Anda di halaman 1dari 4

HAID

Haid merupakan fitrah perempuan sebagaimana halnya melahirkan dan


menyusui. Persoalan haid adalah hal yang biasa terjadi pada seorang
perempuan Haid adalah kotoran, yaitu darah yang keluar melalui daerah
kewanitaan yang merupakan akibat dari proses peluruhan sel telur yang tidak
dibuahi di dalam rahim. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al Baqarah ayat
222:

Apabila mereka bertanya tentang haid, katakan haid itu adalah kotoran. Maka
jauhilah wanita pada saat haid dan jangan menyentuh mereka sebelum mereka
suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka ditempat yang Allah
perintahkan. Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang
yang mensucikan diri.
Lafaz (( artinya tidak menyentuh perempuan pada saat haid
maksudnya adalah larangan untuk melakukan hubungan suami isteri selama
perempuan tersebut belum mensucikan diri (mandi wajib/junub).
1. Waktu Haid

, :

, : ,

, , , ,
, , ,
, ,
, ,
,, ,
:.
( ,)
Dari Humnah binti Jahsy, ia berkata: Saya pernah istihadzah yang banyak
(dan) keras; saya datang kepada Nabi Rasulullah Saw,. meminta fatwa
kepadanya, maka sabdanya: Yang demikian hanya satu gangguan dari
syaithan: olehnya itu, hendaklah engkau berhaid enam atau tujuh hari
kemudian engkau mandi. Maka apabila engkau telah bersih, shalat 24 atau 23
hari, dan shaumlah dan shalatlah (sunnat), karena yang demikian itu cukup
buatmu; dan buatlah demikian tiap-tiap bulan sebagimana perempuanperempuan berhaid, tapi jika engkau kuat menta'akhirkan Dzhuhur dan
mentakdimkan Ashar, kemudian engkau menta'akhirkan Magrib dan
mentakdimkan Isya, kemudian engkau mandi, kemudian engkau jamakkan dua
shalat itu, (kalau kuat) buatlah (begitu); dan engkau mandi beserta Subuh dan

engkau shalat. Sabdanya (lagi): Dan yang demikian perkara yang lebih aku
sukai dari yang lainnya.
(H.R. Imam Lima, kecuali An Nasai dan disahkan oleh Tirmidzi dan
dihasankan oleh Bukhari )
Jadi, lamanya perempuan berhaid adalah maksimal 7 hari sehingga
jika lebih lama dari itu disebut darah istihadzah (gangguan kesehatan).
2. Cara Menghitung Waktu Haid
Waktu haid dapat dihitung dengan menggunakan peredaran matahari.
Pergantian hari dimulai dengan tenggelamnya matahari. Contohnya: jika
seorang wanita mendapatkan haid pada hari senin pukul 07.00 WIB, maka
perhitungannya dimulai hari senin, sehingga batas maksimal dia haid adalah
hari ahad sebelum masuk waktu Magrib dia sudah harus mandi suci/mandi
wajib.
Jika seorang wanita mendapatkan haid pada hari senin pukul 19.00 WIB, maka
perhitungan mulai hari selasa dan batas maksimal dia haid adalah hari senin
dan sebelum Magrib dia sudah mandi.
Terjadinya perbedaan waktu ini disebabkan oleh adanya perbedaan persepsi
waktu tentang pergantian hari. Menurut hukum Islam bahwa hari sudah
berganti apabila telah memasuki waktu Magrib sedangkan menurut hukum
manusia bahwa hari dikatakan berganti apabila telah melewati pukul 24.00
tengah malam.
Namun demikian, seorang perempuan pasti tahu kebiasaaan haidnya setiap
bulan, tidak perlu menunggu 7 hari bila siklus haidnya 5 atau 6 hari, maka
setelah jelas haidnya sudah tidak ada lagi maka segeralah mandi.

