seleksi
induk yang dilihat pada Tabel ... pada kegiatan seleksi induk dapat dilihat pada
gambar berikut :
Gambar . Induk Betina

gambar . Induk Jantan


4.3.4. Pemijahan
Proses pemijahan yang dilakukan yaitu pemijahan secara tradisional
dimana induk yang sudah diselksi dimasukan kedalam wadah pemijahan pada
sore hari jam 16.52,bertujuan agar induk tidak mengalami stres kuat karena panas.
Metode yang digunakan dilapangan adalah pemijahan secara masal dengan
39

perbandingan induk yaitu 1 : 1. Untuk induk betina 1 ekor dengan berat 2,9 kg
dan jumlah induk jantan 6 ekor dengan berat 3 kg.
Induk ikan mas ini mulai memijah pada pagi hari jam 02.02 dan selesai
pada pukul 05.05, setelah induk selesai memijah, maka induk secepatnya diangkat
dengan menggunakan serokan dan dikembalikan ke koalam pemeliharaan induk
yang sesuai dengan jenis kelaminnya, tujuannya agar induk jantan tidak memakan
telur yang baru dikeluarkan oleh induk betina.
Fekunditas adalah jumlah telur yang dihasilkan oleh induk betina.
Perhitungan fekunditas berfungsi untuk mengetahi berapa banyak telur yang
dihasilkan oleh induk betina yang dipijahkan. Fekunditas yang dihasilkan dalam
pemijahan berjumlah 166.607 butir dengan jumlah fekunditas per kag induk
40.209 butir.
4.3.5. Penetasan telur
Setelah pemjahan selesai selenjutnya adalah penetasan telur, kegiatan
penetasaan telur dilakukan dalam happa yang digunakan untuk pemijahan.
Penetasan telur berangsung selama 3 hari dan dihitung setelah induk diangkat dari
happa pemijahan. Derajat penetasan telur yang di hasilkan yaitu 81%, karna
jumlah telur yang di hasilkan dan dikalikan dengan 100%. Tingkat penentasan
telur tergantung dengan jumlah telur yang dibuahi sedangkan jumlah telur yang
terbuahi tergantung pada jumlah seperma.
Telur ikan mas yang terbuahi dangan telur yang tidak terbuahi dapat
dibedakan dan dilihat dari warna telur. Teluryang terbuahi akan berwarna bening
dan transparan,sedankan telur yang tidak terbuahi berwarna putih susu dan
berjamur. Jumlah telur yang terbuahi tidak dapat diketahui dengan pasti karena
sifat telur yang menempel sehingga tidak memungkinan menghitung dengan
metode sampling dan juga bisa merusak telur yang tebuahi. Derajat penetasan
dapat dilihat pada Tabel. Proses penetasan telur dilakuakan dalam happa
pemijahan. Berikut dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar. Pengambilan sampel
4.3.6. Perawatan larva
Setelah telur menetas maka tindakan selanjutnya adalah merawat larva.
Halhal yang dilakukan dalam perawan larva adalah mengangkat paranet di dalam
happa secara hati hati agar kualitas air tetap baik dan larva tidak mengalami

40

stres. Larva yang baru menetas belum bisa di beri makan karna larva masih
mempunyai cadangan makanan yang berupa kuning telur. Setelah persediaan
makanan habis barulah larva bisa diberi makanan berupang kuning telur yang
sudah direbus.
Cara pemberian pakan larva yaitu telur yang sudah di rebus diambil
kuning telurnya saja setelah itu kuning telur tersebut di masukan kedalam
saringan halus dan di iris iris didalam ember yang berisi air sebanyak , aduk
hingga rata, Kemudian sirami secara merata di atas permukaan air dalam happa
yang berisi larva. Pemeberian pakan dilakukan dengan dosis 1 butir kuning telur
dengan frekuensi pemberian 2 kali dalam sehari yaitu pagi jam 09.00 dan sore jam
17.00. perawatan larva dilakukan pada happa pemijahan, untuk lebih jelas dapat
dilihat pada gambar berikut :
4.3.7. Panen Larva
Setelah pemeliharaan larva selama 6 hari maka pada umur 7 hari larva siap
untuk dipanen, panen larva dilakukan pada pagi hari yaitu pukul 06.45 WIB,
karena pada pagi hari suhu maih rendah, sehingga larva tidak stres atau mati
karena panas. Cara panen larva dilaukan dilapangan yaitu mula mula angkat
batu yang terpasang didalam happa, kemudian putar kayu ke arah kayu yang
satunya hingga ruang gerak larva sempit, sambil memutar kayu sebaiknya happa
di bagian luar sirami air secara berlahan, agar larva tidak melekat dihappa yang
berlahan-brlahan terangkat oleh kayu. Setelah ruang gerak sempit kemudian larva

