Anda di halaman 1dari 5

36

BAB IV
MASALAH

Berdasarkan informasi yang ditemukan pada saat pengamatan tanggal 8


Januari 2015 diperoleh masalah sebagai berikut:
1. Terdapat 7 orang WPS yang kurang memiliki pengetahuan mengenai tanda
dan gejala IMS.
2. Terdapat 2 orang WPS yang mengikuti skrining atas perintah petugas
resosialisasi (bukan atas kesadaran sendiri).
3. Terdapat 2 orang WPS dengan keluhan keputihan.
4. Terdapat 1 WPS yang secara laboratorium ditemukan sel radang.
5. Terdapat 2 orang WPS yang belum pernah melakukan VCT
6. Terdapat 6 orang WPS merokok dan mengkonsumsi alkohol.
7. Terdapat 3 responden yang masih bersedia melakukan hubungan seksual
dengan tidak menggunakan kondom

37

BAB V
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

Berikut ini adalah usulan alternatif pemecahan masalah yang dapat


digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang didapatkan pada saat
pengamatan skrining IMS 8 Januari 2015 antara lain:
1. Penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi menggunakan media yang
menarik pada saat pembinaan rutin di gedung pertemuan.
2. Pemberian materi edukasi (misal poster / pamflet) di setiap wisma
mengenai tanda-tanda dan gejala IMS pada pria dan wanita.
3. Pengawasan kepatuhan skrining rutin bagi WPS yang dilakukan setiap 2
minggu sekali, dan VCT setiap 3 bulan.
4. Melakukan pembagian kondom dan pengawasan langsung terhadap
jumlah kondom untuk memantau penggunaan kondom oleh WPS
5. Memberikan edukasi mengenai dampak buruk dari alkohol dan rokok
terhadap kesehatan.
6. Mengajarkan WPS untuk menganjurkan pasangan seksualnya untuk
periksa / melakukan skrining jika dicurigai mengalami infeksi menular
seksual.

BAB VI

38

KESIMPULAN DAN SARAN


1.1 KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dan wawancara terhadap petugas Griya ASA, WPS,
dan pengurus resosialisasi pada tanggal 8 Januari 2015, didapatkan simpulan
sebagai berikut :
1. Pengetahuan WPS mengenai tanda dan gejala infeksi menular seksual
2.
3.
4.
5.
6.

masih kurang.
Masih ada WPS yang belum mengikuti skrining atas kesadaran sendiri.
Ditemukan WPS yang mengalami gejala infeksi menular seksual
Masih ada WPS yang belum disiplin dalam hal penggunaan kondom.
Masih ada WPS yang belum disiplin dalam melakukan VCT
Sebagian besar WPS merokok dan mengkonsumsi alkohol

Dan adapun pemecahan masalah yang diusulkan diantaranya adalah:


1. Penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi menggunakan media yang
menarik pada saat pembinaan rutin di gedung pertemuan.
2. Pemberian materi edukasi (misal poster / pamflet) di setiap wisma
mengenai tanda-tanda dan gejala IMS pada pria dan wanita.
3. Pengawasan kepatuhan skrining rutin bagi WPS yang dilakukan setiap 2
minggu sekali, dan VCT setiap 3 bulan.
4. Melakukan pembagian kondom dan pengawasan langsung terhadap
jumlah kondom untuk memantau penggunaan kondom oleh WPS
5. Memberikan edukasi mengenai dampak buruk dari alkohol dan rokok
terhadap kesehatan.
6. Mengajarkan WPS untuk menganjurkan pasangan seksualnya untuk
periksa / melakukan skrining jika dicurigai mengalami infeksi menular
seksual.

1.2 SARAN
1. Kepada pihak-pihak yang terlibat untuk menjaga koordinasi yang telah ada
agar program skrining rutin dan pengobatan IMS dapat terus berjalan.

39

2. Kepada

pihak

Resosialisasi

agar

menambah

media

edukasi

untuk

meningkatkan pengetahuan WPS dan pelanggan mengenai tanda dan gejala


infeksi menular seksual dan bahayanya
3. Kepada peneliti selanjutnya agar dapat mengkahi lebih dalam mengenai
kepatuhan penggunaan kondom dan efektivitas upaya pencegahan infeksi
menular seksual di Resosialisasi Argorejo.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Infeksi

menular

seksualdiakses

dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26065/4/Chapter%20II.pdf
Diakses pada tanggal 18 Oktober 2014.
2. Kementrian kesehatan RI. 2014. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia
diakses dari http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.php?lang=id&gg=1
3. Kementrian kesehatan RI.2011. pedoman nasional penanganan IMS. Jakarta :
bakti husada)

40

4.

Infeksi

menular

seksual

diakses

dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26065/4/Chapter%20II.pdf .
Diakses pada tanggal 4 januari 2013.
5.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2013.
Profil

Kesehatan.

Available

from:

http://www.dinkesjatengprov.go.id/dokumen/2013/SDK/Mibangkes/profil201
2/BAB_I-VI_2012_fix.pdf [accessed 2 Januari 2014].
6.
Daili, SF, dkk. Pedoman Penatalaksanaan
Infeksi Menular Seksual. Jakarta :Departemen Kesehatan RI Direktorat
7.

Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2006.


Centers for Disease Control and Prevention,
2007.

CDC

Fact

Sheet

Genital

Herpes.

Available

from:

http://www.cdc.gov/std/healthcomm/factsheets .htm. [accessed18 Oktober


2014].
8.

Salvaggio, M.R. & Lutwick, L.I., 2009. Herpes


Simplex, University of Oklahoma College of Medicine. Available from:
http://emedicine.medscape.com /article/218580-overview [accessed

18

Oktober 2014
9.

Lumintang, H., 2009. Infeksi Genital Non


Spesifik.In Daili, SF., et al, Infeksi Menular seksual, 4thed. Jakarta:Balai
penerbitan FKUI, 77-83.

10.

Struble, K. & Lutwick, L.I., 2010. Chlamydial


Genitourinary, Universityof Oklahoma College of Medicine. Available from:
http://emedicine.medscape.com /article/214823-overview [accessed 3 januari
2014] .