)
:
(
Kami tidak menganggap apa-apa akan (air) keruh dan kuning sesudah
bersuci
(H.R. Bukhari dan Abu Dawud)
Perempuan-perempuan di zaman nabi saw. setelah bersuci dari haid
dan masih mendapati air keruh berwarna kekuning-kuningan, mereka tidak
menganggapnya sebagai haid lagi, cukup dibersihkan dengan cara mencucinya
dan tidak perlu mandi wajib lagi.
3. Hal-hal yang tidak Boleh Dilakukan oleh Wanita Haid
Adapun hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh wanita yang sedang haid
ada 4 hal dan masing-masing akan disertakan dengan dalil-dalil pendukungnya.


( )

a. Shalat
...


-
-

()
...

Dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw.:


bukankah perempuan itu apabila berhaid tidak shalat dan tidak shaum?....
(H.R. Bukhari dalam sebuah hadits yang panjang)
Hadits di atas menunjukkan bahwa perempuan yang sedang haid tidak wajib
shalat dan tidak wajib shaum. Tetapi menurut nash yang ada, bahwa puasa
wajib diqadha (diganti dihari lain) sedangkan shalat tidak diqadha, seperti yang
dijelaskan oleh hadits berikut :

: :

()

Dari Mu'adzah, ia berkata: Saya bertanya kepada Aisyah, yaitu: Mengapa


perempuan yang haid itu mengqadha shaum dan tidak mengqadha shalat?
Lalu Aisyah menjawab: Begitulah memang yang kami alami bersama
Rasulullah saw., yaitu kami diperintahkan mengqadha shaum dan tidak
diperintahkan mengqadha shalat.
(H.R. Bukhari)

Adanya perbedaan mengapa mengqadha shaum dan tidak mengqadha shalat


tidak dijelaskan oleh nash sebabnya. Oleh karena itu, sebab apapun kemudian
yang ditemukan oleh manusia tidak bisa merubah status hukum tersebut.
b. Shaum (puasa)
Perempuan yang sedang haid juga tidak boleh melakukan ibadah
shaum, sebagaimana yang telah dijelaskan pada dalil-dalil di atas.
c. Tawaf di Baitullah



,
:
)

(
Dari Aisyah, ia berkata: Tatkala kami sampai di Sarif, saya berhaid, maka
Nabi saw. bersabda: Kerjakanlah semua yang (harus) dikerjakan oleh orang
yang berhaji, tetapi tidak boleh engkau tawaf di Baitullah hingga engkau suci.
(H.R. muttafaqun Alaihi dalam sebuah hadits yang panjang)
d. Jima'/bercampur dengan suami

Dari Anas bahwasanya kaum yahudi apabila seorang perempuan di antara


mereka berhaid, mereka tidak makan bersamanya. Maka Nabi saw. bersabda:
Lakukanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh.
(H.R. Muslim)
4. Hukum Membaca dan Menyentuh Al Qur'an bagi Perempuan yang
Haid
Kontroversi seputar boleh tidaknya seorang perempuan yang sedang
haid menyentuh dan membaca Al Qur'an menimbulkan kebingungan ditengahtengah umat. Oleh karena itu berikut ini akan dipaparkan tentang beberapa
persoalan yang berkaitan dengan hal tersebut disertai dengan dalil-dalil
pendukungnya.
Pernyataan I:
Tidak boleh menyentuh Al Qur'an pada saat haid akan tetapi boleh
membacanya dengan landasan dalil:
a. Q.S. Al Waqi'ah : 79

Tidak menyentuhnya kecuali yang disucikan


Tanggapan ke-1:
Lafazh ( )itu, menurut keterangan yang kuat maknanya ialah
malaikat. Jadi, firman Allah tersebut di atas berarti: "Yang tidak disentuh,
melainkan malaikat".
Ayat ini membantah perkataan orang-orang kafir yang menuduh bahwa Al
Qur'an itu diturunkan kepada Nabi saw. oleh syaithan, bukan dari Allah swt.
Inilah asbabun nuzulnya sehingga ayat ini diturunkan.
b. Hadits

)


(
Dan dari Abu Bakri Bin Muhammad bin Amru Bin Hazm dari ayahnya dari
neneknya, bahwa Nabi saw. pernah menulis surat kepada penduduk Yaman,
dan isi surat itu, "tidak boleh" memegang (menyentuh) Al Qur'an kecuali
orang suci.
Tanggapan ke-2:
Hadits ini pada sanadnya terdapat seorang yang bernama Suwaid Ibnu Abi
Hatiem, ia dilemahkan oleh para ahli hadits (termasuk Imam Nawawi,

Thabarani, dsb.) mekipun Al hafidz mengatakan sanadnya tidak ada apaapanya.