41

diambil dengan menggunakan serokan halus untuk memindahkan ke ember


plastik yang digunakan untuk mengangkut larva ke kolam pendederan.
Jumlah larva yang dihasilkan sebanyak 107.512 ekor. Larva yang sudah
dipanen segera dimasukan di kolam pendederan yang sudah disediakan.
4.3.8. Pendederan
Pendederan merupakan rangkaian kegiatan pemeliharaan sampai ukuran
tertentu. Ukuran kolam yang digunakan untuk pendedderan yaitu 30 m x 40 m x
30 cm. sebelum larva didederkan terlebih dahulu kolam dipersiapkan sebelum
proses pemijahan berlangsung. Kegiatan untuk persiapan kolam pendederan yaitu
kolam dikringkan selama 2 hari, dikarenakan cuaca tidak panas maka langsung
dilakukan pengapuran dan pemupukan. Kapur yang digunakan adalah kapur
dolomite sebanyak 10 kg, kapur ditebar secara merata pada kolam, waktu
penebaran kapur dilakukan pada pagi hari pukul 09.00. langkah selanjutnya
dilakukan pemupukan, pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran
ayam) banyak pupuk yang digunakan yaitu 5 karung. Cara penebaran pupuk,
dengan cara membuka pupuk dalam karung lalu ditebar dengan menggunakan
sarung tangan dan sebagian karung yang berisi pupuk ditumpukkan pada pintu
masuk saluran air (inlet) sebagai perantara untuk menyebar pupuk di seluruh
kolam.
Langkah selanjutnya, mengelolahan kolam pendederan yaitu pengisian air
ke dalam koalm. Pintu pemasukan air (inlet) dipasang saringan halus agar ikan
lain sebagai predator tidak masuk begitu juga saluran pembuangan (outlet) harus
ditutup agar larva dan pakan alami tidak hanyut mengikuti aliran air. Pengisian air
dengan kedalaman kolam 30 cm kemudian dibiarkan selama 2 hari sampai
tumbuhnya pakan alami. Kemudian larva dimasukan kedalam kolam pendederan
dengan menggunkan ember, ember yang telah di isi larva dimasukan kedalam
kolam hingga sentuhan dengan air didalam kolam kemudian dikeluarkan secara
berlahan agar larva tidak terjadi stes. Padat tebar larva pada kolam berukuran 30
m x 40 m dengan jumlah 107.512 ekor yaitu 358 ekor/m 2. Untuk lebih jelas
dapat dilihat padagambar dibawah ini :

42

5. Penutup
5.1. Kesimpulan
kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan pembenihan ikan mas di BBI
Sejuah, Desa sejuah kacematan kembayan, kab.sanggau, maka dapat disimpulkan
bahwa taknik pembenihan ikan mas secara alami, yaitu tidak ada perlakuan atau
campur tangan manusia. Pembenihan ikan mas meliputi beberapa tahap yang
mulai dari persiapan wadah pemijahan yang menggunakan happa dengan ukuran 2
m x 2 m x 1 m dengan jumlah 1 paranet, paranet berfungsi sebagai pengganti
kakaban atau tempat pelekatnya telur.
Pemeliharan induk dilakukan dikolam tanah dengan pematang beton yang
beruukuran 15 x 10 x 1 meter. Selama pemeliharaan induk diberi pakan berupa
pakan terapung dan tenggelam dengan dosis 3% dengan frekuensi 2 kali sehari
yaitu pada pukul 08.00 pagi dan pukul 17.00 sore. Pemeliharaan induk dilakukan
pada kolam yang berbeda tujuannya agar induk tidak memijah secara liar.
Seleksi induk dilakukan untuk mendapatkan induk yang baik dan tidak cacat,
induk yang matang gonad dapat diketahui dengan cara perut urut ke arah anus.
Teknik pemijahan ini dilakukan secara massal yaitu 1:1 dengan berat induk 2,9
untuk 1 ekor induk betina, sedangkan 3 kg induk jantan sebanyak 6 ekor.
Penetasan telur dapat dilihat dengan mengamati telur, telur yang berwarna
putih susu dan berjamur maka telur tersebut tidak terbuahi sedangkan telur yang
berwarna bening dan transparan maka telur tersebut terbuahi. Perawatan larva
dilakukan dengan memberikan pakan berupakuning telur rebus di beri pakan
setelah cadangan makanan yang ada diperutnya habis pada umur 3 hari. Frekuensi
pemberian pakan dilakukan 2 hari sekali dengan dosis 1 butir telur. Pemanenan
larva dilakukan pagi hari bertujuan agar larva tidak sterss ataupun mati.
Kelangsungan hidup dapat diketahui dengan cara sampling, telur yang
dihasilkan sebanyak 166.607 butir dengan persentase daya tetas 81% dan
tingkatkelangsunan hidup 79,4%.
5.2. Saran

43

44

DAFTAR PUSTAKA

Andrianto, T, 2008. Pedoman Praktis Budidaya Ikan Mas. Absolut, Yogyakarta.