Berdasarkan kaidah ahli hadits bahwa:

Celaan itu didahulukan daripada pujian


Maksudnya bahwa salah satu dari orang-orang yang meriwayatkan sebuah
hadits, apabila dicela oleh seorang ahli hadits, tetapi ada ahli hadits lain
memandang orang itu tidak tercela, maka perkataan orang yang mencela itulah
yang digunakan. Karena yang mencela bisa menunjukkan celah
(cacat/keburukan) dari orang yang dicela tersebut.
Maka hadits tersebut di atas tidak bisa diterima.
Jikalau hadits tersebut di atas ditakdirkan shahih, masih belum bisa ditetapkan
siapakah sesungguhnya yang dimaksud dengan "orang suci/bersih" itu.
Apakah dia suci/bersih dari hadats? atau
Apakah dia suci/bersih dari junub? atau
Apakah dia suci/bersih dari haid? atau
Apakah dia suci/bersih dari syirik?
Jika semua pertanyaan tersebut digunakan pada hadits di atas, maka akan
didapati beberapa konsekuensi sebagai berikut:
Tidak boleh menyentuh Al Qur'an kecuali orang suci/bersih dari
hadats, maka konsekuensinya apabila ingin menyentuh Al Qur'an harus
berwudhu.
Tidak boleh menyentuh Al Qur'an kecuali orang suci/bersih dari junub,
maka konsekuensinya apabila ingin menyentuh Al Qur'an harus mandi
junub
Tidak boleh menyentuh Al Qur'an kecuali orang suci/bersih dari haid,
maka konsekuensinya apabila ingin menyentuh Al Qur'an harus mandi
haid.
Tidak boleh menyentuh Al Qur'an kecuali orang suci/bersih dari syirik,
maka konsekuensinya apabila ingin menyentuh Al Qur'an harus
beriman.
Yang menjadi pertanyaan kemudian apakah hal itu memang benar dan pernah
dicontohkan oleh Rasulullah saw.?
Pada saat Rasulullah saw. masih hidup, banyak sekali sahabat yang menyentuh
atau bahkan menulis wahyu (Al Qur'an), baik itu pada tulang belulang, pelepah
kurma, bebatuan, dsb . Namun, Nabi kemudian tidak pernah menyuruhnya
sahabat pergi berwudhu atau mandi apabila akan menuliskan wahyu tersebut.
Bahkan Rasulullah saw. sendiri pernah mengirim surat kepada Raja Romawi,
supaya dia masuk Islam dengan menggunakan ayat Al Qur'an sebagai berikut:

(: ) ...

Bukankah Nabi saw. telah mengetahui bahwa Raja Romawi itu seorang yang
musyrik? Sebagaimana yang tersurat dalam Q.S. At Taubah:28.