Bachtiar dan Tim Lemtera. 2002. Pembesaran Ikan Mas Di Perkarangan. Agro
Media Pustaka.
Djarijah, A. S, 2001. Pembenihan Ikan Mas. Kanisius, Yogyakata.
Gusrina, 2008. Budidaya Ikan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan,Jakarta.
Khairuman, Sudanda dan Gunadi, 2008. Budidaya Ikan Mas Secara Intensif.
Jakarta PT. Agro Media Pustaka.
Khairuman. 2013. Budidaya Ikan Mas. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka.
Narataka Anggit,M.M.2012.Pembenihan Ikan Mas. Yogyakarta: Javalitera.
Nugroho, E. 2011. Panduan Lengkap Ikan Konsumsi Air Tawar. Penebar Swadaya
IKAPI.
Prahasta, A, 2009. Agribisnis Ikan Mas.CV Pustaka Grafika, Bandung.
Santoso, B.2002. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Mas. Kanisius (Anggota
IKAPI).
Saparinto, Cahyo. 2011. Panduan Lengkap Gurami. Jakarta : Penebar Swadaya.
SNI : 01 6133 1999. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus Carpio Linneaus)
Strain Majalaya Kelas Benih Sebar. Badan Standar Nasional.
Sumarni, M dan Wahyuni, S. 2006. Metodologi Penelitian Bisnis. Yogyakarta. CV.
Andi Offset.
Susanto, H. 2002. Budidaya Ikan di Perkarangan. Jakarta. Penebar Swadaya,
anggota IKAP

SUMBER INTERNET
https://ediaswanto.wordpress.com/2012/01/30/ikan-mas/. di akses pada tanggal 21
Desember 2015

45

Lampiran 1.sampling dan perhitungn data

Diketahui

:Berat induk sebelum dipijahkan

= 2,9 kg = 2.900 gram

Berat induk setelah dipijahkan

= 2,7 kg = 2.700 gram

Berat total telur

: 2.900 gram 2.700 gram


: 200 gram

Berat telur sampel

: 1.12 gram

Jumlah telur sampel

: 933 butir

Fekunditas ikan mas adalah :


F=

W
xn
w

200 gram
x 933 butir
1.12 gram

= 166.607 butir
Jadi, jumlah fekunditas pada ikan mas adalah 166.607 butir
Sampling tingkat Hatching Rate (HR)
No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jumlah sampling
Sampling ke 1
Sampling ke 2
Sampling ke 3
Sampling ke 4
Sampling ke 5
Sampling ke 6
Sampling ke 7
Sampling ke 8
Sampling ke 9
Jumlah larva
Rata rata

Volume air

Jumlah larva
12
9
13
11
22
7
7
9
11
101
11,2

= 200 cm x 200 cm x 30,2 cm


= 1.208.000 ml

46

Jumlah larva

1.208 .000 ml
x 11,2 ekor
100 ml

= 135.296 ekor

HR

135.296
x 100
166.607

= 81,2 %
Jadi, derajat penetasan telur (HR) ikan mas dengan jumlah keseluruhan
yaitu 135.296 ekor atau 81,2 %

Sampling Tingkat Kelangsungan Hidup (SR)


No
Jumlah Sampling
.
1 Sampling ke- 1
2 Sampling ke- 2
3 Sampling ke- 3
4 Sampling ke- 4
5 Sampling ke- 5
6 Sampling ke- 6
7 Sampling ke- 7
8 Sampling ke- 8
9 Sampling ke- 9
Jumlah larva
Rata rata
volume air

Jumlah Larva yang masih hidup


10
9
8
13
7
12
7
8
6
80
8,9

= 200 cm x 200 cm x 30,2 cm


= 1.208.000 ml

jumlah larva

1.208 .000 ml
x 8,9 ekor
100 ml

= 107.512 ekor

47

Hasil dari data diatas maka dapat dihitung tingkat kelangsungan hidup (SR) yakni
dengan membandingkan jumlah larva awal dengan jumlah larva akhir seperti
perhitungan dibawah ini :
SR=

Nt
x 100
No

SR=

107.512 ekor
x 100
135.296 ekor

SR=79,4

Mortalitas=

135.296 ekor107.512 ekor


x 100
135.296 ekor

Mo rtalitas=20,5

Jadi, moratalitas atau tingkat kematian pada larva ikan mas adalah dengan
jumlah 27.784 ekor atau 20,5 %.
Lampiran 2. Kualitas Air Pemijahan
Tanggal

7/1/2016

Suhu (C0)
pH

Pagi
-

Waktu
Sore
28
6,5

DO(mg/l)

6,0

Parameter

Keterangan
Malam
25
6,5
6,0

Penggabungan induk
jantan dan induk
betina pada wadah
pemijahan.

Lampiran 3. Kualitas Air Penetasan


Tanggal

Parameter

8/1/2016

Suhu (C0)
pH
DO(mg/l)
Suhu (C0)
pH
DO(mg/l)
Suhu (C0)

9/1/2016
10/1/2016

Pagi
25
6,5
6,0
25
6,5
6,0
25

Waktu
Siang
28
7
6,0
28
6,5
6,0
28

Sore
27
6,5
6,0
28
6,5
6,0
27

Keterangan
Penetasan Telur

48

pH
DO(mg/l)

6,5
6,0

7
6,0

6,5
6,0

49