Demikian pula setelah majunya teknologi percetakan, Al Qur'an justru dicetak


dan dijilid di negeri kafir (yaitu Jerman). Apakah ketika mereka mencetak Al
Qur'an tersebut tidak memegangnya sebab mereka tidak suci?
Perkataan ( ) kecuali dia suci/bersih adalah kalimat musytarak, yaitu
kalimat yang memiliki banyak makna. Kita tidak bisa menentukan makna yang
mana harus diambil, supaya cocok dengan kalimat yang dimaksud.
Berdasarkan dalil-dalil di atas dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan
antara Q.S. Al Waqi'ah dengan hadits tersebut.
Tanggapan ke-3:
Hukum pokok dalam Al Qur'an: Halal itu jelas dan haram juga jelas.
Kalau ibadah Am (ibadah umum, seperti: menuntut ilmu, pakaian, muamalah,
dsb.) semuanya boleh dilakukan kecuali ada larangan. Sedangkan untuk ibadah
khas (ibadah khusus, seperti: shalat, zakat, shaum, haji, dsb.) semuanya haram
dilakukan kecuali ada perintah.
Apakah haid itu termasuk ibadah am atau ibadah khas? Kalau haid termasuk
ibadah Am, adakah larangan atasnya? Dan kalau termasuk ibadah khas adakah
perintah atasnya?
Ternyata, haid merupakan ibadah umum, dimana larangan bagi perempuan
yang sedang haid hanya dilarang shalat, puasa, tawaf di Baitullah dan jima'.
Tanggapan ke-4:
Di kota manakah Al Qur'an di cetak?
Al Qur'an dicetak di kota Hudelberg, Jerman. Pencetaknya adalah orang Yahudi
dan Nasrani, yang sudah jelas musyrik.
Namun, apakah mereka tidak menyentuh Al Qur'an?
Mustahil jika mereka tidak menyentuh Al Qur'an atau bahkan tidak menutup
kemungkinan kalau mereka menginjak-injak mushafnya.
Pernyataan II:
Tidak Boleh Membaca Al Qur'an tetapi Boleh Menyentuhnya
Tanggapan ke-1:
Apakah betul selama 6 atau 7 hari ketika haid tidak pernah melafazkan ayatayat Al Quran?
Jika benar, apa bedanya umat islam dengan umat non islam.
Hal itu mustahil terjadi, karena dalam setiap aktivitas seorang
muslim/muslimah mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali semuanya
diawali dengan doa yang merupakan ayat-ayat yang bersumber dari Al Quran.
Tanggapan ke-2:
Apakah Al Quran sudah dicetak pada zaman Rasulullah saw?

Jawabanya tentu tidak. Karena Al Qur'an dicetak pada zaman Khalifah Usman
Bin Affan, sehingga sangat tidak mungkin ada larangan untuk menyentuhnya.
Berarti larangan itu ada setelah Rasulullah wafat.
Tanggapan ke-3:
Pernyataan di atas bertolak belakang dengan hadits yang diriwayatkan oleh
Aisyah ra.

( )

Dari Aisyah ra. Bahwasanya Rasulullah saw mengingat Allah swt di semua
kedaannya
(H.R. Muslim)
Perkataan ( ( termasuk di dalamnya waktu ketika suci dan
waktu ketika berhadats.
Hadits di atas sekaligus menjadi bantahan terhadap hadits yang mengatakan
Rasulullah saw melarang sahabat membaca Al Quran saat junub dan haid.
Pernyataan III:
Perempuan yang Haid Tidak Boleh Pergi ke Masjid
Tanggapan :
Tidak ada larangan bagi perempuan haid untuk pergi ke masjid apalagi kalau
ada aktivitas dakwah yang diadakan di masjid. Pada zaman modern saat ini,
kekhawatiran akan menetasnya darah haid dapat diantisipasi dengan
menggunakan pembalut yang dapat menahan darah haid menetes, sehingga
haid bukanlah menjadi alasan untuk menghalangi perempuan ke masjid,

apalagi untuk menuntut ilmu. Sebagaimana yang ditegaskan oleh hadist berikut
ini:


:

: , : ,
)
(

Dari Aisyah ra, ia berkata: Rasululullah saw. bersabda: Ambilkan sajadahku


di masjid, lalu aku berkata: Sesungguhnya aku sedang haid, kemudian Nabi
saw. bersabda: Sesungguhnya haid itu tidak berada di tanganmu
(H.R. Jama'ah kecuali Bukhari)
KESIMPULAN
Dari beberapa penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada
larangan bagi wanita haid kecuali shalat, shaum, tawaf, dan jimak. Ada pun
membaca dan menyentuh Al Qur'an tidak ada larangan atasnya bahkan kita
dianjurkan agar senantiasa membaca Al Qur'an kapan pun dan dimana pun
berada.

Perangkum Data
: INCAWATI, S. Pd.
Penulis Makalah
: MARYAM, S. Pd., M. Sc.
Sumber Data
: Kajian Hukum Ust. Muh. Arief, LA. (Alumnus
Universitas Iskandaria, Jurusan : Penelitian Hadits)